25.6 C
Medan
Sunday, June 23, 2024

Sepak Bola Sumut Masih Terpuruk

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Perkembangan sepak bola Sumatera Utara masih dalam periode terpuruk. Ini terlihat dari belum mampunya tim asal Sumatera Utara menembus kompetisi tertinggi di Indonesia, Liga 1.

“Jujur, sepak bola Sumatera Utara masih terpuruk. Buktinya belum ada tim asal Sumut yang mampu menembus Liga 1,” ujar Pengamat Sepak Bola, Petra Jaya Purba kepada wartawan, Kamis (25/1/2024).

Petra Jaya menambahkan, sepak bola Sumut sebenarnya sempat memperlihatkan titik kebangkitan ketika Karo United dan PSDS Deliserdang promis ke Liga 2 pada tahun 2022 lalu. Saat itu muncul angin segar bagi pecinta sepak bola Sumut.

“Memang beberapa kali tim asal Sumut lebih dari satu mentas di Liga 2. Mulai dari Pro Duta, Kwarta, Bintang Jaya Asahan, dan terakhir PSDS serta Karo United. Namun kiprah mereka tidak berlangsung lama. Jangankan menembus Liga 1, bertahan di Liga 2 juga sulit,” paparnya.

Kondisi ini juga terjadi pada tahun ini. Sada Sumut yang sebelumnya bernama Karo United dipastikan degradasi ke Liga 3. Kemudian PSDS juga terancam turun kasta.

“Sedangkan PSMS yang sedang berjuang di babak 12 besar Liga 2, juga sangat berat bisa lolos ke Liga 1. Ini tentu mengecewakan bagi insan sepak bola Sumut,” tegasnya.

Ketua PSSK Karo tersebut mengungkapkan, kondisi sepak bola Sumut sekarang ini kontras dengan dulu. Kalau zaman dulu, Sumut dikenal sebagai lumbung pemain sepak bola di Indonesia. Tim asal Sumut seperti PSMS, Medan Jaya, dan PSDS merupakan langganan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.

Belum lagi tim sepak bola Sumut sering meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON). Terakhir kali sepak bola Sumut meraih prestasi adalah medali perak PON 2012 Riau.

“Dulu kita barometer sepak bola nasional, tapi sekarang sudah kalah dengan provinsi lain. Jangankan bersaing di tingkat nasional, untuk Pulau Sumatera saja sudah sulit,” tandasnya.

Petra Jaya mengakui mundurnya sepak bola Sumut ini disebabkan oleh pembinaan dan pengelolaan yang masih kurang. Untuk itu, dia berharap agar semua insan sepak bola di Sumut kembali bersatu. “Jangan ada lagi perpecahan. Kita harus bersatu untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Sumut,” pesannya.

Hal yang sama juga disampaikan pemerhati sepak bola lainnya, DR Dody Safnul SH Spn Mkn. Menurutnya terpuruknya prestasi sepak bola Sumatera Utara di pentas nasional harus menggugat tanggung jawab moral pengurus dan pengelola klub di liga 2 maupun PSSI Sumut.

“Ada beberapa faktor sehingga prestasi persepakbolaan Sumut kian terpuruk. Salah satunya karena para pengurusnya tidak menunjukan sikap profesional dalam mengelola manejemen, tapi lebih memikirkan kedudukannya,” ujarnya.

Mantan Exco Asprov PSSI Sumut ini meminta semua pihak untuk introspeksi diri. “Kita hanya berupaya mengetuk hati mereka supaya introspeksi dan membenahinya,” kata Dody Safnul. (dek)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Perkembangan sepak bola Sumatera Utara masih dalam periode terpuruk. Ini terlihat dari belum mampunya tim asal Sumatera Utara menembus kompetisi tertinggi di Indonesia, Liga 1.

“Jujur, sepak bola Sumatera Utara masih terpuruk. Buktinya belum ada tim asal Sumut yang mampu menembus Liga 1,” ujar Pengamat Sepak Bola, Petra Jaya Purba kepada wartawan, Kamis (25/1/2024).

Petra Jaya menambahkan, sepak bola Sumut sebenarnya sempat memperlihatkan titik kebangkitan ketika Karo United dan PSDS Deliserdang promis ke Liga 2 pada tahun 2022 lalu. Saat itu muncul angin segar bagi pecinta sepak bola Sumut.

“Memang beberapa kali tim asal Sumut lebih dari satu mentas di Liga 2. Mulai dari Pro Duta, Kwarta, Bintang Jaya Asahan, dan terakhir PSDS serta Karo United. Namun kiprah mereka tidak berlangsung lama. Jangankan menembus Liga 1, bertahan di Liga 2 juga sulit,” paparnya.

Kondisi ini juga terjadi pada tahun ini. Sada Sumut yang sebelumnya bernama Karo United dipastikan degradasi ke Liga 3. Kemudian PSDS juga terancam turun kasta.

“Sedangkan PSMS yang sedang berjuang di babak 12 besar Liga 2, juga sangat berat bisa lolos ke Liga 1. Ini tentu mengecewakan bagi insan sepak bola Sumut,” tegasnya.

Ketua PSSK Karo tersebut mengungkapkan, kondisi sepak bola Sumut sekarang ini kontras dengan dulu. Kalau zaman dulu, Sumut dikenal sebagai lumbung pemain sepak bola di Indonesia. Tim asal Sumut seperti PSMS, Medan Jaya, dan PSDS merupakan langganan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.

Belum lagi tim sepak bola Sumut sering meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON). Terakhir kali sepak bola Sumut meraih prestasi adalah medali perak PON 2012 Riau.

“Dulu kita barometer sepak bola nasional, tapi sekarang sudah kalah dengan provinsi lain. Jangankan bersaing di tingkat nasional, untuk Pulau Sumatera saja sudah sulit,” tandasnya.

Petra Jaya mengakui mundurnya sepak bola Sumut ini disebabkan oleh pembinaan dan pengelolaan yang masih kurang. Untuk itu, dia berharap agar semua insan sepak bola di Sumut kembali bersatu. “Jangan ada lagi perpecahan. Kita harus bersatu untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Sumut,” pesannya.

Hal yang sama juga disampaikan pemerhati sepak bola lainnya, DR Dody Safnul SH Spn Mkn. Menurutnya terpuruknya prestasi sepak bola Sumatera Utara di pentas nasional harus menggugat tanggung jawab moral pengurus dan pengelola klub di liga 2 maupun PSSI Sumut.

“Ada beberapa faktor sehingga prestasi persepakbolaan Sumut kian terpuruk. Salah satunya karena para pengurusnya tidak menunjukan sikap profesional dalam mengelola manejemen, tapi lebih memikirkan kedudukannya,” ujarnya.

Mantan Exco Asprov PSSI Sumut ini meminta semua pihak untuk introspeksi diri. “Kita hanya berupaya mengetuk hati mereka supaya introspeksi dan membenahinya,” kata Dody Safnul. (dek)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/