Home Blog Page 13440

Hal Kecil yang Bikin Hati Perempuan Berbunga

Hal-hal kecil seringkali bisa menimbulkan dampak besar. Istilah ini seringkali benar dalam hal hubungan asmara. Kebiasaan kecil yang dilakukan pasangan bisa membuat kita merasa dicintai.  Berikut ini aksi sepele yang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga

  1. Memuji meski Anda mengenakan baju tidur
    Minggu pagi, ketika Anda sarapan masih mengenakan baju tidur, suami memuji Anda. Perasaan Anda pasti berbunga –bunga.
  2. Mendengarkan keluhan
    Setelah sepanjang hari bekerja, Anda pun ingin mengeluarkan uneg-uneg. Ketika pasangan bersedia mendengarkan keluhan Anda, Anda akan merasa memiliki seseorang yang mengerti Anda tanpa menghakimi.
  3. Membawakan barang-barang
    Ketika wanita sedang membawa barang-barang yang berat, seperti kantung belanja, dan pria langsung mengajukan bantuan.
  4. Memikirkan hal-hal kecil
    Ketika gula atau kopi habis, tanpa diminta si dia sudah membelikannya untuk Anda. Ketika si dia ingat hal-hal yang Anda lupa, Anda akan makin cinta padanya.
  5. Membuatkan teh
    Biasanya pria paling suka jika pasangannya menyajikan teh untuknya. Tapi, jika pria sesekali menyediakan teh untuk wanita, dijamin akan membuat wanita tersenyum. (net)

Pohon di Medan Mencari Korban

Timpa 3 Mobil dan 2 Motor, Dua Pengendara Patah Tulang

MEDAN-Krraakkk…. Tiga mobil dan dua sepeda motor langsung tertimpa pohon. Semuanya rusak. Kejadian sungguh di luar prediksi, pasalnya Kota Medan tidak sedang diterpa hujan deras dan angin kencang. Tapi, pohon besar yang berusia tua di pinggir jalan tetap saja tumbang.
Tak pelak, korban yang sedang berada di badan jalan tak bisa menghindar. Apalagi, saat itu, traffic lights sedang berwarna merahn
Akibatnya, dua orang pun patah tulang hingga harus dioperasi.

Peristiwa ini terjadi ketika sebatang cabang pohon besar jenis pohon sono tumbang secara tiba-tiba di Jalan Diponegoro, Medan Polonia, Kamis (31/5) kemarin, sekira pukul 11.00 WIB. Pohon yang tumbang akibat lapuk bagian tengah batangnya itu langsung menimpa tiga unit mobil dan dua sepeda motor. Ketiga unit mobil itu umumnya mengalami kerusakan di bagian atap, namun penumpangnya selamat. Mobil yang tertimpa pohon adalah Toyota Corolla Altis BK 208 CG yang dikendarai Paramitha dan suami Adi. Lalu, Toyota Innova BK 1172 QM (tak diketahui identitasnya), dan satu unit mobil milik pemerintahan Aceh jenis Mitsubishi Strada dengan nomor polisi BL 8081 AJ yang dikemudikan Ucok dan ditemani Tengku M Fajar.

Sementara dua sepeda motor, Honda Vario dengan nomor polisi BK 3770 XT yang dikendarai Adi Ginting (41) dan Honda Supra X BK 6822 VAN yang dikendarai Suroto (26).

Akibat kejadian itu, dua orang pengendara sepeda motor mengalami luka serius. Yakni Surotowarga Tanjung Tiram Kampung Nipah Talawi Batubara yang berdomisi di Jalan Flamboyan Raya Tanjung Sari. Dia mengalami patah kaki kiri karena terkena batang pohon langsung menimpanya. Sedangkan satu pengendara sepeda motor lainnya, bernama Adi Ginting, warga Setiabudi/Jl Gagak Hitam Medan mengalami patah tangan kanan. Keduanya langsung dilarikan ke IGD RS Malahayati.

“Begitu saya dengar suara krrraakkk…, langsung geser sepeda motor saya. Saya sempat nabrak mobil di depan karena menghindar jatuhan pohon. Untung saya selamat,” kata saksi mata, Iwan (43) di lokasi kejadian.

Dari informasi yang dihimpun Sumut Pos, kejadian itu berawal saat kelima kendaraan itu berhenti di pertigaan traffic lightslampu merah Jl Diponegoro, Medan, persis di depan Kantor Keuangan. Saat kelima kendaraan itu menunggu lampu berganti warna hijau, tiba-tiba batang pohon berdiameter sekitar 150 cm yang ada di halaman perumahan Lonsum patah dan langsung menimpa kelima kendaraan tersebut.

“Tiba-tiba saja suara pohon patah terdengar dan langsung menimpa mobil saya,” ucap Ucok pengemudi mobil Mitsubishi Strada.
Teman satu mobil Ucok, T M Fajar, warga Desa Lamlaga, Banda Aceh, ia sempat mendengar suara saat batang pohon mau patah. “Saya mendengar seperti ada suara kayu yang mau patah. Tiba-tiba saya terkejut karena langsung menimpa mobil kami,” ujarnya singkat dengan wajah masih pucat dan tubuh lemas.

Menurut keterangan saksi, Rahmad S, sekuriti Mes Lonsum, pohon yang tumbang adalah milik Lonsum. “Saat itu saya mendengar suara batang pohon mau patah. Tak lama kemudian batang pohon itu patah dan menimpa lima kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah,” ujar Rahmad S.

Saksi lainnya, Vicki Ginting, petugas security di Gedung Keuangan Medan mengatakan, kejadian tiba-tiba tersebut cukup mengejutkan. “Saya teriak tapi karena posisi lagi lampu merah, mobil sama kereta (sepeda motor) tak bisa bergerak, makanya mereka tertimpa pohon itu,” kata dia.

Akibat kejadian ini, arus jalan di lokasi macet total karena batang pohon melintang di ruas jalan. Oleh polisi, arus lalu lintas ditutup sementara. Sejumlah kendaraan dari arah Sudirman diarahkan masuk melalui Jl Cut Nyak Dien.

Polisi lalu lintas terpaksa bekerja keras untuk mengurai kemacetan. Setelah beberapa jam kemudian, petugas dari Dinas Pertamanan Kota Medan yang menurunkan mesin potong, berhasil membersihkan puing-puing batang pohon yang tumbang itu. “Kita hanya membuat pengalihan jalan saja di Jalan Imam Bonjol yang diubah menjadi dua arah untuk mengurangi kemacetan akibat pohon tumbang itu,” beber Kasat Lantas Polresta Medan, Kompol M Risya Mustario.

Dia mengatakan, hingga sore pihaknya belum menerima aduan ke polisi atas keberatan menjadi korban ketimpa pohon itu. “Tak ada yang kita tahan akibat peristiwa ini karena polisi hingga kini belum menerima pengaduan atau laporan korban ke polisi,” tegas Risya.

Korban Harus Dioperasi

Sementara itu, dari RS Malahayati, korban Suroto langsung dilarikan ke ruang operasi Lantai II. “Mau dioperasi dia Bang, makanya kami bawa langsung ke ruang operasi,” ujar salah seorang anggota keluarga.

Sementara itu, Adi Ginting yang ditemani istrinya menjalani perawatan medis di Ruang IGD Lantai I dan dilakukan operasi pembersihan pada telingan kirinya karena luka koyak. “Telinga suami saya terpaksa dijahit terlebih dahulu baru tangan kanannya,” kata istrinya, Isroin (36).

Diterangkannya, saat itu suaminya hendak ke Bank Sumut ada urusan yang harus diselesaikan. “Saya pun bingung kejadian ini menimpa suami saya, sementara tak ada hujan. Padahal cuaca tadi terik tapi pohon bisa tumbang,” ujarnya.

Bripka Yayat, adik Adi Ginting mengaku, dia juga terkejut mendengar kabar yang menimpa adiknya itu. “Saya ditelepon dan kebetulan saya bertugas di Polsekta Medan Baru dan saya datangi melihat adik saya. Adik saya mengalami luka pada seluruh tubuhnya dan tangan kanannya patah,” akunya.
Salah seorang petugas medis yang tak mau namanya disebutkan mengatakan, keduanya mengalami patah pada masing-masing tubuh mereka. “Adi Ginting mengalami luka patah tangan kanan, telinga kiri koyak dan luka lecet pada tangan dan kaki, sementara Suroto mengalami patah kaki kiri, tangan kiri terkilir dan luka lecet pada seluruh tubuhnya,” tutur medis rumah sakit tersebut. (adl/gus/jon/mag-12)

20 Persen Pohon Sudah Rapuh

Dari data Dinas Pertamanan Kota Medan, ada sebanyak 6.000 jumlah pohon yang dirawat Pemko Medan. Sedangkan untuk pohon yang sudah rapuh dan kondisinya sudah membahayakan ada 20 persen dari jumlah pohon milik Pemko Medan.
“Hanya 20 persen saja yang kondisinya sudah tidak layak atau rapuh.

Tetapi kita tetap mengimbau kepada masyarakat, khususnya pengendara agar mengantisipasi bila terjadi hujan deras dan angin kencang,” kata Kadis Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis.

Erwin mengimbau, masyarakat harus mengantisipasinya dengan memberhentikan kendaraannya di tempat yang lebih aman bila hujan deras dan angin kencang. “Agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini akibat menerobios saja ketika ada peristiwa,” jelasnya.

Erwin Lubis: Tanya Saja pada Lonsum

Erwin menambahkan kejadian kemarin tidak murni kesalahan pihaknya. Katanya, pihak Lonsum lebih berkopeten untuk menjawab semua pertanyaan. Pasalnya, pohon yang umurnya sudah ratusan tahun itu bukan milik Pemko Medan tetapi milik warga yang tumbuh di halaman rumah dinas pejabat Lonsum.

“Ini bukan penataan kita, tanya saja langsung sama pihak Lonsum,” tegas Erwin, di Jalan Diponegoro.
Meski begitu, Pemko Medan berjanji akan memberikan bantuan kepada korban yang tertimpa pohon. “Yang jelas bantuan akan diberikan Pemko Medan yang sifatnya bukan ganti rugi. Sedangkan untuk segala persayaratannya dapat diajukan ke Pemko Medan yang akan dilakukan pendataan melalui camat,” katanya.

Dijelaskannya, tumbangnya pohon tersebut dikarenakan patah cabang akibat isi batang tengan sudah rapuh. “Ini jenis pohon sano. Pohon ini bukan milik Pemko Medan yang tidak dilakukan perawatan secara rutin. Kalau pohon milik Pemko Medan terus dilakukan perawatan secara rutin,” jelas Erwin.
Sedangkan untuk perawatan terhadap pohon milik Pemko Medan, lanjut Erwin, pihaknya masih menunggu usulan dari kecamatan sejajaran Pemko Medan untuk segera mengevaluasi pohon yang sudah tidak layak untuk segera ditebang.

“Kita (Dinas Pertamanan) masih menunggu masukan dari setiap Kecamatan, dimana saja titik pohon yang kondisinya sudah membahayakan masyarakat untuk langsung dilakukan pengerjaan,” cetusnya.

Dikatakannya, pengerjaan yang akan dilakukan Dinas Pertamanan terhadap pohon yang sudah tidak layak akan dilakukan pemotongan. “Jadi, kita tidak saja menunggu usulan ataupun masukan dari kecamatan maupun kelurahan. Petugas kita juga akan melakukan peninjauan ke lapangan supaya secepatnya dilakukan pengerjaan,” jelasnya.

Bola Panas Mengarah ke Dinas Pertamanan

Peristiwa tumbangnya pohon di hari yang cerah akibat usia pohon yang sudah menahun dan lapuk membuat Kasat Lantas Polresta Medan miris. Bola panas pun mengarah ke Dinas Pertamanan Kota Medan. Ia menilai, peristiwa itu sepenuhnya harus menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis.

“Sudah banyak dalam bulan ini pengendara jalan ketimpa pohon. Seharusnya Pak Erwin sebagai Kadis Pertaman harus bertanggung jawab penuh. Warga bisa melakukan gugat action untuk minta pertanggungjawabkan pihak terkait,” tegas Kasat Lantas Polresta Medan Kompol M Risya Mustario.

Menurutnya, pihak Pertamanan Kota Medan sudah selayaknya melakukan pengecekkan terhadap pohon yang sudah tua untuk dilakukan penembangan agar tidak terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. “Lihat saja pohon itu milik siapa, kalau kita menembang pohon di jalan pasti kita dimintai ganti rugi oleh pihak Dinas Pertamanan, kalau begini kejadian sebaliknya, harus pihak Dinas Pertamanan melakukan ganti rugi terhadap korban,” ujarnya.

Namun, Risya menyayangkan para korban tidak ada satu pun membuat laporan. “Bagaimana diproses, korban saja tidak membuat laporan. Ini satu kebodohan juga di masyarakat, khususnya yang menjadi korban karena tidak menuntut apapun kepada pemerintah terkait,” tegas Risya.

Anggota Komisi D DPRD Medan Ferdinand Lumbantobing berpendapat, tumbangnya ratusan pohon dan papan reklame di Kota Medan menandakan Dinas Pertamanan Kota Medan lalai dalam bertindak. Padahal, sudah ada anggaran perawatan dan pemangkasan pohon di Kota Medan senilai Rp2,4 miliar.

Dia menyebutkan, tumbangnya pohon di sejumlah ruas jalan di Kota Medan awalnya dikarenakan cuaca yang kian ekstrim. Tapi, di sisi lainnya Dinas Pertamanan selaku instansi yang mengawasi dan menata taman tampaknya kurang peduli. “Seharusnya Dinas Pertamanan yang sudah diberikan anggaran bisa membuat kajian teknis dengan pendekatan teknologi canggih saat ini,” ucapnya.

Ferdinand membeberkan, bila dikaji secara fakta, pohon yang usianya tua itu ada di kawasan Lapangan Merdeka. Faktanya, sekarang ini pohon itu masih kokoh berdiri. Berbanding terbalik dengan pohon-pohon yang usianya lebih mudah di kawasan Jalan Brigjend Katamso, Jalan Ngumban Surbakti, Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Imam Bonjol serta beberapa jalan lainnya.  (gus/adl/mag-12)

Pohon Tumbang Mengintai Kita

  • Dari 6.000 pohon yang ditanam di pinggir jalan, 1.200 pohon sudah rapuh.
  • Perlu penelitian dan pemeriksaan pohon dengan 4 kategori, yakni normal, layak, kurang layak dan tidak layak.
  • Penelitian dan pemeriksaan pohon dilakukan dengan menggunakan alat bor yang bisa mengetahui kondisi pohon masih layak atau tidak.
  • Untuk kategori kurang layak, ciri-cirinya bisa dilihat dari kondisi pohon yang rusak pada bagian bawahnya. Selain itu, kulit luar pohon terlihat pecah-pecah dan berjamur. Pohon ini masih bisa diselamatkan dengan melakukan pemangkasan agar bebannya berkurang. Selain itu menambal dengan semen dan memberi tulang terhadap lubang di pohon.
  • Untuk kategori tidak layak, kerusakan yang dialami sudah lebih dari 30 persen. Kondisi pohon sudah tidak bisa lagi diselamatkan dan harus ditebang. Cirinya, pohon tersebut sudah keropos lebih dari 50 persen. Dengan kondisi seperti itu, sudah tidak ada pilihan lain selain ditebang. Karena pohon dengan kondisi tersebut sudah pasti rawan tumbang.
  • Pohon yang ditebang digantikan pohon yang kualitasnya lebih baik yaitu pohon Mahoni.
  • Dinas Pertamanan perlu menggandeng peneliti dari Fakultas Pertanian/Kehutanan untuk memetakan pohon-pohon yang rawan tumbang.
  • Dinas Pertamanan Kota Medan harus memberi tanda kepada pohon yang rawan tumbang dengan cat. Dengan tanda itu masyarakat lebih waspada untuk tak berteduh di bawah pohon itu pada saat hujan dan angin kencang.

* Data Olahan Hasil Penelitian

Korban Pohon Tumbang di Medan dari Waktu ke Waktu

21 Maret 2011
1 unit mobil dan becak bermotor tertimpa phon akibat angin kencang disertai hujan deras.

13-14 Agustus 2011
Dua unit mobil Toyota pick-up dan Toyota Innova yang parkir di Jalan Nibung Raya Medan Innova  penyok akibat ditimpa pohon. Satu unit sepeda motor juha ikut rusak. Tak ada korban jiwa tapi seorang pengendara mengalami luka serius tertimpa pohon tumbang.

7 September 2011
Puluhan unit rumah di sepanjang Jalan Brigjen Katamso rusak parah akibat tertimpa pohon yang tumbang akibat diterpa angin puting beliung.

10 Mei 2012
Satu tewas dan dua luka-luka akibat tertimpa pohon tumbang saat hujan deras melanda Kota Medan. Korban tewas saat melintas di Jalan Kapten Sumarsono, Medan Helvetia.

8 Mei 2012

  • Minibus angkot dengan nomor polisi BK 1279 GC itu tertimpa pohon saat melintas persis di sekitar gerbang Pasar Pajus Jalan Letjen Djamin Ginting.
  • 5 unit mobil tertimpa pohon di Jalan Diponegoro.
  • 6 unit mobil tertimpa pohon di Jalan Adam Malik.
  • 1 unit mobil jenis Nissan Livina di Jalan Thamrin Medan.
  • 1 unit mobil tertimpa pohon di Jalan T Amir Hamzah.
  • Baliho tumbang di depan Global Super Store, Jalan Monginsidi.

30 MEI 2012

  • 3 unit mobil dan 2 unit sepeda motor rusak parah akibat tertimpa pohon Sono yang tumbang di Jalan Diponegoro depan Kantor Gubsu.
  • Dua orang mengalami patah tulang akibat peristiwa itu.

* Data Olahan Sumut Pos

Dugaan Korupsi Anggaran Jamkesmas Rp11,3 M Belum Menyentuh Mantan Wali Kota Binjai

BINJAI-Pihak Polres Binjai belum mau mencari tahu keterlibatan mantan wali kota Binjai  terkait dana Jamkemas Rp11,3 miliar. Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Aris Fianto, mengaku kalau pihaknya masih ingin fokus pada tiga mantan Dirut RSU Djoelham Binjai yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Sejauh ini kita belum mengembangkan perkara ini kepada yang lain-lain. Masih fokus ke sini (Jamkesmas, Red),” tegasnya, kemarin.

Sebelumnya, Kanit Tipikor Polres Binjai Iptu Bambang Tarigan menyebutkan ada keterlibatan mantan wali kota Binjai terkait dana tersebut. Saat memeriksa dr T Murad El Fuad – mantan dirut RSU Djoelham yang telah ditetapkan sebagai tersangka – diketahui dana Jamkesmas itu melibatkan mantan wali kota Binjai. “Memang tersangka ada menyebutkan keterlibatan wali kota, tapi wali kota yang lama,” ujarnya saat itu.

Sekedar diketahui, dalam dugaan korupsi anggaran Jamkesmas ini, bukan hanya melibatkan dr Murad El Fuad dan Drg Susyanto saja, tapi juga melibatkan Sri Hartati. Nama terakhir masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan mantan wali kota Binjai yang bernama Ali Umri.

Terpisah, dr T Murad El Fuad, yang sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan di selama 10 jam, saat dihubungi via selulernya kemarin malah mengelak keterlibatan mantan orang nomor satu di Binjai itu. “Itukan saya ditanya sistem organisasi pengelolaan Jamkesmas, ya saya sebutkan untuk Kabupaten/Kota organisasi itu terdiri dari wali kota, ketua DPRD, dan Komisi yang menangani kesehatan dan sejumlah intansi terkait lainnya,” elak Fuad.
Fuad dan dua tersangka lainnya tersangkut dugaan korupsi anggaran Jamkesmas tahun 2009-2010 dengan anggaran Rp11,3 miliar di RSU Djoelham Binjai. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Sri Hartati dan dr Murad El Fuad, kemarin giliran drg Susyanto yang diperiksa Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Binjai.

Drg Susyanto tiba di Mapolres Binjai sekitar pukul 13.30 WIB. Kedatangannya tidak seorang diri, melainkan bersama penasihat hukumnya Afrizon Alwi SH. Setibanya di Polres Binjai, ia langsung memasuki ruang IV Tipikor untuk menjalani pemeriksaan. Meski kurang sehat, namun drg Susyanto tetap mengikuti proses pemeriksaan hingga pukul 18.00 WIB. Selama dalam pemeriksaan, Susyanto tampak lebih banyak diam dan menyerahkan sepenuhnya ke penasihat hukum. Karena kurang sehat, pemeriksaan terhadap Susyanto juga terlihat lebih santai ketimbang pemeriksaan sebelumnya.

Dengan kondisinya yang lemah, pemeriksaan  pun dihentikan sekira pukul 18.00 WIB. Sesuai jadwal, pemeriksaan akan dilanjutkan hari ini, Jumat (1/6).
Saat keluar dari ruang pemeriksaan, kepada sejumlah wartawan, Susyanto menerangkan, dirinya siap menerima sanksi hukum atas perbuatan yang dilakukannya jika memang melanggar hukum. “Sebenarnya saya ingin rumah sakit Djoelham itu lebih bagus. Tapi kalau memang gara-gara membeli minyak genset saya dinilai salah, ya mau bilang apa. Karena memikirkan masalah inilah saya seperti ini (sakit, Red), “ ucapnya saat ditanya di halaman Satreskrim Polres Binjai.

Ketika disoal tentang kriminalisasi kasus atas dirinya, dia membantah persoalan dimaksud. “Nggak, pemeriksaan polisi bagus kok. Ya kita jalani aja,” sebutnya sembari menaiki mobil Honda Jazz BK 111 KI.

Disinggung soal adanya keterlibatan pejabat Pemko Binjai atau wali kota Binjai, Susyanto enggan mengurai persoalan tersebut. “Tidak ada ah, siapa yang bilang? Tidak ada keterlibatan mereka dalam kasus ini,” tutupnya.

Sementara penasihat hukum drg Susyanto, Afrizon Alwi SH kepada wartawan menjelaskan, kliennya sedang kurang sehat. “Pemeriksaannya belum selesai, nanti diperiksa lagi. Tapi kita belum tahu kapan diperiksa,” kata dia.

Lebih jauh Afrizon mengatakan, Senin (4/6) mendatang, pihak kepolisian akan melakukan konfrontir terhadap ketiga tersangka terkait kasus ini. “Ya, rencananya Senin depan klien saya akan dikonfrontir dengan dua tersangka lain untuk mengetahui siapa yang sebenarnya terlibat dalam perkara ini,” urainya. (ndi)

Melebihi Angka 50 ribu Orang

Peserta SNMPTN Jalur Tulis di Sumut

MEDAN-Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tulis secara resmi ditutup Kamis malam (31/5) sekitar pukul 23.59 WIB.

Jelang berakhirnya pendaftaran SNMPTN atau tepatnya hingga. Kamis sore (31/5) wekitar pukul 17.00 WIB, Unversitas Negeri Medan telah menerima sebanyak 18.837pendaftarn.

Jumlah tersebut, sesuai sebaran yakni, IPA 4792 pendaftar, IPS 7649  pendaftar, dan IPC 6396 pendaftar.  Hal ini disampaikan ketua SNMPTN Lokal Unimed, Prof Dr Khairil Ansyhari, MPd, melalui Humas Unimed, Tappil Rambe, saat dikonfirmasi, Kamis (31/5).

“Pelaksanaan ujian tulis SNMPTN sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 12 dan 13 Juni 2012. Adapun pelaksanaan sendiri akan berlangsung di tiga lokasi yakni untuk IPA di Unimed, IPS di IAIN, dan IPC di UMSU,”terangnya.

Adapun jumlah pengawas yang akan diturunkan untuk pelaksanaan ujian tulis bilang Khairil akan disesuaikan dengan jumlah peserta yang mendaftar. Yang mana pengawas berasal dari dosen-dosen Unimed dan guru-guru.

Pengamanan pelaksanaan ujian tulis juga dilaksanakan oleh aparat kepolisian ditambah dengan pengamanan tertutup yang dilaksanakan oleh Unimed. “Pengamanan tertutup ini berasal dari kalangan Unimed,”sebutnya. Sementara untuk kuota Jalur undangan bilangnya Unimed akan menerima sebanyak 546 orang, dan kuota Bidik Misi sebanyak 496 orang.

Sedangkan USU jumlah pendaftar hingga Kamis sore (31/5) sekitar pukul 17.00 WIB, untuk Panlok USU sebanyak 34.662 orang. Adapun angka rincian tersebut untuk IPA sebanyak 13.384 pendaftar, IPC 11.687 pendaftar, dan IPS 9.591pendaftar. Demikian disampaikan, Ketua & Sekretaris Panlok USU Prof Zulkifli Nasution & Saipul Bahri Daulay MSi melalui Humas USU Bisru Hafi.

“Angka tersebut kemungkinan akan bertambah karena masih ada beberapa jam lagi masa pendaftaran sebelum ditutup secara resmi,”sebutnya.(uma)

Berkat Pengalaman jadi Pembantu di Hongkong

Ani Ema Susanti, dari TKW Jadi Produser Film Dokumenter

Pengalaman menjadi TKW di Hongkong mengantarkan Ani Ema Susanti sukses di bidang film dokumenter. Berbagai penghargaan nasional dan internasional pun pernah diraihnya.

SEKARING RATRI A, Jakarta

Ani Ema Susanti tumbuh dan besar di Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang, Jombang. Di desa tersebut hampir sebagian besar warganya berprofesi TKW. Karena itu, sejak kecil Ani akrab dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan TKW. Dia sudah terbiasa menyaksikan penderitaan keluarga para TKW maupun kisah TKW yang sukses di desanya.

Ani berasal dari keluarga pas-pasan. Orang tuanya hanya lulusan SD. Meski begitu, dia tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia bahkan mewanti-wanti diri agar tidak ikut-ikutan menjadi buruh migran seperti para tetangganya.

Menurut perempuan berjilbab tersebut, kehidupan sebagian keluarga para TKW memang terkesan makmur. Sebab, begitu pulang ke tanah air, mereka membeli sawah, membangun rumah, dan memborong perabotan rumah tangga.

“Mereka juga beli motor,” ujar Ani saat ditemui di Cilandak Town Square, Rabu (30/5).

Tetapi, di balik ‘kemakmuran’ tersebut, Ani menyaksikan sederet kenyataan pahit dari kehidupan para buruh migran yang mengais penghidupan di negeri orang tersebut. Banyak keluarga TKW yang tidak terurus, bahkan kacau-balau, setelah ditinggal bekerja di luar negeri bertahun-tahun. “Banyak juga yang pulang dari luar negeri malah cerai. Ada juga yang keluarganya telantar. Belum lagi yang dapat siksaan fisik dari majikan dan pulang dengan kondisi cacat atau sakit parah,” urainya.

Ketika Ani duduk di bangku SD, guru-gurunya rajin mengingatkan agar tidak mengikuti jejak warga yang menjadi TKW. Hingga SMA, nasihat gurunya tersebut terus terngiang dalam ingatan. Apalagi, Ani bersekolah di SMA favorit di Jombang. Meski keluarganya miskin, dia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Perempuan kelahiran 6 Agustus 1983 itu ingin meraih gelar sarjana dan menjadi guru seperti adik ibunya. Dia melihat kehidupan pamannya jauh lebih layak bila dibandingkan dengan orang tuanya yang hanya buruh tani.

“Kalau ibu kerja dari pagi sampai siang hanya dapat Rp2.000. Waktu puasa ibu sampai nyuruh saya ikut jualan beras agar bisa membeli ikan asin untuk buka,” jelasnya.

Kendati demikian, keinginan Ani untuk meneruskan kuliah didukung penuh orang tuanya. Mereka berjanji akan berusaha membiayai kuliah Ani. Namun, usaha dan kerja keras Ani, tampaknya, belum membuahkan hasil. Dia gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri. Anak pertama di antara dua bersaudara itu juga tidak lolos seleksi masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Karena tidak mungkin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS), Ani akhirnya memutuskan untuk bekerja. Dia berharap bisa mengumpulkan uang untuk kuliah. Namun, Ani hanya mampu mendapatkan pekerjaan dengan gaji tidak seberapa. Dia pernah bekerja di pabrik snack bagian pengemasan. Baru beberapa bulan bekerja, dia keluar karena pabriknya didemo. Hal tersebut kembali berulang saat dia bekerja di pabrik kayu.
Ani lalu pindah ke UKM (usaha kecil menengah). Namun, karena penghasilannya yang minim, Ani tidak bisa menabung maupun membantu orang tua. Dia kemudian mencoba untuk menjadi sales kosmetik keliling dari rumah ke rumah. “Tapi, ibu dan bapak nggak tega saya bekerja seperti itu. Saya disuruh berhenti,” jelasnya.

Pada saat yang sama, orangtua Ani menghadapi masalah ekonomi. Mereka terlilit utang di bank. Tidak ada pilihan, Ani akhirnya mengikut jejak para tetangganya, menjadi TKW. Meski berat hati, dia tidak mau sembarangan dalam menjalankan profesi itu. Sebelum berangkat, Ani meneliti negara-negara tujuan TKW yang mengutamakan jaminan keamanan dan kesehatan. Hasilnya, dia memilih Hongkong sebagai tempat bekerja. Dari bekerja sebagai TKW itu, Ani berharap dapat menabung untuk biaya kuliah sekaligus membantu orangtua di desa.

Petualangan Ani sebagai TKW pun dimulai. Dia mendaftar di sebuah PJTKI (pengerah jasa tenaga kerja Indonesia) di Bekasi. Selama enam bulan dia tinggal di penampungan TKI untuk dididik dan diberi bekal keterampilan. Awalnya Ani mengaku cukup tersiksa dengan kondisi di penampungan yang penuh larangan dan serba terbatas. Misalnya, untuk mandi, dia harus rela antre lama sebelum mendapat giliran. Sebab, di penampungan yang dihuni 300 calon TKW itu hanya ada delapan kamar mandi.

Namun, di penampungan itu dia bisa belajar banyak hal, mulai cara mengerjakan tugas-tugas rumah tangga hingga berkomunikasi dengan majikan. “Kami diajari merapikan spring bed lengkap dengan seprainya yang berlapis-lapis kayak di hotel. Kecepatan merapikannya dihitung pakai stop watch,” cerita dia.

Kelar menjalani pelatihan selama enam bulan, 30 Juli 2001 Ani terbang ke Hongkong. Dia tinggal di vila milik keluarga Mr Leung Yeuk Chung di kawasan New Territories. Di sana dia tinggal bersama TKW lain yang sudah lama hidup di keluarga tersebut. Dia diajari mengerjakan tugas-tugas rumah tangga serta diberi tahu segala hal terkait dengan makanan kesukaan hingga hal-hal yang tidak disukai sang majikan. Ani kadang juga diperbantukan di rumah orang tua majikannya di kawasan Kowloon.

Awalnya dia sulit berkomunikasi dengan majikan karena bahasa yang digunakan Cantonese. Namun, lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Bahkan, Ani merasa beruntung karena bisa bekerja pada keluarga tersebut. Mereka memberikan hak libur sehari dalam sepekan. Ani juga leluasa menjalankan ibadah salat lima waktu. “Saya juga diperbolehkan mengakses internet paling tidak sejam setiap hari,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dari keluarga tersebut, Ani belajar banyak tentang pentingnya pendidikan. Kebetulan Mr Leung Yeuk Chung dan istrinya bekerja di Chinese University. Anak pertama mereka kuliah di Inggris. Mereka sangat mengutamakan pendidikan akademik dan pembentukan karakter.
“Dari mereka saya belajar betapa pentingnya pendidikan. Mereka juga selalu membiasakan sarapan dan makan malam bersama-sama satu meja,” kenang Ani.

Berdasar pelajaran itu, Ani pun bertekad tidak akan menjadi TKW selamanya. Dia ingin kuliah. Apalagi, tabungannya sudah cukup untuk biaya kuliah dan membantu keluarga di desa.

Selama menjadi TKW Hongkong, Ani sering mengisi hari libur dengan pergi ke perpustakaan. Dia juga kerap mengunjungi Kowloon Mosque untuk bertemu umat muslim dari beberapa negara seperti Pakistan, Jerman, hingga London. Di sela-sela kegiatan itu, Ani selalu menyempatkan untuk menulis catatan harian.

Tepat dua tahun kontraknya habis, Ani memutuskan untuk pulang ke tanah air. Istri Ibnu Nahrozi tersebut tidak membuang waktu lama-lama guna mewujudkan cita-citanya menempuh pendidikan tinggi. Sepulang ke tanah air, dia langsung mendaftarkan diri masuk Universitas  17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Dia memilih jurusan psikologi karena ingin mewujudkan keinginan menjadi penulis novel.

“Menurut saya, menulis novel bisa lebih hidup jika kita memahami karakter orang. Untuk itu, perlu ilmu psikologi,” kata dia.
Sejak saat itu Ani kerap mengirimkan tulisannya ke berbagai perlombaan menulis fiksi dan penerbit. Dia juga membukukan pengalamannya menjadi TKW di Hongkong dalam bukunya yang berjudul Once Upon Time in Hongkong. Namun, Ani kurang beruntung dalam hal itu. Tidak ada satu pun karyanya yang mampu menembus redaksi penerbit maupun memenangi lomba.

Tapi, dia tidak patah semangat. Dia terus berkreasi. Pada semester tujuh, Ani secara tidak sengaja melihat iklan kompetisi film dokumenter amatir Eagle Awards yang diadakan Metro TV. Ani kembali mencoba peruntungan di dunia tulis-menulis dengan membuat proposal film. Semula Ani malu dengan statusnya yang mantan TKW. Namun, profesi itulah yang justru menginspirasi keikutsertaannya dalam ajang kompetisi film dokumenter tersebut.
“Sebelum itu saya benar-benar berusaha menutup rapat-rapat latar belakang saya yang mantan TKW di Hongkong. Tapi, dari ajang Eagle Awards itu saya malah terpikir untuk mengambil kehidupan TKW sebagai subjek film,” ujarnya.

Dalam film tersebut, Ani memilih berada di balik layar. Dia mendokumentasikan kehidupan rekannya sesama TKW di Hongkong. Tidak disangka, proposal film Ani terpilih. Dia dan Yunni, rekannya, lalu diundang ke Jakarta untuk memfilmkan naskah tersebut. Film yang diberi judul Helper Hongkong Ngampus itu akhirnya berhasil masuk lima besar Eagle Awards 2007.  Selain di Metro TV, film karya perdana Ani bersama temannya tersebut diputar di berbagai event yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Nama Ani Ema Susanti makin dikenal luas.

Itu berdampak pada novel Once Upon Time In Hongkong yang awalnya selalu ditolak penerbit. Akhirnya ada yang tertarik menerbitkan. “Mungkin mereka mikirnya lebih mudah promosinya kalau orangnya sudah dikenal,” ujarnya.

Setahun kemudian Ani berhasil menyelesaikan kuliah. Namun, dia tidak mencari pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Dia justru ketagihan untuk membuat film lagi. Tidak disangka, dia diundang ke Jakarta guna mengikuti workshop film yang dikelola Ford Foundation. Di bawah bimbingan sineas tenar Nia Dinata, Ani membuat film berjudul Mengusahakan Cinta yang kembali bercerita tentang TKW di Hongkong. Kali ini Ani harus kembali ke Hongkong, namun bukan sebagai TKW, melainkan sineas. Film pendek yang disatukan dalam film Pertaruhan tersebut juga kembali meraih penghargaan. Tidak tanggung-tanggung, film itu terpilih dalam Festival Film Berlinale di Jerman. Film tersebut juga meraih Best Feature Documenter pada The 2009 Documentary Film Festival.

Dari situ, Ani lantas bergabung dengan proyek Nia Dinata, Kalyana Shira Film. Ibu satu anak itu pun banyak belajar dari sutradara film Arisan 2 tersebut. Dari Nia, Ani belajar menjadi percaya diri, termasuk ketika harus berbicara di depan umum. “Teteh (Nia) banyak membantu saya. Dia juga yang memotivasi saya untuk pede,” ujarnya.

Berbekal kemampuannya membikin film, Ani kemudian direkrut Mizan Production. Dia menjadi asisten produser film-film peraih penghargaan seperti film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta dan Rindu Purnama. Namun, setelah menikah, Ani memutuskan untuk keluar dari production house (PH) tersebut. Meski begitu,  keinginan menulis naskah sekaligus membuat film tak pernah surut. Karena itu, tak lama kemudian dia memproduksi film dokumenter ketiganya. Kali ini dia mengangkat tema yang berbeda, yakni Donor ASI.

Film tersebut ternyata mendapat apresiasi luar biasa. Lewat film Donor ASI, karya Ani meraih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011. Pada tahun yang sama, Ani membikin film tentang kewirausahaan berjudul Genuine Entrepreneur yang tayang di Metro TV.

Saat ini Ani tengah menyelesaikan film dokumenter yang kelima. Film tersebut berkisah tentang kelahiran bayi secara alami. Ani sengaja memilih tema tersebut karena berkaitan dengan pengalamannya melahirkan anak secara caesar. Padahal, dia sangat ingin bisa melahirkan dengan normal.
“Banyak yang mengatakan kalau kelahiran pertama sudah caesar pasti yang kedua dan ketiga juga caesar. Padahal, tidak selalu. Subjek film saya yang baru ini seorang dokter yang berhasil melahirkan normal setelah dia melahirkan caesar. Jadi, ini tentang konsep melahirkan natural tanpa dibantu intervensi medis,” urainya.

Selain membikin film, beberapa bulan terakhir Ani menjadi koordinator distributor film ke sejumlah festival film internasional. Ada dua PH yang ditangani Ani, yakni Keana Production dan Smaradana Pro Production. “Saya bertugas mengirimkan film-film dua PH ini ke festival film internasional. Selain film mereka, saya juga mengirimkan karya saya sendiri. Karena itu, saya belum ingin berhenti berkarya,” tandas dia. (*)

Salah Alamat

Oleh: Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

MIRIS hati ini saat dua hari lalu tim kebangaan warga Kota Medan, PSMS dinyatakan kalah WO di ajang Indonesia Super League. Mungkin akan bisa dimaklumi jika yang menjadi penyebab adalah suasana tidak kondusif dan membahayakan jiwa pemain jelang pertandingan berlangsung.

Namun faktanya tidak demikan, sebab kesalahan membeli tiket dengan jurusan berbeda ditengarai menjadi penyebab kenapa para pemain PSMS tidak berada di tengah lapangan saat pertandingan akan digelar.

Dari berbagai informasi disebutkan jika manajemen PSMS membeli tiket dengan jurusan Medan-Jayapura, dan bukan Medan-Sorong. Padahal dua daerah ini meski sama-sama berada di wilayah Papua, namun jarak yang  terbentang di antara kedua wilayah itu bukanlah dekat.

Imbasnya, arang habis besi binasa. Ya, sudah habis uang berjuta-juta untuk membeli tiket, namun tempat yang dituju ternyata bukan tempat yang menjadi ajang bagi Persiram Raja Ampat dan PSMS saling jajal di ajang ISL.

Mungkin masih bisa diterima akal sehat jika kesalahan itu dilakukan oleh masyarakat awam yang sama sekali belum pernah menjejakkan kakinya di Bumi Cendrawasih itu. Tapi bila kesalahan itu dilakukan oleh seorang (yang mengaku) profesional, bahkan sudah sering ke Tanah Papua, pantaskah kesalahan itu terjadi? Sungguh ironis.

Membicakan masalah salah alamat seperti yang dialami PSMS ini sontak membuat angan melayang mengingat kasus salah alamat terhadap penyalahgunaan dana Jamkesmas yang terjadi di RSU Djoelham Binjai.

Betapa tidak, dana yang seyogianya diperuntukkan bagi masyarakat miskin itu ternyata mengalir ke alamat yang salah, yakni ke saku pribadi pejabat daerah setempat, yang pastinya hidup serba berkecukupan.

Pertanyaannya, sudah separah itukah mental para pejabat di negeri ini? Ingat, kasus serupa bukan kali ini terjadi. Di lingkungan pemerintah provinsi Sumatera Utara pun hal yang sama juga terjadi, bahkan beberapa pelakunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Bermain api dengan membuat ratusan proposal yang melibatkan institusi yang fiktif untuk mengeruk keuntungan pribadi seakan bukan sesuatu yang tabu untuk dilakukan.

Rehabilitasi rumah ibadah pun kerap dijadikan alasan untuk mengeruk uang yang berasal dari kas pemerintah provinsi, seakan mereka tak lagi takut bukan saja dengan undang-undang, tapi juga sudah tak takut dengan Tuhan YME. Ups…

Sudahlah, dari pusing-pusing memikirkan kecurangan orang-orang yang sudah tak takut dengan Tuhan YME, lebih baik mendendangkan lagi milik si Ayu Ting Ting. Ke mana, ke mana, ke mana. Kuharus mencari ke mana. Kekasih tercinta tak tahu rimbanya. Lama tak datang ke rumah. (*)

 

Etos Kerja Kunci Penegakan Kualitas

Oleh:  Drs.H.Hasan Maksum Nasution, SH, MA

Firman Allah dalam surat Al-Hasyr 18 yang berbunyi :” Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Rasulullah saw terlebih dahulu menanamkan akidah, lalu beliau memacu etos kerja dan menegakkan disiplin kepada para sahabat dan senantiasa mengajarkan sikap berani hidup mandiri di kalangan mereka seperti dibuktikan oleh sahabat Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang keduanya menjadi wiraswasta sukses di Madinah, sebagaimana tercermin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah: “ Di waktu pagi pergilah mencari rezeki, karena sesungguhnya pada pagi hari itulah terletak berkah dan keberhasilan.
Dalam Al-Qur’an juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh umat Islam untuk tekun bekerja demi kebahagiaan dunia, tanpa mengenyampingkan persiapan bagi kebahagiaan di akhirat, juga ditegaskan, bahwa bekerja amat penting untuk mencapai kesejahteraan hari esok, agar kelanjutan kehidupan keluarga dan masyarakat dapat terpelihara.

Gali Sumber Kekayaan

Alam semesta dengan segala isinya telah disediakan oleh Allah bagi manusia, akan tetapi manusia baru akan mendapatkan hasil dari sumber kekayaan alam ini, apabila ia berusaha dan bekerja, misalnya menggali sumber kekayaan di sekitar pertanian, kita harus membuka lahan pertanian dan mengusahakan penanaman. Demikian juga untuk menggali potensi perikanan orang harus berusaha mengadakan penangkapan atau pembudidayaan ikan, demikian juga untuk sektor industri dan sektor lain, umat manusia harus menggali dan mengekspoloitasi sumber itu, baru kita memperoleh rezki dari kekayaan alam yang telah diciptakan oleh Allah swt.

Memang banyak jalan yang dapat ditempuh dalam memperoleh rezki dengan cara berwiraswasta, berdagang, bertani atau menjadi pegawai, ada juga orang tanpa bersusah payah memperoleh rezeki, karena mendapat warisan atau pemberian. Namun Islam menegaskan kepada umatnya, bahwa jalan untuk mendapatkan rezeki melalui bekerja keras, bukan atas pemberian pihak lain, lebih utama dan lebih mulia.

Dengan kata lain meminta-minta atau mengandalkan pemberian orang lain tidak dikehendaki oleh Islam, bahkan keharusan bekerja dan berusaha dianjurkan Allah dan Rasul Nya dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadis, seperti: “Berjalanlah kamu ke segala penjuru dunia “atau” bertebaranlah kamu di muka bumi”, dengan pengertian agar manusia bekerja dan mencari mata pencaharian di manapun berada sedangkan hadis nabi yang menyatakan:
“ Kamu lebih mengerti tentang urusan-urusan duniamu “, dapat dijadikan bukti adanya keleluasaan yang diberikan Islam kepada pemeluknya untuk bebas berbuat dan mengatur sendiri hal-hal yang bersifat keduniawian termasuk masalah teknis bekerja dan memajukan ekonomi umat. Kedatangan Nabi Muhammad saw. memang tidak diutus untuk mengajari manusia tentang keterampilan kerja, kerajinan, perindustrian dan seluk-beluk pertanian atau hal-hal yang menyangkut teori-teori ilmu pengetahuan.

Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki konsep yang lengkap tentang berbagai aspek kehidupan, meliputi ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, tetapi umat Islam harus mampu menjadikan Islam sebagai solusi bagi segala persoalan hidup, baik ukhrawi maupun duniawi.

Islam Memotivasi Pemeluknya Sukses

Khusus mengenai ketertinggalan umat Islam dalam hal etos kerja, kiranya masyarakat muslim awam pada umumnya, hanya memiliki pemahaman Islam secara tradisional yaitu ajaran Islam dipandang sebatas ibadah ritual saja dan harus disadarkan, bahwa sebenarnya Islam agama yang memotivasi, bukan menghalang-halangi pemeluknya untuk sukses dan hidup bahagia di dunia. Biarlah di dunia ini menderita atau melarat, asalkan menadapatkan kebahagiaan di akhirat.

Penegasan ini perlu, sebab salah satu kekeliruan umat Islam selama ini adalah sering menyalahartikan cara mendapat kebahagiaan akhirat, seolah-olah kebahagiaan akan diperoleh hanya dengan memperbanyak ibadah ritual, lalau perlu dengan menyengsarakan hidupnya, sedangkan kerja dianggapnya hanya urusan dunia yang seakan cuma mengganggu upaya untuk memperoleh akhirat. Padahal Allah menyuruh manusia mancari anugerah-Nya tidak hanya untuk kebahagiaan akhirat, tetapi sekaligus untuk mensejahterakan hidup di dunia, keduanya baru bisa diperoleh manakala ada keseimbangan antara ibadah ritual dan bekerja keras untuk urusan dunia.

Firman Allah surat Al-Qashash 77: “ Carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari kenikmatan dunia.”

Bila kita pahami makna ayat di atas dalam konteks kekinian, tentu akan membuahkan pengertian, bahwa kerja sebagai sarana mencapai kesejahteraan merupakan perbuatan yang dipandang mulia dan luhur oleh Islam dan termasuk ibadah, manakala didasari dengan sikap-sikap keagamaan. Insya Allah, interpretasi semacam ini akan sangat bermanfaat untuk memacu semangat hidup kaum muslimin, supaya memiliki etos kerja yang unggul dan mudah diajak berkembang dan maju, sehingga bisa mencapai tingkat produktivitas kerja tinggi, niscaya proses pembangunan untuk mewujudkan manusia seutuhnya akan benar-benar tercapai sesuai dengan yang dicita-citakan.

Bukanlah Allah telah menjanjikan “ Masing-masing orang memperoleh derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan Allah mencukupi akan balasan pekerjaan-pekerjaan mereka dan mereka tidak dirugikan.”

(Penulis dosen STAI Sumatera, PTIL Al Hikmah Ilmu Hukum dan STAI. RA. Batang Kuis)

Kunci-kunci Rezeki

MEDAN-Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada kaumnya : “Wahai kaumku, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepadaNya dan taatlah kepadaku Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (QS.Nuh 2-3)

Nuh ‘alaihis salam juga berkata: “ Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-11)

Dari beberapa ayat di atas terdapat beberapa pelajaran, di antaranya: Pertama, dakwah para nabi ushul (asas) nya adalah sama yaitu tauhid (menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain Nya), meskipun syari’atnya berbeda-beda.

Kedua, dalam berdakwa para nabi mengedepankan Al Ahamm fal ahamm (yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu tauhid sebelum yang lain.Ketiga, sabar adalah senjata para nabi dalam menghadapi sikap kaumnya yang semakin hari bertambah jauh dan lari.

Perhatikanlah kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika mengadu kepada Allah Jalla wa ‘Alaa tentang keadaan kaumnya: ‘’ Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS. Nuh: 6-7).  Akan tetapi Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap bersabar dalam dakwah yang ditekuninya selama 950 tahun dan pengikut yang hanya berjumlah sedikit.

Keempat,dengan istighfar dan taubat,Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan memberikan banyak rezeki kepada kita.Ibnu Abbas berkata tentang tafsir ayat “Membanyakkan harta dan anak-anakmu,dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan(pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.”
“Jika kalian mau bertaubat kepada Allah dan menaati Nya, maka Alllah akan memperbanyak rezeki, menurunkan hujan dari langit karena ia(langit) diberkahi dan menumbuhkan tanaman-tanaman karena bumi diberkahi”.

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa istighfar dan taubat adalah salah satu di antara kunci rezeki. Tetapi jangan sampai tujuan utama dari beristighfar dan bertaubat adalah agar mendapatkan rezeki, karena akan menodai keikhlasan.Kalau seseorang niatnya seimbang antara agar diberikan ganjaran ukhrawi dan ganjaran duniawi maka hanya akan mengurangi pahala keikhlasan.

Tetapi, jika yang lebih besar niatnya adalah agar mendapatkan ganjaran duniawi, maka ia bisa tidak memperoleh ganjaran ukhrawi, bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada dosa.Sebab ia telah menjadikan ibadah yang semestinya karena Allah, malah dijadikan sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya.

Selain istighfar dan taubat, yang termasuk ke dalam kunci rezeki juga adalah : Takwa ( menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya). Allah berfirman : “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi) Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2-3).

Sehingga, secara umum takwa adalah salah satu pintu rezeki, sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki.
Penulis : Marwan Hadidi

Sah Kalah WO, tak Ada Sanksi

PSMS dipastikan kehilangan angka pada laga perdananya di tanah Papua dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2011/2012. Tak hadir ke lokasi pertandingan di Stadion Wombik, Sorong, Papua Barat, Rabu (30/5) kemarin guna meladeni Persiram, tim besutan Suharto dinyatakan kalah (0-3) sesuai peraturan manual liga Indonesia.

CEO PT Liga Indonesia (LI), Joko Driyono saat dihubungi Sumut Pos kemarin malam memastikan PSMS kalah Walk Out alias WO. Ini berarti mementahkan upaya manajemen PSMS yang meminta agar laga dijadwal ulang dengan alasan kesulitan mendapatkan tiket ke Sorong.

“Untuk pertandingan keputusan sudah pasti PSMS dinyatakan kalah WO sesuai dengan peraturan jika PSMS tidak hadir ke lokasi pertandingan dalam waktu yang telah ditentukan. Tapi kami masih menelusuri kasus ini dalam hal ini berkas diserahkan kepada Komisi disiplin untuk ditindaklanjuti apakah ada penyebab lain yang membuat PSMS tidak hadir. Ini pertama kali terjadi musim ini dan akan ada evaluasi,” kata Joko.

Yang dimaksud Joko adalah jika ada unsur kesengajaan dari PSMS untuk tidak melakoni laga kontra tim berjuluk Dewa Laut ini.
“Sejauh ini Komisi Disiplin belum melakukan penyelidikan. Unsur kesengajaan yang dimaksud itu berhubungan dengan ranking di klasemen. Jika benar seperti itu akan ada sanksi lainnya,” tambah pria berkacamata itu.

Sebelumnya manajemen PSMS sibuk membantah dugaan adanya kesalahan dalam pemesatan tiket yang seharusnya rute Medan-Sorong dengan Medan-Jayapura dengan alasan adanya pengalihan. Padahal pihak Lion Air sudah memastikan jika PSMS melakukan pemesanan tiket ke Jayapura dan tidak ada pengalihan seperti yang didalihkan.  (mag-18)

In Kyun Dihukum Setahun

Panpel PSMS Ditegur

MEDAN-Duel PSMS kontra Persela di Stadion Teladan 23 Mei lalu yang diwarnai kericuhan berbuntut panjang. Komisi Disiplin PSSI versi La Nyalla mempelajari kejadian yang terjadi dan membuat beberapa keputusan berupa sanksi, denda dan teguran. Kerugian terbesar diperoleh Persela yang harus kehilangan tiga pemainnya karena sanksi larangan tampil.

In Kyun Oh menerima sanksi terberat. Ia dihukum satu tahun larangan bermain. Mantan pemain PSMS ini tertangkap basah melalui tayangan rekaman pertandingan melakukan penyerangan terhadap wasit Suharto pasca peluit panjang dibunyikan. Sementara Park Chul Yung dan Aris Alfiansyah dilarang tampil tiga partai. Sementara I Gede Sukadan dan Ali Barkah hanya satu laga.

Gelandang Korsel yang dihubungi via blackberry mesenger hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat banyak. “Saya akui saya salah telah memukul wasit. Tapi kenapa ini justru terjadi kepada saya dan Persela. Saya pikir tim lain juga ada yang melakukan tindakan yang sama. Tapi mereka justru tidak mendapatkan sanksi seperti kami,” jelasnya.

In Kyun akan menerima keputusan itu jika memang dirinya tak lagi bisa bermain hingga akhir musim. “Apa yang bisa saya lakukan sekarang, tidak ada pilihan. Saya hanya menanti pernyataan dan langkah dari Persela,” lanjutnya.

Kabarnya Persela akan melakukan banding atas keputusan ini. Sekretaris klub, Muji mengatakan selain sanksi larangan tampil para pemain Laskar Joko Tingkir juga didenda Rp50 juta per pemain.

“Kami akan melakukan banding namun masih dalam proses. Tapi saya juga keberatan dengan ulah para pemain PSMS yang mengangkut para pemain kami yang mau diganti atau cedera. Namun kalau tidak disanksi akan menjadi preseden buruk buat yang lain,” jelasnya.
Sementara itu Panitia Pertandingan PSMS meski tidak diberi sanksi atas kericuhan ini, mendapat teguran keras dari Komdis PSSI. Melalui Fax yang diterima Sekretariat PSMS di Mess Kebun Bunga, panpel dinilai lalai mengamankan penonton yang kerap melakukan lemparan botol air mineral ke lapangan hingga mengenai pemain Persela. Selain itu teguran lain diberikan kepada pemain PSMS, Osas Saha yang dengan paksa menarik keluar pemain lawan agar laga bisa berjalan.

Ketua Panpel PSMS, Hendra DS mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi sehingga hal-hal seperti itu tak lagi terjadi. “Teguran itu kami terima dan diharapkan menjadi bahan evaluasi kami selanjutnya. Apalagi tiga laga kandang terakhir musim ini akan digelar di Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam. Ke depannya kami akan melakukan pengamanan yang lebih ekstra,” tandasnya. (mag-18)