Home Blog Page 13375

35 Tahun Kiprah Perguruan Tinggi Swadaya

Konsep 5 T, Hantar Lulusan Raih Kesuksesan

MEDAN-Perguruan Tinggi Swadaya di Jalan Menteng Raya Nomor 175 Pasar Merah Medan telah banyak menelurkan para lulusan yang meraih kesuksesan. Dengan konsep 5 AT banyak alumni Perguruantinggiswadaya yang berhasil. Hal ini dikatakan Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Perguruan Tinggi Swadaya Hj Meillisdar SH MH. “Perguruantinggiswadaya ini berdiri dengan konsep 5 AT yaitu cepat tamat, waktu hemat, biaya hemat, gelar dapat dan kerja cepat,’’ kata Meillisdar.

Dikatakan, Meillisdar, sudah lebih dari 53 tahun Perguruan tinggi swadaya berkontribusi menghasilkan ribuan sumber daya manusia berkualitas yang berkarir diberbagai bidang seperti pengusaha profesional, anggota dewan, pejabat pemerintah, dosen, PNS, Polri/TNI dan sebagainya.
Meilisdar mengatakan, STIBA Swadaya memiliki dua jurusan  yaitu Bahasa Inggris berdasarkan  SK Mendikbud RI No.0422/0/1990 tanggal 19 Juni 1990 dan Bahasa Jepang berdasarkan  SK Mendikbud  RI No.20/DIKTI/KEP/1992  tanggal 9 Maret 1992.

Meilisdar menceritakan, Perguruan Tinggi Swadaya didirikan  10 Oktober 1958  oleh tokoh pendidikan berpengalaman yang pernah menjadi Koordinator Kopertis Sumut/NAD Prof Dr Mustafa Siregar SH.  Pada awalnya perguruantinggiswadaya mengelola Akademi Bank dan Keuangan Swadaya melalui SK 58/p-Swtp/1962 tanggal 31 Desember 1962 yang kini disebut Akademi Keuangan dan Perbankan (Akubank) Swadaya. “Selanjutnya Perguruan Tinggi Swadaya mendirikan Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Swadaya yang merupakan akedemi tertua di Sumatera pada tahun 1967,’’ kata Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Perguruantinggiswadaya Hj Meillisdar SH MH di Medan, Rabu (23/5).

Pada tanggal 5 Januari 1985, lanjut dia, Perguruan Tinggi Swadaya mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Swadaya (STIESA) yang mengelola tiga program  studi. “Yaitu Manajemen Keuangan, Akutansi dan Ekonomi Pembangunan  dengan SK Mendikbud RI No.02115/0/1986,” jelasnya.
Selanjutnya pada tanggal 10 Oktober 1990 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Swadaya dengan SK Mendikbud RI No.0157/0/1991. “Program studi pada Perguruantinggiswadaya telah terakreditasi BAN PT dan sedang dalam proses peningkatan peringkat akreditasi,’’ ungkap Ketua BPH Perguruantinggiswadaya.

Diakhir penjelasannya, Meilisdar mengajak calon mahasiswa yang ingin kuliah di Perguruantinggiswadaya di Jalan Menteng Raya Nomor 175 Pasar Merah Medan dapat menghubungi (061) 77085242. ‘’Contak person Hj Meillisdar SH MH 081375433232. Bagi para calon mahasiswa yang ingin mendaftar tinggal pilih kelas yaitu kelas regular (beasiswa), kelas executive, kelas super executive (non beasiswa),’’ imbuhnya. (*/rel)

Cuaca Ekstrim, Kebakaran Mengancam

Wali Kota Medan Serahkan Bantuan ke Korban Kebakaran

Pasca terbakarnya 18 rumah di Jalan AR.Hakim Medan Gang Aman Lingkungan I Keluruhan Tegal Sari Mandal I, Kecamatan Medan Denai, Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM mengimbau warga untuk berhati-hati dicuaca ekstrim ini. Pasalnya, musibah kebakaran bisa saja mengancam warga.

Untuk meringankan korban kebakaran di Jalan AR Hakim Gang Aman, Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap menyerahkan bantuan material bangunan yang diberikan itu meliputi 10 ton kayu, 1.000 keping seng, serta 500 sak semen beserta paku.  Diharapkan, bantuan itu bisa dipergunakan  memperbaiki rumah yang musnah terbakar dan secepatnya dihuni kembali oleh warga.

“Bantuan kami berikan hari ini, dan besok belum tahu lagi. Sebab, kami masih mengiventarisasi kerugian.Yang pasti untuk sementara menanggulangi kebutuhan sehari-hari warga sudah ditanggulangi,” kata Rahudman saat penyerahan bantuan kepada para korban kebakaran.
Dia menyampaikan, Pemko Medan tidak akan membiarkan begitu saja para korban kebakaran, dan pihaknya siap membantu mengatasi, sehingga warga dapat mendiami kembali rumahnya masing-masing.
“Pemko Medan berupaya memperbaiki kembali rumah korban kebakaran,” sebutnya didampingi Wakil Wali Kota Drs H Dzulmi Eldin S, MSi.
Rahudman mengakui, pasca terjadinya musibah kebakaran, berarti kawasan Jalan AR Hakim sudah tiga kali terjadi persitiwa kebakaran dalam enam bulan terakhir ini. Pertama, kebakaran di Gang Bakung, menyusul Gang Seto dan yang terakhir di Gang Aman.

Dia memaparkan, untuk korban kebakaran di Gang Bakung, warga yang memiliki lahan dibantu untuk membangun kembali rumahnya, sedangkan yang menyewa diberi bantuan. Sementara itu, bagi korban kebakaran di Gang Seto, Pemko Medan telah memberikan bantuan untuk biaya sewa  rumah.
“Itu kami lakukan karena korban kebakaran di Gang Seto umumnya menyewa. Karenanya, kami beri bantuan mereka biaya uang sewa rumah untuk tiga bulan. Sedangkan untuk korban kebakaran di Gang Aman, kami akan bantu untuk perbaikan kembali rumahnya, sebab tanah itu milik para korban kebakaran,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, tiga lokasi kebakaran yang terjadi selama enam bulan ini di Jalan AR Hakim merupakan kawasan padat penduduk. Hal tersebut ditemukannya rumahnya sangat rapat, sehingga terkesan kumuh.

“Satu upaya yang  dilakukan  adalah dengan membangun kembali rumah susun Sukaramai. Dengan dibangunnya rumah susun itu, maka warga yang menempati kawasan padat itu bisa terurai,” sebutnya.

Tak hanya itu, Rahudman mengakui prihatinnya atas musibah kebakaran yang menimpa 25 KK di Jalan AR Hakim Gang Aman. Akibat musibah kebakaran ini, warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Dalam kesempatan itu, orang nomor satu di Pemko Medan itu mengimbau kepada semua warga yang tinggal di wilayah padat penduduk agar berhati-hati dalam memantik api. Apalagi kini cuaca ekstrim tengah menerpa Kota Medan.

“Kini cuaca cukup panas, tempratur udara mencapai 36 derajat sehingga rawan akan kebakaran,” katanya.

Selain menyerahkan material  bangunan, Walikota juga menyerahkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari warga. Penyerahan itu dilakukan secara simbolis kepada beberapa warga. Dengan penuh suka cita warga menerima bantuan tersebut, seraya berharap agar rumah mereka yang musnah terbakar bisa dibangun kembali dan warga bisa beraktifitas seperti biasa.

Hadir dalam penyerahan bantuan itu, antara lain anggota DPR RI Chairuman Harahap, Ketua Dewan Kota Drs H Afifuddin Lubis, para Staf Ahli, Dandim 0201/BS Letkol TNI Doni Hutabarat, Wakil Ketua DPRD Medan Sabar S Sitepu,  anggota DPRD Lily MBA. Tak hanya itu, sejumlah pimpinan SKPD di lingkungan Pemko Medan, seperti Edwin Effendi, Marah Husein Lubis, perwakilan dari Paguyuban Marga Tionghoa, pengurus INTI serta organisasi kepemudaan. (gus)

Tata Gang Kebakaran di Kota Medan

Kebakaran di Jalan AR Hakim Medan membuat Wakil Ketua DPRD Medan Sabar Syamsurya Sitepu ikut sedih. Pasalnya, selama enam bulan ini sudah ada tiga kali kebakaran di jalan yang sama. Hal itu mengisyaratkan Pemko Medan wajib menata gang-gang kebakaran di Kota Medan.

Menurut politisi Partai Golkar itu, kondisi perumahan warga di Jalan AR Hakim rata-rata padat, dan gang kebakarannya kurang tertata dengan baik. Persoalan itulah yang seharusnya menjadi perhatian serius instansi terkait untuk memantau gang kebakaran.

Dengan adanya kebakaran ini, dia menyampaikan, lurah, camat dan instansi terkait di Pemko Medan harus memperhatikan pola pembangunan serta berdialog dengan warga agar menjaga gang kebakaran. Karena dampak yang ditimbulkan dari persoalan gang kebakaran ditutup atau diperkecil bisa mengancam banyaknya korban kebakaran di wilayah padat rumah penduduk.

“Seperti sering disampaikan Wali Kota Medan dalam setiap pidatonya, gang kebakaran itu harus dilindungi, dijaga dan tak boleh digunakan. Karena itu merupakan satu fasilitas publik yang sama-sama dijaga untuk keselamatan bersama,” ingatkannya.

Dia berpendapat, kebakaran bisa saja mengancam kepada setiap rumah penduduk, tapi kebakaran bisa diperkecil ketika gang kebakaran di Kota Medan dalam kondisi baik. “Jadi sudah menjadi tugas instansi terkait untuk menjaga dan menata gang kebakaran,” ujarnya.

Tak hanya itu, paparnya Pemko Medan membutuhkan mobil kecil untuk pemadam kebakaran, seperti jenis jeep atau lainnya. Armada itu dibutuhkan khususnya untuk masuk ke dalam gang-gang yang kecil dan padat rumah penduduk. Karena dengan cara itulah bisa membantu untuk memudahkan pemadaman kebakaran di wilayah gang-gang.

“Apalagi saat ini Pemko Medan hanya memiliki satu mobil kecil pemadam kebakaran, itupun kondisinya sudah tua dan sering rusak. Jadi Wali Kota Medan harus lebih memikirkan untuk menggantinya. Jangan sampai armada pemadam kebakaran tak bisa masuk, dikarenakan kekurangan fasilitas,” sebutnya. (ril)

Sepekan ke Depan Medan Tetap Panas

MEDAN-Peralihan cuaca dari musim penghujan ke musim panas, membuat suhu di Sumut sekitarnya, khususnya Medan menjadi panas. Tak hanya itu, perlu diwaspadai bahaya kebakaran lahan dan hutan. Setidaknya, ada wilayah di 5 kabupaten/kota yang rawan terbakar.

“Berdasarkan data yang diperoleh oleh BMKG, bahwa di Sumut sendiri itu sudah ada 4 titik api,” kata Kepala Data & Informasi BMKG Wilayah I Medan, Hendra S, saat di ruang kerjanya, Selasa (12/6) siang.

Daerah yang rawan kebakaran adalah Labuhanbatu, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, dan Sibolga. Menurut Hendra, hal ini sendiri dipicu karena suhu tinggi. “Suhu saat ini 36 derajat celcius dan malam hari suhunya mencapai 30-31 derajat celcius. Khususnya untuk Medan seperti saat ini (Selasa, Red) hingga sepekan ke depan suhu akan meningkat, suhu panas seperti ini bisa memicu kebakaran,” akunya.

Hendra menuturkan, untuk potensi dan intensitas turun hujan sudah berkurang. Hendra menuturkan, yang perlu diwaspadai itu angin kencang dan angin puting. “Daerah yang rawan angin kencang dan angin puting beliung yakni Deliserdang sekitarnya. Untuk kecepatan angin yang paling tinggi yakni mencapai 30 knots,” akunya.

Hendra menambahkan, angin kencang dan angin puting beliung terjadi hampir di seluruh Sumut yakni Pantai Barat dan Pantai Timur. “Untuk kecepatan angin di daerah Deliserdang tak bisa dihitung karena peralatan BMKG di sana tak ada dan Kantor BMKG di Deliserdang juga tak ada, makanya kita tak bisa menentukan dan tak bisa menghitung kecepatannya,” bebernya.

Titik api di Sumut memang tidak sebanyak wilayah lain di Sumatera. Meski begitu, masyarakat tetap diimbau untuk waspada. “Di Riau sudah ditemukan sekitar 64 titik api dan ini terjadi karena perubahan suhu panas,” ungkapnya.

Untuk Tanah Karo, lanjutnya, masih tetap terjadi angin kencang dan angin puting beliung karena daerah tersebut hutan dan pohon-pohonnya sudah banyak ditebangi. “Ya, ada pengaruh angin dari Barat Daya Sumut dan pengaruh dari angin pegunungan,” sebutnya.
Sayang, Hendra tidak bisa memaparkan kecepatan angin di Karo. Seperti di Deliserdang, di Karo alat penghitung angin milik BMKG juga tidak ada.
Untuk Juni ini, Hendra menuturkan, angin kencang dan puting beliung ini masih akan terjadi. “Angin kencang dan puting beliung semakin sering terjadi dan angin seperti ini selalu mengincar daerah-daerah yang sudah tak memiliki pepohonan lagi,” pungkasnya. (jon)

Mendikbud Ingatkan SPP Kuliah Dilarang Naik

JAKARTA – Setelah begadang nonton tim jagoannya, Prancis, Mendikbud Mohammad Nuh kemarin pagi sidak SNM PTN jalur ujian tulis. Dari laporan sementara, SNM PTN hari pertama berjalan lancar. Di kesempatan itu, Nuh terus mengingatkan sejumlah rektor PTN bahwa SPP kuliah tahun ajaran baru nanti tidak boleh dinaikkan.

Sidak yang dijalankan kemarin terpusat di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Di kampus yang didominasi calon guru itu, Nuh juga sempat memantau pelaksanaan ujian para peserta yang berkebutuhan khusus. Rata-rata para peserta ini mengalami gangguan penglihatan.
Dalam praktenya, peserta ini tetap mendapatkan lembar soal seperti peserta normal lainnya. Mereka tidak mendapatkan soal dalam bentuk huruf Braille. Sebagai gantinya, setiap peserta didampingi dua orang mahasiswa untuk membacakan soal sekaligus membantu membubuhkan jawaban yang ditentukan peserta.

“Sampai saat ini, belum ada laporan gangguan yang mencolok,” tandasnya.

Nuh menuturkan belum ada laporan anguan SNM PTN jalur ujian tulis seperti peserta menyontek atau praktek perjokian dari panitia lokal (panlok). Dia berharap, praktek perjokian bisa hilang dari SNM PTN jalur ujian tulis ini. Sehingga, kredibiltas SNM PTN jalur ujian tulis semakin meningkat.
Dalam kesempatan ini, Nuh didampingi sejumlah rektor. Mereka adalah Rektor UNJ Bedjo Sujanto, Rektor UI Gumilar R. Somantri, Rektro ITB Akhmaloka, dan Rekot UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat.

Di hadapan para rektor ini, Nuh kembali mengingatkan supaya SPP atau biaya sejenisnya yang dibebankan kepada mahasiswa tahun ajaran 2012-2013 tidak dinaikkan dibandingkan tahun lalu. Nuh mengakui jika selama ini kampus sering beralasan mereka kekurangan biaya operational, sehingga harus menaikkan kampus.

“Menutup beban biaya operasional dengan menaikkan SPP mahasiswa itu memang cara yang sangat mudah. Tapi kami berharap bukan cara ini yang dipilih,” tutur menteri asal Surabaya itu. Nuh menjelaskan, kampus-kampus tidak perlu khawatir terhadap kebutuhan biaya operasional mereka.
Dia mengusulkan supaya kampus lebih rajin menjalin kerjasama dengan pemda atau dunia industri. Kerjasama bisa berwujud pelatihan, penelitian, atau sejenisnya. “Jadi jika tahun ini hasil kerjasama dengan pihak lain bisa bernilai Rp5 miliar, tahun ini depan harus meningkat jadi Rp10 miliar,” tegas Nuh.
Sementara itu pemerintah dalam hal ini Kemendikbud tidak akan meninggalkan begitu saja jerih payak kampus yang berhasil menggenjot nilai kerjasama dengan pihak lain itu. Nuh berjanji pihaknya akan menggerojokkan dana insentif bagi kampus-kampus yang kreatif itu. Upaya kampus menggenjot pendapatan dari kerjasama dengan pihak lain ini juga tidak rawan dari protes atau demonstrasi mahasiswa.

Nuh mengibaratkan, sama-sama ingin mendapatkan tambahan uang Rp1 miliar per tahun, kampus harus memilih mencarinya dari kerja sama dengan pihak lain. Dia tidak memungkiri cara ini menghadirkan tantangan atau kesulitan tertentu. “Kalau dengan menaikkan SPP itu adalah cara yang mudah. Tapi itu tadi, pasti bakal repot karena akan didemo mahasiswa,” pungkasnya. (wan/jpnn)

Gempa Afghan Picu Longsor, 80 Tewas

KABUL – Gempa bumi beruntun yang memicu longsor di Afghanistan dikhawatirkan menelan banyak korban jiwa. Pemerintah Afghanistan kemarin (12/6) mengungkapkan bahwa sedikitnya 80 orang tewas dalam musibah tersebut. Bahkan, pihak berwenang memerkirakan jumlah korban jiwa bisa mencapai sekitar 100 orang.

Dua gempa yang mengguncang Provinsi Baghlan, utara Afghanistan, Senin (11/6) waktu setempat memicu tanah longsor. Karena getaran gempa cukup kuat, puluhan rumah di kaki gunung di wilayah itu tertimbun lumpur dan batu.

Gubernur Provinsi Baghlan Abdul Madjid memastikan bahwa sedikitnya 22 rumah terkubur lumpur. Tapi, sejauh ini baru dua jenazah korban berjenis kelamin perempuan yang telah ditemukan. Lalu, 20 orang dilarikan ke rumah sakit karena terluka.

’’Kami tidak yakin bisa menemukan semua korban yang terkubur longsoran tanah,’’ tutur Abdul Madjid. Menurut dia, pihaknya menemui kendala dalam mencari para korban yang tertimbun. ’’Tim penyelamat hanya memiliki sebuah buldozer untuk membersihkan puing-puing. Tetapi, kami akan berdoa dan mengadakan salat bersama bagi seluruh korban,’’ tambahnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk memastikan bantuan yang diperlukan para korban. Semua rumah di lima distrik di Provinsi Baghlan hancur. Informasi yang diperoleh dari warga sekitar menyebutkan bahwa terdapat sekitar 25-30 rumah yang terkubur lumpur.

Distrik Burka, salah satu lokasi longsor, merupakan wilayah di pegunungan yang dihuni gabungan beberapa komunitas warga. Perjalanan darat ke lokasi itu memakan waktu dua jam dari Pul-e-Khumri, ibu kota provinsi, yang berjarak sekitar 40 kilometer.

Tim penyelamat dan medis dari Pul-e-Khumri telah tiba di lokasi. Namun, tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Para korban selamat sudah dilarikan ke klinik setempat. ’’Ambulans sudah didatangkan. Tapi, tidak ada lagi korban yang bisa diangkut,’’ terang Jawed Basharat, juru bicara kepolisian setempat.
Longsoran lumpur dan batu menyapu rumah warga di Desa Sayi Hazara pedalaman kaki gunung. Tim penyelamat hanya bermodal sekop ketika melakukan upaya pencarian korban.

Menurut Basharat, sejauh ini belum ditemukan tanda-tanda adanya jejak bangunan di bawah timbunan lumpur. (cak/dwi/jpnn)

Pagi Ini, Buron BLBI Tiba di Indonesia

JAKARTA – Pemulangan buron korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Sherny Kojongian mulai berjalan. Buron yang telah mendapat permanent resident (PR) di AS itu diperkirakan tiba di Indonesia pagi ini.

Direktur Informasi dan Media (Infomed) Kemenlu P.L.E. Priatna menjelaskan, Sherny diterbangkan dengan pesawat Garuda GA-823. Pesawat ini akan mendarat sekitar pukul 07.25 pagi ini di terminal 2F kedatangan internasional. “Mudah-mudahan kabar ini akurat,” terangnya. Sesampainya di Indonesia, dia sudah menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Priatna menuturkan, keberhasilan pendeportasian Sherny ini merupakan buah kerja keras tim terpadu yang dikomando wakil jaksa agung. “Dia sebenarnya sudah mengajukan banding terkait kasus hukumnya ke AS, termasuk upaya deportasi ini,” jelasnya.

Untungnya permohonan itu ditolak pemerintah AS. Priatna menjelaskan, Sherny yang sudah berstasus PR di AS itu berhak memperoleh hak-hak hukum. Termasuk permintaan banding. Menurut Priatna, hak yang tidak diperoleh warga asing yang sudah bestatus PR di Amerika adalah hak menyalurkan suaranya saat pemilihan umum.

Priatna menjelaskan, dalam pelariannya di negeri paman Sam, Sherny berupaya memperoleh kewarganegaraan AS. “Sebelumnya dia juga mengajukan hak suaka,” kata dia. Pelarian Sherny berakhir pada 10 November 2010 setelah ia ditangkap petugas ICE (Immigration dan Customs Enforcement) San Francisco.

Sherny selama menunggu putusan sidang deportasi diberi kesempatan untuk mengajukan penangguhan penahanan dengan jaminan. Dalam sidang deportasi ini, hakim pengadilan San Francisco memutuskan Sherny dideportasi ke Indonesia.

Tapi Sherny mengajukan banding atas putusan itu. Selama proses banding ini, Sherny tetap dalam penahanan pihak ICE. Pada sidang banding, Ninth Circuit Court of Appeals AS menolak banding yang diajukan perempuan yang punya nama lain Sherny Sahora itu. Sebaliknya, putusan di persidangan banding ini malah memperkuat putusan sebelumnya yaitu mendeportasi Sherny ke Indonesia.

Priatna menuturkan, pemerintah saat ini juga sedang mengupayakan pendeportasian dua buron BLBI yang dikabarkan berada di Australia. (wan/dim/jpnn)

Liem Sioe Liong Peti Mati Seharga Rp67,5 Juta

PETI mati untuk pemakaman jenazah taipan Liem Sioe Liong atau Sudono Salim senilai Rp67,5 juta. Saat membeli peti mati itu keluarga Oom Liem tidak menawar lagi, karena tidak boleh melakukan tawar-menawar dalam hal itu.

“Peti mati harganya 9.000 dolar Singapura,” kata petugas Singapura Cascet, organizer yang mengurus persemayaman Liem Sioe Liong, di Singapura, Selasa (12/6)

Dengan kurs Rp7.500 per satu dolar Singapura, maka harga 9.000 dolar Singapura setara Rp67,5 juta. Ia mengatakan peti itu diimpor khusus dari luar Singapura, dan dibuat dari kayu cherry.

Murah atau mahal itu relatif, namun jika dianggap mahal maka harga segitu cukup berlawanan dengan kebiasaannya selama hidup, yang dikatakan banyak pihak sangat sederhana.

Kerabat Liem Sioe Liong, Jamin Hidayat, menolak menyebut nilai persemayaman orang terkaya di Indonesia. (net)
“Tidak tahu, tidak etis,” katanya.

Namun, menurut dia, yang pasti, keluarga tidak etis melakukan tawar-menawar harga peti mati dengan penjual. “Tidak boleh ditawar,” katanya. Petimati, kata dia, diurus oleh Singapore Cascet.

Di halaman dalam tempat persemayaman, terpasang sedikitnya lima tenda besar berwarna putih yang menutup seluruh halaman. Di dalam tenda, disediakan pendingin ruangan berukuran besar yang menyejukkan pelayat. Selain tenda, para pelayat juga disuguhkan makanan dari Mandarin Hotel dengan berbagam menu China dan internasional plus buah-buahan. (net)

Israel Ancang Evakuasi Warga

YERUSALEM – Israel akan melakukan evakuasi besar-besaran seluruh penduduk di wilayah Tel Aviv jika serangan rudal dilancarkan ke Negeri Yahudi itu. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Komandan Keamanan Tel Aviv dan wilayah sekitarnya Kolonel Adam Zusman.

“Jika serangan rudal dilancarkan ke Israel terutama rudal non-konvensional, maka seluruh warga yang berada di Tel Aviv dan kota-kota lain di sekitarnya akan dievakuasi dan dipindahkan ke wilayah lain. Ini adalah evakuasi besar-besaran yang akan terjadi,” tegas Kolonel Zusman yang dikutip dari AFP, Selasa (12/6).

Pernyataan Kolonel Zusman ini muncul menanggapi banyak ancaman serius yang datang dari Iran, kelompok Hizbullah Lebanon serta militan Hamas di Jalur Gaza.

“Jika perang terjadi, maka kami memperkirakan ada ratusan rudal yang akan menghantam Tel Aviv serta beberapa kota di sekitarnya. Serangan ini juga akan mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa di pihak Israel. Hari ini setiap jiwa penduduk Israel terancam,” tutur Kolonel Zusman.
Zusman tidak memungkiri bahwa Israel memiliki beberapa sistem persenjataan paling canggih di dunia. Namun, diakuinya itu tidak dapat mengandalkan perlindungan secara total pada sistem ini. (net)

Euforia Adipura Salah Alamat

Oleh: Janpatar Simamora, SH., MH

Setelah sekian tahun tidak pernah menghinggapi Kota Medan, tepatnya 2012 ini Piala Adipura secara resmi diraih Kota Medan untuk kategori Kota Metropolitan. Tidak tanggung-tanggung, setelah Wali Kota Medan berhasil memboyong piala Adipura ke Kota Medan, luapan kegembiraanpun ditunjukkan melalui aksi arakan keliling kota.

Aksi arakan yang dilangsungkan sehari setelah diterimanya penghargaan bergengsi dalam bidang kebersihan dan keindahan kota, tepatnya Rabu, 06 Juni 2012 lalu itu sampai menimbulkan kemacetan di sejumlah titik di Kota Medan. Apa yang dilakukan oleh Pemko Medan sebagai bentuk ucapan syukur atas penerimaan Piala Adipura melalui aksi arak piala keliling Kota tentu patut dimaknai sebagai suatu peristiwa yang biasa terjadi. Karena bagaimanapun, idealnya penerimaan suatu piala atau penghargaan adalah merupakan sesuatu hal yang menggembirakan. Oleh karenanya, sebagai bentuk luapan kegembiraan itu, maka menjadi wajar bila kemudian ditemukan aksi yang mengarah pada “promosi prestasi” dengan harapan akan semakin banyak pihak yang mengetahuinya.

Terkait dengan perolehan piala Adipura, sebenarnya bukan hanya Kota Medan yang meraih penghargaan bergengsi dalam bidang lingkungan hidup itu. Terdapat sekitar 63 daerah yang meraih penghargaan dalam bentuk piala Adipura dan secara kebetulan, Kota Medan menjadi salah satu daerah yang meraih penghargaan Adipura untuk kategori kota metropolitan. Kegiatan dan penghargaan Adipura yang diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak awal diarahkan dalam rangka mendorong dan memacu seluruh daerah di tanah air dalam rangka mewujudkan konsep lingkungan hidup yang hijau dan bersih.

Dengan adanya konsep green and clean city sebagai dasar filosofis kelahiran penghargaan Adipura, maka harapan akan terwujudnya kondisi lingkungan hidup yang benar-benar bersahabat dan mampu menjadi tempat nyaman untuk berdiam bagi masyarakat luas akan sangat dimungkinkan untuk terealisasi. Dalam rangka mengurai persoalan dan memudahkan pemilahan penganugerahan penghargaan Adipura, khususnya mengingat begitu luasnya bentangan wilayah nusantara, maka sejak awal telah ditetapkan mekanisme penilaian oleh pemerintah pusat.

Untuk pemilahan kategori kota, terdapat empat kategori yang didasarkan pada jumlah penduduk yang berdiam dalam satu daerah. Keempat kategori dimaksud yaitu untuk kategori Kota Metropolitan adalah daerah yang didiami oleh lebih dari 1 juta jiwa. Kemudian untuk kategori Kota Besar adalah daerah yang didiami oleh penduduk dengan kisaran 500.001 sampai dengan 1 juta jiwa, sedangkan kategori Kota Sedang adalah daerah dengan jumlah penduduk sekitar 100.001 sampai dengan 500.000 jiwa dan yang terakhir adalah kategori Kota Kecil yang mana dihuni oleh maksimal 100.000 jiwa.
Kemudian terkait dengan indicator pokok yang menjadi senjata pamungkas bagi pemerintah pusat dalam rangka menjatuhkan penilaiannya, maka setidaknya ditemukan dua hal yang menjadi ukuran utama. Pertama adalah terkait dengan kondisi fisik lingkungan perkotaan. Dalam hal ini, yang menjadi pokok persoalan adalah sejauh mana kondisi fisik perkotaan mampu menunjukkan tingkat kebersihan dan keteduhannya. Sedangkan yang kedua adalah terkait dengan kondisi non fisik. Indikator ini dapat diukur dari tingkat kesiapan daerah yang bersangkutan dalam rangka mewujudkan daerah kota yang bersih dan indah.

Sejumlah Pertanyaan

Lalu kalau kemudian dikorelasikan dengan kondisi fisik maupun non fisik Kota Medan saat ini, apakah memang ditemukan sejumlah indikator yang mengarah pada perolehan penghargaan Adipura?. Sudahkah kota yang sekarang ini di bawah kendali Wali Kota Rahudman Harahap ini mampu mencerminkan kota yang benar-benar bersih dan nyaman serta memberikan keindahan bagi masyarakatnya?. Atau setidaknya, adakah indicator yang memungkinkan bahwa perolehan piala Adipura bagi Kota Medan berbanding lurus dengan fakta di lapangan?.

Barangkali sejumlah pertanyaan ini lebih tepat bila dijawab dengan peninjauan langsung di lapangan. Masyarakat tentu bisa melihat fakta yang ada bahwa betapa kondisi kebersihan dan keindahan Kota Medan saat ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan publik, termasuk harapan dalam hal penganugerahan Adipura.konkritnya, marilah bercermin pada fakta yang ada terkait dengan sejauh mana sesungguhnya kota ini layak menyandang predikat kota bersih dan indah dipandang serta memberikan suasana yang nyaman bagi warga dan pihak-pihak yang menyinggahinya.

Jujur harus diakui bahwa masih terdapat sejumlah titik di Kota Medan yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi ramah lingkungan. Lihat saja misalnya kondisi sejumlah pajak tradisional di kota ini seperti pajak Sukaramai, Petisah, Jalan Bulan, Jalan Veteran dan kawasan-kawasan lainnya. Fisiknya sendiri justru masih amburadul dan diwarnai dengan tumpukan sampah di sana sini. Apalagi kemudian kalau sampai pada pola penataan yang justru berkutat pada pola lama. Persoalan yang dialami dan menimpa para pedagang tradisional bukanlah hal baru, bahkan sudah menahun. Namun sampai detik ini belum ditemukan solusi konkrit yang ditawarkan oleh Pemko dalam rangka mengurai persoalan ini.

Demikian juga dengan kondisi fisik sejumlah ruas jalan yang masih berlubang dan drainase yang juga menunjukkan persoalan yang sama buruknya. Maka tidak heran bila terjadi hujan, maka sejumlah kawasan di Kota Medan seketika akan menjadi kawasan banjir. Kalaupun ditemukan sejumlah ruas dan titik jalan yang mampu menunjukkan fisik yang begitu mulus, paling-paling hanya karena dilatarbelakangi bahwa jalan dimaksud memang menjadi jalan protokol yang sangat dimungkinkan akan menjadi daerah perlintasan bagi para pejabat negara maupun daerah.

Lalu kalau demikian halnya, apa sesungguhnya yang mesti dibanggakan dari raihan Adipura bagi Kota Medan kali ini?. Apalagi kemudian sampai melakukan aksi arak-arakan yang justru menambah beban bagi masyarakat karena mengakibatkan terganggungnya aktivitas publik selama aksi arak-arakan berlangsung. Tanpa bermaksud menafikkan raihan dan torehan prestasi versi Pemko Medan, sesungguhnya euforia Adipura bagi kota ini justru mengindikasikan adanya respon yang salah makna dan bahkan salah alamat.

Kalau memang kondisi lingkungan Kota Medan berkorelasi positif dengan penganugerahan Adipura, maka luapan kegembiraan yang digelorakan Pemko menjadi suatu kewajaran. Namun fakta justru berkata lain, segudang persoalan lingkungan hidup di seputar Kota Medan masih mengendap hingga detik ini. Oleh karena itu, maka jangan salahkah bila sejumlah pihak merespon dingin penganugerahan Adipura bagi Kota Medan, bahkan kemudian euforia Adipura pun bisa jadi salah alamat dan tak lebih dari sekadar alat politik guna mencitrakan diri serta kinerja sejumlah pihak.

Penulis: Wakil Direktur Laboratorium Fakultas Hukum Universitas  HKBP Nommensen Medan.

 

Lampu Menyala 24 Jam di Jalan Menteng

082162432xxx

Terima kasih kami ucapkan kepada Pak Wali Kota Medan telah menyalakan lampu penerangan jalan umum di Jalan Menteng 7. Tapi masih sebagian saja yang menyala, dan anehnya lagi pada siang hari juga menyala. Jadi lampu menyala selama 24 jam.

Segera Diperbaiki

Terima kasih informasinya. Mengenai lampu yang menyala 24 jam tersebut, kami akan segera menurunkan pegawai untuk melakukan perbaikan. Dan kami akan mencek dan mencari tahu apa penyebabnya.

Erwin Lubis
Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan