23 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 13741

Kuncinya Ada Pada Diri Sendiri

Prof. Dr. Monang Sitorus, M.Si, Alumni UHN Pertama Bergelar Profesor

Punya visi jelas serta disiplin pada diri sendiri menjadi kunci sukses Monang Sitorus menjalani hidup. Siapa Profesor Monang dan bagaimana kiprahnya?

Monang Sitorus mencatatkan sejarah di almamaternya Universitas HKBP Nommensen (UHN). Staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) ini meraih gelar profesor pertama sebagai ‘produk’ asli UHN, salah satu kampus tertua di Pulau Sumatera.

Predikat guru besar didapat hanya tiga bulan setelah diwisuda sebagai doktor administrasi dari Universitas Padjajaran Bandung, Februari 2010.
”Ada beberapa guru besar yang dipunyai Nommensen. Dan benar, baru saya staf pengajar dari alumni yang menjadi professor,” ucapnya menjawab Sumut Pos saat bertandang ke kantornya, Kamis (29/3) lalu.
Pengakuan dari pemerintah atas Professor Monang dituangkan dalam surat bernomor 44335/A.4.5./KP/2010 tertanggal 31 Mei 2012. SK itu ditandatangani Mendiknas, Mohammad Nuh.

Profesor Monang kemudian membeberkan beberapa persyaratan yang dimilikinya untuk menjadi guru besar. “Kum saya sudah seribu waktu itu, sementara syarat menjadi professor cuma 750,” ujar Pembantu Dekan II di Fisipol UHN ini.
Tak heran, pengujian guru besar di Kopertis Wilayah I dan di Kemendiknas bisa dilaluinya tanpa banyak kendala. “Usai ujian di Kopertis, sorenya saya sudah tahu, saya lulus. Saya berhak diuji di tingkat nasional,” ujar suami Betty Br Simatupang ini.

Berita acara pengujian di Kopertis I kemudian dikirim ke Jakarta untuk kembali diuji. “Tidak ada celah bagi panitia di Kemendiknas untuk memperlambat prosesnya. Semua lancar,” sebutnya menggambarkan perlunya persiapan yang matang.
Jauh-jauh hari, Monang memang mempersiapkan sejumlah persyaratan untuk menjadi seorang professor. Bekal sebagai penyunting di jurnal Warta Nommensen berpengaruh besar dalam tulisan yang dipublikasikan di berbagai media local, nasional dan internasional.

Apalagi Monang pernah memenangkan lomba tulis ilmiah dan sejumlah kegiatan akademik lain. Mantan Dekan Fisipol UHN ini pun menulis di The Journal of Business Administration Online, Vol 5 No 1 tahun 2006. Di jurnal yang terakreditasi internasional itu, Monang mengangkat topik tentang tsunami dan dampaknya pada manajemen pemulihan administrasi.
“Supaya tulisan kita lebih mudah diterima dan dinaikkan di jurnal internasional, sebaiknya mencari topik yang sedang hangat,” sebutnya membeber trik menembus ketatnya persaingan menulis di jurnal ilmiah.
Semasa kuliah program doktoral, Monang pun merasa bersyukur bisa menjadi tenaga peneliti outsourcing di Lembaga Administrasi Negara (LAN) selama 2 tahun. Waktu itu, rekannya sesama mahasiswa yang bekerja di LAN menginformasikan adanya lowongan di lembaga itu.

Peluang pantang dilewatkan. Monang mencoba dan diterima sebagai tenaga peneliti dan pengkaji administrasi di LAN.
Sambil menyelam minum air. Dari penelitian dan kajian administrasi yang melibatkan sangat banyak kabupaten/kota di Indonesia, Monang berkesempatan menyinggahi sejumlah daerah di Indonesia dan menulis kajian-kajiannya dalam tiga buku. Keseluruhan buku itu diterbitkan Unpad Press.

“Itulah enaknya bekerja di LAN. Saya berkesempatan keliling Indonesia, digaji dan hasilnya dituangkan dalam buku. Buku saya diakui secara akademik. Dan kumnya lumayan besar,” sebutnya.
Pada masa-masa itulah Monang dituntut bisa disiplin menggunakan waktu. Sebab, selain menjadi peneliti di LAN, ia harus memberikan perhatian pada studinya. “Karena itu, di tahun ketiga, saya memutuskan fokus pada pendidikan. Hasilnya, saya selesai dalam tiga tahun,” ucap penguji program doktoral di Unimed dan Universitas Terbuka (UT) ini.

Bersikap disiplin sudah menjadi kebiasaan putra Porsea kelahiran Tarutung ini. “Saya memang menanamkan sikap disiplin pada diri sendiri. Ya, kalau mau sukses memang harus punya visi pribadi, fokus dan disiplin pada diri sendiri,” paparnya.
Selain tekad kuat menghadapi setiap hambatan, Monang terang-terangan menyebut nama Prof. Dr. D.P. Tampubolon dan Prof. Dr. Amudi Pasaribu sebagai tokoh yang memberinya inspirasi menjadi guru besar.

“Yang penting jangan jadi sombong agar tetap banyak teman. Sekarang, saya bisa merasakan hasilnya. Dipercaya dari berbagai perguruan tinggi sebagai penguji ahli sidang pascasarjana,” ujarnya tersenyum.
Prof. Monang berharap pada para staf pengajar juniornya untuk punya visi pengembangan diri. Mengaplikasikan Tridharma perguruan tinggi secara utuh, tidak hanya sibuk mengajar. “Mengajar itu porsinya 40 persen, penelitian 40 persen dan 20 persen lagi pengabdian pada masyarakat serta mengikuti dan menjadi pemateri di seminar-seminar,” paparnya mengingatkan.

Monang mengaku prihatin dengan dosen yang hanya sibuk mengajar kesana-kemari demi mengejar materi. “Padahal kalau kita sebagai dosen melakukan penelitian, hasilnya jauh lebih besar dari jadi asdoling (Asosiasi Dosen Keliling, sebutan untuk para dosen yang mengajar di banyak kampus, red),” sebutnya lagi.

Disebutkannya, perhatian besar pemerintah pada pendidikan dan penelitian menjadi pintu masuk para dosen memenangkan hibah penelitian. “Nilainya lumayan. Pasti jauh lebih besar dari ang diperoleh sebagai asdoling. Saya sudah merasakan itu,” kata ayah dua putri dan seorang putra ini.

Di sisi lain, Prof. Monang mengaku, minimnya jurnal-jurnal ilmiah yang terakreditasi di Sumatera Utara dan di tingkat nasional menjadi kesulitan para dosen untuk menuangkan karya-karya ilmiahnya. Sementara peluang menembus jurnal ilmiah internasional sangat sulit, mengingat minimnya peluang.
“Satu jurnal ilmiah mungkin hanya bisa memuat sekitar 20-an artikel ilmiah dalam setahun. Memang peluang menembusnya jadi lebih sulit,” katanya memberi pembelaan.
Meski demikian, dia berharap akan semakin banyak para staf pengajar yang melakukan penelitian sekaligus memiliki visi menjadi profesor. Apalagi, UHN memiliki banyak doktor lulusan perguruan tinggi besar dari dalam maupun luar negeri. (tms)

Faktor Ekonomi tak Bisa Diabaikan

Perjalanan Monang Sitorus menjalani pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang paling tinggi pula yang mengajarkannya untuk bisa terus berjuang.
“Saya anak guru SD di Porsea dan hidup pas-pasan. Saya masih ingat, ayah mengajar di kelas 4 dan diupah dengan 4 takkar (mug) beras per bulannya. Uang sekolah pun dibayar pake beras. Itulah kondisi waktu itu,” kenang Prof. Monang.
Perjalanan Monang Sitorus memang penuh warna. Sejak tingkat sekolah dasar hingga jenjang paling tinggi dan akhirnya diterima mengajar di almamaternya, UHN. Desakan ekonomi tak mampu menghadangnya untuk terus meningkatkan pendidikan dan kapasitas pribadi. yang paling berkesan, saat studi program doktor administrasi di Unpad.

“Waktu itu, kami benar-benar diuji. Anak sulung saya kuliah di Jakarta, dua lainnya di Medan bersama ibunya. Istri saya hanya ibu rumah tangga. Jadi saya harus memikirkan kuliah sekaligus biaya kami yang tersebar di tiga tempat,” ujarnya.
Tetapi semua kendala ekonomi bisa dihadapi. “Saya berpandangan, kesuksesan itu dilihat dari kemampuan kita lepas dari berbagai kesulitan. Bukan semata karena fasilitas,” ujar  pria yang sebentar lagi menimang cucu ini.(tms)

DATA DIRI

Nama Prof. Dr. Monang Sitorus, M.Si
Lahir Tarutung, 9 April 1961
Istri Betty br Simatupang
Anak 1. Aida Sitorus, istri dari Maruli Sitorus
2. Andika Maruli Sitorus (FK UHN angkatan 2009)
3. Ayu Siska (FE Akuntansi USU angkatan 2010)
Alamat Jalan Karya Rakyat, Perumahan Nommensen No. 33 B

KARIR

1989 Terdaftar sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UHN.
1992-1993 Pembantu Dekan II FISIP UHN bidang kepegawaian.
1995-1999 Ketua penyunting majalah kampus Warta Nommensen.
1998-200, 2004-2006, 2010-2012 Anggota redaksi Jurnal Ilmiah.
1999-2001 Ketua Jurusan Administrasi Bisnis FISIP UHN.
2001-206 Ketua Senat UHN.
2011-2012 Ketua Gugus Jaminan Mutu (GJM) FISIP UHN.
2009-sekarang Tim Implementasi Sustainable Capacity Building for Decentralization (SCBD) Prokect Asia Development Bank Loan 1964-INO untuk Kabupaten Kediri, Tapanuli Tengah dan Karo.
Penguji program S-3 di Unimed dan Universitas Terbuka.

PRESTASI

1. Juara pertama lomba karya tulis ilmiah kerja sama LIPI, Kompas, Indosat dan Republika dan sejumlah piagam penghargaan lain.
2. Pernah menulis di surat kabar nasional, surat kabar lokal di Jawa Barat dan sejumlah surat kabar lokal di Sumatera Utara.
3. Menulis di The Journal of Business Administration Online, jurnal internasional terakreditasi, Vol 5 No 1 tahun 2006Accredited AACSB International, Arkansas Tech University.
2006-2007: Outsourcing di PKP2A I-LAN Bandung dengan fokus kajian pelayanan publik di kabupaten/kota di Indonesia. Hasil kajian ditulis menjadi beberapa buku.

BUKU-BUKU

1. Kajian Kebijakan Good Local Governance (GLG) dalam Optimalisasi Pelayanan Publik: Suatu Evaluasi Implementasi Pelayanan Terpadu di Kabupaten/Kota di Indonesia. Diterbitan PKP2A I-LAN, ISBN, tahun 2007.
2. Perumusan Kebijakan Penetapan Indeks Pelayanan Publik bagi Kecamatan, diterbitkan PKP2A I-LAN, ISBN.
3. Manajemen Pelayanan Publik

PENDIDIKAN

1985 Sarjana Muda (BBA) dari Universitas HKBP Nommensen (UHN)
1986 Sarjana Administrasi Bisnis dari UHN
1995 Magister Administrasi Bisnis dari Universitas Padjajaran Bandung
2010 Doktor Ilmu Administrasi
2010 Menerima SK guru besar dari Mendiknas

Trik Menghadapi Konsumen

Dalam menangani berbagai konsumen yang hendak membeli rumah, terdapat berbagai pertanyaan penting yang diajukan oleh calon pembeli. Berikut pembahasa dari segi Investasi atau KPR.
Calon pembeli bisa saja bertanya, jika membeli rumah dengan cara kredit tentu saja harganya menjadi lebih mahal di bandingkan cash nya. Apakah masih menguntungkan membeli rumah secara kredit di banding beli cash?
Menjawab pertanyaan ini, para pemasar harus bisa memberi argumen yang meyakinkan dan memuaskan keingintahuan konsumen. Jawab saja, masih sangat menguntungkan. Berikan ilustrasi singkat. Misalnya, harga cash rumah 210 juta rupiah. Perhitungan mengambil rumah dengan KPR plus DP rumah harganya menjadi 312 juta rupiah, dengan asumsi bunga 12 persen, setelah 10 tahun.

Secara garis besar harga rumah yang dibayarkan naik menjadi 60 persen. Namun jika melihat statistik kenaikan harga rumah rata-rata di Indonesia berskisar antara 7 hingga 10 persen per tahun. Maka harga rumah menjadi 450 juta setelah 10 tahun. Masih untung 142 juta.

Pertanyaan berikutnya, mana yang lebih menguntungkan mengambil kredit yang lebih panjang atau lebih cepat? Jawablah, kredit yang lebih Panjang. (bbs)

Aku Menyebutnya…

Ester Pandiangan

Aku menyebutnya semesta, karena dia mempunyai semua. Sampai-sampai aku sempat berpikir mungkin Yang Maha Kuasa teledor menempatkan begitu banyak talenta kepadanya atau mungkin saja dia air susu Hera yang memuncrat? Aku menyebutnya gravitasi, karena semua yang bernafas, bergerak, berputar, menjadikan dia sebagai pusat dan poros. Berada di koordinat dan beritme ya karena dia.

Aku menyebutnya bilangan bulat karena banyak yang berpendapat, semesta dan gravitasi adalah dua kata yang berlebihan. Makanya aku memilih bilangan bulat. Walaupun sama-sama menunjukkan keutuhan setidaknya lebih manusiawi.
Aku menggambarkan matanya seumpama pertigaan dari bulan purnama.Yang membentuk lengkung sempurna seperti bulan sabit. Lengkap dengan kulit seputih susu dan pipi kemerahan tertampar sinar matahari.
Tapi apa mungkin matahari menyinari matahari? Karena aku juga menyebutnya bias surya. Bagaimana rembesan matahari pagi memasuki celah-celah jendela kamarmu dan menimpa sebentuk wajah yang selalu memimpikan rupa itu-itu saja.
Bercerita tentang tawanya mengingatkan aku pada perasaan petani desa ketika menerima kabar panen padinya sukses besar. Ceria, lepas, selega tarikan nafas
pertamamu ketika terbangun dari mimpi buruk.

Kurasa aku tak perlu berpanjang lebar melukis tentang senyumnya. Satu-satunya garis yang dapat menciptakan lengkung tanpa kebosanan. Saking sempurnanya sosok sebuah dia, aku mengira dia adalah bintang jatuh yang terlambat kembali ke langit lalu menetap di bumi.

Sebenarnya dia adalah manusia pada umumnya. Seperti kau dan juga aku. Tapi buatku dia begitu luar biasa. Tidak ada kata-kata yang bisa menerjemahkan dia. Alfabet pun tak sanggup merantai satu demi satu untuk menjelaskan sebuah dia.
Aku begitu memujanya. Membanggakannya. Sampai-sampai setiap berjumpa dengannya aku selalu menyumpah dalam hati, kenapa sebuah kesempurnaan seperti dia bisa tersesat di tempat yang penuh dengan kata biasa seperti ini.
Seorang teman yang melihat obsesiku, geleng-geleng sambil bekata, “Hei, sadarlah! Kau terlalu berlebihan menggambarkan dia! Mungkin otak pujanggamu terlalu bermain. Atau pikiranmu sudah penuh terjejali dengan syair-syair picisan yang selalu kau baca sebelum tidur. Membuat kau tidak bisa membedakan lagi yang mana Romeo, Sukab, Samsul Bahri sampai Edward manusia vampir yang digilai remaja-remaja perempuan berpikiran sempit!”
Aku sedikit tersinggung. Kenapa perasaanku dipertanyakan. Apa aku salah mendeskripsikan dia seperti itu. Bukannya yang kuuraikan tadi adalah memang benar-benar rupa dia di mataku. Jadi aku salah?
“Aku tidak kenal Edward karena aku tidak membaca Stephenie Meyer. Aku hanya menikmati Kahlil Gibran dengan kesedihan cintanya, Seno Gumira Ajidarma dengan kegigihannya, Putu Wijaya dengan kepolosannya dan Djenar dengan ketelanjangannya,” aku membela diri.

“Yah, oke…oke…seseorang yang dilanda api asmara memang tak bisa lagi memandang dengan seimbang. Ada katarak yang menutup matanya ha-ha-ha….”
“Kau boleh tertawa tapi biarkan aku tenang dengan imajinasiku tentang dia!”
“Baiklah, selamat bermimpi dan semoga lekas-lekas bangun!”
Dan aku menelan nasehat-nasehatnya untuk memuntahkannya. Lantas, kembali ke rutinitasku. Duduk di altar pemujaanku dengan dia sebagai dewanya.

***
Pernahkah aku bercerita tentang bagian terbaik dari mencintainya? Jawabannya adalah banyak. Berjuta bahkan berlaksa. Tidak terbendung dan tidak terbatas. Menceritakan tentang dia membutuhkan bermilyar kata sedang mencintai dia hanya membutuhkan satu saja. Tidak seperti yang dikatakan Dorothy untuk Maguire atau alasan yang disebutkan Mike kepada Abby, “I just love you…” Bernafas. Biarkan dia menarik nafas maka aku sudah mencintainya.
Sejujurnya, tak ada yang baik ataupun terbaik. Karena semua tentang dia adalah keajaiban. Sepetik keajaiban yang akan membawa aku pada keajaiban-keajaiban lainnya. Keajaiban pertama adalah saat dia tersenyum. Tertawa dan menyapaku dengan sapaan khasnya, “Sudah makan siang?”

Aku sangat sadar. Benar-benar sadar. Kalau tak hanya kepadaku saja, dia menanyakan ini kepada semua orang. Semua yang ada di kantor ini. Namun tetap saja dendang suaranya seperti bel. Lonceng gereja yang berdentang. Lonceng tahun baru yang melentang. Yang memberitahukan hari baru akan dimulai, masa yang baru akan segera dilakoni. Semua tersenyum, semua bahagia karena ada harapan baru. Ya, aku selalu mendapat harapan baru setiap kali dia menanyakan itu padaku.
Keajaiban pertama menetas, keajaiban-keajaiban selanjutnya beranak-pinak, melahirkan itik-itik keajaiban yang kian menit tumbuh memega-mega. Jangan cerita, jika mendengar tegukan air yang mengairi mulut dan kerongkongannya. Tahukah, hanya dengan itu saja dia sudah menciptakan gempa 5 skala ritcher di pualam seorang gadis?

***
Bagaimana sebuah cerita bisa memiliki akhir bila tiada pernah memiliki awalan. Bisakah sebuah kalimat memiliki tanda titik jika terlampau banyak koma pencipta jeda di sela-sela katanya? Sejak awal aku sudah tahu, cinta ini tak akan mungkin terbalas. Setidaknya di kehidupan sekarang. Bukan karena dia sempurna sedang aku jauh dari sempurna. Juga bukan karena sudra dilarang mencintai seorang brahmana atau manusia dilarang bersatu dengan malaikat–seperti Meg Ryan dan Nicholas Cage. Bukan itu!

Masalahnya dia sudah menemukan kesempurnaan yang lain. Ibarat pecahan dari sebuah kepingan, dia sudah menemukan retakan yang menyempurnakannya, membuat dia utuh. Bukan lagi serpihan mengambang mencari bagiannya yang hilang, juga bukan pecahan dan desimal melainkan bulat. Utuh. Seumpama yin yang.
***
Tidak pernah ada dua bulan yang menjelajah di malam yang sama. Lantas, mengapa tidak dikerat saja bulan yang satunya lalu disimpan dalam saku. Atau gunting membentuk bintang dan biarkan bulan gemintang tetap menjadi ratu malam. Jangan terlampau bersetia kepada tiramisu yang manis menggeligih. Tak ada salahnya menikmati pisang goreng bersama secangkir kopi pahit di sore hari.
Akhirnya, jika yang tersirat tak akan pernah cukup sehingga semua harus tersurat, bisa tidak aku meminta secuil hatimu untuk aku rekatkan pada nganga di hatiku? Hanya sepipih saja. Jadikan aku pengganjal. Selingan. Sebagai dessert bukan main course. Sebagai kopi pahit bukan air putih.

Datang saja bila kau sedang tak ingin berjalan lurus tetapi berbelok sekadar menapaki jalan setapak sembari menari tanpa beban. Sebuah pintu akan selalu terbuka dengan teras yang sudah disapu bersih. Ada dua kursi, meja, lengkap dengan keripik ubi sebagai camilan mengulum senja.
Dan dia pun menjawab, “Laki-laki yang memegang dua kuntum sama dengan sungai yang bercerabang……..” Membuat aku memaku tanya dalam hati, mampukah aku melihat jejak iblis dalam rupa malaikatnya?
***
Candu. Aku menyebutnya candu, karena aku menyublim menjadi pemadat sejak mengenalnya dan menjadi sakau bila tidak ada dia. Dan sekarang, aku sedang menjalani rehabilitas untuk sakitku ini.
***
Medan, 2007-2010

Siaga di Jalanan Medan

Ramadhan Batubara

Ceritanya beberapa hari ini ada yang berbeda di Kota Medan. Tidak hanya satu dua orang yang merasakannya. Saya pastikan nyaris seluruh warga Medan merasakan hal itu. Ya, setiap kepala seakan dipaksa untuk terus siaga ketika berada di jalanan.

Setidaknya, bagi saya soal siaga di jalanan makin bertambah. Bayangkan saja, ketika turun ke jalan, berarti saya mengendarai sepeda motor yang saya beri nama Lena. Nah, kondisi Lena kini makin parah. Maklumlah, Lena bukan lagi gadis belia yang masih lincah. Dia sudah tua. Geraknya makin lambat. Ketika roda berputar, dia terasa mau lepas. Belum laga suara rantai dan mesin yang terlalu cepat panas. Ujung-ujungnya, kecepatan yang bisa saya pacu hanya empat puluh kilometer per jam; ini kecepatan maksimal.

Tapi sudahlah, kata orang, nikmatilah apa yang ada. Seperti kata dan sikap Putu Wijaya: berangkat dari yang ada. Maka, dalam sepekan terakhir,  saya pun berangkat dengan menunggangi Lena. Masalahnya, meski sudah saya nikmati, tetap saja saya harus siaga. Jalanan di Kota Medan tampaknya tak bersahabat dengan Lena. Di setiap sudut, jalanan nyaris memberikan hambatan bagi dia. Ya, ketika memasuki jalan kecil, polisi tidur menjadi musuh utama. Bahkan – seperti di Jalan Eka Sama di Kelurahan Gedung Johor – polisi tidur hadir nyaris di setiap lima meter. Tak pelak, Lena menjerit. Cengkeraman rem dan respon gas yang dimilikinya begitu menyedihkan. Lalu, ketika memasuki jalan protokol atawa jalan besar, Lena juga tak bisa bersaing. Kecepatannya menjadi masalah bagi pengendara lain. Bolak-balik kami diklakson. Tentu, ini bukan karena kami ugal-ugalan, tapi karena kami terlalu ‘sopan’. Ya, kecepatan kami membuat pengendara lain terhambat. Orang-orang yang bergegas marah, laju kami dianggap terlalu lambat. Tambah parah lagi, jalan besar juga tidak halus. Aspal bergelombang dan berlubang jadikan masalah makin parah. Lena terpaksa berbelok menghindari gelombang dan lubang. Saat berbelok ini, kendaraan lain tambah terganggu kan?

Kerepotan yang paling nyata adalah ketika Lena ingin menyalip. Kemampuan behitu minim. Ya, belum lagi setengah badan angkutan kota terlewati, ada pula kendaraan dari arah berlawanan. Terpaksa Lena mengalah, mengurangi kecepatan dan balik sembunyi di belakang angkutan kota. Parahnya, angkutan kota sudah biasa berbelok mendadak ketika ada penumpang yang turun atau ada yang akan naik. Tak pelak, Lena terdiam. Berhenti tepat di belakang angkutan tadi.
Tapi sudahlah, nikmati saja apa yang ada. Bukankah Lena sudah begitu banyak membantu saya. Kalau soal siaga, setiap pengendara memang wajib siaga ketika melaju di jalanan.

Menariknya, belakangan ini tidak pengendara saja yang siaga. Mereka yang berada di pinggir jalan juga wajib siaga. Oh, ini bukan soal Afriani dengan Xenia mautnya atau Marini dengan Avanza sialnya. Ini tentang aksi demonstrasi belakangan ini. Perhatikanlah atau kenanglah Medan beberapa hari ini. Di beberapa tempat ada sekian aparat keamanan yang bersiaga. Mereka bukan polisi lalu lintas atau anggota Dinas Perhubungan yang memang lazim siaga di pinggir jalan. Meraka adalah brimob dan bahkan tentara.

Soal siaga yang mereka tunjukan tampak jelas di sekitar kantor gubernur dan DPRD Sumut, kantor walikota dan DPRD Medan, Bandara Polinia, dan sebagainya. Di Medan Amplas, mereka bersiaga di depan gerbang tol Balmerah. Bahkan, mereka membuat tenda; tepat di bawah jembatan layang. Suasana seakan mau perang saja.

Kesiagaan yang mereka lakukan berangkat dari status Kota Medan yang menjadi Siaga Satu. Begitulah, keberadaan aksi menentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memang wajib diamankan. Apalagi, soal siaga ini langsung diperintahkan Markas Besar Polri kepada Polisi Daerah Sumatera Utara melalui telegram rahasia.

Itulah sebab, wali kota Medan langsung mengintruksi bawahannya untuk siaga juga. “Kalau memang Siaga I sudah menjadi keputusan di Kota Medan, kami dari Pemko Medan akan mengimbau mulai dari kepala lingkungan, lurah, kecamatan dan aparat pemerintah di Kota Medan, saya perintahkan untuk secara bersama-sama menjaga kondusifitas kota,” katanya.

Lalu, apa yang dilakukan warga kota? Jawabnya, ya siaga juga. Seperti saya dan Lena, yang wajib siaga agar tak jadi korban jalanan. Begitupun warga lain, meski memiliki sepeda motor atau mobil yang kemampuannya jauh lebih baik dari Lena, mereka juga wajib siaga untuk menghindari peristiwa tidak menyenangkan. Coba bayangkan ketika mereka tetap cuek dan lewat di wilayah Jalan Perintis Kemerdekaan pada Jumat malam lalu. Atau, melintasi kawasan Kampus USU di malam yang sama.  Wah, bisa jadi korban massa kan? Contohnya, seorang politisi dari Jakarta sana. Dia tidak siaga dan tidak memetakan demonstrasi di Medan, dia pun jadi korban ketika melintas di Jalan S Parman Jumat siang lalu bukan?
Begitulah, soal siaga memang bukan hanya karena status Siaga I. Jalanan di Medan memang wajib disiagai. Aspal bergelombang, polisi tidur, jalan berlubang, hingga lalu lintas yang cenderung ‘suka-suka’ adalah buktinya. Tapi yang harus diingat, siaga bukan berarti kita tidak turun ke jalan bukan? Maka, berjalanlah agar kehidupan di Medan tetap berputar. Itu saja. (*)

My Week With Marilyn

Sepekan Bersama Sang Legenda Diva

Saat itu, musim panas 1956, Marilyn Monroe (Michelle Williams) sedang berada di Inggris dalam rangka syuting film ‘’The Prince & The Showgirl’’ yang ia bintangi bersama Laurence Olivier (Kenneth Branagh). Tak disangka, di saat itu pula terjadi kisah asmara singkat antara Marilyn dan seorang pemuda Inggris yang bekerja di tim produksi film ini.

Sebenarnya, selain syuting, Marilyn Monroe juga memanfaatkan kunjungan ini untuk berbulan madu bersama Arthur Miller (Dougray Scott). Colin Clark (Eddie Redmayne) saat itu ditugaskan untuk menjadi asisten Marilyn Monroe. Ketika Arthur Miller meninggalkan Inggris, Colin Clark jadi semakin dekat pada Marilyn. Mereka berdua mulai sering menghabiskan waktu bersama dan saat itulah tumbuh rasa lain di hati Colin.

Sepekan penuh mereka berdua bersama dan tak terasa hubungan mereka berdua semakin dekat. Marilyn senang bisa meninggalkan semua urusan pekerjaan dan menikmati keindahan alam Inggris sementara di saat yang sama Colin mulai kehilangan kendali dan membiarkan dirinya masuk semakin dalam ke kehidupan Marilyn Monroe. Colin tahu ia tak mungkin bisa bersama Marilyn namun menghindar bukanlah sesuatu yang gampang dilakukan.
Tidak perlu lahir pada era 50an untuk mengenal sosok aktris legendaris ini. Ya, Marilyn Monroe itu abadi, sosok kontroversialnya yang sering diidentikan sebagai simbol sebuah keseksian sekaligus kerapuhan abadi itu sudah banyak memberikan inspirasi dan tidak akan pernah habis-habisnya dibicarakan dunia meskipun raga cantiknya telah tiada sejak 40 tahun lalu.

Dan, ‘’My Week With Marilyn’’, biopik arahan Simon Curtis yang naskahnya diadaptasi Adrian Hodges  dari dua buku milik Colin Clark ini mencoba menghadirkan cerita lain Monroe (Michelle Williams) sewaktu ia melakukan proses syuting “The Prince and the Showgirl” di London bersama lawan mainnya, Sir Laurence Olivier (Kenneth Branagh) aktor sekaligus sineas kawakan Inggris, termasuk kisah romansa satu minggunya dengan Colin Clark (Eddie Redmayne) sendiri yang sewaktu itu masih berusia 23 tahun dan bekerja sebagai asisten ketiga sutradara.

Ya, seperti judulnya ini memang cerita tentang superstar Marilyn Monroe, tidak keselurhan hidupnya memang, hanya sebagian kecil harinya di Inggris pada musim panas 1956. Tidak ada plot yang benar-benar kuat di sepanjang kurang lebih 100 menit. Meskipun dinarasikan dari pengalaman dan sudut pandang Colin Clark di sepanjang film, tapi otomatis Clark hanya seperti sebuah satelit kecil yang setia mengelilingi sebuah bintang besar dan ia sendiri tidak pernah bisa benar-benar mencapainya.

‘’My Week With Marilyn’’ mungkin seklias terlihat seperti behind the scene dari “The Prince and the Showgirl” yang terlupakan itu, tapi perlahanan Simon Curtis membawa kita untuk lebih dekat mengenal Monroe, melihat bagaimana sebenarnya pemilik nama asli Norma Jeane di balik fisiknya yang mempesona dengan kelakukan yang seenaknya sendiri di kala syuting itu ternyata hanya seorang wanita 30 tahun yang rapuh, bingung dan kesepian, serta bagaimana kepopulernnya yang luar biasa sudah memakan kebahagiannnya hidup-hidup, termasuk kehidupan percintaannya. (net/jpnn)

Akting Sempurna Michelle Williams

Tentu saja dibutuhkan aktris yang kuat untuk memerankan karakter Monroe yang tidak hanya mempesona, namun juga kompleks dan Michelle Williams telah melakukan tugasnya itu dengan nyaris sempurna. Mungkin saja Williams tidak terlalu mirip Monroe secara fisik, tapi siapa memang yang bisa?

Dengan performa akting sehebat itu, Williams sudah sukses menghidupkan kembali sang bintang dari kuburnya, lebih dari sekedar gadis pirang berkulit putih pucat dengan lipstik merah tebal menghiasi bibirnya. Lihat bagaimana ia berbicara, gestur tubuhnya, keseksian dan kegenitannya, bahkan tawanya pun sudah lebih dari cukup untuk menghilangan segala ketidakmiripan fisik yang ada. Williams ada bintangnya di sini, sukses membuat penonton laki-lakinya bertekuk lutut, tapi ia tidak sendiri, ada Kenneth Branagh yang juga tampil brilian sebagai Sir Laurence Olivier, aktor sekaligus sutradara besar Inggris yang memiliki hubungan benci-kagum dengan Marilyn Monroe.

Catatan yang ditulis Colin Clark dalam ‘’The Prince’’, ‘’The Showgirl and Me’’, dan ‘’My Week with Marilyn’’ mungkin hanya merangkum seminggu pengalaman tak terlupakannya bersama sang mega bintang, tapi ada begitu banyak kedekatan dan keintiman yang ditawarkan Simon Curtis dengan Marilyn Monroe, melihat bagaimana ia berakting, bagaimana ia membuat Colin Clark jatuh cinta setengan mati dengannya.

Ya, bagi yang mungkin bukan fans berat Marilyn, tapi melihat bagaimana ia dalam wujud Michelle Williams tampil begitu mempesona, sulit rasanya tidak cemburu ketika ia mengucapkan “I love you” pada Colin dan kemudian menciumnya, tidak peduli apakah ia benar-benar tulus melakukannya atau tidak. (net/jpnn)

Polisi Diduga Tembakkan Peluru Tajam

Proyektil Ditemukan di Nommensen

MEDAN- Aksi unjuk rasa yang berlangsung di sejumlah titik sejak Jumat (30/3) pagi hingga Sabtu (31/3) dini hari menelan sejumlah korban di pihak mahasiswa. Selain kerusakan fasilitas umum dan korban luka akibat bentrok massa pengunjuk rasa melawan polisi di kampus Universitas HKBP Nommensen (UHN) dan pintu I Universitas Sumatera Utara (USU), paling mengejutkan adalah temuan proyektil yang diduga bekas tembakan peluru tajam. Kabid Humas Poldasu Kombes Raden Heru Prakoso yang dikonfirmasi Sumut Pos, Sabtu (31/3) malam, tidak memberikan jawaban atas temuan benda tersebut. Heru tidak merespons telepon dan pesan singkat yang dikirimkan tadi malam.
Temuan proyektil merupakan hasil temuan seusai kericuhan antara massa mahasiswa UHN di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, dengan polisi. Saat itu pihak kampus melakukan aksi bersih-bersih di sekitar lokasi mahasiswanya bertahan. Pada waktu  membersihkan lokasi tersebut ditemukanlah enam butir selongsong peluru berbahan kuningan dengan Kode TK PIN 5,56. Amatan Sumut Pos, ratusan mahasiswa Front Mahasiswa Sumatera Utara melakukan aksi bakar ban dan memblokir jalan didepan kampus ITM Medan di Jalan Gedung Arca, Sabtu malam.

Amru Siregar, alumni Fakultas Hukum UHN, yang menemukan selongsong tersebut di depan pintu keluar kampus, menduga barang itu berasal dari peluru tajam milik Sat Brimob.  “Saya temukan di sini, banyak lagi di dalam berserakan,” katanya yang diamini satpam kampus, Sabtu dini hari (31).

Wartawan Sumut Pos sempat mengabadikan proyektil temuan tersebut. Tercatat, aksi bentrok itu mengakibatkan tiga mahasiswa menjadi korban penembakan. Sempat beredar kabar ada mahasiswa yang mengalami kritis akibat tertembak. Namun hingga kemarin malam belum diketahui kebenarannya. Dari penelusuran Sumut Pos kemarin, tiga dari tujuh mahasiswa UHN yang tertembak peluru karet polisi, Sabtu (31/3) kembali ke rumah mereka. Ketiga mahasiswa yang terluka aksi unjuk rasa yang berujung ricuh itu adalah Andika Nainggolan (25), Beni Panjaitan (22), Irianto Pardede (18).

Ketiga mahasiswa Fakultas Hukum UHN itu sempat dirawat  di ruang 808 Lantai VIII RSU Dr Pirngadi Medan. Irianto yang ditemui wartawan sebelum diperbolehkan pulang oleh pihak RS mengatakan dirinya tertembak peluru karet di bagian kaki. “Saya kena di tumit kiri, tapi cuma luka ringan. Kami pasti turun lagi kalau pemerintah berusaha menaikkan harga BBM lagi,” katanya. Dia mengungkapkan ada lima lagi rekannya yang terluka. “Menurut beberapa teman kelima teman itu sudah pulang,” tukasnya.

Temuan proyektil yang diduga peluru tajam itu dikatakan pihak UHN sebagai informasi yang masih sumir. Staf Humas UHN Bonifasius Tambunan membantah kebenaran proyektil hasil temuan tersebut. ‘’Itu masih info satu pihak saja. Kami belum telusuri lebih jauh,’’ ujar pria yang akrab disapa Boni ini.

Kericuhan pengunjuk rasa melawan petugas juga pecah di sekitar kampus Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya di Jalan Dr Mansyur depan pintu I, Sabtu (31/3) dini hari. Akibatnya sejumlah fasilitas umum rusak seperti rambu lalu-lintas dan pembatas jalan. Sebuah restoran fast food juga ikut jadi sasaran. Namun aksi anarkis itu sulit terbendung polisi. Massa yang memblokir ruas jalan Dr Mansyur dan simpang kampus membuat pengendara mencari jalan alternatif.

Berdasarkan pantauan Sumut Pos, Sabtu (31/3) dini hari, suasana tempat tersebut masih terasa mencekam. Ratusan mahasiswa bersenjata batu dan kayu berjaga-jaga di sekitar lokasi. Mereka menghancurkan plang dan rambu lalu-lintas untuk memblokir jalan. Massa juga merusak taman pembatas trotoar jalan. Baru pada sekitar pukul 03.00 WIB, petugas polisi datang membubarkan massa. Sempat terjadi bentrok namun polisi gagal memukul mundur massa. Melihat situasi yang kurang menguntungkan polisi menempuh jalan dialog dengan perwakilan mahasiswa. Setelah tercapai kesepakatan mahasiswa bersedia membubarkan diri.

Pada pagi harinya, sejumlah petugas D2PK dan petugas kebersihan membersihkan pecahan batu, botol, dan pembakaran ban yang membuat jalan sekitar hitam dan berdebu pada pagi harinya. Warga sekitar mengaku mereka sangat terganggu dengan kerusakan sejumlah traffic lights. Kemacetan tak terhindarkan akibat tidak berfungsinya pengatur lampu jalan. “Macetlah jadinya tadi. Orang yang mau lewat pun suka-suka,” ujar Tarigan, warga Setia Budi, dengan nada kesal.

Sementara itu, sekitar 200 pengunjuk rasa yang tergabung dalam Kongres Rakyat Sumatera Utara (KRSU) berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di bundaran Gatot Subroto, Medan, Sabtu (31/3. Mereka menolak kenaikan harga BBM berapapun besarnya. Pengunjuk rasa berkumpul di Lapangan Merdeka kemudian bergerak ke Bundaran Gatot Subroto. Mereka berorasi sambil membakar ban bekas, sehingga memacetkan jalan. Arus lalu-lintas terpaksa dialihkan ke Jalan Adam Malik dan Jalan S. Parman.

“Perjuangan kami belum selesai. Pemerintah hanya menunda bukan membatalkan. Jadi hari ini bukan titik akhir, tetapi titik awal perlawanan,” kata pengunjuk rasa. Mereka juga menuntut polisi membebaskan 10 pengunjuk rasa yang pada Jumat (30/3) malam hingga Sabtu (31/3) pagi masih ditahan di Poldasu. “Kami berupaya  para pengunjuk rasa dibebaskan,” kata Benget Silintonga, anggota Tim Advokasi KRSU.

Turut bergabung dengan KRSU adalah mahasiswa yang mendatangi Kapoldasu Irjen Wijsnu Amat Sastro dengan tuntutan serupa. Menjawab aksi solidaritas mahasiswa dan massa KRSU itu, Wisjnu mengatakan pengunjuk rasa tetap harus diperiksa sebelum dipulangkan. Akhirnya pihak polisi membebaskan 10 pengunjuk rasa pada Sabtu (31/3) petang. Mereka dijemput Pembantu Rektor UHN dan orangtua masing-masing. Kabid Humas Poldasu Kombes Raden Heru Prakoso menjelaskan polisi sudah memeriksa dan meminta keterangan 10 pengunjuk rasa itu. Mereka yang terdiri dari 6 mahasiswa dan 4 warga tersebut diberikan pengertian oleh polisi.

Aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah titik menjelang voting kenaikan harga di DPR, Jumat (30/3) malam, sempat
memaksa pemilik toko elektronik di kawasan bundaran Gatot Subroto menutup usahanya. Massa sempat melakukan sweeping dan meminta pemilik toko menutup usaha mereka sebagai bagian dari solidaritas mendukung aksi penolakan rencana kenaikan BBM.

Sementara itu, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Sumatera Utara melakukan aksi bakar ban dan memblokir jalan di depan kampus ITM Medan di Jalan Gedung Arca, Sabtu (31/3) malam. Aksi juga sempat diwarnai dengan memecahkan lampu rambu lalu lintas di Simpang Jalan HM Joni saat sedang berlangsung aksi. (gus/jon)

SBY Curhat Lagi

Yusril Gugat Pasal 7 Ayat 6A

Prediksi Ahmad Muzani dari Partai Gerindra tentang kelemahan pasal 7 UU APBN bakal mengusik publik untuk  melakukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) hanya selang belasan jam kemudian dijawab Yusril Ihza Mahendra  yang menyatakan akan mengajukan uji materi ke MK. Mantan Menteri Hukum dan HAM tersebut mengatakan, dirinya akan mengajukan uji materi ke MK terkait pasal 7 ayat 6a yang baru saja disahkan rapat paripurna DPR RI, Sabtu dini hari (31/3). Yusril tak sendiri, dalam gugatan nanti mantan Mensesneg ini akan membawa serta tukang ojek untuk bersama-sama melakukan gugatan.

“Saya sedang siapkan draf uji formil dan materil ke MK. Tapi Senin (2/4) belum bisa didaftarkan ke MK karena harus  menunggu perubahan UU APBN tersebut disahkan dan diundangkan lebih dulu oleh Presiden,” kata Yusril di Jakarta, Sabtu  (30/3). Ia menilai, pasal 7 ayat 6a itu bertentangan dengan UUD 1945.

Menurut Yusril, pengujian uji materi tidak hanya materil karena bertentangan dengan  pasal 33 dan pasal 28D ayat 1 UUD 1945 tapi juga formil karena menabrak syarat-syarat formil pembentukan UU sebagaimana  diatur dalam UU 12/2011. “Norma pasal 7 ayat 6a selain mengabaikan kedaulatan rakyat dalam menetapkan APBN, juga mengabaikan asas kepastian  hukum dan keadilan, sehingga potensial dibatalkan MK,” kata Yusril.
“Saya sudah telaah bahwa pasal 7 ayat 6a menabrak pasal 33 UUD 1945 seperti ditafsirkan MK,” daia menambahkan.

Menurut guru besar ilmu hukum tata negara itu, setiap Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki posisi hukum untuk menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi (MK). Karenanya Yusril mengajak pihak-pihak yang peduli untuk ikut mengajukan gugatan. “Boleh aja. Siapa saja rakyat pengguna BBM bersubsidi punya legal standing, entah ibu-ibu, tukang ojek, pemilik warung makan, boleh saja,” kata Yusril saat dihubungi JPNN (grup Sumut Pos) , Sabtu (31/3).
Yusril menambahkan, sejumlah pihak sudah bersedia bergabung. Di antaranya pakar tata negara Irman Putrasidin dan Margarito Kamis, serta praktisi hukum Maqdir Ismail dan Teguh Samudra.  Sementara Profesor HAS Natabaya, sebut Yusril, juga sudah menyatakan kesediannya sebagai ahli.

“Saya bertindak sebagai lawyer atas kuasa beberapa orang rakyat pengguna BBM bersubsidi yang hak-hak konstitusionalnya dirugikan dengan Pasal 7 ayat 6 dan 6 huruf a UU APBN Perubahan 2012. Dengan demikian mereka punya legal standing untuk ajukan perkara ini ke MK,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Pasal 7ayat 6 UU APBN P 2012 berbunyi, harga jual BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Sementara dalam Pasal 7 ayat 6 huruf a disebutkan,  dalam hal harga rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) dalam kurun waktu berjalan selama enam bulan mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari 15 persen maka pemerintah diberikan kewenangan untuk melakukan kewenangan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya.
Dalam Rapat Paripurna DPR, yang berlangsung hingga Sabtu dini hari (31/3), DPR menyetujui usulan perubahan UU 22/2011  pasal 7 ayat 6 sehingga menjadi pasal 7 ayat 6a sehingga BBM akan naik bila harga minyak mentah Indonesia turun.
Fraksi-fraksi pendukung perubahan pasal 7 ayat 6 itu adalah Fraksi Partai Demokrat, Golkar, PPP, PAN dan PKB. Sementara  empat fraksi lainnya seperti Fraksi PDIP, PKS, Gerindra dan Hanura menolak perubahan pasal 7 ayat 6.

SBY Curhat

Di sisi lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kembali menerangkan alasan pemerintah perlu menaikan BBM, usai rapat kabinet di Istana Negara, Sabtu (31/3) malam. Nyaris tidak ada hal yang baru dari pernyataan Presiden, karena data yang disampaikan telah berulang kali dipaparkan pada pernyataan resmi sebelumnya. Seperti kondisi harga minyak dalam negeri yang selalu bergantung pada harga minyak dunia dan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun dalam kesempatan kali ini, Presiden SBY menyampaikan curahan hatinya, mengingat niat baik pemerintah guna menyelamatkan perekonomian nasional, ternyata sering tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Padahal bila anggaran tidak disesuaikan, maka sasaran-sasaran ekonomi yang ditetapkan sebelumnya, tidak akan tercapai. Defisit anggaran pun akan menjadi lebih besar, sehingga kondisi ekonomi tidak sehat dan merugikan rakyat.
“Saya selalu mengikuti protes dari banyak kalangan. Yang sayangnya, saya menilai sering kurang dipahami pemikiran pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM,” kata Presiden SBY.

Diakui Presiden, penyesuaian harga BBM yang diwacanakan pemerintah memang sarat nuansa politik. Bahkan sering kali dikaitkan dengan politik untuk 2014. Padahal katanya, pandangan tersebut sangat salah. “Kalau sudah terlalu politis, maka sering pembahasan jadi kurang rasional dan kurang obyektif,” sesalnya.

Padahal kata SBY, bukan hanya kali ini saja harga BBM naik. Sejak Indonesia merdeka, sudah terjadi 38 kali harga BBM dinaikan oleh pemerintah. Termasuk pada era reformasi yang dipimpin Alm Presiden Gus Dur dan Megawati Soekarno Putri, dimana terjadi kenaikan BBM sebanyak 8 kali. Sementara di masa pemerintahan SBY, telah terjadi tiga kali kenaikan sekaligus tiga kali pula BBM turun.

“Jadi tidak pernah ada Presiden dan pemerintahan yang dipimpinnya, menaikan BBM tanpa alasan dan pertimbangan. Saya yakin setiap presiden dan pemerintahannya, yang menaikan BBM itu pasti bukan untuk sengsarakan rakyat,” kata SBY.
Presiden SBY pun mengatakan, sering kali dirinya harus dihadapkan pada situasi yang sulit bila sudah menyangkut kebijakan anggaran. Tekanan pada anggaran negara, membuatnya harus mengambil keputusan sulit.

“Ada masanya saya berada pada posisi yang sulit dan tidak mudah. Seringkali pula saya abaikan untung rugi dari sisi politik karena keputusan yang pahit dan tidak populer. Tapi itu (harus diambil) semata-mata untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar,” tegas SBY.(ara/afz/jpnn)

Malam Ini, Slank Menyapa Medan

Slank menggebrak penggemar musik di Medan. Surprise untuk Slankers, sebutan untuk fans Slank diberikan di Lapangan Benteng Medan dalam gawean Galan Mild Art of Party, Minggu (1/4) malam.

“Seperti apa penampilan kita, lihat saja besok, Minggu (1/3) malam. Kita akan memberikan surprise bagi slankers dan masyarakat, salah satunya dengan album I Slank You yang lebih spirit the love sekaligus membuktikan kecintaan padan negeri ini,” kata Kaka vokalis Slank dalam temu pers dengan wartawan di Garuda Plaza Hotel, Sabtu (31/3) siang.

Dikatakan Kaka yang didampingi Bimbim, Ridho, Abdee dan Ivan selama tampil di kota Medan. Selalu mendapatkan euphoria yang sangat memuaskan bagi Slank. “Antusias Medan sangat tertib. Apalagi setelah adanya kejadian panas, pasti butuh siraman rohani dari Slank,” ucap Kaka lagi.

Dengan lagu-lagu yang sudah familiar di telinga mania musik. Syair-syair cinta dan kritik sosial, merupakan gambaran keresahan masyakarat. Satu di antaranya lagu berjudul Seperti Para Koruptor yang sempat mendapat kecaman dari sejumlah pihak yang merasa tersinggung. Tetapi, tembang cinta mereka juga tak bisa dibilang cengeng. Banyak lagunya seperti Kamu Harus Pulang, I Miss You But I Heat You dan lainnya kerap dinyanyikan orang yang sedang jatuh cinta.
Bimbim, sang penabuh drum, tak mau ketinggalan berbicara. Menurutnya, Slank sangat gelisah untuk berkarya. “Setahun saja nggak keluari album, anak Slank pasti panas dingin. Jadi setiap tahunnya, Slank selalu merajut mimpi baru yang sama-sama dikejar. Hal itulah yang membuat Slank selalu bertahan untuk bersama-sama berkarya,” ujarnya dengan tersenyum.

Selain band yang terbentuk 1983 ini, performa Mahadewi, Audiojet dan FDJ Delicious Devina juga akan menaikkan adrenalin dengan lagu dan penampilan terbaik. Sekaligus menghibur masyarakat Medan yang yang diletihkan dengan suguhan unjuk rasa di berbagai tempat.

Mahadewi juga merupakan duo yang juga sedang berada di atas. Lagu-lagu Ayang-Ayangku, Wanita Paling Cantik dan lainnya cukup piawai menghibur. Kemudian, Audiojet. Band ini juga sedang berupaya melebarkan sayapnya di industri musik.
Bahkan, single mereka Semua Ada Seninya dijadikan lagu pilihan dalam seleksi untuk diaransemen ulang di event Art of Party yang dilaksanakan di berbagai kota hingga menghasilkan empat finalis yaitu PRYA, Tenessa, Jazzy Busy dan Vanilla.
Menurut Brand Manager Galan Mild, Edric Chandra event yang mereka helat merupakan wadah menaikkan musik di Sumut karena diyakini daerah ini menyimpan banyak talenta luarbiasa.

“Selain Slank, Mahadewi, Audiojet, FDJ Delizious Devina, di kota lain khususnya saat semifinal juga dimeriahkan Andra and The Backbone, Tipe-X dan beberapa pemusik Ibukota lain,” terangnya.(adl)

Poldasu Diragukan Hadapi Kecurangan

JAKARTA-Banyaknya laporan kecurangan pada Pemilu 2009 lalu, kemungkinan besar akan terulang pada Pemilihan Gubernur Provinsi Sumatera Utara 2013 mendatang. Padahal laporan-laporan tersebut telah disampaikan hingga ke Mabes Polri. Namun meski demikian, dipastikan Sumut memiliki banyak figur yang mampu memimpin masyarakat menuju lebih baik.

Demikian diungkapkan tokoh masyarakat Sumut di Jakarta yang juga merupakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S.Pane kepada koran ini di Jakarta, kemarin. “Melihat dinamika politik yang begitu tinggi di Sumut saat ini, bisa jadi Polda Sumut tidak akan mampu mengatasi kecurangan-kecurangan yang ada nantinya.” Argumen Neta mungkin cukup beralasan. Pasalnya sebagaimana IPW bersama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada 2009 lalu, telah melaporkan tingginya angka kecurangan pemilu ke Mabes Polri. “Mereka (Barekrim Mabes Polri) begitu serius awalnya. Tapi tidak satu pun yang diproses. KPUD seakan-akan kebal hukum. Jadi ini mungkin akan terulang lagi dalam pilkada Sumut. Ini situasi politik kita,”ungkapnya.

Situasi politik dimana ketidakpuasan masyarakat pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), sudah menjadi gejala di seluruh wilayah NKRI. “Sepertinya terhadap laporan-laporan tersebut, polisi tidak mau repot. Karena akan berhadapan dengan partai-partai politik. Akhirnya dibiarkan mengambang sekian lama, hingga masyarakat lama-lama lupa akan hal tersebut.” Untuk itu agar Pilgub Sumut berjalan lancar, ia berharap Polda dan KPUD dapat menjalankan tugas sesuai aturan yang telah ditetapkan. Jangan sampai justru menjadi pemain dan membantu adanya kecurangan-kecurangan.

Demikian juga ia berharap pada calon-calon yang hendak maju. “Kita berharap mereka dapat bermain secara fair.” Ketika ditanya siapa kira-kira tokoh yang tepat memimpin Sumut, Neta tidak mau menyebut nama. Padahal mungkin saja tokoh tersebut cukup layak memimpin dan membawa perubahan di Sumut. Alasannya sederhana, karena ia khawatir belum apa-apa disebut melakukan kampanye. Namun meski demikian, Neta mengakui jika sebenarnya ada cukup banyak tokoh asal Sumut yang layak menjadi pemimpin. Apalagi tokoh asal Sumut banyak yang menjadi figur nasional. “Sumut itu kan Indonesia kecil dan dia (sumut) multi etnis. Karenanya menurut saya, kepala daerah harus punya wawasan nusantara yang mampu mengadopsi semua etnik yang ada,”ungkapnya.

Untuk itu sebagai masukan, Neta berharap masyarakat dapat memilih sosok yang benar-benar mempersatukan. Jangan justru memilih karena imbalan yang belum jelas maksud dan tujuannya. “Kendala utama dalam Pilkada-Pilkada saat ini, bagaimana kita melihat politik transaksional. Artinya, partai politik tidak mau repot sehingga cenderung akhirnya berdagang. Sehingga mengesampingkan kemampuan dari figur-figur yang ada. Ini benar-benar tidak mendidik menurut saya. Makanya janga heran ketika sosok tersebut terpilih, ia tidak lagi loyal terhadap partai. Demikian juga kepada masyarakat yang dipimpinnya. Sebab ia merasa telah membeli untuk menempati jabatan tersebut. Jadi rakyat Sumut harus kritis dalam memilih calon yang tepat,”ungkapnya.

Bicara sosok bakal calon gubsu, Ketua DPN MPI, Meher Ban Shah malah punya kriteria dianggap lebih realistis. Dari kacamata MPI, sosok yang pantas mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat Sumut sebaiknya dari latar belakang PNS atau TNI/Polri. “Mereka paling berpengalaman menjadi abdi negara,” sebut Meher di rumahnya di Komplek Setiabudi Indah, Jumat (30/3).

Bagaimana calon dari kalangan pengusaha? Pria yang acap disapa Ketum ini langsung menyatakan tidak pantas. Menurutnya, kalangan pengusaha tidak mampu menyelami kehidupan rakyat yang mayoritas dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pengusaha diidentikkannya seperti sosok yang berada di dekat makanan yang ditutup tudung saji dan diletakkan di meja. “Berada di luar tudung saji saja, makanan bisa berpindah. Apalagi dia masuk kedalam,” ujarnya berpilosofi.
Meski demikian, Meher tidak mau menyebut kriteria lebih khusus, apalagi menyebut nama. “Saya tidak berwenang. Nanti malah dijadikan arah angin pulak,” katanya memberi alasan.(gir/tms)

Bertemu Pedagang Kaki Lima Asal Jawa Timur

Melihat Lokasi Wisata Selangor, Batu Caves

Saat berkunjung ke Malaysia, maka tidak sah bila melewatkan tempat wisata yang cukup popular di Selangor yaitu Batu Caves. Di sini, Patung Dewa Murugan berwarna keemasan yang merupakan patung Dewa Hindu tertinggi di dunia langsung mencuri perhatian.

Farida Noris Ritonga, Kuala Lumpur

Patung itu makin menarik karena ketinggiannya mencapai 43 meter. Selain itu,  di bagian belakangnya, terdapat 272 anak tangga curam menuju gua di atas bukit kapur yang di dalamnya terdapat kuiln
Kemarin, Sumut Pos beserta rombongan SMK Penerbangan Angkasa Nasional (SPAN) Medan berkunjung ke tempat wisata ini dengan menaiki bus. Lokasi dari penginapan menuju Batu Caves hanya berjarak sekitar 14 km. Untuk mengunjungi kawasan ini, tidak dikenakan biaya. Meski begitu, pada hari biasa, tempat ini tidak begitu ramai oleh wisatawan.

Setibanya di lokasi ini, pengunjung disambut halaman luas dengan ribuan merpati yang beterbangan. Pengunjung juga dapat memberi makan merpati dengan membeli snack yang banyak dijual di lokasi tersebut. Kawasan ini sekitar 80 persennya dihuni oleh umat Hindu, maka tak heran bila para pedagangnya juga kebanyakan umat Hindu.

“Pada bulan kedua mengikuti kalender Hindia atau biasanya pada Februari, diadakan festival Thaipusam sebagai penyucian diri oleh para umat Hindu. Pada festival ini banyak digelar atraksi-atraksi yang aneh seperti orang kesurupan dan bagian anggota tubuhnya dicucuk atau tempeli paku. Saat itu, lokasi Batu Caves sangat padat karena banyak pengunjung dari berbagai negara untuk menyaksikannya,” jelas Azzam selaku pemandu wisata.

Batu Caves memiliki tiga gua utama dan satu gua kecil. Dalam perjalanan ke atas menaiki anak tangga, pemandangan monyet liar berkeliaran sudah menjadi hal biasa. Di sebelah kiri tangga, terdapat gua yang bernama ‘Dark Cave’ sepanjang 2 km yang di dalamnya hidup berbagai jenis hewan aneh. “Hati-hati dengan monyet liar ini, mereka bisa mencuri apapun yang kita bawa,” tambah Azzam.

Namun, tak semua pengunjung mampu melanjutkan perjalanannya hingga naik ke puncak tangga. Sebagian orangtua maupun anak-anak, akan berhenti dipertengahan anak tangga saja karena jarak tempuh yang sangat jauh.
Sesampainya di puncak, terdapat papan tanda ‘No Exercise Beyond This Area’. Ternyata, tanda ini dipasang karena banyak yang menggunakan tangga tersebut sebagai sarana olahraga.

“Bagi para orangtua maupun anak-anak tidak begitu dianjurkan menaiki tangga ini. Batu Caves juga dijaga beberapa pendeta yang beribadah di kuil ini. Biasanya didahi kita akan ditempeli tanda berwarna putih. Bahkan di dalam gua terdapat banyak kelelawar,” terang Azzam lagi.

Saat menginjakkan kaki di gua ini, pengunjung akan merasakan sensasi religius dan suasana yang lembab. Batu-batu curam ke bawah menitikkan air. Di saat musim panas, keadaan di dalam gua tetap basah karena sifat bukit kapur yang menyerap air dan kelembapan. Bau-bau dupa pun menusuk hidung. Pasalnya, pada saat itu umat Hindu sedang beribadah.

Namun, pemandangan unik terlihat di sini. Meski, nuansa rohani sangat terasa dengan banyaknya kuil serta patung yang dicat berwarna-warni, juga terdapat beberapa kios penjual makanan dan souvenir. Bahkan di beberapa bagian kuilnya, bertebaran sampah yang sangat merusak pemandangan. Di sana, Sumut Pos bertemu dengan salah seorang penjaga kios yang berasal dari Jawa Tengah.

“Sudah dua tahun saya buka kios disini. Biasalah buka kios kecil-kecilan. Biasanya setiap hari Kamis dan Jumat pengunjung dari berbagai negara berdatangan. Saat itu, lokasi ini padat bukan main. Dulunya saya kerja di rumah tangga. Tapi nggak enak, sempat bermasalah juga karena paspor saya dipegang majikan. Jadi saya kabur dan ikut teman jualan di sini,” tukas Murni dengan logat Jawa nya.

Dengan membuka kios di lokasi itu, lanjut Murni, paling tidak bisa memenuhi pengeluaran. “Setidaknya kita bisa bebas dan nggak terikat dengan majikan. Lagi pun di sini saya punya banyak kawan biarpun kita beda bangsa. Tapi mereka baik sama saya. Kita manfaatkanlah turis yang datang ke sini. Mereka bisa tawar souvenir yang kita jual. Lumayan jualan disini, nyaman, bisa refreshing juga,” ucapnya.

Tak terasa, waktu sekitar dua jam hanya untuk melihat lokasi ini berjalan begitu cepat. Sumut Pos dan rombongan SPAN harus kembali ke tempat berkumpul karena bus telah menunggu. Tentunya harus menuruni anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit. Kalau tidak cepat, dikhawatirkan jalanan akan macet. Setelah para taruna sudah lengkap, bus pun berjalan menuju hotel di kawasan China Town tempat rombongan menginap. (*)