28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 13919

Forum Tapanuli: Kita tak Boleh Ikut Campur

Polemik Nama untuk Bandara di Kualanamu

MEDAN-Forum Tapanuli Sumatera Utara, mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat di Kabupaten Deliserdang sebagai calon nama Bandar Udara (Bandara) Internasional yang berada di Kualanamu. Pernyataan tersebut dikatakan Ketua Dewan Pembina Forum Tapanuli Sumatera Utara Daulat Manurung pada wartawan Kamis (1/3) di Jalan SM Raja Medan.

“Kami dari Forum Tapanuli Sumut, mendukung sepenuhnya masyarakat di Kabupaten Deliserdang, untuk mencantumkan nama Bandara Kualanamu Deliserdang di bandara itu. Alasan kami mengingat lokasi ataupun areanya,” tegas Daulat.

Penabalan nama Bandara Kualanamu Deliserdang adalah kebanggaan masyarakat sekitar. Nama Bandara Kualanamu tersebut akan membawa dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat. “Pemberian nama Kualanamu Deliserdang ini untuk menghindari efek-efek negatif, adanya ketidaksenangan dari yang mengajukan nama-nama bandara untuk kepentingan satu individu,” tegas Daulat.

Alasannya, ucap Daulat lagi, agar tidak timbulnya kesenjangan atas pemberian nama bandara itu kalau dibuat nama orang nama tokoh ataupun nama pahlawan. “Itu hak progratif masyarakat setempat untuk memberikan nama, kita tidak boleh ikut campur karena itu hak mereka karena itu bagian dari hak mereka,” tegas Daulat.

Sebelumnya, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumut pun buka suara. Bagi mereka, nama yang pas adalah nama pahlawan. “Menurut saya, pemberian nama Bandara Sultan Sulaiman untuk bandara dalam waktu dekat ini akan rampung sudah cocok. Nama itu memang sudah cocok karena Sultan Sulaiman itu merupakan sosok pahlawan di daerah Deliserdang dan Serdangbedagai (Sergai) karena beliaulah yang memperjuangkan daerah itu saat zaman penjajahan Belanda,” kata Muhammad TW, Kepala Biro Generasi Penerus Perjuangan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumut, Kamis (1/3) siang.

Muhammad TW menuturkan, pada massa penjajahan Belanda, beliau tak mau bekerja sama dengan Belanda dan memilih melawan penjajah itu. “Wajar saja jika masyarakat Deliserdang dan Sergai sekitarnya menginginkan nama itu karena nama itu merupakan sosok pahlawan bagi mereka,” jelasnya.
Disinggung mengenai pahlawan-pahlawan nasional lainnya, Muhammad TW mengaku, memang sempat ada sejumlah nama Pahlawan Nasional muncul di antaranya Raja Sisingamangaraja XII, Adam Malik, dan Tengku Amir Hamzah. “Sultan Sulaiman memang baru mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra, tapi menurut saya, nama beliau yang cocok sebagai nama bandara baru nanti,” ucapnya.

Disambung orang yang suka membedah-bedah buku dan tokoh-tokoh kepahlawanan ini, sosok Sultan Sulaiman pada massa penjajahan Belanda semasa hidupnya terkenal dengan sosok yang tak mau menyerah dan beliau berjuang penuh. “Pemberian gelar dan Bintang Mahaputra itu diberikan berdasarkan perjuangan beliau dalam mempertahankan daerah itu pada massa penjajah Belanda dengan penuh dan ikhlas. Ada nama tokoh-tokoh yang lain, tapi tak diberikan gelar dan Bintang Mahaputra karena dalam perjuangannya yang penuh dan tak berhenti,” pungkasnya. (rud/jon)

Kembalinya Guru Para Jenderal

Dari Buku ‘TB SILALAHI (bercerita tentang pengalamannya)’ (1)

Bagi yang penasaran mengapa SBY menunjuk TB Silalahi menjadi ketua Dewan Pengawas Partai Demokrat yang lagi di puncak kesulitannya, bacalah buku ini: TB SILALAHI (bercerita tentang pengalamannya). Jangankan mengurai benang kusut yang ruwet, Pak Harto yang begitu berkuasa pun berhasil TB  (begitu dia akrab dipanggil) ‘tundukkan.

Oleh: Dahlan Iskan

Dalam buku yang ditulis dengan gaya bahasa yang sangat menarik, lancar, dan mengalir oleh wartawan senior Atmadji Sumarkidjo ini, berbagai kisah penundukan TB diceritakan: menundukkan Jenderal Rudini, Jenderal Edy Sudradjat, dan banyak jenderal lainnya yang sebenarnya adalah atasannya. TB juga berhasil menundukkan para analis perang, berbagai universitas, para tokoh agama, dan yang hebat TB juga berhasil menundukkan dirinya sendiri.

TB berhasil pula menundukkan wilayah-wilayah berat seperti Sulsel dan Papua. TB yang Kristen Batak begitu berhasil merebut hati masyarakat di dua provinsi itu. Sampai-sampai, saat TB diangkat menjadi menteri di Kabinet Pembangunan VI, doa syukur bersama untuknya justru dilakukan oleh jamaah masjid di Enrekang, Sulsel, sesaat setelah TB dilantik. Bahkan, seorang gubernur Papua yang terkenal polos, Ishak Hindom, pernah berani menyampaikan kepada Pak Harto bagaimana kalau Papua merdeka saja: presidennya orang Papua asli dan perdana menterinya T.B. Silalahi!

TB memang brilian. Dia selalu lulus terbaik untuk jenis pendidikan apa saja yang pernah dijalaninya selama menjadi tentara. Mulai AMN sampai kursus-kursus yang begitu banyaknya. Termasuk saat mengikuti Sekolah Komando dan Lemhanas. Bahkan, ketika Seslapa, TB lulus dengan cum laude. Hanya sekali dia menjadi juara dua. Yakni, sewaktu menjalani tes masuk Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat). Itu pun akhirnya dia juga menjadi juara satu karena juara pertamanya rupanya ada masalah, lalu dicoret.

Kalau ada yang dia sesalkan adalah mengapa ditakdirkan tidak pernah mendapat kesempatan bersekolah di Amerika Serikat. Ini gara-gara hubungan Indonesia-AS memburuk tahun itu yang diingat melalui ucapan Presiden Soekarno: go to hell with your aid. Tapi, TB berusaha menundukkan dirinya sendiri: Dia pinjam semua buku yang dibawa pulang oleh perwira-perwira yang lebih dulu berkesempatan bersekolah militer di AS. Dia lalap semua buku itu. Tanpa bersekolah ke AS pun, penguasaan ilmunya bisa lebih unggul.

TB memang hobi membaca. Sebab, TB menyenangi tugas mengajar. Itu sempat membuat komandannya kaget ketika dalam mengisi formulir penempatan, TB memilih mengajar. Lulusan terbaik setiap jenjang pendidikan selalu mendapat prioritas untuk memilih ditempatkan di mana. TB memilih mengajar! Yang umumnya dijauhi perwira lain. Padahal, dia perwira kavaleri yang tangguh. Yang sangat menonjol di berbagai operasi, baik di Garut, Malangbong, Tasikmalaya (operasi penumpasan Kartosuwirjo), maupun operasi di Sulsel (penumpasan Kahar Muzakkar).

Menarik membaca alasan TB: Saya sudah cukup di pasukan, lama-lama di pasukan bisa bodoh! Maka, berangkatlah TB ke Pusat Pendidikan Kavaleri di Purabaya. Satu daerah pegunungan kapur di Jabar yang jauh dari Bandung. Sepanjang perjalanan ke kampus itu, TB harus melewati debu kapur sehingga sang guru sering tiba di kampus sebagai kera putih Hanoman.

Sebagai guru, TB tidak ada tandingannya. TB selalu terpilih sebagai pengajar terfavorit di setiap pemilihan pengajar oleh para siswanya. Tidak heran bila TB belakangan juga dikenal sebagai gurunya para jenderal. Tidak ada jenderal yang pada masa pendidikannya tidak pernah diajar dengan menarik oleh TB. Setidaknya, gelar itu diberikan Jenderal Wiranto.

Saat itu, Wiranto menjadi ajudan Presiden Soeharto. Ketika Pak Harto mulai tertarik dengan TB dan menanyakan siapa itu TB, Wiranto dengan singkat mengatakan bahwa TB itu gurunya para jenderal. Wiranto-lah yang selalu menjadi pintu bagi TB untuk bertemu Pak Harto. Belakangan, ketika hubungan TB dan Pak Harto sudah istimewa, justru Wiranto yang minta bantuan TB untuk memperlancar tugasnya sebagai ajudan presiden. Terutama kalau mood Pak Harto lagi mendung. TB-lah yang mampu mencairkan pikiran Pak Harto.

Itu ada ceritanya. Sewaktu TB harus menghadap Pak Harto menyampaikan masalah yang sangat penting, Wiranto mencegahnya. Pak Harto lagi bad-mood. Tapi, TB ngotot karena masalahnya memang penting. Di ruang kerja Pak Harto itu, TB mencari akal bagaimana membuat Pak Harto tidak lagi murung. Berceritalah TB mengenai kisah kehebatan Pak Harto yang pernah dia dengar dari para jenderal yang pernah mendengarnya. Yakni, mengenai pertempuran Ambarawa.

Waktu itu, Pak Harto diperintah Jenderal Gatot Subroto untuk mempertahankan sebuah bukit yang penting. Pak Harto dan pasukannya tidak boleh meninggalkan bukit itu sama sekali. Ketika malam Belanda membombardir bukit itu habis-habisan, Jenderal Gatot Subroto menangis. Dia mengira Pak Harto pasti sudah tewas. Demikian juga pasukannya. Pagi itu, Gatot Subroto mengerahkan pasukan menyisir bukit tersebut untuk mencari mayat Pak Harto. Ternyata, Pak Harto masih hidup. Ternyata, Pak Harto, dengan perhitungannya sendiri, tidak menaati perintah atasannya itu. Pak Harto, sebelum malam tiba, sudah meninggalkan bukit tersebut.

Senjata TB itu sangat ampuh. Baru sebentar TB berkisah, Pak Harto sudah menimpali. Bahkan, Pak Harto-lah yang kemudian meneruskan kisah itu dengan semangatnya. Wiranto yang mendengarkan dari ruang sebelah merasa gembira. Maka, setiap melihat Pak Harto bad mood, Wiranto minta agar TB berpura-pura punya urusan dengan Pak Harto.

Hebatnya, TB menyadari, menjadi anak emas itu banyak tidak enaknya. Dan dia belajar banyak dari situ. Waktu Rudini diangkat menjadi KSAD, TB yang masih paban diminta menjadi orang nomor dua untuk menghadap. Padahal, mestinya para asisten dulu. Itu menimbulkan kecemburuan yang merugikan dirinya. Apalagi ketika akhirnya tahu TB-lah yang diminta membuatkan konsep tujuh perintah harian KSAD yang baru.

TB juga pernah menjadi anak emas Jenderal M. Jusuf. Mulanya dari kunjungan Menhankam/Pangab asli Makassar itu ke Makassar setelah meredanya kerusuhan anti-Tionghoa di sana. Jenderal Jusuf begitu senangnya kerusuhan tersebut berhasil diselesaikan dengan cepat. Karena itu, saat itu juga, di tempat rapat itu juga, Jenderal Jusuf minta pangkat Pangdam Hasanuddin Brigjen Soegiarto dinaikkan menjadi mayor jenderal.

Setelah itu, sang Pangdam dengan rendah hati mengemukakan bahwa kerusuhan tersebut cepat teratasi berkat peran asisten operasinya, Letkol T.B. Silalahi. Kebetulan, pangkat TB itu sudah agak lama tersendat. Mendengar itu, Jenderal Jusuf langsung mengeluarkan perintah yang mengagetkan: Ya sudah, naikkan pangkat Silalahi hari ini juga!

KSAD saat itu, Letjen Poniman, menjelaskan bahwa kenaikan pangkat tidak bisa dilakukan mendadak di tempat seperti itu. Setidaknya, harus dibuatkan dulu surat keputusannya di Jakarta. Setidaknya, harus dicarikan dulu nomor surat keputusan yang akan dibuat. Apa jawaban Jenderal Jusuf” “Tidak usah lah kau cari-cari nomornya. Kalau perlu, pakai nomor mobil saya,” perintah sang Jenderal.

Tentu tidak ada yang berani membantah perintah panglima ABRI. Tapi, ada kesulitan teknis untuk menaikkan pangkat TB saat itu juga. Dari mana bisa mendapatkan tanda pangkat kolonel di kota seperti Makassar yang akan disematkan di pundak TB” Sudah diusahakan dicarikan di toko-toko dan di pasar loak, tapi tidak ditemukan. Akhirnya, memang bisa didapat. Tapi, tanda pangkat itu sudah sangat kusam. Cepat-cepat tanda pangkat itu di-brasso untuk disematkan di pundak TB.

Kelak, peristiwa tersebut menyulitkan karir TB. Terutama setelah panglima ABRI-nya diganti. TB dikira “geng”-nya Jenderal Jusuf. Karirnya terhenti sangat-sangat lama dan penempatannya pun tidak di pusat kekuasaan. TB sempat frustrasi lagi. Sampai-sampai, saat berjalan pagi dengan istrinya di kompleks Seskoad Bandung, TB mengambil sikap yang dianggap istrinya sangat aneh. Ketika melewati patung Jenderal Gatot Subroto, TB berhenti: menghadap patung, memberi hormat militer dengan sikap sempurna, dan meneriakkan kata-kata berikut ini: “Pak Gatot, saya ini stres berat. Saya sudah mencoba berbuat yang terbaik untuk Angkatan Darat. Tapi, nasib saya terkatung-katung. Mohon petunjuk?!” (hal 22).
“Kamu ini sudah miring,” kata istrinya. “Lama-lama kamu bisa gila!” tambah sang istri.

Sangat menarik membaca bagaimana TB berhasil menundukkan dirinya sendiri dari rasa frustrasi. Lalu, berhasil bangkit, mencapai pangkat letnan jenderal, dan bahkan menjadi menteri.

Kelihatannya buku ini berisi cerita tentang TB. Tapi, pada dasarnya, inilah buku tentang tokoh-tokoh militer Indonesia. Lengkap dengan sikap, karakter, dan pola kepemimpinan mereka. Hampir di semua bab TB bercerita tentang pertemuannya dengan tokoh militer. Mulai Try Sutrisno sampai SBY. Masing-masing lengkap dengan gambaran gaya dan sikap kepemimpinan mereka. Semua itu menggambarkan bahwa faktor kepemimpinan sangat memengaruhi jalannya sejarah. Termasuk sejarah militer. TB, dengan keseniorannya, bercerita tentang tokoh-tokoh tersebut seperti tidak sungkan, tanpa beban dan tidak perlu menutup-nutupinya.

Sekarang ini, pada usianya yang sudah 72 tahun tapi masih gesit seperti saat berumur 60 tahun, guru segala jenderal ini diminta kembali ke medan laga. Kali ini ke arena politik kekuasaan. Tentu kali ini TB tidak bisa membawa tank kavaleri. (*)

Soal Sirkuit Pancing Pemprovsu kok Aneh

MEDAN-Polemik Sirkuit Multifungsi Pancing, yang ‘dikuasai’ pengembang, terus mengundang kontroversi dan kritikan. Arahnya adalah ketidaktegasan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), dalam mempertahankan lahan yang menjadi milik atau aset Pemprovsu. Dan itu harus diselesaikann
karena memang menjadi tugas dan wewenang dari Pemprovsu.

Anggota Komisi C DPRD Sumut, Mulkan Ritonga yang ditemui Sumut Pos di ruangan Wakil Ketua Komisi C DPRD Sumut menegaskan, apabila lahan atau sebagian lahan sirkuit itu bukan milik atau aset Pemprovsu, tidak akan mungkin pembangunannya diambil dari alokasi dana APBD Sumut.
“Kita balikkan saja, dana pembangunan sirkuit itu berasal dari dana APBD. Kalau itu bukan punya Pemprovsu, dan tidak akan dibangun begitu saja. Jadi, karena dibangun dari dana APBD, sudah pasti itu punya Pemprovsu. Pemprovsu dalam hal ini harus tegas, kok bisa pula diakui atau diklaim sama pihak lain atau swasta,” tegasnya.

Si tempat terpisah, seorang anggota Komisi E DPRD Sumut menganggap kasus sirkuit ini sebagai sesuatu yang aneh. “Sirkuit di Jalan Pancing itu, masalahnya sudah masuk ke Komisi E DPRD Sumut pada bulan lalu dan sudah ditinjau ke lapangan. Menurut Pemprovsu lahan sirkuit tersebut, sebagian memang sudah dijual sekitar 20 tahun lalu, untuk biaya penambahan pembangunan Gedung Kantor Gubsu Jalan Pancing (saat ini jadi Kantor Dinas Tarukim Sumut, Dispora Sumut dan Perkebunan Sumut, Red). Itu kata pihak Pemprovsu,” jelasnya, kemarin.

Nah, atas dasar itulah wakil rakyat ini menganggap ada sesuatu yang mencurigakan pada kasus sirkuit tersebut. “Anehnya? Mengapa di atas lahan milik orang lain, bisa dikeluarkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daera (APBD) untuk pembangunannya? Lalu, kita juga tidak tahu, bagaimana sikap pengembang yang katanya sudah memiliki surat atas tanah lahan sirkuit itu. Paling heran lagi mengapa semua komplain itu munculnya di tahun-tahun belakangan ini. Mengapa tidak dari awal? Kita mohon pihak yang terkait memberikan penjelasan sejelas-jelasnya kepada publik supaya tidak ada salah persepsi. Maka dari itu, Pemprovsu harus segera menyelesaikan masalah itu,” pungkasnya. (ari)

Bawa 200 Wisatawan Asing

Kapal Pesiar Amerika Sandar di Belawan

MEDAN-Pemko Medan melalui Disbudpar menyambut 200 wisatawan mancanegara (wisman) dari Amerika, Inggris, Australia dan negara lain di Asia yang turun dari kapal pesiar Seabourn Legend Bahamas Amerika, di terminal kedatangan pelabuhan Internasional Belawan, Kamis (1/3) siang.

Penyambutan merupakan kedua kalinya dengan menampilkan tarian tradisional Tepak Sirih dari Sumatera Etnich. Sebelumnya,  Sabtu (25/2) di pelabuhan Internasional Belawan Medan sebanyak 202 orang wisman asal Australia, Belgia, Kanada, Swiss, China, Jerman, Denmark, Ekuator, Prancis, Inggris, Jepang, Belanda, Norwegia, Filipina, Swedia, Thailand dan Amerika menggunakan kapal pesiar Seabourn Pride Bahamas Amerika disambut dengan meriah oleh tarian tradisional persembahan selamat datang dari Disbudpar Kota Medan.

“Dengan bekerjasama dengan pihak stakeholder pariwisata di Kota Medan seperti pihak travel untuk lebih mempromosikan Kota Medan dan Visit Medan Years 2012. Salah satunya dengan kedatangan wisman dari kapal pesiar ini untuk city tour di Kota Medan. Ini program kita untuk lebih mengenalkan Medan pada wisatawan asing. Promosi kita tentang Medan tidak terbatas hanya pada orang per orang , tapi bagaimana agar sebuah negara di luar dapat lebih mengetahui,” kata Kadisbudpar Kota Medan, Busral Manan.(adl)

Polisi Endus Identitas Pelaku

Rektorat UMSU Desak Polisi Ungkap Pelaku Pembunuhan Mahasiswa

MEDAN-Polisi terus memeriksa saksi-saksi tewasnya mahasiswa Fakultas Pertanian UMSU, Ferdi Adinata Hasibuan (19). Polisi kembali akan memanggil dua orang lagi saksi untuk dimintai keterangan.

Dari hasil keterangan saksi-saksi polisi sudah mengendus identitas pelaku. Kanit Reskrim Polsekta Percut Seituan, AKP Faidir Chan mengatakan pihak sudah mengindentifikasi pelaku pembunuhan dari keterangan saksi yang dimintai keterangan.

Faidir mengaku polisi akan memanggil dua orang saksi  lagi untuk dimintai keterangannya untuk memperkuat identitas pelaku. Saat disinggung bagaimana hasil otopsi dari rumah, Faidir mengaku belum menerima hasilnya.

Sementara Pihak Rektorat UMSU siap mendamping keluarga korban dalam proses hukum. Humas UMSU, Anuar Bakti mengaku akan mempersiapkan seorang pengacara darai Lembaga Bantuan Hukum (LBH) UMSU dan mendampingi keluarga selama proses hukum berjalan.
Dia meminta kepada polisi secepatnya membekuk pelaku pembunuhan mahasiswa yang berasal dari Huta Pasir Ulok Tano, Kabupaten Padang Lawas (Palas) itu.

Anuar Bakti mengatakan UMSU melalui Dekan Fakultas Pertanian UMSU akan mendatangi keluarga korban untuk membicarakan pendampingan hukum yang disiap UMSU.

Seperti diketahui, jenazah Ferdi Adinata Hasibuan (19) Mahasiswa Jurusan Argobisnis Fakultas Pertanian UMSUditemukan warga di parit dekat Pos Sekretariat Pemuda Pancasila (PP) dekat lapangan bola, Jalan Meteorologi Medan, Selasa(28/2) malam.(gus)

Dua Provokator Ditahan, 1 Dipulangkan

Terkait Pembakaran Warga di Kutalimbaru

MEDAN- Terkait pengeroyokan dan pembakaran warga di Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, petugas terus memburu pelaku.
Informasi diperoleh di Mapoldasu dan Mapolresta Medan, sedikitnya 13 warga Kutalimbaru sudah dimintai keterangan terkait kasus tersebut, beberapa diantaranya sudah ditetapkan menjadi tersangka.

Adapun yang ditetapkan menjadi tersangka yaitu Erwin, warga Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, yang diamankan petugas Rabu (29/2) dan Edi Suranta Ginting (40) warga Lau Bekeri diamankan petugas, Kamis (1/3).

Erwin ditahan karena teridentifikasi sebagai provokator dalam aksi pembakaran warga beberapa hari lalu.
Dia (Erwin, red) sebelumnya diamankan bersama Kelana, yang disebut-sebut orang pertama yang meneriaki maling terhadap kedua korban dan tiga temannya.

Kronologis kejadian menyebutkan, peristiwa sadis ini berawal saat kedua korban bersama Brigadir Albertus Zebua, Bambang Irwanto dan Moses Minardo Purba pergi ke Kecamatan Kutalimbaru mengendarai mobil kijang inova, dengan dalih menyelidiki seorang bandar togel bernama Kelana.
Tepat di salah satu warung di Kecamatan Kutalimbaru, Albertus Zebua melihat Kelana sedang duduk. Oleh kedua  korban bersama Bambang Irawanto, turun dari mobil  mendekati Kelana dan merampas Hp Kelana. Seketika itu, Kelana berteriak maling hingga mengundang perhatian warga yang akhirnya mengamuk dan mengejar Albertus Zebua CS yang mencoba kabur dengan mengendarai mobil.

Namun ditengah jalan, mobil mereka dihadang dan petaka pun terjadi. Ricardo Jefri Sitorus dan M Siregar tewas secara mengenaskan setelah warga membakar mobil dan kedua korban. Tapi belakangan, Kelana dipulangkan petugas kerena tak terbukti melakukan pembakaran dan provokator.
Salah seoang petinggi kepolisian di Mapolresta Medan yang minta namanya tak disebutkan mengatakan, Kelana tidak  termasuk provokator atas peristiwa sadis tersebut. Karena Kelana teriak maling secara spontanitas saat selulernya diambil Ricardo Jeferi Sitorus. “Yang termasuk provokator orang berteriak hajar, bunuh-bunuh atau yang menyebutkan bakar-bakar,” ujar petugas polisi tersebut, seraya mengatakan pihak kepolisian masih memburu orang-orang yang terekam kamera warga.

Terpisah, Kapolsek Kutalimbaru AKP Robinson Surbakti SH saat dikonfirmasi membenarkan penangkapan Edi, namun menurut Kapolsek penanganan kasus tersebut seluruhnya di Mapolresta Medan.

Kasubdit II Tindak Pidana Umum Poldasu AKBP Andre Stiawan yang dikonfirmasi Sumut Pos membenarkan Erwin telah ditahan. “Erwin sudah ditahan, tapi jangan saya. Yang nangani Polresta Medan,” kata Andre singkat.

Sementara itu, Edi Suranta Ginting (40), diringkus polisi Kamis (1/3) sekira pukul 12.00 WIB dan langsung diboyong ke Mapolresta Medan.
Informasi yang dihimpun, Edi ditangkap saat menjaga warungnya. Namun, menurut istrinya Elli Rosnita Br Purba (38), Edi tak melakukan penganiyaan seperti yang dituduhkan polisi.

Pengakuan Elli, malam itu dirinya tengah mengisi bahan bakar sepeda motor dan suaminya menelpon paman mereka. Lalu, tiba-tiba ada orang mengejar mobil dan mereka meneriaki maling. Elli pun memberitahukan kepada suami. “Aku ajak suami ku untuk melihatnya, saat kami pergi kami boncengan naik sepeda motor. Sesampainya di Simpang Lonceng, suami ku mengarahkan lampu sepeda motornya ke orang yang ditangkap warga itu,” ujar ibu tiga anak ini.

Sementara itu, S Sitorus, orangtua Ricardo Jefri Sitorus, warga Jalan Perkutut, Gang Setuju, Medan, mendatangi Mapolresta Medan.
Kedatangan orangtua korban ke kantor polisi, mempertanyakan perkembangan kasus penganiyaan dan pembakaran yang mewaskan anak kandungnya itu.

Wakapolresta Medan, AKBP Prayoto menyampaikan rasa bela sungkawanya dan mengatakan kasus tersebut tengah ditangani anggotanya.
“Kasus ini sudah kita dalami dan sudah ada beberapa orang yang ditangkap,” ujar Prayoto. (mag-5/gus)

Truk Pengangkut Material Kualanamu Dihadang Warga

LUBUKPAKAM- Kesal menunggu rencana perbaikan jalan yang menghubungkan Kecamatan Lubukpakam-Beringin-Pantai Labu tak kunjung terealisasi, puluhan warga Desa Skip, Kecamatan Lubukpakam menghadang truk-truk pengangkut material menuju Bandara Kualanamu, Kamis (1/3). Akibatnya, antrean panjang terjadi di ruas Jalan Desa Skip.

“Kami sudah terlalu lama menunggu janji pemerintah, tapi sampai kini belum ada perbaikan sama sekali,” kata warga.
Menurut warga, kerusakan jalan sepanjang 10 kilometer ini sudah terjadi sepuluh tahun lebih, tapi belum tersentuh perbaikan.
Setelah hampir satu jam melakukan penghadangan, aksi warga dibubarkan aparat keamanan. Pembubaran itu dilakukan aparat karena tidak ada izin berunjuk rasa.(btr)

Pantau Sampah di Pinggiran Sungai Deli

MEDAN- Lurah Sukaraja Kecamatan Medan Maimun, Eko Hartadi, S.STP, M.AP bersama kepala lingkungan (Kepling) turun meninjau tumpukan sampah di pinggiran aliran Sungai Deli, Gang Alfalah, Lingkungan V, Kelurahan Sukaraja Kecamatan Medan Maimun dan Pasar Pagi di Jalan Warna Lingkungan VI, Kamis (1/3) pukul 12.00 WIB.

Lurah menyesalkan tumpukan sampah yang berserakan di pinggiran Sungai Deli itu. Selain  mencemari sungai, sampah-sampah itu menjadi sarang nyamuk.

“Sebelumnya kita pernah membersihkan sampah di pinggiran sungai itu, tapi sampah sampah itu muncul lagi,” kata Eko.

Lurah Sukaraja ini mengaku telah memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarang tempat, termasuk membuang ke pinggiran Sungai Deli. Namun masyarakat masih saja membandel. “Sudah capek pihak kelurahan beserta Kepling memperingati warga untuk tidak membuang sampah sembarangan termasuk ke pinggiran Sungai Deli.tapi warga masih saja tetap  membuangnya ke tempat itu,” kesalnya.

Melihat kondisi ini, Eko  akan membertindak tegas. Seperti dikatakannya, bahwa mereka tidak akan segan-segan mengembalikan sampah warga jika tertangkap basah membuang sampah sembarang tempat.  “Kami akan mengembalikan sampah itu kepada warga jika masih ada membandel membuang sampah sembarangan, setelah kami mengembalikannya kami menyuruhnya membuang ke tong sampah,” tegasnya.

Eko tetap berharap kepada warganya untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya.
“Untuk mewujudkan kelestarian, keindahan lingkungan harus bekerjasama. Tanpa,ada kerjasama tidak akan terwujud keindahan lingkungan,” serunya.
Disamping itu, Eko menjelaskan bahwa kawasan Pasar Pagi di Jalan Warna Lingkungan VI,tidak terlalu ada tumpukan sampah. “Kalau di kawasan Pajak Pagi, kita selalu mengangkut sampah mulai pukul 07.00 WIB hingga 15.00 wib dengan menggunakan dorongan kereta sampah,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan, Edi Sugianto Kepala Lingkungan V. Kata Edi tumpukan sampah itu akan segera mereka bersihkan bersama warga lingkungan setempat.

“Kemungkinan dalam waktu dekat ini kita segara melakukan pembersihan tumpukan sampah itu,”kata Edi.(omi)

Kanit Jahtanras Kena Bacok

LUBUKPAKAM- Naas dialami Sayuti (46), warga Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Deliserdang. Pasalnya, saat hendak melerai pertengkaran, dia malah tewas ditikam Abdi Tarigan (26), warga Desa Limau Mungkur, Kecamatan STM Hilir di Jalan Desa Tadukan Raga, Rabu (29/2) petang pukul 18.30 WIB.

Selain Sayuti, Abdi Tarigan juga menikam Alex (25), rekan Sayuti, sehingga mengalami luka di bagian pinggul kiri dan kini dirawat di RSU Grand Medistra Lubukpakam.

Peristiwa ini berawal ketika Abdi Tarigan mengendarai sepeda motor Jupiter Z BK 6466 AAS menuju rumahnya. Namun ketika tiba di lokasi, dari arah berlawanan beca bermotor yang dikendarai Ruslan menyeberang hendak masuk ke pekarangan rumahnya.

Kondisi itu membuat Abdi berang, karena sepeda motornya nyaris menabrak betor Ruslan. Akibatnya, terjadi perdebatan antara Abdi dan Ruslan. Mendengar suara ribut, Alex adik ipar Ruslan mendatangi keduanya, namun perdebatan semakin panas.

Melihat itu, Sayuti datang hendak merelai. Diduga terpojok, tersangka Abdi mencabut pisau dan menebaskannya ke pinggang Alex hingga terluka.
Melihat korban terluka, Abdi berusaha kabur. Namun karena warga telah berkerumun, Abdi menabrak sepeda motor warga yang sedang parkir dan terjatuh. Melihat Abdi terjatuh, Sayuti mendekatinya, namun Abdi langsung menikam dada kiri Sayuti. Meski begitu, Sayuti mencoba mengejar Abdi, akhirnya dia kehabisan darah dan meninggal dunia saat hendak dilarikan ke rumah sakit.

Sementara warga yang marah mengepung rumah warga, tempat persembunyian Abdi. Tak berapa lama, petugas kepolisian tiba dilokasi. Ketika tersangka hendak diamankan ke mobil Dalmas Polres Deliserdang, ratusan warga terus menyerang hingga Kanit Jahtanras Ipda Saut Simarmata mengalami luka bacok di kepala sebelah kiri, dan Aipda Lasang Sinaga mengalami luka bacok di kaki kiri.(btr)

Ketua Sinode GBI Letakkan Batu Pertama

Pembangunan Kampus Seminari Bethel Medan

MEDAN-Pendidikan moral dan akhlak merupakan hal utama bagi bangsa dan negeri. Karena itu pemerintah selalu menggalakkan pendidikan pada anak usia dini (PAUD). Berarti pendidikan itu bukan saja untuk mentalnya manusia tapi moralnya pun perlu dibina.

Hal ini disampaikan Ketua Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pdt DR Jacob Nahuway MA seusai peletakan batu pertama gedung kampus Seminari Bethel Medan (SBM) di Desa Durin Jangak Tanjung Anom Kecamatan Pancurbatu, Rabu (29/2) lalu.

“Dalam hidup sekarang ini, kita melihat bangsa dan negara kita akan terpuruk karena moral yang kurang bisa dipertanggungjawabkan mulai dari MPR, DPR sampai kepada rakyat biasa di lingkungan paling bawah,”kata Pdt Jacob.

Dia juga mengatakan kehadirannya sebagai ketua sinode pada peletakan batu pertama pembangunan STT Bethel Medan ini merupakan bagian seminar Bethel Jakarta yang tujuannya sama untuk mendidik hamba-hamba Tuhan yang akan menjadi moral dari pada anak-anak bangsa ke depan dari negeri ini.
Dikatakannya juga, GBI banyak sekali di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Ada sekitar 5.511 GBI yang tersebar di seluruh dunia seperti Selandiabaru, Australia, Singapura, Darusalam, Philipina, Hongkong, China, Jerman, Itali, Yunani, Belgia dan Amerika.

Artinya, GBI ini tersebar dimana-mana. Khususnya GBI adalah gereja  nasional yang diakui oleh pemerintah yaitu PGLLI, PGPI dan PGI. Selain itu GBI juga ikut terlibat dalam membangun bangsa dan negeri itu, sebabnya GBI juga mendukung pemerintah dan Pancasila serta UUD 1945. Yang artinya hidup 4 pilar berbangsa dan bernegara merupakan azas yang diterima GBI dan dicantumkan dalam tata gereja.
Makanya kita sadar kalau GBI tidak boleh gereja suku tapi semua gereja anak bangsa karena Indonesia ini majemuk. Pembangunan kampus Seminari Bethel Medan ditargetkan siap dalam dua tahun. Luasnya sekitar 13 ribu meter dengan fasilitas asrama, ruangan dosen, ruang kuliah dan aula yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Dikatakan Jacob, Sumut harus aman dan bersikap serta menyadari kalau negeri ini bukan punya agama tertentu, tapi punya anak bangsa. “Jadi harus memberikan keluasan kepada gereja,” katanya.
Sementara Drs Arnold Hutasoit MBA selaku tokoh pendidikan mengatakan, pihaknya bukan hanya membantu membangun umat Kristen tapi  agama lain.(*/uma)