32 C
Medan
Friday, April 3, 2026
Home Blog Page 13693

Mandala Airlines Medan-Jakarta Rp400 ribu

MEDAN- Maskapai penerbangan Mandala Airlines kembali meluncurkan pesawat barunya dan melakukan penerbangan perdananya di Bandara Polonia Medan, Selasa (3/4) lalu. “Penerbangan perdananya hari Selasa (3/4) lalu di Bandara Polonia Medan,” kata Djamal, Staff Duty OIC Bandara Polonia Medan, Sabtu (7/4) sore.

Menurutnya, penerbangan pesawat baru milik Mandala Airlines ini dilakukan sebanyak dua kali penerbangan dalam sehari. “Namun yang baru terealisasi sebanyak 1 kali penerbangan dalam sehari,” bebernya.
Dijelaskannya, pesawat milik maskapai penerbangan Mandala Airlines itu ada dua pesawat dengan nomor penerbangan RI-092 dan RI-093.

“Pesawat dengan penerbangan nomor RI-092 dengan rute penerbangan tujuan Jakarta-Medan-Jakarta dan pesawat dengan nomor penerbangan RI-093 dengan rute penerbangan Medan-Jakarta-Medan. Kapasitas pesawatnya dengan 180 orang penumpang dan jenis pesawatnya Airbus A320 dan harga tiketnya Rp400-500 ribu,” jelasnya.

Hal senada juga diucapkan Kepala Bagian Umum Otoritas Bandara Polonia (Otban) Medan, Agung Rahino. Disebutkannya, pihak Mandala Air sudah melakukan koordinasi terkait penerbangan perdana mereka, Selasa (3/4) lalu.
Menurutnya, pihak Otban sudah melakukan pemeriksaan terhadap semua yang berhubungan dengan pesawat tersebut. “Kita juga sudah periksa pesawat, pilot dan crue pesawatnya, semua sudah layak terbang,” jelasnya.
Mengenai pemeriksaan, ujarnya, sudah dilakukan saat penerbangan perdana kemarin. “Penerbangan perdana dilakukan dan diikuti oleh pihak Bandara Polonia , Otban Polonia Medan dan Dinas Perhubungan,” akunya.

Amatan Sumut Pos , loket penjualan tiket Mandala Air sedang melayani pembelian tiket. “Tiketnya tujuan Medan-Jakarta-Medan dan Jakarta-Medan-Jakarta. Harga tiketnya Rp459.900 per orang. Penerbangannya dua kali dalam sehari ,” kata petugas tiket Mandala di Bandara Polonia Medan.(jon)

Banyak Jepang di Lapangan Merdeka

Ramadhan Batubara

Lapangan Fukereido begitu namanya saat masa Jepang. Lapangan Merdeka namanya kini. Setelah sekian puluh tahun berubah nama dengan menggunakan kata Merdeka, ternyata lapangan di tengah Kota Medan itu tetap saja tak bisa hilang dari kuasa Jepang. Dan, hal itu saya buktikan kemarin pagi. Saya memang tidak memilih sisi lapangan yang dekat kantor pos. Sisi itu belum hidup di kala hari masih pagi. Dia hidup saat malam; menawarkan beraneka makanan dan minuman. Malam adalah miliknya. Tapi, ketika matahari masih terang, sisi dekat Stasiun Kereta Api Medan adalah pilihan. Ya, barisan toko buku yang menawan.

Dan, dari pilihan itulah lantun ini bermula. Atas nama keinginan mencari buku yang berharga miring, saya parkirkan si Lena (masih ingat dengan sepeda motor saya bukan?) di depan sebuah kios yang masih tutup. Belum lagi saya turun, terdengar sekian tawaran dari penjual buku yang sudah beroperasi.

Cari apa, Bang? Kamus Besar Bahasa Indonesia? Novel? Buku pelajaran? Majalah? Buku resep makanan? saya hanya tersenyum mendengar bapak tua duduk di sebelah kios yang tutup tadi.
Buku kedokteran atau hukum, Bang? katanya lagi ketika saya sudah akan melewati kiosnya. Sumpah, saya merasa bosan ditanyai terus.

Ayolah, kenapa saya tidak dibiarkan menjelajahi Pasar Buku ini dengan leluasa. Ya, biarkan saya menjelajahi ribuan judul dan cover buku yang menggoda itu.
Akhirnya, saya berhenti di depan kiosnya. Bukan untuk mencari buku yang dicari, saya ingin mencari yang tak ada di sana. Maksudnya, biar dia diam. Gak ada komik ya, Pak? kata saya begitu melihat toko dia hanya berisi buku serius.
Eh, bukannya menggeleng, si bapak malah tersenyum. Tampaknya dia mengejek pilihan saya tadi. Dia sepele. Mungkin dalam hatinya berkata, Percuma bawa ransel sok wartawan, bacaannya komik.
Selesai senyum dan memunculkan roman mencurigakan, dia menunjuk arah ke dalam, ke sebuah gang. Itu saja.

Sudahlah, untuk apa diperpanjang. Saya ikuti saja arah tangannya. Maksudnya biar cepat terhindar dari dia. Sayangnya, arah tangannya itu bak petunjuk yang tidak bisa saya tolak. Setelah memasuki gang itu, saya malah terpaku di kios yang menawarkan beribu komik. Terpandang oleh saya, barisan komik itu sebagian besar adalah komik Jepang, mungkin sembilan puluh prosennya. Mungkin karena itulah saya terpaku, mata saya terus mencari komik made in Indonesia. Tak terlihat Gareng Petrok karya Indri Soedono atau Jaka Sembung-nya Djair Warni. Sempat terpikir juga mencari karya anak Medan seperti karya Zam Nuldyn, Taguan Hardjo, Bahzar, dan Djas. Tapi, tumpukan komik Jepang telah membuat mata saya capek. Bertanya pada penjual adalah langkah terbaik bukan?

Lucunya, bukan karya mereka yang saya tanyakan pada pedagang komik-komik tersebut. Saya malah menyebut Topeng Kaca. Ya, sebuah komik Jepang era sembilan puluhan. Setelah kalimat keluar dari mulut saya, si pedagang bergegas. Tak sampai tiga menit dia sudah membawah tujuh buku.Saya sumringah. Sumpah. Komik itu sejatinya sempat membantu saya untuk belajar teater. Malah, pengetahuan dari komik Topeng Kaca itu sempat saya terapkan saat melatih teater. Komik itu memang bercerita tentang seorang tokoh yang berniat dan berhasrat untuk menjadi pemain drama alias aktor. Jadi, ceritanya mengandung proses sebuah pementasan; baik dari pencarian karakter hingga berbagai unsur pementasan.
Nah, begitu tumpukan Topeng Kaca ada di depan saya, langsung saja dilahap. Sayang, edisinya tak lengkap. Tak ada edisi satu dan empat. Bang, edisinya kurang ya? tanya saya langsung.
Wah, kalau Topeng Kaca laris itu, Bang. Harus pesan on line. Banyak kali peminatnya. Harganya pun sampai 25 ribu per edisi, balas sang penjual.
Dua puluh lima ribu untuk buku lusuh? Kalau komik lain berapaan? penasaran saya. Rata-rata 5 ribu untuk satu edisi, Bang.

Wow. Menggiurkan. Saya tinggalkan Topeng Kaca. Meski ingin bernostalgia dengan komik itu, tapi edisinya tak lengkap. Ya sudah, saya cari komik lain, selagi harganya lima ribu.
Maka, setelah hampir satu jam mengobrak-abrik tumpukan komik, saya memilih Master Cooking Boy karya Etshusi Ogawa. Saya juga mengambil Diva karya Hiromu Ono. Dan, satu komik Korea karya Choi Kyung-ah yang berjudul Bibi, The Road to Fashion. Setelah dihitung, dari tiga komik itu, ada 18 edisi. Fiuh.

Lapan lima ribu aja, Bang terang si pedagang.  Saya tersenyum. Tidak apalah, selagi tanggal muda. Saya serahan selembar uang seratus ribu. Nah, di saat menunggu uang kembalian, tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah buku. Bukan komik, tapi tentang komik. Buku itu berjudul Yuk, Bikin Komik Sambil Ketawa. Saya ambil dan saya lihat penulisnya adalah Dwi Koendoro Br. Langsung saja terbayang Panji Koming dan Sawungkampret. Saya buka, ternyata Dwi Mas Deka Koendoro Br menuliskan proses kreatifnya sebagai komikus. Buku yang menarik. Kenapa saya tak pernah tahu?

Yang ini berapa, Bang? langsung saya tanya, suara saya bahkan agak berteriak.

Lima belas! teriak si pedagang. Sip. Seratus ribu tanpa kembalian. Setelah dimasuki plastik hitam, buku-buku itupun saya masuki ke ransel. Selesai.
Saya kembali ke parkir. Begitu Lena akan saya nyalakan, pedagang tua dekat parkiran itu malah menyapa, Dapat komiknya?
Kurang ajar. Saya arahkan saja jari saya ke ransel. Dia tersenyum. Saya tak peduli. Saya nyalakan Lena.  Begitu meninggalkan gerbang Pasar Buku itu, saya merasakan ada yang kurang. Bah, bukankah saya ke tempat ini karena istri minta dicarikan buku resep makanan Nusantara?

Waduh, mau kembali lagi terasa sangat malas. Hm, saya buka ransel dan saya lihat komik Jepang soal jagoan masakan tadi. Hm, boleh juga. Komik itu kan soal masak dan masakan, istri saya pasti tak marah.
Akhirnya saya tinggalkan Lapangan Fukureido itu. Meski sudah tidak jajahan Jepang lagi, tapi begitu banyak karya anak Jepang di sana. Bukankah itu juga namanya dijajah? Ah, entahlah.(*)

Menanti Kebijakan Pembatasan BBM Subsidi

Rencana pemerintah membatasi pemakaian subsidi BBM justru menimbulkan kontroversi di masyarakat. Kontroversi itu terutama menyangkut soal gagasan membatasi pemakaian BBM bersubsidi untuk seluruh moda tranportasi. Gagasan ini dinilai melanggar prinsip keadilan karena dibandingkan dengan pemilik mobil, pemilik sepeda motor masuk dalam kategori ekonomi menengah ke bawah. Bagi masyarakat kelas ini sepeda motor bukan sebagai barang konsumsi melainkan modal produksi.

‘’Ketergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor pribadi, terutama sepeda motor, sebetulnya dipicu oleh buruknya angkutan umum, selain biayanya memang lebih hemat,’’ ungkap Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas.

Kemudahan proses pengajuan kredit pemilikan sepeda motor yang dilakukan industri otomotif nasional yang didukung pemerintah daerah guna menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), juga ikut menyumbang tingginya jumlah pengguna sepeda motor dari tahun ke tahun.

‘’Sudah bukan rahasia lagi bahwa Unit Pelaksana Teknis (UPT) PKB juga merupakan “ladang favorit” bagi sejumlah aparat di beberapa daerah, karena dengan menjadi petugas di UPT PKB mereka pasti akan terkena cipratan rejeki kegiatan penambahan kendaraan bermotor yang didaftarkan warga,’’ katanya. Darmaningtyas memaparkan fakta-fakta ini dengan maksud agar pemerintah objektif melihat lonjakan tingkat konsumsi BBM subsidi dari tahun ke tahun.
Tentu saja booming kendaraan bermotor ini suatu saat justru menjadi boomerang. Dalam catatan  Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sumut jumlah kendaraan yang menjadi objek pajak ada sebanyak 1.942.180 unit hingga akhir Desember 2010. Kepala Dispenda Sumut Syafaruddin dalam hearing di Komisi C DPRD Sumut di Medan, Senin (14/11) lalu mengatakan, jumlah kendaraan itu terdiri dari mobil sedan (48.504 unit), dan jip (62.243 unit). Disusul, taksi (7.023 unit), bus (5.427 unit), minibus (219.349 unit), truk (143.673 unit), becak bermotor (16.646 unit), sepeda motor 1.438.808 unit), dan alat berat (507 unit). ‘’Sedangkan jumlah kendaraan hingga tahun 2011 belum terdata,’’ katanya.

Menyimak data Dispenda Sumut tersebut, hingga akhir 2010 saja sudah tercatat 486.219 unit kendaraan roda empat, 16.646 unit roda tiga, dan 1.438.808 unit sepeda motor yang beroperasi di Sumut. Angka ini dikalkulasi naik rata-rata 10-12 persen per tahunnya selama kurun waktu lima tahun belakangan. Asumsi kenaikan ini diperkuat oleh data Direktorat Lantas Polda Sumut yang mencatat jumlah kendaraan bermotor di Sumut mengalami kenaikan 11,28 persen atau 455.855 unit, yakni dari 4.039.127 pada Desember 2010 menjadi 4.494. 982 unit hingga November 2011. Dari jumlah itu sepeda motor adalah penyumbang angka terbesar. Dalam setahun jumlahnya naik 455.855 unit, yakni dari 4.039. 127 unit menjadi 4.494.982 unit.

Selain itu, mobil penumpang naik 18.941 unit, yakni dari 324.984 unit menjadi 353.925 unit. Kemudian kendaraan khusus naik 58 unit, yakni dari 952 unit menjadi 1.010 unit. Sementara mobil barang dan mobil bus, dilaporkan tetap, yakni masing-masing 204.983 unit dan 29.978 unit.

Akibat dari peningkatan jumlah penggunaan sepeda motor dan mobil pribadi, lonjakan konsumsi BBM pun tak terelakkan. Khusus untuk kendaraan roda empat, di mana semakin banyak masyarakat yang menggunakan mobil dengan kapasitas mesin di atas 2.000 cc yang boros BBM telah berkontribusi besar terhadap konsumsi BBM bersubsidi. Saat ini diperkirakan konsumsi BBM oleh sepeda motor tidak lebih dari 5,76 juta kiloliter per tahun, atau hanya 27%, dan selebihnya, dikonsumsi oleh kendaraan roda empat atau lebih. Sehingga sekali lagi, rencana pembatasan BBM bersubsidi bagi para pengendara sepeda motor adalah suatu paradoks.

Pemerintah akan tetap menerapkan pengendalian konsumsi BBM subsidi kendati tidak lagi tercantum dalam APBN-P 2012. Salah satunya mengurangi pasokan premium di SPBU perumahan elit.
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo menjelaskan, salah satu program pengendalian konsumsi BBM bersubsidi adalah menekan pasokan premium bagi SPBU-SPBU yang terletak di perumahan-perumahan elite.
“Kita akan kurangi pasokan premium dan menambah pertamax di SPBU-SPBU yang ada di perumahan elit,” ujarnya di Jakarta, awal Maret lalu.

Selain itu, lanjutnya, pejabat-pejabat pemerintah, BUMN dan BUMD juga dilarang keras untuk menggunakan premium. Namun untuk SPBU daerah-daerah yang masih belum menjual pertamax, masih diperbolehkan untuk mengkonsumsi premium.

Rencananya pemerintah melalui BPH Migas akan meningkatkan pengawasan distribusi BBM subsidi, agar tidak ada penyimpangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta BPH Migas untuk menggandeng pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan.

“Karena tangannya BPH migas tidak cukup untuk melakukan pengawasan. Walaupun itu tugasnya, karena aparatnya sedikit sekali. Jadi kerja sama dengan pemda. Pemda yang memiliki kuota itu harus juga menjaga,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, BPH Migas sudah komitmen segera memperketat distribusi BBM hingga tingkat kabupaten/kota. Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, BPH Migas akan memberlakukan pengaturan kuota BBM subsidi per kabupaten/kota.

“Pembagian kuota per kabupaten ini akan memprioritaskan konsumen di wilayah Indonesia bagian timur,” ujarnya saat rapat dengan Komisi VII DPR, Senin (12/3).
Selama ini, distribusi BBM subsidi memang cenderung memprioritaskan wilayah Indonesia bagian barat. Akibatnya, kasus kelangkaan BBM subsidi kerap terjadi di Indonesia bagian timur seperti NTT, Maluku, maupun Papua.
“Karena itu, nanti akan dipiroritaskan di wilayah timur dengan maksud untuk mendorong perekonomian di sana,” katanya.
Beberapa strategi lain yang akan diterapkan BPH Migas untuk meredam lonjakan konsumsi BBM adalah menetapkan alokasi BBM subsidi per sektor pengguna, misalnya rumah tangga, transportasi umum, nelayan, pertanian, perikanan, serta usaha mikro.

“Jadi, konsumen di luar kelompok itu, misalnya taksi kelas premium (mewah, Red), kapal kargo, angkutan darat untuk industri dan perkebunan, tidak diprioritaskan mendapat BBM subsidi,” sebutnya. Langkah pengetatan distribusi BBM memang harus dilakukan karena pemerintah tidak berencana menambah kuota BBM subsidi.
“Jadi, dalam RAPBNP 2012 ini kuotanya tetap 40,5 juta kiloliter,” ujarnya.

Hanya saja, PT Pertamina Sumatera bagian utara mengaku hingga kini belum menerima penetapan kuota bahan bakar minyak atau BBM untuk tahun 2012, sehingga penyaluran tetap mengacu pada angka di tahun 2011.
“Meski belum ada penetapan kuota BBM bersubsidi yang harus disalurkan Pertamina, manajemen tetap berupaya memperlancar pasokan dengan mengacu pada angka di tahun 2011,” kata Assistant Customer Relation Fuel Retail Marketing Region I Marketing and Trading Directorate PT. Pertamina (Persero), Sonny Mirath, di Medan, belum lama ini.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006, Pertamina menyalurkan BBM Bersubsidi kepada rumah tangga, transportasi, usaha kecil, perikanan dan layanan umum.
Sonny mengungkapkan tahun lalu kuota premium dan solar untuk di wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut) yang meliputi wilayah Sumut, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat dan Aceh masing-masing sebanyak 3.575.868 kiloliter (kl) dan 2.490.015 kl. Jumlah kuota premium dan solar itu naik dari 2010 yang masih 3.307.778 kl dan 2.341.922 kl.

Dari kuota premium sebanyak 3.575.868 kl itu, realisasi sebanyak 3.664.168 kl atau lebih tiga persen, sedangkan solar dari 2.490.015 kl realisasi 2.568.490 kl atau naik tiga persen. “Mengacu naiknya penyaluran pada Januari hingga Maret, permintaan BBM pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi lagi dari 2011,” katanya.

Selama Januari-Maret, penyaluran premium dan solar naik 12 persen hingga 15 persen dari realisasi di bulan yang sama 2011. Pada Januari 2012, misalnya, penyaluran premium dan solar Sumut naik 13 persen dan 12 persen dibandingkan Januari 2011. Penyaluran premium misalnya menjadi 133.689 kl dari Januari 2011 yang masih 117,872 kl dan solar dari 75,035 kl pada 2011 menjadi 84,347 kl Januari 2012.
‘’Kenaikan permintaan BBM diakibatkan pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya kendaraan,’’ kata Sonny. (valdesz/jpnn)

Komplikasi Pembatasan BBM Bersubsidi

Perhatian publik di awal 2012 ini kembali tersedot pada wacana pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi mobil pribadi. Kali ini, rencana penghematan konsumsi BBM bersubsidi ini masuk dalam APBN 2012. Pemerintah sudah berani memastikan konsumsi BBM bersubsidi akan dibatasi mulai 1 April 2012. Wilayah Jawa-Bali akan menjadi proyek percontohan, diikuti Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Papua secara bertahap sepanjang 2012-2014.
Inti dari kebijakan itu adalah,  hanya angkutan umum, pelayanan umum dan sepeda motor (roda dua dan tiga), serta kapal/perahu nelayan yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi. Di luar itu harus menggunakan BBM nonsubsidi atau menggunakan konversi bahan bakar gas (BBG). Tidak ada pilihan lainnya. Jelas, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini jika diimplementasikan akan membawa implikasi yang tidak kecil bagi para pemakai di lapangan.
Sekilas, apa yang direncanakan pemerintah  tampak mudah diimplementasikan, namun di lapangan, dipastikan banyak sekali kendala yang muncul. Kesiapan SBPU dalam rangka konversi ke BBG jelas jauh dari memadai, sementara alat converter masih harus diimpor. Apalagi kalau konsumen dipaksa untuk membeli converter sendiri yang harganya mencapai Rp12 juta-Rp15 juta, dipastikan akan banyak yang keberatan.  Sementara di saat yang sama, SPBU untuk BBG jumlahnya juga belum memadai dan belum merata keberadaannya di seluruh Jawa Bali.

Belum lagi bicara mengenai kesiapan infrastruktur pendukung Pertamina di seluruh wilayah Indonesia untuk SPBU pertamax atau BBM nonsubsidi.  Pertamina harus memperluas jaringan pemasaran/ distribusi agar pertamax atau BBM nonsubsidi tersedia hingga ke daerah terpencil. Kelihatannya untuk deadline 12 April 2012 belum terlalu siap, mengingat habit dan karakter manusia Indonesia yang cenderung kurang disiplin terhadap tenggat waktu pelaksanaan sebuah proyek.

Tak hanya itu, implementasi kebijakan ini di lapangan juga akan membawa komplikasi permasalahan yang tidak kecil. Sampai sejauh mana misalnya, ketegasan petugas SPBU di lapangan dalam memberikan layanan kepada pihak yang membeli dengan menggunakan jeriken dengan alasan untuk dijual kembali. Bisa saja mereka sebenarnya adalah calo/oknum yang mencarikan BBM subsidi untuk pihak tertentu. Jelasnya, akan muncul kompleksitas persoalan yang tidak kecil di lapangan. Lemahnya pengawasan dan ketiadaan sistem yang jelas, serta rendahnya integritas personal akan menjadikan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini rawan penyelewengan.
Kerumitan (kompleksitas) persoalan tidak hanya sebatas itu. Menurut hitung-hitungan Biro Pusat Statistik (BPS), pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan memberi tambahan inflasi sebesar 0,3%. Hitung-hitungan ini berasal dari bobot penggunaan BBM terhadap rumah tangga sebesar 3%. Ini dikalikan dengan kenaikan sebesar 44% harga yang ditanggung pengguna baru BBM nonsubsidi. Selanjutnya dikalikan jumlah baru potensi pengguna BBM nonsubsisdi hingga 23%. Sekitar 14 juta pengguna mobil (pelat hitam) harus beralih menggunakan BBM nonsubsidi.

Menurut prediksi Bank Indonesia (BI), kebijakan pembatasan BBM subsidi ini akan mendongkrak inflasi. Kalau inflasi di 2012 diperkirakan mencapai 4,5% (sudah memperhitungkan aspek kenaikan tarif dasar listrik/TDL), maka kebijakan di atas akan menyumbang angka inflasi kurang lebih 0,7% hingga 0,8%. Dengan demikian, angka inflasi tahunan diprediksi akan mencapai 5,2%-5,3%. Tak aneh, di awal tahun ini, bank sentral Indonesia  tetap mempertahankan suku bunga induk (BI-Rate) di angka 6% karena tingginya angka inflasi.

Dengan kenaikan angka inflasi tersebut, jelas akan menyengsarakan rakyat banyak.  Dengan demikian, kebijakan pembatasan BBM subsidi ini bukan semata-mata untuk efisiensi anggaran pemerintah, melainkan lebih merupakan pelaksanaan agenda liberalisasi di seluruh sektor ekonomi. Di sektor energi, pemerintah tidak berhasil menjaga ketahanan energi. Akibatnya, ya rakyat yang dirugikan.
Dengan demikian, kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi, hanya akan menguras kantong rakyat kelas menengah ke bawah. Jadi, itu sama saja dengan pemangkasan daya beli masyarakat. (net/jpnn)

Negara Setengah Hati?

Sempat mengemuka tahun 2011 lalu, pembatasan subsidi BBM (jenis premium) muncul lagi. Pembatasan subsidi BBM rencananya dimulai April 2012 di Pulau Jawa, akan menyusul kemudian di pulau-pulau lainnya. Opsinya yang muncul adalah subsidi BBM dibatasi atau BBM dinaikkan?Dibatasinya subsidi BBM berarti BBM bersubsidi hanya diperuntukkan secara terbatas.

Rencananya hanya kendaraan jenis angkutan umum, mobil operasional UMKM dan kendaraan roda dua yang berhak menggunakannya. Selain kendaraan jenis tersebut, penggunaan BBM dialihkan dari premium ke pertamax. Dengan kata lain, mereka akan membayar biaya yang lebih mahal karena membeli BBM non subsidi. Beberapa pihak menganalisa, bahwa pembatasan subsidi BBM seperti ini akan melahirkan pasar gelap BBM bersubsidi.
Opsi kedua, harga BBM dinaikkan. Ini berarti harga BBM bersubsidi (premium) yang ada sekarang akan naik. Penggunanya relatif tidak terbatas seperti opsi pertama.

Dengan demikian setidaknya menurut hemat pemerintah, APBN tidak terbebani oleh subsidi. Baik opsi pertama maupun kedua, tujuan pemerintah adalah untuk mengurangi beban subsidi dari APBN. Sementara itu, baik opsi pertama dan kedua nantinya pengguna kendaraan bermotor akan mengeluarkan biaya lebih dari biaya BBM yang ada sekarang.

Lantas mengapa untuk meringankan beban APBN, Negara selalu melihat ke arah subsidi (BBM)? Padahal subsidi relatif masih ringan dibanding pos APBN lainnya. Dana subsidi BBM dalam APBN adalah sekitar Rp.123 triliun. Melalui pembatasan subsidi seperti yang dikatakan Rofiyanto (Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Kementerian Keuangan), apabila pemerintah bisa menekan konsumsi sesuai kuota volume BBM bersubsidi yang telah ditetapkan sebanyak 40 juta kiloliter maka anggaran yang dapat dihemat sebesar Rp 7,8 triliun hingga Rp 8 triliun.

Bandingkan saja dengan anggaran untuk membayar cicilan hutang luar negeri dengan bunganya sebesar Rp.230,3 triliun (2010) dan Rp.240,1 triliun (2011). Bila yang dikatakan oleh pemerintah, pembatasan subsidi BBM bisa menghemat Rp.40 triliun, mengapa tidak menghemat anggaran lain saja.

Misalnya anggaran untuk biaya pelesiran pejabat ke luar negeri, yang besarnya Rp.12,7 trilyun (2009), Rp.19,5 triliun (2010) dan Rp.24,5 triliun (2011). Atau proyek perawatan gedung tersebut mencapai 500 miliar rupiah; Renovasi Ruang Rapat Anggota Banggar DPR 20 miliar; Papan Selamat Datang DPR Rp 4,8 miliar rupiah; Renovasi Tempat Parkir Motor 3 miliar rupiah; Renovasi Toilet sebesar 2 miliar rupiah; Pembuatan Kalender 2012 dengan biaya 1,3 miliar rupiah; Pemberian Makan Rusa di DPR 598 juta rupiah. Juga biaya renovasi Istana Kepresidenan yang dari Rp 8.832.251.011 pada tahun 2011 meningkat drastis menjadi Rp80.482.165.012 di tahun 2012.

Negara semestinya mengayomi rakyat banyak. Kebutuhan pihak yang dilayani seharusnya lebih diprioritaskan. Lantas mengapa beban APBN bukan gaji dan tunjangan pejabat? Mengapa bukan bunga hutang luar negeri? Mengapa harus hak rakyat yang dikurangi? Bukankah keberadaan Negara untuk mengayomi dan melayani hajat hidup rakyatnya.

Banyak yang sudah mengingatkan, bahwa pembatasan subsidi BBM atau naiknya harga BBM bersusidi akan berdampak pada naiknya harga barang-barang kebutuhan lainnya. Harga barang naik, namun daya beli lemah. Di samping itu, angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi bertambah seperti kenaikan harga BBM tahun 2005. Tindak kriminal juga mengintip di sela-sela tuntutan bertahan hidup. Belum lagi tingkat depresi sosial yang rentan.
Negeri kita memang kaya dengan sumber daya migas. Namun hampir 90% sumbernya dikuasai oleh asing. Sebuah keadaan yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan sekali.  Selama ini negara mengimpor minyak mentah dan yang siap pakai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tak salah jika disebut negara tersandera kepentingan asing (neoimperialism).

Kita tentu sudah mengalami beberapa kali kenaikan harga BBM. Selama pemerintahan yang ada tersandera oleh kepentingan asing, maka selama itu juga harga BBM akan selalu naik. Selama tersandera kepentingan asing, pemerintah juga akan perlahan-lahan memangkas subsidi-subsidi yang ada, hingga lenyap. Rakyat pun semakin babak belur! (*)

6 Provinsi Penyedot Kuota BBM Subsidi Terbesar

Provinsi Over Kuota
1. Banten 7,2 %
2. DKI Jakarta 6,5 %
3. Jawa Barat 5,2 %
4. Jawa Tengah 4,2 %
5. Jawa Timur 3,8 %
6. Sumatera Utara 3,3 %

Sumber: Pertamina

Faktor Pemicu Lonjakan Konsumsi BBM Subsidi

Kenapa penggunaan BBM bersubsidi ini selalu melewati kuota yang ditetapkan pemerintah di APBN? Berikut sejumlah fraktor pemicunya:

  • Bertambahnya sepeda motor yang mencapai 7 juta unit dan mobil sebesar 800.000 unit.
  • 1 unit sepeda motor rata-rata menghabiskan BBM 0,75 liter/hari (1 tahun = 1,9 juta kiloliter).
  • 1 unit mobil menghabiskan BBM 3 liter per hari (1 tahun= 900.000 kiloliter).
  • Membaiknya perekonomian membuat konsumsi energi khususnya BBM semakin besar.

Realisasi BBM bersubsidi tahun 2011 mencapai total 41,8 juta kiloliter
atau 103,2% dari kuota APBN-P 2011 sebesar 40,49 juta kiloliter.

Sumber: Survei Lemigas 2011, Kementerian ESDM

Roadmap Pembatasan Subsidi BBM

  • 2012
    Pembatasan BBM hanya diterapkan di wilayah Jawa-Bali. Pembatasan diberlakukan untuk BBM jenis premium.
  • Awal 2013
    Pemerintah berencana memperluas areal pembatasan BBM subsidi ke Sumatera. Pada tahap ini pembatasan tak hanya dilakukan terhadap BBM jenis premium, namun mulai diberlakukan pada solar. Pembatasan premium rencananya dilakukan sejak awal tahun dan solar baru digelar pada pertengahan tahun.
  • Medio 2013
    Pembatasan BBM bersubsidi mulai diterapkan pemerintah untuk wilayah Kalimantan. Namun, kebijakan ini rencananya mulai dilaksanakan pada pertengahan tahun dengan jenis BBM berupa premium dan solar.
  • Awal 2014
    Pembatasan BBM bersubsidi semakin meluas hingga ke wilayah Sulawesi yang diterapkan sejak awal tahun untuk jenis premium dan solar.
  • Medio 2014
    Implementasi pembatasan di wilayah Maluku dan Papua dimulai pada pertengahan 2014 untuk jenis premium dan solar.

Sumber: Keterangan pers ‘Arah Kebijakan Fiskal 2012’, Kemenkeu RI

Membuka Koridor Bersama, Membuka Kompetisi di Langit Terbuka

Ketika GIA Cabang Medan Berkompetisi di “ASEAN Sky Open Policies”

Henry J. Kaiser (1882-1967) pernah berujar, ‘’Dalam bisnis, kompetisi akan menggigitmu bila kamu tetap berlari. Bila kamu berhenti dia akan menelanmu’’. Kalimat peletak dasar industri perkapalan moderen asal AS itu boleh jadi abadi dalam pengembangan spesies industri apapun, termasuk bagi Garuda Indonesia Airlines (GIA), perusahaan penerbangan nasional yang sebentar lagi memasuki kompetisi liberal di zona udara regional ASEAN.

SEORANG kawan pemilik usaha properti punya kegemaran yang amat ia nikmati: berpesiar ke negeri-negeri seberang. Terkadang dia pelesiran sendiri, namun bila pas waktunya tak jarang sang teman ini memboyong keluarga. Bila harus terbang sendiri, itu artinya dia punya janji dengan kolega atau sahabat bisnisnya. Soal meeting point tergantung siapa yang ditemui ya, bisa di Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, China, atau Bangkok.

Iseng-iseng saya pernah bertanya: ‘’Satu bulan berapa kali ke luar negeri?’’ Dia jawab,’’Ya, tergantung mood. Kalau adrenalin bisnis saya lagi tinggi, saya bisa tiba-tiba, misalnya, kontak kawan investor di China. Kita ketemu yuk, saya ada rencana bangun perumahan baru.’’ Frekuensi terbang ke luar negeri yang lumayan tinggi tentunya bikin sang kawan punya banyak referensi soal bandara dan penerbangan. ‘’Tak elok rasanya membayangkan negeri orang ke sini, tapi saya optimistis bila mau kita bisa seperti mereka,’’ katanya, kali ini dengan mimik serius.

Siapapun sepakat begitu banyak soal yang mesti dibenahi serius menyambut kehadiran Kualanamu sebagai bandara internasional. Apalagi Kualanamu, bersama empat bandara lain yakni Soekarno-Hatta, Juanda, Ngurah Rai, dan  Hasanuddin mulai berdandan menyambut ‘’ASEAN Open Sky Policy’’, sebuah kesepakatan membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkatnya, ini merupakan liberalisasi angkutan udara yang menjadi komitmen kepala negara dalam ‘’Bali Concord II’’ yang dideklarasikan di KTT ASEAN pada 2003 silam.

Siapkah industri penerbangan dus seluruh side-supporting yang ada menyambut kebijakan membuka angkasa seluas-luasnya terhadap penerbangan asing ini? Jika objektif sukar rasanya menyerahkan ‘’kegagahan’’ industri penerbangan ke tangan  airlines semata. Profesionalisme yang diukur dengan keselamatan, juga ketepatan waktu penerbangan, tak boleh berhenti pada kecanggihan manajemen penerbangan. Ada side-supporting yang menjadi kunci di situ: infrastruktur dalam bandara yang dikelola operator dan infrastruktur luar bandara yang dikendalikan pemerintah daerah.

Temuan soal pentingnya aspek non-teknis dalam pencitraan penerbangan ini pula yang ditunjukkan The Center for Indonesia Development Review (CIDEV) dalam sebuah penelitiannya. Ketidakberesan infrastruktur di luar bandara merupakan aspek non-teknis yang acap diabaikan perusahaan penerbangan.

Pengamatan CIDEV (2008) menunjukkan banjir yang melanda Jakarta pada 1-3 Februari 2008 silam telah menganggu operasional Bandara Soekarno-Hatta selama dua hari. Selain kerugian materil yang ditaksir mencapai Rp3,1 miliar, ada 669 flight ikut terkena imbasnya. Dari keterlambatan (delay) hingga pembatalan jadwal penerbangan (cancel), keberangkatan maupun penerbangan. Akibatnya, penumpukan penumpang tidak hanya terjadi di Soekarno-Hatta, tapi juga di Changi, KLIA, Suvarnabhumi, dan airport negara-negara lain. CIDEV melihat penanganan tersebut tak hanya pekerjaaan rumah PT Angkasa Pura sebagai operator bandara, namun berbagai pihak yang berkepentingan langsung atas industri penerbangan. Kasus banjir yang menganggu bandara ini tentulah terkait dengan sistem tata kota dan ekologi perkotaan. Di sinilah sinergitas antar-pihak dibutuhkan eksistensinya. Tragedi ‘’Banjir Soekarno-Hatta’’ yang merugikan industri penerbangan empat tahun silam jangan sampai terulang di Bandara Kualanamu.

Dalam siteplan-nya akses menuju Bandara Kualanamu, di luar railway, terbelah dua ruas, yakni tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi dengan panjang 60 kilometer (km) dan non-tol (arteri) dengan rute Kayu Besar-Batang Kuis-Beringin sejauh 14,5 km. Taruhlah ruas tol yang dikelola PT Jasa Marga menjadi akses bebas banjir, tapi adakah jaminan akses menuju pintu tol terbebas dari banjir atau kerusakan parah?

Sulit rasanya tak menyertakan manajemen Garuda Indonesia Airlines (GIA) cabang Medan dalam tanggungjawab bersama ini. GIA adalah operator penerbangan nasional yang akan menjadikan Bandara Kualanamu sebagai hub ASEAN. Apalagi untuk menarik minat wisatawan, GIA cabang Medan getol menggandeng biro-biro perjalanan lokal yang ‘’menjual’’ kota ini lewat paket-paket wisata, mulai cullinary tour hingga familiarization tour. Mencuat tanya bagaimana GIA cabang Medan ikut nimbrung memecahkan keruwetan ini?

Ada pemikiran menarik dari Bailey (2002) yang ditulis ulang Laurensius Manullang dalam bukunya ‘’Strategi & Inovasi Model Bisnis Meningkatkan Kinerja Usaha’’. Bailey melihat perkembangan pasar dan persaingan di setiap daerah amat ditentukan oleh kondisi sosial (demografi dan psikografi), serta politik yang berkembang di daerah tersebut. Kebijakan otonomi daerah adalah trigger yang mendorong perubahan sosial-politik di daerah menjadi desentralisasi, dan dalam konteks ini pula pembenahan manajemen perusahaan di tingkat daerah (cabang/station) amat relevan dengan perkembangan otonomi daerah.

Laurensius (2010) melihat perubahan faktor lingkungan eksternal justru akan memengaruhi secara langsung strategi kebijakan cabang (station). Faktor-faktor eksternal seperti regulasi, pertumbuhan ekonomi, sosial-politik, pasar, dan persaingan di wilayah operasionalnya harus dipersepsikan secara baik oleh manajemen GIA cabang Medan. Dinamika politik daerah dan politik anggaran di sektor infrastruktur mau tak mau menjadi  perhatian manajemen . Kedekatan institusional dengan Pemko Medan atau Pemkab Deli Serdang sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) pembangunan adalah pekerjaan mutlak yang harus dilakukan. Komunikasi dua arah dijaga secara formal agar pintu lobi-lobi positif, dengan maksud menjaga politik anggaran daerah (APBD) yang memihak bisnis penerbangan terbuka senantiasa.

Dalam rangking The World Airport Award yang dikeluarkan Skytrax, Changi menempati urutan ke-3 sebagai bandara terbaik di dunia pada 2009. Apalagi sangat besar kemungkinan Changi menjadi hub ASEAN karena sangat unggul dari sisi teknologi, profesionalisme, dan posisi yang strategis. Dengan dukungan GIA cabang Medan, kita berharap Bandara Kualanamu bisa menjadi spoke, tapi spoke dalam kualitas yang bersaing dengan KLIA dan Suvarnabhumi.
Franke (2007) menyebutkan hanya perusahaan yang berhasil menempatkan strategi inovasi sebagai acuan (driver) terhadap model bisnisnya, akan mampu meningkatkan kinerja dan survival perusahaan. Dalam implementasinya, inovasi GIA cabang Medan menjadi sangat penting dalam menjaga posisi persaingan penerbangan global yang semakin tajam. Konsep inovasi di level industri penerbangan ini berujung pada dua poin penting, yakni inovasi pemasaran dengan unit analisisnya adalah konsumen, serta yang tak kalah penting: inovasi manajemen dengan organisasi sebagai unit analisisnya.

Maka, sudah waktunya GIA cabang Medan selaku perpanjangan tangan manajemen penerbangan terbesar nasional, tak lagi melulu berpikir soal strategi mengeruk pasar penumpang, melainkan naik level dengan menerobos dinamika politik di wilayah operasionalnya lewat unit organisasi yang masuk pada taraf analisis, lobi, dan pressure agar politik anggaran daerah ini konsisten menyuppor industri penerbangan.

Kompetisi sengit dalam liberalisasi penerbangan merupakan pintu masuk bagi GIA cabang Medan sebagai inisiator kelompok ‘’koridor bersama’’ yang mendudukkan Pemko Medan, Pemkab Deli Serdang, Pemprovsu, PT Jasa Marga, dan stakeholder lain menyokong dunia penerbangan. Apapun, kebijakan ‘’open sky’’ muaranya adalah pertumbuhan penumpang, dan rumusnya adalah kerja profesional airlines, operator bandara, dan kesiapan daerah tujuan sebagai magnetnya. (*)

ACT of Valor, Keberanian Prajurit Sejati

“Ketika berjumpa dengan seorang prajurit US Navy SEAL yang masih aktif bertugas, Anda akan dapat merasakan sebuah intensitas dan aura yang hampir tidak mungkin untuk ditiru oleh orang awam. Ia mungkin sudah berlatih dan aktif bertugas selama 20 tahun. Lantas, bagaimana seorang aktor dapat memerankan prajurit tersebut?” demikian sutradara Scott Waugh mengomentari film perang fenomenal terbarunya: Act of Valor.

Setelah berhasil menumpas Osama bin Laden dan bajak laut Somalia, US Navy SEAL (pasukan khusus Angkatan Laut Amerika) tengah berada di garda terdepan pasukan keamanan internasional dan menjadi sorotan banyak pihak.

Tentu saja, US Navy SEAL telah berkali-kali digambarkan dalam beberapa film Hollywood sebelumnya seperti GI Jane yang dibintangi Demi Moore dan Navy SEAL yang dibintangi Charlie Sheen. Namun hingga kini, kita belum benar-benar melihat sosok penggambaran alami dari para prajurit tangguh tersebut. Sebagai sutradara, Mike McCoy berpendapat bahwa US Navy SEAL dalam pertempuran sesungguhnya, jauh melebihi segala yang dapat digambarkan oleh Hollywood.
Pemeran dalam film Act of Valor sebagian besar terdiri dari prajurit aktif yang bertugas di SEAL. Namun dapatkah para prajurit yang biasa bertempur lantas disuruh berakting? Ya, tapi mereka tidak benar-benar harus (berakting). Mereka cukup dengan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan, dan karena kamera teknologi terbaru, kita serasa seperti lalat yang bisa “terbang” menjelajah di sekeliling di dinding kapal selam, di dalam senapan milik penembak jitu, dan di dalam masker penyelam milik SEAL. Hasilnya adalah sebuah inovasi yang menakjubkan. Ini adalah film bergenre baru.

Cerita ini berdasarkan kejadian nyata. Ketika tim penyelamat agen CIA yang diculik mengarah pada pengungkapan rencana mematikan untuk melawan Amerika Serikat, tim SEAL kemudian dikeluarkan untuk misi “anti-teroris global”. Misi ini layaknya sedang berburu harta karun yang mematikan. Penggambaran operasi khusus ini diseimbangkan dengan menampilkan sisi humanisme para prajurit, seperti komitmen mereka terhadap negara, tim, dan keluarga mereka.

Belum pernah kita lihat sebelumnya dalam film-film sebelumnya tentang keluarnya pesawat siluman milik SEAL, juga kita tidak pernah menyaksikan awak SWCC (Special Warfare Combatant-Craft) kapal perang dalam tindakan yang nyata. Kapal operasi khusus Mark V SEAL tampak seperti predator laut, berwarna hitam kelam, mengeluarkan beberapa pesawat siluman, dengan mesin yang tampak seperti monster, dan mampu bergerak secepat hiu mako. Dalam sebuah adegan yang menegangkan, para SEAL melarikan diri dengan mengendarai truk langsung masuk ke sungai hutan dan berenang di dalam air. Awak perahu kemudian menyelamatkan mereka tepat waktu, sambil menghadapi rentetan hujan peluru, benar-benar sebuah penghancuran yang kira-kira dapat menghabiskan enam truk peluru.

Tembak-menembak memang dibuat sangat nyata dan banyak dalam film ini. Suara ringkikan desibel tinggi miniguns yang ditembakkan dari perahu, dan rentetan senapan mesin dari kaliber 50 sudah cukup untuk membuat ujung rambut Anda berdiri.

Para aktor yang dipilih untuk film ini bukan dari kalangan bintang yang ternama, sehingga mereka mampu berbaur dengan baik dengan para awak SEAL yang sesungguhnya. Demikian juga, aspek fakta dan fiksi yang mampu terjalin dengan mulus. Satu-satunya aspek dalam film yang sedikit lemah adalah sulih suara, yang kemungkinan besar dilakukan oleh para awak SEAL sungguhan. Rekaman pertempuran, meskipun tidak benar-benar nyata, namun tetap tergolong realistis dalam arti bahwa SEAL diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk merencanakan dan melaksanakan misi sama seperti mereka akan dalam situasi pertempuran nyata.

Ini jarang terjadi di film yang banyak diperankan oleh non-aktor, namun di Act of Valor, situasi ini bekerja dengan baik untuk sebagian besar adegan. Inti dari cerita ini adalah tentang sekumpulan pria yang tenang, rendah hati, tampan namun tidak tampak menonjol pada pandangan pertama, dan berkata bahwa perjalanan hidup yang mereka tempuh ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karena pelatihan militer dalam SEAL merupakan pelatihan yang terberat di dunia.
Organisasi ini menginginkan pria yang lebih suka mati daripada menyerah. SEAL memiliki kapasitas manusia super untuk tetap bertahan sampai kematian dalam menghadapi ketakutan dan kesulitan yang ekstrem, sungguh tak terbayangkan oleh kaum awam. Seorang SEAL yang memiliki berat badan 65 kg dapat berlari hingga sejauh 20 km dengan membawa tas berbobot ratusan kilogram di punggungnya. Itu baru tahap awalnya.

Seorang mantan SEAL, dalam wawancara dengan majalah Men’s Journal baru-baru ini, menggambarkan bahwa sebuah tindakan kepahlawanan hanya menjadi sah jika Anda tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang hal itu. “Jika tidak ada yang mengetahui Anda naik ke puncak Everest, akankah Anda melakukannya?”

Act of Valor merupakan genre film baru. Heroisme yang diuraikan di atas para sosok yang rendah hati dan pola pikir yang dilandasi kesabaran dalam SEAL, adalah wawasan baru ke dalam kredo prajurit sejati. Bagi penikmat film perang dan thriller tentulah film ini amat layak Anda nikmati! (net/jpnn)

Pilkada Aceh Masih Rawan Ancaman

Tiga Lembaga Asing Pantau Pilkada Aceh

ACEH-Tiga lembaga pemantau asing akan memantau tahapan pelaksanaan Pilkada Aceh, yang akan berlangsung, Senin (9/4) mendatang. Ketiga lembaga itu adalah Asian Network for Free Election (ANFREL), Kedutaan Uni Eropa, dan Kedutaan Amerika.

Anggota Komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Yarwin Adidharma mengatakan, sebelumnya ada empat pemantau asing yang mendaftarkan diri ke KIP Aceh untuk melakukan pemantuan tahapan pilkada Aceh. Salah satunya mengundurkan diri.

Yarwin menyebutkan selain tiga pemantau asing, ada sekitar 15 lembaga lokal dan nasional yang juga memantau pelaksanaan pilkada Aceh dan diakreditasi KIP Aceh. Mereka melakukan pemantauan mulai dari tahap pendaftaran sampai pada tahap hari pemilihan.

Pemantau ANFREL dari Thailand, Witt Alexander Gatchell telah bertemu dengan calon bupati (cabup) Aceh Utara, jalur independen, Ilyas A. Hamid, Sabtu(7/4).
Witt Alexander Gatchell saat itu didampingi juru bahasanya Azhari,  bertemu Ilyas A Hamid akrab disapa Ilyas Pase di kediamannya, Jalan Tgk Chik Ditiro, Lancang Garam, Lhokseumawe, sekira pukul 11.00 WIB.

Dalam pertemuan itu Witt Alexander Gatchell mempertanyakan tentang kondisi lapangan saat berlangsung kampanye dan menjelang tiga hari pencoblosan 9 April 2012. Termasuk ancaman dari pihak tertentu terhadap tim suksesnya dilapangan.
Cabup Ilyas Pase, menjelaskan, secara umum kondisi Pemilukada di Aceh Utara belum kondusif, seperti saat berlangsung kampanye dulu banyak massanya yang dihadang oleh pasukan berbaju mirip dengan salah satu OKP atau dari Partai Aceh. Begitu juga kondisi sekarang menjelang H min “2” ada saksinya di TPS yang diancam agar tidak menjadi saksi di TPS pada 9 April mendatang.

“Akibat ancaman itu ada beberapa saksi terpaksa mundur karena ada intimidasi. Termasuk tim suksesnya di Tanah Luas Tgk Zulkifli pasca dibacok dulu tidak berani pulang kerumah lagi,” ungkap Ilyas Pase eks kombatan GAM, di hadapan pemantau ANFREL asal Thailand.

Sebut dia, dirinya mengkhawatirkan lawan politiknya akan menyusup kedalam masyarakat untuk mengancam masyarakat agar memilih calon bupati dan gubernur dari Partai Aceh. Tentunya, kondisi itu akan membuat pesta demokrasi rakyat agenda lima tahun sekali tidak berlangsung damai, aman dan bersih dari ancam mengancam serta intimidasi.

Untuk itu dia meminta kepada aparat kepolisian harus berani mengambil tindakan tegas kepada pelaku ancam mengancam rakyat. Hal itu perlu dilakukan, agar masyarakat pemilih bisa bebas menentukan pilihan sesuai hati nurani dan tanpa intimidasi serta ancaman. Selain itu, diharapkan bagi pemantau asing jika ada kasus sengketa Pemilukada harus dapat mengawal sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Kemudian, Ilyas Pase, juga mempertanyakan apa dampak positik dengan adanya pemantau asing di Aceh, Witt Alexander Gatchell, menyebutkan, hasil pantauan selama berada di Aceh akan dilaporkan kepada lembaganya di sebarkan di website lembaga pada 11 April men datang. “Kita hanya berharap Pemilukada Aceh 9 April itu, dapat berlangsung adil, jujur dan menempati janji calon terpilih saat berkampanye dan jangan ada intimidasi,”ujar Witt Alexander Gatchell. Tim pemantu internasional itu bertugas memantau Pemilukada Aceh di wilayah Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Pidie dan Pidie Jaya. (arm/jpnn)

Kabarkan Firman melalui Paskah

Perayaan Paskah yang diperingati umat Kristiani yang jatuh pada Jumat (6/4), harus menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus. “Dengan Tuhan Yesus di Kayu Salib, yang rela mati menebus dosa-dosa manusia, hendaknya umat Kristiani harus lah hidupnya sesuai dengan ajaran dari Tuhan Yesus Kristus seperti yang tertuang di dalam firman-Nya,” kata Pdt Antoni Silaban MTh,  Panitia Pelaksana Rapat Kerja Daerah GSJA, Selasa (3/4) malam.

Lanjutnya, Tuhan Yesus tak menginginkan umatnya jatuh kedalam dosa dan Tuhan rela mati dikayu salib demi menebus dosa-dosa manusia. “Jadikanlah moment perayaan Hari Paskah ini untuk mengabarkan firman-Nya keseluruh dunia seperti yang tertulis di injil Matius 28 ayat 19-20. Dengan begitu, misi Tuhan Yesus bisa berjalan diseluruh bumi melalui pesannya di dalam injil Matius itu,” sebutnya.

Disambungnya, dirinya juga berharap kepada seluruh umat Kristiani apapun program pemerintah harus didukung dan mendoakan agar pemerintah diberi kekuatan, kearifan, hikmad dan bijaksana sehingga dapat member dan mengayomi masyarakat dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. “Apapun progam pemerintah harus kita dukung dan kita doakan agar pemerintah lebih arif dan bijaksana lagi. Semunya itu ada tertulis tertulis dalam injil Roma 13 ayat 1-7,” akunya.
Tak hanya itu, Pdt Antoni Silaban juga meminta kepada kaum muda-mudi, mahasiswa, pelajar dan anak-anak Tuhan selalu berjalan dalam ajaran Tuhan Yesus. Dijelaskannya, boleh berunjuk rasa tapi harus dengan damai bukannya dengan cara kekerasan karena kekerasan itu sangat tak diinginkan Tuhan. “Tuhan Yesus juga mengajarkan agar dalam penyampaian aspirasi itu dengan cara dama seperti tertulis dalam Yohanes 14 ayat 27,” bebernya.

Tambah Pdt Antoni Silaban, para muda-mudi bisa mengikuti IPTEK, namun, jangan sampai menyimpang dari ajaran dan firman-Nya. “Firman Allah harus menjadi patron bagi kawula muda sehingga kawula muda menjadi kawula muda yang militan, berguna bagi nusa dan bangsa terutama berguna bagi Tuhan Yesus sesuai keinginan-Nya,” pintanya.(jon)

Rakerda GSJA Sumut I/NAD Berjalan Sukses

Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah (GSJA) se Sumut I/NAD gelar rapat kerja daerah di Lantai II, Danau Toba International Hotel, di Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (3/4) malam.
Acara tersebut diikuti oleh seluruh pengurus, pendeta, jemaat, muda-mudi dan fungsionaris GSJA untuk wilayah se Sumut I/NAD dan berlangsung dengan hikmat.
Saat Sumut Pos mendatangi Lantai II, Danau Toba International Hotel, terlihat ribuan jemaat GSJA (Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah) memenuhi ruangan tersebut. Di Lantai II tersebut dilakukan gelar rapat kerja daerah GSJA (Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah) untuk wilayah se Sumut I/NAD.

Acara yang diawali dengan pembukaan nyanyian rohani dan tarian oleh muda- mudi ini membuat decak kagum seluruh ruangan. Acara selanjutnya pembacaan pidato yang diawali oleh Panitia Pelaksana Rapat Kerja Daerah oleh Pdt Antoni Silaban MTh. Selanjutnya pembacaan kata sambutan oleh Aspem Kantor Wali Kota Medan, Daudta P Sinurat.

Dalam kata sambutannya, Aspem Kantor Walikota Medan ini mengharapkan pelaksaan Rapat Kerja Daerah GSJA se Sumut I/NAD ini berjalan dengan lancar. Daudta juga mengaku, dirinya sangat berterima kasih karena diberikan kepercayaan untuk memberikan kata sambutan. “Dengan Rapat Kerja Daerah GSJA (Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah) se Sumut I/NAD ini, umat Kristiani khususnya jemaat GSJA bisa saling bahu membahu dalam setiap pergumulan yang ada. Tak hanya itu, jemaat GSJA semuanya terlihat kompak dan saling membahu dan jangan sampai moment seperti ini hilang,” katanya.

Ketua Panitia Pelaksana Rapat Kerja Daerah se Sumut I/NAD ini, Pdt Antoni Silaban MTh mengaku, acara ini dilakukan setiap tiga tahun sekali. “Tema dari Rapat Kerja Daerah ini diambil dari injil Filipi 1 ayat 27 dan 28 a yang berbunyi “Bersatu untuk Menunaikan Misi Ilahi.

Sub temanya sendiri “Sampai Masa Tuamu, Giatlah Terus Mengerjakan Pekerjaan Tuhan dengan Satu Hati dan Saling Menopang Satu Sama Lain,” katanya disela-sela acara.
Lanjutnya, rapat kerja daerah ini juga diselenggarakan berdekatan dengan hari Raya Paskah yang dirayakan oleh semua umat Kristiani.

“Dalam rapat kerja daerah ini ada beberapa hal yang perlu dilaksanakan antara lain laporan pertanggung jawaban badan pengurus daerah selama tiga tahun, evaluasi kerja, membuat program kerja untuk tiga tahun kedepan, menunjukan ketua-ketua wilayah dan ketua-ketua departemen oleh badan pengurus daerah yang terpilih dan pemilihan badan pengurus daerah yang baru periode 2012-2015,” jelasnya.
Sambungnya, rapat kerja daerah ini sendiri dihadiri pengurus GSJA dari Kota Medan, Deliserdang, Sergei, Langkat, Binjai, Asahan, Labuhan Batu, Tanah Karo, Tapanuli Utara dan Simalungun. “Untuk wilayah Aceh diikuti oleh pengurus GSJA dari Aceh Tengah dan Aceh Tenggara,” bebernya.

Ditambahkan Pdt Antoni Silaban MTh kembali, dirinya berharap supaya dengan rapat kerja daerah ini dalam bidang penggembalaa dan organisasi
bahkan diharapkan supaya menjadi saluran berkat diseluruh Sumut dan NAD. “Saya berharap seluruh umat Kristiani khususnya jemaat GSJA bisa
memberitakan firman Tuhan itu keseluruh dunia seperti yang tertulis dalam injil Matius 28 ayat 19-20,” pungkasnya.
Adapun pengurus terpilih periode 2012-2015 dalam Rapat Kerja Daerah Daerah GSJA (Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah) se Sumut I/NAD di
Danau Toba International Hotel diantaranya Ketua HW Silaban, Wakil Ketua J Malau, Sekretaris B Sirait, Bendahara Harapan Manik, Komisaris Antoni Silaban.(jon)

Tanggung Biaya Penderita Kusta, Operasi 500 Penderita Katarak

Misi Kemanusiaan Yayasan Surya Kebenaran Internasional di Deliserdang     

Yayasan Surya Kebenaran Internasional (YSKI) seakan tak kenal lelah menolong mereka yang terpinggirkan. Di saat pemerintah kehilangan kendali lantaran ketidakseimbangan beban pekerjaan dan anggaran yang ada, YSKI datang mengulurkan tangan. Tak cuma bakti sosial kesehatan atau operasi katarak gratis, YSKI juga membantu warga secara perseorangan. Aksi mulia ini dilakukan tanpa mengenal suku, agama, ras, dan budaya. YSKI adalah payung bagi kaum papa. Komitmen ini yang terus dijaga YSKI di tangan pembinanya DR RE Nainggolan, MM.

RODIAH beru Ginting, penghuni RS Kusta Lawe Simomo sudah tujuh tahun menderita penyakit kusta. Belum lama ini perempuan berusia 20-an tahun ini harus menjalani operasi amputasi kaki dan pengobatan. Tentu berat baginya menannggung seluruh biaya itu. Belum lagi dia terbeban secara mental akibat kehilangan salah satu organ tubuhnya. Untunglah beban penderitaan Rodiah ini dapat berkurang. Dengan hati tulus menolong YSKI mengulurkan bantuan operasi bagi perempuan asal Tanah Karo ini. Seluruh biaya perawatan pasca-operasi juga ikut menjadi tanggungjawab YSKI bekerjasama dengan RS Patar Asih Lubuk Pakam, Deliserdang, dinama dirinya saat ini menjalani pemulihan.

Pembina YSKI, Dr RE Nainggolan MM bersama pengurus YSKI drg Anita, relawan YSKI Jadi Pane SPd, Direktur Utama RS Patar Asih Prof dr Rudolf S Parhusip SP(K), dan Wakil Direktur RS Patar Asih dr Horas Rajagukguk SpB FInaCS, menjenguk dan memotivasi Rodiah yang terus mendapatkan perawatan intensif dari pihak RS. RE Nainggolan mencoba menghibur hari Rodiah dengan mengajaknya ngobrol, menanyakan keluhan, dan memberinya ucapan-ucapan yang menguatkan hati. Mantan Sekdaprovsu yang akrab disapa RE ini meminta Rodiah agar bersabar meskipun kakinya harus diamputasi. RE menguatkan hati Rodiah bila kelak dirinya juga bisa berjalan dengan normal dengan bantuan kaki pengganti.
“Sabar ya. Paling lama enam bulan lagi kamu sudah bisa berjalan seperti semula. Kami (YSKI) sudah siapkan kaki pengganti dan seluruh biaya di RS ini kami tanggung,” kata RE. Siti Aisah beru Tarigan, ibunda Rodiah, mengaku bahagia dan senang atas bantuan yang diberikan pihak YSKI dan RS Patar Asih. Dengan suara terbata-bata, Siti Aisah menyampaikan ungkapan terimakasih dan menyalam erat tangan RE. “Terimakasih pak. Untung ada yang mau membantu pengobatan anak saya. Anak saya ini sudah tujuh tahun menderita sakit karena ketiadaan biaya untuk operasi,” tutur Siti Aisah kepada RE.

Dengan mata berkaca-kaca RE merangkul hangat pundak Siti Aisah. Dia mengatakan apa yang dirasakan oleh sang ibu juga dirasakan oleh ribuan warga lainnya di seantero Sumut. Sebab YSKI membantu orang lemah tanpa memandang latar belakang. Apa yang dilakukan oleh YSKI adalah kasih yang ingin disebarkan kepada sesama manusia lewat misi kesehatan. RE mengatakan bukan hanya Siti Aisah yang beruntung dibantu oleh YSKI melainkan juga para warga kurang mampu yang menderita ragam penyakit. Pada Minggu (1/4) lalu, YSKI yang menggandeng Pemkab Deliserdang menggelar operasi katarak gratis di pelataran RS Patar Asih, Lubuk Pakam. Sedikitnya 500 warga kurang mampu dioperasi oleh tim dokter YSKI.
Kenapa katarak? Pembina YSKI DR RE Nainggolan menekankan jumlah penderita katarak di Indonesia adalah tertinggi di ASEAN. “Bahkan dari 240 ribu penderita katarak itu mengalami kebutaaan parsial dan permanen. Kami amat bersyukur operasi ini bisa berjalan cepat untuk mengurangi risiko kebutaan yang akan dialami penderita katarak,” katanya. Aksi operasi gratis itu turut pula dihadiri Wakil Bupati Deliserdang Zainuddin Mars. Tim operasi berintikan pengurus YSKI drg Annita, relawan YSKI Jadi Pane dan Jansen Lase, dr. Hj. Ariani Atiatul Amra, SpM dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Sumut, Ratna Widiyawati selaku General Operation PT Sidomuncul, Dirut RS Patar Asih Prof Dr Rudolf S Parhusip, Wakil Dirut RS Patar Asih dr Horas Rajaguguk, dan anggota DPRD Deliserdang Apoan Simanungkalit.

Apa yang dilakukan YSKI, menurut RE, adalah rangkaian misi kemanusiaan di bidang kesehatan yang dilakukan sejak beberapa tahun lalu. YSKI sudah melakukan bakti sosial secara maraton di Medan, Binjai, Langkat, Karo, Tapanuli, Simalungin, Siantar, Sergai, dan kabupaten/kota lainnya, “Bukan saja operasi katarak tapi juga operasi bibir sumbing dan langit-langit, hernia, operasi pembuatan anus bayi, pengukuran dan pemasangan kaki/tangan pengganti (palsu), pembagian kacamata baca gratis, dan lain-lain,’’ ungkapnya.

Data YSKI mencatat sedikitnya 28.000 warga kurang mampu sudah terlayani oleh misi kesehatan gratis tersebut. RE menyatakan kegembiraannya kepada Bupati Deliserdang Amri Tambunan dan Wakil Bupati Deliserdang Zainuddin Mars yang konsisten mengawal kesehatan masyarakat di wilayah Deliserdang. “Dimana ada kegiatan pengobatan gratis di Deliserdang Bapak Bupati Amri Tambunan selalu hadir. Kalaupun berhalangan Bapak Wakil Bupati pasti menggantikannya,” tukas RE.
Dia juga memuji Dirut RS Patar Asih Prof Dr Rudolf S Parhusip yang selalau membuka pintu bagi aksi-aksi sosial YSKI. Pengurus Perdami Sumut dr. Hj. Ariani Atiatul Amra, SpM menyambut gembira inisiatif pihak YSKI mereduksi jumlah kebutaan akibat penyakit katarak. Dia menyadari pemerintah masih terbentur anggaran kesehatan untuk mengurangi jumlah penderita katarak di berbagai daerah. ‘’Perdami siap menyokong program YSKI di mana saja,’’ katanya. (val)

Sophia Latjuba Anggap Chrisye Sedang ke Toilet

Di Balik Konser Kidung Abadi

Konser Chrisye Kidung Abadi yang berlangsung Kamis lalu (5/4) menuai sukses besar. Sekitar 5.000 penonton berhasil terbius dalam nostalgia tembang-tembang lawas milik Chrisye yang dihadirkan dalam konser tersebut.
Para penonton pun dibuat terkesima saat menyaksikan lagu ciptaan Erwin Gutawa dan putrinya, Gita Gutawa, Kidung Abadi dibawakan langsung oleh mendiang Chrisye. Teknologi multimedia yang dihadirkan mampu menyuguhkan pertunjukan konser yang cukup fenomenal.

Sosok di balik suksesnya konser tersebut tidak lain adalah musisi Erwin Gutawa dan Jay Subiakto. Namun, ide awal untuk menyelenggarakan konser tersebut datang dari sang istri mendiang Chrisye, Gusti Firoza Damayanti Noor. Perempuan yang akrab disapa Yanti itu menuturkan, keinginan untuk menyelenggarakan konser ada sejak empat tahun lalu. Tapi, saat itu belum ada pihak yang berniat mewujudkan hal tersebut.
“Jadi, itu sudah terpendam empat tahun. Saya berpikir mungkin belum saatnya, jadi belum diwujudkan sama Yang di Atas,” ujar Yanti.

Yanti pun tidak ngoyo. Sebab, mendiang suaminya pun tergolong orang yang perfeksionis. Jika tidak sreg, Chrisye tidak akan memaksakan untuk mewujudkan apa yang diinginkan. “Jadi, kalau dia itu nggak sreg, ya nggak jadi. Walaupun saya udah jalanin. Saya nggak mau ngoyo waktu dapat ini (konser). Kalau memang boleh, akan jalan kok,” jelasnya.

Hingga akhirnya datang tawaran dari promotor musik Live Action. Menurut perempuan 57 tahun itu, Live Action tertarik akan sosok Chrisye. Kebetulan mereka juga berniat me-launching perdana sebuah produk. Tidak menunggu lama, Yanti pun mengontak dua kawan lama Chrisye, yakni Erwin Gutawa dan Jay Subiakto.

Mereka menyambut ajakan Yanti. Erwin bertugas membuat konsep lagu, dan Jay menyajikan tampilan Chrisye secara virtual melalui rekaman perjalanannya.

“Kalau nggak boleh, pasti berhenti di tengah jalan. Seperti tahun pertama, itu stop dengan sendirinya. Sekarang diizinkan, jadi bisa dibilang Chrisye memang sudah maunya konser. Alhamdulillah semua dimudahkan,” jelas Yanti.
Dimulai dari Erwin dan Jay, beberapa bintang tamu dihadirkan. Bahkan, dua bintang tamu khusus datang dari Amerika Serikat dan Inggris hanya untuk terlibat dalam konser tersebut.
Bukan itu saja, Artis cantik Sophia Latjuba yang kini tinggal di Los Angeles menyempatkan datang ke Indonesia untuk memenuhi undangan Yanti.

“Ini konser pertama yang bersejarah dan akan selalu diingat. Jadi, saya merasa terhormat, menjadi seorang penyanyi di konser ini. Saya beruntung Mbak Yanti mengajak saya. Saya pun harus berimprovisasi gimana menyanyi, tapi Mas Chrisye nggak ada. Tapi, spiritnya di samping saya, kayaknya Mas Chrisye itu nyuruh saya nyanyi. Sepertnya Mas Crsiye berkata, Udah Sof, kamu nyanyi dulu aja, aku pergi ke toilet,” urai Sophia.

Dalam konser kemarin, Sophia melantunkan tembang Kangen yang pernah tampil berduet dengan Chrisye. Untuk “menghidupkan” sosok Chrisye, Sophia kala itu mengenakan busana bak Cleopatra didampingi Chrisye dalam bentuk hologram.
Selain Sophia, penyanyi belia Gita Gutawa sengaja datang dari Inggris untuk ikut berkontribusi dalam konser tersebut. Bahkan, Gita terlibat dalam proyek pembuatan lagu Kidung Abadi yang merupakan ciptaan sang ayah, Erwin Gutawa. Penyanyi 18 tahun itu bertugas menyusun lirik lagu yang dirangkai dari potongan-potongan suara Chrisye dalam setiap lagu yang pernah dinyanyikan mendiang.

Gita yang menempuh pendidikan di University of Birmingham mengerjakan hal tersebut di sela-sela waktu kuliahnya, saat liburan Natal pada bulan Desember lalu. “Papa bikin melodinya, aku ambil kata-katanya di setiap lagu-lagunya Om Chrisye. Cukup susah ya karena banyak sekali dan sampai harus melakukan riset.  Saya bangga bisa menjadi bagian konser  ini,” ujarnya. (ken/c10/ayi/jpnn)

Ketuban Sophia Peca

Rekan duet almarhum Crisye, Sophia Latjuba mengaku banyak kenangan dengan Chrisye, selain sebagai pelatih vokal ada juga cerita lucu terkait kedekatannya dengan Chrisye.   Dia menceritakan, saat hamil anak pertama, dia bertemu Chrisye di sebuah mal. Saat itu Chrisye bertanya kenapa bayi tersebut belum juga keluar, padahal perutnya sudah cukup besar.
“Eh, pas habis dia bilang gitu, ketuban saya pecah,” ucap Sophia yang tidak bisa melupakan kejadian tersebut.

Sophia menyebutkan, saat mengikuti latihan vokal bersama Mas Crisye, setiap latihan ada saja spiritnya. “Dulu sebelum saya bisa berbahasa Indonesia pas di Amerika, sewaktu hanya bisa bahasa Jerman, ibu saya kasih saya lagunya Chrisye. Lagu itu terus yang saya nyanyikan ketika sampai di Indonesia. Itu memori pertama,” cerita Sophia. (ken/c13/jpnn)