Home Blog Page 13720

Utamakan Kepentingan Anak dan Keluarga

Wanita di Balik Sukses Dua Politisi Lintas Generasi

Siapa yang tidak kenal anggota DPR RI Maruarar Sirait, apalagi sang ayah Sabam Sirait. Siapakah sosok wanita yang  paling berjasa dibalik kesuksesan keduanya meniti karir di panggung perpolitikan tanah air?

Yup, tidak lain berkat dukungan  penuh dari dr.Sondang Sidabutar,MM. Istri tercinta Sabam yang sekaligus ibunda dari tokoh muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang paling berpengaruh saat ini, Maruarar Sirait.

“Kebanyakan perempuan itu perasaan lebih dominan daripada objektifitas. Tapi mama, dia lebih dominan rasionalitas-objektifitas daripada perasaan,’’ujar Marurar Sirait.  Dikatakannya, mamanya juga betul-betul mengutamakan kepentingan anak dan keluarga daripada kepentingan sendiri. Terutama menyangkut pendidikan dan kesehatan.’’ Ini yang utama bagi dia, dibanding kepentingannya sebagai wanita dan istri dalam hal penampilan. Ini benar-benar kami rasakan di tengah kesederhanaan dari dahulu sampai sekarang,’’ujar  Maruarar.

Ungkapan Maruarar tentunya tidak berlebihan. Terbukti, ia tidak hanya sukses menghantarkan sang suami dan keempat buah hati menuju jenjang kesuksesan. Namun juga mampu menyelaraskannya dengan tetap aktif di dunia pekerjaan maupun organisasi. Buah nyata, salah satunya mantan dokter di Rumah Sakit Cikini, Jakarta ini juga mampu mendirikan Ikatan Demokrasi Wanita Indonesia (Ika Dewi). Lewat organisasi ini pula, beberapa kali Ia menyelenggarakan seminar berskala nasional. “Jadi sejak muda sampai tua, selalu aktif. Hingga setiap waktu yang kita lewati tidak terasa. Tahu-tahu sekarang sudah tua,”ungkap dokter lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1970 lalu ini.

Rahasia kesuksesan Sondang sebagai istri maupun ibu, ternyata sangat sederhana. Terhadap suami, ia mendukung penuh apapun yang dilakukan. Karena ia tahu, sejak masa muda Sabam telah mengabdikan diri memperjuangkan tegaknya demokrasi di Indonesia. Bahkan meski untuk itu, kerap urusan rumah tangga ia yang menghandle. Semisal inisiatif membangun kediaman yang mereka tempati saat ini.

Praktis mulai tahap perencanaan hingga selesai, rumah yang terletak di Bintaro, Jakarta Selatan saat ini, semuanya ia lakukan seorang diri. Sebelumnya Sabam mengaku ia sempat berpikir bahwa kalau berbuat baik dan mengabdi pada bangsa, maka otomatis rumah pun disediakan oleh negara. Namun ternyata hal tersebut tidak pernah kesampaian.

Bahkan menjelang Pemilu 1977, mereka justru digusur dari rumah dinas yang sebelumnya dipinjamkan. “Jadi istri yang duluan merasa bahwa itu nggak benar, makanya mengambil keputusan,”ujarnya. Diceritakannya, Sondang mengatakan, laki-laki itu harus punya rumah sebelum usia 40. Terhadap anak, Boru ni Raja yang berasal dari Tomok ini membiasakan sejak kecil untuk bebas mengutarakan pendapat. Cuma ada batasnya.  Dan itu tentunya juga dibarengi dengan mendekatkan sang buah hati pada ajaran kerohanian. “Biasanya setiap pagi kami  menyetel lagu-lagu gereja. Jadi anak nggak perlu dibangunkan, begitu mendengar lagu mereka langsung terbangun,’’ sebut  Sabam. Istrinya, Sondang biasanya terlebih dahulu mengantar anak-anak satu persatu ke sekolah. Baru kemudian ia berangkat bekerja ke RS.Cikini. “Nah dalam perjalanan ini, kita baca Renungan Harian. Di rumah juga dari kecil anak- anak  kita didik rajin ke gereja,’’sebutnya. (gir)

Unjuk Rasa Berujung Bentrok, Polisi Kecolongan di Nommensen

MEDAN-Demonstrasi menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) terus berlanjut di Medan. Setelah membuat cedera dua perwira polisi pada aksi Rabu (21/3) lalu, kemarin massa menghancurkan mobil plat merah alias milik pemerintah.

Unjuk rasa yang berujung bentrok itu diakui polisi sebagai sebuah kecolongan. Pasalnya, pihak kepolisian menyiagakan personel di dua titik demo lainnya.

Yakni, di Bundaran Majestyk dan di Gedung DPRD Sumut.

Ya, kemarin, mahasiswa kembali bentrok dengan pihak kepolisian. Adalah Mahasiswa Universitas HKBP Nomensen (UHN) yang beraksi di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan sekitar pukul 15.00 WIB.

Selain itu, saat puluhan mahasiswa melakukan orasi, sebuah mobil dinas plat merah Mitsubisi Kuda dengan plat BK 1026 H menjadi korban. Mobil berplat merah itu milik Kantor Migrasi Belawan yang dikendari oleh Andreas Perangin-perangin dan 5 pegawai Migrasi Belawan. Mobil tersebut melintas dari dari Jalan Merak Jingga melewati Jalan Perintis Kemerdekaan dan hendak menuju Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM (Depkuham) Sumut di Jalan Putri Hijau Medan. Begitu sampai di persimpangan Jalan Timor, massa yang melakukan sweeping kenderaan plat merah langsung menghentikan laju mobil tersebut.

Massa aksi pun langsung menyandera mobil tersebut dan awak mobil disuruh keluar. Mobil pun digiring ke arah dekat kampus UHN. Tak pelak, mobil itu menjadi bulan-bulan. Kaca bagian depannya hancur, begitu juga kaca pintu tengah bagian kiri. Tidak itu saja, kaca bagian belakang dan seluruh body mobil hancur dihantam dengan kayu dan batu. Mobil yang hancur ini pun langsung menjadi mimbar orasi bagi mahasiswa.
Dari pantauan di lokasi, terlihat personel kepolisian tidak seimbang dengan jumlah massa. Menurut informasi seluruh polisi disiagakan di Bundaran Majestyk dan di gedung DPRD Sumut, sehingga Polsekta Medan Timur cukup kewalahan menghadapi massa.

Kenyataan ini membuat Polsekta Medan Timur meminta bantuan. Tidak lama kemudian puluhan Satuan Sabhara Polresta Medan terjun ke lokasi, aksi lengkap dengan mobil water canon. Spontan keberadaan puluhan personel itu membuat kondisi di lokasi semakin ricuh. Kedatangan puluhan personel polisi itu disambut dengan lemparan batu. Kemudian polisi juga membalasnya dengan mengejar sehingga puluhan massa aksi berhamburan ke dalam kampus. Kepolisian yang berhasil memukul mundur massa ke dalam kampus langsung mengevakuasi mobil yang disandera dan mobil langsung diboyong ke Satlantas Polresta Medan. Jalan Perintis Kemerdekaan yang diblokir kembali dibuka.

Jarak sekitar 500 meter dari lokasi aksi, tepatnya di Mapolresta Medan, Muspida tingkat II melakukan pertemuan untuk mengatasi pengunjuk rasa menjelang kenaikkan Harga BBM di Kota Medan. Aksi di Kampus UHN sempat memecah konsentrasi di dalam pertemuan. Terlihat Kapolsekta Medan Timur Kompol Patar Silalahi keluar dari ruang pertemuan. Patar menumpang sepeda motor milik jurnalis yang hendak meliput aksi. Kemudian Patar langsung masuk ke tengah gerombolan aksi agar tidak melakukan tindak anarkis.

“Boleh dilakukan aksi unjuk rasa, asal jangan anarkis!” teriak Wakil Rektor III UHN Maringan Panjaitan di lokasi aksi.

Maringan menambahkan kepada Sumut Pos, aksi tersebut bukan murni mahasiswa UHN. “Ada juga mahasiswa dari luar kampus ini,” ujarnya sembari melakukan sweeping terhadap mahasiswa yang bukan mahasiswa UHN bersama pihak kepolisian.

Di Gedung DPR juga Panas

“Bakar kantor gubernur, bakar kantor gubernur!” Begitulah sorak-sorai sekitar 50-an massa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), saat menuruni anak tanggal Lantai V Kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Jalan Diponegoro Medan, kemarin.

Itu dilakukan massa GMNI se-Kota Medan, seusai berdialog Kabiro Perekonomian Pemprovsu Bangun Oloan Harahap, yang didampingi Kabag Perekonomian Pemprovsu, S Pulungan, dan Plt Kabid Migas Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Sumut Samintarto.

Pada dialog dengan massa yang dipimpin oleh Andi Junianto Barus tersebut, Kabag Perekonomian Pemprov Sumut S Pulungan enggan menerima tawaran para pengunjuk rasa tersebut. Sebab, kapasitasnya dalam menerima aspirasi hanya untuk menampung dan membawa masalah tersebut ke pimpinan. “Persoalan menolak atau tidak atas kebijakan kenaikan BBM, bukan kewenangan Pemprovsu,” jawabnya.

Sementara itu, Samintarto dalam penjelasannya menyatakan, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM. Itu dikarenakan, subsidi BBM yang selama ini ditutupi dengan ekspor migas tidak lagi bisa menampung beban harga minyak dunia yang semakin tinggi di atas perkiraan APBN.

“Kalau mau memperbaiki APBN-P, kenapa setiap kementerian menaikkan anggarannya. Seperti Kapolri Timor Pradopo, yang meminta kenaikan anggaran, gaji PNS diminta naik 50 persen, tapi kinerja tidak dirasakan. Satu solusi adalah berhentikan SBY-Boediono,” timpal Turedo Sitindaon, seorang pengunjuk rasa.

Upaya negosiasi itu, sebelumnya disebabkan karena massa GMNI sempat melakukan aksi blokir Jalan Diponegoro dan membakar ban, yang berlangsung selama lebih kurang 60 menit. Sehingga memacetkan arus lalu lintas terhadap sejumlah ruas jalan di inti kota Medan. Karena aksi tersebut, maka pihak kepolisan meminta agar Pemprovsu bersedia melakukan negosiasi.

Dari Kantor Gubsu, massa GMNI merangsek menuju Gedung DPRD Sumut. Saat menggelar orasi di depan pintu pagar gedung dewan tersebut, sekelompok massa lainnya dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Medan juga menuju ke depan gedung dewan tersebut, untuk bergabung dengan massa GMNI. Penyampaian orasi kedua elemen mahasiswa tersebut dilakukan secara bergantian. Kedua elemen tersebut, juga sempat melakukan aksi bakar ban. (gus/ari)

Senin Demo Besar-Besaran, Polresta Siapkan 2.000 Personel

MEDAN-Kejadian bentrok antara pengunjuk rasa dan pihak keamanan yang terus berulang dalam dua hari menjadi perhatian penting pihak kepolisian. Polresta Medan pun berjanji akan menurunkan sekitar 2.000 personel untuk mengantisipasi aksi unjuk rasa menentang dan menolak rencana pemerintah menaikkan tarif BBM mulai 1 April berlangsung, Senin (26/3) mendatang.

“Dari 2.000 personel yang akan kita turunkan itu, sekitar 1.715 personel akan melakukan PAM terbuka. Mereka akan di tempatkan di 12 titik yang diperkirakan akan menjadi lokasi unjuk rasa,” kata Wakapolresta Medan, AKBP Pranyoto dalam Rapat koordinasi mengantisipasi gangguan kantibmas berkaitan dengan rencana kenaikan BBM  di Rupatama Polresta Medan, Kamis (22/3)

Dijelaskannya, 12 lokasi yang diperkirakan akan menjadi objek unjuk rasa itu, yakni Gedung DPRD Sumut, Kantor Gubernur Sumut, Kantor Pertamina, Kantor Wali kota Medan, Gedung DPRD Medan, Budaran SIB, Tol Bandar Selamat, Kantor Badan Pertanahan Nasional, Petronas Jalan Patimura, Petronas Ring Road, RRI, dan Kampus Universitas HKBP Nommensen.

Di luar personel yang telah dipersiapkan itu, Pranyoto  mengungkapkan pengamanan akan dibantu lagi oleh Brimodasu sebanyak 450 personel dan  200 peronel dari Dit Shabara Poldasu. Selain itu, Polresta masih minta bantuan personel dari Pemko Medan melalui Dinas Perhubungan, Satuan polisi Pamong Praja, Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (Dinas P2K) serta Dinas Kesehatan Kota Medan.

“Khusus Dinas P2K, diminta untuk menempatkan mobil pemadam kebakaran beserta personel. Selain untuk mengatasi pembakaran yang dilakukan para pengunjuk rasa, kehadiran mobil pemadam itu juga untuk membantu mengisi air mobil water canon.  Sedangkan petugas Dishub diharapkan berkoordinasi dengan Satlantas Polresta Medan, sebab ada dilakukan pemutusan jalan di sejumlah ruas jalan terkait unjukrasa,” ucapnya.

Meski telah melakukan persiapan pengamanan sedemikian rupa, Pranyoto berharap dan berdoa agar unjuk rasa yang dilakukan berjalan dengan aman dan damai. “Kapoldasu berharap unjuk rasa berlangsung di satu titik saja yakni Lapangan Merdeka saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Walikota Medan Rahudman Harahap mengatakan pertemuan yang dilakukan ini untuk melakukan sinergitas dengan pihak yang terkait untuk pengamanan unjuk rasa. Pemko Medan sendiri telah melakukan pertemuan dengan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kota Medan. Dalam pertemuan itu disampaikan tentang apa latar belakang pemerintah menaikkan tarif BBM. Termasuk, solusi mengantisipasi dampak yang ditimbulkan darim kenaikan tersebut.

Selain itu, lanjutnya, 2001 kepala lingkungan yang ada telah diinstruksikan untuk memberikan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Apabila masyarakat telah memahaminya, diyakini tidak akan terprovoklasi untuk mengikuti unjuk rasa. Selanjutnya, wali kota memerintahkan kepada seluruh Camat untuk ikut membantu aparat kepolisian dalam melakukan pengamanan di wilayahnya masing-masing.

Buruh Tuntut Kenaikan Upah

Rencana kenaikan harga BBM, ternyata juga membuat buruh di Sumut gerah. Dan meminta agar Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota (UMK) yang telah ditetapkan untuk direvisi. Karena secara otomatis, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung dengan kenaikan harga-harga barang lainnya.
Sedangkan UMP Sumut 2012 yang hanya Rp1,2 juta, dirasa tidak cukup. Untuk itu, buruh meminta dengan tegas adanya kenaikan UMP minimalnya sebesar 15 persen dari yang telah ditetapkan.

Diketahui, UMP Sumut 2012 berdasarkan SK No.188.44/988/KPTS/2011 adalah sebesar Rp1.200.000. Sementara untuk UMK Medan 2012 berdasarkan SK No.188.44/2012 adalah sebesar Rp1.285.000.

“Belum lagi rencana kenaikan BBM itu terlaksana, harga-harga barang saja sudah naik. Kami meminta, minimal gaji buruh dinaikan 15 persen dari yang ada sekarang. Dengan kenaikan BBM ini, posisi buruh akan semakin termarjinalkan,” tegas Kepala Divisi Humas Serikat Buruh Sumatera Utara (SBSU) M Amrul Sinaga SH.

Permintaan kenaikan atau revisi SK UMP dan UMK dari para buruh tersebut bila tidak dipenuhi bukan hal yang mustahil para buruh se Sumatera Utara akan menggelar aksi besar-besaran. “Ya, bisa saja kita turun ke jalan dan bersamaan dengan massa lainnya. Dan kita akan memobilisasi semua anggota yang ada di daerah. SBSU saat ini memiliki 1.200 anggota aktif, dan sekitar 1.500 sampai 1.600 anggota tidak aktif,” tukasnya.

Permintaan kenaikan UMP yang diminta para buruh tersebut, mendapat dukungan dari sejumlah anggota DPRD Sumut. Wakil Ketua DPRD Sumut, Sigit Pramono Asri kepada Sumut Pos menyatakan, bila kebijakan menaikkan harga BBM tersebut terjadi, dan berimplikasi langsung maka kenaikan upah buruh harus dipertimbangkan.

Hal senada disampaikan Dewan Pimpinan Cabang Konfederasi  Serikat Perkerja  Seluruh Indonesia (DPC  K-SPSI) ini. Ketua DPC K SPSI Kota Medan Maruli Sihombing mengaku pihaknya tak mungkin lagi menahan agar buruh  tidak berunjukrasa. “Jika pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM, kami minta kepada Pemko Medan untuk bisa memberikan solusi kepada buruh. Salah satu yang kami inginkan agar para buruh bisa mendapatkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Selama ini buruh tidak pernah mendapatkan  bantuan BLT, padahal BLT itu untuk membantu masyarakat yang kurang mampu menyusul terjadinya kenaikan BBM.” kata Maruli dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan Rahudman Harahap di Balai Kota, kemarin.

BBM Mulai Langka dan Mahal

Selain itu, keberadaan BBm di beberapa daerah ternyata sudah mulai mahal dan langka. Contohnya di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Setidaknya hal ini diungkapkan. Sekretaris Kelompok Nelayan Tradisional Jaring Udang Cahaya Pagi, Sainik (39) warga Dusun III, Desa Sei Naga Lawan, Kecamatan Perbaungan. Dia mengatakan, harga bensin eceran sudah mengalami kenaikan dari Rp5.000 per liter, sekarang sudah naik Rp6.000 hingga Rp6.500 per liter. “Sehingga biaya operasional melaut membengkak,” terangnya, kemarin.

Pernyataan senada diucapkan, Amirul (32), nelayan jaring udang warga Dusun I, Desa Pematang Kuala, Kecamatan Teluk Mengkudu.  “Sudah harganya mahal mendapatkannya pun susah,” ungkap Amirul.

Ketua Federasi Sarekat Nelayan Nasional, Tris Zamansyah didampingi Ketua Sarekat Nelayan Sumatra Utara (SNSU) Sergai, Irwan Syahril mengungkapkan, ada ribuan jumlah nelayan tradisional khususnya nelayan jaring udang di Sergai yang menggunakan sampan dengan BBM jenis bensin. Katanya, di Kecamatan Pantai Cermin sekitar 500 sampan, Kecamatan Perbaungan 150 sampan, Kecamatan Teluk Mengkudu 500 sampan, serta 120 sampan di Kecamatan Tanjung Beringin yang sudah mulai terkena dampak kenaikan harga BBM. “Nasib nelayan Sergai terancam semakin terpuruk. Kiranya alokasi pengalihan subsidi BBM menyentuh kalangan nelayan karena mereka kelompok yang sangat rentan terkena kenaikan BBM,” imbuh Irwan Syahril. (adl/ari/mag-16)

PPP Pasif Menunggu Pasangan

Pilgub Sumut 2013

JAKARTA-Sama dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga sudah memastikan nama yang diajukan dalam pertarungan pilgub Sumut 2013 mendatang. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Wakil Ketua Umum PPP Hasrul Azwar kemarin mengatakan, Fadli Nursal yang akan maju di pilgub Sumut.

Apakah Fadli Nurzal sudah pasti yang ditetapkan PPP? “Ya, nggak ada yang lain,” tegas Hasrul, yang juga Korwil PPP Wilayah Sumut, kepada koran ini di Jakarta, Kamis (22/3).

Dengan demikian, hingga saat ini sudah dua partai yang telah memastikan calonnya, yakni PKS yang mengusung Gatot Pujo Nugroho dan PPP yang memajang Fadli Nurzal. Sedang Golkar baru bisa dibilang setengah matang, yakni mengarah ke Gus Irawan, yang ditandai dengan gerakan Chairuman Harahap yang mengarah mendekati ke PDIP. Ini artinya, hingga saat ini nama yang kuat di bawah “beringin rindang” itu hanya Gus Irawan. Tak ada nama lain yang muncul yang punya kans kuat diusung Golkar.

Sebelumnya, pengamat politik Umar Syadat Hasibuan menganalisis, Fadli kemungkinan besar bergandengan dengan Gus Irawan, sebagaimana Golkar dan PPP berkoalisi di pilgub DKI. Bagaimana tanggapan Hasrul?

PPP tampaknya jual mahal, lebih suka menunggu untuk didekati partai lain, daripada mendatangi partai lain untuk menawarkan koalisi. “Kita belum bicara dengan partai mana pun. Belum ada lobi-lobi dengan partai mana pun,” ujar Hasrul, yang juga Ketua Fraksi PPP DPR itu.
Dia memberi contoh pilgub DKI, dimana Golkar lah yang rajin mendekati PPP. “Untuk DKI, memang pendekatan Golkar ke PPP cukup baik, ada chemistry antara Golkar dengan PPP,” ujar Hasrul.

Apakah untuk pilgub Sumut PPP merasa juga ada chemistry dengan Golkar? Politisi senior itu tidak menjawab tegas. Dia mengatakan, politik itu bukan sesuatu yang linear. “Juga tidak bisa black and white,” imbuhnya.

Kalau harus memilih, PPP lebih dekat dengan Gatot atau Gus Irawan? Hasrul masih juga memberikan jawaban diplomatis. “Kita belum tentukan mana yang lebih dekat karena mereka juga belum resmi menjadi calon. Kita juga belum melihat hasil survei.”

Hasrul juga menyodorkan sejumlah persyaratan bagi partai yang ingin berkoalisi dengan PPP. Yakni, partai itu harus bisa menempatkan PPP secara sejajar, setara, dan menjadi bentuk koalisi yang berwibawa. “Kalau bahasa Jawa-nya, nguwongke (memanusiakan, tidak menyepelekan, Red),” kata Hasrul.

PKS kok Usung Tifatul Sembiring Juga

Kabar menarik malah dikeluarkan PKS jelang Musyawarah Kerja Nasional yang akan diselenggarakan sejak Minggu (25/3) hingga Jumat(30/3) mendatang. Menkominfo Tifatul Sembiring dikabarkan menjadi salah seorang kader yang digembar-gemborkan atau diusulkan oleh kader-kader PKS daerah, untuk menjadi salah seorang kandidat yang akan maju ke Pilgubsu.

“Di antara tokoh-tokoh yang dicalonkan benar ada Menkominfo, Tifatul Sembiring. Dan sekarang sudah mengerucut, ada satu atau dua nama saja. Penetapan calon dari dari bawah,” papar Sekretaris Mukernas PKS 2012 Heriansyah dalam konfrensi persnya, di Tiara Convention Hall Medan, kemarin.
Wakil Ketua DPRD Sumut, Sigit Pramono Asri yang juga hadir dalam acara itu menerangkan dalam Mukernas nanti sudah tentu akan ada pembahasan mengenai Pikada, Pilpres maupun pemilu legislatif.

“Tentu arah ke situ ada bersinggungan juga, meskipun tidak dijadwalkan secara khusus, namun bagaimana pembahasannya itu nanti baru kelihatan saat Mukernas berlangsung,” katanya.

Ketika ditanya mengenai isu, adanya pertemuan sejumlah kader dan petinggi PKS Sumut dengan Partai Demokrat Sumut, dalam rangka membahas arah koalisi dan pengusungan calon, Sigit yang mengenakan baju koko warna biru dipadupadankan dengan jas warna hitam membantah isu tersebut.
“Saya belum dengar, dan jika memang ada itu biasa-biasa saja dan merupakan bentuk silaturahmi. Jika kader partai bertemu kader partai lain, bisa saja membahas BBM, dan hal lainnya,” urainya.

Terkait gelaran Mukernas PKS yang dijadwalkan berlangsung 26-30 Maret 2012, juga dimeriahkan sejumlah perlombaan seperti PKS Idol, orasi politik, festival band religi, dan sejumlah perlombaan anak-anak tingkat TK dan SD. Sementara itu ada juga kegiatan bazar, servis betor gratis (20-25 Maret), donor darah (25 Maret), pengobatan gratis (27-28 Maret), bersih Sungai Deli (25 Maret), Jalan Sehat dan Senam Nusantara (25 Maret).

Kemudian ada penampilan sejumlah band dan grup lawak antara lain Gigi Band, Ebit Beat A, Justice Voice, Izzatul Islam, Shoutul Harokah, Maidany, Orkes El Surayya, Lawak Jamal CS, One Voice & Friends. Theater Alif. Selain itu ada juga penampilan Cahaya Deli serta penampilan perkusi dan tabligh akbar.(sam/ari)

Ogoh-ogoh Hadir Membersihkan Bumi

Peringatan Nyepi di Medan

MEDAN-Tadi malam ada suasana berbeda di Medan. Beberapa lelaki mengarak Ogoh-ogoh keliling Lapangan Benteng. Patung raksasa dengan ekspresi menakutkan dan menyeramkan sebagai lambang ‘Buta Kala’ itu tampak hidup.

Aksi inipun diikuti oleh para wanita serta anak-anak lalu disusul tarian barongsai. Ya, aksi barongsai juga mewarnai perayaan hari raya Nyepi yang jatuh pada penanggal 1 Sasih Kedasa tahun Isakan 1934 tepatnya dimulai pada 22 Maret. Tarian barongsai pun dipercaya sebagai pengusir roh kejahatan yang ada dimuka bumi. Sekitar ratusan umat Hindu dari multietnis seakan larut dalam perayaan ini.

“Ogoh-ogoh adalah perayaan puncak menjelang hari raya Nyepi yang jatuh pada 23 Maret. Ogoh-ogoh diarak sebanyak 3 kali putaran lapangan. Tujuannya agar pengusiran roh halus lebih sempurna dan membersihkan bumi dari hal-hal yang tidak baik,” kata Jero Mangku I Wayan Sukantra selaku panitia.

Selain wujud raksasa, katanya, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada seperti naga, gajah, garuda bahkan patung para dewa. Prosesi ini sendiri, melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang mahadahsyat.

“Kekuatan itu meliputi buana agung (alam semesta) dan buana alit (diri manusia). Kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup khususnya manusia dan seluruh isi dunia bisa menuju kebahagiaan atau kehancuran. Namun semua itu tergantung pada niat luhur manusia,” ujarnya.
Menurut Jero Mangku, pawai Ogoh-ogoh juga bertujuan untuk menetralisir alam semesta beserta isinya yang selama ini sering diganggu dan dipengaruhi sifat-sifat negatif yang menimbulkan malapetaka agar kehidupan alam semesta menjadi tenang dan damai.

“Ada 7 tarian daerah turut mewarnai perayaan ini. Di antaranya tarian Bali ada 3 tarian yang dipertunjukkan selain itu tarian India, Tamil, Batak, danChina. Ada juga pertunjukan tarian Bali yang dibawakan anak-anak. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 18.00 WIB sampai 21.00 WIB. Jadi hanya berlangsung sekitar 4 jam saja,” urainya.

Sebelumnya, tambah Jero Mangku, pada siang harinya, dilakukan Tawur Kesanga yang bertujuan menjaga keseimbangan atau keharmonisan, serta penyucian kekuatan unsur alam semesta. “Tawur yang digunakan adalah tingkat ‘Panca Sata’ yaitu dengan mempersembahkan korban lima ekor ayam dengan bulu yang berbeda-beda dan berwarna-warni,” jelasnya.

Namun, perayaan Nyepi di Medan dengan di Bali tentu saja memiliki perbedaan. “Perayaan Nyepi di Bali, seluruh masyarakatnya diwajibkan untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Bahkan fasilitas listrik juga dilakukan pemadaman 1 x 24 jam, terkecuali di tempat-tempat tertentu, seperti rumah sakit. Kita tidak boleh keluar rumah, suasana yang sepi sangat terasa pada saat perayaan Nyepi,” tambahnya.

Perayaan hari raya Nyepi yang dilandasi nilai Nyepi Saka Warsa 1934 dan Tri Karya Parisuda denga tema ‘Kita Tingkatkan Kerukunan, Kedamaian, dan Kesejahteraan itu sendiri dibuka oleh Walikota Medan Rahudman Harahap dan ditandai dengan pemukulan gong di hadapan para umat Sedarma atau Hindu.

“Semoga kita, khususnya umat Hindu menjadi pribadi selaras dalam mnjalani kehidupan di tahun mendatang. Perayaan ini, merupakan bentuk penyucian jiwa dari segala kekotoran dan tentunya ditahun mendatang kita akan menjadi manusia yang kembali suci,” ungkapnya.

Bahkan, kegiatan perayaan Nyepi tersebut akan direncanakan menjadi agenda tahunan di Kota Medan. “Kegiatan ini memang baru pertama kali diadakan. Nantinya akan kita buat menjadi agenda tahunan. Medan adalah kota multikulturalisme, dalam perayaan ini, kita berharap menjadi momen yang tepat untuk intropeksi diri ke depannya,” bebernya. (mag-11/adl)

 

Kalau Untung, Kenapa Tidak …

Tentang 2.198 Rumah di Belawan yang Akan Digusur

BELAWAN-Ancaman gusur karena akan ada pembangunan pelabuhan baru di pesisir utara Medan ternyata tak membuat warga resahn

Malah, warga yang rumahnya akan digusur rela pindah. Asalkan, mereka mendapat ganti untung dan bukan ganti rugi.

“Kalau penggusurannya ganti untung, kami mau disuruh pindah dari tempat ini. Tapi kalau justru merugikan warga ya kami pasti tak mau,” kata, Sulaiman (47) warga Lorong Pahlawan, Belawan kepada Sumut Pos, Kamis (22/3).

Rencananya, dua investor asing asal Brunei Darussalam dan Hongkong akan menanamkam modalnya guna membangun pelabuhan  baru di kawasan tersebut (lihat grafis). “Maunya investor itu membangunkan rumah di lokasi lain, jadi rumah diganti rumah pula. Tapi kalau investor mau membangunkan rumah terus warga dikasih konfensasi uang lagi ya lebih bagus,” tambah Sulaiman.

Ungkapan serupa juga dikatakan, Zulkifli (35). Ia berharap proses ganti untung dalam bentuk pembangunan rumah. Kalau bisa, rumah yang diganti jangan terlalu jauh dari Belawan. “Karena sebahagian besar masyarakat di sini menggantungkan hidupnya di laut,” tuturnya.

Dari informasi yang didapat, lokasi rumah pengganti untuk masyarakat Jalan TM Pahlawan Belawan akan dibangun di kawasan Jalan Veteren Pasar X Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang dan di Batang Kilat Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan. Lokasi itu, menurut Zulkifli, terlalu jauh dari pinggiran pantai.  “Masyarakat disini hanya mengerti mencari nafkah di laut, jadi kalau pembangunan perumahannya terlalu jauh justru akan mempersulit mereka dalam mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya,” ungkapnya.

Lurah Belawan I Kecamatan Medan Belawan, M Hamidi Jamhur Lubis, menuturkan proses ganti untung terhadap masyarakatnya yang akan mengalami penggusuran terkait rencana pembangunan pelabuhan di areal seluas 28 hektar tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan.  “Soal ganti untung itu nanti akan dibahas dan masyarakat akan dipertemukan dengan pihak investornya langsung. Karena pertemuan sebelumnya ditunda karena pihak investor berhalangan untuk dating,” kata Jamhur, kemarin.

Dia menambahkan, dalam rencana awal permukiman warga sempat pernah diwacanakan akan di bangun di dua lokasi berbeda di wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang.”Kalau yang di Pasar X Desa Manunggal, Labuhan Deli memang jauh dari laut, sedangkan di Batang Kilat Sei Mati, Medan Labuhan terdapat perairan yang menjorok ke laut,” jelasnya.

Begitu pun meski keputusan soal pemindahan lokasi pemukiman warganya, Jamhur menyerahkan sepenuhnya kepada keinginan masyarakat itu sendiri. Sebab kedua lokasi tersebut baru hanya sebatas usulan sebagai lokasi pemukiman baru bagi warga. “Dua lokasi itu kan masih sebatas usulan, dan persoalan ini kita serahkan kepada mereka (warga, Red) langsung. Dan, ini dapat terlaksana apabila warga setuju. Soal apakah mereka minta ganti untung dalam bentuk dibangunkan rumah atau mereka minta dalam bentuk uang tunai itu merekalah yang menetukan. Apalagi belakang ini kabarnya laut sudah tidak bisa lagi diandalkan karena kondisi dan hasil tangkapan mereka juga berkurang,” ungkapnya.

Sebelumnya, informasi diperoleh Sumut Pos, rencana megaproyek pembangunan dermaga pelabuhan di lahan seluas 28 hektar oleh dua investor asal Brunai Darussalam dan Hongkong itu diperkirakan akan menelan biaya mencapai triliunan rupiah. Proges proyek itu memang masih dalam penjajakan. Kedua investor asing yang disebut-sebut telah melakukan lobi-lobi di tingkat pemerintah pusat. Jika izin keluar, maka sekitar 2.198 unit pemukiman warga yang terdapat di 25 lorong atau gang di Jalan TM Pahlawan Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan akan diratakan.

M Faisal SE, Plt Kepala Lingkungan 28 Lorong Papan Kelurahan Belawan I, Belawan mengakui tentang adanya pendataan rumah warga terkait rencana pembangunan kawasan dermaga pelabuhan di daerahnya.”Di sini terdapat sedikitnya 167 unit rumah dari 245 KK (Kepala Keluarga), tapi sampai sejauh mana rencana daerah ini akan dibangun dermaga pelabuhan saya tidak tahu pasti,” ujarnya.

Namun begitu sebut dia, dari pendataan awal yang dilakukan sebahagian besar dari mereka menyambut baik atas adanya rencana pembangunan pelabuhan dikawasan dimaksud. (mag-17)

Menggeser Jam Matahari (2)

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Berdasarkan usulan Fleming, waktu dibagi berdasarkan rotasi bumi 24 jam. Bumi bulat dihitung 360 derajat, dan lalu dibagi dalam 24 zona waktu. Kala itu disetujui, pembagian waktu bumi diawali tengah malam di bujur 0 derajat Greenwich (GMT). Setiap 15 derajat ke arah kanan atau kiri berarti selisih satu jam (+1 GMT atau -1 GMT). Begitu terus hingga berputar dan kembali ke GMT.

Begitulah, hingga ada 24 daerah waktu di dunia – berdasarkan perhitungan kecepatan rotasi bumi, lingkaran bola bumi, dan lama rotasi bumi. Meski berpatok ke GMT, sebenarnya waktu dunia tetap berdasarkan pergerakan semu matahari. Hanya saja kali ini ada standarisasinya.
***
Wilayah Indonesia, yang dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan terpisah, tak serta merta mengikuti pengaturan zona waktu GMT itu. Masing-masing daerah memiliki sistem penyebutan waktu. Suku-suku memiliki penanda waktu sendiri-sendiri. Seperti Batak kuno yang disebutkan di atas misalnya.
Pengaturan waktu mengikuti standar GMT baru ada pada 6 Januari 1908. Seperti ditulis oleh historia.com, Belanda mulai mengatur zona waktu di wilayah Indonesia sekarang, dimulai dari Jawa Tengah dan Batavia. Saat itu diatur, ada perbedaan waktu 12 menit untuk Jawa dan Madura. Pengaturan ini sesuai waktu Amsterdam. Di luar wilayah itu, Belanda sama sekali tak mengaturnya.

Berikutnya, pengaturan zona waktu berkembang untuk wilayah di luar Jawa seperti Sumatera Barat dan Timur serta Balikpapan. Untuk pertama kalinya, Hindia Belanda membagi enam zona waktu sejak 11 November 1932. Ada selisih waktu, tiap zona 30 menit.

Pengaturan ini berubah saat Jepang berkuasa di nusantara pada 1942. Saat itu, Jepang menyatukan standar waktu Indonesia mengikuti Tokyo yaitu GMT+9. Alasannya sederhana. Jepang ingin membuat efektif operasi militer mereka.

Namun setelah Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, dan Belanda menduduki kembali sebagian daerah di Indonesia pada 1947, sistem waktu di Indonesia diringkas menjadi tiga zona. Tiap zona berselisih GMT +6, +7, dan +8, kecuali Papua yang berselisih GMT + 9.

Namun, pembagian ini tak berlangsung lama. Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, dan Indonesia kembali ke pembagian enam zona waktu dengan selisih 30 menit tiap zona. Hanya Irian yang masih menggunakan peraturan Belanda tahun 1947 karena masih diduduki Belanda. Aturan itu bertahan selama 13 tahun.

Tahun 1963, Indonesia mengubah kembali zona waktu menjadi tiga zona waktu: barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah tingkat I Maluku.

Begitulah keputusan pemerintah, dan rakyat Indonesia pun menyusun irama hidupnya setiap hari berdasarkan zona waktu itu.
Peraturan itu bertahan sampai 1987, ketika pemerintah membuat kebijakan memutuskan Bali masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik ke zona barat dari zona tengah. Indonesia tetap dengan zona tiga waktu sampai hari ini. (bersambung)

Medan Plaza, Tempat Ibadah Sekaligus Belanja

Pusat Perbelanjaan Era 1980-an di Medan, Apa Kabar? (5/Habis)

Medan Plaza tampil berbeda dengan pusat perbelanjaan lain. Plaza yang sudah 25 tahun beroperasi ini ternyata masih eksis meski pengunjungnya mulai berkurang. Usut punya usut, keberadaan gereja di lantai 6 adalah faktor penting dalam perkembangan plaza ini.

Farida Noris – Juli Ramadhani Rambe,  Medan

Memilih tempat di Jalan Iskandar Muda, Medan Plaza dulunya memiliki tingkat pengunjung yang cukup tinggi. Pusat perbelanjaan yang berdiri sejak 1987 ini memang sempat mencapai masa kejayaannya. Namun, seiring bermunculannya pusat perbelanjaan yang lebih lengkap, maka Medan Plaza seolah tertinggalkan.

Mulyono selaku Supervisor Gedung Medan Plaza mengaku daya beli masyarakat di gedung 6 lantai itu semakin menurun setiap harinya. Bahkan, masyarakat yang datang mayoritas hanya kalangan menengah kebawah saja.

“Pengunjung juga semakin minim. Hanya hari-hari tertentu saja yang agak normal. Apalagi, daya beli masyarakat di sini juga jauh dari harapan. Bukan saya saja yang bilang begitu, semua karyawan di sini juga merasakannya,” ujar Mulyono yang sudah 12 tahun bekerja di Medan Plaza tersebut.

Menurutnya, akibat minimnya jumlah pengunjung, beberapa toko juga terlihat sepi. “Lihat saja, sudah siang begini, jumlah pengunjung masih dapat dihitung. Persaingan bisnis pasti ada, apalagi mal-mal besar sudah banyak bermunculan dan banyak kelebihan dan menawarkan paket-paket belanja yang menarik,” terangnya.

Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, parkiran Medan Plaza yang tidak ter-cover rapi juga membuat pusat perbelanjaan ini terkesan semerawut. Bagian depan parkirannya hanya diisi beberapa mobil dan taksi. Sedangkan, parkiran sepeda motor berada di bagian belakang gedungnya.
Untuk lantai 1, beberapa toko pakaian terlihat memenuhi pusat perbelanjaan ini. Aktivitas pembeli tidak begitu ramai. Para karyawan terlihat santai menunggu datangnya pembeli. Begitu juga saat berada dilantai 2, suasananya tidak berbeda jauh. Disini mayoritas diisi beberapa toko sepatu yang merupakan pasar murah serta ada juga beberapa toko baju.

Saat berada di lantai 3, pusat perbelanjaan ini juga memiliki pasar swalayan dan beberapa toko elektronik. Di lantai 4, diisi dengan bioskop, toko buku, dan cafe. Sayangnya, pembeli yang berkunjung juga terlihat sangat minim dan bisa dihitung. Begitu juga saat naik ke lantai 5. Memang ada tempat permainan atau timezone, karaoke dan billiard, namun sangat sepi dari pengunjung.

Pemandangan berbeda terlihat di lantai 6, di sini berdiri Gereja Bethel Indonesia (GBI). “Kalau hari biasa, gereja ini memang sunyi. Paling ramainya saat hari Jumat dan Minggu. Karena saat itu umat Kriten ada aktivitas di sini dan beribadah. Gereja ini sudah lama dibangun, sejak berdirinya plaza ini juga,” kata Jaya selaku operator bioskop.

Sambung, Jaya yang sudah 5 tahun bekerja di Medan Plaza ini, dengan keberadaan gereja tersebut, maka secara tidak langsung menarik pembeli. “Jadi dengan adanya gereja ini, para jamaatnya juga sekaligus belanja setelah mereka selesai beribadah. Memang semakin lama, jumlah pembeli di sini jauh berkurang jika dibandingkan sebelum banyaknya pusat perbelanjaan lain di Medan. Paling yang membuat plaza ini masih hidup dengan keberadaan pasar murahnya yang dimanfaatkan kalangan ke bawah untuk belanja,” jelasnya.

Istana Plaza yang Berkorban Demi Polonia

Pada tahun 1991, di Jalan Juanda ada plaza yang mampu mencuri fokus warga Medan. Namanya, Istana Plaza. Pada masa jayanya, plaza ini lebih identik dengan plaza life style.

Semua kebutuhan untuk pergaulan seperti kafe, karaoke, bioskop, dan lainnya tersedia. Sayang, do saat masa indah itu, ada masalah yang membuat Istana Plaza terduduk. Niat awal mendirikan 6 lantai, tetapi karena dekat dengan Bandara Internasional Polonia, akhirnya bangunan pun diruntuhkan 1 lantai. “Diruntuhkan karena menggangu pemandangan penerbangan, karena itu diruntuhkan 1 lantai,” ungkap Paulus Tamie, Ketua Asosiasi Pusat Pembelanjaan Indonesia (APPBI) Sumut.

Itulah sebab, walau terletak di tengah kota, Istana Plaza tidak terlalu lama menggugah perasaan warga Medan. “Masa operasionalnya tidak lama, hanya sekitar 10 tahun kalau saya tidak salah, setelah itu diganti dengan sekolah, dan sekarang Ace Hardware,” tambah Paulus.
Hal berbeda terjadi pada 2 plaza yang dibangun pada tahun 1980-an, Thamrin Plaza yang terletak di Jalan Thamrin Medan dan Buana Plaza yang terletak di Jalan Aksara Medan.

Thamrin Plaza yang berdiri pada 1989 ini tetap pada konsepnya dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Sehingga semua produk yang dijual disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung plaza. “Semua produk yang dijual harus sesuai tempat atau lantai, dan yang dijual juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kalau menolak kita juga tolak,” ujar Paulus, pengelola Thamrin Plaza.

Memasuki tahun pertengahan tahun 2000-an, pamor Thamrin Plaza mulai pudar, tetapi berdirinya Pasar Rame yang tepat di sebelah Thamrin Plaza, mampu “menyelamati” plaza yang memiliki 7 lantai ini. “Kita bersinergi dengan Pasar Rame, selain itu karena ini merupakan pasar dari suku tertentu jadi tetap rame. Tetapi kita juga memperbaiki manajemen,” tambah Paulus.

Salah satu perbaikan manajemen dilakukan pada renovasi bangunan, dan isi bangunan. “Ya seperti produk yang dijual harus sesuai, kita perbanyak tempat makan, seperti foodcourt. Sementara yang dihilangkan seperti kolam renang, warnet dan wartel, dan renovasi bangunan,” tambah Paulus.
Pangsa pasar juga sangat berperan penting dalam hidup matinya sebuah plaza. Seperti Aksara Plaza yang berdiri pada tahun 1990, Plaza ini mem\ngambil pangsa pasar menengah ke bawah, dan terbukti hingga saat ini masih berdiri dengan 7 lantai. Walaupun telah mengalami pergantian nama, dari Aksara Plaza menjadi Buana Plaza pada 2001. Tetapi plaza ini sangat dekat di hati masyarakat di sekitar daerah Tembung. (*)

Acha Septriasa Masih Betah Menjomblo

Setelah hubungan asmaranya dengan Irwansyah kandas, Acha Septriasa belum terlihat lagi menggandeng lelaki. Bintang film Love Story ini rupanya masih betah menjomblo. Apakah trauma berpacaran?

“Nggak trauma, cuma masih betah sendiri saja. Masih nyaman seperti ini. Pokoknya, sekarang lagi nggak ada yang dekat banget,” ujar Acha di Jakarta, Selasa malam (20/3).

Meski mengaku nyaman menjomblo, perempuan kelahiran Jakarta, 1 September 1989 ini tetap membuka hati bagi pria yang ingin mendekatinya. Tak ingin kegagalannya menjalin cinta terulang, ia pun mengaku sangat hati-hati saat memilih kekasih.

Seperti apa sih kriteria calon kekasih Acha? “Siapa saja sih asal anaknya baik. Kalau sama artis kan sudah kemarin. Pengennya sih yang nggak dari kalangan entertainment, biar bisa tukar pikiran,” cetusnya.

Namun Acha mengaku, pacaran itu urusan kesekian. Saat ini, ia hanya ingin fokus menuntut ilmu dan berkarier agar kelak saat nikah ia tak merepotkan siapapun, terutama orangtua.

Acha kini sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia hiburan dan fokus menjadi pekerja kantoran. Untuk merealisasikan mimpinya itu, Acha sudah mulai mengirim surat lamaran kepada beberapa perusahaan.

“Mungkin seriusnya aku akan kerja kantoran PR (public relation) di sebuah company. Aku sudah kirim CV juga dan tinggal tunggu interview. Ya, cita-cita itu (kerja kantoran) tetap ada,” pungkasnya. (rm/jpnn)

Uji Ketangguhan Freed Lewat Family Gathering

MEDAN- Sebanyak 70-an mobil Honda Freed dilepas dari Lapangan Merdeka Medan Jalan Pulau Pinang menuju Grand Hill Resort Sibolangit, Minggu (18/3).

Selain untuk mempererat hubungan silaturahmi antara konsumen dengan pihak showroom, acara yang bertajuk family gathering itu juga bertujuan untuk mengetes ketangguhan mobil dengan mesin 1500 cc tersebut.

Mobil yang dikendarai para peserta terdiri dari berbagai keluaran mulai dari rakitan 2009 hingga 2012. Mereka langsung dilepas oleh Ibnu Suhendra Sales Manager PT Istana Deli Kencana (IDK)- 2. Hadir juga dalam acara itu Direktur Utama IDK- 2 Aswin Wirjadi SH, perwakilan dari IDK-1 dan PT Aristra Medan.

Para peserta terlihat semangat dalam mengikuti acara itu. Hal ini terlihat dari iring-iringan para peserta dan semangat mendaki gunung hingga menuju Sibolangit. Selain itu para peserta yang mayoritas membawa anggota keluarganya ini saling bercanda selama berada di dalam perjalanan.
“Betul-betul Honda Freed mobil keluarga. Kabinnya lapang dan mewah. Pokoknya nyaman di dalamnya,” ungkap Jhon Simbolon salah seorang peserta yang menunggangi Freed keluaran 2012.

Dia menjelaskan selama di perjalanan dia dan keluarga mengaku nyaman di dalam kendaraan. Kesan goyang jika berada di atas kecepatan 100 tidak terlihat. Jhon mengaku meski baru sekali ini mengikuti family gathering ini namun dia dan keluarga merasa puas.
“Kapan lagi Honda buat acara seperti ini kita ikut,” tutur Jhon yang membawa istri dan dua orang putrinya itu. Kesan yang sama juga disampaikan oleh peserta yang lain.

Sementara itu begitu sampai di Grand Hill Resort Sibolangit, para peserta disuguhkan dengan makan siang bersama sambil menikmati pemandangan Grand Hill Resort. Ada juga sebagai dari para peserta bermain di lokasi acara. Usai makan siang acara dilanjutkan dengan lucky draw yang memperebutkan hadiah hiburan berupa televisi, payung, dan souvenir lainnya persembahan Honda.

“Wah lewat acara ini kita sudah bisa rekreasi dengan keluarga, pulangnya dapat hadiah lagi,” celoteh salah seorang peserta.
Di tempat terpisah Ibnu Suhendra Sales Manager PT IDK – 2 dan Jenny Sales Manager PT IDK-1 mengatakan family gathering ini seperti tiap tahun kita gelar. Selain acara ini, mereka juga pernah menggelar penanaman pohon. “Kami selalu aktif menggelar acara, dan bahkan ke depan lewat acara ini kita juga akan membentuk komunitas pencinta Honda Freed. Selama ini klub yang sudah terbentuk ada Honda Jazz,” pungkas Jenny. (dra)