Home Blog Page 13516

Lima Mata Patung Emas Hilang

LABUHAN- Kuil Sri Maryaman di Jalan Masjid Gang Dharma Desa Helvetia Kecamatan Labuhan Deli, Senin dini hari (15/5) sekira pukul 01.00 WIB dibobol pencuri. Sedikitnya 30 gram emas yang merupakan sumbangan dari jemaat lenyap dicuri pelaku. Tindak kejahatan ini terjadi di rumah ibadah milik umat Hindu itupun dilaporkan ke Mapolsekta Medan Labuhan.

Silwa Rajin, selaku pendeta di Kuil Sri Maryaman mengatakan, peristiwa hilangnya puluhan gram emas itu, baru dikatahui saat dirinya sedang melakukan pembersihan pada pagi harinya. Ketika itu ia terkejut begitu melihat lima pasang mata patung yang terbuat dari emas dan kalung manggala sutra yang terletak di patung Sri Maryaman sudah hilang.

“Aku juga melihat kondisi jerjak jendela sudah rusak.  Yang hilang itu berjumlah 30 gram, semuanya sumbangan dari warga untuk kuil dan merupakan sesajen yang diletakan di patung Sri Maryaman,” kata dia.

Dia menjelaskan, kejadian kehilangan di kuil tersebut sudah empat kali terjadi, namun belum pernah satu orang pun pelaku berhasil ditangkap. (mag-17)

Sedang Parkir, Pengendara Sepeda Motor Ditabrak

LUBUK PAKAM- Siti Eliza (18) pengemudi Toyota Kijang Innova warna hitam BK 1180 K menyeruduk dua mobil Daihatsu Xenia warna silver B 1893 BZD dan Xenia warna biru muda BK 1250 JM,  Selasa (15/5) sekitar pukul 09.50 WIB di Jalan Sudirman, Lubukpakam.

Peristiwa itu menyebabkan seorang nenek bernama Ngadinem (60) warga Gang Keluarga Dusun III Desa Paluh Kemiri, Kecamatan Lubukpakam mengalami luka lecet di kedua tangan, lutut kiri, gigi depan bagian atas ikut copot dan dada terasa sakit.

Siti Eliza  mahasiswi semester 4 Unimed itu, datang dari arah Lubukpakam menuju Jalinsum Medan Lubukpakam. Sedangkan mobil Daihatsu BK 1250 JM yang dikemudikan Amir (33) warga Jalan Cinta Karya Desa Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia, parkir di warung lontong milik Irma. Di belakangnya ada sepeda motor milik Ngadinem yang saat itu juga ingin membeli lontong.

Sementara, Daihatsu Xenia BK 1250 JM dikemudikan M Rajo Nasution (41) warga Dusun III Desa Hamparan Perak Kecamatan Hamparan Perak, dengan perlahan melintas dari Jalan Sudirman menuju Kota Lubukpakam. Entah bagaimana, dari arah berlawanan ketika hendak melewati jembatan, mobil Kijang Innova BK 1180 K dikemudikan Siti Eliza seperti hilang kendali dan mengambil jalur jalan yang dilintasi Xenia BK 1250 JM dan menyenggolnya.

Kemudian menyeruduk tembok titi pemilik warung, serta sepeda motor Ngadinem. Kemudian Kijang Innova itu menyeruduk Xenia B 1893 BZD hingga ringsek. “Saya duga ketika itu pengemudinya sedang bertelefon sehingga hilang kendali,” bilang M Rajo Nasution. Warga  dam personel Satlantas Polres Deliserdang datang ke lokasi. (btr)

7 Senpi Anggota Polres Belawan Kedarluarsa

BELAWAN- Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Endro Kiswanto menarik tujuh senjata api (senpi) milik anggotanya karena izin penggunaannya sudah habis alias kedarluarsa. Anggota tersebut diberi batas waktu hingga dua pekan kedepan untuk memperpajang surat izin pemakaian senpi.

“Dari pemeriksaan ini kita amankan 7 senpi bermasalah tentang masa pemakaiannya habis, untuk itu kepada mereka untuk mengurusnya kembali,” kata AKBP Endro Kiswanto, saat melakukan pemeriksaan senpi di Makonya, Selasa (15/5).

Pemeriksaan senjata api yang dilakukan secara rutin ini sebut, Endro guna mengantisipasi maraknya pelaku kejahatan menggunakan senpi.   Pemeriksaan senpi secara rutin dilakukan dua minggu sekali.(mag-17)

PKB di Sumut Capai Rp3 Triliun

MEDAN- Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor (PKB) di Sumatera Utara (Sumut) belum optimal.
Selain disebabkan karena masih banyaknya penunggak pajak kendaraan, faktor penyebab lainnya yakni mutasi plat kendaraan juga memberikan dampak yang cukup signifikan.

Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Dinas Pendapatan (Dispenda) Sumut dengan Komisi C DPRD Sumut, Selasa (15/5).
Kepala Dinas Pendapatan (Kadispenda) Sumut, Syafaruddin pada kesempatan itu, mengatakan salah satu potensi yang belum tergarap adalah mutasi kendaraan terutama yang menggunakan plat B yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Pihaknya memperkirakan puluhan miliar bisa terdongkrak dari mutasi tersebut. (ari)

Beli Sabu dari Oknum TNI

BINJAI- Heri Sapriadi (38) warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, diamankan polisi di Jalan Kenanga, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Binjai Utara, Senin (14/5) sekitar pukul 23.30 WIB.

Saat hendak ditangkap, Heri sempat memberikan perlawamnan, namun sia-sia karena petugas kepolisian berhasil menggeledah tubuhnya dan menemukan sabu-sabu paket kecil seharga Rp100 ribu dari saku celananya. Akhirnya, pemain keyboard inipun digelandang ke Polres Binjai guna menjalani pemeriksaan.

Ketika ditemui di balik jeruji besi Polresta Binjai, Heri mengaku, mendapatkan barang haram tersebut dari seorang oknum TNI. “Saya baru lima bulan pakai sabu-sabu, barangnya saya dapat dari seorang oknum TNI di Kebun Lada,” ungkap Heri. (ndi)

Pelaku Pembongkaran Rumah Pegawai Kejaksaan Ditangkap

LUBUK PAKAM- Tiga pelaku pembongkaran  kediaman pegawai Kejaksaan Negeri Lubukpakam ditangkap tim buser Polres Deliserdang, Selasa (15/5) pukul 08.30 WIB.  Ketiganya adalah Zulkarnaen (24), Muhammad Yusman Tarigan (18) dan Wanda (15).

Penangkapan ketiganya berdasarkan pengaduan korban, Sulastri (52) warga Jalan Sudirman Gang Malinda Lubukpakam, Rabu (2/5) silam. Disebutkannya saat kejadian dia dan keluarganya sedang  berpergian ke luar kota, kunci rumah dititipkan kepada tetangga Yusnita (20).

Sementara peristiwa terbongkarnya rumah Sulastri, diketahui Yusnita ketika hendak mematikan lampu. Dan menemukan rumah itu telah dibobol maling, dengan cara  terlebih dahulu merusak pintu depan lantai 2 rumahnya.

Setelah diteliti, uang tunai di dalam lemari pakaian yang ditaksir Rp11,3 juta raib.
Peristiwa pembongkaran itu dilaporkan ke polisi. Untungnya polisi berhasil meringkus pelaku. Di dalam tahanan, Zulkarnaen mengaku uang hasil curian tersebut mereka bagi-bagi. (btr)

Pengunjung Protes Kinerja Petugas Parkir

KARO- Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di bawah kepemimpinan Bupati  Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, kembali menunjukkan kinerja buruk. Hal ini terbukti, Dinas Perhubungan melanggar peraturan daerah (perda) tentang perparkiran.

Hal ini terungkap saat protes sejumlah wisatawan  yang berkunjung ke dataran tinggi Karo,  khususnya Kota Berastagi. Tindakan pegawai Dinas Perhubungan (Dishub), yang mengutip parkir di sejumlah objek wisata, sebelum meninggalkan  daerah tujuan wisata (DTW) dianggap bukan hal lajim.

“Belum berhenti, kendaraan langsung distop dan dimintai biaya parkir. Padahal setahu saya, ketika hendak berangkatlah baru  uang parkir dikutip. Aneh juga  memang sekarang peraturan di Tanah Karo ini. Padahal saya sudah sering membawa wisatawan kemari,” ujar  A Sembiring, pengemudi  angkutan umum (carteran, Red) asal Deliserdang.

Dalam Perda Karo No 05 tahun 2012, pasal 41 dan 42 jelas tertulis lokasi yang dikenakan bea parkir. Dalam perda itu kawasan yang dikenakan bea parkir yang tidak termasuk lokasi yang disediakan, dimiliki, atau dikelola  Pemda Karo. Hal ini bisa dilihat di kawasan jalan di seputaran puncak Bukit Gundaling. Kawasan Jalan Veteran Berastagi, kawasan  pasar tradisional Losd Pancur Batu, dan sejumlah tempat lain di  seputaran Kota Kabanjahe.
Kadis  Perhubungan Karo, Drs Jamin Ginting mengatakan anggotanya tidak ada yang diarahkan  melakukan hal tersebut.  “Banyak petugas parkir liar saat ini yang memanfaatkan situasi. Masalah ini sudah saya laporkan ke pihak berwajib,” katanya. Dua juga menyebutkan seluruh  pengelolaan parkir tidak ada di sub kan kepada rekanan. (wan)

PTPN2 Kwala Babat Hasil Tanaman Penggarap

LANGKAT- Sedikitnya 700-an karyawan PTPN2 dikomandoi manejer Kebun Kwala Sawit Kecamatan Batangserangan Kabupaten Langkat, Ir RY Haharap, Selasa (15/5), mengokupasi 400 hektar lahan yang digarap sekelompok masyarakat kawasan Afdelin 3, 5 dan 6.

Sebelum okupasi yang dilakukan karyawan PTPN2, kelompok masyarakat penggarap menanami lahan tersebut dengan berbagai jenis tanaman, seperti pinang, pisang, ubi dan lainya.

Tidak hanya itu, masyarakat juga mendirikan pondok atau gubuk. Saat berlangsungnya okupasi, puluhan personel Pengendali Massa (Dalmas) Polres Langkat dipimpin Kompol Suyadi serta beberapa anggota Reserse Brimob (Resmob) berjaga-jaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya aksi perlawanan dari masyarakat penggarap.

Sementara itu sekitar 50-an penggarap, tidak mampu berbuat banyak ketika karyawan memulai aksi okupasi dengan mencabuti tanaman mereka yang posisinya berdampingan persis kebun kelapa sawit yang masih produksi. Tidak hanya itu, gubuk-gubuk yang mereka dirikan turut dirubuhkan serta dibakar. (mag-14)

Danau Toba Layak jadi Kawasan Geopark

MEDAN- Sebagai salah satu danau terbesar di Indonesia dengan keanekaragaman geologinya, Danau Toba dinilai sangat layak dijadikan kawasan geopark (taman bumi). Penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark dilakukan sekaligus sebagai pengembangan ekonomi masyarakat lokal melalui kegiatan pariwisata serta menjadikan kawasan tersebut sebagai area pembelajaran dan rekreasi.

“Geopark ini sendiri sebenarnya merupakan konsep yang dipromosikan oleh UNESCO sejak tahun 2000 dan telah diterapkan di banyak negara, seperti Eropa dan China. Penetapan kawasan geopark ini sangat penting dilakukan sebagai pelestarian situs-situs geologi,” kata Ketua Pengda Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumut, Ir. Gagarin Sembiring dalam talkshow yang diselenggarakan Earth Society for Danau Toba, di Hotel Tiara Medan, Senin (14/5).

Menurut Gagarin, sebagai danau yang terbentuk dari aktivitas vulkano tektonik terbesar di dunia dengan panjang danau mencapai 87 km dan lebar 27 km serta ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimal 505 meter, Danau Toba merupakan aset pariwisata yang penting bagi Indonesia. Kawasan dengan luas 3,704 km2 yang diliputi 5 kabupaten diantaranya Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi dan Karo ini memiliki potensi yang cukup untuk ditetapkan sebagai kawasan geopark.

“Sebelumnya, yang sudah menjadi kawasan geopark adalah Danau Batur di Bali dan kawasan karst di Pacitan.

Maka untuk menjadikan Danau Toba sebagai kawasan geopark harus benar-benar dipersiapkan. Semua kabupaten harus mendukung dan juga mempersiapkan diri,” ujarnya.

Ketua Earth Society, Mangaliat Simarmata menambahkan tahun ini direncanakan Danau Toba menjadi kawasan geopark. “Jika Danau Toba ditetapkan menjadi kawasan geopark, diharapkan hal tersebut sebagai pengenalan ilmu kebumian. Masyarakat adat bisa diberdayakan untuk ikut dalam pelestarian Danau Toba. Filosofi geopark adalah yang penting peran serta yang jelas masyarakat adatnya,” urainya.

Kepala Dinas Kesenian dan Kebudayaan Samosir, Theodora Sihotang, mengungkapkan untuk menyambut penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark oleh UNESCO, Kabupaten Samosir akan melakukan pendampingan kepada masyarakat. “Begitu juga dengan penganggaran untuk pariwisata Danau Toba, pasti nanti akan disiapkan. Samosir memiliki komitmen dalam pariwisata. Berbicara geopark, disadari betul bahwa pelestari Danau Toba adalah masyarakat sekitar itu sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Pengelola Ekosistem Kawasan Danau Toba, Edward Simanjuntak mengaku sosialisasi  dimasyarakat harus dilakukan terlebih dahulu sebelum penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark. “Bahkan meskipun tidak jadi geopark, kita tetap harus bergerak untuk mencintai dan melestarikan kawasan Danau Toba,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Budayawan dari Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Umar Harahap, mengatakan bahwa Danau Toba sangat kaya dalam konteks kebudayaan. “Misalnya saja alat musik dan nyanyian masyarakat Danau Toba yang sangat unik dan tidak ada di negara lain. Jadi, sebenarnya tidak perlu menunggu UNESCO untuk menjadikannya geopark kemudian dilestarikan. Yang penting bagaimana manusianya harus menjadi lebih baik dulu baru lingkungan juga akan menjadi baik,” ucapnya. Menurutnya untuk melestarikan Danau Toba salah satunya dengan menjaga kawasan itu dari kerusakan. “Menjadikannya sebagai kawasan yang bisa untuk mempelajari ilmu kebumian. Jadi tidak perlu menunggu penetapan kawasan geopark oleh UNESCO,” bebernya. (mag-11)

Danau Toba Layak jadi Kawasan Geopark

MEDAN- Sebagai salah satu danau terbesar di Indonesia dengan keanekaragaman geologinya, Danau Toba dinilai sangat layak dijadikan kawasan geopark (taman bumi). Penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark dilakukan sekaligus sebagai pengembangan ekonomi masyarakat lokal melalui kegiatan pariwisata serta menjadikan kawasan tersebut sebagai area pembelajaran dan rekreasi.

“Geopark ini sendiri sebenarnya merupakan konsep yang dipromosikan oleh UNESCO sejak tahun 2000 dan telah diterapkan di banyak negara, seperti Eropa dan China. Penetapan kawasan geopark ini sangat penting dilakukan sebagai pelestarian situs-situs geologi,” kata Ketua Pengda Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumut, Ir. Gagarin Sembiring dalam talkshow yang diselenggarakan Earth Society for Danau Toba, di Hotel Tiara Medan, Senin (14/5).

Menurut Gagarin, sebagai danau yang terbentuk dari aktivitas vulkano tektonik terbesar di dunia dengan panjang danau mencapai 87 km dan lebar 27 km serta ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimal 505 meter, Danau Toba merupakan aset pariwisata yang penting bagi Indonesia. Kawasan dengan luas 3,704 km2 yang diliputi 5 kabupaten diantaranya Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi dan Karo ini memiliki potensi yang cukup untuk ditetapkan sebagai kawasan geopark.

“Sebelumnya, yang sudah menjadi kawasan geopark adalah Danau Batur di Bali dan kawasan karst di Pacitan.
Maka untuk menjadikan Danau Toba sebagai kawasan geopark harus benar-benar dipersiapkan. Semua kabupaten harus mendukung dan juga mempersiapkan diri,” ujarnya.

Ketua Earth Society, Mangaliat Simarmata menambahkan tahun ini direncanakan Danau Toba menjadi kawasan geopark. “Jika Danau Toba ditetapkan menjadi kawasan geopark, diharapkan hal tersebut sebagai pengenalan ilmu kebumian. Masyarakat adat bisa diberdayakan untuk ikut dalam pelestarian Danau Toba. Filosofi geopark adalah yang penting peran serta yang jelas masyarakat adatnya,” urainya.

Kepala Dinas Kesenian dan Kebudayaan Samosir, Theodora Sihotang, mengungkapkan untuk menyambut penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark oleh UNESCO, Kabupaten Samosir akan melakukan pendampingan kepada masyarakat. “Begitu juga dengan penganggaran untuk pariwisata Danau Toba, pasti nanti akan disiapkan. Samosir memiliki komitmen dalam pariwisata. Berbicara geopark, disadari betul bahwa pelestari Danau Toba adalah masyarakat sekitar itu sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Pengelola Ekosistem Kawasan Danau Toba, Edward Simanjuntak mengaku sosialisasi  dimasyarakat harus dilakukan terlebih dahulu sebelum penetapan Danau Toba sebagai kawasan geopark. “Bahkan meskipun tidak jadi geopark, kita tetap harus bergerak untuk mencintai dan melestarikan kawasan Danau Toba,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Budayawan dari Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Umar Harahap, mengatakan bahwa Danau Toba sangat kaya dalam konteks kebudayaan. “Misalnya saja alat musik dan nyanyian masyarakat Danau Toba yang sangat unik dan tidak ada di negara lain. Jadi, sebenarnya tidak perlu menunggu UNESCO untuk menjadikannya geopark kemudian dilestarikan. Yang penting bagaimana manusianya harus menjadi lebih baik dulu baru lingkungan juga akan menjadi baik,” ucapnya. Menurutnya untuk melestarikan Danau Toba salah satunya dengan menjaga kawasan itu dari kerusakan. “Menjadikannya sebagai kawasan yang bisa untuk mempelajari ilmu kebumian. Jadi tidak perlu menunggu penetapan kawasan geopark oleh UNESCO,” bebernya. (mag-11)