26 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 13610

Ijazah Bupati Karo Mencurigakan

MEDAN-Pengamat sosial politik USU Drs Wara Sinuhaji MHum mengatakan suara-suara yang meminta kasus dugaan ijazah palsu Bupati Karo segera dituntaskan adalah wajar. Pasalnya, keaslian ijazah Bupati Karo Kena Ukur Surbakti patut disangsikan.

“Ijazah merupakan syarat menjadi bupati,” kata Wara Sinuhaji, Selasa (24/4).

Dikatakan Wara, sesuai yang diketahuinya, Kena Ukur Surbakti tidak memiliki ijazah tapi hanya menggunakan surat keterangan dari Kepala Sekolah STM Negeri 1 Medan sebagai persyaratan menjadi bupati. “Dari data-data yang saya lihat, keabsahan surat keterangan tersebut mencurigakan karena hanya menjelaskan Kena Ukur Surbakti angkatan 1968 dan tidak dijelaskan tamat yang dilampiri nilai-nilai ijazah sebagaimana lazimnya,” tegas Wara.

Selain itu, lanjut Wara, Dinas Pendidikan Medan maupun Sumut tidak berani membuat ketegasan apakah Kena Ukur Surbakti benar-benar tamat sekolah. “Justru Kena Ukur Surbakti membuat justifikasi (pembelaan/pembenaran) dengan mengumpulkan tandatangan teman-temannya semasa sekolah dulu yang menyatakan Kena Ukur pernah sekolah di STM Negeri 1 Medan tetapi tidak disebut apakah tamat. Sementara masyarakat Karo dalam aksinya mempertanyakan apakah Kena Ukur Surbakti tamat STM Negeri 1,” tegas Wara.

Selain itu Kadisdik Medan semasa Drs Hasan Basri MM dalam suratnya tertanggal 12 Januari 2011 tegas menyatakan sesuai data di Disdik Medan Kena Ukur Surbakti tidak tercantum pada akhir tahun 1968 dari STM Negeri 1 Medan. Karena tahun 1968 Kanwil Depdikbud Sumut yang meregister dan mengeluarkan Surat Tanda Tamat Belajar atau ijazah STM Negeri 1 Medan.

Juga, Kadisdik Sumut Drs Syaiful Syafri MM dalam suratnya 29 Desember 2010 dengan nomor 421.5/5691/Disdiksu/2010 menyebutkan kantor Disdik Sumut baru melaksanakan rehabilitasi gedung di lantai IV. AKibatnya beberapa subdis termasuk subdis pendidikan menengah kejuruan waktu itu berada di lantai IV mengalami pemindaham dokumen secara menyeluruh, sehingga permintaan Ketua DPRD Karo untuk klarifikasi ijazah Kena Ukur Surbakti belum dapat dijelaskan.

DPRD Karo, dalam surat nomor172/1481/2010 tgl 23 Desember 2010  yang ditandatangani Wakil Ketua DPRD Karo Ferianta Purba SE telah menyurati Direktur Reskrim Poldasu terkait ijazah Kena Ukur Surbakti itu. Dalam surat DPRD Karo itu disebutkan ,dugaan kepalsuan dokumen yang dikeluarkan kepala STM Negeri I Drs W Radjagoekgoek karena tidak mencantumkan laporan polisi tentang penyebab dikeluarkannya surat keterangan dimaksud, tidak dibuat bermaterai secukupnya, pas foto yang bersangkutan tidak dicap stempel sekolah yang mengeluarkan surat keterangan tersebut.
Menurut Wara, masyarakat Karo menggugat ijazah Kena Ukur Surbakti selaku bupati hanyalah sebuah pintu masuk untuk berusaha menggalang kekuatan menjatuhkan kedudukan sang bupati. Bisa saja masyarakat Karo banyak yang sakit hati karena perlakuan bupati sekarang ini yang sudah menjabat dua tahun, karena tidak ada perubahan yang signifikan yang dilakukan. Karo yang dijuluki sebagai daerah wisata kini semakin jorok. Selain itu APBD Karo belum disahkan, itu karena keteledoran dan bisa kena pinalti 25 persen.

Dijelaskan Wara, keresahan di kalangan pegawai juga terjadi karena mutasi dilakukan secara sewenang-wenang seperti Kadis Pendidikan yang baru sebulan menjabat sudah diganti. Masyarakat Karo melihat masalah ijazah ini peluang efektif untuk menjatuhkan Kena Ukur Surbakti . “Supaya masyarakat tidak resah, perlu DPRD Karo membuat tim indepedensi untuk melakukan pengkajian, penelitian tentang keabsahan ijazah Kena Ukur,” bilang Wara.

Sebab, bila memang ada ijazahnya, kata Wara, harus diumumkan kepada masyarakat. Dan bila tidak ada ijazahnya, maka Kena Ukur Surbakti harus gentlemen  mundur. “DPRD Karo harus proaktif mengusut kembali keabsahan Ijazah Bupati Karo Kena Ukur, kalau tidak tuntas dikuatirkan masyarakat akan demo terus “,kata Wara Sinuhaji. (ila)

Plaza Medan Fair Terbakar

Jet Plane Dihancurkan Petugas, Plaza Tak Beroperasi Selama Lima Jam

MEDAN-Asap mengepul di basement Plaza Medan Fair. Karaoke yang terletak di dasar bangunan plaza itu terbakar. Pemadam kesulitan menjinakkan api karena pintu tempat hiburan itu terkunci. Tak pelak, dinding Jet Plane pun dihancurkan petugas kebakaran.

Akibat kebakaran itu, transaksi jual beli di Plaza Medan Fair tak beroperasi. Pantauan Sumut Pos, setiap pintu masuk Plaza Medan Fair dijaga oleh sekuriti

Pengunjung pun dilarang masuk.

Di sisi lain, aktivitas bongkar barang di bagian belakang gedung juga terhenti. Terlihat sejumlah truk dan mobil box terpakir, tanpa ada dilakukan bongkar barang. Terlihat juga SPG dan SPB berkumpul di bagian belakang gedung. Bahkan, para SPG ini sibuk mengabadikan momen itu di kamera ponselnya. “Terbakar Bang. Belum boleh masuk sama sekuriti, jadi nyantai-nyatai saja dulu lah,” ucap seorang SPG dengan nada mentelnya.

Setelah api dinyatakan sudah padam, sekitar Pukul 14.00 WIB, Plaza Medan Fair kembali dibuka. Satu per satu pengunjung pun bermasukkan ke dalam gedung untuk berbelanja.

Kebakaran itu diketahui sekitar pukul 08.30 kemarin. Dinas Pencegah dan Pedaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan dan pihak kepolisian langsung hadir di lokasi selang beberapa menit setelah mendapat laporan. Pihak pemadam kebakaran menurunkan enam armadanya. Namun, pemadam mendapat kendala. Pintu karaoke itu tertutup. Hanya ada satu cara, tembok Je Plane harus dijebol jika tidak mau kebakaran meluas. Dengan menggunakan martil 5 kilogram petugas DP2K Kota Medan bergantian melakukan penjembolan dinding Jet Plane. Akhirnya api dan asap bisa dijinakkan sekitar pukul 14.00 WIB.

“Ya, kita kesulitan karena Jet Plane dalam keadaan tertutup,” ujar Kapolsek Medan Baru Kompol Dony Alexander.

Dony memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Api juga tidak merembet ke ruangan lain, hanya mengakibatkan tembok parkir menghitam. “Api dan asap hitam itu kemungkinan berasal dari terbakarnya panel-panel di ruang karaoke,” jelas Dony.
Dony mengaku mendapat laporan kebakaran pada pukul 08.30 WIB. Bersama DP2K Kota Medan, polisi turun mengamankan lokasi dan mengevakuasi karyawan yang saat itu sudah mulai berdatangan.

Menurut Kepala Pengendalian dan Komunikasi DP2K kota Medan, M Yamin Ritonga, pihaknya juga mengalami kesulitan memadamkan karena apinya tak tampak. “Sehingga membuat kita mencebol bagian dinding Jet Plane,” ungkapnya.

Akibat kebakaran ini, pemilik hiburan malam ini, mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Pangihutan Sihotang Local Presentatif Manager Plaza Medan Fair tidak mau berkomentar banyak soal sumber api. Dia hanya memuji kinerja pihak pemadam kebakaran dan kepolisian. “Kalau penyebab api biar orang labfor yang melakukan pengecekkan,” ujarnya.

Pangihutan Sihotang menerangkan, fasilitas pencegahan kebakaran di Plaza Medan Fair berfungsi dengan baik. “Tapi (hidran) tidak sanggup memadamkan jadi kita bantuan dari pihak pedaman kebakaran,”ungkapnya.

Menurut pengakuan saksi mata, seorang petugas enginering, Jhony, kemungkinan api muncul karena ada korselting. “Aku melihat api terlihat dan menghitam,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan kondisi Jet Plane yang lantai dan dinding dilapisi oleh karpet sehingga api cepat menyelar dan menimbulkan asap tebal.
Pihak Jet Plane enggan memberikan komentar atas kebakara ini. Lina Manajer Jet Plean saat dikonfirmasi di lokasi tidak memberikan komentar malah memilih meninggalkan sejumlah jurnalis yang sedang meliput dilokasi.

Selain menghanguskan bagian ruang Jet Plane, dampak kebakaran juga dialami seorang karyawan Moto Spa, Wahyu Fajar Dillah (21). Warga Jalan Pasundan Gang Sedulur ini pingsan akibat asap tebal yang dihirupnya. “Kejebak di dalam ruangan (Ruangan Moto Spa). Sekarang dia (Wahyu) dibawa ke rumah sakit,” ungkap rekan korban saat di lokasi.

Wahyu yang tidak sadarkan diri langsung dibawa tim medis ke RSVina Estetika Medan menggunakan mobil ambulance yang standby. “Saat melihat asap, kemudian saya masuk ke dalam dan mengeluarkan barang-barang yang sudah saya masukan tadi. Saat saya mengangkat barang dari dalam keluar, asap semakin membesar dan saya pun tadi terjatuh dan pingsan,” jelas Wahyu kepada Sumut Pos di Ruang Elys 13, Lantai III RS Vina Estetika.

Menurut Wahyu, saat kejadian dia bersama dengan temannya pekerja toko yakni Wira sekira pukul 09.30 WIB. “Tak ada ledakan tapi saya lihat asap dan api dari korslet kabel AC yang memanjang menuju Zed Plane. Tak berapa lama kemudian asapnya pun langsung penuh,” bebernya. (gus/jon)

Sebelum Meninggal Sempat Mengucap Allahu Akbar

Detik-detik Terakhir Wamen ESDM di Gunung Tambora (2/Habis)

Selama dua hari satu malam Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bima, Ir Ilham Sabil mendampingi Wakil Menteri (Wamen) Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo. Dialah orang terdekat sebelum Wamen menghembuskan napas terakhir.

Indra Gunawan, Bima

MESKI baru dua hari bergaul dekat, Kadistamben Ilham Sabil  mengaku sudah bisa menilai kalau Wamen orangnya bersahaja dan sederhana. Itu terlihat dari cara berpakaian, cara makan maupun tutur katanya.

Sejak Jumat pagi mendampingi Wamen yang datang bersama Asistennya Puji Tarwinta dan dua orang Kru TV One, Ilham melihat Wamen tidak ingin dilayani secara berbeda. “Wamen tidak ingin dipanggil bapak, cukup dipanggil mas atau Wamen,” kata Ilham Sabil.

Begitu pula saat pesan makanan untuk persiapan di Gunung Tambora. Usai menunaikan Salat Jumat di Masjid Raya Dompu, Baiturrahman, Wamen sempat memesan ekor Ikan kakap, cumi dan udang. Ikan kakap dan cumi dia minta dicampur dengan nasi, kecuali udang yang dibungkus berbeda. “Wamen ternyata tidak suka makan daging,” tambah Ilham Sabil.

Sampai di pos tiga, pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut hari sudah malam. Wamen bersama rombongan Distamben Kabupaten Bima, Distamben Kabupaten Dompu, Tim Pemantau Gunung Berapi Sangyang dan Tambora, serta klub motor berjumlah sekitar 20 orang membangun tenda.
Wamen bersama Ilham Sabil dan seorang Kabid Distamben, tidur bertiga pada tenda kecil. Tenda kecil ini dibangun di dalam tenda besar tempat menginap anggota rombongan lain. Pada malam itu Ilham Sabil banyak cerita dengan Wamen. Ilham sendiri memberikan laporan tentang beberapa potensi sumber energi yang bisa dimanfaatkan untuk listrik, seperti sumber energi panas di Hu’u Kabupaten Dompu, potensi PTMH di Desa Kawinda To’I bisa menghasilkan energi listrik 200 KWH, dan lainnya.

Saat mengobrol itulah, Ilham Sabil mengetahui kalau Wamen ingin menjadikan Tambora sebagai lokasi geo wisata nasional dan internasional. “Wamen juga ingin mengambil gambar Gunung Tambora, sehingga mengajak kru TV One ikut bersamanya. Agar bisa mempromosikan gunung Tambora,” sebutnya.

Tidak itu saja, Wamen juga meminta Ilham Sabil untuk membuat proposal perbaikan sarana menuju puncak Tambora. Antara lain, akses jalan menuju puncak Tambora.

Misi lain dari kedatangan Wamen ESDM, ingin memberikan pencerahan pada masyarakat Bima dan Dompu, terkait fungsi pertambangan. Itu menyikapi banyaknya aksi penolakan tambang di wilayah Kabupaten Bima dan Dompu selama ini. Untuk keinginan itu, Distemben mengaku akan mengagendakan kunjungan berikutnya ke Bima. “Wamen juga sempat mengutarakan keinginannya berkunjung ke Pulau Komodo. Saya sarankan, untuk melalui Bima. Sekalian bisa melihat pantai yang indah di Bima,” katanya.

Karena dinihari mereka akan memulai mendaki Gunung Tambora, malam itu Wamen terlihat tidur pulas. Sementara rombongan lain yang tidur di tenda besar, sebagian besar tidak bisa tidur karena udaranya sangat dingin.

Ilham Sabil menyakini Wamen menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 09.30 Wita. Wamen telah melakukan pendakian hingga pada ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut. Kurang 50 meter untuk sampai dipuncak Gunung Tambora dari arah Selatan. Karena mereka naik dari arah Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Jika naik dari arah Desa Pancasila, puncak Gunung Tambora berada pada ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut.

Diceritakannya, dia bersama beberapa rombongan lain lebih awal sampai di puncak,  pada ketinggian 2.400 meter. Saat itulah dia ingin melihat laju Wamen dan rombongan. Mereka pun ingin foto bersama. Namun, kondisi kondisi lereng gunung yang curam dan berpasir, membuat Ilham dan rombongan harus ekstra hati-hati. Mereka butuh waktu yang cukup lama.

Begitu sampai di bawah, Wamen terlihat sudah tak berdaya. Saat itu, menurut salah seorang rombongan, Wamen sudah kejang-kejang. Ilham langsung meraba urat nadi Wamen pada bagian tangan dan lehernya, sekaligus mengusap kepalanya, sambil membacakan Surat Yasin.

Saat membacakan Surat Yasin didekat mulut Wamen, Ilham mengaku sempat melihat gerakan mulut Widjajono membaca kalimat ‘Allahu Akbar’. Sesaat kemudian, Ilham meraba urat nadi pada bagian tangan dan lehernya. Saat itu, menurutnya, tidak merasakan detak jantung dan diyakini Wamen telah menghembuskan napas terakhir.

Kondisi Wamen seperti itu diakui tidak disampaikan kepada Bupati Bima maupun Bupati Dompu, dengan pertimbangan agar tidak  terjadi kepanikan.  Hanya beberapa orang rombongan yang mengetahui Wamen telah meninggal dunia.

Untuk membawa Wamen turun dari puncak Gunung Tambora ke Pos Tiga berjarak sekitar satu kilometer. Mereka terpaksa menggunakan Tandu yang dibuat dari kayu seadanya. Mereka secara bergantian mengusung Wamen dengan tandu. Tubuh Wamen pun ditutup menggunakan kain sarung milik Ilham Sabil.

Meski jarak ke Pos Tiga hanya sekitar satu kilometer, medan  yang sulit dan curam membuat evakuasi berlangsung sekitar empat jam. Sekitar pukul 14.30 Wita mereka sampai di pos tiga. Sampai di Pos Tiga, satu unit helikopter dari SAR berusaha mendarat. Cuaca tidak mendukung. Heli itupun hanya bisa mutar-mutar di udara.

Wamen selanjutnya dievakuasi menggunakan mobil hardtop menuju Pos Satu. Waktu yang ditempuh mencapai satu setengah jam. Di Pos Satu itu sudah ada dokter yang menunggu yakni dr Hendi. Setelah diperiksa dokter, barulah dipastikan Wamen telah meninggal dunia. “Beberapa saat kita sampai di pos satu, heli datang. Dengan heli itu  mayat Wamen dibawa ke Desa Pekat, kemudian ganti dengan heli yang lebih besar untuk  ke Denpasar,” sebut Ilham Sabil. (*)

Berita sebelumnya: Kaki Keram, Ditandu pada Kemiringan 50 Derajat

Kada Korupsi, Partai Pengusung Di-black list

JAKARTA – Lagi-lagi, pemerintah melontarkan wacana terkait upaya mengerem banyaknya kepala daerah (Kada)  tersangkut kasus korupsi.
Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan mengusulkan, jika seorang kepala daerah terjerat korupsi, maka partai pengusungnya dilarang ikut mengajukan calon di pemilukada berikutnya.

Asumsinya, partai pengusung punya andil menciptakan perilaku korup kepala daerah. Maksudnya, partai pengusung tidak selektif, tidak cermat memilih calon yang berkomitmen antikorupsi. Harapannya, semua partai lebih hati-hati dan tak sembarangan menetapkan calon.

“Partai atau gabungan partai penggusung dilarang mencalonkan kepala daerah setidaknya satu periode. Sehingga mereka harus bertanggung jawab atas calonnya,” ujar Djohermansyah Djohan di Jakarta, kemarin (24/4).

Djohermansyah juga punya dugaan kuat, para calon harus mengeluarkan biaya untuk membeli ‘tiket perahu’ partai pengusung.

Hal itu, lanjutnya, menyebabkan biaya pencalonan menjadi membengkak tinggi.  Dampaknya, mereka saat menjabat kepala daerah berperilaku korup, seperti ‘menjual’ perizinan.  Perilaku seperti ini makin parah jika kepala daerah tak paham aturan pengelolaan keuangan daerah. (sam)

HKTI Sumut Terima Rp500 Juta

Dugaan Kasus Pemotongan Dana Bansos Pemprovsu

MEDAN- Penerima aliran dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara TA 2011, mulai terungkap satu per satu.
Salah satu penerima dana bantuan sosial yang digelontorkan Biro Keuangan Pemprovsu yaitu, DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Sumatera Utara, sebesar Rp500 juta.

Penerimaan dana Bansos Pemprovsu pada DPD HKTI Sumut, sesuai dengan Nota Dinas yang dikeluarkan Kepala Biro Perekonomian Setdaprovsu, yang ditujukan pada Kepala Biro Keuangan Setdaprovsu, dengan nomor 664/EK/II.1/2011 pada 5 Desember 2011, yang ditembuskan pada Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Utara perihal permohonan Bantuan Dana dari P-APBD SU tahun 2011 dan APBD SU 2012, yang ditandatangani Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap.

Dana yang dikucurkan dari Biro Keuangan Pempropsu atas surat permohonan bantuan (proposal) pengembangan usaha ekonomi DPD HKTI Provinsi Sumatera Utara, sesuai surat yang dikeluarkan oleh Kepala Biro Perekonomian H.Bangun Oloan Harahap S,Sos, dana itu diperuntukan modal usaha.
Ketua DPD HKTI Propvinsi Sumatera Utara Gomo Mendropa, pada wartawan Senin (24/4) mengaku, kalau mereka menerima bantuan Bansos dari Pemprovsu Desember 2011 lalu, itupun harus didesak.

“Memang kita terima bantuan itu, namun terlambat ini pun harus kita desak, karena kegiatan kita itu sudah mau berjalan. Tepat minggu pertama Desember (2011) bantuan itu baru direalisasikan,” ujar Gomo Mendropa.

Ketika disinggung wartawan apakah ada pemotongan bantuan yang mereka terima dari nilai yang digelontorkan sebesar Rp500 juta, fungsionaris DPD Partai Golkar Sumut ini, enggan buka mulut.
“Masalah pemotongan itu tidak ada. Jangan lah ditanya masalah itu pada saya, tidak etis lah. Tanya aja pada yang lain. Kalau pemotongan sampai 50 persen tidak ada. Tapi beberapa persen ada. Ya sudah ya, masalah pemotongan tidak ada itu dan jangan tanya saya,” ujar Gomo Mendropa menghindar.
Gomo Mendropa juga mengaku siap memberikan laporan dan keterangan mengenai anggaran Bansos yang diterimanya. Karena anggaran tersebut mereka gunakan untuk kegiatan HKTI. Ia juga mengaku belum ada diperiksa Kejatisu.

“Kegiatan yang kita gelar berupa Diklat Petani di beberapa daerah di Sumatera Utara, yang bekerja sama dengan Universitas di Medan dan Simalungun,” ujar Gomo.

Selain HKTI Sumut, dalam laporan belanja tidak langsung APBD Provsu TA 2011 di Biro Perekonomian Pemprovsu, Koperasi Pemuda Indonesia Medan Jalan Merbabu No 28 lantai 2 Medan (Kantor DPD KNPI Kota Medan) tercantum bahwa koperasi pemuda itu menerima bantuan sebesar Rp50 juta.
Ketua DPD KNPI Kota Medan Zulham Effendi Siregar ST, pada wartawan mengaku kaget soal Koperasi Pemuda Indonesia Medan mendapat bantuan Bansos. “Saya tidak tahu masalah penerimaan dana Bansos itu apalagi sampai Rp50 juta. Koperasi itu tidak ada. Nanti saya cek ya bang, siapa yang bermain ini. Tapi tolong lah bang jangan naikan dulu ya. Tolong ya bang sama-sama kita selidiki,” ujar Zulham.

Sementara itu, Plh Humas Kasi Penkum Kejatisu Ronald Bakkara SH, MH, pada wartawan Selasa (24/4) di Jalan AH Nasution mengaku, belum mengetahui HKTI Sumut menerima aliran Bansos tersebut.

“Saya belum tahu itu. Nanti saya cek ya pada penyidik yang bersangkutan, apakah HKTI Sumut menerima dana Rp500 juta sudah diperiksa atau belum. Namun informasi ini akan kita telusuri, apabila mereka belum kita periksa maka mereka akan kita panggil untuk dimintai keterangan,” janjinya.
Ditambahkan Ronald, pihaknya akan menyelidiki sampai tuntas kasus tersebut. “Soal penggunaan anggaran Bansos itu, kemana saja, berapa yang mereka gunakan dan sisa anggaran kegiatan digunakan kemana? pungkas Ronald. (rud)

Tambang Liar Meledak, 9 Orang Tewas

BEIJING – Industri pertambangan batu bara di China lagi-lagi memakan korban. Senin (23/4) kemarin, sedikitnya 9 orang penambang dilaporkan tewas sementara 16 lainnya luka-luka dalam insiden ledakan di sebuah tambang bawah tanah di kota Bayannur, bagian utara China.

Empat dari keseluruhan korban dilaporkan tewas seketika, sementara sisanya ditemukan setelah tim penyelamat menyisir lokasi tambang beberapa jam kemudian. Seluruh korban yang terluka -empat di antaranya luka sangat parah- sudah dilarikan ke rumah sakit.

“Penyebab kejadian ini masih dalam penyelidikan. Tapi yang jelas pemilik tambang telah mengantongi izin untuk usahanya,” ucap seorang pejabat pemerintah lokal,  seperti dikutip AFP  dari kantor berita nasional Cina Xinhua, Selasa (24/4).

Para pengusaha nakal operator tambang ilegal yang tidak dilengkapi perlengkapan penyelamatan standar memang selalu membuat pusing pemerintah China. Pasalnya, sudah sering  karena kelalaian mereka  berujung tragedi.

Tahun lalu saja, berdasarkan data statistik pemerintah tercatat hampir 2000 orang tewas dalam kecelakaan tambang batubara di China. Ini berarti lebih dari enam pekerja pertambangan telah tewas setiap harinya di negeri yang kini disebut sangat rakus energi tersebut.
(afp/ara/jpnn)

RI Tuntut Pertanggungjawaban Polisi Malaysia

JAKARTA- Pemerintah Indonesia secara tegas telah meminta pertanggungjawaban polisi Malaysia atas terjadinya kasus kematian tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana. Pasalnya, kematian TKI tersebut diduga sebagai korban salah tembak yang dilakukan oleh anggota kepolisian Malaysia.

“Pemerintah  Indonesia meminta kecepatan dan ketegasan sikap polisi Malaysia atas peristiwa ini dan pertanggungjawaban kalau memang salah dalam penembakan ini,” tegas Muhaimin di Gedung Kemenakertrans, Jakarta, Selasa (24/4).

Muhaimin juga mengaku telah mendapat informasi dari Kementerian Luar Negeri bahwa polisi Malaysia sudah siap melakukan penelusuran lebih dalam mengenai kasus tersebut.

“Jika memang terbukti salah, Malaysia harus berani bertanggung jawab atas kejadian ini,” tandasnya.

Sementara itu,  Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Kemnakertrans Reyna Usman mengatakan, pihak Kemenakertrans telah melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Lombok Timur untuk mempercepat penyelesaian kasus ini.
“Menurut informasi yang kita terima, ketiga korban tersebut  merupakan warga Desa Pancor Kopong Pringgasela Selatan dan Pengadangan Kecamatan Pringgasela kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat,” kata Reyna.

Seperti diketahui,  ketiga TKI yang meninggal dunia adalah Herman, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noon yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, dipulangkan dari Malaysia pada tanggal 5 April 2012 lalu.

Ketiganya ditemukan meninggal dunia pada 23 Maret 2012 di kolam pemancingan di Seremban, negara bagian Negeri Sembilan, Malaysia dan surat keterangan yang menyertai mayat ketiganya menyebutkan penyebab kematian adalah luka tembakan
Kecurigaan timbul karena  adanya jahitan tidak wajar yaitu di kedua mata, dada dan perut bagian bawah dan menduga bahwa kematian ketiga TKI tersebut adalah sebagai korban dari perdagangan organ tubuh manusia. (cha/jpnn)

Mengenang Jejak Pahlawan Emansipasi

Arfan Adha Lubis

Tepatnya 21 April 1979 lalu lahir Srikandi Wanita di bumi Jepara. Seorang pahlawan emansipasi yang gigih membebaskan nasib kaumnya dari belenggu adat, tradisi, diskriminasi, penindasan serta eksploitasi.

Dialah Kartini, sumber inspirasi wanita-wanita Indonesia. Kartini menegaskan bahwa perempuan bukan the second human being (manusia kelas dua). Perempuan juga punya kualitas mumpuni, dengan catatan kaum hawa diberi pendidikan setinggi-tingginya.

Menurut Kartini perempuan memiliki peran strategis sebagai lokomotif pertama memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Beliau membuktikan tugas perempuan tidak sebatas di dapur, sumur dan kasur. Tetapi juga kaum perempuan mempunyai hak mengembangkan potensi diri plus meraih cita-cita tanpa melupakan kodratnya.

Hal ini selaras dengan tuntunan ajaran Islam yang tidak pernah mempertentangkan hak laki-laki dan perempuan. Terlebih Islam diturunkan untuk menegakkan syariat bagi seluruh kehidupan manusia. Sehingga laki-laki dan perempuan, sejatinya dapat meraih kemuliaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam….” (Al-Isra’: 70).

Pengorbanan Kartini selayaknya diberi apresiasi tinggi di relung kalbu setiap anak bangsa. Walau Kartini tidak dapat melawan belenggu tradisi dimasanya, namun gaung semangat cita-cita beliau menjadi cikal bakal bangkitnya semangat emansipasi seluruh wanita-wanita Indonesia.
Realitas sekarang, jamak srikandi-srikandi pertiwi membanggakan prestasinya. Menduduki jabatan krusial di berbagai lembaga pemerintah. Memberikan sumbangsih plus kontribusi bagi bangsa. Perempuan di zaman ini semakin menunjukkan eksistensi diri bukan hanya di level domestik tetapi juga di ranah publik. Walau disadari pula belum semua wanita Indonesia mendapatkan hak-haknya.

Namun seiring itu, kita dikejutkan dengan fenomena Wanita Indonesia. Teraktual, kita masih ingat fakta empiris menggetarkan hati, aksi brutal sekumpulan preman menyerang Rumah Sakit Pusat TNI AD (RSPAD). Pembantaian berdarah yang merenggut 2 nyawa dan 4 korban terluka di RSPAD. Siapa sangka dibalik aksi sadis tersebut terdapat seorang wanita, yang mendapat julukan “Kill Bill dari kampung Ambon”. Dialah Irene Sophia Tupessy atau Renny Tupessy, yang ditangkap jajaran Polres Jakarta Pusat di tempat persembunyiannya di Indramayu, jawa Barat (Forum Keadilan, No. 45 Edisi 12-18 Maret 2012).

Sebelumnya srikandi wanita seperti Angelina Sondakh terjerat kasus dugaan korupsi pembangunan wisma atlit di Sea Games Palembang, dan Miranda S. Gultom serta Nunun Nurbaeti yang tersangkut cek pelawat, ketika pemilihan Miranda S. Gultom sebagai deputi senior Bank Indonesia. Fenomena ini sangat kontraproduktif dan kontroversi dari semangat plus cita-cita Kartini.

Sejatinya kaum wanita sekarang tidak terjerembab akibat modernisasi. Notabene menghilangkan identitas dan integritas kodrat kewanitaannya. Idealnya wanita Indonesia tidak kehilangan jati diri serta melupakan kodrat sebagai srikandi. Hal ini sangat urgensi dalam menghadapi dampak globalisasi yang merasuk seluruh sendi-sendi kehidupan.

Sementara di sisi lain belum semua kaum wanita Indonesia mendapatkan kesempatan emasnya. Masih banyak menjadi korban eksploitasi, kekerasan, diskriminasi bahkan pelecehan seksual. Fenomena terakhir dilihat pahlawan-pahlawan Visa Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat siksaan yang melampaui batas-batas kemanusiaan. Mereka disetrika, diperkosa, plus dianiaya serta tidak diberikan hak-hak sebagai manusia merdeka. Sebagian lagi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang hampir terjadi dalam semua lapisan dan golongan masyarakat.

Data dan fakta tentang para korban menunjukkan dengan gamblang bahwa semua perempuan dari berbagai lapisan sosial, golongan pekerjaan, suku, bangsa, budaya, agama maupun rentang usia rentan tertimpa kekerasan (Farha Ciciek: 2005).

Perlakuan kejam plus tidak manusiawi dialami sebagian srikandi mengakibatkan berbagai macam penderitaan, rasa tidak berdaya, depresi, putus asa, bahkan berpotensi melakukan aksi bunuh diri.

Namun sebagian memilih tetap tegar, kembali menjalankan roda kehidupan. Tidak sedikit mutiara bangsa ini tulang punggung keluarga. Tetap setia, tak pernah mengeluh bergelut di denyut kehidupan yang begitu keras. Tegar mempunyai semangat baja menafkahi buah hati si belahan jiwa. Kisah heroik tersebut boleh jadi kerap terjadi di seantero negeri.

Kartini & Pendidikan

Pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya. Kartini menyadari pendidikan bekal utama bagi wanita untuk mengerti hak dan tanggungjawabnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan kaum perempuan akan lebih mampu menentukan jalan hidup sendiri. Dengan pendidikan perempuan akan bangkit berjuang mematahkan belenggu peradaban.

Perjuangan tersebut akan menghasilkan buah yang disebut Kartini sebagai persamaan hak yang telah terbayang di udara (Y.B. Sudarmanto: 1996). Kartini berpendapat perempuan harus mengecap bangku pendidikan dan mendapatkan cakrawala pengetahuan seluas-luasnya.

Pemikiran srikandi mulia itu sangat mumpuni. Notabene di tengah kehidupan sekarang yang begitu kompetitif dalam segala lini kehidupan. Idealnya wanita Indonesia harus cerdas, memiliki pengetahuan dan tidak hanya cantik fisik semata.

Penutup

Habis gelap terbitlah terang merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang dibukukan sahabat-sahabatnya. Seorang srikandi Pertiwi yang begitu besar jasanya untuk perempuan Indonesia. Walau Kartini tak sempat mengecap hasil perjuangannya, beliau merupakan mutiara bagi bangsa Indonesia. Terimakasih dan Hormat Ku kepada Mu Wahai Pahlawan Emansipasi.

Penulis adalah Alumni FH-UMSU,
Kandidat Magister Program Pascasarjana Ilmu Hukum UMSU

Jaksa Kukuh Tuntut 80 Tahun, Sidang Pembunuhan Teller BRI Syariah Ricuh

MEDAN-Sidang lanjutan pembunuhan teller BRI Syariah, Sri Wahyuni Simangunsong kembali digelar di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri Medan, Selasa (24/4).

Sidang dengan agenda pembelaan tersangka (pledoi) Erwin Panjaitan, Ria Hutabarat, Eva Lestari Surbakti dan Suherman dihadiri puluhan pengunjung dan dikawal personel polisi.

Sebelum sidang dimulai, para tersangka dimasukkan ke dalam tahanan Pengadilan Negeri Medan. Erwin Panjaitan, Suherman di tahanan pria sedangkan Eva Lestari Surbakti dan Ria Hutabarat di tahanan wanita. Sambil menunggu panggilan sidang, reporter mencoba melihat ruang tahanan wanita yang ditempati oleh 9 tahanan wanita, yang di dalamnya ada Ria Hutabarat (istri Erwin) dan Eva Lestari Surbakti (istri Suherman). Tak ada raut sedih di wajah kedua tersangka. Bahkan, mereka berdua asyik mengobrol dengan polisi dan pengawal tahanan Kejari Medan dari balik jeruji besi. Sesekali, keduanya tertawa sambil memainkan ponsel yang diberikan oleh seorang pegawai Kejari Medan.

Sekitar pukul 13.00 WIB, sidang pun dimulai. Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Agus Setiawan SH. Hakim memberikan kesempatan kepada pengacara terdakwa untuk menyampaikan pembelaan.

Dalam pembelaan, pengacara tersangka mengatakan bahwa keempat tersangka memang melakukan perampokan, tapi apakah mereka menbunuh juga. Apalagi Erwin Panjaitan, selama perjalanan dari Medan menuju Samosir mengemudi mobil dan dari beberapa saksi yang dipanggil, seluruhnya tidak ada yang mengetahui persis bagaimana pembunuhan itu terjadi.

“Peran Erwin adalah menyetop dan membawa mobil, Jadi mengapa jaksa menjeratnya dengan pasal 365 ayat 4 sedangkan para saksi tidak ada yang tahu jelas siapa pelaku pembunuhan itu,” jelasnya.

Karena JPU, P Siburian tetap pada tuntutannya menghukum keempat terdakwa selama 80 tahun penjara dan pengacara tetap pada pembelaannya, hakim pun mengundur sidang hingga Selasa (8/4)mendatang.

Usai sidang tiba-tiba saja keluarga korban berteriak minta supaya hakim menjatuhi hukuman seumur hidup kepada keempat tersangka.
“Hukum saja mereka seumur hidup Pak, karena mereka telah membunuh anakku, dasar pembunuh, nyawa harus dibayar nyawa,” ujar Khainidar, ibu Sri Wahyuni. Polisi yang sudah dari awal sidang berjaga, langsung menyuruh pengunjung keluar ruang sidang.

Ketika polisi mengawal terdakwa keluar dari ruang sidang, keluarga korban yang masih menunggu di luar langsung mengejar keempat terdakwa. Salah satu keluarga korban sempat menarik selendang milik Ria Hutabarat dan membawanya.  (gib/smg)

KUPJ Terbang Hantam IRT

MEDAN- Sambil terus mengucap syukur, Asnah  terlihat pucat. Wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu selamat dari maut setelah angkutan umum KUPJ terbang dan menghancurkan sepeda motor yang dikendarainya di Jalan Padang, Kec Percut Sei Tuan, Selasa (24/4) dini hari.

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 01.00 WIB. Asnah mengaku saat itu ia sedang melintas di Jalan Padang bermaksud pulang ke rumahnya melewati rel menuju Jalan Rajawali, Medan.

Namun belum lagi sampai di rel sebuah mobil angkutan umum KUPJ melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam besi pembatas rel. Mobil BK 7093 DN  langsung terbang ke arah Asnah yang sedang melaju pelan diatas sepeda motornya.
Melihat mobil terbang kearahnya, Asnah langsung lompat dari atas sepeda motor. Sepeda motor Honda Supra X BK 3066 UU milik Asnah pun ringsek ditimpa KUPJ itu.

“Mobil itu sudah dekat kali, kulihat sudah terbang kearah ku. Entah apa yang buat aku bisa reflex dan langsung lompat, luka-luka nggak ada cuma tanganku saja yang sakit karena menahan badan tadi,” ujar Asnah di TKP sambil menunjuk ke arah KUPJ yang menimpa mobilnya.
Melihat peristiwa itu, dalam hitungan detik warga sekitar langsung berkumpul di TKP. Warga yang kesal lalu berteriak-teriak meminta supir bus tersebut keluar.

Awalnya supir mabuk itu tak mau keluar. Emosi, warga langsung membuka pintu bus dan menarik supir yang terlihat sempoyongan itu dari dalam bus.
Tanpa dikomando, warga yang kesal langsung menghajar supir. Beruntung para orang tua di sekitar TKP langsung mengamankan supir itu dan menghungi Polsek Percut Sei Tuan.

Tak lama, supir itu langsung diboyong menuju Pos Lantas Percut Sei Tuan. Sementara Asnah yang tinggal di Jalan Parkit 10 Perumnas Mandala, Kec Percut Sei Tuan dimintai keterangan oleh pihak Kepolisian.

“Dari mulutnya tercium aroma alkohol, baru siap minum dia itu bang. Mabuk-mabuknya aja dibawanya,” ujar Parlin Tamba (23) warga sekitar yang juga menyaksikan manuver maut bus KUPJ itu.

Belakangan diketahui, supir mabuk itu bernama Arihta Ginting (50) warga Perumnas Mandala. Sebelumnya, Arihta baru saja pesta minum minuman keras bersama rekannya sesama supir.

Saat akan pulang kerumahnya di Jalan Rajawali Perumnas Mandala Arihta oleh dan menyenggol seorang ibu-ibu yang sedang berjalan. Warga yang melihat langsung meneriaki dan mengejar Arihta. Tak mau konyol, Arihta pun tancap gas menuju Jalan Padang. (ala/smg)