Home Blog Page 13641

Tsunami Bang Maman

GEMPA berkekuatan hebat kembali melanda negeri ini. Daerah yang dilanda gempa masih tetap sama, NAD. Ya, sebelumnya, pada 26 Desember 2004 lalu daerah ini dilanda gempa berkekuatan 9,2 skala richter yang disusul dengan tsunami.

Nah, Rabu (11/2) kemarin, meski hanya berkekuatan 8,5 skala richter, namun gempa yang melanda Bumi Serambi Mekah tetap membuat masyarakatnya panik dan kalang kabut.

Bisa dimaklumi jika saudara-saudara kita yang ada di sana bersikap seperti itu. Masalahnya, meski sewindu lalu mereka telah kehilangan orang tua, saudara bahkan pacar akibat tsunami, namun ternyata hingga kini pemerintah belum mampu memberi rasa nyaman lewat kemampuan mendeteksi kapan gempa dan badai tsunami terjadi.

Sungguh ironis, ternyata waktu sewindu tak cukup bagi pemerintah untuk menyiapkan orang yang dapat mengetahui kapan gempa berpotensi tsunami terjadi di negeri ini.

Adakah ini karena kualitas pendidikan di negeri ini masih rendah atau memang pemerintah yang tidak memiliki niat untuk menggodok para pelajar ataupun mahasiswanya untuk mengetahui kapan tsunami terjadi?

Jangan bilang jika itu sesuatu yang mustahil terjadi. Pasalnya, sama kita ketahui jika pada 11 Maret 2011 lalu Jepang juga dilanda gempa yang diakhiri dengan tsunami.
Hebatnya, tsunami yang melanda Negeri Matahari Terbit itu hanya menjadi tontonan mengasyikkan bagi masyarakat Jepang. Dengan santai sambil menyeruput segelas kopi, mereka melihat detik demi detik proses tsunami melanda negeri itu.

Okelah jika ada yang menyimpulkan bahwa teknologi yang dimiliki Negeri Matahari Terbit itu jauh lebih hebat dari yang kita miliki. Namun perlu juga sadari bahwa rentang waktu tujuh tahun, terhitung sejak bencana tsunami di Aceh, bukanlah waktu yang singkat untuk melakukan sebuah upaya penanggulangan bencana tsunami.

Sebuah apologi kembali mencuat ke permukaan yang mengatakan bahwa pendidikan di negeri ini masih rendah. Benarkah seperti itu? Bukankah fakta membuktikan jika mutu pendidikan di negeri ini sudah sangat tinggi. Tak percaya? Lihatlah apa yang didapati sejumlah orangtua pada buku lembar kerja siswa (LKS) ‘Ceria, Cermat Siswa Aktif. Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta terbitan CV Media Kreasi.

Sungguh sangat mengecewakan di buku yang sejatinya menjadi santapan siswa sekolah dasar itu disusupi kisah tentang kehidupan orang dewasa dengan segala problematika kehidupannya.

Kita semua pantas terhenyak saat membaca kisah “Bang Maman dari Kali Pasir” yang menceritakan bagaimana dirinya meminta seorang perempuan bernama Patme untuk mengaku sebagai istri simpanan Salim.

Ah… sungguh kisah di atas terlalu kompleks dan berat untuk dicerna oleh alam fikir siswa sekolah dasar, meski secara jujur kita dapat menangkap isyarat jika pada beberapa bagian di cerita itu ada kisah yang perlu dicermati yakni tentang sikap jujur dan rasa bersyukur atas semua nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Namun, itu semua tak serta merta membuat para siswa dapat memahami secara kompleks apa yang ada di balik kisah Bang Maman tadi. Ya, usia dan alam fikir yang belum memadai menjadi penghalang bagi para siswa SD untuk menarik hikmah positif di balik cerita itu.

Nah, jika untuk urusan yang seperti ini para siswa kerap dijejali dengan sebuah kisah superberat dan hebat, namun untuk urusan teknologi (seperti bagaiman cara membuat alat pendeteksi gempa dan tsunami), kenapa orang-orang pintar di negeri ini, bahkan para penerbit terkesan sungkan (bila tak ingin dikatakan tak mampu) menyajikan kisah super berat yang dapat menggugah minat baca para siswa SD tadi. Sekali lagi… sungguh ironis. (*)

Amiruddin Ditenggat Sepekan

MEDAN- Rasa tidak menyesal  dan keengganan meminta maaf dari Amiruddin atas sikap kasarnya terhadap sekuriti Bandara Polonia Medan, Minggu (8/4) lalu, menjadi catatan tersendiri bagi pihak Serikat Karyawan Angkasa Pura II (Sekar Pura) Bandara Polonia Medan. Organisasi profesi yang menaungi korban Fahru Rozi Nasution (23) tersebut lantas menenggat waktu seminggu bagi Ketua DPRD Kota Medan itu untuk meminta maaf.

“Sampai detik ini, yang bersangkutan belum melakukan permintaan maaf,” jelas Kepala Info & Litbang Serikat Karyawan Angkasa Pura II Bandara Polonia Medan, Zulkarnain yang didampingin oleh Koordinator Bidang Hukum & Peraturan Sekar Pura II Bandara Polonia Medan, Hermanto SH, di Ruang Gagak, pukul 16.00 WIB, Kamis (12/4).

Rekan-rekan Fahru Rozi siap diajak berdialog bila Amiruddin menunjukkan itikad baiknya. “Kami siap dimana beliau meminta pertemuan. Apakah itu dikantor beliau, hotel, Bandara Polonia Medan atau dimana saja tempatnya,” bebernya.

Bila dalam sepekan tuntutan tidak diindahkan, masalah kekerasan di tempat umum tersebut akan dibawa ke jalur hukum. “Bidang hukum sudah membuat konsep laporannya,” papar Zulkarnain.

Sikap tegas Sekar Pura II Bandara Polonia ini diambil setelah melakukan rapat tertutup dengan sesama pemimpin Serikat Karyawan Angkasa Pura II dan pihak management Angkasa Pura II Bandara Polonia Medan. “Walau pun kasus ini sudah ditangani oleh pihak management, tapi Sekar Pura tetap memantau kasus ini,” terangnya lagi.

Bukan sembarang menuntut. Pihak Sekar Pura menjadikan rekaman peristiwa pemukulan sebagai bukti yang memojokkan Amiruddin. “Intinya kita mempunyai bukti-bukti yang kuat, termasuk rekaman CCTV itu, yang akan kita bawa ke ranah hukum,” ujarnya.

Kepada para pejabat, Sekar Pura II meminta agar para pejabat memahami tugas para security bandara dan tidak menyepelekan mereka. “Yang bisa lewat dari pemeriksaan itu RI-1 dan RI-2 (Presiden dan Wakil Presiden). Kapolda Sumut saja mau diperiksa, kenapa beliau (Amiruddin) tak mau diperiksa,” tanyanya heran.

Sanksi Tegas

Tekanan kepada Amiruddin tidak hanya dating dari Sekar Pura II. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat (PD) Sumatera Utara (Sumut) bahkan mendukung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat member sanksi bagi kadernya tersebut.

Menurut pengurus DPD PD Sumut, aksi main tunjang ketua DPRD Medan itu tidak hanya telah melanggar hukum, norma dan etika saja. Melainkan, telah memberi citra negatif terhadap PD, terlebih di Kota Medan dan Sumut. Penilaian itu dikemukakan Sekretaris Jenderal (Sekjend) DPD PD Sumut, Tahan Manahan Panggabean, yang dimintai tanggapannya oleh Sumut Pos, Kamis (12/4).

“Terlepas masalah yang melatarbelakanginya, apa yang dilakukan Amiruddin tidak menunjukkan anggota dewan itu adalah orang yang terhormat. Apa yang dilakukannya itu membuat citra negatif terhadap partai,” tegas pria yang juga Ketua Fraksi PD DPRD Sumut tersebut.

Tahan menyerahkan bentuk sanksi yang akan diberikan bagi Amiruddin sesuai mekanisme partainya. Menurutnya, aksi Amiruddin ini akan dibahas terlebih dahulu di tingkat DPD. Kemudian hasilnya diserahkan ke DPP Partai Demokrat.

“Kita belum bisa merinci seperti apa sanksi yang akan diberikan oleh DPP kepada Amiruddin. Ini kasus pertama yang terjadi dan melibatkan kader PD di Medan dan Sumut ini,” tegas Tahan.

Mungkinkah keanggotaan Amiruddin di partai dibekukan sehingga mempengaruhi posisinya sebagai Ketua DPRD Medan?
Tahan Manahan menjawab kalau hal itu masih akan dibahas secara seksama di partai. “Di partai ada badan-badan yang mengurusi persoalan-persoalan yang terjadi. Ada Badan Kehormatan Partai, ada Badan Kode Etik Partai dan sebagainya. Nanti akan dibahas, baru bisa diketahui sanksi apa yang akan diberikan,” tuturnya lagi.

Tahan Manahan membantah kabar yang menyebut kalau DPD PD Sumut telah memanggil Amiruddin untuk mengklarifikasi atas kasus tersebut,  kemarin (12/4). “Saya tidak tahu ada itu. Tidak ada pemberitahuan secara resmi kepada saya,” akunya.

Terkait tuntutan Sekar Pura II agar Amiruddin meminta maaf pada Fahru Rozi Nasution dalam sepekan ke depan, Tahan Manahan enggan menanggapinya. “Persoalan maaf memaafkan, itu urusan mereka,” terangnya lagi.

Sementara itu, Amruddin yang dikonfirmasi melalui ponselnya, enggan member respon. Berkali-kali dihubungi dan ditanyai melalui pesan singkat (SMS), yang bersangkutan tak member reaksi.

Tercatat, sebanyak tiga kali wartawan Sumut Pos menelpon Amiruddin untuk upaya konfirmasi. Pertama pukul 16.56 WIB, kedua pukul 16.59 WIB dan terakhir pukul 17.31 WIB. Layanan pesan singkat yang dikirimkan Sumut Pos ke ponsel pribadinya, dengan tujuan yang sama tercatat sebanyak dua kali yakni, pada pukul 16.58 WIB dan pukul 17.02 WIB.(jon/ari)

33 Tahanan Kabur Belum Kembali

Efek Gempa Rabu Lalu di Nanggroe Aceh Darussalam

SIGLI-Sebanyak 33 tahanan dari ratusan warga binaan Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Sigli yang kabur saat gempa  Rabu (11/4) dilaporkan belum kembali. Pencarian masih terus dilakukan pihak Lapas dibantu kepolisian.

Kepala Lapas Kota Sigli, Joko Budi Supiyanto kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos)Kamis (12/4) mengatakan, saat gempa berkekuatan 8,5 SR melanda Kota Sigli, sejumlah 206 Nara Pidana (Napi) kabur karena takut tsunami.

Sejumlah petugas sipir rutan tersebut dibantu personel TNI/Polri masih melakukan pengejaran terhadap para napi yang masih di luar Rutan. “Jadi sekarang kita masih melakukan pengejaran terhadap 33 orang napi yang kabur, karena isu tsunami,” kata Joko.

Menurut Joko, para napi itu kabur pada saat gempa sedang berlangsung. Seperti diketahui posisi Lapas Benteng, Sigli hanya terpaut 60 meter dari bibir pantai.” Dan inilah yang menyebabkan para napi kabur karena khawatir terjadinya tsunami” sebutnya.

Dinding Lapas Meunasah Rubuh

Sementara itu, gempa melanda Kota Banda Aceh juga mengakibatkan tembok atau dinding bagian belakang Lapas di Desa Meunasah Manyang, runtuh. Meski begitu, tidak ada korban jiwa maupun luka.

Kepala Lapas Banda Aceh di Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Lambaro, Aceh Besar Ridwan Salam, mengungkapkan kekagetannya pascagempa petugas lapas menghubunginya dan seketika itu juga memeriksa tembok yang runtuh juga dinding lainnya yang retak.

Tak hanya itu, Ridwan Salam pun, meminta petugas jaga di Lapas yang baru saja dua minggu lebih relokasi dari Lapas Kajhu, untuk menghubungi pihak kepolisian agar mengamankan lokasi karena dbanyak masyarakat yang ingin menyaksikan runtuhnya dinding Lapas dari dekat.

Diperkirakan dinding yang runtuh sepanjang 60 meter lebih dan belum bisa ditaksir berapa kerugian yang didarita dari kejadian tersebut.  Hanya saja, ujarnya, usai memeriksa ini, ia akan melaporkan kejadian itu ke Kepala Kementrian Hukum dan HAM atau dulunya Kakanwil Kehakiman Aceh.

Dipastikan 6 Tewas

Dari Jakarta, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada lima korban tewas akibat gempa Rabu lalu. Berarti, total tewas adalah enam orang; 1 di Padangpariaman dan lima lagi di Aceh. Menurutnya, dari lima korban meninggal tersebut diantaranya terjadi di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Barat. Sementara dua lainnya terjadi di Aceh Besar . “Rata-rata korban meninggal akibat serangan jantung dan shock menghadapi kondisi yang terjadi,”ungkapnya.

Sementara terkait korban luka-luka, menurut Sutopo tercatat setidaknya dua korban luka berat dan enam lainnya luka ringan. “Di Aceh Singkil terdapat seorang anak luka berat (kritis)  karena tertimpa pohon. Kini telah dirawat di rumah sakit. Sementara di Aceh Selatan satu orang juga luka berat karena patah tulang kaki. Korban juga kini tengah mendapat perawatan di RSU Tapaktuan,” jelasnya.

BNPB belum memperoleh data pasti berapa korban materil yang terjadi akibat gempa berkekuatan 8.5 skala richter (SR) yang mengguncang bumi NAD kali ini. Namun dari hasil penelitian sementara dilaporkan, sebuah jembatan di Kecamatan Jatmalaka, Aceh Barat, terputus. Demikian juga satu unit asrama putri pesantren Arrazatun Nabawiyah juga mengalami rusak berat. “Sementara di Simeulue, berdasarkan laporan Bupati Simeulue kepada Kepala BNPB dan rombongan, tidak ada kerusakan dan korban jiwa. Dinyatakan seluruh pengungsi yang ada juga telah kembali ke rumah masing-masing. Jadi dengan demikian, dipastikan sudah tidak ada pengungsi baik di Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, dan Lampung. Pengungsi yang ada di 14 titik di Kabupaten Aceh Besar yang sebelumnya berjumlah seribu jiwa, juga pada pukul 07.00 WIB sudah meninggalkan lokasi,” pungkasnya. (mir/ian/smg/gir)

Bob Sadino: Saya Buat Usaha Untuk Rugi

Mengikuti Seminar Modal Nekat jadi Pengusaha

Untuk menjadi enterpreneur diperlukan tekad yang kuat serta keberanian mengambil peluang. Kegagalan dan kendala pasti banyak dihadapi. Kegagalan adalah augerah. Kalimat ini dikemukan pengusaha nasional Bob Sadino saat berbagi pengalaman di Medan, kemarin.

Farida Noris, Medan

Ya, dengan gayanya yang nyentrik, pola pikirnya yang unik dan cenderung terbalik, Bob Sadino mampu mencairkan suasana Seminar Enterpreneur Tergila 2012 “Modal Nekat Menjadi Pengusaha”, Kamis (12/4) siang. Seminar yang digelar di Hotel Madani itu dihadiri ratusan peserta yang mayoritas wirausahawan muda dan pegawai yang mencoba berwirausaha.

Tidak ada materi atau presentasi pembukaan yang dibawakan Bob Sadino yang dikenal sebagai pengusaha yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan itu. Tapi, Bob Sadino membuka sesinya dengan mengajak peserta bertanya serta memberi komentar, kemudian menjawab dan menanggapi komentar peserta tersebut dengan gayanya yang khas.

Para peserta juga terlihat antusias mendengarkan pengalaman Bob Sadino, yang selama empat dekade ini berhasil mengenalkan telur dan ayam ras Eropa di Indonesia. “Saya tidak berpikir seperti orang sekolah kalau usaha untuk untung tapi saya buat usaha untuk rugi,” ungkap Bob Sadino yang mendapat tepuk tangan dari seluruh peserta.

Bahkan, Bob Sadino yang saat itu tampil mengenakan kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana pendek biru, membuat para peserta terpingkal dengan jalan pikiran nyeleneh yang disampaikannya. “Saya mengambil risiko sebesar-besarnya, sebab orang yang mengambil risiko kecil, hasilnya juga kecil. Risiko bisa apa saja. Tapi kewajiban kita mengubah risiko menjadi uang,” ucapnya lagi.

Menurut Bob Sadino, idealnya proseslah yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Pengusaha tidak usah punya tujuan. Semuanya butuh proses, lakukan apa yang menurut Anda benar. Bersyukurlah dengan apapun yang Anda miliki,” ungkap Bob ketika menjawab pertanyaaan dari salah seorang peserta.

Meski awalnya sulit dipahami, peserta seminar yang bingung dan tidak terima dikatai goblok, lama-lama bisa mencerna apa yang disampaikan Bob. “Berpikirlah yang benar, ada lingkaran-lingkaran yang menunjukkan tipe-tipe otak, lingkaran pertama terpatok pada 2X2 adalah 4, lingkaraan kedua 2X2 jawaban semau saya, dan lingkaran ketiga kosong, maka tulislah dengan iman dan takwa,” ungkap Bob.

Di balik kekonyolannya, Bob Sadino juga memberikan beberapa resep menjadi pengusaha di antaranya berpikir bebas dan tanpa beban. Bob juga menceritakan pengalamannya dalam memulai bisnis. “Orang-orang yang membantu usaha saya, bukanlah mereka yang berasal dari kalangan yang berpendidikan tinggi, tapi dari anak jalanan. Saya hanya tamatan SMA, tidak pernah kuliah. Di sekolah orang membaca buku. Buku sifatnya hanya informasi yang tak ubahnya roti busuk. Jadi orang yang sekolah tinggi, isinya hanya sampah. Terkecuali sampah itu diolah menjadi pupuk yang subur,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah dari para peserta.

Pada seminar itu, Bob juga berpesan agar para peserta jangan takut dan terlalu berharap. Sebab makin tinggi harapan, maka makin tinggi pula tingkat kekecewaan. “Lepaskan belenggu dalam pikiran kita sendiri. Ada berjuta peluang di sekeliling kita. Santai saja, hilangkan semua beban, tetap berkomitmen dan pantang menyerah serta selalu belajar pada yang lebih pintar, jangan lupa bersyukur,” tegasnya.

Sementara, Direktur Bank Sumut, Gus Irawan mengungkapkan menjadi wirausaha adalah pilihan tepat karena riski dari berwirausaha itu lebih banyak, walaupun rugi tapi bisa dicoba terus karena seseorang yang rugi dalam berwirausaha tidak akan mati. “Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, Rasulullah pernah bersabda ‘sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dengan berwirausaha’, urainya.

Gus juga berpesan agar anak muda didik dengan cara merangsangnya untuk menjadi pemilik usaha, serta menumbuhkan kemauan, tekad yang bulat dan komitmen. “Beranilah mengambil peluang dan tahan banting. Jangan menelan sampah dari sekolah sekedar tahu saja tapi tidak diimplementasikan,” ungkapnya. (*)

Gubernur Riau Dicekal

JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkas kasus suap proyek PON 2012 Riau yang melibatkan anggota DPRD, pegawai Dispora Riau dan PT Pembangunan Perumahan. Bahkan kemarin (12/4), Wamenkum HAM Denny Indrayana mengumumkan, Gubernur Riau Rusli Zaenal telah dicekal bepergian ke luar negeri terkait kasus tersebut.

Menurut Denny, permintaan pencekalan terhadap Rusli tersebut dilayangkan KPK kepada pihaknya pada 10 April lalu. Surat permintaan tersebut bernomor R-1380/01-23/04/2012. Ditjen Imigrasi yang memang di bawah naungan Kemenkum HAM pun langsung merspon permintaan komisi antikorupsi itu dengan menerbitkan pencekalan.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Ketua KPK Abraham Samad guna memastikan pencegahan ke luar negeri atas nama M Rusli Zainal,” kata Denny kepada wartawan kemarin. Permintaan tersebut benar adanya dan pencekalan tersebut akan berlaku hingga enam bulan kedepan.
Selain Rusli, ternyata KPK juga meminta agar Ditjen Imigrasi juga mencegah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Riau Lukman Abbas. Menurut Denny, alasan KPK mencegah dua petinggi provinsi yang beribukota di Pekanbaru itu untuk kepentingan penyidikan dugaan suap proyek PON 2012.

Sementara itu, juru bicara KPK Johan Budi mengatakan, memang benar KPK telah mengirimkan surat permintaan pencegahan ke luar negari untuk Rusli dan Lukman. Kata Johan pencegahan tersebut tujuannya untuk kepentingan penyidikan suap PON yang melibatkan beberapa pejabat daerah di  Riau.
Johan memastikan pihaknya akan memeriksa Rusli sebagai saksi. Namun dia tidak mengetahui jadwal pasti orang nomor satu di Pemprov Riau ini bakal diperiksa . Apakah dengan pencegahan ini besar kemungkinan Rusli dan Lukman juga turut terlibat dan akan ditetapkan sebagai tersangka? Johan menjelaskan, itu kewenangan penyidik. (kuh/jpnn)

Jaksa Diduga Peras AKBP Apriyanto Rp50 Juta

Poldasu Limpahkan Berkas Mantan Wadir Narkoba ke Kejatisu

MEDAN- Rina Wandini alias Dini (40), istri mantan Wadir Reserse Narkoba Polda Sumut AKBP Apriyanto Basuki Rahmat yang terjerat kasus narkoba, mencak-mencak di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Kamis (12/4). Pasalnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi M Nova SH meminta uang pelicin sebesar Rp50 juta agar Apriyanto tak ditahan.

Informasi itu diakui kuasa hukum AKBP Apriyanto, Marudut Simanjuntak SH. Marudut mengaku sangat kecewa dengan JPU yang akrab disebut Nova itu. “Ya, awalnya minta Rp25 juta, tapi kenapa tiba-tiba kok naik jadi Rp50 juta,” jelas Marudut.

Menurutnya, sore itu negosiasi dengan JPU cukup alot dan tegang. Saat itu, Dini sudah mencoba melakukan negosiasi dan bermohon agar suaminya tak ditahan.

Permintaan Nova itu kontan membuat Dini berang. Dini kemudian melemparkan uang yang sudah dibawannya. “Kita akan mengirimkan surat ke Kejagung agar Jaksa Pak Apriyanto diganti, kita minta Jaksa yang independen,” tukas Marudut.

Sementara, saat coba dikonfirmasi via ponselnya, Nova tak mau mengangkat. Saat dikirimi pesan singkat, Nova hanya menjawab singkat. “Nggak bisa bicara Bang. Maaf ya bang, lagi ada wiritan di rumah. Jaksanya tiga orang Bang,” tulisnya dalam sebuah pesan singkat yang dikirimkan ke wartawan koran ini.

Sebelumnya, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut melimpahkan berkas AKBP Apriyanto ke Kejatisu karena telah dinyatakan lengkap (P21). “Ya tadi (kemarin, Red) sekitar jam 15.00 WIB sudah diserahkan ke Kejatisu bersama tiga tersangka lain dan barang bukti,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Raden Heru Prakoso, Kamis (12/40 sore.

Heru menjelaskan, sidang kode etik maupun disiplin akan dilaksanakan tergantung hasil sidang pidana umum. Namun, Heru enggan menjelaskan apa sanksi yang dikenakan pada AKBP Apriyanto apabila putusan sidang pidana umum di atas tiga bulan.

“Nanti kita lihat ankumnya. Ankumnya kan Pak Dir Narkoba (Kombes Andjar Dewanto),” jelasnya.(ala/smg)

Leo Nababan: Plt Harus Tetap Didukung

Kisruh DPD Partai Golkar Sumut

JAKARTA- Kader yang menolak menjalankan amanah yang sesuai dengan mekanisme partai, dipastikan akan dikenakan sanksi partai. Termasuk mereka yang membangkang dengan menyatakan tetap akan menggelar Musyawarah Daerah Luarbiasa (Musdalub) Partai Golkar Sumut, yang disebut-sebut dilakukan untuk mengganti Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sumut, Andi Ahmad Dara.

“Pesan Ketua Umum (Aburizal Bakrie) kan sudah jelas. Pelaksana tugas (Andi Ahmad Dara, Red), harus tetap didukung oleh semua kader Partai Golkar di Sumut. Dan lagi Surat Keputusan (SK) pengangkatannya itu dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP),” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Golkar Leo Nababan di Jakarta, kemarin.

Namun sayangnya, Leo belum bersedia menyebut secara langsung, sanksi apa yang akan diberikan kepada kader yang membangkang. Hanya saja ia pastikan, mereka yang tidak tunduk pada sistem maupun kebijakan yang telah digariskan partai, berarti tidak memahami benar mekanisme dari sebuah organisasi.

“Jadi sekali lagi, atas nama DPP Partai Golkar, saya Wakil Sekjen DPP Golkar, Leo Nababan, kembali mengulang pesan ketua umum. Meminta agar seluruh kekuatan partai, termasuk yang berada di Sumut, untuk tetap menjaga soliditas partai. Kalau ada yang di luar itu, berarti mereka tunduk pada orang lain,” ungkap pria yang tercatat telah lebih dari 25 tahun membangun Partai Golkar ini.

Menariknya, sebagaimana dalam komentar sebelumnya, dalam kesempatan kali ini Leo kembali meyakinkan bahwa sebenarnya tidak ada masalah di tubuh DPD Partai Golkar Sumut. Namun tidak bisa dipungkiri, beberapa waktu lalu 55 pengurus DPD I Golkar Sumut telah meminta DPP untuk memberi izin digelarnya Musdalub.

Sebelumnya, sejumlah DPD II juga telah menyatakan penolakannya atas Musdalub. Diantaranya Ketua DPD II Golkar Madina, DPD Golkar Samosir dan DPD Golkar Tebingtinggi. Sementara Sekretaris Golkar Dairi sendiri belum menyatakan sikap atas hal ini. Demikian juga dengan Ketua Golkar Sibolga.(gir)

Dua Tersangka Kasus Dana Bansos Ditahan

MEDAN-Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) akhirnya menahan dua dari tiga tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) di Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Keduanya adalah Bendahara di Biro Umum Subandi dan Bendahara Biro Binsos Ahmad Faisal.

Dua tersangka dipastikan ditahan setelah menjalani pemeriksaan di Kejati Sumut. Keduanya diperiksa sejak siang. Sementara itu, seorang tersangka lainnya, yaitu Bendahara Biro Perekonomian bernama Umi Klasum, belum ditahan karena belum diperiksa. “Dia tidak datang setelah dipanggil dengan alasan sakit. Saya tidak tau sakit apa tapi dia juga sedang hamil empat bulan,” kata Plh Kasi Penkum Kejati Sumut Ronald H Bakara, Kamis (12/4).

Penetapan itu menyusul pemeriksaan terhadap 130 saksi. Adanya dana pencairan Bansos fiktif diketahui setelah ditemukannya organisasi fiktif yang menjadi penerima dana bansos. Masih tiga bendahara ini yang ditetapkan sebagai tersangka. (rud)

Usai Maghrib, Anak-anak Rutin Mengaji

Menengok Aktivitas Masjid Jawa di Kota Bangkok

Di tengah beragamnya etnis di pusat kota Bangkok, Thailand, ternyata terselip komunitas masyarakat Jawa Muslim. Bahkan, mereka juga memiliki masjid yang diberi nama Masjid Jawa. Bagaimana situasinya?

Naufal Widi AR, Bangkok

TAK sulit mencari Masjid Jawa di kota Bangkok. Cukup pergi menuju ke distrik Sathorn, lalu tanyakan ke penduduk setempat di mana letaknya. Lalu dengan menyebut kata “surau” atau “hong lamat muslim”, telunjuk penduduk langsung menunjuk ke sebuah bangunan di jalan 707 Soi Rangnamkeang, Yanawa.

Seperti dengan namanya, Masjid Jawa masih mencerminkan bangunan klasik masjid di tanah Jawa. Bangunan utamanya berbentuk segi empat ukuran 12 x 12 meter dengan empat pilar di tengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, di tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu. Di luar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi.

Di bagian depan (pengimaman), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi tangga. Di kanan dan kirinya terdapat dua buah jam lonceng, juga terbuat dari kayu. Sebuah bedug kayu kokoh berdiri di salah satu sudut serambi masjid.

Lantas mengapa bernama Masjid Jawa? Masjid itu memang terletak di wilayah yang dikenal dengan kampung Jawa. Penduduknya juga memiliki keturunan darah Jawa. Seperti Abdussamad, bilal Masjid Jawa yang memiliki kakek berasal dari Kendal, sebelah barat kota Semarang.

“Wes salat (sudah salat, Red),” sapa Abdussamad dengan logat khas Thailand begitu mengetahui wartawan koran ini berasal dari Jawa. Kebetulan Jawa Pos (Grup Sumut Pos) datang ketika Abdussamad yang masih memakai sarung, baru saja menyelesaikan salat Asar berjamaah. Meski lahir dan dibesarkan di Thailand, dia mengaku mengetahui beberapa kosakata Jawa yang umum digunakan. “Aku wong Jowo ning Thailand (saya orang Jawa yang tinggal di Thailand),” katanya lantas tertawa.

Dia tidak mengetahui persis bagaimana kakeknya yang bernama Muhammad Toyib bisa berada di Bangkok. Namun dari cerita, saat perang dunia kedua, banyak penduduk Jawa yang merantau ke Thailand dan bekerja di perkebunan. Hampir separo dari sekitar seribu penduduk di kampung Jawa, kata dia, memiliki leluhur di tanah Jawa.

Meski rata-rata sudah generasi ketiga, kata Abdussamad, beberapa tradisi Jawa masih dilakukan di Masjid Jawa. Misalnya, pengajian Maulid Nabi. Makanan khas disediakan, seperti mie lontong dan sate. Tidak hanya itu, jika Bulan Ramadan tiba, budaya buka bersama dengan takjil makanan khas juga tersedia. Menurut Abdussamad, beberapa jajanan disediakan misalnya kue cucur dan es cao.

Tentang sejarah Masjid Jawa, Abdussamad lantas menunjukkan prasasti tentang Masjid Jawa yang terletak dinding sebelah kiri bangunan utama. Dari dokumen yang ada disebutkan, masjid ini didirikan antara Bulan Juni hingga September di Era Rathanakosin (Periode Rama V) tahun 2440, di tahun ular atau bertepatan pada Bulan Muharam 1326 Hijriyah. Masjid ini didirikan oleh orang Jawa dengan luas 14 x 12 asta. Tanahnya merupakan wakaf dari Almarhum Haji Muhammad Shaleh. Akad wakaf tercatat pada 16 Juni 2440 diberikan pada masyarakat muslim pada umumnya.

Ameen Mudpongtua, imam Masjid Jawa menjelaskan, masjid itu terbuka bagi siapa saja meski berada di tengah-tengah kampung Jawa. Bahkan, Ameen sendiri merupakan keturunan Melayu. “Melayu boleh, Indonesia juga boleh, dari mana saja,” katanya dalam bahasa Thailand yang diterjemahkan seorang takmir masjid. Ameen yang berusia 74 tahun telah menjadi imam masjid sejak tujuh tahun silam.

Buktinya, adalah seorang warga Pakistan Zahoor Ahmed, yang juga ikut menemani perbicangan dengan Jawa Pos. Mahasiswa tingkat delapan di Islamabad University itu sudah setahun tinggal di Bangkok.

Kegiatan di Masjid Jawa, tidak berbeda dengan masjid pada umumnya. Selain ibadah wajib, seperti salat lima waktu dan salat Jumat, juga ada pengajian dan pembagian zakat. Setiap hari selepas salat Maghrib, giliran anak-anak yang belajar mengaji. “Di sini, semuanya gratis,” kata imam yang hafal Al Quran itu.

Untuk belajar agama, lanjut Ameen, di depan masjid terdapat sebuah madrasah. Bangunannya berlantai dua dengan ruangan terbuka. Biasanya, waktu belajar dari jam 19.00 hingga 20.00. Pesertanya adalah anak-anak dan remaja.

Yang menarik lagi, di perkampungan itu juga tinggal salah satu keluarga dari KH Ahmad Dahlan, tokoh pembaharu Islam asal Yogyakarta yang mendirikan Muhammadiyah. Dia adalah Walidah Dahlan yang merupakan anak dari almarhum Irfan Dahlan, anak kelima KH Ahmad Dahlan.(*)

Toleransi Manifestasi Ajaran Islam

Drs H Hasan Maksum Nasution, SH, SPdI, MA

Rasulullah Saw bersabda, “Setiap keturunan Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baiknya pelaku kesalahan adalah yang bertaubat (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

Manusia yang sadar akan menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang baik, di antaranya adalah sikap memaafkan dan toleransi. Karena, sikap ini merupakan keniscayaan sosial bagi manusia yang beradab. Sikap ini sejalan dengan nama “insan” yang berarti tenang dan memaafkan. Sikap tenang ini tidak lengkap, jika tidak diiringi dengan sikap memaafkan kesalahan orang lain.

Jika sikap memaafkan dan toleransi hilang dari diri manusia, maka manusia akan terjerumus pada keserakahan dengan alasan prestasi dan kecerdasan. Ia akan melanggar hak orang lain dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Dengan hilangnya sikap toleran, terjadilah akumulasi kesalahan orang lain dalam memori. Hal ini mempermudah terbukanya file kemarahan ketika terjadi permasalahan atau perselisihan.

Dengan demikian, perselisihan menjadi tertutup hingga tidak dapat mencari jalan keluar untuk menyelesaikan konflik. Kondisi inilah yang menyebabkan seseorang tidak dapat menerima hal-hal positif dan selalu menganggap semuanya salah dalam kondisi apapun.

Keyakinan bahwa kebahagian berada di luar diri kita dan orang lain adalah penyebab kesengsaraan dan mitos yang yang kita buat sendiri. Sumber kesengsaraan kita justru karena ada sikap dengki dan tidak toleran dalam diri. Sikap toleran adalah suatu sikap tepo seliro kepada sesamanya atau menghargai pendapat orang lain. Toleransi bisa disebut “ikhtimal”, tasamuh yang artinya sikap membiarkan, lapang dada, jadi toleran beragama adalah menghargai, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok. Suatu sikap yang sangat terlarang bagi seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan sebagai sikap toleransi. Padahal ini adalah sikap sinkritisme yang dilarang oleh Islam. Tidak ada toleransi dalam Islam, apabila berkenaan dengan masala aqidah dan ibadah.

Dalam hal ini, beda antara toleransi dan sinkritisme sangatlah tipis, sehingga kita dapat benar-benar memisahkan mana sikap toleransi dan mana sikap sikritisme, bagi kalangan sekuler, sikritisme bukanlah hal hal yang dipersoalkan, karena mereka menganggap, agama haruslah terpisah sama sekali dengan kehidupan bernegara, Negara tidak boleh mengatur urusan agama, karena itu menyanggut hak azazi seseorang yang tidak perlu diatur oleh Negara.

Di Indonesia ajaran Islam tentang toleransi sejalan apa yang ada dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yang berbunyi; “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Pada pasal tersebut dijelaskan, tidak boleh ada paksaan dari mana pun terhadap keyakinan seseorang, karena hal itu termasuk hak azasi yang perlu dilindungi. Toleransi dalam Islam telah dipraktekkan ketika Rasulullah Saw tinggal di Madinah. Meskipun saat itu beliau adalah seorang pemimpin, namun beliau tetap menghormati umat lain.

Hal ini dapat dilihat, ketika Nabi Muhammad Saw membuat perjanjian yang dikenal dengan istilah Piagam Madinah. Di dalam Piagam Madinah secara ekspelisit tertulis beberapa golongan dan berbagai suku. Rasulullah Saw tampaknya mempunyai pengetahuan yang luas tentang keadaan politik kelompok-kelompok secara terpisah, maka tidak ada persatuan di antara mereka dan mereka tidak mempunyai pemerintahan yang membawahi berbagai kelompok itu.

Di dalam Piagam Madinah terdapat kalimat-kalimat yang mengandung makna dan mengarah kepada kesatuan dan persatuan. Pada Pasal 1 dinyatakan, “Mereka satu umat, berbeda dengan yang lain”, pasal 15 menyatakan, perlindungan Allah hanyalah satu, pasal 16 menentukan “Orang Yahudi yang mengikuti kita, berhak atas pertolongan dan bantuan”, pasal 24 menyatakan “Kaum Yahudi memikul biaya bersama kaum mukminin selama dalam peperangan”, pasal 25 menyatakan “Yahudi Bani ‘Auf satu umat bersama kaum mukminin”.

Dalam rangka upaya melakukan konvergensi sosial, Rasulullah Saw melakukan langkah-langkah sebagai berikut; Pertama, membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pertemuan kaum muslimin. Kedua, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor. Ketiga, meletakkan dasar-dasar tatanan masyarakat baru yang mengikut sertakan semua penduduk Madinah yang terdiri berbagai kelompok, termasuk Yahudi. Pada bulan-bulan pertama menetap di Madinah, beliau sibuk mengatur berbagai urusan menyanggut komunitas muslimin, agama dan urusan sekuler.

Banyak sekali urusan kaum muslimin yang ditanganinya, demikian pula dengan urusan internal seperti hubungan dengan pihak Yahudi, Musyirikin dan dengan kelompok-kelompok lain. Di samping membina persatuan intern umat Islam. Rasulullah juga menjalin hubungan dengan orang-orang di luar Islam. Di dalam Piagam Madinah, tentang hubungan umat Islam dengan orang-orang di luar Islam itu ditetapkan ketentuan yang sangat toleransi. Masyarakat Madinah sangat berbeda dengan saat beliau di Mekkah, Beliau melihat, bahwa di Madinah orang-orang hidup rukun dan damai.

Rasulullah Saw sama sekali tidak berpikir hendak mengatur siasat untuk memusuhi atau menyinggirkan mereka, beliau dapat menerima kenyataan adanya orang-orang Yahudi dan kaum penyembah berhala, beliau mengikat perjanjian dengan mereka untuk hidup berdampingan dan bekerja sama, hak dan kewajiban masing-masing suku dan golongan serta hubugan antara yang satu dengan yang lain dicantumkan di Piagam Madinah. Dengan kebijakan rasulullah saw yang membuat suatu perjanjian, justru sangan menguntungkan bagi Islam dan kaum muslimin, tidak sedikit dari mereka (Yahudi dan musyrikin Quraisy) yang kemudian masuk Islam dikarenakan ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan toleransi.
Bekaitan dengan tolelaransi dalam masyarakat, Rasulullah Saw bersabda; “Barang siapa yang menyakiti kaum zimmi, maka akulah menjadi penentang/lawannya. Dan barang siapa yang menjadi penentangku, aku akan menentangnya pada hari kiamat”.

Hadis ini menunjukkkan, orang zimmi tidak boleh disakiti/diganggu, ia harus dijamin keselamatan jiwa, harta benda dan kebebasan agamanya. Rasulluah akan menindak dan akan mengajukan orang yang disakitinya/menggangu hak zimmi itu, Hadis ini menunjukkan betapa Islam sangat toleran terhadap seseorang meskipun itu tidak satu keyakinan/berlain agama, jadi, tidaklah dibenarkan dalam Islam memusuhi seseorang atau kelompok tertentu dengan alasan, karena mereka adalah orang yang berlainan agama.Hadis lain yang masih berkaitan dengan sikap toleransi dalam Islam yaitu Nabi Saw bersabda, “Wahai golongan Quraisy, apakah yang akan saya perbuat terhadap kamu sekalian menurut dugaanmu? Jawab mereka; “Engkau akan berbuat baik, sebab engkau adalah seorang saudara yang mulia dan anak seorang saudara yang mulia”. Nabi Saw bersabda “Pergilah (Kemana kamu suka) sebab kamu semuanya dibebaskan/dimaafkan”.

Berkat toleransi Nabi saw yang sangat besar itu, golongan Quraisy dan suku-suku bangsa arab lainnya serta bangsa-bangsa non-Arab yang bermacam-macam agama dan kepercayaan itu berbondong-bondong dating kepada Nabi Saw untuk menyatakan diri masuk Islam dan Islam mereka banar-benar lahir bathin atas dasar kemauannya dan kesadaran mereka sendiri.

Itulah beberapa fakta sejarah yang dapat dijadikan bukti, dalam Islam sikap toleransi/menghargai pendapat orang lain amatlah diperhatikan dan di terapkan, oleh karena itulah kita sebagai umat dari Nabi Saw sudah barang tentu mengikuti dan menjalankan apa yang telah diajarkan oleh beliau.(*)

Penulis dosen STAI Sumatera, PTI
Al Hikamah dan STAI RB Batangkuis.