Home Blog Page 13354

KPK Palsu Obok-obok Kantor Direksi PTPN 2

LUBUKPAKAM-Empat orang yang diduga staf Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengobok-obok Kantor Direksi PTPN 2. Keempatnya hadir di kantor yang berada di Jalan Medan Tanjungmorawa Km 15 Kecamatan Tanjungmorawa, Deliserdang, sejak Rabu (13/6) lalu hingga kemarin, Jumat (15/6).
Dari informasi yang didapat, kedatangan empat orang tersebut terkait dengan kasus penjualan RS Tembakau Deli dan penjualan lahan eks HGU dan HGU. Namun, anehnya ketika kemarin empat orang itu datang lagi, tak seorang pejabat di kantor Direksi PTPN 2 yang bersedia diwawancarai.

Beberapa wartawan pun berusaha menjumpai Direktur Utama PTPN 2 Bhatara Moeda Harahap terkait hal itu. Namun, usaha tersebut dihalangi petugas keamanan bernama Herman Sihotang.

Herman Sihotang mengaku dirinya diperintah Humas PTPN 2 agar melarang wartawan masuk ke kantor direksi. Wartawan hanya diperkenankan menunggu di gedung Humas. Menurut Herman Sihotang, KPK memang ada datang ke kantor Direksi PTPN 2. Kedatangan tim itu pada Rabu (13/6) dan Kamis (14/6), terdiri dari 4 orang anggota. Tim kecil itu mengendarai mobil Kijang Innova warna coklat B 1303. Seorang di antaranya mengenakan rompi krem bertuliskan “KPK”. Kehadiran mereka selama 2 hari di kantor Direksi PTPN 2, mulai dari pukul 09.00 – 16.00 WIB. “Staf KPK itu sempat mengintrogasi saya soal seputar sistem pengamanan dan data apa saja yang ada sama saya,” lanjut Herman Sihotang.

Humas PTPN 2 Rahmudin, yang berusaha dikonfirmasi lewat telepon selulernya terkait kedatangan KPK, mengelak dengan mengatakan tidak mengetahui hal itu. Bahkan Rahmudin mengaku tidak berada di kantor Direksi, melainkan sedang menghadiri acara di kantor Gubernur Sumut.

Di sisi lain, pihak KPK di Jakarta memastikan saat ini tidak ada penyidik yang dikirim untuk bertugas ke Medan. Apalagi, sampai mendatangi Kantor Direksi PTPN 2 Tanjungmorawa. Sehingga dengan demikian, jika ada pihak-pihak yang mengaku penyidik KPK, hal tersebut dipastikan kemungkinan besar palsu. “Saya sudah mengecek ke Direktur Penyelidikan. Beliau mengatakan bahwa saat ini tidak ada tim yang dikirim ke Sumut,”ungkap Bicara KPK Johan Budi, kemarin.

Hal ini tentu saja cukup menarik, apalagi dari informasi yang beredar, sejumlah oknum ini disebut-sebut menggunakan rompi KPK. “Nggak mungkin, mana ada penyidik kita yang kalau bertugas itu menggunakan rompi. Jadi nggak ada itu,”ungkapnya.

Bahkan saat coba dipastikan kembali apakah mungkin ada tim dari KPK yang diturunkan tanpa sepengetahuan Johan, ia kembali dengan tegas menyatakan, “Kalau ada saya pasti tahu. Apalagi saya sudah konfirmasi ke Direktur Penyidikan. Jadi nggak ada itu,” ungkapnya.

Sebelumnya Sudah Berkeliaran di Riau

Menariknya sebagaimana diberitakan group koran ini sebelumnya, ternyata oknum yang mengaku-ngaku tim penyidik dari KPK, telah lebih dulu berkeliaran di Riau. Tepatnya Selasa (12/6) kemarin. Disebutkan, KPK gadungan ini beraksi di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Kuansing. Namun rupanya mereka sadar aksinya telah terendus. Sehingga buru-buru melarikan diri. Belum dapat dipastikan apakah kelompok yang sama yang kemudian mencoba melancarkan aksi ke daerah Sumatera Utara.

KPK gadungan ini saat berada di Riau, memulai aksinya sekitar pukul 15.00 WIB, dengan mencoba menemui salah seorang pejabat di Dispenda Kuansing, Akmal. Disebutkan Akmal, ketika itu ada dua orang yang mengaku KPK mendatanginya di Kantor Dispenda Kuansing dengan memperlihatkan kartu identitas sebagai anggota KPK. “Saya dari KPK, Pak!” jelas Akmal menirukan ucapan salah seorang yang mengaku KPK tersebut kepada wartawan. Lalu Akmal menjawab, “Apa yang Bapak akan periksa dari saya,” tanya Akmal.

Petugas KPK gadungan ini, lanjut Akmal menjawab, “Kami kan ada tujuan ke Pemda Kuansing, kebetulan Pak Bupati rapat. Jadi langsung kami ke sini,” jelas Akmal yang kembali menirukan ucapan mereka.

Komunikasi terus terjadi antara dua orang yang mengaku KPK ini dengan Akmal. Namun akhirnya, petugas KPK gadungan itu mulai berulah dan minta pertimbangan soal uang bensin mereka ke Pekanbaru. “Tolong pertimbangkanlah kami. Kami di Pekanbaru tinggal,” kata Akmal menirukan ucapan petugas KPK gadungan itu. Akmal mengaku tidak bisa membuat keputusan, karena masih memiliki atasan dan dia memiliki inisiatif untuk menelepon Kepala Dispenda Nafrial. Ternyata KPK gadungan itu meminta dipertimbangkan soal uang transport mereka kepada Nafrial melalui telepon. “Kalau saya nggak bisa, saya punya atasan, keputusan bukan pada saya. Tunggulah saya telepon Kadis saya dulu,” katanya.

“Ya, tolonglah telepon Pak. Tapi tolong kami pertimbangkan ini. Berapalah transportasi kami,” ujar Akmal kembali menirukan petugas KPK gadungan itu.Namun akhirnya Akmal memberikan petugas KPK gadungan itu uang senilai Rp50 ribu. Orang itu kemudian minta tambah dan Akmal menambahnya menjadi Rp100 ribu. Akmal memberikan uang tersebut, ternyata untuk menahan petugas KPK gadungan itu supaya tidak pergi dari kantor mereka. Sebab, Kadispenda Nafrial minta agar mereka ditahan terlebih dahulu. Pasalnya, Dispenda telah menaruh curiga.

Hanya sayangnya karena terlalu menunggu, personel KPK gadungan meninggalkan kantor Dispenda Kuansing, dan diperkirakan 10 menit kemudian Kadispenda Nafrial datang ke kantor bersama tim dari jajaran Kejaksaan Negeri Teluk Kuantan, Kasi Intel Herlambang dan dari Polsek Kuantan Tengah. Karena telah duluan pergi dari Kantor Dispenda Kuansing, akhirnya, petugas KPK gadungan gagal ditangkap. Nafrial mencoba untuk menghubungi 2 orang ini via telepon selulernya. Ternyata, mereka mengaku telah berada di Singing.(btr/gir)

Asuransi Karya Capai Rp93 Miliar

Repotnya Memamerkan Lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional

Pameran tunggal lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional Jakarta pada 3-17 Juni 2012 membutuhkan biaya miliaran rupiah. Pameran pertama setelah kematian sang maestro 132 tahun silam itu dijaga sangat ketat.

DHIMAS GINANJAR, Jakarta

MATA Werner Krauss selalu berbinar setiap kali memandangi lukisan berukuran 112 x178 cm di tembok berwarna merah di gedung Galeri Nasional. Lukisan itu bercerita tentang tentara Belanda yang menjemput seseorang berjubah putih dan beserban hijau. Tampak kesedihan penduduk yang berusaha menahan sang tokoh agar tidak dibawa penjajah.

Menurut Krauss, sosok yang dilukis Raden Saleh adalah Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional kelahiran Jogjakarta yang ditangkap Jenderal De Kock di Magelang, 28 Maret 1830. Lukisan berjudul asli Die Gefangennahme Diepo Negoros atau Penangkapan Diponegoro tersebut dibuat pada 1857, dua tahun setelah wafatnya sang pahlawan di Benteng Rotterdam, Makassar, 8 Januari 1855.

Di sebelah kanan bawah lukisan terdapat sebuah keterangan dalam kertas kecil berbunyi: Koleksi Istana Kepresidenan. “Saya butuh waktu empat bulan untuk bisa mengeluarkan lukisan ini dari istana,” ujar kurator lukisan asal Jerman itu kemarin (14/6).

Sebelum melanjutkan bicara, pria 68 tahun tersebut diam sejenak, memperhatikan lukisan yang memesonanya itu. Terlihat jelas bahwa dia jatuh cinta pada lukisan di atas kanvas dengan cat minyak tersebut. Tangannya diangkat menunjuk sisi sebelah kiri lukisan yang berwarna lebih gelap. Tempat dua tentara berkuda berbaju merah dan tiga penduduk pribumi duduk.

Tanpa menyentuhnya, dia menyebut bahwa bagian tersebut dahulu rusak parah hingga 70 persen. Lukisan itu semula menjadi koleksi Istana Kerajaan Belanda, lalu dihibahkan ke pemerintah Indonesia pada 1978. Karya lukis tersebut kemudian diperbaiki selama dua pekan, kemudian disimpan di Istana Bogor sebelum disimpan sebagai koleksi Istana Kepresidenan. “Ini karya masterpiece,” imbuhnya.

Karena itulah, saat Goethe Institut Jakarta berniat menyelenggarakan pameran tunggal karya Raden Saleh di Galeri Nasional, Krauss langsung meminta lukisan Penangkapan Diponegoro harus ikut ditampilkan. Selain Penangkapan Diponegoro, dia meminati tiga lukisan lainnya, yakni Kuda Arab Diterkam Singa, Berburu Banteng di Jawa, dan Harimau Sedang Minum.

Informasi yang dia peroleh, restorasi lukisan-lukisan Raden Saleh di Istana Negara menelan biaya hingga Rp2 miliar. Selain kanvas yang sobek, konstruksi pigura hingga warna yang memudar membuat lukisan-lukisan tersebut perlu penanganan khusus.

“Biayanya memang sangat mahal. Tapi, kalau tidak diperbaiki, masyarakat Indonesia tidak bisa ikut menikmati lukisan-lukisan luar biasa itu,” ujar warga Jerman yang fasih berbahasa Indonesia tersebut.

Apakah rata-rata kondisi lukisan Raden Saleh sudah sangat buruk karena termakan usia? Krauss menghela napas, lantas mengangguk. Misalnya, lukisan berjudul Pasangan Jawa yang dipajang berhadap-hadapan dengan lukisan Penangkapan Diponegoro. Lukisan yang dibuat pada 1857 tersebut pernah direstorasi di Singapura 20 tahun lalu, tapi sekarang sudah mulai rusak lagi.

Kerusakan juga dialami lukisan Gubernur Van den Bosch yang dibuat pada 1830-1833. Kanvasnya sobek cukup panjang. Beberapa bagiannya juga mulai retak-retak lantaran termakan usia. “Kerusakan bisa karena usia dan saat dibersihkan,” jelas direktur Pusat Seni Asia Tenggara Goethe Institut itu.
Krauss kemudian menceritakan betapa sulitnya menghimpun lukisan sang maestro hingga terkumpul 85 karya berbagai objek dan ukuran tersebut. Terutama menyangkut keamanan lukisan bernilai jual selangit itu. Apalagi, usianya sudah lebih dari seabad sehingga rawan rusak. Dengan begitu, bisa dimaklumi bila para kolektor lukisan Raden Saleh merasa waswas lantaran lukisan tersebut harus diboyong ke galeri di Jalan Merdeka Timur.

Dia mencontohkan kekhawatiran yang ditunjukkan seorang kolektor asal Surabaya. Awalnya sang kolektor bersedia meminjamkan lukisan mahal tersebut untuk dipamerkan. Namun, beberapa hari menjelang hari H, mendadak dia membatalkan. Alasannya, dia tidak mau mengambil risiko atas kemungkinan terjadinya kerusakan pada lukisan koleksinya saat dibawa ke Jakarta.

“Lukisan yang di Surabaya itu the most expensive one (salah satu yang termahal),” terangnya.

Begitu juga dengan beberapa kolektor lain di luar negeri. Mereka khawatir lukisannya rusak atau dicuri. Padahal, Krauss rela meluangkan waktu untuk menemui pemilik lukisan atau mengirimkan surat permohonan peminjaman lukisan. Bahkan, dia rela melakukan apa saja untuk ‘mendapatkan’ lukisan Raden Saleh.

Beruntung, pendiri Department of Southeast Asian Studies di Passau University, Jerman, tersebut sudah bisa memahami kultur orang Indonesia. Karena itu, dia menggunakan unggah-ungguh ala Indonesia untuk merayu kolektor lukisan Raden Saleh. Sebanyak 85 lukisan berhasil dikumpulkan dalam setahun. Kebanyakan milik kolektor Indonesia. Ada juga empat lukisan yang diterbangkan dari Jerman. Sedangkan 120 lukisan lainnya belum diketahui keberadaannya.

“Can you guarantee (bisakah kamu menggaransi)? Begitulah para kolektor meminta jaminan keselamatan lukisannya,” papar dia.
Karena itu, pameran yang dibuka pada 3 Juni lalu tersebut pun dijaga amat ketat. Tim sekuriti dari Kedutaan Jerman di Indonesia serta pihak Istana Negara dan Galeri Nasional dilibatkan untuk menjaga lukisan-lukisan berharga miliaran rupiah tersebut.
“Seluruh lukisan itu juga kami asuransikan. USD 10 million (setara Rp93 miliar) for all painting,” terangnya.
Menurut dia, wajar bila tanggungan asuransinya amat besar. Untuk lukisan Penangkapan Diponegoro saja, misalnya, kurator yang mengaku sudah 20 tahun mempelajari lukisan-lukisan Raden Saleh tersebut menaksir harganya saat ini menembus USD 3 juta atau Rp27,9 miliar.
Karena itu, banyak aturan yang diterapkan untuk para pengunjung pameran. Di antaranya, pengunjung tidak boleh membawa tas, tidak boleh menyentuh lukisan, bahkan memotret lukisan dengan flash.
Serangkaian acara juga disiapkan selama pameran, termasuk fashion show yang desain bajunya terinspirasi lukisan Raden Saleh. Menurut Krauss, pelukis kelahiran Semarang pada 1811 itu bisa disebut sebagai fashion designer Indonesia pertama.
“Dia peduli dengan pakaian karena dulu orang Indonesia mengenakan baju berdasar kasta,” terangnya.
Krauss menilai pelukis yang gemar menggambar singa dan harimau itu adalah sosok yang menularkan virus positif bagi dunia seni lukis. Sebab, dengan bangga dia berani menyebut dirinya sebagai pelukis dan hidupnya dibiayai melukis.
Sikap seperti itu sebelumnya tidak pernah dilakukan para pelukis di eranya. Apalagi setelah Raden Saleh mampu menunjukkan bahwa melukis bisa membuat derajatnya menjadi sangat tinggi karena bisa bergaul dengan raja-raja Eropa. Hal yang hampir mustahil bisa dilakukan warga pribumi saat itu.
Satu hal yang Krauss kagumi, meski hijrah ke Eropa, Raden Saleh tidak pernah mengubah gaya melukisnya. Unsur Jawa seperti gunung, sawah, petani, peralatan mencangkul, hingga suasana berburu tetap dipertahankan.
“Itulah yang membuatnya menarik di Eropa. Banyak yang penasaran untuk dilukis dan membeli karyanya,” tegasnya.
Krauss berharap agar pemerintah Indonesia bisa makin menghargai karya Raden Saleh. Misalnya, menyiapkan ruang khusus untuk memamerkan lukisan Raden Saleh secara permanen.
“Sayang kalau lukisan sebagus ini dibiarkan begitu saja tersimpan di Istana Negara atau dikoleksi pribadi,” harapnya. (*)

Berterima Kasih dan Ingin Ukir Prestasi

Ir H Chaidir Ritonga MM Siap Berkiprah Membangun Padangsidimpuan

Wakil Ketua DPRD Sumut Ir H Chaidir Ritonga MM memilih pulang kampung dengan meninggalkan kenikmatan dan kenyamanan kehidupan di Medan. Chaidir bersama Wakil Wali Kota Padangsidimpuan H Mara Gunung Harahap SE MM pun memantapkan diri memenangkan bursa pemilihan kepala daerah di Padangsidimpuan.

BAGI Chaidir Ritonga, keinginan memimpin Kota Padangsidimpuan sebagai wali kota periode 2013-2018 adalah sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada daerah dan  masyarakat Padangsidimpuan. Sebab ‘Kota Salak’ sangat bersejarah bagi perkembangan  kehidupan Chaidir beserta keluarga besarnya.

Berasal dari Ulu Mamis, Saipar Dolok Hole Tapsel hijrah ke Sipetang kemudian hijrah lagi Simpang Silangge, Sipirok, dan di usia 2 tahun pada 1964,  dia  kemudian hijrah lagi ke Padangsidimpuan.

Menurut Chaidir saat menggelar silaturahmi dengan warga di Padangsidimpuan kemarin, keinginannya memimpin Kota Padangsidimpuan karena dua alasan. “Ini sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada Kota Padangsidimpuan yang telah membesarkan dan meng antarkan saya menjadi pengusaha dan Wakil Ketua DPRD Sumut, selain itu juga berhasil meraih jenjang pendidikan S1 (IPB), S2 (USU) dan S3 (USU). Satu alasan yang lain yakni ingin berprestasi,” ungkapnya.

Wakil Ketua DPRD Sumut kelahiran tahun 1962 ini mengungkapkan alasan harus berterimakasih pada Padangsidimpuan. “Kita dibawa berpindah-pindah oleh orangtua  mulai dari Desa Ulu Manis di Tapsel, pindah ke Sipetang di Taput lalu hijrah ke Simpang Silangge, Kecamatan Sipirok (Tapsel),” rinci Chaidir.

Ketua Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Padangsidimpuan ini bercerita dari Tapsel saat dirinya berusia dua tahun kemudian hijrah di Padangsidimpuan. “Kota Padangsidimpuan sebagai kota bertuah buat kami sekeluarga. Apalagi buat saya pribadi,” imbuh alumni S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S-2 Universitas Sumatera Utara (USU).

Chaidir yang juga mahasiswa S-3 USU menambahkan, prestasi sekolah pun semakin gemilang baik di SMP dan SMA. Bahkan saat sekolah di SMA Negeri 3 Padangsidimpuan  pernah menjadi juara umum hingga dapat beasiswa dan bebas testing di IPB.

“Kota Padangsidimpuan memberikan kesempatan kepada kami mengenyam kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang baik dan berbagai kesempatan yang baik, sebagai warga Sidimpuan maupun sebagai perantau. Saya sangat bersyukur menerima anugerah dan  rezeki yang tidak putus-putus, baik sebagai pengusaha kecil maupun sebagai pejabat  publik, Wakil Ketua DPRD Sumut,” ucapnya.

Kalau tidak hijrah ke Padangsidimpuan, lanjut dia, mungkin jalan hidup Chaidir belum tentu seperti sekarang. Chaidir Ritonga mengesampingkan berbagai tawaran dan pilihan berkarir di tingkat provinsi atau lainnya. “Saya ingin berterima kasih kepada Padangsidimpuan dengan ikut Pilkada Kota Padangsidimpuan,” tegasnya.

Ketua Himpunan Alumni IPB Sumut yang juga Ketua Umum Parsadaan Ritonga Dohot  Boruna (PRDB) se Indonesia itu berujar, selain ingin berterimakasih juga ingin berprestasi membangun Kota Padangsidimpuan menjadi lebih baik. ‘’Lebih-lebih Padangsidimpuan dewasa ini tengah menghadapi masalah keuangan dimana belanja tidak langsung (gaji pegawai dan belanja rutin) menelan 70 persen dari APBD Padangsidimpuan. Padahal seharusnya hanya dibolehkan 40 persen. Jadi saat ini hanya 30 persen APBD bisa dipakai untuk Belanja Langsung atau untuk pembangunan yang langsung bisa dinikmati masyarakat,’’ katanya.

Kondisi ini, lanjut dia, tidak sehat, tidak baik dan tidak bisa dibiarkan karena akan makin memperparah kemiskinan, menambah jumlah pengangguran dan tidak adanya kesempatan berusaha yang cukup dan memadai. “Karenanya saya ing in menunjukkan prestasi dengan menjadi ‘Pemimpin’ bagi Padangsidimpuan, kalau diberikan kepercayaan oleh warga Sidimpuan dan diijabah oleh Allah SWT. Menjadi pemimpin formal sebagai wali kota yang akan menjalankan pemerintahan bersama DPRD Kota Padangsidimpuan serta menjadi Pemimpin Informal sebagai ‘Hatobangon’, yang bisa mengayomi masyarakat yang butuh perhatian sebagai Pemangku adat dan budaya Angkola-Mandailing yang diwariskan leluhur, yang tidak tersurat akan tetapi tersirat dalam ‘Surat Tumbaga Holing’ Dalihan Natolu,’’ harapnya.

Dewasa ini, kata Chaidir, setelah puluhan tahun menjadi Ibukota de jure Tapanuli Selatan (Tapsel), sekarang Padangsidimpuan pada hakikatnya adalah Ibukota de facto Tapanuli Bagian Selatan yang terdiri atas Tapsel, Madina, Paluta dan Palas. Posisi historis yang strategis ini harus dioptimalkan bagi Sidimpuan yang lebih baik.Dengan posisi yang sangat strategis, Padangsidimpuan sangat mungkin dijadikan sebagai Kota Jasa (The Service City) yang diharapkan melayani empat Kabupaten disekitarnya.

Selain sebagai Ibukota bagi Budaya Angkola-Mandailing sebagai kearifan lokal, jelas dia, Sidimpuan juga harus mampu menawarkan jasa perdagangan, industri, perhotelan, perkantoran dan jasa properti lainnya. Tentu saja Sidimpuan harus mampu juga menyediakan sarana pendidikan, kesehatan, pusat pelatihan dan perhelatan olahraga serta sarana hiburan yang sehat mulai dari hiburan rakyat hingga hiburan yang berbasis edukasi dan lingkungan yang baik.

Ia mengingatkan tidak kalah penting harus dibangun kerjasama dengan semua pemangku  kepentingan di birokrasi, dunia usaha, serta putra daerah yang bersedia turut berpartisipasi membangun bandara alternatif yang lebih dekat dan lebih baik. ‘’Selama ini banyak sekali putra daerah Sidimpuan yang ingin berpartisipasi membangun, tetapi tidak mendapat sambutan bahkan tidak bisa sekadar mengakses wali kota yang nampaknya resisten dengan ide-ide dan gagasan yang inovatif,’’ katanya.

Chaidir sangat meyakini, Sidimpuan tidak hanya akan bisa dibuat menjadi kota jasa  yang baik, melainkan juga akan memenuhi persyaratan menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Tenggara yang telah disetujui oleh DPRD Sumut. Melalui semangat ingin berterimakasih dan berprestasi, Chaidir bertekad bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja tuntas mewujudkan cita-cita itu. “Saya bertekad mewakafkan usia saya 5 tahun ke depan bagi membuat Sidimpuan yang lebih baik melalui kerja keras, kerja cerdas dengan sepenuh hati”, ujarnya mantap.

Pengalaman menaikkan APBD Provinsi Sumatera Utara dari Rp3,8 triliun menjadi Rp7,6 trilun dalam dua tahun bersama anggota DPRD Sumut lainnya, serta menyetujui pemekaran Provinsi Sumatera Tenggara yang terdiri atas Padangsidimpuan, Tapsel, Madina, Paluta dan Palas diyakini akan menjadi solusi bagi mengatasi masalah keuangan yang membebani APBD Padangsidimpuan bahkan menjadi solusi bagi percepatan  pembangunan Padangsidimpuan menjadi lebih baik bahkan menjadi memenuhi syarat  menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Tenggara. (*)

Masa Depan Jaka dan Dara Harus Diperhatikan

Jaka dan Dara Kota Medan tidak pegawai negeri sipil (PNS), sehingga Pemko Medan tak memberikan gaji. Padahal, Jaka dan Dara memiliki peran dalam setiap kegiatan-kegiatan Pemko Medan. Karena belum jelasnya nasib Jaka dan Dara itu, Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM meminta agar pasangan Jaka dan Dara diperhatikan masa depannya.

Sikap peduli Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM terhadap pasangan Jaka dan Dara terungkap saat menerima audiensi 27 pasangan Jaka dan Dara di Kantor Wali Kota Medan, Jumat (15/6) pagi.

Hadir dalam audiensi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Medan Drs Busral Manan, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Drs Agus Suriyono, panitia seleksi Jaka dan Dara serta 27 pasang Jaka dan Dara Kota Medan yang akan mengikuti grand final pemilihan Jaka Dara Kota Medan 2012.

Dihadapan Jaka dan Dara, Rahudman menyampaikan, Jaka dan Dara bukan PNS, tapi Jaka dan Dara ada di setiap kegiatan Pemko Medan, untuk itu perlu difikirkan masa depannya. Sehingga Jaka dan  Dara ini memiliki masa depan yang lebih baik.

“Tidakpun jadi PNS, tapi stakeholder dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dapat menerimanya, jangan dibiarkan Jaka dan Dara ini setelah habis periodesasinya,” katanya.

Rahudman mengatakan, selama ini kehadiran Jaka dan Dara merupakan bagian dari sistem Pemko Medan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai kegiatan Pemko Medan yang selalu dihadiri Jaka dan Dara. Sehingga, Pemko Medan perlu bertemu dengan para Jaka dan Dara, khususnya untuk memberikan pemahaman dalam setiap kegiatan Pemko Medan.

Dia menyatakan, kegiatan pemilihan Jaka dan Dara yang dilakukan setiap tahun oleh Pemko Medan, di mana leading sektornya adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Maka, instansi terkait harus bertanggungjawab memberikan pemahaman dan memotivasi para Jaka dan Dara yang semuanya dilaksanakan oleh genari muda.

Orang nomor satu di Kota Medan itu menyampaikan, dalam dua bulan terakhir ini Pemko Medan banyak mengukir berbagai prestasi, seperti penganugrahan Piala Adipura, Penerimaan Pemeringkatan E-Government terbaik, penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI, dan terakhir menerima penghargaan dalam bidang pelayanan sektor Konsumen. Sejumlah penghargaan itu didapat karena kerja keras semua elemen di Kota Medan.

Lebih lanjut, dia menyatakan, kehadiran Jaka dan Dara sangat sejalan dengan arah Kota Medan yang merupakan kota metropolitan besar dan siap menjadi kota tujuan kunjungan wisata dan kota MICE. Di mana, kunjungan wisata dan kota MICE sangat membutuhkan Jaka dan Dara dalam setiap kegiatannya.

“Saya harap, kehadiran Jaka dan Dara bukan hanya untuk dipilih. Melainkan, kehadiran Jaka dan Dara jadi bagian kemajuan Pemko Medan,” sebutnya.

Tak hanya itu, Rahudman juga berharap para peserta finalis pemilihan Jaka dan Dara bisa mengikuti kegiatan dengan sebaik-baiknya, karena dalam pemilihan yang digelar ada pelajaran yang bisa didapatkan, seperti uji keterampilan dan uji kemampuan.

Selanjutnya, paparnya Jaka dan dara tidak hanya untuk pemilihan di tingkat Kota Medan, melainkan bisa menjadi perwakilan Sumetara Utara, bahkan sangat memungkinkan menjadi duta Indonesia.

“Maka Pemko Medan mendukung kegiatan pemilihan Jaka dan Dara, dan kepada pemenang nantinya diucapkan selamat dan kepada yang belum berhasil dapat mengikuti tahun akan dating,” ucapnya.

Rahudman menambahkan, setelah dipilihnya Jaka dan Dara ini, masing-masing instansi bisa memanfaatkan Jaka dan Dara. Karena, kehadiran Jaka dan Dara bisa menambah kemajuan Pemko Medan. (dya)

Diminati Generasi Muda Kota Medan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan Drs Busral Manan melaporkan, seleksi Jaka dan Dara mulai dilakukan pada 9 Juni 2012. Dalam pemilihannya, ada sebanyak 164 pasang yang akan dipilih menjadi 4 pasang. Jumlah itu menunjukkan minat generasi muda untuk menjadi Jaka dan Dara semakin meningkat setiap tahunnya.

Adapun empat pasang Jaka dan Dara yang diperebutkan dalam malam grand final, antara lain Jaka dan Dara utama, Jaka dan Dara Intelegensia, Jaka dan Dara Kepribadian serta Jaka dan Dara Persahabatan.  Menurut Busral, rencananya malam grand final pemilihan Jaka dan Dara digelar 16 Juni 2012 di Harmes Place Medan. Karena sebelumnya, panitia seleksi Jaka dan Dara itu sudah melakukan 3 kali seleksi.

Dia membeberkan, pada seleksi pertama, dari 164 pasangan ada sebanyak 150 pasang yang dipilih, kemudian pada pemilihan kedua diputuskan 100 pasang, dari jumlah itu dihasilkan ada sebanyak 27 pasang Jaka dan Dara untuk masuk di pemilihan grand final.   Busral menyampaikan, para Jaka dan Dara yang mengikuti seleksi berasal dari kalangan umum dan utusan kecamatan. Para peserta umumnya memiliki talenta yang cukup baik, se hingga menyulitkan tim seleksi untuk memilih.

Di tengah sulitnya pemilihan, dia memaparkan, dewan juri tetap melakukan pemilihan dengan ukuran pada intelegensi, penampilan dan kreatifitas peserta, termasuk pengetahuan tentang Kota Medan. Hasilnya bisa diputuskan 27 pasangan nama maju ke pemilihan grand final.

Tak hanya itu, dia mengungkapkan, dari para peserta cukup banyak yang telah memenangi berbagai kompetisi seperti model dan menyanyi serta berbagai lainnya. Hal itu membuat Jaka dan Dara Kota Medan menjadi kebanggaan tersendiri.

Lebih lanjut, Busral menyatakan, pada pemilihan Jaka dan Dara tahun 2012 ini, ada perbedaan dari sebelumnya. Di samping, jumlah peserta yang lebih banyak, kualitas pribadi Jaka dan Dara yang juga sangat baik. Sehingga, mulai tahun 2012 Pemko Medan akan memberikan perhatian khusus bagi Jaka dan Dara yang terpilih dalam grand final.
Dia menerangkan, perhatian yang dimaksudkan itu bersifat menentukan masa depan para Jaka dan Dara, mulai memberikan beasiswa ataupun kesempatan lainnya untuk mengembangkan diri dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Para Jaka dan Dara yang nantinya terpilih, diharapkan terus mendukung pembangunan Pemko Medan dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan Pemko Medan. (dya)

Torres dan Lapangan

Spanyol vs Irlandia

GDANSK – Spanyol membuktikan superioritasnya. Sempat ditahan imbang Italia di laga pembuka, Spanyol membukukan kemenangan besar melawan Republik Irlandia dini hari kemarin. Gol Spanyol masing-masing dicetak Fernando Torres (4’, 70’), David Silva (49’) dan Fabregas (83’).

Torres lalu mensyukuri keputusan entrenador Vicente del Bosque yang memercayakannya sebagai starter. El Nino hanya butuh empat menit untuk mencetak gol pertamanya. Berhasil merebut bola liar di tepi kotak penalti Irlandia, El Nino menggiring bola ke dalam kotak 16 meter sebelum mengakhirinya dengan sepakan mematikan.

Penyerang Chelsea berusia 28 tahun ini menggandakan koleksi golnya pada menit ke-70. Menerima umpan terobosan dari David Silva, Torres yang langsung berhadapan dengan penjaga gawang Shay Given tanpa kesalahan sukses menggetarkan gawang Irlandia—gol ke-30 Torres bagi Spanyol.

El Nino membuktikan finishingnya masih mumpuni. Torres berhasil menjawab kritikan yang tiada ampun mengalir deras menyusul performa buruknya kala tam pil sebagai pemain pengganti menghadapi Italia.

“Anda harus menikmati setiap momen. Hari ini saya beruntung tampil sejak awal pertandingan,” kata Torres seperti dikutip dari Goal, Jumat (15/6).

“Saat mencetak gol, saya benar-benar menikmatinya bersama semua rekan setim. Inilah Spanyol yang sebenarnya. Semoga saja kami bisa terus melaju hingga ke final,”harap Torres.

Sementara itu, Gerard Pique menyebut kemenangan timnya dibantu lapangan yang licin akibat hujan. Ya, siapa sangka gara-gara faktor cuaca, Spanyol akhirnya bisa menang telak atas Irlandia.

Menurut bek Barcelona itu, hujan membuat lapangan menjadi licin. Lapangan yang licin memudahkan pergerakan si kulit bundar. Bola yang bergulir lebih cepat membuat tiki-taka Matador berjalan lancar.

Pertandingan di Arena Gdansk, Jumat dinihari WIB tersebut memang berlangsung dalam guyuran hujan cukup deras. Suhu pertandingan bahkan menunjukkan angka 11 derajat celcius.

“Lapangan sangat cepat dan itu membuat kami menikmati pertandingan. Saya harus katakan, ini adalah tiga poin yang sangat penting bagi kami,” kata Pique seperti dikutip dari Goal.

“Kami bermain  baik dan mencatat hasil yang positif guna melaju ke babak selanjutnya. Saat lapangan kering, bermain seperti tadi jadi lebih sulit,” aku Pique.(bbs/jpnn)

Hidup Mati

Polandia vs Rep Ceko

PERSAINGAN di grup A Euro 2012 kali ini benar-benar ketat dan panas. Empat tim yang berada di grup ini, Polandia, Rusia, Rep Ceko dan Yunani masih memiliki peluang untuk lolos ke fase selanjtunya.

Sejauh ini Rusia berada di puncak klasemen dengan poin empat, hasil dari sekali menang lawan Rep Ceko (4-1) dan sekali imbang (1-1) lawan Polandia.

Menyusul di peringkat kedua Rep Ceko yang mengantongi poin tiga, hasil dari sekali kalah (1-4) atas Rusia dan menang (2-1) dari Yunani. Sementara tuan rumah Polandia, meski tak pernah kalah, namun tim ini hanya meraih dua kali hasil imbang yakni atas Yunani (1-1) dan Rusia (1-1).

Sedangkan juara Euro 2004 Yunani baru mengumulkan poin satu, hasil dari sekali imbang (1-1) lawan tuan rumah Polandia dan sekali kalah atas Rep Ceko.

Artinya, siapapun yang menjadi pemenang laga antara Rusia versus Yunani dan Polandia kontra Rep Ceko, maka dialah yang akan lolos ke fase selanjutnya.

Hanya saja, keuntungan terbesar tentu saja dimiliki oleh Rusia. Pasalnya, hasil imbang sudah cukup bagi Andrei Arshavin dkk untuk melangkah ke babak selanjutnya.

Hitung-hitungannya, jika Rusia bermain imbang lawan Yunani, maka anak asuh Dick Advocaat mendulang poin lima dan berada di posisi kedua grup A jika Rep Ceko mampu mengalahkan Polandia, dan menjadi pemuncak klasemen andai Polandia yang mengalahkan Rep Ceko.

Dengan kondisi seperti yang dibeberkan tadi, praktis laga dini hari nanti akan menjadi laga hidup-mati bagi seluruh kontestan di grup A.

“Kami sempat tersungkur atas Rusia pada laga pertama. Namun kemenangan atas Yunani telah membuat mental seluruh pemain bangkit lagi. Kami ingin melewati fase grup ini dengan senyuman,” bilang Michal Bilek, pelatih Rep Ceko.

“Kami tetap menargetkan kemenangan atas Polandia, meski kami sadar itu bukan pekerjaan yang gampang. Mereka (Polandia) kerap tampil hebat jika di hadapan pendukungnya. Inilah yang menjadi kendala kami,” tambah Bilek lagi.
Memang, jika berkaca pada pertemuan terakhir yang berlangsung di ajang Pra Piala Dunia pada 11 Oktober 2008, Polandia yang tampil di hadapan fansnya menang dengan skor 2-1. Kemenangan ini merupakan revans atas kekalahan yang terjadi setahun sebelumnya di Praha, tatkala Rep Ceko menang dengan skor 2-0.

Selain itu fakta juga mengungkap jika  tim tuan rumah selalu tampil sebagai pemenang. Terhitung Polandia menang tiga kali, Rep. Ceko menang dua kali dan masing-masing tim pemenang selalu mencetak dua gol.

Michal Bilek yang di ajang Pra Piala Dunia 2008 masih menjadi asisten pelatih Ivan Hasek tentu  tak lupa jika Polandia merupakan salah satu tim yang menghambat langkah mereka berkiprah pada Piala Dunia 2010.

Tak ayal, laga dini hari nanti merupakan kesempatan terbaik bagi Bilek untuk menuntaskan dendam pada Polandia. Tak peduli meski menetap laga ini Polandia memiliki rekor lumayan kinclong  karena tak pernah kalah dalam delapan pertandingan terakhirnya.

“Kami mendengar jika Tomas Rosicky tidak dalam kondisi fit. Jika dia tidak dapat diturunkan, itu memberi keuntungan bagi kami” bilang Franciszek Smuda, pelatih Polandia.

Pendapat yang sama juga dilontarkan gelandang Polandia yang juga kapten tim Jakub Blaszczykowski. Menurutnya, salah satu kekuatan Rep Ceko adalah lini tengahnya yang berisi pemain dengan kemampuan dan skil yang teruji.
“Tapi kami tak takut karena kami sudah membuktikan jika kami mampu mengimbangi gelandang Rusia. Jadi, tak ada alasan bagi kami untuk tak mampu mengimbangi permainan mereka (Rep Ceko),” tuntas Blaszczykowski yang mencetak satu-satu gol Polandia ke gawang Rusia, empat hari lalu. (*)

Artifisial

Anda sadar nggak Pemko Medan belakangan ini melimpah award? Jujur saja saya kaget lho! Ya, kaget ya, bangga juga. Award kan nggak sembarangan. Banyak kriterianya lho. Tapi yang heran kenapa kok datangnya kayak air bah ya? Sebelum menyabet ‘Adipura’, langsung disusul penghargaan ‘Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)’ dari Menteri Perdagangan RI, sebelumnya juga ada anugerah ‘Pemeringkatan e-Goverment Indonesia (PeGI)’ dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Paling mengharukan BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelas (WTP-DPP) atas LKPD Kota Medan TA 2011. Seluruh prestasi ini dimulai saat Wali Kota meraih penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja sebagai Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) Tingkat Nasional Tahun 2012 di Jakarta pada 25 April lalu. Wesss sedap …

Maaf-maaf saja saya tak bermaksud mengecilkan arti penghargaan alias ‘award’ buat kota tercinta ini. Begitupun yang namanya award jangan sampai dikerdilkan pula maknanya. Terlalu banyak award tanpa menyentuh substansi sesungguhnya malah bikin beban di pundak semakin berat. Saya tak mau berpretensi lebih jauh. Memang  ‘Adipura’ tampaknya target utama yang dibidik. Enam bulan terakhir kota Medan terus dirias.

Di inti kota siraman lampu warna-warni bikin mata teringat dengan arsitektur kota negeri seberang. Aksi bersih-bersih dijalankan dengan keras. Tak luput Sungai Deli pun dibuat jernih airnya. Langkah ‘revolusioner’ lain membenahi pedestrian di sejumlah kecamatan inti kota. Kerja keras ini memang patut dihargai.

Tapi tanpa bermaksud melemahkan semangat, kita semua pasti sadar pekerjaan apapun yang dikerjakan secara instan tak kurang abadi hasilnya. Bila bermaksud mengejar award untuk prestise ya, nggak ada salahnya. Alangkah baiknya bila seluruh pembenahan kota dikerjakan dalam rancangan yang lebih jangka panjang. Saya nggak tahu kenapa ketika hujan turun di sejumlah titik masih banjir juga.

Artinya masih ada yang tak beres juga dengan aliran drainase. Hingga hari ini belum sekalipun Pemko menyinggung bagian blueprint RTRW Kota Medan yang dikabarkan sempat hilang itu. Padahal penataan kota sesungguhnya ada di kertas-kertas itu. Jika itu ‘dicari’ dan dikerjakan sungguh-sungguh, kita yakin, penataan kota pasti akan lebih sustainable. Banjir tak lagi menggenangi kota. Jangankan sekali, ‘Adipura’ bisa diraih berkali-kali. Tak heboh kerja siang-malam bak kisah Roro Mendut.

Begitupun dengan Penghargaan ‘PeGI’. Saya heran saja kok bisa ya? Padahal antar kantor kelurahan di satu kecamatan saja tak terkoneksi. Pindah KTP gara-gara harus pindah kelurahan semua data masih teken sana teken sini di atas kertas. Setahu saya ya, e-government itu ya, paperless alias data kita tinggal diseberangkan pakai internet. Selain memudahkan warga, juga menghindari ‘undertable money’ yang masih jadi momok birokrasi.

Terus, soal ‘Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)’, apakah Pemko tak sadar kalau seluruh warga kota ini adalah konsumennya? Masih bejibun lho konsumennya yang kesulitan mengurus KTP, KK, dan akte lahir. Ada pula yang main pungut sana-sini. Belum lagi ‘tar sok- tar sok’ terus. ‘’Oh.. Bapak lagi rapat. Lagi ke lapangan … bla-bla-bla’’. Coba deh pak Wali sesekali nyamar jadi warga biasa terus pergi ngurus surat keterangan ke kantor lurah. Konsumen itu adalah raja cuma ada di iklan saja.

Oh ya, soal penghargaan WTP-DPP atas LKPD Kota Medan TA 2011. Jangan diabaikan temuan BPK Sumut terkait kejanggalan penggunaan biaya perjalanan SKPD dan biaya reses anggota DPRD.

Kasubag Hukum dan Humas BPK Perwakilan Sumut Mikael PH Togatorop bilang anggaran perjalanan dinas SKPD yang harus dipertanggungjawabkan ada senilai Rp2,5 miliar. Jangan lupa dikembalikan ke kas negara ya. Itu pesan BPK.

Kesimpulannya memang barangkali kita amat terlalu menikmati artifisialitas. Jangankan praktik di birokrasi, sampai-sampai demokrasi kita sekarang pun artifisial.

Kita didorong memilih pemimpin secara bertanggungjawab, yang bebas korupsi, punya visi-misi, dan kredibel. Tapi di lain pihak demokrasi itu seringkali dinodai oleh pendidikan ‘politik asalkan …’. Asalkan jangan dari agama A, asalkan jangan dari suku B. Bukankah itu demokrasi artifisial? Saya jadi curiga, jangan-jangan semua yang berbau artifisial memang begitu kita nikmati ya? (*)

Mereka tak Henti Bernyanyi…

SADAR timnya kalah kelas dari Spanyol, fans Irlandia tak menyerah begitu saja. Bahkan ketika kedudukan timnya telah tertinggal 0-4, fans setia Irlandia tetap bernyanyi lantang di stadion untuk terus mendukung Robbie Keane dkk. Salut.
Padahal pada laga itu Spanyol benar-benar menguasai jalannya laga. Hanya kepiawaian Shay Given di bawah mistar-lah satu-satunya alasan Irlandia tak bobol lebih dari empat gol.

Dalam kondisi yang benar-benar timpang seperti itu, Anda akan menemukan bahwa pendukung meninggalkan stadion adalah hal yang mungkin terjadi—meski tentu akan dianggap sebagai sebuah kenistaan dalam hal mendukung sebuah tim. Dalam pertandingan level klub hal ini tidak terjadi satu atau dua kali saja. Tapi, tidak demikian halnya dengan pendukung Irlandia.

Anda bisa melihat wajah-wajah getir mereka ketika menyaksikan timnya digelontor empat gol oleh “matador-matador” Spanyol. Itu hal yang wajar. Namun, mereka tak memilih meninggalkan stadion dan meletakkan dukungan begitu saja. Sebaliknya, di sepuluh menit terakhir pertandingan, mereka mengantarkan kepergian Irlandia ke pintu keluar dengan bernyanyi lantang.

Lagu “The Fields of Athenry” nyaring memenuhi PGE Arena Gdansk. Para pendukung Liverpool tentu saja mengenali irama dari lagu ini karena persis dengan chant milik mereka, yakni “The Fields of Anfield Road”.
Apa yang dilakukan oleh suporter Irlandia itu kemudian mengundang komentar dan simpati luas. “Brilian.. Brilian.. Para pemain Spanyol dan pendukung Irlandia,” tulis Sid Lowe, kolumnis sepak bola Inggris terkenal yang berbasis di Spanyol. (bbs/jpnn)

Pemain Jangan Suka Merengek

Wawancara dengan Wasit Asal Inggris, Howard Webb

Wasit selalu saja menjadi sorotan ketika ada insiden di lapangan. Situasi itu membuat tekanan kepada mereka sangat kencang. Apalagi, di Euro 2012, yang persaingannya ketat dan menjadi sorotan dunia. Tekanan itu ditanggapi dengan tenang oleh wasit asal Inggris Howard Webb.

Webb yang dulunya seorang polisi di Yorkshire, Inggris, dikenal sebagai wasit yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan. Memang, ada beberapa kontroversi yang sempat dibuatnya, termasuk ejekan dari sebagian suporter Inggris bahwa dia cenderung pro-Manchester United.

Namun, ditunjuknya Webb sebagai wasit final Liga Champions 2010 dan juga final Piala Dunia 2010 menjadi bukti reputasinya. Pada Euro 2012 ini dia juga bertugas sebagai wasit. Saat ini sudah dua laga yang dipimpinnya, saat Rusia menang 4-1 atas Republik Ceko (8/6) dan Italia imbang dengan Kroasia 1-1 (14/6).

Webb juga merupakan wasit yang dinilai berjasa ketika Fabrice Muamba terkapar akibat serangan jantung pada perempat final Piala FA antara Tottenham Hotspur dan Bolton Wanderers, 17 Maret lalu. Jawa Pos (Grup Sumut Pos) bertemu dengan Webb saat perjalanan kereta api dari Poznan ke Warsawa, berikut petikan wawancaranya.

Pekerjaan sebagai wasit penuh tekanan bagaimana Anda mengatasinya?

Yang terpenting ketika sedang menjalankan tugas adalah tetap fokus. Jangan biarkan lingkungan, baik itu pemain, pelatih, atau penonton, mengganggu konsentrasi Anda. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik.

Banyak yang bilang Anda pro-United?

Ah, itu hanya anggapan orang.

Sudah dua pertandingan Anda pimpin di Euro 2012, bagaimana tanggapan Anda?

Maaf, untuk tugas yang sedang saya jalankan, tidak boleh saya bicarakan, itu sudah menjadi keharusan buat para wasit agar tidak membuat penafsiran lain.

Yang paling saya ingat dari aksi Anda adalah keputusan Anda menghentikan pertandingan ketika Muamba mengalami serangan jantung. Apa yang Anda pikirkan ketika itu?

Keselamatan pemain nomor satu. Tugas kami bukan hanya untuk memastikan pertandingan berjalan fair play dan selesai dengan baik. Banyak gangguan di lapangan, tetapi kami harus tahu mana yang terpenting. Anda bisa melihat sendiri ekspresi kengerian di wajah para pemain ketika itu, saya pikir laga itu memang harus dihentikan demi kebaikan.

Apa pesan Anda kepada pemain agar permainan berjalan dengan enak ditonton dan tetap fair play?

Jangan terlalu sering merengek. Kalau pemain terlalu sering merengek ketika terjatuh dan pura-pura kesakitan, akan membuat pertandingan sering terhenti. Itu juga membuat kami kesulitan menilai mana yang benar-benar cedera atau mana yang tidak. (ham/jpnn)

Dynamo Cegah Sheva Pensiun

KIEV – Andriy “Sheva” Shevchenko menuai apresiasi seusai menjadi pahlawan kemenangan Ukraina atas Swedia (11/6) lalu. Dynamo Kiev, klub Sheva saat ini, siap memberikan perpanjangan kontrak. Sebagai catatan, kontrak Sheva bakal habis akhir bulan ini.

Tawaran itu pun bisa menggoyahkan rencana Sheva yang ingin gantung sepatu seusai Euro 2012. Apalagi striker 35 tahun tersebut juga berancang-ancang menjalani profesi baru sebagai staf pelatih. Sheva disebut sudah mendapat tawaran dari Chelsea sebagai asisten Roberto Di Matteo yang baru saja dikontrak dua tahun oleh klub jawara Liga Champions tersebut.

“Setiap pihak menginginkan Andriy dan kami juga begitu. Dalam situasi seperti ini, Andriy harus membuat keputusan berdasarkan nalurinya sendiri. Semuanya bergantung kepada dirinya,” kata pelatih Dynamo Yuri Semin di situs resmi klub.

Dynamo adalah klub profesional pertama Sheva. Setelah lima tahun membela klub asal ibu kota Ukraina itu atau pada 1999, Sheva hijrah ke AC Milan dan menapak puncak karirnya. Tapi, keputusannya meninggalkan Milan dan menyeberang ke Chelsea pada 2006 berimbas pada karirnya yang mulai merosot.

Sekalipun sempat dipinjamkan lagi ke Milan pada musim 2008-2009, Sheva tidak mampu menemukan performa terbaiknya lagi. Dynamo lantas menyelamatkan karir Sheva dengan memulangkannya pada Agustus 2009. Periode keduanya bersama Dynamo menjadi ajang kebangkitan Sheva sehingga dipanggil timnas serta terpilih dalam skuad Euro.

Lantas, bagaimana respons Sheva mengenai tawaran perpanjangan kontrak dari Dynamo?
“Saya baru bisa memutuskannya setelah Euro. Saya belum bisa memastikan apakah saya akan terus bermain atau tidak,” kata Sheva kepada La Gazzetta dello Sport.

Dalam kesempatan yang sama, Sheva juga mengatakan apabila dirinya bisa saja kembali ke Milan. Bukan sebagai pemain tentu saja, melainkan untuk jabatan direktur klub atau staf pelatih.
“Pintu saya selalu terbuka untuk Milan. Mungkin suatu hari nanti,” tutur pemain yang selama membela Milan telah memenangi Serie A, Coppa Italia, Piala Super Italia, Liga Champions, dan Piala Super Eropa itu. (dns/jpnn)