32 C
Medan
Friday, April 3, 2026
Home Blog Page 13692

Kalau Tidak Gratis, Kami Nikah Siri Terus

18 Pasangan Nikah Massal Gratis di Kampung Kubur

Niat ingin membantu para tetangga yang ingin nikah resmi, Warga Kampung Kubur menggelar acara nikah massal gratis. Selain membantu tetangga yang tak mampu melaksanakan nikah sendiri, helatan ini bermaksud menekan jumlah pasangan kumpul kebo.

Tomi Sanjaya Lubis, Medan

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 IWB, hari cerah. Senyuman raut wajah riang terpancae dari 18 pasangan. Mereka adalah peserta nikah massal gratis yang dihelat di Masjid Al-Amin, Jalan Erlangga, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah.

Mereka terlihat tidak sabar untuk menunggu panggilan dari tua-tuan kadi dari Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Petisah, Sabtu (7/4).

Para wanita yang berusia 19 tahun hingga 48 tahun menenakan pakaian yang umumnya pakaian adat suku Tamil, Jawa, Melayu, Batak dan Mandailing.

“Ya, saya tidak sabar lagi menunggu giliran proses akad nikah. Selain deg-degan, jangan sampai kebaya bau keringat akibat menunggu lama,” bilang Nurlina Pangaribuan, mempelai wanita Beny Agustian Lubis.
Dilanjutkan perempuan yang telah berpuluh tahun hidup bersama pasangannya di di Jalan Taruma Kelurahan Petisah Tengah ini, impian menikah yang sesuai syariat Islam ini lama diidam-idamkan.
“Kami menikah siri pada 1985, di Simpang Limun. Kami nikah siri karena keterbatasan biaya. Lagi pula, saat itu saat baru muallaf,” cetus perempuan 48 tahun itu.

Mimpi nikah resmi itu akhirnya menjadi kenyataan. “Sungguh perasaan saya sangat senang bisa dapat menikah di tahun 2012,” ungkap Nurlina sembari mengenang masa lalunya.

Usai ijab kabul, Beny Agustian Lubis tak mampu menutupi rasa senangnya. “Bagaimana tidak bahagia hati ini. Pernikahan yang diidam-idamkan akhirnya terwujud juga. Kiranya akad nikah ini dapat menghantarkan kami menjadi keluarga yang sejahtera, bahtera dan harmonis hingga ke anak-anak cucu nanti,” bilangnya.

Nikah massal ini diselenggarakan warga Kampung Kubur sekitarnya di Mesjid Al-amin. Ke-18 pasangan dinikahkan lima tuan kadi yang terdiri dari Untung Nasution SAg, Muktar Effendi, Muttaqin, Khairul Amin, dan Budiman dari KUA  Medan Petisah. Mereka menikahkan pasangan dari suku Tamil, Melayu, Jawa, Mandailing dan Batak.

“Proses pernikahan berjalan hikmat, tanpa hambatan,” bilang Untung Nasution, salah satu tuan kadi.
Umumnya pasangan peserta nikah massal berasal dari warga dengan kondisi ekenomi lemah.

“Beberapa pasangan telah melakukan nikah sirih. Kita perdalam lagi akad nikahnya secara Syariah Islam.
Ketua Panitia Nikah Massal Gratis, dra Ernawati berharap, pasangan yang telah dinikahkan ini dapat terus menjalankan rumahtangga yang  harmonis dan sejahtera. Dengan begitunya, kehidupan keluarga agar dapat terwujud bagi anak-anaknya nanti.

“Paling penting, jagalalah keharmonisan dalam setiap rumah tangga dengan bahtera,” bilangnya
H Iswanda Nanda Ramli, penasehat warga Kampung Kubur, mewakili warganya, merasa  turut bahagia dapat membantu para warga yang berniat menikah.
“Daripada mereka kumpul kebo di rumah tidak jelas statusnya, lebih baik kita lakukan akad nikah massal gratis saja,” tandasnya.(*)

Luna Maya Terjatuh di Panggung

Carnaval SCTV di Lapangan Benteng Medan

MEDAN- Kehebohan terjadi saat anak muda kota Medan berbondong-bondong hadir ke Lapangan Benteng Medan, Jumat (6/4) malam. Konser Carnaval SCTV yang berlangsung tiga malam  ini, berakhir Minggu (8/4) dengan menghadirkan berbagai artis dan  group band ibukota ini menimbulkan kemacetan di ruas jalan besar.

Jumat malam kemarin Zigas, Gigi, Cherrybelle, Five Minutes, Hijau Daun, dan magician Damian tampil menghibur. Walau diguyur hujan, antusias pemuda dan pemuda kota Medan untuk menyaksikan acara ini tidak tergoyahkan. Walau tanah berlumpur, tetapi goyangan anak medan tidak terkalahkan. Apalagi, saat trio dangdut yang sedang naik daun, Trio Macan menggoyang dengan lagu fenomenalnya “Iwa Peyek”. Maka seperti chours terjadi di lapangan yang terletak di Jalan Pengadilan itu.

Sejak pukul 20.00 WIB saat hujan mulai mengguyur kota Medan, tidak membuat acara musik sepi. Malah sebaliknya, ribuan muda-mudi tetap bertahan di tengah lapangan, dari awal hingga akhir acara.
Group band, Five Minute sebagai group pembuka dalam acara ini, dilanjutkan dengan penampilan dari Zigaz, Gigi, dan Hijau Daun.

“Semoga kita selalu mendapatkan yang terbaik. Dan kita diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik,” ujar Armand yang saat itu berulang tahun dan tidak menyangka akan dirayakan pada malam tersebut.
Ditengah acara, konser musik yang dikomandoi oleh Luna Maya, Ruben Onsu, dan Nardji ini mendapat kejutan dari Luna Maya. Kekasih dari Ariel ini sempat terjatuh karena lantai panggung yang licin. “Sakit dan malu rasanya,” ungkap Luna diatas panggung. Sementara Nardji dan Ruben hanya bisa tersenyum.

Sesi terakhir hari pertamaacara ini, ditutup oleh penampilan kolaborasi antara Cherrybelle dan magician Damian.

Sabtu (7/4) malamnya, kemeriahan Carnaval SCTV di Lapangan Benteng Medan makin menghibur. Group Band Ungu, Wali dan pasangan Anang-Ashanty tampil memukai ribuan warga Medan.  (ram)

Saya Menyebutnya Keseimbangan

Pdt Dr MD Wakkary, di Antara Teologia dan Dunia Sekuler

Tak banyak orang yang sukses berkarir di dunia sekuler bisa berhasil dengan sangat baik menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di dunia kerohanian. Diantara yang tergolong berhasil itu, ada nama Pdt Dr MD Wakkary.

Nama Markus Daniel (MD) Wakkary sudah tidak asing lagi di kalangan rohaniawan. Selain aktif di berbagai organisasi kegerejaan tingkat nasional, persekutuan antar denominasi  gereja, pria yang hampir berusia 70 tahun ini juga aktif di berbagai dialog antar umat beragama.

Di dunia sekuler, nama MD Wakkary pernah berkibar. Aktif di beberapa media massa terbitan lokal dan nasional, Wakkary dekat dan sering bekerja sama dengan sejumlah tokoh. Berkecimpung di dunia jurnalistik pula yang mengantarkannya menjalani sekitar 25 negara di dunia.

“Tahun 1976, saya ikut meliput perayaan peringatan 25 tahun bertahtanya Ratu Elisabeth. Usai meliput di Inggris, saya keliling beberapa negara di benua Eropa,” tutur Wakkary mengisahkan beberapa perjalanannya sebagai seorang jurnalis.
Wakkary pun pernah meliput Piala Dunia di Argentina pada 1978. “Saya ke Argentina setelah terlebih dahulu meninjau kegiatan PBB di New York,” ujarnya lagi.

Kenangan Wakkary menjalankan tugas jurnalistik ke sejumlah negara, masih sangat segar. Tak hanya di Eropa dan Amerika, Wakkary beberapa kali ke sejumlah negara Asia. Seperti saat meliput Konferensi Negara-negara Nonblok di India pada 1983. Selesai konferensi, ia memanfaatkan waktu dengan mengunjungi Sri Langka dan negara-negara tetangga India lain. “Itulah enaknya jadi wartawan, bisa pergi kemana-mana,” ujar pria sepu ini tersenyum.
Di kantornya di Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) jemaat Maranatha di Jalan S Parman, Kamis (5/4), tawa Pdt Wakkary sesekali berderai. Semangat kewartawanannya masih tetap membara meski gerakannya terlihat mulai melambat.
“Maaf, saya tidak menyediakan minuman. Kami sedang puasa menjelang Paskah,” ucap Pak Pendeta di sela-sela perbincangan.

Bercerita lepas, sejenak Wakkary menanggalkan pergumulannya sebagai pelayan Tuhan. “Hidup memang  harus seimbang, antara kegiatan rohani dan sekuler. Saya menyebutnya keseimbangan hidup,” sebutnya mantap.
Pernyataannya itu terlontar ketika ditanya pengalama masa kecil dan masa remajanya. Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan gereja, anak Pdt RN Wakkary-Sorongan ini sama saja seperti anak-anak sebayanya yang lain. Bergaul dengan rekan-rekannya, dan me lakukan berbagai hal dengan sebayanya.

Dia menjalani masa kanak-kanak di Bogor dan menghabiskan masa remaja di Bandung, Medan dan Batu (Malang). Wakary muda pun berkali-kali ganti sekolah. Mulai dari sekolah Alkitab hingga sekolah sekuler. Bila sekolah Alkitab dijalani karena dorongan orangtua, ia masuk sekolah sekuler karena terpengaruh teman-temannya.

Dia menenyam pendidikan calon hakim di Sekolah Menengah Kehakiman Atas (SMKA) di Medan. Selesai dari SMKA, ayahnya mengirimkannya belajar di Sekolah Alkitab di Batu, Jawa Timur.
Di sekolah ini, Wakkary muda terdaftar sebagai Angkatan V pada 1959 dan dan angkatan VI 1960. Ternyata Wakkary tak betah tinggal berlama-lama belajar  Alkitab di kota berhawa sejuk itu. Dia kembali ke Medan dan menjadi pekerja gereja di GPdI Maranatha sambil belajar teologi. Di gereja itu ayahnya menjadi gembala sidang.

Di Medan, Wakkary muda diberi kelonggaran oleh ayahnya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di luar pendidikan teologi. Dia kemudian mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (UISI) pada 1961. “Saya ikut teman. Kemana sekolah, kesitu saya masuk,” sebutnya lantas tertawa.

Kehidupannya pun mulai tidak teratur. Di usia 18 tahun itu, Wakkary kerap begadang hingga sakit. “Saya terkena sakit paru-paru dan sakit bagian dalam lainnya. Sampe-sampe saya berpikir, saya tidak mungkin berumur panjang, tidak akan lebih dari 30 tahun,” ucapnya dengan mimik serius. Di UISU, status mahasiswa Fakultas Hukum Wakkary hanya bertahan selama beberapa bulan.

Setelah sembuh, Wakkary jadi lebih disiplin membagi waktu. Orientasi pergaulannya diubah. Selain tetap menjadi pekerja gereja, pada 1962, dia serius menimba ilmu di Cambridge English Course, Medan hingga 1964.
Wakkary juga aktif di sejumlah organisasi kepemudaan hingga dia terpilih sebagai Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Medan pada 1965. Di tahun itu pula, Wakkary memulai perjalanan sebagai jurnalis dengan menjadi reporter di Harian Sinar Harapan di Medan. “Saya mencari pengalaman di dunia jurnalis dan ormas,” sebutnya.

Di masa-masa itu, suhu politik nasional terasa kian menghangat. Tuntutan mengakhiri kekuasaan Orde Lama bergema di Jakarta dan menjalar ke kota-kota lain di Indonesia, termasuk di Medan. Sebagai anggota ormas kepemudaan dan seorang jurnalis,  Wakkary kemudian melibatkan  dalam sejumlah kesatuan aksi. Hingga akhirnya kepemimpinan Orde Lama berganti dengan rezim berikutnya.

Pada 1966-1967, Wakkary menjadi redaktur di mingguan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Di dunia kerohanian, Wakkary sudah pula menjadi pendeta penuh. Meski demikian, ia memutuskan untuk berkarir di dunia informasi publik daripada bertugas sebagai pendeta yang melayani jemaat.

Pada 1970, Wakkary menjadi redaktur di harian Sinar Indonesia Baru, bergabung dengan GM Panggabean. “Dari sinilah saya makin dikenal luas di Sumut,” sebutnya tanpa ragu.
Untuk fokus di dunia jurnalis, Wakkary nonaktif dari kegiatan gereja. Karirnya kemudian melejit hingga dipromosikan menjadi wakil pemimpin redaksi/Penanggung jawab harian SIB. Karirnya terus meningkat dan diangkat menjadi Wakil Pemimpin Umum/Pemred harian SIB, pada 1980.

Tetapi rencana Tuhan memang tak bisa dihentikan. Pada 1980, gereja meminta Wakkary kembali aktif melayani. “Orangtua saya sakit keras. Ibu saya yang meggantikan ayah sebagai gembala, terserang stroke. Waktu itu saya benar bergunuk,” urainya.

Setahun kemudian, MD Wakkary member jawaban, bersedia aktif kembalimelayani di gereja. “Perimbangan saya, gereja perlu tenaga muda yang berpengalaman di dunia sekuler. Bisa jadi pembanding antara dunia teolog denfgan dunia sekuler,” ujarnya member alas an mengapa ia menerima permintaan pihak gereja.

Muncul masalah baru. Saat dia aktif di gereja, pihak surat kabar tak rela Wakkary pergi begitu saja karena tenaganya masih sangat dibutuhkan. Akhirnya diperoleh kesepakatan, Wakkary tetap melayani di gereja dan di surat kabar dia dibebaskan dari tugas-tugas keredaksian. Pendeta Wakkary baru benar-benar dilepas dari perusahaan surat kabar itu pada 1992.

Di sisi lain, dia kerap dipercaya menjadi ketua di berbagai organisasi gereja dan kerohanian. “Saya memang sering dipercaya sebagai ketua karena dianggap punya sedikit kelebihan,” ujar Pdt Wakkary.
Pria yang karena kesibukannya ini baru menikah pada usia 42 tahun ini yakin, kelebihan itu tak lepas dari pengalamannya semasa aktif di organisasi sekuler.

Prestasinya sebagai pemimpin organisasi gereja memang mentereng. Ayah tiga puti ini sudah empat kali terpilih sebagai ketua umum Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI). Beberapa bulan lalu, Musyawarah Besar GPdI di Manado memberinya mandat sebagai ketua umum. Selain itu, Pdt Wakkary juga menjadi kepala sekolah di sejumlah sekolah alkitab dan menjadi ketua umum di beberapa STT.(tms)

HIDUP DAN PELAYANAN

Nama Markus Daniel Wakkary
Tempat/Tgl Lahir Bogor / 22 Juni 1943
Alamat Pelayanan Jalan Letjen. S. Parman No. 63 Medan 20153
Istri Lenny Ariantje Tampi
Anak-anak 1.Klaudia Debora Wakkary
2. Kezia Tabita Wakkary
3. Kerenhapukh Lois Wakkary

RIWAYAT PENDIDIKAN SEKULER & TEOLOGI

1955 SD di Bandung, 1955
1958 SMP di Bandung dan Medan,
1958-1959 SMKA di Medan.
1959 dan 1960 Sekolah Alkitab di Batu Malang Angkatan V dan VI
1962–1964 Cambridge English Course di Medan 1971 On the Job Training Straits Times Group Kuala Lumpur
1981 ACMA, Melbourne
1987–1996 Peserta tetap Pastor’s Conference Church on the Way, di Los Angeles
1993 Meraih GelaLr of Ministry ISTTI El-Shaddai.
1995 Meraih Gelar Doctor of Litterature Evangel Christian University of America.

PELAYANAN KEMASYARAKATAN

1965-1967 Ketua DPC GAMKI Kota Medan / Sekretaris DPD GAMKI Sumut
1980-1990 Ketua DPP GAMKI Sumut
1966-1967 Redaktur Harian Sinar Harapan Medan
1970-1972 Redaktur Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) Medan
1972-1980 Wakil Pem. Redaksi Penanggungjawab Harian “SIB”
1980-1991 Wakil Pemimpin Umum/Pem. Redaksi Harian “SIB”
1980-1985 Wakil Ketua Serikat Penerbitan Suratkabar (SPS) Sumut

RIWAYAT PELAYANAN

1960 – 1961 Pengerja di GPdI Garut
1961 – 1962 Pengerja di Medan
1962 – 1969 Pendeta Muda di Medan
1969 Dilantik menjadi Pendeta di Mubes GPdI Surabaya
1971 Non-aktif dari fungsi Kependetaan, karena dicalonkan anggota DPRD/DPR oleh Parkindo
1972 – 1991 Membantu pelayanan GPdI di Medan merangkap Wk. Pemimpin Umum/Pem. Redaksi di SIB.
1981 Gembala Sidang GPdI Jalan S. Parman Medan menggantikan Pdt. R.N. Wakkary-Sorongan yang mengundurkan diri karena sakit.
1981 Ketua BPP Pemuda Pantekosta oleh Majelis Pusat GPdI
1981 Sekretaris MD I GPdI Sumut-Aceh dalam Musda GPdI Sumut-Aceh di Medan
1983 Sekjen Pengurus Pusat Dewan Pantekosta Indonesia (DPI) dalam Mubes DPI di Jakarta.
1984 Wakil Sekretaris Umum Majelis Pusat GPdI dalam Mubes GPdI di Senayan Jakarta.
1985 Ketua Majelis Daerah GPdI Sumut-Aceh dalam Musda GPdI Sumut-Aceh di Purbasari.
1988 Sekretaris Umum Majelis Pusat GPdI dalam Mubes GPdI di Jakarta.
1988 Terpilih menjadi Ketua Umum DPI dalam Mubes DPI di Bandung.
1991 Sekretaris Umum MP GPdI dalam Mubes di Batu.
1993 Menjadi Ketua II Majelis Pusat GPdI berhubung meninggalnya Pdt. E.N. Soriton.
1993 Terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP-DPI dalam Mubes DPI di Wisma Kinasih Ciawi Bogor.
1995 Terpilih menjadi Ketua I Majelis Pusat GPdI dalam Mubes GPdI di Batu Malang.
1995 Terpilih kembali sebagai Ketua Majelis Daerah GPdI Sumut-Aceh di Musda Kabanjahe.
1998 Terpilih kembali untuk ketiga kalinya sebagai Ketua Umum PGPI (dulu DPI) dalam Mubes DPI/PGPI di Jakarta.
1999 Anggota MPR-RI dari Fraksi Utusan Golongan mewakili PGPI dan bukan mewakili Parpol.
1999 Ketua Majelis Daerah GPdI Sumut-Aceh dalam Musda GPdI Parapat.
2000 Menjadi Ketua MP GPdI dalam Mubes di Jakarta.
2003 Ketua Majelis Daerah GPdI Sumut-Aceh di Musda Medan.
2004 Ketua I MP GPdI dalam Mubes GPdI di Bali.
2008 Ketua Umum PGPI dalam Mubes PGPI di Jakarta
2012 Ketum GPdI dalam Mubes GPdI di Manado
1993-sekarang Kepala Sekolah Alkitab Purbasari menggantikan Pdt. M.E. Lambert yang pulang ke Amerika.
1996-2011 Ketua STT El-Shaddai menggantikan Almarhum Pdt. DR. Nicky J. Sumual.
2000-sekarang Kepala Sekolah Alkitab Nias.

Jangan Kau Tinggalkan Mama…

Pemakaman Tasya, Bayi yang Tewas akibat Diterlantarkan di RS Pirngadi

MEDAN – Kepergian Anastasya F Situmeang, anak pertama dari Mualtua Situmeang (31) dan Rini Oktaviani Sinaga (25) warga Jalan Pelajarujung Gang Sederhana, Medan Denai diwarnai isak tangis, Sabtu (7/4) siang. Tidak hanya itu, kepergian bayi 7 bulan yang tewas akibat diterlantarkan tim medis Rumah Sakit (RS) Pirngadi Medan ini, juga diiringi guyuran hujan, seolah-olah larut dalam duka.

Rumah berwarna cat kuning pada barisan kelima di Jalan Pelajarujung ramai dikunjungi orang. Suara kidung puji-pujian terdengar dari dalam rumah itu. Nyanyian-nyanyian itu ternyata untuk menggiring kepergian seseorang ke pemakaman. Isak tangis pun larut dalam guyuran hujan tatkala melihat sosok bayi mungil terbujur kaku di peti jenazah. Begitulah suasana rumah duka Mualtua Situmeang dan istrinya, Rini Oktaviani menjelang menggiring putri pertamanya, Tasya (panggilan Anastasya) ke pemakaman.

Amatan Sumut Pos, para tetangga dan sanak family lalu lalang bergantian masuk ke dalam rumah untuk melayat dan mengucapkan belasungkawa. “Sabar ma eda. Nunga songoni pangidoan Tuhan (sabarlah Eda, memang sudah begitu kehendak Tuhan),” kata seorang pelayat perempuan berbaju hitam kepada keluarga duka.

Sang ibu, Rini Oktaviani Sinaga dan suaminya, Mualtua Situmeang, yang duduk di samping peti jenazah Tasya yang belum ditutup, hanya bisa menangis dan meratapi sang anak yang telah terbujur kaku di dalam peti. “Tasya, boasa ditadingkon ho oma. Ise ma dongan oma mo on (Tasya, kenapa kau tinggalkan mama. Siapa kawan mama mu ini lagi),” tangisnya sembari meratapi jenazah Tasya di dalam peti.
Sang ayah, Mualtua hanya bisa tertunduk lemas meratapi jenazah sang anak. Sang ibu, Rini Oktaviani Sinaga hanya bisa menangis dan terus menangis. “Tasya! Tasya! Kenapalah pergi anakku,” tangis kakaknya Mualtua yang juga duduk di dekat peti jenazah itu.

Sekitar satu jam kemudian, orangtua Mualtua, Marudut Situmeang (58) dan ibunya, Nona Siahaan (58), yang tinggal di Batam tiba di rumah duka. Begitu turun dari taksi, pintu depan pun terbuka. “Mana Tasya! Mana Cucuku!” tangis neneknya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Sontak saja, begitu masuk kedalam rumah suasana semakin dipenuhi dengan isak tangis. Tak hanya itu, sang nenek, Nona, pun langsung menangis histeris dan memeluk peti jenazah cucunya itu. “Ago poang! pahopuku on dungo ho pahumpuku, ro opung mo on (Aduh! cucuku bangun kau cucuku, sudah datang opung mu ini),” tangis Nona sambil memeluk peti jenazah cucunya.
Isak tangis histeris kembali pecah setelah peti jenazah mau ditutup untuk menuju ke pemakaman terakhir. “Kenapa kalian tutup peti anakku ini. Jangan tutup petinya,” tangis Rini sambil memeluk peti jenazah dan tak membiarkan peti jenazahnya ditutup.

Sontak keluarga yang lain menarik Rini lalu menutup peti jenazahnya. Peti jenazah Tasya pun diangkat Mualtua dan saudara laki-lakinya menuju pemakaman yang berjarak 1 kilometer dari kediaman mereka.
Selama dalam perjalanan menuju pemakaman, hujan rintik-rintik pun turun memberangkatkan jenazah Tasya. Jenazah pun tiba di pemakaman lalu dikebumikan.

Usai pemakaman, Mualtua mengatakan menyesalkan penanganan yang dilakukan rumah sakit di RS Pirngadi. “Sangat disesalkan karena anak saya yang sudah berada dua jam di rumah sakit tak ditangani dengan serius. Padahal itu rumah sakit pemerintah. Pelajaran lah itu buat siapapun,” katanya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

Sekedar mengingat, Tasya yang menderita sesak dan penurunan kesadaran ini sempat berada dua jam lebih di dalam Ruang IGD (instalasi gawat darurat) RSU Dr Pirngadi Medan, Jumat (6/4). Namun, Tasya tak ditangani serius oleh rumah sakit dan meninggal dunia Jumat sore 16.00 WIB di dalam ruangan IGD.(jon)

Berita sebelumnya: 2 Jam Lebih tak Ditangani, Bayi 7 Bulan Tewas di Pirngadi

Ratusan Ribu Rumah untuk Buruh-Wartawan

JAKARTA-Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) menargetkan membangun 200 ribu rumah bagi para pekerja/buruh yang tersebar di kawasan-kawasan industri di  seluruh Indonesia.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan kesejahteraan, sehingga kesejahteraan para buruh bisa meningkat lebih baik.

“Ini merupakan kesepakatan Kemenakertrans dengan Kemenpera. Pemerintah juga telah mengadakan  petemuan dengan perwakilan serikat buruh dan Apindo untuk membicarakan rumah bagi pekerja di kawasan-kawasan industri ini,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, di Jakarta, Kamis (5/4).

Muhaimin mengatakan, upaya peningkatan kesejahteraan buruh ini telah dilakukan  sejak beberapa tahun terakhir. Yakni,  dimulai dengan membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) untuk pekerja lajang di kantong-kantong industri, termasuk yang sudah berjalan baik di Batam.

“Untuk tahun ini, kita berharap melalui kerjasama dengan Menteri Perumahan Rakyat, kita akan bikin tower perumahan di daerah kantong-kantong industri Jabodetabek. Pemerintah terus mengembangkan perumahan murah untuk para pekerja dan buruh dengan harga terjangkau dari segi bantuan uang muka maupun terjangkau dari segi kredit ataupun cicilan yang diberikan untuk para buruh,” jelasnya.
Ketua Umum DPP PKB ini menambahkan, pemerintah juga akan memprioritaskan besaran upah, perumahan dan  transportasi serta jaminan sosial bagi pekerja/buruh. Dijelaskan, pengelolaaan perumahan ini akan diserahkan pada Perumnas, Jamsostek ataupun Pemda.

Sedangkan lokasi perumahan untuk pekerja/buruh yang sudah berkeluarga, akan dicarikan pada  lokasi-lokasi yang dekat dengan tempat kerja dan transportasi massal.
Tak hanya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), PNS, TNI, dan Polri yang disiapkan perumahan dengan suku bunga rendah. Para jurnalis juga ternyata ikut kecipratan proyek pemerintah.  Menurut Menteri Perumahan Rakyat, pemerintah akan membangun kompleks rumah wartawan di Citayam. Proyek pembangunan rumah untuk para kuli tinta tersebut direncanakan selesai dibangun dalam waktu enam bulan mendatang.
“Kemenpera akan membangun kira-kira 1.000 rumah untuk para wartawan,” ujarnya kepada wartawan di Kantor Kemenpera, Rabu (4/4).

Pembangunan perumahan bagi wartawan, lanjutnya, merupakan salah satu arahan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pasalnya, selama ini presiden melihat kinerja wartawan sangat berat, harus mencari berita yang harus ditayangkan kepada masyarakat luas selama 24 jam.

“Melihat itu Kemenpera kemudian diminta presiden untuk memberikan perhatian pada penyediaan rumah bagi wartawan. Apalagi tidak semua wartawan telah memiliki rumah,” tuturnya.

Untuk membangun rumah para kuli tinta ini, Kemenpera akan menunjuk Perumnas. Mengenai lokasi pembangunan rumah wartawan ini, menurut Djan Faridz, akan dipusatkan di daerah Citayam, Depok. Harga tanah yang telah ditawarkan ke Kemenpera sekitar Rp 100 ribu per meter. Dari perhitungan Kemenpera, biaya untuk pembelian tanah yang diperlukan adalah Rp 10 juta. Harga bangunan rumah sekitar Rp 25 juta dan sedikit keuntungan untuk pengembang.
“Rumah untuk wartawan ini harganya Rp 45 juta dengan cicilan sekitar Rp 300 ribu hingga Rp Rp 400 ribu. Tentunya cicilan rumah ini lebih rendah daripada mencicil motor sehingga tidak memberatkan,” tandasnya.
Untuk dapat memperoleh rumah ini, pemerintah akan memberikan beberapa kemudahan. Pertama, besar uang muka diusahakan maksimal 10 persen dari harga rumah. Kedua, apabila para wartawan sudah dicover  Jamsostek diharapkan Jamsostek bisa ikut membantu penyediaan uang muka tersebut.

“Kami harap pihak media melalui bagian personalia juga bisa mengirimkan surat permohonan perumahan bagi karyawannya sebagai penjamin gaji. Dan wartawan juga harus datang ke bank untuk kreditnya,” terangnya. (cha/esy/jpnn)

Harga Udang, Kepiting dan Belangkas Turun

BELAWAN- Memasuki seminggu pasang air laut, harga kepiting, udang dan belangkas turun. Penurunan harga jual tiga komoditas hasil laut ini disebabkan hasil tangkapan nelayan di Belawan pada musim pasang laut lima belas hari bulan ini kian membanjiri tangkahan TPI (tempat pelelangan ikan) dikawasan Bagan Deli, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin.

“Kalau sudah pasang besar biasanya tangkapan kepiting, udang dan belangkas nelayan di sini meningkat. Dan kalau pasokan banyak harga jual pun pastinya jadi turun,” kata, M Nasir (52) seorang nelayan.
Seperti kepiting kelapa jenis jumbo sebelumnya harga jualnya mencapai Rp120.000 per kg, turun menjadi Rp90.000/kg.

“Memang pada musim pasang laut seperti ini tangkapan nelayan bertambah, ini dikarenakan pada musim saat ini justru membuat perkembangbiakkan kepiting di sekitar 6 mil laut dari pinggiran pantai terus banyak jika dibandingkan hari-hari sebelumnya,” ungkapnya.

Lain lagi dengan penjualan udang lipan super, jenis udang kelas ekspor yang mencapai berat 4 ons ini dijual per ekor dengan harganya Rp20.000 dari harga sebelumnya Rp25.000 per ekor untuk jenis udang yang masih hidup. “Sedangkan kalau yang sudah mati biasanya harga jualnya rendah hanya Rp5.000 per ekor dari sebelumnya Rp10.000 per ekornya,” terangnya.

Sementara, harga jual komoditas hasil laut lainnya yang ikut mengalami penurunan harga yakni belangkas. Dalam per ekornya hewan laut penghasil telur mirip ikan pari ini di jual seharga Rp15.000 per ekor dari harga sebelumnya Rp20.000 per ekor. (mag-17)

Tewas Gantung Diri di Tugu Tol

Pacar Tunangan dengan Pria Lain

BELAWAN- Ahmad Ramadhan alias Riko (19) warga Lingkungan 29 Kelurahan Pekanlabuhan Kecamatan Medan Labuhan benar-benar putus asa. Gara-gara pacar menikah dengan pria lain, Riko nekat gantung diri di Tugu Gerbang Tol Belmera Kampungkurnia, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin. Riko ditemukan tewas dengan posisi leher tergantung dengan menggunakan tali nilon.

Keterangan dihimpun Sumut Pos di lokasi kejadian menyebutkan, mayat korban yang ditemukan pertamakali oleh warga setempat yang sedang melintas di kawasan Tugu Gerbang Tol Belawan.
“Tadi ada warga yang bilang kalau ada orang gantung diri di tugu itu, lalu kami bergegas datang dan ternyata benar. Warga lalu melaporkan kejadian ini ke polisi,” ujar, Anton (28) salah seorang warga.
Petugas Polsekta Medan Labuhan yang tiba di lokasi kejadian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Hasil penyelidikan, polisi menemukan secarik surat bertuliskan ungkap perasaan dan permohonan maaf korban kepada pihak kedua orangtuanya.

“Dari olah TKP korban murni bunuh diri, dan di sekitar lokasi ditemukan sepucuk surat telah kita amankan, diduga motif bunuh diri ini soal asmara,” terang, Kanit Reskrim Polsekta medan Labuhan, AKP Oktavianus.
Namun penyelidikan petugas terpaksa berhenti, pasalnya ayah kandung korban, Riduan (39) meminta agar pihak kepolisian tidak membawa jenazah putra pertamannya dari lima bersaudara ini ke RSU dr Pirngadi Medan untuk diotopsi.”Pihak keluarga minta agar tidak dilakukan otopsi terhadap korban, dan surat pernyataan tidak keberatan sudah ditandatangani orang tuanya,” ucapnya.

Riduan, ayah kandung korban ketika ditanyai tidak membantah kalau aksi nekat putranya itu diduga dipicu oleh permasalahan asmara.

“Sebelum kejadian tak ada tanda-tanda keanehan, dia (Riko) tampak seperti biasa, keseharian dia terlihat periang,” tuturnya sedih.

Perbuatan nekat Riko dikabarkan setelah hubungan asmaranya dengan kekasihnya berinisial, S warga Jalan Young Panahhijau, Marelan putus.
Ini dipicu adanya dugaan orang ketiga yang hadir di dalam kehidupan cinta kedua sejoli ini.

” Aku tak tahu pasti hanya saja ada yang bilang, Riko sebelumnya sempat dapat SMS dari pacarnya yang minta putus karena ceweknya mau tunangan dengan pria lain,” sebutnya.
Layanan pesan singkat tersebut diduga membuat korban berpikiran untuk memilih mengakhiri nyawanya dengan menggunakan seutas tali nilon.”Dia ini anak baik dan rajin, tapi kenapa dia mau berbuat nekat seperti itu,” kesalnya. (mag-17)

KPR dari Bank BNI Dalam 3 Bulan Tersalur Rp1,8 T

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sudah mengucurkan kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 1,8 triliun selama 3 bulan pertama pada 2012. Pertumbuhan KPR tersebut didorong oleh rendahnya bunga yang rata-rata sebesar 9 persen BNI juga tengah memberikan promo bunga murah 7 persen fixed selama satu tahun. “Pertumbuhan KPR selama 3 bulan mencapai Rp 1,8 triliun. Total kredit KPR mencapai Rp 19,8 triliun,” kata Direktur Konsumer dan Ritel BNI Darmadi Sutanto di, Jakarta, Kamis (5/4).

Darmadi mengatakan, BNI menyediakan beberapa program. Salah satunya adalah KPR murah karena bunganya hanya 7 persen. BNI kini memang tengah mengadakan promo suku bunga KPR 7,49 persen selama satu tahun. Padahal di tataran itu, rata-rata KPR keseluruhan bunganya berada di kisaran 9 persen.  “Tergantung programnya. Ya,  kalau bunga sekitar 7 persen ada fixed satu tahun. Kalau di rata-ratakan 9 persen,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Darmadi menyampaikan tahun ini BNI berencana menambah 1.500 mesin ATM baru yang akan tersebar diseluruh Indonesia. “Sekarang sudah 6.500 nanti ada proses penggantian dengan yang sudah kadaluarsa. Nantinya akan ditambah mungkin sekitar 1.500 lagi,” kata Darmadi lagi.

Sebelumnya, Dirut BNI Gator M Suwondo mengatakan, bisnis pembiayaan perumahan dianggap PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masih menjanjikan. Pertumbuhan KPR perseroan akan kembali menggeliat di kisaran 27 -28 persen pada 2012. Perseroan merupakan pemain baru dalam bisnis KPR. Ke depan, bisnis ini akan terus berkembang dengan pengembangan sistem dan SDM pada seluruh wilayah.

“Kami ini pemain baru. Namun bisnis ini masih sangat baik. Portofolio kami sampai akhir tahun lalu mencapai Rp 18 triliun, terjadi penumbuhan 50 persen dibandingkan sebelumnya,” kata Gatot akhir pekan lalu.  “Tahun ini kita targetkan portofolio tumbuh 27-28 persen.  Artinya, sekitar Rp 25 triliun-Rp 26 triliun,” katanya.

Gatot mengemukakan, banyak kerja sama yang terjalin antara perseroan dengan pengembang. Totalnya mencapai 526 pengembang hingga akhir 2011. Jumlah ini meningkat dibanding awal BNI terjun serius di bisnis KPR pada 2006 yang hanya 20 pengembang.

Sebagai wujud komitmen bisnis KPR yang terus dijaga, BNI bersama DPP Real Estate Indonesia (REI) berinisiatif melahirkan pembiayaan dengan skema dan pola perhitungan spesial, dengan nama KPR Griya Idaman. Pembiayaan ini menawarkan cicilan murah mulai dari Rp 600 ribu per bulan serta tenor maksimal 20 tahun.

KPR Griya Idaman ditujukan bagi konsumen yang membeli rumah di atas harga yang ditetapkan pada FLPP 2012, yakni Rp 70 juta.(ari/jpnn)

Pulang

Sunlie Thomas Alexander

Setelah tujuh tahun.

Senja Pertama

INI senja yang pertama baginya setelah bertahun-tahun pergi. Hidup di berbagai tempat: kota-kota serba gemerlap maupun kelabu, yang terus-menerus menawarkan ketegangan dengan kampung halaman; atau desa-dusun hiruk-pikuk maupun sunyi yang dulu bahkan tak terbayangkan olehnya. Begitu banyak lagi tempat dan nama yang tak tercatat di peta…

Menyusuri jalan tanah kuning becek yang di sana-sini tergenang air hujan, ia menjalankan sepeda motor yang direntalnya setengah jam setelah meninggalkan bandara dengan lamban. Ia memang harus berhati-hati agar tak melindas genangan air kotor atau tempat-tempat yang lebih becek, karena bisa jadi roda sepeda motornya bakal terbenam. Kedua roda sepeda motor bebek itu sudah berlumuran lumpur tanah kuning yang memerciki kaki celananya hingga sebatas betis.
Ah sekian tahun, ternyata jalan kecil yang menghubungkan kampungnya dengan jalan raya menuju kota kecamatan itu tak juga berubah. Tak pernah tersentuh aspal semenjak ia masih kanak-kanak. Ia mengeluh kecil ketika akhirnya sebuah lubang menganga tak mampu dielakkannya. Air kuning kotor langsung bercipratan membasahi celananya sampai bagian lutut.

Suasana

Warna jingga—seperti sirup rasa jeruk—yang sedikit temaram dan seakan menyimpan kesedihan yang ganjil, menyapu langit di depan matanya.Deretan pepohonan dan semak belukar liar di kanan-kiri jalan bergerak-gerak oleh hembusan angin, mengeluarkan suara seolah mengisak. Jalan yang dilaluinya kini sedikit lebih bagus, tapi ia tak juga mempercepat laju sepeda motor. Seolah-olah memang memilih melarutkan dirinya dalam senja yang murung ini.
Ada suara cucak rowo yang ia kenali baik di antara pepohonan. Ia menoleh sekilas sekadar ingin memastikan. Tapi burung mungil itu tak tampak karena rimbunnya dedaunan pohon-pohon: duku, rambutan, manggis, durian, cempedak, dan sebagian yang tak lagi bernama di dalam kepalanya—walaupun ia masih mengenali aroma dan bentuk batang yang pernah akrab dengannya selama bertahun-tahun itu. Tercium pula bau getah karet basah.

Cahaya matahari penghabisan berkilauan di dedaunan. Seperti butir-butir kristal, sisa air hujan bertetesan setiapkali angin berhembus lebih kencang. Rasa gelisah tiba-tiba saja membuncah di hatinya, membuatnya merasa seolah sedang menghadiri sebuah konser yang memilukan. Langit kian temaram, semakin muram.

Seorang Lelaki Setengah Baya Bersepeda

Mereka berpapasan. Ia mengendurkan gas sepeda motornya, membiarkan lelaki bersepeda itu lewat terlebih dulu karena sempitnya sisa jalan yang akan dilalui. Lelaki setengah baya itu tampak agak terburu-buru, tapi mereka sempat bertatapan sesaat. Ia hanya mengangguk kecil, namun kedua mata lelaki itu sekilas seperti bercuriga. Tidak ada tegur sapa sama sekali.

Sejenak kemudian ia merasa mengenali lelaki itu. Namun otaknya yang seolah membatu, tak bisa digunakan untuk mengingat. Toh, ia merasa begitu yakin lelaki setengah baya bersepeda itu memang salah seorang dari masa lalunya yang luput. Ah, memang begitu banyak nama-nama dan peristiwa yang raib tak berbekas ditelan waktu.

Yang Tersisa dari Kenangan.

Gedung Sekolah Dasar

Dulu, bersama anak-anak lainnya setiap hari ia berjalan kaki belasan kilo pulang-pergi ke sekolah yang terletak di ujung kampung itu. Kini ia melihatnya lagi. Bangunan itu tak banyak perubahan, selain ada beberapa ruang kelas tambahan yang entah dibangun kapan. Gedung sekolah tersebut kayaknya belum lama dicat ulang. Ia merasa sedikit terharu juga melihat bekas sekolahnya. Dari adiknya ia tahu, sampai sekarang belum juga ada SLTP di kampungnya…

Rumah Mantan Kepala Kampung

Rumah itu juga lebih bagus sekarang. Lantai terasnya dipasangi keramik putih. Ada sebuah taman kecil di depan rumah. Dinding-dindingnya dicat kuning telur. Seingatnya, dulu rumah itu bercat hijau muda. Ia menduga lelaki gemuk pemiliknya sekarang sudah bukan lagi kepala kampung.
Pos Kamling
Aneh, pikirnya, pos kamling itu ternyata masih ada. Berbentuk kotak bujur sangkar yang terbuka di bagian muka dan berdiri di atas empat tiang kayu. Dinding-dinding papannya tampak penuh dengan graffiti dari semprotan pilox. Rapuh, seperti mengerang. Atap sengnya sudah penuh karatan. Ada sehelai tikar pandan butut tergelar di dalam pos. Sebuah sendok kotor—mungkin bekas mengaduk kopi semalam—tergeletak di atas tikar itu.
Ah, sesekali ia pernah nongkrong di sana…

Rumah Orangtua Hasan

Ia sebenarnya ingin sekali singgah ke rumah itu. Tapi merasa sungkan. Lagipula siapa yang bakal ditemuinya di sana? Hasan seperti dirinya, telah lama merantau. Bahkan lebih dulu. Tentunya setelah sekian lama, orang di rumah itu telah menjadi serba asing buatnya. Ia menjalankan sepeda motornya lebih lambat untuk mengamati rumah bercat putih itu. Agaknya juga tak ada perubahan yang berarti, kecuali ada sebuah retakan cukup panjang di tembok sisi kiri, entah karena apa. Yang jelas mengingatkannya pada tembok rumah-rumah di kota rantaunya sehabis gempa tiga tahun silam.

Sebatang Pohon Durian

Pohon besar yang menjulang tinggi itu berdiri tak jauh dari rumah orangtua Hasan. Konon diwariskan turun-temurun oleh buyut Hasan. Semasa kanak-kanak, ia dan Hasan sering menunggui buah-buah pohon itu jatuh bila musim buah tiba. Kakek Hasan yang waktu itu masih hidup, akan memberi mereka upah berupa setengah dari jumlah durian jatuh yang mereka dapatkan. Dan itu sudah lebih dari cukup. Perut kenyang, dan mereka akan bersendawa keras-keras. Kalau ada sisa durian yang tak sanggup mereka habiskan, mereka pun menjualnya kepada orang-orang kampung. Uangnya mereka belikan bola, gambar umbul, kelereng, baju, sepatu, atau sekadar buat jajan di sekolah. Daging durian pohon itu berwarna kuning mengkilap dan cukup tebal. Teringat itu, ia jadi menelan ludah. Terbayang harum dan lezatnya buah kenangan…

Mang Sidiq

Lelaki tua itu tampak sedang sibuk dengan burung-burungnya di halaman rumah ketika ia lewat. Cuma berkaos singlet dekil dan celana pendek yang tak lagi kentara warnanya. Persis sebagaimana sosok dalam redup kenangannya. Mang Sidiq tidak melihatnya karena terlalu serius dengan burung-burung. Ada lima buah sangkar di dekat lelaki tua itu. Wajah tukang urut kampung itu tampak ceria, dari bibirnya yang monyong terdengar siulan sumbang. Ia dulu pernah keseleo parah karena tergelincir dari sepeda dan dibawa kepada lelaki itu.

Bibi Jum

Ia menghentikan sepeda motor di tepi jalan, di depan rumah perempuan kurus yang sedang menyapu teras itu tanpa mematikan mesin. Perempuan itu mengangkat wajah dan tertawa lebar ketika melihatnya. Tergopoh-gopoh, Bibi Jum—demikian ia memanggil perempuan seumur emaknya itu—berlari kecil menghampirinya. Ia membungkuk meraih dan mencium tangan perempuan itu.

“Aduh, kapan kau balik? Sudah lama Bibi tak melihatmu, sekarang kau agak gemukan dan lebih putih. Kok jarang sekali pulang? Sudah punya pacar belum? Masa’ kalah sama adik-adikmu. Tinggal kamu yang belum nikah lho? Sudah kerja atau masih kuliah?” begitulah, perempuan itu segera memberondongnya dengan sederet pertanyaan. Ia cuma tertawa kecil.
“Ayo, singgah ke rumah Bibi dulu.”

“Nanti saja Bi, aku belum sampai ke rumah…”

“Oh! Jadi kau baru tiba? Aduuh, sudah cepat sana pulang!” Bibi Jum tampak sedikit kaget dan memperhatikan ransel di punggungnya dengan mata terbelalak. Dulunya, perempuan itu pernah membantu emaknya berjualan kain.

Annisa

Perempuan muda itu sibuk menyuapi anaknya makan di bangku beranda. Mungkin anak kedua, tebaknya dengan dada berdebar. Ia mempercepat laju sepeda motornya dan tak berani menoleh sedikit pun. Jantungnya seperti bergemuruh. Ia meringis!

Lapangan Bola

Sebelah gawang di lapangan kecil itu terlihat miring… Rumput sekarang tampak lebih gundul, apalagi di sekitar kotak pinalti. Bagian depan kedua gawang tergenang air, demikian pula di sejumlah tempat lain. Waktu kecil—sebagaimana anak-anak di hampir seluruh muka bumi ini—mereka sering bermain sepakbola di sana, tapi kadangkala main layangan atau kasti. Pada bulan Agustus, lapangan itu biasanya digunakan untuk penyelenggaraan turnamen sepakbola antardesa atau sekadar turnamen antarkampung. Terkadang diadakan juga di sana pelbagai ajang perlombaan, seperti panjat pinang, lompat karung, makan kerupuk, dan lain-lain.

Yang Raib ditelan waktu Warung Kopi Mang Ucup

CUKUP lekat dalam ingatannya, sebuah warung kopi lumayan ramai yang buka sampai larut malam. Pemuda-pemuda kampung suka berkumpul di sana main gaple atau remi, juga para orang tua termasuk bapaknya. Kadangkala ia minta diajak karena bosan di rumah. Ada sebuah televisi hitam-putih berukuran 18 inci di sana, di pojok warung. Sementara bapaknya sibuk bermain kartu domino, ia akan duduk di dekat televisi ditemani segelas teh hangat. Kadang-kadang acara televisi cukup menarik, tetapi lebih sering membosankan. Sehingga membuatnya mengantuk dan kerap kali jatuh tertidur.

Ketika bapak membangunkannya dan mengajak pulang, ia sudah kepayahan untuk membuka mata. Kalau sudah begitu, bapak akan mengomel panjang-pendek dan menyuruhnya mencuci muka di sumur belakang warung. Berdua, mereka bapak-anak kemudian pulang menyusuri jalan becek (tentu berdebu jika kemarau) dengan bantuan penerangan lampu senter. Suara kodok dan jangkrik begitu riuh di tengah kelengangan sepanjang jalan.
Warung itu tak ada lagi. Tapi bekas fondasi bangunannya masih tampak di antara ilalang lebat.

Lapangan Bulu Tangkis

Lapangan kecil itu juga sudah lenyap. Kedua tiangnya sudah hilang tak berbekas. Sebuah papan pengumuman kusam kini tampak tegak di sana. Bertuliskan: Di sini Akan Dibangun Posyandu.

Yang Baru dI Kampung Masjid

MASJID itu lumayan besar dan indah dengan kubah putih dan menara menjulang tinggi, tapi tampak sunyi. Hanya sejumlah lansia yang terlihat duduk-duduk di serambi masjid menunggu adzan maghrib. Ia merasa ada yang aneh, mungkin sesuatu yang salah. Padahal dulu, seingatnya tatkala di tempat yang sama masih berdiri masjid tua yang dibangun oleh mendiang kakeknya, jemaah selalu saja berlimpah. Tak peduli tua-muda, lelaki-perempuan, termasuk anak-anak.
Tapi apa yang salah?

Sejumlah Rumah Baru di Samping Masjid

Tentu saja ia tidak tahu rumah-rumah itu milik siapa saja. Milik warga kampungnya atau para pendatang baru. Rata-rata rumah beton yang cukup bagus. Bahkan ada satu rumah yang lumayan besar, bertingkat dua dengan gaya arsitektur mediterania. Kepunyaan seorang kaya baru di kampung?

Seorang Remaja Bergiwang

Remaja tanggung itu sedang bermain gitar di depan salah satu rumah baru. Dia duduk di pagar beton teras. Kulitnya kuning langsat, tentu tidak seperti kebanyakan anak-anak kampung. Ada sepasang giwang besar di telinganya kiri-kanan, berbentuk cincin mencolok berwarna emas. Anak laki-laki tersebut tampak demikian khusyuk dengan permainan gitarnya. Samar-samar, ia mengenali sebuah lagu lama Iwan Fals yang dibawakan ABG itu.

Gadis Berkaos Tank Top

Satu kelokan lagi akan sampai ke rumah orangtuanya, ia berpapasan dengan gadis berkaos tank top merah menyala dan bercelana putih pendek ketat itu. Cantik, dengan rambut hitam yang terurai sebahu. Berkulit putih bersih. Ia terpukau juga melihat keelokan tubuh dan mulusnya kulit gadis itu terutama di sekitar wilayah dada yang montok dan perutnya yang rata. Gadis yang berjalan kaki entah hendak ke mana itu mengerling kepadanya dengan genit, dengan sedikit senyum tersungging di sudut bibir yang ranum. Ia menyeringai lebar dan bersiul kecil.

Ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, tetapi ia terkenang pada seorang gadis lain yang beberapa kali dicumbuinya di kota rantau. Adik tingkat di kampus yang kemudian menjadi teman dekatnya. Hubungan mereka memang cuma sebatas sahabat karib. Tak lebih dari itu, tak ada letup asmara. Tapi di saat-saat sedang berdua, entahlah, mereka terkadang begitu sulitnya menahan hasrat untuk bercumbu…
***

AH, akhirnya ia melihat rumah orangtuanya! Rumah yang selama bertahun-tahun membesarkannya. Rumah tua itu seperti berdiri dalam kabut. Tampak ngungun, sarat aroma kerinduan sekaligus asing… Ia mempercepat laju sepeda motornya, seakan hendak memburu rasa kangen di dadanya sendiri. Sekarang ia ingin secepatnya bertemu dengan abah dan emaknya, dengan adik perempuannya. Ah, sudah tujuh tahun!
Namun, ketika memasuki halaman rumahnya, ia merasa seolah-olah memasuki sebuah dimensi lain. Bulu kuduknya terasa berdiri. Entahlah, ia merinding… Rasanya badannya  menggigil.***

Gaten, Yogyakarta,  2007-2010

Harga Udang, Kepiting dan Belangkas Turun

BELAWAN- Memasuki seminggu pasang air laut, harga kepiting, udang dan belangkas turun. Penurunan harga jual tiga komoditas hasil laut ini disebabkan hasil tangkapan nelayan di Belawan pada musim pasang laut lima belas hari bulan ini kian membanjiri tangkahan TPI (tempat pelelangan ikan) dikawasan Bagan Deli, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin.

“Kalau sudah pasang besar biasanya tangkapan kepiting, udang dan belangkas nelayan di sini meningkat. Dan kalau pasokan banyak harga jual pun pastinya jadi turun,” kata, M Nasir (52) seorang nelayan.
Seperti kepiting kelapa jenis jumbo sebelumnya harga jualnya mencapai Rp120.000 per kg, turun menjadi Rp90.000/kg.

“Memang pada musim pasang laut seperti ini tangkapan nelayan bertambah, ini dikarenakan pada musim saat ini justru membuat perkembangbiakkan kepiting di sekitar 6 mil laut dari pinggiran pantai terus banyak jika dibandingkan hari-hari sebelumnya,” ungkapnya.

Lain lagi dengan penjualan udang lipan super, jenis udang kelas ekspor yang mencapai berat 4 ons ini dijual per ekor dengan harganya Rp20.000 dari harga sebelumnya Rp25.000 per ekor untuk jenis udang yang masih hidup. “Sedangkan kalau yang sudah mati biasanya harga jualnya rendah hanya Rp5.000 per ekor dari sebelumnya Rp10.000 per ekornya,” terangnya.

Sementara, harga jual komoditas hasil laut lainnya yang ikut mengalami penurunan harga yakni belangkas. Dalam per ekornya hewan laut penghasil telur mirip ikan pari ini di jual seharga Rp15.000 per ekor dari harga sebelumnya Rp20.000 per ekor. (mag-17)