26 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

‘Istri’ Luthfi Sembunyi

Penyidik KPK tampaknya bakal menemui halangan untuk mengusut pencucian uang dalam kasus suap pengaturan kuota daging impor. Pasalnya salah satu saksi yang juga diduga menerima aliran uang dari tersangka pengaturan kuotan
daging impor, Darin Mumtazah hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Ibu Darin, Mufida bahkan menyembunyikan keberadaan anaknya. Mufida kemarin muncul dihadapan sejumlah wartawan. Dia ditemui di sebuah rumah yang selama ini dijadikan tempat usaha di Kebon Nanas I Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. “Sudah jangan dicari-cari dia (Darin), biar saya yang ngadepin,” ujarnya.
Mufida mengaku dia yang akan memberikan keterangan jika nanti KPK memanggil kembali anaknya. Perempuan berparas Timur Tengah itu juga mengelak jika disebut anaknya istri dari mantan Presiden PKS itu. “Bukan, tidak benar itu,” ujarnya. Lantas kenapa LHI sering datang ke rumah Darin-Versi Mufida itu karena LHI teman suaminya, Zaiad Baladzam.
Saat ditanya mengenai kondisi Darin, Mufida mengaku anak semata wayangnya itu terbebani dengan pemberitaan yang ada selama ini. Oleh karena itu dia sedang diajak rekreasi oleh ayahnya. “Dia sedang rekreasi di Cirebon” ujar Mufida.
Pada bagian lain, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Marciano Norman mengakui bahwa kediaman Darin tersebut berkaitan dengan salah satu anggotanya. Dia mengungkapkan, rumah berlantai tiga tersebut merupakan milik orangtua bawahannya.
“Itu rumah orangtuanya anggota BIN yang disewakan pada yang bersangkutan. Jadi posisinya seperti itu. Itu rumah orangtuanya saja,” ungkap Marciano ketika ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin. Karena itu, Marciano berharap, anak buahnya tidak disangkut pautkan dengan kasus suap pengaturan kuota impor daging sapi yang melibatkan LHI.
Apalagi, proses sewa-menyewa rumah tersebut sudah dipastikan sesuai prosedur. “Nggak (tidak ada sangkut pautnya dengan kasus suap daging sapi). Itu sebetulnya status sewa-menyewa, tidak ada yang lain. Dan itu orangtuanya yang sewakan,” imbuh dia. Rumah itu sendiri hingga kemarin tampak kosong, tidak ada tanda-tanda Darin tinggal di hunian tiga lantai tersebut.
Sementara itu kemarin Seto Mulyadi mendatangi KPK. Pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut mengaku mengunjungi salah seorang tahanan perempuan KPK untuk memberikan konsultasi. Dalam kesempatan itu Seto juga berharap penyidik KPK tidak memanggil paksa Darin Muntazah mengingat usianya yang masih tergolong anak di bawah umur.
“Sebagai gantinya mungkin pemeriksaan dilakukan dengan mendatangi yang bersangkutan,” ujar psikolog anak itu.
Sementara itu, kritik disampaikan Perhimpunan Ormas Kepemudaan Nasional (Poknas) atas arah perkembangan pengusutan kasus suap impor daging sapi yang dilakukan KPK, hingga sat ini. Sekjen Poknas Mustaqim Abdul Manan menilai pengusutan masih terus berputar-putar di tingkat praksis.
“Persoalan substansinya sendiri malah belum tersentuh,” ujar Mustaqim saat menggelar konferensi pers di Kafe Score Jakarta kemarin (23/5). Hal itu terbukti, lanjut dia, dengan status Menteri Pertanian Suswono yang masih sekedar sebagai saksi sampai sekarang.
Menurut dia, pusat pusaran kasus suap impor daging sapi justru adalah di kementrian pertanian. Dan, menteri sebagai pemegang tanggungjawabnya. “Tapi, faktanya sampai hari ini, pemain-pemain di tingkat kebijakan ini masih belum tersentuh,” tegasnya.
Publik, imbuh dia, justru terus menerus disuguhi sensasi perempuan-perempuan di sekitar kasus. Isu yang ada juga terkesan dibuat berputar-putar. “Tidak boleh seperti ini terus. Fokus pencucian uang tetap harus diusut, tapi tangkap dulu pemain di tingkat kebijakan, tetap sebagai tersangka,” desaknya.
Dia lalu mengingatkan bahwa sejak 2009, telah ada program kredit penggemukan sapi secara besar-besaran di kementrian pertanian. Disusul di tahun berikutnya, ada pula program pembibitan sapi juga dengan skala dan anggaran yang besar pula. “Tapi, mana buktinya? Swasembada sapi juga tak kunjung berhasil? Semua ini kan rentetan kasus impor daging sapi hari ini,” papar Mustaqim.
Sementara itu, para petinggi PKS tidak mau terpancing mengeluarkan pernyataan tajam terkait dugaan kontrakan Darin. Ketua DPP PKS Refrizal misalnya, memilih hati-hati berkomentar. “Kita serahkan kepada rakyat. Rakyat tidak bodoh dalam melihat apa yang terjadi,” ujar Refrizal.
Apakah PKS akan melakukan investigasi? “Itu urusan internal, melakukan investigasi atau tidak,” kilahnya.
Sikap yang sama ditunjukkan Iskan Qolba Lubis. Koordinator DPP PKS Wilayah Dakwah Sumatera itu juga enggan berkomentar mengenai rumah kontrakan Darin Mumtazah yang diduga milik Saut, anggota BIN yang pernah ikut mengajukan diri sebagai calon pimpinan KPK itu. Yakin ada intel bermain? “Kalau ada analisas semacam itu, silakan,” kilah Iskan kepada koran ini di Jakarta, kemarin.
Bagaimana tanggapan Ketua DPP PKS Indra yang pernah melontarkan kecurigaannya dengan menyebut Ahmad Fathanah merupakan orang yang sengaja disusupkan untuk menghancurkan PKS? Kali ini Indra memilih tutup mulut. “Takut disemprit,” kilahnya saat dihubungi koran ini kemarin. Dikatakan, sudah ada komando dari pimpinan PKS, yang boleh memberikan keterangan ke publik hanya Jubir DPP PKS dan tim kuasa hukum Luthfi. (sam/dim/gun/ken/dyn/jpnn)

Penyidik KPK tampaknya bakal menemui halangan untuk mengusut pencucian uang dalam kasus suap pengaturan kuota daging impor. Pasalnya salah satu saksi yang juga diduga menerima aliran uang dari tersangka pengaturan kuotan
daging impor, Darin Mumtazah hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Ibu Darin, Mufida bahkan menyembunyikan keberadaan anaknya. Mufida kemarin muncul dihadapan sejumlah wartawan. Dia ditemui di sebuah rumah yang selama ini dijadikan tempat usaha di Kebon Nanas I Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. “Sudah jangan dicari-cari dia (Darin), biar saya yang ngadepin,” ujarnya.
Mufida mengaku dia yang akan memberikan keterangan jika nanti KPK memanggil kembali anaknya. Perempuan berparas Timur Tengah itu juga mengelak jika disebut anaknya istri dari mantan Presiden PKS itu. “Bukan, tidak benar itu,” ujarnya. Lantas kenapa LHI sering datang ke rumah Darin-Versi Mufida itu karena LHI teman suaminya, Zaiad Baladzam.
Saat ditanya mengenai kondisi Darin, Mufida mengaku anak semata wayangnya itu terbebani dengan pemberitaan yang ada selama ini. Oleh karena itu dia sedang diajak rekreasi oleh ayahnya. “Dia sedang rekreasi di Cirebon” ujar Mufida.
Pada bagian lain, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Marciano Norman mengakui bahwa kediaman Darin tersebut berkaitan dengan salah satu anggotanya. Dia mengungkapkan, rumah berlantai tiga tersebut merupakan milik orangtua bawahannya.
“Itu rumah orangtuanya anggota BIN yang disewakan pada yang bersangkutan. Jadi posisinya seperti itu. Itu rumah orangtuanya saja,” ungkap Marciano ketika ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin. Karena itu, Marciano berharap, anak buahnya tidak disangkut pautkan dengan kasus suap pengaturan kuota impor daging sapi yang melibatkan LHI.
Apalagi, proses sewa-menyewa rumah tersebut sudah dipastikan sesuai prosedur. “Nggak (tidak ada sangkut pautnya dengan kasus suap daging sapi). Itu sebetulnya status sewa-menyewa, tidak ada yang lain. Dan itu orangtuanya yang sewakan,” imbuh dia. Rumah itu sendiri hingga kemarin tampak kosong, tidak ada tanda-tanda Darin tinggal di hunian tiga lantai tersebut.
Sementara itu kemarin Seto Mulyadi mendatangi KPK. Pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut mengaku mengunjungi salah seorang tahanan perempuan KPK untuk memberikan konsultasi. Dalam kesempatan itu Seto juga berharap penyidik KPK tidak memanggil paksa Darin Muntazah mengingat usianya yang masih tergolong anak di bawah umur.
“Sebagai gantinya mungkin pemeriksaan dilakukan dengan mendatangi yang bersangkutan,” ujar psikolog anak itu.
Sementara itu, kritik disampaikan Perhimpunan Ormas Kepemudaan Nasional (Poknas) atas arah perkembangan pengusutan kasus suap impor daging sapi yang dilakukan KPK, hingga sat ini. Sekjen Poknas Mustaqim Abdul Manan menilai pengusutan masih terus berputar-putar di tingkat praksis.
“Persoalan substansinya sendiri malah belum tersentuh,” ujar Mustaqim saat menggelar konferensi pers di Kafe Score Jakarta kemarin (23/5). Hal itu terbukti, lanjut dia, dengan status Menteri Pertanian Suswono yang masih sekedar sebagai saksi sampai sekarang.
Menurut dia, pusat pusaran kasus suap impor daging sapi justru adalah di kementrian pertanian. Dan, menteri sebagai pemegang tanggungjawabnya. “Tapi, faktanya sampai hari ini, pemain-pemain di tingkat kebijakan ini masih belum tersentuh,” tegasnya.
Publik, imbuh dia, justru terus menerus disuguhi sensasi perempuan-perempuan di sekitar kasus. Isu yang ada juga terkesan dibuat berputar-putar. “Tidak boleh seperti ini terus. Fokus pencucian uang tetap harus diusut, tapi tangkap dulu pemain di tingkat kebijakan, tetap sebagai tersangka,” desaknya.
Dia lalu mengingatkan bahwa sejak 2009, telah ada program kredit penggemukan sapi secara besar-besaran di kementrian pertanian. Disusul di tahun berikutnya, ada pula program pembibitan sapi juga dengan skala dan anggaran yang besar pula. “Tapi, mana buktinya? Swasembada sapi juga tak kunjung berhasil? Semua ini kan rentetan kasus impor daging sapi hari ini,” papar Mustaqim.
Sementara itu, para petinggi PKS tidak mau terpancing mengeluarkan pernyataan tajam terkait dugaan kontrakan Darin. Ketua DPP PKS Refrizal misalnya, memilih hati-hati berkomentar. “Kita serahkan kepada rakyat. Rakyat tidak bodoh dalam melihat apa yang terjadi,” ujar Refrizal.
Apakah PKS akan melakukan investigasi? “Itu urusan internal, melakukan investigasi atau tidak,” kilahnya.
Sikap yang sama ditunjukkan Iskan Qolba Lubis. Koordinator DPP PKS Wilayah Dakwah Sumatera itu juga enggan berkomentar mengenai rumah kontrakan Darin Mumtazah yang diduga milik Saut, anggota BIN yang pernah ikut mengajukan diri sebagai calon pimpinan KPK itu. Yakin ada intel bermain? “Kalau ada analisas semacam itu, silakan,” kilah Iskan kepada koran ini di Jakarta, kemarin.
Bagaimana tanggapan Ketua DPP PKS Indra yang pernah melontarkan kecurigaannya dengan menyebut Ahmad Fathanah merupakan orang yang sengaja disusupkan untuk menghancurkan PKS? Kali ini Indra memilih tutup mulut. “Takut disemprit,” kilahnya saat dihubungi koran ini kemarin. Dikatakan, sudah ada komando dari pimpinan PKS, yang boleh memberikan keterangan ke publik hanya Jubir DPP PKS dan tim kuasa hukum Luthfi. (sam/dim/gun/ken/dyn/jpnn)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/