Home Blog Page 13603

HKTI Sumut Terima Rp500 Juta

Dugaan Kasus Pemotongan Dana Bansos Pemprovsu

MEDAN- Penerima aliran dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara TA 2011, mulai terungkap satu per satu.
Salah satu penerima dana bantuan sosial yang digelontorkan Biro Keuangan Pemprovsu yaitu, DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Sumatera Utara, sebesar Rp500 juta.

Penerimaan dana Bansos Pemprovsu pada DPD HKTI Sumut, sesuai dengan Nota Dinas yang dikeluarkan Kepala Biro Perekonomian Setdaprovsu, yang ditujukan pada Kepala Biro Keuangan Setdaprovsu, dengan nomor 664/EK/II.1/2011 pada 5 Desember 2011, yang ditembuskan pada Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Utara perihal permohonan Bantuan Dana dari P-APBD SU tahun 2011 dan APBD SU 2012, yang ditandatangani Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap.

Dana yang dikucurkan dari Biro Keuangan Pempropsu atas surat permohonan bantuan (proposal) pengembangan usaha ekonomi DPD HKTI Provinsi Sumatera Utara, sesuai surat yang dikeluarkan oleh Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap S,Sos, dana itu diperuntukan modal usaha.
Ketua DPD HKTI Propvinsi Sumatera Utara Gomo Mendropa, pada wartawan Senin (24/4) mengaku, kalau mereka menerima bantuan Bansos dari Pemprovsu Desember 2011 lalu, itupun harus didesak.

“Memang kita terima bantuan itu, namun terlambat ini pun harus kita desak, karena kegiatan kita itu sudah mau berjalan. Tepat minggu pertama Desember (2011) bantuan itu baru direalisasikan,” ujar Gomo Mendropa.

Ketika disinggung wartawan apakah ada pemotongan bantuan yang mereka terima dari nilai yang digelontorkan sebesar Rp500 juta, fungsionaris DPD Partai Golkar Sumut ini, enggan buka mulut.
“Masalah pemotongan itu tidak ada. Jangan lah ditanya masalah itu pada saya, tidak etis lah. Tanya aja pada yang lain. Kalau pemotongan sampai 50 persen tidak ada. Tapi beberapa persen ada. Ya sudah ya, masalah pemotongan tidak ada itu dan jangan tanya saya,” ujar Gomo Mendropa menghindar.
Gomo Mendropa juga mengaku siap memberikan laporan dan keterangan mengenai anggaran Bansos yang diterimanya. Karena anggaran tersebut mereka gunakan untuk kegiatan HKTI. Ia juga mengaku belum ada diperiksa Kejatisu.

“Kegiatan yang kita gelar berupa Diklat Petani di beberapa daerah di Sumatera Utara, yang bekerja sama dengan Universitas di Medan dan Simalungun,” ujar Gomo.

Selain HKTI Sumut, dalam laporan belanja tidak langsung APBD Provsu TA 2011 di Biro Perekonomian Pemprovsu, Koperasi Pemuda Indonesia Medan Jalan Merbabu No 28 lantai 2 Medan (Kantor DPD KNPI Kota Medan) tercantum bahwa koperasi pemuda itu menerima bantuan sebesar Rp50 juta.
Ketua DPD KNPI Kota Medan Zulham Effendi Siregar ST, pada wartawan mengaku kaget soal Koperasi Pemuda Indonesia Medan mendapat bantuan Bansos. “Saya tidak tahu masalah penerimaan dana Bansos itu apalagi sampai Rp50 juta. Koperasi itu tidak ada. Nanti saya cek ya bang, siapa yang bermain ini. Tapi tolong lah bang jangan naikan dulu ya. Tolong ya bang sama-sama kita selidiki,” ujar Zulham.

Sementara itu, Plh Humas Kasi Penkum Kejatisu Ronald Bakkara SH, MH, pada wartawan Selasa (24/4) di Jalan AH Nasution mengaku, belum mengetahui HKTI Sumut menerima aliran Bansos tersebut.

“Saya belum tahu itu. Nanti saya cek ya pada penyidik yang bersangkutan, apakah HKTI Sumut menerima dana Rp500 juta sudah diperiksa atau belum. Namun informasi ini akan kita telusuri, apabila mereka belum kita periksa maka mereka akan kita panggil untuk dimintai keterangan,” janjinya.
Ditambahkan Ronald, pihaknya akan menyelidiki sampai tuntas kasus tersebut. “Soal penggunaan anggaran Bansos itu, kemana saja, berapa yang mereka gunakan dan sisa anggaran kegiatan digunakan kemana? pungkas Ronald. (rud)

Tambang Liar Meledak, 9 Orang Tewas

BEIJING – Industri pertambangan batu bara di China lagi-lagi memakan korban. Senin (23/4) kemarin, sedikitnya 9 orang penambang dilaporkan tewas sementara 16 lainnya luka-luka dalam insiden ledakan di sebuah tambang bawah tanah di kota Bayannur, bagian utara China.

Empat dari keseluruhan korban dilaporkan tewas seketika, sementara sisanya ditemukan setelah tim penyelamat menyisir lokasi tambang beberapa jam kemudian. Seluruh korban yang terluka -empat di antaranya luka sangat parah- sudah dilarikan ke rumah sakit.

“Penyebab kejadian ini masih dalam penyelidikan. Tapi yang jelas pemilik tambang telah mengantongi izin untuk usahanya,” ucap seorang pejabat pemerintah lokal,  seperti dikutip AFP  dari kantor berita nasional Cina Xinhua, Selasa (24/4).

Para pengusaha nakal operator tambang ilegal yang tidak dilengkapi perlengkapan penyelamatan standar memang selalu membuat pusing pemerintah China. Pasalnya, sudah sering  karena kelalaian mereka  berujung tragedi.

Tahun lalu saja, berdasarkan data statistik pemerintah tercatat hampir 2000 orang tewas dalam kecelakaan tambang batubara di China. Ini berarti lebih dari enam pekerja pertambangan telah tewas setiap harinya di negeri yang kini disebut sangat rakus energi tersebut.
(afp/ara/jpnn)

RI Tuntut Pertanggungjawaban Polisi Malaysia

JAKARTA- Pemerintah Indonesia secara tegas telah meminta pertanggungjawaban polisi Malaysia atas terjadinya kasus kematian tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana. Pasalnya, kematian TKI tersebut diduga sebagai korban salah tembak yang dilakukan oleh anggota kepolisian Malaysia.

“Pemerintah  Indonesia meminta kecepatan dan ketegasan sikap polisi Malaysia atas peristiwa ini dan pertanggungjawaban kalau memang salah dalam penembakan ini,” tegas Muhaimin di Gedung Kemenakertrans, Jakarta, Selasa (24/4).

Muhaimin juga mengaku telah mendapat informasi dari Kementerian Luar Negeri bahwa polisi Malaysia sudah siap melakukan penelusuran lebih dalam mengenai kasus tersebut.

“Jika memang terbukti salah, Malaysia harus berani bertanggung jawab atas kejadian ini,” tandasnya.

Sementara itu,  Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Kemnakertrans Reyna Usman mengatakan, pihak Kemenakertrans telah melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Lombok Timur untuk mempercepat penyelesaian kasus ini.
“Menurut informasi yang kita terima, ketiga korban tersebut  merupakan warga Desa Pancor Kopong Pringgasela Selatan dan Pengadangan Kecamatan Pringgasela kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat,” kata Reyna.

Seperti diketahui,  ketiga TKI yang meninggal dunia adalah Herman, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noon yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, dipulangkan dari Malaysia pada tanggal 5 April 2012 lalu.

Ketiganya ditemukan meninggal dunia pada 23 Maret 2012 di kolam pemancingan di Seremban, negara bagian Negeri Sembilan, Malaysia dan surat keterangan yang menyertai mayat ketiganya menyebutkan penyebab kematian adalah luka tembakan
Kecurigaan timbul karena  adanya jahitan tidak wajar yaitu di kedua mata, dada dan perut bagian bawah dan menduga bahwa kematian ketiga TKI tersebut adalah sebagai korban dari perdagangan organ tubuh manusia. (cha/jpnn)

Mengenang Jejak Pahlawan Emansipasi

Arfan Adha Lubis

Tepatnya 21 April 1979 lalu lahir Srikandi Wanita di bumi Jepara. Seorang pahlawan emansipasi yang gigih membebaskan nasib kaumnya dari belenggu adat, tradisi, diskriminasi, penindasan serta eksploitasi.

Dialah Kartini, sumber inspirasi wanita-wanita Indonesia. Kartini menegaskan bahwa perempuan bukan the second human being (manusia kelas dua). Perempuan juga punya kualitas mumpuni, dengan catatan kaum hawa diberi pendidikan setinggi-tingginya.

Menurut Kartini perempuan memiliki peran strategis sebagai lokomotif pertama memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Beliau membuktikan tugas perempuan tidak sebatas di dapur, sumur dan kasur. Tetapi juga kaum perempuan mempunyai hak mengembangkan potensi diri plus meraih cita-cita tanpa melupakan kodratnya.

Hal ini selaras dengan tuntunan ajaran Islam yang tidak pernah mempertentangkan hak laki-laki dan perempuan. Terlebih Islam diturunkan untuk menegakkan syariat bagi seluruh kehidupan manusia. Sehingga laki-laki dan perempuan, sejatinya dapat meraih kemuliaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam….” (Al-Isra’: 70).

Pengorbanan Kartini selayaknya diberi apresiasi tinggi di relung kalbu setiap anak bangsa. Walau Kartini tidak dapat melawan belenggu tradisi dimasanya, namun gaung semangat cita-cita beliau menjadi cikal bakal bangkitnya semangat emansipasi seluruh wanita-wanita Indonesia.
Realitas sekarang, jamak srikandi-srikandi pertiwi membanggakan prestasinya. Menduduki jabatan krusial di berbagai lembaga pemerintah. Memberikan sumbangsih plus kontribusi bagi bangsa. Perempuan di zaman ini semakin menunjukkan eksistensi diri bukan hanya di level domestik tetapi juga di ranah publik. Walau disadari pula belum semua wanita Indonesia mendapatkan hak-haknya.

Namun seiring itu, kita dikejutkan dengan fenomena Wanita Indonesia. Teraktual, kita masih ingat fakta empiris menggetarkan hati, aksi brutal sekumpulan preman menyerang Rumah Sakit Pusat TNI AD (RSPAD). Pembantaian berdarah yang merenggut 2 nyawa dan 4 korban terluka di RSPAD. Siapa sangka dibalik aksi sadis tersebut terdapat seorang wanita, yang mendapat julukan “Kill Bill dari kampung Ambon”. Dialah Irene Sophia Tupessy atau Renny Tupessy, yang ditangkap jajaran Polres Jakarta Pusat di tempat persembunyiannya di Indramayu, jawa Barat (Forum Keadilan, No. 45 Edisi 12-18 Maret 2012).

Sebelumnya srikandi wanita seperti Angelina Sondakh terjerat kasus dugaan korupsi pembangunan wisma atlit di Sea Games Palembang, dan Miranda S. Gultom serta Nunun Nurbaeti yang tersangkut cek pelawat, ketika pemilihan Miranda S. Gultom sebagai deputi senior Bank Indonesia. Fenomena ini sangat kontraproduktif dan kontroversi dari semangat plus cita-cita Kartini.

Sejatinya kaum wanita sekarang tidak terjerembab akibat modernisasi. Notabene menghilangkan identitas dan integritas kodrat kewanitaannya. Idealnya wanita Indonesia tidak kehilangan jati diri serta melupakan kodrat sebagai srikandi. Hal ini sangat urgensi dalam menghadapi dampak globalisasi yang merasuk seluruh sendi-sendi kehidupan.

Sementara di sisi lain belum semua kaum wanita Indonesia mendapatkan kesempatan emasnya. Masih banyak menjadi korban eksploitasi, kekerasan, diskriminasi bahkan pelecehan seksual. Fenomena terakhir dilihat pahlawan-pahlawan Visa Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat siksaan yang melampaui batas-batas kemanusiaan. Mereka disetrika, diperkosa, plus dianiaya serta tidak diberikan hak-hak sebagai manusia merdeka. Sebagian lagi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang hampir terjadi dalam semua lapisan dan golongan masyarakat.

Data dan fakta tentang para korban menunjukkan dengan gamblang bahwa semua perempuan dari berbagai lapisan sosial, golongan pekerjaan, suku, bangsa, budaya, agama maupun rentang usia rentan tertimpa kekerasan (Farha Ciciek: 2005).

Perlakuan kejam plus tidak manusiawi dialami sebagian srikandi mengakibatkan berbagai macam penderitaan, rasa tidak berdaya, depresi, putus asa, bahkan berpotensi melakukan aksi bunuh diri.

Namun sebagian memilih tetap tegar, kembali menjalankan roda kehidupan. Tidak sedikit mutiara bangsa ini tulang punggung keluarga. Tetap setia, tak pernah mengeluh bergelut di denyut kehidupan yang begitu keras. Tegar mempunyai semangat baja menafkahi buah hati si belahan jiwa. Kisah heroik tersebut boleh jadi kerap terjadi di seantero negeri.

Kartini & Pendidikan

Pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya. Kartini menyadari pendidikan bekal utama bagi wanita untuk mengerti hak dan tanggungjawabnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan kaum perempuan akan lebih mampu menentukan jalan hidup sendiri. Dengan pendidikan perempuan akan bangkit berjuang mematahkan belenggu peradaban.

Perjuangan tersebut akan menghasilkan buah yang disebut Kartini sebagai persamaan hak yang telah terbayang di udara (Y.B. Sudarmanto: 1996). Kartini berpendapat perempuan harus mengecap bangku pendidikan dan mendapatkan cakrawala pengetahuan seluas-luasnya.

Pemikiran srikandi mulia itu sangat mumpuni. Notabene di tengah kehidupan sekarang yang begitu kompetitif dalam segala lini kehidupan. Idealnya wanita Indonesia harus cerdas, memiliki pengetahuan dan tidak hanya cantik fisik semata.

Penutup

Habis gelap terbitlah terang merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang dibukukan sahabat-sahabatnya. Seorang srikandi Pertiwi yang begitu besar jasanya untuk perempuan Indonesia. Walau Kartini tak sempat mengecap hasil perjuangannya, beliau merupakan mutiara bagi bangsa Indonesia. Terimakasih dan Hormat Ku kepada Mu Wahai Pahlawan Emansipasi.

Penulis adalah Alumni FH-UMSU,
Kandidat Magister Program Pascasarjana Ilmu Hukum UMSU

Jaksa Kukuh Tuntut 80 Tahun, Sidang Pembunuhan Teller BRI Syariah Ricuh

MEDAN-Sidang lanjutan pembunuhan teller BRI Syariah, Sri Wahyuni Simangunsong kembali digelar di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri Medan, Selasa (24/4).

Sidang dengan agenda pembelaan tersangka (pledoi) Erwin Panjaitan, Ria Hutabarat, Eva Lestari Surbakti dan Suherman dihadiri puluhan pengunjung dan dikawal personel polisi.

Sebelum sidang dimulai, para tersangka dimasukkan ke dalam tahanan Pengadilan Negeri Medan. Erwin Panjaitan, Suherman di tahanan pria sedangkan Eva Lestari Surbakti dan Ria Hutabarat di tahanan wanita. Sambil menunggu panggilan sidang, reporter mencoba melihat ruang tahanan wanita yang ditempati oleh 9 tahanan wanita, yang di dalamnya ada Ria Hutabarat (istri Erwin) dan Eva Lestari Surbakti (istri Suherman). Tak ada raut sedih di wajah kedua tersangka. Bahkan, mereka berdua asyik mengobrol dengan polisi dan pengawal tahanan Kejari Medan dari balik jeruji besi. Sesekali, keduanya tertawa sambil memainkan ponsel yang diberikan oleh seorang pegawai Kejari Medan.

Sekitar pukul 13.00 WIB, sidang pun dimulai. Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Agus Setiawan SH. Hakim memberikan kesempatan kepada pengacara terdakwa untuk menyampaikan pembelaan.

Dalam pembelaan, pengacara tersangka mengatakan bahwa keempat tersangka memang melakukan perampokan, tapi apakah mereka menbunuh juga. Apalagi Erwin Panjaitan, selama perjalanan dari Medan menuju Samosir mengemudi mobil dan dari beberapa saksi yang dipanggil, seluruhnya tidak ada yang mengetahui persis bagaimana pembunuhan itu terjadi.

“Peran Erwin adalah menyetop dan membawa mobil, Jadi mengapa jaksa menjeratnya dengan pasal 365 ayat 4 sedangkan para saksi tidak ada yang tahu jelas siapa pelaku pembunuhan itu,” jelasnya.

Karena JPU, P Siburian tetap pada tuntutannya menghukum keempat terdakwa selama 80 tahun penjara dan pengacara tetap pada pembelaannya, hakim pun mengundur sidang hingga Selasa (8/4)mendatang.

Usai sidang tiba-tiba saja keluarga korban berteriak minta supaya hakim menjatuhi hukuman seumur hidup kepada keempat tersangka.
“Hukum saja mereka seumur hidup Pak, karena mereka telah membunuh anakku, dasar pembunuh, nyawa harus dibayar nyawa,” ujar Khainidar, ibu Sri Wahyuni. Polisi yang sudah dari awal sidang berjaga, langsung menyuruh pengunjung keluar ruang sidang.

Ketika polisi mengawal terdakwa keluar dari ruang sidang, keluarga korban yang masih menunggu di luar langsung mengejar keempat terdakwa. Salah satu keluarga korban sempat menarik selendang milik Ria Hutabarat dan membawanya.  (gib/smg)

KUPJ Terbang Hantam IRT

MEDAN- Sambil terus mengucap syukur, Asnah  terlihat pucat. Wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu selamat dari maut setelah angkutan umum KUPJ terbang dan menghancurkan sepeda motor yang dikendarainya di Jalan Padang, Kec Percut Sei Tuan, Selasa (24/4) dini hari.

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 01.00 WIB. Asnah mengaku saat itu ia sedang melintas di Jalan Padang bermaksud pulang ke rumahnya melewati rel menuju Jalan Rajawali, Medan.

Namun belum lagi sampai di rel sebuah mobil angkutan umum KUPJ melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam besi pembatas rel. Mobil BK 7093 DN  langsung terbang ke arah Asnah yang sedang melaju pelan diatas sepeda motornya.
Melihat mobil terbang kearahnya, Asnah langsung lompat dari atas sepeda motor. Sepeda motor Honda Supra X BK 3066 UU milik Asnah pun ringsek ditimpa KUPJ itu.

“Mobil itu sudah dekat kali, kulihat sudah terbang kearah ku. Entah apa yang buat aku bisa reflex dan langsung lompat, luka-luka nggak ada cuma tanganku saja yang sakit karena menahan badan tadi,” ujar Asnah di TKP sambil menunjuk ke arah KUPJ yang menimpa mobilnya.
Melihat peristiwa itu, dalam hitungan detik warga sekitar langsung berkumpul di TKP. Warga yang kesal lalu berteriak-teriak meminta supir bus tersebut keluar.

Awalnya supir mabuk itu tak mau keluar. Emosi, warga langsung membuka pintu bus dan menarik supir yang terlihat sempoyongan itu dari dalam bus.
Tanpa dikomando, warga yang kesal langsung menghajar supir. Beruntung para orang tua di sekitar TKP langsung mengamankan supir itu dan menghungi Polsek Percut Sei Tuan.

Tak lama, supir itu langsung diboyong menuju Pos Lantas Percut Sei Tuan. Sementara Asnah yang tinggal di Jalan Parkit 10 Perumnas Mandala, Kec Percut Sei Tuan dimintai keterangan oleh pihak Kepolisian.

“Dari mulutnya tercium aroma alkohol, baru siap minum dia itu bang. Mabuk-mabuknya aja dibawanya,” ujar Parlin Tamba (23) warga sekitar yang juga menyaksikan manuver maut bus KUPJ itu.

Belakangan diketahui, supir mabuk itu bernama Arihta Ginting (50) warga Perumnas Mandala. Sebelumnya, Arihta baru saja pesta minum minuman keras bersama rekannya sesama supir.

Saat akan pulang kerumahnya di Jalan Rajawali Perumnas Mandala Arihta oleh dan menyenggol seorang ibu-ibu yang sedang berjalan. Warga yang melihat langsung meneriaki dan mengejar Arihta. Tak mau konyol, Arihta pun tancap gas menuju Jalan Padang. (ala/smg)

Uang Tunjangan Sertifikasi Guru Dipungli

LABUHAN-  Bagi guru yang menerima tunjangan sertifikasi guru adalah rezeki. Tapi beda halnya dengan 4 guru yang mengajar di SD Negeri 068475, Griya Martubung, Medan Labuhan ini.

Mereka mengaku kecewa karena uang tunjangan sertifikasi guru itu dipungli oleh kepala sekolah Nurbaeta sebesar Rp250 ribu.
Bahkan beredar kabar pungli itu langsung diperintahkan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Medan Labuhan.

Keterangan yang diterima Januari 2012 lalu, 4 guru termasuk Kepala SD Negeri 068475 Nurbaeta menerima dana tunjangan sertifikasi guru tahap kedua tahun anggaran 2011.

Kemudian uang itu diminta Nurbate kepada 4 gurur tersebut dengan alasan atas perintah Ka UPT Dinas Pendidikan Medan Labuhan Dra Khairani Khalifah.

Kepsek SD Negeri 068475 Nurbaeta ini meminta uang kepada keempat gurunya masing-masing sebesar Rp250 ribu. “Saya diperintahkan Ka UPT meminta dana tunjangan sertifikasi Rp250.000 kepada kalian,” kata Nurbaeta kepada keempat guru, seperti ditirukan oleh salah satu guru yang mengeluhkan pungli tersebut.

Dengan berat hati atas tindakan yang dilakukan oleh Nurbaeta, keempat guru tersebut memberikan uang itu.

Menyikapi tindakan itu, Ka UPT Dinas Pendidikan Medan Labuhan Drs Khairani Khalifah yang dihubungi wartawan, Selasa (24/4) membantah menyuruh Kepsek SD 068475 Nurbaeta SPd untuk melakukan pungutan sebesar Rp250.000 kepada guru yang menerima tunjangan sertifikasi terhadap guru SD. Dia menegaskan tidak pernah melakukan hal itu.

Dihadapan wartawan, Drs Khairani langsung menghubungi Kepsek 068475 Nurbaeta melalui sambungan selular. Dalam percakapan itu Khairani memarahi Nurbaeta karena telah menjual-jual namanya untuk kepentingan pribadi. “Memang si Nurbaeta ini selalu membuat masalah,” kata Khairani.
Nurbaeta membantah tudingan itu. “Itu tidak benar dek,” ungkapnya.(ril/smg)

Mantan Pejabat Diskanla jadi Tersangka

LUBUK PAKAM- Ini terobosan perdana yang dilakukan Kajari Lubukpakam Khairul Aswan pasca dilantik sebulan yang lalu. Selasa (24/4)  Aswan menetapkan empat orang tersangka dugaan korupsi proyek pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) di Tanjung Morawa.

Keempat tersangka itu lanjut mantan Asdatun Kendari ini adalah mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Kadiskanla) Deliserdang Ir Ronis Agus Azis, pelaksana teknis kegiatan (PPTK) Abdurahman dan dua orang pemborong Syaiful Ridwan Sofyan dan Halomoan Lubis.

Menurut Aswan ditetapkannya keempat tersangka itu berdasarkan hasil penyidikan yang dilakukan anak buahnya. Dengan ditetapkannya tersangka ini maka dalam waktu dekat keempatnya akan ditahan. “Tadi (24/4) baru menetapkan sebagai tersangka saja, setelah itu baru dilakukan pemanggilan untuk diperiksa sekaligus ditahan,” kata mantan Kajari Tebing Tinggi ini.

Dari hasil pemeriksaan jelas Aswan keempatnya diduga melakukan dugaan korupsi proyek pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) tahun anggaran 2008 dengan total kerugian negara Rp68 juta.

Diuraikannya dalam pembuatan kolam ikan terindikasi terjadi pengurangan tebal plasteran dari 15 mm menjadi 10 mm dan beton cor campuran tidak sesuai kontrak sehingga negara dirugikan Rp30 juta.

Demikian juga pengaspalan jalan masuk dan pembuatan parit beton terindikasi ada pengurangan plasteran campuran dari 2.453,18 meter kubik menjadi 2.358,36 meter kubik, beton campuran kurang volumenya dari 310,38 meter kubik menjadi 288,5 meter kubik, pekerjaan menghampar hot mix kurang tebal dari 4 cm menjadi 3 cm dan lapisan pondasi klas B dengan volume 58,80 meter kubik tidak dikerjakan. Sehingga mengakibatkan kerugian Rp38 juta.  “Total kerugian dari dua proyek itu sebesar Rp 68 juta,” tegas Aswan Harahap.

Dalam kasus lain Kejari Lubukpakam juga menetapkan Kepala Seksi (Kasi) Penagihan Pajak Restoran pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Deliserdang, Harapan Nasution sebagai tersangka dugaan korupsi pajak restoran.

Menurutnya, hasil pengutipan pajak restoran yang dilakukan oleh Harapan Nasution tidak disetorkan ke kas daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah. (btr)

Sejumlah Kawasan di Karo Terendam Banjir

KARO- Hujan deras jelang petang hingga tengah malam, Senin (23/4) membawa dampak bencana di sejumlah lokasi di Kabupaten Karo. Satu diantaranya adalah banjir kiriman di Desa Doulu Kecamatan Berastagi.

Informasi yang di peroleh Sumut Pos,  akibat curah hujan tinggi di hulu, aliran air dari Desa  Semangat Gunung  yang berbatasan langsung dengan Gunung Api Sibayak, menerjang Desa  Doulu.

Tidak ada korban jiwa, namun  puluhan rumah terendam air setinggi  4 meter selama dua jam.  Selain itu, puluhan hektar sawah  warga rusak, sehingga  mengakibatkan gagal panen, dengan kerugian materi  mencapai ratusan juta rupiah.

Di malam yang sama, longsor juga terjadi di kawasan Kelurahan Tambak Lau Mulgap II, persisnya di belakang Los Pancur Batu Berastagi.  Longsor  sedalam seratus meter, menimbun areal perawahan warga dibawahnya.

Sementara di Kecamatan Munte dan Tiga Binanga, puluhan hektar tanaman jagung rusak diterjang hujan disertai tiupan angin kencang. Di sekitar kawasan  Desa Singga manik (arel perkuburan Jepang red) setidaknya tiga tiang listrik mengalami kerusakan.

Bahkan satu tiang,  ketiga kabelnya melintang di tengah jalan. Jelang siang pihak PLN  terlihat di lokasi melakukan perbaikan instalasi.  Akibatnya, hingga  Hingga Kecamatan Tiga Binanga terjadi pemadaman  sore hari kemarin.

Kaban Kesbang Pol dan Linmas Pemkab Karo, Drs  Suang Karo- Karo  mengatakan, untuk  penaggulangan awal, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah kecamatan yang terkena dampak bencana dengan Dinas PU, Pertanian, Sosial dan Dinkes.(wan)

Anak Bersisik Masuk Pirngadi

MEDAN- Lamhot Sirait (16), warga Pasar VI Marelan Gang Uka yang sehari-harinya hidup di jalanan terpaksa dibawa ke ruang IGD RSU Dr Pirngadi Medan, Selasa (24/4) sore.

Pasalnya pemuda yang kesehariannya meminta-minta di persimpangan lampu merah ini terkulai lemas dengan badan bersisik di sekujur tubuhnya karena menderita penyakit Steven Jhonson Syndrome (alregi obat-obatan) harus mendapatkan perawatan medis.
Pengakuan Lamhot, dirinya mengidap penyakit ini sejak sebulan terakhir. Diceritakannya, dia bisa  memiliki sisik seperti ular disekujur tubuhnya ini bermula saat dia memakan ayam goreng yang dibelinya.

Namun, terangnya, usai memakan ayam tersebut tubuhnya berasa gatal-gatal dan oleh ibunya ia diberikan obat Amoxilin dan Bodrek. “Awalnya saya tidak ada merasa apa-apa, tapi ketika saya makan ayam goreng, badan saya gatal-gatal semua, lalu saya di beri obat sama mamak, rupanya beberapa hari kemudian tubuh saya bersisik seperti ini,” jelasnya.(jon)