Home Blog Page 1016

Anggaran Penanggulangan Kemiskinan Perlu Ditambah

MEDAN, SUMUTPOS.CO – DPRD Kota Medan bersama Pemko Medan mengaku terus berkomitmen untuk menekan angka kemiskinan. Salah satunya, dengan memperhatikan besaran alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan yang disisihkan dari pendapatan asli daerah (PAD) Kota Medan.

Hal itu diungkapkan Anggota DPRD Kota Medan Fraksi Golkar, M Rizki Nugraha SE, saat menggelar Sosialisasi Produk Hukum Daerah ke-X Perda Kota Medan No.5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan di Jalan Garu I, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Senin (30/10/2023) sore.

“Di dalam Perda No.5 Tahun 2015 ini disebutkan, bahwa Pemko Medan wajib menyisihkan 10 persen dari total PAD yang ada,” ucap Rizki dalam kegiatan yang turut dihadiri Kasi Trantib Kecamatan Medan Amplas, Mustaqim Siregar, Lurah Harjosari I, Sahara Harahap, dan Koordinator PKH, Wiwin Prabudi Lubis tersebut.

Namun belakangan, kata Rizki, angka 10 persen yang dimaksud dinilai tidak lagi relevan untuk dapat menanggulangi kemiskinan di Kota Medan. Sehingga, perlu dilakukan penambahan anggaran.

Dengan begitu, DPRD Kota Medan akan mendorong untuk dilakukannya revisi terhadap Perda No.5 Tahun 2015, yakni penambahan minimal persentase yang harus disisihkan dari PAD untuk penanggulangan kemiskinan di Kota Medan. “Minimal 10 persen dari PAD kita nilai belum cukup, setidaknya butuh tambahan 10 persen lagi untuk menanggulangi masalah kemiskinan di Kota Medan. Jadi minimal, Kota Medan harus menyisihkan 20 persen dari total pendapatannya untuk mengatasi masalah kemiskinan ini,” ungkapnya.

Dijelaskan Rizki, pemerintah wajib memenuhi hak-hak dasar warga negaranya, termasuk pemerintah kota. Diantaranya hak di bidang pelayanan kesehatan, ketersediaan perumahan yang layak, pendidikan yang berkualitas, dan lain-lain.

“Dan selama ini 10 persen dari PAD itu jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar warga tidak mampu di Kota Medan. Untuk itu, kita mendorong agar Perda ini segera direvisi agar hak-hak dasar setiap warga Kota Medan dapat terpenuhi,” ujar Anggota Komisi III DPRD Medan tersebut.

Selama ini, sambung politisi Partai Golkar itu, banyak warga miskin di Kota Medan yang mengeluh karena tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal sejatinya, warga tersebut telah masuk ke dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Namun karena terbatasnya anggaran, tidak semua warga yang masuk di DTKS bisa mendapatkan bantuan.

“Kita harapkan dengan direvisinya Perda tersebut, maka akan lebih banyak warga yang tertolong, sehingga angka kemiskinan di Kota Medan bisa ditekan secara maksimal,” pungkasnya. (map)

Perkuat SDM, Ganjar Punya Program 1 Sarjana dalam 1 Keluarga Miskin

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Direktur Narasi dan Konten Tim Pemenangan Nasional TPN Ganjar-Mahfud, Roby Muhamad mengatakan, bakal calon presiden (Capres) Ganjar Pranowo ingin memperkuat sumber daya manusia (SDM) lewat program satu sarjana di dalam satu keluarga miskin, jika menang dalam Pilpres 2024 mendatang.

“Jadi program satu keluarga miskin satu sarjana inin memang penting dan menarik, salah satunya karena terinspirasi dari Mas Ganjar sendiri,” kata Roby kepada wartawan, Selasa (31/10).

Roby menyebut, Ganjar lahir dari keluarga miskin. Menurutnya, ayah Ganjar hanya lulusan SD, sedangkan sang ibu lulusan SMP. Selain itu, anak pertama atau kakak pertama Ganjar lulusan SMA. “Baru kakak kedua yang bisa kuliah, sehingga Mas Ganjar kuliah di UGM. Dengan kuliah ini berhasil mengangkat taraf kehidupan keluarga, itu salah satu latar belakang inisiatif,” ujarnya.

Roby mengungkap, sebuah riset yang menyebut bahwa salah satu cara ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan sebuah keluarga dengan melalui pendidikan. Menurut riset itu, kata Roby, semakin tinggi pendidikan, semakin mungkin keluarga tersebut bisa keluar dari kemiskinan.

“Mas Ganjar benar-benar percaya pendidikan ini kunci untuk keluar dari kemiskinan. Karena itu program satu keluarga miskin satu sarjana harus ada, kemungkinan lebih besar naik kelas kehidupannya, penghidupannya. Penerapannya diharapkan menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Ganjar Pranowo maju bersama Menko Polhukam Mahfud MD dalam Pilpres 2024. Pasangan capres-cawapres Ganjar dan Mahfud MD didukung oleh PDIP, PPP, Perindo, dan Hanura. Mereka telah resmi mendaftar ke KPU pada 19 Oktober lalu. (rel/adz)

Dosen Polmed Tingkatkan Produksi dan Pengelolaan Keuangan UMKM

Dosen Polmed melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan meningkatkan produksi dan pengelolaan keuangan salah satu UMKM. (ist)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dosen Politeknik Negeri Medan (Polmed) meningkatkan produksi dan pengelolaan keuangan UMKM. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Adapun dosen yang melakukan pengabdian, M Rikwan Effendi S Manik SE ME, Siti Asnida Nofianna SS MHum, Drs Kusumadi MT, dan Rizki Syahputra SE MSi. Sedangkan UMKM yang menjadi sasaran, salah satunya Medan Outdoor Equipment di kawasan Jalan Rawa Cangkuk IV, Komplek Puri Bromo Asri, Medan Denai. UMKM ini bergerak di bidang usaha penjualan tenda offroad.

Ketua tim pengabdian, M Rikwan Effendi S Manik menjelaskan, upaya meningkatkan produksi dengan memberikan sejumlah peralatan pendukung usaha. Peralatan yang diberikan berupa mesin jahit tenda, bor duduk, mesin las dan mesin potong.

Tak hanya peralatan, pelaku usaha tersebut juga diberikan pelatihan cara penggunaannya untuk memastikan pemanfaatan secara efektif. “Dengan adanya kelengkapan peralatan ini, efisiensi produksi meningkat dan UMKM dapat merespon permintaan pasar lebih cepat dan lebih efisien,” ujar Rikwan, Selasa (31/10/2023).

Dia mengungkapkan, sebelum adanya peralatan tersebut, kemampuan produksi UMKM ini hanya mampu menghasilkan dua tenda dalam satu bulan. Namun, setelah adanya peralatan ini ternyata dapat memproduksi empat tenda offroad dalam satu bulan. “Dengan demikian, terjadi sebuah peningkatan yang signifikan. Hanya saja, UMKM tersebut membutuhkan tenaga kerja agar dapat berproduktivitas secara lebih baik lagi,” ungkap Rikwan.

Setelah hasil produksi meningkat, lanjut dia, tim pengabdian membimbing pelaku usaha ini melakukan branding terkait dengan produknya. Tim memberikan sebuah pelatihan kecil sehubungan dengan upaya untuk meningkatkan kemampuan daya beli yang dimiliki konsumen. “Strategi branding yang terarah diterapkan dengan dukungan tim pemasaran. Kami membantu UMKM untuk membangun identitas merek yang kuat, serta memberikan pelatihan tentang pemasaran digital dan peningkatan kehadiran online. UMKM kini memiliki profil online yang lebih menarik dan konsisten, menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pelanggan dan meningkatkan kepercayaan konsumen,” terang Rikwan.

Lebih jauh dia mengatakan, tim pengabdian juga memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan nilai jual produk. “Melalui analisis pasar yang cermat, kami berhasil mengidentifikasi potensi peningkatan nilai jual produk UMKM ini. Perubahan desain produk dan peningkatan kualitas telah diterapkan, sehingga menghasilkan produk yang lebih menarik bagi konsumen. Karena itu, workshop dan pelatihan teknis dilakukan untuk memastikan pekerja UMKM mampu mengimplementasikan perubahan ini dengan baik dan memahami pentingnya standar kualitas tinggi,” sebutnya.

Rikwan menuturkan, selain aspek produksi dan pemasaran, tim pengabdian turut memberikan pemahaman mendalam tentang pengelolaan keuangan. Pemahaman ini diberikan lewat workshop intensif mengenai manajemen keuangan, seperti memberikan pemilik UMKM pengetahuan praktis dalam mengelola pendapatan, pengeluaran, dan perencanaan keuangan jangka panjang. “Dengan penekanan pada efisiensi pengeluaran dan alokasi dana yang cerdas, UMKM dapat mengoptimalkan sumber daya finansial mereka, menciptakan dasar yang kuat untuk pertumbuhan bisnis berkelanjutan,” tandasnya. (rel/azw)

Anggaran Penanggulangan Kemiskinan Perlu Ditambah, DPRD Medan Berencana Revisi Perda No.5/2015

MEDAN, SUMUTPOS.CO – DPRD Kota Medan bersama Pemko Medan mengaku terus berkomitmen untuk menekan angka kemiskinan. Salah satunya, dengan memperhatikan besaran alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan yang disisihkan dari pendapatan asli daerah (PAD) Kota Medan.

Hal itu diungkapkan Anggota DPRD Kota Medan Fraksi Golkar, M Rizki Nugraha SE, saat menggelar Sosialisasi Produk Hukum Daerah ke-X Perda Kota Medan No.5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan di Jalan Garu I, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Senin (30/10/2023) sore.

“Di dalam Perda No.5 Tahun 2015 ini disebutkan, bahwa Pemko Medan wajib menyisihkan 10 persen dari total PAD yang ada,” ucap Rizki dalam kegiatan yang turut dihadiri Kasi Trantib Kecamatan Medan Amplas, Mustaqim Siregar, Lurah Harjosari I, Sahara Harahap, dan Koordinator PKH, Wiwin Prabudi Lubis tersebut.

Namun belakangan, kata Rizki, angka 10 persen yang dimaksud dinilai tidak lagi relevan untuk dapat menanggulangi kemiskinan di Kota Medan. Sehingga, perlu dilakukan penambahan anggaran.

Dengan begitu, DPRD Kota Medan akan mendorong untuk dilakukannya revisi terhadap Perda No.5 Tahun 2015, yakni penambahan minimal persentase yang harus disisihkan dari PAD untuk penanggulangan kemiskinan di Kota Medan.

“Minimal 10 persen dari PAD kita nilai belum cukup, setidaknya butuh tambahan 10 persen lagi untuk menanggulangi masalah kemiskinan di Kota Medan. Jadi minimal, Kota Medan harus menyisihkan 20 persen dari total pendapatannya untuk mengatasi masalah kemiskinan ini,” ungkapnya.

Dijelaskan Rizki, pemerintah wajib memenuhi hak-hak dasar warga negaranya, termasuk pemerintah kota. Diantaranya hak di bidang pelayanan kesehatan, ketersediaan perumahan yang layak, pendidikan yang berkualitas, dan lain-lain.

“Dan selama ini 10 persen dari PAD itu jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar warga tidak mampu di Kota Medan. Untuk itu, kita mendorong agar Perda ini segera direvisi agar hak-hak dasar setiap warga Kota Medan dapat terpenuhi,” ujar Anggota Komisi III DPRD Medan tersebut.

Selama ini, sambung politisi Partai Golkar itu, banyak warga miskin di Kota Medan yang mengeluh karena tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal sejatinya, warga tersebut telah masuk ke dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Namun karena terbatasnya anggaran, tidak semua warga yang masuk di DTKS bisa mendapatkan bantuan.

“Kita harapkan dengan direvisinya Perda tersebut, maka akan lebih banyak warga yang tertolong, sehingga angka kemiskinan di Kota Medan bisa ditekan secara maksimal,” pungkasnya. (map)

Pembunuh Warga Aceh Imam Masykur, 3 Oknum TNI Terancam Hukuman Mati dan Dipecat

SIDANG: Tiga terdakwa Terdakwa kasus dugaan penculikan, pemerasan, penganiayaan, dan pembunuhan Imam Masykur menjalani sidang di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Senin (30/10).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Terdakwa kasus dugaan penculikan, pemerasan, penganiayaan, dan pembunuhan Imam Masykur terancam hukuman mati. Itu terungkap dalam sidang pembacaan surat dakwaan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Senin (30/10).

Oleh oditur militer yang menangani perkara tersebut, Praka Riswandi Manik (RM), Praka Heri Sandi (HS), dan Praka Jasmowir (J) didakwa melanggar pasal berlapis yang tertuang dalam surat dakwaan.

Dalam sidang kemarin disampaikan bahwa para terdakwa telah melanggar pasal 340 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, pasal 338 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, pasal 351 ayat (3) KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dan pasal 328 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “Ancaman hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau paling singkat hukuman 20 tahun,” terang Kepala Oditurat Militer Jakarta Kolonel Kum Riswandono.

Bertindak sebagai oditur dalam sidang tersebut Letkol Chk Upen Jaya Supena, oditur pendamping Letkol Laut (H) I Made Adnyana, dan Letkol Kum Tavip Heru Marsono. Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Kolonel Chk Rudy Dwi Prakamto serta Hakim Anggota Letkol Chk Idolohi, dan Mayor Kum Aulisa Dandel tersebut mulai berjalan sekitar pukul 10.00. Sidang tersebut berlangsung terbuka untuk umum.

Melalui sidang tersebut terungkap beberapa fakta terkait dengan penculikan, pemerasan, penganiayaan, dan pembunuhan Imam Masykur. Di antaranya, perencanaan penculikan dan pemerasan Imam.

Fakta itu terungkap lewat komunikasi yang dilakukan oleh Praka RM dengan Praka J dan Praka HS. Sehari sebelum menculik Imam, mereka saling bertelepon. Meski sempat menolak, Praka RM akhirnya mengiyakan ajakan Praka J dan Praka HS.

Prajurit TNI AD yang berdinas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) itu yang kemudian meminta tebusan kepada Ibunda Imam, Fauziah. Dalam surat dakwaan perkara bernomor Sdak/196/X/2023 tersebut diungkapkan bahwa Fauziah berusaha menghubungi putranya melalui telepon genggam. Namun yang mengangkat dan berbicara adalah Praka RM. “Kemudian terdakwa I (Praka RM) mengancam saksi III (Fauziah),” kata oditurat militer.

Ancaman yang dilayangkan oleh Praka RM jelas dan tegas. Terdakwa meminta uang tebusan Rp50 juta. “Kalau tidak sayang ke anak ibu, saya bunuh dan saya buang anak ibu,” ucap oditurat militer menirukan ancaman yang disampaikan oleh Praka RM.

Meski sudah memohon dan mengaku Imam berasal dari keluarga tidak mampu, para terdakwa tidak peduli. Pada Sabtu, 12 Agustus 2023, mereka menghabisi nyawa Imam dan membuang korban sesuai ancaman.

Usai sidang pembacaan surat dakwaan kemarin, Kepala Oditurat Militer Jakarta Kolonel Kum Riswandono menyatakan bahwa Praka RM, Praka J, dan Praka HS bukan hanya terancam sanksi pidana sebagaimana pasal yang sudah didakwakan oleh oditur militer, mereka juga bakal dipecat dari TNI. Itu sesuai dengan komitmen institusi militer yang tidak mentolerir perbuatan melawan hukum. “Sudah pasti akan diikuti hukuman pemecatan,” tegasnya. (syn/jpg/ila)

Ganjar Dorong Ketersediaan Fasilitas Kesehatan yang Merata

SIDAK LAYANAN: Ganjar Pranowo rutin melakukan kunjungan ke beberapa puskesmas saat menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Foto: Dok. Humas Pemprov Jateng.

SUMUTPOS.CO – CALON presiden (capres) Ganjar Pranowo berbicara mengenai ide dan gagasannya terkait sektor kesehatan. Menurut gubernur Jawa Tengah dua periode tersebut, kesehatan merupakan sebuah hal penting dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

Untuk mewujudkan SDM yang unggul, kata Ganjar, diperlukan sebuah akses kesehatan yang merata. Karena itu, jika terpilih menjadi presiden, Ganjar berharap bisa mewujudkan program satu desa satu puskesmas.

“Infrastruktur kesehatan harus merata. Saya katakan bahwa kalau satu desa, ada satu puskesmas, dan ada satu dokter. Maka nanti akan jadi terjadi perkembangan luar biasa di dunia kedokteran,” ujar Ganjar dalam acara diskusi Jaringan Indonesia (Jari) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/10).

Ganjar melanjutkan, untuk sekarang ini ketersediaan fasilitas kesehatan masih belum merata di Indonesia. Bahkan, jumlah dokter juga masih kurang. Hal inilah membuat masyarakat Indonesia akhirnya lebih memilih pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.

Masih banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia.”Padahal kita butuh fasilitas kesehatan dan dokter, tapi banyak yang tidak percaya pada tenaga kita sendiri. Akhirnya mereka pergi ke Penang (Malaysia), ke Singapore,” ungkap Ganjar.

Selain itu, di beberapa daerah fasilitas kesehatan setara puskesmas masih sangat jarang, kalaupun ada jaraknya cukup jauh. Karena itu, masih ada masyarakat yang berobat ke dukun.”Kita semua harus sepakat untuk kedepan membangun fasilitas kesehatan yang memadai,” tuturnya.

Seiring membangun sarana prasarana, Ganjar bertekad akan membenahi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Sampai saat ini, imej sekolah kedokteran adalah sulit dan sangat mahal. “Saya punya pengalaman mendampingi perguruan tinggi yang ingin mengusulkan dibukanya prodi kedokteran. Itu sulitnya minta ampun. Padahal kita masih kekurangan dokter, harusnya ini bisa dipermudah,” lanjutnya.

Selain masalah fasilitas kesehatan dan ketersedian dokter, Ganjar juga memberikan perhatian terhadap isu kesehatan mental (mental health). Dalam beberapa kesempatan, Ganjar menegaskan pentingnya negara hadir untuk mengurangi problem yang banyak diderita oleh kalangan anak muda itu.

“Menghadapi bonus demografi, hal yang tidak boleh dilupakan adalah persoalan kesehatan mental. Ini persoalan yang sangat penting diselesaikan, tapi masih banyak yang belum peduli soal ini,” kata Ganjar.

Pasalnya, data menunjukkan bahwa saat ini 16,5 juta anak muda di Indonesia mengalami masalah mental. Sebanyak 2,45 juta lainnya bahkan sudah mengalami gangguan mental dan harus menjalani perawatan.”Ini persoalan serius. Saya ketemu dengan anak-anak yang cerita, banyak lho yang sampai bunuh diri, memakai narkoba dan lainnya,” ucapnya.

Pengamat Kesehatan Kota Medan, Dr Indra Janis mengapresiasi Program Satu Desa Satu Puskesmas yang dicanangkan Calon Presiden (capres), yang juga mantan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) dua periode, Ganjar Pranowo. Menurutnya, hal itu dapat memudahkan masyarakat untuk menjangkau fasilitas kesehatan (faskes), terutama bagi pengidap penyakit akut, orang jompo dan ibu hamil yang sulit untuk perjalanan jauh. “Dengan adanya Puskesmas di setiap desa, masyarakat dapat terbantu dan terlayani dengan baik,” ujarnya kepada Sumut Pos di Medan, Senin (30/10).

Menurutnya, penambahan Puskesmas di tiap desa juga perlu disertakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta memadai agar masyarakat terlayani secara merata. “Integritas serta kesejahteraan para dokternya dan tenaga medisnya juga perlu diperhatikan,” pungkasnya. (wir/dwi)