29 C
Medan
Tuesday, January 13, 2026
Home Blog Page 13876

Empat Kali Kabur, Sering Ngamen di Lampu Merah

Trauma Disiksa Ibu Tiri, Remaja 12 Tahun Menghilang

Diduga trauma disiksa ibu tiri, Muhammad Sabda Lubis (12), kabur dari rumahnya sejak setahun lalu. Hal ini diungkapkan Nety (30), sepupu Sabda saat ditemui wartawan Posmetro Medan (grup Sumut Pos) di rumahnya, Jalan Tanjung Raya, Gang Kapuk, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Jumat (24/2).

Menurut Nety, sejak tahun 2000 ibu kandung Sabda bernama Lilis Heriawaty telah bekerja di Malaysia. Kepergian Lilis ke Malaysia meninggalkan lima anaknya termasuk Sabda bersama Nety. Nah, sejak Lilis berada di Malaysia, ternyata ayah kandung Sabda bernama Herman Lubis menikah lagi dengan Nursiah, janda beranak satu.

Akibat pernikahan itu, Lilis dan Herman pun bercerai pada 2002. Sejak perceraian itu, Herman membawa Sabda tinggal bersamanya. Sejak itulah, kakak dan abang kandung Sabda berangkat ke rumah nenek mereka yang berada di Padang. Sabda pun tinggal bersama ibu tirinya sejak berusia 3 tahun. Nah, lambat laun usia Sabda bertambah. Tepat di usia 9 tahun, Sabda merasakan kekerasan dari ibu tirinya. Perlakuan kasar seperti penyiksaan dialami remaja 12 tahun tersebut.

Kekerasan yang dialami Sabda tak pernah diceritakan kepada ayah kandungnya, sejak usia 9 tahun, Sabda yang merasa tersiksa maka sering pergi meninggalkan rumah hingga berbulan-bulan. Setiap kali Sabda pergi meninggalkan rumah selalu ditemukan oleh uwak atau saudara sepupunya di kawasan persimpangan lampu merah.

Ternyata sejak usianya 9 tahun, Sabda sudah empat kali kabur dari rumah ibu tirinya yang beralamat di Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat. Setiap Sabda kabur, keluarga dari ibu kandungnya menanyakan apa motif kaburnya. Sabda yang sedikit terutup selalu mengatakan tak ingin tinggal bersama ibu tirinya, karena mengalami penyiksaan tak wajar.

“Tapi kami tanya ibu tirinya, dia tak pernah ngaku,” kata Nety didampingi kakak kandung Sabda bernama Siska, Jumat (24/2).
Dijelaskannya, sejak itu Sabda pun mereka ajak tinggal bersama di rumah uwaknya. Namun, Sabda selalu mengeluhkan ingin bertemu ibu kandungnya. Karena keinginannya tak dipenuhi, maka sejak awal 2011 lalu, Sabda pun kembali kabur tak kembali lagi hingga kini. “Sejak setahun ini kami terus mencari dia, ke pinggiran jalan dan tempat lokasi anak jalanan,” kata Nety.

Sejak kepergian Sabda selama setahun belakangan ini, ayah kandungnya Herman dan ibunya, Lilis kembali rujuk pada akhir 2011 lalu. Sedangkan kakak dan abangnya telah kembali ke Medan. Kepergian Sabda pun telah dilakukan pencarian oleh bapak dan ibunya, namun tidak juga ketemu. “Baru saja ibu dan bapaknya ini rujuk lagi, makanya harapan keluarga, Sabda bisa balik ke rumah lagi,” kata Nety.

Sejak dua bulan belakangan ini Sabda terus di cari, namun tidak juga ditemukan. Sedangkan ibu kandungnya terpaksa kembali ke Malaysia guna melanjutkan kontrak kerjanya. “Ibunya baru saja dua minggu ini pulang ke Malaysia, ibunya juga minta dengan bersatu lagi keluarga, Sabda dapat kembali pulang,” kata Nety.

Hal itu dibenarkan oleh Lilis yang menghubungi kru koran ini melalui SMS mengharapkan Sabda yang selama ini tidak pernah berada di pangkuannya dapat kembali pulang dalam keadaan sehat, dan tak ada lagi ibu tiri yang akan menyiksanya. “Saya sudah kembali dengan bapaknya, saya harap Sabda bisa pulang, sudah capek kami mencarinya,” kata Lilis kepada kru koran ini.

Menurut Nety, Sabda hanya mengecap pendidikan kelas 4 SD dan ternyata memiliki kepintaran dalam bernyanyi. “Sabda itu pandai sekali menyanyi. Suaranya sangat bagus kalau nyanyi,” kata Nety.

Dijelaskannya juga, dugaan keluarga Sabda hidup di jalanan dengan bermodalkan kepandaiannya bernyanyi, maka Sabda hidup di jalanan sebagai pengamen untuk hidup bersama anak jalanan. “Dulu waktu empat kali kabur, si Sabda ngakunya mengamen sama anak-anak jalanan,” kata Nety.
Selain itu juga, sejak empat kali kabur, Sabda selalu ditemukan di kawasan pinggiran lampu merah sambil bernyanyi. “Kami yakin dia pasti hidup di jalanan dengan mengamen. Kata anak-anak jalanan yang kami tanyai, Sabda memang sering ngamen bersama mereka,” kata Nety.

Harapan keluarga, walaupun Sabda hidup di jalanan, diharapkan bisa pulang untuk berkumpul bersama keluarga. “Kini mamak dan ayahnya sudah bersatu kembali dan kakak dan abangnya juga sudah di Medan, harapan kami Sabda bisa kembali pulang untuk kumpul bersama keluarga,” harap Nety.(ril/smg)

Apa Adanya Jadi Resep Utama

Jeremy Thomas dan Ina

Di tengah maraknya kabar perceraian di kalangan pelakon dunia hiburan, masih ada rumah yang bertahan hingga belasan tahun. Salah satunya adalah rumah tangga Jeremy Thomas dan Ina Thomas yang memasuki tahun ke-17 pada 2012. Selama itu, jarang terdengar berita yang tidak sedap tentang kehidupan mereka. Bahkan, hingga kini, mereka terlihat penuh cinta satu sama lain.

Ketika JPNN berkunjung ke kediaman mereka di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, hal itu semakin terlihat dengan jelas. Ketika diminta bergaya untuk foto, secara refleks, mereka menunjukkan kemesraan dengan memeluk atau bersandar.

Menurut Jeremy, tanpa disadari, ada keintiman dalam keluarga mereka. ‘’Kami terbiasa hidup di lingkup keluarga yang kecil. Secara tidak langsung, kami terbentuk untuk saling berinteraksi satu sama lain. Interaksinya antara saya dan Ina serta antara kami dan anak,” kata aktor yang dulu membintangi banyak judul sinetron tersebut. Jeremy dan Ina memiliki dua anak, Axel Matthew Thomas dan Valerie Teresa Thomas.

Bagi pria yang sekarang berbisnis tersebut, Ina bukan hanya seorang istri. Ina adalah teman, sahabat, dan partner bisnis. ‘’Dia teman berantem juga, tapi untuk hal positif. Berbeda pendapat itu kan wajar,” ujarnya.

Ketika tidak sepaham, mereka tidak lantas melihat hal itu sebagai sarana untuk memperlihatkan bahwa mereka adalah sosok yang berbeda. ‘’Kalau ada yang tidak sepaham, artinya, kami kurang memperkaya diri. Jadi, kami yang harus memperkaya diri kami. Pemahaman itu terus saya jalani sampai sekarang sehingga intimasi yang terlihat di antara kami datang dari perasaan, tidak palsu,” jelasnya.

Ina mengungkapkan bahwa mereka merupakan karakter yang apa adanya. Kelebihan dan kekurangan masing-masing menjadi makanan sehari-hari. Mereka melewati masa-masa tersebut. ?Menyikapi kekurangan dan kelebihan pasangan adalah makanan kami tiap hari. Kadang, kalau ada pasangan lain yang berantem hebat, ujung-ujungnya berantakan. Kami tidak begitu. Masa-masa itu sudah kami lalui,” ungkap perempuan yang berprofesi sebagai desainer tersebut.

Pemilik label clothing Ina Thomas itu bilang bahwa dirinya dan Jeremy kenal sejak masih ABG. ?Dia tahu saya A sampai Z. Begitu juga saya. Secara emosional, kalau ribut, dia lebih mengalah. Jimmy itu lebih matang daripada saya. Harus begitu, ada yang mengerti dan mengalah. Kalau nggak, bisa repot,” katanya.

Pasang surut dalam berumah tangga, menurut Ina, tidak berasal dari permasalahan pribadi antara keduanya. Bagi mereka, pasang surut itu bisa terjadi karena masalah anak. (jan/c12/any/jpnn)

Serangan Bertubi-tubi

PSSA Asahan vs Medan Jaya

KISARAN- PSSA Asahan kembali menunjukkan keunggulannya sebagai kandidat tim terbaik pada kompetisi Divisi I Liga Indonesia grup II putaran ke-II di Stadion Mutiara Kisaran, Sabtu, (27/2). Ini setelah PSSA Asahan membungkam lawannya Madinah Medan Jaya dengan skor 3-1.

PSSA Asahan yang ditukangi Rudi Saari terus melakukan gebrakan-gebrakan sejak pluit awal ditiupkan wasit Arif Johan dari Pengprof PSSI. Serangan PSSA Asahan berlangsung bertubi-tubi.

Dalam pertandingan itu PSSA Asahan menerapkan zone marking untuk mengunci pergerakan lincah penyerang bertubuh kecil Rico Simanjuntak dan M Iksan Lubis yang selalu menyatroni lini bawah PSSA Asahan.

Aksi ini membuat ribuan penonton yang menyaksikan pertandingan tidak beranjak dari tempat duduknya.
Madinah Medan Jaya yang dikomandoi M Iksan Lubis Sutrisno Purba dan Ricko Simanjuntak saat mendapat tekanan bertubi-tubi mencoba mengimbangi permainan cepat PSSA Asahan dengan tempo tinggi.

Gawang Madina Medan Jaya bergetar pada menit 11 hasil umpan manis Sapri Koto lewat operan setengah tiang dari rusuk kanan pertahanan bawah Madina Medan Jaya.

Unggul 1-0 tidak menyurutkan permainan PSSA Asahan. Serangan bergelombang berawal dari lapangan tengah dialirkan  Edy Saputra dan M Irfan membuat permainan PSSA Asahan semangkin ganas dan tajam.

Pada menit 34 Bambang Hardianto penyerang subur PSSA Asahan kembali mengkonversikan gol manisnya, melalui scrimet di depan gawang Madina Medan Jaya.

Sontekan kaki kanannya keras ke sudut gawang tidak dapat diselamatkan penjaga gawang Madina Medan Jaya Ilham Anggiat.
Madina Medan Jaya yang sudah tertinggal 2-0 terus berupaya menyamakan kedudukan lewat pemain depannya Rico Simanjuntak, namun semuanya dapat dipatahkan pemain bawah PSSA Asahan.

Sampai paruh pertama ditiupkan wasit kedudukan tetap 2-0 untuk keunggulan PSSA Asahan.

Memasuki babak dua Madina Medan Jaya mengubah taktik permainan dengan melakukan serangan berantai. Pundi-pundi gol PSSA Asahan kembali bertambah lewat kaki Deni Setiawan di menit 69 setelah salah seorang pemain bawah Madina Medan Jaya Bambang Hardianto terjatuh.
Tendangan keras dengan arah bola melengkung yang dilakukan Deni Setiawan persis ketiang gawang satu dan bola mantul menerobos jala Madina Medan Jaya.

Penjaga gawang yang coba menyelematkan gawang dari kebobolan tidak dapat mengantisipasi dengan baik. Unggul 3-0 PSSA Asahan tidak serta merta mengurangi serangan-serangan bahkan terus bermain tempo tinggi menyatroni lini bawah Madina Medan Jaya, melihat hal ini para pemain Madina Medan Jaya yang tidak kenal lelah dalam membangun serangan juga melakukan perlawanan sengit.

Mendekati in juri time pertandingan babak kedua, lewat serangan sporadis, salah seorang pemain bawah PSSA Asahan hands ball, wasit yang memimpin pertandingan langsung menunjukkan titik putih. Tendangan finalty yang diambil penyerang Madina Medan Jaya, menjalankan tugasnya dengan tendangan keras.

Walaupun sempat ditepis penjaga gawang PSSA Asahan  Abdul Rohim, namun bola yang terlalu keras langsung menerpa jalannya, sehingga mengubah kedudukan 3-1. Sampai pluit panjang ditiupkan wasit kedudukan tidak berobah untuk keunggulan PSSA Asahan (rel/smg)

Sampai Jumpa di DBL 2013

MEDAN- Honda DBL 2012 North Sumatera Series usai sudah. Dua jawara telah ditasbihkan: SMA Sutomo 1 Medan dan SMA Wahidin Medan. Siapa the next champion ajang ini? Nantikan di DBL 2013.

Ya, even bola basket antar pelajar terbesar di Indonesia ini selalu menawarkan kisah berbeda saban tahunnya. Di Sumut, even ini sudah kali ke tiga digelar sejak 2010 lalu. Dan juaranya selalu berbeda.

Edisi 2012, GOR Samudera Sport Club yang penuh sesak terutama di laga final kemarin menunjukkan antusiasme yang begitu besar dari pecinta basket Sumut.

Hadirnya DBL sebagai even basket pelajar terbesar di Indonesia tak sekedar turnamen tahunan tanpa target. Pencarian bibit-bibit potensial dari usia dini tentu akan lebih mudah dipantau dengan hadirnya DBL.Terutama di tengah semakin minimnya kompetisi basket antar pelajar di Medan.
Peran positif DBL cukup dirasakan banyak pihak.  Pelatih tim finalis SMAN 5, Fenaldy Herbanto mengakui adanya DBL membantu para anak asuhnya memberikan jam terbang. “Kami sendiri di SMAN 5 sangat antusias sekali dengan adanya DBL. Terutama memberikan kesempatan bermain untuk pelajar mengembangkan bakatnya. Selain itu ada  kesempatan mendapat ilmu ke Surabaya dan tiga pemain kami terpilih. Itu pencapaian yang luar biasa bagi sekolah kami,” ujarnya.

Pelatih SMAN 7, Ahmad Fuad Azmi melihat keberadaan DBL yang menyedot antusiasme sangat tinggi dari pecinta basket Medan harusnya membuat pemerintah daerah sadar untuk membangun fasilitas baru yang mendukung. “Lihat saja setiap tahunnya penonton membeludak. GOR selalu penuh sehingga terpaksa bergantian menonton. Artinya Sumut butuh fasilitas baru yang lebih memadai untuk basket. Pecinta basket cukup banyak kok di Medan,” katanya.

Sementara Pelatih Santo Thomas 1, Mario Wijaya memuji program pengiriman pemain atau pelatih yang dinilai terbaik ke Pulau Jawa. “Hanya di DBL kita pelatih juga diberi kesempatan belajar. Ini yang tidak kita dapat di ajang lain. Sesuai dengan namanya development yang terus mengembangkan potensi basket pemain dan pelatih,” ujarnya.

Bagi pemain sendiri, DBL selalu menyelipkan kenangan. Guard Methodist 2, Nicholas kegagalan tahun ini membuatnya tak sabar menantikan DBL tahun depan untuk menebusnya.  “Senang bisa masuk first team. Walaupun target utama saya bisa membawa tim juara,” ujar siswa kelas 1 ini.
Sementara center SMAN 5, Raissa Sati berharap dari DBL ini menjadi titik tolak dirinya bisa menembus tim basket Sumut di Popwil. (mag-18)

SMA Wahidin Terbanyak Koleksi Award

SMA Wahidin penuh prestasi di Honda DBL 2012 North Sumatera Series. Selain jadi juara kategori putri, mereka juga kumpulkan sejumlah award lainnya. Total mereka meraih enam award.

Yang pertama, tentu saja sebagai champion tim basket putri yang mengalahkan SMA Negeri 5 Medan di partai final. Kedua, jawara Honda Beat Team Chellenge. Ketiga, runner up Men’s Biore DBL Speed Chellenge. Keempat dan kelima, jawara di kategori putra dan putri pada Telkomsel Three Point Competition yang diraih Felix dan Meilawati. Dan yang terakhir peraih Supporter Award.

Atas raihan ini, manager SMA Wahidin Medan Pelangi Wijaya mengaku sangat bangga terhadap raihan yang diperoleh anak-anak didiknya di even bola basket antar pelajar terbesar di Indonesia itu. “Mereka tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ungkapnya, Minggu (26/2).
Pernyataan Pelangi Wijaya tersebut merujuk atas peran pihak sekolah yang tak tanggung-tanggung mendukung siswanya. Fasilitas latihan, dukungan spirit, moril dan materil begitu nyata dalam suksesnya anak-anak SMA Wahidin Medan meraih sejumlah award.

Pelatih tim basket putri SMA Wahidin Herijanto membenarkan hal tersebut. “Ya, pihak sekolah memang sangat banyak membantu dalam suksesnya tim-tim SMA Wahidin meraih banyak award.  Tentunya dengan menghasilkan prestasi bagi sekolah,” tuturnya.

Menurut Herijanto, hal ini bukan terjadi hanya pada even kali ini. “Kita terus mendapatkan perhatian serius dari sekolah. Hal ini bermaksud terus mendongkrak prestasi sekolah dalam berbagai even, baik dalam sisi ilmu pengetahuan dan sains, olahraga juga seni,” tandasnya. (saz)

Pelipur Lara, Bertahan Tiga Tahun, Hingga Target Juara

Cerita dari Tim Dance Honda DBL 2012

TIM Basket Putra SMA Methodist 2 Medan kalah di partai puncak Honda DBL 2012 North Sumatera Series oleh keperkasaan SMA Sutomo 1 Medan. Kekalahan itu merupakan yang kedua di partai final. Sakit memang. Tapi, rasa sakit itu bisa terobati dengan capaian luar biasa tim dance sekolah itu.
Ya, Tim Dance SMA Methodist 2 Medan mencatat prestasi luar biasa di ajang DBL. Sejak pertama kali digelar di Medan 2010 lalu, mereka selalu berhasil mempertahankan gelar juara. Total mereka sudah tiga kali jadi juara.

Menanggapi hal tersebut, kapten dance team Claudya menuturkan, ia dan teman-temannya bersyukur atas prestasi ini. “Sejak pertama even DBL berlangsung di Sumut 2010 lalu, kita sudah ikut meramaikan supporting eventnya. Khususnya, dance competition. Dan sejak itu kita terus menjadi pemenang,” ungkapnya, Minggu (26/2).

Satu hal yang patut dibanggakan dari dance team SMA Methodist 2 Medan ini selain menyabet gelar juara selama tiga tahun, mereka juga tak pernah dipandu pelatih. “Kita bekerjasama dengan semua anggota untuk menyelesaikan sebuah tarian yang menarik dipertontonkan. Dan kita memang tak memakai jasa seorang pelatih untuk itu,” kata Claudya. Dengan beranggotakan 12 orang, menurut Claudya, timnya sudah dipenuhi talenta yang diperlukan untuk menciptakan sebuah tarian menarik.

Sementara di posisi kedua Dance Competition ditempati Wiyata Disciples, asal SMA Wiyata Dharma Medan. Kapten Wiyata Disciples Dika Prianka mengaku tak menyangka bisa menempati posisi kedua.

Menurutnya, dance team yang awalnya tak mendapat dukungan dari pihak sekolah ini sangat membutuhkan prestasi untuk memberikan bukti kepada sekolah. “Mudah-mudahan semakin meyakinkan sekolah akan talenta siswanya,” harap Dika.

Sementara, di poisis ketiga ditempati dance team SMK Negeri 7 Medan yang dikapteni Cynthia. Cynthia juga mengaku sangat senang atas predikat yang diraih timnya. “Bangga bisa menjadi pemenang. Kemenangan ini juga sebagai pengobat duka, karena tim basket putri kita kalah di semi final,” terangnya. “Tahun depan, target kami juara,” tandas Cynthia. (saz)

Car Free Day Dialihkan ke Gatsu

Ribuan warga mengikuti acara Car Free Day 2012 di Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di depan rumah dinas Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, Minggu (26/2) pagi.

Acara yang mengambil tema Olahraga Bersama Masyarakat Kota Medan itu diisi dengan beragam kegiatan seperti atraksi BMX, skate board, vixi show, sepeda santai dan dan senam massal.

“Acara ini berlangsung sejak pukul 06.30 WIB dan dibuka dengan pelaksanaan senam refleksi yang dipandu langsung oleh Persatuan Olahraga Pernafasan Indonesia (Porpri) Medan,” ujar Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, usai melepas peserta.

Menurut Rahudman, Car Free Day 2012 melibatkan banyak stake holder untuk menciptakan prilaku mencintai kesehatan.

Acara Car Free Day 2012 yang diselenggarakan Walikota Medan bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) juga membagikan sejumlah hadiah lewat lucky draw yang disiapkan panitia.

Acara juga dimeriahkan dengan Senam Kebugaran Sumatera Utara (SKSU) diiringi lagu-lagu tradisional.

Sedangkan plaksanaan Car Free Day untuk dua minggu ke depan akan dialihkan ke Jalan Gatot Subroto Medan seiring dengan kegiatan Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N), yang akan dilaksanakan Juni mendatang.

Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengharapkan masyarakat tidak hanya meningkatkan kesadaran berolahraga, tetapi juga mensukseskan kegiatan PF2N yang menjadi salah satu upaya untuk mempromosikan acara tersebut.

“Jadi pelaksanaannya bisa bersamaan sekaligus mempromosikan acara lainnya,” kata Rahudman.

Saat ini, katanya, lokasi tersebut sedang ditata sebaik mungkin dengan mengerahkan 60 truk pengangkut sampah, agar lokasi bersih dan siap menampung peserta dari 33 provinsi yang akan datang sebagai peserta.

“Kita ingin menjadikan Medan sebagai Kota Bunga,” ucapnya.

Karenanya, seluruh stake holder dan masyarakat harus mendukung acara tersebut agar program yang juga bertujuan untuk mensukseskan pariwisata sesuai dengan visi dan misi Pemko Medan yaitu Visit Medan Year 2012 bisa terlaksana dengan baik.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Hanas Hasibuan mengatakan pihaknya sangat mendukung usulan yang disampaikan Wali Kota Medan.
“Kita mendukung apa yang diputuskan wali kota. Terlebih lagi Jalan Gatot Subroto dinilai representatif dari segi lebar dan panjang jalan,” ucapnya.
Dan yang paling utama, pihaknya sangat mendukung apabila kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai acara lain yang mendukung pembangunan Kota Medan. “Seperti kita ketahui volume kendaraan di Jalan Gatot Subroto cukup padat jadi polusinya cukup tinggi. Kalau satu hari bisa dikurangi dengan car free day tentu akan lebih baik,” ujarnya.

Diharapkan masyarakat memanfaatkan acara ini sebaik mungkin karena acara ini memang diperuntukkan bagi seluruh warga sehingga olahraga menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya mengimbau agar warga masyarakat memanfaatkan momen ini untuk berolahraga bersama. Selain berolahraga masyarakat juga dapat menikmati hiburan dari grup band yang telah kita siapkan serta mendapat hadiah lucky draw. Semuanya gratis tidak dikutip bayaran,” pungkasnya. (uma/adl)

Haji Anif Gelar Lomba Foto Berhadiah Rp50 Juta

MEDAN-Sebagai wujud kepedulian pada perkembangan keterampilan anak muda di Medan, Haji Anif menyelenggarakan lomba foto berhadiah total Rp50 juta. Lomba kali ini  bersamaan dengan momen peringatan HUT ke-73 Haji Anif.

Menurut Ketua Penyelenggara, Musa Rajekshah lomba foto bertema Hijau Bumiku Lestari Flora Faunaku ini akan memilih foto-foto terbaik yang berisi subjek seputar habitat kolam burung di lokasi perumahan Cemara Asri.

Menurut pria yang akrab disapa Ijeck itu tema ini dipilih untuk mengajak semua kalangan untuk peduli tentang kelestarian plasma nutfah bumi, yang sangat kaya terutama kekayaan spesies burung di Indonesia. “Isu bumi hijau menjadi agenda serius untuk diwujudkan bersama dan menjaga kelestarian fauna menjadi salah satu bagian terpenting,” kata Ijeck.

Selain program bumi hijau, acara ini juga untuk mengajak kalangan pecinta fotografi untuk mengabadikan kekayaan fauna di Indonesia, di samping untuk mengembangkan potensi keterampilan fotografi yang menjadi bagian dari industri kreatif yang semakin tumbuh positif di Medan.

Menurut Ijeck, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Medan merupakan salah satu basis fotografi yang sangat kuat tradisinya dengan jumlah pehobi yang tinggi.  Lomba dibagi dua kategori yaitu umum dan mahasiswa/pelajar. Pembagian ini dibentuk untuk member kesempatan buat para mahasiswa/pelajar untuk berpartisipasi menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang fotografi.

Pendaftaran dibuka sejak tanggal  20 sampai 29 Februari di Sekretariat Perumahan Cemara Asri, Cemara Asri Boulevard 131. Selain itu, info lengkap lomba ini bisa didapat di grup Facebook Lomba Foto Kolam Burung Cemara Asri.

“Lomba ini ini menjadi momen yang kita harapkan bias menjadi inspirasi untuk semua kalangan untuk tetap  peduli tentang kelestarian flora fauna yang dapat dimulai dari hal-hal dari sekeliling kita,” kata Ijeck. (zan)

Gathering Sumut Pos, Bersama Kita Bisa

MEDAN-Bersama Kita Bisa! Sebuah slogan penuh spirit tercetus pada acara gathering segenap awak Harian Pagi Sumut Pos, di Gardenia Resto di Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (26/2).

Pimpinan Umum (PU) Harian Pagi Sumut Pos, Marganas Nainggolan pada kesempatan itu menyatakan, kebersamaan yang terbangun selama ini telah ditandai dengan keberhasilan Sumut Pos mendapat penghargaan dari Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS), sebagai Koran Terbaik se-Sumatera Utara (Sumut) dalam kategori design grafis/lay out terbaik.

“Sebagai pembuka, kita sudah dapat penghargaan dari SPS. Ke depan, apalagi yang akan kita raih? Sekarang, bagaimana kita akan tetap eksis di Sumut, dan di jajaran grup Jawa Pos lainnya? Semua yang ada di Sumut Pos ini jago-jago. Punya intelektualitas tinggi. Ayo, kita ciptakan suasana kekeluargaan yang harmonis. Mulai dari yang kecil-kecil, tapi dibuat secara serius. Seperti memberi penghargaan terhadap karyawan dengan masing-masing kategori,” ungkapnya.

Pimpinan Perusahaan Sumut Pos, Finka Rozana Tanjung, pada kesempatan itu berupaya memberi motivasi, agar keakraban, rasa kekeluargaan yang selama ini telah terbangun dari semua divisi, baik redaksi, periklanan, pemasaran dan lainnya, untuk tetap terjaga. “Semua divisi saling sharing, agar kita semakin solid,” sarannya.

Pada acara yang dimulai tepat pukul 13.00 WIB tersebut, Wakil Pimpinan Umum Bidang Usaha, Zulkifli Tanjung menegaskan, tahun 2011 Sumut Pos telah merengkuh kesuksesan dan meraih laba besar. Dan kesuksesan itu harus terus dan tetap terjaga, agar di tahun 2012 ini, Sumut Pos akan semakin lebih baik lagi.

“Tahun 2012 kita harus lebih baik. Kita bisa sukses dari tahun sebelumnya. Untuk mencapai itu, dibutuhkan kerjasama dan kekompakan. Bersama kita bisa!” tegasnya.

Sekretaris Redaksi Sumut Pos, Desi yang juga pembawa acara pada acara yang penuh kekeluargaan itu mengatakan, sentuhan berbeda pada Sumut Pos 2012 ini adalah nuansa perempuan relatif lebih kentara jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa buktinya adalah Pimpinan Perusahaan Sumut Pos saat ini dijabat oleh seorang perempuan, yakni Finka Rozana Tanjung.

Untuk Pimpinan Redaksi Sumut Pos, diberikan kepercayaan kepada Dame Ambarita. Koordinator Liputan juga diamanahkan kepada sosok perempuan, yaitu Laila Azizah. Yang lebih riil dirasakan, khususnya bagi kalangan pembaca adalah munculnya konsep halaman For Ladies, yang memuat segala hal yang bernuansa perempuan.

“Tahun 2012, Sumut Pos memiliki sentuhan baru yaitu sentuhan perempuan. Sejumlah struktur jabatan juga, saat ini dipegang oleh perempuan-perempuan tangguh. Pimpinan Redaksi ada Kak Dame, Pimpinan Perusahaan dijabat Bu Finka dan Koordinator Liputan oleh Laila Azizah. Kita akan lebih maju, dan bersama kita bisa,” sebutnya.

Acara tidak hanya sampai disitu. Setiap karyawan diberi keleluasaan untuk menyampaikan, semua unek-unek yang terjadi dan dirasakan.
Pimpinan Redaksi Sumut Pos, Dame Ambarita juga menyahuti kalau sejak Desember 2011 hingga Februari 2012, reporter semakin menunjukkan peningkatan. Ini ditandai dengan sajian berita hasil liputan wartawan melalui Lapsus (Laporan Khusus)  yang berbeda dan media cetak lainnya. “Mari kita saling bekerjasama.

Tim yang sudah baik, dan harus tetap menjaga itu,” tuturnya.

Sebelum acara dimulai, suasana dan rasa kekeluargaan begitu terasa. Satu per satu, karyawan Sumut Pos menyumbangkan lagu. Tidak ketinggalan, PU Sumut Pos, Marganas Nainggolan juga menyumbangkan suara emasnya. Sorak sorai, tawa ria diwarnai guyonan-guyonan kecil juga turut mewarnai acara itu. Ayo, Bersama Kita Bisa! (ari)

Pengusaha Warnet Dipungli, Wali Kota Marah, Kadis Ngaku Gratis

MEDAN-Wali Kota Medan, Rahudman Harahap marah mendengar ulah staf di Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Medan yang melakukan pungutan liar (pungli) terhadap pengusaha warung internet (warnet), yang ingin memperoleh surat rekomendasi sebagai syarat pengurusan izin ke Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Medan.

“Dimana itu? Ada data pengusaha warnet yang dipungli itu? Kalau begitu akan dilakukan pengecekan,” kata Rahudmann

Kadis Kominfo Medan, Zulkifli Sitepu yang dikonfirmasi  membantah.

“Tak ada itu. Bisa dibuktikan? Karena kita tidak ada memberatkan para pengusaha warnet dengan meminta biaya, semuanya gratis untuk memperoleh surat rekomendasi. Lagi pula kita terus melakukan sosialisasi agar para pengusaha warnet mengurus izin yang akan dikeluarkan oleh BPPT Medan,” kilahnya.

Dijelaskannya, bila terbukti ada anggotanya yang melakukan pungli dia berjanji akan melakukan pengecekan dan memberi tindakan terhadap anggotanya.

“Pasti akan saya tindak bila ada anggota saya yang melakukan pungli. Sekali lagi saya katakan kalau permohonan surat rekomendasi dari Dinas Kominfo Medan tidak dipungut biaya alias gratis asal persyaratannya dipenuhi,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pengusaha warung internet (warnet) mengaku dipungli Dinas Kominfo Kota Medan saat mengurus izin usaha. Akibatnya, sebanyak 680 warnet di Kota Medan dari 850 warnet yang ada tidak mau mengurus rekomendasi tekhnis ke Dinas Kominfo Medan.

“Awalnya, petugas dari Dinas Kominfo Medan datang ke usaha warnet saya mempertanyakan izin usaha warnet dan meminta untuk segera mengurusnya ke Dinas Kominfo Medan, dengan melengkapi persyaratan keterangan kepling dan lurah tempat tinggal saya,” kata pengusaha warnet yang minta namanya tidak ditulis saat ditemui Sumut Pos, Rabu (22/2) siang.

Dijelaskannya, setelah mengurus seluruh surat dari kepling dan lurah, petugas Dinas Kominfo Medan menyuruh datang ke kantor Dinas Kominfo Medan di Jalan Sidorukun Medan.

“Tetapi begitu saya minta agar surat rekomendasinya dikeluarkan staf Dinas Kominfo meminta dana sebesar Rp600 ribu untuk mendapatkan rekomendasi teknis tersebut,” ujar pria yang mengaku sudah membuka usaha warnetnya selama satu tahun.

Dikatakannya, pengusaha warnet mau membayar uang sebesar Rp600 ribu asal disertai dengan tanda terima dari Dinas Kominfo Medan.
“Ternyata staf Dinas Kominfo itu tak mau dengan alasan sebagai uang operasional petugas Dinas Kominfo Medan di lapangan,” bebernya.
Akibatnya, para pengusaha warnet merasa dipungli dan memilih tak mengurusnya.

“Kalau caranya begitu saya tidak mau membayar karena saya yakin tidak resmi. Ini hanya pungli yang dilakukan Dinas Kominfo Medan terhadap pengusaha warnet agar mengurus rekomendasi,” jelasnya.

Karena merasa ada permainan pengusaha warnet mencoba untuk menghubungi Kepala Dinas Kominfo Medan, Zulkifli Sitepu. Ternyata, hal itu juga sudah diketahui kadis yang menyarankan harus berurusan dengan petugas dari Dinas Kominfo Medan, Abdul Khalik.

“Saya sudah beberapa kali menghubungi kepala dinasnya karena khawatir ada pemainan di bawah tanpa sepengetahuannya. Tetapi malah kadis tersebut menyarankan agar saya megurusnya ke petugas tersebut. Ini ada apa? Kenapa Pemko Medan membuat masyarakat semakin ditindas dengan adanya peraturan yang baru,” ujarnya.

Sekadar diketahui sesuai dengan ketentuan di dalam Perwal No 28 tahun 2011 diatur bahwa setiap pemohon izin usaha warnet tidak dipungut biaya alias gratis untuk memperoleh rekomendasi teknis dari Dinas Kominfo. Sedangkan izin yang mengeluarkan adalah Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Medan, sesuai dengan Peraturan Wali Kota Medan (Perwal) No 28 tahun 2011 tentang izin usaha warnet. (adl/jon)

Tolak Pembatasan Waktu Buka

Penanggung jawab warnet az-Net Hendri Daulay mengaku, memang sudah ada menerima selebaran mengenai pembatasan waktu beroperasi. Namun, pelanggannya banyak yang minta tetap buka 24 jam.

“Kebanyakan pelanggan anak muda main malam. Kalau kita tutup dan mengusir mereka tak mungkin namanya juga bisnis,” katanya.
Hendri menuturkan, penghasilan mereka selama beroperasi satu hari satu malam minimal Rp500 ribu dan itu belum termasuk pembayaran gaji operatornya. “Penghasilan selama 24 jam itu Rp500 ribu dan jika peraturan itu diterapkan kami tetap tak setuju,” ujarnya.

Hal senada juga diucapkan Budi, operator Warnet O2. Dijelaskannya, keputusan Dinas Kominfo itu terlalu berlebihan.
“Peraturan tersebut harus diputuskan sesuai dengan keinginan orang banyak. Lagi pula mana mungkin orang yang main dan datang jam 12 malam kami suruh pulang,” katanyanya.

Sementara K Manurung (40), pemilik warnet M2 mengaku, warnet mereka buka pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 00.00 WIB.

“Kalau sudah malam, warnet kami tutup walaupun ada pelanggan yang datang. Kami tutup karena kami tetap mematuhi peraturan yang berlaku. Tak hanya itu, jika pelanggan datang di atas jam 23.00 WIB, kami mengatakan kepada pelanggan tutup pukul 00.00 WIB dengan sopan,” sebutnya.
Pemilik warnet lainnya, Oris menolak kebijakan Pemko Medan membatasi jam operasional mereka.

‘’Kami siap mendukung program pemerintah mengenai jam belajar. Tetapi membatasi jam operasional bukan solusi terbaik,’’ ucapnya.
Dikatakannya, seluruh pengusaha warnet dan game online berencana akan menggelar pertemuan dan semua menyatakan tidak setuju dengan pembatasan jam operasional.

Untuk itu, pengusaha warnet akan terus melakukan pembicaraan dengan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Medan selaku pihak yang mengeluarkan izin usaha warnet.

Dijelaskannya, guna mensukseskan program jam belajar Pemko Medan bersama pihak kepolisian mengimbau pengusaha warnet dan game online tidak menerima pelajar pada saat jam-jam siswa melaksanakan kegaiatan belajar mengajar di sekolah.

“Kalau sifatnyakan imbauan kita akan mendukungnya. Bagaimana kalau ada pengecualian berlaku pada malam Minggu, libur sekolah dan libur hari besar. Kami akan mencari tips yang tepat dengan para pengusaha warnet dan bisa diterima semua pihak,” bebernya.

Rinal, pengusaha warnet lainnya juga keberatan dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa dengan bukanya warnet 24 jam meresahkan orangtua dan memicu  turunnya prestasi para pelajar di sekolah.

“Kalau pernyatan seperti itu terkesan memojokkan pengusaha warnet yang mencari keuntungan dari para pelanggan warnet. Jangan limpahkan kesalahan apalagi sampai disebut meresahkan bahkan sempat menyebutkan sebagai penyebab turunnya prestasi para pelajar siswa,” ujar Rinal.
Dijelaskannya, keberadaan warnet merupakan salah satu dampak teknologi serta peluang usaha di tengah kemajuan zaman memang sudah terjadi di kota-kota besar dan tidak mungkin dihindari.

Selain itu penyebab kemerosotan prestasi pelajar akhir-akhir ini bukan mutlak kesalahan dari keberadaan warnet, karena masih banyak faktor lain yang mungkin bisa dipertimbangkan kontribusi terhadap kemerosotan tersebut. (jon/adl)