Home Blog Page 13154

Lumain Finish Terakhir

PERJUANGAN sprinter Indonesia, Fernando Lumain di nomor 100 meter atletik Olimpiade London 2012 terhenti. Lumain hanya finish terakhir di heat 2 babak pertama.

Adu cepat di lintasan Olympic Stadium, Sabtu (4/8), sprinter kelahiran Tondano, Sulawesi Utara ini menjadi pelari terakhir yang berhasil menyentuh garis finish dengan catatan waktu 10.90 detik.

Melawan tujuh sprinter lain, Lumain masih tertinggal jauh dari catatan waktu sprinter Amerika Serikat (Justin Gatlin) yang mampu finish terdepan. Gatlin berhasil mencatatkan waktu 9.97 detik.

Pada babak semifinal, Gatlin akan ditemani sprinter Bahama, Atkins Derrick dan sprinter Trinidad & Tobago, Rondel Sorrillo yang berhasil finish ditempat kedua dan ketiga pada heat 2 ini.

Perjuangan Lumain memang terbilang berat bahkan mustahil. Pasalnya, catatan waktu terbaik yang pernah dibukukan Lumain juga masih jauh dari catatan waktu terbaik di Olimpiade dan dunia.

Catatan waktu terbaik Lumain adalah 10.57 detik. Sedangkan untuk rekor dunia yakni 9.58 detik dan rekor Olimpiade dengan 9.69 detik yang semua kini dipegang sprinter Jamaika, Usain Bolt. (net/jpnn)

Memeluk Sepi Danau Toba

Cerpen  Tova Zen

Langit yang tadinya masam dalam kelabunya mendung, tiba-tiba muntah mengeluarkan ribuan gerimis air serupa jarum yang menusuk bumi. Di tengah hujan yang kian pongah menumpahkan ribuan kubik air dalam sekali guyur, sosok gadis bertubuh mungil terus mengayuh sampan menuju tengah danau.

Tubuhnya menggigil, giginya gemelatuk, dan bulu romanya kian merinding di tusuk dingin. Tangan mungilnya menyebar jala, menangkap ikan     di tengah Toba, tapi ribuan ikan tak mau di bodohi untuk masuk dalam perangkap jalanya. Hanya teri-teri tolol yang masuk perangkap jalanya. Kali ini kerja kerasnya harus di bayar kehampaan. Seharian mengapung di tengah Toba, bahkan hingga hujan mengguyur, tangkapannya masih lah teri-teri yang meloncat-loncat di atas perahu sampannya.

Namanya Rohana. Gadis kumal berkulit langsat. Hidupnya tak lebih sebagai pesuruh yang selalu patuh. Saat tubuhnya di rejam rasa letih, Rohana terduyung-duyung mengayuh sampannya untuk menepi. Danau Toba adalah teman sejatinya, yang mendengarkan setiap keluh dan kesahnya. Saat sepi memeluk erat jiwanya, Toba datang menawarkan berjuta keindahan dalam silau biru airnya. Dengan terampil ia tarik sampannya ke darat dan ia ikat sampan itu di sebatang pohon. Pohon itu hanya mengangguk dalam hempasan angin malam serta siraman hujan, rasanya pohon itu selalu menunduk sedih melihat derita hidup Rohana. Kadang pohon itu menangis dengan rontok daun yang berguguran, saat Rohana bersandar di batangnya yang kokoh sambil berleleran air mata.

Malam ini sang pohon berharap Rohana tak lagi menangis, agar daun-daunnya tak jatuh dan membuatnya gundul. Bagaimana bisa sang pohon tak di rundung sedih, saat melihat sepasang mata bocah kecil yang berkaca-kaca pilu, lalu serpihan kaca yang keluar dari pelupuk mata bocah itu menggelinding dan pecah bercipratan di akar-akarnya. Kadang Rohana menangis menggerung-gerung sambil memeluk batangnya. Anak kecil yang malang dan sebatang kara. Saking malangnya, pohon itu pun rela menjadi ibu bisu baginya. Di danau itu lah Rohana memeluk sepi, bercengkrama dalam riak airnya, dan bergelut dalam gelombang teduh arusnya.

Langit masih murka, bahkan kemurkaannya semakin menjadi-jadi dengan melontarkan umpatan petir yang berteriak keras membelah malam dalam dentum keras guruhnya. Kian terseok-seok tubuh Rohana yang terus menggigil kedinginan. Langkahnya terseret-seret dalam becek tanah Samosir. Tangan kanannya menggenggam gagang ember yang berisi ikan kecil hasil tangkapannya.  Langkah Rohana terhenti di depan pintu. Ya, itu adalah rumah majikan Rohana. Majikan yang merasa punya hak memperbudak Rohana, kerena sejak orok dia lah yang memberikan suapan nasi pada Rohana. Pak Rojaya namanya. Seorang pemalas yang hanya mengandalkan perasan keringat dari anak buahnya dan Rohana merupakan salah satu anak buahnya. Dalam guyuran hujan yang tak henti menderas, tangan kecil Rohana mengetuk pintu kayu. Ingin rasanya ia segera meringkuk dalam kehangatan kamar.
Pak Rojaya muncul, badannya yang tinggi besar seperti raksasa yang siap menelan hidup-hidup tubuh mungil Rohana. Kumis tebalnya ia plintir, dan matanya menyipit tajam memandang isi ember yang di bawa Rohana dengan tangan gemetar di gigil rasa dingin. “Plakk”. Sekali tampar langsung membuat tubuh Rohana terlempar jatuh ke tanah becek. Tubuhnya kian kotor seperti kerbau yang berkubang di becek lumpur. Ember dalam ganggaman tumpah,  di sambung langkah pak Rojaya yang menendang ember hingga melayang di tengah hujan. “Brakk”. Ikan kecil yang dikumpulkan dengan tetes keringat berjingkrat-jingkrat di becek lumpur.

“Kemana saja kau seharian ini Rohana, ha! Aku menyuruhmu mencari ikan tawes, mujair, gurameh. Eh! Kau malah mencari kecil ini. Tak punya otak kau bocah! Kalau saja istriku tak memungut kau yang digenangkan di tengah Toba saat kau orok dulu. Mana sudi aku rawat kau, jijik aku liat kau itu. Paling-paling kau anak jadah, yang di buang ibu kau yang selingkuh dengan manusia setan! Anak setan kau! Pergi sana! Jangan masuk ke rumahku”. Perkataan Rojaya sangat kasar, melebihi umpatan preman pasar. Bahkan di telinga Rohana, suara keras pak Rojaya lebih keras dari pada guruh. Sungguh suara pak Rojaya bukan hanya kasar, tapi tajam dan mengiris-iris hati kecil Rohana.

Andai saja istri Rojaya masih hidup, mungkin Rohana akan mendapatkan perlindungan darinya. “Oh, ibu! Aku kangen sekali padamu bu”, pekik Rohana lirih saat bangkit dari becek tanah. Namanya ibu Tukena, istri pak Rojaya yang telah memungut tubuh bayi Rohana  dari dalam kardus yang digenangkan di tengah Toba. Rasa sayang Tukena pada bayi yang di pungutnya dari Toba, sungguh amatlah besar. Bahkan nama Rohana di ambil dari nama yang mirip sekali dengan suaminya, Rojaya. Saat Rohana berumur dua tahun, ibu Tukena melahirkan anak pertama yang mengakhiri hidupnya dalam persalinan. Pak Rojaya merasa ini adalah kutukan yang dihantamkan padanya. Pak Rojaya merasa anak yang di pungut istrinya pembawa sial, dan sejak itu rasa sayang pak Rojaya pada Rohana berubah murka.

Rohana tahu bahwa dirinya lahir dari Toba. Bu Tukena sering bercerita tentang asal-usul Rohana dan secara jujur bu Tukena mengatakan pada Rohana bahwa dirinya bukan ibu kandungnya, tapi kasih sayangnya menyamai ibu kandung. Tukena bercerita merdu pada tubuh mungil Rohana yang mulai bisa berceloteh kala itu, bahwa Rohana anak Toba. Sejak saat itu Rohana yang baru bisa berjalan mulai memahami kiasan dirinya yang berinduk ke Toba. Dalam kesepian hati dan kepiluan jiwa, danau Toba selalu bisa memeluknya hangat, seperti ibu Tukena yang dulu pernah menimangnya dalam gendongan. “Anakku sayang,  anakku riang, tidurlah sayang, tidur dalam pelukan ibu Toba…..”.

“Braak!!”, pintu rumah di tutup rapat. Rohana bangkit berdiri, guruh kian bergelegar dan rasanya ia ingin sekali tersambar. Merasa hidupnya tiada arti lagi untuk bertahan. Tidak! Rohana selalu bisa menguatkan perasaannya. Bocah cilik itu punya seribu cita untuk      di perjuangkan. Mengubah nasib yang tak pernah berbelas kasih padanya. Mengharap iba yang tak pernah mempedulikannya. Kini ia makin terlena dalam duka. Rindu memilin jiwanya, ia pun mendongak ke langit. Memandang muram langit masam yang masih muntah. Kini ia menangis dan langit pun serasa ikut menangis dalam derai derasnya hujan.

Kepada siapa lagi ia ingin berpulang selain kepelukan ibu. Ibunya menunggu untuk memeluknya. Rohana pun mulai melangkah dengan menyeret kaki-kakinya, menuju ibu Toba yang sudi memeluknya dalam sepi. Kakinya menginjak-injak tanah becek, tangan kanannya memegang pipinya yang masih terasa panas menjalar kulit muka. Leleran air mata kian derasnya, bercampur dengan guyuran hujan yang membuat basah kuyub tubuhnya. Rohana masih berjalan menuju pohon di tepi danau toba. Kali ini pun ia ingin menangis di keheningan malam, dan akan merasa nyaman saat riak air Toba menjilat kakinya.

Sesampainya di pohon besar itu, Rohana duduk di akar-akar yang telah lama menyembul ke permukaan tanah. Sang pohon tahu, kali ini ia akan melindungi si bocah dalam keteduhan dedaunannya yang rimbun. Rohana tidur meringkuk di cekungan akar pohon, menangis sesegukan sambil memeluk erat kaki-kakinya. Sampan yang ia ikatkan pada pohon kini berisi penuh air hujan. Andaikan tak hujan, pastilah Rohana mengayuh sampannya untuk datang ke pelukan ibu Tobanya itu. Malang, malam ini hujan begitu deras, ia pun harus dipeluk sepi dalam dinginnya hujan, dan dinyanyikan lagu sebelum tidur oleh gelegar langit.

“Kak…kak Rohana”, suara samar membuat Rohana membuka kelopak matanya. Dalam samar di kegelapan malam ia melihat bocah cilik berpayung di tengah hujan tak jauh dari tempatnya meringkuk. Bocah cilik itu menenteng plastik di tangan kirinya.

“Kak, ini aku bawakan makanan untuk kau”. Suara polos bocah itu menyejukkan hati Rohana. Barulah ia tahu, bahwa sosok kecil yang datang menghampirinya adalah Rohman, adiknya dari rahim ibu Tukena.

Mata Rohana berbinar melihat kepolosan sang adik terhadapnya. Rohman masih kecil, tapi seperti tahu belas kasih ketimbang Rojaya yang tua bangkotan yang tak mengenal rasa kasih.

Rohman membuka bungkusan plastik yang berisi segenggam nasi dan seongok ikan asin. Dengan lahap Rohana melalap habis makanan yang tak seberapa itu. Rohman tersenyum simpul melihat rona kebahagiaan di wajah kakaknya.

“Kak, besok aku ikut kau ya ke Toba. Aku ingin menjala ikan kayak kau”. Rohana menatap polos wajah Rohman. Mulutnya masih berjubal nasi yang ganas ia kunyah.

“Jangan dik, nanti ayah kau itu marah lagi sama kakak”. Rohana mulai mengusap rambut adiknya dengan sayang.
“Tapi kak, aku ingin seperti kau yang gigih menjala ikan. Aku ingin mendayung    di tengah Toba kak”.
“Rohman, adikku. Kakak masih punya tujuan hidup yang mesti kakak perjuangkan. Kakak terlalu sedih di sini dan Toba selalu mendamaikan hati kakakmu ini. Mungkin kakak harus pergi merantau ke Medan”.

“Kakak mau pergi dari rumah bapak ya? Lalu siapa yang mau Rohman ajak main kak. Aku tak suka bapak. Kadang mabuknya sering kumat dan aku sering digampar juga kak”.
Rohana memeluk Rohman dengan sayang. “Dik, kakak mengerti. Pak Rojaya masih sayang padamu dik, kau anak kandungnya. Beda denganku yang hanya anak Toba. Kau akan baik-baik saja bersama ayahmu itu”.
“Kakak mau pergi ya?”. Rohana mengangguk.
“Kakak sayang kau, dik. Kakak akan kembali membawa jajan dan mainan untuk kau. Kakak juga akan sering-sering menjenguk kau, dan kita bercengkrama lagi di tepi danau Toba ini”.
Rohman menatap wajah kakaknya yang berkaca-kaca. Tiba-tiba tangan mungil Rohman mengusap air mata Rohana. “Kakak jangan menangis lagi ya”.
Lagi-lagi Rohana hanya mengangguk. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang menyayanginya, selain ibu Toba dan pohon tua ini. Rohman berdiri dan melangkah pergi dengan berpayung. Kecipak-kecipuk bunyi becek tanah yang di pijak kaki kecil Rohman.
Rohman menoleh ke arah Rohana, dan tangan kecilnya melambai ke Rohana.    Lagi-lagi Rohana menangis, kali ini ia menangis haru dengan perhatian yang polos dan begitu tulus dari seorang bocah kecil macam Rohman.
Keesokan paginya, langkah kecil mendatangi pohon tua di pinggir Toba. Sinar pagi menerawang menembus dedaunan pohon. Mata kecilnya terpanah rindu saat menatap kosong sampan yang terikat di pohon. Bocah kecil itu tak lain adalah Rohman yang menunggu setiap fajar dengan duduk di sampan Rohana. Berharap kakaknya datang kembali padanya. Kakaknya yang penuh sayang terhadapnya, kakaknya yang menjadi teman bermainnya, dan kakaknya  malang yang selalu memeluk sepi danau Toba.(*)

 

Rindu Plasa, Rindu Takut Menginjak Eskalator

Anak itu merasa gamang. Langkahnya terhenti. Dia tampak gugup. Di
depannya eskalator atawa tangga jalan terus berputar. Dia tak berani
meletakan kakinya di anak tangga yang terus berputar itu.

Begitulah, Sabtu siang kemarin saya melihat anak itu di pusat perbelanjaan yang berada di seberang Masjid Raya Medan. Dia tidak sendirian. Dia berdua dengan temannya. Dan, dia tertinggal di lantai tiga: tepat di hadapannya eskalator yang terus bergerak. Temannya, yang berkostum sama dengannya — sama-sama baju merah —telah berada di lantai dua. Temannya itu tertawa. “Ayo cepat!” teriak temannya itu. Anak itu tidak juga bergerak. Pandangannya benar-benar menunjukan rasa takut. Sempat terlihat dia berusaha nekat; mencoba melangkahkan kaki kanannya di anak tangga yang bergerak, tapi dia urungkan. Dia kembali bersikap siap ala tentara yang sedang apel pagi. Dia kemudian melirik kanan-kiri. Saat itulah mata kami beradu. Saya memang berada di lantai dua, di sebuah tempat jualan minuman dan makanan ringan, tepat di sisi eskalator itu. Begitu mata kami beradu, saya melihat dia makin salah tingkah. Sumpah saya tidak mengejeknya atau menertawakan ketakutannya itu. Saya merasa iba. Sayang, apa yang saya rasakan pastinya tak sampai ke otaknya.

Anak itu kemudian berteriak pada rekannya yang berada di bawah. Tak jelas apa yang diucapkannya, sepertinya dia berteriak tidak dengan sungguh-sungguh. Mungkin, dia tak ingin teriakannya itu didengar orang lain; mungkin takut terdengar oleh saya. Temannya yang berada di bawah tertawa. Tidak sekadar tawa, temannya itu terpingkal. Sumpah, melihat adegan itu saya merasa kasihan. Terbayang dalam otak saya seperti apa panik yang menghinggapi anak yang tak berani naik eskalator itu.

Sekali lagi sumpah, saya paham dengan penderitaan itu. Dulu, ketika masih kecil, ketika masih tinggal di Langsa, saya pun pernah merasakan hal yang sama. Ceritanya, saat itu orangtua sering mengajak saya ke Medan. Dan, setiap ke Medan, kami biasanya ke sebuah plasa yang pada zaman itu cukup populer: Deli Plasa. Awal-awal kunjungan ke plasa yang kini tinggal bangkainya itu saya tak berani menaiki eskalator. Entahlah…, sepertinya tangga jalan itu bak monster dalam novel-novel Ghostbump karya RL Stine. Ya, tangga-tangga itu sepertinya bisa menelan saya dan kemudian membawa saya ke dunia lain yang memiliki kerumitan tersendiri.

Beruntung saat itu saya ditemani orangtua. Ada yang menuntun saya dan memberikan motivasi. Setelah dua kali kunjungan ke plasa itu, akhirnya saya berani melangkah sendiri di atas anak tangga yang terus bergerak tersebut. Hore!

Kembali ke anak tadi, dia makin pucat. Kawannya terus terpingkal. Saya perhatikan, adegan itu berjalan selama tiga sampai limat menit. Fiuh,sebuah waktu yang panjang untuk menikmati rasa panik bukan?

Eits, kawan anak itu bergerak naik. Sigap dia lompati anak tangga. Dia bergerak ke atas sambil tertawa. Sementara anak yang tak berani melangkah melihat temannya itu dengan suntuk, sama sekali tidak ada tatapan takjub melihat atraksi yang ditunjukan rekannya. Dan, sesaat kemudian mereka berdua telah berdampingan di lantai tiga. Si anak yang panik langsung memukul kawannya. Sang kawan tertawa. Setelah basa-basi panik tadi, mereka berdua langsung berjalan. Melewati supermarket yang berada di lantai tiga itu. Ya, di dekat situ memang ada tangga turun: tangga yang tidak bergerak. Mereka turun dengan langkah yang nyaman. Ujung tangga itu tepat di dekat ‘kafe’ tempat saya duduk. Mata anak yang takut tadi beradu lagi dengan mata saya. Dia salah tingkah lagi.  Tapi, salah tingkahnya beda, tidak salah tingkah panik. Kali ini salah tingkah menjurus ke arah malu: bak gadis remaja yang baru terlihat celana dalamnya oleh seorang lelaki sebaya. Hm….

Dan, kedua anak itu langsung cicing. Berputar melewati barisan baju-baju wanita yang dipajang. Lalu, menuruni tangga yang tak bergerak sambil berlari. Ya, sama sekali tak ada rasa sungkan yang terlihat dari gerak mereka ketika menuruni tangga menuju lantai satu itu: tangga yang berada tepat di depan saya. Setelah itu, mereka pun hilang dari pandangan. Fiuh…

Pengalaman kemarin cukup membuat otak saya bekerja. Bagaimana tidak. nKetika zaman yang telah begitu majunya, ternyata masih ada anak yang ketakutan menikmati kemudahan yang diberikan teknologi. Apa yang salah? Apakah ini menunjukan ketidakseragaman nikmat yang dirasakan setiap anak di Medan ini? Ayolah, eskalator bukan lagi benda yang aneh dan baru bukan?

Ketakutan yang dirasakan anak tadi bagi saya bukanlah buah dari trauma. Maksud saya, ketika seseorang pernah merasakan sesuatu yang menakutkan, maka dia akan menolak untuk melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan ketakutan yang sama bukan? Nah, anak tadi saya duga bukan karena trauma pada eskalator, tapi lebih pada jarang menggunakan alatitu. Sementara kawannya sudah sangat sering: saya menduga temannya itu yang mengajaknya dan ingin menunjukan padanya soal eskalator tersebut.

Tapi sudahlah, peristiwa sejatinya sangat wajar. Saya tak berusaha menyalahkan siapapun. Saya hanya berpikir, ketika semua anak memiliki kesempatan yang sama, maka hal itu sangat mungkin tidak terjadi bukan? Jadi, pertanyaannya, kenapa kedua anak itu tidak memiliki kesempatan yang sama, sementara mereka sebaya. Apakah latar belakang ekonomi keluarga mereka bisa dijadikan penentu? Hm, bisa saja. Semakin kaya seseorang, kesempatan untuk pergi ke pusat perbelanjaan akan semakin banyak kan? Nah, tentunya semakin sering menggunakan eskalator.

Tapi, darimana saya tahu latar belakang ekonomi mereka, orangtua mereka saja tak terlihat? Tapi, bukankah ketidaksamaan mereka juga bisa dilihat dari berbagai sisi. Ya, tidak sekadar urusan ekonomi meski lokasi kejadian berada di pusat perbelanjaan. Bisa saja ini menyangkut mental, latar belakang karakter, hingga sosial budayatempat mereka tinggal.

Entahlah… Yang jelas, kedua anak tadi memang mengajak saya berpikir tentang itu. Ya, tentang masa kecil yang menyenangkan. Nanti, ketika anak tadi besar, dia pasti terkenang dengan ketakutannya itu. Ya, seperti saya saat ini yang dengan nyantainya melantunkan kejadian tersebut. Semoga saja dia mampu menuliskan itu di masa mendatang. Dan, makin menyenangkan kalau tulisannya itu memasukan sosok saya yang mungkin dianggapnya sebagai tokoh pengganggu usahanya belajar menaiki eskalator. Yeahhhh. (*)

Sir Alex Mimisan

MANCHESTER – Arsitek gaek Manchester United Sir Alex Ferguson dilarikan ke rumah sakit tadi malam waktu setempat. Pria Skotlandia 70 tahun tersebut dikabarkan mengalami mimisan parah hingga harus mendapat perawatan.

Seperti dikutip dari The Sun, Fergie saat itu menghadiri pesta makan malam untuk memperingati 40 tahun Glasgow Rangers menjuarai European Cup di Glasgow. Rangers ialah klub yang dibela Fergie ketika masih menjadi pemain pada era 60-an.

Peristiwa mimisan itu terjadi saat dia akan melakukan pidato di acara yang digelar di Thistle Hotel tersebut. Sekira 1.000 undangan diberitahu pada menit-menit terakhir sebelum Fergie naik ke panggung bahwa Fergie harus meninggalkan ruangan karena alasan personal.

“Saya melihatnya di parkir mobil. Hidungnya berdarah dan terlihat tidak nyaman,” ujar seorang saksi mata seperti dikutip The Sun.
Pihak medis selanjutnya menjelaskan bahwa Ferguson tidak mengalami problem serius dan sudah dipulangkan dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya di Cheshire untuk beristirahat.

Pada 2003, Ferguson juga sempat dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans, saat berada di Glasgow. Saat itu Ferguson mengalami problem pada jantungnya. (net/jpnn)

Pengganti The Doctor Mulai Adaptasi

MUGELLO – Pembalap Moto2 Scott Redding mendapat kesempatan menjajal Desmosedici di Mugello. Dengan ketidakpastian Valentino Rossi bertahan di Ducati musim depan, momentum ini boleh jadi sangat penting bagi Redding untuk menarik perhatian tim. Siapa tahu dia bisa menggantikan Rossi.
Setelah menjalani tes dua hari, Redding mengaku puas. Adaptasi dengan Desmosedici menurutnya tidak terlalu sulit. Masalah yang selama ini dikeluhkan Rossi, yaitu bagian front, juga tidak terlalu merisaukannya. “Masalah front bukan masalah besar. Ketika saya memulai sub-50s, saya merasakan feeling di luar dugaan di bagian depan, jadi saya membayangkan apa yang mereka rasakan.

Tapi ketika saya memacunya, itu bukan benar-benar isu besar. Dorongannya cukup besar, tapi saya perlu kesempatan kedua untuk memahaminya,” ujar Scott, seperti dikutip MotoGP.

Scott merasa lebih pas menaiki MotoGP dibanding tunggangan di Moto2, hanya dia sedikit mengeluh bobot Desmosedici terasa berat ketika dia ingin mengubah arah.

Rossi kemungkinan hengkang dari Ducati musim depan, karena sulit tampil kompetitif di tim ini, berbeda dengan ketika dia masih membela Yamaha.Tapi, Scott belum terlalu yakin Filippo Preziosi mau merekrutnya untuk menggantikan The Doctor. Tapi setidaknya dia mendapat sinyal positif menjadi rider Ducati, setelah Preziosi menunjukkan rasa puas melihat hasil lap yang ditorehkan Scott saat melakukan test.

Sebab itu, berbicara mengenai peluangnya, Scott lebih senang mengatakan bahwa dia hanya akan terus berusaha. “Saya melakukan apa yang saya bisa, saya kira mencapai waktu di bawah 1,50 di hari kedua saya memacu motor itu cukup bagus,” ujar Scott yang kemudian menjawab diplomatis mengenai tanggapannya tentang kemungkinan kepergian Rossi. “Sedikit khawatir karena dari sana segala pengembangan datang. Dia punya banyak pengalaman dengan motor di sisi lain Nicky punya pengalaman bagus juga, jadi kita lihat saja apa yang akan terjadi,” ujar pembalap Marc VDS 19 tahun itu. (bbs/jpnn)

Laga Pembuka di Markas Villa

BIRMINGHAM – Asosiasi Sepak bola Inggris (FA) memutuskan untuk menggelar Community Shield musim 2012-2013 di Villa Park, markas Aston Villa. Dua tim yang berlaga adalah Manchester City versus Chelsea.

Community Shield adalah laga pembuka musim di Inggris yang mengadu juara liga dan juara Piala FA musim sebelumnya. Karena musim ini City juara Premier League dan Chelsea kampiun Piala FA, maka dua tim itulah yang akan bertanding di Community Shield 2012 pada 12 Agustus mendatang.
Community Shield biasanya digelar di Wembley. Namun, karena stadion bersejarah itu dipakai untuk final cabang sepak bola putra Olimpiade 2012, Villa Park pun akhirnya dijadikan alternatif.

“Villa Park adalah salah satu stadion yang paling ikonik dalam sepak bola Inggris dan punya tradisi bagus dalam menggelar pertandingan-pertandingan terbesar,” ungkap Sekjen FA, Alex Horne, seperti dikutip Sky Sports.

“Begitu kami tahu jadwal sepak bola Olimpiade, kami bekerja keras untuk mengamankan tempat alternatif yang sesuai untuk Community Shield 2012 dan kami senang Aston Villa setuju untuk jadi tuan rumah acara pembukaan musim,” katanya. (net/jpnn)

Solskjaer: Tak Ada Negosiasi

BIRMINGHAM – Bekas striker Manchester United yang kini melatih klub Norwegia, Molde, Ole Gunnar Solskjaer mengakui bahwa ia sudah berbicara dengan pihak Aston Villa. Namun, ia mengatakan bahwa perbincangan tersebut tak resmi dan sama sekali tak ada negosiasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Villa tengah mencari manajer baru menyusul pemecatan Alex McLeish. Solskjaer adalah salah satu nama yang didekati, menyusul prestasinya membawa Molde menjuarai Liga Nor wegia pada tahun 2011.

Kabar ini makin menguat setelah jet milik klub tersebut tertangkap kamera tengah mendarat di Norwegia. Jet ini kabarnya dipakai untuk menjemput Solskjaer dan mempertemukannya dengan pemilik klub, Randy Lerner, di Birmingham.

“Saya bisa mengonfirmasi bahwa saya sudah berbicara dengan Aston Villa,” ucap Solskjaer seperti dilansir Sportinglife. “Tapi, tak ada negosiasi. Hanya perbincangan informal saja. Mereka masih punya beberapa kandidat yang akan diajak bicara juga.”

“Saya hanya ingin menunjukkan rasa hormat kepada salah satu klub terbesar di Premier League dengan menanggapi ajakan berbincang-bincang mereka,” tukasnya.

Musim ini, kesuksesan Solskjaer bersama Molde masih berpeluang untuk berlanjut. Saat ini Molde tengah berada di posisi dua klasemen Liga Norwegia dengan tertinggal satu poin di belakang Stromgodset. Dari sembilan laga yang sudah dimainkan, Molde menang enam kali dan kalah tiga kali. (net/jpnn)

Bantah Kimi ke Ferrari

ENSTONE – Bos Lotus Eric Boullier menepis rumor yang berkaitan dengan pembalapnya, Kimi Raikkonen. Santer terdengar, Roikkonen dikabarkan bakal pindah ke Ferrari pada musim depan.

Boullier pun mencoba meluruskan dengan memberikan statement bahwa dia tidak punya alasan mengapa Kimi berkeinginan untuk hengkang dari Lotus. Karena yang selama ini dia tahu, pembalap Finlandia itu masih senang berada di tim yang berbasis di Enstone ini.

“Ini bagus bahwa Ferrari berada di suratkabar, tapi sejauh yang saya tahu, Kimi (Raikkonen) tidak berkeinginan untuk pergi. Tidak ada alasan yang pasti mengapa pembalap tersebut harus meninggalkan kami,” ujar Boullier, seperti disitat Crash, (4/8).

“Saya percaya Kimi senang di sini dan saya tidak akan mengambilnya sebelum memiliki pengalaman yang terbaik bersama Ferrari. Tapi memang selalu ada banyak rumor. Jadi saya tidak melihat mengapa Kimi ingin menjadi pembalap kedua di Ferrrari,” bilang Boullier. (bbs/jpnn)

Floyd Mayweather Jr Tinggalkan Penjara

LAS VEGAS – Nama Floyd Mayweather Jr bakal kembali menghiasi headline tinju profesional. Kiprahnya yang sempat tertahan akibat menghuni jeruji besi selama dua bulan, kini telah berakhir.

Jumat dinihari (3/8) waktu setempat, dia dibebaskan dari penjara Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Petinju yang belum terkalahkan itu harus menginap di hotel prodeo akibat  tindak kekerasan terhadap mantan kekasihnya Josie Harris.

Dia menjalani masa tahannya itu sejak 1 Juni lalu setelah mendapatkan penundaan yang terkait dengan perjanjian kontrak. Semula, Pengadilan Las Vegas memutuskan Mayweather masuk hotel prodeo pada Maret 2012.

Seperti dilaporkan Associated Press, Mayweather keluar dari pintu tahanan dengan memakai topi kulit berhias logo tim NBA Miami Heat dengan jaket bertopi warna abu-abu. Pembebasan Mayweather dari penjara itu disambut sekitar 20 anggota keluarga dan teman-temannya yang menunggu di depan kompleks penjara Clark County Detention Centre.

Di antara rombongan tersebut juga ada putri tertuanya, Iyanna Mayweather, 12 tahun. Manajer Mayweather, Leonard Ellerbe serta rapper 50 Cent yang juga menyertai saat Mayweather masuk penjara, juga turut menanti kebebasannya.

Mayweather dibebaskan memasuki tengah malam. Setelah menyapa para keluarga dan rekan-rekannya, Mayweather langsung menuju sedan Bentley biru tanpa memberikan komentar apapun kepada wartawan.

Mayweather meringkuk di balik penjara setelah dinyatakan bersalah atas tindak kekerasan yang dilakukannya kepada mantan kekasihnya, Josie Harris. Ironisnya, insiden tersebut disaksikan oleh dua dari ketiga anak mereka. Mayweather divonis kurungan selama tiga bulan namun akhirnya dibebaskan setelah menjalaninya selama dua bulan.

Masalah penjara nampaknya bakal masih akan menghiasi hari-hari Mayweather. Itu tak lepas dari gugatan yang dilayangkan oleh para pengacaranya juga pelatih fisik Mayweather.

Terlepas dari itu, Mayweather juga menghuni ruangan sel yang lebih sempit dari ring tinju. Dia juga tak menyaksikan banyak momen di luar penjara karena tak ada televisi di di selnya.

Satu hal yang terlewatkan tentu saja kekalahan yang diderita Manny Pacquiao dari Timothy Bradley dalam perebutan gelar kelas welter versi WBO, 9 Juni.
Kini, banyak petinju yang sudah mengantre untuk menghadapi Mayweather. Sebelum itu, dia harus mengurus lisensi pertarungan lagi jika ingin bertarung di Las Vegas, Nevada.

Sebab, seiring vonis bersalah dari pengadilan, dicabut pula lisensi pertarungannya terdahulu. (ady/diq/jpnn)

Anton Samba Menanti Tawaran Serius

MUSIM kompetisi ISL 2011/2012 telah berakhir sejak 11 Juni lalu. Beberapa klub mulai melancarkan tawaran kepada para pemain yang diminati. Tak terkecuali gelandang PSMS ISL, Anton Samba.

Gelandang asal Makassar ini mengakui mendapat tawaran dari beberapa klub. “Memang mereka ada menghubungi saya. Ada sekitar lima klub. Empat klub ISL dan satu klub IPL. Tapi saya belum tentukan pilihan,” katanya saat dihubungi kemarin.

Namun Anton belum mau membeberkan klub-klub apa saja yang meminatinya. Apalagi ia belum melihat keseriusan dari klub-klub itu. “Nanti sajalah ya. Soalnya saya mau lihat dulu mana yang serius. Klub yang serius, akan saya pilih,” ujar gelandang 30 tahun ini malu-malu.

Tidak salah memang jika Anton diminati. Performanya cukup menjanjikan. Kengototannya bermain dalam membantu pertahanan dan karakternya yang keras membuat sosok Anton cukup diharapkan sebagai gelandang pengangkut air. Terbukti Anton bermain di 28 laga dan hanya absen karena akumulasi.
Apalagi karakternya yang keras sudah cukup melekat dengan PSMS. Lantas apakah Anton masih ingin bertahan di PSMS?

“Sebenarnya saya suka di PSMS bang. Tapi kalo kondisinya masih seperti mungkin dengan berat hati saya mencoba cari klub lain. Karena disisi lain harus memikirkan keluarga. Saya harus menafkahi keluarga,” katanya.

Caretaker Pelatih PSMS Suharto juga menyebut rapor Anton termasuk bagus. Termasuk rasa memilikinya yang besar untuk tim. “Anton itu bagus. Apalagi dia sudah seperti memiliki tim ini,” pungkasnya. (mag-18)