Home Blog Page 13228

Rp105 M Anggaran Pemprovsu 2010 Jadi Temuan BPK

Kerugian Pemprovsu Tahun 2011 Capai Rp25 M

MEDAN- Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 dan 2011, sama-sama diberi Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Artinya, laporan keuangan Pemprovsu 2011 tidak jauh berbeda dengan tahun 2010 lalu. “Ya, dari tahun 2010 ke 2011 tidak ada perubahan. Opini yang diberikan terhadap laporan keuangan Pemprovsu adalah masih Wajar Dengan Pengecualian,” ungkap Humas BPK RI Wilayah Sumut, Mikael Togatorop yang dikonfirmasi Sumut Pos, Jum’at (13/7).

Terkait nominal Rp105.399.859.248,34 yang menjadi temuan BPK RI terhadap laporan keuangan Pemprovsu tahun 2010, Mikael menjelaskan, itu merupakan hasil secara keseluruhan. Dan bukan total kerugian daerah yang terjadi pada laporan keuangan tersebut.

“Itu nominal keseluruhan, yang menjadi temuan BPK. Dimana ada ketidakwajaran. Untuk kerugian yang diterima daerah, tidak sebesar itu,” ungkapnya.
Saat ditanya jumlah detil kerugian daerah di laporan keuangan Pemprovsu Tahun Anggaran (TA) 2010 tersebut, Mikael mengaku lupa. “Untuk jumlah detil kerugian negaranya, apakah lebih banyak dari tahun 2011 atau lebih sedikit saya lupa,” katanya.

Mikael menyatakan sudah ada temuan BPK 2010 yang dikembalikan dengan cara mengangsur. Namun Mikael kembali mengaku lupa berapa nominal uang yang sudah dikembalikan. “Ya, kita kan ada membuat rekomendasi terhadap temuan itu. Sudah ada sebagian yang dikembalikan, namun saya lupa berapa yang sudah dikembalikan. Kalau 2011 yang lalu, kerugian daerahnya sebesar Rp25 miliar,” ucapnya lagi.
Mikael juga mengomentari soal denda gedung paripurna DPRD Sumut senilai Rp1.2 miliar.

Pernyataan-pernyataan sejumlah pihak terhadap denda gedung paripurna DPRD Sumut, menurutnya, seolah menganggap BPK RI tidak berdasar dalam menentukan penilaian yang diberikan.
“Kita siap menjelaskan kepada masyarakat, mengenai denda gedung dewan itu. Yang tidak dibenarkan oleh BPK adalah pengerjaan setelah akhir kesepakatan itu. Terhitung dari 15 Maret 2012,” bebernya.
Mikael menerangkan, denda yang diberikan hanya hitungan 15 hari dimulai sejak 1 Maret 2012 hingga 15 Maret 2012, sebesar Rp1,2 miliar. Sementara pengerjaan gedung paripurna terlihat hingga Jum’at (6/7). Mikael Togatorop menjelaskan jika pengerjaan seusai tanggal 15 Maret tersebut dikarenakan adanya addendum atau penambahan.

Namun BPK melarang, ketika pihak pengembang atau yang membangun gedung wakil rakyat Sumut tersebut akan mengklaim dana pembangunan sebesar Rp3,5 miliar ke Pemprovsu. “Rp3,5 miliar addendum, itu ditekankan tidak boleh dibayar. Addendum setelah kontrak berakhir. Tidak boleh diajukan ke Pemprovsu, karena pengerjaannya sudah lewat kesepakatan yang ada. Alasannya pengerjaan yang hingga minggu lalu baru kelar adalah ada desain yang tidak pas, sehingga harus tetap dikerjakan,” akunya.

Terpisah, Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun, yang dimintai tanggapannya oleh Sumut Pos, di depan ruang kerjanya, Lantai II Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol No.5, Medan, tidak berkomentar banyak.
Fungsionaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Demokrat Sumut tersebut meminta Pemprovsu untuk segera melakukan perbaikan, terkait temuan-temuan BPK pada mata anggaran 2010 dan 2011.
“Ya, itu harus diperbaiki oleh Pemprovsu,” jawabnya singkat.

Perbaikan seperti apa? Menyikapi pertanyaan itu, Saleh Bangun, mengatakan legislatif dalam hal ini DPRD Sumut sifatnya hanya meluruskan saja.
“Itu ke Pemprovsu saja. DPRD Sumut kan hanya memperbaiki saja. Mau diperbaiki seperti apa, mau ditindaklanjuti itu kan di Pemprovsu sana. Itu diluruskan, temuan BPK kan harus ditindaklanjuti. Ya kan?,” jawabnya lagi.(ari)

Usai Sahur, Remaja Padati Ringroad

SUBUH: Ratusan remaja meramaikan jalanan usai Salat Subuh  Jalan Pancing Medan, Sabtu (22/7) //triadi wibowo/sumut pos
SUBUH: Ratusan remaja meramaikan jalanan usai Salat Subuh di Jalan Pancing Medan, Sabtu (22/7) //triadi wibowo/sumut pos

MEDAN- Mengawali Ramadan 1433 H, sejumlah remaja di Kota Medan memanfaatkan suasana subuh untuk bersama teman-temannya. Salah satu lokasi asmara subuh favorit remaja Medan adalah Jalan Ring Road, di depan Petronas dan KFC.
Di sepanjang jalan, banyak pasangan remaja hilir mudik mengendarai sepeda motor di jalan tersebut sambil membawa petasan. Dua polisi yang bertugas di kawasan tersebut tak bisa berbuat banyak.
“Kami cuma jalan-jalan melihat pemandangan subuh bersama teman-teman,” kata Riko , remaja asal kecamatan Medan Area.

Menurut Fauzan, remaja lainnya, dia dan teman-temannya menunggu fajar tanpa melakukan aktivitas yang mengangagu pengguna jalan lainnya.
“Asmara subuh itu bersama-sama teman tidak ada masalah dan tidak mengurangi pahala puasa. Pasalnya,kita tidak membonceng pasangan wanita,” bilangnya.

Amatan wartawan koran ini, di sekitar Teladan tampak tumpukan remaja berpasangan berkumpul di depan stadion. Di taman, tidak jauh dari stadion juga ramai dimanfaatkan warga berolahraga, juga sekedar duduk-duduk menikmati udara pagi.
Tetapi, suasana yang ramai itu dirusak dengan suara dentuman petasan dan suara knalpot sepeda motor yang sengaja dibolongi. Banyak remaja di kawasan ini sengaja menggeber-geber sepeda motornya.
Karena mengganggu ketenangan di kawasan itu, petugas Polsekta Medan Kota membubarkan kumpulan remaja bersepeda motor itu. Polisi juga mengamankan beberapa sepeda motor yang tidak ber plat dan berknalpot blong dan menyita sejumlah petasan.

Sempat terjadi kericuhan antara petugas dengan pengendara sepeda motor yang hendak ditilang, karena banyakan para pengendara dari kalangan anak sekolah ini tak membawa surat-surat lengkap kendaraannya.
Terlihat beberapa pengendara sepeda motor memutar balik kendaraannya lantaran melihat petugas melakukan razia, bahkan hampir ada yang tabrakan antara sesama pengendara sepeda motor tersebut.
Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandy Sinurat SIK dilokasi mengatakan, mengerahkan 25 orang personelnya untuk pengamanan di kawasan Stadion Teladan.

“Petugas akan melakukan pengawasan sejak pukul 05.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB,” katanya yang didampingi Waka Polsekta Medan Kota, AKP Parulian Sihombing, Sabtu (21/7) pagi.
Selain itu, sambungnya, kegiatan pengamanan selama bulan Ramadhan tersebut guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya tindak kriminal. Saat ditanyai jumlah sepeda motor yang diamankan, Sandy menuturkan, pihaknya mengamankan 10 unit sepeda motor.

Salah seorang pemuda yang ditilang, Rudi (16), mengaku, dirinya hanya menghabiskan waktu saja usai sahur. Diterangkannya, dirinya tak membawa surat-surat kenderaan sepeda motornya karena hanya jalan-jalan.
“Saya hanya mau jalan-jalan saja dan knalpot saya memang sudah blong dan saya lupa untuk menstandartkannya,” pungkasnya. (omi/jon)

Arungi Danau Toba demi Rumah Belajar

file/sumut pos SAMPAN: Para wisatawan lokal menikmati danau  sampan.
file/sumut pos
SAMPAN: Para wisatawan lokal menikmati danau dengan sampan.

SAMOSIR-  Togu Simorangkir, aktivis lingkungan hidup asal Pulau Samosir berhasil berenang mengarungi danau Toba selama lima jam lamanya bersama empat relawan lainnya. Mereka melakukan aksinya dalam kegiatan bertajuk, “Berenang untuk Berbagi”.

Usai berhasil mencapai garis finis tepatnya di Tuk-Tuk Pulau Samosir, Togu mengaku sangat kelelahan mengarungi dinginnya air Danau Toba yang membentang kurang lebih 10 Km dari garis startnya yang dimulai dari pantai bebas, Parapat. Bahkan Togu dan rekannya sering mengalami cedera seperti kram pada kaki akibat dinginnya air danau, terpaksa petugas medis yang mendampinginya tetap memberikan perawatan kepada peserta untuk dapat melanjutkan renang sampai ke Tuk-Tuk.

Keempat relawan lain adalah, Annete Horchman (Jerman), Thomas (Jerman), Fitri Gultom, dan Ronald Manurung juga sempat mengalami kesulitan akibat dinginnya air danau. “Aku ada lima kali kram saat berada di tengah danau toba, adanya ombak dan dinginnya air menjadi tantang berat bagi kami,” ujar Togu, Sabtu (21/7)

Togu juga menceritakan beberapa rekannya seperti Annete juga sempat diselamatkan oleh regu penyelamat karena keletihan di tengah danau Toba, meskipun demikian, perempuan berkebangsaan Jerman yang sudah lama tinggal di Pulau Samosir tersebut menjadi orang pertama yang berhasil mencapai garis finis.

“Annete berhasil lebih dulu sampai ke finis dengan waktu 4,5 jam, sebelumnya dia sempat diselamatkan regu penyelamat karena keletihan pas di tengah jarak Parapat – Tuktuk, dan Thomas sampai finish 5,5 jam,” kata dia.

Berenang yang dilakukan oleh aktivis lingkungan hidup ini adalah salah satu penggalangan dana untuk membangun perpustakan dan rumah belajar bagi anak-anak di Pulau Samosir. Usai berenang, Togu dan kawan-kawan dari Yayasan “Alusi Tao Toba” pun berangkat menuju Kampung Lontung Nagodang di Desa Simanindo, di Pulau Samosir. Tempat itu merupakan perpusatakaan dan rumah belajar yang pertama kali didirikannya di Samosir.

Yayasan “Alusi Tao Toba” berhasil menggalang dana sebesar Rp16 juta rupiah dari kegiatan berenang untuk berbagi pada Sabtu siang itu. Uang ini segera digunakan untuk membangun perpustakaan dan rumah belajar di daerah terpencil Samosir lainnya agar anak-anak di daerah Samosir tidak tertinggal pendidikannya. (net/jpnn)

Ariel Mirip Suamiku

Joy Tobing

Joy Tobing
Joy Tobing//kapanlagi.com

Joy Tobing sumringah dengar kabar Ariel akan kembali berkarya selepas menjalani masa tahanan 3,5 tahun di Rutan Kebon Waru Bandung.
“Saya mendengarnya senang aja. Memang saya belum mengenal dia, tapi saya bisa merasakan senangnya bisa menjadi orang bebas. Tak enak menjadi warga binaan. Sakit banget ditahan itu,” ujar jawara Indonesian Idol 1 ini.
Pelantun Karena Cinta ini bisa merasakan apa yang dirasakan Ariel. Pengalaman sang suami, Daniel Sinambela, yang juga pernah menghuni ruang tahanan lantaran tudingan kasus penipuan yang dialamatkan kepadanya.
“Puji Tuhan akhirnya kita juga bisa kumpul juga. Dia (suami) sudah keluar 21 Desember lalu. Bebas murninya sih Mei 2013 nanti. Setelah bebas nanti, Ariel juga harus gunakan waktunya dengan baik dan berkarier dengan baik lagi,” katanya.
Dijelaskan Joy, Ariel masih punya ruang untuk kembali berkarya. Mengingat, masih banyak penggemar yang menanti karyanya. “Termasuk saya juga suka menyanyikan lagu-lagunya Ariel kalau lagi manggung. Biasanya saya membawakan lagu Ada Apa Denganmu,” ucap Joy.
Ia memahami kalau nanti Ariel agak canggung berhadapan dengan antusiasme masyarakat. Itu semua harus dihadapi karena suka tidak suka, Ariel sudah jadi salah satu idol di tanah air.
“Sekarang kan kondisinya beda. Biar bisa kembali ambil hati penggemar, dia butuh pedekate lagi dong. Kayak orang pacaran aja. Ditinggal lama, ya butuh pengenalan lagi, biar bisa kembali diterima,” sarannya.
Joy optimis Ariel akan diterima oleh masyarakat. Meski bayangan kasus video mesum masih membekas di tengah publik.
“Ariel masih punya chance seperti zaman dulu dengan bakat yang sama. Walaupun dia punya kesalahan tapi dia sudah membayar kesalahan dia,” tambahnya.
Disinggung soal kesibukannya, Joy mengaku masih menikmati masa-masa kebersamaan bersama suami dan anak-anaknya. “Kalau ada kegiatan manggung paling cuma off air saja. Sekarang masih sibuk jadi ibu rumah tangga,” ujarnya. (ins/jpnn)

Ledakan Penduduk Tantangan Pembangunan

DONOR DARAH: Sejumlah petugas PMI Kota Medan mengambil darah anggota TNI Kodim 0201/BS Medan  kegiatan donor darah bekerja sama  BKKBN Kota Medan, Senin (16/7).//IST/SUMUT POS
DONOR DARAH: Sejumlah petugas PMI Kota Medan mengambil darah anggota TNI Kodim 0201/BS Medan dalam kegiatan donor darah bekerja sama dengan BKKBN Kota Medan, Senin (16/7).//IST/SUMUT POS

Satu tantangan terbesar pembangunan adalah ledakan penduduk, seperti diketahui bersama pertambahan penduduk yang tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas, cenderung akan menimbulkan dampak  sosial ekonomi yang  kompleks.
enghadapi ledakan pendudukan itu, perlu dilandasi dengan kebijakan terpadu dalam mengatasi masalah-masalah kependudukan. Kebijakan itu diantaranya kebijakan penduduk, kebijakan demografi yang efektif guna menumbuh kembangkan penduduk yang berkualitas.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi dalam acara pencanganan percepatan revitalisasi program Keluarga Berencana (KB) melalui TNI manunggal KB-Kesehatan Kota Medan 2012, Senin (16/7) di Lapangan Benteng, Medan.

Menurut dia, satu kebijakan kependudukan yang terus digalakkan adalah program KB-Kesehatan sebagai gerakan masyarakat, program tersebut diharapkan bisa meningkatkan mutu pelayanan dan mempercepat proses revitalisasi program kependudukan dan KB, program TNI manunggal KB-Kesehatan juga diharapkan bisa memberikan dampak posisitif seperti penurunan tingkat kelahiran dan kematian bayi serta ibu melahirkan.
Eldin menambahkan, sekarang ini perlu disampaikan rasa terima kasih kepada bagian pembinaan teritorial Kodim 0201/BS sejak lama telah mempunyai kewajiban moral untuk mensukseskan kegiatan ini, khususnya bagi masyarakat pra sejahtera. Perlu disadari betapa pentingnya program KB nasional untuk kelangsungan kehidupan masyarakat, pelakasanaan TNI manunggal KB-Kesehatan yang dicanangkan merupakan awal dimulainya pelaksanaan operasional dalam memberhasilkan keluarga berencana nasional.

“Saya pandang cukup penting bahkan sangat strategis, sebab merupakan langkah nyata mensukseskan program KB nasional, dan program terpadu menjadikan masyarakat semakin dekat dengan TNI, karena TNI berasal dari masyarakat dan mengabdi untuk masyarakat, “ ujanya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, pencanangan percepatan revitalisasi program KB melalui TNI manunggal KB-Kesehatan Kota Medan diharapkan dapat mendukung pencapaian sasaran dan terget tahunan program KB serta pembinaan terhadap peserta KB aktif, satu kegiatan strategis yang dilaksanakan selama TNI manunggal KB-Kesehatan ini adalah pelayanan KB gratis kepada para keluarga pra sejahtera dan sejahtera satu guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara umum.

Sebelumnya, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Medan Drg Usma Polita M Kes melaporkan pelaksanaan revitalisasi program KB melalui bhakti sosial TNI KB-Kesehatan terpadu Kota Medan 2012 dimulai Mei sampai dengan Oktober 2012 di 21 kecamatan, dan rencana operasional dan kegiatan adalah pelayanan KB gratis kepada keluarga pra sejahtera dan sejahtera I, penggarapan khusus KB bagi WNI turunan, penyuluhan KB dan peran serta pria, pembinaan ketahanan keluarga melalui peningkatan kualitas bina keluarga balita, remaja, lansia dan orang tua asuh.  Pada pencanangan hari ini dilakukan pelayanan KB gratis sebanyak 405 akseptor, donor darah sebanyak 125 orang, dan papsmer sebanyak 1.000 orang, sedangkan target pencapaian akseptor KB selama 6 bulan (Mei sampai Oktober 2012) sebanyak 30.816 akseptor dengan rincian, IUD 2.126, Implant 2.062, Suntik 9.489, Pil 7.435, Kondom 8.337, Medis Operasi Pria (MOP) 511, Medis Operasi Wanita (MOW) 856.

Kegiatan tersebut ditandai dengan pemberian kepada pemenang lomba pelaksana terbaik revitalisasi KB-Kesehatan tingkat Koramil, yakni Koramil Medan Johor, Koramil Medan Timur, Koramil Medan Barat, Koramil Medan Labuhan, Koramil Medan Deli dan Koramil Medan Denai, tingkat kecamatan, Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Deli, Medan Selayang, Medan Tembung dan Medan Amplas. (gus)

Dukung Sasaran Pencapaian Program KB Terpadu

Dandimtabes 0201/BS Letkol Inf Donny Hutabarat mengatakan kegiatan pencanangan percepatan revitalisasi program kependudukan dan Keluarga Berencana melalui kegiatan bakti sosial TNI KB-Kesehatan Kota Medan dilaksanakan untuk mendukung sasaran pencapaian sasaran program KB secara terpadu dan merupakan satu upaya yang dipandang perlu dalam meningkatkan dan mengembangkan kerja sama antara BKKBN dengan TNI.

Menurut dia, program KB-Kesehatan adalah merupakan satu kunci keberhasilan pembangunan manusia Indonesia ke depan, bila program KB-Kesehatan tidak berhasil maka untuk menata kehidupan selanjutnya menjadi lebih sulit, karena laju pertambahan penduduk akan menjadi potensi yang mengancaman bila tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dia menambahkan, disisi lainnya munculnya ketersedian lapangan pekerjaan yang belum dapat mengakomodasi seluruh pencari kerja di negeri ini. Hanya dikarenakan penduduk yang jumlahnya bertambah.
Dalam mengatasinya, Donny menyatakan, perlu ada wujud kerja sama di lapangan melalui kegiatan bakti sosial TNI KB-Kesehatan, antara lain meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi pergerakan dan kemitraan bagi petugas KB, pengelolaan pengorganisasi profesi dan institusi masyarakat pedesaan dan perkotaan, pelayanan KB, pelayanan reproduksi remaja, kelangsungan hidup bayi dan anak, peningkatan partisispasi pria dilingkungan keluarga, peningkatan dan pemberdayaan ekonomi dan lainnya.

“Dengan kebersamaan inilah bisa tercipta penyelesaian tugas secara ringan dan berhasil guna,” sebutnya. (gus)

Hujan Deras Sekali Pun Saya Angkut Sampah

Mendengar Kisah Pengangkut Sampah

Membersihkan Kota Medan bagian dari tantangan hidup, walau terkesan susah dan berat. Tapi, ketika komitmen dan tak gengsi dalam mengangkut sampah. Maka Kota Medan bisa menjadi kota terbersih.

Bagi pekerja pengakut sampah di Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah merupakan pekerjaan mulia, walau terkesan jorok dan bau tak sedap. Tapi, hasilnya untuk banyak orang.
“Hujan deras sekalipun saya tetap mengangkut sampah, terkadang badan dikelilingi ulat dan lalat serta pakaian menjadi basah dan bau,” kata Giran seorang petugas kebersihan di Kelurahan Petisah Tengah, Sabtu (21/7).
Dia mengakui, pekerjaan mengangkut sampah bagian tantangan hidup dan tanggung jawab manusia kepada alam. Walau bukan warga yang berdomisili di Kota Medan, tapi ada rasa tanggung jawabnya menjaga ibu kota Sumatera Utara (Sumut) menjadi kota terbersih.

Giran menyampaikan, pilihannya bekerja sebagai pengangkut sampah, bukan dikarenakan tidak ada pilihan bekerja lainnya. Melainkan, pekerjaan itu ditekuninya demi satu pengabdian kepada negara dan masyarakat. Kemudian, pekerjaan yang dilakukannya juga memiliki hasil yang halal.

“Walau saya kotor dan bau sampah, tapi upah yang saya dapatkan halal,” sebutnya.
Untuk bekerja setiap harinya, dia mulai bekerja pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Setiap harinya, rute yang dijalaninya mulai Jalan Karo, Jalan S Parman dan Jalan Toba. Setiap harinya rute itu dilaluinya tak mengenal hujan deras dan panas terik.

“Saya merasa bila satu hari saja tak mengangkut sampah di rute yang kerap dilalui itu. Rasanya, para masyarakat selalu mencari saya. Kemudian badan saya juga terasa sakit. Yah kalau pun hujan tetap saja saya angkut sampah,” ujarnya.
Dengan upah Rp1,3 juta yang diterimanya setiap bulan dari Dinas Kebersihan Kota Medan, Giran mengaku, terkadang upah sebesar itu tak cukup, tapi dipaksakan untuk cukup membelanjakan kebutuhan yang penting serta menyekolahkan anak.

“Yah terpenting bekerja itu dengan tanggung jawab dan hasilnya digunakan untuk keperluan yang penting,” katanya.

Hal berbeda dengan petugas kebersihan PD Pasar Petisah, Muhammad Rusli. Pekerjaan mengangkut sampah yang dilakoninya dianggapnya pekerjaan mulia, walaupun gaji yang diterimanya  per bulan hanya Rp 750 ribu.
“Bagi saya dengan gaji yang didapat itu tetap di syukuri. Sebab, itulah hasil keringat yang didapat,” katanya.

Dia mengakui, pekerjaan mengutip sampah itu merupakan pekerjaan yang sangat beriman. Pasalnya, kebersihan itu juga sebagian dari iman. Artinya, bila sampah yang dikutip setiap hari di dalam gang, tentunya gang-gang tersebut terlihat bersih. (omi)

Sang Penyuap

Cerpen  Sam Edy Yuswanto

Suara cekakak tawa itu kembali membahana di sebuah ruangan khusus buat mengadakan pertemuan. Tepatnya di hunian mewah milik pria baya berkumis, berbibir tipis dan memiliki wajah lumayan tampan, yang baru-baru ini memenangkan pilkada dengan gilang-gemilang di sebuah daerah antah berantah. Daerah tempat asal kelahirannya. Bayangkan! Dua kali putaran selalu menang telak. Menyodok-nyodok rivalnya tanpa ampun.

Jika suatu malam kalian kebetulan melewati halaman rumah megah pria baya itu, saya yakin kalian bisa mendengar tawa girang alang kepalang yang nyaringnya melengking-lengking bak lolong para anjing yang tengah berpora meraya-rayakan kemenangan yang sesiapa pun pastilah tahu; kemenangan ambisius yang diperoleh si Bos, julukan pria baya itu, bukan kemenangan sportif. Tidak gentle. Kemenangan semu alias abu-abu.

“Tapi Bos, bagaimana cara melawan mereka yang hendak memperkarakan Bos ke meja hijau?” ucap pria muda yang masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas ternama. Pemuda aktivis yang kerap menjadi korlap demo itu  memang sengaja diciduk oleh si Bos untuk direkrut jadi bala kurawanya yang selalu diimingi fee besar saat berhasil menggulingkan rival politiknya lewat aksi demo dengan mengatasnamakan nasib rakyat yang tertindas.
“Hahaha! Hahahaha!!” si Bos malah terkakak, hingga bebutir ludahnya yang kekuningan muncrat menetesi karpet merah yang menghampar di ruang ber-AC tersebut.

Si pemuda langsung mengheran wajah. Kok, si Bos malah tertawa, sih? Apakah pertanyaanku ini mirip leluconnya Andre dan Sule dalam OVJ itu? Batin pemuda itu dirajam tanya sementara kedua alisnya saling bersitaut dengan dahi kerut-merut. Si Bos menatap wajah pemuda aktivis itu dengan seringai dan gurat wajah bermakna; “Ah, kau ini ternyata masih sangat ingusan anak muda!”

“Tenang! Jangan bingung menghadapi mereka! Aku masih punya senjata andalan yang bisa membekap mulut-mulut sok alim mereka!” ucap si Bos seraya mengeluarkan bungkusan tebal yang ia taruh di belakang kursi kebesarannya.
“Apa itu, Bos?” sela si pemuda polos, tak sabar, dengan gurat heran kian melipati wajah sawo matangnya.

Si Bos dengan sigap merobek bungkusan kresek hitam yang kini telah berada di atas pangkuannya. Betapa bola mata si pemuda langsung berkilau terpesona saat melihat isi kresek hitam itu ternyata adalah lembaran-lembaran licin berkilat warna merah yang bertumpuk-tumpuk. Saking terpesonanya, ludah pemuda itu sampai menetes, mengaliri dagu hingga berjatuhan di atas karpet merah.

Ya, si pemuda langsung bisa memaham. Pasti si Bos akan menyumpal mulut-mulut mereka; para hakim, jaksa, aparat penegak hukum, serta para saksi yang secara kasat mata menyaksikannya berlaku culas saat pilkada beberapa waktu silam dengan uang licin berkilat yang masih beraroma pabrik itu.

Selama ini, jimat paling ampuh untuk membisukan mulut-mulut mereka memang hanya satu; jimat fulus. Sebagaimana yang telah-telah. Yang biasa dilakukan para bos di manapun mereka berada pada orang-orang yang sok idealis kepingin memberangus korupsi dan menggulingkan kursi para penyuap hingga titik kulminasi.

Si Bos yakin, mereka, mulut manusia-manusia idealis sok suci itu pasti bakalan terlongo dengan tubuh menggeloso begitu melihat gepokan uang licin berkilat yang membuat bola mata mereka langsung melotot dan menghijau royo-royo.

“Kamu mau? Nih, buat kamu!” tak dinyana, si Bos melempar gepok ratusan ribu ke arah si pemuda yang masih berwajah takjub itu. Dan…hup! Hanya dengan satu kali gerak refleks, si pemuda gesit menangkapnya dengan sempurna.

“Bos, saya mau!”
“Iya, Bos, saya juga mau!”
“Bos, Bos, saya mau! Saya mau!”
“Iya, Bos, saya juga mau!”

Orang-orang yang berada di sekeliling si Bos melolong-lolong seperti anjing kelaparan dengan posisi tangan menadah-nadah bertingkah ala pengemis yang biasa nge-tem di pertigaan lampu merah. Lalu, dengan gesture congkaknya, si Bos pun melempar-lemparkan gepokan uang ratusan ribu itu kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Tanpa satu pun yang ketlingsut (terlewat). Semua kebagian sama rata.
Dan, acara temu si Bos dengan bala-kurawanya malam itu diakhiri dengan makan-makan enak, sembari meneguk hingga mabuk bercawan-cawan anggur yang telah dirampasnya dari pabrik-pabrik minuman yang menjamur di negeri antah berantah itu.

Saat tengah khusyuk berpesta-pora, tiba-tiba, seorang satpam berwajah tegang tergopoh menghadap si Bos.
“Bos, gawat, Bos! Gawat!” ucap si satpam seraya mengelap keringat yang membanjiri wajahnya.
“Ada apa?” tanya si Bos dengan menautkan jidat heran.

“Itu Bos, ada Ibu-ibu ngotot mau ketemu si Bos, sudah coba saya usir tapi tetap saja nggak mau pergi, dia malah nekat menunggu di bawah pohon beringin sebelah pos jaga, sambil menggendong anaknya yang katanya baru kejedoran tabung gas, Bos!” terang si satpam dengan nafas memburu.

Di luar duga, si Bos malah mengurai senyum, membuat benak si satpam mendadak langsung mengheran dikerubuti antrian tanda tanya. Lagi-lagi, si Bos mengeluarkan gepok uang yang dirogohnya dari kantong plastik hitam di sebelahnya. Sepertinya, uang si Bos tak ada habisnya.

Ah, jangan-jangan si Bos miara tuyul? Begitu yang langsung membersiti batok kepala si satpam yang sedikit botak dan licin.
“Nih, berikan pada Ibu-ibu itu. Pasti dia ke sini mau minta ini bukan?” seringai si Bos sembari melempar gepokan uang itu yang langsung ditangkap begitu lincah oleh si satpam.

*

Saat kembali ke pos jaga, si satpam mendadak menjadi selebriti dunia gaib. Ia langsung dikerubuti setan-setan yang langsung menginterogasi sekaligus melancarkan jurus rayuan mautnya.
“Hei, bodoh sekali jika uang tersebut kau berikan semuanya pada Ibu-ibu itu,” gumam si setan yang biasa bercokol di dada si satpam sambil melolos beberapa lembar dari gepokan uang yang digenggamnya.
“Iya, bodoh nian kau, jika uang itu kau berikan pada Ibu mata duitan itu,” sahut setan-setan yang lain.

Celoteh para setan yang lain pun seragam. Hanya satu setan saja yang menurut si satpam ber-ide secerlang purnama.
“Gini aja, Boi, biar aman, kau ambil jalan tengahnya saja. Kasih saja Ibu itu dua lembar limapuluhribuan, uang yang lain bisa kau gunakan buat kesenangan kau sendiri, Boi,”
“Ya, ya, ya, ide yang cukup brilian dan bijaksana,” gumam si satpam dengan bola mata berbinar ceria.

*

Namun setiba di pos jaga, si ibu yang barusan menggendong anaknya sudah tak terlihat lagi di bawah pohon beringin itu.
“Lho, kemana Ibu itu?” tanya si satpam pada teman seprofesinya.

“Sudah kugelandang paksa barusan,” ujarnya dengan seringai tengiknya.

Si satpam satunya lantas membalas dengan seringai senada-seirama; seringai-seringai penuh kemenangan. Ah! Tak sia-sia aku punya partner kerja yang baik, loyal dan bisa diajak kompromi, gumamnya. Dia pun langsung teringat uang yang seharusnya diberikan pada ibu bertampang pengemis itu. Lekas ia merogoh dua lembar limapuluh ribuan dan mengangsurkan pada temannya.
“Nih, buat kamu, ini dari si Bos,”

Teman si Satpam memburaikan senyum dengan wajah sumringah.
“Tengkyu, Bro!” ucapnya langsung menyambar uang itu lantas mengecupnya berkali-kali. Sambil terus memasang senyum, ia beranjak ke belakang.
“Hei, mau ke mana kau?” teriak si Satpam yang satunya heran.

“Pipis, Bro!” katanya sambil meringis seperti menahan pipis yang sudah kronis.
Ah, dasar satpam tengik! Mana mungkin ia mau ke toilet sungguhan. Ia hanya berpura pipis padahal sejatinya ia sudah tak sabar ingin menghadap si Bos agar bisa kecipratan suap lebih banyak. Sayang, satpam satunya tak menyadari kalau ia tengah dibodohi.
*
Puring Kebumen 2010-2011

 

Gedung Bersejarah di Jalan Hindu Dipoles

Sejumlah gedung bersejarah di Jalan Hindu Kelurahan Kesawan Medan mendapatkan perhatian berupa perawatan. Sabtu (21/7) lalu, pihak Kecamatan Medan Baru menggelar pengecatan terhadap gedung-gedung yang masuk cagar budaya itu.
Camat Medan Barat Sutan Torang Lubis, S.STP, MSP menjelaskan perawatan ini bertujuan melestarikan lingkungan cagar budaya di daerahnya.

“Kita akan menjaga kelestarian gedung tersebut. Agar sesuai dengan aslinya, warna pengecatan kami samakan dengan warna asli gedung itu,” kata Sutan
Sebelum mendapat perawatan, gedung-gedung bersejarah di kawasan itu tampak kusam. “Sebelumnya kawasan gedung bersejarah di sini tampak kusam. Tak sedap dipandang warga, dan turis yang mengunjungi Kota Medan. Sesudah dicat tentu saja akan memikat hati yang melihatnya,” lanjut Sutan.

Selanjutnya, mantan Sekretaris Kecamatan Medan Baru itu berharap kepada warganya agar dapat menjaga keindahan gedung bersejarah itu dengan sebaiknya-baiknya. Sutan berharap warga tak mengotori gedung bersejarah tersebut dengan mencoret-coret dindingnya.

“Mari kita jaga bersama gedung bersejarah ini. Jika semua pihak peduli maka akan terlihat bagus,” lanjutnya.

Tio, salah seorang warga setempat mengatakan kegiatan yang dilakukan pihak kecamatan Medan Barat sangat baik.
“Saya melihat perawatan ini sebagai langkah yang bagus. Jarang ada petugas kecatama yang peduli dengan kawasan bersejarah di daerahnya kata Tio.
Untuk itu Tio berharap apa yang dilakukan pihak kecamatan Medan Barat ini dapat terus dilakukan pada cagar budaya lainnya. (omi)

Dikategorikan Alien, tapi Tetap Lolos Imigrasi

Jawa Pos Beramadan di Kapal Dewaruci yang Keliling Dunia, Rute AS – Porto

Ekspedisi KRI Dewaruci keliling dunia telah menempuh separo perjalanan. Wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO yang Januari”Februari lalu mengikuti pelayaran dari Surabaya ke Jayapura kini kembali bergabung di atas kapal legendaris tersebut. Dia akan merasakan “nikmatnya” berpuasa selama Ramadan 1433 H di tengah laut dalam perjalanan dari Kanada hingga Mesir.

SINAR matahari siang itu (3/7) tidak begitu terik. Cuaca di langit Kota Boston, Amerika Serikat (AS), terlihat berawan. Kondisi cuaca tersebut saya ketahui dari jendela kabin pesawat Japan Airlines (JAL) yang membawa saya dalam perjalanan panjang dari Bandara Soekarno-Hatta, transit di Narita (Jepang), hingga Boston. Jaraknya mencapai 16.867 km.

Sebelum mendarat sekitar pukul 13.30 waktu setempat, pesawat sempat melewati pelabuhan Boston. Dari balik jendela pesawat, terlihat empat kapal layar tiang tinggi bersandar di dermaga tersebut. Salah satunya KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) Dewaruci. Hal itu terlihat dari bendera Merah Putih yang berkibar di buritan kapal. Sedangkan tiga kapal layar lain yang sandar memanjangn
berbendera Brasil (Cisne Branco), Ekuador (Guayas), dan Kolombia (Gloria).

Setelah menempuh penerbangan selama 24 jam plus transit hampir 10 jam dari Surabaya, pesawat jenis Boeing 787-8 yang saya naiki mendarat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Logan, Boston. Saya datang di kota klub basket NBA Boston Celtics itu untuk bergabung untuk kali kedua bersama Dewaruci.

Kapal latih TNI-AL itu bersandar di Boston Fish Pier setelah berpartisipasi dalam lomba layar Operation Sail (OpSail) 2012. Lomba tersebut dihelat untuk memperingati dua abad perang AS versus Britania Raya. Lomba sudah dilangsungkan mulai April hingga Juni lalu di beberapa negara bagian, antara lain New Orleans, Miami, Savannah, New York, Norfolk, dan Baltimore. OpSail itu sekaligus memuncaki perayaan hari kemerdekaan AS pada 4 Juli lalu.
Kehadiran Dewaruci dalam event itu dibarengkan dengan program muhibah internasional keliling dunia dan pelayaran Kartika Jala Krida sebagai praktik para kadet Akademi AL (AAL). Selain AS, negara yang disinggahi Dewaruci adalah Kanada, Portugal, Spanyol, Malta, Mesir, Arab Saudi, Oman, dan Sri Lanka. Setelah itu, Dewaruci balik ke Indonesia pada Oktober nanti.

Dua negara yang sudah saya lewatkan dalam ekspedisi tersebut adalah Meksiko dan Panama. Saya bergabung lagi di Dewaruci setelah kapal itu merapat di Boston selama tiga hari. Saya menjadi satu-satunya pemegang paspor hijau sebagaimana warga sipil biasa. Sedangkan para awak kapal Dewaruci yang berjumlah 78 orang merupakan pemegang paspor dinas (paspor biru).

Saya bersyukur bisa lolos dari pemeriksaan petugas imigrasi di bandara. Petugas sempat menginterogasi mengapa saya baru masuk AS menjelang hari istimewa mereka,”independence day (hari kemerdekaan). Padahal, visa saya sudah diterbitkan Konjen AS di Surabaya pada Februari 2012 atau lima bulan lalu. Si petugas juga mempersoalkan banyaknya visa yang belum saya gunakan.
“Anda masuk kategori alien,” ucap petugas imigrasi bagian kedatangan internasional di jalur warga luar AS.

Di kalangan imigrasi, cap atau status alien dijatuhkan kepada penumpang terlarang (suspicious passenger). Saya berusaha meyakinkan baru bisa terbang ke AS karena paspor dibutuhkan untuk proses permohonan visa ke beberapa negara yang akan saya singgahi bersama Dewaruci.

Kebetulan, kapal kebanggaan Indonesia itu sedang sandar di pelabuhan yang tidak jauh dari lokasi bandara. Fakta itu saya ketahui setelah mengintip dari balik jendela pesawat menjelang mendarat sekitar 30 menit sebelum pemeriksaan imigrasi. Begitu saya menyebut kata Dewaruci, petugas itu mulai”ngeh.

“Dewaruci” Indonesian navy ship. Spectacular ship,” ujar petugas berbadan subur tersebut.

Tak lama kemudian, formulir catatan kedatangan dan paspor saya distempel. “Welcome to US,” lanjut petugas tersebut sembari tersenyum.
Ibu kota Negara Bagian Massachusetts itu sekaligus menjadi tempat saya start untuk meneruskan ekspedisi panjang Dewaruci sampai ke tanah air selama sekitar tiga bulan. Saya bersama para awak kapal Dewaruci tengah menapaktilasi pelayaran keliling dunia pertama Dewaruci pada 1964.

Kala itu kapal produksi Jerman pada 1952 tersebut mengelilingi bumi selama 210 hari atau mendekati delapan bulan. Rutenya, berlayar ke arah barat, mengikuti pergerakan matahari. Mulai Dermaga Ujung (Surabaya), Jakarta, Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam, Kolombo, Sri Lanka (Asia); Djibouti, Port Said, Mesir (Afrika); Split, Yugoslavia (Eropa); Casablanca, Maroko (Afrika); hingga perairan Amerika, antara lain St George, New York, New Jersey, Annapolis, Norfolk, dan Rodman. Perjalanan berlanjut ke Acapulco (Meksiko), terus ke negara bagian AS lagi di San Diego, Hawaii, Midway, lalu kembali ke Indonesia via Jayapura.
Sedangkan ekspedisi Dewaruci kali ini menempuh rute ke timur. Ekspedisi itu diperkirakan memakan waktu 9 bulan 2 hari.

Banyak tantangan yang akan dihadapi pada penjelajahan kali ini. Antara lain, perjalanan di atas laut pada Ramadan 1433 H. Juga, sahur dan berbuka puasa di atas Dewaruci yang sedang membelah Samudra Atlantik hingga sandar ke tiga negara di Eropa, yakni Portugal, Spanyol, dan Malta.

Kemudian, menyisiri Selat Gibraltar di antara Spanyol dan Maroko serta Laut Tengah. Di kalangan pelaut, wilayah perairan itu kurang bersahabat. Gelombang tinggi dan angin kencang sering menerpa kapal yang usianya sudah lebih dari setengah abad tersebut.

Hari Raya Idul Fitri 1433 H diprediksi bertepatan dengan saat Dewaruci sandar di Mesir. Tantangan lain adalah saat kapal melintasi Teluk Aden di Djibouti yang terkenal dengan para perompak Somalia yang sering mengganggu kapal-kapal asing yang lewat. Kapal berbendera Indonesia MV Sinar Kudus pernah menjadi korban perompak di wilayah itu pada medio Maret 2011. Para awaknya bahkan disandera. Jika tidak dibebaskan jajaran TNI-AL, mungkin nakhoda dan ABK pulang hanya tinggal nama.

Lepas dari Djibouti, pelayaran Dewaruci kembali ke Indonesia disambut Samudra Hindia yang tak kalah ganas. (c11/ari/jpnn)

Rumah Pengungsi Tahan Gempa

JAKARTA- Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengklaim rumah khusus pengungsi yang dibangun sistem cetak beton di sejumlah daerah memiliki keunggulan teknologi ramah lingkungan dan tahan terhadap gempa bumi.
Selain itu, waktu pembangunan rumah cetak yang dikenal dengan Rumah cetak Raswari tersebut juga lebih cepat, hemat biaya, tahan lebih lama terhadap perubahan cuaca dan lebih mudah dibangun.

“Rumah cetak Raswari yang dibangun Kemenpera sangat ramah lingkungan dan sudah teruji tahan gempa di Aceh. Selain itu proses pengerjaannya juga lebih cepat dan mudah,” ujar Menpera Djan Faridz dalam keterangan persnya, Rabu (18/7).
Dijelaskannya, pembangunan rumah khusus sebelumnya dilakukan dengan membuat rumah semi permanen dengan bahan baku batako dan papan kayu. Namun untuk penyempurnaan rumah yang menjadi salah satu direktif Presiden, Kemenpera mengubah sistem teknologi pembangunan menjadi rumah cetak beton karena harga papannya mahal dan tidak ramah lingkungan.

“Bahan bangunan rumah khusus yang awalnya terbuat dari papan sebenarnya lebih fleksibel. Tapi karena ada teguran dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait penggunaan kayu, kami mencoba melakukan inovasi teknologi dengan membuat bangunan rumah dari beton,” terangnya.

Ditambahkan Djan Faridz, mulai tahun ini, Kemenpera akan menggunakan teknologi bangunan rumah khusus yang dindingnya terbuat dari beton dan tidak terlalu
tebal. “Rangkanya terbuat dari besi dan campuran pasir semen sehingga penggunaan kayu sangat minimal yakni hanya untuk pintu saja,” tandasnya. (esy/jpnn)