28 C
Medan
Friday, April 3, 2026
Home Blog Page 13715

Wali Kota Ngotot Diperbaiki Secepatnya

Rusak Traffic Light tak Parah

MEDAN-Traffic light yang rusak akibat aksi demo menolak kenaikan BBM di sepuluh persimpangan di Kota Medan ternyata tak terlalu parah.

Pantauan Sumut Pos Rabu (4/4) siang, beberapa traffic light yang rusakn
di antaranya pada boks dan lampu serta countdown (penghitungan waktu mundur), begitu juga alat kontrol. Sementara kalau tiangnya tidak banyak yang rusak.

Seperti di Jalan Perintis/Jalan Gaharu dari arah Jalan Perintis dua boks traffic light rusak, satu boks hilang total dan satu tiang rusak. Dari arah Jalan Gaharu satu boks rusak dan tiang masih bagus.

Jalan Perintis Kemerdekaan/Jalan Sutomo, dari arah Jalan Perintis ke Jalan Sutomo terlihat ada 7 boks lampu yang rusak dan enam tiang traffic light tidak rusak, lokasi ini terlihat dijaga polisi tapi sama sekali tidak ada dijaga oleh Petugas Dishub Medan.

Begitu juga di Jalan M Yamin/Jalan Sutomo terdapat empat boks yang rusak, countdown masih hidup dan tiang sama sekali tidak rusak. Jalan M Yamin/Jalan Gaharu, dua boks dan tiang tidak rusak, persimpangan ini terlihat dijaga polisi dan sama sekali tidak ada dijaga oleh petugas Dishub Medan.

Simpang Jalan Ngumban Surbakti/Jalan Setia Budi terdapat 3 boks lampu yang rusak, di persimpangan ini terlihat pengendara kendaraan bingung untuk menentukan jalan sehingga lalu lintas semrawut, karena sama sekali tidak ada petugas Dishub Medan dan polisi yang menjaga di persimpangan, sementara traffic lightnya rusak.

Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut, Rurita Ningrum mengatakan, penggunaan anggaran untuk penggantian traffic light yang rusak dialokasikan dari anggaran force mayor atau anggaran bencana, jelas sudah menyalahi.

Pasalnya, kerusakan traffic light itu bukan disebabkan karena bencana tetapi karena penyampaian aspirasi masyarakat.
“Tidak boleh anggaran bencana itu dialokasikan untuk penggantian traffic light. Anggaran itu untuk force mayor seperti bencana alam banjir dan lainnya. Kalau anggaran itu sudah digunakan, nantinya ketika ada bencana maka anggaran dari mana lagi yang akan diambil,” terang Rurita.

Dikatakannya, anggaran penggantian itu bisa dialokasikan melalui pengajuan anggaran P-APBD.
“Sebenarnya itu kan tidak terlalu mendesak. Sekarang juga kan sudah bisa menggunakan lampu pijar, untuk mengatasi kemacetan di persimpangan bisa dilakukan dengan menurunkan petugas Dishub ataupun petugas polisi, jadi sebenarnya tidak terlalu mendesak dan bisa diajukan nanti dalam P-APBD sehingga tidak perlu mengalokasikannya dari anggaran bencana,” terang Rurita.

Wali Kota Medan, Rahudman Harahap mengakui kalau anggaran penggantian traffic light yang rusak akibat aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM di Medan sudah diajukan oleh Dishub Medan.
“Iya anggarannya sudah diajukan. Kita mau pengadaan itu selesai tahun ini,” ucap Rahudman.

Ditegaskan Rahudman, penggantian traffic light yang rusak itu merupakan kebutuhan mendesak, sebagai tujuan untuk memperlancar arus lalulintas juga sebagai upaya untuk menata kawasan-kawasan kota, termasuk nantinya sekaligus penataan kawasan taman yang rusak akibat aksi unjuk rasa.

“Apalagi nanti tanggal 29 kita akan menggelar kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), nanti akan ada sektiar 30-an wali kota yang datang kemarin, makanya kita ingin Kota Medan ini kondusif, jadi itu memang kebutuhan kita,” tegas Rahudman.(adl)

Empat Mahasiswa UISU Tertipu Ratusan Juta

Terungkap Dalam Sidang Korupsi Kas Pemkab Batubara

JAKARTA- Boleh saja kenal dekat dengan seseorang. Tapi jangan terlalu percaya dengan semua ucapan ataupun bantuan yang diberikannya. Bisa saja, apa yang dilakukannya itu merupakan cara untuk memuluskan niat buruknya.
Seperti dialami mantan mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Muhammad Zulfadli Lukman.
Pria asal Serdang Bedagai ini, tidak saja kehilangan uang senilai Rp35 juta, tapi lebih dari itu, dia justru kehilangan bangku kuliahnya.

Menariknya lagi, ia ditipu bersama empat teman sesama mahasiswa lainnya. Hal ini terungkap di sela-sela persidangan atas terdakwa David Purba, terkait kasus korupsi dan pencucian uang dana kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kemarin.

Ia yang dihadirkan sebagai saksi atas David, mengungkapkan, jika beberapa waktu lalu saat masih menjadi mahasiswa UISU, berencana melakukan tugas praktik ke Malaysia. Tapi sayangnya, kampus dimana ia kuliah, tidak diakui di Malaysia, yang diakui Universitas Trisakti. Sehingga, Zulfadli dan keempat teman mahasiswa lainnya berencana transfer kuliah ke Trisakti.

Dari sinilah kasus penipuan ini berawal. Ternyata David mengaku, jika memiliki seorang teman yang mampu mengurus proses transfer tersebut yaitu Daud Aswan Nasution yang telah bermukim di Jakarta. “Saya kenal (David Purba) dari orangtua. Jadi sudah sejak kecil menganl dia pak Hakim,” ungkap Zulfadli.

Akhirnya, karena memang sangat percaya, apalagi David di mata Zulfadli merupakan orang yang terpandang di Serdang Bedagai, sehingga tidak ada keraguan sama sekali. Meski dimintakan uang senilai Rp35 juta untuk satu orang. (gir)

Modal Pas-pasan, Berhasil Kelilingi Objek Wisata di Sumut

Komunitas Medan Petualang

Bagi yang hobi berpetualang tapi punya dana pas-pasan alias cekak, tak perlu khawatir. Kini sudah ada komunitas yang memungkinkan berpetualang tanpa merogoh kocek dalam-dalam.

Jawabannya adalah bergabung dengan komunitas bernama Medan Petualang. Ya, Medan Petualang. Komunitas ini berisi pecinta keindahan alam dan objek wisata sejarah Indonesia. Berdiri sekitar 3 bulan yang lalu, Medan Petualang telah mengepakkan sayapnya, berkeliling ketempat objek wisata yang ada di Sumut. Modal bertualang dengan uang pas-pasan, tak menjadi halangan buat komunitas ini untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarah Sumatera Utara.

“Komunitas ini terbentuk atas dasar kebersamaan dan kekeluargaan, yang selama ini terjalin sesama anggota. Kebetulan kita hobi jalan-jalan, jadi nggak ada salahnya kalau kita membentuk komunitas ini,” ucap Aulia Ramadhan Ray salah satu pendiri komunitas Medan Petualang.

Diungkapkannya, walaupun baru tiga bulan berdiri, kita sudah menjelajahi beberapa Kabupaten yang ada di Sumut untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarahnya. “Kita sudah pergi ke Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai, Danau Linting, Gua Penen, Sungai Dua Rasa, Air Terjun Tanjung Raja dan Air Terjun Tarunggang yang ada di Kabupaten Deli Serdang, objek wisata di Kabupaten Simalungun hingga Kota Siantar, juga telah ditaklukkan,” tambah Aulia.

Medan Petualang juga ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa berwisata itu identik dengan mahal. “Medan Petualang ingin menciptakan, bahwa jalan-jalan alias mengelilingi objek wisata tidaklah mahal. Kita bisa mengelilingi tiga objek wisata sekaligus, tanpa mengeluarkan kocek yang besar,” tandasnya.
Dijelaskannya, agar lebih terjangkau, bepergian bisa dilakukan dengan bersama-sama dan mengumpulkan dana secara patungan.

“Dana kan bisa patungan agar lebih ringan. Pokoknya masalah transport menuju objek wisata bisa juga kita cari yang murah dan lebih efisien. Touring juga bisa dipilih mengendarai sepeda motor bersama-sama. Pokoknya banyak hal yang bisa kita bicarakan agar lebih hemat. Intinya adalah kebersamaan,” pungkas Aulia. (ful)

Bocah 9 Tahun Diduga Diserang Tomcat

TEBINGTINGGI- Wiliam Cristofer Tarigan (9) warga Jalan Baja, Lingkungan IV, Kelurahan Tambangan Hulu, Kota Tebingtinggi, diduga diserang Tomcat, Senin (2/4).

Serangga tersebut menyerang leher bagian blakang anak pasangan Lucas Veri Dana Tarigan dan Rizki Rinda Amila, hingga menyebabkan kulit bocah itu melepuh kemerahan.

Menurut Lucas, ayah korban, Rabu (4/4), racun kimia serangga itu langsung menimbulkan suhu tubuh bayi meningkat (demam), dan kondisi kulit mengelupas selebar 2 cm.

Diceritakan Lucas, peristiwa itu terjadi saat anak sulungnya tidur siang di bawah pohon kelapa sawit di sekitar rawa-rawa di samping rumahnya.
“Tiba-tiba anak saya menangis menjerit serta tangannya terus menggaruk leher belakang,” ujarnya.

Awalnya, mereka tidak mengira itu gigitan Tomcat, tetapi selama dua hari berlalu, luka tersebut semakin lebar. Dari hasil pemeriksaan dokter sepsialis kulit, dr Zuan Zein, luka bekas merah melepuh memang disebebkan senyawa racun kimia dari binatang yang telah menjadi iritasi pada kulit bayi, tetapi masalah racun Tomcat itu, pihak dokter tidak bisa menyimpulkannya karena tidak mengetahuinya dengan persis.(mag-3)

Ditinggalkan 100 Ribu Fans

 Se7en dan Park Han Byul

Se7en dan Park Han Byul adalah salah satu dari sedikit selebriti Korea yang terbuka soal hubungan mereka. Namun ternyata keterbukaan itu harus dibayar mahal. Se7en dan Han Byul mengumumkan bahwa mereka telah pacaran selama 7 tahun pada tahun 2009 lalu. Meski mengaku lega karena bisa pacaran tanpa diam-diam, Se7en pun banyak ditinggalkan oleh fansnya.

“Respon dari fans sangat berbeda. Setelah aku mengumumkan hubunganku, 100 ribu orang meninggalkan fans club online-ku,” ujar Se7en dalam episode ‘Strong Heart: YG Special’ Selasa (3/4)

Kejadian itu menyadarkan Se7en bahwa memang ada fans yang tidak bisa menerima keadaannya. Namun fans yang tersisa justru malah menunjukkan kesetiaan mereka. “Jadi aku sangat bersyukur pada fans yang masih bersamaku apapun yang terjadi,” sambungnya.

Se7en mengungkap bahwa tersebarnya foto dirinya dengan sang pacar Park Han Byul pada tahun 2009 silam sebenarnya malah menyelamatkan hubungan mereka berdua.

“Hubungan kami tidak pernah membosankan, namun kami menghadapi tantangan berat di tahun ke-7,” ucapnya. “Saat itu aku tengah berada di USA untuk promosi, dan karena kami terpisah jauh, kami sering bertengkar,” ucapnya. (bbs/net)

RSUD Salak Mulai Dibenahi

SALAK- Untuk menanamkan kepercayaan terhadap masyarakat dan menjadikannya sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan yang diakui, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, mulai melakukan pembenahan di segala bidang. Hal itu disampaikan Direktur RSUD dr Pintar Manihuruk, kepada wartawan, Rabu (4/4) di ruang kerjanya.

Meski relatif baru, seiring dengan usia daerah otonom yang memasuki usia 8 tahun, pusat unit layanan kesehatan tersebut senantiasa melakukan langkah dan berusaha mewujudkan visi dan misi kepala daerah sebagai ikon pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Beberapa langkah dan terobosan telah dimulai dengan pengadaan alat-alat kesehatan, perbaikan infrastruktur jalan menuju rumah sakit, dan rehab bangunan rumah sakit kini menjadi prioritas. “Hal itu dilakukan agar pelayanan dapat berjalan maksimal,” terangnya.

Ia berprinsip, kesehatan adalah segalanya bagi manusia. Orang rela membayar berapa saja agar bisa sehat. (mag-14)

Pentas Kesenian China Muslim Xinjiang Digelar di Medan

Kesenian China Muslim Pesona Xinjiang akan tampil di Kota Medan, tepatnya di hal persahabatan Sin Chew Daily Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, Jumat (6/4) mendatang.

Even itu dilaksanakan Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China (LIC) Sumatera Utara bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Forum Pembaharuan Kebangsaan (FPK) Sumut, Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara Peduli Sosial dan Pendidikan (MITSU PSP) dan konsulat Jenderal China untuk Indonesia di Medan.

“Pergelaran tersebut atas arahan ketua LIC Pusat, Prof dr H Sukamdani Sahid Gitosardjono,” kata ketua panitia, Juswan Tjoe dalam rapat internal pembentukan panitia malam budaya China Pesona Xinjiang di ruang rapat Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, kemarin.

Dikatakannya, dalam pertunjukan tersebut akan menampilkan tarian mangkok di atas kepala, Qebiyat Mukam yang merupakan set kedua dari lagu-lagu mukam dua belas, Tarian Emas Dolan, kelompok lagu dan tarian dengan mengekspresikan kebahagiaan dan bagian ketiga yang menceritakan dari lagu-lagu dan selingan mukam dua belas.

Kemudian, tarian tradisional rakyat Uygur yang sangat populer di daerah Turpan Xinjiang yang akan ditarikan dengan penuh semangat dan humor. Tak ketinggalan penampilan tarian dengan keceriaan dengan mengintegrasikan lagu, musik dalam satu tarian.

“Dengan diadakannya pertunjukan ini, juga sekaligus membuktikan pembauran etnis di kota Medan yang beragam tetap menjadi satu,” jelasnya.

Ketua MUI Medan, Mohamad Hatta menyambut baik digelarnya pertunjukan kesenian budaya China Muslim Xinjiang. “Saya bersama tokoh lintas agama pernah berkunjung ke daratan China termasuk ke Xinjiang yang mayoritas penduduknya beragama Islam,” ucap Hatta.

Dikatakannya, pertunjukan malam kesenian Budaya China Muslim Xinjiang yang kaya dengan warga warni seni budaya China bernuansakan Islam ini akan didukung sepenuhnya dalam pertukaran budaya muslim kedua negara. “Tujuannya untuk meningkatkan hubungan budaya Islam kedua negara,” ujarnya.

Ketua FPK Sumut, Bahari Damanik mengatakan melalui acara ini diharapkan seluruh masyarakat Sumut khususnya Medan dari berbagai etnis suku dapat mengetahui ternyata di China ada budaya China Muslim. “Selama ini sebagian mereka hanya mengetahui budaya China berupa Cap Gomeh, Imlek maupun pertunjukan Barongsai,” ujarnya.

Dengan pertunjukan ini diharapkan bisa membawa rasa persahabatan yang kokoh melalui pertukaran budaya antarkedua negara dan membawa dampak positif dalam meningkatkan kebangsaan dalam pembauran diantar etnis suku yang ada di Sumut. (adl)

Harga Ikan pun Melambung

Ombak Besar, Nelayan Kembali tak Melaut

BELAWAN- Gelombang tinggi akibat cuaca buruk di lautan kembali terjadi.Akibatnya, Sejumlah nelayan asal Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Gabion Belawan pun terpaksa gigit jari karena tak bisa melaut. ‘’Gelombang tinggi mulai terjadi lagi sejak kemarin, sebahagian nelayan terpaksa menyandarkan boat (kapal ikan ) di tangkahan,’’ kata Manaf (52), seorang nelayan kepada Sumut Pos, Selasa (3/4) sore.

Manaf mengatakan, kondisi cuaca yang dikenal dengan istilah pasang besar lima belas hari bulan itu kembali muncul. Nelayan pun akan terancam bahaya jika memaksakan diri melaut. Pasalnya, kapal penangkap ikan tak akan bisa menahan gelombang setinggi lebih dari dua meter itu.

Menurutnya, kalau kondisi perairan sudah seperti ini nelayan lebih memilih tak melaut sambil memantau perkembangan cuaca. Jikapun melaut, hanya di perairan yang dekat dengan daratan. “Memang ada juga yang berangkat melaut, tapi sedikit. Itupun kalau gelombang tinggi datang mereka (nelayan) kembali pulang ke tangkahan,” ungkapnya.

Terjadinya perubahan musim di laut juga berdampak terhadap penjualan ikan segar di pasaran. Dari pantauan Sumut Pos di PPS Gabion Belawan, harga jual ikan laut seperti ikan tongkol yang sepekan sebelumnya hanya Rp16.000 per kg, kini naik menjadi Rp23.000 per kg. Ikan gembung Rp22.000 per kg naik Rp25.000 per kg, ikan selayang Rp16.000 per kg naik Rp20.000 per kg dan ikan gulama yang sebelumnya Rp6.000 per kg harga kini mencapai Rp10.000 per kg.

“Kalau sudah musim ombak begini pasokan ikan dari nelayan minim, meskipun ada harganya mahal. Dan ini masih harga di PPS Gabion Belawan, kalau harga jual ikan di pasar tradisional sudah beda lagi. Bahkan cendrung lebih tinggi harganya,” ujar Rusli, seorang pedagang.
Apa yang dikatakan, Rusli ternyata benar. Amatan sumut pos di beberapa pasar tradisonal di Medan Utara diantaranya di Pasar Tradisional Marelan misalnya, harga jual ikan segar melambung tinggi, ikan tongkol harga yang dijual ke masyarakat mencapai Rp25.000 per kg, selayang Rp23.000 per kg, gulama Rp15.000 per kg dan gembung Rp27.000 per kg.

Kenaikkan harga yang cukup tinggi tersebut menurut para pedagang pengecer di pasar tradisional Marelan dikarenakan harga beli ikan dari agen juga tinggi. “Kami beli dari agen sudah tinggi, kan nggak mungkin kita jual tanpa ambil untung,” kata Samsuddin (39) seorang pedagang pengecer.
Dia mengatakan, meski harga ikan mahal namun minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan segar tetap banyak. “Biar pun mahal, ibu-ibu dan warga lainnya tetap ramai datang untuk membeli ikan,” imbuhnya.(mag-17)

Pemko Binjai Diminta Stabilkan Harga Sembako

BINJAI- Pemerintah Kota (Pemko) Binjai diminta turun langsung ke pasar-pasar tradisional untuk menstabilkan harga sejumlah bahan pokok yang masih melambung. Pasalnya, saat ini ibu-ibu rumah tangga khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah menjerit dengan melonjaknya harga sembako saat ini.

Sari (35), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Binjai Selatan, mengaku sangat resah dengan masih melonjaknya harga sembako di pasar-pasar tradisional.

“Saya baru saja belanja. Hampir semua sembako naik, beras, cabai, tomat dan lainnya,” kata Sari kepada Sumut Pos, Selasa (3/4).
Menurut Sari, harga beras yang dulunya hanya Rp8 ribu. Kini sudah naik menjadi Rp8.500 per kilo gram. “Padahal BBM nggak jadi dinaikan pemerintah. Kenapa sembako sudah naik? Apa pemerintah tidak dapat menertibkan hal ini?,” ujarnya.

Selain itu, harga minyak goreng juga ikut naik, dari Rp10 ribu per kilogram, saat ini naik menjadi Rp12 ribu per kilo gram. “Yang jelas, hampir semua sembako naik. Kalau terus begini, kami sebagai ibu rumah tangga merasa sulit. Penghasilan suami masih pas-pasan, sementara sembako sudah dinaikkan,” cetusnya.

Selain itu, sejumlah pedagang bensin eceran di Kota Rambutan ini juga mengambil kesempatan. Mereka tak segan-segan menjual bensin seharga Rp5.500 per liter kepada masyarakat. Padahal sebelumnya, mereka menjual bensin tersebut seharga Rp5.000 per liter. Sementara, harga ambilan mereka ke SPBU masih tetap, Rp4.500 per liter.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan Pasar Pemko Binjai Drs Tulen Sinulingga saat dikonfirmasi Sumut Pos mengatakan, sampai saat ini harga sembako masih stabil. “Memang, ada kenaikan, tapi hanya untuk cabai dan tomat,” kata Tulen.

Sejauh ini, sambung Tulen, pihaknya terus melakukan pengawasan dan melaporkan setiap perkembangan harga di pasar. “Kita terus laporkan soal harga sembako di pasar Kota Binjai. Namun begitu, kalau ada pedagang yang menaikkan, kita juga tidak dapat menindak. Paling, kita membuat pasar murah untuk membuat saingan di pasar,” ucapnya.

Disinggung sebab kenaikan harga cabai dan tomat, Tulen mengaku tidak tahu pasti. “Kalau hal itu kita tidak bisa pastikan apa sebabnya. Namun, biasanya kenaikan harga cabai dan tomat, disebabkan pengaruh cuaca, hama, dan jauhnya jarak atau lokasi pengambilan barang untuk dipasarkan di Kota Binjai,” kata Drs Tulen. (dan)

Dirut Akui PDAM Tirtasari Perusahaan Sakit

Pipa Banyak yang Bocor, Anggaran Perbaikan tak Ada

BINJAI- Berlebihnya karyawan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtasari Binjai, membuat perusahaan milik Pemko Binjai itu menjadi bangkrut. Meski hal tersebut telah menjadi rahasia umum, tapi Dirut PDAM Tirtasari Yusmansyah MBA MT belum melakukan pengurangan karayawan.
“Memang benar, bangkrutnya PDAM karena berlebihnya karyawan. Tapi untuk saat ini, kita tunggu dulu petunjuk dari pusat,” kata Yusmansyah kepada Sumut Pos, Senin (2/4). Bahkan menurutnya, berlebihnya karyawan ini merupakan yang terparah dibanding seluruh PDAM yang ada.

Yusmansyah yang baru dilantik sebagai Dirut PDAM Tirtasari pada 10 Februari 2012 lalu mengakui, saat ini perusahaan yang dipimpinnya itu sedang dalam kondisi sakit. “Untuk saat ini, PDAM Tirtasari Binjai, adalah perusahan sakit. Makanya kami mencoba untuk menyembuhkannya dengan melayangkan surat permintaan bantuan penyehatan menajemen ke pusat yang kami kirim pada 19 Maret 2012 lalu,” ungkap Yusmansyah.

Bukan itu saja, Yusmansyah juga mengungkapkan, pipa PDAM Tirtasari Binjai banyak yang bocor. Sehingga, hal itu sangat menganggu untuk mengalirkan air kepada masyarakat. “Kalau pipa sudah banyak yang bocor, bagaimana air mau mengalir dengan baik. Berapa jumlah kebocoran pipa itu? Tidak dapat kita sebutkan, yang jelas banyak, dan lebih dari 10 pipa,” ungkapnya.

Ironisnya, kata Yusmansyah, begitu banyak pipa yang bocor, tidak dapat diperbaiki karena ketiadaan anggaran di perusahaan ini. “Itulah salah satu yang menjadi kendala kita. Yang pastinya, kita akan berusaha sebaik mungkin, untuk menyembuhkan setiap penyakit yang ada di PDAM Tisrtasri Binjai ini,” kata Yusmansyah.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pelayanan di PDAM Tirtasar Binjai MY Ginting mengatakan, PDAM Tirtasari memiliki 11.000 pelanggan. Sementara, pegawainya mencapai 233 orang. “Hal ini sudah melanggar Permendagri No 47/1999, tentang rasio pelanggan dengan pegawai. Dalam Permendagri itu disebutkan, jika jumlah pelanggan 1.000 orang, maka jumlah pegawai yang melayani harus 6 orang. Jadi, kalau pelanggannya 11.000 ribu, maka jumlah pegawainya 66 orang.” bebernya. (dan)