Home Blog Page 13661

Terkait Inalum, Pemprovsu Terus Cari Solusi

MEDAN- Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujo Nugroho mengakui, hingga kini belum ada progres terkait pengelolaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pada 2013 mendatang. Menurut Gatot, kendati belum ada perkembangan, namun upaya-upaya untuk mencari solusi dari semua hal yang berkaitan dengan keberlangsungan PT Inalum, termasuk soal pembagian atau share saham pengelolaan Inalum kepada 10 kabupaten/kota di sekitar Danau Toba. “Belum, belum. Semuanya masih terus berlangsung,” kata Gatot yang ditemui sebelum menaiki lift di Lantai IX, Kantor Gubsu, Kamis (12/4).

Gatot menambahkan, pada prinsipnya, dalam rangka mencari solusi atau penyelesaian semua persoalan yang berkaitan dengan Inalum, sudah ada tim teknis yang dibentuk dan berada di bawah naungan instansi atau kementerian yang membidanginya.(ari)

Jatah Dikurangi, Pembagian Raskin Ricuh

BELAWAN- Pembagian jatah beras untuk warga miskin (Raskin) di Pajak Baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan, berlangsung ricuh, Jumat (13/4). Pemicunya, diduga disebabkan jatah raskin yang dibagikan tak sesuai dengan yang telah ditetapkan.

“Katanya jatah kami lima belas kilo, tapi begitu kami timbang kembali kok kurang. Setiap kali warga menanyakan, petugasnya bilang itu sudah sesuai jatah,” beber Khairuman (54), seorang warga kepada Sumut Pos.

Menurutnya, dalam pembagian raskin tersebut setiap lima orang warga diberi jatah satu goni setengah beras. “Yang setengah goni itu tidak pernah ditimbang, hanya ditakar berdasarkan kaleng roti. Dan ini sering terjadi kekurangan hingga dua kilo,” jelasnya.

Karena sudah berulang kali terjadi kekurangan, warga yang kecewa lantas menemui seorang pegawai di kantor kelurahan tersebut. “Tadi kami sempat menanyakan langsung ke Ibu Asniah dan dia bilang itu memang sudah dari sananya, karena dalam satu goni ukuran 50 kg yang diantar Bulog juga kurang,” tutur warga.

Tak mendapat jawaban memuaskan, sejumlah warga yang merasa keberatan atas pembagian jatah raskin yang dinilai tidak sesuai porsi tersebut lantas meninggalkan lokasi kantor kelurahan dengan raut wajah kecewa. “Kami menduga pasti ada permainan dalam pembagian jatah raskin ini, karena kejadianya nggak cuma sekali ini saja terjadi, tapi sudah sering. Padahal mereka minta uang goni kami kasih,” ujarnya.

Sementara, terkait kericuhan pembagian jatah raskin hingga kemarin siang Lurah Belawan Bahagia Kecamatan Medan kota Belawan, Sahran Siregar saat akan dikonfirmasi tidak berhasil ditemui. Sedangkan pihak berkompeten lainnya di kantor kelurahan tersebut tidak bersedia memberikan penjelasan.
Informasi diperoleh Sumut Pos di Belawan menyebutkan, tercatat sedikitnya sekitar 170 ton jatah beras untuk masyarakat miskin dipasok pihak Bulog ke Kecamatan Medan kota Belawan, untuk kemudian disalurkan kepada 11.360 kepala keluarga yang di enam kelurahan.(mag-17)

Developer Perumahan Helvetia Siagakan Puluhan Pria

LABUHAN DELI- Suasana di lahan sengketa seluas 74 hektar di Pasar IV Desa Helvetia Kecamatan Labuhan Deli, Kamis (12/4) kemarin, kembali memanas. Meski bentrokan tak sempat terjadi, namun puluhan oknum pria diduga suruhan pihak developer perumahan tampak berjaga di area lahan yang masih dalam proses persidangan tersebut.

Puluhan pria ini sebelumnya datang menumpangi angkot dan langsung berjaga di sekitar lahan. “Kami disini hanya berjaga-jaga, kabarnya dari kelompok penggerap akan datang lagi menyerang ke lokasi ini,” kata, seorang pria yang tak mau dikorankan namanya.

Tak jauh dari lokasi lahan sengketa, sekolah SMA Negeri 1 Labuhan Deli yang tengah melakukan aktivitas belajar-mengajar mulai terganggu. Pasalnya, para guru merasa khawatir bakal menjadi imbas dari sasaran penyerangan antar kedua kelompok tersebut.

“Kami takut jadi sasaran. Apalagi jaraknya tak jauh dari sekolah kami. Orang-orang bayaran itu sejak kemarin sudah di sana,” kata M br Manurung (39), guru di sekolah itu.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Labuhan, AKP Oktavianus ketika ditanyai mengatakan, sejumlah aparat kepolisian telah disiagakan untuk melakukan pengamanan.(mag-17)

Ratusan Akta Lahir Terbengkalai di Disdukcapil

SERGAI- Beberapa warga kecewa dengan pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sergai. Pasalnya, pembutan akta kelahiran hampir 4 bulan belum rampung, akibatnya Kantor Desa menjadi sasaran para warga menyalurkan keluhannya.

“Saya buat akta lahir Oktober 2011 lalu, sebanyak 3 akta lahir melalui pihak desa, tapi hingga kini akta lahirnya belum selesai, bahkan saya juga sudah mendatangi dinas terkait namun jawabannya sama,” ungkap Desy (37) warga Desa Sei Rejo, kepada Sumut Pos, Jumat (13/4).

Kepala Desa Sei Rampah, Edi Marpaung, ketika dihubungi Sumut Pos mengatakan, di desanya ada sekitar 50 akta lahir yang belum selesai.
Hal serupa juga terjadi di Desa Tebingtinggi, Kecamatan Tanjung Beringin. Sedikitnya ada 12 akta lahir yang belum selesai hapir tiga bulan terakhir.
Sekdes Desa Tebingtinggi Muklis, mengaku, sudah tiga bulan ini akta lahir yang dibuat warga di desa ini belum selesai dikerjakan.

Pengakuan yang sama juga dikatakan Kaur Desa Sei Rejo, Agus Pitong. Dia mengatakan, ada puluhan warganya yang hingga kini akta lahir belum selesai masih di dinas terkait, sejak Oktober 2011 lalu.

Mendengar keluhan tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai Ir Loso Mena, langsung mendatangi Disdukcapil Sergai dan menanyakan kepada Kasi Akta Muriati, berhubung Kadis Disdukcapil Sergai Hj. Dra Enny Toreh tidak berada di tempat.

Muriati mengatakan, Disdukcapil terkendala dengan operator akta yang hanya berjumlah 2 orang, dan begitu juga dengan lubernya pengurusan akta dari kecamatan lain.

Di hadapan staf Disdukcapil Sergai Ir Loso Mena, meminta agar mengupayakan pelayanan masyarakat, karena mereka bukan gratis dalam pengurus akte tersebut. “Jika operator kurang ya ditambah, ajukan anggarannya atau saya buktikan dulu, biar saya yang mengerjakannya lama atau tidak, orang tinggal ganti nama saja kok bisa lama siapnya, nanti kalian yang tidur,” amuk Loso Mena. (mag-16)

Dicabuli, Calon Istri Lapor Polisi

TEBINGTINGGI- Ervianto (20) warga Jalan Batu Bara, Kelurahan Satria, Kota Tebingtinggi, harus meringkuk di sel tahanan Mapolres Tebingtinggi karena mencabuli pacarnya Bunga (18), Kamis (12/4).

Keterangan diperoleh dari mapolres Tebingtinggi, Jumat (13/4), pria yang sehari-hari bekerja sebagai fotografer keliling ini, ditangkap petugas di Jalan Imam Bonjol, Kota Tebingtinggi, karena telah dua kali mencabuli pacarnya. Karena perbuatan tersangka, akhirnya petugas menggiring pelaku ke mapolres Tebingtinggi.

Menurut Ervianto saat menjalani pemeriksaan di Mapolres, Jumat (13/4) siang, dia melakukan perbuatan layaknya hubungan suami istri sebanyak dua kali di rumahnya karena berdasarkan suka sama suka. Bahkan tersangka juga mengaku telah bertunangang dengan Bunga selama 4 bulan berjalan.
“Aku cinta sama dia, dia suka sama aku, kami melakukannya atas suka sama suka,” ujar Ervianto kepada petugas.

Percintaan mereka berdua sudah berjalan selama 2 tahun lamanya, bahkan mereka rencana mau melangsungkan pernikahan atas persetujuan orang tua pada Agustus mendatang. Pasca pelaporan Bunga ke Mapolres Tebingtinggi tertanggal 24 Maret 2012 lalu tidak diketahuinya.

“Aku tak tahu kalau tunangan ku melapor ke Mapolres, padahal kami akan melangsungkan pernikahan itu. Sampai sekarang saya tidak mengetahui penyebab calon istri ku mengadukan ke polisi,” keluh Ervianto.

Memang ada kecemburuan yang terjadi, kata Ervianto, itu pada saat ada pesta pernikahan di rumah kerabat tersangka beberapa bulan lalu, karena tugasnya menjadi tukang fotogrefer itu selalu berdekatan dengan wanita. Malam itu Bunga sempat melihat tersangka duduk saling berdekatan, melihat itu korbanpun langsung menangis dan mengabarkan pristiwa itu kepada kedua orang tuanya.

“Bukan permasalahan itu saja, tetapi orang tua kedua belah pihak (rencana besan) pernah bertengkar karena permasalahan sepele,” terang Ervianto.
Ervianto berharap kepada calon istri dan mertuanya agar mau berdamai untuk menyelesaikan perkara ini, karena adanya pihak ketiga yang sengaja hendak memisahkan Evrianto dengan Bunga.

“Saya masih mencintainya dan bunga juga sama, tetapi saya tidak mengerti mengapa samapai begini padahal aku baru saja selesai opname di Rumah Sakit (RS),” paparnya.

Sementara itu, Kapolres melalui Kasat Reskrim Polres Tebingtinggi AKP Lili Astono membenarkan tertangkapnya Ervianto dengan pengaduan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. (mag-3)

Lagi, Guru SD di Sergai Dipungli Rp600 Ribu

SERGAI- Pungutan liar (pungli) terhadap guru-guru sekolah dasar (SD) peserta Ujian Kompetensi Awal (UKA) di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) terus berlanjut. Meski telah dikutip Rp2 juta untuk kelancaran UKA dan dilanjutkan dengan Rp20 juta setelah dinyatakan lulus, kini guru-guru tersebut mengaku dikutip Rp600 ribu untuk perlengkapan berkas.

“Untuk kelengkapan berkas bagi yang lulus, kami diminta uang Rp600 ribu oleh dinas terkait dengan alasan untuk berkas,” kata seorang guru SD di Kecamatan Dolok Masihul, kepada Sumut Pos, Kamis (12/4).

“Tak berani kami terlalu vokal. Seperti tak tahu saja sistem di Dinas Pendidikan Sergai ini. Vokal sedikit, langsung di tempatkan di daerah terpencil,” tambah guru SD yang takut menyebutkan namanya ini.

Menyikapi kutipan itu, Wakil Bupati Serdang Bedagai Ir Soekirman menegaskan, pelaku pengutipan tersebut harus ditindak tegas sesuai peraturan yang berlaku. “Pada perinsipnya kita sangat mendukung peningkatan mutu pendidikan. Namun jika terjadi penyimpangan, harus ada tindakan sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya saat dihubungi Sumut Pos.

Sementara Sekda Pemkab Sergai Drs H Haris Fadillah MSi yang dihubungi Sumut Pos Kamis (12/4), mengaku belum mau banyak berkomentar soal dugaan pungli tersebut. “Saya tidak bisa terlalu berkomentar dengan hal itu. Namun jika itu memang dilakukan, saya berharap Inspektorat melakukan pemeriksaan,” terangnya.(mag-16)

Tiga Pelaku Judi Diamankan

LANGKAT- Tiga tersangka pelaku perjudian jenis hongkong dan togel diamankan dari lokasi dan waktu berbeda, Kamis (12/4) kemarin, menyusul laporan warga karena resah aktivitas illegal dimaksud berlangsung.

Irwadi Nur alias Ii (36) warga Kelurahan Pelawi Utara Kecamatan Babalan, Langka, diamankan tak jauh dari kediamannya sekitar Gang Rahmat kemarin siang. Dari tangan Ii petugas menyita barang bukti 1 unit Hp, 1 buku erek-erek, 2 buah buku tulis, 2 kertas bertuliskan angka togel dan uang tunai Rp89 ribu.
Masih hari yang sama, personil unit VC Judi/Sila Polres Langkat mengamankan Sugiharto alias Anto (54) warga Lingkungan Paya Kanan Kelurahan Alur Dua Kec Sei Lepan-Langkat. Pelaku tertangkap tangan di kediamannya, merekap pasangan angka pelanggan.

Selain itu dari pelaku disita uang Rp215 ribu, 1 telepon genggam berisikan nomor (angka pesanan pelanggan), 1 blok kertas rekapan kosong, 1 set kertas judi togel, 1 blok kertas rekapan lama, 2 set rekapan angka keluar judi togel dan hongkong, 1 buku bon hutang pelanggan dan 2 buah buku berisikan rekapan angka judi togel dan hongkong.

Tak sampai disitu, polisi kembali menggaruk Ahadisyah Putra alias Bambang (43) warga Gang Ternak Kelurahan Sei Bilah Barat, Kecamtan Sei Lepan, Langkat. (mag-4)

Petugas Koperasi Tewas di Beram Jalan

TEBINGTINGGI- Sorianus Gulo (22) warga Nias, yang bekerja sebagai petugas koperasi simpan pinjam uang di Kota Lubuk Pakam, tewas dalam kecelakaan tabrak lari di Jalan Gunung Leuser, Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi, Kamis malam (12/4) sekira pukul 21.30 WIB.
Informasi diperoleh, korban Sorianus pada hari naas itu sengaja datang dari Lubuk Pakam ke Kota Tebingtinggi dengan mengenderai sepeda motor jenis Honda yang tidak menggunakan plat nomor polisi untuk menemui teman-temannya warga etnis Nias yang merantau ke Kota Tebingtinggi.

Setelah puas bercengkerama seharian, korban yang akan kembali ke Lubuk Pakam melintas dari Jalan Gunung Leuser, Kota Tebingtinggi. Tidak diketahui secara pasti bagaimana kecelakaan tersebut terjadi, namun warga sudah menemukan korban Sorianus sekarat di beram jalan, hingga akhirnya tewas saat dibawa ke rumah sakit. (mag-3)

Pohon Tumbang, Danau Toba Dikotori Enceng Gondok

Pasca Gempa Aceh

Gempa berkekuatan 8,5 sr yang mengguncang Aceh Rabu lalu, juga membuat beberapa pohon di pinggir Jalinsum Siantar-Parapat tumbang. Selain itu, gempa juga membuat eceng gondok mengotori perairan Danau Toba.

Jetro Sirait-Parapat

Pohon yang tumbang sempat menghalangi arus lalu-lintas di Jalinsum km 41 Siantar-Parapat tepatnya di Jembatan Sualan Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun, Kamis (12/4) pukul 10.00 WIB.

Walaupun  tidak memakan korban, namun pohon tersebut mampu mengagetkan warga yang dekat dengan lokasi kejadian. Selain itu, pohon tersebut nyaris menimpa angkutan umum dan  sepedamotor yang sedang melintas.

Namun beberapa saat kemudian, Kasi Trantib Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Nelson Sinaga SH bersama Satpol PP dan Koramil Parapat Pelda Edy Damanik turun ke lapangan menyingkirkan pohon yang menghalagi jalan bersama warga setempat.

Menurut Kuden Bakara warga Sualan, kondisi pepohonan di perbukitan sudah banyak yang tua, sehingga setiap datang hujan dan ada getaran akan mengakibatkan pohon–pohon tumbang.

Selain itu, gempa di Aceh yang juga sangat terasa di seputaran Danau Toba mengakibatkan eceng gondok mengotori dan menumpuk di Danau Toba, sehingga menyita perhatian sejumlah pengunjung khususnya di Pantai Sualan Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon dan pantai Wisata Ajibata Kabupaten Tobasa.

Informasi yang dihimpun METRO (grup Sumut Pos), enceng gondok tersebut berasal dari Pantai Dermaga Ajibata. Di mana, selama ini sudah menumpuk dan menjalar hingga ke Pantai Pea dan Sebelah Pantai Hotel Danau Toba Cottage.

Pagi hari seperi biasanya, para nelayan tradisional dan nahkoda kapal sudah turun ke danau dan melihat permukaan air kawasan pantai wisata Parapat dan Ajibata. Di sana para nelaya melihat tumpukan eceng gondok dan sebagian sudah terdampar hingga ke daratan.

Menurut G Matondang dari Stasiun BMKG Parapat, gelombang yang terjadi di Danau Toba adalah pengaruh getaran gempa di Aceh dan Sumatera Barat, sehingga enceng gondok yang selama ini menumpuk akan terpecah dan terbawa arus. “Eceng gondok kan tumbuhan air yang terapung yang tidak menyentuh tanah, sehingga gampang terbawa omak,” terangnya.

Beberapa petugas di Dinas Perhubungan di Kantor Pelabuhan Ajibata mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut dan bukan tanggung jawab mereka. “Kami tidak mengetahui kalau enceng gondok itu dari Dermaga Ajibata. Hal itu bukan tanggung jawab kami,” ujar petugas jaga di sana.
Sementara itu, pecinta lingkungan hidup yang juga Ketua Yayasan Taman Eden 100,  Marandus S yang dihubungi mengatakan, seharusnya pemerintah cepat mengatasi permasalahan ini karena sudah bertahun–tahun enceng gondok menumpuk di Dermaga Ajibata. Kalau dibiarkan, akan mengganggu ekosistem dan berdampak buruk bagi pariwisata.

“Dari mana asal enceng gondok itu, kalau dari Pantai Dermaga Ajibata berarti yang bertanggung jawab adalah Pemkab Tobasa. Kenapa selama ini dibiarkan, inilah akibatnya. Kita harus bersama-sama mencari solusi terbaik mengatasinya agar Danau Toba tetap terjaga kebersihan dan keindahannya,” ujar peraih Kalpataru tahun 2005 ini.(*)

Aduh, Kenapa Rumah Kami Terbakar…

Lagi Salat Jumat, Rumah Dilalap Api

MEDAN-Satu unit rumah semi permanen milik M Dinar Musa (65), di Jalan Brigjen Katamso, Gang Pahlawan, Medan Maimon, musnah dilalap api saat pemilik rumah sedang melaksanakan ibadah Salat Jumat, Jumat (13/4) siang.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun seorang warga Toni (43) mengalami luka-luka akibat tersengat listrik saat mencoba membantu petugas pemadam kebakaran.

Menurut tetangga korban, Arip (30), api berasal dari lantai dua. Karena kondisi rumah di lantai dua terbuat dari kayu dan di dalamnya banyak pakaian api cepat membesar. Api sempat menyambar dapur belakang rumah di sebelahnya milik Mahyar.

Ros, istri M Dinar yang saat itu berada di dalam rumah seorang diri tidak menyadari api sudah membesar. Beruntung, salah seorang warga yang melintas hendak berangkat menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid Jalan Brigjen Katamso melihat kepulan asap tebal keluar dari seng rumahnya.

“Saya curiga saja kenapa ada asap hitam tebal di loteng rumahnya. Langsung saya beritahu warga sekitar dan langsung memanggil pemilik rumah. Ternyata api sudah membesar di atas rumahnya,” kata Syahwal, usai membantu memadamkan api bersama petugas Damkar.

Bersama warga lainnya, Ros dibopong keluar dari rumah. Warga secara bergotong royong menyelematkan harta benda yang berada di lantai I rumahnya sekaligus menghubungi petugas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (P2K) Kota Medan.

Warga sekitar yang rumahnya saling berdempetan mencoba menyelematkan harta benda miliknya ke tempat yang lebih aman karena takut api menyambar rumahnya.

Petugas Damkar datang ke lokasi dan langsung memadamkan api. Naas bagi Toni saat membantu petugas Damkar memadamkan api bersama warga lainnya, dirinya tersengat listrik dari trafo yang berada di atas rumah milik M Dinar. Dengan tubuh basah kuyup, Toni terpental dari atap rumah dengan ketinggian 2 meter.

Tanpa merasa kesakitan, Toni langsung berdiri dan terduduk di atas kursi sofa warna cokelat milik warga yang berada di depan rumah M Dinar. Sambil memegang telapak tangan kirinya yang mengeluarkan darah segar akibat goresan seng. Warga yang sudah ramai di lokasi langsung memberikan pertolongan dan membawanya ke rumah warga untuk mendapatkan perawatan.

Api baru dapat dipadamkan setelah 2 jam petugas P2K bekerja dengan menurunkan 10 unit mobil pemadam.
M Dinar Musa mengaku, saat kebakaran terjadi dia sedang berada di masjid melaksanakan salat Jumat.
“Saya diberitahu tetangga,” ujarnya.

Menurutnya, seluruh harta bendanya habis terbakar. Sedangkan Eka, anak Dinar langsung menjerit histeris mengetahui rumahnya terbakar. Dengan menggulingkan tubuh ke lantai, Eka terus menjerit sehingga menjadi perhatian warga.
“Aduh, kenapa rumah kami terbakar,” jeritnya.

Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandi Sinurat yang langsung turun ke lokasi menyebutkan, masih melakukan penyelidikan. (adl/jon)