Home Blog Page 13503

Gembong Curanmor di Jalan Gurila

085763812xxx

Saya mau melapor kepada Polres dan pihak yang berwenang. Di daerah Jalan Gurila dan sekitar terdapat gembong curanmor. Mohon diperiksa sepeda motor tanpa surat di sana.

Akan Dicek

Terima kasih atas laporannya. Kita akan cek terlebih dahulu. Jika memang ada dan faktanya benar, kita akan tindak lanjuti. Kita juga menyarankan warga untuk melaporkan langsung ke Polsek maupun Polresta untuk memberikan penjelasan informasi yang lebih rinci.

Kompol SF Napitupulu
Kabag Ops Polresta Medan

Sampah Tiga Kali Diangkut Sehari

MEDAN DENAI- Pembenahan manajemen pengangkutan sampah di wilayah Kecamatan Medan Denai mulai diterapkan secara baik. Pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan dilaksanakan dalam tiga tahapan yakni pukul 07.00 WIB, pukul 15.00 WIB, dan pukul 20.00 WIB – 23.00 WIB yang dilakukan oleh pihak petugas penyisir kebersihan kelurahan dan kecamatan.

Anto (30), warga setempat, yang ditemui Sumut Pos mengakui sampah di wilayah tempat tinggalnya sudah terkelola dengan baik. Bila tadinya sampah banyak berserakan di tepi jalan dan samping kanal, kini tumpukan sampah itu tak ditemui lagi. Sebelumnya, dia mengungkapkan, sampah-sampah di Medan Denai banyak ditumpuk di bawah tol di Jalan Panglima Denai. Di situ pula sampah-sampah itu ditekan menggunakan mesin penggiling yang ada di mobil Dinas Kebersihan Kota Medan.

“Saya lihat ada perubahan besar. Kecamatan Medan Denai sekarang bukan seperti yang dulu lagi,” ujar Anto.

Hal senada dikatakan Ramlan (40), warga lainnya, yang melihat adanya kemajuan Medan Denai dari sisi penataan wilayah dan kebersihan. Dia merasa salut atas inisiatif pihak kecamatan membangun taman-taman PKK di sepanjang Jalan Panglima Denai. Selain itu tong-tong sampah sudah diatur penempatannya di setiap tepi jalan.  Dengan demikian timbul kesadaran bagi warga untuk membuang sampah pada tempatnya.
“Taman-taman di pinggiran Jalan itu membuat wilayah ini terlihat asri, sejuk, dan nyaman,” ucapnya.

Camat Medan Denai Edi Mulia Matondang yang ditemui Sumut Pos seusai meminta pengakuan warga, mengungkapkan sampah-sampah di Kecamatan Medan Denai memang sudah rutin diangkut. Program tiga kali angkut sampah dalam sehari itu sebagai bagian dari program besar Kota Medan untuk menjadi kota yang bersih, asri, dan bebas sampah.

Edi mengharapkan kesadaran warga di wilayahnya untuk mendukung program kebersihan lingkungan dengan meniatkan hati membuang sampah pada  tempatnya. Program itu, menurut dia, akan semakin klop manakala warga mendukungnya  dengan menanam pohon di depan rumah masing-masing.  (omi)

Gembong Curanmor
di Jalan Gurila
085763812xxx
Saya mau melapor kepada Polres dan pihak yang berwenang. Di daerah Jalan Gurila dan sekitar terdapat gembong curanmor. Mohon diperiksa sepeda motor tanpa surat di sana.
Akan Dicek
Terima kasih atas laporannya. Kita akan cek terlebih dahulu. Jika memang ada dan faktanya benar, kita akan tindak lanjuti. Kita juga menyarankan warga untuk melaporkan langsung ke Polsek maupun Polresta untuk memberikan penjelasan informasi yang lebih rinci.

Kompol SF Napitupulu
Kabag Ops Polresta Medan

Tolong Aspal Gang Padi

081269752xxx

Yth Bapak Bupati Deliserdang. Tolong diaspal Gang Padi di Jalan Pembangunan Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deliserdang. Gang ini tak disentuh pembangunan sejak merdeka. Terima kasih.

Diharapkan Bersabar

Terima kasih atas informasinya. Masyarakat Deliserdang diharapkan bersabar dengan kondisi saat ini. Karena Musrenbang untuk tahun ini sudah dilakukan. Jadi menunggu anggaran berikutnya untuk melakukan pengembangan pembangunan di berbagai daerah. Hal ini akan diusulkan kembali pada Perubahan APBD (P-APBD) mendatang.

Umar Sitorus
Kabid Humas Dinas Infokom Deliserdang

Rawan Gagal jadi Gubsu Penuh Gatot Senyum-senyum

BINJAI-Peluang menjadi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) secara penuh lais definitif membuat Gatot Pujo Nugroho tak banyak bicara. Dia memilih diam dan senyum-senyum saja saat diberi pertanyaan terkait hal itu.

Bahkan, ketika ditemui di Lapangan Merdeka Binjai, Kamis (17/5), Gatot memilih menghindar dari pertanyaan Sumut Pos mengenai status jabatannya itu. Saat ditanya, Gatot hanya menebar senyum sembari berjalan kencang menuju mobilnya dengan dikelilingi sejumlah ajudan dan petugas Satpol PP.

Dia terlihat tergesa-gesa tanpa memberikan komentar apapun terkait statusnya sebagai Plt Gubsu. “Sudah-sudah, Pak Gubsu mau pergi,” ujar seorang ajudan sembari berlari kecil mengawal Gatot usai melaksanakan zikir akbar di Kota Binjai.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan akan lebih berhati-hati melantik pelaksana tugas (Plt) menjadi gubernur penuh. Kasus gubernur Bengkulu adalah pertimbangannya.

Putusan sela Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta yang mengabulkan permohonan penundaan pelantikan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Junaedi Hamsyah menjadi gubernur Bengkulu definitif, berdampak pada kasus serupa di Sumut.

Gamawan memastikan, dirinya tidak akan langsung melantik Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho sebagai gubernur definitif, meski nantinya sudah keluar Kepres pemberhentian tetap Syamsul Arifin sebagai gubernur Sumut.

Alasan Gamawan, kasus Bengkulu menjadi preseden agar dirinya tidak terburu-buru melantik plt gubernur menjadi gubernur definitif, tatkala putusan di tingkat Peninjauan Kembali (PK) kasus yang melilit gubernur belum keluar.

“Kita sangat hati-hati. Ini (mengajukan gugatan ke PTUN, Red) bisa juga dilakukan oleh yang lain. Tentu kita sangat hati-hati ke depan. Tidak serta merta langsung mengganti (melantik plt gubernur menjadi gubernur definitif, Red),” ujar Gamawan Fauzi kepada Sumut Pos di kantornya di Jakarta, Rabu (16/5). (ndi/sam)

Persimpangan

Oleh: Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

PADA sebuah halaman ruko yang terletak di sebuah persimpangan jalan, tubuh yang sudah basah ini berteduh agar tak semakin kuyup karena hujan yang kian deras.

Bagai telah saling kenal dengan orang-orang yang telah lebih dulu berada di sana, dan agar tak dibilang sombong, langsung saja senyuman dilepas ke arah kiri dan kanan, sambil terus melangkahkan kaki ke sebuah pojokan yang terlihat menyisakan sebuah bangku kosongn
Tak lama menghempaskan pantat di bangku yang sudah reyot itu, seorang abang becak yang sudah lebih dulu berada di sana mengatakan bahwa jika hujan turun maka penghasilannya akan menipis karena orang-orang malas keluar dari rumah akibat dinginnya cuaca.

“Kek gitulah Bang, nasib kami orang-orang kecil ini, berbeda dengan orang-orang kaya yang kapan dan di mana saja bisa menambah penghasilannya, meski mereka hanya berada di dalam rumah,” bilang si abang becak yang kemudian diketahui bermana Warno itu.

Dengan tetap mendengarkan semua keluh kesah si abang becak tadi, pandangan mataku tak pernah lepas dari persimpangan jalan yang menurutku, juga menyajikan sebuah pemandangan yang tak kalah menariknya saat sejumlah kendaraan bermotor tetap patuh untuk berhenti meski tanpa diperintah oleh tiga buah lampu berwarna merah, kuning dan hijau.

Ini menarik, karena sebuah benda mati mampu mengatur semua orang yang ada di sana. Tak peduli apakah mereka pejabat negara, pedagang atau bahkan kawan si abang tukang becak tadi, tetap saja mereka patuh dengan lampu yang secara otomatis terus berganti dalam beberapa menit sekali.
“Bang, aku tak neko-neko kalilah. Bagiku penghasilan hari ini cukup untuk makan dan sedikit disisakan untuk ditabung agar bisa punya becak sendiri, sudah cukuplah itu,” bilang Warno menyentak lamunanku.

Bah, sesederhana itukah hidupnya. Ternyata masih ada orang seperti si Warno ketika sebagian masyarakat lainnya justru saling berpacu untuk menjadi orang nomor satu, utamanya orang-orang yang terlibat di pentas politik negeri ini.
Tak percaya, lihatlah betapa sibuknya saat ini beberapa orang yang merasa dirinya tokoh masyarakat melakukan pencitraan sehingga namanya kian melambung jelang berlangsungnya Pilgubsu 2013 mendatang.

Heran, kalau mau berbuat kenapa baru sekarang? Selama ini kemana saja? Tiba-tiba pemikiran seperti itu bermain di kepala, apalagi saat melihat aksi para tokoh masyarakat tadi yang tak pernah berhenti melakukan pendekatan ke beberapa partai politik, seolah mereka ingin menjadi pemimpin dari partai politik. Padahal, ujung-ujungnya mereka mengincar kursi nomor satu di provinsi ini.

Hacccccimmmmm… , ah bersin sudah mulai menyerang saat mengetahui jika hampir semua tokoh-tokoh tadi mengaku berjanji ingin melakukan yang terbaik untuk masyarakat di provinsi ini.

Niat yang besar tentunya harus didukung dengan sebuah gebrakan yang besar dan bukan sebuah manuver ke partai politik yang jumlah orang di dalamnya tak sebarapa jika dibanding dengan jumlah masyarakat yang nanti akan dipimpin. Sayangnya tak semua tokoh masyarakat tadi berani melakuan action untuk terus mendekati dan mengambil hati masyarakat.

Belum adanya kepastian tentang tata cara pelaksanaan Pilgubsu 2013, apakah dipilih secara kangsung atau lewat DPRD membuat para tokoh masyarakat tadi menahan diri untuk tidak sembarang melakukan pendekatan ke masyakarat yang tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Artinya apa? Para tokoh masyarakat tadi lebih takut dengan anggota DPRD daripada masyarakat, yang sejatinya akan mereka pimpin jika kelak menjadi pemenang pada Pilgusu mendatang.

Ya, seakan ngantre di sebuah persimpangan yang ada traffic light, para tokoh masyarakat terlihat berhati-hati dan tak berani sembarang geber, karena khawatir ditabrak sebuah partai politik, yang setiap saat bisa berubah layaknya sebuah truk. (*)

Melatih Diri Agar Disiplin dan Loyal

Sejak kecil seorang muslim sudah harus membiasakan hidup teratur dan disiplin, baik di rumah maupun di sekolah, di kantor, di pemerintahan merapikan etika, moral maupun lainnya, di samping kita harus membiasakan diri bersikap loyal, seperti patuh kepada kedua orang tua dan para pemimpin. Sikap patuh kepada pemimpin sudah tertanam kuat, sehingga kita melaksanakan perintahnya tanpa ingin mengetahui lebih dahulu apa maksud dan tujuannya, semua itu perlu diperhatikan, agar terbiasa melaksanakan perintah tanpa membantah.

Demikian pula seorang muslim harus membiasakan dirinya disiplin dalam memegang amanat, khususnya dalam hal menyampaikan berita, dia dituntut untuk menyampaikannya seperti yang didengarnya tanpa menambah atau menguranginya, dia harus juga membiasakan diri mematuhi aturan-aturan yang telah digariskan, baik di rumah, di kantor maupun di barak-barak militer, agar sifat disiplin tumbuh dalam dirinya.
Generasi Islam sangat memerlukan tauladan yang baik dalam hal kedisiplinan dan loyalitas.

Kita tidak dapat membebaskan umat ini dari keterpurukan, kecuali bila kita membina mereka dengan sikap dan nilai-nilai ke-Islaman ini.

Aqidah Tauhid

Aqidah tauhid menjadi target pertama pembinaan generasi para muttaqin yang menempatkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai sumber kebergantungan diri setiap insan, yaitu, Allah sebagai sumber loyalitas, yang dimaksudkan adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Ilah atau tidak menjadikan Ilah-Ilah yang lain selain Allah, sehingga terbangun sikap keberserah diri-an terhadap Allah secara totalitas (100 persen) atau sikap loyal yang sepenuh-penuhnya terhadap Allah.

Firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 4 yang berbunyi: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu dan dia tidak menjadikan anak-anakmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan mu di mulut mu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”.
Demikian pula agama Islam tidak mengabaikan aspek fisik. Sejarah hidup Rasulullah SAW banyak membuktikan hal ini, diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rasulullah SAW beliau bersabda: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”.

Hadis ini menyerukan kepada kita untuk memperhatikan kekuatan, sebab ia merupakan pondasi masyarakat Islam, personel yang kuat adalah pilar masyarakat Islam. Islam tidak membiarkan sesuatu yang bersentuhan dengan eksistensi seorang muslim dan yang menjaga agamanya, kecuali Islam akan menjelaskan dengan sempurna.

Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya fisikmu memiliki hak yang harus engkau tunaikan”. Selanjutnya Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 20: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. Oleh karena itu, Islam mengharamkan minum arak atas seorang muslim, dan semua yang memabukkan (narkoba), karena hal ini membahayakan tubuh, akal dan jiwanya.

Persiapan Mental
Kita mengingatkan dua hal, pertama, pendidikan islam yang komprehensif yang mencakup aspek spiritual, intelektual, mental dan fisik, kedua, bahwa manusia adalah satu kesatuan yang saling berinteraksi dimana akal seseorang akan memberi pengaruh pada jiwanya dan masing-masing berdampak pada fisik, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: “Jika jiwa kuat, fisik akan berat mengikuti kehendaknya”.

Jadi seorang muslim yang mengetahui dirinya sendiri, perannya dan tugasnya, akan bersiap-siap memikul beban berat dan ujian. Ketika rohaninya mengilap, karena senantiasa berhubungan dengan Allah SWT akan merasakan nikmatnya penderitaan di jalan Allah. Hal ini dikarenakan di balik itu ia sangat berharap bisa meraih surga keabadian, sehingga penderitaan terasa sebagai suatu hal yang remeh.

Manusia cenderung cinta pada keabadian, karena itu memang fitrahnya. Masalahnya, adalah ketika manusia hanya memperhatikan dunia saja, ia akan selalu terpaut dengannya dan ingin hidup abadi di dunia, sehingga takut mati namun bila ia memandang dunia dan akhirat secara seimbang dan mengetahui hakikat dunia dan akhirat, niscaya ia akan menyadari, bahwa dunia ini hanyalah sawah lading akhirat dunia dan akhirat dan akan bersusah payah serta selalu menerima ujian dari Allah untuk bisa selamat dan meraih kebahagiaan akhirat.

Oleh karena itu, ketika dia ditawari kebahagiaan akhirat, selamat dari api neraka, akan diberi istana dan bidadari Hurum ‘in surga, serta apa pun yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit dalam hati manusia, ia segera maju pantang mundur, dimisalkan seperti salah seorang sahabat ketika membuang kurma dari tangannya dan segera menuju surga. Sungguh, demi Allah, meraih surga dan selamat dari neraka lebih baik bagi kita.

Merusak Tauhid

Karena sikap tauhid ini merupakan sikap mental (hati), hati yang kurang stabil akan menyebabkan sikap ini mudah berubah-ubah.
Oleh karena itu mari kita jauhi “Selendang Allah” yaitu kesombongan dan keagungan yang hanya milik Allah saja, karena Allah-lah yang Maha Segala, manusia tidak boleh mencuri selendang Allah ini, yaitu kesombongan dan keagungan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Abu Daud disebutkan “Allah Yang Maha Mulia berfirman: “Kemuliaan adalah sarungNya, keagungan adalah selendangNya, maka barang siapa yang mencabutnya dariKu, Aku akan mengazabnya”, dan masih banyak lagi termasuk ria, ananiah (egois), takut dan bimbang, zhalim, hasad, dengki, pengadu domba, pengkhianat dan penjilat.

Maka dari ulasan ini nampak jelas apa yang telah kita bincangkan, Allah itu merupakan suatu prestasi yang paling besar dalam hidup setiap insan.
Oleh karena itu memenangkan perjuangan ini berarti telah memenangkan suatu perjuangan yang besar dalam kehidupan seseorang, mereka yang menang akan merasakan nikmat Allah yang paling tinggi berupa penghayatan secara penuh nilai deklarasi “Laa Illaha Illa Allah” mereka punya suatu sikap mental kemanusiaan yang paling tinggi derajatnya, pribadi yang punya sikap mental seperti tiada mengenal kata-kata tunduk, kecuali kepada Allah SWT semata-mata.

Inilah sikap mental yang paling merdeka, karena itu paling berbahagia hidupnya di dunia. (*)

(Penulis Dosen STAI Sumatera dan STAI RA Batang Kuis)

Kisah Salat Jumat Pertama

Dengan mengendarai untanya, Al-Qushwa, Rasulullah SAW berangkat menuju kampung Quba Jumat pagi.

Dengan diiringi sahabat Muhajirin dan Anshar yang sebagian berjalan kaki dan sebagian lainnya berkendaraan.
Ketika perjalanan beliau sampai di Wadi Ranuna’ dan ketika itu waktu salat Jumat telah tiba, beliau turun dari kendaraannya untuk mengerjakan salat Jumat bersama-sama dengan orang-orang yang mengiringi beliau. Di kampung Bani Amr bin Auf inilah salat Jumat yang pertama kali dikerjakan oleh Nabi.

Sesudah salat Jumat selesai dikerjakan lalu Nabi SAW berdiri dan berpidato (berkhutbah) kepada hadirin. Inilah khutbah yang pertama kali dikerjakan Nabi Muhammad SAW.

Berikut di antara khutbah beliau, sebagaimana yang terdapat dalam Sirah Ibnu Hisyam: “Amma ba’du. Wahai segenap manusia, hendaklah kamu menyediakan amal kebajikan untuk dirimu sendiri, karena kamu sungguh akan mengetahui. Demi Allah, sesungguhnya salah seorang dari kamu akan dikejutkan oleh suara yang gemuruh, kemudian ia pasti meninggalkan kambingnya, tidak ada yang menggembalanya.

Kemudian, Tuhan akan berfirman kepadanya, padahal tidak ada pula orang yang menerjemahkan firman itu dan tidak ada seorang pun penghalang yang akan menghalangi-halangi pada sisi-Nya. Firman-Nya, ‘Tidakkah seorang rasul datang kepadamu lalu ia menyampaikan kepadamu. Aku telah memberi harta benda kepadamu dan Aku telah mengaruniai pula atas kamu, maka apa yang telah kamu sediakan untuk dirimu sendiri.’

Oleh sebab itu, ia tentu akan melihat ke kanan dan ke kiri, lalu ia tidak akan melihat sesuatu. Kemudian, ia tentu melihat mukanya, maka tidaklah ia melihat selain neraka Jahannam. Barangsiapa yang dapat memelihara mukanya dari bahaya api neraka, walaupun dengan separuh buah kurma, maka hendaklah ia mengerjakan.(net)

Lini Depan Riskan

LINI depan PSMS tengah dilanda krisis. Pasca menjalani tur ke tiga pulau, PSMS praktis hanya memiliki dua striker murni. Caretaker PSMS Suharto hanya punya Osas Saha dan Nico Malau sebagai opsi utama. Striker lain yang tersisa pasca perombakan di tranfer window, Arie Supriyatna juga dicoret karena dinilai indisipliner.

Kondisi ini tak ayal cukup memusingkan pelatih berkepala plontos itu. Setiap tim butuh minimal empat striker untuk melapis duet striker utama. Bila Saha atau Nico terbelit cedera atau akumulasi kartu, Suharto tentu tidak akan punya lain.

“Ya mau gimana lagi. Jika memang kita hanya punya dua striker sampai akhir musim. Kondisi ini memang sulit tapi kita akan berusaha menyiasatinya lewat strategi di lapangan,” ujar Suharto kemarin.

Pasca pencoretan terhadap tiga striker saat bursa paruh musim, manajemen PSMS memang tak merekrut striker. Penambahan pemain hanya dilakukan di sektor gelandang. Itu punya hanya tiga pemain yang direkrut. Manajemen sempat menjanjikan merekrut dua naturalisasi, Ruben Wuarbanaran dan Tony Cussel. Namun keduanya belum juga bergabung.

Ruben setidaknya bisa membuat Suharto punya pilihan di lini depan. Namun kabar terakhir menyebutkan pemain naturalisasi yang direkrut dari Pelita Jaya ini masih menjalani pemulihan cedera di Belgia. Tentu saja PSMS tak bisa mengharapkan Ruben meskipun ia bergabung.
Produktivitas dua striker tersisa PSMS ini pun juga belakangan menurun. Nico Malau yang dalam dua laga terakhir naik pangkat menjadi striker utama terbilang masih hijau. Meski cukup baik dalam skill individu, koleksi golnya baru terhenti di angka dua. Sementara Saha belakangan ini kurang produktif. Dari enam laga terakhir ia hanya menceploskan dua gol. Salah satunya lahir dari titik putih.

“Lini depan memang menjadi fokus saya untuk dibenahi. Terutama menyoal finishing. Sudah ada beberapa nama untuk dijadikan striker. Mungkin opsi lainnya kita akan merubah posisi pemain menjadi striker,” ungkapnya.

Opsi terdekat untuk mereposisi pemain tentu dari sektor gelandang. Para gelandang PSMS yang cukup produktif saat ini adalah Zulkarnain dan Nastcha Ceh. Keduanya telah mengoleksi masing-masing tiga gol. Namun Zulkarnain saat ini tengah dalam masa pemulihan cedera. Sementara Nastcha Ceh lebih dibutuhkan sebagai pengatur serangan. Peran itu cukup baik dilakukannya sejak bergabung dengan PSMS di putaran kedua. Lain lagi Shin Hyun Joon saat ini belum menunjukkan perannya.

“Ceh posisinya lebih baik sebagai playmaker. Kalau memang terdesak kita bisa saja menggunakan satu striker,” pungkasnya. (mag-18)

Manajemen tak Becus Fans Lebih Peka

MEDAN- Kondisi finansial PSMS yang buruk dan berimbas pada tersendatnya gaji pemain menjadi perhatian para suporter pecinta PSMS. Mereka tak ingin para pemainnya kehilangan motivasi saat berlaga yang dikhawatirkan berdampak pada performa PSMS di lapangan. Rasa empati yang justru tak terlihat sedikitpun dari upaya manajemen.

Tiga kelompok suporter PSMS, PSMS Fans Club (PFC), Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK), dan Kesatuan Anak Medan Pecinta Ayam Kinantan (Kampak) FC dengan caranya masing-masing sepakat untuk menggalang dana dalam rangka penyelamatan PSMS.

Kamis (17/5) kemarin Kampak FC melakukan aksi Koin Selamatkan PSMS di Bundaran Majestik Jalan Gatot Subroto Medan. Aksi ini dilakukan sejak siang kemarin hingga sore. Sebelumnya aksi penggalangan dana juga dilakukan SmeCK dan PFC. Kedua suporter ini bekerjasama dengan mengumpulkan uang dengan total 25 juta rupiah. SMeCK mengumpulkan 15 juta rupiah dan PFC mengumpulkan 10 juta rupiah.

Rencananya SMeCK dan PFC akan kembali berkolaborasi dengan menjual aksesoris berupa gelang dan stiker di Stadion Teladan saat laga kontra Persela (20/5) dan Arema (26/5) mendatang. Mereka pun telah menyampaikan hal ini di hadapan para pemain usai latihan Selasa (15/5) lalu.

“Aksi ini akan terus berlanjut sampai gaji pemain terbayar. Kita pahami kondisi psikologis pemain. Memang jumlah yang kami berikan tidak seberapa daripada gaji mereka. Tapi setidaknya ini bisa memberikan semangat dan motivasi bagi pemain bahwa ada suporter yang selalu mendukung mereka,” ujar Rahmad Nur Lubis, Ketua PFC.

Senada, Ketua SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong mengatakan yang harus dilakukan saat ini hanya aksi nyata yang pantas dilakukan saat ini. Bukan hanya sebatas omongan. “Kalau mau membantu ya lewat aksi nyata.Tidak hanya sebatas omongan. Pengurus juga harus melakukannya. Bisa saja dengan patungan,” tandasnya.

Jika ditilik suporter dengan kekuatan yang terbatas justru mampu bertindak aktif untuk membantu klub kesayangannya. Justru, manajemen PSMS yang seharusnya bertanggung jawab atas keberlangsungan klub malah terkesan pasif dengan hanya menunggu kucuran dana dari sponsorship utama PT Bakrie Sumatera Plantation maupun dana kontestan dari PT Liga Indonesia. Padahal dengan nama besarnya PSMS harusnya tak kesulitan mencari sponsor pendamping dengan bertebarannya perusahaan-perusahaan swasta di Medan. (mag-18)

Oknum Polisi dan Wartawan Terlibat Memeras Toke Berlian

Resmi Tersangka, Dijerat Pasal Pemerasan

MEDAN- Dua oknum polisi yang bertugas di Mapolsekta Kutalimbaru, Briptu Eza Qoiman dan Brigadir Syafrizal dan 4 wartawan Tabloid Polisi, masing masing Zulmi Aldi, Kiki Budi, Wasis dan Agam Darmawi, yang ditangkap karena melakukan pemerasan terhadap toke berlian, Punamurti terus menjalani pemeriksaan di Unit III Direskrimum Polda Sumut.

Hasil penyelidikan Unit Vice Control Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sumut keenam tersangka terbukti melakukan tindak pidana pemerasan, sesuai dengan Pasal 368 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara.

“Hasil penyidikan yang mendalam, keenam pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan resmi kita tahan, karena jelas terbukti melanggar Pasal 368 KUHPn
Jadi, pelaku bukan melakukan pencurian dan kekerasan, melainkan pemerasan terhadap korban Punamurti,” kata Kasubdit III Reserse Kriminal Umum Polda Sumut AKBP Andry Setiawan Sik, Kamis (17/5) siang.

Andri sangat menyayangkan ulah pelaku yang juga sebagai pelayan dan pelindung serta penegak hukum. “Intinya pelaku mengatakan kalau berlian itu ilegal dan palsu, lagi pula berliannya bukan kelas I. Kita akan melakukan pemeriksaan mendalam lagi ke Pegadaian berapa kadar karatnya,” jelasnya.
Dikatakannya, korban mengalami kerugian mencapai Rp500 juta dengan perincian korban sudah memberikan uang sebesar Rp8 juta kepada pelaku saat korban dibawah mutar-mutar keliling Kota Medan. Selain itu, butiran berlian ada sebanyak 23 bungkus.

“Jadi otak pelaku tidak ada, mereka secara bersama-sama melakukannya. Di dalam kasus ini tidak ada tindak kekerasan karena jelas mereka melakukan  pemerasan terhadap korban,” ucapnya.

Selain menjalani proses hukum ke pengadilan, oknum polisi juga akan diberi sanksi kode etik. “Untuk sanksinya kita lihat saja nanti hasilnya,” tegas Andri.  (jon/adl)

Uangnya untuk Berobat Anak

Seorang tersangka wartawan, Kiki Budi Utomo mengaku kalau perbuatannya untuk membantu biaya berobat anaknya yang sedang step. Sedangkan kartu pers yang digunakannya hanya sebagai bukti kalau dirinya wartawan.

“Jadi kalau ada razia saya selamat saja, sayapun baru setahun jadi wartawan. Semua ini untuk berobat anak saya yang step,” ucapnya.
Hal yang sama juga dikatakan Darmawi alias Agam yang menerima uang sebesar Rp30 juta dari hasil meras. Dia mengaku kalau dirinya membutuhkan uang untuk berobat anaknya.

“Saya butuh uang untuk berobat karena anak saya sakit,” bebernya.

Kapolsekta Kutalimbaru, AKP Robinson mengaku, kedua anak buahnya rajin masuk dinas.
“Saya tak menyangka keduanya akan berbuat senekat itu karena keduanya setiap hari masuk kantor,” kata Robinson.
Menurutnya, keduanya merupakan personel Reskrim Polsekta Kutalimbaru.

“Keduanya bertugas di Reserse dan mereka masuk ke kantor setiap hari,” jelasnya.

Disebutkannya, setiap hari dia memeriksa semua personelnya dan sering melakukan sharing-sharing dengan anggotanya.
“Saya tak pernah mendengar keluhan kedua anggotanya karena setiap harinya mereka tak mengeluh,” sebutnya.

Robinson menuturkan, kalau sudah begini, ini semua tanggung jawab dari Polda Sumut untuk melakukan pemeriksaan.  (jon/adl)