PEMBALAP Caterham F1 Team Heikki Kovalainen mengakui kesalahannya pada kecelakaan di sesi latihan bebas Formula One (F1) GP Kanada, kemarin (9/6) waktu setempat.
Kovalainen mengalami tabrakan hebat, sehingga dia kehilangan kontrol dari CT01-nya dan membantingnya ke dinding. Dampaknya fatal terjadi pada mobilnya, hingga puing-puing dari jet daratnya berhamburan ke aspal.
Tapi meski perbaikan mobil tengah dilakukan oleh para mekaniknya, Kovalianen tetap melanjutkannya dengan mobil lainnya. Meski sudah mengganti mobil, pembalap Finlandia itu hanya bisa menjadi yang tercepat ke-16 pada sesi latihan bebas.
“Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih untuk tim yang telah melakukan dengan baik tugasnya dan menggunakan mobil lainnya untuk bersiap-siap menghadapi Free Practice kedua,” ujar Kovalainen. (bbs/jpnn)
Kovalainen Mengaku Salah
Gaung Suara Mumi Es
Cerpen: Tova Zen
Aku terus memacu langkah kakiku, meski kadang-kadang terasa berat saat kedua kakiku terbenam dalam tanah berlapis salju hingga setinggi tumit. Aku harus hati-hati, karena daerah ini cukup rawan dan sering terjadi runtuhan tebing es, jika aku salah menentukan pijakan pasti aku ikut terkubur bersama ribuan kubik es. Aku terus menanjak naik mengitari Ray mountain di Perque National Los Glacier yang digaung-gaungkan sebagai kawasan World Heritage Site oleh UNESCO.
“Sebentar lagi aku tiba sayangku, tunggu aku di sana”. Ah, entah sejak kapan aku sering mengalami halusinasi yang mengacak-acak pola pikir logisku. Malam ini pun aku kasmaran entah pada siapa aku merasa jatuh cinta. Aneh, bahkan aku menganggap diriku sendiri telah gila. Tidak! Aku masih waras, aku masih manusia normal yang menghuni hamparan bumi ini. Hanya saja suara syahdu yang berdengung-dengung selalu membisikkan ajakannya padaku untuk datang menemuinya. Malam ini aku melangkah mengikuti ajakan suara yang selalu merayuku, mengiba agar aku datang, dan meronta-ronta agar aku sudi menolongnya.
“Gozuarez, cepatlah sayangku. Aku takut di sini. Rasanya tubuhku kaku dan teramat dingin sekali. Bahkan tetes-tetes air mataku bergelimangan menjadi butiran es, leleran air mataku membeku menjadi bongkahan es dan aku benar-benar di tusuk hawa dingin. Kumohon datang lah, peluk lah tubuhku dalam hangat tubuhmu. Supaya aku bisa kembali hidup dalam kehangatan cintamu. Bergegas lah sayang, sebelum sinar rembulan itu redup dan aku kembali mati dalam kubur es”. Suara itu kembali meniup-niup bisikannya untuk menelusuk masuk dalam gendang telingaku, lalu meraba perasaanku oleh kesedihannya dan akhirnya aku dibuatnya luluh dalam rasa iba. Aku akan bergegas menolongnya sebelum fajar datang menghantam. Suara itu mengatakan jika rembulan tak bersinar lagi, berarti ia akan terkubur mati dalam es. Aku akan merasa sangat bersalah seandainya aku tak bergegas datang menemuinya. Hanya dalam temaram sinar rembulan yang menyorot hamparan es Pantagonia, suara itu sayup-sayup hidup dan terus mengusik kepekaan perasaanku.
“Tunggu aku sayang, aku akan segera tiba untuk menemuimu. Aku tak akan membiarkan sinar fajar datang sebelum aku menjumpaimu dan membebaskanmu. Aku rindu sekali untuk berjumpa denganmu. Kau tahu, aku pun menangis mendengar jerit siksa dukamu. Tenanglah sayang, aku tak lama lagi akan tiba di hadapanmu. Bersabarlah, aku pasti datang dalam temaram sinar rembulan Pantagonia untuk kembali menyatukan cinta kita”. Jawabku dalam getaran lirih pita suaraku untuk membalas jeritan pilu suaranya yang semakin jelas terdengar di benakku.
“Di sini! Kau telah menemukannya. Aku mendengarkan gerak langkah kakimu. Cepatlah sayang, sebelum awan hitam itu kembali muncul dan menutupi pancaran sinar rembulan. Tanpa energi gaib sinar rembulan aku pasti kembali mati”.
“Di mana? Di manakah kau berada”. Teriakku pada sekeliling. Aku tak melihat apa pun yang bergerak, hanya hamparan tebing es yang menatap pongah ke arahku.
“Langkahkan kakimu di pinggiran danau. Tepat di pinggiran danau kau akan merasakan kehangatan sinar rembulan yang berbeda, karena aku menyerap energi gaibnya. Kumohon, bebaskan aku dari kubur bumi. Aku takut di sini, sendiri di peluk sepi.” Aku bergegas menghampiri danau kecil yang terpantul bayangan bulan. Aneh, di sekitar sini terasa begitu hangat, padahal di sekelilingku adalah hamparan gunung es.
Lagi-lagi aku di usik perasaan yang aneh. Entah mengapa aku bisa jatuh cinta pada suara yang memperdengarkan dentingan merdu suaranya di telingaku. Aku seperti pria yang terbuai rindu dan mencoba untuk memecah kerinduanku, dengan menuruti ajakan suara yang terus merasuk dalam kalbuku. Suara itu, aku seperti telah mengenal suara itu. “Gozuarez! Mendekat lah ke tebing tak jauh dari danau itu. Saat kau mencium wangi katsuri maka cari lah sumbernya, maka kau akan menemukan jasadku. Kecuplah keningku, agar aku tersadar dari tidur panjangku”.
Aku segera mengayun langkah untuk menuruti ajakan suara yang terus memberikan petunjuk keberadaannya. Suasana malam di Patagonia sangat hening, hanya suara wanita yang lembut terdengar merayu-rayu gendang telingaku. Suara yang sungguh manis, bahkan aku belum pernah mendengar suara selembut ini sebelumnya.
Hidungku mengendus-endus wewangian yang harum semerbak. Aku berjalan mengikuti wangi itu yang kian lama kian menusuk rongga hidungku. Bahkan aku menutup mata saat menghayati betapa nikmatnya wewangian yang tercuim hidungku. Wangi yang menggoda hingga tulang-tulang dalam tubuhku nyaris lunglai di rundung harum. Semakin dekat ke sumbernya, wangi itu semakin kuat. Aku menatap tebing batu gunung Patagonia yang masih dilapisi es glatser. Aku yakin di tebing ini lah sumber wangi itu berasal. Aku masih menatapnya dengan heran. Apakah aku berjalan dalam mimpi hingga aku nekat menghadap tebing yang cukup curam? Kutatap tebing itu. Aku mendongak ke atas, untuk menyakinkan seberapa tinggi tebing gunung es ini. Cukup tinggi dan aku berdiri di lembahnya.
“Mendekat lah! Aku di depanmu, aku tertempel di dinding tebing, aku membatu dalam beku es dinding-dinding tebing. Mendekat lah! Rabalah tubuhku yang sudah rusak dan menyatu menjadi mumi. Kumohon jangan takut. Hanya kau yang bisa membangunkanku. Hanya kau yang mampu mendengar bisikanku. Kau lah pangeran impianku yang mampu membangkitkanku kembali. Gozuarez! Kecuplah keningku”.
Dengan cahaya senter aku menyoroti tebing yang tertutupi lapisan es tebal. Aku terus meraba-raba dinding tebing untuk mencari jasadnya. Jemariku merasakan rasa hangat pada es yang seharusnya dingin. Di titik tebing ini lah sumber keharuman itu melekat. Aku dibuai rasa penasaran yang amat sangat. Kerinduan dalam diriku semakin pekat. Sementara sisi logis dalam pikiranku meremang ngeri melihat tindakanku. Dua sisi pikiran yang saling tarik merarik. Sisi pikiran normalku menyuruhku untuk segera mengambil seribu langkah agar kabur. Sementara sisi pikiranku yang telah teracuni suara itu mengajak agar aku segera melakukan pembongkaran lapisan es yang menutupi tebing, kerena di sana lah jasad itu terbenam.
“Gozuares! Adapa apa? Kenapa kau bimbang untuk segera membangunkanku. Aku bukan iblis jahat yang akan menyesatkanmu. Aku bukan peri yang ingin menggodamu. Aku hanya lah wanita yang merindu akan datangnya sosok pangeran yang bisa membangunkanku dari tidur panjangku. Aku terkubur kaku di tebing ini lebih dari empat abad dan dalam waktu yang sekian lama itu, aku menantikan sosok pria yang ditakdirkan bisa mendengarkan keluhanku dan akhirnya bisa membangunkanku. Kau lah orangnya, Gozuares! Kau lah pria yang terpilih untuk membebaskanku. Kumohon padamu untuk membangunkanku. Aku telah lama menangis sepi. Dan hanya temaram rembulan ini lah aku bisa menyuarakan keluhanku padamu. Jangan sampai kau terlambat, Gozuarez. Aku lelah menunggu di sini”.
Aku sempat gemetar. Akan tetapi suara lembutnya membuat hatiku luluh dan dirangkul perasaan iba. Akhirnya dengan perlengkapan pahat yang sengaja ku bawa, aku mengeruk es yang menempel tebal di dinding tebing.
Peluh mulai mengaliri tubuhku yang kuyup dibanjiri keringat. Nafasku tersengal saat tenagaku terkuras habis-habisan untuk menggerus es di dinding tebing. Sampai pada suatu titik, mata pahat pisauku menggerus kayu lapuk. “Krok..krok!” bunyi khas papan kayu yang tergerus mata pisau. Aku bersihkan semua es yang menempel di permukaan kayu. Aku melihat dengan takjub hasil kerjaku. Di dinding tebing aku melihat peti kayu yang tertempel di batu tebing. Aku bergeming menatap peti kayu itu. Bimbang kembali merengkuh pikiranku.
“Buka lah peti ini, Gozuarez! Lantas kecuplah keningku! Ayolah sayang, jangan kau berlama-lama memandingi petiku”.
Aku kembali melangkah untuk membuka peti kayu. “Kraak!!”, bunyi lapuk kayu yang ku bongkar paksa begitu membahana, menggaung dan meloncat-loncat dalam pantulan gema di lembah Patagonia. Mataku mendelik ngeri melihat jasad yang terpampang di dalam peti. Ya, seongok mumi wanita yang mengenakan baju bangsawan ala Spanyol. Tubuhku merinding dalam kengerian. Mumi yang masih utuh dalam timbunan dingin es pegunungan Patagonia.
“Kecuplah keningku! Ayo jangan ragu, Gozuarez”. Pikiran normalku membayangkan kengerian, tapi pikiranku yang lain merindunya. Aku adalah pangeran yang datang untuk mengecup mumi. Tidak sama dengan dongeng putri salju, di mana pangeran mengecup putri cantik yang tertidur panjang. Di sini aku di hadapkan oleh raga busuk yang telah mengering, dan suara itu menyuruhku untuk segera mengecupnya. Aku mendengar suara itu mengiba, bahkan menangis pilu. Lagi-lagi aku direnggut perasaan haru.
Aku sering melihat mumi, bahkan aku pernah meneliti mumi Firaun yang berbau balsem itu. Mumi yang ada di depanku menyeruakkan harum katsuri. Ya, aku harus mengecupnya agar aku bisa membebaskanya dari belenggku tidurnya. Aku melangkah mendekat, mataku sayu menatap mumi yang tertongol daging kering serta tulang-tulang terngkorak. Lebih dekat aku bisa melihat warna rambut panjangnya berbias dalam temaram merah madu. Aku memompa keberanianku untuk mengecupnya. Saat bibir ini dekat dengan keningnya, rasanya kerinduan yang entah datang dari mana langsung menyerangku. Aku terbuai dalam kasih, dan rasaya aku mulai bercinta dalam gelora. Satu kecupan kasih kudaratkan di keningnya: cups!.
Mumi itu tiba-tiba tersenyum. Aku langsung meloncat ke belakang untuk menjauhinya. Jangan-jangan aku telah membangkitkan monster. Tidak! Mumi itu bergerak, tulang-tulangnya yang kering mulai menggerak-gerakkan otot garingnya. Mulutnya mengeluarkan uap dingin, nafasnya terengah dengan gerakan-gerakan dada turun naik saat mumi itu menarik pelan nafasnya. Matanya tiba-tiba melirikku yang terjungkal di hamparan salju karena takut. Matanya yang mengerikan menebarkan kasih sayang padaku, bibirnya tersenyum mesra padaku. Kembali aku dibuai perasaan rindu oleh rayuan mumi ini. Kini mumi itu berjalan mendekatiku, pelan dan konstan. Tubuhnya tiba-tiba berubah saat bias sinar rembulan menyinarinya, seketika daging-daging kering itu bergenerasi secara cepat dan menjadi muda kembali. Aku melihat perubahan itu. Di permandian sinar rembulan tubuhnya berubah sangat cantik, mengalahkan kelembutan sutra dan kehalusan porselen dari negeri Cina.
Aku benar-benar terpana melihat perubahan dari mumi ke bidadari paling indah. Matanya sangat lembut, senyumnya merekah indah, wajahnya bersinar mesra. Jemari lentiknya diacungkan untuk menyambut tanganku. “Terima kasih, Gozuarez. Kau telah membebaskanku. Sekarang aku adalah milikmu dan selamanya akan bersamamu”.
Air mataku tiba-tiba berlinang haru mendengar ungkapan manisnya. Akankah ia sudi menerimaku sebagai kekasihnya?. Aku adalah pria penyendiri yang tak cukup tampan untuk menandingi kesempurnaan jasad bidadarinya. Tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku, merangkul pinggangku dan berbisik lirih di telingaku. “Ayo kita pulang sayangku, jangan berdiam diri di dinginnnya suhu gunung es Patagonia”. Aku menuruti ajakannya. Kami berjalan di hamparan es Ray Mountain yang putih bersih dalam siraman sinar rembulan. Enatahlah, aku merasakan mumi cantik gunung es ini milikku, kekasihku, dan belahan dari kepingan rindu dalam diriku. Aku memang mencintainya. Dunia ini memang penuh dengan fiksi gaib, yang memiliki keindahan dalam membangun hasrat cinta, begitu juga cinta yang ku bangun pada mumi cantik gunung es ini. Aku benar-benar hidup dalam dunia gaib yang orang-orang tak pikir aku berada dalam komunitas mereka bersama mumi hidup. Aku telah lama mati. (*)
Berebut Kamar Hotel Sabtu Pagi
Sabtu pukul setengah delapan. Listrik di rumah saya yang sejak pukul sepuluh malam padam belum juga menyala. Saya mati bakat; tak tahu harus berbuat apa.
Jujur, ketergantungan saya terhadap listrik telah begitu parah. Saking parahnya, bisa mengalahkan ketergantungan saya terhadap bahan bakar minyak. Contohnya, ketika si Lena (sepeda motor saya) kehabisan bensin dan saya tak punya uang untuk membeli bahan bakar itu, saya tidak begitu suntuk. Ya, saya masih bisa jalan kaki dan kalau jaraknya jauh, saya masih bisa numpang kendaraan kawan.
Nah, soal listrik cukup mengerikan. Buktinya, Sabtu pagi kemarin. Suntuk di kepala sedemikian hebat. Televisi tidak bisa dinyalakan. Telepon seluler minim daya. Dan, air di bak kamar mandi hanya cukup untuk cuci muka dan sikat gigi (saya tidak berlangganan air dari perusahaan daerah itu, tapi mengandalkan air tanah yang disedot oleh mesin bertenaga listrik). Parahnya lagi, saya pun tak bisa minum kopi di pagi hari! Tak ada persediaan air, listrik telah padam sejak pukul sepuluh malam.
Ya, daripada suntuk makin jadi, saya ajak istri yang bermimik putus asa gara-gara listrik, untuk pindah rumah sementara ke hotel. Nah, di sinilah cerita baru dimulai…, fiuh.
Berangkat dari Jalan Panglima Denai, kami memilih untuk menjajal Jalan Sisingamangaraja. Di jalan itu, setahu saya banyak hotel dengan harga bervariasi, terutama di seputaran Masjid Raya Medan. Namun, belum sampai ke kawasan itu, di dekat Stadion Teladan ada hotel bertingkat, menawarkan harga yang menggoda. Pada spanduk di depan hotel itu, tertulis Rp250 ribu untuk satu malam. Ya sudah, kami berbelok.
Usai memarkir si Lena di belakang hotel, saya dan istri langsung ke resepsionis. Hm, kakak-kakak yang bertugas tersenyum. Wajar. Tapi, saya merasa senyumnya dipaksakan. Pasalnya, dia kelihatan bingung melihat saya dan istri. Bagaimana tidak, muka kami lucu. Muka baru bangun tidur yang tentunya tidak seperti tamu hotel kebanyakan.
Sudahlah, tanpa basa-basi, saya langsung memesan kamar seharga tulisan di spanduk tadi.
“Habis, Pak. Yang ada cuma deluxe, itupun tinggal satu,” kata si resepsionis.
Saya intip harganya. Saya lirik sang istri. Tanpa kata, kami berdua balik kanan. Harga kamar seperti di spanduk tak ada, bagus cari yang lain.
Kembali ke parkiran. Nyalakan si Lena, kami pun berangkat menuju kawasan seputaran Masjid Raya. Lucunya, karena jalanan masih sepi, kami malah tergoda untuk mencoba hotel-hotel lain. Maka, kami berbelok ke kanan usai pusat perbelanjaan di seberang Masjid Raya itu. Di jalan itu, setahu kami, juga banyak hotel dan penginapan. Dan, berhentilah kami di sebuah hotel yang hanya berjarak paling jauh seratus lima puluh meter dari perempatan pusat perbelanjaan itu. Hotel itu berada di sisi kiri jalan dia bertingkat. Tampilannya juga cukup menjanjikan.
“Kelas standar dan superior habis,” kata resepsionis.
“Lux jadilah,” sahut saya percaya diri karena melihat harga yang masih terjangkau. Pun, tarif untuk kamar super lux, siapa takut?
Sayangnya, ketika mengecek kamar, ada suasana yang tak nyaman. Aroma tak sedap langsung menyergap hidung. Kamar mandi, waduh, ampun.
Istri saya langsung inisiatif, mengajak untuk melihat kamar super lux. Hasilnya kamar itu memang lebih luas. Sekali lagi sayang, kondisinya sama saja. Fiuh.
Ya sudah, sambil berusaha senyum, kami permisi. Tidak jadi.
Lalu, sekian hotel kami jajali lagi. Sebagian besar hotel yang memang sudah bernama di Medan; tentunya masih di seputaran Masjid Raya Medan. Dan, rata-rata kamar habis. Hotel yang sering menjadi tempat artis ibu kota hingga tempat pemain bola juga kami coba. Sayangnya, penuh.
Badan makin gerah. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Perut lapar. Kami pun singgah di sebuah rumah makan yang terkenal di kawasan itu. Rumah makan Padang. Kami memesan lontong; maklum sarapan. Dua gelas teh manis panas pun kami pesan. Sial, harganya tiga puluh tujuh ribu lima ratus rupiah. Tapi, kesialan itu ternyata berbuah nikmat. Rumah makan itu bergabung dengan hotel. Berlabel hotel keluarga, kami melihat suasananya cukup nyaman. Ya sudah, kami datangi resepsionis. Tebak apa jawaban resepsionis? Ya, kamar penuh.
Tapi, sang resepsionis tiba-tiba bicara, katanya akan ada yang keluar satu jam lagi. Kamarnya kelas suite. Jadi, kalau kami mau sabar, dipersilahkan menunggu.
Saya pandangi istri yang sedang memandang saya. Dan, melalui tatapan, kami sepakat untuk menunggu. Ya, sudah capek berburu kamar hotel di akhir pekan.
Akhirnya, pukul setengah sepuluh kami langsung masuk. Begitu pintu dibuka room boy, kami tersenyum. Kamar cukup menyenangkan. Pantas saja, suite!
Terserahlah, masalah harga urusan belakang. Begitu room boy pergi, saya dan istri langsung suntuk. Pasalnya, kami berdua berebut untuk mandi dan juga berebut untuk menambah daya telepon seluler kami. Ealah…. (*)
Operasi Patuh Toba Tekan Angka Kecelakaan
BINJAI- Puluhan petugas Satlantas Polres Binjai menggelar Operasi Patuh Toba di Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Satria, Kecamatan Binjai Kota dan Jalan Soekarno-Hatta, Binjai Timur, Sabtu (9/6) sekitar pukul 08.30 WIB.
Kehadiran puluhan personel Satlantas ini, tampak mengejutkan warga yang melintas di dua ruas jalan utama Kota Binjai itu. Soalnya, tak biasa-biasanya petugas melakukan operasi di pagi hari. malah, ada diantara pengguna jalan yang harus memutarkan kendaraannya karena takut ditilang petugas.
Padahal, puluhan personel kepolisian ini hanya ingin membagi-bagikan bunga kepada pengguna jalan sebagai wujud kedekatan kepolisian dengan masyarakat.
Selain memberikan setangkai bunga, petugas juga mengimbau pengendara betapa pentingnnya menggunakan perlengkapan saat berkendaraan.
Agar pengendara terhindar dari kecelakaan lalu lintas yang dapat merenggut nyawa. Mulai dari memakai helm dengan benar, tidak berbonceng melebihi dua orang bagi pengendara sepeda motor dan memakai sabuk pengaman bagi pengguna mobil.
“Kami kira tadi ada razia, makannya kami sedikit khawatir saat melintas. Rupannya, kami cuma diberikan setangkai bunga dan imbauan mengenai kelengkapan berkendaraan,” kata Sandra (25), salah seorang pengendara yang diberikan setangkai bunga.
Menurut Kanit Rek Iden Satlantas Polres Binjai Iptu Ali Umar ketika ditemui di lokasi operasi menyebutkan, operasi ini dilakukan untuk menggenjot angka kecelakaan lalu lintas yang menjadi pembunuh terbesar di jalanan.
“Operasi ini dilakukan agar pengendara lebih hati-hati. Bayangkan saja, pertahunnya kecelakaan bisa merenggut nyawa manusian mencapai puluhan ribu,” kata Ali Umar.
Dengan diadakannya sosialisasi ini, Satlantas berharap, dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas yang kerap merenggut nyawa itu. Selain itu, agar para pengendara sadar betapa pentingnya mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan memakai pengaman saat berkendara.
“Kita berharap bagi pengguna jalan raya mematuhi rambu lalu lintas serta pentingnnya perlengkapan saat berkendara, agar nyaman saat mengendarai kendaraannya,” lanjutnya. (ndi)
Poldasu Incar 10 Warga untuk Ditangkap
Terkait Bentrok di Kutalimbaru
MEDAN- Pasca kerusuhan di lahan eks HGU PTPN2 kebun Sei Semayang, Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) telah menetapkan 6 tersangka, tak menutup kemungkinan 10 warga lainnya bakal menyusul jadi tersangka.
Seperti diutarakan Kasubdit III/Umum, Direktorat Reserse Kriminal Umum Poldasu, AKBP Andry Setiawan,Sabtu (9/5) petang. Menurut dia, Poldasu sudah mengantongi nama-nama warga yang akan ditangkap.
“Kami sudah kantongi nama-namanya. Dalam waktu dekat kami tangkap mereka,” kata Andry.
Dia membeberkan, sejumlah warga yang sudah dikantongi namanya itu diketahui masing-masing keterlibatannya saat membakar mobil Colt Diesel milik PTPN2. Hingga kini, tim dari Poldasu masih menyisir di lokasi bentrok.
“Enam warga yang ditahan itu terlibat dalam pembakaran mobil milik PTPN2. Kami masih incar sekitar sepuluh warga lagi yang ikut membakar mobil itu,” ungkap Andry.
Saat disinggung mengenai tidak adanya surat penangkapan yang diberikan pihaknya saat mengamankan warga yang ditahan itu, Andry enggan memberi jawaban. “Ya, mereka telah melakukan tindakan kriminal karena terlibat dalam pembakaran mobil. Mereka wajib kita tahan,” beber Andry.
Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, Poldasu telah menangkap sedikitnya enam warga Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deliserdang, dalam beberapa hari terakhir.
Pada Jum’at (8/6) lalu, ratusan warga Sei Mencirim, Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang yang tidak terima dengan penangkapan itu, mendatangi Markas Poldasu. Mereka melakukan unjuk rasa untuk mendesak Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, agar segera melepaskan enam warga yang ditangkap pihak Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Poldasu.
Warga yang didominasi oleh ibu-ibu, mengaku anggota keluarganya telah ‘diculik’ dan ditangkap oleh pihak Reskrimum Poldasu, tanpa alasan yang jelas. (mag-12)

