Home Blog Page 13521

Rini ‘Idol’ Fokus di ’Mimpi Besarku’

Pada 2007 silam Rini ‘Idol’ merilis album perdana dan hingga kini belum ada album baru darinya. Rini mengaku belum memikirkan soal album, saat ini ia sedang fokus dengan single ‘Mimpi Besarku’.

Lagu ciptaan Ade ‘Govinda’ itu telah dirilis Rini beberapa waktu lalu. Dara bernama lengkap Rini Wulandari itu pun kini sibuk promo single tersebut.
“Album nanti, kita masih ngerjain single dulu. Kalau udah jalan bakalan ada next single, nanti baru deh diomongin,” ujar Rini ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (14/5).

Mantan pacar Anji itu pun benar-benar fokus dengan single tersebut sampai tidak melirik tawaran lain. Meskipun Rini ingin menjajal kemampuan berakting, tapi ia memilih menundanya terlebih dahulu. (bbs/net)

Pemkab Karo Tunggak Listrik Rp1,8 Miliar

KARO- Kabupaten Karo terus didera kabar tak sedap. Setelah dugaan ijazah palsu yang menimpa bupatinya, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo juga diketahui punya tunggakan listrik senilai Rp1,8 miliar.

Soal tunggakan ini dibenarkan oleh Kacab PLN Kabanjahe, Tety Tambunan, ketika dihubungi Sumut Pos, kemarin. Menurut Tety, Pemkab Karo menunggak tagihan listrik sejak enam bulan ke belakang, tepatnya sejak Desember 2011.

Bahkan, Tety mengatakan pihaknya telah melayangkan surat  ke Pemkab Karo agar segera melunasi utang tersebut. Tetapi, belum ada jawaban. Dengan kata lain, PLN Kabanjahe belum menerima info pasti kapan pembayaran tagihan listrik di sekretariat Kantor Bupati Tanah Karo, Lampu Penerangan Jalan Umum (Lpju), dan gedung DPRD akan dibayarkan.

Kenyataan ini tak pelak menuai ragam tanggapan. Bahkan, banyak yang menilai Pemkab Karo dinilai sejumlah pihak berbanding terbalik  terhadap kebijakan kepada pelanggan umum (masyarakat). Di mana pelanggan umum yang belum membayarkan tiga bulan berturut-turut bea tagihan harus pasrah menerima sanksi pemutusan arus. “Menurut mereka itu merupakan aturan perusahaan. Tetapi bagaimana dengan tunggakan listrik Pemkab Karo?” ujar warga Kabanjahe J Sembiring, kemarin.

Menurutnya, tunggakan listrik Rp1,8 miliar di bawah kepemimpinan bupati saat ini Kena Ukur Karo Jambi Surbakti membuktikan indikasi ketidakmampuannya dalam memimpin  Kabupaten Karo. Di mana dugaan alasan belum disahkannya APBD Karo beberapa waktu lalu, sebagai salah satu faktor penyebab molornya pembayaran listrik. “Bagaimana jika listrik diputus PLN, apakah pelayanan publik tidak terganggu. Ini  salah satu bukti kelemahan di pucuk pimpinan,” tambah Sembiring.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Pemkab Karo, Jhonson Tarigan sama sekali tak membantah soal kabar tersebut. Dengan kata lain, Tarigan membenarkan soal utang Rp1,8 miliar tersebut. Menurutnya, pelunasan akan segera dilakukan usai APBD Karo selesai. “Jika sudah selesai, akan segera dilunasi,” ungkap Jhonson. (wan)

Teknologi Sukhoi Ketinggalan Zaman

Tidak Terdeteksi Radar, Bikin Lama Pencarian

JAKARTA-Klaim Sukhoi Civil Aircraft Corporation, perusahaan yang membangun Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 bahwa pesawatnya menggunakan teknologi terkini patut dipertanyakan. Buktinya Emergeny Locator Transmitter (ELT) pesawat nahas tersebut menggunakan frekuensi lama. Akibatnya jelas, pesawat tersebut jadi lebih lama ditemukan.

Kepastian itu disampaikan oleh Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi usai mengevakuasi alat tersebut dari jurang jatuhnya SSJ 100. Setelah di cek, ternyata ELT tersebut masih menggunakan model lama dengan frekuensi di kanal 121.5, 203 MHz sedangkan yang terbaru frekuensinya berjalan di 121.5, 203 MHz.

“Padahal, Indonesia sudah pakai frekuensi terbaru,” ujar Tatang. Perbedaan frekuensi itulah yang membuat alat tersebut lantas tidak berfungsi dengan baik. Terlebih, posisi jatuhnya bangkai pesawat di dalam jurang membuat sinyal di frekuensi lama tidak bisa keluar.

Itulah kenapa saat menerima kabar SSJ 100 hilang kontak tim pencari tidak bisa segera menemukan bangkai pesawat. Pola pencarian dilakukan dengan cara yang lebih luas, yakni menyisir lokasi disekitar kontak terakhir dengan ATC Atang Sandjaja. Basarnas saat itu juga heran kenapa ELT tidak terdeteksi.
Bahkan, juru bicara Basarnas Gagah Prakoso mengungkapkan tidak hanya satelit Indonesia yang gagal menangkap frekuensi SSJ 100. Dua satelit milik negara tetangga yakni Singapura dan Australia yang menjadi backup satelit Indonesia juga bernasib sama. Idealnya, begitu kecelakaan terjadi pesawat langsung memancarkan ELT.

Dia tidak tahu pasti kenapa pabrikan Sukhoi memasang alat tersebut. Kalaupun alat tersebut merupakan standar pabrikan, terbukti tidak bisa berfungsi baik di Indonesia. Namun, untuk lengkapnya Tatang akan membawa ELT tersebut ke markas KNKT. “Akan kami selidiki lebih lanjut ELT tersebut,” imbuhnya.

Anggota Komisi I DPR Roy Suryo yang ikut ke Posko Cijeruk, Bogor berharap agar fakta itu segera ditindaklanjuti pabrikan Sukhoi. Artinya, kalau serius membuka pasar di Indonesia harusnya peralatan menyesuaikan juga. “Harus jadi koreksi kalau pesawat itu masih dipasarkan,” katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan kalau ELT dulunya bernama ELBA (emergency located beacon aircraft). Alat tersebut disebutnya sudah jadi standar penerbangan sipil. Alat tersebut akan bekerja otomatis saat pesawat jatuh dengan tekanan tinggi. Dengan begitu, tim pencari bisa melakukan pencarian dengan lebih mudah dan cepat.

Saat ini, lanjut Roy, terdapat tiga jenis ELT. Yakni, ELT untuk pendaki gunung, kapal laut, dan pesawat terbang. Dinamisnya dunia penerbangan juga mempengaruhi penggunaan frekuensi tersebut, kalau memaksa di 12.5 VHF yang jenis pancarannya line off sight atau lurus tidak bisa menembus gunung.
Lebih jelas lagi juru bicara Basarnas Gagah Prakoso mengatakan kalau frekuensi di pesawat Sukhoi sudah sangat lama ditinggalkan Indonesia. Frekuensi tersebut pernah dipakai penerbangan Indonesia pada tahun 1980-an. “Akhirnya, regulasi pada 2009 menegaskan semua frekuensi ELT beralih ke 406 MHz,” tuturnya.

Dia lantas menjelaskan bagaimana proses penyampaian titik kordinat melalui ELT ke radar milik Basarnas. Cukup sederhana sebenarnya, saat pesawat mengalami musibah ELT lantas terpancar. Satelit menangkap sinyal tersebut dan diteruskan ke radar. “Di Bumi, satelit mengirimkan data dalam bentuk koordinat,” jelasnya.

Dari titik koordinat itulah lantas di set ke Global Positioning System (GPS) untuk membaca lokasi. Begitu GPS menunjukkan kemana arah yang harus diambil, tim pencari mulai bergerak ke lokasi. Namun, proses tersebut tidak terjadi di ELT milik Sukhoi. “Saya tidak tahu pasti, mungkin hanya Rusia atau Sukhoi saja yang pakai frekuensi lama,” terangnya.

Bukan tanpa alasan Gagah menyebut demikian. Saat ini, maskapai penerbangan rata-rata menggunakan pesawat dari pabrikan Eropa dan Amerika. Nah, dua benua tersebut sepakat untuk sama-sama menggunakan frekuensi 406 MHz. Dia yakin betul frekuensi tersebut dianut oleh beberapa negara lain mengingat dominasi pesawat Eropa dan Amerika di dunia.

Black Box Belum Ditemukan

Di luar itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo menyampaikan kalau tim SAR gabungan telah mendekati bangkai ekor SSJ 100. Seperti diberitakan sebelumnya, ekor tersebut berada di dasar jurang sedalam 500 meter dan diprediksi banyak jenazah korban. “Cuaca dan medan masih jadi kendali, tapi kami sudah dekat di ekor pesawat,” urainya.

Untuk black box, Daryatmo mengatakan belum ada di tangan tim pencari. Benda yang di duga black box sebelumnya ternyata hanya ELT, GPS dan alat komunikasi lainnya. Jadinya, pencarian masih terus dilakukan dan asumsi black box ada diantara ekor pesawat tidak berubah.

Skenario untuk pencarian hari ini tidak berubah. Tetap kombinasi SAR udara dan SAR darat. Begitu juga dengan pola evakuasi, kalau malam hari ditemukan akan dibawa ke Jakarta melalui jalan darat atau menunggu keesokan paginya. “Ada belasan helicopter dilokasi, kalau tidak bisa diatur bisa muncul persoalan baru,” tegasnya.

Identifikasi Jenazah akan Lama

Sementara itu, pengumuman hasil identifikasi jenazah korban Sukhoi tampaknya bakal berlangsung lama. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri mengaku akan mengumumkan identitas ke-45 jenazah secara bersamaan, tidak satu persatu. Menurut Kepala Rumah Sakit Polri Dr. Soekanto, Brigjen Pol Agus Prayitno, cara tersebut dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pendistribusian jenazah kepada pihak keluarga.

“Kita umumkan bersamaan juga agar bagian tubuh korban yang diserahkan sudah utuh dan tidak ada yang kurang. Memang butuh waktu lama, karena itu kita minta pihak keluarga untuk bersabar,”jelasnya di Gedung RS Polri, kemarin.

Agus menuturkan, estimasi waktu identifikasi jenazah sekitar dua minggu. Prediksi tersebut bisa meleset. Namun, dia mengungkapkan pihaknya terus berupaya bergerak cepat dalam melakukan proses identifikasi. “Setiap kali kita menerima kantong jenazah, langsung kita kerjakan,”jelasnya.

Hingga kemarin, lanjut dia, sudah ada 25 kantong jenazah yang masuk ke RS Polri. Rinciannya, 21 kantong berisi potongan tubuh korban (body parts), sementara sisanya berisi property milik korban. “Tim DVI sudah lakukan pemeriksaan terhadap 22 kantong jenazah. Tadi pagi, datang lagi tiga kantong jenazah dan saat ini dilakukan pemeriksaan post morthem. Saat ini laboratorium DNA kita sudah running, tujuannya agar segera bisa dicocokkan dengan DNA dari body parts yang diperoleh,”ujarnya.

Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DIV) Polri, Kombes Pol Dr Anton Castilani menambahkan, proses identifikasi korban memang tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Sebab, hal tersebut membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi. Apalagi, nantinya tim DVI harus merekonstruksi kembali potongan-potongan tubuh jenazah hingga menjadi kesatuan yang utuh. “Mohon pihak keluarga bersabar, kita berusaha tidak ada sepotong kecil dari bagian tubuh korban yang tidak sampai pada keluarga yang benar,”kata Anton.

Kadis Penum Mabes Polri Boy Rafli Amar mengatakan, sampai kemarin, tim DVI masih menunggu proses evakuasi yang belum tuntas. Dia meyakini, masih akan datang lagi potongan-potongan tubuh yang dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat (crash site). “Potongan-potongan tubuh yang sudah kita terima, sifatnya masih parsial, padahal kita harus mendapatkan gambaran secara utuh untuk memperoleh identitas korban. Kita menggunakan pemeriksaan DNA karena tingkat akurasinya paling tinggi,”ungkapnya. (dim/fal/ken/jpnn)

Siap Menikah

Catherine Wilson

Setelah sempat lama menghilang dari jagad hiburan Indonesia, Catherine Wilson kembali dengan kabar bahagia. Catherine kabarnya akan menikah dalam waktu dekat ini. Catherine kini tengah sibuk mempersiapkan gaun pernikahannya. Bintang film ‘Cinta Silver’ pun berencana fitting gaun pernikahannya dalam waktu dekat ini.

“Iya bener (fitting), mau married dia,” tutur  sumber,  Senin (14/5/2012).

Sayangnya sang sumber enggan menjelaskan desaigner yang dipakai untuk merancang gaun pernikahannya. Ia juga menambahkan, fitting akan dilakukan Catherine mengikuti jadwalnya.

Calon suami Catherine dikabarkan,  duda beranak satu. Walau duda namun umurnya tak jauh beda dengan Catherine. Sekitar 35-an.  Warga negera Indonesia asli dan  seorang pengusaha asal Malang, Jawa Timur. (bbs/net)

Hoax Berantai

Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Pernah dapat informasi hoax alias pemberitaan palsu? Belakangan ini, berita hoax makin sering saja mampir di tangan kita, baik lewat SMS, BBM (blackberry messenger), facebook, twitter, dll. Dan kita-kita yang menerima info hoax itu, dengan gegap gempita langsung mem-forwardnya dari satu milis ke milis lain atau grup BBM ke grup BBM lain. Begitu seterusnya. Jadilah hoax berantai.

Info hoax itu beragam. Sebut saja hoax tentang info agar hati-hati minum softdrink dari merek tertentu, karena katanya seorang pekerjanya telah menambahkan darahnya yang terkontaminasi HIV /AIDS ke minuman dimaksud. Beritanya ada di TV anu. Atau info tentang puluhan lipstik merek terkenal yang katanya mengandung logam penyebab kanker. Atau makan chicken wing yang katanya menyebabkan kista pada wanita. Atau mengirim SMS ‘ini’ ke 10 orang teman, maka otomatis pulsamu bertambah. Dan seterusnya… dan seterusnya.

Hoax teranyar adalah forward sebuah link di internet, yang katanya berisi foto-foto korban pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak. Dalam foto itu, terlihat foto jenazah dua warga asing yang bagian tubuhnya hancur dan hangus terbakar. Kondisi jasad memprihatinkan, menampakkan isi perut seorang korban yang terburai.

Foto itu disebut-sebut pertama kali beredar di Twitter. Kemudian banyak yang retweet hingga akhirnya menyebar di Facebook dan BlackBerry Messenger (BBM). Banyak pihak yang meyakini foto-foto itu asli. Setelah ditelusuri, ternyata foto tersebut hoax alias sampah belaka. Foto jenazah yang diduga korban pesawat Sukhoi Super Jet 100 itu adalah jenazah korban kecelakaan pesawat Air India Express, yang terjadi pada 22 Mei 2010.
Menurut wikipedia, hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Berita hoax ternyata bukan barang baru. Sebelum era seluler dan internet seperti sekarang ini, berita hoax dulu sudah acap terjadi. Beredarnya dalam bentuk surat berantai. Surat berantai adalah surat, di mana sang penerima diharapkan untuk meneruskan surat tersebut kepada pihak lain. Surat ini biasanya sambung-menyambung sampai jangka waktu yang lama dan tersebar dengan luas. Si penerima surat tergerak untuk mengirimkannya kembali kepada pihak lain, karena iming-iming keuntungan, atau ancaman berupa ketidakberuntungan, apabila dirinya tidak meneruskan surat tersebut.
Surat itu seringkali diakhiri dengan kalimat: jika Anda tidak meneruskan surat berantai ini, maka kemalangan akan terjadi atas Anda. Sebelumnya dia memaparkan kesialan-kesialan yang dialami orang yang tidak meneruskan surat itu ke orang lain.

Saat ini, surat berantai sudah memanfaatkan teknologi informasi, baik melalui email, SMS, BBM, twitter, FB, dan sebagainya. Kalimatnya pun kerap diakhiri dengan: silakan forward berita ini ke orang-orang yang Anda sayangi; atau, jangan berhentikan pesan ini di Anda; atau, SIAPAPUN YG TDK MENGIRIM PESAN INI, MAKA ACCOUNT ANDA TIDAK AKTIF DAN UNTUK MENGAKTIFKANNYA ANDA DKENAKAN BIAYA …., dan sebagainya. Ada juga yang tanpa pesan apa-apa.

Kita sebagai penerima berita hoax, sering sekali tanpa mengecek kebenarannya, langsung menyebarluaskan berita dimaksud. Apakah karena ingin dianggap sebagai orang pertama yang tahu informasinya di komunitas kita, atau karena ingin komunitas kita itu lebih berhati-hati, atau sekedar memforward saja tanpa tujuan apa-apa.

Untuk mengetahui kebenaran berita hoax, memang agak sulit. Tetapi saya pribadi sangat jarang memforward berita-berita yang mampir di jaring sosial yang saya ikuti, jika infonya saya anggap tak urgen.

Kalau sekedar meneruskan info tentang makan chicken wing yang katanya penyebab kista, —yang ternyata hoax-, mungkin tidak terlalu masalah. Toh, prinsipnya adalah kehati-hatian. Mana tau infonya benar.

Tetapi memforward berita-berita tentang pekerja pembuat softdrink yang katanya menambahkan darahnya yang terkontaminasi HIV /AIDS ke minuman dimaksud, atau info tentang puluhan lipstik merek terkenal yang katanya mengandung logam penyebab kanker, jelas sangat beraroma black campaign. Dan jika kita dengan sukarela menyebarluaskannya, kita menjadi alat kampanye hitam.

Berhati-hati dalam menyebarluaskan sebuah informasi yang kita belum tau jelas kebenarannya, tentu lebih bijak… dan lebih smart. (*)

 

Naik Turun Gunung demi Logistik Tim Gabungan

Kisah Relawan Pencari Jasad Korban Sukhoi di Gunung Salak

Ribuan relawan bahu-membahu mencari dan mengevakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak. Mereka bekerja tanpa kenal lelah di tengah medan berat dan cuaca yang tidak bersahabat. Seperti apa?

YUSKA APITYA AJI ISWANTO, Bogor

Sudah empat hari Abdul Muid, 35, tidur di ketinggian 2.211 meter di atas permukaan laut. Anggota Taruna Siaga Bencana (Tigana) Bogor itu mulai terbiasa dengan hawa dingin di puncak Gunung Salak. Muid adalah salah seorang di antara ribuan sukarelawan yang bertugas mencarin dan mengevakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi.

Di antara temannya sekompi, militansi dan stamina Muid memang agak terdepan. Karena itu, sejak hari pertama berada di puncak, Muid sudah tancap gas. Dia rela pergi-pulang dari puncak Gunung Salak menuju lereng hanya untuk memenuhi keperluan logistik tim gabungan yang hendak membelah jalur ke lokasi jatuhnya pesawat. Padahal, waktu tempuh yang dihabiskan Muid untuk mondar-mandir di punggung gunung itu delapan jam.
“Capek sih. Tapi, kerjaan ini kan untuk membantu orang. Sejak 2006, saya aktif menjadi relawan,” ungkapnya kepada Radar Bogor (grup Sumut Pos) di Posko Balai Embrio, Pasir Pogor, Cipelang, Cijeruk, Bogor, Jabar, Minggu (13/5).

Pada hari pertama dan kedua membelah Gunung Salak, aktivitas Muid dan anggotanya lebih disibukkan membuat jalur evakuasi. Pada hari ketiga, barulah dia mampu merangsek ke lokasi jatuhnya pesawat.

Lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi terbilang sulit dijamah. Berada di pundak gunung antara Puncak Salak 1 dan 2, sudut elevasi (kemiringan) tebing di crash point (titik tabrakan) hampir mencapai 90 derajat. Bila tidak berhati-hati, Muid dan rekan sejawatnya bisa celaka. Karena lewat jalur atas, tim Muid mesti turun dengan menggunakan tali sepanjang 500 meter lebih. Sementara tali yang ada di tangan hanya 200 meter.
Tak kehabisan akal, Muid dan dua orang temannya turun untuk membuka jalur yang lebih landai. Dia kemudian menyambungkan tali ke pohon untuk kemudian menjadi akses utama SAR ke titik jatuhnya pesawat.

Di bawah memang telah ada tim dari Marinir yang membersihkan puing-puing dan jasad korban. Setelah terhubung, barulah Muid menarik satu per satu kantong jenazah dari tim yang berada di bawah. Dari situ, Muid melihat banyak jasad korban yang sudah tak berbentuk. Nyaris semua potongan jasad sudah gosong. “Banyak daging dan potongan tubuh berceceran. Kondisinya sangat curam, seluruh tim harus memakai tali untuk mengambil potongan tubuh,” tuturnya.

Jasad tak hanya tercecer di daratan. Ada juga yang tersangkut di pohon yang batangnya gosong. Alur evakuasi sempat terkendala oleh cuaca. Kabut datang dan pergi dalam kurun waktu yang begitu cepat. “Jam sepuluh pagi kabut datang. Ditambah awan mendung. Kami sangat kesulitan dan tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Meski evakuasi berhenti, hari ketiga di Gunung Salak dilalui Muid dengan gembira. Itu lantaran timnya berhasil mengangkut banyak kantong jasad korban. Ada sekitar sepuluh kantong yang saat itu dibawa dan diserahkan kepada Paskhas TNI Angkatan Udara untuk diboyong ke helikopter Puma.
Suasana haru itu hanya berlangsung dalam hitungan jam. Penyebabnya, stok air milik tim Muid kian tipis. Hingga suatu ketika, Muid tak memiliki setetes air lagi. Padahal, dahaga dan rasa mual dari bau bahan bakar pesawat sudah berada di ujung kerongkongan.

“Kami mencari-cari tim lain, susahnya minta ampun. Hampir seharian kami tidak minum. Untungnya di jalan menuju puncak saya ketemu dengan wartawan. Saya dan lima orang anggota pun akhirnya bisa minum meski hanya sebotol. Setelah itu, kami pun kembali bekerja sambil menunggu kiriman logistik dari posko utama,” ungkapnya. (*)

Kepling Arogan

087766112xxx

Selamat pagi Pak Wali Kota. Ada Kepling patentengan di Pajak Sikambing. Masalah sepele karena payung, jualan tahu saya dihancurkan di depan toko Ivory. Anehnya Lurah yang suruh kata Kepling tersebut. Mohon Pak Wali Kota bertindak, nanti warga main hakim sendiri disalahkan.

Laporkan ke Kecamatan

Terima kasih. Sebaiknya warga melaporkan Kepling tersebut ke pihak kecamatan. Namun, kami akan panggil Kepling tersebut melalui kecamatan untuk dicek kebenarannya.

Budi Haryono
Humas Pemko Medan

Sejak Merdeka Jalan tak Pernah Diaspal

081361724xxx

Yth Bapak Bupati Deliserdang. Tolong diaspal Jalan Sederhana Ujung Dusun X Raya Desa Sambirejo Timur Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deliserdang. Sejak merdeka belum pernah diaspal. Warga sudah mengusul ke Musrenbang Kabupaten Deliserdang tiap tahun, namun belum juga diaspal tolong Pak. Terima kasih.

Akan Diarahkan ke Musrenbang Kabupaten

Terima kasih. Secara teknis warga secara langsung atau melalui Kepling bisa melaporkan hal ini ke pihak kecamatan untuk dibawa ke Musrenbang kecamatan. Dari sana akan diarahkan ke Musrenbang kabupaten yang akan diprogramkan oleh Pemkab Deliserdang.

Umar Sitorus
Kabid Humas Dinas Infokom Deliserdang

Todung Mulya Lubis: Sama Saja Kembali ke Orde Baru

Proses pemilihan gubernur yang rencananya akan dikembalikan kepada DPRD, terus memancing pro kontra di mata khalayak ramai. Seorang tokoh nasional, Todung Mulya Lubis mengatakan hal itu juga menunjukkan proses pemerintahan orde baru akan kembali berulang.

“Saya termasuk orang yang tidak setuju. Karena hakikat demokrasi adalah partisipasi. Partisipasi itu adalah dengan pemilihian umum atau pilkada. Bahwa politik uang di sana, saya tidak membantah. Tapi menyerahkan proses pemilihan gubernur dan bupati/wali kota, itu sama halnya memutar jarum jam ke belakang. Kita kembali pada zaman orde baru,” tegasnya saat ditanya Sumut Pos, di Sekretariat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) Sumut, Jalan Mengkara, No 2 Medan, Senin (14/5).

Pria yang termasuk salah seorang deklarator Partai SRI tersebut malah sempat mempertanyakan logika berpikir yang menjadi pijakan pemerintah dan DPR RI jika RUU tersebut sampai disahkan DPR RI. Dalam arti kata, sistem tersebut akan mematikan minat-minat orang untuk maju menjadi calon kepala daerah dari jalur independen.

“Sekarang sudah ada langkah maju. Mahkamah Konsitusi (MK) memungkinkan kandidat independen ikut pilkada. Di Jakarta ada dua kandidat independen, Faisal Basri dan Hendarji. Ini kemajuan. Saya tidak mengerti logika demokrasi seperti apa yang dikembangkan dalam pilkada, kalau pilkada itu dikembalikan ke DPRD. Kita kembali pada pemerintahan lama, yang juga pasti tidak lepas dari politik dagang sapi,” tambahnya.

Untuk itu, lanjutnya, menjadi kewajiban masyarakat dari seluruh elemen yang ada untuk bisa menghentikan dan mempertahankan proses pilkada secara langsung. “Tugas kita mencoba mempertahanakn kedaulatan rakyat, baik pemilihan gubernur, bupati/wali kota maupun pilpres,” tegasnya.
Secara terpisah, Komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara (Sumut), Turunan B Gulo menyatakan, KPUD Sumut siap melaksanakan aturan dan UU tersebut, jika sudah ada instruksi pelaksanaan dari UU tersebut.
“Kita siap-siap saja,” akunya.

Nah, jika akhir 2012 ini sudah disahkan, apakah bisa dilaksanakan pada Pilgubsu 2013 mendatang?
Pertanyaan itu, dijawab Turunan dengan jawaban yang relatif sama. “Kita siap-siap saja,” imbuhnya lagi. (ari)

Elite Demokrat Ajukan Ani SBY Capres

JAKARTA- Di tengah meredupnya pamor Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, gagasan pencapresan Ani Yudhoyono kembali mencuat. Kali ini wacana tersebut dilontarkan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli.

“Kalau beliau mau, saya tetap mencalonkan Ibu Ani. Di Partai Demokrat yang berpotensi dan bagus itu ya Ibu Ani,” kata Melani dalam diskusi Memperkuat Peran Politik Perempuan dalam Konstitusi dan Praktik di gedung parlemen kemarin (14/5). “Mau atau tidak, boleh atau tidak oleh Pak SBY, itu urusan lain,” imbuh dia.

Melani sangat serius mengusulkan Ani sebagai capres. Bahkan, dia pernah melontarkan dukungan tersebut dalam pembukaan silaturahmi nasional (silatnas) Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPP Partai Demokrat di Wisma DPR, Cikopo, Bogor, 3 Mei lalu.
“Sampai waktu di silatnas itu, terakhir saya bilang, Pak SBY yes, Bu Ani oke banget,” tutur Melani, lantas tersenyum.

Melani mengakui, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai saat ini belum “mengikhlaskan” istrinya tampil dalam Pilpres 2014. Sikap itu sebelumnya ditegaskan SBY saat menyampaikan presidential lecture dalam Indonesian Young Leaders Forum 2011 di Hotel Ritz-Carlton Jakarta, 9 Juni 2011. “Waktu ketemu lagi dalam pertemuan di DPP, Pak SBY tetap bilang tidak, tidak, dan tidak (mencapreskan Ani),” ujar ketua Dewan Pembina Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) itu.

Pertemuan yang dimaksud Melani tersebut adalah rapat internal DPP Partai Demokrat di Kantor Partai Demokrat, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada 1 April 2012. Rapat tertutup pascasidang paripurna DPR tentang kenaikan harga BBM itu belakangan heboh karena rekaman dan transkrip pidato SBY bocor kepada media. (pri/jpnn)