Home Blog Page 13584

SSB Sempizam Optimis Juara Piala Yamaha

MEDAN- Sekolah Sepak Bola (SSB) Sempizam optimis meraih gelar juara dalam turnamen sepak bola Piala Yamaha di Lapangan Sejati Pratama, Jalan Karya Jaya, Medan Johor.
Apalagi, dari empat pertandingan yang telah mereka lakoni, mereka belum pernah kalah.

SSB Sempizam mengawali turnamen dengan menahan imbang SSB Sinar Sakti dengan skor 0-0. Kemudian di pertandingn kedua, kala melawan SSB KTB, mereka kembali bermain seri dengan skor 0-0.

Dan pada pertandingan ketiga, mereka berhasil menggilas SSB Putra Mulia dengan skor telak 3-0. Selanjutnya pada pertandingan kemarin (25/4), anak-anak SSB Sempizam kembali bermain seri 0-0 dengan SSB Mandiri.

“Meski tidak menciptakan gol pada pertandingan ini, saya tetap bangga kepada anak-anak karena mereka sudah menunjukkan peningkatan dari segi kemampuan mengolah bola,” kata Kustiono, selaku pelatih kepala didampingi Sapril Aritonang ketua SSB Sempizam usai pertandingan, Rabu (25/4).

Kustiono juga mengaku optimis menjuarai Piala Yamaha kali ini. Karenanya, dia akan terus melakukan evaluasi terhadap sistem dan pola permainan anak-anak asuhnya agar dapat bermain lebih baik lagi pada pertandingan berikutnya.

Apalagi hingga saat ini, SSB Sempizam belum pernah mengalami kekalahan.
“Meski belum pernah kalah, kami tetap menerapkan sikap tidak cepat puas kepada anak-anak, apalagi tim-tim yang dihadapi kuat, seperti tim Al-Azhar yang akan dihadapi Minggu (29/4) nanti,” tutur Kustiono.

Menurutnya, SSB Sempizam ini berasal dari SMP An-Nizam di Jalan Perjuangan, Medan Denai. Meski terbilang baru, SSB Sempizam telah menghasilkan pemain andal, diantaranya M Imam Zarkasih yang memperkuat tim Divisi Utama Persires Bali Devata. Selanjutnya M Rasyid, Ficky dan Imam Wahyudi yang memperkuat PS Quarta. (mag-10)

Video Porno Anggota DPR Bikin Geger

Diduga Pasangan Anggota DPR dari Fraksi PDIP

JAKARTA-Badan Kehormatan (BK) DPR kembali ‘kerepotan’. Pelanggaran etika yang cukup fatal diduga melibatkan oknum wakil rakyat di Senayan. Isunya sangat serius, yakni tersebarnya video porno milik oknum anggota bersangkutan.

Video porno itu menampilkan sosok perempuan yang diduga adalah Caroline Margareth Natasha (30).

Sosok ini mirip anggota Komisi IX DPR dari fraksi PDIP yang terpilih dari dapil Kalimantan Barat itu. Saat diminta konfirmasinya melalui nomor 081156xxxx, ponselnya tak aktif. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.

Pasangan Caroline Margareth Natasha diduga juga anggota dewan dari fraksi yang sama, Aria Bima. Dia termasuk anggota dewan yang cukup vokal. Namun, seperti halnya Caroline Margareth Natasha, Aria Bima juga belum bisa dikonfirmasi.

Ketua BK M Prakosa menegaskan tidak akan tinggal diam. BK akan melakukan pengusutan untuk memastikan kebenaran rumor yang mencoreng citra DPR itu. “BK tentu akan melakukan penyelidikan kasus ini,” kata Prakosa di Jakarta, Selasa (24/4).

Tapi, BK masih menunggu berakhirnya masa reses DPR. Sesuai jadwal, DPR akan kembali bersidang pada minggu kedua Mei mendatang.
Menurut Prakosa, selama reses DPR memang tidak punya agenda formal ataupun rapat-rapat. Hal ini sesuai dengan tata tertib DPR. “Makanya, kami menunggu sampai dimulainya lagi masa sidang. Setelah itu, BK akan melakukan langkah-langkah formal untuk menindaklanjuti kasus ini,” tegasnya.
Dalam sidang nanti, BK akan mengundang pakar telematika untuk mengidentifikasi siapa pemeran dalam video porno itu. “Kami akan undang yang benar-benar ahli di bidang telematika,” tegas politikus PDIP itu.

Prakosa mengaku belum mendapatkan video yang kini ramai digosipkan di jaringan media online dan situs jejaring social itu. “Saya belum lihat,” kata Prakosa.

Sementara itu, politikus Partai Demokrat Roy Suryo mengaku sudah mempelajari sejumlah kolase foto adegan yang diambil dari source asli video porno tersebut. Menurut Roy, tidak ada rekayasa atau editing apa pun terhadap sosok perempuan yang terlihat dalam kolase foto itu. Sedangkan sosok prianya dia mengaku tidak bisa mengidentifikasi karena tidak terlihat.

“Sulit dibantah atau disangkal kalau si perempuan itu disebut-sebut anggota DPR,” tegas anggota Komisi I DPR itu.

Roy kemarin datang ke sekretariat BK DPR untuk memberikan masukan terkait pengusutan kasus itu. Bahkan, dia memberikan rekomendasi pakar telematika yang layak diminta pendapatnya. Roy tidak mau melibatkan diri lebih jauh karena dirinya juga anggota DPR.
“Guna menghindari adanya konflik kepentingan dan politisasi di luar kasus ini,” tegasnya.

Ini bukan kali pertama anggota DPR menghadapi skandal video porno. Pada DPR periode lalu, anggota Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini juga terlibat skandal video porno dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Yahya langsung mengundurkan diri.

Dalam kadar yang lebih ringan, awal 2011 politikus PKS Arifinto juga bernasib sial. Dia terjepret kamera wartawan tengah menonton gambar porno melalui iPad saat mengikuti sidang paripurna DPR. Tanpa menunggu lama, Arifinto juga mengundurkan diri dari DPR. (pri/ari/jpnn)

Wisata Syahwat

Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Senayan murka. Dua warganya terekam dalam kamera sedang asyik geboy. Dan, ini bukan yang pertama. Berbagai pertanyaan pun mengemuka. Kenapa bisa? Siapa yang mengedarkan? Kok mau direkam? Kewibawaan dan keberanian mereka saat bicara atas nama rakyat pun langsung pudar. Soal syahwat memang bisa bikin gawat.

Menariknya, kasus politisi mesum bukan pula baru. Ada beberapa nama yang sempat tersangkut sebelumnya, sebut saja Yahya Zaini yang terlibat skandal video porno dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Seakan tak kapok, di video yang baru ini, dua politisi dari partai ternama itu terkesan bangga menunjukkan hal-hal pribadi mereka. Pertanyaannya, benarkah kedua orang yang terekam itu benar anggota dewan? Pakar telematika yang kini juga sudah menjadi anggota dewan, Roy Suryo, sama sekali tak membantah. Kepada media, dia mengaku sudah mempelajari sejumlah kolase foto adegan yang diambil dari source asli video porno tersebut. Menurut Roy, tidak ada rekayasa atau editing apa pun terhadap sosok perempuan yang terlihat dalam kolase foto itu. Sedangkan sosok prianya dia mengaku tidak bisa mengidentifikasi karena tidak terlihat.

Nah, karena hal semacam itu terus berulang, apakah kejadian itu patut disayangkan atau malah dibanggakan?

Pasalnya, bagi beberapa kalangan tersebarnya video itu adalah sebuah berkah. Bak wisata syahwat yang murah. Ayolah, kapan lagi bisa menonton orang ternama beradegan mesum. Dan, menontonnya pun cukup melalui ponsel atau di internet.

Soal rekam-merekam ini memang lucu. Cukup sulit dicari latar belakang perekaman. Pasalnya, kedua politisi itu bukan suami istri. Nah, namanya selingkuh, berarti harus ditutup-tutupi bukan? Dengan kata lain, jangan sampai meninggalkan jejak. Seorang kawan saya saja harus naik angkutan kota jika ingin selingkuh. Ya, dia takut mobilnya terlihat di tempat selingkuhnya itu. Padahal, dia bukan anggota dewan.

Nah, kok bisa ada anggota dewan yang mau merekam perselingkuhan? Tentu, semua pasti ada sebab. Bisa saja perekaman itu demi niat tertentu untuk di masa mendatang. Misalnya, untuk pemerasan atau apalah. Tapi, bisa saja perekaman itu sama sekali tanpa niat jelek. Bisa saja keduanya begitu bangga untuk tampil di kamera. Maklumlah, mungkin mereka keturunan Dewa Narcissus – sang asal kata narsis itu.

Keberadaan ponsel yang dilengkapi kamera atau kamera yang harganya sudah begitu terjangkau memang cukup beralasan untuk menjadikan orang bertambah narsis. Perhatikanlah di beberapa jejaring sosial, begitu banyak yang jual tampang. Ada pula yang selalu mengganti foto profilnya setiap dia pindah tempat. Luar biasa bukan?

Nah, dua politisi tadi bagaimana? Apakah perbuatan mereka buah dari kenarsisan atau kesialan?

Terserahlah, yang jelas, video mereka cukup memuaskan para pelancong syahwat. Video mesum orang Indonesia kabarnya paling diminati oleh orang Indonesia. Istilahnya, kalau nonton film karya anak bangsa, soul-nya dapat. Selain itu, fisik yang ditonton tidak jauh beda dengan yang menonton, jadi kalau dikhayalkan bisa langsung pas. Begitulah, atas nama syahwat, nikmati saja. (*)

 

Limbah Avtur Dioplos ke Premium

BELAWAN-Banyak akal untuk mendapat keuntungan terkait bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM). Selain soal ‘tangki kencing’, Sumut Pos juga menemukan gaya oplosan lain. Yakni, mengolah limbah avtur (bahan bakar pesawat terbang) menjadi premium.

Rencana pembatasan dan pengendalian BBM bersubsidi harus benar-benar diawasi oleh pemerintah serta aparat penegak hukum. Karena bukan tidak mungkin dalam pendistribusiannya praktik penyalahgunaan peruntukan dimanfaatkan para oknum maupun pebisnis penampungan dan penimbunan tak resmi, seperti yang terjadi di wilayah utara kota Medan.

Dari penelusuran Sumut Pos, Selasa (24/4) kemarin, aktivitas penampungan dan penimbunan di beberapa titik lokasi di Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Medan Labuhan, praktik penyalahgunaan peruntukan masih terus berlangsung tanpa hambatan. Truk-truk tangki pengangkut BBM subsidi tampak menyinggahi tempat penampungan ilegal yang mendapat pengawalan dari oknum petugas keamanan.

Seorang mantan pekerja di salah satu lokasi penampungan BBM saat ditanyai awalnya sempat enggan berkomentar. Namun, setelah disepakati namanya tidak akan dikorankan akhirnya pria bertubuh sedikit gemuk ini mulai berkicau. Dia mengungkapkan praktik bisnis penimbunan BBM ilegal, yang konon BBM dimaksud juga dipasok ke negara jiran Malaysia.

“Nggak cuma bensin (premium) dan solar saja yang ditampung, tapi truk tangki bawa avtur juga terkadang membuang muatannya ke lokasi,” sebut dia.
Biasanya bahan bakar pesawat tersebut didapat dari truk-truk tangki khusus pengangkut avtur yang keluar dari depot pengisian Pertamina di Medan Labuhan dan akan dipasok ke Bandara Polonia, Medan.”Dan sebaliknya, sisa limbah avtur bekas pemakaian dari pesawat juga ditampung, untuk selanjutnya diolah menjadi minyak tanah dan bahan bakar lainnya, dengan harga tinggi,” ucapnya.

Menurut pria berusia sekitar 43 tahun ini, dalam praktik pencampurannya ada pekerja yang khusus membidanginya. Adapun takarannya satu banding dua, atau misalnya dua ton avtur dicampur dengan satu ton minyak tanah jika hendak dijadikan minyak tanah.

“Kalau soal warna ada zat pewarna minyaknya. Contohnya mau dibikin warnanya agak kemerahan ya tinggal dicampur saja. Takarannya biasanya hanya satu atau dua sendok makan saja, jadi tak perlu terlalu banyak campuran zat pewarnanya,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk penampungan BBM jenis premium dan solar yang diperoleh dari truk tangki pertamina yang ‘kencing’ lanjut dia, pihak pengelola lokasi penampungan tidak melakukan pencampuran. Pasokan BBM subsidi itu hanya ditampung untuk ditimbun kemudian dijual ke industri ataupun didistribusikan kepada ‘mafia BBM’ bermodal besar.

“Kalau dijual ke industri harganya sekitar Rp5.300 per liternya. Begitu juga kalau dijual ke ‘mafia BBM’ bermodal besar. Karena oleh mereka akan dipasok lagi ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura dengan harga dolar, dan menggunakan kapal tongkang ataupun kapal kayu berbobot di atas 30 gross ton milik ‘mafia BBM’ itu sendiri,” beber dia.

Ketika ditanya apakah para pelaku tidak takut ditangkap oleh aparat penegak hukum seperti petugas kepolisian dan TNI, pria berkulit gelap ini terlihat tersenyum sembari menjawab:”Itu semua sudah dikondisikan, mulai dari oknum yang di atas sampai oknum bawahannya.”

Disebutkannya, keberadaan lokasi-lokasi penampungan di pinggiran jalan besar seperti di Jalan KL Yos Sudarso Medan, Jalan Titi Pahlawan dan Jalan Kapten Rahmad Buddin Medan Marelan hingga menuju ke Jalan Hamparan Perak Bulu Cina serta Tandem Kebupaten Deliserdang ini merupakan bukti nyata lemahnya penegakan hukum di Sumatera Utara khususnya Kota Medan.

“Coba lihat yang jaga di sekitar lokasi saja oknum, jadi bagaimana mau ditindak? Kalaupun ada razia gabungan, itu cuma trik saja. Seperti operasi ‘kuda laut’ pada tahun lalu, jangankan barang buktinya berton-ton BBM yang diamankan, tersangkanya saja yang sempat ditangkap tak pernah menjalani proses persidangan. Dan itu baru permainan di darat, belum di laut lagi,” jelas dia.

Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) pun mengakui “permainan” pengoplosan BBM itu. Tapi, soal limbah avtur yang menjadi premium, para pengusaha SPBU ini mengaku kurang yakin. “Kalau limbah avtur, saya kurang mengetahuinya. Karena sepengetahuan saya, tidak ada limbahnya,” ujar Penasihat Hiswana Migas, Datmen Ginting.

Sepengetahun pria ini, yang ada sisa avtur yang dijual oleh AURI dan maskapai penerbangan. “Kalau sisa avtur yang biasanya dijual, kemudian dicampur dengan premium. Ini tidak masalah untuk masyarakat, karena oktannya tidak turun. Tetapi, yang rugi ‘kan pemerintah, karena sisa avtur itu kepemilikan pemerintah,” ungkapnya.

Karena oktannya tidak turun, sehingga tidak menimbulkan kerugian pada masyarakat, seperti kerusakan mesin kendaraan dan lainnya.. “Kalau oktan yang rendah itu yang salah, karena bisa membuat mesin kendaraan rusak,” tambahnya.

Nah, kalau premium dengan minyak tanah atau solar ini yang akan menimbulkan kerugian pada masyarakat, karena oktan dari premiumnya akan turun. Pengoplosan antara premium dengan avtur, pada umumnya dijual di SPBU akan dijual sebagai premium. “Saat pengoplosan tersebut, nanti akan ditambah dengan zat pewarna, sehingga warna nya tetap seperti premium dengan perbandingan 2:1 untuk premium,” ungkapnya.

Selain antara sisa avtur dan premium, jenis lain BBM yang biasanya dioplos untuk dijual ke masyarakat adalah pertamax dicampur dengan premium. Dua jenis BBM ini akan dijual sebagai pertamax, dan dipastikan akan membuat oktan pada BBM akan menurun.

Elnusa Rugi hingga Rp400 Juta

Terpisah, terkait aktivitas ‘tangki kencing’ menajemen PT Elnusa Petrofin Medan sebelumnya sempat mengeluhkan dan memberitahukan prihal yang jelas-jelas merugikan perusahaan tersebut ke PT (Persero) Pertamina Upms I Medan. Namun, sejauh ini belum ada solusi bagaimana lokasi-lokasi penampungan dimaksud dapat ditertibkan.

Bahkan tak tanggung-tanggung dalam triwulan pertama tahun ini PT Elnusa yang merupakan anak perusahaan pertamina menanggung kerugian mencapai Rp20 juta akibat mengganti kerugian kepada pihak SPBU.

“Selama bulan Januari-Maret 2012 saja kita sudah rugi sekitar Rp20 juta akibat mengganti kekurangan BBM di SPBU. Sedangkan untuk tahun 2011 lalu kerugian kita mencapai Rp400 juta lebih,” terang, Hendrik Staf Pengawas PT Elnusa Petrofin Medan.

Dia berharap, agar pertamina selaku pengelola BBM juga memberikan jaminan keamanan atas dampak dari terjadinya tindakan penyelewengan BBM subsidi dimaksud.”Kita sudah sering melaporkan kejadian seperti ini termasuk soal pengancaman sopir oleh pihak lokasi, tapi jawabnya nanti kita akan koordinasikan ke penegak hukum. Tapi tetap saja tak ada solusinya baik itu penertiban dari pihak aparat sendiri,” kata, Hendrik.

Menurut dia, aktivitas ‘tangki kencing’ sebenarnya sudah terjadi sejak lama bahkan lebih dari 20 tahun lalu sudah terjadi. Namun sampai saat ini belum ada tindakan tegas dari pihak penegak hukum.”Sebelum PT Elnusa ada soal ‘tangki’ kencing’ ini sudah terjadi, bahkan sistem pengangkutan pola lama dulu sudah ada aktivitas tak resmi itu,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini ada sekitar 125 unit truk tangki yang dikelola PT Elnusa untuk mengangkut BBM subsidi dari pertamina. Dari jumlah tersebut sudah termasuk di antaranya sekitar 30 unit truk tangki yang sudah diremajakan.”Semua truk yang kita kelola ini merupakan milik pertamina dan PT Elnusa hanya menjalankan serta mengelolanya saja. Tapi soal pengamanan pertamina terkesan lepas tangan,” ujar dia.(mag-17/ram)

Ijazah Bupati Karo Mencurigakan

MEDAN-Pengamat sosial politik USU Drs Wara Sinuhaji MHum mengatakan suara-suara yang meminta kasus dugaan ijazah palsu Bupati Karo segera dituntaskan adalah wajar. Pasalnya, keaslian ijazah Bupati Karo Kena Ukur Surbakti patut disangsikan.

“Ijazah merupakan syarat menjadi bupati,” kata Wara Sinuhaji, Selasa (24/4).

Dikatakan Wara, sesuai yang diketahuinya, Kena Ukur Surbakti tidak memiliki ijazah tapi hanya menggunakan surat keterangan dari Kepala Sekolah STM Negeri 1 Medan sebagai persyaratan menjadi bupati. “Dari data-data yang saya lihat, keabsahan surat keterangan tersebut mencurigakan karena hanya menjelaskan Kena Ukur Surbakti angkatan 1968 dan tidak dijelaskan tamat yang dilampiri nilai-nilai ijazah sebagaimana lazimnya,” tegas Wara.

Selain itu, lanjut Wara, Dinas Pendidikan Medan maupun Sumut tidak berani membuat ketegasan apakah Kena Ukur Surbakti benar-benar tamat sekolah. “Justru Kena Ukur Surbakti membuat justifikasi (pembelaan/pembenaran) dengan mengumpulkan tandatangan teman-temannya semasa sekolah dulu yang menyatakan Kena Ukur pernah sekolah di STM Negeri 1 Medan tetapi tidak disebut apakah tamat. Sementara masyarakat Karo dalam aksinya mempertanyakan apakah Kena Ukur Surbakti tamat STM Negeri 1,” tegas Wara.

Selain itu Kadisdik Medan semasa Drs Hasan Basri MM dalam suratnya tertanggal 12 Januari 2011 tegas menyatakan sesuai data di Disdik Medan Kena Ukur Surbakti tidak tercantum pada akhir tahun 1968 dari STM Negeri 1 Medan. Karena tahun 1968 Kanwil Depdikbud Sumut yang meregister dan mengeluarkan Surat Tanda Tamat Belajar atau ijazah STM Negeri 1 Medan.

Juga, Kadisdik Sumut Drs Syaiful Syafri MM dalam suratnya 29 Desember 2010 dengan nomor 421.5/5691/Disdiksu/2010 menyebutkan kantor Disdik Sumut baru melaksanakan rehabilitasi gedung di lantai IV. AKibatnya beberapa subdis termasuk subdis pendidikan menengah kejuruan waktu itu berada di lantai IV mengalami pemindaham dokumen secara menyeluruh, sehingga permintaan Ketua DPRD Karo untuk klarifikasi ijazah Kena Ukur Surbakti belum dapat dijelaskan.

DPRD Karo, dalam surat nomor172/1481/2010 tgl 23 Desember 2010  yang ditandatangani Wakil Ketua DPRD Karo Ferianta Purba SE telah menyurati Direktur Reskrim Poldasu terkait ijazah Kena Ukur Surbakti itu. Dalam surat DPRD Karo itu disebutkan ,dugaan kepalsuan dokumen yang dikeluarkan kepala STM Negeri I Drs W Radjagoekgoek karena tidak mencantumkan laporan polisi tentang penyebab dikeluarkannya surat keterangan dimaksud, tidak dibuat bermaterai secukupnya, pas foto yang bersangkutan tidak dicap stempel sekolah yang mengeluarkan surat keterangan tersebut.
Menurut Wara, masyarakat Karo menggugat ijazah Kena Ukur Surbakti selaku bupati hanyalah sebuah pintu masuk untuk berusaha menggalang kekuatan menjatuhkan kedudukan sang bupati. Bisa saja masyarakat Karo banyak yang sakit hati karena perlakuan bupati sekarang ini yang sudah menjabat dua tahun, karena tidak ada perubahan yang signifikan yang dilakukan. Karo yang dijuluki sebagai daerah wisata kini semakin jorok. Selain itu APBD Karo belum disahkan, itu karena keteledoran dan bisa kena pinalti 25 persen.

Dijelaskan Wara, keresahan di kalangan pegawai juga terjadi karena mutasi dilakukan secara sewenang-wenang seperti Kadis Pendidikan yang baru sebulan menjabat sudah diganti. Masyarakat Karo melihat masalah ijazah ini peluang efektif untuk menjatuhkan Kena Ukur Surbakti . “Supaya masyarakat tidak resah, perlu DPRD Karo membuat tim indepedensi untuk melakukan pengkajian, penelitian tentang keabsahan ijazah Kena Ukur,” bilang Wara.

Sebab, bila memang ada ijazahnya, kata Wara, harus diumumkan kepada masyarakat. Dan bila tidak ada ijazahnya, maka Kena Ukur Surbakti harus gentlemen  mundur. “DPRD Karo harus proaktif mengusut kembali keabsahan Ijazah Bupati Karo Kena Ukur, kalau tidak tuntas dikuatirkan masyarakat akan demo terus “,kata Wara Sinuhaji. (ila)

Plaza Medan Fair Terbakar

Jet Plane Dihancurkan Petugas, Plaza Tak Beroperasi Selama Lima Jam

MEDAN-Asap mengepul di basement Plaza Medan Fair. Karaoke yang terletak di dasar bangunan plaza itu terbakar. Pemadam kesulitan menjinakkan api karena pintu tempat hiburan itu terkunci. Tak pelak, dinding Jet Plane pun dihancurkan petugas kebakaran.

Akibat kebakaran itu, transaksi jual beli di Plaza Medan Fair tak beroperasi. Pantauan Sumut Pos, setiap pintu masuk Plaza Medan Fair dijaga oleh sekuriti

Pengunjung pun dilarang masuk.

Di sisi lain, aktivitas bongkar barang di bagian belakang gedung juga terhenti. Terlihat sejumlah truk dan mobil box terpakir, tanpa ada dilakukan bongkar barang. Terlihat juga SPG dan SPB berkumpul di bagian belakang gedung. Bahkan, para SPG ini sibuk mengabadikan momen itu di kamera ponselnya. “Terbakar Bang. Belum boleh masuk sama sekuriti, jadi nyantai-nyatai saja dulu lah,” ucap seorang SPG dengan nada mentelnya.

Setelah api dinyatakan sudah padam, sekitar Pukul 14.00 WIB, Plaza Medan Fair kembali dibuka. Satu per satu pengunjung pun bermasukkan ke dalam gedung untuk berbelanja.

Kebakaran itu diketahui sekitar pukul 08.30 kemarin. Dinas Pencegah dan Pedaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan dan pihak kepolisian langsung hadir di lokasi selang beberapa menit setelah mendapat laporan. Pihak pemadam kebakaran menurunkan enam armadanya. Namun, pemadam mendapat kendala. Pintu karaoke itu tertutup. Hanya ada satu cara, tembok Je Plane harus dijebol jika tidak mau kebakaran meluas. Dengan menggunakan martil 5 kilogram petugas DP2K Kota Medan bergantian melakukan penjembolan dinding Jet Plane. Akhirnya api dan asap bisa dijinakkan sekitar pukul 14.00 WIB.

“Ya, kita kesulitan karena Jet Plane dalam keadaan tertutup,” ujar Kapolsek Medan Baru Kompol Dony Alexander.

Dony memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Api juga tidak merembet ke ruangan lain, hanya mengakibatkan tembok parkir menghitam. “Api dan asap hitam itu kemungkinan berasal dari terbakarnya panel-panel di ruang karaoke,” jelas Dony.
Dony mengaku mendapat laporan kebakaran pada pukul 08.30 WIB. Bersama DP2K Kota Medan, polisi turun mengamankan lokasi dan mengevakuasi karyawan yang saat itu sudah mulai berdatangan.

Menurut Kepala Pengendalian dan Komunikasi DP2K kota Medan, M Yamin Ritonga, pihaknya juga mengalami kesulitan memadamkan karena apinya tak tampak. “Sehingga membuat kita mencebol bagian dinding Jet Plane,” ungkapnya.

Akibat kebakaran ini, pemilik hiburan malam ini, mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Pangihutan Sihotang Local Presentatif Manager Plaza Medan Fair tidak mau berkomentar banyak soal sumber api. Dia hanya memuji kinerja pihak pemadam kebakaran dan kepolisian. “Kalau penyebab api biar orang labfor yang melakukan pengecekkan,” ujarnya.

Pangihutan Sihotang menerangkan, fasilitas pencegahan kebakaran di Plaza Medan Fair berfungsi dengan baik. “Tapi (hidran) tidak sanggup memadamkan jadi kita bantuan dari pihak pedaman kebakaran,”ungkapnya.

Menurut pengakuan saksi mata, seorang petugas enginering, Jhony, kemungkinan api muncul karena ada korselting. “Aku melihat api terlihat dan menghitam,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan kondisi Jet Plane yang lantai dan dinding dilapisi oleh karpet sehingga api cepat menyelar dan menimbulkan asap tebal.
Pihak Jet Plane enggan memberikan komentar atas kebakara ini. Lina Manajer Jet Plean saat dikonfirmasi di lokasi tidak memberikan komentar malah memilih meninggalkan sejumlah jurnalis yang sedang meliput dilokasi.

Selain menghanguskan bagian ruang Jet Plane, dampak kebakaran juga dialami seorang karyawan Moto Spa, Wahyu Fajar Dillah (21). Warga Jalan Pasundan Gang Sedulur ini pingsan akibat asap tebal yang dihirupnya. “Kejebak di dalam ruangan (Ruangan Moto Spa). Sekarang dia (Wahyu) dibawa ke rumah sakit,” ungkap rekan korban saat di lokasi.

Wahyu yang tidak sadarkan diri langsung dibawa tim medis ke RSVina Estetika Medan menggunakan mobil ambulance yang standby. “Saat melihat asap, kemudian saya masuk ke dalam dan mengeluarkan barang-barang yang sudah saya masukan tadi. Saat saya mengangkat barang dari dalam keluar, asap semakin membesar dan saya pun tadi terjatuh dan pingsan,” jelas Wahyu kepada Sumut Pos di Ruang Elys 13, Lantai III RS Vina Estetika.

Menurut Wahyu, saat kejadian dia bersama dengan temannya pekerja toko yakni Wira sekira pukul 09.30 WIB. “Tak ada ledakan tapi saya lihat asap dan api dari korslet kabel AC yang memanjang menuju Zed Plane. Tak berapa lama kemudian asapnya pun langsung penuh,” bebernya. (gus/jon)

Sebelum Meninggal Sempat Mengucap Allahu Akbar

Detik-detik Terakhir Wamen ESDM di Gunung Tambora (2/Habis)

Selama dua hari satu malam Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bima, Ir Ilham Sabil mendampingi Wakil Menteri (Wamen) Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo. Dialah orang terdekat sebelum Wamen menghembuskan napas terakhir.

Indra Gunawan, Bima

MESKI baru dua hari bergaul dekat, Kadistamben Ilham Sabil  mengaku sudah bisa menilai kalau Wamen orangnya bersahaja dan sederhana. Itu terlihat dari cara berpakaian, cara makan maupun tutur katanya.

Sejak Jumat pagi mendampingi Wamen yang datang bersama Asistennya Puji Tarwinta dan dua orang Kru TV One, Ilham melihat Wamen tidak ingin dilayani secara berbeda. “Wamen tidak ingin dipanggil bapak, cukup dipanggil mas atau Wamen,” kata Ilham Sabil.

Begitu pula saat pesan makanan untuk persiapan di Gunung Tambora. Usai menunaikan Salat Jumat di Masjid Raya Dompu, Baiturrahman, Wamen sempat memesan ekor Ikan kakap, cumi dan udang. Ikan kakap dan cumi dia minta dicampur dengan nasi, kecuali udang yang dibungkus berbeda. “Wamen ternyata tidak suka makan daging,” tambah Ilham Sabil.

Sampai di pos tiga, pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut hari sudah malam. Wamen bersama rombongan Distamben Kabupaten Bima, Distamben Kabupaten Dompu, Tim Pemantau Gunung Berapi Sangyang dan Tambora, serta klub motor berjumlah sekitar 20 orang membangun tenda.
Wamen bersama Ilham Sabil dan seorang Kabid Distamben, tidur bertiga pada tenda kecil. Tenda kecil ini dibangun di dalam tenda besar tempat menginap anggota rombongan lain. Pada malam itu Ilham Sabil banyak cerita dengan Wamen. Ilham sendiri memberikan laporan tentang beberapa potensi sumber energi yang bisa dimanfaatkan untuk listrik, seperti sumber energi panas di Hu’u Kabupaten Dompu, potensi PTMH di Desa Kawinda To’I bisa menghasilkan energi listrik 200 KWH, dan lainnya.

Saat mengobrol itulah, Ilham Sabil mengetahui kalau Wamen ingin menjadikan Tambora sebagai lokasi geo wisata nasional dan internasional. “Wamen juga ingin mengambil gambar Gunung Tambora, sehingga mengajak kru TV One ikut bersamanya. Agar bisa mempromosikan gunung Tambora,” sebutnya.

Tidak itu saja, Wamen juga meminta Ilham Sabil untuk membuat proposal perbaikan sarana menuju puncak Tambora. Antara lain, akses jalan menuju puncak Tambora.

Misi lain dari kedatangan Wamen ESDM, ingin memberikan pencerahan pada masyarakat Bima dan Dompu, terkait fungsi pertambangan. Itu menyikapi banyaknya aksi penolakan tambang di wilayah Kabupaten Bima dan Dompu selama ini. Untuk keinginan itu, Distemben mengaku akan mengagendakan kunjungan berikutnya ke Bima. “Wamen juga sempat mengutarakan keinginannya berkunjung ke Pulau Komodo. Saya sarankan, untuk melalui Bima. Sekalian bisa melihat pantai yang indah di Bima,” katanya.

Karena dinihari mereka akan memulai mendaki Gunung Tambora, malam itu Wamen terlihat tidur pulas. Sementara rombongan lain yang tidur di tenda besar, sebagian besar tidak bisa tidur karena udaranya sangat dingin.

Ilham Sabil menyakini Wamen menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 09.30 Wita. Wamen telah melakukan pendakian hingga pada ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut. Kurang 50 meter untuk sampai dipuncak Gunung Tambora dari arah Selatan. Karena mereka naik dari arah Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Jika naik dari arah Desa Pancasila, puncak Gunung Tambora berada pada ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut.

Diceritakannya, dia bersama beberapa rombongan lain lebih awal sampai di puncak,  pada ketinggian 2.400 meter. Saat itulah dia ingin melihat laju Wamen dan rombongan. Mereka pun ingin foto bersama. Namun, kondisi kondisi lereng gunung yang curam dan berpasir, membuat Ilham dan rombongan harus ekstra hati-hati. Mereka butuh waktu yang cukup lama.

Begitu sampai di bawah, Wamen terlihat sudah tak berdaya. Saat itu, menurut salah seorang rombongan, Wamen sudah kejang-kejang. Ilham langsung meraba urat nadi Wamen pada bagian tangan dan lehernya, sekaligus mengusap kepalanya, sambil membacakan Surat Yasin.

Saat membacakan Surat Yasin didekat mulut Wamen, Ilham mengaku sempat melihat gerakan mulut Widjajono membaca kalimat ‘Allahu Akbar’. Sesaat kemudian, Ilham meraba urat nadi pada bagian tangan dan lehernya. Saat itu, menurutnya, tidak merasakan detak jantung dan diyakini Wamen telah menghembuskan napas terakhir.

Kondisi Wamen seperti itu diakui tidak disampaikan kepada Bupati Bima maupun Bupati Dompu, dengan pertimbangan agar tidak  terjadi kepanikan.  Hanya beberapa orang rombongan yang mengetahui Wamen telah meninggal dunia.

Untuk membawa Wamen turun dari puncak Gunung Tambora ke Pos Tiga berjarak sekitar satu kilometer. Mereka terpaksa menggunakan Tandu yang dibuat dari kayu seadanya. Mereka secara bergantian mengusung Wamen dengan tandu. Tubuh Wamen pun ditutup menggunakan kain sarung milik Ilham Sabil.

Meski jarak ke Pos Tiga hanya sekitar satu kilometer, medan  yang sulit dan curam membuat evakuasi berlangsung sekitar empat jam. Sekitar pukul 14.30 Wita mereka sampai di pos tiga. Sampai di Pos Tiga, satu unit helikopter dari SAR berusaha mendarat. Cuaca tidak mendukung. Heli itupun hanya bisa mutar-mutar di udara.

Wamen selanjutnya dievakuasi menggunakan mobil hardtop menuju Pos Satu. Waktu yang ditempuh mencapai satu setengah jam. Di Pos Satu itu sudah ada dokter yang menunggu yakni dr Hendi. Setelah diperiksa dokter, barulah dipastikan Wamen telah meninggal dunia. “Beberapa saat kita sampai di pos satu, heli datang. Dengan heli itu  mayat Wamen dibawa ke Desa Pekat, kemudian ganti dengan heli yang lebih besar untuk  ke Denpasar,” sebut Ilham Sabil. (*)

Berita sebelumnya: Kaki Keram, Ditandu pada Kemiringan 50 Derajat

Kada Korupsi, Partai Pengusung Di-black list

JAKARTA – Lagi-lagi, pemerintah melontarkan wacana terkait upaya mengerem banyaknya kepala daerah (Kada)  tersangkut kasus korupsi.
Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan mengusulkan, jika seorang kepala daerah terjerat korupsi, maka partai pengusungnya dilarang ikut mengajukan calon di pemilukada berikutnya.

Asumsinya, partai pengusung punya andil menciptakan perilaku korup kepala daerah. Maksudnya, partai pengusung tidak selektif, tidak cermat memilih calon yang berkomitmen antikorupsi. Harapannya, semua partai lebih hati-hati dan tak sembarangan menetapkan calon.

“Partai atau gabungan partai penggusung dilarang mencalonkan kepala daerah setidaknya satu periode. Sehingga mereka harus bertanggung jawab atas calonnya,” ujar Djohermansyah Djohan di Jakarta, kemarin (24/4).

Djohermansyah juga punya dugaan kuat, para calon harus mengeluarkan biaya untuk membeli ‘tiket perahu’ partai pengusung.

Hal itu, lanjutnya, menyebabkan biaya pencalonan menjadi membengkak tinggi.  Dampaknya, mereka saat menjabat kepala daerah berperilaku korup, seperti ‘menjual’ perizinan.  Perilaku seperti ini makin parah jika kepala daerah tak paham aturan pengelolaan keuangan daerah. (sam)

HKTI Sumut Terima Rp500 Juta

Dugaan Kasus Pemotongan Dana Bansos Pemprovsu

MEDAN- Penerima aliran dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara TA 2011, mulai terungkap satu per satu.
Salah satu penerima dana bantuan sosial yang digelontorkan Biro Keuangan Pemprovsu yaitu, DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Sumatera Utara, sebesar Rp500 juta.

Penerimaan dana Bansos Pemprovsu pada DPD HKTI Sumut, sesuai dengan Nota Dinas yang dikeluarkan Kepala Biro Perekonomian Setdaprovsu, yang ditujukan pada Kepala Biro Keuangan Setdaprovsu, dengan nomor 664/EK/II.1/2011 pada 5 Desember 2011, yang ditembuskan pada Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Utara perihal permohonan Bantuan Dana dari P-APBD SU tahun 2011 dan APBD SU 2012, yang ditandatangani Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap.

Dana yang dikucurkan dari Biro Keuangan Pempropsu atas surat permohonan bantuan (proposal) pengembangan usaha ekonomi DPD HKTI Provinsi Sumatera Utara, sesuai surat yang dikeluarkan oleh Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap S,Sos, dana itu diperuntukan modal usaha.
Ketua DPD HKTI Propvinsi Sumatera Utara Gomo Mendropa, pada wartawan Senin (24/4) mengaku, kalau mereka menerima bantuan Bansos dari Pemprovsu Desember 2011 lalu, itupun harus didesak.

“Memang kita terima bantuan itu, namun terlambat ini pun harus kita desak, karena kegiatan kita itu sudah mau berjalan. Tepat minggu pertama Desember (2011) bantuan itu baru direalisasikan,” ujar Gomo Mendropa.

Ketika disinggung wartawan apakah ada pemotongan bantuan yang mereka terima dari nilai yang digelontorkan sebesar Rp500 juta, fungsionaris DPD Partai Golkar Sumut ini, enggan buka mulut.
“Masalah pemotongan itu tidak ada. Jangan lah ditanya masalah itu pada saya, tidak etis lah. Tanya aja pada yang lain. Kalau pemotongan sampai 50 persen tidak ada. Tapi beberapa persen ada. Ya sudah ya, masalah pemotongan tidak ada itu dan jangan tanya saya,” ujar Gomo Mendropa menghindar.
Gomo Mendropa juga mengaku siap memberikan laporan dan keterangan mengenai anggaran Bansos yang diterimanya. Karena anggaran tersebut mereka gunakan untuk kegiatan HKTI. Ia juga mengaku belum ada diperiksa Kejatisu.

“Kegiatan yang kita gelar berupa Diklat Petani di beberapa daerah di Sumatera Utara, yang bekerja sama dengan Universitas di Medan dan Simalungun,” ujar Gomo.

Selain HKTI Sumut, dalam laporan belanja tidak langsung APBD Provsu TA 2011 di Biro Perekonomian Pemprovsu, Koperasi Pemuda Indonesia Medan Jalan Merbabu No 28 lantai 2 Medan (Kantor DPD KNPI Kota Medan) tercantum bahwa koperasi pemuda itu menerima bantuan sebesar Rp50 juta.
Ketua DPD KNPI Kota Medan Zulham Effendi Siregar ST, pada wartawan mengaku kaget soal Koperasi Pemuda Indonesia Medan mendapat bantuan Bansos. “Saya tidak tahu masalah penerimaan dana Bansos itu apalagi sampai Rp50 juta. Koperasi itu tidak ada. Nanti saya cek ya bang, siapa yang bermain ini. Tapi tolong lah bang jangan naikan dulu ya. Tolong ya bang sama-sama kita selidiki,” ujar Zulham.

Sementara itu, Plh Humas Kasi Penkum Kejatisu Ronald Bakkara SH, MH, pada wartawan Selasa (24/4) di Jalan AH Nasution mengaku, belum mengetahui HKTI Sumut menerima aliran Bansos tersebut.

“Saya belum tahu itu. Nanti saya cek ya pada penyidik yang bersangkutan, apakah HKTI Sumut menerima dana Rp500 juta sudah diperiksa atau belum. Namun informasi ini akan kita telusuri, apabila mereka belum kita periksa maka mereka akan kita panggil untuk dimintai keterangan,” janjinya.
Ditambahkan Ronald, pihaknya akan menyelidiki sampai tuntas kasus tersebut. “Soal penggunaan anggaran Bansos itu, kemana saja, berapa yang mereka gunakan dan sisa anggaran kegiatan digunakan kemana? pungkas Ronald. (rud)

Tambang Liar Meledak, 9 Orang Tewas

BEIJING – Industri pertambangan batu bara di China lagi-lagi memakan korban. Senin (23/4) kemarin, sedikitnya 9 orang penambang dilaporkan tewas sementara 16 lainnya luka-luka dalam insiden ledakan di sebuah tambang bawah tanah di kota Bayannur, bagian utara China.

Empat dari keseluruhan korban dilaporkan tewas seketika, sementara sisanya ditemukan setelah tim penyelamat menyisir lokasi tambang beberapa jam kemudian. Seluruh korban yang terluka -empat di antaranya luka sangat parah- sudah dilarikan ke rumah sakit.

“Penyebab kejadian ini masih dalam penyelidikan. Tapi yang jelas pemilik tambang telah mengantongi izin untuk usahanya,” ucap seorang pejabat pemerintah lokal,  seperti dikutip AFP  dari kantor berita nasional Cina Xinhua, Selasa (24/4).

Para pengusaha nakal operator tambang ilegal yang tidak dilengkapi perlengkapan penyelamatan standar memang selalu membuat pusing pemerintah China. Pasalnya, sudah sering  karena kelalaian mereka  berujung tragedi.

Tahun lalu saja, berdasarkan data statistik pemerintah tercatat hampir 2000 orang tewas dalam kecelakaan tambang batubara di China. Ini berarti lebih dari enam pekerja pertambangan telah tewas setiap harinya di negeri yang kini disebut sangat rakus energi tersebut.
(afp/ara/jpnn)