Home Blog Page 13418

6 Bulan, Titi Kuning Diabaikan Bina Marga

Masuk Daftar Perbaikan per Desember 2011

MEDAN-Titikuning telah roboh. Keadaannya yang sudah uzur dianggap sebagai penyebab. Di sisi lain, perawatan yang kurang menjadi penyebab runtuhnya jembatan itu. Apalagi, diketahui, perbaikan terhadap Titi Kuning sejatinya telah dijadwalkan pada Desember 2011 lalu. Bina Marga pun terkesan mengabaikan jembatan bersejarah tersebut.

Soal jadwal perbaikan ini langsung diungkapkan oleh  Kepala Lingkungan (Kepling) VII Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor, Purwani. Menurutnya, sejak dibangun pada 1938 lalu, jembatan ini baru sekali direnovasi karena bagian ujungnya patah. Yakni,  pada 1945 lalu.

Purwani menambahkan warga sekitar sudah meminta kepada Pemerintah Kota (Pemko) Medan, untuk melakukan renovasi melalui surat ke Pemko Medan cq Dinas Bina Marga. “Bulan Desember 2011 lalu, katanya mau diperbaiki, tapi tidak tahu ada kendala apa hingga jembatan ini runtuh belum juga diperbaiki,” aku Purwani, Minggu (3/6).

Sementara Tumpal, Lingkungan (Kepling) VI srama Haji, mengatakan Titikuning cenderung memakan korban. Tapi, peristiwa tidak menimbulkan kerusakan pada jembatan. Tidak seperti Sabtu (2/6) lalu yang mengakibatkan Ismail patah tulang. “Delapan tahun lalu, ada korban anak Pak Darwin yang jatuh dan hilang sampai sekarang tidak ditemukan jasadnya. Berarti sudah lama tidak makan korban lagi dan baru kemarin itu lagi,” kata Tumpal, saat meninjau jembatan, kemarin.

Tumpal menerangkan, jembatan itu dibangun Pemerintah Kolonial Belanda, mempunyai atap yang berwarna kuning. Makanya, jembatan yang panjangnya mencapai 10 meter tersebut, kemudian diberi nama Jembatan Titikuning.”Sejak dibangun baru sekali dipugar dan tidak diberi atap lagi,” katanya.

Menurut Prayetno, seorang pemborong proyek yang juga datang untuk melihat lokasi, ada banyak asumsi yang menyebutkan penyebab robohnya jembatan itu. Di satu sisi ada yang mengatakan, penyangga jembatan yang terbuat dari besi dan pondasinya yang dicor batu sudah tidak kuat menahan beban. “Ibarat manusia, jembatan ini sudah uzur. Ya, kemungkinan karena abrasi. Apalagi, sudah lama tidak menelan korban. Lihatlah pondasinya sudah bolong. Sehingga, tidak kuat menahan beban. Harusnya direnovasi  pondasinya,” kata Prayetno.

Hingga, Minggu (3/6), Pemerintah Kota Medan (Pemko) belum melakukan perbaikan jembatan tersebut. Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemko Medan, Budi Hariono yang dikonfirmasi wartawan, mengaku akan segera menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut, khususnya yang tinggal di Jalan M Basir dengan melakukan koordinasi ke dinas terkait.

“Kita sudah tindak lanjuti. Dan pasti jembatan akan segera diperbaiki,” janji Budi.

Bina Marga Dianggap Lalai
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Medan, Parlaungan Simangunsong mengatakan Dinas Bina Marga seharusnya memperhatikan kondisi fisik jembatan itu. Apalagi, jembatan yang ambruk tersebut memiliki nilai sejarah.

“Jadi pemerintah jangan lepas tangan,” katanya kepada Sumut Pos, Minggu (3/6).
Menurutnya, pemerintah harus membangun kembali jembatan tersebut secara detail dengan segera karena jembatan tersebut merupakan jalur alternatif warga yang ingin menuju ke Jalan Deli Tua atau Jalan A H Nasution.

“Bagi warga di sana, jembatan itu sangat penting karena merupakan  jalur alternatif jadi harus segera dilakukan pembangunan. Tapi, pembangunannya harus memperhatikan tonase yang melintas di atas jembatan itu sebelumnya berapa besar,” ucapnya.

Selama ini, lanjut dia, jembatan tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan tiga. Kalau pemerintah berencana menambah kendaraan roda empat bisa melalui jembatan tersebut, tonasenya juga harus diperhatikan.  “Jangan diperuntukan bagi roda dua dan tiga saja, kalau itu sudah jelas DPRD Medan tidak setuju,” ujarnya.

Sedangkan terhadap korban, Pemko Medan harus memberikan bantuan sebagai bentuk tanggung jawab karena musibah tersebut terjadi akibat kelalaian Dinas Bina Marga yang mengakibatkan korban jiwa. “Ke depan, pembenahan terhadap seluruh jembatan harus dilakukan dengan intens. Jangan sampai tunggu korban selanjutnya karena hal tersebut merupakan tanggung jawab Pemko Medan, dalam hal ini Dinas Bina Marga,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan Syaiful Bahri menjelaskan tindakan dari instansi terkaitnya yaitu Dinas Bina Marga sedang mempersiapkan proses pembangunan jembatan itu kembali. Sedangkan untuk prosesnya akan dilakukan bertahap karena pembenahan tidak bisa sekaligus.

“Sekarang sedang dipersiapkan proses pembenahan karena oleh Dinas Bina Marga,  kami tidak mau timbul efek lebih besar lagi,” katanya.

Namun, tambahnya, dia memastikan pembangunan akan segera dilakukan mengingat jembatan tersebut sangat dibutuhkan penduduk sekitar atau masyarakat lain yang akan melintas menuju ke daerah lain. “Pembangunan akan diusahakan lebih cepat untuk kepentingan umum,” cetusnya.

Ketika ditanyakan seperti apa pembangunan jembatan itu nantinya, dia hanya mengatakan akan dilakukan pengkajian lebih dalam lagi. Begitu juga untuk anggarannya, dia mengarahkan untuk langsung menanyakan ke Dinas terkait, dalam hal ini Dinas Bina Marga Kota Medan.

“Kami lakukan pengkajian terlebih dahulu. Tidak bisa langsung lakukan pembenahan apalagi menyeluruh. Yang jelas, jembatan itu akan kita bangun kembali dan bisa dilewati oleh sepeda motor dan becak bermotor (Betor) demi kepentingan umum. Kalau berbicara anggarannya, langsung saja ke dinasnya,” ujarnya. (adl/ari)

Diberitakan Anaknya Alami Gangguan Jiwa

Keluarga Praja IPDN Asal Sumut Terkejut

MEDAN- Kabar tentang tiga praja IPDN yang mengalami gangguan jiwa cukup mengejutkan beberapa warga di Medan. Khususnya, pihak keluarga tiga praja yang bersangkutan. Merekapun membantah kabar itu hingga ingin mengklarifikasi hal tersebut pada Rektor IPDN “Membaca berita dari Sumut Pos saya langsung terkejut Soalnya begitu saya cek ke Bandung ternyata anak saya sehat-sehat saja,” ungkap Rahmat P Hasibuan, Minggu (3/6).

Rahmat adalah orangtua Sultan Wahyu Hasibuan yang dikatakan mengalami gangguan jiwa akibat ulah mahluk halus. “Jelas-jelas bohong dan itu sangat merugikan kami. Saya pun akan membuat klarifikasi kepada Rektor IPDN terkait kabar ini,” ungkap Rahmat.

Sejak anaknya kuliah di IPDN hingga sekarang,  riwayat kesehatan Sultan Wahyu Hasibuan tidak pernah terganggu, apalagi sampai mengalami gangguan jiwa. “Anak saya sehat-sehat kok, makanya saya terkejut atas kabar itu. Katanya mengalami gangguan mahluk halus dan lain sebagainya. Saya kesal dengan pemberitaan itu,” kata Rahmat.

Sejak muncul berita itu Rahmat mengaku sudah berulang kali menelepon anaknya baik itu malam dan siang. Tidak terkecuali juga dengan Sultan yang berulang kali menyanyakan prihal pemberitaan tersebut. “Makanya saya stres dibuat berita bohong itu,” tegasnya.

Sebelumnya, Rektor IPDN Kampus Jatinangor Prof Dr I Nyoman Sumaryadi memberikan keterangan soal penyakit yang diderita tiga praja asal Sumut di depan orang banyak. Seperti diberitakan Radar Bandung (grup Sumut Pos) Prof Dr I Nyoman Sumaryadi berbicara di depan perwakilan media cetak dan elektronika saat acara silaturahmi di gedung utama kampus IPDN, Jatinangor, Kamis (31/5) lalu.

Dikatakan sang profesor, dua praja asal Sumut yang mengalami gangguan jiwa nonmedis itu adalah Nisa Pratiwi Sidabalok dan Sultan Wahyu Hasibuan, sedangkan yang mengalami depresi adalah Simon F Malau. Gangguan jiwa nonmedis adalah gangguan jiwa yang disebabkan hal-hal yang berbau mistis, yang berkaitan dengan makhluk halus.

“Untuk yang mengalami gangguan jiwa, prilakunya ya tidak wajar, seperti ada ilusi-ilusi berupa bisikan-bisikan mistis hingga  prilaku mengasingkan diri,” terang Nyoman Sumaryadi, saat itu.

Pernyataan ini diperkuat dengan pengalaman awak koran ini yang sudah beberapa kali mendatangi dan keliling di kampus IPDN Jatinangor, sempat mendengar sejumlah cerita klenik. Penampakan-penampakan mahkluk halus di sejumlah titik di kampus yang cukup luas itu, dikabarkan kerap terjadi.

Kawasan kampus, konon dulunya merupakan bekas area perkebunan karet, yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai tempat pembuangan jin. Ada juga yang menyebut, di sana dulunya tempat pembantaian para pemberontak DI/TII. Cerita mengenai praja yang kesurupan, sudah kerap terjadi. (dra/sam)

Perang Antarlorong di Belawan jadi Tradisi

Berulang Sejak 1960-an

MEDAN-Perang antarlorong di Belawan bukanlah peristiwa baru bagi kalangan masyarakat yang bermukim di wilayah pantai utara Kota Medan. Pasalnya, perang antarlorong sudah ada sejak tahun 60-an. Dan, hal itu sudah seperti tradisi bagi mereka.

Namun, latar belakang dan permasalahan yang menjadikan perang antarlorong marak tidak diketahui secara jelas. “Dari tahun 60-an saya sudah tinggal disini, perang sudah ada jadi ini sudah seperti tradisi, sejak itu saya saja heran apa motif perang ini,” kata Buyung seorang wargan

Bahkan, kata pria berusia lebih dari setengah abad ini, berbagai upaya perdamaian sudah sering dilakukan guna mendamaikan kedua belah pihak. “Potong kambing, lembu dan kerbau sudah disini dilakukan untuk mendamaikan mereka  potong Unta aja yang belum, tapi tetap saja perang,” katanya lagi.

Mengingat perang yang terjadi merupakan bentuk perang-perang terdahulu, warga menyikapi kejadi Minggu dini hari itu sebagai sesuatu yang biasa saja. “Jadi perang tadi malam tidak membuat warga di sini heran lagi, walaupun sudah ada korban jiwa,” beber dia.

Meski begitu, situasi pascabentrokan berdarah di Jalan TM Pahlawan Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan, yang menewaskan seorang warga dan menghanguskan dua bangunan rumah tetap saja mencekam. Puluhan personel kepolisian dan TNI, Minggu (3/6) sore sekira pukul 18.15 WIB, melakukan pengawalan terhadap prosesi pemakaman, Suryadi alias Bege (21) warga Gudang Arang Lorong Bakti, Belawan yang dikebumikan di sekitar lokasi bentrokan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi terjadinya penyerangan susulan pada saat penguburan. Sebelumnya, anak dari seorang nazir masjid ini tewas setelah dianiaya sekelompok pemuda.

Pantauan Sumut Pos di Belawan, jenazah, Suryadi tiba di rumah duka sekira pukul 18.00 WWIB dengan di angkut mobil ambulan milik salah satu organisasi kemasyarakatan di Belawan. Setelah disalatkan, jenazah korban lantas dikebumikan di Jalan TM Pahlawan, Belawan. “Kami serahkan dan percayakan kasus ini sama polisi untuk mengungkapnya, begitupun keluarga tetap berharap supaya pelaku segera ditangkap,” ujar, paman korban yang tak mau ditulis namanya ini.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam Wahyudi ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih melakukan proses penyelidikan terkait peristiwa pembakaran rumah dan tewasnya seorang warga.”Kasusnya masih kita selidiki, empat orang saksi dari pihak korban sudah kita mintai keterangannya. Dan untuk pelaku masih kita selidiki, ada satu nama yang sudah kita curigai tapi belum bisa kita publikasikan,” terang Hamam.

Terpisah, Camat Belawan, Andy Syukur Harahap ketika dihubungi menuturkan, pihak kecamatan, kelurahan dan kepling bersama warga hingga Minggu dini hari ikut serta membantu aparat kepolisian dalam melakukan pengamanan.”Tadi malam saya langsung turun, kita menghimbau kepada kedua belah pihak untuk saling menahan diri,” tegasnya.

Pengangguran dan Narkoba Diduga jadi pemicu

Forum Komunikasi Masyarakat Belawan (Formabem) menuturkan, kepadatan penduduk serta banyaknya pengangguran diduga menjadi pemicu terjadinya pertikaian antarwarga di Belawan.
“Jadi bentrokan antarwarga ini sudah seperti tradisi, selain kepadatan penduduk, jumlah pengangguran yang sulit teratasi juga menjadi pemicu keributan,” kata, Asril Melayu Koordinator Penghubung Formabem.

Selain dua hal yang menjadi penyebab, Asril menduga maraknya peredaran yang terjadi disekitar pinggiran pantai juga menjadi akibat dari hilangnya moralitas warga untuk menghargai satu sama lain.

“Diduga peredaran norkoba maupun minuman keras juga jadi penyebab utama, bahkan warga yang terlibat bentrokan umumnya berani dan tidak merasa takut setelah mengkonsumsinya. Dan ini mesti diselidiki oleh aparat penegak hukum, karena bukan tidak mungkin jalur pinggiran pantai dimanfaatkan oknum tertentu untuk memasok barang terlarang,” tuturnya. (mag-17/uma)

Nadal Menang Mudah

PARIS – Rafael Nadal kembali memetik kemenangan di pertandingan French Open 2012. Nadal berhasil lolos ke babak 16 besar tanpa kehilangan satu set pun saat mengalahkan Eduardo Schwank 6-1 6-3 6-4.

Nadal memang pantas dijuluki Si Raja Tanah Liat. Petenis asal Spanyol itu sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Schwank untuk berkembang. Nadal merebut set pertama dengan kemenangan mudah 6-1.

Dominasi Nadal berlanjut pada set kedua. Meski demikian, Schwank mencoba untuk memberikan perlawanan kepada Nadal. Tapi, petenis nomor dua dunia itu menutup set pertama dengan kemenangan 6-3 dan 6-4.

Nadal pada babak selanjutnya, akan menunggu pemenang antara Juan Monaco. Petenis asal Argentina ini berhasil lolos, setelah menumbangkan Milos Raonic lewat skor ketat 6-7, 6-3, 6-7, 6-3 dan 6-4.

Andy Murray juga berhasil melangkah ke babak 16 besar. Meski sedang mengalami cedera punggung, namun petenis kelahiran Skotlandia itu berhasil menyudahi perlawanan Santiago Giraldo 6-3, 6-4 dan  6-4. (bbs/jpnn)

Sharapova ke-16 Besar

PARIS – Maria Sharapova berhasil melaju ke babak 16 besar French Open 2012. Tiket ke babak selanjutnya juga berhasil diraih oleh Li Na.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Paris, Minggu (3/6/2012), Sharapova berhasil lolos setelah mengalahkan Peng Shuai 6-2 6-1, dalam waktu 54 menit.

Sharapova terus melanjutkan permainan gemilangnya. Hasilnya, petenis asal Rusia ini masih terlalu tangguh bagi Peng di babak ketiga. Di babak keempat nanti, Sharapova akan berhadapan dengan Klára Zakopalova. Petenis asal Ceska ini lolos setelah menyingkirkan Anastasia Pavlyuchenkova 6-3, 7-5.

Hasil pertandingan lainnya, Li juga berhasil lolos ke babak empat French Open 2012. Petenis asal China ini menumbangkan Christina McHale 3-6, 6-2, 6-1.

Kejutan juga terjadi di babak ketiga. Ketika Francesca Schiavone secara mengejutkan dikalahkan Varvara Lepchenko lewat pertarungan sengit 3-6, 6-3, 8-6. (bbs/jpnn)

Thunder Samakan Kedudukan

OKLAHOMA CITY – Final Wilayah Barat makin sengit. Oklahoma City Thunder berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 usai menang 109-103 atas San Antonio Spurs.

Bertanding di Chesepeake Energy Arena, Oklahoma, Minggu (3/6) pagi WIB, tuan rumah sempat keteteran di awal laga. Kevin Durrant dkk. sempat tertinggal 5-13 sebelum menyamakan kedudukan jadi 26-26 di akhir kuarter pertama.

Pada kuarter berikutnya, power forward Thunder Serge Ibaka tampil cemerlang. Dunk demi dunknya sukses membawa Thunder berbalik unggul 55-43.

Usai jeda, ganti bintang andalan Kevin Durrant yang bermain impresif. Lesatan tembakannya gagal dibendung oleh defense Spurs. Thunder unggul tipis 75-71.

Tak mau terus tertinggal, Spurs langsung menggebrak di kuarter keempat. Lemparan tiga angka Boris Diaw sempat memperkecil kedudukan jadi 73-77.

Namun, hanya sampai di situ perlawanan Spurs. Mereka selalu tertinggal dalam perolehan angka hingga akhirnya menyerah 103-109.

Kevin Durrant dan Serge Ibaka menjadi bintang kemenangan Thunder. Durrant mengemas poin tertinggi dengan 36 poin, sementara Ibaka menyumbang 26 angka. Dari bangku cadangan, Sixth Man of the Year James Harden menambah 11 angka.

Dari kubu Spurs, Tim Duncan memimpin perolehan poin dengan 21 angka. Small forward Kawhi Leonard membuat 17 angka. Dua andalan Spurs Tony Parker dan Manu Ginobili masing-masing mencetak 12 dan 13 poin. Game kelima akan dilaksanakan di kandang Spurs pada Selasa (5/6) pagi WIB lusa. (bbs/jpnn)

Pengprov TI Sumut Konsentrasi PON

MEDAN- Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Taekwondo Indonesia (TI) Sumatera Utara (Sumut) Meherban Shah melalui Ketua Harian Pengprov TI Sumut Sofyan Siregar S Sos akan terus memberikan dukungan penuh kepada atletnya yang berniat berlatih serius.  Hal itu terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih atlet Tekwondo Sumatera Utara di beberapa kejuaraan.

“Untuk itu, kepada seluruh pengurus cabang untuk lebih serius dan solid dalam membina atlet-atlet di daerahnya, bukan malah ikut menciptakan kisruh dengan berpolitik praktis di dalam kepengurusan TI,” ungkap Sofyan Siregar S Sos kepada wartawan, Minggu (3/6).

Hal tersebut ditegaskan Sofyan menanggapi adanya kontroversi Musprov yang digelar di Berastagi. Pemegang Dan II Kukkiwon ini menyesalkan pelaksanaan musyawarah tersebut karena terkesan sangat dipaksakan dan memiliki tujuan tertentu.

“Seharusnya saat ini kita lebih konsentrasi menghadapi beberapa kejuaraan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat dibanding harus melaksanakan Musprov yang justru membuat kisruh dan illegal. Ini juga sesuai dengan arahan KONI Sumut kepada semua pengcab olahraga untuk mempersiapkan atlet menghadapi PON,” katanya.

Di tempat terpisah, beberapa pengurus cabang justru menuding rencana pelaksanaan Musprov TI merupakan agenda ilegal dan terkesan punya misi tertentu. Bambang, Pengcab TI Pematangsiantar, mengungkapkan kekesalannya terhadap agenda tersebut. Dia menilai, yang diundang dalam kegiatan tersebut bukannya para pengurus , melainkan individu-individu.

Sementara itu, Ketua Pengprov TI Sumut Meherban Shah, dengan santai menanggapi pelaksanaan Musprov di Berastagi itu. Dengan sedikit kelakar ia mengatakan, pelaksanaan Musdalub maupun Musprov yang gagal digelar di Brastagi adalah bentuk ketidaksengajaan. Pria yang akrab disapa Bung Kemek ini juga memaklumi jika ada orang-orang tertentu yang menurutnya memang gila jabatan.  “Kalau memang mau jadi ketua minta saja baik-baik. Kalau saya nilai memang bisa membawa Taekwondo lebih baik ke depan pasti saya beri restu,” ungkapnya.(gus)

Ribut Waidi Tutup Usia

JAKARTA-Indonesia kembali kehilangan pahlawan sepak bolanya. Ribut Waidi (50), seorang punggawa tim nasional yang sukses mengantarkan Indonesia meraih emas SEA Games 1987, kini tinggal legenda. Dia tutup usia dalam usia 50 tahun, di kediamannya Jalan Wahyu Asri Dalam IV DD-70 Semarang, Minggu (3/6).

Ribut merupakan salah satu bintang sepak bola nasional pada era 1980 hingga 1990-an. Pria kelahiran 5 Desember 1962 ini mencuatkan namanya sebagai salah satu bintang sepak bola Indonesia setelah berhasil membawa klubnya, PSIS Semarang, menjuarai Liga Perserikatan pada 1987. Dalam laga final yang digelar di Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) tersebut, PSIS melibas Persebaya Surabaya 1-0. Meski gol kemenangan PSIS dicetak oleh Tugiman, Ribut tetap berjasa hingga dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam pertandingan tersebut.

Setelah itu, karier profesionalnya pun melejit. Ia kemudian dipanggil PSSI untuk membela skuad “Merah Putih” di turnamen bergengsi SEA Games 1987. Di turnamen paling bergengsi itu, nama sang legenda pun semakin bersinar setelah mampu mencetak satu-satunya gol kemenangan Indonesia di partai final ketika mengempaskan Malaysia 1-0 pada 20 September 1987 di Stadion Senayan.

Kemenangan atas Malaysia itu sekaligus membawa Indonesia meraih medali emas pertama di cabang sepak bola SEA Games. Walhasil, pemain yang selalu memakai nomor punggung 10 tersebut kemudian selalu menjadi andalan timnas sepanjang 1989-1990 di beberapa kejuaraan internasional, antara lain Piala Kemerdekaan, Kualifikasi Piala Asia, dan Pra-Piala Dunia.

Kini Ribut telah tiada. Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum Giriloyo, Ngaliyan, Semarang, sekitar pukul 14.00 kemarin. Tampak hadir kerabat, sahabat, dan anak didiknya mengantar pencetak gol kemenangan Indonesia di SEA Games 1987 itu. Ribut meninggalkan seorang istri Nunik, dan tiga anak Widi Nick Pratama, Varadini Ribut Waidi, dan Sonia Ribut Waidi.

Menurut Supriyanto (40), kerabat almarhum, tidak ada tanda-tanda sakit sebelum Ribut meninggal. Malam sebelumnya, ia masih sempat berolahraga. Namun, Minggu pagi kemarin ketika bangun tidur pukul 05.00, Ribut merasakan sakit dan tubuhnya kaku.

“Bangun tidur, subuh beliau mengaku sakit dan minta dikeroki, katanya badannya sakit dan kaku. Sempat juga mau dipanggilkan dokter, namun dokter belum sempat datang beliau sudah meninggal,” katanya.

Di mata rekannya, Ribut adalah sosok pemain yang sabar dan ramah. Sudaryanto (51), rekan setim di PSIS Semarang era 80-an mengatakan, Ribut juga pandai mencairkan suasana. “Orangnya memang unik dan tidak bisa diduga. Kalau kami sedang bicara serius, dia bisa melawak untuk mencairkan suasana,” kata mantan kapten PSIS tersebut.(jpnn)

Persebaya 1927 Imbang, Bonek Bentrok dengan Polisi

Surabaya- Persebaya 1927 dan Persija IPL bermain imbang 3-3 dalam laga yang dihelat di Stadion Gelora Tambaksari 10 November. Laga itu kemudian tercoreng dengan aksi rusuh suporter seusai laga.

Ketika wasit meniup peluit tanda berakhir pertandingan, ada segelintir suporter di tribun, melempari petugas kepolisian yang berada di lapangan, dengan botol bekas air mineral. Mendapatkan lemparan tersebut, polisi tidak terima dan ganti membalas lemparan itu.
Polisi pun membubarkan massa dengan cara menembakkan gas air mata ke kerumunan suporter yang belum membubarkan diri.

Meski saling lempar sempat reda, tiba-tiba dari tengah lapangan, petugas kepolisian yang menembakkan gas air mata ke tribun ekonomi sisi selatan VIP. Tak lama kemudian, polisi lainnya juga menembakkan gas air mata ke arah suporter yang berada di sisi utara VIP.

Tembakan gas air mata itu membuat suporter kocar-kacir menghindari gas yang membuat pedih di mata. Dikabarkan banyak suporter yang mengalami pingsan dan sebagain luka robek di bagian kepalanya. Bahkan, ada orang tuanya yang terlepas dengan putrinya, karena paniknya. Kabar kehilangan seorang putri itu disampaikan panitia melalui pengeras suara.

Sekitar pukul 17.45 WIB, situasi mulai kondusif. Suporter yang awalnya tertahan oleh gas air mata, mulai meninggalkan tribun.

Akibat bentrokan tersebut, sebuah mobil sedan milik Satlantas Polrestabes Surabaya yang melintas di dekat Tambaksari VII dirusak suporter.

Sementara pada laga kemarin, kedua tim bermain imbang tanpa gol di babak pertama. Persebaya akhirnya kebobolan lebih dulu di menit ke-55 lewat sundulan Emmanuel de Porras. Lima menit berselang, Persebaya kian tertinggal. Kali ini, giliran De Porras yang menyumbang assist dan Rinto Ali menyelesaikannya dengan baik. Skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan tim tamu.

Otavio Dutra dan Fernando Soler kemudian memaksa hasil imbang 2-2. De Porras kemudian membuat Persebaya kembali tertinggal di menit ke-90, tetapi Soler menjadi penyelamat Persebaya lewat golnya di menit-menit akhir. Hasil pun imbang 3-3.(net/bbs)

Babak Belur

(5)Persipura v PSMS(0)

MEDAN-Belum lagi habis rasa malu akibat kekalahan WO dari Persiram Raja Ampat, kali ini skuad PSMS harus tertunduk dengan wajah memerah lagi. Minggu (3/6) kemarin, Stadion Mandala Jayapura kembali menunjukkan keangkerannya.

Tim besutan Suharto babak belur dihajar Persipura 5 gol tanpa balas dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2011/2012. Hasil ini menambah daftar panjang kekalahan PSMS dari Persipura dan ini merupakan kekalahan terbesar PSMS musim ini.

Caretaker Pelatih PSMS, Suharto tak habis pikir dengan performa skuadnya. Jika biasanya Sasa Zecevic Cs memperlihatkan spirit untuk tampil fight, kali ini berbeda. Ia melihat skuadnya kehilangan kepercayaan diri.

“Anak-anak kerap melakukan kesalahan sendiri. Tidak terlihat sedikitpun kepercayaan diri mereka untuk bermain. Bukan karena Persipura yang terlalu hebat tapi memang kita memang tampil sangat buruk,” kata Suharto saat dihubungi kemarin dari Medan.

Suharto melihat, baik setiap individu yang berlaga terlihat sangat gugup menghadapi laga ini. “Mereka sangat gugup. Baik penyerangnya, beknya maupun gelandang kerap melakukan kesalahan sendiri. Mainnya kacau dan seperti kehilangan arah,” katanya.

Ke depannya, Suharto akan membuat evaluasi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan agar laga kontra Persiwa (6/6) mendatang tak lagi dipermalukan. “Banyak yang harus evaluasi. Kita akan langsung fokus persiapan menghadapi Persiwa,” tandasnya.

Pada laga kemarin, Persipura memang terlihat sangat digdaya di hadapan publiknya sendiri. Laga baru berjalan 16 menit, gawang Edi Kurnia sudah bobol. Kali ini David Laly yang tak menyia-nyiakan umpan dari Alberto Goncalves dari sisi kiri pertahanan PSMS. Persipura sepertinya cukup jeli melihat sisi kiri PSMS yang gampang ditembus. Denny Rumba tampil buruk sehingga membuat Suharto menggantikannya dengan Wiganda.

Persipura memperbesar keunggulannya. Gol kedua Persipura lewat Yustinus Pae 10 menit berselang kembali membuat gawang Edi Kurnia bergetar. Bio Paulin yang beroperasi di belakang tak mau ketinggalan dengan aksi individunya yang berujung tembakan terarah. Edi tampil kurang sigap membendung bola. Skor 3-0 bertahan hingga jeda.

Di babak kedua, PSMS mencoba bangkit. Performa sedikit membaik. Beberapa peluang tercipta, namun belum mampu membuat Yoo Jae Hoon memungut bola dari gawangnya sore itu. Sebaliknya tim besutan Jacksen F Tiago melambatkan tempo permainnyanya dan main lebih hati-hati.

Bukannya mengejar ketertinggalan, PSMS kembali harus tertunduk lesu karena Persipura memperbesar margin. Tanpa ampun Ian Lois Kabes di menit 71 dan Lukas Mandowen di menit ke-75 membuat PSMS harus menelan kekalahan terbesarnya musim ini 0-5. Hasil ini membuat PSMS tak beranjak dari posisinya di peringkat 14 klasemen dengan koleksi 30 angka. Begitu juga dengan Persipura yang tetap nangkring di posisi kedua dengan koleksi 55 poin dari 28 laga. (mag-18)