Home Blog Page 13522

Kuil Zaman Nabi Daud Ditemukan

JERUSALEM – Para arkeolog berhasil mengungkap satu lagi kuil sisa peradaban kuno dari masa yang tercantum dalam kitab suci Islam dan Nasrani. Kuil tersebut diperkirakan berasal dari zaman Nabi Daud.

Ekskavasi (penggalian) itu dilakukan di sisa-sisa kota Khirbet Qeiyafa yang berusia sekira 3.000 tahun. Lokasinya berada di jarak sekira 19 mil  (30 kilometer) arah tenggara Jerusalem.

Di khirbet Qeiyafa, para arkeolog mengungkap keberadaan tiga ruangan besar berfungsi sebagai kuil serta artefak-artefak, termasuk peralatan, tembikar dan benda-benda pemujaan.

Ketiga kuil itu merupakan bagian dari kompleks bangunan yagn lebih luas. Artefak tersebut juga termasuk lima batu berdiri, dua altar dari batuan basalt. Satu kuil portabel tersebut dibuat dari tembikar, sementara satu yang lain dibuat dari batu.

Kuil tersebut mencerminkan gaya arsitektur dari zaman Nabi Daud (King David) dan menjadi bukti pertama persembahan di masa tersebut. (net)
Penelitian itu dipublikasikan dalam buku “Footsteps of King David in the Valley of Elah”.

Penemuan tersebut menawarkan sebuah petunjuk mengenai Israel kuno yang meyakini satu Tuhan dan melarang penggunaan figur manusia maupun hewan. Pasalnya, kuil yang ditemukan ini tidak menyimpan figur manusia maupun binatang seperti di situs lain. Bahkan tak ada tulang babi yang ditemukan di sana.
“Penemuan ini mengindikasikan populasi Khirbet Qeiyafa menaati dua larangan injil terhadap babi atau gambar. Mereka juga mempraktikkan persembahyangan yang berbeda dengan suku Kanaan atau Philistin,” papar arkeolog dari Hebrew University of Jerusalem, Yosef Garfinkel, seperti dilansir Live Science, Senin (14/5).(net)

Ahmad Dhani Ogah Ditawari Partai Golkar

Ketatnya persaingan pada Pemilu 2014 membuat Partai Golkar terus mengincar artis sebagai pendulang suara (vote-getter). Popularitas musisi Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Syahrini, antara lain, yang menarik hati partai pemilik suara terbesar kedua pada Pemilu 2009 itu. Ketiganya ditawari secara terbuka agar bersedia menjadi calon legislatif (caleg).

Tawaran itu disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso saat menerima Ahmad Dhani dkk di ruang kerja wakil ketua DPR di kompleks parlemen, Jakarta, kemarin (14/5).

Dhani menyatakan, tawaran bergabung dengan parpol bukan sekali ini diterimanya. Semua parpol hampir pernah menawari. “Tapi, saya tidak berminat, belum tertarik,” tegasnya. (agm/jpnn)

Bila Kematian tak Lagi Berharga

Oleh: Jones Gultom

Belakangan ini, kematian menjadi berita sehari-hari negeri ini. Pembantaian TKI, geng motor, tembak-menembak oleh aparat, maupun aksi-aksi bunuh diri merupakan peristiwa yang selalu terjadi setiap saat, tanpa pernah dicari tahu akar penyebabnya.

Kematian adalah puncak ritual manusia. Prosesi terhadapnya begitu diagungkan, bahkan lebih mulia dibanding kelahiran. Dengan kematian, seseorang menandai akhir perjalanan hidupnya, apakah berguna atau tidak. Pada akhirnya, kematian seseorang menjadi cermin bagi orang lain. Tak heran, jika di berbagai upacara kematian, biasanya dibacakan curriculum vitae orang yang meninggal itu.

Telah tercatat dalam sejarah, beragam kisah kematian yang menghidupkan itu. Misalnya, kematian Socrates yang membawa perubahan cara pandang sosial-agama di masa Yunani Kuno.

Yang paling dramatis tentu saja kematian Isa di kayu salib. Kematian-Nya bahkan menjadi awal babakan baru peradaban dunia. Ia tidak hanya membebaskan tapi juga memperbaharui iman para pengikut ajaran-Nya. Melalui kematian-Nya orang-orang tersadarkan, betapa iman mesti diperjuangkan demi kebersamaan.

Kematian yang menghidupkan adalah kematian yang direnungkan. Tanpa perenungan itu, tidak mungkin buah pemikiran Socrates mendengung sampai sekarang ini. Sebaliknya, kematian seseorang tidak akan berguna bagi orang lain, jika tak direnungkan. Perenungan inilah yang nantinya membuahkan kesadaran bagi manusia akan kemanusiaannya. Singkatnya, kematian yang menghidupkan hanya akan terjadi pada orang-orang yang mau memakanai kematian itu sendiri.

Kematian yang Dipolitisir

Ironisnya, di Indonesia, pengingkaran terhadap kematian justru dilakukan oleh pemerintahnya sendiri. Banyak kasus kematian yang sengaja tak dituntaskan bahkan dipolitisir. Seperti kematian aktivis HAM Munir dan beberapa mahasiswa Trisakti pasca reformasi lalu. Juga peristiwa yang terjadi Bima dan Mesuji beberapa waktu lalu. Pemerintah malah menutup-nutupi peristiwa itu.

Politisasi pun dilakukan. Pemerintah seakan tak menyadari, dengan berlaku seperti itu, ia bukan hanya telah bertindak kejahatan, tapi juga menyimpan bom waktu di “saku bajunya” sendiri. Begitu juga dengan kematian beberapa TKI baru-baru ini yang diduga korban praktik penjualan organ. Padahal ketika kematian sudah tak lagi dihargai, saat itulah manusia kehilangan kemanusiaannya.

Lihatlah kasus Sondang Hutagalung yang membakar dirinya di depan istana, beberapa wakttu lalu. Sondang adalah sebuah ironi yang kemudian memilih kematian karena sudah tak percaya lagi dengan harapan yang dijanjikan kehidupan.

Kematian yang menghidupkan diperlihatkan dengan begitu teguh oleh Pencari Keadilan, Indra Azwan.

Indra yang menuntut kasus kematian anaknya, Rifki Andika, 19 tahun lalu akibat penabarakan yang dilakukan oleh oknum polisi, Joko Sumatri, turun langsung “menjemput bola keadilan” itu. Baginya yang terpenting bukan soal ganti rugi, tapi itikad baik pemerintah untuk mengungkap kasus itu. Yang diperjuangkan Indra bukan lagi soal kematian anaknya, namun usaha ia untuk mengajarkan pemerintah dan masyarakat agar menghargai kematian yang dialami siapa dan bagaimanapun.

Harga Sebuah Kematian

Tak ada yang menarik dari sebuah kematian, kalau bukan karena beragam cerita di baliknya. Tidak heran, jika kisah-kisah kematian selalu enak untuk didengar. Bahkan sejak kecil, masyarakat Indonesia sudah disuguhi hal-hal semacam itu. Simaklah dongeng-dongeng yang akrab kita dengar, biasa berakhir dengan kematian sang tokoh protagonis.

Mengutip Novelis Agatha Christhy, kematian tak ubahnya “the daily history”; rutinitas dalam sebuah rumah tangga. Ungkapan yang sama dengan satir disebutkan Marquis de Sade, dalam romannya yang berjudul “Justine ou les Maheurs de la Vertu,”. Ia menyebut kematian tak lain adalah puncak kompetisi dan sebuah kewajaran. Menurut Sade kematian oleh kejahatan adalah wajar dan merupakan bagian penting untuk bertahan hidup.

Fenomena inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Begitu gampang orang membunuh sesamanya, bahkan terhadap keluarga sendiri. Anak membunuh bapak. Ibu yang mencekik mati anak yang dilahirkannya sendiri merupakan realita kehidupan saat ini. Masyarakat bangsa ini tengah mengalami krisis kemanusiaannya sendiri. Nyawa begitu tak berharga sehingga tanpa merasa berdosa, bisa dihilangkan begitu saja. Mengapa masyarakat sampai kehilangan sakralitas tubuhnya itu?

Menurut saya, hal itu disebabkan banyak faktor. Pertama, dikarenakan kematian psikologis. Saat ini masyarakat telah sampai pada titik jenuh untuk hidup. Pesimisme ini memunculkan kecenderungan untuk mengakhiri hidup atau diakhiri.

Sehingga dengan sedikit saja celah, seseorang punya alasan untuk membunuh atau dibunuh. Biasanya, kondisi seperti ini subur di kelompok masyarakat grass root yang selalu hidup dalam tekanan, khususnya ekonomi. Bukankah kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran?

Kedua, politisasi yang selalu dilakukan pemerintah. Pengalaman menunjukkan, berkali-kali pemerintah mempolitisasi berbagai peristiwa yang menyangkut kematian. Maklum seringkali, justru pemerintah sendiri yang terlibat di dalam kasus.

Ketiga, kebiasaan pemerintah membohongi publik. Dalam banyak kasus, pemerintah sering berbohong, apalagi terkait dengan jumlah korban. Selalu ada usaha untuk menutup-nutupi, demi pencitraan dan kelanggengan kekuasaan. Pada akhirnya pengalaman-pengalaman itu tereduksi di alam bawah sadar masyarakat. Di saat yang sama, ketidakjujuran terhadap kematian itu, menyebabkan hilangnya nilai akan kematian itu sendiri. Bukankah Hillary Putnam (1926) pernah menyebut bahwa kematian sama sekali tidak berharga dalam masyarakat yang telah kehilangan kepeduliannya.

Keempat, tubuh yang tak lagi dihargai. Tidak hanya dalam kasus kematian, banyak fenomena yang menujukkan betapa masyarakat Indonesia kini tak lagi menghargai tubuhnya sendiri. Tubuh dijadikan produk komersial sekaligus ditempatkan di luar kisahnya sendiri. Tubuh menjadi terpisah dengan jiwa.
Tubuh sekedar ditempatkan sebagai benda keseharian yang akan berakhir, dengan sendirinya. Dengan begitu tubuh tak lagi memiliki nilai. Simaklah berbagai kasus bom bunuh diri yang berlangsung hingga saat ini. Seakan pelakunya merasa tak bersalah karena telah merelakan tubuhnya hancur-lebur.
Ia menganggap tubuhnya tak berguna sehingga dijadikan korban demi keselamatan jiwa. Padahal menurut penulis, tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan yang tak mungkin dipisah-pisahkan. Sekiranya tubuh tak ada, dimanakah jiwa itu akan berumah? Mudah-mudahan Paskah ini menghidupkan kembali keutuhan kemanusiaan kita. (*)

(Penulis adalah pemerhati budaya)

David Purba Divonis 3 Tahun Penjara

JAKARTA- Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta akhirnya memvonis David Purba dengan hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp150 juta, subsider empat bulan kurungan penjara. David merupakan terdakwa kasus dugaan korupsi dan pencucian uang dana kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara. Dia juga diduga menerima aliran dana Pemkab Batubara tersebut.

Dalam putusannya yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Marsudin Nainggolan, David terbukti melanggar pasal 15 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi secara bersama-sama. Hukuman ini dijatuhkan setelah majelis hakim menimbang hal yang memberatkan, dimana terdakwa kontraproduktif dengan upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.  Selain itu, perbuatan terdakwa juga telah merusak nama baik Kejaksaan Agung, berbelit-belit dalam memberikan keterangan dan tidak mengakui perbuatan.

Hukuman ini jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung yang dibacakan Senin (16/4) lalu. Dimana JPU meminta agar majelis hakim menjatuhi David dengan hukuman penjara lima tahun dan denda sebesar Rp250 juta. Sebab perbuatan David terbukti melanggar hukum. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan vonis.

Disebutkannya, keterlibatan David dalam kasus ini berawal dari terungkapnya kasus korupsi dan pencucian dana kas Pemkab Batubara senilai Rp80 miliar. Yang melibatkan mulai dari jajaran Kepala Dinas Pemkab Batubara, pimpinan bank, hingga perusahaan investasi. Melalui terpidana yang telah lebih dulu divonis terkait kasus yang sama, Daud Aswan Nasution (yang merupakan mantan anak buah Ilham), David menawarkan pada Direktur PT Pacifik Fortune Management (PFM), Ilham Martua Harahap, untuk mengurus perkaranya di Kejaksaan Agung. Dan atas bantuannya tersebut, Ilham diminta menyetorkan uang hingga Rp1,5 miliar. Setelah beberapa kali melakukan pertemuan, Ilham akhirnya setuju melakukan pembayaran. “Dari sinilah munculnya niat jahat, apalagi ada permintaan uang yang katanya untuk diberikan pada pejabat Kejaksaan Agung,”ungkap Majelis Hakim.

Sementara itu terkait permintaan JPU, agar  barang bukti sebuah mobil CR-V atas nama istri David, dikembalikan pada sebuah perusahaan finansial, majelis hakim menolaknya. Dan memerintahkan Kejaksaan agar mobil tersebut dikembalikan kepada terdakwa.

Menanggapi putusan itu, baik David dan pengacaranya maupun JPU, sama-sama menyatakan pikir-pikir. Sehingga putusan ini belum berkekuatan hukum tetap. Namun majelis hakim mengingatkan jika dalam tujuh hari tidak ada tanggapan, maka putusan berkekuatan hukum tetap. (gir)

Warga Dua Kelurahan Bakar Kafe Esek-esek

Binjai Kian Memanas

BINJAI- Aksi massa terus terjadi di Kota Binjai. Belum tuntas persoalan perang saudara di Desa Namu Ukur, Kecamatan Sei Bingai, yang menewaskan seorang warga, muncul konflik berdarah di Kelurahan Sumber Karya, Kecamatan Binjai Timur antar dua kelompok pemuda yang saling bacok hingga mengakibatkan dua dua pemuda mengalami luka bacok.

Minggu malam (13/5) sekira pukul 21.30 WIB, sedikitnya 300 massa dari Kelurahan Limau Sundai dan Kelurahan Payaroba, Kecamatan Binjai Barat, membakar sejumlah kafe esek-esek yang diduga kerab dijadikan tempat mabuk-mabukan dan prostitusi di wilayah tersebut.
Tidak hanya itu, warga yang berang karena pemilik warung Zoelfan Nasution (59), tidak mengindahkan permintaan warga untuk menutup kafe. Malah, aksi house musik terus dikumandangkan pengelola kafe hingga dini hari setiap malamnya.

Kemarahan warga pun kian memuncak ketika house musik tetap berbunyi ketika kumandang azan atau waktu salat tiba. Karena lokasi kafe hanya berjarak 500 meter dari Masjid Al Hikma, tempat warga sekitar menjalankan ibadah.

“Bagaimana kita tidak berang. Masak menghidupkan musik dari pagi hinga pagi lagi. Sudah itu, jika azan tiba pemilik warung tidak memperdulikannya. Apalagi pemilik kafe bukan orang tempatan,” kata H Ali, salah seorang warga yang melakukan aksi.

Aksi massa ini bermula, saat dibangunnya kafe esek-esek sekitar dua bulan lalu. Selama berdirinya kafe esek-esek di kampung mereka, sejak itupula tidur malam dan pelaksanaan ibadah mereka terganggu.  Beberapa warga pun sempat mendatangi kafe esek-esek ini meminta para pengelolanya untuk mengindahkan waktu istirahat warga dan waktu beribadah. Namun kafe tersebut tetap tak menggubris.

Lantas, warga memberitahukan kerasahan ini ke Polsek Binjai Barat untuk menindak lanjuti permohonan warga ini. Setelah menunggu berapa lama, sampai saat ini laporan lisan itu tak kunjung direspon petugas kepolisian, hingga terjadi pergearakan massa.

“Baru dua minggu lalu kami mengadakan pertemuan dengan pihak kepolisian, dan pemilik usaha untuk menutup tempat itu, tapi, tampaknnya pemilik tidak bergeming sedikitpun dan polisi tidak merespon permintaan warga,” tambah H Ali.

Tak ingin kampungnya dikotori kafe esek-esek, warga dari dua kelurahan ini sepakat untuk bertindak sendiri dengan membakar kafe. Tanpa ada komando, warga langsung menyulut kafe semi permanen berukuran 4 X5 meter itu dengan api.

Alhasil, pengunjung yang sedang menikmati minuman beralkohol di dalam kafe pontang panting menyelamatkan diri. Beruntung, keganasan warga tidak pada pengunjung kafe, sehingga belasan pengunjung kafe dibiarkan lari dari lokalisasi. Tapi, pemilik kafe harus menerima amukan massa yang kesal dengan menghajarnya hingga babak belur. Setelah menghajar pemilik kafe, warga langsung membawanya beserta 4 unit sepeda motor pengunjung ke Polsek Binjai Barat. Lantas, mereka meminta kepada pihak kepolisian untuk menindak pemilik kafe esek-esek tersebut.

“Bagaimana kita nggak berang. Saat kita datang  mereka  (pengunjung kafe, Red) asik menenggak minuman keras ditemani wanita. Ya, kita bakar saja biar sekalian publik tahu, jika hukum rimba sudah berjalan. Karena, sudah bagus-bagus kita minta tak dindahkan, polisi juga tak ada tindakan, jadi mau diapain lagi kalau kita tidak bertindak, apa kita biarkan saja maksiat di kampung kita?” geram Wati (37) sesaat setelah melakukan aksi.  Wati juga mengaku terkejut melihat massa yang datang begitu banyak. Soalnya, aksi ini hanya dari mulut ke mulut tanpa ada komando. “Wah, ramai kali masyarakat yang turun. Seluruh masyarakat dari dua kelurahan turun semua untuk menghanguskan tempat itu,” tandasnya.

Tindakan warga ini sontak mengusik Kapolresta Binjai. Orang nomor satu di Polresta Binjai ini langsung turun ke lokasi guna menentramkan masyarakat yang sudah emosi. Akhirnnya, setelah didata dan pemilik warung berjanji tidak membuka warung itu lagi, barulah warga yang tadinnya memadati Polsek Binjai Barat berangsur-angsur meninggalkan kantor polisi dan pulang ke rumah masing-masing.

“Pemilik warung memang bukan orang sini. Mereka kalau nggak salah warga Jalan Salak, Kelurahan Umar Baki, Binjai Barat,. Namun, beberapa bulan lalu pemilik warung meminta izin kepada saya untuk mendirikan rumah di lokasi tersebut. Karena saya pikir hanya untuk tempat tinggal, jadi saya perbolehkan,” ungkap Lurah Limau Sundai Samoel Lombantoruan.

Sementara kafe esek-esek yang dibakar warga, rata dengan tanah dan terdapat drum serta botol minuman keras di lokasi itu. Tidak hanya itu, di lokasi juga ditemukan sebuah celana dalam wanita yang diduga milik wanita penghibur di kafe esek-esek tersebut. Kasat Reskrim Polresta Binjai AKP Aris Fianto ketika dihubungi membenarkan peristiwa itu. “Memang benar dibakar, tapi bukan kafe melainkan warung tuak. Lebih jelasnya tanya ke Polsek Binjai barat saja, karena kami cuma back up,” ujarnya. (ndi)

Maling Ayam Tewas Dimassa

LANGKAT- Mahyuddin alias Keleng (50) warga Dusun Paya Palas Desa Paya Perupuk Kecamatan Tanjung Pura tewas dimassa karena mencuri ayam. Sebelum meninggal, Mahyuddin sempat dirawat di RSUD Tanjung Pura.

Duda beranak dua yang berdomisili dengan keluarga besarnya ini, Senin (14/5) dinihari dipergoki warga Dusun IV Mulia Desa Padang Tualang, Kecamatan Padang Tualang-Langkat sedang beraksi mencuri ayam.

Warga yang diduga sudah terbakar emosi karena seringnya kemalingan, langsung menghajar Mahyuddin. Dalam keadaan susah, Mahyuddin dibawa ke RSUD Tanjung Pura hingga akhirnya dirujuk ke RSU Adam Malik Medan dan meninggal di rumah sakit.

Sebelum dihajar massa, Mahyuddin sempat sembunyi di sumur.  “Dalam sepekan ini, sudah tiga hari kami intip untuk mencari tahu siapa pelakunya dan kami juga tidak menyangka dia (Mahyuddin) pelakunya karena kami kira pelakunya orang yang tinggal di kampung ini juga,” kata salah seorang warga. (mag-4)

Tabrakan Maut, Bayi 10 Bulan Lecet-lecet

BINJAI- Kecelakaan maut terjadi di Jalan Umar Baki, Kelurahan Payaroba, Kecamatan Binjai Barat, Senin (14/5) sekitar pukul 09.30 WIB. Sebuah mobil truk tronton menabrak sebuah kios dan pengendara sepedamotor hingga mengakibatkan 4 orang warga luka-luka termasuk seorang bayi berusia 10 bulan.

Ajaibnya, seorang bayi bernama M Akbar, berusia 10 bulan, yang sempat terpental hingga 1 meter dan masuk ke bawah truk, hanya mengalami luka lecet di bagian kepala. Peristiwa maut ini terjadi saat sopir truk Heru Syahputra (26) warga Jalan Bandar Selamat, Kecamatan Medan Tembung, mengendarai mobilnnya dengan kecepatan tinggi.

Namun, ketika berada di persimpangan Jalan Labu, Kecamatan Binjai Barat, muncul dari arah arah berlawanan pengendara sepedamotor Honda GL Pro BK 6612 BJ yang juga melaju kencang hendak menyalip becak bermotor.  Tabrakan tak terelakkan. (ndi)

Bongkar Tower Protelindo

MEDAN- Warga Komplek Tembakau Deli meminta Kadis Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) segera membongkar Tower dan Shalter Protelindo yang berdiri di atas bangunan di Jalan Tembakau Deli Komoplek Perumahan Tembakau Deli Kelurahan Kesawan Kecamatan Medan Barat.

Data yang diperoleh, Senin (14/5) warga yang menolak berada sangat berdekatan dengan berdirinya tower tersebut diantaranya adalah Siau Sui Seng  beralamat di Jalan Tembakau Deli I No 4 A, Ikhsan Wijaya beralamat di Jalan Tembakau Deli 1 No 2 B, Mariana Wongso beralamat di Jalan Tembakau Deli No 3B, Rahmat Lubis Jalan Tembakau Deli No 2, meminta tower  dibongkar .

Dari data yang dilampirkan ada kejanggalan dari Dinas TRTB yakni  26  Januari 2012 Dinas TRTB melalui surat nomor 640/0611 yang ditandatangani Kadis TRTB Ir Syamporno Pohan isinya memerintahkan PT Protelindo segera membongkar sendiri bangunan tersebut karena tidak sesuai dengan SIMB. Kemudian surat bernomor 640/187, 4 Maret 2012 dengan perintah PT Protelindo mengosongkan tower.

Kadis TRTB Samporno Pohan menegaskan bisa saja izin Tower tersebut ditinjau kembali asalkan ada surat keberatan warga sekitar.(ade)

Mobil Terbakar

MEDAN- Mobil Daihatsu jenis Hijet 1000 dengan nomor polisi BK 354 BT terbakar di Simpang Jalan Mongonsidi dan Kapten Pattimura, Senin (14/5) tadi malam. Tidak ada korban jiwa melainkan hanya kerugian materi.

Data yang dihimpun, mobil tersebut terbakar sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu pengemudi Hadi (56) tengah melintas dari Jalan Pattimura berbelok ke Jalan Mongonsidi. Baru memasuki simpang Mongonsidi Hadi melihat api muncul mendadak dan ia pun langsung menyelamatkan diri. “Mendadak ada api. Mungkin juga konslet. Langsung saja saya buru-buru keluar mobil,” kata Hadi.

Selanjutnya satu unit pemadam kebakaran tiba  setengah jam pasca kejadian dan berhasil memadamkan api. Namun mobil sudah terbakar habis hingga tersisa rangkanya. “Tidak ada barang berharga di mobil. Hanya sebuah tas yang ikut terbakar,” kata pria yang bekerja di Airport Security Angkasa Pura II itu.

Tak berapa lama Kapolsek Medan Baru, Kompol Dony Alexander yang turun ke lokasi kejadian mengatakan hal ini murni kecelakaan lalu lintas. “Mobil terbakar di Jalan Mongonsidi. Persisnya sebelum jembatan,” katanya.(mag-18)

Pemkab Pakpak Bharat Sosialisasi Analisis Gender

PAKPAK BARAT- Guna mengantisipasi bertambahnya kasus-kasus kekerasan terhadaap perempuan dan anak, Pemkab Pakpak Bharat menggelar Sosialisasi AnalisisGender untuk Pembentukan Focal Point Gender bagi setiap SKPD dan Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tahun 2012.

Acara itu mengadirkan Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan, Anak dan KB Setda Provsu dr Iis Fauziah Hanum MKes dan Kabag Pengarusutamaan Gender Provsu Dra Marhamah MSi yang acaranya dibuka Wakil Bupati Pakpak Bharat Ir H Maju Ilyas Padang, Senin (14/5) di Aula Pemkab Pakpak Bharat.
Dalam sambutannya Bupati Remigo Yolando Berutu MBA yang dibacakan Wakil Bupati, menyampaikan kegiatan ini merupakan Ikhtiar untukmemberikan pemahaman dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender ke dalam setiap tahap, strategi  untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan  dan permasalahan perempuan dan laki-laki kedalam
perencanaan, pelaksanaan, pemantuan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

“Hal ini juga implementasi dari Instruksi Presiden No 9 tahun 2000 yang ditujukan kepada semua departemen, Lembaga Negara Non Departemen, Gubernur dan Bupati agar melakukan strategi pembangunan pengarusutamaan gender dalam setiap tahapan pembangunan,” tegas Bupati.
Kepala Bappemas PMD, PP dan KB  Pakpak Bharat Drs Sobat Maha menyatakan kegiatan ini diikuti pimpinan SKPD, Unsur Muspida, para Camat, Ormas dan para peserta sosialisasi lainya yang  di  Pakpak Bharat. (mag-14)