Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah gencar-gencarnya mempublikasikan program “Ayo Semua Mengajar”. Tentu tujuannya agar anak-anak di negara ini punya potensi yang sangat bagus dalam pengembangan SDM yang berkualitas. Mengajar bukan hanya pada persoalan formalistik di ruangan belaka. Mengajar bisa juga berbentuk informal. Memberikan sesuatu yang bernilai kepada si anak agar berbuat baik juga merupakan bagian dari proses mengajar.
Jhon Marihot Purba, SE, M. Si
Program “Ayo Semua Mengajar” patut kita dukung secara kolektif. Pendidikan yang paling berharga tentu bermula dari keluarga. Keluargalah kata kunci pertama dalam pendidikan si anak. Jika pendidikan dalam keluarga berhasil dengan baik, maka karakter si anak akan terbangun dengan baik dan bagus. Tentu menjadi modal dasar di sekolah formal untuk menjadi manusia yang cerdas, terampil dan punya bekal keahlian untuk menyongsong masa depan.
Kekuatan negara (state power) sangat tergantung dari sikap kritis masyarakatnya. Semakin kritis masyarakat dalam menyeimbangkan hak dan kewajiban, maka secara otomatis praktik penyelewengan dalam bentuk tindakan koruptif, manipulatif kemungkinan bisa diatasi.
Kita bisa melihat negara Swiss, di mana pemerintahannya bersih (clean goverment) dari korupsi. Mengapa pemerintahan Swiss bebas dari korupsi? Tentu karena pemerintahannya lahir dari embrio masyarakat yang terdidik dan kritis.
Sejak kecil masyarakat Swiss sudah dididik dalam lingkungan keluarga untuk menjadi anak yang baik. Sosialisasi dini tentang kebaikan dan nilai kemanusiaan sudah ditanamkan sejak anak-anak. Perkembangan anak pun disertai dengan muatan karakter yang baik. Jadi, pemerintahan yang lahir dari proses masyarakat yang terdidik (community proces knwoledge) maka pemerintahannya akan bersih dari KKN.
Menjadi masyarakat yang terdidik bisa dilakukan jika keluarga itu benar-benar peduli pada dunia pendidikan dan menanamkan nilai yang baik sejak dini kepada si anak. Untuk itu, proyek “Ayo Semua Mengajar” perlu didukung supaya bisa terimplementasi pada semua keluarga.
Kemudian, program “Ayo Semua Mengajar” ini perlu didukung oleh program “Ayo Meneliti”. Meneliti yang kita bicarakan bukan dalam skala sangat besar. Tentu kita pun harus memahami keterbatasan pemikiran kita. Kita tidak bicara tentang nuklir, bom atom, fisika quantum. Tetapi penelitian dalam skala terkecil.
Kita perlu melakukan instropeksi dalam diri kita masing-masing dengan memedomani langkah penelitian. Langkah penelitian yang paling sederhana adalah memahami apa latar belakang masalah, merumuskan masalah, menganalisis masalah, dan menyimpulkan. Penelitian terkecil bisa tersosialisasi dengan baik.
Sebagai warga negara yang baik misalnya, jika saya melakukan itu, apa latar belakangnya? Apakah latar belakang itu sudah benar atau tidak? Kemudian saya merumuskan, mengapa latar belakang itu muncul? Setelah itu dianalisis dengan logika sederhana, dan baru bisa disimpulkan. Kesimpulannya pun perlu diulang agar tidka benar.
Ketika kita ingin melakukan aktivitas sehari-hari, aktivitas itu bisa kita teliti dengan langkah yang sangat sederhana. Dengan demikian tindakan kita yang kita teliti sehari-hari akan menjauhkan tindakan kita dari tindakan yang salah. Sehingga apa yang kita perbuat bisa bermanfaat bagi orang lain. Minimal apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak menganggu orang lain.
Mensosialisasikan penelitian, paling minim meneliti diri sendiri sangat penting agar negara ini punya struktur masyarakat yang ilmiah. Hanya saja ini sangat sulit jika pemerintah belum bisa menghargai penelitian, baik skala kecil dan besar. Akhir-akhir ini peneliti banyak mengeluh mengenai masalah dana penelitian, fasilitas penelitian, sampai tunjangan kesejahteraan penelitian. Tentu ini sangat menghambat perkembangan penelitian. Seharusnya pemerintah mampu sebagai garda terdepan dalam melembagakan penelitian yang ilmiah kepada masyarakat.
Pemerintah perlu membuat program go nasional dengan motto “Ayo Semua Meneliti”. Minimal kita meneliti dengan cermat apa yang kita lakukan sehari-hari. Dengan demikian hari-hari yang dilalui oleh masyarakat akan berguna untuk dirinya dan bagi bangsa ini. Saatnya bangsa kita bangkit. Saya punya keyakinan sebuah bangsa yang pemerintahannya bagus lahir dari masyarakat yang terdidik dan tahu akan kewajiban dan haknya dengan baik.
Menjadi masyarakat yang baik dan terdidik tidaklah sulit. Banyak media, informasi yang mendidik, perpustakaan, televisi, radio, dan koran yang bisa menjadi referensi bagi kita semua. Mengoptimalkan sumber pengetahuan dan informasi mendidik tentu menjadi modal dasar bagi pembangunan bangsa ini. Kita harus terus mendorong budaya meneliti masyarakat agar tersosialisasi dengan baik sampai ke akar rumput. Hanya dengan budaya penelitian dan masyarakat terdidiklah bangsa ini bisa bangkit.
Kita harus akui, di balik jebloknya pemerintahan kita ini, kondisi masyarakat juga sangat memperihatinkan. Disiplin masyarakat sangat rendah, kemampuan SDM masyarakat juga sangat rendah. Ancaman populasi penduduk yang terus tambah, tentu menjadi masalah bagi bangsa ini.
Apa jadinya sebuah bangsa yang penduduknya besar tapi kualitasnya sangat rendah. Bahaya kemiskinan, kelaparan, kriminal, hilangnya generasi emas, akan menjadi ancaman yang sangat laten. Kita sendiri pun harus menyadarinya bahwa populasi penduduk yang terus bertambah akan menajdi masalah mendasar pembangunan bangsa ini ke depan.
Semoga masyarakat tersadar tentang pentingnya program “Ayo Semua Mengajar” dan “Ayo Meneliti” yang sebenarnya bisa dimulai dari keluarga. Sangat penting ditanamkan sejak dini agar bangsa kita menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan beradab dalam pergaulan internasional. Masyarakat Indonesia perlu menyadari keberhasilan pemerintah Swiss yang bersih dari KKN.
Pemerintah Swiss lahir dari proses masyarakat yang terdidik dan bermoral. Mereka menanamkan nilai sejak awal kepada si anak. Si anak pun berkembang dengan karakter yang bagus. Kalau bisa kita terapkan maka kita bisa menjadi bangsa yang besar dan pemerintahan kita bisa bersih dari virus KKN. Untuk itu mari mendukung program “Ayo Semua Mengajar” dan “Ayo Semua Meneliti” yang bisa kita mulai dari lingkungan keluarga. (*)
Penulis adalah Dosen FE Universitas Sutomo Medan dan Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pemberdayaan Guru Sejahtera Sumut (LP3GSSU)