Home Blog Page 13149

Bermenu Khusus yang Disiapkan sejak Pukul Satu Malam

Sahur Bersama Tokoh di Sumatera Utara, Rahudman Harahap (15)

Sejak pukul 01.00 dini hari Hj Yusra Siregar sudah sibuk. Di rumah dinas, Yusra dibantu beberapa petugas dapur akan menyiapkan santap sahur untuk keluarga dan tamu istimewa. Ya, Tim Sahur Harian Sumut Pos beberapa hari lalu diterima sahur bersama Wali Kota Medan Rahudman Harahap dan keluarga.

Tim Sumut Pos, Medan

Tim tak dijamu di kediaman pribadi Rahudman. Pak Wali, demikian dia biasa disapa lebih senang menjamu kami di rumah dinas di Jalan Jendral Sudirman. Waktu yang sudah dijanjikan pukul 03.30 WIB.

BERSAMA KELUARGA: Wali Kota Medan Rahudman Harahap beserta keluarga saat sahur bersama Sumut Pos.//chairil Huda/sumut pos
BERSAMA KELUARGA: Wali Kota Medan Rahudman Harahap beserta keluarga saat sahur bersama Sumut Pos.//chairil Huda/sumut pos

Ketika tiba, tim disambut pengawal rumah. Ada petugas dari Satpol PP Kota Medan. Karena sudah berkoordinasi dengan baik, tak lama tim langsung dipersilakan masuk. Langsung diarahkan ke pendopo rumah dinas di bagian sebelah kiri. Di sana sudah ada beberapa orangn
Tak lama, Pak Wali datang. Bersarung dan berkemeja sederhana. Wajahnya masih sedikit sembab karena baru bangun. Ternyata tidur Pak Wali malam itu kurang nyenyak. “Ketika ada dengar suara mobil saya terus terbangun. Saya kira sudah datang kalian. Kan gak enak kalian sudah datang saya masih tidur,” kata Pak Wali.

Lalu kami diajak duduk ‘selonjoran’ di pendopo yang sudah dilapisi karpet tebal. Rupanya sepanjang Ramadan, pendopo itu disulap menjadi tempat salat berjamaah. Yang salat di sana mulai dari wakil wali kota, Kadis, hingga camat, lurah hingga kepling dan guru-guru.
“Baru tahun ini kami buat begitu. Salat tarawih berjamaah dari seluruh lapisan pegawai. Kami jadwal supaya hadir salat di sini,” kata mantan Asisten IV Pemprovsu itu.

Selang lima belas menit duduk sambil bercengkramah dengan Pak Wali, tim Sumut Pos diajak istri Wali Kota, Hj Yusra Siregar, untuk menuju ke meja makan rumah dinas.

Ditemani oleh anak-anaknya, Rahudman didampingi istrinya makan sahur. Aneka lauk dan sahur terhidang dengan rapi. “Bapak sukanya kalau sahur itu selalu saya yang masak, makanya pukul 01.00 WIB saya sudah bangun untuk menumbuk daun ubi,” kata Yusra.

Dia menyebutkan, sayur daun ubi tumbuk itu dipadu dengan telur dadar yang juga menjadi kegemaran Rahudman. Selain itu, masakan lainnya dilengkapi oleh pembantu di rumah dinas.

“Karena bapak itukan kalau tak keluar kota sahurnya tetap di rumah dan biasanya harus ada sama anak-anak,” ucapnya.

Yusra membeberkan, Ramadan 1433 H ini berbeda dengan tahun sebelumnya, banyak kegiatan bersama unsur pengurus PKK untuk melaksanakan ibadah. Mulai pengajian pagi, salat tarawih berjamaah serta ceramah ustad dan dilanjutkan tadarusan malam.

“Ini sengaja dilakukan sebagai bagian untuk menjaga silaturahim diantara sesama pengurus PKK dan pejabat Pemko Medan serta membiasakan kerja bersama dalam menjalankan pemerintahan,” katanya.

Ibu lima anak itu menyebut, di keluarganya tak ada resep khusus menjaga stamina dalam menjalankan ibadah puasa. Karena umumnya puasa yang dilaksanakan selalu dengan niatan ikhlas dan makanan yang dihidang menjadi santapan bersama.

“Bapak itu nggak ada pantangan makanan, jadi apa yang dihidangkan dimakannya semua. Dan bapak juga tak menghindari makanan, karena itu fisiknya cukup kuat. Kemudian bapak juga rajin donor darah untuk jaga staminanya juga,” sebutnya.

Usai menyantap makanan sahur bersama, Rahudman dengan ramah mengajak tim Sumut Pos untuk duduk bersantai di pendopo rumah dinas. Sedangkan istrinya, membereskan piring Rahudman yang teronggok usai menyantap makan.

Di pendopo rumah dinas, Rahudman punya cerita tersendiri. Sebagai putra daerah yang besar di kampung halamannya di Tapanuli Selatan, rupanya dulu saban sahur tiba, para ibu di kampung selalu menyiapkan daun ubi tumbuk sejak dini hari sebelum sahur.

“Jadi mereka menumbuknya dengan lesung di rumah-rumah panggung. Bayangkan suaranya itu menggema membangunkan untuk santap sahur,” kenangnya mengingatkan sahur daun ubi tumbuk yang dimasak istrinya.

Cerita berlanjut tentang perjalanannya saat umroh bersama keluarganya saat menjelang hingga hari keempat bulan suci Ramadan. Dalam perjalanan umrohnya itu, bapak lima anak itu mendoakan tentang keamanan dan ketentraman Kota Medan, kemudian kota yang dipimpinnya jauh dari bencana serta masyarakatnya tambah sejahtera.

Di pendopo rumah dinas itu juga, Rahudman membahas tentang konflik Rohingya, di mana kabar beredar muslim dibantai secara sadis. Kemudian, ada banyak warganya sudah mengungsi ke Indonesia, salah satunya ke Kota Medan melalui pintu masuk Belawan.

“Saya tidak tega melihat itu, mudahan kalau memang bisa disegarakan saja jadi warga negara Indonesia. Insya Allah saya beri bantuan untuk pengungsi itu, karena mereka itu saudara kita sesama muslim,” katanya.

Pembicaraan terus mengalir, waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB. Tim Sumut Pos dan Rahudman mengambil wudhu untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di pendopo rumah dinas. Usai salat subuh, tim Sumut Pos permisi pulang  ke rumah dan Rahudman menukar kain sarungnya dengan training untuk jogging mengitari taman rumah dinas itu, sebelum dilanjutkannya untuk beraktivitas di kantornya. (*)

Berdoa untuk Kemajuan Kampus

Buka Puasa Bersama Keluarga Besar ITM

Keluarga besar Institut Teknologi Medan (ITM) menggelar acara buka puasa bersama di kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan, Jumat (3/8) lalu. Buka puasa yang telah menjadi agenda rutin perguruan tinggi swasta ini dihadiri puluhan anak penerima santunan.

TERIMA SANTUNAN:Rektor ITM Prof Dr Ilmi Abdullah MSc  undangan bersama puluhan anak penerima santunan, Jumat (3/8).
TERIMA SANTUNAN:Rektor ITM Prof Dr Ilmi Abdullah MSc dan undangan bersama puluhan anak penerima santunan, Jumat (3/8).

REKTOR ITM Prof Dr Ilmi Abdullah MSc di hadapan para pimpinan kampus, dosen,  pegawai dan undangan mengutarakan rasa syukur dapat berkumpul dalam acara buka  puasa bersama yang rutin diadakan setiap tahun. ‘’Allah banyak memberikan keberkahan kepada kita semua,’’ katanya.
Ilmi Abdullah mengatakan, Allah SWT telah banyak memberikan keberkahan kepada  keluarga besar ITM.

Ia pun mengajak civitas akademika ITM dapat berdoa untuk  kemajuan ITM di masa mendatang, termasuk dalam penerimaan mahasiswa baru tahun  akademik 2012/2013 dapat menerima lebih banyak mahasiswa baru.

Guru Besar ITM yang dikenal ramah ini juga berharap ceramah agama yang disampaikan  Ustadz Yahya Tambunan dapat dipedomani para pimpinan kampus, dosen, pegawai dan  mahahasiswa sehingga dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Di samping itu, Rektor ITM meminta semua dosen, pegawai dan mahasiswa dapat terus  menjalin silaturahmi dan kebersamaan sehingga dapat secara bersama membawa lembaga pendidikan di Jalan Gedung Arca Medan ini dapat lebih berperan dalam mencerdaskan generasi muda bangsa.
Sedangkan Ustadz Yahya Tambunan juga mengajak keluarga besar ITM untuk dapat  menjalin silaturahmi yang lebih baik.

Ia pun memberi apresiasi terhadap kepedulian  keluarga besar ITM dalam memberikan santunan kepada anak yatim dan anak yang  membutuhkan.
Yahya juga mengingatkan pentingnya berzakat dan mematuhi segala aturan dalam agama  sehingga dapat menjadi umat terbaik di sisi Allah SWT. Melalui pengembangan pengumpulan zakat, menurut dia, dapat lebih memberikan kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam acara buka puasa penuh kekeluargaan ini, sebanyak 30 anak mendapatkan  santunan yang diserahkan Rektor ITM Prof Dr Ilmi Abdullah beserta para undangan.  Acara diakhiri dengan buka puasa bersama dan Salat Maghrib berjamaah. (*)

Setelah Hidup Diperpanjang Lima Tahun

Manufacturing Hope 38

Hari ini, Senin 6 Agustus 2012, genap lima tahun saya “hidup baru”. Allahu Akbar! Kalau teringat begitu parahnya kondisi badan saya lima tahun yang lalu, rasanya tidak terbayangkan saya masih bisa hidup hari ini. Allahu Akbar! Apalagi dengan kualitas hidup yang nyaris sempurna seperti sekarang ini. Allahu Akbar!

Sejak saya muntah darah tujuh tahun lalu, dan kemudian diketahui sepanjang saluran pencernaan saya sudah penuh dengan gelembung darah yang siap pecah (akan diikuti dengan muntah darah atau buang air darah), harapan hidup waktu itu hampir hilang.

Harapan hidup itu lebih tipis lagi setelah diketahui bahwa limpa saya sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa normal. Itu berarti limpa tersebut sudah siap meledak yang menjadi penyebab kematian kapan saja. Apalagi status hati saya yang terkena virus hepatitis B pun sudah meningkat menjadi sirosis, mengeras dan tidak berbentuk hati lagi.

Vonis bahwa umur saya maksimal tinggal enam bulan lagi harus saya terima setelah dipastikan bahwa hati saya sudah penuh dengan kanker. Ukuran kankernya pun sudah besar-besar. Sudah ada yang 2 cm, 4 cm, dan 6 cm. Bibit-bibit kanker lain masih puluhan jumlahnya.

Saya tidak akan lupa ucapan seorang dokter ahli di Singapura, yang sudah begitu pasrahnya. Terutama ketika saya mengeluh kesakitan setiap kali mengenakan sepatu. Kaki saya sudah bengkak begitu besarnya. Sepatu saya tidak muat lagi.

“Ya ganti sepatu saja!” ujar dokter yang pasiennya 80 persen orang dari Indonesia itu. Padahal, waktu itu saya mengharapkan jalan keluar bagaimana agar bengkak kaki saya itu bisa diatasi. “Tidak ada jalan lain. Ganti sepatu. Kalau bengkaknya sudah lebih besar lagi, ganti sepatu lagi!”
Saya tidak jengkel dengan ucapannya itu. Bahkan, saya tersenyum karena terasa ada lucunya. Itulah cara dokter memaksa saya untuk menjalani transplantasi. Tidak ada jalan lain lagi.

Hanya transplant yang bisa menyelamatkan. Itu pun tidak bisa transplant separo hati (diambilkan dari hati istri atau anak atau pendonor) karena seluruh hati saya sudah hancur.

Harus hati sepenuh hati yang berarti hanya bisa didapat dari orang yang meninggal.

“Kalaupun itu bisa didapat  dan kalaupun itu nanti sukses,” kata dokter tersebut, “Paling hanya bisa menambah umur lima tahun.”
Saya juga tidak akan lupa ucapan dokter itu berikutnya: “Tapi, tambah umur lima tahun kan lumayan. Waktu itu nanti umur Anda kan sudah 61 tahun. Sudah lebih pantas meninggal.”

Saya memang akrab dengan dokter itu sehingga sekeras apa pun ucapannya tidak membuat saya kecewa. Sang dokter juga tahu bahwa saya cukup intelek untuk menerima kata-kata yang meskipun bernada keras,  tapi sangat ilmiah.

Mengapa hasil transplant itu hanya bisa memperpanjang umur lima tahun? Secara ilmiah, bisa diterangkan begini: virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu, logikanya, sudah ikut beredar di darah. Artinya, virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu sudah berada di mana-mana. Ketika saya mendapatkan hati baru dan hati baru tersebut dilewati darah yang sudah membawa virus hepatitis B dan sel-sel kanker, virus dan sel-sel tersebut otomatis hinggap lagi di hati yang baru.

Lalu, virus hepatitisnya berkembang lagi, hati menjadi sirosis lagi, muntah darah lagi, bengkak lagi, dan kanker merajalela lagi.

Teori seperti itulah yang membuat tekad untuk melakukan transplant kadang mengendur. Untuk apa transplant. Mahal sekali dan belum tentu berhasil. Berhasil pun hanya untuk lima tahun. Pun, tambahan hidup lima tahun itu belum tentu bisa dinikmati. Bisa jadi, kualitas hidup pasca transplant tersebut adalah kualitas hidup yang sangat rendah: harus minum banyak obat, sering masuk rumah sakit, menyusahkan keluarga, dan menghabiskan banyak uang.

Tapi, orang hidup itu tidak boleh pesimistis.
Tidak boleh putus asa.
La taiasu!
La tahzan!

Ingat ajaran agama: Berikhtiar itu bukan mubah, bukan sunnah, tetapi wajib!
Jadilah saya memutuskan transplantasi hati.

Tapi, saya juga tidak terlalu berharap banyak. Takut kecewa. Orang yang tidak berharap banyak bisa lebih bahagia.
Termasuk, saya tidak membayangkan bahwa setelah transplant nanti saya bisa jalan-jalan jauh. Saya pikir, saya nanti bisa hidup, tapi dengan aktivitas yang terbatas. Kalau sebelum transplant saya putuskan membeli helikopter, antara lain untuk persiapan siapa tahu bisa membantu mobilitas saya.

Allahu Akbar!

Transplantasi hati saya berhasil.

Kualitas hidup saya setelah transplant ternyata tidak selemah seperti yang saya bayangkan. Ternyata, saya bisa bekerja, bisa ke mana-mana dan bisa di mana-mana. Saya bisa berolahraga setiap hari selama 1,5 jam!

Bahkan, kalau Monas lagi hujan, saya bisa berolahraga dengan cara menaiki tangga darurat gedung-gedung pencakar langit milik BUMN di Jakarta: gedung Kementerian BUMN di dekat Monas, gedung Pertamina di dekat Masjid Istiqlal, gedung BTN di Harmoni, gedung Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto, gedung Bank Rakyat Indonesia di dekat Jembatan Semanggi, dan terakhir gedung Bank BNI di dekat patung Jenderal Sudirman. Tidak ada lagi gedung tinggi milik BUMN yang belum saya naik-turuni.
Rekor amatir saya: 16 menit naik, 12 menit turun!

Pada ulang tahun kelima Senin hari ini, tidak ada acara khusus karena ada dua kali sidang kabinet. Tapi, kemarin, sehari penuh, 1.000 penghafal Alquran (hufadz) berkumpul di Jakarta untuk khataman. Nanti sore istri saya yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang, hehe…, semuanya bernama Nafsiah Sabri, mengundang kelompok pengajian ibu-ibu untuk berbuka bersama.
Selama empat tahun hidup baru, saya selalu berada di lokasi yang berbeda. Ketika baru setahun “hidup baru”,  saya berada di Kashmir yang saat itu lagi amat tegang oleh perang saudara. Tahun kedua saya sudah diajak Bapak Presiden SBY ke USA, Meksiko, Peru, dan Brasil.
Saya agak waswas menempuh perjalanan begitu jauh dan berat saat itu. Tapi,  ternyata tidak ada masalah yang besar.
Tahun ketiga saya ke Tiongkok untuk check-up total. Tahun keempat, tanpa disangka-sangka, saya menjadi CEO PLN dan mengundang 1.000 hufadz untuk khataman Alquran.
Allahu Akbar!
Hari ini, lima tahun terlewati dengan penuh berkah. Allah memberikan nikmat jauh melebihi dari yang saya gambarkan. Jauh sekali.
Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anestesi selama 13 jam, setelah saya menyadari bahwa operasi saya berhasil (meski masih untuk sementara), setelah saya mengucapkan rasa syukur, saya pun bertekad untuk tidak lagi mau mengurus perusahaan. Terutama karena selama dua tahun saya sakit toh perusahaan tetap berkembang.
Lalu, saya hanya ingin mau mengerjakan tiga hal saja: menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan kembali mengurus pesantren keluarga. Kebetulan, keluarga kami memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang tergabung dalam Pesantren Sabilil Muttaqien, yang didirikan oleh seorang mursyid tarekat Syathariyah. Saya merasa bersalah karena selama itu saya terlalu sibuk ‘mencari duit’ sehingga kurang ikut mengurus pesantren ini.
Sama sekali tidak membayangkan kalau suatu saat saya diminta oleh Bapak Presiden SBY untuk menjadi CEO PLN. Saya sudah merasa sangat bahagia kalau bisa menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren. Tidak ada bayangan sama sekali menjadi pejabat.
Saya pun sudah mencoba menolak mati-matian jabatan CEO PLN itu, tapi pada akhirnya ini: dengan memperpanjang umur saya, mungkin Allah punya kehendak lain yang harus saya kerjakan. Saya pun menerima takdir itu. Pun ketika kemudian harus menjadi menteri negara BUMN.
Toh saya masih tetap bisa mengajar jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren keluarga.
Pekerjaan penting menjelang lima tahun ‘hidup baru’ ini tentu harus saya lakukan:  memeriksa apakah ada sel-sel kanker di badan saya, sisa-sisa kanker yang dulu.
Allahu Akbar!
Tidak ada. (*)

Ramadhan Fair tak Fair, Copot Kadisbudpar Medan

MEDAN-Buruknya pengelolaan Ramadan Fair di Taman Sri Deli, Jalan SM Raja Medan membuat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan, Busral Manan terus menjadi sorotan.

Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PD Muhammadiyah Kota Medan, Drs Anwar Bakti meminta Wali Kota Medan, Rahudman Harahap melakukan evaluasi terhadap Busral Manan.

“Wali Kota Medan harus mendengar keluhan masyarakat dan pengunjung. Wali Kota Medan harus mencopot Kadisbudpar Kota Medan,” tegasnya.
Menurutnya, Ramadan Fair tiap tahun semakin buruk. Sistem pengelolaannya tak fair dan jauh dari syariat Islam. Untuk itu, katanya, ke depan Ramadan Fair harus dikelola orang yang mengerti dan memahami bukan orang yang tidak mengerti. “Kalau Ramadan Fair mau fair jangan ada kecurangan harga,” ungkapnya. Selain itu, katanya, Ramadan Fair juga jauh dari nuansa Islam karena pramusaji di stan Ramadan Fair berpakaian serba ketat yang bisa mengundang hawa nafsu.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Medan, A Hie mengatakan, menyesalkan sistem pengelolaan Ramadan Fair diserahkan sepenuhnya even organizer (EO).
“Ramadan Fair ini adalah icon Kota Medan saat bulan Suci Ramadan, sehingga harus dikolala dengan baik jangan sampai menurun. Seharusnya Disbudpar Kota Medan mengontrol harga,” katanyan
Sekadar mengingatkan, pengunjung Ramadan Fair di Taman Sri Deli Jalan SM Raja Medan ngamuk-ngamuk. Pemicunya harga minuman dan makanan terlalu mahal. Buntutnya, seorang paramusaji disiram pengunjung dengan air minuman yang dipesannya.
Kejadian itu berawal saat rombongan keluarga M Zaki (34) datang ke lokasi Ramadan Fair. Keluarga ini duduk dan memesan 4 teh botol, 1 martabak telur, 1 mie rebus.

“Kalau saya total harganya sekitar Rp35 ribu. Saya kasih Rp36 ribu pramusaji tidak terima. Mereka tetap bertahan dengan harga di bon,” ujar Zaki.
Dijelaskannya, melalui daftar yang dibuat panitia, harga teh botol Rp3.500, sedangkan pramusaji membuat harga menjadi Rp6.000, martabak telur didaftar yang dibuat panitia sebesar Rp8.000 tetapi pramusaji menulis Rp10.000.

“Ini namanya pembohongan publik. Untuk apa panitia buat daftar harga, kalau harga yang diberi sama pramusaji tidak sesuai. Padahal, mereka kan sudah briefing sebelumnya di Dinas Pariwisata Medan tentang harga,” ujar Zaki.

Merasa ditipu, reflek Zaki menyiram pramusaji tersebut dengan air teh botol yang dipesannya.
“Saya refleks saya tidak terima ibu saya terus diintimidasi. Bayangkan dari pesanan kami sekeluarga pramusaji tersebut bisa mengantongi sekitar Rp20 ribuan,” tambahnya.

Akhirnya, perbuatan tidak menyenangkan tersebut sampai ke meja panitia.
“Saya tidak terima jadi saya bawa saja langsung ke panitia. Saya bayar sesuai ketentuan harga panitia,” tambah Zaki.
Zaki menerangkan ini bukan kejadian pertama yang dialaminya. Tahun lalu, even yang sama harga tetap menjadi masalah.

“Saya kira tahun ini sudah ada perbaikan, tetapi ternyata sama saja. Kapok datang ke sini. Kasihan masyarakat kena tipu terkait harga,” lanjutnya.
Terkait dengan penyiraman air teh botol yang dilakukannya, Zaki menyatakan sudah minta maaf. Tetapi kalau pramusaji tak terima silahkan saja mengadu ke pihak berwajib.

“Saya juga akan melapor ke polisi karena diperas dan ditipu,” tambahnya.

Sebelumnya, Bana Situmorang pengunjung Ramadan Fair lainnya menjelaskan, dia bersama rekannya memesan dua gelas teh manis dingin dan sepiring pisang bakar. Saat terjadi transaksi pembayaran, pramusaji membanderol harga makan dan minuman Rp27.000.
“Kalau dibeli di luar harganya pasti tak segitu. Sepertinya harga cukup mahal dan dibiarkan oleh Disbudpar Kota Medan tanpa ada pengawasan harga dan pemerataan harga,” ucap Bana.(gus)

Bupati Sergei Berikan 10 Sepeda Motor

Kapoldasu Resmikan Mapolres Sergai

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Utara (Sumut) Irjen Pol Drs Wisjnu Amat Sastro, SH meresmikan penggunaan Markas Polres Sergai, Jumat (3/8). Dalam peresmian itu, dihadiri Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi, Kapolres Sergai AKBP Arief Budiman, Sik, MH, para pejabat utama Polda Sumut dan pejabat utama sejajaran Polres Sergai, tokoh masyarakat dan lainnya.

TEKANTOMBOL: Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, SH, Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi  Wakilnya, Kapolres Sergai AKBP Arief Budiman, SIK, MH, menekan tombol tanda diresmikannya Markas Polres Sergai, Rabu (3/8).
TEKANTOMBOL: Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, SH, Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi dan Wakilnya, Kapolres Sergai AKBP Arief Budiman, SIK, MH, menekan tombol tanda diresmikannya Markas Polres Sergai, Rabu (3/8).

Selain gunting pita dan membuka selubung papan nama yang dilakukan Kapoldasu Irjen Pol Drs H Wisjnu Amat Sastro, SH, acara seremonial itu juga dirangkai dengan penyerahan bantuan 10 sepeda motor dan 28 ponsel Blackberry. Bantuan ini akan digunakan untuk keperluan tugas operasional Bhabinkamtibmas Pilot Project di wilayah Kecamatan Perbaungan.

Dalam kesempatan itu, Kapoldasu mengatakan, dengan diberinya bantuan 10 unit sepeda motor dan ponsel BlackBerry bisa memacu semangat bagi Polres Serdangbedagai. “Tapi aparat dalam bertugas harus mampu menguasai jalan, patroli yang rutin, dan kunjungan ke masyarakat. Hendaknya Polres Serdangbedagai juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Kapolda juga berpesan kepada personel Polres Sergai agar memperhatikan lingkungan, sebab kerusakan lingkungan sangat berpengaruh atas persediaan pangan. Kekurangan pangan menjadi salah satu pemicu tindakan kriminalitas, misalnya pencurian dengan kekerasan. “Agar pengendalian itu berjalan maksimal, harus melibatkan peran serta tokoh masyarakat setempat. Terlebih ada program satu desa satu polisi, maka komunikasi dan kordinasi bisa terealisasi dengan lancar,” harapnya.

Bupati Serdangbedagai T Erry Nuradi dalam sambutannya juga berharap, fasilitas ini menjadi sarana pendukung guna meningkatkan kinerja kepolisian. Dia memaparkan, markas baru yang dibangun pada awal 2011 ini menelan biaya Rp4,5 miliar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Serdangbedagai.

Sementara itu, Kapolres Sergai AKBP Arief Budiman, SIK, MH mengucapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada Bupati Sergei yang telah memberikan bantuan dan dukungan seringga Mako Polres Serdangbedagai rampung pembangunannya. Rangkaian acara tersebut ditutup dengan buka puasa bersama dan solat Magrib berjamaah. (*)

Kopi Darat

Masih ingat dengan istilah ‘Kopi Darat’?

‘Kopi Darat’ awalnya populer di antara kalangan pengguna radio amatir, karena pengguna radio amatir berkenalan di “udara” sehingga tidak saling mengenal muka. Hal ini biasanya ditindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan (temu muka). Seiring kemajuan teknologi, istilah ini juga digunakan untuk pertemuan tindak-lanjut perkenalan melalui internet, biasanya oleh situs-situs sosial seperti pesan instan (chatting), situs pertemanan, komunitas maya, dan lain sebagainya.

Berangkat dari istilah itu, saya ingin membayangkan ketika sejumlah bakal calon (balon) Gubsu akan berkumpul di Hotel Garuda Plaza di Jalan Sisingamangaraja, Medan, petang ini. Para figur itu diundang untuk menghadiri acara ‘’Buka Bersama dan Silaturahmi Balon Cagubsu 2013’’ yang digelar oleh Sumut Pos. Maksudnya, seperti apa kira-kira para tokoh itu bertemu. Selama ini, kehadiran mereka cenderung bak pengguna radio amatir bukan?

Kenapa saya katakan mirip pengguna radio amatir? Jawabnya, selama ini mereka (para tokoh itu) pasti memantau pergerakan lawan-lawannya. Ya, setiap gerak lawan menjadi sorotan; semacam strategi deffensif untuk trik offensif ke masa mendatang. Bagaimana cara memantaunya? Jawabnya, ya, melalui media. Nah, nanti sore mereka ditemukan oleh media untuk saling kopi darat tadi.

Memang, satu tokoh dan tokoh lainnya saya yakini saling kenal. Bahkan, bisa saja mereka akrab. Tapi, ketika mereka ‘dipaksa’ untuk bertemu dalam suatu forum yang berlabel silaturahmi antarbalon Gubsu, tentunya berbeda bukan? Ya, semacam akan ada benteng di antara mereka ketika bertemu di depan umum. Masing-masing tokoh tentunya memiliki pendukung dan pendukungnya itu tentu tidak mau melihat dia terlalu akrab atau cenderung ‘mengalah’ dibanding tokoh lain. Hingga, sang tokoh pun ‘terpaksa’ untuk saling jaga imej. Fiuh.

Menariknya, bagi saya, pertemuan nanti sore cenderung ‘aneh’. Bagaimana tidak, tidak ada satu pun dari mereka yang sudah mengantongi nama sebagai calon Gubsu.

Ya, belum ada pendaftaran resmi. Memang, semuanya sudah melakukan gerakan dengan mengambil hinggal mengembalikan fomulir pada partaipartai tertentu, tapi pendaftaran resmi untuk calon kan belum dibuka. Intinya, semuanya masih bakal calon alias balon. Tapi, mereka sudah merasa atau mengklaim sebagai calon. Nah, menarik bukan?

Pertanyannya, ketika wajah mereka saling berhadapan nanti sore, apa yang akan mereka rasakan? Adakah perasaan itu mirip seorang lelaki yang melakukan kopi darat dengan seorang perempuan yang dia kenal di ‘udara’? Ya, ada rasa salah tingkah hingga ingin tampil hebat. Ada rasa minder hingga berbuat nekat.

Hm, sebuah peristiwa yang menyenangkan bagi saya. Jadi tak sabar menunggu nanti sore. (*)

Tahun Ini Pembeli Sepi

Penjual Bendera di Taman Makam Pahlawan

MEDAN- Menjalang perayaan Hari Kemerdekan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus mendatang, sepanjang trotoar di Jalan Sisingamangaraja Medan, persis di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) dipenuhi para penjual bendera merah-putih musiman.

JUAL BENDERA: Trotoar  depan Taman Makam Pahlawan Jalan SM Raja dipenuhi penjual bendera  Merah-Putih.//ANDRI GINTING/sumutpos
JUAL BENDERA: Trotoar di depan Taman Makam Pahlawan Jalan SM Raja dipenuhi penjual bendera Merah-Putih.//ANDRI GINTING/sumutpos

Mereka menjajakan barang dagangannya, mulai dari bendera ukuran kecil, sedang sampai yang besar. Bendera-bendera itu dibuat dari kain dan dijahit oleh para pedagang sendiri. Pantauan wartawan, sedikitnya ada 6 pedagang bendera berjejer di lokasi itu.

Para penjual bendera mulai menjajakan barang dagangannya sejak pukul 06.00 WIB. Mereka tutup jika matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat atau sekitar pukul 18.00 WIB.

Dengan beralaskan kardus, yang dibentangkan diatas trotoar, para pedagang sesekali membaringkan tubuh mereka, di tengah padatnya arus lalulintas di sepanjang Jalan Sisingamangaraja.

Romi (36), warga Jalan Delitua sejak 10 tahun terakhir ini memanfaatkan trotoar di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Jl Sisingamangaraja Medan, untuk berjualan bendera merah-putih.

“Sudah dari tahun ke tahun saya berjualan di sini. Bukanya jam 6 pagi pulang jam 6 sore,” ujarnya, saat ditemui Minggu (5/8) siang.
Dikatakannya, dia mulai berjualan sejak tanggal 1 Agustus dan dia berjualan sampai 16 Agustus mendatang.
“Biasanya tanggal 16 terakhir berjualan. Karena besoknya kan sudah 17 Agustus,” sebutnya. “Ya sekitar cuma 15 harilah bang, nyari rezeki sampingan,” tambahnya.

Romi menyebut, penjualan pada tahun lalu lebih banyak ketimbang sekarang ini. “Sepi yang beli benderanya bang. Bedalah sama tahun lalu,” pungkasnya.
Hal yang sama juga dikatakan, Rasat, pedagang lainnya.

“Beda sekali sama penjulan tahun lalu. Sejak tiga tahun terakhir ini, penjualan saya selalu menurun. Kalau sekarang ini sepertinya, jiwa nasionalisme kita sudah mulai memudar,” ujar pria berusia 60 tahun itu. (mag-12)

Daihatsu Siap Produksi Mobil K-Car

Januari-Juni, Xenia Laku 2.843 Unit di Medan

MEDAN- Menyusul pertumbuhan mobil compact (K-car) –kapasitas 5 tempat duduk—di Jepang, dengan market share per Mei 2012 mencapai 37 persen, sejumlah merek otomotif di Jepang mulai masuk ke pasar mobil compact.

DAIHATSU: Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra (tengah), Kadiv Marketing PT Astra Internasional Henfrayadi Lastiyoso (kanan),  Kadiv Domestik Marketing, Rio Sanggau (kiri)//Dame/sumut pos
DAIHATSU: Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra (tengah), Kadiv Marketing PT Astra Internasional Henfrayadi Lastiyoso (kanan), dan Kadiv Domestik Marketing, Rio Sanggau (kiri)//Dame/sumut pos

“Di Jepang, Daihatsu menempatkan tiga produk K-Car unggulannya, yaitu Daihatsu Tanto, Mira E:s, dan Move yang menduduki 3 besar, dengan market share sebesar 34,7 persen dari pasar K-car. Artinya, saat ini Daihatsu menempati posisi pertama dalam kategori K-Car di Jepang. Melihat tren ini, Daihatsu bersiap memproduksi, memasarkan, dan menjadi pemain utama compact car diIndonesia,” kata Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM), pada acara Daihatsu Media Forum di JW Marriot Medan, Jumat (3/8).

Karena K-Car tergolong kendaraan jenis Low Cost Green Car (LCGC), maka Astra Daihatsu Motor tengah menanti kebijakan pemerintah mengenai LCGC. “Kalau kebijakannya sudah keluar, maka kami siap memproduksinya,” ujar Amelia.

Adapun keunggulan mobil-mobil K-Car antara lain irit BBM, ramah lingkungan, sementara tenaga mesin cukup handal. “Di Jepang, pemilik mobil K-Car mendapatkan berbagai kemudahan, seperti pajak yang lebih ringan, tiket jalan tol yang lebih murah, dan berbagai efisiensi lainnya,” ungkapnya. Nantinya, disain K-Car akan disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan warga Indonesia.

Di Jepang, negara asal Daihatsu, posisi pangsa pasar Daihatsu juga naik ke peringkat tiga setelah Toyota dan Honda selama tiga tahun terakhir. Per Mei 2012, Daihatsu menguasai 12,8 persen pasar otomotif di Jepang. Dan, produk mobil Daihatsu di Jepang yang laris adalah K-Car berkapasitas lima penumpang.

Pangsa K-Car di Jepang terus naik selama tiga tahun terakhir. Per Mei 2012, volume penjualannya mencapai 902.233 unit (36,9 persen), sementara non K-Car sebesar 1.541.678 unit (63,1 persen).

Untuk pasar otomotif nasional, merek Daihatsu saat ini semakin melesat. Daihatsu berhasil mempertahankan pangsa pasar di posisi kedua setelah Toyota selama tiga tahun terakhir. “Toyota menguasai 38,1 persen pangsa pasar Januari-Mei 2012, sementara Daihatsu per Mei 2012 kini menguasai 15,4 persen pangsa pasar. Dibandingkan pada tahun 2007, di mana Daihatsu masih berada di posisi empat dengan pangsa pasar 12 persen, di bawah Toyota, Mitsubishi, Suzuki, maka ini termasuk kenaikan rangking yang cukup drastis,” kata Hendrayadi Lastiyoso, Marketing Division Head PT Asta International Tbk.

Untuk pasar otomotif global sendiri, di negara maju terus mengalami penurunan 5 tahun terakhir (Amerika turun 18 persen, Eropa barat turun 15 persen). Uniknya, pasar otomotif di negara berkembang justru tumbuh positif. Saat ini, pasar ASEAN naik 40 persen, Cina naik tinggi 111 persen, India naik 65 persen.

Untuk pasar Sumut, sejak Januari-Juni, Astra Daihatsu Motor berhasil menjual produk unggulannya, yakni Daihatsu Xenia sebanyak 2.843 unit dengan market share sebesar 40 persen, disusuk Gran Max Pick Up sebanyak 1.134 unit atau 27,8 persen, kemudian Terios sebanyak 3.6 unit atau 14.3 persen, Gran Max bus sebanyak 221 unit, Luxio 56 unit, dan Sirion 40 unit. (mea)

Jangan Tergoda Tampilan Parsel

MEDAN- Menjelang Idul Fitri 1433 Hijriyah sejumlah swalayan, supermarket, mal dan plaza serta pusat perbelanjaan mulai ramai memajang aneka parsel di etalase masing-masing. “Mereka menawarkan kreasi dan inovasi isi parseln Memang sampai pada tahap ini tidak ada yang salah. Tetapi hal yang patut diwaspadai adalah beberapa oknum yang menyalahgunakan bulan istimewa ini dengan menjual parsel yang berisi makanan kadaluarsa,” ungkap Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Farid Wajdi kepada wartawan, Minggu (5/8).

Dikatakannya, jangan sampai penjualan parsel di bulan Ramadan menjadi cara melepas barang kadaluarsa. Hal tersebut terlihat dari semakin murahnya harga paket parsel dengan sejumlah komoditas produk.

“Ada rasa khawatir kalau melihat harga parsel yang murah tapi banyak jenisnya. Khawatirnya produk tersebut sudah kadaluarsa,” tambahnya.
Kekhawatiran warga ini cukup beralasan, karena parsel-parsel tersebut dijual dalam kondisi terbungkus rapi. Konsumen tidak bisa memeriksa satu per satu komoditas barang yang ada dalam kemasan parsel.

Menurutnya, instansi terkait harusnya bisa melindungi konsumen parsel.

“Konsumen parsel banyak, tetapi tidak ada perlindungan terhadap konsumen ketika membeli parsel. Untuk membeli parsel makanan yang aman, konsumen sebaiknya membeli ke tempat yang resmi seperti perusahaan parsel atau department store yang besar atau terpercaya, bukan penjual yang musiman,” lanjutnya.

Dijelaskannya, ketentuan dalam Undang-undang (UU) Perlindungan Konsumen, masa kadaluarsa dari produk makanan maupun minuman yang dikemas dalam sebuah parsel harus minimal enam bulan. Pasalnya, banyak masyarakat yang menerima parsel umumnya tidak langsung mengkonsumsi isinya.
Di samping itu, jangan mudah tergiur parsel dengan harga murah. Pasalnya, bukan tidak mungkin isi makanan di dalam parsel tidak jelas tanggal kadaluwarsanya.

Tak dipungkiri, perusahaan parsel yang nakal tersebut membeli makanan yang murah dan beberapa hari lagi sudah kadaluarsa.

“Karena itu diimbau bagi para penjual parsel yang biasanya marak menjelang lebaran, diminta mencantumkan nama/label tokonya di setiap parsel yang dijajakan. Pencantuman label itu merupakan bentuk pertanggungjawaban penjual kepada masyarakat atas parsel yang dijualnya,” tegasnya.
Pencantuman label penjual parsel dapat melindungi konsumen, karena masyarakat yang menerima parsel akan mudah mengadu jika barang-barang yang ada di dalam parsel sudah kadaluarsa dan tidak layak dikonsumsi.

Jadi, warga tinggal melapor ke toko itu atau mengembalikannya lagi. Tidak ada pilihana lain kecuali masyarakat lebih jeli dalam memilih parsel.
“Jangan tertipu penampilan parsel yang menarik dan cantik. Lihat tanggal kadaluarsanya dan periksa bungkusannya. Pemerintah perlu menegaskan kepada penjual parsel agar mencantumkan tanggal kadaluarsa dan nama/label tokonya di setiap parsel yang dijajakan. Pencantuman label itu merupakan bentuk pertanggungjawaban penjual kepada masyarakat atas parsel yang dijualnya,” tukasnya.

Selain itu, kata Farid, mengedarkan produk makanan dan minuman kadaluarsa dapat dikenakan sanksi pidana dan denda sebagaimana diatur dalam UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu maksimal lima tahun kurungan penjara dan denda Rp2 miliar.(ari)

Jembatan Penyeberangan Guru Patimpus Lapuk

MEDAN-Jembatan penyeberangan untuk mempermudah pejalan kaki menyeberang jalan yang padat arus lalulintas. Saat ini banyak jembatan penyeberangan di Kota Medan yang berubah fungsi bahkan terabaikan.

Salah satu jembatan tersebut dapat dilihat di Jalan Putri Hijau, yang berdekatan dengan simpang lampu merah. Dahulunya, pada masa Deli Plaza menjadi idola, jembatan ini berfungsi. Tetapi, berjalannya waktu fungsi jembatan itu berubah. Bahkan, saat ini jembatan tersebut terlihat kusam.

Jembatan ini tidak digunakan oleh masyarakat, karena saat ini jembatan tersebut sudah mulai lapuk. Sehingga sebagian anak tangga sudah hilang, atau tidak ada sama sekali.

“Iya, malas lewat sana uda banyak yang lapuk,” ujar Dina, warga Medan yang tinggal di daerah Krakatau Medan.

Karena sudah tidak terurus, saat ini jembatan tersebut sudah terlihat usang, sehingga terkesan membuat jelek pemandangan di daerah tersebut. Terlebih lagi, berbagai jenis pohon dan daun sudah mulai menutupi sebagian jembatan. “Jadi, benar-benar terkesan lapuk, dan tidak terurus,” tambah Dina.
Selain karena lapuk, alasan lain masyarakat sudah malas menggunakan jembatan tersebut karena lebih praktis menyeberang secara langsung, apalagi saat ini sudah ada lampu merah. Sehingga semakin mempermudah saat menyeberang.

Keadaan jembatan ini sebaiknya dihancurkan, agar tidak merusak pemandangan, sebaiknya dihancurkan saja. Apalagi, saat ini rata-rata jembatan penyeberangan sudah beralih fungsi sebagai tempat papan reklame.

“Kalau hanya untuk papan reklame, mending jembatannya dihancurkan saja, biar nggak merusak pemandangan,” ujar Dina. (ram)