Home Blog Page 13613

Gatot Batal Berikan SK Pemberhentian Bupati Palas

MEDAN- Rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) menyerahkan Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang pemberhentian Bupati Padanglawas Basyrah Lubis, Kamis (18/4) kemarin, akhirnya ditunda.

Dalihnya adalah di Padanglawas tengah ada rapat di DPRD Kabupaten Palas, yang dihadiri Bupati dan Ketua DPRD Palas.
Hal itu dikemukakan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho, yang dikonfirmasi mengenai kepastian pemberian SK pemberhentian tersebut, Kamis (19/4).

Menurutnya, Pemprovsu sudah mengagendakan kembali pemanggilan atau undangan terhadap Bupati Palas dan Ketua DPRD Palas, hari ini Jumat (20/4), untuk menyerahkan langsung SK pemberhentian itu.

“Semestinya, hari ini (Kamis,red) kita serahkan, tapi kemudian kemarin ada surat pemberitahuan dari Palas, Bupati dan Ketua DPRD-nya sedang mengadakan rapat,” dalih Gatot.

Menurutnya, Pemprovsu sudah mengagendakan kembali pemanggilan atau undangan terhadap Bupati Palas dan Ketua DPRD Palas, hari ini Jumat (20/4), untuk menyerahkan langsung SK pemberhentian itu.

“Jadi saya undang kembali besok (hari ini, red), mudah-mudahan tidak ada halangan lagi,” jawabnya.

Saat kembali dipastikan, memang benar apakah SK tersebut sudah diterima olehnya (Gatot, red) dari pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Gatot menegaskan, surat itu telah diterima Pemprovsu dari Kemendagri dengan cara dijemput oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) Nurdin Lubis, Kamis (12/4) lalu.

“Kamis lalu, SK nya sudah diterima dan dijemput Sekda (Nurdin Lubis, red) ke Kemendagri,” katanya.
Saat ditanya, siapa pengganti bupati yang diberhentikan itu, Gatot enggan menjawabnya. “Kita lihat nanti saja ya,” tutupnya.(ari)

Tiap Hari Berhias

Bawaan Hamil Kedua Nirina Zubir

Bukan Nirina Zubir (32) namanya kalau tidak selalu ceria dan penuh senyum. Begitu juga ketika dia menghadiri acara Long Lasting Commitment bersama Pantene (18/4) di Klub Bimasena, Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Nirina yang hamil besar itu tampil cantik dengan gaun putih. Meski geraknya mulai terbatas, perempuan yang akrab disapa Na tersebut tetap percaya diri.

Istri Ernest Cokelat itu mengungkapkan, hasil pemeriksaan USG, bayi di dalam kandungannya berkelamin laki-laki. Namun, bawaan kandungan kedua itu sangat berbeda dari saat dirinya mengandung Zivara, putri pertamanya.

“Waktu anak pertama itu, jujur, saya malas mandi. Kalau yang sekarang, pasti mandi. Pergi atau nggak pergi, pasti mandi. Sudah begitu, wajah, rambut, kuku, beneran dirawat. Mungkin diingetin sama anak (dalam kandungan), mami nih mentang-mentang udah jadi emak nggak mau merawat diri. Gitu kali ya,” ujarnya.

Dia menyatakan, si jabang bayi telah membuat dirinya jadi lebih cantik sebagai seorang ibu. “Dia (menunjuk perut) bikin saya sadar fisik. Sekarang tiap hari saya pakai riasan lho. Sekadar eyeliner, maskara, itu pasti. Walau, penggemukan itu pasti terjadi ya,” imbuhnya.

Kandungan perempuan yang biasa dipanggil Na tersebut sekarang sudah berjalan enam bulan. Berat badannya pun bertambah. Na terlihat semakin berisi. Ditanya jumlah penambahan berat badannya, bintang film Get Married tersebut bilang tidak tahu. Dia memang tidak ingin tahu berapa kilo kenaikan beratnya. “Nggak tahu. Nggak pernah ngitung. Kalau ke dokter, ya udah Dok, tulis aja, nggak usah kasih tahu saya,” ungkapnya lantas tertawa.
Na tidak tahu penyebab pengalaman yang berbeda dari kehamilan pertama itu. Tapi, dia merasa lebih aktif saat hamil kedua ini. Dirinya juga tidak bermasalah dengan makanan. Apa saja bisa masuk. “Anaknya baik sekali. Waktu itu, kebetulan saya ada survei kerjaan. Saya jalan beberapa kilo juga santai-santai saja. Malah, bapaknya yang sudah panik. Dia menyarankan untuk istirahat dulu. Tapi, saya sih nggak masalah jalan terus. Alhamdulillah-nya, baby-nya kuat banget,” terangnya.

Na mulai mengenalkan bayi di kandungannya itu kepada Zivara yang berusia dua tahun. Tujuannya, Zivara tidak cemburu ketika adiknya lahir. Selain itu, pengertian diberikan Na supaya Zivara paham kenapa sekarang dirinya tidak bisa menggendong putrinya lagi. (jan/c5/ayi/jpnn)

Tebingtinggi Bebas DBD 2013

TEBINGTINGGI- Bertugas memantau perkembangan bibit nyamuk berbahaya aedes aegypti penyebab demam berdarah (DBD), para kader Jumantik (juru pemantau jentik) Kota Tebingtinggi diminta melaporkan temuan wabah DBD.

“2013 Kota Tebingtinggi terbebas dari penyakit demam berdarah. Untuk keberhasilan itu, kita membentuk Kader Jumantik di kota ini,” terang Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan dalam pertemuan Monitoring Evaluasi Kader Jumantik Tahun 2012 di Gedung Asber Nasution, Kota Tebingtinggi, Kamis (19/4).

Untuk mengetahui keadaan daerah setempat tentang penyebaran virus demam berdarah, dikatakan Wali Kota, per triwulan akan diadakan evaluasi, di mana daerah yang tidak ada (nihil) pasien DBD, maka akan diberikan reward tersendiri sebagai bukti keberhasilan Jumantik tersebut.  “Dengan adanya kader Jumantik, penyakit demam berdarah bisa kita cegah sedini mungkin,” jelas Umar.

Sementara itu, Kadis Kesehatan Kota Tebingtinggi, Ramses Siregar melaporkan, Kader Jumantik yang disebar ada 2 orang di setiap lingkungan di Tebingtinggi. “Dalam laporannya, Jumantik diwajibkan menerangkan di mana lokasi jentik dan jenis jentik nyamuk apa saja yang mereka temukan sekaligus membagikan bubuk abate kepada warga yang mereka kunjungi,” terang Ramses Siregar.

Salah seorang kader Jumantik, Darwin Purba dari Kelurahan Tanjung Marulak menanyakan status pasien DBD yang biasanya gratis di rumah sakit, tetapi ada warga yang dipungut biaya.

Wali Kota menjelaskan, penggratisan biaya DBD kalau terjadi kejadian luar biasa kasus DBD, sedangkan kalau hanya satu atau dua orang maka berlaku tarif seperti biasanya. “Kalau dia memiliki jamkesda ya itu gratis, tapi bila tidak maka dia bayar,” jelas Umar menerangkan pertanyaan kader Jumantik.  (mag-3)

FMP TNGL Nyaris Bentrok dengan Warga Penggarap

LANGKAT- Dua kubu masyarakat dari Forum Masyarakat Peduli (FMP) Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) wilayah Teluk Aru, Langkat dengan masyarakat eks pengungsi Aceh penghuni kawasan TNGL, nyaris bentrok, Kamis (19/4).

Untungnya, polisi bertindak lugas menghentikan terjadinya bentrok antara ratusan warga tersebut, sehingga benturan fisik antar warga dapat terhindar. Pun begitu, suasana di lokasi kejadian masih cukup tegang. Ratusan warga eks pengungsi Aceh, masih bersiaga di berbagai kawasan di wilayah TNGL.
“Polisi menengahi ancaman terjadinya bentrok antara warga tergabung dalam FMP TNGL wilayah Teluk Aru dengan warga mendiami sekitar TNGL. Peluang terjadinya benturan fisik antara dua kubu diperkirakan sangat terbuka, kehadiran FMP sudah dinantikan warga sekitar lokasi,” kata Asril salah seorang warga Kecamatan Besitang, Langkat, Kamis (19/4).

Lebih lanjut diceritakan dia, kehadiran sepasukan polisi dari Polres Langkat mampu meredam niatan FMP TNGL wilayah Teluk Aru yang sedikitnya mempersiapkan 200 warga guna mengusir paksa warga penggarap mendiami area diduga kawasan TNGL. Sebaliknya, warga mendiami area juga tidak serta merta diam dengan niatan itu dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan bakal mereka terima.

Kasat Reskrim Polres Langkat, AKP Aldi S, ketika dihubungi ke selularnya mengakui sedang berada di lokasi. Pihaknya berupaya keras menghalau kedua kubu terlibat bentrokan dengan memberikan pengertian.

“Ya kita sedang ada di lokasi saat ini, warga forum juga sudah memasuki area yang diduga wilayah TNGL didiami warga lainnya. Kita berupaya menengahi agar tidak terjadi konflik antara kedua pihak,” singkat Aldi.

Seperti diketahui sebelumnya, Kamis (12/4) lalu, warga FMP TNGL Wilayah Teluk Aru mendatangi DPRD Kabupaten Langkat mengadukan kondisi di seputaran area TNGL didiami warga lain. Keadaan itu, menurut FMP sangat mengkhawatirkan karena dugaan terjadinya perambahan yang menyebabkan ancaman bencana seperti yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Kriswondo maupun Syafril Anwar mewakili FMP TNGL Teluk Aru ketika itu menilai, persoalan TNGL tidak pernah selesai bahkan ada sebahagian warga bertempat tinggal di kawasan dimaksud. Walaupun aparat polisi dan TNI telah pernah melakukan eksekusi namun tidak tuntas. Bahkan, ditengarai perambahan di paru-paru dunia tersebut masih berlangsung.

Makanya, keduanya mempertanyakan, bila perambahan dibenarkan dan sebagai bahagian masyarakat Langkat meminta kepada pemerintah agar diberikan legalitas melakukan perbuatan sama.

“Bila memang kawasan TNGL bisa dimiliki, kami mau merambah satu rantai saja,” timpal Marhalim dan Mariani saat menyampaikan aspirasi di hadapan Wakil Ketua DPRD Langkat Abdul Khair dan Suhardi Surbakti serta segenap anggota Komisi I (Bid Hukum dan Pemerintahan) Tarsan Naibaho, Kristina Bangun, Rahman, Sri Wahna Kaban serta mewakili BPN Langkat maupun Dinas Kehutanan Perkebunan (Hutbun) beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), akan menggunakan upaya hukum guna menyelesaikan persoalan warga eks pengungsi Aceh di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Penegasan itu dikemukakan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho menjawab pertanyaan wartawan, usai menghadiri acara pelantikan Dewan Perwakilan wilayah (DPW) Asosiasi Pedagang kaki Lima Indonesia (APKLI) Provinsi Sumatera utara, Kamis (19/4) di Pendopo Universitas Sumatera Utara (USU).(jie/ari)

Alves Marahi Fans Messi

SIKAP kurang bersahabat ditunjukkan bek Barcelona Dani Alves kepada pengagum Lionel Messi di lobi Hotel Grosvenor House, London, kemarin dini hari. Bek asal Brasil itu berteriak histeris mengusir para fans.

Insiden yang tidak menyenangkan itu terjadi satu jam sebelum pertandingan first leg semifinal Liga Champions antara Chelsea kontra Barcelona, kemarin dini hari. Ketika itu, tiga pengagum Messi bersua idolanya di lobi hotel.

Kebetulan, mereka menginap di hotel yang sama dengan para bintang Barcelona. Para fans Messi itu bernama James McWatt, Ryan Hill, dan Steve Carruthers. Kesempatan bertemu Messi tidak mereka sia-siakan, mereka meminta sang pujaan menanda tangani jersey Barca mereka.
Messi tidak masalah dan terganggu dengan situasi itu. Bahkan, dia ingin menandatangani jersey Barca milik McWatt. Sayang, belum dilakukan, tiba-tiba Alves yang baru turun dari kamarnya ke lobi hotel langsung berteriak histeris.

Alves melarang para fans itu untuk meminta tanda tangan Messi. “Alves datang dan kemudian berteriak tidak tidak. Dia bertingkah seperti orang gila di depan kami. Dia marah-marah memakai bahasa Spanyol,” cerita McWatt kepada The Sun.

Keadaan pun memanas. Alves sempat beradu mulut dengan para fans dan kemudian datangkan beberapa rekan-rekannya seperti Jose Pinto, Adriano, dan Alexis Sanchez. Pertikaian antara beberapa pemain Barca dengan fans Messi itu akhirnya dilerai tim keamanan klub.
“Saya Sempat merekam kejadian tersebut. Kami sama sekali tidak berbuat keributan dan kami juga tidak mabuk. Kami hanya sangat gembira karena bertemu dengan Messi, idola kami,” bilang McWatt.

Insiden itu sontak membuat respek ketiganya kepada klub asal Catalan itu sirna. Padahal, sebelumnya mereka mengidolakan Barcelona dan Messi. Atas insiden itu, tidak ada penangkapan yang dilakukan polisi. Barcelona dan Alves sendiri menolak berkomentar soal kejadian di lobi hotel itu. (ham/jpnn)

Aksi Coret Baju Siswa Medan Usai UN

Sudah Dilarang, Siswa Tetap Coret Baju

Seluruh kepala sekolah sudah diimbau Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Rajab Lubis, untuk melarang siswa didik melakukan coret baju usai pelaksanaan Ujian Nasion (UN) tingkat SMA/MA.

Nyatanya, imbauan tersebut tak diterge para siswa. Mereka tetap mengapresiasikan diri lewat aksi coret baju di luar lingkungan sekolah begitu UN usai.
Di SMAN 5 Medan, ratusan siswa terlihat begitu antusias saat melakukan aksi coret baju di depan sekolahnya yang berlokasi di Jalan Pelajar nomor 14, Kamis siang (19/4) sekitar pukul 13.15 WIB.

Menggunakan tinta piloks dan spidol berbagai warna, puluhan siswa tak canggung untuk saling mencoret baju hingga rambut mereka. Bahkan puluhan siswa juga nekat berada di tengah jalan untuk mengabadikan kegiatan mereka dengan kamera yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Alhasil aksi coret baju di depan sekolah itu, sempat mengganggu pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Bagi Haris, salah satu siswa, aksi tersebut merupakan tradisi setiap tahun usai melaksanakan ujian nasional.

“Ini sebagai bentuk  luapan kegembiraan kami, karena  telah melewati masa-masa yang menegangkan. Ini juga momen setahun sekali, jadi tidak ada salahnya kami melakukan ini sebagai kenang-kenangan ,” ujarnya.

Melihat kondisi itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Medan, Lindawati mengaku, jika pihaknya sudah memberikan imbauan dan melakukan razia kepada siswa guna menghindari  aksi coret seragam sekolah ini.

Hanya saja aksi  ini terjadi di luar lingkungan sekolah, yang bukan lagi menjadi tanggung jawab sekolah.
“Kami sudah mengimbau siswa agar tidak ada aksi coret baju. Tetapi kalau tetap berlangsung kita tidak bisa ambil sikap karena hal itu dilakukan di luar sekolah bukan di dalam sekolah ,” katanya.
Sementara itu aksi coret baju juga dilakukan para siswa SMAN 7 Medan. Meskipun hanya menggunakan spidol, namun tidak menyurutkan para siswa untuk tetap melakukan aksi coret baju.
“Sebelum ujian kita telah mengimbau para siswa untuk tidak melakukan aksi coret baju. Bahkan kita juga menggeledah tas siswa dan menyita tujuh cat piloks dan 15 spidol milik siswa,” kata Kepala Sekolah SMAN 7 Medan, Daud saat ditemui di sekolahnya.

Sementara itu, guna minimalisir aksi coret-coretan yang kerap dilakukan oleh siswa di Kota Medan, usai melaksanakan Ujian Nasional (UN), para siswa dan para guru Sekolah SMAN 3 Medan melakukan doa bersama serta diikuti dengan pengumpulan pakaian seragam sekolah.

“Coret-coret baju merupakan tindakan mubajir dan tidak mencerminkan kepribadian seorang kaum intelektual, dan itu sangat menyedihkan serta memprihatinkan sekali, dimana usai melaksanakan UN, yang notabene adalah cara untuk menentukan kualitas mutu pendidikan malah dikotori dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moral dengan melakukan coret-coret seragam sekolah, dimana, diseragam sekolah tersebut memiliki nilai-nilai kebangsaan yang harus dihargai, karena di dalamnya memiliki nilai tertinggi dalam menggapai cita-cita dan masa depan,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Emiruddin Harahap di hadapan sejumlah siswa, usai melaksanakan UN.

Menurut Emir,  aksi coret-coret yang dilakukan oleh siswa di Kota Medan, tanpa terkecuali juga dilakukan oleh siswa SMA Negeri 3, yang selama ini terjadi diakuinya merupakan luapan euforia para siswa usai melaksanakan UN.

Namun, mengapa tradisi yang mubajir tersebut tidak diubah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.

“Satunya yakni dengan mengumpulkan seragam sekolah bekas, adalah kegiatan positif yang harus dilakukan oleh seluruh siswa di kota Medan, terutama siswa SMA Negeri 3. Dengan kegiatan ini, diharapkan nantinya hasil pengumpulannya bisa dipergunakan atau didistribusikan kepada adik-adik kelas atau orang-orang yang tidak mampu, dan itu sangat mulia serta mencerminkan seorang kaum intelektual,” ujarnya. (uma)

Baru Cerai Langsung Bugil

Heidi Klum

Belum satu bulan resmi bercerai, Heidi Klum lagi-lagi jadi sorotan dengan pose bugilnya untuk majalah Allure edisi terbaru. Janda penyanyi Seal ini tampaknya tidak ragu untuk memamerkan tubuh seksinya pada publik. Dalam foto tersebut, Klum benar-benar memanfaatkan kedua tangannya untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya. Sementara tangan yang satu menutup bagian kewanitaan, tangan yang lain dengan lihai menutup bagian dadanya sehingga tidak terlihat di depan kamera.

Di usianya yang sudah menginjak 38 tahun, supermodel asal Jerman ini masih tetap tampil menawan. Tubuhnya terlihat ramping meski telah melahirkan empat orang anak. Dengan bangganya, Klum menyatakan tidak pernah menjalani bedah plastik. Semua orang memiliki pandangan masing-masing mengenai kecantikan. Namun, bagi Klum, bedah plastik tidak membuat orang terlihat lebih cantik, terutama pada gadis muda.

Sementara di balik perceraiannya, terungkap alasan karena Seal bertemperamen tinggi. Pelantun Kiss From Roses ini punya perilaku buruk dan Klum khawatir itu akan berdampak negatif terhadap anak-anaknya. “Prioritas utama Klum selalu pernikahan, tapi ia merasa sikap Seal membuat mereka tidak akan menemukan jalan yang sama,” ungkap sumber. (rm/jpnn)

Gugatan Pasien Pirngadi Sudah di Pengadilan

MEDAN-Keluarga  menggugat manajemen RSU dr Pirngadi Medan Rp 3,16 miliar, terkait  tewasnya Ganda Hermanto Tua Nainggolan (19), karena disuruh pulang saat masih kritis oleh petugas medis RSUD dr Pirngadi Medan.

Gugatan didaftarkan oleh Roder Nababan SH dan Sobambowo Bu’ulolo SH dari Badan Layanan Hukum (BLH) Sekolah Sumatera Utara. Dalam gugatan itu tuntutan keluarga terdiri dari kerugian materil sebesar Rp228 juta dan inmateril sebesar Rp2,932  miliar. Menurut rencana sidang pertama akan digelar pekan depan.

“Harapan saya semoga keluarga dimenangkan dan ada efek jera yang didapat RS Pirngadi atas kasus ini. Mengingat kasus seperti ini tidak hanya menimpa keluarga Ganda, namun juga masyarakat lainnya,” kata Pdt Dikson Panjaitan, salah satu pendeta yang peduli atas kejadian yang menimpa korban.
Dikson juga menilai Pirngadi sebagai rumah sakit milik pemerintah, seharusnya melayani masyarakat kecil tapi tidak menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Dia juga menilai, kejadian yang menimpa keluarga Ganda adalah bentuk ketidakmanusiawian dan tidak memiliki bentuk sosial bagi sebuah rumah sakit pemerintah.

“Apalagi kita tahu ibu Ganda tidak mengerti untuk urusan seperti ini. Kita harapkan ada keadilan yang didapat oleh orang kecil seperti mereka,”ucapnya.
Sementara itu Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin mengaku belum menerima laporan secara resmi dari pihak pengadilan.

“Memang belum ada pemberitahuan secara resmi kepada kita mengenai adanya proses pengadilan yang berjalan. Kalaupun kita dipanggil, kita dengar dulu tuntutan mereka. Karena tuntutan itu juga haknya pasien menyampaikan ketidakpuasan pelayanan yang diberikan rumah sakit,”ujarnya.
Masih menurut Edison untuk gugatan perdata maka pasien yang akan membuktikan kesalahan rumah sakit dan bukan sebaliknya. Edison juga mengaku tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut karena hal ini sudah masuk proses pengadilan.

Edison mengaku, sudah melakukan upaya pertemuan dengan keluarga pasien dengan pimpinan rumah sakit.
Sekadar diketahui, Ganda Hermanto Tua Nainggolan dirawat di RSUD dr Pirngadi sejak (20/2).

Dirinya dirawat selama lebih kurang 40 hari di ruang XVIII, Flamboyan lantai satu dengan status penyakit pembengkakan jantung.
Dari pengakuan sang ibu, Berlian br Tamba (56), saat ditemui dikediamannya, Jalan Panglima Denai, Gang Soda tepatnya di Rumah Susun milik Pemko, Selasa (17/4),  anaknya disuruh pulang karena masa waktu kartu Medan Sehat menggunakan kasuistik atau rekomendasi dari dinas kesehatan anaknya telah habis.

Sehingga harus dipulangkan untuk perpanjangan kartu, agar diperkenankan untuk dirawat lagi di rumah sakit.
“Saat itu anak saya masih kritis dan dan butuh perawatan. Tapi kenapa tidak diberikan keringanan untuk mengurusnya tanpa harus menyuruh pulang anak saya,”sesalnya.

Dirinya juga menyesalkan pengakuan rumah sakit menganai adanya permintaan pulang dari pihak keluarga untuk mengikuti ujian nasional (UN). Bahkan Berliana yang saat itu menandatangani permintaan pulang yang diberikan rumah sakit, tidak pernah tahu isi surat tersebut, karena harus menemani  anaknya yang terus merengek menahankan sakit.

“Lebih baik anakku tidak lulus ujian dibandingkan harus menahankan sakit. Gurunya saja bahkan menjamin untuk mengantarkan soalnya ke rumah sakit agar bisa mengikuti ujian,” ucapnya.

Ironisnya kepulangan Ganda ke kediamannya, Kamis (29/3) lalu itu tidak bertahan lama. Pasalnya, dua jam tiba di kediamannya, Ganda menghembuskan nafas terakhirnya karena sesak nafas akibat kehabisan oksigen.

“Waktu di rumah sakit anak saya sudah gak mau pulang karena gak mau lepas oksigen. Bahkan saat tiba di rumah, anak saya menangis minta oksigen,” sebut wanita yang berjuang sendirian membesarkan ketiga anaknya sepeninggal suaminya pada 2002 silam .

Bahkan dari pengakuan Berliana, ketika di rumah sakit, anaknya bisa menghabiskan dua tabung oksigen per harinya, jika kekurangan oksigen maka dampak yang terjadi, tubuh anaknya akan membiru.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini notabenenya adalah seorang anak yatim dan bertahan hidup dari seorang ibu yang bekerja hanya ditempat penampungan barang bekas.

Dengan proses berjalannya pengadilan nantinya, tidak banyak yang diharapkan oleh Berlian.

“Cukuplah saya sendiri yang merasakan kepedihan ini. Saya tidak mau ada orang lain  menjadi korban karena kemiskinannya,”ucap Berlian dengan isak tangis penuh kesedihan.

Sepeninggal kepergian anak bungsunya itu Berlian mengaku tak lagi mampu untuk mencari nafkah dan lebih bergantung kepada kedua anaknya. Dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sendirian dan mengingat masa-masa yang pernah dilaluinya bersama sang anak.
“Hingga saat ini sudah lima kali aku ke kuburannya (Ganda). Sering kutanya sama dia, bisa gak dia nyelesaikan soal UN nya,”ucapnya yang mengaku seperti orang stres sering berbicara sendiri di kuburan anaknya.

Tak jarang untuk mengenang anaknya, Berlian sering memperhatikan anak dilingkungannya yang akan berangkat sekolah mengikuti UN.
Bahkan Berlian sempat berfikir untuk ke sekolah anaknya di SMAN 21, dan menggantikan posisi anaknya mengikuti UN yang tengah berlangsung.
“Sesedihnya ditinggal suami lebih sedih lagi ditinggal anak yang sudah kubesarkan 18 tahun lamanya. Kalau seandainya bisa, aku maunya tidur di kuburannya untuk menemaninya setiap hari disana,”ucapnya dengan deraian air mata yang tak pernah henti ketika mengenang sang buah hati.
Meskipun kenangan itu tak kan bisa terulang, kini Berlian hanya bisa berharap sebuah keadilan berpihak kepada keluarganya. (uma)

Situmeang se-Sumut Ancam Nginap

Marga Situmeang se-Sumut dan se-Kota Medan mengancam aksi menginap di RSU dr Pirngadi.

“Jika pihak rumah sakit tak mau meminta maaf kepada keluarga Mualtua Situmeang (32) dan istrinya, Rini O Sinaga (25), maka Jumat (20/4) hari ini seluruh marga Situmeang se-Sumut dan se-Kota Medan akan melakukan aksi menginap di halaman RSU dr Pirngadi Medan,” kata Sugianto Situmeang, salah satu pengurus marga Situmeang Sumut,  didampingi Israel Situmeang, pengurus marga Situmeang Kota Medan, Kamis (19/4) siang.

Menurutnya, ini jelas-jelas kesalahan dan ini tak bisa dibiarkan karena yang menjadi taruhannya nyawa manusia.

“Dirut RSU Dr Pirngadi harus dicopot dari jabatannya karena tak becus dalam memimpin rumah sakit. Rumah sakit jangan dijadikan ajang untuk bisnis karena milik seluruh warga Medan bukannya milik swasta. Tak hanya itu, kenapa dokter yang ada di saat kejadian hanya dokter praktek bukannya dokter yang ahli dalam bidangnya,” tegasnya.

Sugianto menjelaskan, pihak rumah sakit harus bertanggung jawab atas kematian dari Anastasya F Situmeang dimana berdasarkan dari kasus 2011 yang diberitakan sudah ada tiga kasus yang terjadi selama kepemimpinan Dirut RSU dr Pirngadi Medan.

“Ini jelas menunjukkan bahwa dirut tak bisa mempimpin rumah sakit milik Pemko Medan. Dirut harus dicopot begitu juga dengan dokter yang memeriksa Anastasya juga harus dibatalkan izinnya karena kerjanya tak becus,” tegasnya.

Ditegaskannya, mereka tak terima dengan perlakuan oleh pihak rumah sakit terhadap orang susah.

“Kami juga akan melakukan aksi kumpul uang recehan (koin) untuk menggelar aksi simpati terhadap Anastasya. Lalu, uang koin yang terkumpul sebanyak Rp5 juta akan kami serahkan kepada pihak RSU dr Pirngadi Medan biar mereka tahu kalau kami saja bisa mengumpulkan uang koin Rp5 juta,” bebernya.

Sugianto mengaku, aksi kumpul koin ini dilakukan karena mereka menolak keras uang berduka yang diberikan oleh rumah sakit kepada ayahnya sebesar Rp1 juta.

“Siapa tak bisa terima nyawa manusia dihargai Rp1 juta. Ini jelas-jelas sudah tak manusiawi,” akunya.

Sementara itu, Israel Situmeang, pengurus marga Situmeang Kota Medan menambahkan, mereka tak terima dengan sikap yang ditunjukkan oleh pihak rumah sakit dengan memberikan uang duka sebesar Rp1 juta.

“Kalau perlu, akan kami pecahkan beberapa kaca di rumah sakit itu senilai Rp1 juta biar mereka tahu kami juga bisa berbuat nekad jika mereka tak meminta maaf,” pungkasnya. (jon)

Pecahkan Rekor, Fogg Harapan Utama Inggris

LONDON- Tuan rumah Inggris memiliki harapan baru untuk mendapatkan medali pada cabang olahraga renang di Olimpiade London 2012. Harapan itu ada pada pundak perenang 24 tahun bernama Daniel Fogg.

Memang selama ini Fogg tidak terlalu dikenal pada orbit renang internasional. Prestasi perenang kelahiran Edmonton, Middlesex, Inggris itu juga tidak terlalu moncer. Fogg hanya mendapatkan satu medali perunggu 1.500 gaya bebas pada Commonwealth Games 2010 di New Delhi India lalu.  Namun, dalam setahun ini, prestasi Fogg langsung melejit. Dia sudah memastikan diri masuk dalam skuad Inggris di Olimpiade pada awal tahun ini.

Hal yang lebih spektakuler, Fogg berhasil memecahkan rekor nasional Inggris yang sudah bertahan selama 21 tahun pada nomor gaya bebas 1.500 meter. Dia melakukannya pada ajang British Gas Championships Maret lalu.

Catatan waktu Fogg adalah 14 menit dan 55,30 detik. Itu sudah cukup untuk menggusur rekor lama milik Ian Wilson yang bertahan sejak tahun 1991 lalu. Waktu Wilson adalah delapan detik lebih lambat ketimbang milik Fogg. Mencatat waktu under 15 detik pada gaya bebas 1.500 meter adalah yang pertama dalam sejarah renang jarak jauh Inggris.

Selain lolos pada gaya bebas 1.500 meter, Fogg juga berambisi mengamankan satu tempat pada renang jarak jauh open water 10 kilometer. (nur/jpnn)

Kendalikan Bangunan yang Bikin Semrawut

Developer masih banyak membangun gedung sesuka hati sehingga menjadi semrawut. Kok bisa? Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos, Adlansyah Nasution dengan Kepala Bappeda Kota Medan, Zulkarnain.

Apa yang harus dilakukan Pemko Medan terkait developer yang sesuka hati membangun?

Pemko Medan akan melakukan pengendalian kawasan terutama bagunan agar disesuaikan dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Medan. Dimana, pembangunan harus sesuai dengan struktur dan pola ruang, juga harus sesuai dengan penetapan budi daya dan penetapan kawasan lindung. Saat ini Pemko sedang mendorong implementasi stukruktur tata ruang Kota Medan agar lebih konsisten dengan perencanaan yang lebih detail. Untuk itu butuh Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan saat ini sudah menjadi program legislasi daerah tahun 2012.

Apa guna RDTR itu?
Agar pengembang ataupun developer tidak lagi membangun sesuka hatinya. Sebab, dalam RDTR itu akan ditetapkan seberapa besar kawasan pemukiman ataupun kawasan lindung di setiap kecamatan sehingga dapat mendorong keseimbangan dari masing-masing kawasan. Dari masing-masing kecamatan, seharusnya kita perlu menetapkan dan mengetahui lebih akurat setiap kecamatan berapa sebenarnya kawasan permukiman, sehingga kita bisa mencari berapa besar rasio kepadatan penduduk. Sebab rasio kepadatan penduduk seharusnya berasal dari data berapa besar kawasan permukiman di kecamatan dibagi jumlah penduduk, bukan berapa besar keseluruhan kawasan di Medan dibagi jumlah penduduk.

Kawasan mana saja yang banyak developer membangun sesuka hatinya?
Dari pantauan udara yang dilakukan Wali Kota Medan bersama saya, demografi Kota Medan bisa dilihat distribusi sebaran penduduk yang relatif cukup merata. Intinya ke depan kita akan mendorong implementasi struktur tata ruang kota Medan ini agar lebih konsisten dan sesuai dengan RTRW yang telah ditetapkan. Itu menunjukkan adanya distribusi pembangunan ataupun kegiatan pembangunan yang lebih merata di seluruh wilayah, dan kita lihat kegiatan pembangunan cukup merata berlangsung di semua wilayah.

Apalagi yang ditemukan?
Di beberapa kawasan terlihat tingkat penduduk yang lebih tinggi, hal ini terjadi dengan terlihatnya beberapa pusat kawasan sosial ekonomi sehingga menarik konsentrasi penduduk. Oleh karenanya, aktivitas ekonomi yang besar perlu pengendalian efektif . Untuk itulah kita perlu mendorong penetapan RTRW Medan bisa lebih konsisten untuk diimplementasikan. Dari pemantauan udara juga terlihat kawasan hutan lindung di Medan secara keseluruhan masih mendekati aturan dalam RTRW yakni 30 persen. Kawasan lindung kita itu terlihat beragam ada budi daya hutan mangrove, pemakaman juga lapangan setempat. Begitupun, dari pantauan udara, kualitas kawasan lindung di Medan tetap harus ditingkatkan kualitasnya. Contohnya bagaimana lebih menantu mengembangkan kawasan kota mangrove supaya pemanfaatan lebih terlindungi pemko sedang susun konsep konservasi kawasan lindung mangrove. Saat ini Pemko Medan sedang menyusun  konsep konservasi kawasan lindung mangrove. Bagaimana kita kembangkan kota mangrove sekaligus memberikan lapangan mata pencaharian bagi masyarakat setempat sehingga dapat mendorongnya menjadi eko wisata.

Apa upaya yang dilakukan Pemko Medan?
Kita juga melihat program prioritas yang saat ini perlu segera dikerjakan adalah mengatasi banjir dan menata kawasan pesisir pantai dengan pembentengan dan pembangunan tanggul di bibir pantai sekaligus penataannya sehingga muncul aktivitas ekonomi. Artinya, ke depan kita tidak sekadar membangun benteng tapi juga akan menata kawasannya sehingga akan muncul aktivitas ekonomi nanti di sana, selain itu kita juga akan melakukan penataan DAS dan normalisasi sungai dan itu sudah masuk dalam program Badan Wilayah Sungai II. Untuk tahun ini program penataan DAS dari BWS II untuk kota Medan adalah SID Sungai Belawan kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, SID Sungai Babura Kota Medan dan Deli Serdang, normalisasi dan perbaikan tanggul kritis Sungai Deli sepanjang 4.000 meter di Medan dan O and P Medan Flood Control Kota Medan 2 km. (*)