Siang-siang di KTV Stroom, Selecta Building Medan (1)
Tak ada yang membantah kalau malam adalah penguasa dunia hiburan Namun, bukan berarti siang tidak bisa menyaingi. Buktinya, di Karaoke Televisi (KTV) Stroom yang terletak di Selecta Building Medan, apa yang tersedia saat matahari terbenam sudah laris saat surya masih garang; termasuk narkoba!
Tim, Medan
Pekan lalu, sekira pukul 15.00 WIB, penulis mendapat telepon dari seorang kolega. Segera meluncur ke Selecta, katanya. Seperti memerintah, dia pun mengatakan sudah berada di lokasi sejak pukul 14.10 WIB.
Berhubungan ada sesuatu yang memang harus diselesaikan dengan rekan ini, penulis pun langsung bergerak. Tak sampai lima belas menit, Gedung Selecta yang berada di Jalan Listrik itu terlihat. Turun dari taksi, memasuki gedung, yang terlihat hanya ruang yang cenderung melompong. Terlihat beberapa properti Imlek, lainnya tidak ada yang mencolok. Bi ngung mau bertanya pada siapa, ponsel pun menjadi senjatan
“Tunggu saja, nanti anggotaku yang jemput,” jawab kolega itu dari seberang ponsel.
Tak lama kemudian muncul lelaki tegap dengan rambut ala David Beckham; bergaya sedikit mohawk dan berwarna kemerahan. Sayang, tubuhnya sedikit hitam. Tanpa banyak cakap si ‘David Beckham’ ini langsung mengajak masuk lift. Di lift itu sudah ada satu orang lagi, berseragam. Jelas, yang ini pasti petugas dari Selecta Building.
“Bawah,” perintah si ‘David Beckham’ kepada petugas lift.
Tak sampai semenit, pintu lift kembali terbuka. Penulis digiring melewati sebuah gang kecil berbelok dengan pintu yang tertutup di masing-masing sisinya; bersih dan tertata apik.
Lalu, memasuki sebuah pintu. Setelah masuk pintu itu, ternyata masih ada pintu lagi. Intinya, penulis harus melewati dua ruang kecil. Sepanjang perjalanan, ketika melewati pintu-pintu itu di sisi dua ruang kecil tersebut ada beberapa pintu lagi. Belakangan diketahui kalau itu kamar mandi dan kamar ‘eksekusi’. Akhirnya pintu ketiga terbuka, di ruang yang lebarnya sekitar 6×8 meter itu sang kolega duduk. Dia berdua dengan seorang perempuan – yang paras cukup menggoda mata – memakai blazer warna gelap. Mereka duduk di atas sofa yang empuk berwarna hitam. Selain sofa yang diduduki mereka, masih ada dua sofa lagi, semuanya lebar dan empuk. Barisan sofa itu berbentuk ‘L’. Di depannya ada meja kaca pendek dua buah.
Selain itu terpampang screen ukuran jumbo di tengah ruangan. Dari fasilitas yang ada, di ruangan ini tampaknya tak perlu lagi tamu meminta bantuan pegawai. Karaoke diset secara komputerisasi; memilih menu cukup melalui remote control saja. AC pun cukup dingin. Lampu temaram.
“Duduklah… santai saja,” tegur sang kolega. Si perempuan tersenyum dan langsung membakar rokok. Asap keluar dari mulutnya yang mungil.
“Oh, kenali…” sambung sang kolega sambil menunjuk si perempuan.
“Panggil saja, Cindy,” kata perempuan pemilik paha mulus itu. Hm, jelas bukan nama asli.
Sebelum sempat terlibat perbincangan, penulis merasa dihantui lagi dengan pintu. Pasalnya, di seberang pintu tempat masuk tadi ada satu pintu lagi. Beruntung, sebelum sempat bertanya – yang bisa dianggap bodoh karena gak tahu apa-apa – si ‘David Beckham’ menuju pintu itu. Dia membukanya. Rupanya pintu itu dua lapis pula. Setelah lapis terakhir dibuka, sinar menyerobot masuk.
“Belum pernah kemari kau kan?” tegur sang kolega. “Itu pintu khusus, langsung ke parkiran basement… lihat saja,” sambungnya.
Benar saja, begitu penulis melihat, terpampang di depan sana parkiran sepeda motor dan mobil. Si ‘David Beckham’ rupanya menuju mobil sang kolega.
“Asyik gak?” sambut sang kolega setelah penulis mulai duduk kembali di sofa.
“Ini ruang khusus, Kawan. Semuanya memang dibuat khusus. Untuk yang biasa-biasa, di sana di lantai 3,” jelasnya.
Dasar buta lokasi, tanpa malu lagi penulis langsung mencari tahu tentang KTV Stroom ini. Dari penjelasan sang kolega, diketahui kalau karaoke ini menyediakan sedikitnya 23 ruang dari kelas standar, VIP, hingga Super VIP. Dan, semuanya beroperasi dari pukul 14.00 WIB serta tutup pukul 02.00 WIB (untuk waktu normal).
Terciptanya tempat seperti tak lain karena arena pub dan diskotek bukan lagi pilihan utama bagi pencari hiburan. Setidaknya, sejak era 2000-an, pencinta hiburan mulai mencari ruang pribadi, tidak lagi ruang komunal.Tempat hiburan pun bukan lagi semata ruang hiburan, tapi menjadi tempat lobi-lobi hingga deal-deal tertentu. Dan, untuk meraihnya tidak harus malam hari. Untuk itu, ruang privacy yang menyuguhkan hiburan terbaik menjadi pilihan utama bagi mereka. Nah, untuk itulah penulis hadir di ruang mewah yang terjaga privacy-nya ini.
“Ini Bos,” celetuk si ‘David Beckham’.
Sang kolega menyambut sebuah bungkusan; amplop berwarna coklat. Langsung saja amplop itu dia letakan di meja. “Biasalah… bisnis, bentar lagi kawan itu datang,” kata sang kolega.
Penulis mengangguk. Sebelumnya sang kolega sempat berkata akan mengenalkan penulis dengan seseorang yang tahu seluk beluk narkoba di beberapa tempat hiburan di Kota Medan ini. Dan, bungkusan itu pasti itu seseorang yang belum datang itu.
“Minum apa, Bang?” si ‘David Beckham’ tersenyum. Dia pun menerangkan kalau di tempat ini bisa minum apa saja, dari yang kadar alkoholnya rendah hingga yang kelas berat.
“Gak usah kasih itu, kasih saja jus… biar enak masuknya nanti,” kekeh sang kolega. “Kalau mau nulis soal narkoba, yah kan harus tahu rasanya,” sambung kolega itu tanpa berhenti tertawa.
Si ‘David Beckham’ tersenyum dan langsung bergerak. Tak lama kemudian dia kembali beserta seorang pelayan pria. “Kasih jus jeruk untuk kawan kita ini,” ucap sang kolega. Pelayan itu langsung pergi.
Saat bersamaan, Cindy juga permisi, entah ke mana. Si ‘David Beckham’ membakar rokok. Tinggal kami bertiga menunggu kawan yang dijanjikan hadir. Kawan yang akan membuka ruang terselubung dunia narkoba di tempat-tempat hiburan di Kota Medan ini.
“Bentar lagi kawan itu datang…, kita nikmati duluanlah siang yang indah di Stroom ini ya,” lirik sang kolega.
“Okay!”
Si ‘David Beckham tertawa. “Mantap,” katanya.
“Ya, dah, Wak, ambillah lima butir sama si BD (Bandar, Red),” perintah sang kolega pada si ‘David Beckham’. Yang diperintah pun langsung bergerak masuk.
“Gampang untuk dapat barang kekgitu di sini…, lihat saja. Yang penting ada uang,” kata sang kolega lagi.
Tak berapa lama si ‘David Beckham’ datang dengan seorang kawan. Lelaki berusia sekitar tiga puluhan.Pakaian dan rambutnya rapi. Warna kulitnya sedikit hitam, lebih hitam dari si ‘David Beckham’. Matanya memandang curiga kepada penulis. Namun, sang kolega langsung mencairkan suasana. “Kawan kita ini… santai saja,” katanya.
Dan, si BD membuka telapak tangannya, tampak di situ lima butir kecil pil berwarna merah muda. Yah… ekstasi. (bersambung)