Home Blog Page 13299

Sebelum Urusi Manajemen, jadi Mekanik Dulu

Akbar Buchari, Pengusaha Muda Sukses Sumut yang Berangkat dari Keterpaksaan

Meninggalnya sang ayah memaksa Akbar Buchari harus belajar bisnis otobus sejak berusia 10 tahun. Teruji setelah ditempa berbagai kendala berat: mulai konflik bersenjata hingga tsunami. 

M DINARSA KURNIAWAN, Medan

SUKSES: Pengusaha muda Akbar Buchari saat ditemui Jawa Pos (grup Sumut Pos) belum lama ini di Medan.//for sumut pos/jpnn
SUKSES: Pengusaha muda Akbar Buchari saat ditemui Jawa Pos (grup Sumut Pos) belum lama ini di Medan.//for sumut pos/jpnn
DI sudut Cangkir Cafe di Jalan DI Panjaitan, yang terkenal sebagai tempat hang out anak-anak muda Medan, Sumatera Utara, seorang lelaki asyik mengobrol dengan kawannya. Hanya mengenakan t-shirt putih, celana pendek, dan sandal, lelaki 25 tahun itu tampak sangat kasual.

Dialah Akbar Buchari, salah seorang pengusaha muda sukses di Sumatera Utara (Sumut).”Saya baru saja dari lapangan golf, lalu langsung ke sini. Kebetulan tempat ini dekat dengan rumah saya,” ujar lelaki kelahiran Medan, 25 November 25 tahun lalu itu.

Penampilannya saat itu tak berbeda dengan anak-anak muda lain yang sedang nongkrong di tempat tersebut. Padahal, di luar penampilannya itu, Akbar saat ini sudah menjabat komisaris Kurnia Group yang bergerak di bidang transportasi. Kurnia adalah perusahaan otobus (PO) yang melayani rute Sumut sampai ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Perusahaan yang diwarisi Akbar dari ayahnya itu sekarang memiliki armada 250 bus.

Selain itu, sejak 2008 bisnisnya melebar dengan berekspansi di bidang perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Blang Seunong, Aceh Timur. Jumlah lahan yang dimiliki mencapai enam ribu hektare. Bukan hanya itu, Akbar juga melebarkan sayap dengan membuka sebuah hotel bintang tiga di Medan yang diberi nama Hotel Saka. Hotel yang berlokasi di Jalan Gagak Hitam itu akan beroperasi dalam waktu dekat.

“Pemikirannya, banyak penumpang bus saya dari Aceh kesulitan mencari hotel ketika tiba di Medan,” urainya. “Jadi, mengapa saya tidak bikin hotel sekalian. Nanti bisa di-bundling sama tiket busnya,” sambungnya.

Di luar bisnis keluarga, dia tengah mengembangkan bisnis sendiri. Bersama beberapa kawan pebisnis muda, Akbar masuk ke bisnis properti. Dia mengatakan, bisnis di bidang real estate tengah berkembang pesat di ibu kota Sumut itu.

Dibandingkan dengan lelaki seumurnya, Akbar jelas bisa dibilang telah meraih kesuksesan. Namun, sejatinya dia tak bermaksud menjadi pengendali bisnis keluarga di usianya yang masih relatif muda itu.

Keadaanlah yang memaksanya demikian. Semua diawali pada 1997, ketika ayahnya, Buchari Usman, menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia, GA-152 di Desa Buah Nabar, Kabupaten Deliserdang (sekitar 32 km dari Bandara Polonia, Medan).”Mungkin kalau ayah masih hidup, saya sekarang baru lulus S-2 dan baru belajar bisnis. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu,” ucap sarjana hukum dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan, itu.

Saat kecelakaan yang menimpa ayahnya itu terjadi, dia baru berumur sepuluh tahun. PO Kurnia pun untuk sementara berada dalam kendali sang paman. Baru pada 2004, saat duduk di bangku SMA, Akbar bergabung untuk membantu menjalankan bisnis keluarganya itu. Tak langsung mengurusi manajemen perusahaan, dia menjadi mekanik terlebih dulu. Sang ayah berpesan, pengusaha transportasi memang harus mengerti mesin. Sebab, itu adalah inti bisnis tersebut.

Akbar menceritakan, kala itu, sepulang dari sekolah, dia langsung meluncur ke pangkalan bus dan membantu para mekanik. Tugas itu tak dirasakannya sebagai beban. Selain harus menjalankan amanat ayahnya, Akbar suka mengutak-atik mesin karena dikenalkan oleh sang ayah sejak masih balita.

Oleh keluarga, Akbar memang disiapkan untuk menggantikan tugas ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Yakni, berperan sebagai pengambil keputusan karena dia anak pertama dari dua bersaudara. Ujian lain yang menerpa adalah kondisi keamanan NAD yang sempat kritis karena terjadi konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI. Akbar mengatakan, pada medio 2000, perusahaan yang dijalankannya tak luput dari intimidasi sejumlah oknum. Bahkan, banyak bus PO Kurnia yang dibakar. “Ada sekitar 20 bus yang dibakar. Tapi, sampai sekarang tidak jelas siapa yang membakar. Kami hanya tahu itu ulah oknum-oknum yang tidak jelas,” ungkapnya.

Walau kondisi demikian kritis, sebagian bus yang kondisinya baik tetap melayani rute Medan-Banda Aceh. Ketika provinsi paling barat Indonesia itu dihantam amuk tsunami, PO Kurnia juga tak luput dari bencana.

Akbar mengisahkan, kala tsunami menghunjam Serambi Makkah, sekitar 50 bus di pool Banda Aceh terkena dampaknya. Pagar pool juga terseret arus sampai ke jalan raya.

Di tengah kondisi seperti itu, Akbar harus pintar-pintar memutar otak. Dia harus mengatur anggaran dengan cermat. Bahkan, membangkitkan semangat para kru bus. Karena terdesak keadaan ketika itu, di pool bus sampai dibangun dapur umum.

Namun, tsunami justru menjadi semacam blessing in disguise alias berkah tersamar. Sebab, setelah gelombang itu pergi dan kondisi berangsur-angsur normal, bisnisnya semakin terangkat karena banyak orang yang mengunjungi Aceh.

Menurut Akbar, krisis dan ujian yang silih berganti menerpa usahanya adalah sebuah ujian yang harus dilalui. Kerikil-kerikil tajam itulah yang turut membuatnya menjadi pebisnis tangguh.

Kini, Akbar tentu tak perlu terlalu bersusah payah memikirkan bisnisnya karena sudah berjalan dengan baik. Hanya ketika kehadirannya dibutuhkan, dirinya turun tangan langsung. “Kegiatan di luar bisnis banyak diisi dengan berorganisasi dan memuaskan hobi di bidang olahraga. Akbar tercatat sebagai wakil ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) Sumut, ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Pengkot Medan, dan ketua komisi roda empat Ikatan Mobil Indonesia. Akbar juga dikenal sebagai pereli. Sejumlah event reli nasional diikuti driver Mitsubishi Evolution 9 itu.
Pada 2006, dia meraih juara nasional di kelas pemula. “Kalau tidak ada urusan bisnis atau event reli, saya biasa melahap rute pegunungan di sekitar Medan,” papar penggemar mountain bike (MTB) itu. (*)

Ical Tebar Janji, Massa Tinggalkan Deklarasi

BOGOR-Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie resmi mendeklarasikan pencalonan dirinya sebagai presiden RI di hadapan publik. Dalam pidato yang disusun panjang itu, Ical — sapaan akrab Aburizal — mulai menyampaikan janji-janji politiknya sebagai capres.
Deklarasi Ical sebagai capres tersebut berlangsung meriah di Sentul International Convention Center (SICC) Minggu (1/7). Puluhan ribu simpatisan dari berbagai daerah membanjiri kawasan yang berada di salah satu sudut kota Bogor itu. Partai Golkar tampaknya memenuhi ambisinya untuk bisa menghadirkan ribuan orang.

Ical hadir bersama istrinya, Tatty Murniati Bakrie, serta tiga anaknya, Anin, Dita, dan Ardie Bakrie. Tak seperti biasanya, Ical tidak mengenakan baju kuning identitas Partai Golkar. Tapi, dia memakai seragam khusus untuk deklarasi pencapresan dirinya, berupa kemeja putih dengan strip warna merah. Sedangkan Tatty mengenakan kemeja yang sama, namun dengan gambar wajah Ical di bagian depan. Deklarasi dihadiri mayoritas fungsionaris DPP Partai Golkar. Tampak pula Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum yang menyampaikan selamat berjuang kepada Ical. Sejumlah tamu dari negara sahabat juga diundang.

Dalam pidatonya, Ical menyatakan kesiapannya untuk menjadi capres pada Pilpres 2014. Tak lupa, dia mengingat-ingat proses sebelum deklarasi yang sempat terjadi perbedaan pendapat dengan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung. “Ada sedikit perbedaan pendapat di antara kami berdua,” kata Ical.

Namun, perbedaan itu bukanlah sebuah sikap permusuhan. Ical menilai, perbedaan tersebut adalah wujud dinamika yang sehat. “Pak Akbar adalah seorang sahabat, seorang tokoh yang berhasil mempertahankan eksistensi partai justru di saat-saat yang sangat sulit,” puji Ical.
Pidato Ical yang terlalu lama itu membuat massa yang menghadiri deklarasi tampak bosan. Mereka satu per satu meninggalkan tempat acara. Hingga akhir pidato yang berlangsung lebih dari satu jam itu, banyak kursi yang ditinggalkan undangan. (bay/c4/ari/jpnn)

Tersangka Baru Tinggal Tunggu Waktu

Jumlah Suap Proyek Alquran Rp4 Miliar

JAKARTA-Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti bahwa jumlah pelicin yang mengalir di dua tersangka anggota Komisi VIII DPR Zulkarnaen Djabar dan anak kandungnya Dendi Prasetia Zulkarnaen Putra dan kasus korupsi mushaf Alquran cukup besar. Diduga sebagai pihak swasta, Dendi mengalirkan dana sekitar Rp4 miliar agar pihaknya mendapat proyek tersebut.

“Sebenarnya yang kami sidik adalah soal pembahasan anggaran proyek pengadaan Alquran dan bantuan laboratorium madrasah tsanawiyah (MTs) di DPR. Kalau soal pengadaannya, itu masih dalam tahap penyelidikan,” kata seorang pejabat KPK di Jakarta kemarin (1/7). Nah, karena yang disidik adalah soal pembahasan, maka dari itu yang menjadi tersangka adalah anggota DPR yang juga anggota badan anggaran (Banggar) dan belum menyentuh ke pegawai Kemenag.

“Dia (Zulkarnaen) memang yang mengamankan agar pemenang proyek PT KSAI (Karya Synergy Alam Indonesia), PT A3I (Adhi Aksara Abadi Indonesia) dan PT BKM milik anaknya,” imbuhnya. Nah, uang Rp4 miliar tersebut diduga dialirkan Dendi untuk mengamankan perusahaannya lewat sang ayah.
KPK pun kini sedang mencari pihak-pihak lain yang juga terlibat memenangkan perusahaan itu sebagai rekanan proyek di Kemenag. Sumber tersebut meyakinkan bahwa pihaknya tidak hanya berhenti di dua tersangka itu. Dia menjelaskan selain dijerat pasal 5, pasal 12, dan pasal 11 tentang menerima dan member sesuatu, Zulakarnaen juga dijerat dengan pasal 55 KUHP. Dimana dalam pasal tersebut dijelaskan yang bersangkutan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Selain itu, dalam pasal itu juga disebut bahwa Zulkarnaen telah melakukan, atau menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan yang melanggar hukum. “Nah, karena pasal 55 adalah turut serta dan bersama-sama, maka dia tidak sendiri. Pasti ada orang lain yang ikut terlibat,” imbuhnya.
Menurutnya, selain pegawai Kemenag, KPK juga menelusuri ada atau tidaknya anggota Banggar dan DPR lain yang ikut terlibat mengarahkan perusahaan-perusahaan itu menjadi pemenang. Yang jelas, kasus ini tidak akan berhenti.

Sumber tersebut lantas menjelaskan, awal dari kasus ini adalah ada laporan yang masuk dari masyarakat tentang korupsi pembahasan proyek bantuan laboratorium komputer MTs Ditjen Pendidikan Islam Kemenag dengan DPR tahun angaran 2011-2012. Setelah ditelusuri, KPK akhirnya menemukan alat bukti yang kuat.

Buah dari kerja keras komisi yang dipimpin Abraham Samad itu ternyata juga menemukan adanya indikasi korupsi dalam pembahasan pengadaan mushaf Alquran tahun anggaran 2011-2012 dan 2012-2013.

Begitu unsur-unsur korupsi dan alat bukti mencukupi, KPK tanpa ragu memutuskan tiga kasus pengadaan Alquran dan bantuan laboratorium dinaikkan ke penyidikan. Zulkarnaen dan Dendi pun ditetapkan tersangka. “Kami resmi menaikkan kasus ini ke penyidikan Senin (25/6) lalu,” imbuhnya.
Nah, untuk dugaan korupsi pengadaan Alquran, itu memang masih dalam tahap penyelidikan. “Jadi soal pengadaan Alquran memang masih penyelidikan,” kata dia.  (kuh/dyn/jpnn)

Ujian HUT

Biasanya hari jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) penuh harapan dan target untuk satu tahun ke depan. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang ulang tahun kemarin malah mendapat ‘tekanan’. Bagaimana tidak, sang pemimpin, Presiden Republik Indonesia, SUsilo Bambang Yudhoyono (SBY), malah memberikan pesan yang cukup serius.

Ya, pada acara yang dipusatkan di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat itu SBY meminta anggota Polri untuk tidak korupsi. “Tuntaskan reformasi birokrasi internal Polri. Cegah dan berantas semua bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme di jajaran Polri,” begitu kata SBY.
Bayangkan bagaimana menerapkan kalimat SBY tadi. Ayolah, pada amanat tersebut ada kata ‘semua bentuk korupsi’ harus diberantas bukan? Inilah yang agak repot, pasalnya korupsi yang dimaksud oleh SBY tidak sekadar penyelewengan uang. Korupsi waktu juga termasuk bukan? Lalu, bagaimana dengan korupsi kebijakan?

Memang, soal korupsi uang yang melibatkan anggota Polri belum ada yang begitu menghebohkan selain pengaduan mantan istri Brigadir Jenderal Y ke Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu. Namun, dari kalimat SBY tadi seakan mengatakan kalau memang ada korupsi di tubuh Polri bukan?
Tapi sudahlah, berbicara soal korupsi tidak akan habis-habisnya. Ini masih soal penyelewengan dana, bagaimana dengan penyelewengan waktu atau kebijakan atau yang lainnya? Fiuh, pasti akan lebih komplek lagi.

Kembali ke HUT Polri, peringatan itu jelas-jelas tidak mirip acara ulang tahun anak balita. Tidak ramai warna. Tidak pakai badut. Dan, tidak penuh ceria. Makin menyesakkan dada adalah peringatan HUT di Papua. Anggota Polri yang berada di sana tidak memperingati hari jadi mereka pada 1 Juli. Mereka memperingatinya pada 2 Juli. Lho, apakah Polri di Papua dan provinsi lain itu beda?

Ternyata tidak sesederhana itu. Polisi di Papua harus legowo mengundurkan peringatan HUT ke-66 Bhayangkara karena bertepatan dengan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka (OPM).  “Kebijakan Kapolri peringatan di Papua dilaksanakan 2 Juli,” begitu pernyataan dari Kadiv Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution.

Setelah memberikan pernyataan itu pada media, Saud menambahkan seluruh personel Polri di Papua saat ini fokus melaksanakan pengamanan guna menghindari gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat menyusul peringatan hari jadi OPM tersebut. Bendera Bintang Kejora, simbolnya OPM, pun dijadikan barang haram untuk dikibarkan.

Hasilnya, Bintang Kejora tetap berkibar di Papua, kemarin. Tidak itu saja, peristiwa penembakan yang diduga kelompok OPM terhadap seorang kepala desa di wilayah perbatasan Papua dan Papua Nugini pun terjadi. Kepala Desa Saweotami, Wembi, Johanes Yanafrom (30) tewas tertembak sekitar pukul 09.15 WIT. Jika begitu, bukankah lebih baik peringatan hari jadi tetap dilaksanakan pada 1 Juli bukan?

Maksud saya begini, atas nama keamanan HUT di Papua ditunda. Nah, setelah ditunda, ternyata tetap saja kecolongan. Jadi, kenapa harus ditunda jika ternyata kecolongan juga? Begitulah pikiran sederhana saya.

Ya, persis ketika SBY mengatakan ‘cegah dan berantas semua bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme di jajaran Polri’. Pikiran sederhana saya mengatakan, pasti ada sesuatu yang menyebabkan SBY berkata demikian bukan? Ya, adalah sangat lucu ketika seorang presiden sembarangan bicara. Pastinya, dia telah memikirkan sesuatu sebelum berucap. Dan, latar belakang pemikirannya tentunya ada sebab. Nah, sebabnya apa? Sudah ada korupsi di tubuh Polri atau sudah ada gejala?

Tapi sudahlah, setidaknya apa yang diungkapkan oleh SBY adalah sebuah pesan baik agar Polri semakin baik. Bagaimanapun di pundak Polrilah keamanan negeri ini. Ya, sekali lagi selamat HUT ke-66 Bhayangkara! (*)

Mayat itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

Apa kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp200 miliar?

Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.

Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.”

Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.

Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan.

Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.”

Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan! Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?

“Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.

Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.

Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.

Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.

Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.

Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.

Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.

Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!”

Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp150 miliar, utang hampir Rp1 triliun itu dianggap lunas.

Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.

Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.

Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.

Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.

Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)

Balotelli Pilih Kembali ke City

KIEV- Pamor Mario Balotelli meroket seiring penampilan gemilangnya bersama Italia di Euro 2012. Tawaran dari klub-klub besar Italia pun deras mengalir.  Namun, bomber 21 tahun ini menegaskan kalau dirinya tak akan meninggalkan Manchester City.

Menurut berita yang dilansir The Sun, pemain yang sudah mencetak tiga gol bagi Gli Azzurri- julukan timnas Italia ini sama sekali tidak tertarik untuk kembali ke bermain di pentas Serie A.

Balotelli menyebut faktor animo pendukung-lah yang membuatnya ingin tetap bertahan di Stadion Ettihad, kandang City. “Kembali? Saya mungkin kembali ke Manchester saja. Walaupun mereka orang Inggris, tapi pendukung City tetap menginginkanku,” kata Balotelli.

Balotelli bergabung dengan klub jawara Liga Primer Inggris itu sejak dua tahun silam. Dia didatangkan dari klub Italia, Inter Milan dengan banderol yang mencapai Rp323 miliar. Dengan performa gemilangnya bersama timnas Italia di Euro 2012 ini, banderol bisa saja melonjak.

Tahun ini sekaligus menjadi tahun spesial bagi pemain yang kerap menjadi korban pelecehan rasis itu. Sebab, 2012 bisa menjadi tahun penuh gelar baginya. Setelah mengangkat trofi Premier League bersama City, kini dia berambisi melengkapinya dengan gelar Euro 2012 bersama tim Italia. “Itu sangat istimewa bagiku. Tentu saya tidak ingin kalah di final nanti,” cetus dia.

Pelatih Italia Cesare Prandelli menyebut performa ciamik anak asuhnya itu tidak lepas dari campur tangan Roberto Mancini. Ya, Mancini merupakan pelatih Balotelli di City. “Potensinya besar. Terlebih ada sosok pelatih bagus seperti Mancini yang membantunya berkembang,” ungkap Prandelli.
Secara terpisah, kepada stasiun televisi Italia, Mancini memilih merendah terkait dengan performa Balotelli. Menurutnya, peran dia sebagai pelaih di City hanya memberikan kontribusi kecil bagi Balotelli. Malah, dia menganggap Euro 2012-lah yang mengubah performa Balotelli itu.

“Semua pelatih tentu punya peran besar membantunya supaya lebih baik lagi. Dan itu semua diawali dari apa yang sudah diberikan Prandelli. Dia (Prandelli, Red) memberinya kesempatan besar untuk tampil. Hasilnya, dia benar-benar memiliki kontribusi bagi tim,” tutur Mancini kepada Sky Sports Italia.

Terkait dengan banyaknya tawaran untuk hengkang dari City, Mancini yakin pemainnya itu masih kerasan di Manchester. Terbukti, selama ini tidak pernah sekalipun Balotelli merengek minta pindah klub. “Pendukung City sangat mencintainya, lebih dari apa yang diterimanya semasa di Inter (Milan). Di Manchester dia dipuja bak bintang besar,” lanjut Mancini.

Mancini yang juga berkebangsaan Italia itu memprediksikan masa depan Balotelli sangat menjanjikan.”Jika dia ingin menjadi pemain terbaik di dunia, sekarang-lah kesempatan baginya,” jelas Mancini. (ren/bas/jpnn)

Pengunjung Kena Tikam Pecahan Botol

Retro Cafe Mendadak Heboh

DITIKAM: Indra Ridianto (kiri) kena tikam di leher. Tersangka Aciang (kanan).//Jhonson Siahaan/sumut pos
DITIKAM: Indra Ridianto (kiri) kena tikam di leher. Tersangka Aciang (kanan).//Jhonson Siahaan/sumut pos

MEDAN- Pengunjung Retro Cafe, Capital Building, Minggu (1/7) dinihari, mendadak heboh. Pasalnya, seorang pengunjung, Indra Ridianto (23), warga Jalan Masjid, Pasar VII, Medan Amplas terkapar bersimbah darah, setelah ditikam tersangka Aciang (38), warga Jalan Japaris, Medan Area Selatan.
Indra mengalami luka tusuk di leher sebelah kiri dan langsung diboyong kedua rekannya ke RSU Imelda.

Informasi yang dihimpun, Minggu dini hari, Indra bersama lima rekannya berencana menghabiskan malam mingguan di tempat hiburan malam. Mereka pun menuju Retro Cafe, Capital Building di Jalan Putri Hijau.

Mereka kemudian naik ke lantai IV Retro Cafe, Capital Building. Saat masih memesan meja tiba-tiba tersangka Aciang, dalam keadaan mabuk, datang dan langsung tibut-ribut. Tersangka kemudian menusuk leher korban dengan pecahan gelas. Melihat hal itu, rekannya pun langsung menangkap Aciang dan sempat memukul Aciang karena Aciang makin beringas.

Petugas sekuriti  yang mendengar hal tersebut langsung mengamankan Aciang ke dalam kantor sekuriti Capital Building yang terletak di Basement. Sementara itu, Indra ditemani rekannya langsung dibawa berobat ke RSU Imelda Medan.

Pengakuan Indra, dirinya baru masuk dan tiba-tiba saja pelaku sudah menusuknya dengan pecahan gelas. “Saya dan teman saya baru masuk dan mau memesan meja. Tiba-tiba dia datang dan menusuk saya dan teman saya pun langsung mengamankannya,” ujar Indra.

“Kami tak kenal dengan dia dan dia sudah menusuk teman saya. Dia sudah mabuk berat dan sudah stres aku rasa dia itu,” tambah Andi (23), rekan Indra.
Saat di basement, Aciang dengan nada lantang mengaku, dirinya tak takut dan siap menerima tantangan.
“Kalian tak tahu siapa aku. Aku di Jakarta terkenal biar kalian tahu,” ucapnya.

Tak berapa lama kemudian, dua personel Patra Sat Brimob Polda Sumut dan tiga personel dari Mapolsekta Medan Barat tiba di lokasi dan membawa pelaku Aciang. Namun, pengawas sekuriti Capital Building, sempat menghalang-halangi petugas.

“Tak ada mobil yang membawa Aciang dan saya takut dia dipukul rekan-rekan korban. Kita hanya mengamankan saja,” ucap seorang petugas sekuriti.
Rekan Indra mempersilakan mobilnya dibawa petugas untuk membawa Aciang ke Mapolsekta Medan Barat. Petugas pun memboyong Aciang ke Mapolsekta Medan Barat dan dikawal oleh rekan-rekannya yang lain dan Indra pun tiba di Mapolsekta Medan Barat.

Kapolsekta Medan Barat, Kompol Nasrun Pasaribu SIK mengaku, kasus tersebut masih dalam pemeriksaan. “Masih kita lidik dan periksa karena pelaku masih dalam keadaan mabuk. Kita tunggu pelaku sadar terlebih dahulu,” pungkasnya.

Bersama Anak Anggota DPRD Sumut

Keterangan lain menyebutkan, saat itu  Indra Ridianto datang bersama rekannya Hendrik Firmando Nadapdap (21), putra Budiman Nadapdap Anggota DPRD Sumut Fraksi PDI Perjuangan.

Sebenarnya, tersangka memaki Hendrik Firmando Nadapdap. Melihat hal itu, korban menarik tersangka. Merasa tak senang, pelaku memecahkan botol kosong yang terletak di meja dan langsung menusuk leher Indra Ridianto.

Hendrik Firmando Nadapdap mengatakan jika saat kejadian mereka baru saja tiba ke Restro untuk berkumpul bersama rekan-rekannya, namun tiba-tiba dia dihampiri oleh tersangka. (jon/wel/eza/smg)

Honda Jazz Nyangkut di Tembok Rumah Dinas Plt Gubsu

TERSANGKUT: Mobil Honda Jazz menyeruduk dan sangkut di tembok pagar rumah Dinas  Plt Gubsu di Jalan Sudirman, Minggu (1/7).//andri ginting/sumut pos
TERSANGKUT: Mobil Honda Jazz menyeruduk dan sangkut di tembok pagar rumah Dinas Plt Gubsu di Jalan Sudirman, Minggu (1/7).//andri ginting/sumut pos

MEDAN-M obil Honda Jazz menyeruduk dan tersangkut di tembok pagar rumah dinas Plt Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), di Jalan Sudirman. Peristiwa itu terjadi, Minggu (1/7) dinihari kemarin.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos,  tak ada yang tahu pasti begaimana kronologis kecelakaan itu bermula.

Wahyu, seorang saksi mata yang sempat melihat kejadian mengatakan, sebelum menabrak tembok, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.  “Dia datang dari arah Jalan Sudirman. Tiba-tiba dia menghantam pagar dan tembok rumah dinas Gubsu,” ujarnya.

Akibatnya, mobil Honda Jazz hitam itu ringsek di bagian depan. Bumper mobil penyok, sementara tembok pagar rumah dinas Gubsu jebol. Beruntung, pengemudi mobil yang diketahui bernama Muhsinin (42), warga Jalan Garu II, Perumahan Harjosari Indah I, berhasil selamat dari maut. Pengemudi bersama 3 rekannya yang ada di dalam mobil hanya mengalami luka ringan.

Mengetahui kejadian itu, petugas jaga rumah dinas Gubsu langsung mengeluarkan empat remaja dari dalam mobil. Petugas jaga kemudian menyita SIM dan STNK pengemudi.

Kapolsek Medan Baru, Kompol M Budi Hendrawan membenarkan kejadian itu. Budi mengatakan, kejadian itu sepenuhnya ditangani unit Lantas Polresta Medan.

“Ya, ada mobil menabrak tembok pagar rumah dinas Gubsu. Yang nangani sepenuhnya unit Lantas Polresta,” sebutnya.
Kanit Lakalantas Polresta Medan, AKP Juwita mengatakan, kejadian itu murni kecelakaan tunggal.

“Ini kecelakaan tunggal. Mobil melaju dari arah Jalan Sudirman, menuju ke pertigaan Jalan S Parman. Pengemudi hilang kendali dan sempat menghantam tiang lampu taman di median jalan, sebelum akhirnya menabrak tembok pagar rumah Dinas Gubsu,” ujarnya.
Juwita mengatakan, untuk saat ini pengemudi belum diperiksa.

“Kalau hari ini belum kita periksa, mungkin besok (hari ini, Red) pengemudi akan kami periksa,” sebutnya.

Kejadian itu sempat menarik perhatian pengguna jalan. Pengendara sengaja berhenti untuk melihat mobil naas itu secara langsung. Sekitar pukul 15.00 WIB, mobil derek yang diturunkan ke lokasi berhasil mengangkut mobil dari lokasi kejadian. (mag-12)

Kelurahan Paya Pasir Buat Apotek Hidup

MEDAN-Aparatur Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan membuat taman PKK, yang di dalamnya ditanama berbagai jenis tanaman apotek hidup seperi lengkuas, cabe, jeruk nipis, kencur, bawang merah, timun, dan wortel.

“Kita sengaja menanam tanaman apotek hidup untuk kebutuhan masyarakat,” kata Lurah Paya Pasir, Saiful Bahri Nasution.

Menurutnya, Kelurahan Paya Pasir meraih juara harapan I  kelurahan  terbaik tingkat Provinsi Sumatera Utara Juni 2012 lalu.

Menurut Saiful, tim penilai dari provinsi langsung mengecek kondisi kelurahan serta memberi penilaian di lokasi lingkungan kelurahan Payah Pasir.
“Sebelum datangnya tim penilaian, kondisi lingkungan memang tetap selalu bersih dan aman serta sejuk. Pasalnya, warga ikut berperan aktif langsung dalam menjaga kondisi kebersihan lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya dan melestarikan penanaman bunga di setiap pekarangan rumah warga,”terangnya.

Untuk itu, Saiful berharap kepada warga agar tetap selalu bersatu bahu membahu dalam mensuksekan kelurahan menjadi lebih terbaik.
“Kebersihan itu memang tercipta dari suatu kerjasama antar warga dan kepala lingkungan,” ujarnya. (omi)

Warga Hajar Anggota Geng Motor

MEDAN-Sekelompok pemuda diduga kawanan geng motor  dihajar warga, saat melintas  di Jalan Sutomo Ujung, tepatnya di depan Jalan Karantina Medan, Minggu (1/7) pukul 02.00 WIB.

Kawanan pemuda  itu berjumlah 40 orang dan mengendarai 20 sepeda motor beriringan sambil berbuat onar dengan melempari rumah warga yang berada di pinggir jalan. Bahkan, mereka sempat memaki warga yang sedang duduk di warung kopi tepat di depan Jalan Karantina.  Akhirnya warga pun kesal hingga menyerang pemuda tersebut hingga lari kocar-kacir.

Karena ketakutan, dua sepeda motor yang dikendarai kelompok geng motor bertabrakan satu sama lainnya. Keduanya terjatuh dari sepeda motornya. Melihat hal itu, warga menangkap seorang dari geng motor tersebut dan menghakiminya hingga babak belur, sementara yang lainnya kabur. Beruntung anggota Polsekta Medan Timur cepat datang di lokasi dan langsung mengamankan salah seorang anggota gemot.

Menurut keterangan salah seorang warga, Budi (22), kelompok gemot ini berjalan beriringan sambil memegang kelewang.

Dua  sepeda motor yang bertabrakan milik anggota gemot yakni Yamaha Mio dan Honda Supra X dibakar oleh warga karena kesalnya. Di kantor Polsekta Medan Timur terlihat salah seorang anggota gemot Bambang Hermanto (16), warga Jalan Kapten Rahmadbuddin Pasar V Medan Marelan,  dengan wajah bonyok dan berlumuran darah.  Tak berapa lama kemudian, orang tuanya pun tiba di Mapolsekta Medan Timur. “Saya anggota genk motor KBR (Keluarga Brewok) dan saya masih pelajar Pak,” jawab Bambang Hermanto kepada petugas saat ditanyai di dalam ruangan Mapolsekta Medan Timur.

Kapolsekta Medan Timur, Kompol Patar Silalahi SIK mengaku, pihaknya masih memeriksa intensif anggota genk motor tersebut. “Sedang kita lidik dan kita mintai keterangan,” ungkapnya.

Di tempat terpisah Mapolsekta Medan Baru yang dipimpin langsung oleh Kapolsekta Medan Baru, Kompol Budi H SIK juga mengamankan 10 sepeda motor yang diduga milik anggota genk motor di Jalan Bahagia belakang Kantor Lurah Titi Rante.  Diterangkan Budi H SIK, kesepuluhanya langsung diamankan berkat informasi dari masyarakat saat sedang kumpul-kumpul. (jon)