Home Blog Page 13573

Bupati Karo Bisa Dipenjara Dua Tahun

Kasus Dugaan Ijazah Palsu akan Seret KPUD Karo

MEDAN- Kasus dugaan ijazah palsu Bupati Karo Kena Ukur Surbakti sepertinya akan menyeret-nyeret pihak lain.

Satu di antaranya adalah pihak Komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Karo. Selain itu, jika memang terbukti palsu, Bupati Karo pun bisa dihukum dua tahun.

Itu dikemukakan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Nuriyono saat dimintai tanggapannya terkait kasus tersebut oleh Sumut Pos, Kamis (26/4). “Jika ijazah palsu itu digunakan maka akan semakin kuat tindak pidananya. Nah harus dipertanyakan juga kepada pihak KPUD Karo, yang berwenang dalam proses verifikasi, kenapa ini bisa terjadi. Ini akan menyeret-nyeret pihak KPUD Karo. Karena ijazah itu menjadi salah satu syarat untuk maju menjadi kepala daerah,” tegas Nuriyono.

Dalam kasus dugaan ijazah palsu tersebut, sambungnya, yang diutamakan adalah harus ada laporan kasus tersebut kepada penegak hukum. Selain itu pula, yang harus digarisbawahi adalah kinerja dari penegak hukum itu sendiri yang menerima laporan kasus dugaan ijazah palsu tersebut. “Tapi tidak seketika menurunkan bupati, karena prosesnya panjang. Kalau ada laporan, kemudian diproses di kepolisian dan kemudian diselidiki baru bisa diberhentikan. Kalau tidak ada laporan, tidak bisa diproses,” katanya.

Setelah ada laporan, kasus juga kadang belum tentu langsung tuntas. “Kalau polisi tidak bergerak, 10 tahun pun tidak turun-turun. Peran serta kepolisian harus benar-benar. Karena persoalan ini akan menyeret-nyeret pihak lain, termasuk unsur KPUD setempatnya. Dan bisa dipertanyakan, kenapa ijazah palsu itu bisa lulus atau dibiarkan begitu saja,” terangnya lagi.

Menurutnya, jika benar ada laporan dan kepolisian memprosesnya secara tegas hingga ke meja kejaksaan, hanya dibutuhkan waktu selama lebih kurang enam bulan saja, untuk mengetahui kepastian benar atau tidaknya kasus tersebut.

Ketika di persidangan nantinya, terbukti benar kasus dugaan ijazah palsu tersebut, secara hukum pidana maka sanksi penjara yang dijatuhkan sekurang-kurangnya dua tahun lebih.

“Jika proses pemeriksaan berjalan lancar, enam bulan sudah bisa selesai. Enam bulan bulan bisa jadi tersangka. Kemudian ada pemberhentian sementara. Itu dikenakan pasal pemalsuan dengan sanksi di atas dua tahun penjara,” urainya.

Sementara itu, Mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Medan Hasan Basri yang dikonfirmasi mengenai kebenaran kasus tersebut, hanya menjawab sepenggal atau seadanya. “Coba cek di kantor,” jawabnya.

Sementara itu, seorang komisioner KPUD Sumut, Turunan B Gulo menegaskan ijazah minimal SMA dan sederajat adalah mutalk untuk menjadi bupati. Diketahuinya, Kena Ukur Surbakti tidak memiliki ijazah tapi hanya menggunakan surat keterangan dari Kepala Sekolah STM Negeri 1 Medan sebagai persyaratan menjadi bupati. Dari data-data tersebut hanya menjelaskan, Kena Ukur Surbakti angkatan 1968 dan tidak dijelaskan tamat yang dilampiri nilai-nilai ijazah sebagaimana lazimnya.
Dinas Pendidikan Medan maupun Sumut tidak berani membuat ketegasan apakah Kena Ukur Surbakti benar-benar tamat sekolah. Justru Kena Ukur Surbakti membuat justifikasi (pembelaan/pembenaran) dengan mengumpulkan tandatangan teman-temannya semasa sekolah dulu, yang menyatakan Kena Ukur pernah sekolah di STM Negeri 1 Medan tetapi tidak disebut apakah tamat.

Selain itu Kadisdik Medan semasa Drs Hasan Basri MM dalam suratnya tertanggal 12 Januari 2011 tegas menyatakan sesuai data di Disdik Medan Kena Ukur Surbakti tidak tercantum pada akhir tahun 1968 dari STM Negeri 1 Medan. Karena tahun 1968 Kanwil Depdikbud Sumut yang meregister dan mengeluarkan Surat Tanda Tamat Belajar atau ijazah STM Negeri 1 Medan.

Di sisi lain, Aliansi Masyarakat Karo mendatangi Polres Karo. Kedatangan sejumlah perwakilan AMK yang terdiri dari unsur pimpinan gabungan sejumlah LSM, Selasa (24/4) lalu ke Mapolres Karo tidak lain untuk memberikan berkas permohonan pemberitahuan izin aksi unjuk rasa, tertanggal 1 Mei mendatang. “Jika tidak ada penekanan disertai gerakan massa, dikhawatirkan kasus ini akan terbenam,” ujar  Direktur LSM KPKP, Ikuten Sitepu didampingi Ketua LSM Panji Demokrasi Chici Ardy kepada sejumlah wartawan.

Menurut Ikuten,  rencananya pihak AMK akan mengerahkan 300 massa untuk mendesak percepatan pengungkapan dugaan ijazah palsu yang digunakan Kena Ukur Surbakti pada pencalonan diri sebagai peserta Pemilu Kada  Karo tahun 2010 lalu.

Namun, sambung Chici, sebelum terbitnya izin dari pihak kepolisian tentang rencana demo awal bulan depan, pihaknya telah dikabari akan ada pendemo tandingan. “Kita nantikan apakah benar adanya. Jika memang ada pendemo tandingan saat ketika unjuk rasa AMK tanggal 1 Mei mendatang, maka kita persilahkan secara hormat. Ini era kebebasan berdemokrasi, pihak mana saja boleh menyuarakan aspirasinya,” kata Chici. (ari/wan)

Semboyan

Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

BIAYA sebesar 496 miliar yang diusulkan KPU Sumut untuk Pilgubsu 2013 nanti, hingga kini belum menunjukkan titik terang. Dari Rp121 miliar yang diusulkan pada Oktober 2011, ternyata hanya Rp60 miliar yang tercantum di APBD. Kekurangannya, kabarnya akan kembali dicantunkan pada PAPBD nantin

Tak ayal kondisi ini melahirkan keraguan akan terlaksananya Pilgubsu 2013, sebab selain harus mengakomodasikan kekurangan tadi di PAPBD, sesungguhnya KPU Sumut juga masih berencana  menganggarkan Rp375 miliar untuk pengadaan logistik gelaran Pilgubsu.
Hmmm… sebegitu besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan seorang pemimpin di provinsi ini.

Sayangnya, kerap terjadi uang dalam jumlah besar yang dipergunakan untuk gelaran Pilkada sebuah daerah, tak menghasilkan seorang pemimpin yang benar-benar dicintai oleh rakyatnya, meski katanya… mereka dipilih oleh para rakyat. Bah.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan ketidak mampuan sang pemimpin menjadi pemimpin yang adil dan bijak bagi rakyatnya. Parahnya, sudah tak mampu bersikap adil dan bijak, masyarakat pun masih harus menanggung malu dari tingkah sang pemimpin yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

Dinginnya lantai serta lembabnya udara yang ada di balik jeruji besi seakan tak pernah membuat para pemimpin jera untuk tidak melakukan kecurangan terhadap apa yang dipimpinnya.

Kalau sudah begini jadi teringat kisah pewayangan Mahabarata tatkala Resi Abiyasa mengajarkan empat amalan yang harus dimiliki seorang pemimpin kepada Arjuna.

Menurut Abiyasa, seorang pemimpin yang baik harus mampu bersikap Heneng (tenang), Hening (cipta, kreatif), Heling (sadar), dan Hawas (waspada).
Diuraikannya bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat tenang dalam menghadapi segala persoalan, sebab dengan ketenangan segala persoalan akan lebih mudah dihadapai.

Selanjutnya seorang pemimpin harus kreatif dan memiliki banyak ide untuk memakmurkan rakyatnya, dan jangan pernah lupa kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Pada bagian terakhir disebutkan jika seorang pemimpin yang baik harus tetap waspada terhadap semua hal yang dapat menyengsarakan rakyatnya.
Pertanyaannya, adakah di antara para tokoh yang secara terang-terangan telah memproklamirkan bakal maju sebagai calon pemimpin di Sumatera Utara ini memiliki keempat persyaratan tadi?

Tak perlu buru-buru memberi jawaban, sebab Pilgubsu itu sendiri baru akan berlangsung setahun lagi. Artinya, masyarakat Sumatera Utara masih memiliki waktu yang sangat panjang untuk menilai dan mempelajari segala tingkah para calon pemimpin itu tadi.

Yang pasti, mulai saat ini orang-orang yang punya ambisi untuk menjadi pemimpin di provinsi ini harus pintar-pintar menghitung seberapa besar peluangnya, sebab masyarakat pun kini sudah tak lagi bodoh ketika berada di bilik suara pencoblosan.

Pemberi nominal terbesar tetap menjadi prioritas utama untuk dipilih,  meski mereka menyadari bahwa terkadang pilihan mereka bukanlah yang terbaik. Namun rasio untuk menemukan sosok pemimpin yang benar-benar ideal sudah tak ada lagi di dalam angan. Rasa kecewa karena sering dikibuli oleh janji-janji politik para calon pemimpin akhirnya membuat masyarakat bersikap apatis.

Bagi mereka, semua orang yang telah mencalonkan diri untuk maju menjadi pemimpin di provinsi ini berarti memiliki uang berlimpah yang siap dibagi-bagikan kepada masyarakat yang rela memberikan hak suaranya. Ujung-ujunganya semboyan ‘wani piro’ menjadi semboyan paling populer yang hinggap di telinga kita pada saat pelaksanaan Pilgubsu nanti. Namun begitu, masih ditunggu semboyan lainnya, yang diharapkan mampu membawa daerah ini kearah yang lebih baik. Semoga. (*)

Caesilia Intan Pratiwi, Ibu Para Gitaris Tanah Air

Mantan Wartawan yang Berubah jadi Juragan

Caesilia Intan Pratiwi bukan seorang gitaris. Bahkan, dia tidak bisa memainkan alat musik petik itu. Tapi, pengabdiannya terhadap perkembangan dunia gitar di Indonesia pantas diacungi jempol. Siapa perempuan setengah baya itu?

THOMAS KUKUH, Jakarta

PULUHAN gitar akustik maupun elektrik berbagai merek berjajar memenuhi tembok rumah sederhana di kawasan Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan. Tak hanya gitar, alat-alat pendukung gitar, seperti sound system, efek gitar, kaset, CD para gitaris ternama, dan sebagainya membuat rumah Caesilia Intan Pratiwi tampak semakin sempit. “Ini toko musik saya,” kata Intan kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos) yang menemuinya Jumat lalu (20/4).

Sudah sekitar sepuluh tahun Intan menggeluti dunia gitar. Padahal, dia tidak bisa memainkan alat musik itu. Kiprahnya lebih banyak pada aktivitas pendukung pengembangan seni musik tersebut.

Selain menyediakan aneka gitar dan aksesorinya, alumnus Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung itu juga membuat majalah khusus tentang pernak-pernik gitar.

Dari beberapa majalah yang pernah diterbitkan, Gitar Plus yang sampai sekarang masih bertahan.

Sukses toko dan menerbitkan majalah gitar, perempuan kelahiran Jakarta, 31 Oktober 1973 itu merambah bisnis yang lain. Tapi, bisnis itu tak jauh dari musik gitar. Yakni, persewaan studio musik dan tempat kursus gitar. “Pokoknya semua nggak jauh-jauh dari gitar,” imbuhnya.

Karena ketekunannya menggeluti dunia gitar serta perhatian dan kedekatannya dengan ratusan gitaris, Intan pun mendapat julukan sebagai ibu gitaris tanah air. Bahkan, di tembok luar rumahnya terpampang poster berukuran 3 x 3 meter bergambar lima gitaris terkenal Indonesia. Mereka adalah John Paul Ivan (mantan gitaris Boomerang), Eet Sjahranie (gitaris Edane), Jubing Kristianto, Ezra Simanjuntak, dan Andi Owen. Poster itu dibuat khusus sebagai kartu ucapan selamat ulang tahun ke-8 majalah Gitar Plus.

Intan menceritakan, pada 2002 dia memutuskan untuk resign dari perusahaan media dan event organizer tempatnya bekerja karena baru saja melahirkan anaknya, Gregorius Hugo. Dia tidak rela meninggalkan anaknya untuk diasuh orang lain dengan alasan pekerjaan. Karena itu, dia memutuskan untuk bekerja di rumah sambil momong anak.

“Saya kan mantan wartawan sehingga pekerjaan yang saya pilih pun masih terkait dengan bidang media. Maka, saya putuskan membuat majalah musik, khususnya gitar,” ujarnya.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurut Intan, obsesinya membuat majalah gitar karena belum ada majalah khusus yang mengulas segala hal tentang gitar dan pemainnya. Saat itu yang ada hanya majalah berisi notasi lagu-lagu yang dimainkan dengan gitar. Selain itu peminat alat musik gitar sangat banyak.

Gayung bersambut. Mantan bosnya ternyata tertarik dengan ‘proposal’ yang diajukan Intan. Dia mau mengucurkan modal Rp80 juta untuk menerbitkan majalah itu. Bersama Eka Venansius, suaminya, Intan lalu menerbitkan majalah G-magz yang antara lain juga berisi chord-chord gitar.

“Menurut kami majalah jenis itu masih sangat laku,” imbuhnya.

Dari rumah petak di gang sempit kawasan Mampang Jaksel, majalah Intan langsung dicetak 10 ribu eksemplar dan disebarkan ke seluruh Indonesia. Tak disangka, majalahnya disambut baik oleh para penggemar musik gitar.

Untuk mengetahui kemauan pasar, setiap hari Intan memelototi televisi, mencari tahu lagu hits yang sering ditayangkan. Setelah itu dia menyuruh staf redaksi mencari tahu chord gitar lagu-lagu itu. Selanjutnya hasilnya dituangkan di majalah.

“Hampir tiga tahun majalah itu tidak ada iklannya. Kami hanya mengandalkan oplah. Tapi, ternyata untungnya cukup besar,” terangnya.
Sukses dengan G-magz, Intan dan suami nekat menerbitkan majalah gitar yang lebih serius dan bonafide untuk pangsa pasar kelas menengah-atas. Majalah itu diberi nama Gitar Plus. Tidak melulu berisi chord gitar, majalah tersebut mengulas profil gitaris, teknik bermain gitar, peralatan, dan rubrik tanya jawab yang diasuh gitaris ternama.

Prospek majalah kedua itu ternyata tidak seperti yang diinginkan. Selama tiga tahun, majalah itu terus merugi dan disubsidi majalah G-magz.
“Bayangkan, setiap bulan kami rugi Rp 6-7 juta. Nggak ada yang mau ngiklan,” tutur Intan. “Tapi, saya tetap yakin majalah itu akan sukses di jalan ini,” imbuhnya.

Kesabaran Intan mulai membuahkan hasil. Sekitar 2007, Gitar Plus mulai diminati banyak pengiklan dan oplahnya terus stabil. Majalah itu mulai diterima para penggemar musik gitar.

Setelah itu, Intan makin ‘tenggelam’ dalam dunia gitar. Tidak hanya mengurusi perusahaan penerbitannya, dia juga terjun langsung di lapangan untuk menemui para gitaris.

“Saya bikinkan even-even untuk para gitaris itu. Mereka perform menjadi bintang tamu dalam sebuah konser musik,” katanya.

Intan juga membuatkan forum bagi para gitaris untuk menemui komunitasnya. Di situlah terjadi dialog, mulai skill dan teknik bermain gitar, hingga serba-serbi tentang gitar itu sendiri. “Tujuan saya (menggelar even) murni untuk mengedukasi para gitaris muda,” tambahnya.

Awalnya banyak yang mencibir kegiatan Intan. Banyak yang menganggap even-even yang diadakan garing. “Apa asyiknya lihat gitaris saja. Nggak ada band-nya,” tuturnya menirukan cibiran beberapa pihak itu.

Bukan hanya itu. Even-even gitar tersebut juga tak ada duitnya. Sponsor tak mau mendukung. Tapi, Intan tak patah arang. Dia terus menggelar acara tersebut di berbagai kota meski harus merogoh uang pribadi untuk membiayai. Dia yakin suatu saat acara yang dibuatnya menuai hasil. Ternyata benar. Sekitar dua tahun kemudian, event gitar yang dibuat Intan mulai dibanjiri sponsor. Gitaris-gitaris terkenal yang sebelumnya tidak memperhitungkan acara tersebut mulai merengek-rengek minta diajak.

Namun, meski sudah gampang menggaet sponsor, Intan tak sepenuhnya menggunakan acara tersebut untuk mencari untung. Kerja banting tulang itu dilakukannya untuk mengembangkan potensi para gitaris muda. Tak hanya di kota-kota besar, Intan juga kerap mengadakan even di kota-kota kecil.
“Sekali lagi, niat saya adalah mengedukasi anak-anak muda yang gemar gitar,” ujar ibu seorang anak itu.

Dari situlah timbul kedekatan antara para gitaris dan Intan. “Saya lebih banyak dikenal anggota komunitas gitar di daerah. Karena kalau bikin even saya selalu mengandeng anak-anak komunitas di daerah. Kalau belum ada komunitasnya, ya saya bikin dulu komunitasnya. Nekat nggak?” jelasnya lantas tertawa ngakak.

Hampir semua detail di lapangan dia tangani. Misalnya, ada gitaris yang akan tampil di event tiba-tiba tidak enak badan. Untuk itu, dia sendiri yang akan mencarikan obat hingga si gitaris sembuh. Intan juga tak segan-segan membangunkan si artis agar tidak ketinggalan pesawat. Bahkan, menyiapkan makanan kesukaan artis gitarnya.

“Saya benar-benar kayak ibu. Makanya, saya lalu dijuluki ibunya para gitaris. Saya nggak tahu siapa yang memunculkan (julukan) itu,” ujarnya.
Setelah sukses mengembangkan berbagai bisnis gitar, Intan masih sempat menulis dua buku tentang gitar. Yakni, Bermain dengan Uang (2011) dan Pengusah Rock n Roll (2012). Kedua buku tersebut sama-sama diawali dengan komentar puluhan gitaris top yang mengucapkan kekaguman atas kerja keras dan keteguhan Intan dalam mengembangkan dunia gitar.

Intan berharap bukunya menginspirasi orang menjadi pengusaha nekat, tapi konsekuen dan konsisten. Sikap pengusaha seperti itu dia sebut sikap pengusaha rock n roll. Tokoh-tokoh hebat berjiwa rock n roll itu adalah Wali Kota Solo Jokowi dan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

“Kedua tokoh itu menginspirasi saya dalam banyak hal. Membuat saya bisa mengambil banyak langkah yang cukup berani,” tandas Intan sambil menitipkan dua bukunya untuk diserahkan kepada Dahlan Iskan. (*)

Tempatkan Kesabaran Secara Proposional

Hadis yang bersumber dari Ali RA ia berkata, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “Sabar itu ada tiga macam, sabar ketika mendapat musibah, sabar untuk melakukan ketaatan dan sabar untuk tidak berbuat maksiat.

Oleh:
Drs H Hasan Maksum Nasution SH, SPd I, MA

Maka barangsiapa ketika mendapat musibah, niscaya Allah akan menuliskan baginya 300 (tiga ratus) derajat yang jarak antara dua derajat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Dan barang siapa yang bersabar untuk melakukan ketaatan, maka Allah menuliskan baginya 600 (enam ratus) derajat yang jarak antara dua derajat adalah seperti jarak antara batas bumi yang teratas sampai ke ujung bumi yang ke tujuh.

Dan barang siapa yang bersabar untuk tidak berbuat maksiat, maka Allah menuliskan baginya 900 (sembilan ratus) derajat yang jarak antara dua derajat adalah seperti jarak antara batas bumi sampai ke ujung ‘arsy”.

Dalam hidup ini semua orang pasti pernah merasa susah, sedih atau kecewa, baik ringan atau pun berat, baik dalam urusn pribadi, keluarga maupun ummat. Penyebabnya pun bermacam-macam, ada yang susah, karena sulit mendapatkan pekerjaan, ada yang sedih lantaran ditinggal mati oleh orang yang paling dekat atau yang dicintainya dan ada pula yang kecewa, sebab cita-cita atau perjuangan kandas ditangah jalan.
Pendeknya, kehidupam ini tidak pernah sepi dari cobaan dan ujian, yang sewaktu-waktu bisa menimpa setiap orang. Karena itu setiap cobaan dan ujian, apa pun bentuknya perlu kita hadapi dengan sikap “husnuzhan” yakni berprasangka baik kepada Allah, sebab Rasulullah SAW pernah bersabda “barang siapa dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan, maka diberiNya ia cobaan (HR Bukhari).

Begitu pula, manakala orang-orang itu berhasil melepaskan diri dari cobaan dan ujian, maka bermacam-macam sikap yang akan ditunjukkan oleh mereka, ada yang bersyukur kepada Tuhan, lalu mewujudkan rasa syukurnya dengan meningkatan taqwa dan amal kebaikan.
Tetapi ada juga yang mengklaim bahwa cobaan itu teratasi berkat kepintaran dirinya, ia menafikan pertolongan Allah, karena akan terlalu bangga akan kemampuan dirinya, persis seperti yang disinyalir dalam Al-Qur’an dalam surat Hud 9-10:

“Jika kami berikan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari kami, lalu kenikmatan itu kami cabut, pasti dia menjadi putus asa dan inkar. Dan jika kami berikan padanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dariku, dia sangat gembira dan membanggakan diri”.

Tujuh Golongan Manusia Mendapat Naungan

Tidak mengherankan apabila tujuh golongan manusia berhak mendapat naungan Allah di bawah ‘Arsy, karena kesabaran mereka yang sempurna dan besarnya rintangan yang mereka hadapi dalam bersabar. Antara lain, kesabaran pemimpin yang berkuasa dalam menegakkan keadilan sesuai hukum, kesabaran pemuda dalam menjalankan ibadah dan melawan hawa nafsu, kesabaran orang yang setia pada masjid, kesabaran orang yang bersedekah dalam merahasiakannya, kesabaran orang yang dirayu untuk melakukan perbuatan keji ditambah dengan kesempurnaan dan keindahan paras si perayu, kesabaran orang yang saling mencinta demi Allah saat bertemu dan berpisah, kesabaran orang yang menangis lantaran khusyu kepada Allah dalam menutupi perbuatannya itu adalah kesabaran yang berat untuk dikerjakan menyatu sehingga melemahkan kesabaran.

Rasullah SAW berkata kepada Mu’adz “jagalah lidahmu”, Mu’adz bertanya: “Apakah kami akan dihukum lantaran apa yang kami bicarakan Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah manusia itu dijerumuskan ke dalam neraka, di atas hidung mereka selain oleh apa yang dihasilkan dari omongan mereka. Khususnya jika maksiat Islam ini telah menjadi kebisaaan, maka bersabar akan hal itu akan menjadi suatu yang amat berat bagi dirinya.
Kesabaran Secara Proposional
Sabda Nabi SAW “Jika seseorang mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila mendapat kesusahan, ia bersabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya”. (HR. Bukhari).
Oleh sebab itu, apabila seseorang pandai menempatkan kesabaran secara proposional niscaya segala problem kehidupan atau pun cobaan yang menghadang akan dapat dihadapi dengan tenang dan diterimanya dengan tawakkal, sehingga sesuatu yang mestinya akan mengecewakan, bisa diredam untuk tidak berkembang menjadi tekanan perasaan ataupun keputusan.
Bila seseorang tidak mau mengatasi musibah atau cobaan yang menimpa dirinya dengan sabar, maka tidak jarang ia akan mendapat gangguan perasaan dan kejiwaan, lalu menjadi putus asa dan hilang semangat, bahkan bisa mengganggu kesehatan jasmaninya.

Firman Allah dalam surat Luqman 17 “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah”.
Jadi bersifat sabar itu harus disertai usaha untuk memahami kegagalan demi kegagalan se-objektif mungkin, kemudian mencari sebab-sebabnya, sehingga masalah yang semula dirasakan berat dan menjadi tekanan batin, dapat dicari jalan keluarnya, Rasulullah SAW telah menjanjikan “Barang siapa berusaha bersikap sabar, maka Allah akan menyabarkannya. Dan seseorang takkan diberi karunia oleh Allah yang lebih baik dari pada kesabaran” (HR Bukhari Muslim).

Di samping itu orang mukmin harus berkeyakinan bahwa apa yang dialaminya itu, tentu mengandung hikmah, Allah berfirman “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada hal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah 216).

Akhirnya, marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan senantiasa ingat kepada Nya, jangan hanya saat sedang menghadapi kesulitan dan mengalami kesusahan, tetapi ingatlah selalu kepada Allah, baik dalam keadaan duka maupun suka. Memang menurut kebisaaan orang baru ingat kepada Allah bila ia sedang dalam keadaan kesempitan atau kesedihan, tetapi bila kesedihan dan kesempitan itu telah teratasi, lalu lupalah ia kepada Allah Dzat yang menghilangkan kesedihan dan kesempitan. Siapa yang membiasakan diri bersabar ia akan ditakuti musuhnya, siapa yang lemah kesabarannya, ia akan membuat musuhnya berani hingga dapat menundukkan dirinya.(*)

(Penulis adalah Dosen STAI Sumut)

Mantapkan Kehidupan yang Religius

MTQ XXXIII Tingkat Sumut di Sergai

PERBAUNGAN- Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIII tingkat Provinsi Sumatera Utara yang dilaksanakan 28 April hingga 5 Mei 2012 sudah semakin dekat. Saat ini seluruh panitia sudah melakukan gladiresik sesuai dengan bidang nya masing-masing.

Maka tak heran dari pagi hingga sore hari, Lapangan Reflika Sultan Serdang di Jalinsum Perbaungan yang dijadikan sebagai lokasi MTQ diramikan seluruh panitia. Bupati Serdang Bedagai HT Erry Nuradi selaku penanggungjawab panitia terus memantau anak buahnya demi suksesnya acara tersebut. Dengan juga halnya dengan Sekda Kabupaten Serdang Bedagai Drs H Haris Fadillah MSi selaku Ketua Panitia sibuk mempersiapkan pelaksanaan acara.

Kepada koran ini, Haris Fadillah menyebutkan pendaftaran untuk khafilah dari Kabupaten/Kota se-Provinsi Sumatera Utara sudah dibuka sampai pada tanggal 27 April mendatang.  Peserta yang mendaftar selain berasal dari seluruh kabupaten/kota juga ada yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT London Sumatera.

Kata Haris Fadillah direncanakan MTQ ke XXXIII ini akan dihadiri oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Agama Suryadharma Ali dan 22 Duta Besar negara sahabat.

MTQ ke XXXIII tingkat Provinsi Sumatera Utara yang dibuka Sabtu (28/4) pukul. 20.00 WIB. Acara diawali dengan pawai ta’aruf dan pawai kendaraan hias diikuti sekitar 8.800 orang terdiri dari kontingen 33 kabupaten/kota dan para pelajar se-Sergai serta organisasi masyarakat pada Sabtu pagi (28/4) dari Kota Perbaungan menuju Desa Kebun Melati Kecamatan Pegajahan.

Lebih lanjut dijelaskan Haris Fadillah untuk menghindari kemacetan lalu lintas, Panitia Pelaksana MTQ ke XXXIII sudah berkoordinasi dengan pihak Poldasu untuk mengalihkan rute jalan dengan menggunakan jalur alternatif.

Dihimbau kepada pengemudi truk dan bus dapat menggunakan jalur alternatif melalui Lubuk Pakam– Galang–Dolok Masihul dan keluar di Kota Tebing Tinggi, demikian sebaliknya. Dan untuk kendaraan pribadi dan minibus dapat menggunakan jalur alternarif melalui Kecamatan Pantai Cermin menuju Kecamatan Tanjung Beringin dan keluar di Simpang Bedagai mulai pukul 08.00 – 12.00 WIB tepat pada pelaksanaan pawai ta’aruf.

Untuk pelaksanaan acara yang bertema “Dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke XXXIII Provinsi Sumatera Utara Kita Mantapkan Kehidupan Masyarakat Yang Religius dan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama” akan dilaksanakan di 8 (delapan) lokasi yakni Mimbar Tilawah, Istana Replika, aula dan ruang belajar SMKN 1 Pegajahan, Wisma Juang Perbaungan, Masjid Sulaimaniyah Perbaungan dan Masjid Al-Mu’awarah PTPN IV Kebun Adolina.

Haris Fadillah menambahkan untuk para peserta MTQ ini nantinya, panitia menyediakan penginapan di rumah-rumah penduduk di sekitar lokasi MTQ. “Kita sudah sampaikan kepada pemilik rumah-rumah penduduk, bahwa rumah mereka akan dijadikan sebagai tempat penginapan,” ungkap Haris Fadillah.(dra)

5.800 Hektar Lahan Eks HGU PTPN II Sudah Dipatok

MEDAN- Seluas 5.800  hektar lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN II atau sekitar 75 persennya telah dilakukan pematokan atau pemasangan pancang batas lahan.

Evaluasi akhir dari rencana pemetaan lahan tersebut, akan ditindaklanjuti pada 6 Mei 2012 mendatang, untuk menindaklanjuti semua permasalahan yang ditemukan selama pemetaan tapal batas lahan yang bersengketa.

“Batas waktunya Mei ini, dan tanggal 6 kami sudah akan rapat. Silahkan tanya ke Biro Pemerintahan Umum mengenai persentase pemetaan yang telah dilakukan,” kata Ketua Tim Khusus Penanganan Lahan eks-HGU/HGU, Hasiholan Silaen kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Kamis (26/4).

Kepala Bagian (Kabag) Pertanahan, Biro Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), Darwin Hutauruk mengatakan secara keseluruhan sudah 75 persen patok terpasang di lahan eks HGU PTPN II yang selama ini dipermasalahkan. Sedangkan penentuan titik pemasangan patok sudah hampir selesai, tinggal sekitar 10 persen lagi.

Dari rapat tim khusus terakhir yaitu pada 27 Maret lalu, beberapa wilayah yang masih belum bisa dipasang patok batas tanah yaitu Binjai satu lokasi dan Langkat dua lokasi.

Namun dari laporan terakhir untuk Binjai sudah mendapatkan jalan keluar dan persetujuan warga untuk pemasangan patok.
Sementara yang di Langkat, belum bisa dipasang patok karena ada penolakan dari  Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI).
Darwin mengakui, untuk melakukan pemetaan tersebut bukanlah hal yang mudah. Karena lahan seluas 5.800 hektar tersebut bukan satu hamparan yang menyatu. Tapi terdiri dari 50 peta yang terpencar di beberapa kabupaten/kota seperti Deliserdang, Langkat, Serdangbedagai (Sergai) dan Binjai.
“Ini yang sering salah dimengerti. Seperti rapat yang saya hadiri di pusat soal tanah eks HGU ini, banyak yang mengira itu satu hamparan padahal ada 50 peta yang terpencar-pencar,” terangnya.

Dalam pemesangan patok, pihaknya berpedoman pada peta Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan peta plotting yang dibuat oleh Tim B Plus yang terbentuk pada masa Gubernur Rizal Nurdin. Jadi tidak benar jika ada yang menuding bahwa tim khusus tidak bekerja berdasarkan peta yang ada.
Darwin yang juga Sekretaris II dalam tim khusus tersebut mengatakan pada prinsipnya Pemprov Sumut tetap pada komitmennya terkait pendistribusian tanah eks HGU PTPN II seluas 5.800 hektar kepada masyarakat. Karena itu hasil pemetaan nantinya tetap dievaluasi kembali apakah sudah sesuai dengan peta pendaftaran 1997, peta plotting panitia B plus dan peta hasil identifikasi.

“Semua masalah yang ada akan dibahas kembali secara bersama oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Sumut,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, lahan HGU PTPN II berdasarkan SK BPN No. 42, 43 dan 44 Tahun 2004 serta SK BPN No. 10 Tahun 2004 seluas 56.341,75 ha yang telah diperpanjang serta lahan eks HGU yang tidak diperpanjang seluas 5.800 hektar hingga kini masih belum jelas keberadaannya.
Pemprov Sumut juga belum bisa merekomendasikan pendistribusian lahan eks HGU ke masyarakat selama pemetaan lahan dan pematokan batas belum selesai dilakukan. Untuk itu Tim Khusus Penanganan Lahan eks-HGU/HGU ditenggat untuk segera menyelesaikannya Mei mendatang. (ari)

Bandar Sabu Kabur, Polisi Diserang Warga

BELAWAN- Pengejaran bandar sabu di Jalan Slebes Gang Kandang Lembu, Belawan oleh aparat kepolisian berakhir gagal.
Pasalnya, petugas Polsekta Belawan yang melakukan pengembangan terhadap sang bandar diserang puluhan warga dengan menggunakan batu, Rabu (25/4) malam.  Penggerebekan ini merupakan pengembangan atas tertangkapnya Windra  (30) di Pelabuhan Belawan atas sangkaan kepemilikan seperempat gram sabu.

Informasi diperoleh menyebutkan, pengembangan kasus narkotika itu bermula dari diamankannya, Windra saat akan memasuki areal Pelabuhan Belawan oleh petugas Sat Reskrim Polsekta Belawan. Dari saku celana pria yang bekerja sebagai penjaga malam itu, petugas menemukan dan menyita barang bukti sabu yang dikemas dalam plastik kecil warna putih.

Dari pengakuannya, sabu seharga Rp300 ribu yang dibelinya itu diperoleh dari bandar berinisial Ek di sekitar tempat tinggalnya. “Aku beli sabu itu dari dia (Ek), tadinya aku mau pakai sama kawan,” akunya.(mag-17)

Guru Tikam Selingkuhannya, Ginjal Anak Melayang

SIMALUNGUN– Hendra Efraim Sinaga  (19) harus kehilangan satu buah ginjalnya hanya karena menolong ibunya Julietta br Silalahi yang ditikam oleh Tomson D Butar-butar (47) yang berprofesi sebagai guru.

Terdakwa yang mengajar di SDN 091467 Girsang II ini tega menikam teman seprofesinya lantaran ingin mengakhiri perselingkuhan mereka yang berlangsung selama tiga tahun.

Sidang yang dimulai sekira pukul 13.30 WIB tersebut dipimpin hakim majelis Samuel Ginting beranggotakan Heriyanti dan Siti Hajar.
Selanjutnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cony T Sagala membacakan dakwaannya dihadapan terdakwa. Menurutnya peristiwa itu bermula pada Rabu (18/1) sekira pukul 20.00 WIB. saat itu Julieeta mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada terdakwa yang berisi ‘ naso boi be au rot u jabum, aha do horoa masalah hu baen tu ho, gabe sogo roham tu au’ (yang tidak bisanya lagi aku datang kerumah mu, apa rupanya masalah yang ku buat sama mu, jadi sakit hati mu samaku).

“Isi maksud SMS tersebut yaitu Julietta berniat ingin menemui terdakwa yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Hal itu karena antara Julietta dan terdakwa memiliki hubungan perselingkuhan yang sudah berjalan sekitar tiga tahun sejak 2009. Karena SMS yang dikirimkan tidak kunjung dibalas terdakwa, Julietta pun menghubungi (miscall) terdakwa,” terang jaksa.

Lebih lanjut ia menerangkan, hal itu membuat terdakwa merasa terganggu karena tidak bisa tidur dengan tenang. Lantaran emosi, malam itu juga terdakwa langsung berniat untuk membunuh Julietta. Hingga pada Kamis (19/1) sekira pukul 05.30 WIB terdakwa terbangun dari tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil.
“Pada saat terdakwa berada di kamar mandi, ia mendengar pintu rumah Julietta dibuka. Saat itu juga terdakwa langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan membuka pintu depan. Terdakwa saat itu memastikan siapa yang membuka dan ternyata pada saat itu yang keluar ada saksi korban, Julietta,” terangnya.
Menurutnya, melihat saksi korban telah berada di lorong dua Gedung SDN 091467 Girsang II, terdakwa langsung bergebas menuju dapurnya dan mengambil sebilah pisau. Selanjutnya terdakwa pun berlari menyusul Julietta dan menghujamkan pisau tersebut ke punggung, perut dan dada. Tidak hanya itu saja terdakwa juga ikut menyayat tubuh saksi korban.(mua/smg)

Program Gemas Tangan Direspon

LANGKAT- Program gerakan masyarakat ketahanan pangan (Gemas Tangan) yang didengungkan Komunitas Melayu Bumi Putera (KMBP) direspon positif berbagai kalangan. Diharapkan ini menjadi perhatian setiap instansi karena efek ditimbulkan berlaku secara menyeluruh. Suhardi Surbakti sebagai Wakil Ketua DPRD Langkat menilai, program dimaksud layak dikedepankan mengingat predikat swasembada pangan selama ini disandang. Apalagi, geografis daerah sangat membantu.

“Untuk beberapa wilayah di Langkat ini, secara geografis memang dapat dikategorikan layak sebagai area industri tanaman pangan. Nah, untuk program Gemas Tangan tepat dilakukan dan sepantasnya mendapatkan dukungan karena hasilnya dinikmati secara menyeluruh,” kata Suhardi di Stabat, Rabu (25/4).

Lebih lanjut sebut politisi PDI-P ini, kebanyakan program terkesan belum seluruhnya menyentuh persoalan dimaksud. Nyaris kebanyakan agenda diajukan, kurang menyentuh terhadap ketahanan pangan. (mag-4)

Hasilkan Dokter Bermoral Islami, Profesional & Berstandar Nasionalos

Fakultas Kedokteran UISU Jalan Karya Bakti Medan

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK-UISU) di Jalan Karya Bakti No.34 Pangkalan Masyur, Kecamatan Medan Johor, akan terus berusaha menghasilkan dokter profesional bermoral Islam dan berstandar nasional.

Dekan FK-UISU dr H Aswin Soefi Lubis MSi PA di Medan, Kamis (26/4) mengatakan, FK UISU Jalan Karya Bakti Medan berkiprah menghasilkan dokter bermoral Islami dan profesional yang berstandar nasional.

Dalam menjalankan tujuannya, FK UISU menggelar sejumlah kegiatan akademik diantaranya menggelar Yudisium Sarjana Kedokteran angkatan kedua program Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) terhadap 86 mahasiswa.

Dalam yudisium, Selvi Arta Ayunanda SKed dan Riski Amalia Daulay SKed memperoleh kelulusan dengan pujian (cum laude). Usai Yudisium, mahasiswa FK UISU akan dapat melanjutkan pendidikan profesi atau kepaniteraan klinik di rumah sakit pendidikan UISU.

Untuk memperluas jejaring rumah sakit pendidikan profesi FK UISU melakukan kerjasama dengan RSUD Kabanjahe, yang ditandai penandatangan MoU pada 22 Maret 2012 di Berastagi Karo.

Dengan penandatanganan MoU itu, saat ini FK-UISU telah memiliki 4 kerja sama dengan RSUD dalam pendidikan profesi atau tempat kepaniteraan klinik masing-masing RSUD Lubuk Pakam, RSUD dr Djasamen Saragih Pematang Siantar, RSUD dr Djoelham Binjai dan RSUD kabanjahe.
“Dengan dukungan keempat RSUD tersebut diharapkan hingga beberapa tahun kedepan tidak akan terjadi stagnasi dalam siklus kepaniteraan klinik bagi mahasiswa FK-UISU,” katanya.

FK UISU, saat ini sedang membangun gedung kuliah baru di Jalan STM Medan yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mahasiswa termasuk masyarakat Sumatera Utara.

‘’Fakultas Kedokteran UISU sebagai kampus tertua di Sumatera juga telah memiliki akreditasi yang sama dengan universitas negeri yaitu FK USU. FK UISU sudah berada di Grade B setara dengan FK USU,’’ jelasnya.

Tak cuma memperhatikan masalah fisik dan akademik, lanjut dia, pihaknya juga melaksanakan umroh bersama sebagai wujudkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Dekan FK UISU dr Aswin Soefi MSi PA mengatakan bersyukur akan membuka pintu rejeki, berkah dan anugerah yang lebih besar lagi. “FK UISU Kampus Jalan Karya Bakti yang telah kita bangun sejak tahun 2007 sampai saat ini, telah kembali mendapat kepercayaan masyarakat. Bahkan statusnya sudah terakreditasi sama dengan universitas negeri,’’ imbuhnya.

Sedangkan Rektor UISU Dr Ir Mhd Assad MSi menambahkan harapan FK UISU semakin berkembang dengan baik. Ia pun mengajak lulusan SLTA untuk dapat melanjutkan jenjangpendidikan di FK UISU.

‘’Jumlah mahasiswa baru tahun akademik 2012/2013 yang akan diterima terbatas sekitar 250-300 orang. Yang ingin masuk fakultas kedokteran bisa mendaftar melalui UMB PTS. Gelombang II digelar 29 April 2012 dan gelombang III digelar Juli 2012,’’ jelasnya.
Rektor UISU juga menegaskan sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) senior di Sumut dan sudah terakreditasi dapat terus menjaga kualitas lulusan terbaik. (*)