Home Blog Page 13417

POBSI Eksis Menjaring Atlet

MEDAN- Persatuan Olahraga Billiard Seluruh Indonesia Sumatera Utara (POBSI) Sumut menggelar ajang pencarian atlet tingkat Sumut bertajuk Kompetisi  Nine Ball antar Pelajar dan Mahasiswa di Pusat Pelatihan POBSI Sumut Jalan Pattimura No 163 Medan, 4-7 Juni.

“Kejuaraan ini meruipakan ide Ketua Pengprov POBSI Sumut Salomo TR Pardede untuk terus menjaring atlet potensial yang akan dibina secara intensif dan berkesinambungan,” tutur Achmad Fadil Nasution, Ketua Panitia, kepada wartawan kemarin (4/6).

Selanjutnya, Fadil yang juga Ketua Bidang Pembinaan Prestasi POBSI Sumut menerangkan bahwa even kali ini hanya diprenutukkan bagi pemula.
Bagi yang ingin mengikuti even ini dapat mendaftar via nomor 081396961500 dan 08126321607 atau datang langsung ke tempat even berlangsung.

Adapun persyaratan administratif yang harus dipenuhi adalah peserta harus membawa kartu mahasiswa dan pelajar, usia maksimal 25 tahun.
Pertandingan dengan sistem gugur, satu orang yang lolos dari delapan peserta setiap pool akan berlanjut ke babak selanjutnya. (mag-10)

Dua Bupati Resmi Mendaftar ke Demokrat

Kalau pekan lalu Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumut kedatangan dua mantan jenderal bintang tiga yakni Letjen (Purn) AY Nasution dan Letjen (Purn) Cornel Simbolon yang secara resmi mengembalikan formulir, Senin (4/6), giliran dua kepala daerah yang datang mendaftar ke Kantor DPD Partai Demokrat di Jalan Multatituli.

Keduanya adalah Bupati Deliserdang Amri Tambunan dan Bupati Serdangbedagai (Sergai) HT Erry Nuradi. Amri Tambunan menyerahkan berkas pencalonan dirinya pada pukul 08.30 WIB, sedangkan HT Erry Nuradi datang bersama timnya sekitar pukul 16.00 WIB.

Dari 12 orang yang mengambil formulir Cagubsu di Partai Demokrat, tercatat tujuh nama sudah mengembalikan formulir alias resmi mendaftar ke partai berwarna kebesaran biru tersebut, yakni Sutan Bhatoegana, Letjen (Purn) Cornel Simbolon, Letjen (Purn) AY Nasution, Gus Irawan, Amri Tambunan, HT Milwan, dan HT Erry Nuradi.

“Pendaftaran akan ditutup Selasa (5/6) atau hari ini. Setelah itu seluruh berkas akan diserahkan ke tim survei DPP,” kata anggota Tim-9 DPD Partai Demokrat Sumut, Meilizar Latief.
Saat dikonfirmasi Sumut Pos seusai mendaftar di Kantor Sekretariat DPD I PDI-P Sumut di Jalan Hayam Wuruk, Senin (3/6) petang, Erry mengakui dirinya sudah secara resmi mendaftar ke Demokrat. “Ya, tadi sekitar pukul 16.00 WIB,” ujar lelaki berkumis ini.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Sumut, HT Milwan resmi mendaftar sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) 2013-2014 di partainya sendiri Sekretariat Kantor DPD I PD Sumut, Jalan Multatuli, Medan, Senin (4/6), pada sekira pukul 10.00 WIB. Datang menumpang Toyota Land Cruiser Prado dengan plat polisi BK 805 JK, Milwan diterima anggota tim-9 PD Sumut yakni, Tahan Manahan Panggabean, Hasbullah Hadi, Meilizar Latief, dan Arif Rahmansyah Marbun.

Seusai penyerahan berkas, Milwan meyakinkan, banyaknya kader Demokrat yang mendaftar sebagai Cagubsu bukan mengartikan adanya perpecahan di tubuh partai berlambang mercy tersebut.

Pasalnya proses yang dilakukan sekarang baru sebatas pejaringan bakal calon (balon). Belum tentu yang mendaftar akan memenuhi seluruh syarat yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

“Ibarat baju ya, ini kan masih ditumpuk-tumpuk. Belum dipilih juga. Seluruh pendaftar akan dibawa ke pusat untuk disurvei baru diserahkan kepada Jakarta. Ini masih berproses. Seluruh kader punya kans yang sama,” ungkapnya. Jika kelak DPP memutuskan siapa yang layak diusung, menurut Milwan, seluruh kader wajib mendukung keputusan tersebut tanpa terkecuali.

“Kita lihat saja siapa yang nanti ditetapkan pengurus pusat menjadi wakil partai di Pilgubsu tahun depan. Kalau saya, ya inginnya saya yang dipilih. Politik kita ini kan sepertinya gampang, kita bilang A tapi kalau Tuhan berkehendak lain ya, mana bisa diganggu gugat lagi,” dia menambahkan.

Milwan mengingatkan pada Pilgubsu 2008  Partai Demokrat justru mendukung Abdul Wahab Dalimunthe yang tadinya berasal dari partai lain. Mantan Bupati Labuhanbatu itu juga menolak sinyalemen yang mengatakan partainya sebetulnya sudah punya nama Cagubsu.

Sejauh ini, lanjut dia, belum ada nama yang mendaftar ke Demokrat yang telah mengantongi restu dari Presiden SBY selaku pimpinan Dewan Pembina Partai Demokrat.

“Bila ada yang mengklaim sudah dapat restu dari ketua Dewan Pembina, itu omong kosong. Saya yakin seluruh calon yang mendaftar ke partai ini punya peluang dan kemungkinan sama sebagai Cagubsu,” tandasnya.

Disinggung adanya dua jenderal bintang tiga yang mendaftar ke Demokrat, yakni Letjen AY Nasution dan Letjen Cornel Simbolon, Milwan membantah Demokrat condong mengusung Cagubsu dari TNI. Dia menegaskan Demokrat tak ada kebijakan khusus untuk mengistimewakan Cagubsu dari purnawirawan jenderal.

“Tak ada kecenderungan kepada sosok TNI. Siapapun terbuka mendaftar. Mantan anggota TNI, pensiunan PNS, atau kalangan pengusaha peluangnya sama,” tuturnya. Ditanya peluangnya, Milwan mengaku optimistis diusung Demokrat di Pilgubsu tahun depan.

“Masalah optimistis itu, saya berjuang itu diawali optimisme. Jika tidak terpilih harus berjiwa besar dan loyal kepada partai,” tukasnya. Ketika ditanyakan kasus korupsi Rp30 miliar yang membelitnya saat menjadi orang nomor satu di Kabupaten Labuhanbatu, Milwan membantah. Dia mengatakan dirinya adalah sosok yang bersih dan tak punya kasus hukum. ‘’Tak benar itu. Saya tak punya masalah korupsi,” tukasnya. (ari)

Milik Tuan Rumah

Pelita Jaya v Mitra Kukar

KERAWANG-Laga di ajang Indonesia Super League (ISL) terasa semakin seru. Semua tim terlihat berusaha meraih kemenangan atas lawan-lawannya. Tak terkecuali Pelita Jaya dan Mitra Kukar.

Sayangnya, menghadapi Pelita Jaya di Stadion Singaperbangsa Kerawang, hari ini (5/6), Mitra Kukar dirundung masalah. Tim berjuluk Naga Mekes ini dipastikan akan tampil timpang, setelah kehilangan empat pemain yakni Arif Suyono, Zulham Zamrun, Seiji Kaneko dan Gustavo Bahoken akibat akumulasi kartu.

Selain keempat pemain tersebut, Mitra Kukar juga kemungkinan belum dapat menurunkan Stoper Hamka Hamzah yang tengah dililit cedera dan gelandang serang Nemanja Obric yang tengah dalam pemulihan usai menjalani operasi.

“Situasi di tim kita memang kurang mendukung, dimana kita akan berlaga tanpa enam pemain inti kita, empat diantaranya terkena akumulasi dan dua lainnya cedera,” terang Assisten Manager Tim Mitra Kukar, Nor Alam.

Kendati demikian dikatakan Alam, pihaknya tetap optimistis dapat meraih poin dikandang Pelita Jaya. Lanjut dikatakannya sejumlah pemain juga telah dipersiapkan pelatih Steffan Hansson untuk menggantikan pemain yang absen.

“Untuk peran Zulham kemungkinan akan digantikan Isnan Ali, Sementara untuk posisi Arif Suyono kemungkinan akan digantikan Fadhil Sausu atau Heru Nerly,” tuturnya.
Kekalahan telak 5-1 atas tuan rumah Persib Bandung, dilaga sebelumnya dari hasil evaluasi yang dilakukan pelatih Steffan Hansson, dikarenakan kurang solidnya lini pertahanan tim.

“Menghadapi Pelita nanti, tak ayal rotasi pemain belakang terpaksa harus dilakukan, karena absennya tiga pemain kita. Pelatih juga memanggil dua tambahan pemain cadangan yang tidak masuk dalam rombongan tur Jawa Barat,” imbuhnya.

Kedua pemain tersebut yakni Amin Syarifudin (kiper) dan Elvis Nelson Anes (belakang). “Amin dipersiapkan mendampingi Hendro Kartiko yang kemunginan besar akan diturunkan kontra Pelita setelah Joice Sorongan mendadak kondisinya menurun,” papar Alam. (bbs/jpnn)

KONI Medan Siapkan Konsultan

MEDAN-Untuk mendukung grand design (rencana besar) peningkatan pembinaan olahraga, KONI Medan mempersiapkan tim konsultan olahraga yang nantinya bertugas mengawal, mengawasi, dan membantu percepatan pembinaan dan pengembangan olahraga di Medan.

“Kita telah mempersiapkan tim konsultan olahraga di KONI Medan,” jelas Ketua KONI Medan, Drs Zulhifzi “Opunk” Lubis ketika mengunjungi pelatihan cabang olahraga bulutangkis, di GOR Taman Malibu, Medan, Sabtu (2/6).

Dalam kunjungan itu Opunk didampingi Kabid Pembinanan dan Prestasi, Drs Bambang Riyanto, petugas monitoring cabang olahraga bulutangkis, Syamsir. Sedangkan rombongan diterima oleh Ketua Pengcab PBSI Medan, Thamrin dan koordinator pelatih Aswin Nasution.

Menurut Opunk, tim konsultan olaharaga ini berfungsi membimbing insan olahraga di Medan.

Konsultan olahraga sudah mulai bekerja sejak 1 Juni lalu, terutama yang berkaitan dengan penyusunan program olahraga. Apalagi dalam waktu dekat, semua program untuk 2012 sudah tersusun mulai bulan Oktober 2011. “Maka silakan datang ke KONI untuk berkonsultasi,” katanya. (jun)

Benny Tolak Posisi Cawagubsu

JAKARTA- Mendaftar lewat perahu PDI-P, Benny Pasaribu secara tegas menolak dirinya diposisikan sebagai calon wakil gubernur (cawagub). Pasalnya di Pilgubsu 2008 silam cukup banyak masyarakat yang kecewa atas pilihannya maju sebagai cawagub mendampingi Tri Tamtomo.

“Kalau dijadikan wakil gubernur akan langsung saya tolak,” katanya kepada Sumut Pos, Senin (4/6). Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini mengatakan apa yang dikatakannya sah-sah saja. Mengacu perolehan suara di Pilgubsu 2008 silan, pasangan Tri Tamtomo-Benny mengantongi 1,1 juta suara pemilih.

Dia yakin di Pilgubsu tahun depan perolehan suara itu bertambah besar mengingat perkiraan tim sukses RE Siahaan dan Syamsul Arifin di Pilgub 2008 di wilayah Tapanuli akan beralih mendukung dirinya. “Jadi kekalahan yang kemarin itu kemenangan tertunda. Tinggal sedikit lagi. Saya harus maju sebagai cagub dan bukan wagub,’’ tegasnya berulangkali.

Kendati hingga kini sejumlah nama sudah masuk dalam bursa penjaringan calon di PDI-P, Benny tak khawatir. Sebab mengacu pengalaman di Pilgubsu sebelumnya, proses penjaringan juga diikuti tokoh-tokoh ternama seperti Chairuman Harahap, Yasona Laoly, dan enam tokoh lainnya. Akan tetapi DPP PDI-P  justru memberikan kepercayaan kepada dirinya. “Meskipun banyak yang mendaftar  saya tetap yakin. Justru terpenting adalah memilih pemimpin bersih dari atas sampai bawah,”ungkapnya.

Ditemui terpisah, Sekretaris DPD I PDI P Sumut, HM Affan, kepada Sumut Pos menjelaskan, Erry Nuradi menjadi orang ke enam yang resmi mendaftar ke DPD PDI-P Sumut. Lima nama lain yang lebih dulu mendaftar adalah RE Nainggolan, Bintatar Hutabarat, Benny Pasaribu, Gus Irawan, dan Syahrul Effendi Siregar.  (gir/ari)

PPP Ogah Sandingkan Fadli dengan Gatot

JAKARTA – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah menetapkan akan mengusung Fadli Nursal dalam pilgub Sumut 2013 mendatang. Fadli Nursal pun tidak dipatok kaku harus jadi cagub. Peluang turun grade menjadi cawagub dibuka lebar.

Hanya saja, partai berlambang Kabah itu sudah memastikan tidak akan berkoalisi dengan PKS, yang sudah menetapkan Gatot Pujo Nugroho sebagai cagub yang akan diusung.
Wakil Ketum PPP, Hasrul Azwar, tanpa basa-basi menyatakan, partainya ogah bergandeng tangan lagi dengan PKS.

“Nggak, nggak. Rasanya berdasarkan pengalaman bersama PKS selama ini, sudah mengajarkan kepada kami,” ujar Hasrul Azwar saat dihubungi Sumut Pos, kemarin (1/6).
Ketua Fraksi PPP di DPR itu langsung mengatakan hal tersebut, begitu ditanya soal peluang PPP berkoalisi lagi dengan PKS, sebagaimana terjadi pada pilgub 2008 silam, yang mengusung pasangan Syamsul Arifin-Gatot.

Sudah pasti tak mau menggandengkan Fadli dengan Gatot? Lagi-lagi, Hasrul menjawab,” Kami harus berpikir dua kali untuk menjalin kerjasama dengan PKS.”
Mengapa, sakit hatikah? “Nggak usahlah saya uraikan,” ujar Hasrul, yang merupakan kawan dekat Syamsul Arifin itu.
Tak mau dengan PKS, lantas maunya dengan partai apa? Hasrul mengatakan, hingga saat ini dirinya belum pernah berbicara dengan petinggi partai lain untuk urusan koalisi pada pilgub 2013 mendatang. PPP belum pernah menghubungi atau mendatangi elit partai lain, begitu pun belum ada partai lain yang mendatangi PPP.

Menurut Hasrul, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, pembicaraan koalisi pada sejumlah pilgub biasanya baru kencang terjadi tiga bulan menjelang pendaftaran pasangan calon ke KPUD.
Untuk saat ini, lanjutnya, tahapannya masih diramaikan dengan gerakan sosialisasi para kandidat. Fadli Nursal sendiri disarankan Hasrul untuk gencar mendekati rakyat dan mensosialisasikan visi misi dan programnya.

Hasrul ingin Fadli punya gaya mirip Syamsul saat jelang pilgub 2008 silam. Syamsul, katanya, dengan slogan ‘rakyat tak lapar, rakyat tak bodoh, rakyat tak sakit’, cukup mengena di hati rakyat.
Fadli, kata Hasrul, sudah mencoba melakukan hal seperti itu, dengan menampilkan diri sebagai sosok yang cerdas, santun, dan bersahabat.

Terpisah, Bupati Asahan Taufan Gama Simatupang justru mengajak masyarakat untuk mendukung Fadly Nurzal sebagai bakal calon Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018. Seruan ini disampaikannya saat menutup kemah bersama (Kemasa) yang diselenggarakan Kemenag Kabupaten Asahan, di Bumi Perkemahan Universitas Asahan (UNA), kemarin. Acara itu diikuti peserta dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Ponpes se-Kabupaten Asahan.

“Fadly Nurzal adalah tokoh muda Islam yang kita percaya mampu memimpin Sumut ke depan. Untuk itu sudah sepantasnya memberikan dukungan dan memilihnya. Kalau di Asahan, bupatinya anak pesantren, saya berharap Gubsu ke depan juga dipimpin anak pesantren,” kata Taufan Gama Simatupang.

Taufan meminta para peserta Kemasa tak merasa minder saat menuntut ilmu di madrasah dan pondok pesantren. Sebab kualitas pendidikan di madrasah dan Ponpes tak kalah dengan pendidikan umum. (sam/ade)

Menuju Kampus Terbaik di Sumut

Mantan Rektor Didukung jadi Gubsu di Milad ke-54 Univa

KELUARGA besar Universitas Al-Washliyah (Univa) menggelar syukuran milad atau ulang tahun ke-54 di Convention Hall Kampus Univa Jalan SM Raja Medan, Sabtu (2/6). Kegiatan ini dihadiri 250 undangan termasuk Ketua PW Al Washliyah Sumut yang juga BPH Univa Drs H Hasbullah Hadi SH MKn, Rektor Univa Ir H Aliman Saragih MSi, para Wakil Rektor, Dekan, dosen, pegawai dan pimpinan sekolah binaan Univa.

Dalam syukuran ini, alumni Univa yang pernah menjadi Rektor Univa Drs H Hasbullah Hadi SH MKn mendapatkan dukungan dan doa dari keluarga besar Univa untuk menjadi Gubsu periode 2013-2018. Dukungan ini disampaikan Rektor Univa Ir H Aliman Saragih MSi yang meminta keluarga besar Univa memberikan dukungan buat Hasbullah yang diusulkan jadi Gubsu pada Rakerwil Al-Washliyah Sumut.

Untuk itu, Aliman Saragih mengajak dosen, pegawai, mahasiswa dan keluarga besar Univa sebagai unit pendidikan di Al-Washliyah Sumut wajib mendukung Hasbullah Hadi yang juga Anggota DPRD Sumut dan Ketua PW Al-Washliyah Sumut menjadi Gubsu mendatang.

Rektor Univa mengucapkan terima kasih atas dukungan pimpinan BPH, universitas, fakultas beserta dosen, pegawai dan mahasiswa sehingga Kopertis Sumut/NAD menilai Univa sebagai 10 kampus terbaik di Sumut. Kedepan, ia berharap Univa yang didirikan para ulama dapat menjadi kampus terbaik di Sumut.  Untuk membesarkan Univa beserta sekolah binaan Univa, Aliman berharap anggota keluarga warga Al-Washliyah dapat menyekolahkan anaknya di SD, SMP, SMA dan Madrasah Aliyah binaan Univa dan Univa.

Ia pun mencontohkan antusias seluruh warga Al-Washliyah di Sihepeng, Kabupaten Madina yang menyekolahkan anaknya di sekolah Al-Washliyah. Ia mengatakan, Univa yang menjadi pusat keunggulan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis Islam dalam pengembangan peradaban dan kebudayaan untuk kesejahteraan  umat manusia pada tingkat nasional dan regional. ‘’Karenanya kuliah di Univa tak kalah dengan kuliah di universitas lain.

Bahkan dengan 700 sekolah binaanya, alumni Univa banyak  yang menjadi guru,’’ kata dia. Ketua PW Al Washliyah Sumut yang juga BPH Univa Drs H Hasbullah Hadi SH MKn menyampaikan  terima kasih atas dukungan semua pihak dalam memajukan Univa. Hasbullah juga berterima kasih  atas dukungan keluarga besar Univa agar dirinya dapat menjadi Gubsu.

Sebagai alumni Univa, Hasbullah Hadi mengaku banyak mendapat berkah dari Univa. Diantaranya dipercaya menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah Univa, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Univa hingga menjadi Rektor Univa serta Anggota dan Wakil Ketua DPRD Sumut. Ia yakin dengan dukungan Univa pula, dirinya dapat menjadi Gubsu.

Ketua Panitia yang juga Wakil Rektor IV Univa Drs Sultoni Trikusuma MA menjelaskan Milad Univa seyogoainya digelar 18 Mei 2012. Namun karena saat bersamaan ada pertemuan pimpinan perguruan tinggi Al-Washliyah se-Sumut hingga pelaksanaan milad diadakan 2 Juni 2012. Dalam milad ini dibagikan hadiah sejumlah perlombaan. (*)

Pesawat Tabrak Gedung, Ratusan Penumpang Tewas

LAGOS-Pesawat komersial, Dana Air, menabrak sebuah gedung di Kota Lagos, Nigeria, kemarin. Diperkirakan ratusan penumpang dalam pesawat tersebut tewas.

Soal jumlah penumpang memang masih simpang siur. Pihak BBC¸Minggu (3/6) mengungkapkan ada 153 penumpang yang diangkut Dana Air. Sementara kabar lain, mengatakan jumlah penumpang 162 orang. Sementara Reuters menuliskan jumlah penumpang ‘hanya’ 147 orang. Terlepas dari itu, Kepala Otoritas Penerbangan Sipil Nigeria mengatakan, semua penumpang diduga meninggal dunia.

Kecelakaan terjadi tak jauhn dari luar bandara setempat, saat cuaca mendung. Informasi yang beredar masih simpang siur, apakah pesawat itu tiba di Lagos dari ibu kota Nigeria, Abuja, atau meninggalkan Lagos menuju Abuja ketika kecelakaan terjadi.

“Petugas sedang dalam perjalanan ke tempat kejadian,” ujar Kepala Otoritas Penerbangan Sipil Nigeria Harold Denuren.

Nigeria, seperti banyak negara Afrika lainnya diketahui memiliki catatan keselamatan udara yang buruk. Sejumlah kecelakaan terus terjadi sejak 2005 meski beberapa upaya telah dilakukan untuk memperbaikinya.

Di Gahan, Pesawat Tabrak Bus
Sementara itu, kecelakaan pewasat juga terjadi di Ghana. Sebuah pesawat kargo mengalami kecelakaan ketika hendak mendarat di Bandara Internasional Kotoka, Accra, Ghana, Sabtu malam (2/6) waktu setempat. Pesawat Boeing 727 milik maskapai Allied Air itu justru kebablasan alias melampaui runway (overshoot) sehingga menghantam sebuah bus penuh penumpang.

Sedikitnya, 10 orang tewas dalam tabrakan itu. Seluruh korban adalah penumpang bus. Para awak pesawat kargo selamat. Empat awak hanya terluka ringan dan dirawat di klinik bandara.

Puing-puing pesawat kargo itu menjadi tontonan warga. Mereka mengelilingi pesawat yang terpuruk dekat bandara bersama bangkai bus yang hancur. Petugas penyelamat, polisi, dan pemadam kebakaran tiba di lokasi beberapa saat kemudian. Lantas, polisi menutup lokasi kecelakaan pada pukul 19.10 waktu setempat (sekitar pukul 02.00 kemarin WIB).

Pesawat kargo dengan nomor penerbangan DHV 111 itu terbang dari Lagos, kota terbesar sekaligus pusat ekonomi Nigeria, barat Afrika. Tujuan penerbangan adalah Accra, Ghana.
’’Pesawat kargo nomor penerbangan DHV 111, yang terbang dari Lagos menuju Accra, mengalami overshoot saat mendarat pukul 19.10 waktu setempat Sabtu lalu,’’ ujar juru bicara operator bandara Ghana. ’’Pesawat itu lalu bertabrakan dengan bus dan mengakibatkan 10 orang tewas,’’ lanjutnya.

Otoritas setempat langsung melakukan penyelidikan atas insiden itu. Pesawat Boeing 727 tersebut sempat menabrak pagar pembatas bandara hingga keluar jalur menuju jalanan dekat landasan pacu.

Menurut Doreen Owusu Fianko, kepala eksekutif Ghana Airport Co., dugaan awal menyatakan bahwa kecelakaan tersebut akibat buruknya kondisi bandara. Dia menyebut terbuka peluang bagi pihak luar membantu penyelidikan. ’’Kami tidak akan segan untuk meminta bantuan pihak luar guna mengungkap penyebab kecelakaan dan belajar dari pengalaman ini,’’ paparnya.

Gambar yang disiarkan televisi lokal memperlihatkan bahwa pesawat tersebut mengalami kerusakan berat. Badan pesawat melintang di tengah jalan dekat Bandara Kotoka.

Wakil Presiden Ghana John Dramani Mahama, kepada wartawan di bandara, mengatakan bahwa penyelidikan menyeluruh akan dilakukan. ’’Belum ada kesimpulan soal penyebab kecelakaan. Kita harus memberikan ruang untuk penyelidikan. Tetapi, saya pastikan kepada rakyat Ghana bahwa situasinya terkendali,’’ tuturnya.

Kofi Kportufe, kepala Departemen Manajemen Bencana Ghana, memuji tim penyelamat yang bergerak cepat dalam merespons. ’’Berkat mereka, bencana yang lebih jauh bisa dihindarkan,’’ katanya. Keluarga para korban berkumpul di ruang jenazah rumah sakit setempat pada Sabtu malam untuk proses identifikasi. (reuters/afp/bbc/cak/dwi/jpnn)

Pohon di Medan Salah Tanam

Penyebab Tumbang Tidak Sekadar Cuaca Ekstrem

MEDAN-Peristiwa pohon tumbang yang berulang hingga memunculkan banyak korban terus menjadi topik yang menarik. Setiap ada angin dan hujan, warga cenderung gelisah Muncul kecurigaan, tumbangnya pohon akibat salah tanam.

“Gak ada angin gak ada hujan aja tumbang,” Rini (19), warga Binjai yang sehari-hari beraktivitas di seputaran Jalan dr Mansyur.

Sebelum ada peristiwa di Jalan Diponegoro, beberapa waktu lalu, Rini dan kawan-kawan hanya resah ketika hujan dan angin kencang tiba. Kini, setiap kali mereka melewati jalan yang banyak pohon, mereka jadi khawatir. “Kita kan naik kereta (sepeda motor), jadi trauma kita dengan korban di Jalan Diponegoro itu,” tambah Rini.

Apa yang dirasakan Rini persis dikhawatirkan warga lainnya. Intinya, saat Sumut Pos bertanya tentang keadaan pohon di Medan, kebanyakan dari mereka mengaku takut. Bagi mereka, pohon tumbang sudah seperti teror. Dia bisa tumbang kapan saja dan tanpa sebab apa-apa. “Hujan gak hujan sama saja, pohon-pohon itu udah kek berebut mau tumbang. Jadi, pohon itu kek cari mangsa gitu,” aku Wendy (24), warga Medan Johor.

Keresahan warga tampaknya belum juga direspon dengan baik. Setidaknya pihak Dinas Pertamanan Kota Medan belum menemukan solusi nyata.

Terlepas dari itu, beberapa pihak banyak yang mengatakan terjadinya pohon tumbang karena salah pilih jenis pohon. Perusahaan yang bergerak di dunia perpohonan, PT Gaharu Indonesia, malah menyatakan pemilihan pohon yang ada di Medan sudah sesuai. Tetapi, masalahnya terletak pada cara menanam. “Yang menanam pohon tidak mengerti bagaimana hidup pohon,” ujar sang direktur, Dodi Arianto.

Dia menjelaskan, sebuah pohon mampu bertahun hidup selama beratus tahun. Sehingga akar pohon merambat ke mana-mana. “Kalau menanam pohon, tanam sedalam mungkin,” ungkapnya.
Selama ini, penanaman pohon yang ada di kota Medan tidak sesuai aturan. Pada umumnya, bibit yang ditanam hanya ditanam sekitar 15 hingga 30 cm, sedangkan bawah tanah merupakan aspal yang jelas tidak bisa ditembus oleh akar.

Selain itu, penanaman pohon jangan dilakukan di sebelah selokan. Hal ini membuat akar tidak berjalan. “Kalau di samping selokan, sama saja membuat pohon berdiri 1 kaki. Bayangkan kalau kita berdiri dengan 1 satu kaki? Tumbangkan?” lanjutnya.

Menurut analisis Dodi, pohon di Kota Medan juga ‘disakiti’ oleh manusia. “Bayangkan, pohon dikawat dan dipaku. Itu yang membuat pohon jadi rapuh dan tumbang,” ungkapnya.

Apalagi, saat pohon dikawati secara melingkar, yang secara langsung akan membuat bagian tengah pohon akan terpotong. “Kalau dilihat dari luar memang tidak terlihat. Tapi kalau diperiksa secara mendetail, dalam pohon sudah terpotong, dan ini yang membuat dia menjadi tumbang,” tambah pria yang senang memperhatikan pohon ini sejak bekerja di budidaya Gaharu.

Karena itu, untuk membuat penghijauan, tidak membutuhkan pohon yang tinggi, cukup rindang saja. “Tanam pohon sedalam mungkin, saat tingginya mencapai 3 hingga 4, mulai potong cabangnya. Yang penting pohon rimbun, bukan tinggi,” lanjutnya.

Dirinya menyatakan, untuk menghitung umur pohon juga cukup mudah. Lingkaran pohon dibagi 2, dan hasilnya menjadi umur si pohon. “Jadi, bila lingkaran pohon sebesar 100 cm, maka umur pohon adalah 50 tahun,” tambahnya.

Di sisi lain, pengamat lingkungan hidup dari Universitas Sumatera Utara, Jaya Arjuna sangat prihatin terhadap kinerja Dinas Pertamanan Kota Medan selama ini dalam hal marawat dan mengawasi perkembangan tanaman pohon peneduh. “Saya memperkirakan sebagian besar pohon peneduh hingga saat ini masih minim perawatan dan pengawasan,” katanya.

Dijelaskannya, pohon peneduh jenis Angsana yang banyak ditanam di Kota Medan saat ini perlu diganti dengan pohon jenis lain yang akarnya lebih kokoh. “Pohon Angsana relatif mudah tumbang bila diterpa angin kencang. Walaupun pohon tersebut sebagai pohon peneduh, tetapi selama tiga bulan terakhir ini banyak menimpa rumah warga, pengguna jalan raya, dan memutus kabel jaringan listrik PLN,” ucapnya.

Menurut Arjuna, pohon Angsana bukan termasuk jenis pohon yang relatif kuat dan kokoh menahan terpaan angin kencang di tengah kondisi cuaca ekstrem. Di mana, di beberapa kota besar lain di Indonesia, pohon Angsana sudah tidak lagi difungsikan menjadi pohon peneduh karena rawan tumbang, terutama pada saat terjadi angin kencang dan hujan deras.

Dikatakannya, jenis pohon peneduh yang cocok ditanam di Kota Medan saat ini, antara lain pohon mahoni, mangga, asam Jawa, dan pohon bunga tanjung. Empat jenis pohon itu cocok dijadikan tanaman peneduh, karena memiliki akar yang kuat, kayu maupun dahannya sulit keropos, dan daunnya tidak mudah gugur.

Pada masa penjajahan Belanda, pohon mahoni, mangga, asam Jawa dan bunga tanjung banyak ditanam di sepanjang pinggir jalan di Medan hingga di kiri dan kanan jalan lintas Sumatera. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa hingga kini masih banyak pohon peneduh yang ditanam pada masa kolonial Belanda tumbuh sumbur di Medan. (ram/adl)

Tekad Baru: Hidup yang Polos-polos Saja

Oleh: Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Saya tidak menyangka persoalan seperti utang negara, impor garam, dan sulitnya swasembada gula sudah menjadi bisik-bisik tetangga di desa. Padahal, desa ini berada di lereng Gunung Ciremai nun di Kabupaten Kuningan, Jabar. Saya beruntung Jumat malam lalu bisa bermalam di Desa Bunigeulis dan berdialog dengan ratusan penduduk setempat.

Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya yang meningkat.

Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta atau Anda punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta.

Benar bahwa utang itu meningkat, tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan.

Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat, tapi tidak punya utang!  Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serba enak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga!
Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya, mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.

Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedangkan membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam ‘kuldesak’ yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.

Serbuan virus hopeless dari kota inilah yang kini harus dilawan di desa-desa dengan bukti nyata. Karena itu, Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani, Pupuk Indonesia, PT Garam, pabrik-pabrik gula, perhutani, dan banyak BUMN lainnya tahun ini harus bekerja all-out di lapangan.
Bulog, dengan pasukan semutnya, ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja Bulog sudah berhasil menghimpun 2 juta ton beras! Prestasi yang sangat membanggakan. Kerja lima bulan ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras selama dua tahun (2010-2011).

Memang melelahkan. Tapi, itulah harga yang harus dibayar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Memang harus muter terus – saya lihat sampai-sampai Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti sepatu kets – tapi dengan hasil yang begitu nyata akan menambah kepercayaan diri kita.
Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi, kalau sudah terbiasa bekerja keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.

Dalam dua minggu ini saya juga sudah berkeliling 14 pabrik gula di tiga provinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah bermetamorfosis menjadi ‘Ayu-ayu Azhari’, tapi gigitannya pun sudah berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua pabrik gula juga sudah berani memberikan jaminan rendemen minimal kepada petani.

Hebatnya lagi, semua pabrik gula juga sudah berani memberikan uang jaminan kepada petani tebu. Selama ini petani tebu terjerat oleh pedagang gula. Ini bukan salah si pedagang, tapi karena pabrik gula sendiri yang tidak berdaya: baru bisa membayar sebulan setelah petani menyerahkan tebunya.

Sebaliknya pabrik-pabrik gula kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM kepada petani tebu: bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang bersih. Tidak tercampur pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the field.

Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar gulanya.

Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan karyawan pabrik gula yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk ‘polos-polos saja’. Semula dahi saya mengerut ketika mendengar istilah ‘polos-polos saja’ itu. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata itulah tekad baru untuk tidak mempermainkan angka. Angka rendemen, angka timbangan, angka pupuk, angka tanam, angka angkutan, dan angka-angka yang menggoda lainnya.

Saya paham, membiasakan diri untuk ‘polos-polos saja’ juga sangat berat awalnya. Tapi, kalau sudah terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.

Sang Hyang Sri, Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Kujang) juga bisa menjadi motor besar untuk menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk, dan pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di mana-mana.

Jangan sampai petani kesulitan mencari pupuk yang akhirnya mendapat pupuk palsu. Sulit mencari benih unggul yang akhirnya menanam padi seadanya. Program mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa memang akan memakan waktu, tapi harus istiqamah jalannya.

Garam pun sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang dimakan manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!). Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia, keperluan garamnya tidak banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang manis-manis daripada yang asin-asin.

Saya berterima kasih bahwa Menteri Perindustrian, Bapak MS Hidayat, menemukan cara baru: membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program membranisasi ini sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara (PMN) untuk berbagai industri dikurangi saja.

Lebih baik dikonsentrasikan untuk menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliun rupiah PMN untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.

Kalau dari sekitar 20.000 hektare ladang garam di seluruh Indonesia bisa diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.

Tapi, membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan biaya besar. Tiap hektare memakan dana Rp20 juta. Tapi, angka itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan PMN untuk bidang lain. Padahal, angka itu begitu besar artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga diri bangsa yang selalu dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!

Sambil menunggu PMN, saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung. Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut hitungan Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti petani garam bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi kalau diizinkan menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya. Agar petani garam tidak dibebani bunga.

Membran adalah sejenis plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan dihampari membran, keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih cepat (air lautnya lebih panas sehingga lebih cepat menguap) dan semua garamnya menjadi garam kelas satu.

Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah pasti tercampur tanah dan lumpur. Ini membuat sekian persen garam menjadi garam kelas tiga. Sulit dijual. Murah pula harganya. Di Madura saja kini ada 350.000 ton garam jenis ini. Menumpuk.

Tidak ada yang beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak mau beli garam rakyat.
Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak diketahui.
Selesai salat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan kuwu setempat.

Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di depan masjid itu ada aset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur. Itulah bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.

Padahal, ada sekitar 1.000 petani garam di kawasan dekat masjid itu sampai ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan pembelian garam rakyat. Kepada Pak Camat, saya berjanji untuk menelusurinya. Saya juga bertanya: apakah sudah ada petani garam yang menggunakan membran. Ternyata belum. Bahkan, kata membran pun baru sekali itu dia dengar.

Sambil mengemudikan mobil ke Pabrik Gula Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu. Bahkan sudah sejak 1992. Tapi, PT Garam yang baru mulai tahun ini bisa bernapas sudah bisa memberikan hope.

Tahun ini PT Garam bisa membeli garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak 15.000 ton. Indikasi harganya pun sudah bisa disebut: Rp700 hingga Rp720 per kilogram, bergantung kualitasnyana. Ini sudah lebih baik daripada harga tahun lalu yang Rp620 per kilogram.

Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang tidak sebagus Madura. Di Indramayu, petani hanya bisa membuat garam sekitar empat bulan dalam setahun.

Bulan ini, saat Madura sudah bisa menghasilkan garam, Indramayu masih hujan. Tentu di atas langit masih ada langit. Sebagus-bagus Madura masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di sana garam bisa dibuat selama sembilan bulan dalam setahun!

Hanya belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah napasnya genap. Mungkin tahun depan.

Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi, hope-lah yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup! (*)