Home Blog Page 13872

PSMS IPL Tahan Persiba

MEDAN- PSMS akhirnya berhasil mengakhiri paceklik poin setelah menahan imbang Persiba Bantul 2-2 di Stadion Sultan Agung Bantul, Sabtu (25/2) sore. Dua gol Jecky Pasarella berhasil membuat PSMS meraih satu poin di laga tandangnya.

Pergantian pemain depan di babak kedua efektif berbuah gol. Strategi pelatih PSMS Fabio Lopez memasukkan Rinaldo menggantikan Juanda Mayadi di babak kedua serta menukar Jecky ke kanan dan Rinaldo di sisi kiri berhasil.

Kendati seri, hasil positif itu disyukuri Fabio. Usai pertandingan, ia mengaku senang dengan satu poin yang diraih timnya. “Saya senang, karena pemain juga senang dengan hasil ini,” ungkapnya singkat.

Menurutnya, kali ini wasit Nopendri bekerja cukup baik. “Dari lima pertandingan tandang, baru kali ini wasit bekerja cukup berimbang mengambil keputusan,” tambah Fabio.

Sementara, asisten pelatih PSMS M Khaidir mengatakan, motivasi yang diberikan pelatih mengangkat moral Vagner Luis dkk untuk bermain lebih baik di babak kedua. “Kekalahan beruntun di laga tandang harus diperbaiki. Kita berharap tidak  gagal lagi karena besok (Hari ini, Red), tim akan pulang ke Medan,” tuturnya.

Menyoroti kinerja striker Julio Cesar Alcorse yang belum juga menemukan performa terbaik, Khaidir mengakui, hal tersebut terjadi karena kondisi pemain Argentina itu masih belum pulih 100 persen. “Dia baru cedera dan kondisinya belum pulih total. Itulah penyebabnya,” kata Khaidir lagi.
Untuk Jecky, sambungnya, kedatangan striker PSMS itu memang diharapkan bisa memecah kebuntuan di laga tandang.(saz)

Ingin Hidup Normal Walau tak Keluhkan Rasa Sakit

Tama, Enam Tahun dengan Lubang Anus di Perut

Enam tahun sudah, Riski Yudha Pratama (6) hidup dengan anus di perut. Walau pun demikian anak pasangan Rahmad Aliandi Siregar (32) dan istri, Yenni (32) warga Jalan Laksana, Dusun III, Desa Bintang Meriah, Batang Kuis, hidup seperti anak normal lainnya.

Jhonson P Siahaan  –  Medan.

Sumut Pos, Sabtu (25/2) kemarin menyambangi rumah Riski Yudha Pratama di Jalan Laksana Dusun III Batang Kuis. Lokasinya persis berada di pojok gang kecil yang buntu. Rumahnya sangat sederhana. Berdinding batu yang dicat putih dan beratap seng. Saat itu Riski Yudha Pratama sedang bermain bersama adiknya, Tasya (4). “Silahkan, masuk ajah,” tutur ibu Riski, Yenni kepada wartawan koran ini.

Tidak ada perabot mewah di dalam ruang rumah itu. Hanya ada dua kursi plastik serta ambal coklat. “Kami biasanya memanggilnya Tama,” kata Yenni menyebut nama Riski Yudha Pratama saat menjelaskan panggilan anaknya itu.

Yanni mengawali ceritanya, Tama sekarang berusia enam tahun. Ia hidup dengan anus di perut kirinya. “Ia lahir dengan berat dan tinggi yang normal, hanya saja tidak memiliki anus,” kata Yanni yang saat itu mengenakan baju corak hijau.

Saat mengandung Tama, Yenni mengaku tidak mengalami firasat buruk. Tama dilahirkan di RS Mitra Husada, Pasar VIII, Tembung. Yenni sempat kaget karena anaknya lahir tanpa anus. “ Saat dioperasi Tama berusia dua hari. Tama itu anak saya yang pertama, adiknya Tasya lahir normal. Meskipun anus di perut Tama tak pernah mengeluh sampai sekarang,” sebut sang ibu.

Tama, sekarang sekolah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kantor Desa dekat tempat tinggal mereka sekarang.

Yenni sadar anaknya itu sekarang tumbuh besar. Ia ingin Tama memiliki anus yang normal. Sebenarnya dokter bisa mengoperasi kembali Tama, agar memiliki anus yang normal. Hanya saja untuk kembali mengoperasi Tama, orangtua Tama harus mengeluarkan uang yang banyak.

Suami Yenni yang berprofesi sebagai buruh bangunan yang berpenghasilan Rp50 ribu perhari itu, tidak mungkin memiliki uang untuk biaya operasi Tama. “Untuk operasi yang pertama saja di RSU Pirngadi kami memakai Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Kami tak bisa berbuat banyak karena penghasilan suami saya tak cukup. Sewa rumah saja Rp1,5 juta per tahun,” bebernya dengan raut wajah sedih.

Tama sekarang sudah mengetahui kelainan tubuh yang dimilikinya. “Setiap mau kami bawa berobat, Tama tak mau, ia takut dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Menurut Yenni, Tama tak pernah mengeluh sedikit pun tentang sakit saat buang air besar (BAB) melalui perutnya itu. “ Tak ada kantungan kami buat karena Tama tak mau dipakai itu. Kami hanya pakai kain kasa membersihkannya dan menggunakan air putih. Lagian Tama tak pernah mengeluh sakit,” akunya.

Disela-sela sedang asik berbincang, Yenny, sang ibu memanggil Tama untuk duduk di sampingnya. Saat ditanya, Tama yang menggunakan baju dan celana warna merah ini menjawab sambil menebar senyuman.

“Kalau Tama mau buang air besar, Tama tak merasa sakit Om, Tama suka main bola dan kalau main bola, Tama tak merasa sakit Om,” akunya.
Sambil tersenyum Tama kembali berkata bahwa dirinya kuat makan dan minum dan tak ada sakit apa pun jika kekenyangan.

Tama dengan duduk bersilah ini menambahkan, dirinya baru merasa sakit kalau lubang pembuangan itu disenggol dan bersentuhan. “Tama merasa sakit saat teman Tama pernah menyenggol ini om. Kalau yang ini disentuh sakit om,” akunya sambil menunjukkan lubang anus di perutnya.

Dengan kondisi fisik yang tidak normal itu, Tama mengaku pernah menjadi bahan ejekan teman sekolah. Ada juga sampai ada yang menjahuinya. “Tama diejek kawan dan kawan bilang kentutnya Tama besar sekali om. Tama juga diejek dan dibilang lubang anus Tama tak ada. tapi Tama tetap saja bermain dengan kawan-kawan Tama yang mau bermain dengan Tama,” tuturnya.
Tama sebenarnya memiliki cita-cita seperti anak-anak lainnya.

” Tama ingin kalau sudah besar nanti mau menjadi pemin gitar om, dan Tama ingin seperti anak-anak yang lain,” tuturnya. (*)

Om, punya anus seperti yang lainnya. Kalau malam, Tama lebih suka tidur sama nenek Om,” akunya.

Setelah selesai berbicara, lalu Tama pun berlalu bermain dengan adiknya, Tasya. Yenny mengatakan, dirinya baru pulang dari RSUP H Adam Malik, sehabis berobat jalan. “Rencananya Senin (27/2) lusa, Tama akan dioperasi di RSUP H Adam Malik. Tapi itu pun masih menunggu hasil laboratorium dari dokter dan kalau pun dilakukan operasi saya berharap operasi ini berjalan dengan lancar. Sejauh ini kami hanya membawa berobat jalan saja,” harapnya. (*)

Misi Raih Poin Penuh

PSMS ISL Tour Jawa-Papua

MEDAN-  PSMS sudah bertolak dari Medan melalui Bandara Polonia Medan, Sabtu (25/2) siang, sekira pukul 13.00 WIB menghadapi laga tour Jawa-Papua pada laga lanjutan kompetisi ISL.

Hingga 7 Maret mendatang, PSMS akan menghelat tiga laga tandang. Untuk perdana dijamu Persela Lamongan 28 Februari mendatang. Kemudian pada 3 Maret menghadapi Deltras Sidiarjo dan terakhir bentrok Persidafon Dafonsoro pada 7 Maret mendatang.

Sebelumnya, Badan Liga Indonesia (BLI) menunda laga PSMS kontra Persela di Stadion Surajaya Lamongan Minggu (29/1) lalu. Hal ini disebabkan stadion tersebut tak layak untuk diadakan pertandingan. Stadion alternatif pengganti yakni stadion milik Persegres Gresik juga tak diizinkan digunakan oleh pihak pengelolanya Petrokimia Gresik. Termasuk stadion alternatif lain, Stadion Manahan Solo yang akan dipergunakan untuk pertandingan Persis Solo di kompetisi IPL. Sementara stadion di Mojokerto sempat diusulkan namun ditolak BLI, karena tak memiliki fasilitas pencahayaan.

Saat ini, Pemkab Lamongan telah merenovasi stadion, sehingga laga bentrok PSMS yang tertunda telah dapat dilakoni kembali pada Selasa (28/2) mendatang. Menghadapi tim berjuluk Laskar Joko Tingkir ini, motivasi pemain semakin tinggi setelah menekuk Persiram Raja Ampat 1-0 dan menahan tim unggulan Sriwijaya FC tanpa gol pada partai kandang.

“Kami telah mematangkan persiapan juga mental anak-anak menghadapi laga tandang ke Jawa Timur dan Papua. Tantangan berat saat bertandang ke kandang lawan bukan hanya bagi PSMS. Tapi juga bagi tim-tim lain, karena atmosfer sepak bola Jawa sangat kental, sehingga membutuhkan persiapan yang cukup matang agar bisa memetik poin penuh,” jelas pelatih PSMS Suharto AD.

Menurut Suharto, Persela memiliki gelandang apik asal Argentina Gustavo Lopez. Pemain ini merupakan kreator ulung yang tak tergantikan bersama Sukadana yang kerap membangun tempo permainan. “Sedikit lengah maka akan membuat pertahanan kita mudah diterobos. Gustavo Lopez pemain yang harus diwaspadai sepanjang pertandingan,” tuturnya.

“Eksekusi bola-bola mati dari pemain Persela juga harus diwaspadai. Karena, Persela memiliki pemain dengan skill cukup merata dan mumpuni. Tak ada tawar-menawar, seluruh pemain harus meladeni permainan Persela, terutama disiplin mengawasi setiap pemain yang berpotensi membahayakan gawang kita,” tambah Suharto.

Dalam tour Jawa-Papua ini, Suharto mengatakan, PSMS membawa misi meraih poin penuh untuk mendongkrak posisi klasemen sementara. “Minimal bisa bercokol di 10 besar,” harapnya.

Dari data sebelumnya, manajemen PSMS menyatakan akan membawa 20 orang pemain. Namun, ternyata ditambah seorang pemain, jadi untuk laga tour Jawa-Papua PSMS memboyong 21 pemain. Termasuk stopper PSMS yang mendapat kartu merah Novi Handriawan dan gelandang PSMS yang terkena akumulasi kartu kuning Luis Pena.

Adapun ke-21 pemain yang berangkat yakni Markus Haris Maulana, Eddy Kurnia, Sasa Zecevic, Novi Handriawan, Wawan Widiantoro, Denny Rumba, Ledi Utomo, Rahmad, Ramadhan Syahputra, Eko Prasetyo, Anton Samba, Zulkarnaen, Alamsyah Nasution, Luis Alejandro Pena, Ikhyun Oh, Muhammad Antoni, Zainal Anwar, Osas Saha, Choi Dong Soo, Arie Priatna dan Yoseph Niko Ostanika. (saz)

Beda Nasib Andi dan Cheryl

Nasib mantan pasangan suami istri, Cheryl Ann Tweedy dan Ashley Cole kini berbeda 180 derajat. Saat nasib Ashley di Chelsea sedang terancam, mantan istrinya justru meroket di pentas hiburan.

Ashley yang juga bek tim nasoinal Inggris itu disebut-sebut sebagai salah satu pemain senior The Blues yang membangkang kepada sang manajer, Andre Villas-Boas. Bek sayap kiri 31 tahun ini juga dianggap provokator sehingga pemilik The Blues, Roman Abramovich mengancam akan mendepaknya.
Selain Cole, dua pemain senior Chelsea lainnya Frank Lampard dan Michael Essien juga terlibat percekcokan dengan pelatih muda asal Portugal itu. AVB memang jarang memainkan mereka.

Di saat karier Cole sedang terancam, mantan istrinya, Cheryl justru semakin tenar. Selebriti cantik asal Inggris ini kian melebarkan sayapnya di Amerika Serikat. Setelah sempat menjadi juri program The X Factor, wanita 28 tahun itu kini merambah dunia layar lebar.

Seperti dikutip dari The Sun, Kamis 23 Februari 2012, Cheryl melakoni debut di film Hollywood berjudul ‘What To Expect When You’re Expecting’. Dalam film bergenre komedi tersebut, personel grup vokal Girls Aloud itu tampil sebagai cameo.

Seperti halnya di The X Factor, Cheryl juga berperan sebagai juri program pencari bakat di film ini. Di sebuah adegan, wanita kelahiran Newcastle itu mengomentari kemampuan bernyanyi Cameron Diaz, salah satu pemeran utama yang menjadi kontestan. Selain Cameron, film itu juga dibintangi penyanyi seksi Jennifer Lopez. Rencananya, film tersebut akan rilis di Inggris pada 23 Mei mendatang.

Cole dan Cheryl telah bercerai sejak September 2010. Perceraian itu dipicu oleh perselingkuhan Cole dengan beberapa wanita, di antaranya seorang penata rambut, Aimee Walton yang mengaku punya hubungan khusus dengan Cole pada Desember 2006.  (net/jpnn)

Foto Panas Khedira ke Pengadilan

WARTAWAN Tunisia yang menyiarkan ulang foto gelandang Real Madrid, Sami Khedira, yang merangkul kekasihnya yang tidak mengenakan busana, telah menjalani persidangan Kamis (23/2) lalu dengan tuduhan melanggar moralitas.

Nasreddine Ben Saida, editor surat kabar Ettounsia, menyiarkan foto tersebut, yang pertama kali dipublikasi pada majalah GQ edisi Jerman, pekan lalu.
“Ini merupakan insiden serius dan skandal sebenarnya untuk keadilan Tunisia,” kata pengacara Ben Saida, Khalied Krichi.
Pada foto tersebut, pesepak bola Jerman yang memiliki darah Tunisia tersebut mengenakan jas untuk acara makan malam dan merangkul kekasihnya, seorang foto model Jerman, Lena Gercke.

“Kami tidak mengharapkan perlakuan seperti ini kepada para pewarta, yang mengingatkan kembali pada praktek-praktek dari rezim sebelumnya yakni Zine El Abidine Ali,” tambah Krichi.

“Kami melawan publikasi foto seperti ini, yang menentang prinsip-prinsip Arab-Muslim, namun tidak perlu mengkriminalisasi aksi semacam itu.”
Ben Ali, presiden yang cukup lama menguasai Tunisia, digulingkan pada tahun lalu, menyusul pemberontakan yang dilakukan rakyat.
“Kami terkejut dengan pembukaan kasus ini di pengadilan Tunisia,” lanjut Krichi
Sang editor dituduh melakukan penyerangan moral dengan resiko mengganggu ketertiban umum, dan menghadapi hukuman enam bulan sampai enam tahun ditambah denda sebesar 79 dolar sampai 790 dolar jika dinyatakan bersalah.

Asosiasi Pers Tunisia menyerang penahanan Ben Saida, dengan mengatakan bahwa tindakan itu telah menekan kebebasan jurnalis dan pers. Khedira sendiri turut bereaksi terhadap penahanan Ben Saida, dan mengatakan kepada harian Jerman, Bild, bahwa dirinya menyesal terhadap apa yang terjadi. (net/jpnn)

Kobayashi Melejit, Vettel Terbaik

BARCELONA – Kejutan terus terjadi di tes kedua Formula One (F1) 2012. Setelah Pastor Maldonado, giliran pembalap Kamui Kobayashi yang menjadi pembalap tercepat di sesi pramusim.

Dalam tes yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, Jumat (24/2) waktu setempat, pembalap asal Jepang itu menjadi pembalap tercepat dengan membuat catatan waktu 1 menit 22.312 detik.

Kobayashi mengalahkan Maldonado, yang kali ini harus puas menempati peringkat kedua dengan tertinggal 0.249 detik dari Kobayashi. Sementara itu, Paul Di Resta berada di urutan ketiga dalam tes hari terakhir.

Performa kurang meyakinkan diperlihatkan dua pembalap dari dua pembalap besar. Jenson Button harus puas menempati peringkat empat, sedangkan Felipe Massa menduduki posisi kelima dengan membuat 1m23.563 detik.

Mark Webber juga tampil sangat buruk dalam tes terakhir ini. Pembalap Red Bull itu harus puas menempati peringkat keenam.
Meski waktu tercepat di Sirkuit Barcelona Spanyol ditempati Kobayashi, namun itu tak menghalangi  Sebastian Vettel menjadi atlet terbaik di negaranya, dan berhak atas penghargaan dari pemerintah Jerman.

Vettel dinobatkan menjadi atlet kehormatan Jerman dan disematkan pin perak daun Laurel, yang menjadi ciri khas Jerman dari sang Presiden, Horst Seehofer. Sang Presiden tak hanya kagum akan prestasi Vettel, tapi juga kepribadian sang jawara bertahan F1 yang tak pernah tinggi hati.
“Meskipun dia selalu teratas dengan banyak trofi yang diraihnya, Anda (Vettel) tetap membumi dan rendah hati,” tutur sang presiden. (net/jpnn)

Ratu Udik, Sahabatnya, dan Pena dari Rendra

Oleh: Riza Multazam Luthfy

Ia berpunca dari udik. Teman-temannya meruahnya Ratu Udik. Karena memang perangainya yang kekampung-kampungan. Tampang dan tingkahnya yang lugu, tak sanggup menyembunyikan tabiat orang desa. Ditambah lagi dengan kebutaannya dalam hal teknologi. Sehingga, suara-suara sumbang kerap ditenggak. Joni dan Fiko, adalah dua di antara mereka yang mencibirnya terang-terangan. Pasalnya, semua tugas ia tunaikan dengan menulisnya di atas kertas folio. Tak terkecuali, tugas berbentuk paper ataupun makalah.

atu Udik termasuk korban. Ya, tepatnya korban ketidaktahuan. Karena ketidaktahuannya, ia mengambil jurusan sastra. Sebuah jurusan, yang dalam benaknya, kelak mengirimnya menjadi seorang guru.

“Nduk. Besok kamu jadi guru, ya. Dulu emak ngebet jadi guru, tapi gak bisa. Enam hari setelah lulus SD, bapak langsung melamar emak”.
Pesan emaknya terpacak dalam-dalam. Sehingga ia berazam menjadi pengajar sekolah di kampungnya.

Kekecewaan menyergap. Ketika menginjak semester dua, Ratu Udik baru mafhum bahwa sebenarnya, bila bercita-cita guru, maka kudu bersila pada jurusan pendidikan. Bukan sastra Jerman. Makanya, ia agak heran, mengapa di jadwal kuliah, sama sekali tidak tercium mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan. Dan dugaannya selama ini, bahwa setiap sarjana bisa langsung jadi guru dan mengajar di sekolah, harus lekas-lekas disingkirkan. (Barangkali persangkaannya benar, menurut konteks masa lalu. Lulus SMP saja, boleh jadi guru. Namun sekarang, sarjana pendidikan kian membludak. Mereka saja terancam tidak mendapat jatah kursi guru, apalagi jebolan non-pendidikan).

Nasi terlanjur menjelma bubur. Penyesalan harus dihapuskan. Penyesalan yang berlarat-larat hanya akan menerbitkan penderitaan. Akhirnya, Ratu Udik nekat menyambung jalan yang kadung ia tempuh.

“Maaf, Mak. Bukan bermaksud mendurhakaimu. Aku akan menapaki jalan yang terlanjur kupilih. Sesulit apapun”
Bertukas-tukas batinnya bergumam.
***
Berawal dari tugas Pak Janu, dosen Pengantar Ilmu Sastra, ia berkenalan dengan puisi. Kenal dalam arti sesungguhnya. (Karena semasih belajar di SD, jika bertemu dengan halaman yang memuat puisi, Bu Nanik langsung melewatinya). Guna menggenapi tugas Pak Dosen, Ratu Udik menggarap puisi cinta. Ya, cinta. Tema yang sangat dekat dan akrab dengan remaja.
Dari tugas itu pula, ia mulai bergaul dengan dunia maya. Tulisan tangannya tentu tak akan berfaidah. Sebab, Pak Dosen bersedia menerima kalau puisi dioper melalui email.
“Rob, nanti habis kuliah tolong ajari aku ngirim email, ya!”
Katup bibirnya menghembuskan kalam itu kepada Robet. Untungnya, mahasiswa yang baru dua hari bertukar nama dengannya itu mengekor saja.
***
Bukanlah Ratu Udik anak orang berpunya serupa teman-temannya yang lain. Jamak kali ia mengutang kepada Dewi, kalau kiriman dari emak ludes. Parahnya lagi, jika tempo pemberesan uang semester tiba. Demi sekadar memungut uang, ia rela mengasongkan kerudung dan asesoris milik Bu Atin. Juga menunggu kios pulsa di sebelah kos.

Dalam kegetiran hidup seperti itu, ia mencari tempat buat membocorkan perasaan. Dan ternyata puisi menjadi medium terbaik baginya. Saat mandi. Belajar. Melungguh di WC. Makan. Mau tidur. Bahkan ketika ngelindur pun semua syarat puisi. Tak ketinggalan pula ketika dosen berceramah.
“Daripada ngantuk. Kan lebih baik bikin puisi.”

Alasan yang kurang jitu, memang. Ketika kupingnya menangkap teguran dari dosen.
Hari-harinya, selain mengerjakan tugas kuliah, juga dipadati dengan memproduksi puisi. Dengan puisi, ia jelmakan rasa kesal pada Danu, yang kerap menyematkan permen karet di bajunya. Mendeskripsikan sebagian dosen yang minta ampun killer-nya. Juga kegalauannya tatkala menyambut tarikh penertiban utang.

Setelah puisi berhasil ditelurkan, Ratu Udik  menjemurnya di kamar kos. Makanya tak heran, bila ia selalu mengunci pintu kamar. Sebab, bila ibu kos memergoki dindingnya dijejali kertas, maka marahnya bisa tiga hari tiga malam.
Kebiasannya itu menggelinding sampai sekitar delapan bulan. Kemudian, atas saran Mbak Jeni, redaktur media kampus, ia mulai berani mempublikasikan karya. Berbekal pengetahuan mengirim email dari Robet, Ratu Udik menerbangkan puisi-puisinya ke beberapa media massa. Bahkan, tiap minggu, sembilan sampai sepuluh media massa diserang. Tentunya dengan puisi-puisi yang berbeda.

Jadwal mengirim karya ke media massa jatuh pada hari Jumat. Oleh dasar itulah, maka Kamisnya ia wajib berpuasa, agar bisa menyisihkan uang untuk online di internet.

***
Meski belum satu pun puisinya menyangkut, harapannya sukar tumbang. Perjuangan terus berlanjut. Dan ketika mengetahui bahwa para redaktur koran lebih terpikat dengan karya-karya orang lain, ia tak ambil pusing. Dalam pandangannya, menulis puisi dan mempublikasikannya merupakan keniscayaan. Sedangkan dimuatnya puisi di media massa adalah kebetulan.
Karena acapnya bertarung dengan media massa. Akhirnya pada pertengahan semester empat, beberapa puisinya termaktub di segelintir koran.
“Puisimu ada di Jabung Post, Mbak.”

Leni, adik semesternya, menenteng koran dan menunjukkannya kepada Ratu Udik.
Alamak. Meski baru termuat di koran daerah,  ia begitu bungah. Hatinya melonjak. Semangatnya bercabang-cabang. Rasa cintanya terhadap puisi kian menebal. Bahkan, sugesti yang baru terbangun yaitu apabila ia berbuat baik kepada puisi, maka puisi bakal membalas kebaikannya.
Atas dasar itulah, ia berhasrat mengangkat puisi sebagai sahabat.

***
“Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur”

Pernikahan kedua mempelai berjalan lancar. Selain mahar berupa cincin emas dan uang 6.000.000 rupiah, Robet juga mempersembahkan selembar kertas yang bertuliskan puisi. Ratih menatap lama dan mengeja puisi tersebut. Ia terhenyak lantas tertegun, sebab puisi itu sangat mirip, bahkan kembar, dengan puisi yang diciptanya tujuh tahun silam. Usut punya usut, ternyata Robet mengarsip karya pertama mantan Ratu Udik itu. Ia berkisah, bahwa sebelum melayangkan email ke alamat Pak Janu, terlebih dahulu ia menyimpannya ke dalam flashdisk. Ia menggembala puisi Ratih sebagaimana ia menggembala perasaannya. Dalam ingatan, masih terrekam jelas bagaimana ia harus bersitegang dengan satpam. Ia hampir diusir. Sebab, saban malam pembacaan puisinya kerap membangunkan pak RT.

Sebulan seusai mengikat janji dengan Robet, Ratih dipercaya menjadi dosen sebuah kampus ternama di Malang. Sesungguhnya, kualifikasi akademiknya kurang memenuhi syarat. Akan tetapi, karena kredibilitasnya sebagai penyair sudah diakui. Terlebih, kualitasnya dalam berkarya begitu mumpuni. Maka ia pun dipinang sebagai tenaga pendidik di kampus. Ia diminta mengampu beberapa mata kuliah. Walakin, kepalanya menggeleng. Demi memelihara kualitas karya, ia hanya bersedia menggepit mata kuliah Sastra Indonesia.

Karena track-record-nya bagus, berulang kali Pak Rektor hendak mengangkatnya sebagai dekan fakultas sastra sekaligus mengantongi SK PNS. Namun, perempuan berjanggut pedang itu menangkis. Baginya, hal tersebut bakal memangkas waktunya dalam berkarya.
***

Hari berebut senja. Aroma obat-obatan berseliweran memadati ruangan.

Di sebelah kanannya, berdiri sang buah hati, suami, bapak, dan emak. Sedang di sebelah kiri ada sejumlah sanak famili dan tetangga.
Dari ke sekian pengunjung, Robet tampak paling tegang. Gerahamnya mengait. Betisnya menggigil. Dan pandangannya menerawang. Dalam situasi darurat seperti itu, ia agak menyesal, kenapa dulu Ratih menolak tawaran Pak Rektor. Jika bersedia, pastilah gajinya akan membantu meringankan biaya operasi. Biaya yang sukar ditanggung oleh lelaki yang cuma guru swasta. Mana penjualan bukunya seret. Siapa pula yang sudi membeli buku puisi, selain kalangan sastrawan sendiri. Belum lagi, puisi-puisi Ratih kian nyenyai nangkring di koran. Tak semisal masa emasnya dulu. Sebulan bisa nongkrong tujuh kali. Ya, maklumlah. Para redaktur mulai melirik penulis muda, yang jumlahnya seabrek. Dan pastilah mereka juga memerlukan eksistensi dan pengakuan.

Tujuh orang dokter bersiap-siap mengoperasi penyakit Ratih. Kanker yang hinggap di payudaranya selama setahun terakhir itu sudah saatnya dihabisi. Berada di atas ranjang, wajah Ratih amat tenang. Sepi dari kegelisahan. Giginya juga terbentang, menandakan tak ada secuilpun kesedihan. Padahal semua orang yang bersua di selingkarnya cukuplah cemas.
Sejurus kemudian, sebiji pena berkelebat dalam pikirannya. Ya, pena. Hanya pena. Bukan nasibnya yang gawat dan tinggal menunggu keajaiban. Pena yang diperoleh dari penyair besar Yogyakarta itu berloncatan dalam otak Ratih.
“Mas, tolong ambilkan pena keperekan yang ada di lemari.”

Ahai. Siapa yang mengira bahwa dalam kondisi genting demikian, Ratih malah ingin bermain  imajinasi. Siapa juga yang menduga kalau pena lusuh itu hendak dipakai memahat puisi. Padahal, dokter menyarankan untuk beristirahat total. Apalagi, karena sebentar lagi dioperasi, maka segala aktifitas, baik yang berhubungan dengan fisik maupun pikiran, harus dikucilkan.

Awalnya, Robet melarang. Ia amat kawatir dengan keadaan istrinya. Akan tetapi, karena keinginan Ratih urung dibendung, maka dibiarkan istrinya itu melancarkan hobinya; Mendekap dan memeluk erat sahabat. Ya, puisi adalah sahabat yang begitu lekat dan dekat dengan kehidupannya.

Jemari kanannya menari-nari di atas kertas. Tujuh bait dihasilkan. Sampai sini, tak ada sesuatu yang mencengangkan. Tiada hal yang istimewa. Semua berjalan biasa saja. Namun, selepas pena bergerak-gerak sepuluh menit. Tiba-tiba alat tulis itu menyembulkan cahaya. Merah. Ah, bukan. Sahihnya merah bercampur kuning. Semua mata terpaku. Segala yang hadir terpukau. Kepala mereka geleng-geleng, mengisyaratkan keheranan. Bagai amuba, cahaya tersebut terbelah, berganda, dan melahirkan rona lain; Biru, hijau, dan ungu. Usai menampilkan keindahan yang tiada tara, cahaya itu lekas menjalar ke tulang Ratih. Sehingga muka dan serata tubuhnya menjadi terang seperti neon yang baru saja dinyalakan.

Dan, wow. Mengetahui kondisi terbarunya, Pak Heru, kepala tim operasi, mengatakan bahwa operasi dibatalkan. Penyakit Ratih lenyap entah ke mana.

Yogyakarta, 2011
Catatan:
Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur = Akad yang diucapkan oleh pihak suami ketika menikah.

Hercules AU Siap Operasi

Selesai dalam Perawatan Amerika Serikat

JAKARTA – Satu setengah tahun lamanya pesawat Hercules C-130 B milik TNI AU harus “dirawat” di Amerika Serikat. Pesawat angkut andalan itu mondok di ARINC Aerospace Oklahoma untuk menjalani perbaikan di semua sisinya.

“Hitung-hitungannya ini perawatan tingkat berat,” ujar Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus  kemarin.  Pesawat bersandi udara (call sign) A-1323 itu kini telah keluar bengkel dan kembali ke Indonesia. “Pesawat sudah siap operasi lagi per hari ini (kemarin),” ujarnya.
Saat ini Hercules A-1323 berada di home basenya, Skuadron 31 Lanud Halim Perdanakusumah. “Pesawat ini bisa air to air refueling,” katanya. Yang dimaksud adalah pengisian bahan bakar ke pesawat lain yang sedang terbang di udara.

Hercules terbang mendekat pesawat yang kehabisan avtur itu dalam jarak aman, lalu, melalui pipa khusus bahan bakar ditambahkan. “Harus dilakukan dalam perhitungan yang presisi dan cuaca yang bagus,” kata Azman.

Perawatan pesawat ini gratis sebagai bagian dari kerjasama Program Depot Maintenance (PDM) sebagai kerjasama antara Indonesia dan  Amerika Serikat.
Pesawat C-130 B A-1323 kembali ke Indonesia dengan menempuh waktu penerbangan selama 35.40  jam melalui rute Will Roger (Air Force Base) AFB Oklahoma, Travis AFB California, Hikam AFB Honolulu, Bachkolz Army Base, Lanud Biak, Lanud Iswahjudi dan mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma Jumat (24/02) lalu.

Pesawat A-1323 diawaki oleh Komandan Skadron 31 Letkol Pnb. Eko Sujatmiko bersama tujuh belas awak pesawat dari Skadron Udara 31 serta didampingi oleh empat orang tenaga mekanik dari ARINC Aerospace. “Pesawat ini sudah memperkuat TNI AU sejak Maret 1984, sekarang siap terbang lagi dengan kekuatan baru,” tutupnya.(rdl/ttg/jpnn)

Serasa di Jepang Bersama AKB48

JAKARTA – Indonesia memiliki tempat spesial bagi pemerintah Jepang. Saat memperingati satu tahun bencana tsunami yang terjadi di Jepang, Kedutaan Besar Jepang dan Japan Foundation serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengadakan Japan Pop Culture Festival 2012.

Dalam festival yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, tadi malam, mereka menampilkan kolaborasi idol group terpopuler di Jepang. Yakni, AKB48 dan sister grup mereka, JKT48. Grup yang memiliki rekor dunia dengan personel terbanyak, yakni 48 orang, itu tidak datang full team. Mereka diwakili 14 orang. Beberapa personel yang mengikuti konferensi pers, antara lain, Takahashi Minami yang menjadi juru bicara, Miyazawa Sae, dan Maeda Ami. “Terima kasih sudah hadir di sini. Makasih sudah mengundang kami datang ke Jakarta untuk menunjukkan bagusnya kebudayaan Jepang. Kami datang sebagai duta Jepang dan berharap bisa mempererat persahabatan antara Jepang dan Indonesia,” kata Minami.

Grup yang populer dengan lagu Heavy Rotation itu baru kali pertama berkolaborasi dengan JKT48. JKT48 sendiri merupakan sister group pertama AKB48 di luar negeri. “Ya, ini kolaborasi pertama kami,” tambah Minami.

Dalam kolaborasi tadi malam, AKB48 dan JKT48 menyanyikan hits Heavy Rotation dan Aittakata.

AKB48 saat ini memang tengah digemari bukan hanya di Jepang, tapi juga di negara-negara lain seperti New York, Los Angeles, Paris, Moskow, Taiwan, dan Korea. (jpnn)

Empat Warga Kisaran Terjaring

Polisi Gelar Razia Senpi di Perbatasan Aceh-Sumut

BANDA ACEH-Dalam rangka mengantisipasi masuknya senjata api (senpi), melalui jalur sungai Tamiang dan jalur laut, serta meningkatkan pengamanan menjelang pemilukada Aceh, petugas semakin gencar melaksanakan razia.

Pada gelaran kegiatan Sabtu (256/2) dinihari pukul 00.30 WIB, Polres Aceh Tamiang bersama TNI mencegat beberapa kenderaan di Desa Tualang, kecamatan seruway, Kabupaten Aceh Tamiang.  Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Utara dan negeri jiran Malaysia.
Dalam razia tersebut, berhasil menangkap  empat orang pria yang mencurigakan masuk ke Aceh Tamiang tanpa dilengkapi identitas. Ketika diintrogasi, mereka mengaku berasal dari Kisaran, Kabupaten Asahan  Sumatera Utara.

Selanjutnya menggeledah seluruh barang bawaan mereka. Meski tidak menemukan senpi, namun keempat warga tersebut diamankan di Mapolsek Seruway. Dalam pengakuannya menyebut hendak hendak berjualan kain di Aceh Tamiang.

Berkaitan dengan razia tersebut, Kapolres Aceh Tamiang AKBP Armia Fahmi kepada Koran ini kemarin mengatakan bahwa razia tersebut dilakukan dalam rangka mengantisipasi masuknya senpi ke Aceh melalui jalur laut dan sungai Tamiang menjelang Pemilukada Aceh yang sebentar lagi dihelat.(jpnn)