Home Blog Page 13570

Langgar Roilen, 3 Rumah Dibongkar

MEDAN-Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) Kota Medan kembali membongkar bangunan bermasalah.

Kali ini yang menjadi objek pembongkaran adalah tiga unit bangunan rumah tempat tinggal di Jalan Selam III, persisnya di sudut Jalan Sei Musi, Kelurahan Tegal Sari Mandala, Kecamatan Medan Denai. Pembongkaran dilakukan karena pembangunannya terbukti menyimpang dari Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) yang telah dikeluarkan. “Penyimpangan yang dilakukan itu berupa pelanggaran roilen rumah Jalan Selam III dan Jalan Musi. Untuk Jalan Selam III, roilen yang dilanggar berukuran lebih kurang 2,5 x 12 meter, sedangkan Jalan Musi, roilen yang dilanggar lebih kurang 6 x 17 meter,” kata Kabid Pemanfaatan dan Tata Ruang Dinas TRTB, Ali Tohar, Rabu (26/4).

Dijelaskan Ali, kondisi bangunan rumah tempat tinggal itu sudah rampung 100 persen. Malah salah satu rumah telah ditempati. Meski demikian tidak menghalangi tim  untuk melakukan pembongkaran. Sebelum melakukan pembongkaran, Ali Tohar yang memimpin prosesi pembongkaran lebih dahulu mendatangi orang yang menempati rumah tersebut. Setelah memberitahukan tujuan kedatangan untuk melakukan pembongkaran, penghuni rumah yang diduga sebagai penyewa tak bisa berbuat apa-apa.

Apalagi Ali Tohar sebelumnya juga telah menyampaikan tiga surat peringatan kepada pemilik rumah untuk membongkar sendiri bangunan yang menyimpang dari SIMB tersebut. Namun peringatan itu tidak ditanggapi.  “Makanya, kita hari ini datang untuk melakukan pembongkaran,” kata Ali Tohari didampingi Kasi Pengawasan. (adl)

Wali Kota Lepas Khafilah Asal Medan

Kota Medan Ikuti MTQN Tingkat Provinsi Sumut ke XXXIII

Membaca Al Quran harus dibudayakan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Al Quran merupakan hidayah dan petunjuk bagi umat Islam dalam rangka menggapai kehidupan dunia dan akhirat.

Budaya membaca Al Quran menjadi keharusan bagi umat Islam dan diajarkan sejak dini, sehingga kelak generasi Islam menjadi umat yang tangguh pada massa akan datang. Demikian disampaikan Wali Kota Medan, Drs H Rahudman Harahap, Jumat (27/4) di pendopo rumah dinas Wali Kota Medan.

Dengan didampingi Ketua TP PKK Kota Medan, Hj Yusrah Rahudman Harahap, Wali Kota Medan melepas sebanyak 39 orang khafilah asal Kota Medan untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) tingkat Provinsi Sumatera Utara ke XXXIII yang dipusatkan di Kabupaten Serdang Bedagai.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua MUI Kota Medan Prof DR H Mohd Hatta MA, KH Amiruddin MS, Pimpinan BKM Jabal Noor KH Zulfikar Hajar Lc, Kepala Kementerian Agama Kota Medan Drs H Iwan Zulhami serta para pimpinan SKPD jajaran Pemko Medan.

Rahudman mengatakan, perlombaan MTQN ke-XXXIII yang digelar mulai 27 April sampai 5 Mei 2012 adalah program pemerintah yang diselengggarakan setiap tahunnya secara berjenjang mulai tingkat kecamatan hingga tingkat nasional, bahkan sampai ke tingkat Internasional.
“MTQ bagian dari upaya membudayakan membaca Al Quran di tengah-tengah kehidupan masyarakat, karenanya Al Quran merupakan hidayah dan petunjuk bagi umat Islam dalam rangka menggapai kehidupan dunia dan akhirat,” katanya.

Dia memaparkan, di dalam Al Quran banyak terkandung perkembangan ilmu pemgetahuan dan teknologi, yang turut menciptakan globalisasi membawa perubahan. Seiring dengan globalisasi membawa dampak negatif dengan masuknya budaya asing, terkadang tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia, khususnya Kota Medan.

Rahudman mengajak kepada semua masyarakat agar senantiasa membentengi anak-anak dan generasi muda dengan nilai-nilai serta ajaran agama yang sumber utamanya adalah Al Quran.

“Kami memberi harapan dan motivasi agar para khafilah asal Kota Medan dapat berhasil dan menjadi yang terbaik. dan berprestasi ,” ucapnya.
Dia mengharapkan, dengan mengikuti MTQN tingkat Provinsi Sumatera Utara bisa meningkatkan hubungan silaturahim di antara umat Islam dari kabupaten/kota se-Sumatera Utara dan sekaligus menjadi nama baik di Kota Medan.

“Khafilah lain harus menunjukkan sikap dan prilaku yang bisa menjadi contoh bagi  khafilah lainnya, baik dalam segi membaca di atas mimbar tilawah maupun dalam menampilkan sikap dan prilaku selama belangsungnya perlombaan MTQN,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, Rahudman Harahap menitipkan pesan kepada pimpinan khafilah agar benar-benar memperhatikan para peserta, terutama kondisi kesehatan dan pemondokannya. Pastikan sebuah pemondokan yang betul-betul sehat.

“Tahun ini, para peserta didampingi dua orang dokter agar kesehatannya benar-benar sehat, dan lancar dalam mengikuti lomba,” ucapnya.
Lebih lanjut, Rahudman menyatakan, khafilah asal Kota Medan tetap berjuang membawa nama baik Kota Medan sebagai kota religius, madani dan metropolitan. Dengan nama besar Kota Medan, maka khafilahnya bisa memberikan kebanggaan bagi segenap masyarakat Kota Medan. (adl)

Kota Medan Ikuti 20 Nomor Perlombaan

Asisten Kesejehteraan Masyarakat (Askesmas) Drs H Musadad Nasution selaku pimpinan kafilah melaporkan, kafilah yang berangkat mengikuti perlombaan MTQN tingkat Provinsi Sumatera Utara ke-33 di Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 39 orang terdiri dari 19 orang laki-laki, 20 orang perempuan.

Pada MTQN ke XXXIII Provinsi Sumatera Utara, Musadad membeberkan, memperlombakan 20 nomor dari 22 nomor  yang dilombakan, dua nomor yakni tafsir bahasa arab golongan putri dan dekorasi golongan putra tidak ikut karena tidak ada pesertanya.

“Dalam rombongan dari Kota Medan, ada penambahan jumlah mencapai 10 orang official, 3 orang pelatih dan 2 orang dokter,” sebutnya.
Dia menyampaikan, para kafilah yang dibawa sudah memiliki persiapan, yang sebelumnya telah mengikuti Training Centre (TC) di wisma Naniko, dan khusus untuk pelatih Qira’at Saba didatangkan ahli Qira’at dari Sumatera Barat. Selain itu dilakukan kerja sama dengan tim doter THT RSU Pirngadi Medan untuk memeriksa dan merawat para kafilah.

Musadad juga menyatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi pelaksanaan perlombaan MTQN ini ditempatkan di Kecamatan Penggajahan, Serdang Bedagai.

Dalam kegiatan itu, tempat yang disiapkan sudah cukup baik. Dengan kondisi tempat yang baik, maka mem buat timnya bertambah lebih semangat untuk mengikuti MTQN tingkat Provinsi Sumatera Utara di Serdang Bedagai.

Hal lainnya, Musadad menyampaikan terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari segenap warga Kota Medan. Karena dengan doa dan dukungan inilah yang membuat tim merasa terbantu dalam menggerakkan langkah menuju lokasi MTQN tingkat Provinsi Sumatera Utara.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, rombongan tim, khususnya peserta yang ikut berlomba sudah melalui tahap seleksi melalui tim yang ahli. Selanjutnya, seleksi yang dilakukan sangat ketat. Sehingga, peserta yang dibawa bisa mengharumkan Kota Medan.

“Kami berniat tetap mengharumkan nama besar Kota Medan sebagai kota religius, madani dan metropolitan. Insya Allah kafilah asal Medan menjadi yang terbaik,” katanya. (adl)

Angie Nangis Masuk Sel

Pertama Kali Diperiksa Sebagai Tersangka, Langsung Ditahan

JAKARTA-Angelina Sondakh menjadi tersangka pertama yang menghuni Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Cabang Jakarta Timur. Seusai menjalani pemeriksaan kali pertama kemarin (27/4), anggota Komisi X DPR itu langsung dijebloskan ke ruang tahanan berukuran 3×4 meter  yang terletak di basement gedung KPK.

Menurut Nasrullah, kuasa hukum Angie yang sempat mengantar hingga masuk sel, kliennya sempat menitikan air mata begitu masuk ke ruangan sempit itu. Kata Nasrullah, yang membuat Angie sangat sedih adalah dia harus berpisah dengan Keanu Jabbar Massaid, anaknya yang baru berumur dua tahun.
“Kalau untuk masalah kasusnya, dia sudah pasrah. Yang membuat dia paling sedih adalah berpisah dengan anak-anaknya. Bayangkan dia sekarang menghidupi tiga anak yatim,” kata Nasrullah.

Angie yang mengenakan pakaian putih dipadu celana hitam dengan rambut terurai datang ke markas komisi antikorupsi Jalan Rasuna Said Jakarta sekitar pukul 09.20 WIB. Seperti biasa, janda Adjie Massaid itu didampingi Mudji Massaid, adik iparnya.

Sang ayah Lucky Sondakh juga terlihat datang memberikan dukungan untuk Angie. Dia hanya melempar senyum kepada wartawan yang sudah menunggunya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Angie melenggang ke pintu masuk gedung KPK dengan pengawalan Mudji.

“Ini memang kali pertama AS (Angelina Sondakh) kami panggil untuk dimintai keterangan sebagai tersangka,” kata juru bicara KPK Johan Budi kemarin.
Angie memang tidak hanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap wisma atlet. Tapi perempuan yang masih aktif di komisi X DPR itu belakangan juga ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi di Kemendikbud.

Ternyata, KPK tak kenal kompromi. Seusai menjalani pemeriksaan selama enam jam lebih, Angie langsung ditahan. Komisi antikorupsi ini pun memutuskan Angie ditahan di rutannya. Ketua KPK Abraham Samad saat dihubungi wartawan sore kemarin mengatakan dirinya memang menandatangani surat penahanan. “Yang bersangkutan kami tahan di rutan KPK agar tidak melakukan konsolidasi dengan pihak lain di luar,” kata Abraham kemarin.

Namun meski ditahan di rutan yang letaknya satu gedung dengan ruang pemeriksaan, KPK memiliki protab tersendiri. Yakni, Angie dibawa keluar melalui pintu utama lalu digiring masuk ke rutan melalui pintu samping KPK yang berjarak sekitar 200 meter. Jadi wartawan memiliki kesempatan untuk mewawancara atau merekam gambar Angie.

Sekitar pukul 17.00 WIB, mobil tahanan KPK disiapkan diluar pintu utama. Rencananya, Angie dikeluarkan lalu diangkut dengan mobil tahanan untuk dibawa ke pintu samping. Itu rencana tersebut urung dilakukan. KPK memutuskan untuk menggiring Angie dengan berjalan kaki. Puluhan polisi dan satuan pengamanan KPK disiapkan. “Tak berselang lama Angie keluar dan langsung digiring menuju rutan KPK.

Johan mengatakan penahanan ini akan dilakukan hingga 20 hari kedepan hingga masa penyidikan selesai. Sebab, sejak awal rutan KPK memang digunakan hanya untuk tersangka yang menjalani proses penyidikan saja.

Satu Sel dengan Mindo Rosalina

Lebih lanjut Johan menerangkan, KPK memiliki pertimbangan tersendiri menahan Angie. Tapi semua pertimbangan tersebut ada di tangan penyidik. “Kami punya alasan tersendiri dimana harus menahan seseorang. Dan seorang tersangka tidak bisa memilih harus ditahan dimana. Lha kalau tersangka minta ditahan di rumah gimana,” katanya.

Berarti Angie satu tahanan bersama Mindo Rosalina Manunang (mantan Direktur Marketing PT Anak Negeri), apakah tidak akan mengganggu proses penyidikan mengingat keduanya tersangkut kasus yang sama? Johan pun menjawab bahwa penahanan Rosa di rutan KPK adalah hasil koordinasi dengan LPSK. Sebab hingga kini Rosa dibawah perlindungan LPSK.

Karenanya lanjut Johan, yang bisa menjelaskan bagaimana keberadaan Rosa di rutan KPK adalah LPSK. “Dan pihaknya sendiri akan berkoordinasi dengan lembaga yang dipimpin Abdul Haris Semendawai itu. Tapi bagaimanapun juga KPK akan terus meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. “Ada penjaga 24 jam di luar dan di dalam rutan. Di sana juga ada cctv untuk membantu pengawasan,” imbuhnya.

Pria yang pernah mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK membenarkan bahwa pihaknya menemukan beberapa transaksi keuangan Angie yang diduga berkaitan dengan proyek di Kemenpora dan Kemendikbud. Namun Johan tidak menerangkan lebih rinci bentuk aliran ke Angie itu. “Nanti akan dibuka semua di pengadilan,” tambah Johan.

Memang berdasarkan persidangan dalam kasus suap wisma atlet, Angie disebut-sebut menerima sejumlah dari Permai Grup, perusahaan yang dipimpin Muhammad Nazaruddin. Uang-uang itu diberikan melalui perantara Rosa yang sebelumnya sudah diperkenalkan Nazaruddin.

Dalam persidangan dengan terdakwa Nazaruddin Rabu (25/1) lalu, Rosa yang dihadirkan menjadi saksi mengaku pada 2010 perusahaannya telah menggelontorkan dana Rp10 miliar untuk meloloskan proyek Wisma Atlet SEA Games 2012 yang tengah dibahas Badan Anggaran DPR. Politisi DPR yang mendapat pelicin dari Nazaruddin itu adalah Wayan Koster dan Angie. Masing-masing mendapat Rp5 miliar.

Hal itu dibenarnya Yulianis, mantan Direktur Keuangan Permai Grup. Dia mengatakan memang pernah mencatat pengeluaran perusahaan yang diminta Rosa agar diberikan kepada Angie. Uang tersebut lantas diantar Lutfi Ardiansyah, sopir Yulianis ke ruang I Wayan Koster di DPR. Nah, setelah mengantar uang itu, Lutfi berpapasan dengan Angie yang hendak masuk ke ruang Koster.

Selain itu, KPK juga menemukan banyak pembicaraan antara Angie dengan Rosa dengan menggunakan istilah apel Malang dan apel Washington untuk menyebut rupiah dan dollar yang digunakan sebagai pelicin. Salah satunya adalah untuk pelicin pembangunan proyek di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara.

Saat digiring ke rutan, Angie mengaku pasrah dengan penahanan yang dilakukan kepadanya. “Saya lillahi ta”ala aja,” kata Angie sambil terus tersenyum kepada wartawan. Saat dirubung wartawan, Angie hanya singkat menjawab, untuk urusan proses hukum semua sudah diserahkankan kepada pihak kuasa hukum.
Nasrullah mengaku tidak kaget kliennya ditahan. Bahkan dia mengaku sejak siang kemarin telah mengirim surat permohonan penangguhan penahanan dengan alas an tertentu. Tapi semua dimentahkan KPK.
Menurutnya, KPK terlalu tergesa-gesa menahan kliennya. Pasalnya, selama ini kliennya selalu koperatif dan sedang menghidupi tiga anak yang masih kecil. Menurutnya, KPK belum perlu menahan kliennya.

KPK Dianggap Tergesa-gesa
Tak hanya itu, dia juga membongkar bahwa sebenarnya surat perintah dimulainya penyidikan (sprindik) untuk Angie ternyata baru dibuat pada 18 April lalu. Dengan begitu, kata Nasrullah, saat penetapan Angie sebagai tersangka pada awal Februari tidak berdasarkan sprindik. Padahal seharusnya, penyidikan harus didasari pada sprindik.
“Bisa jadi ada tekanan tertentu yang membuat KPK tergesa-gesa menetapkan Angie sebagai tersangka. Tapi saya tidak tahu apakah itu tekanan politis atau tidak, yang jelas ada keuntungan politis yang didapat kalangan tertentu dengan ditetapkan Angie sebagai tersangka,” imbuhnya.
Sementara itu, Lucky Sondakh, ayah kandung Angelina Sondakh, mengatakan kedatangannya ke KPK adalah bentuk support dan kasih sayang terhadap anaknya. Katanya, sebagai seorang ayah dirinya memiliki kewajiban untuk mendampingi anaknya yang tengah terjerat kasus korupsi.
“Saya sedih (Angie ditahan) tapi harus tabah,” katanya sesaat setelah Angie ditahan. Untuk itu dia meminta agar Angie lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbanyak ibadah dan doa. Meski begitu Lucky mengaku tidak tahu banyak soal kasus yang menjerat anaknya. Dia beralasan bukan seorang ahli hukum. Tapi dia mengaku kerap berdiskusi bersama Angie untuk membicarakan kasusnya.
Sementara itu, kalangan di Partai Demokrat berharap agar Angie tetap kooperatif menjalani proses hukum seperti yang telah dilakukan, selama ini. “Sebagai partai, tentu kami akan mendorong kader untuk mematuhi proses hukum dengan baik. Saya yakin Angie tidak akan mempersulit proses pemeriksaan, sebab dia warga negara yang patuh dan menghormati hukum.” kata Ketua Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin, saat dihubungi, kemarin.
Menurut dia, hanya dengan sikap demikian, kepastian hukum akan bisa segera tercapai. “Kalau bersalah nyatakan bersalah, sebaliknya kalau tidak bersalah nyatakan tidak bersalah, supaya tidak ada pihak yang tersandera,” tegasnya. (kuh/dyn/agm/jpnn)

Wapres Minta Suara Azan Jangan Keras

JAKARTA-Kumandang azan yang menjadi penanda waktu salat mendapat perhatian Wakil Presiden (Wapres) Boediono. Dia meminta suara azan jangan keras. Suara azan lebih baik pelan atau sayup-sayup.

Hal ini diungkapkan Boediono saat membuka Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI). “Dewan Masjid Indonesia kiranya dapat mulai membahas, umpamanya, tentang pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid,” kata Boediono di Asrama Haji Pondok Gede Jumat (27/4).

Dia menyebut, pengaturan itu merupakan salah satu bentuk pengelolaan masjid. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, papar Wapres, Indonesia dapat memberikan contoh-contoh yang baik bagi dunia Islam. Selain syiar Islam, hal itu juga memberikan citra positif bagi umat Islam.

Boediono memahami bahwa azan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban salat. Namun demikian, apa yang dia rasakan barangkali juga dirasakan orang lain. “Yaitu bahwa suara azan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari kita dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga kita,” urainya.

Kalau Bisik-bisik Bukan Azan

Pernyataan Boediono ini langsung menuai tanggapan. Ketua DPW PKS Sumut H M Hafez Lc MA mengatakan pernyataan Wapres adalah sesuatu yang tidak pas. “Jadi kalau bisik-bisik bukan azan namanya. Rasulullah saja pernah menyuruh bilal Azan supaya naik ke Ka’bah untuk mengumandangkan Azan agar didengar dari segala penjuru,” katanya, tadi malam.

Alumni Universitas Al Azhar Kairo ini membeberkan, suara yang dipantulkan dari azan harus menyeluruh ke segala penjuru. Bila saat ini ada yang menyebutkan azan sebaiknya tidak perlu keras-keras, hal itu bisa menimbulkan banyak persepsi dari sudut pandang umat Islam. Ada baiknya, orang yang mengeluarkan pernyataan itu mengevalusi sendiri karena bila tidak umat Islam bisa terpancing amarahnya. “Larangan azan itu pernah ada diterapkan oleh negara sekuler seperti di Turki. Pada masa Perdana Menteri Raceb Tayyib Erdogan, azan tidak boleh keluar dari masjid dan tak boleh pakai microphone. Tapi sekarang, Turki sudah terang-terangan. Kok ini malah Indonesia mau membuatnya, inikan aneh,” paparnya.

“Jadi ada baiknya komentar mengenai keagaman ini diserahkan kepada menteri agama saja, sehingga tidak salah dan menyinggung umat lain,” tambahnya. (fal/c11/agm/jpnn/ril)

Ondim Dapat Restu Syamsul

MEDAN-Syah Afandin atau yang akrab disapa Ondim mengaku telah mendapat restu dari Syamsul Arifin. Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara (Sumut) ini menyatakan restu tersebut terkait rencana untuk maju dalam Pilgubsu 2013 mendatang.

“Itu yang paling utama. Pertama restu dari emak dan abang,” aku Omdin kepada Sumut Pos, Jumat (27/4).
“Itu yang paling utama. Pertama restu dari emak dan abang,” akunya.

Seandainya benar, berarti restu dari Syamsul Arifin yang saat ini menyandang status Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) nonaktif, diterimanya di Jakarta?
“Iya, saat ke Jakarta. Di dalam adab Melayu, kita harus saling hormat-menghormati terutama terhadap yang lebih tua,” akunya lagi.
Rencana maju dalam Pilgubsu, sambung Ondim, didasarkan atas tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu di partai berlambang matahari tersebut di Sumut. Selain itu pula, dilandasai dari ritme atau alur keberadaan partai politik yang secara hakikatnya adalah untuk mendapatkan kekuasaan. “Kita diinstruksikan untuk mengambil peran. Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PAN, sudah menyepakati Ketua Umum DPP, Pak Hatta Rajasa menjadi calon presiden 2014. Antara capres dan pilkada di provinsi dan kabupaten/kota, memiliki sinergi,” terangnya.

Bagaimana dengan sosok kandidat-kandidat lainnya? Terkait hal itu, Ondim menjawab dengan santai dengan mengatakan, dalam perkembangannya ke depan, suhu politik di Sumut khususnya yang bersinggungan dengan Pilgubsu terlebih soal pencalonan masih bersifat fluktuatif. “Nanti semakin lama, akan terus berkembang dan mulai mengerucut,” jelasnya.

Konstelasi politik yang akan terus cair, lanjutnya, akan terus memacu bentuk-bentuk kolaborasi atau koalisi yang akan dilakukan partai-partai ataupun untuk memasangkan calon-calon yang ada. Ondim juga sempat menyebut nama Sutan Bhatoegana yang digembar-gemborkan akan maju menjadi cagubsu, merupakan bentuk dari fluktuasi politik yang mungkin dan akan terus terjadi. “Artinya Sumut berpotensi besar. Nah, dalam hal ini PAN harus aktif, membutuhkan kolaborasi untuk Pilgubsu. Saat ini, suara PAN berada dalam persentase sekitar tujuh sampai delapan setengah persen. Di sinilah ada kolaborasi politk,” katanya.

Apakah PAN akan mengedepankan koalisi dengan partai berbasis agama atau nasionalis atau partai terbuka? Terkait hal itu, Ondim menerangkan, dalam konteks ideologi partai, PAN berlandaskan ideoologi nasionalis. “Ini yang harus diluruskan. Dari dulu itu, PAN mengedepankan ideologi nasionalis walaupun dasarnya dari Muhammadiyah. Kolaborasi yang akan dijajaki dan dibentuk terhadap semua plang partai. Kita hari ini belum bisa memprediksi. Karean semuanya belum jelas, masih terus berubah-ubah,” tegasnya. (ari)

Barca, Real, dan Cagubsu

Faliruddin Lubis
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Semifinal Liga Champions 2012 melahirkan kejutan. Dua klub raksasa Eropa Barcelona alias Barca dan Real Madrid alias Real yang biasa masuk final, akhirnya roboh dibantai tim tak diunggulkan Chelsea dan Bayern Munchen.

Semua pecinta sepakbola masih tak yakin kenapa kedua kekuatan Eropa itu bernasib sama. Tapi, itulah sepakbola semuanya bisa terjadi. Jadi tim sekuat apapun dan juara di berbagai kompetisi bisa saja tersingkir. Begitu juga sebaliknya tim yang dianggap bakal tersisih bisa membuat kejutan.

Intinya, para pecinta Barca dan Real hendaknya tak berkecil hati harus fair play. Kedua pelatih juga sudah legowo masak pendukungnya tak mau legowo.
Terlepas mau diterima atau tidak, intinya kekalahan Barca dan Real tentu saja karena motivasi sang lawan berlipat. Pasalnya, tim yang dihadapi tim kuat bertabur uang dan bintang lapangan hijau. Jadi, tim lawan tak mau main-main mempersiapkan diri termasuk mencari tahu cara main lawan.

Mungkin saja, sang pelatih dan pemain mempelajari setiap pertandingan-pertandingan yang dilakoni Real dan Barca. Di sana tergambar cara main serta taktik yang diterapkan pelatih Real dan Barca. Jadi, karena banyaknya sudah melihat rekaman-rekaman itu, tim lawan jadi tahu kelemahan Barca dan Real.

Apalagi keduanya dari tahun ke tahun cara mainnya tak berubah-ubah makin mudah dipelajari. Tapi, sudahlah nanti dituduh pula kita menggurui.
Yang mau disampaikan sebenarnya bagaimana peluang cagubsu yang akan datang. Bisa jadi nasib cagubsu yang sudah mulai mengklaim maju sama seperti nasib Barca dan Real. Lho, kenapa? Sekarang ini tokoh yang mengklaim maju sudah mulai unjuk kekuatan dana dan sosok. Mereka terus menjalankan taktik untuk meraih simpati masyarakat. Mungkin saja sudah banyak dana yang digelontorkan untuk mencapai kursi Sumut 1.

Berbagai hasil survei intern partai politik dan lainnya pun sudah mengklaim tokoh-tokoh itu bakal meraih suara terbanyak karena cukup populer.
Tak jarang pula mereka sengaja membawa wartawan televisi dan cetak untuk meliput kegiatannya, agar bisa dilihat oleh semua kalangan masyarakat. Ini tentu bisa jadi kerugian. Pasalnya, calon yang belum menunjukkan gigi mengintai taktik para calon ini. Nah, setelah semuanya dipelajari baru dia fight dan menyusun kekuatan.

Kalau ini yang terjadi bisa saja merubah keadaan. Bisa-bisa calon yang sekarang ini masih tidur, malah menang mutlak di hitungan akhir KPU. Malah, cagubsu yang sembunyi ini diam-diam punya taktik lain untuk mengalahkan calon yang katanya sudah populer. Atau bisa jadi melakukan serangan fajar karena dananya masih  banyak. Masyarakat pun langsung mencoblosnya.

Jadi, bagi cagubsu yang bakal maju hendaknya jangan seperti nasib Barca dan Real. Karena kuatnya dan populernya dalam segala hal membuat lawan termotivasi untuk mengalahkannya. Kalaupun bernasib seperti Barca dan Real juga harus legowo, jangan terus melakukan hal-hal yang tak diinginkan karena kesal. Semuanya bisa senasib dengan Barca dan Real. (*)

Kejar Dangdut hingga ke Belanda

Andrew Weintraub, Profesor Universitas Pittsburgh dan Vokalis Dangdut Cowboys (1)

Nama Andrew N Weintraub jelas kalah tenar dengan Rhoma Irama atau Inul Daratista. Namun, dalam dunia dangdut Indonesia, Andrew bukan orang asing. Dia adalah profesor dari Universitas Pittsburgh, AS, yang secara komperehensif meneliti dangdut. Dia juga membentuk kelompok orkes dangdut di Pitssburgh bernama Dangdut Cowboys.

HENDROMASTO, Jakarta

Pada 2010 lalu, nama Andrew melejit di sela gempita dunia dangdut tanah air. Saat itu, dia baru saja menyelesaikan bukunya berjuduln
Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia‘s Most Popular Music. Buku itu baru saja dialihbahasakan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia awal bulan ini dengan judul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia.

Perjumpaan Andrew dengan dangdut sudah terjadi pada 1985. Saat itu, sebagai mahasiswa musikologi, dia melakukan penelitian terhadap musik Sunda. Bandung menjadi kota tempat tinggalnya selama penelitian itu. Saat di Bandung dan mulai menyiapkan penelitiannya, Andrew mendapati sebuah musik yang tidak akrab di telinganya. Dia juga melihat musik itu manjur untuk membuat pendengarnya bergoyang dan begitu digilai banyak telinga.
“Saya sempat berniat mengganti penelitian saya tentang musik tradisi Sunda. Saya ingin menggantinya dengan penelitian tentang dangdut. Saat itu Evie Tamala sedang top-topnya,’’ kenang Andrew.

Namun, niat mengganti tema penelitian itu langsung ditolak dosen pembimbing Andrew. Alasannya, dangdut adalah musik pop dan bukan musik tradisi yang seusai bidang keilmuan Andrew saat itu. Walau mendapat penolakan, bukan berarti Andrew lantas meninggalkan dangdut begitu saja. Dia tetap dekat dengan dangdut sebagai penikmat.

Selama enam tahun Andrew menuntaskan penelitiannya tentang musik tradisi Sunda. Dia mendalami seluk beluk musik Sunda dengan beragam keunikan di sekitarnya. Mulai kecapi, gamelan, hingga wayang golek menjadi fokus penelitiannya saat itu.

“Saya tetap dekat dengan dangdut sebagai penggemar, belum menempatkannya sebagai objek penelitian,” beber warga negara AS yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Ketertarikan Andrew dengan dangdut dan menempatkannya sebagai objek penelitian baru kesampaian pada 2005. Saat itu, dia sudah menyandang gelar profesor dan mendapat beasiswa untuk meneliti dangdut. Sebagai seorang profesor, Andrew tak lagi harus terkungkung pada batas-batas musikologi yang memilah musik tradisi dan pop.

Tanpa buang waktu, Andrew terbang ke Indonesia setelah menerima beasiswa dari pemerintah AS untuk mewujudkan cita-cita lamanya.
Selama enam bulan Andrew menghabiskan waktunya di Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya menghasilkan sebuah penelitian dan buku tentang dangdut. Pada awal penelitiannya, Andrew mengakui sama sekali tidak mudah untuk menjangkau sumber-sumber dangdut. Minimnya referensi tertulis tentang dangdut dan akses kepada para pelaku musik dangdut sebagai narasumber penelitian menjadi hambatannya. “Tidak mudah untuk bisa menemui dan melakukan wawancara dengan para pemusik dangdut. Harus ada yang mengantarkan,” tutur Andrew.

Namun, kesulitan menjangkau narasumber untuk wawancara itu kemudian bisa teratasi secara perlahan. Pemusik dangdut seperti Rhoma Irama, A. Rafiq, Camelia Malik, hingga Munif Bahasuan dia temui untuk interview mendalam. Andrew juga melakukan wawancara dengan para insan media seperti Ishadi SK yang dia anggap berperan membawa dangdut dekat dengan media masa, khususnya televisi.

Kesulitan mendapat narasumber dari pelaku dangdut tidak lantas diikuti dengan kemudahan mendapatkan referensi tertulis tentang dangdut. Andrew harus melakukan perjalanan hingga negeri Belanda untuk mendapatkan data-data tertulis tentang dangdut dan segala macam pernik di sekitarnya.
Tentang gegap gempita dangdut yang terekam dalam pemberitaan media justru diperoleh Andrew di Belanda. Di Indonesia, sumber tertulis semacam itu termasuk langka. Jerih payah Andrew mencari sumber-sumber tersebut terbayar dengan buku yang dia hasilkan. Buku tersebut tidak hanya melulu berisi tentang dangdut sebagai musik.

“Saya menulis buku tentang dangdut agar bisa dibaca para mahasiswa, peneliti lain, dan siapa saja yang hendak meneliti musik, antropologi, dan studi-studi Asia Tenggara,” sambung Andrew.

Isi buku Andrew memang lintas disiplin. Sebagai sebuah buku tentang musik, jelas Andrew menuliskannya dengan komperehensif. Sebagai buku tentang fenomena sosial kaum urban Indonesia, buku Andrew juga pantas diandalkan.

Menurutnya, dangdut memang bukan sekadar musik. Apa yang tertulis dalam syair dangdut adalah cerminan realitas sosial yang ada saat lagu itu tercipta. Tentang susahnya hidup jadi gelandangan atau bebas merdekanya seorang bujangan hingga derita dan bahagia cinta ada dalam dangdut. Semuanya disampaikan dengan rasa dangdut yang khas hingga membuat pendengarnya tetap bergoyang walau lirik lagunya sedih merintih-rintih.
Bagi Andrew, dangdut di Indonesia memiliki keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh musik lain di tanah air. Kedekatan Andrew dengan dangdut tidak hanya berhenti pada buku. Pada 2007 lalu, dia membentuk sebuah grup dangdut di Pittsburgh. Grup dangdut itu diberi nama Dangdut Cowboys. Seperti apa? (bersambung)

Jalinsum Medan-Berastagi Kembali Lancar

KARO- Sempat lumpuh sekitar enam jam akibat longsor di kawasan  Desa Doulu, Kecamatan  Berastagi, Rabu (25/4) lalu, kini Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan-Berastagi, kembali normal.

Curah hujan yang beberapa pekan belakangan cukup tinggi, diprediksi merupakan faktor utama penyebab bencana alam, khususnya longsoran kecil di sejumlah tempat di  Kabupaten Karo.

“Namun demikian, kita menghimbau  turis agar tidak ragu untuk melakukan kunjungan wisata.  Karena di Daerah Tujuan Wisata (DTW), tidak ada yang terkena bencana,” ujar Kadis Parsenbud Karo Dinasti Sitepu, SSos, Jumat (27/4) di ruang kerjanya kepada Sumut Pos.

Longsoran kecil di sejumlah titik di jalan lintas Medan-Berastagi, diakui Dinasti memang kerap terjadi jika curah hujan tinggi. Hal itu terjadi sehubungan kondisi alam  di arael perbukitan. Dan lokasi itu bukan hanya di Karo, melainkan juga di perbatasan Deliserdang, Dairi, Langkat dan Aceh (NAD).
“Dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan, longsoran dari bukit ke bagian Jalinsum, di Desa Doulu kemarinlah, yang terparah di wilayah Karo. Kedepannya, kami telah melakukan koordinasi dengan pihak PU, Kesbang dan berbagai pihak terkait,  untuk  antisipasi, serta penanggulangan” ungkap Dinasti.

Sementara itu, sejumlah pelaku wisata jasa penginapan dan  pedagang, mengaku mengalami   sedikit penurunan omset.  Tetapi jika jalan telah normal kembali, mereka yakin, tingkat kunjungan akan  segera pulih. (wan)

Satu Orang Penggarap Kena Bacok

Bentrok di Lahan Garapan Kawasan Keramat Kuda

MEDAN- Tanah garapan terus menjadi rebutan antar sesama penggarap. Hal ini terjadi di kawasan Keramat Kuda Jalan Jermal XV, Jumat (27/4) sekitar 11.30 WIB.

Buntut dari kejadian ini, Batu Alam Sitorus (57) warga Jalan Kiwi Raya Perumnas Mandala luka parah dan kini  dirawat di RSU dr Pirngadi Medan.
Informasi yang dihimpun, bentrok berawal saat terbakarnya posko salah satu kelompok penggarap. Mereka baru saja menggarap tanah milik PTPN II tersebut, tanpa membentuk kelompok tani.

Diduga posko itu dibakar oleh Kelompok Tani Gotong Royong. Akibat kejadian ini kelompok penggarap tersebut melakukan aksi balasan yakni merubuhkan bangunan milik kelompok penggarap Gotong Royong yang terbuat dari batu-bata.  Akibatnya bentrok tidak bisa dielakkan. Batu Alam Sitorus salah satu anggota Kelompok Tani Gotong Royong mengalami luka bacok di bagian tangan, kepala, kaki dan bahu.
Untuk meredakan bentrok personel dari Polsek Percut Seituan terjun ke lokasi kejadian.

Ketua Kelompok Tani Gotong Royong Umri Barus Menyebutkan jumlah penggarap yang menyerang mereka sekitar 100 orang lebih, sedangkan anggotanya cuma 30 orang.  “Kami mendapatkan perlawanan yang tidak berimbang, sehingga dari pihak kami ada yang luka-luka. Entah apa masalah mereka dengan kami, yang jelas, saat kejadian tidak ada kontak antra kami dan mereka,” beber Barus.
Untuk mengantisipasi bentrok kembali aparat kepolisian melakukan pam.

Kapolsek Polsek Percut Seituan Kompol Maringan Simanjuntak mengatakan sekitar 6 orang saksi kini tengah diperiksa di Mapolsek Percut Sei Tuan. “Saat ini kita sudah menyiagakan petugas di kawasan tersebut untuk menghindari adanya serangan balasan dan antisipasi bentrok susulan,” kata Maringan.
Sementara itu kondisi Batu Alam Sitorus yang dirawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Dr Pirngadi Medan terus dirawat dokter.  “Saya dibacok delapan orang dan saya luka pada kening, telinga, betis, tumit kaki kanan, lengan atas tangan kanan dan punggung,” sebut Batu Alam Sitorus.(gus/jon)

Korban Puting Beliung Dibantu

LANGKAT- Sebanyak 35 pemilik rumah korban puting beliung mendapat bantuan dari Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu. Bantuan berupa material itu diberikan di Dusun Permadi Pasar III Padang Cermin Kecamatan Selesai, Jumat (27/4).

“Kehidupan manusia senantiasa dalam ujian, saya berharap bapak ibu sekalian bersabar menerima musibah ini,” kata Ngogesa menghibur.
Selain material, secara pribadi Ngogesa juga memberikan uang Rp63 juta kepada korban. Soalnya tujuh rumah diantaranya rusak berat. Mereka mendapatkan masing-masing Rp3 juta, sedangkan 28 rumah lainnya yang mengalami rusak ringan dibantu Rp1,5 juta. Sementara bantuan yang didistribusikan berupa air mineral kebutuhan di posko selama 4 hari, bahan material bangunan berupa seng, kayu broti maupun paku.

Tak hanya itu dalam waktu dekat ini Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Herdianul Zaully juga akan mendata rumah yang rusak sebelum menyalurkan bantuan.  Di bagian lain, pengurus Partai Golkar Langkat yang dipimpin Wakil Ketua Surialam juga menyalurkan beras 30 Kg/KK, gula 2 Kg/KK, migor 2 Kg/KK, sirup 2 botol/KK, kain sarung 2 helai/KK. (mag-4)