30 C
Medan
Friday, January 16, 2026
Home Blog Page 13857

Resmi Tersangka, Mantan Wadir Narkoba Sakit Typus

Medan-Mantan Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasu AKBP Apriyanto Basuki Rahmad resmi dinyatakan sebagai tersangka kasus narkotika jenis pil Happy Five. AKBP Aprianto kini masih dirawat di Bunda Thamrin, diduga mengalami trauma dan stres berat, dia menderita penyakit typus.

Setidaknya hal ini diungkapkan Direktur Narkoba Poldasu Kombes Pol Andjar Dewanto,  Kamis (1/3), saat ditemui Sumut Pos di ruang Humas Poldasu. “Sebelum ada pemanggilan pemeriksaan sebagai tersangka, yang bersangkutan sakit, itu kita ketahui setelah adanya pemberitahuan melalui surat kalau yang bersangkutan sakit,” kata Andjar.

Saat disinggung mulai kapan AKBP Apriyanto ditetapkan sebagai tersangka, Andjar yang saat itu bersama Kabid Humas Poldasu Kombes R Heru Prakoso sempat saling tunjuk siapa yang akan memberikan keterangan. Di depan Andjar, Heru mengaku tidak mengetahui adanya gelar perkara dan telah ditetapkannya AKBP Apriyanto sebagai tersangka   “Saya belum ada  terima laporanya,” ucap Heru sambil memandang ke arah Andjar.

Mendengar kata Heru,  Andjar langsung celetuk mengatakan penetapan tersangka atas kasus itu setelah  Rabu (29/2), Direktorat Reserse Narkoba Poldasu yang dipimpinnya melakukan gelar perkara. “Gelarnya kita lakukan dari pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB, yang diikuti oleh intern Poldasu,” ucap Andjar.

Andjar mengatakan telah mengutus anggotanya untuk mengecek ke rumah sakit tersebut, “Kita sudah cek benar beliau lagi sakit dan sedang opname di rumah sakit itu,” kata Andjar.

Menariknya, ketika Sumut Pos mengecek langsung ke RS Bunda Thamrin, AKPB Apriyanto malah dikatakan sudah pulang.  “Bapak mau menjenguk? Pak Afriyanto sudah pulang sekitar pukul 13.00 WIB. Coba langsung hubungi keluarganya saja,” ucap seorang perawat sambil mengatakan kalau AKPB Apriyanto sebelumnya dirawat di ruang 506 lantai V. (mag-5/adl)

Israel-AS Bahas Serangan ke Iran

WASHINGTON– Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak membahas rencana penyerangan ke Iran saat bertemu Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Leon Panetta di Pentangon, Rabu (29/1). Selain membahas penyerangan itu, mereka juga membahas hubungan pertahanan dan sejumlah isu penting, diantaranya perubahan yang terjadi di Timur Tengah, termasuk krisis Suriah.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Pers Pentangon George Little seperti dikutip Xinhua Kamis, (1/3). Little menjelaskan, pertemuan Menhan Panetta dan Menhan Barak ini merupakan pertemuan rutin antara kedua pihak  untuk mengkoordinasikan masalah keamanan antar kedua negara.
Melalui beberapa kunjungan pejabat tinggi termasuk di antaranya Penasihat Keamanan AS Tom Donilon dan Martin Dempsey ke Tel Aviv, AS sebelumnya dikabarkan telah mendesak Israel untuk tidak melancarkan serangan ke Iran. Desakan AS itu muncul dengan pertimbangan bahwa kemampuan militer Israel masih jauh tertinggal dibandingkan militer Iran.

Namun kabar terakhir menyebutkan, Israel memutuskan untuk tidak memberitahukan atau bahkan meminta persetujuan AS jika negaranya ingin melancarkan serangan ke Negeri Persia itu. Hal itu ditempuh Israel guna menghindari kecaman internasional terhadap sekutunya itu.
Rencana Israel menyerang Iran langsung ditanggapi Wakil Pimpinan Hizbullah Lebanon Sheikh Naim Qassem. Dia mengatakan, serangan Israel ke Iran tidak hanya akan menimbulkan perang antar kedua negara. Namun juga akan mengguncang seluruh kawasan Timur Tengah dan akan melahirkan konflik yang sulit dikendalikan.

“Amerika Serikat tahu hal ini. Jika Israel menyerang Iran, maka seluruh wilayah Timur Tengah akan ikut bergejolak. Perang ini akan terjadi tanpa batas,” ujar Wakil Pimpinan Hizbullah Sheikh Naim Qassem seperti dikutip Reuters Kamis, (1/3).

Dalam pernyataannya Qassem juga menegaskan, jika perang terjadi maka Iran akan didukung dengan ribuan pejuang terlatih yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap.

“Para pejuang ini jauh lebih hebat dari tahun 2006 lalu ketika Israel menyerang wilayah Selatan Lebanon. Israel akan memulai sebuah peperangan yang mereka sendiri tidak tahu konsekuensi dan cara mengendalikannya,” tegasnya.

Ditambahkan Qassem, Israel tidak memiliki kapasitas maupun keberanian untuk berperang sendirian melawan Iran. Sementara itu, AS dikabarkan lebih memilih untuk menajamkan sanksi terhadap Iran dibanding mengambil risiko untuk terlibat dalam peperangan.(net/bbs/jpnn)

Puluhan Direksi PTPN Dirombak

JAKARTA- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan melakukan perombakan besar-besaran di tubuh PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Perombakan terjadi di PTPN I hingga XIV, serta PT Rajawali Nusantara Indonesia.

Pengumuman jajaran direksi yang baru ini dilakukan oleh Deputi Bidang Usaha Industri Primer Muhammad Zamkhani di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin. ’’Kurang lebih ada 75 direksi yang diangkat. Ini rotasi biasa, karena banyak direksi yang masa jabatannya habis,” jelas Zamkhani.
Mantan Deputi Bidang Usaha Industri Primer Kementerian BUMN Megananda Daryono terpilih menjadi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN)  III. PTPN III dianggap sangat strategis karena akan jadi induk holding perusahaan perkebunan milik negara itu.

Megananda menggantikan dirut PTPN III sebelumnya, Amri Siregar. Megananda akan dibantu oleh enam orang direktur yaitu Kusumandaru NS, Bagas Angkasa, Nurhidayat, Erwan Pelawi, Balaman Tarigan, dan Rachmat PK.

PT PN XIV yang mengalami kerugian hingga Rp145 miliar akibat mengurusi tiga pabrik gula di Sulawesi juga dirombak. Direktur Utama Amrullah AM diganti oleh Budi Purnomo. Dirut PT PN XIV yang baru ini mengakui perusahaannya mengalami masalah keuangan yang sangat kritis.

Tapi dia optimistis PT PN XIV bisa keluar dari masalah pelik ini. Terlebih perusahaan ini sudah tidak lagi menangani tiga pabrik gula, karena diserahkan ke PT PN X. Sedangkan PT PN XIV hanya memiliki sedikit saham di tiga pabrik gula tadi. “Kami akan fokus pada komoditas sawit, karet, kakao, kelapa, dan sapi. Karena ini yang menghasilkan untung,” kata Budi Purnomo. (dri/jpnn)

20 Bayi Lahir Tanggal 29

Tanggal 29 Februari yang hadir empat tahun sekali dijadikan momen penting bagi beberapa kalangan. Khususnya, bagi mereka yang lahir di hari ke-60 tahun kabisat itu.

Di Medan, tahun ini tanggal 29 Februari diwarnai dengan kelahiran 20 bayi. Setidaknya hal ini diketahui setelah Sumut Pos menelusuri 5 rumah sakit yang ada di Medan. Pertama, di RS Muhammadiyah Medan, di tempat ini tercatat enam bayi yang lahir. Tiga jenis kelamin laki-laki dan tiga perempuann

Dua di antara keenam bayi tersebut terlahir lewat proses sexio (operasi cesar) dan selebihnya lahir secara normal.
Lalu, di RS Ibu dan Anak  (RSIA) Rossiva Medan, dengan angka kelahiran mencapai sembilan bayi, dengan jenis kelamin lima perempuan dan empat laki-laki. Dari jumlah tersebut kelima bayi di antaranya terlahir secara normal dan selebihnya lewat proses operasi cesar.

Sementara untuk RS Adam Malik Medan, ada dua bayi yang lahir. Keduanya berjenis kelamin laki-laki dan keduanya terlahir  lewat proses operasi cesar. Sedangkan RS Sari Mutiara dan RS Imelda Medan, masing-masing telah melewati proses kelahiran satu bayi, yang keduanya berjenis kelamin laki-laki dan terlahir secara normal.

“Awalnya dokter yang menangani proses persalinan saya memprediksi, jika kelahiran anak kami akan lahir pada tanggal  3 Maret mendatang. Tapi ternyata bayi kami akhirnya lahir hari ini (29/2) secara normal,”sebut pasangan suami istri Henny (32) dan Hendra (32) saat ditemui di ruang perawatan di RSIA Rossiva Jalan Bangka Medan, Rabu siang (29/2) sekitar pukul 14.30 WIB.

Pasangan ini pin mengaku kalau tak menyangka mendapat karunia di tanggal unik karena hadir empat tahun sekali; 29 Februari. Meski begitu, bagi mereka, kesehatan bayi adalah yang utama. “Yang penting bayi kami terlahir sehat apalagi dia terlahir di tahun naga,” ucap Henny yang mengaku kelahiran di tahun naga bermakna baik bagi adat kepercayaan yang dianutnya.

Lalu, siapa nama anak yang baru lahir itu? Sambil tersenyum pasangan itu tersenyum. Ya, mereka memang belum menyiapkan nama untuk si buah hati.
Dalam kesempatan lain, penanggung jawab harian RSIA Rossiva, Misrita mengaku jika kelahiran  bayi dari pasangan Henny dan Hendra, ditangani langsung oleh dr Ronny Siddiq SpOG. “Kondisi bayi Henny ini, terlahir secara normal dan sehat dengan jenis kelamin laki-laki yang memiliki berat badan 3750 gram, serta tinggi badan 52 cm. Hingga kini, kesembilan bayi yang lahir pada hari ini (29/2) di RSIA Rossiva,  sesuai dengan waktu kelahiran dan tidak ada permintaan khusus dari orang tua kandung,”ujar wanita yang akrab disapa Ita ini. (uma)

Usai Sidang, Jaksa Sistoyo Dihajar di Depan Wartawan

Cirus Sinaga Target Dibacok

BANDUNG- Deddy Sugarda (44) berhasil mengejutkan wartawan, aparat hukum dan keamanan, serta pengujung Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Bagaimana tidak, dia berhasil membacok Jaksa Sistoyo usai mengikuti sidang dugaan kasus penerimaan suap pukul 10.15, Rabu (29/2).
Menariknya, pembacokan terhadap terdakwa eks Jaksa Kajari Cibinong Sistoyo ternyata bukan sasaran utama pelaku. Soalnya, Deddy Sugarda  rencananya akan membacok jaksa yang menangani kasus mafia pajak Gayus Tambunan yaitu jaksa nonaktif Cirus Sinaga.

Namun, karena kasus Cirus Sinaga sudah divonis, Deddy melimpahkan kekesalannya kepada Sistoyo yang juga seorang jaksa.
“Dari keterangan tersangka, rencananya dia mau bacok Cirus Sinaga. Tapi karena kasus Cirus sudah diputus ya jaksa Sistoyo yang jadi sasaran,” kata Kasubag Humas Kompol Endang Sri Wahyu Utami, di Mapolrestabes Bandung, Rabu (29/2).

Pelaku sudah berada di Mapolrestabes Bandung untuk dimintai keterangan bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Endang membeberkan, pelaku sudah dua bulan berniat melakukan aksi tersebut. ”Tadinya dia mau berangkat ke Jakarta untuk bacok Cirus Sinaga, tapi sudah keburu putusan jadi enggak bisa,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pelaku juga sering memantau kasus korupsi di televisi. Saat itulah, dia melihat berita penangkapan Jaksa Sistoyo oleh KPK yang perkaranya disidangkan di Pengadilan Tipikor Bandung. “Jadi, pelaku ini datang ke PN Bandung untuk melakukan niatnya,” ucap Endang.

Menurut pengakuan pelaku, kata Endang, targetnya adalah para pelaku korupsi yang telah menghianati bangsa dan melukai hati rakyat. “Targetnya pelaku korupsi, yang dilihat di TV,” katanya.

Deddy Sugarda merupakan warga Kecamatan Kiaracondong Bandung pengurus LSM Masyarakat Pemerhati Aparatur Negara. Dia dijerat dengan pasal penganiayaan dengan ancaman minimal lima tahun. “Polisi sudah memeriksa empat orang saksi, dua di antaranya dari petugas KPK,” tambah Endang.
Dua orang dari KPK tersebut yang mendampingi Sistoyo ketika kejadian pembacokan. Sementara dua saksi lainnya pengawal dan polisi. “Jadi total empat saksi yang kita minta keterangan,” ujar Endang.

Endang menegaskan, pembacokan terjadi ketika sidang selesai. Saat itu Sistoyo juga berada dalam kawalan polisi, pengadilan, dan KPK. “Setelah sidang dua polisi mengamankan, juga dari KPK dan PN. Pengamanan sudah sampai keluar ruang sidang. Nah di luar terjadilah insiden,” tuturnya.

Jadi, kata dia, sidang sendiri sudah aman. Namun saat di luar sebelum turun tangga ruang sidang, ketika Sistoyo selesai diwawancarai wartawan, dari belakang muncul pelaku pembacokan kepala Sistoyo. “Sistoyo harus mendapatkan delapan jaitan dengan panjang luka 8 cm,” sebutnya.

Selain itu, lanjut dia, dalam kesempatan yang sama di PN Bandung juga terjadi demonstrasi kasus korban SUTET. Sehingga pengawalan polisi justru fokus pada demonstrasi. “Kejadiannya tak terduga. Polisi yang kawal juga sesuai standar. Dia datang di luar sidang secara tiba-tiba,” tegasnya.
Endang menambahkan, Deddy mengaku sering memantau kasus korupsi. “Alasannya karena sakit hati. Dia menilai terdakwa sebagai penghianat negara, koruptor, dan menyakiti hati rakyat,” tutur Endang.

Deddy mengatakan kepada polisi, kata Endang, bahwa dirinya bertindak atas nama pribadi. “Dia yakin bahwa pelaku tindak pidana korupsi adalah penghianat. Sehingga koruptor menjadi sasaran aksinya,” ungkapnya. “Dia tidak pernah terlibat kriminal dan tidak kenal sama korban,” tambahnya.
Sementara itu, polisi menetapkan tersangka kepada Deddy Sugarda yang membacok terdakwa korupsi yakni Jaksa Sistoyo. Deddy pun langsung dibui di balik jeruji besi Mapolrestabes Bandung.  “Setelah dilakukan pemeriksaan, kami menyatakan pelaku terbukti bersalah. Pelaku ditahan,” jelas Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Wijonarko di Mapolrestabes Bandung.

Pada sidang kemarin, Sistoyo menjalani sidang ke dua di Pengadilan Negeri (PN) Bandung dengan agenda pembacaan nota keberatan atau eksepsi dari pihak penasihat hukum terdakwa atas dugaan penyuapan senilai Rp100 juta atas perkara yang ditanganinya di Kejaksaan Negeri Cibinong.

Usai sidang, seperti biasa wartawan langsung menghujani pertanyaan. Nah, begitu Sistoyo sedang menjawab berbagai pertanyaan para wartawan, tiba-tiba dihampiri Deddy mengenakan kemeja dan celana kain abu-abu. Namun pelaku tidak langsung mengarahkan goloknya ke arah Sistoyo. Sistoyo sempat menjawab pertanyaan wartawan seputar kasus tersebut. “Saya dijebak, fakta data ada di laptop. Entar saja ditunjukin,” kata Sistoyo saat di wawancara wartawan sambil menuju ke luar ruangan sidang utama lantai dua PN Bandung.

Di luar ruangan sidang tepatnya di depan pintu, pria berambut cepak mengeluarkan sebilah golok yang terbungkus kertas. Tanpa ba bi bu, pelaku langsung menghantamkan goloknya tepat mengenai kening sambil berteriak “Penghianat Kamu!”

Tak pelak, kening Sistoyo langsung robek melintang. Darahnya mengucur ke seluruh mukanya. Dari lantai dua hingga satu tampak darah berceceran. Keamanan  Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pun langsung bertindak. “Mau apa kamu? Mau apa kamu?” teriak salah seorang keamanan KPK sambil menodongkan pistol ke arah orang yang membacok Sistoyo. Pelaku langsung melemparkan pisau tersebut ke lantai, dan keamanan KPK langsung memiting dan membawa pelaku kepada polisi yang sedang berada di lantai satu untuk diamankan.

Pelaku langsung dibawa polisi ke Polrestabes Bandung menggunakan mobil Polisi Pariwisata. Sistoyo yang mengenakan batik cokelat dan celana hitam, hanya berdiri tertunduk lemas dengan luka melintang. Kemudian Sistoyo dibawa penasihat hukumnya ke Rumah Sakit Halmahera menggunakan mobil tahanan kejaksaan. Para penasihat hukum, berteriak-teriak mengeluhkan pengamanan PN Bandung dan Kejaksaan yang lemah sambil membawa Sistoyo ke mobil tahanan Kejaksaan.

Sebelum wartawan  masuk ke ruang sidang, sang pelaku sempat duduk di luar ruang sidang dan memberikan kertas yang berisi hujatan-hujatan kepada koruptor yang seharusnya dihukum mati. Di kertas itu juga terdapat tanda tangan yang menyatakan “Anak Bangsa” dengan nama Deddy Sugarda.
Firasat buruk bakal menimpa terdakwa eks Jaksa Kejari Cibinong Sistoyo sudah diprediksi Kepala Pengadilan Negeri (PN) Bandung Joko Siswanto. Sebab pada sidang pertama lalu, Sistoyo sempat dikejar-kejar pendemo. “Sejak sidang minggu lalu, saya sudah ada firasat buruk bakal terjadi pada Sistoyo. Sebab, minggu lalu Sistoyo malah sempat dikejar-kejar,” ujar Joko Siswanto di PN Bandung.

Untuk antisipasi, pihaknya sudah melakukan koordinasi untuk melakukan pengamanan. “Hanya saja kasus ini sudah ditangani KPK. Ya jadi, ewuh pakewuh lah. Pastinya, keamanannya lebih ketat,” jelasnya.

Namun, lanjut dia, kejadian penyerangan terhadap Sistoyo begitu cepat dan tiba-tiba. Bahkan terjadinya di luar dugaan semua pihak termasuk kepolisian. “Secara kasarnya sih, kita kecolongan. Pengamanan sudah sesuai prosedur. Ini kasuistik,” ucapnya.
Siswanto mengaku, sudah akan menyurati kejadian tersebut kepada Pengadilan Tinggi Jawa Barat, kepada KPK, dan Polrestabes Bandung, dan Kejari Jabar. “Selama kepemimpinan saya, ini kali pertama kejadian di PN Bandung,” pungkasnya (apt/cr8/jpnn)

Jelang Pilgubsu 2013, AY Nasution Plin-plan

MEDAN-Tarik ulur tokoh yang akan maju ke Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 mulai tampak. Pernyataan plin-plan ditunjukkan Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal (Letjen) TNI Azmyn Yusri (AY) Nasution.

Akhir pekan lalu, AY Nasution, begitu semangat untuk maju sebagai salah satu calon pada Pilgubsu. “Saya siap maju, siap memenuhi panggilan mengabdi di Sumut,” ujar AY Nasution saat menerima award sebagai ‘Tokoh Militer Peduli Pers’n dan ‘Tokoh Low Profile di Hotel Grand Antares, Rabu (22/2) lalu.
Kemarin, setelah sepekan berlalu, AY Nasution malah membantah keterangannya sendiri. “Saya tidak pernah berkomitmen di Pilgubsu 2013. Saya tidak pernah. Saya tidak pernah berkomitmen untuk maju di Pilgubsu 2013,” tegasnya usai mengikuti acara temu ramah dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dan berbagai elemen lainnya di Wisma Benteng, Jalan Kapten Maulana Lubis, Rabu (29/2).

Saat ditanya mengenai dukungan dari partai, atau mungkin sudah ada partai yang melamarnya, AY Nasution juga membantahnya. Dikatakannya, sejauh ini tidak ada kaitan antara dirinya dengan kepartaian di Sumut, terlebih dalam rangka Pilgubsu 2013 tersebut. “Belum ada partai apapun di belakang saya. Jangankan berkomitmen, kepikiran saja pun tidak,” tukasnya lagi.

Keberadaan AY Nasution di Medan, sudah sekitar sepekan. Sejak melakukan kunjungan ke Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho di Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro Medan, Rabu (22/2) sampai kemarin Rabu (29/2).

Apakah keberadaan dirinya di Sumut, selain dalam rangka latihan terjun Kostrad, yang dilaksanakan di Sumut, dan dilaksanakan di enam lokasi antara lain, Medan, Deliserdang, Serdangbedagai (Sergai), Langkat, dan Binjai juga merupakan salah satu bentuk pencitraan atau kampanye dalam menyongsong Pilgubsu 2013, pada 7 Maret 2013 mendatang?

Terkait hal itu, kembali AY Nasution membantahnya. AY Nasution berdalih, keberadaan dirinya di Medan karena rindu kampung halaman serta dalam rangka memenuhi undangan.

“Di samping saya rindu kampung halaman, saya juga menghadiri beberapa undangan di Medan. Salah satunya dari teman-teman wartawan,” akunya.
Kenapa berpikir tidak maju pada Pilgubsu 2013, padahal dirinya dielu-elukan banyak kalangan untuk maju menjadi salah satu calon di pilgubsu 2013?
Terkait hal itu, AY Nasution menyatakan, penilaian tersebut merupakan penilaian secara individu atau perorangan, yang juga merupakan hak dari setiap individu itu sendiri.

“Itu hak perorangan. Tapi dari pihak saya sendiri, tidak ada berkomitmen untuk maju ke pilgubsu 2013,” pungkasnya. (ari)

Melawan Bahrain, Indonesia Menyerah Sepuluh Gol tanpa Balas

Dingin Sekali, Latihan Saja Pakai Jaket…

Andi Muhammad Guntur tak bisa berbuat apa-apa. Sebagai kiper pengganti dia harus bolak-balik melihat jalannya bergetar. Tidak satu atau dua gol, dalam laga yang digelar selama 90 menit itu, gawangnya kebobolan sepuluh kali.

Sama sekali tidak diduga. Sungguh memalukan. Begitulah, pada laga melawan Bahrain, Timnas Indonesia tidak bisa berbuat banyak. Tim besutan Aji Santoso tersebut seperti kerupuk yang terkena air. Sebelum laga, Aji sejatinya optimistis memberi hasil yang baik. “Kami akan tetap bermain maksimal melawan Bahrain, walaupun pertandingan ini sudah tidak berpengaruh,” kata Aji menjelang pertandingan di Bahrain.

Sayang, laga diluar prediksi tim Indonesia. Yang ada, Abdul Rahman dkk jadi bulan-bulanan. Bak sebuah sinyal, bek Timnas Abdul Rahman mengaku ia dan rekan-rekannya cukup kesulitan beradaptasi. “Di Bahrain dingin, sampai mencapai 16 derajat celcius. Dingin sekali. Latihan saja pakai jaket tebal, seperti pemain Eropa,” katanya sebelum laga.

Dan, terbukti. Tadi malam, Indonesia sudah terkena hukuman penalti di menit ketiga. Penalti diberikan setelah Samsidar melanggar Ismael Abdullatif di kotak 16. Pelanggaran ini juga berbuah kartu merah untuk Samsidar.

Kehilangan Samsidar, pelatih Aji Santoso terpaksa memasukkan kiper pengganti Andi Muhammad Gunturn dan menarik Slamet Nurcahyo. Dan hal pertama yang dilakukan Andi adalah memungut bola dari gawangnya karena dia tak bisa membendung tembakan penalti Abdullatif.
Memasuki menit ke-15, Bahrain menggandakan keunggulan. Kali ini, Mohamed Tayeb yang mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan sebuah bola rebound di kotak penalti Indonesia. Indonesia sempat punya peluang pada menit ke-21 lewat aksi individu Ferdinand Sinaga. Tapi, tembakan Ferdinand masih bisa ditepis oleh kiper Sayed Mohammed Jaffer. Dua menit berselang, Indonesia kembali terkena hukuman penalti setelah Diego Michiels melanggar Abdullatif. Tapi, eksekusi Abdullatif bisa dimentahkan oleh Andi.

Penalti ketiga didapat Bahrain pada menit ke-33 setelah Tayeb dijatuhkan oleh Abdul Rahman. Mahmood Abdulrahman yang maju sebagai algojo menuntaskan tugasnya tanpa cacat. Pada menit ke-42, Bahrain bikin gol lagi dan unggul 4-0. Sebuah umpan silang Abdullah Omar berhasil diteruskan oleh Abdulrahman ke gawang Indonesia dengan kepalanya. Hingga berakhirnya babak pertama, Indonesia masih tertinggal 0-4 dari tim tuan rumah.
Bahrain tetap tampil ofensif di babak kedua. Mereka mencetak gol kelima saat pertandingan berusia satu jam. Melakukan penetrasi di sisi kanan pertahanan Indonesia, Abdullatif menusuk ke kotak penalti dan kemudian mengoper bola ke Tayeb. Setelah menahan bola sebentar, Tayeb mengirim bola ke pojok gawang Andi.

Tiga menit kemudian, lagi-lagi gawang Indonesia bergetar. Kali ini, Sayed Dhiya yang mencetak gol untuk Bahrain lewat tembakan kerasnya dari dalam kotak penalti.Gol ketujuh Bahrain lahir beberapa menit berselang. Memanfaatkan umpan silang Salman Isa, Tayeb mencetak gol ketiganya dalam laga ini. Abdullatif mengoyak gawang Indonesia lagi pada menit ke-71. Sepakan kerasnya ke tiang jauh tak bisa dijangkau oleh Andi.

Sembilan menit sebelum berakhirnya waktu normal, Bahrain mencetak gol kesembilan. Dhiya yang mendapatkan operan dari Waleed Al Hayam dengan mudah menaklukkan Andi. Beberapa saat kemudian, Bahrain mendapatkan hadiah penalti keempatnya setelah Ali Abdulwahab dijatuhkan oleh Abdulrahman di area terlarang. Tayeb kali ini gagal menjalankan tugasnya karena eksekusinya bisa ditahan oleh Andi. Pesta gol Bahrain akhirnya digenapi oleh Dhiya di masa injury time. Skor akhir 10-0 untuk tim tuan rumah.(bbs)

Kanit Reskrim Polsek Kutalimbaru Dilempari Batu

MEDAN- Keberingasan warga  di Glugur Rimbun, Desa Lau Bakeri, Kutalimbaru, Deli Serdang yang sering main hakim sendiri, nyaris saja mengambil nyawa Kanit Reskrim Polsekta Kutalimbaru.  Sebab,  pada saat peristiwa penganiayaan terhadap Ricardo Sitorus dan Marco Siregar, beberapa waktu lalu, Kanit Reskrim turun ke lokasi untuk mengamankan situasi.

Kanit Reskrim Polsek Kutalimbaru yang datang dengan mengendarai mobil, justru disambut batu oleh warga setempat sehingga kaca mobilnya pecah. Tak sampai disitu saja, ponsel miliknya pun diambil. “Kita waktu kejadian langsung menerjunkan pasukkan, bukan korban saja menjadi sasaran amukkan warga, Kanit Reskrim kita pun menjadi korban kaca mobilnya pecah dan handphonenya hilang,” ujar Kapolsek Kutalimbaru AKP Robinson Subakti saat dikonfirmasi Sumut Pos, Rabu (29/2) siang sekitar pukul 13.00 WIB.

Hingga saat ini, lanjutnya, pihak polisi sudah mengamankan Erwin Tarigan dan Kelana. “Keduanya masih menjalan pemeriksaan di Mapolresta Medan,” tambahnya.

Diakuinya, pihak keduanya sudah mengindetifikasi pelaku yang diduga sebagai provokator, namun semua itu masih dalam penyeledikkan. “Sudah terindentifikasi, namun kita dalami lagi penyelidikkannya,” ujarnya.

Sayangnya, Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang tak mengakui kalau sudah mengamankan provokator pemicu aksi anarki warga Kutalimbaru. “Belum ada yang kita amankan,” tegasnya.

Hanya saja, dirinya menjelaskan bahwa saksi yang dimintai keterangan atas kejadian ini sudah mencapai 10 orang di Malporesta Medan. “Sudah bertambah yang kita mintai keterangan dalam kesaksian atas kejadiannya, saksi sudah 10 orang,” sebutnya sembari mengatakan kesepuluh orang ini dari anggota Polri ada 3 orang yakni Brigader AZ dan dua personel Polsekta Kutalimbaru.

Disinggung soal isu kedatangan Kasi Propam Mabes Polri ke Polresta Medan terkait dengan kasus ini, Monang menampiknya. “Kasi Propam Mabes Polri datang ke Polresta Medan untuk melakukan pengawasan. Hal itu biasa kok,” elaknya.

Sementara itu, Kapolsek Kutalim Baru AKP R Subakti dan Camat Kutalimbaru IB Ginting memberikan pemahan kesadaran hukum kepada warga Desa Leu Bakeri dan Desa Silebo-lebo Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang Kutalimbaru agar tidak main hakim sendiri sehingga peristiwa tersebut tidak kembali terjadi dikemudian hari.

Camat Kutalim Baru IB Ginting mengatakan kegiatan ini menjadi program pihaknya yang dilakukan secara berskala. “Untuk memberikan pemahaman baik itu pemahaman di bidang hukum, keterampilan dan usaha,” ujarnya.

Kegiatan ini sudah menjadi program dan kewajiban segala pihak terhadap warga sehingga perisitiwa ini tidak terulang kembali. “Ini seharusnya kewajiban bersama baik itu kepolisian dan jaksa untuk memberikan pemahan hukum bagi warga,” harapnya.
Untuk ke depannya, kata dia,  hal ini terus dilakukan agar pemahaman dan pengetahuan warga sehingga main hakim sendiri itu tidak kembali terjadi. “Ini terus kita lakukan untuk memberikan ilmu kepada warga agar main hakim sendiri tidak terjadi dan tidak benarkan oleh hukum,” tuturnya. (gus)

Atasan Aminuddin Pasrah

Dugaan Korupsi Biro Umum Pemprovsu Rp25 M

MEDAN-Langkah Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Poldasu menetapkan Bendahara Biro Umum Pemprovsu, Aminuddin, sebagai tersangka menjadi perbincangan sejumlah PNS di Kantor Gubsu, Rabu (29/2). Mereka menduga bakal ada pejabat baru yang bakal ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi anggaran rutin Biro Umum 2011 sebesar Rp25 miliar itu.

“Gawat kali. Kalau dia (Aminuddin, Red) kena, atasannya pasti kena. Dia berani karena perintah atasan. Tak mungkin main sendiri. Kita tunggu sajalah,” ujar seorang PNS di lorong lantai dasar Kantor Gubsu yang berkerumun dengan sejumlah PNS lainnya. “Kau baca ini,” ujarnya sambil menunjuk koran yang dipegangnya kepada rekannya yang baru bergabung.

Di lobi juga terlihat tiga orang PNS membicarakan perkembangan dugaan korupsi tersebut. Seorang PNS yang berbadan jangkung malah menyayangkan sikap Poldasu yang menetapkan Aminuddin sebagai tersangka. “Dia cuma anak buah. Atasannya yang seharusnya bertanggung jawab. Pencairan anggaran pasti karena ada perintah atasan,” ujar PNS tersebut.

Dalam berita sebelumnya, Poldasu memang telah mengisyaratkan bakal ada tersangka baru. Namun pengumuman tersangka baru itu menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumut. Seorang sumber di Poldasu mengatakan, tersangka baru yang segera diumumkan adalah mantan atasan Aminuddin. Siapa pejabat tersebut? Pejabat di Poldasu belum bersedia mengungkapkannya.

Wartawan koran ini, kemarin berupaya mengkonfirmasi kasus tersebut kepada pejabat yang membawahi Aminuddin, Kepala Biro Umum, Hj Nurlela dan mantan Kepala Biro Umum yang saat ini menjabat Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Rajali. Kepada wartawan koran ini, Nurlela mengaku pasrah. “Ya, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Kita serahkan ke proses hukum saja,” akunya.

Nurlela juga mengaku, dirinya telah dipanggil dan diperiksa oleh penyidik Tipikor Poldasu, dua hari sebelumnya. Nurlela mengatakan, setelah dirinya selesai diperiksa, penyidik Poldasu di ruangan yang sama juga memeriksa Kadishub Sumut, Rajali. “Saya kalau tidak salah dua hari lalu dipanggil. Saya menjelaskan sepanjang yang saya ketahui, sepanjang jangka waktu saya menjabat. Dia (Rajali, red) juga diperiksa. Saya duluan, baru dia,” cetusnya.
Sayang, Rajali tak berhasil ditemui wartawan koran ini. Mantan Kepala Biro Umum tersebut tak berhasil ditemui di kantornya. “Pak kadis nggak ada bang. Dari pukul 10.00 WIB tadi, sudah keluar. Nggak tahu balik lagi ke kantor atau tidak. Tapi silahkan cek langsung saja ke atas,” ujar petugas jaga di pintu masuk kantor tersebut.

Untuk memastikan keberadaan Rajali, wartawan koran ini naik ke lantai dua. Ruangan itu terkunci, dan tak ada seorang PNS pun yang berjaga di depan pintu ruangan. Setelah satu jam menunggu, hanya ada seorang PNS berbadan subur yang naik ke lantai dua. Namun PNS tersebut tak masuk ke ruangan Rajali, tapi ke ruangan yang ada di sebelahnya. “Nggak ada,” katanya singkat sembari mengangkat tangan saat wartawan koran ini bertanya keberadaan Rajali. Gagal bertemu Rajali, SMS pun dikirimkan ke nomor Rajali. Namun beberapa pertanyaan melalui SMS, sama sekali tak berjawab hingga tadi malam. (ari)

Nama Bandara Harus Bernuansa Sumut

Jelang Pengoperasian Kualanamu

JAKARTA – Munculnya opsi tiga nama bandara baru pengganti bandara Polonia yang terungkap dari seminar yang digelar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) bekerjasama dengan Pemkab Deliserdang, Selasa (28/2), ternyata mengundang perdebatan.
Sejumlah pihak menilai, tiga opsi nama yakni Bandara Sultan Sulaiman, Bandara Sultan Serdang dan Bandara Kualanamu Deliserdang, tidak merepresentasikan Sumut.

Anggota Komisi V DPR, Ali Wongso Sinaga, mengatakan, bandara baru itu harus diberi nama sesuai fungsinya sebagai bandara internasional. “Name follows the function. Nama mengikuti fungsi. Itu bandara internasional satu-satunya di Sumut, tak ada duanya di Sumut. Tentunya, namanya harus mewakili dan merepresentasikan Sumut,” ujar Ali Wongso, satu-satunya anggota DPR asal Sumut yang duduk di komisi yang membidangi infrastrktur itu kepada koran ini di Jakarta, kemarin (29/2).

Lantas, apa nama yang merepresentasikan Sumut itu? Politisi Golkar itu mengaku, tidak mau mendikte masyarakat. “Yang representatif apa, itu terserah masyarakat Sumut. Saya akan mendukung apa pun aspirasi masyarakat Sumut,” ujarnya.

Lebih tegas Rahmat Shah, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut itu terang-terangan menolak jika nama bandara baru itu menggunakan nama orang atau tokoh.

Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakan Rahmat mengapa dirinya menolak jika menggunakan nama tokoh. Pertama, tokoh asal Sumut itu terlampau banyak. Menurutnya, nama tokoh yang layak hanya jika tokoh tersebut sudah jelas-jelas punya jasa besar yang dirasakan masyarakat Sumut, termasuk keturunannya.

Alasan kedua, jangan sampai yang terjadi malah kultus individu. “Sempat muncul nama Sisingamangaradja, Tengku Rizal Nurdin, dan yang lain. Tapi bukankah itu malah pengkultusan?” ujarnya.
Ketiga, bandara itu merupakan bandara internasional. Karenanya, menurut Rahmat, namanya juga harus menggambarkan fungsi itu. “Kalau dinamai bandara Kualanamu, itu terlalu kecil. Karena itu international airport,” kata Rahmat.

Rahmat usul, nama bandara baru itu Sumut International Airport, yang disingkat SIA. “Atau Medan International Airport, disingkat MIA. Karena Sumut itu ya tahunya Medan. Ini seperti Los Angeles International Airport, disingkat LA Airport,” bebernya.

Dia pun menolak opsi-opsi nama bandara yang hanya merepresentasikan Deliserdang. “Karena bandara itu yang membangun bukan Deliserdang, tapi dibangun dengan uang rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Bagaimana sebenarnya mekanisme pemberian nama bandara? Direktur Bandara, Kemenhub, Bambang Cahyono, menjelaskan, memang pemberian nama lebih berdasarkan usulan atau aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Usulan yang ada, lanjut Bambang, disalurkan ke DPRD Sumut. Lantas, nama yang disetujui dewan, dibawa Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, untuk disampaikan ke kemenhub. “Biasanya usulan nama satu, lantas kita menetapkan saja,” ujar Bambang kepada koran ini di Jakarta, kemarin.
Bagaimana jika bandara baru itu diberi nama dengan nama tokoh? Dijelaskan, memang akan muncul perdebatan panjang tatkala di daerah tersebut nama tokoh atau pahlawannya banyak.  “Seperti Padang, di sana banyak pahlawannya, lantas kita namai Bandara Minangkabau saja. Di Lombok juga, kita namai Bandara Internasional Lombok,” terangnya.

Yang pasti, lanjutnya, pemberian nama sangat memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat. “Tapi kalau nggak ada usulan ya kita namai saja Bandara Internasional Kualanamu,” katanya.

Sementara itu, di tengah senternya pengoprasian Bandara Kualanamu 2013 mendatang, sejumlah calo tenaga kerja mulai mencari mangsa.Calo ilegal itu, menawarkan puluhan juta rupiah kepada warga sebagai biaya masuk menjadi tenaga kerja di Bandara Kualanamu.(sam/btr)