Kelompok 55 Desak Musdalub
MEDAN-Kabar perpecahan di Partai Golkar Sumut makin mengemuka. 14 DPD Partai Golkar se-Kabupaten/Kota atau kelompok 55 mendesak diadakan Musyawah Daerah Luar Bisa (Musdalub) untuk memilih ketua DPD baru. Lima kandidat pun muncul, satu di antaranya malah kader Partai Bintang Reformasi (PBR).
Bahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh Sumut Pos pada Selasa (3/4), diketahui lima kandidat itu telah mendapat restu dari Ketua DPD Sumut Nonaktif, Syamsul Arifin. Kelima kandidat yang dimaksud adalah Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi, Bupati Tapanuli Selatan Syahrul Pasaribu, Anggota DPR-RI Chairuman Harahap, Anggota DPRD Sumut Ajib Shah, dan Bupati Labuhanbatu Utara Kharuddinsyah Sitorus atau yan lebih dikenal dengan H Buyung.
Kemunculan H Buyung cukup mencengangkan. Pasalnya, hingga kini dia masih menjadi Ketua PBR Labuhanbatu Utara.
Namun, kehadiran H Buyung ikut dalam kancah pertarungan ini dianggap sebagai nuansa baru dan dia bisa dianggap sebagai poros tengah. “Akibat timbulnya konflik di tubuh Golkar Sumut, membuat Ketua Umum DPP Partai Golkar Abu Rizal Bakrie memanggil dan mengumpulkan seluruh pengurus Partai Golkar Kabupaten/ Kota se-Sumut,” ujar sumber itu.
Menurut sang sumber, persaingan kelima kandidat baru terlihat jika Musdalub benar-benar digelar. Jalan menuju Musdalub memang sudah digagas. Setidaknya hal ini tampak setelah ada pertemuan di Hotel Polonia Medan pada Rabu malam lalu. Adalah kelompok pendukung Syamsul Arifin yang terdiri dari 14 DPD Partai Golkar se-Kabupaten/Kota atau kelompok 55 yang bersuara. Kelompok ini dikomandoi Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut Hardi Mulyono dan Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Mahmudin Lubis. Mereka mendesak dan menginginkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar agar segera melaksanakan Musdalub untuk memilih ketua baru DPD.
Rapat tertutup yang dipimpin Hardi Mulyono ini dihadiri 14 DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota se-Sumut dan pengurus lainnya berjumlah 55 orang hingga dikenal dengan nama Kelompok 55.
Pertemuan 14 DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota se Sumut ini, sambung sumber itu, berdasarkan izin dari Syamsul Arifin. “Justru pertemuan itu diketahui oleh Bapak Syamsul Arifin.Makanya semua pengurus yang hadir mau menandatangani opsi itu. Karena semua pengurus yang hadir adalah pendukung Syamsul Arifin,” kata sumber lagi.
Ke-14 DPD Partai Golkar yang mendukung Syamsul Arifin adalah Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias, Kotamadya Gunungsitoli, Kota Tebingtinggi, Kabupaten Langkat, Kota Medan, Kota Tanjungbalai, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Serdangbedagai, dan Kabupaten Asahan.
Nah, hasil pertemuan rapat internal tersebut melahirkan tiga opsi. Pertama, DPD meminta pada DPP Partai Golkar untuk mengembalikan Syamsul Arifin sebagai Ketua DPD. Kedua, meminta DPP untuk menggantikan Plt Ketua DPD Golkar Sumut Andi Ahmad Dara atau Adai karena dianggap tidak koperatif. Dan ketiga, meminta DPP segera melaksanakan Musdalub untuk memilih ketua baru menggantikan posisi Syamsul Arifin yang tersandung dalam perkara korupsi.
Hasil kesepakatan kelompok 55 ini, ditandatangani secara bersama-sama untuk segera di sampaikan pada Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.
Sementara itu kelompok pendukung Andi Ahmad Dara, yang dikomandoi Wakil Ketua DPD Golkar Sumut Wagirin Arman dan Wakil Sekretaris Partai Golkar Sumut Hanafi Harahap, ingin mempertahankan Adai sebagai Plt. Mereka pun menganggap pertemuan kelompok 55 itu tidak sah dan melanggar AD/ART.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari fungsionaris Partai Golkar Sumut, bahwa para pengurus mendapatkan dua surat yang dilayangkan kedua kubu ini. “Yang pertama surat undangan untuk menghadiri rapat di Hotel Polonia Medan, untuk membahas tiga opsi tadi. Surat undangan itu memakai kop surat DPD Partai Golkar Sumut yang ditandatangani Sekretaris Hardi Mulyono dan Wakil Ketua Mahmudin Lubis. Sedangkan surat protes penolakan untuk menghadiri rapat itu juga dilayangkan pada seluruh pengurus, memakai fotokopi kop surat Partai Golkar Sumut distempel dan ditandatangani Wagirin Arman dan Hanafi Harahap,” ujar fungsionaris Partai Golkar Sumut yang namanya enggan dikorankan.
Lebih lanjut dikatakan pengurus Golkar Sumut itu, bahwa dari rapat internal tertutup itu, selain membahas tiga opsi tersebut, kelompok 55 ini juga membahas tentang menempatkan Plt Ketua DPD Partai Golkar Kota Tanjungbalai yang dari pengurus Partai Golkar Tanjungbalai sendiri.
“Hal inilah yang mendasari bahwa pertemuan itu digelar. Karena selama ini DPD Golkar Sumut dipimpin plt-nya yang bukan kader Golkar Sumut. Makanya, kepengurusan Partai Golkar menjadi vakum akibat Plt-nya tidak koorporatif. Bukan itu saja kelompok 55 ini juga mendesak DPD Partai Golkar Sumut, untuk melayangkan surat peringatan dan ini sudah dilakukan pada dua kader Partai Golkar yang tidak mendukung mosi tidak percaya pada Adai. Selain itu, kedua kader ini, juga dianggap telah melanggar AD/ART, memakai kop surat (fotokopi) dan memakai stempel partai tanpa diketahui sekretariat partai,” beber sumber itu.
Sementara itu Sekretaris Partai Golkar Sumut Hardi Mulyono hingga saat ini belum bisa dihubungi. Sedangkan Wakil Sekretaris, Muhammad Hanafi Siregar mengatakan posisi Plt DPD Golkar tetap kuat. “Sebagai Wakil Sekretaris Golkar Sumut, kepemimpinan tidak berafiliasi orang per orang. Itulah ruh sebagai kader Golkar SUmut. Pak Andy Achmad Dara selaku Plt Ketua DPD adalah atas SK DPP. Hal revitalisasi di DPD adalah perintah DPP dan berlaku seluruh Indonesia. SK Revitalisasi dimaksud belum saya lihat. Dan sebagai kader, demikian juga kawan-kawan lain. Sebagai kader siap ditugaskan oleh pimpinan,” tegasnya.
Sementara itu, fungsionaris Partai Golkar Sumut Gomo Mendrofa ketika dikonfirmasi wartawan mengaku dirinya sedang berada di Jakarta. “Kalau masalah naiknya berita di media hari ini yang mengatakan adanya konflik internal di Partai Golkar Sumut, abang belum dapat perintah untuk bicara. Nanti abang bicara kan dulu pada pimpinan partai, kalau memang abang dapat izin untuk menerangkan ini, nanti abang hubungi lagi adik ya,” ujar Gomo. (rud/ari)