Home Blog Page 13236

Astronom Temukan Bayi Matahari

FLORIDA – Para astronom berhasil menemukan sebuah bintang mirip matahari yang baru lahir. Bayi matahari yang dinamai V1647 Orionis atau dikenal sebagai protostar tersebut terletak pada konstelasi Orion.
Menggunakan tiga teleskop ruang angkasa  X-ray berbeda,  yakni  NASA Chandra X-ray Observatory, satelit Suzaku Jepang, dan European Space Agency XMM-Newton astronom berhasil menangkap citra kelahiran bintang tersebut. Mereka kemudian memantau perilaku dramatis bintang mirip matahari yang baru lahir tersebut. Seperti perputarannya yang cepat dan pergolakan letusan kuat dan juga waktu letusannya lama.

Diperkirakan,  V1647 Orionis atau protostar ini dibentuk oleh awan gas dan debu di sekitarnya. Terletak  sekitar 1300 tahun cahaya dari bumi di Nebula McNeil, yang merupakan hotspot ramai pembentukan bintang dalam konstelasi Orion.
Dijelaskan, V1647 berputar sekali setiap hari atau sekitar 30 kali lebih cepat dari matahari. Juga memiliki dua spot yang aktif memancarkan  sinar-X. Di sisi lain astronom juga melihat adanya aliran gas dari piringan di sekitarnya, sebagai penyuplai pertumbuhan bintang.

Para peneliti mulai mempelajari V1647 Orionis tak lama setelah menangkap citra ledakan pada tahun 2004. Yang kemudian dilakukan pantauan lebih dalam pada 2010, untuk menangkap data dari kedua ledakan tersebut.
“Kami berhasil menangkap citra bintang itu pada suatu titik di mana ia berputar begitu cepat,”Joel Kastner, seorang profesor di Rochester Institute of Technology seperti dimuat Livescience (12/7).

Saat ini bintang V1647 sedang didorong oleh gas dari piringan di sekitarnya untuk tumbuh dengan cara ini selama jutaan tahun, sebelum ia mampu menghasilkan energi sendiri oleh hidrogen di intinya.
Sementara itu, hasil rinci dari studi yang diterbitkan dalam edisi Journal Astrophysical ini menggabungkan pengamatan dari beberapa teleskop dan satelit sinar X agar bisa memberikan astronom wawasan yang lebih baik. (esy/jpnn)

Bom di Pesta Pernikahan Anak Anggota Parlemen, 23 Tewas

KABUL – Bom bunuh diri menarget pejabat pemerintah kembali mengguncang Afghanistan. Anggota parlemen dan mantan tokoh militan Ahmad Khan Samangani, kemarin (14/7), tewas akibat ledakan di sebuah gedung pertemuan di Kota Aybak, Provinsi Samangan. Ironisnya, saat itu dia sedang menghelat pesta pernikahan putrinya.

Sedikitnya, 23 orang tewas akibat bom bunuh diri itu. Selain Samangani, beberapa pejabat pemerintah dilaporkan tewas pula. Tiga pejabat keamanan Afghanistan termasuk yang menemui ajal akibat ledakan tersebut. ’’Ini adalah serangan yang bertujuan melemahkan persatuan bangsa,’’ ujar seorang pejabat setempat.

Selain menewaskan 23 orang, ledakan bom bunuh diri itu mengakibatkan sekitar 60 orang lainnya luka. Sebagian di antaranya adalah para pejabat pemerintah yang menjadi tamu dalam resepsi putri Samangani itu. Kemarin polisi langsung melakukan investigasi di lokasi kejadian. Namun, identitas pelaku atau kelompok yang melancarkan serangan maut tersebut masih belum bisa dipastikan.
’’Saya mengutuk serangan yang dilancarkan musuh-musuh Afghanistan,’’ tegas Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Dia menginstruksikan tim penyidik dari Kota Kabul untuk segera terbang ke provinsi yang terletak di utara Afghanistan tersebut. Dia minta polisi dan lembaga terkait segera melakukan penyelidikan mendalam.

Sejauh ini belum ada individu atau kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Tapi, dugaan langsung mengarah pada Taliban. Apalagi, ketika melancarkan serangan besar-besaran pada 2 Mei lalu, Taliban bersumpah untuk terus menyerang pemerintahan Karzai dan pendukungnya. Termasuk, pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Pada 22 Juni lalu, Taliban juga melancarkan serangan mematikan di sebuah hotel yang menjadi jujukan warga asing. Serangan yang diwarnai dengan drama penyanderaan itu berakhir setelah baku tembak beberapa jam. Saat itu, sedikitnya 18 orang tewas. Taliban juga menewaskan 21 orang pada 20 Juni lalu lewat ledakan bom bunuh diri di pos pemeriksaan dekat pasar Kota Khost. (ap/afp/rtr/hep/dwi)

Biografi Tangan

Cerpen  Muhammad Pical Nasution

I/
Aku melihat gerakan sepasang tangan di antara tumpukan minuman kaleng berwarna merah-hijau dalam rak sebuah mall mewah. Tangan itu pelan-pelan beranjak dari kaleng minuman yang satu ke kaleng minuman berikutnya. Aku memerhatikannya dengan sangat hati-hati. Aku tak akan mengerdipkan mataku sedetik pun untuk tidak melihat peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, peristiwa yang akan dilakukan oleh tangan itu. Apalagi untuk melepas pandang. Aku mengikuti ke mana maunya jalan tangan itu. Langkahku pelan-pelan menyusuri. Sampai akhirnya, aku menghalau semua penasaranku terhadap tangan bejat itu ketika aku tak lagi melihatnya  dalam rak sebuah mall mewah.

Seonggok tubuh besar tiba-tiba menguntit di belakang. Seorang lelaki ceking secara tiba-tiba melintas di depan. Langkah  Lelaki ceking itu begitu mencurigakan. Aku memandangnya begitu serius sampai-sampai tak menghiraukan seonggok tubuh besar yang masih menguntit di belakang tadi. Aku tak lagi berpikir tentang tangan bejat yang bergerak di antara kaleng-kaleng minuman berwarna merah-hijau itu. Lalu, suara gaduh terdengar beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku melihatnya. Wanita-wanita cantik berdiri mengelilingi sesuatu yang rubuh. Tubuh besar di belakangku tadi telah hilang. Ternyata tubuh besar itu sudah berada di sekeliling wanita-wanita cantik yang begitu menggoda. Lelaki ceking itu berlumuran darah. Dari dalam bajunya, terdapat beberapa kaleng minuman berwarna merah-hijau. Lelaki ceking itu tertangkap basah. Kemudian aku bergerak menuju tumpukan kaleng minuman yang berjajar di dalam rak sebuah mall mewah. Di kaleng minuman itu, tertera banrol dua ribu tiga ratus rupiah. Lelaki ceking itu lalu dibawa entah ke mana. Aku sudah bisa membayangkan kalau dia akan dibawa ke dalam sel, dihajar sampai lebam, lalu diadili, atau mungkin dimatikan.

II/
Telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan dari istriku ternyata.
“Bang, Adik sudah di rumah. Cepat pulang ya!”

Begitu isinya. Tiba-tiba saja tanganku gemetar. Aku masih mencengkeram geram telepon genggamku seolah-olah tak mau melepasnya atau kembali memasukkannya ke dalam saku. Aku keluar dari mall mewah tempatku membeli pewarna kuku untuk istriku. Harganya lumayan mahal. Aku sempat berpikir, “Apakah semua perempuan akan terlihat elegan jikalau kukunya diberi cat warna-warni?”
Aku tiba di rumah yang baru kutempati selama empat bulan setelah kami menikah. Istriku menyambutku dengan menjulurkan kedua tangannya untuk memelukku. Kami pun saling berpelukan mesra.
“Ada Bang pesananku?” tanyanya.

Aku membuka kantong plastik yang di dalamnya terdapat pewarna kuku yang baru kubeli dari sebuah mall mewah di kotaku. Aku berikan kepada istriku sambil melontar senyuman ke ingsut matanya. Ia terlihat begitu gembira. Aku puas sudah membelikan istriku benda kesukaannya. Dulu, sewaktu istriku masih kanak-kanak, mertua perempuanku berkata kalau istriku paling suka menghiasi kukunya. Saban hari, di dalam kamar, ia mewarnai kukunya dengan pewarna yang sering dibawakan almarhum ayahnya sewaktu masih bekerja sebagai satpam di sebuah mall.
“Coba lihat Bang!” katanya padaku.
“Cantik. Bagus kok.”

“Sebulan sekali, kalau bisa sih Bang, Adik minta ganti warnanya lagi ya!”

Aku menelan ludahku. Penghasilanku sebagai seorang penjaga pintu perlintasan kereta tidaklah begitu besar. Aku tak mau menolak permintaannya. Aku tak ingin jika istriku memotong kedua tangannya hanya karena tak dibelikan pewarna kuku seperti kejadian istri tetanggaku. Dengan terpaksa aku melontarkan lagi senyuman. Kali ini dengan senyuman kecil, dan langsung menembak ke lesung pipinya yang memukau sekaligus memilukan.

III/
Pintu perlintasan kereta segera kuturunkan. Kereta jurusan Tanjung Balai—Medan akan tiba. Orang-orang memberhentikan laju kenderaannya. Dari kejauhan aku melihat seorang tua meletakkan kedua tangannya di rel. Aku tak sempat menghalaunya untuk tidak melakukan hal bodoh itu. Aku gagal. Kereta melaju tanpa rem. Orang-orang berkumpul melihat kejadian itu. Aku melihat darah bercucuran. Kedua tangannya putus. Seorang perempuan menjerit di tubuh lelaki tua itu. Aku rasa dia adalah istrinya. Aku tak tega melihatnya. Aku bisa membayangkan bagaimana anak-anaknya hidup tanpa seorang ayah. Ternyata benar. Lima anaknya yang masih kecil datang menghampiri mayat ayahnya. Mereka mengulurkan isak tangis yang begitu dalam. Tapi, di antara kelimanya, adalah seorang perempuan kecil; cantik parasnya. Perempuan kecil itu tak menangis. Lalu aku tanyakan kepadanya kenapa ia tak menangis. Ia hanya melontarkan senyuman ke wajahku yang kalut. Istrinya tiba-tiba saja melotot. Ia bangkit dari rintihannya yang jauh. Ia mendekati tubuhku. Ia memukul-mukul badanku.
“Kenapa tidak kau halau suamikuuu?”

Pengadilan memutuskan bahwa aku dihukum sepuluh tahun penjara. Putusan itu membuatku hancur berkeping-keping. Aku tak mengira kalau kejadiannya harus berakhir seperti ini. Dua polisi dan tiga sipir menggiringku ke dalam penjara. Tanganku digari. Aku menangis. Aku berteriak. Orang-orang dalam penjara tercuri perhatiannya. Ternyata aku tidak sendirian di dalam. Mereka merasa terganggu dengan teriakan yang kukeluarkan. Kuperhatikan satu-persatu wajah mereka. Aku seperti mengenal seorangnya. Dialah Lelaki ceking yang duduk menyudut sambil menengadahkan kepalanya ke atas sel. Ia seperti orang yang akan berencana meloloskan diri lewat atap. Ternyata ia juga terganggu dengan teriakanku. Lalu ia mendekatiku dengan perlahan. Aku melihat tangannya yang puntung. Tangan puntung itu seperti ingin mencekik batang leherku. Aku bukan kepalang takutnya. Aku menjerit. Sampai akhirnya, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

IV/
Aku digiring ke sebuah ruangan lain yang di dalamnya tersimpan banyak misteri. Sepertinya ruangan itu tak pernah dimasuki oleh siapa pun. Aku dan dua orang sipir melewati lorong-lorong yang gelap. Aku dimasukkan dengan cara yang tidak manusiawi. Tak ada penghuni selain aku di dalamnya. Di dalam ruangan itu aku melihat banyak tulisan. Salah satunya tulisan “SELAMAT DATANG DI KOTA ROUGENVILE”. Tulisan itu membawaku ke sebuah tempat, tempat di mana tangan adalah sesuatu yang begitu sangat dihargai dan dihormati. Kota itu dipenuhi toko-toko yang berlambangkan tangan. Misalnya untuk mencari sebuah toko buku, kita tak perlu repot. Kita tinggal melihat lambang yang terpajang di tiap toko. Untuk sebuah toko buku, dilambangkan dengan sepasang tangan yang berpose seperti orang berdoa. Atau toko cincin yang dilambangkan dengan acungan jari tengah yang dililit cincin. Orang-orang di sana begitu menghargai tangan. Para koruptor, maling, pelaku tindak kekerasan rumah tangga, bisa hidup dengan tenang. Di mall-mall juga dijual tangan-tangan. Jadi, tak perlu susah-susah. Jika tangan kita terluka, korengan, atau apalah, tersedia penggantinya di toko-toko. Aku menamainya negeri tangan.

Aku menikmati hidupku di kota itu. Seandainya lelaki tua yang meletakkan tangannya di rel perlintasan kereta hingga putus itu tak mati, mungkin aku bisa membelikan tangan pengganti untuknya. Begitu juga untuk istriku, untuk istri tetanggaku, dan untuk tanganku sendiri yang masih diborgol. Aku terbangun dari tidur yang panjang. Seorang sipir datang menjemputku dari ruangan lima kali lima meter yang di dalamnya banyak narapidana tanpa tangan. Katanya aku bebas. Aku senang mendengar kabar baik itu. Aku bebas. Ya, aku sudah bebas. Aku melewatkan waktu sepuluh tahun di dalam penjara.

V/
Tiba-tiba saja telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan dari istriku. Aku membacanya begitu khidmat. Aku membacanya sambil tersenyum.
“Bang, Adik ada jam tangan baru. Cantik lho Bang jam tangannya. Abang cepat pulang ya. Adik ingin Abang beri komentar.”

Maka, bergegas aku pulang menuju rumahku. Pasti istriku sudah tak sabar ingin menunjukkan jam tangan barunya.
“Ini Bang,” sambil mengarahkan tangannya ke hadapanku.

Aku melihat jam baru menghiasi tangan istriku. Begitu indah tangan itu. ditambah lagi pewarna yang menghiasi kuku-kukunya. Dia terlihat cantik, sama seperti ketika aku pertama kali melihatnya sepuluh tahun yang lalu.
“Di mana Adik beli?” Tanyaku.

“Tadi ibu datang Bang. Ini hadiah dari ayah sebelum ia meninggal.”

Istriku mengeluarkan air matanya. Jatuh menempel di jam tangan barunya. Aku memeluknya dengan kedua tanganku. Kami saling mendekap. Aku tak ingin dia bersedih. Apalagi sampai mengeluarkan airmata. Aku sudah melarangnya untuk tidak berduka atas apa yang menimpa keluarganya, dahulu.

“Tak usah Adik bersedih. Coba lihat Abang!” Aku menampakkan senyuman penghibur.
“Ia Bang. Tapi ini pemberian terakhir ayah sebelum meninggal.”

Aku mendekap tubuhnya lebih erat lagi. Aku kibas kepalanya dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang pinggulnya. Aku menciumi keningnya. Air mata itu menempel di bibirku. Istriku sedang hamil dua bulan. Aku takut kalau kandungannya terganggu hanya karena masa lalu itu. Sepengetahuanku, istriku adalah orang yang tak mudah menangis. Apa mungkin ini bawaan anak yang ada di dalam kandungannya?
Sebulan lagi, akan ada kenduri di rumahku. Kenduri selamatan atas anak yang sedang dikandung istriku. Aku harus menyiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan nantinya. Aku menelan ludahku lagi. Penghasilanku sebagai seorang maling pasar tidak menentu. Apalagi untuk acara kenduri. Tapi tak apalah, pikirku.

Waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Empat adik iparku datang ke rumah. Mereka begitu senang kelihatannya. Mertua perempuanku juga datang. Ia membawakan kami hadiah. Aku membukanya. Ada boneka tanpa tangan. Aku tersenyum sambil menelan ludahku sendiri. Dan kini, boneka itu kupajang di dinding. Tiap malam, mimpi itu datang tanpa diundang. Semua orang berjalan tanpa tangan.

Desember 2011

Antara Nomor 29 dan Selebrasi

PEMAIN anyar Liverpool Fabio Borini memutuskan memakai nomor punggung 29. Apa alasannya memilih nomor yang tak lazim untuk seorang striker itu plus penuturan soal selebrasi khasnya usai mencetak gol.
Borini merampungkan kepindahannya dari AS Roma ke Liverpool, Jumat (13/7) sore waktu setempat usai melewati tes medis. Borini dikabarkan mendapatkan kontrak hingga 2017 dengan gaji sebesar 30 ribu poundsterling per pekan.
Dengan posisinya sebagai pemain depan, Borini bisa saja memilih nomor punggung 10 atau 11 yang biasanya digunakan oleh para striker  mengingat kedua nomor itu belum ada pemiliknya lagi di Anfield.

Namun, seperti dilansir dari situs The Reds Borini memutuskan memakai nomor 29 yang dikatakannya sebagai nomor keberuntungannya dan juga merupakan tanggal kelahiran pesepakbola 21 tahun itu.
Tapi siapa sangka jika selama kariernya sebagai pesepakbola, baru kali ini Borini mengenakan nomor itu karena sebelumnya nomor 29 selalu sudah ada pemiliknya ketika ia memperkuat Chelsea, Swansea dan Roma.
Musim depan boleh jadi fans Liverpool akan kerap melihat Borini menggigit tangannya usai ia mencetak gol. Selebrasi demikian memang kerap dilakukannya saat bermain dan Borini punya penjelasan untuk itu.
“Selebrasiku itu maksudnya adalah pisau di antara gigi (mengigit pisau). Di Italia itu berarti Anda seorang pejuang atau seseorang yang tak pernah menyerah dan selalu ingin bangkit jika mereka terpuruk. Di Swansea dan Roma fans menyukainya, jadi saya harap bisa menunjukkannya juga pada fans Liverpool,” demikian ucap Borini. (bbs/jpnn)

Konstruksi Jembatan Selat Sunda Diprediksi Molor

Tersandung Polemik Studi Kelayakan

JAKARTA – Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) diwarnai polemik seputar pelaksanaan uji kelayakan (feasibility study/FS). Meski begitu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, target ground breaking (mulai konstruksi) jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu tidak berubah. ”Targetnya kan (uji kelayakan) tahun 2014 selesai. Tetap 2014 kita harus ground breaking,” kata Hatta, kemarin.
Pelaksanaan pembangunan JSS diprediksi molor seiring dengan problem uji kelayakan yang muncul.

Penyebabnya, ada perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak melakukan uji kelayakan. Menteri Keuangan Agus Martowardojo bersikukuh, uji kelayakan tersebut dipimpin pemerintah melalui kementerian Pekerjaan Umum.
Sementara, pemerintah provinsi dan swasta melalui konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) sudah mulai melakukan pra studi kelayakan. Hatta sendiri dalam kesempatan sebelumnya berpendapat hal itu tidak menggunakan dana dari APBN.

”Saya masih minta dikaji yang terbaik untuk masalah itu bagaimana,” tutur mantan Menhub dan Mensesneg itu. Pengkajian itu seiring dengan direvisinya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2011 tentang Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda.

Dalam Perpres tersebut, sebelumnya disebutkan bahwa pemerintah menunjuk konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera sebagai pelaksana studi dengan jaminan anggaran negara jika proyek batal. Selain itu, disebutkan pula bahwa konsorsium diberikan batas waktu pelaksanaan studi kelayakan selama 24 bulan setelah penandatanganan kerja sama dilakukan. Nah, potensi molornya ground breaking muncul ketika hingga tujuh bulan sejak Perpres keluar, belum ditandatangani perjanjian kerjasama pelaksanaan studi kelayakan.

Di bagian lain, JSS dipandang bakal menjadi proyek mercusuar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karena itu, Partai Demokrat mendesak pemerintah segera menjalankan proyek yang sempat terkatung-katung selama 4 tahun itu. ”Harus menjadi heritage (warisan, Red) Pak SBY, dan Demokrat akan berdiri paling depan untuk mengawal dan menyetujui rencana tersebut,” kata anggota Komisi XI (keuangan) DPR Achsanul Qosasi.
Dia berpendapat, persoalan FS tersebut seharusnya tidak perlu diperpanjang. Tarik ulur tentang siapa yang harus melakukan hanya akan semakin memperlama pelaksanaan proyek. ”Kalau memang ada pihak swasta yang berminat silahkan saja, APBN kita bisa arahkan ke tempat lain,” katanya.

Achsanul mengharapkan Menko Perekonomian segera menuntaskan tarik ulur tersebut dengan mengoordinasikan antara menkeu, menteri PU, serta pemeritah provinsi Lampung dan Banten. ”Yang penting Perpres itu jangan di-challenge, tapi dijalankan. JSS adalah proyek mercusuar Pak SBY,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Sekretaris Fraksi Hanura Saleh Husein. Dia mewanti-wanti agar proses pembangunan jembatan selat sunda itu tidak berlarut-larut karena berisiko memunculkan spekulan-spekulan yang hanya ingin mengambil keuntungan, khususnya spekulan tanah yang akan memberatkan proses pembebasan lahan. ”Kami hanya melihat proyek ini harus segera ada kepastian karena ada kepentingan publik jangka panjang,” ujar anggota Komisi V (perhubungan dan PU) itu.

Di bagian lain, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri ikut angkat bicara soal pembangunan jembatan Selat Sunda. Dia mengatakan, semasa dirinya menjadi presiden, wacana pembangunan JSS ini sudah bergulir. Ketika itu, dia hanya menyarankan supaya gagasan ini kembali dipertimbangkan.

’’Waktu jadi presiden, ini pernah didiskusikan. Tapi, saya tidak langsung berikan keputusan. Perlu lebih dalam diskusi yang dilakukan,’’ kata Megawati sebelumnya. (fal/dyn/pri/nw/jpnn)

Ada Telur di Lapangan Merdeka

Senin awal pekan lalu saya begitu ingin ke Lapangan Merdeka. Bagaimana tidak, ada telur raksasa di lapangan itu. Apalagi, dari kabar yang saya dengar, lapangan itu penuh dengan ornamen Melayu; warna cenderung dipenuhi dengan kuning dan hijau.

Maka, saya kendarai si Lena (sepeda motor saya) ketika hari belum siang benar. Ya, kira-kira pukul sepuluh pagi. Dalam hati, saya berharap akan menemukan keindahan di Lapangan Merdeka itu. Terbayang dalam otak saya: Festival Budaya Melayu Agung.

Akibat harapan terlalu hebat, saya relakan si Lena parkir jauh dari Lapangan Merdeka; saya takut nanti tidak mendapat parkir karena Lapangan Merdeka tentunya ramai. Saya pun memilih sebuah gedung tua yang telah dipugar oleh sebuah media ntuk dijadikan kantor. Letak kantor ini berada di Jalan Ahmad yani alias Kesawan. Nah, dari kantor itu saya berjalan.

Lumayan menyenangkan pilihan saya itu. Saya merasa menjadi wisatawan. Setidaknya, saya dipandang seperti itu oleh beberapa orang yang berada di dalam mobil yang melintas di Jalan Ahmad Yani; mungkin mereka asing melihat saya yang mengenakan jaket, bertas ransel, dan berjalan di trotoar yang sempit. Terserahlah, yang penting saya merasa senang. Begitu pun ketika saya harus berjalan miring karena mobil berdesakan di lampu merah depan kantor PT London Sumatera sementara trotoar penuh dengan parkir sepeda motor.

Setelah berhasil menyeberang, saya pun memasuki kawasan Lapangan Merdeka. Hm, ada perasaan tak enak menyergap; mengapa tak terlihat ramai? Tak ingin kecewa, saya pun melintasi warung-warung makanan yang ada di pinggir Lapangan Merdeka itu; dari warung makanan cepat saji ala luar negeri hingga makanan cepat saji ala dalam negeri. Fiuh… tetap saja sepi.

Sialnya lagi, gerbang tengah menuju lapangan di kawasan itu malah ditutup. Jadi, untuk masuk ke lapangan saya harus memutar; masuk melalui gerbang di seberang Kantor Pos. Kenyataan ini langsung saja membuat saya mengutuk diri: kenapa harus memarkirkan si Lena sedemikian jauh; lihatlah masih banyak tempat yang kosong untuk parkir.

Tapi sudahlah, kata orangtua, nasi sudah jadi bubur. Saya masuki juga arena Festival Budaya Melayu Agung itu. Begitu masuk lapangan, mata saya dihadang sebuah panggung yang besar. Di hadapannya ada tenda besar yang berisikan bangku-bangku berlapiskan kain. Semuanya putih; mulai dari panggung, tenda, hingga kursi. Di antara warna putih itu terselip warna kuning dan hijau, tidak besar namun tampak mencolok. Di sisi kiri dan kanan tenda terdapat beberapa stand berbaris; warnanya juga putih. Sayang, saya tidak menemukan yang khas, selain hanya baru satu dua yang buka, yang dipajang pun tidak begitu “Melayu’. Mengecewakan.

Tapi sudahlah, kata orangtua lainnya, di saat gelap pasti ada terang. Maka, saya pun mencari terang itu. Dan, saya menemukannya!

Di ujung sana, terlihat sebuah telur raksasa. Buru-buru saya langkahkan kaki, sama sekali saya tidak melirik sekian stan yang berada di dekat panggung di sisi tenda. Saking buru-burunya, saya seakan berlari saja.
Setelah sampai, langsung saya dekati telur raksasa itu. Di sisinya ada papan yang ditempeli semacam pemberitahuan. Di situ tertulis kalau telur raksasa ini mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebaik mozaik telur terbesar. Mozaik kulit telur terbesar dengan ukuran 3 meter x 5 meter yang terdapat 8 ribu kulit telur dengan aneka lukisan wajah dan bentuk. Wow.

Penasaran, saya pun meraba telur itu. Halus. Seperti keramik. Apanya yang telur! Inilah kebodohan saya, mana mungkin telur sebesar itu kan? Ini adalah sebuah karya yang membentuk kulit telur menjadi satu telur besar. Bahannya pun tidak hanya kulit telur, makanya baca petunjuk di samping monumen Kota Medan yang baru ini! Anda penasaran? Silakan baca sendiri ya…. hehehehe.

Setelah saya perhatikan lebih dalam ternyata ada beberapa lukisan yang tersimpan dari telur raksasa itu (ini juga sesuai petunjuk). Jadi, dari pecahan kulit yang disusun, jika diperhatikan lebih dalam akan terlihat beberapa lukisan. Hm, menarik juga.

Yang agak menggugah pikiran saya adalah keberadaan ornamen semacam ulos di tengah-tengah telur itu. Kenapa? Maksudnya, entah karena kebodohan saya, yang jelas saya tidak melihat hubungan telur dengan ornamen itu? Adakah yang bisa memberitahu saya? Setidaknya, di petunjuk samping telur itu juga tidak diterangkan. Ah,  apakah ini sebuah pesanan. Tapi tunggu dulu, jangan sangka pesanan itu harus dari sponsor semata; meskipun hal itu bisa sangat mungkin. Kadang, seorang kreator memang dihadapi oleh beberapa pesanan. Misalnya begini, karena saya pernah tinggal di Jogjakarta dan Langsa, bukankah dua kota itu sering saya masukan dalam lantun atau catatan saya? Ada juga pesanan yang sengaja dibuat si kreator untuk ajang unjuk gigi.

Tapi, sudahlah, setidaknya kepenasaran saya untuk melihat telur di Lapangan Merdeka telah tuntas. Saya bangga karena Medan berani menciptakan sebuah ikon baru dan tidak berharap pada peninggalan saya. Ya, saya bangga dengan itu walau dengan beberapa ketidakpuasan; sebuah catatan untuk saya pribadi tentunya.

Saya pun melangkahkan kaki lagi menuju gedung tua yang telah dipugar menjadi kantor sebuah harian di Medan. Lalu lintas makin ramai, tidak seperti saya pergi tadi. Saya kesulitan menyeberang. Zebra cross di Jalan Pulau Pinang terkesan setengah hati. Dia tidak penuh. Zebra cross hanya untuk jalur yang menuju lampu merah depan kantor PT London Sumatera, sedangkan jalur yang berbelok kanan menuju jalan tempat mantan Deli Plasa berada tidak ada. Saya harus ekstra hati-hati. Sumpah…, nyesal juga saya tinggalkan Lena di sana. Ah. (*)

Perut Rosledi Makin Membesar

MEMBESAR: Rosledi didampingi suaminya Sarmadan di RSU dr Pirngadi Medan.//kesuma ramadan/sumut pos
MEMBESAR: Rosledi didampingi suaminya Sarmadan di RSU dr Pirngadi Medan.//kesuma ramadan/sumut pos
Awalnya, Rosledi Dalimunthe (27) hanya mengalami sakit di bagian perut pasca menjalani proses persalinan kelahiran anak ketiganya. Namun, rasa sakit itu terus menghantui hingga berujung kepada penyakit kista yang membuat perutnya semakin membesar dengan ukuran jauh di atas ukuran normalnya.
Kondisi ini tentunya membuat  warga Jalan Meranti Raya II, Perumnas Pijor Koling, Kelurahan Pijor, Koling Kecamatan, Padang Sidimpuan Tenggara ini hanya bisa pasrah di atas pembaringan tanpa mampu berbuat apapun.

Sarmadan (40), suami Rosledi, saat ditemui di ruang perawatan High Dependency Units (HDUs) RSUD dr Pirngadi Medan Lantai V, Jumat (13/7) sore mengisahkan, jika  penyakit yang dialami isteri tercintanyan itu bermula sejak tiga tahun lalu atau tepatnya awal 2009 silam.

Dari pengakuan Sarmadan, sebulan pasca kelahiran anakn ketiga mereka, Rosledi sering memaksakan diri untuk melakukan pekerajaan berat di rumahnya.

Pasangan yang bertahan hidup sebagai buruh tani di ladang orang itu tak pernah menyangka jika kondisi itu menjadi pemicu seringya Rosledi merasakan sakit pada bagian perutnya.

“Bahkan karena sering menahankan sakit,  perutnya terus membengkak hingga seukuran bola,”ujar Sarmadan.
Melihat perubahan pada perut isterinya, Sarmadan selanjutnya mebawa sang isteri ke puskesmas yang tak jauh dari kediaman mereka. Namun karena sakit tak kunjung sembuh, dan perut Rosdeli semakin membesar selanjutnya Sarmadan membawa isterinya untuk berobat kampung.

“Bukannya sembuh namun perutnya semakin bengkak dan membesar saya sempat heran kenapa perutnya bisa besar kali, Bang,”ucap Sarmadan.
Khawatir dengan kondisi isterinya, Sarmadan selanjutnya membawa Rosdeli ke RSU Padang Sidimpuan dengan menggunakan program kesehatan dana talangan Provinsi Sumatera Utara.

Dalam proses pengobatannnya, saat itu Rosdeli divonis pihak medis mengidap  penyakit kista.

Setelah menjalani perawatan dan mengkonsumsi obat yang diberikan dokter rumah sakit tersebut, dalam rentan waktu dua tahun yakni sejak  2009 hingga 2011, kondisi perut wanita yang telah memiliki tiga anak ini mulai menunjukkan perubahan.

“Waktu itu aku mulai tenang karena sejak dirawat di RS Padang Sidimpuan dan rutin mengkonsumsi obat selama dua tahun lebih, kondisi perut isteri saya mulai mengempis dan sudah normal seperti awal kali. Bahkan saat itu saya sudah mulai mencari pekerjaan baru sebagai sopir taksi tur Cijanggut,”sebutnya yang mengaku mendapatkan penghasilan sebesar Rp30 ribu sehari sebagai sopir taksi.

Namun kebahagiaan Sarmadan dan Rosdei tak berlangsung lama. Pasalnya, setahun berikutnya atau pertengahan tahun 2012, Rosdeli kembali merasakan  sakit pada bagian perutnya.

Tidak hanya disitu saja, bahkan Rosdeli juga sering merasakan nyeri  ketika hendak buang air besar, serta mengalami gangguan pada bagian pernafasannnya.

Ironisya, perut yang telah mengempis sebelumnya, kembali membengkak dan semakin membesar dengan ukuran jauh di atas normal.
Sarmadan coba membawa kembali isterinya ke RS Padang Sidimpuan untuk mendapatkan pengobatan ternyata harus menerima kenyataan pahit. Ternyata isterinya tida dapat diobati di rumah sakit tersebut karena keterbatasan alat medis, sehingga harus dirujuk ke RSUD dr Pirngadi Medan.
Di balik keterbatasan biaya, Sarmadan sempat kehabisan akal untuk membawa isterinya ke Medan.

Beruntungnya, kedua pasangan tersebut mendapatkan bantuan dari dermawan yakni sebuah ambulance gratis untuk mengantarkan isterinya ke RSUD dr Pirngadi Medan.

“Kami sangat bersukur ada seorang dermawan yang mau memberikan jasa ambulans gratis untuk mengantarkan kami. Kalau tidak saya bingung harus naik apa kemari, karena ongkos ambulansnya pasti sangat tinggi,”ungkap Sarmadan.

Setibanya di RSUD dr Pirngadi Medan, Kamis  sore (12/7), Rosledi langsung mendapatkan penanganan intensif dan kini telah dirawat di ruang HDUs.
Dr Akbar saat menerima kedatangan Rosledi mengatakan akan memeriksa kembali  diagnosanya untuk memastikan kebenaran penyakit yang diderita oleh Rosledi.

“Kita akan periksa kembali penyakit yang didiagnosa Rosledi, untuk mengetahui jenis penyakit dan tindakan medis yang akan diambil nanti. Saat ini dia masih kita rawat intensif di ruang HDUs,”sebutnya.

Tak banyak yang bisa diharapkan Sarmadan, kecuali kesembuhan sang siteri dan uluran tangan para dermawan untuk turut membantu meringankan beban keluarga mereka.

“Semoga isteri saya bisa disembuhkan agar  ketiga anak kami yang kini dirawat oleh keluarga bisa lagi merasakan kehangatan sentuhan ibunya,”ujar Sarmadan dengan penuh harap.

Direktur RSUD dr Pirngadi Medan, dr Amran Lubis SpJP (K) menyebutkan, pasien saat ini memang dirawat di HDU karena kondisinya lemah dan ada gangguan beberapa organ tubuh seperti ginjal dan hati.

Menurutnya, pasien saat ini ditangani dokter kebidanan dan dokter penyakit dalam. Tahap awal, dia akan didiagnosa lagi. Menurut diagnosa pembanding, ada dua kemungkinan. Pertama, dia menderita tumor abdomen atau kista ovarium. Sekarang masih dilakukan diagnosa penunjang foto dada dan USG. “Setelah dilakukan evaluasi, baru diketahui penyakit apa sebenarnya,” sebut Amran.

Amran menjelaskan, jika hanya memang kista ovarium, maka cukup ditangani dokter kebidanan dan anastesi. Begitu juga kalau tumor abdomen jinak, juga tidak terlalu bermasalah karena cukup ditangani dokter bedah digestif dan anastesi.
“Tapi, kalau tumor abdomennya kategori ganas, maka tidak saja ditangani dokter bedah digestif, tapi juga dokter bedah onkologi dan anastesi,” jelas Amran.

Walaupun begitu, lanjut Amran, dari berbagai kemunginan itu, pihak medis rumah sakit sudah siap. “Kita semua ada dokter. Kita ada ahli kebidanan, ahli bedah digestif dan konsultan onkologi jika memang diperlukan untuk konsultasi kemoterapi pasien,” sebut Amran. (uma)

TK Plus Ulul Ilmi Luluskan Alumni Perdana

MEDAN-Untuk pertama kalinya Taman Kanak-kanak (TK) Ulul Ilmi Medan Yayasan Perguruan Rapy Ray Pratama meluluskan 10 alumninya, pada acara wisuda dan pentas aksi pelepasan Alumni TK Ulul Ilmi di Jalan Denai/Rawa  No 241 Medan,  Kecamatan Medan Denai.

Alumni TK Ulul Ilmi yang tamat itu yak ni Abib Baharuddin Faiz Irsyah, Airin Farah Tsabita Batubara, Alif Faundra Sofian, Amanda Cutkaila Lubis, Cut Mutia Deviyanti, Dio Shandy Pangeran Purba, Nadisya Faiza Azzahra, NailahMawaddah, Rizky Algifari, Alvin Maulana Chairy.

“Saya berharap kepada lulusan TK Plus Ulul Ilmi supaya melanjutkan jenjang pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, dan tentunya dapat menerapkan ilmu yang mereka mereka dapatkan ke pendidikan jenjang yang lebih tinggi lagi dan juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Zulkarnain Ahmad, didampingi Irwan Ray selaku kepala Yayasan Rapy Ray Pratama, ketika dijumpai di sela-sela acara pelepasan alumni TK Ulul Ilmi itu belum lama ini.

Irwan Ray, Kepala Yayasanan Rapy Ray Pratama dalam kata sambutannya, memberikan apresiasi terhadap alumni dan juga terhadap tenaga yang terbilang cepat dalam menangkap mata pela jaran yang diberikan oleh guru-gurunya.

“Saya juga berterimakasih terhadap setiap orangtua alumni dan siswa TK Ulum Ilmi yang telah mempercayakan anak-anaknya untuk menimba ilmu di sekolah ini,” katanya. (mag-10)

241 Pejabat Pemko Medan Dilantik

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM melantik 241 pejabat  struktural, Jumat (13/7) di Gedung Darma Wanita Medan Jalan Rotan. Acara pelantikan ini dihadir Wakil Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin  MSi, unsur Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Medan, dan sejumlah pimpinan SKPD jajaran Pemko Medan.

Ke-241 pejabat struktural yang dilantik ini adalah, satu orang pejabat eselon II yakni H Arjuna Sembiring S Sos MSc menjadi Kepala Badan Ketahahan Pangan Kota Medan sebelumnya menjabat Sekretaris Dinas Perternakan dan Kelautan, dan 44 pejabat eselon III, termasuk  tiga Camat yakni Syahrul Effendi menjadi Camat Medan Sunggal, sebelumnya Camat Medan barat, Sutan Tolang Lubis menjadi Camat Medan Barat dan Mopul Bernard Susanto menjadi Camat Medan Baru, serta 6 orang sekretaris Camat.

Selanjutnya pejabat eselon III lainnya diantaranya, Fahri Matondang menjadi Kepala Bagian Tata Pemerintahan sebelumnya menjabat Camat Medan Sunggal, Bahrian Effendi S Sos menjadi Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil  sebelumnya Kepala Bidang Data dan Informasi Dinas Kominfo, Drs Fahmi Harahap menjadi Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebelumnya menjabat Kabid Perparkiran Dinas Perhubungan.
Pejabat eselon IV terdiri dari 31 lurah diantaranya, Drs Syaiful Bahri Nasution menjadi Lurah Bandar Selamat Medan Tembung, sebelumnya menjabat Kasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Hamdani Lubis menjadi Lurah Pekan Labuhan Medan Labuhan, Syarifuddin SSTP menjadi Laurah Tegal Sari Medan Aera, M Iqbal menjadi Lurah Sidorame Medan Perjuangan, dan 165 pejabat eselon IV lainnya adalah Kasi dan Kasubbag pada jajaran SKPD Pemko Medan lainnya.

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM mengatakan, hari ini (Jumat) kembali dilakukan rotasi, mutasi dan promosi di lingkungan jajaran Pemko Medan. Tujuan pokoknya adalah memperkuat sistem penyelenggaraan  pemerintahan daerah. “Kita tahu dinamika dan kompleksitas pembangunan menuntut kita untuk terus mengembangkan capacity building pemerintah daerah. Faktor inilah yang mendorong keputusan untuk melakukan pelantikan para pejabat baru di lingkungan kerja jajaran Pemko Medan,” ujarnya.

Dikatakan Rahudman ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan para pejabat baru, sehingga nantinya mampu mengelola tugas dan tanggung jawabnya dengan dengan baik. Pertama punya motivasi kerja, hal ini sangat penting untuk bisa bekerja dan mampu mengambil keputusan, serta berkreatifitas, kedua mengenali, memahami tugas dan tanggung jawab yang diemban, hal ini penting agar kita tahu mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas serta fungsi yang diemban dengan kerja efesien dan efektif, ketiga harus mengembangkan kiat bekerja untuk menuntaskan setiap program kerja yang dikelola.
Rahudman berharap kepada pejabat yang baru dilantik untuk lebih meningkatkan kinerja seoptimal  mungkin, memperteguh komitmen, dedikasi dan profesionalisme termasuk meningkatkan kerjasama yang baik diantara sesama pejabat dan staf untuk mewujudkan sistem kerja dan mekanisme kerja yang efektif, dan yang paling penting membangun komunikasi sehingga proses informasi, gagasan, fikiran, pendapat, rencana teramsuk pelaksanaannya dapat terintegrasi dengan baik.(dya)

Usai Demo, Mahasiswa Dikeroyok Satpol PP

Lima Luka-luka, 1 Sepeda Motor Rusak

BAKAR BAN: Mahasiswa melakukan aksi bakar ban di depan kampus ITM di Jalan Gedung Arca Medan, Jumat (13/7). Dalam aksi tersebut mereka menolak Undang-Undang Pendidikan Tinggi.//ANDRI GINTING/SUMUT POS
BAKAR BAN: Mahasiswa melakukan aksi bakar ban di depan kampus ITM di Jalan Gedung Arca Medan, Jumat (13/7). Dalam aksi tersebut mereka menolak Undang-Undang Pendidikan Tinggi.//ANDRI GINTING/SUMUT POS

MEDAN-Aksi mahasiswa yang menolak RUU Perguruan Tinggi (RUU PT) berujung luka. Usai menggelar aksi, mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Medan Bersatu (GMMB) yang merupakan gabungan dari beberapa universitas di Medan dikeroyok Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Akibatnya, lima mahasiswa luka-luka dan 1 unit sepeda motor milik mahasiswa rusak.
Dari lima mahasiswa yang luka, tiga diantaranya mengalami luka serius. Tiga mahasiswa yang terpaksa mendapat perawatan medis di Klinik Rakyat Medical (RMC), di Jalan Rakyat Medan yakni Chandra Tampubolon (21) mahasiswa Polmed, Seper Purba (21) mahasiswa Polmed, dan Adi (20) mahasiwa yang baru diterima di USU Medan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Sumut Pos, sekitar 40 massa GMMB Jumat siang melakukan aksi di Gedung DPRD Sumut dan Bunderan Majestik. Setelah melakukan orasi lalu mereka pulang.

LUKA: Seorang korban,Chandra, dirawat di Klinik RMC di Jalan Rakyat Medan, Jumat (13/7).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
LUKA: Seorang korban,Chandra, dirawat di Klinik RMC di Jalan Rakyat Medan, Jumat (13/7).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
Saat berjalan menuju kampus Universitas HKBP Nommensen Medan, mereka singgah di Lapangan Merdeka untuk makan. “Kami sedang evaluasi demo yang sudah kami lakukan tadi di Lapangan Merdeka sambil makan,” kata Dera, Koordinator Aksi GMMB.

Saat bersamaan dua petugas Satpol PP melintas, para mahasiswa pun menawari makan bersama. Namun, sebut Dera, tawaran mereka tak digubris dan sebaliknya dua personel Satpol PP itu malah menantang. “Saya pun mengadu kepada puluhan rekannya yang sedang evaluasi. Aku bilang sama kawan-kawan ‘Woi ada Satpol PP’. Tapi, personel Satpol PP itu marah dan pergi,” tambahnya.

Tak lama berselang, puluhan petugas Satpol PP datang ke lokasi. Petugas Satpol PP datang membawa potongan kayu dan besi. “Kami diserang tiba-tiba oleh Satpol PP itu,” ucapnya.

Mahasiswa tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan. Namun, karena kalah peralatan, mahasiswa memilih mundur. Para mahasiswa menyelamatkan diri masing-masing dengan menggunakan sepeda motor. Namun, petugas Satpol PP terus mengejar.

Seorang mahasiswa, Chandra Tampubolon tak bisa meloloskan diri sehingga kepalanya terkena hantaman benda keras. Sementara itu, sepeda motor Avril Napitupulu, mahasiswa Fakultas Hukum Univ HKBP Nommensen Medan dirusak oleh petugas Satpol PP dan badannya disulut rokok.
Seluruh mahasiswa akhirnya bisa meloloskan diri dan sebagian berkumpul di kampus Univ HKBP Nommensen, di Jalan Perintis Kemerdekaan. Sementara mahasiswa yang lain membawa dua rekan mereka ke Klinik RMC, di Jalan Rakyat, Medan.

Kejadian ini membuat mahasiswa terkonsentrasi di kampus Nommensen. Mereka dikabarkan pun menggelar aksi di sana.
Kasat Intelkam Polresta Medan, Kompol Ahyan bersama sejumlah anggotanya terlihat menemui dan berbicara dengan mahasiswa. “Silahkan membuat laporan saja terlebih dahulu ke Polresta Medan,” katanya kepada mahasiswa.

Permintaan Ahyan pun dituruti mahasiswa. Empat mahasiswa pergi membuat laporan. Sementara itu, sisanya masih terkonsentrasi di dalam kampus Univ HKBP Nommensen. Setelah melakukan pembicaraan, akhirnya, para mahasiswa pun keluar dari dalam Univ HKBP Nommensen Medan menuju Kantor Satpol PP Kota Medan. Tujuan mereka mendatangi Kantor Satpol PP Kota Medan itu, meminta dengan tegas agar Satpol PP Kota Medan bertanggung jawab dan memberikan ganti rugi serta mengobati rekan mereka.

“Kami mintakan kepada Kepala Satpol PP Kota Medan agar bertanggung jawab dan kami minta kepada pihak Polresta Medan menahan pelaku penganiayaan mahasiswa yang sedang makan yang dilakukan secara tiba-tiba itu,” ucap Dera saat melakukan orasi di depan Kantor Satpol PP Kota Medan.

Dikeroyok Tujuh Orang

Chandra, korban luka serius, saat ditemui di Klinik RCM mengaku, perlakuan kasar yang mereka alami terjadi tak lama setelah melakukan aksi penolakan RUU PT di beberapa tempat yakni, Bundaran SIB dan DPRD Medan.

“Siang itu (sekitar pukul 14.30 WIB, Red) kami kami didatangi dua orang Satpol PP dan mencoba mengusir kami. Karena caepk, kami mencoba bertahan sehingga sempat terjadi perdebatan kecil,” ujarnya.

Selang 30 menit kemudian bilang Chandra, puluhan Petugas Satpol PP mendatangi para mahasiswa. “Kami sebenarnya sudah mau pulang karena sebahagian teman-teman yang lain juga sudah meninggalkan lokasi. Namun, tanpa banyak bicara mereka (sekitar 50 orang) langsung mengeroyok kami yang hanya tinggal 10 orang saja,” ujarnya.

Tidak berimbang, mahasiswa coba menyelamatkan diri, namun sayangnya mereka tidak berhasil dan telah dikepung oleh petugas Satpol PP. “Aku dikeroyok tujuh orang Bang, kepalaku koyak setelah dibalok sekitar 4 kali sama mereka Bang,” ucap Chandra sambil memperlihatkan kepalanya yang mendapatkan 17 jahitan atas perlakuan kasar yang dialaminya.

Hal senada juga disampaikan Seper, korban luka lainnya. “Karena tidak berimbang aku cuma bisa nangkis saja Bang, mereka juga memukuli kami pakai kayu dan balok. Bahkan kejadian itu bukan cuma kami tiga saja yang jadi korban, tapi ada sekitar lima orang lainnya juga dipukuli,”sebutnya.
Akibat kejadian itu ketiga korban berencana untuk melanjutkan ke ranah hukum. “Kami habis ini mau visum di RSUD dr Pirngadi setelah itu buat laporan ke Polisi,”ucap Seper.

Sempat Sandera Mobil Plat Merah

Sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Sumatera Utara (From-Su) melakukan penyanderaan terhadap sebuah mobil Avanza warna hitam dengan nomor Polisi BB 118 K. Mobil dinas milik Dinkes Pemkab Padanglawas itu didandera di Jalan Imam Bonjol tepatnya didepan Gedung DPRD Sumut, kemarin siang sekitar pukul 11.45 WIB.

Akibatnya, dua orang di dalam mobil ini tampak ketakutan dan hanya bisa diam. Massa sempat mengedor-gedor kaca mobil tersebut untuk menyuruh penggemudi dan seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya untuk turun dari mobil tersebut.

Massa yang tidak bisa menurunkan orang di dalam mobil itu hanya bisa menduduki bagian depan mobil sambil berorasi dan menggibarkan bendera From-Su. Aksi penyandaraan mobil ini sempat membuat ruas jalan Imam Bonjol macet.

Meski begitu, massa tidak melukai penghuni mobil maupun merusak mobil tersebut. Massa hanya merusak plat merah pada mobil itu dan menempelkan poster yang bertuliskan penolakkan RUU PT kaca belakang.

Penyanderaan itu berlangsung hanya dalam 10 menit. Setelah itu massa membiarkan pengemudi tancap gas. “Di tanah air sudah banyak kebijakan pemerintahan di bawah kepemimpinan SBY-Boediono tidak berpihak kepada masyarakat, sehingga masyarakat banyak mengalami penindasan,” ujar Christyan selaku kordinator aksi dalam orasinya.

Mahasiswa Fakultas FISIP USU ini menyikapi RUU PT merupakan kebijakkan yang membuat masyarakat sengsara. Seharusnya pendidikan ini harus gratis bukan di komersialkan. “Maka kami dari Front Mahasiswa Sumatera Utara menolak RUU PT yang tidak pro rakyat,” paparnya.

Massa dengan bawa atribut oragnisasi ini, sempat melakukan bakar ban bekas dan tambur bunga 7 warna di gerbang Gedung DPRD Sumut sebagai simbol perlawanan atas kebijakkan pemerintah yang tidak peduli dengan nasib masyarakatnya.

Massa akhirnya diterima oleh Syamsul Hilal Anggota Komisi A DPRD Sumut. “Saya akan sampai tuntutan Anda ini,” sebutnya kepada massa. (gus/ari/jon/uma)