Home Blog Page 13532

Arema Keluar dari Zona Degradasi

MALANG – Arema yang main di ISL, berhasil keluar dari juru kunci klasemen sementara, berkat kemenangan 1-0 kontra Persisam. Hasil itu tak lepas dari sentuhan pelatih baru mereka, Suharno.

Banyak peluang di laga itu. salah satunya dari  Dendi Santoso dari sudut sempit masih bisa ditahan Usman Pribadi pada menit 53. Kondisi itu kembali terulang di menit 73 Arif Arianto gagal memanfaatkan umpan silang M. Ridhuan dengan baik. Sepakan kaki kirinya melebar jauh dari gawang Persisam.
Arema akhirnya berhasil mencetak gol saat pertandingan tersisa sembilan menit. Memanfaatkan bola rebound dari sepakan Dendi Santoso, Arif Arianto berhasil menjebol gawang Persisam. Gol ini disambut sorak ribuan penonton yang memadati Stadion Kanjuruhan.

Persisam punya peluang menyamakan kedudukan di menit 87, namun Christian Gonzales saat menerima tendangan pojok masih membentur badan kiper Arema Kurnia Mega. Skor 1-0 untuk keunggulan Arema pun bertahan sampai laga tuntas. (net)

Bank Sampah Ciptakan Lapangan Kerja

MEDAN- Tak semua sampah dibuang begitu saja tanpa menghasilkan apapun.  Sekarang ini, berbagai jenis sampah sudah diolah menjadi berbagai jenis kerajinan tangan yang mampu menghasilkan pundi-pundi uang. Di Medan sendiri, sampah sudah didaur ulang kembali dan bisa dipergunakan menjadi bahan siap pakai. Caranya dengan membuat Bank Sampah.

Pengadaan Bank Sampah di Kota Medan, terletak di Jalan Pelajar Gang Kelapa Lorong Gabe. Di Bank Sampah inilah sampah-sampah dari seluruh penjuru Kota Medan dikumpulkan untuk dikelola menjadi beragam manfaat. Dan kemarin (12/5),  Bank Sampah Kota Medan ini, diresmikan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Prof Dr Balthasat Kaambuaya MBA.

Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Prof Dr Balthasat Kaambuaya MBA, dalam acara peresmian Bank Sampah itu mengatakan, dengan adanya Bank Sampah ini, maka Kota Medan bisa tertata rapi dan secara otomatis volume sampah bisa dikurangi. “Tak hanya itu, Medan juga bisa lebih bersih dan bisa menjadi contoh bagi kota lain,” sebutnya.

Prof Dr Balthasat Kaambuaya MBA menuturkan, tak hanya di Medan saja, Bank Sampah ini juga rencananya akan diterbitkan di semua daerah di seluruh Indonesia. “Pengembangan Bank Sampah ini harus menjadi milestone (tonggak, red) perwujudan pembangunan yang mengentaskan kemiskinan (pro poor), pembangunan yang mampu menciptakan peluang kerja (pro job) dan pembangunan yang melindungi dan melestarikan lingkungan hidup (pro enviroment),” bebernya.

Sambungnya, pelaksanaan Bank Sampah sesungguhnya mengandung potensi ekonomi kerakyatan yang cukup tinggi karena kegiatan Bank Sampah dapat memberikan hasil nyata bagi masyarakat dalam bentuk peluang kerja, penghasilan tambahan bagi pegawai Bank Sampah dan masyarakat penabung sampah.  “Bank Sampah ini menggambarkan manfaat sampah itu. From trash to cash,” ujarnya.

Balthasat juga mengaku, dirinya mengacungi jempol kinerja Wali Kota Medan, Rahudman Harahap atas program Bank Sampah ini.  “Di Indonesia ini, sebesar Rp1,74 miliar bisa dihasilkan dari pengelolaan sampah. Tak hanya itu, dengan sampah dan adanya Bank Sampah ini, kita bisa bersekolah dan bisa menjadi mandiri,” pungkasnya.

Lebih jauh dikatakan Balthasat, pelaksaan program sampah ini sangat penting dalam mendukung program pembangunan Pemerintah. “Ini baik sekali dan luar biasa. Program ini patut diacungi jempol karena dari sampah yang tak berguna bisa diperoleh bahan-bahan yang bernilai ekonomis,” akunya.
Sementara itu, Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, meminta masyarakat agar memisahkan sampah non organik dan organik. Harapan ke depannya, Kota Medan menjadi Kota Adipura dan menjadi kota bebas sampah. “Itu semua untuk warga Medan yang kita cintai,” sebutnya.(jon)
Tak hanya itu, tambahnya, saat masyarakat memisahkan sampah (organik dan non organik), maka secara otomatis masyarakat sudah membantu menjaga kebersihan lingkungan ini. “Masalah lingkungan hidup seperti masalah sampah ini merupakan masalah bersama, maka dari itu solusinya dengan membuat Bank Sampah ini,” sebutnya.
Disinggung mengenai pengendara yang membuang sampah sembarangan di ruas jalan, Rahudman Harahap menegaskan, ada pidana ringan yang mengatur hal tersebut yang dituangkan dalam Perda Kota Medan. “Kita juga sedang mensosialisasikan Perda Kota Medan ini. Dengan demikian, bagi orang yang membuang sampah sembarangan kita berikan pidana ringan,” ungkapnya.
Peresmian Bank Sampah itu, ditandai dengan menekan tombol dan pengguntingan pita oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Balthasat Kaambuaya MBA didampingi Wali Kota Medan Rahudman Harahap, Anggota DPD RI Parlindungan Purba dan seluruh pejabat dijajaran Pemko Medan. (jon)

Perampok Bersenpi Gasak 24 Karung Cabai

MEDAN- Sopir truk colt diesel berplat BL 9207 Y asal Aceh mengangkut 24 karung cabai merah dan cabai rawit, dirampok tujuh kawanan pria di Jalan Medan-Binjai Km 12, Sabtu (12/5) dini hari sekira pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sopir truk mengalami kerugian lima karung cabai dan uang Rp50 ribu.
Keterangan yang diperoleh, truk yang dikendarai Nasrun (35) dan kernetnya Syaifullah (37) warga Benermeriah,  Takengon, Aceh Tenggara ini, tiba-tiba dihadang mobil Toyota Avanza warna hitam dan memaksa Nasrun menghentikan  kendaraannya . saat memasuki Kota Medan.

Saat mobil sudah berhenti, enam pria berbadan tegap langsung turun dari dalam mobil Totoya Avanza hitam. Kemudian, meminta sopir dan kernetnya keluar dari truk, sambil menodongkan pistol ke arah sopir truk yang belum diketahui jenis senjata api yang digunakan pelaku.

Korban yang sudah ketakutan dan sadar jika nyawanya terancam, akhirnya memilih mengikuti kemauan kawanan rampok bersenpi tersebut. Kernet truk diminta untuk masuk ke dalam mobil Avanza. Kemudian 2 orang dari kawanan rampok masuk ke dalam truk dan membawa truk memasuki kawasan Sei Mencirim dan kemudian ke arah kawasan Selayang.

Di lokasi tersebut, sopir dan kernet diminta turun, namun sebelum turun kawanan rampok mengambil dompet milik sopir dan kernet kemudian meninggalkan korbannya dengan membawa kabur truk beserta 24 karung cabai tersebut. Rencananya, 24 karung cabai ini akan diantar di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan.

Kapolsek Sunggal Kompol Budi Hendrawan saat di konfirmasi mengatakan, anggotanya telah melakukan pengecekan di sekitar lokasi kejadian, dan meminta kepada korban untuk melengkapi surat-surat kendaraan guna memperkuat laporan.

Bermodalkan uang sebesar Rp50 ribu yang tersisa di dalam saku celana milik Nasrun, kemudian menuju Polsek Sunggal menumpangi sebuah betor dan menceritakan kejadian yang mereka alami di hadapan petugas SPK yang berjaga. Tapi, oleh petugas, kedua korban diminta untuk membawa surat BPKB kendaraan untuk melengkapi laporan.

“Pelakunya sekitar tujuh orang naik Avanza warna hitam. Seorang pelaku memakai jaket loreng, truknya dibawa orang itu dan kami ditinggalkan di kawasan selayang setelah sebelumnya di kawasan Sei Mencirim,” ungkap Nasrun saat membuat laporan.

Kapolsek Sunggal Kompol Budi Hendrawan saat di konfirmasi mengatakan, anggotanya telah melakukan pengecekan di sekitar lokasi kejadian, dan meminta kepada korban untuk melengkapi surat-surat kendaraan guna memperkuat laporan.

“Anggota kita sudah melakukan pengecekan ke sekitar lokasi, dan korban kita minta untuk membawa surat BPKB guna memperkuat laporan,” sebutnya. (gus)

Pemerintah Pantau Pengembang

Pemerintah membatasi gerak pengembang (developer) dalam memasarkan properti yang akan dibangun. Developer tak bisa sembarangan memasarkan produknya sebelum memenuhi beberapa syarat tertentu.

Asisten Deputi Evaluasi Perumahan Formal Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Bernaldy mengatakan, developer dibolehkan memasarkan properti yang belum dibangun asalkan sudah memenuhi syarat peruntukan ruang, hak tanah dari lembaga penjamin, status penguasaan properti maupun izin mendirikan bangunan. Jika syarat-syarat itu sudah dipenuhi, developer boleh menjual produknya meski bangunan belum ada.

“Silakan developer memasarkan perumahannya meski bangunan belum dibangun. Nanti kalau sudah ada uang muka baru dibangun juga tidak apa-apa,” kata Bernaldy dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (8/5).

Meski demikian Bernaldy juga mengatakan, pengembang juga dilarang menarik dana hingga 80 persen dari pembeli sebelum memenuhi Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Jika nekad, developer bisa dikenai sanksi ringan seperti teguran tertulis. Namun jika pelanggarannya dianggap berat, sanksinya pun bisa berupa pencabutan izin usaha, pidana denda maupun kurungan.

Bernaldy menambahkan, langkah itu diambil pemerintah demi mebantu masyarakat dalam memiliki rumah tinggal. Kebijakan lainnya yang diambil pemerintah untuk membantu masyarakat memiliki rumah adalah dengan menyediakan fasilitas kredit perumahan bunga ringan.

“Saat ini pemerintah memang belum menyesuaikan harga rumah yang bebas PPN. Namun pemerintah akan tetap membantu masyarakat yang ingin membeli Rusunami lewat KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan suku bunga kredit 7,25 persen selama masa tenor,” tuturnya. (esy/jpnn)

Tewas Disengat Listrik

MEDAN-Hujan deras yang mengguyur Kota Medan Sabtu (12/5) malam,  memakan korban jiwa. Seorang pria bernama Azhar Syahputra (25) warga Jalan Setia Budi, ditemukan tewas tersengat listrik saat melintas di Jalan Sunggal Simpang Kampung Lalang, sekitar pukul 21. 30 WIB.
Informasi dihimpun Sumut Pos, kejadian mengenaskan ini berawal ketika korban hendak mengantar kekasihnya Suci Handayani (22)  ke Jalan Teratai, Asrama Kebun Lada, Binjai Utara.

Di bawah rintik hujan, keduanya bergegas menuju Binjai dengan menaiki sepeda motor Honda Supra 6297 ACH. Sesampainya di Simpang Kampung Lalang, tepatnya di terminal Pinang Baris, korban memelankan laju sepeda motornya, karena kondisi macet. Tak lama kemudian, korban menurunkan kakinya, karena laju sepeda motornya dihentikan oleh kemacetan. “Tadi pas macet kakinya turun, rupanya kabel tanam listrik bocor, dia pun tersengat arus listrik itu,” ujar Ardy warga sekitar.

Begitu tersengat, korban menggeliat kesakitan termasuk teman wanita korban juga terkena sengatan listrik, dan keduanya jatuh ke jalan yang tergenang air. Warga sekitar yang melihat langsung melakukan pertolongan dan membawa Azhar ke RS Adam Malik, untuk dilakukan otopsi.
Terpisah, Suheri (29) warga Desa Sintis Kecamatan Percut Sei Tuan, nyaris tewas setelah tubuhnya terpental akibat tersengat listrik. Korban tersetrum saat sedang memasang profit bangunan rumah warga di Jalan Veteran Pasar VIII, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Sabtu (12/5) kemarin. (gus/mag-17)

Dua Rumah Ludes Terbakar

MEDAN DELI- Dua rumah di Jalan Suasa Kelurahan Mabar Hilir Kecamatan Medan Deli, Sabtu (12/5) kemarin, terbakar. Meski tak menimbulkan korban jiwa, namun peristiwa kebakaran itu meludeskan rumah Rasiman (47) dan Saring (68). Diduga api berasal dari hubungan arus pendek (korsleting) listrik dari salah satu rumah korban. Akibat kejadian dimaksud, ditaksir kerugian diderita kedua korban mencapai ratusan juta rupiah.

Keterangan dihimpun Sumut Pos disekitar lokasi kejadian menyebutkan, peristiwa kebakaran terjadi sekira pukul 10.00 WIB itu bermula ketika seorang warga melihat adanya kepulan asap disertai nyala api yang muncul dari bagian belakang rumah semi permanen yang dihuni Saring. “Tadi ada warga sempat melihat api di atap dapur rumah itu, terus dia berteriak dan pemilik rumah serta warga langsung berdatangan,” ujar Ari (34) warga setempat.

Empat unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Pemko Medan yang tiba di lokasi kejadian dengan cepat menyemprotkan air ke arah kobaran api guna pemadaman. Setelah hampir tiga puluh menit, api yang meludeskan kedua rumah warga tersebut berhasil dipadamkan. (mag-17)

Perjanjian Berdarah

Cerpen  Maulana Satrya Sinaga

Perempuan itu selalu ke pantai ini saat maghrib menjelang. Kau akan menemukannya antara ambang senja dan malam. Ia akan datang apabila langit sudah mulai memerah dan pulang ketika malam mulai merayap perlahan.

Namanya Raishya, kau akan heran mengapa ia suka ke pantai ini. Mengapa pula tiap hari ia lakukan. Duduk diam, atau sekadar berbicara sendiri dan mengukir nama di pasir-pasir pantai. Wajar kau heran, karena  kau pendatang.

Tapi bagi kami itu adalah hal yang lumrah dan sudah jadi biasa karena kebiasaannya.
Akan aku ceritakan sedikit. Agar kau mengerti Soleh. Begini.

Raishya dan Ahmad saling mencintai. Mereka mengenal buih-buih di dada tatkala mulai tamat SMA. Juga tatkala di malam hari, sepulang mengaji dari rumah Haji Tole. Ahmad menunggu Raishya dan mengantarnya pulang. Ada senyum dan tawa yang meliuk-liuk persis obor yang mereka bawa di sepanjang jalanan pulang.

Sungguh Wak Reman –ayah Raishya– hanya menyangka mereka teman, tidak akan jauh-jauh kisahnya, kalau tau mereka sampai seserius ini. Tentu, dari dahulu Wak Reman tak akan membiarkan tiga tahun ini mereka selalu pulang dan berjumpa bersama. Belum lagi acara jalan diam-diam yang Wak Reman tidak ketahui. Baik itu menanggok anak udang di pinggiran. Atau mengadu rama-rama lalu terpingkal-pingkal tertawa.
“Sudah bulatkah tekad kau Raishya?”

“Sudah Bang Ahmad, Aku hanya nak kawin dengan kau. Bawalah aku pergi jauh dari sini,” mereka berdua menghembus nafas, menyatukannya dengan angin-angin laut.

Ahmad masih bimbang, belum-belum bulat tekadnya. Sebulat purnama yang tengah menggantung di langit yang jadi saksi pertarungan batin hati mereka berdua. Kalau saja tangannya mampu mengengkol mesin itu, tentu sedari dua puluh menit yang lalu, mereka sudah sangat jauh dari pesisir ini dan memulai hidup baru berdua.

“Apa yang kau tunggu Bang, kau masih memikirkan ibu?”
‘Ya, Raishya. Kasihan ibu?”

“Lantas bagaimana? Kalau kau tak cepat. Orang-orang ayahku akan membacok kita. Lihat obor di bukit sana. Sudah mulai mendekat.”
Ahmad bingung, mulai keluar butiran keringat jagung. Kali ini ia merasakan angin laut tak mampu membayar sedikit panas tubuhnya. Selalu. Pikiran andai-andai itu muncul. Dan itu yang kadang tak disukai Raishya.

“Andai aku anak orang berada, andai aku juga juragan sampan seperti ayahmu Raishya, andai orang tuamu tak memandangku hina, andai orang tuamu menyetujui hubungan kita.” selalu itu yang ada di batin Ahmad. Tapi Raishya berulang kali menawarkan dan menimang-nimang hatinya.
“Tak perlu andai-andai Bang, aku mencintaimu apa adanya. Bang Ahmad Sang Muadzin langgar dan nelayan yang ramah serta baik budi dan perangainya.”

Lantas, Ahmad memikirkan ibunya yang sebatang kara. Yang ditinggal ayahnya saat Ahmad mulai pandai merangkak. Kata orang-orang ayahnya melaut di saat badai hebat dan tak kembali sampai saat ini.

Ia kerap membantu ibunya mengecat sampan orang. Menyulam daun nipah jadi atap. Atau membetulkan jala-jala nelayan yang rusak. Semua ia kerjakan demi anaknya Ahmad, agar bisa jadi orang, agar hidup berkecukupan.
Aikh, sekarang dada Ahmad tengah dilanda mendung oleh tatapan Raishya yang sedang ketakutan dan memandang Ahmad agar cepat mengambil keputusan sambil tangannya gemetaran memegang tepian sampan.

“Kalau abang tak mengengkol juga, biarlah sampan ini adik kayuh.”
“Tunggu sebentar, aku sedang berfikir Raishya.”

“Tak akan sempat Bang, putuskan sekarang!”

Memang ibu Ahmad tau prihal kedekatan mereka. Berulang ibunya berkata “Tak usahlah sama dia, cari orang yang sekelas kita. Payah ntar urusannya karang.” Dan benar, sekarang memang benar-benar payah urusannya. Tapi, walau begitu dan tau mereka akan pergi jauh entah kemana menuju laut. Ibunya tetap berpesan. “Ya sudah kalau Nak Pigi, doa ibu menyertai kalian. Cepatlah dikit. Sebelum orang-orang itu menangkap kalian.”
Sungguh, Ahmad tak berpikir panjang. Di akalnya hanya ada cinta. Sekarang ia baru memikirkan betapa sangat susah mengucapkan kata-kata yang mengandung air mata dari ibunya itu.

“Raishya, kita tak jadi pergi.”

“Apa Bang, yang benar saja. Kalau tak pergi, kau akan dihakimi dan aku akan dinikahkan dengan orang lain. Kau akan tersiksa dan aku  juga, pikirkan Bang.” Mata Raishya berkaca-kaca menatap Ahmad. Ahmad masih menunduk. Ia menyesal mengajak Raishya memilih jalan ini.
“Ini sudah keputusanku Raishya, Pulanglah.” Raishya tidak percaya, mengapa lelaki yang selalu manis janjinya ini semudah itu sekarang mengambil keputusan ini. Raishya mengeluarkan air  mata. Ia menggeleng tak percaya. Mengangkat kain dan turun dari sampan.
“Kau payah Bang, Kau payah!” perempuan itu berlari entah kemana. Batin Ahmad. Semoga ia pulang.

“Hey, Ahmad penculik anak gadis orang.” Teriak Bang Gantang -tangan kanan Ayah Raishya- yang tugasnya selalu mengutip hutang-hutang orang. Tapi kali ini ia tak menangih hutang. Tapi menagih sedikit penyesalan di wajah Ahmad karena telah berani mendekati anak juragan.
Langsung saja, tiga orang memukuli Ahmad. Sampan bergoyang, bercak darah memerahkan pijakan-pijakan sampan. Setelah dirasa puas, mereka turun dan pergi, yang sebelumnya berucap.

“Kalau tak mau nyawa melayang, jauhi Raishya. Jangan sejengkal pun kau dekati dia. “ Ahmad mengangguk pelan. Sepelan nafasnya yang sengal dan berat. Ia turun perlahan, berniat menjumpai ibu di tengah darah-darah yang membasah badan.

Pintu digedor. Ahmad berulang mengucap salam. Tak juga terbuka, ia mengintip di jendela. Tempat biasa ia membangunkan ibunya dikala pulang kemalaman. Ia melihat tubuh ibunya diam. Ia melihat tubuh ibunya bersimbah darah. Ia melihat di perut ibunya tertikam sebuah parang.
“Bajingan kau Reman, Bajingan!”

Ahmad entah dapat kekuatan darimana, mendobrak pintu belakang. Ia memeluk tubuh ibunya yang mulai membiru di ruang tengah. Ia mengambil parang yang tertancap. Berlari menuju rumah paling besar di kampung.

Ahmad kesetanan, ia berteriak-teriak di gerbang. “Reman keluar kau, Akan Aku tetas kepalamu hingga berlubang. Keluar!”
Sontak ketiga anak buah Reman menghentikan, namun sekali-dua kali tebasan, tubuh ketiga anak buahnya tumbang dan nyawa melayang. Ahmad tersenyum ketika membelah dada Bang Gantang, “Ini yang paling ditakuti di kampung. Tak ada apa-apanya.”

Ia menaiki tangga, terlihat Wak Reman berlari ke dalam. Terjatuh, mengasuh ke lantai. Merangkak mundur. “Maaf, Ahmad. Maaf, Aku tak bermaksud membunuh ibumu. Anak buahku yang keterlaluan.”

“Diam kau!!” dan. Bercak darah memercik ke kepala Ahmad. Wak Reman diam, tak lagi bersuara. Kepalanya terpisah dari tubuh. Raishya yang menyaksikan peristiwa itu di depan mata diam tak bersuara. Hanya jeritan ibunya yang membangunkan warga sekampung. Dan, membawa Ahmad entah kemana. Ada yang bilang, ia dibakar di pinggiran tebing.

Malam itu malam berdarah, setelah Raishya dan Ahmad pada petangnya berjanji pergi, jauh, lalu menikah.
***

Nah, Soleh. Perempuan menawan yang kau lihat sering ke pantai. Sudah terjawab bukan? Kau sering menanyakan siapa  nama yang selalu ia ukir di bibir pantai : Reman dan Ahmad. Itulah dua orang yang ia cintai.

Ia tidak gila, hanya keterkejutan yang membuat ia masih tak percaya dan lebih memilih diam. Meski tiga tahun peristiwa itu terlewatkan.
Kalau kau berminat untuk mencintainya. Berpikirlah ulang.

“Lalu, kenapa Uwak seberat itu menceritakannya kepadaku?”
“Akh, aku tak tau bakal panjang urusannya. Andai aku dulu pulang, dan tak menikah dengan janda kaya di seberang.” Kata lelaki tua itu sembari membersihkan nisan istri dan anaknya : Ahmad.

Belawan, Januari 2012

35 Persen Rumah Sakit tak Miliki Akreditasi

MEDAN- Sebanyak 35 persen rumah sakit di Indonesia tidak memiliki akreditasi, akibatnya mutu pelayanan tidak memenuhi standart International dan bisa merendahkan citra rumah sakit di masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Dirjen Bina Upaya Kesehatan (BUK) dr Supriyantoro saat menghadiri pelantikan Pengurus Persatuan Rumah Sakit Indonesia Sumatera Utara (Persi) di Lantai I, Hotel Santika Premiere Dyandra, Sabtu (12/5).

Berdasarkan data di Kementerian Kesehatan, paparnya, di Indonesia baru 65 persen rumah sakit yang terakreditasi. Hal inilah yang mesti didorong Persi Sumut untuk terus mendorong anggota Persi menyusun akreditas rumah sakitnya masing-masing.

“Dengan akreditasi ini, pelayanan kepada masyarakat bisa lebih baik. Maka masyarakat yang berobat ke luar negeri pasti berkurang. Indonesia juga mampu bersaing dengan negara-negara luar,” jelas Supriyantoro.

Supriyantoro menuturkan, bagi pengurus Persi Sumut yang baru periode 2012-2015, dapat menyatukan semua persepsi agar semua rumah sakit di Sumut bisa terakreditasi.

“Untuk itu Ketua Persi Sumut yang baru dilantik meningkatkan kerjanya, di mana seluruh rumah sakit bisa terakreditasi. Jika terakreditasi, maka seluruh rumah sakit di Indonesia ataupun di Sumut bisa seperti rumah sakit International,” bebernya. (jon)

HFH Medan Bangun Rumah Warga Kurang Mampu

MEDAN- Bertepatan dengan 15 tahun Habitat for Humanity (HFH) Indonesia, akan membantu keluraga prasejahtera melalui pembangunan rumah layak huni. Di mana, untuk membangun rumah untuk keluarga prasejahtera, HFH Indonesia Kota Medan mengajak anak muda Indonesia untuk turut membangun bangsa melalui pembangunan rumah layak huni.

Melalui gerakan bertajuk 28ulid (Baca: to build) yang telah diluncurkan pada 28 Oktober 2011 lalu, lebih dari 300 anak muda dari berbagai kalangan akan memulai aksi nyata membangun rumah layak huni bagi 33 keluaraga prasejahetra yang tersebar di tujuh kota yakni Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Manado.

“Kalau di Medan kita membangun perumahannya di Desa Sei Beras Sekata, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang,” kata Brancah Mangaer Habitat For Humanity Indonesia Kota Medan,  Thusi Bonandito, kepada wartawan koran ini di sela-sela kegiatan pembangunan rumah layak huni di Kecamatan Sunggal tepatnya di perumahan Sri Gunting, Sabtu (12/5) pukul 10.00 WIB.

Diterangkannya, khusus pembangunan rumah layak huni di Medan, HFH melibatkan 45 relawan anak muda yang terdiri dari siswa-siswa Singapura Internasional School Medan dan Methodist.

“Dalam  pembangunan rumah di Medan, para relawan tersebut turun langsung membantu pembangunan tiga rumah layak huni untuk  keluaraga prasejahtera,” ungkapnya.

Sementera itu, Martua Nainggolan, salah seorang warga yang dibangun rumahnya oleh HFH Medan menyebutkan, apa yang dilakukan HFH Indonesia Kota Medan di luar dugaannya.

“Saya tidak menyangka kalau rumah saya dibangu oleh HFH Indonesia Kota Medan. Walaupun tanahnya punya sendiri,” terangnya.
Dilanjutkan ayah tiga anak ini, dia sangat bersyukur telah dibangunkan rumah, karena selama ini untuk menghidupi keluarganya dia sudah kesulitan, apalaggi sejak kecelakaan yang menimpanya Februari 2012 lalu. Sejak saat itu, jangankan untuk membangun rumah, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya saja dia harus bersusah payah. “Jujur saja saya katakan, kami sekularga sangat senang. Karena, sebentar lagi kami akan menempati rumah baru yang layak huni. Untuk itu, kami cuma bisa mengucapkan terima kasih kepad HFH Medan,” ujarnya. (omi)

Kenangan di Seberang DPRD Medan

Ramadhan Batubara

Ini Medan. Ada suara air yang mengalir. Di tengah kota. Nyaman dan tak bising. Ada pula pemandangan pohon bambu, tidak rapat, namun cukuplah untuk segarkan mata.

Sekali lagi, Ini Medan; tanpa ada kata ‘Bung’. Sengaja saya tuliskan kalimat itu tanpa kata ‘Bung’ karena memang tak ada keangkuhan yang saya lihat di tempat yang saya kunjungi Jumat siang lalu. Di tempat itu, saya tak melihat Medan seperti yang dibayangkan; ya, Medan yang terwakili dengan kata ‘Bung’ tadi.

Tempat itu hanya sekadar ruang makan. Sebagaimana ruang makan atau rumah makan lainnya, tempat itu pasti menawarkan menu-menu biasa. Sebut saja, nasi dan lauk pauknya. Sangat biasa. Tapi, ketika duduk di tempat itu, Anda pasti merasa beda. Seperti saya, jadi senyum-senyum terus meski hidangan cukup lama disajikan.

Saya tidak akan menyebut merek rumah makan itu. Maklumlah, yang namanya merek, pasti ada ‘nilai’ bukan? Dan, saat ini saya tidak sedang berpromosi, saya hanya sekadar menuliskan pengalaman di tempat itu.

Baiklah, tempat yang mencuri perhatian saya pekan ini adalah rumah makan yang ada di pinggir Sungai Deli. Dia berada tepat di seberang Kantor DPRD Medan. Ingat: seberang. Namanya seberang berarti terpisah sungai, walau seberang juga bisa dipisahkan apapun juga kan? Nah, rumah makan ini benar-benar di seberang sungai.

Tapi sudahlah, yang jelas Jumat siang lalu, saya terpesona dengan pemandangan di sana. Memilih tempat duduk yang menghadap sungai, saya bisa melihat jelas bagaimana kantor para wakil rakyat itu. Pun, memandang ke serong kanan, maka Kantor Wali Kota Medan pun terpampang jelas. Sebuah sudut pandang yang menyenangkan. Belum lagi, ketika pandangan saya arahkan ke sungai. Memang, airnya agak keruh, tapi dia mengalir deras. Gelombang air itu bak di pegunungan saja. Dan, semak serta beberapa pohon bambu yang ada di pinggir sungai cukup meneduhkan mata.
Sesaat saya lupa, bukankah Medan terkenal dengan kesemerawutannya?

Saya memesan menu nasi putih dengan ikan bawal tauco, telur dadar, sambal teri kacang, sayur santan daun ubi, dan sambal. Tentu saya tak sendirian, mana mungkin saya bisa menghabiskan itu semua. Jumat lalu saya memang ditemani istri. Nah, untuk minuman, saya memilih teh manis hangat dan istri saya memilih es timun serut.

Fiuh, saya dan istri terkejut dengan rasa yang ditawarkan rumah makan itu. Pertama, tauco. Ikan bawal ukuran sedang itu dibalut dengan bumbu sederhana. Rasanya tipis dan menyenangkan. Tak pelak, kami pun lahap. Sudah lama makan dengan bumbu yang berlebihan, jenuh juga kan? Begitu dapat menu seperti itu, kami jadi semangat. Rasa tak berbeda ada di telur, sambal teri, dan sayur daun ubi. Rasa masakan rumah tampaknya menjadi pilihan warung ini. Jadi, ketika makan, tak ada kesan sedang makan di rumah makan yang biasanya kaya dengan rempah-rempah.

Kedua, soal rasa minuman. Sebelumnya beberapa kawan merekomendasikan air kelapa di warung itu. Tapi, entah kenapa saat itu saya memang tak minat. Beruntung, teh yang saya pilih ternyata cukup menyenangkan. Ada nuansa berbeda di air berwarna cokelat kemerahan itu. Tidak sekadar rasa teh. Ada rasa lenkongnya. Sumpah, bagi saya agak aneh karena biasanya teh bernuansa wangi melati atau vanila. Tapi, saya menyukainya. Pun dengan timun serut pilihan istri saya. “Segarnya enak, kayaknya dia nambah jeruk,” kata istri saya berlagak sok ahli kuliner.

Akhirnya, kami berdua bertahan di tempat itu hampir satu jam setengah. Selain menimati makanan, kami pun sibuk memandang Medan yang ‘lain’. Sumpah, suara air yang mengalir dan pemandangan pohon di sekitar sungai yang berlatar gedung tinggi cukup menawan. Apalagi, tempat ini letaknya agak menjorok ke dalam, jadi kebisingan lalu lintas cenderung tak begitu dominan.

Sayang, di saat pembayaran, angka tak sesuai yang dibayangkan. Sembilan puluh empat ribu untuk semuanya. Fiuh.
Tapi, kata istri saya, nikmati saja. Kan sudah dimakan dan bukankah rasanya enak. Lalu, bukankah tempatnya menyenangkan?
Iya juga ya. Hm, Ini Medan memang harus pakai kata ‘Bung’. Kalimat itu sudah pas, jadi jangan dicerai-berai nanti jadi tak afdol.
Baiklah, untuk kenangan di seberang DPRD Medan: Medan tetap Ini Medan Bung! (*)