Home Blog Page 13658

Pukat Trawl Seser Pantai Sergai dan Belawan

SERGAI- Penangkapan ikan menggunakan pukat trawl masih berlanjut di perairan Serdang Bedagai (sergai), meskipun sudah dilarang penggunaanya oleh petugas kelautan.

Pun begitu, masih ada saja nelayan menggunakan pukat trwal secara terang-terangan ataupun secara sembunyi meraup ikan di laut Sergai.

Menurut Saiful (38) nelayan tradisional di Tanjung beringin, Sergai, sedikitnya delapan pukat trawl merambah hingga pinggiran pantai Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin. Akibatnya, nelayan tradisional yang hanya mengandalkan alat seadanya tidak lagi mendapatkan ikan.

“Lihat lah kapal pukat trawl itu, kerjanya hanya mondar mandir di perairan Tanjung Beringin, jaraknya hanya sekitar 1,5 mil dari bibir pantai dan rata-rata kapal tersebut berasal dari Belawan, Batubara, Sergai, dan Deli Serdang,” uangkap Saiful, kemarin(4/4).

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sergai Ir H Ramlan Matondang, kepada Sumut Pos, Rabu (4/4), mengatakan, sangat menyayangkan kapal pukat trawl yang masih ada beroperasi dengan jarak tangkap di bawah 2 mil. “Kita sangat menyayangkan masih adanya pukat trawl beroprasi di bibir pantai. Tapi kami terkendala biaya untuk mengawasi aktivitas pukat trawl itu dan lebih berkompeten mengawasinya Polisi Air,” terangnya.

Kasat Pol Air Tanjung Beringin Iptu Bahdaruddin, ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Rabu (4/4), melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengawasan semaksimal mungkin. Untuk di Sergai tidak ada lagi kapal pukut trawl, namun jika para nelayan melaporkan adanya aktivitas kapal pukat trawl, kita langsung tanggapi,” uangkapnya.

Sementara itu, Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Stasiun Belawan, Mukhtar, mengaku, kapal-kapal ikan pukat lamparan dasar (Fish Net) memang mirip trawl, tapi tidak memiliki pemberat (batu) di bawahnya.
“Kendala kita untuk menertibkannya, pukat-pukat ini memiliki izin dari Distanla provinsi dan kabupaten/kota, dan izin dari pemerintah pusat. Makanya kita sulit untuk melakukan penertiban,” kata Mukhtar.

Menurut dia, dari pengawasan yang dilakukan PSDKP, diketahui untuk kapal ukuran 10 GT ke bawah, pengeluaran izinnya dikeluarkan Distanla kabupaten/kota, 30 GT ke bawah dikeluarkan Distanla Sumut, sedangkan untuk 30 GT ke atas, izinnya dikeluarkan Kementerian di pusat. “Jadi kalau ada izin kita mau bilang apa,” sebutnya.(mag-16/mag-17)

Polres Labuhanbatu Amankan 20 Ton BBM

RANTAUPRAPAT- Dalam sepekan pihak Polres Labuhanbatu berhasil mengamankan sekitar 20 ton Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar yang dikemas dalam 70 jeriken saat pelaksanaan kegiatan Operasi Dian Toba Tahun 2012.
Pelaksanaan kegiatan Operasi Dian Toba yang digelar jajaran Polres Labuhanbatu tersebut, merupakan langkah antisipasi tentang penyalahgunaan dan adanya penimbunan BBM.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan didampingi Kasat Reskrim AKP Wahyudi SIK dan Kasubbag Humas AKP MT Aritonang, Rabu (4/4) di Mapolres Labuhanbatu mengatakan, kegiatan Ops Dian Toba yang dilaksanakan tersebut digelar selama satu bulan sejak 28 Maret lalu hingga 28 April 2012 mendatang.

Ketiga tersangka yang juga turut diamankan yakni, VRN (21) penduduk Dusun Kampung Mangga, Desa Asam Jawa, Kecamatan Kotapinang, Labuhanbatu Selatan, Rah (47) penduduk Kampung Kuala Beringin, Desa Kuala Beringin, Kecamatan Kualuh Hulu, Labuhanbatu Utara dan Suk (41) penduduk Kampung Pardamuan Nauli Sikopi-kopi, Desa Kuala Beringin, Kecamatan Kualuh Hulu, Labuhanbatu Utara.

Hirbak menjelaskan, selain ketiga tersangka, polisi juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti antara lain satu unit pick up warna hitam BK 9279 YE, BBM bersubsidi jenis premium sebanyak 20 jerigen (600 liter), BBM jenis solar sebanyak 30 jerigen (900 liter), lima jerigen solar, 14 jerigen premium, satu unit truck BK 8470 YI, satu unit sepedamotor Suzuki Smash BK 5623 QB dan satu unit sepedamotor Supra X 125 BK 5987 YAQ.

Sementara Kasat Reskrim AKP Wahyudi menambahkan, ketiga tersangka diamankan dengan barang buktinya dari dua lokasi berbeda. Saat itu, polisi mendapat informasi ada satu unit mobil mengangkut BBM subsidi yang akan dibawa menuju ke Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dan berhasil memberhentikan mobil tersebut saat melintas di Jalan Aek Torop/Jalan Bakaran Batu Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Kemudian saat mobil diberhentikan, polisi lalu melakukan pemeriksaan atas bawaannya dan menemukan di atas mobil tersebut bermuatan BBM subsidi jenis premium sebanyak 600 liter dan solar sebanyak 900 liter. Dari lokasi yang berbeda polisi juga mengamankan satu unit truck BK 8470 YI yang juga mengangkut BBM sebanyak 19 jerigen (636 liter) yang dilangsir menggunakan sepedamotor dari SPBU Aek Kanopan ke tempat parkir Toko Abadi dengan jarak 200 meter.

Wahyudi juga menjelaskan, tindak pidana yang dipersangkakan yakni, tindak pidana penyalahgunaan tata niaga dan/atau pengakutan BBM yang subsidi pemerintah dan atau melakukan pengangkutan atau niaga BBM tanpa izin usaha, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf b Undang-undang RI Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. (zul/smg)

Wali Kota Ngotot Diperbaiki Secepatnya

Rusak Traffic Light tak Parah

MEDAN-Traffic light yang rusak akibat aksi demo menolak kenaikan BBM di sepuluh persimpangan di Kota Medan ternyata tak terlalu parah.

Pantauan Sumut Pos Rabu (4/4) siang, beberapa traffic light yang rusakn
di antaranya pada boks dan lampu serta countdown (penghitungan waktu mundur), begitu juga alat kontrol. Sementara kalau tiangnya tidak banyak yang rusak.

Seperti di Jalan Perintis/Jalan Gaharu dari arah Jalan Perintis dua boks traffic light rusak, satu boks hilang total dan satu tiang rusak. Dari arah Jalan Gaharu satu boks rusak dan tiang masih bagus.

Jalan Perintis Kemerdekaan/Jalan Sutomo, dari arah Jalan Perintis ke Jalan Sutomo terlihat ada 7 boks lampu yang rusak dan enam tiang traffic light tidak rusak, lokasi ini terlihat dijaga polisi tapi sama sekali tidak ada dijaga oleh Petugas Dishub Medan.

Begitu juga di Jalan M Yamin/Jalan Sutomo terdapat empat boks yang rusak, countdown masih hidup dan tiang sama sekali tidak rusak. Jalan M Yamin/Jalan Gaharu, dua boks dan tiang tidak rusak, persimpangan ini terlihat dijaga polisi dan sama sekali tidak ada dijaga oleh petugas Dishub Medan.

Simpang Jalan Ngumban Surbakti/Jalan Setia Budi terdapat 3 boks lampu yang rusak, di persimpangan ini terlihat pengendara kendaraan bingung untuk menentukan jalan sehingga lalu lintas semrawut, karena sama sekali tidak ada petugas Dishub Medan dan polisi yang menjaga di persimpangan, sementara traffic lightnya rusak.

Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut, Rurita Ningrum mengatakan, penggunaan anggaran untuk penggantian traffic light yang rusak dialokasikan dari anggaran force mayor atau anggaran bencana, jelas sudah menyalahi.

Pasalnya, kerusakan traffic light itu bukan disebabkan karena bencana tetapi karena penyampaian aspirasi masyarakat.
“Tidak boleh anggaran bencana itu dialokasikan untuk penggantian traffic light. Anggaran itu untuk force mayor seperti bencana alam banjir dan lainnya. Kalau anggaran itu sudah digunakan, nantinya ketika ada bencana maka anggaran dari mana lagi yang akan diambil,” terang Rurita.

Dikatakannya, anggaran penggantian itu bisa dialokasikan melalui pengajuan anggaran P-APBD.
“Sebenarnya itu kan tidak terlalu mendesak. Sekarang juga kan sudah bisa menggunakan lampu pijar, untuk mengatasi kemacetan di persimpangan bisa dilakukan dengan menurunkan petugas Dishub ataupun petugas polisi, jadi sebenarnya tidak terlalu mendesak dan bisa diajukan nanti dalam P-APBD sehingga tidak perlu mengalokasikannya dari anggaran bencana,” terang Rurita.

Wali Kota Medan, Rahudman Harahap mengakui kalau anggaran penggantian traffic light yang rusak akibat aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM di Medan sudah diajukan oleh Dishub Medan.
“Iya anggarannya sudah diajukan. Kita mau pengadaan itu selesai tahun ini,” ucap Rahudman.

Ditegaskan Rahudman, penggantian traffic light yang rusak itu merupakan kebutuhan mendesak, sebagai tujuan untuk memperlancar arus lalulintas juga sebagai upaya untuk menata kawasan-kawasan kota, termasuk nantinya sekaligus penataan kawasan taman yang rusak akibat aksi unjuk rasa.

“Apalagi nanti tanggal 29 kita akan menggelar kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), nanti akan ada sektiar 30-an wali kota yang datang kemarin, makanya kita ingin Kota Medan ini kondusif, jadi itu memang kebutuhan kita,” tegas Rahudman.(adl)

Empat Mahasiswa UISU Tertipu Ratusan Juta

Terungkap Dalam Sidang Korupsi Kas Pemkab Batubara

JAKARTA- Boleh saja kenal dekat dengan seseorang. Tapi jangan terlalu percaya dengan semua ucapan ataupun bantuan yang diberikannya. Bisa saja, apa yang dilakukannya itu merupakan cara untuk memuluskan niat buruknya.
Seperti dialami mantan mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Muhammad Zulfadli Lukman.
Pria asal Serdang Bedagai ini, tidak saja kehilangan uang senilai Rp35 juta, tapi lebih dari itu, dia justru kehilangan bangku kuliahnya.

Menariknya lagi, ia ditipu bersama empat teman sesama mahasiswa lainnya. Hal ini terungkap di sela-sela persidangan atas terdakwa David Purba, terkait kasus korupsi dan pencucian uang dana kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kemarin.

Ia yang dihadirkan sebagai saksi atas David, mengungkapkan, jika beberapa waktu lalu saat masih menjadi mahasiswa UISU, berencana melakukan tugas praktik ke Malaysia. Tapi sayangnya, kampus dimana ia kuliah, tidak diakui di Malaysia, yang diakui Universitas Trisakti. Sehingga, Zulfadli dan keempat teman mahasiswa lainnya berencana transfer kuliah ke Trisakti.

Dari sinilah kasus penipuan ini berawal. Ternyata David mengaku, jika memiliki seorang teman yang mampu mengurus proses transfer tersebut yaitu Daud Aswan Nasution yang telah bermukim di Jakarta. “Saya kenal (David Purba) dari orangtua. Jadi sudah sejak kecil menganl dia pak Hakim,” ungkap Zulfadli.

Akhirnya, karena memang sangat percaya, apalagi David di mata Zulfadli merupakan orang yang terpandang di Serdang Bedagai, sehingga tidak ada keraguan sama sekali. Meski dimintakan uang senilai Rp35 juta untuk satu orang. (gir)

Modal Pas-pasan, Berhasil Kelilingi Objek Wisata di Sumut

Komunitas Medan Petualang

Bagi yang hobi berpetualang tapi punya dana pas-pasan alias cekak, tak perlu khawatir. Kini sudah ada komunitas yang memungkinkan berpetualang tanpa merogoh kocek dalam-dalam.

Jawabannya adalah bergabung dengan komunitas bernama Medan Petualang. Ya, Medan Petualang. Komunitas ini berisi pecinta keindahan alam dan objek wisata sejarah Indonesia. Berdiri sekitar 3 bulan yang lalu, Medan Petualang telah mengepakkan sayapnya, berkeliling ketempat objek wisata yang ada di Sumut. Modal bertualang dengan uang pas-pasan, tak menjadi halangan buat komunitas ini untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarah Sumatera Utara.

“Komunitas ini terbentuk atas dasar kebersamaan dan kekeluargaan, yang selama ini terjalin sesama anggota. Kebetulan kita hobi jalan-jalan, jadi nggak ada salahnya kalau kita membentuk komunitas ini,” ucap Aulia Ramadhan Ray salah satu pendiri komunitas Medan Petualang.

Diungkapkannya, walaupun baru tiga bulan berdiri, kita sudah menjelajahi beberapa Kabupaten yang ada di Sumut untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarahnya. “Kita sudah pergi ke Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai, Danau Linting, Gua Penen, Sungai Dua Rasa, Air Terjun Tanjung Raja dan Air Terjun Tarunggang yang ada di Kabupaten Deli Serdang, objek wisata di Kabupaten Simalungun hingga Kota Siantar, juga telah ditaklukkan,” tambah Aulia.

Medan Petualang juga ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa berwisata itu identik dengan mahal. “Medan Petualang ingin menciptakan, bahwa jalan-jalan alias mengelilingi objek wisata tidaklah mahal. Kita bisa mengelilingi tiga objek wisata sekaligus, tanpa mengeluarkan kocek yang besar,” tandasnya.
Dijelaskannya, agar lebih terjangkau, bepergian bisa dilakukan dengan bersama-sama dan mengumpulkan dana secara patungan.

“Dana kan bisa patungan agar lebih ringan. Pokoknya masalah transport menuju objek wisata bisa juga kita cari yang murah dan lebih efisien. Touring juga bisa dipilih mengendarai sepeda motor bersama-sama. Pokoknya banyak hal yang bisa kita bicarakan agar lebih hemat. Intinya adalah kebersamaan,” pungkas Aulia. (ful)

Bocah 9 Tahun Diduga Diserang Tomcat

TEBINGTINGGI- Wiliam Cristofer Tarigan (9) warga Jalan Baja, Lingkungan IV, Kelurahan Tambangan Hulu, Kota Tebingtinggi, diduga diserang Tomcat, Senin (2/4).

Serangga tersebut menyerang leher bagian blakang anak pasangan Lucas Veri Dana Tarigan dan Rizki Rinda Amila, hingga menyebabkan kulit bocah itu melepuh kemerahan.

Menurut Lucas, ayah korban, Rabu (4/4), racun kimia serangga itu langsung menimbulkan suhu tubuh bayi meningkat (demam), dan kondisi kulit mengelupas selebar 2 cm.

Diceritakan Lucas, peristiwa itu terjadi saat anak sulungnya tidur siang di bawah pohon kelapa sawit di sekitar rawa-rawa di samping rumahnya.
“Tiba-tiba anak saya menangis menjerit serta tangannya terus menggaruk leher belakang,” ujarnya.

Awalnya, mereka tidak mengira itu gigitan Tomcat, tetapi selama dua hari berlalu, luka tersebut semakin lebar. Dari hasil pemeriksaan dokter sepsialis kulit, dr Zuan Zein, luka bekas merah melepuh memang disebebkan senyawa racun kimia dari binatang yang telah menjadi iritasi pada kulit bayi, tetapi masalah racun Tomcat itu, pihak dokter tidak bisa menyimpulkannya karena tidak mengetahuinya dengan persis.(mag-3)

Ditinggalkan 100 Ribu Fans

 Se7en dan Park Han Byul

Se7en dan Park Han Byul adalah salah satu dari sedikit selebriti Korea yang terbuka soal hubungan mereka. Namun ternyata keterbukaan itu harus dibayar mahal. Se7en dan Han Byul mengumumkan bahwa mereka telah pacaran selama 7 tahun pada tahun 2009 lalu. Meski mengaku lega karena bisa pacaran tanpa diam-diam, Se7en pun banyak ditinggalkan oleh fansnya.

“Respon dari fans sangat berbeda. Setelah aku mengumumkan hubunganku, 100 ribu orang meninggalkan fans club online-ku,” ujar Se7en dalam episode ‘Strong Heart: YG Special’ Selasa (3/4)

Kejadian itu menyadarkan Se7en bahwa memang ada fans yang tidak bisa menerima keadaannya. Namun fans yang tersisa justru malah menunjukkan kesetiaan mereka. “Jadi aku sangat bersyukur pada fans yang masih bersamaku apapun yang terjadi,” sambungnya.

Se7en mengungkap bahwa tersebarnya foto dirinya dengan sang pacar Park Han Byul pada tahun 2009 silam sebenarnya malah menyelamatkan hubungan mereka berdua.

“Hubungan kami tidak pernah membosankan, namun kami menghadapi tantangan berat di tahun ke-7,” ucapnya. “Saat itu aku tengah berada di USA untuk promosi, dan karena kami terpisah jauh, kami sering bertengkar,” ucapnya. (bbs/net)

RSUD Salak Mulai Dibenahi

SALAK- Untuk menanamkan kepercayaan terhadap masyarakat dan menjadikannya sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan yang diakui, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, mulai melakukan pembenahan di segala bidang. Hal itu disampaikan Direktur RSUD dr Pintar Manihuruk, kepada wartawan, Rabu (4/4) di ruang kerjanya.

Meski relatif baru, seiring dengan usia daerah otonom yang memasuki usia 8 tahun, pusat unit layanan kesehatan tersebut senantiasa melakukan langkah dan berusaha mewujudkan visi dan misi kepala daerah sebagai ikon pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Beberapa langkah dan terobosan telah dimulai dengan pengadaan alat-alat kesehatan, perbaikan infrastruktur jalan menuju rumah sakit, dan rehab bangunan rumah sakit kini menjadi prioritas. “Hal itu dilakukan agar pelayanan dapat berjalan maksimal,” terangnya.

Ia berprinsip, kesehatan adalah segalanya bagi manusia. Orang rela membayar berapa saja agar bisa sehat. (mag-14)

Pentas Kesenian China Muslim Xinjiang Digelar di Medan

Kesenian China Muslim Pesona Xinjiang akan tampil di Kota Medan, tepatnya di hal persahabatan Sin Chew Daily Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, Jumat (6/4) mendatang.

Even itu dilaksanakan Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China (LIC) Sumatera Utara bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Forum Pembaharuan Kebangsaan (FPK) Sumut, Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara Peduli Sosial dan Pendidikan (MITSU PSP) dan konsulat Jenderal China untuk Indonesia di Medan.

“Pergelaran tersebut atas arahan ketua LIC Pusat, Prof dr H Sukamdani Sahid Gitosardjono,” kata ketua panitia, Juswan Tjoe dalam rapat internal pembentukan panitia malam budaya China Pesona Xinjiang di ruang rapat Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, kemarin.

Dikatakannya, dalam pertunjukan tersebut akan menampilkan tarian mangkok di atas kepala, Qebiyat Mukam yang merupakan set kedua dari lagu-lagu mukam dua belas, Tarian Emas Dolan, kelompok lagu dan tarian dengan mengekspresikan kebahagiaan dan bagian ketiga yang menceritakan dari lagu-lagu dan selingan mukam dua belas.

Kemudian, tarian tradisional rakyat Uygur yang sangat populer di daerah Turpan Xinjiang yang akan ditarikan dengan penuh semangat dan humor. Tak ketinggalan penampilan tarian dengan keceriaan dengan mengintegrasikan lagu, musik dalam satu tarian.

“Dengan diadakannya pertunjukan ini, juga sekaligus membuktikan pembauran etnis di kota Medan yang beragam tetap menjadi satu,” jelasnya.

Ketua MUI Medan, Mohamad Hatta menyambut baik digelarnya pertunjukan kesenian budaya China Muslim Xinjiang. “Saya bersama tokoh lintas agama pernah berkunjung ke daratan China termasuk ke Xinjiang yang mayoritas penduduknya beragama Islam,” ucap Hatta.

Dikatakannya, pertunjukan malam kesenian Budaya China Muslim Xinjiang yang kaya dengan warga warni seni budaya China bernuansakan Islam ini akan didukung sepenuhnya dalam pertukaran budaya muslim kedua negara. “Tujuannya untuk meningkatkan hubungan budaya Islam kedua negara,” ujarnya.

Ketua FPK Sumut, Bahari Damanik mengatakan melalui acara ini diharapkan seluruh masyarakat Sumut khususnya Medan dari berbagai etnis suku dapat mengetahui ternyata di China ada budaya China Muslim. “Selama ini sebagian mereka hanya mengetahui budaya China berupa Cap Gomeh, Imlek maupun pertunjukan Barongsai,” ujarnya.

Dengan pertunjukan ini diharapkan bisa membawa rasa persahabatan yang kokoh melalui pertukaran budaya antarkedua negara dan membawa dampak positif dalam meningkatkan kebangsaan dalam pembauran diantar etnis suku yang ada di Sumut. (adl)

Harga Ikan pun Melambung

Ombak Besar, Nelayan Kembali tak Melaut

BELAWAN- Gelombang tinggi akibat cuaca buruk di lautan kembali terjadi.Akibatnya, Sejumlah nelayan asal Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Gabion Belawan pun terpaksa gigit jari karena tak bisa melaut. ‘’Gelombang tinggi mulai terjadi lagi sejak kemarin, sebahagian nelayan terpaksa menyandarkan boat (kapal ikan ) di tangkahan,’’ kata Manaf (52), seorang nelayan kepada Sumut Pos, Selasa (3/4) sore.

Manaf mengatakan, kondisi cuaca yang dikenal dengan istilah pasang besar lima belas hari bulan itu kembali muncul. Nelayan pun akan terancam bahaya jika memaksakan diri melaut. Pasalnya, kapal penangkap ikan tak akan bisa menahan gelombang setinggi lebih dari dua meter itu.

Menurutnya, kalau kondisi perairan sudah seperti ini nelayan lebih memilih tak melaut sambil memantau perkembangan cuaca. Jikapun melaut, hanya di perairan yang dekat dengan daratan. “Memang ada juga yang berangkat melaut, tapi sedikit. Itupun kalau gelombang tinggi datang mereka (nelayan) kembali pulang ke tangkahan,” ungkapnya.

Terjadinya perubahan musim di laut juga berdampak terhadap penjualan ikan segar di pasaran. Dari pantauan Sumut Pos di PPS Gabion Belawan, harga jual ikan laut seperti ikan tongkol yang sepekan sebelumnya hanya Rp16.000 per kg, kini naik menjadi Rp23.000 per kg. Ikan gembung Rp22.000 per kg naik Rp25.000 per kg, ikan selayang Rp16.000 per kg naik Rp20.000 per kg dan ikan gulama yang sebelumnya Rp6.000 per kg harga kini mencapai Rp10.000 per kg.

“Kalau sudah musim ombak begini pasokan ikan dari nelayan minim, meskipun ada harganya mahal. Dan ini masih harga di PPS Gabion Belawan, kalau harga jual ikan di pasar tradisional sudah beda lagi. Bahkan cendrung lebih tinggi harganya,” ujar Rusli, seorang pedagang.
Apa yang dikatakan, Rusli ternyata benar. Amatan sumut pos di beberapa pasar tradisonal di Medan Utara diantaranya di Pasar Tradisional Marelan misalnya, harga jual ikan segar melambung tinggi, ikan tongkol harga yang dijual ke masyarakat mencapai Rp25.000 per kg, selayang Rp23.000 per kg, gulama Rp15.000 per kg dan gembung Rp27.000 per kg.

Kenaikkan harga yang cukup tinggi tersebut menurut para pedagang pengecer di pasar tradisional Marelan dikarenakan harga beli ikan dari agen juga tinggi. “Kami beli dari agen sudah tinggi, kan nggak mungkin kita jual tanpa ambil untung,” kata Samsuddin (39) seorang pedagang pengecer.
Dia mengatakan, meski harga ikan mahal namun minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan segar tetap banyak. “Biar pun mahal, ibu-ibu dan warga lainnya tetap ramai datang untuk membeli ikan,” imbuhnya.(mag-17)