29 C
Medan
Thursday, January 1, 2026
Home Blog Page 13924

Warga di Areal Kualanamu Siap Angkat Kaki

LUBUK PAKAM- Sekitar 41 kepala keluarga (KK) yang bercokol selama 13 tahun di areal Bandara Kualanamu Desa Pasar VI Kualanamu, Kecamatan Beringin, akhirnya bersedia angkat kaki dengan suka rela.

Hal itu disampaikan lima orang perwakilan warga meliputi Raniman, Walcini, Sriandi, Selamat dan Sujono disaksikan warga lainnya, serta komisi A DPRD Deli Serdang, selaku fasilitator, Senin (13/2), sekitar pukul 10.30 WIB.

Adapun konvensasi yang diperoleh warga berupa, uang pindah serta bantuan biaya kontrak rumah dan dana pensiun bagi karyawan PTPN 2. Sumber dananya berasal dari PTPN 2 dan Angkasa Pura (AP) II. “Kami setuju dengan opsi yang disampaikan PTPN 2 dan AP II melalui Komisi A,” kata Sujono.
Sebelumnya, warga sempat menolak keluar dari lokasi Bandara Kualanamun, karena belum adanya kesepakatan antara kedua belah pihak. Saat itu, warga sempat meminta agar direlokasi ke Rumah Sangat Sederhana (RSS) di areal lahan eks HGU PTPN 2 di pingiran Bandara Kualanamu.
Ketua Komisi A DPRD Deli Serdang, Imran Obos, ketika dikonfirmasi mengatakan, adanya kesepakatan yang difasilitasi DPRD itu, akan disampaikan ke PTPN 2 dan AP II. (btr)

Puluhan Pemuda Serang Warga Selambo 11 Orang Diamankan Polisi

MEDAN- Puluhan pemuda bersenjata tajam, menyerang warga yang tinggal di Desa Selambo, Percut Sei Tuan, Minggu (12/2) malam.
Penyerangan ini sempat mendapat perlawanan dari warga dan nyaris terjadi bentrok fisik, jika saja petugas kepolisian dari Polsek Percut Sei Tuan dan Polresta Medan lambat mengantisipasi.

Dengan sigap, petugas langsung mengamankan 11 orang perusuh dan memboyongnya ke Mapolresta Medan untuk dimintai keterangan.
Informasi yang dihimpun di kepolisian menyebutkan, penyerangan sejumlah pemuda ini, diduga didalangi Frangky Tato. “Tiba-tiba saja mereka menyerang warga, mereka bawa parang dan minuman keras,” ujar E Marbun (35) warga Selambo saat ditemui di Mapolresta Medan, kemarin (13/2).
Diterangkan E Marbun, saat itu, Rudi Simanjuntak (34) didatangi Frangki Tato. Tidak jelas permasalahannya, tiba-tiba Rudi diancam Frangki. “Sewaktu diancam, tiba-tiba anggota Frangki menyerang. Mereka bawa parang, bawa tombak,” sebut Marbun.

Hal senada juga diutarakan beberapa warga Selambo lainnya, puluhan pemuda yang tergabung dalam organisasi kepumudaan (OKP) datang menggunakan mobil angkot, mobil pribadi serta sepeda motor menyerang warga.

“Mereka lengkap dengan pakaian OKP. Kami tak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba sudah ramai saja. Kerena banyak anak-anak kami disana yang terancam. Warga tanpa disuruh langsung melakukan perlawanan,” ujar beberapa warga saat ditemui di Mapolresta Medan.

Dalam penuturan warga, meski tidak ada korban jiwa, mereka merasa resah dengan ulah organisasi kepemudaan itu. “Mereka sudah mabuk, mereka bawa tuak. Bukan itu saja, mereka juga mengancam anggota karang taruna dan melempari warga pakai batu,” jelas warga.

Menurut warga, permasalahan tersebut berawal sejak berdirinya kantor karang taruna di Desa Selambo. Diduga, sejumlah pemuda ini tak senang dengan berdirinya kantor tersebut dilahan yang diduga milik salah satu anggota organisasi kepemudaan tersebut. Lantas, mereka mengancam akan membunuh satu persatu pemuda di Desa Selambo.

Pantauan di Mapolresta Medan, Frangki dan beberapa anggotanya berhasil diringkus petugas Reskrim Polresta Medan untuk dimintai keterangan. Sedangkan belasan warga Selambo sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Percut Seituan AKP Faidir Chaniago, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Pelaku dan korban sudah diboyong ke Mapolresta Medan,” jelas Faidir.

Lanjut Faidir, pihaknya telah mengamankan sedikitnya 11 orang. “Total yang diamankan 11 orang,” tandas Faidir Chan.(gus)

Warga Adukan PTPN4 ke DPRD

SERGAI- Warga Desa Naga Kesiangan, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, mengadukan nasib mereka ke Komisi A DPRD Sergai, terkait penyelesaian tanah seluas 254,33 Ha dengan PTPN4 Pabatu, Senin (13/2).

Kunjungan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu pimpinan Wendy Hutabarat(37), hadir bersama Sekretarisnya Suryani(40) dan anggotanya Sugiyanto (30) Irwan (45), Musli (43), Sudarli(30), Juni(70), Paimin (43) dan Mesno (30), disambut Sekretaris Komisi A DPRD Sergai Armin Lubis dan beberapa anggota Komisi A lainnya.

Di hadapan Komisi A DPRD Sergai, perwakilan kelompok tani menuturkan telah menggarap lahan tersebut sejak tahun 1949 yang kemudian dipaksa diganti rugi tanaman oleh pihak perkebunan  pada tahun 1970 dengan cara intimidasi. Padahal di dalam lahan telah ditanami berbagai tanaman seperti pohon karet. Saat itu, warga diiming-imingi akan diganti dengan lahan seluas 2 ha per orang, sehingga mereka menyerahkan bukti alas hak tanah ke perkebunan.
“Memasuki tahun 2000, kami kembali mengusasi lahan yang telah dikuasai PTPN4 Pabatu hingga tahun 2006, bahkan telah membuat akte camat. Saat itu Camat Tebing Tinggi M Faisal Hasrimy. Tapi sekarang, surat itu dibatalkan,” ungkap Wendy Hutabarat.

Lanjut Wendy, berdasarkan peta yang didapat, lahan yang berbatasan dengan rel Kereta Api di Desa Naga Kesiangan tidak termasuk dalam Hak Guna Usaha (HGU).

“Kedatangan kami berharap dukungan dari DPRD selaku wakil rakyat, guna mencari solusi, selain diharapkan dapat menelusuri bukti-bukti milik masyarakat yang telah diserahkan ke Perkebunan dengan cara itimidasi saat itu,” harap Wendy.

Sementara itu Sekretaris Komisi A DPRD Sergai, Armin Lubis, berupaya akan membantu dan memfasilitasi perjuangan kelompok tani, namun sebaliknya juga kelompok tani diharapkan untuk melengkapi bukti-bukti pendukung yang ada. (mag-16)

Dua Pria Diperiksa Polisi

Terkait Pembacokan Briptu Fernandes

BELAWAN- Pihak kepolisian terus menyelidiki kasus penganiayaan Briptu Fernandes yang dilakukan warga Jalan TM Pahlawan Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Minggu (12/2) malam.

Untuk mengusut kasus yang menyebabkan anggota Polres Pelabuhan Belawan mengalami luka bacok di bagian kepala itu, Senin (13/2), polisi memeriksa dua orang saksi.

“Kedua orang yang diamankan itu berinisial JM dan US, warga Lorong Melati, Belawan.  Mereka masih berstatus saksi dan sekarang masih dalam pemeriksaan,” kata Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan AKP Hamam Wahyudi.

Hamam menambahkan, pihaknya masih melakukan pengembangan untuk memburu para pelaku yang terlibat dalam aksi pembacokan Briptu Fernandes. “Sementara ini masih dua saksi dulu diperiksa, karena berdasarkan informasi keduanya berada di lokasi kejadian pada saat peristiwa itu terjadi. Namun kasusnya masih terus kita kembangkan,” pungkasnya.

Terkait motif pembacokan Briptu Fernandes, Hamam belum mengetahui persis motif pembacokan oknum polisi itu.
“Matifnya masih kita selidiki untuk dikembangkan. Kalau soal adanya penculikan dan penganiayaan yang dialami seorang warga bernama Khaidir, sampai saat ini kita belum ada menerima laporan pengaduan baik dari korban maupun keluarganya,” tandas Hamam.

Sebelumnya diberitakan, Briptu Fernandes menjadi korban tindak kekerasan beberapa pria bersenjata tajam pada saat melakukan pengamanan bentrok antar pemuda di Jalan TM Pahlawan, Belawan, Minggu (12/2) malam.

Para pelaku diduga tak puas dengan pelayanan aparat penegak hukum yang berjaga dilokasi bentrok, karena tidak menggubris laporan warga terkait hilangnya seorang warga bernama Khaidir (21) warga Lorong Melati, Belawan.(mag-17)

Penetapan Rumah Sakit ODHA Menuai Kontra

MEDAN- Penetapan sejumlah rumah sakit sebagai rujukan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menuai kontra dari berbagai pihak.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Peduli Aids Indonesia (PDPAI) Sumut, Dr dr Umar Zein Sppd KPTI, menilai SK yang telah dikeluarkan Kemenkes sebagai salah satu bentuk diskriminasi pelayanan kesehatan bagi ODHA.

Pasalnya, virus yang mematikan bukan HIV nya, tapi infeksi opurtunisik yang diderita ODHA. Diharapkan setiap rumah sakit bisa mengobati infeksi ini.
“Infeksi oputinisik terbanyak didapati pada pasien penyakit TB (Tuberkulosis). Penyakit ini, jangankan rumah sakit, puskesmas saja sudah mampu mengobatinya. Jadi, kenapa ODHA harus dirujuk. Malah SK ini, bisa dijadikan alasan bagi rumah sakit swasta untuk menolak merawat ODHA,” sebut Umar, Senin (13/2).

Sementara itu, Ketua LSM Medan Plus, Totonta Kaban selaku pendamping Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) juga menolak ditetapkannya SK tersebut. Harusnya SK yang dikeluarkan lebih mengarah agar semua rumah sakit tidak boleh menolak pasien ODHA, sehingga tidak terjadi diskriminasi.
“Kita menolak SK Menkes itu. Pemerintah justru belum siap dengan SK itu. Rata-rata rumah sakit swasta juga masih enggan menerima pasien ODHA. Bahkan penetapan SK itu tidak disiapkan dengan peralatan dan petugas medis. Mungkin pelatihan sudah, tapi kemauan kepala daerah belum siap menindaklanjuti SK Menkes itu dengan mempersiapkan peralatannya,” ujarnya.

Disebutkannya, saat ini rumah sakit yang menerima pasien ODHA hanya RSUP H Adam Malik Medan dan RSUD dr Pirngadi Medan. Sedangkan rumah sakit swasta malah menjadikan SK Menkes itu sebagai alat untuk menolak merawat pasien HIV. Akibatnya, RSUP H Adam Malik dan RSUD dr Pirngadi Medan sering kewalahan menangani pasien HIV.

“Terkadang rumah sakit swasta masih enggan menerima dengan alasan fasilitas tidak ada. Harusnya, SK Menkes lebih ditegaskan bahwa rumah sakit harus mampu menangani pasien HIV/AIDS. Jadi, pemerintah juga harus ada perhatian untuk menyediakan anggaran ODHA,” ucapnya.

Berdasarkan data yang tercatat di Medan Plus, ada sekitar 2.557 ODHA yang didampingi sejak tahun 2003. Dari jumlah itu, rata-rata dirujuk ke RSUP H Adam Malik dan RSUD dr Pirngadi Medan. “Selama mendampingi ODHA, pelayanan di rumah sakit masih belum optimal. Banyak ditemui petugas yang tidak paham bagaimana menangani pasien HIV/AIDS,” urainya.

Sebelumnya, Surat Keputusan (SK) Kementerian Kesehatan telah menetapkan 18 rumah sakit pemerintah di Sumatera Utara untuk menjadi rumah sakit rujukan bagi ODHA.

Dalam SK Menkes No. 782/Menkes/SK/IV/2011 itu disebutkan, dari 18 rumah sakit, lima diantaranya rumah sakit pemerintah di Kota Medan, seperti RSUP H Adam Malik Medan, RSUD dr Pirngadi Medan, RS Bhayangkara, RS Kesdam, dan RS Haji Medan.

Sementara 13 rumah sakit lainnya terdapat di kabupaten/kota di Sumut diantaranya, RS HKBP Balige, RSU Lubukpakam Deli Serdang, RS Kabanjahe Kabupaten Karo, RS Pematangsiantar, RS Kumpulan Pane Tebingtinggi, RS Sultan Sulaiman Serdang Badagai.

Kemudian RSUD dr Djoelham Binjai, RSUD Rantauprapat Labuhanbatu, RS Adrianus Sinaga Samosir, RS dr Ferdinan L Tobing Sibolga, RSUD Padangsidimpuan, RS Tarutung Tapanuli Utara dan RS dr H Abdul Manan Simatupang Asahan.(mag-11)

Inkyun Absen Lagi

MEDAN-Kembali menelan kekalahan pada laga lanjutan kompetisi ISL, pelatih PSMS Suharto AD menyesalkan hal tersebut. Di Stadion Kuta Asan kandang PSAP Sigli, Sabtu (11/2) sore lalu, tim berjuluk Ayam Kinantan harus mengakui keunggulan tim tuan rumah dengan skor akhir 1-2.

Dari hasil ini kembali skuad PSMS harus defisit satu gol. Mencetak 12 gol dan harus mengoleksi 13 kebobolan. Menurut pelatih berkepala plontos ini, skuadnya minimal harus bisa mencetak satu gol saat menjamu Persiram Raja Ampat pada 16 Februari mendatang.

“Targetnya meraih poin penuh. Tapi kita harus bisa menghasilkan satu gol minimal, agar tak defisit gol lagi. Namun, harapannya tentu bisa mencetak lebih dari satu gol,” ungkapnya, Senin (13/1).

Membahas laga berikutnya melawan Persiram, Suharto mengungkapkan bahwa laga tersebut minus pemain gelandang asal Korea Inkyun Oh. “Ia terkena akumulasi kartu kuning, pada pertandingan menjamu Persegres Gresik dan saat bertandang ke PSAP,” tuturnya.

Namun, akumulasi ini tak begitu mempengaruhi skuad. “Banyak pemain potensial yang bisa melapis posisi Inkyun. Walau tak sekelas dengannya, tapi kita berharap ada pemain yang bisa bermain lebih baik darinya (Inkyun, Red) saat bertanding nanti,” ujar Suharto.

Mengomentari kekalahan pertandingan sebelumnya lawan PSAP, Suharto hanya mengaku PSMS saat itu kurang beruntung. “Banyak peluang yang tak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Finishing touch dan pertahanan lini belakang kita juga masih perlu banyak pembenahan,” katanya.

Namun, Suharto mengaku, penguasaan bola yang dilakukan anak asuhannya sudah lebih baik. “Kalau penguasaan bola kita yang pegang, kita lebih unggul. Tapi, ya seperti yang saya katakan tadi, penyelesaian akhirnya kurang bagus dan pertahanan kita juga masih rapuh,” tuturnya.

Menurutnya, tak ada tekanan dalam pertandingan kali ini. “Penonton tak melakukan intimidasi begitu pula manajemen. Wasit juga bagus,” ujar Suharto.
Mengenai isu adanya pengaturan skor, Suharto tetap tak bergeming. “Skuad sudah menunjukkan yang terbaik. Hanya kurang beruntung dan anak-anak memang kehilangan konsentrasi tengah babak kedua. Inilah sepak bola. Dan ini akan menjadi evaluasi kita ke depannya. Jadi, masalah pengaturan skor itu sama sekali tak benar” pungkasnya. (saz)

ASSBI Sumut Siapkan Beragam Kegiatan

MEDAN- Koordinator Daerah Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (Komda ASSBI) Sumut akan menggelar kursus wasit kategori remaja (C-3) dan kursus pelatih lisensi D yang dikhususkan bagi anggota ASSBI Sumut di Asrama Haji Medan, 19-25 Maret mendatang.

“Kegiatan ini merupakan program sekaligus bentuk kepedulian ASSBI Sumut dalam meningkatkan kualitas wasit dan pelatih SSB di Sumut. Hal itu agar ke depan pembinaan SSB bisa lebih baik lagi,” ujar Ketua Umum Komda ASSBI Sumut, Sumantraji, di Sekretariat ASSBI Sumut, Jl SM Raja Km 6,5 Medan, Senin (13/2).

Selain itu, lanjutnya, ASSBI Sumut juga akan menggelar festival sepakbola U-16 bagi SSB yang telah terdaftar sebagai anggota ASSBI Sumut. Kompetisi itu akan digelar di Stadion Teladan Medan,  4-8 April mendatang.

“Saat ini sudah ada 80 SSB terdaftar sebagai anggota Komda ASBBI Sumut. Diharapkan yang lain segera menyusul agar dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang kita gelar. Sedangkan kepengurusan Koordinator Cabang (Komcab) ASSBI, saat ini sudah terbentuk di 10 kabupaten/kota dan segera menyusul daerah lainnya,” demikian Sumantraji.

Wakil Ketua Umum ASSBI Sumut, Hery Riyanto, menjelaskan pendaftaran peserta kursus wasit dan pelatih dapat dilakukan mulai 15 Februari hingga 15 Maret mendatang di Sekretariat ASSBI Sumut atau menghubungi (061) 7864177.

“Persyaratan umum peserta di antaranya berusia 20-40 tahun dan khusus untuk wasit maksimal harus berusia 21 tahun. Jumlah peserta kursus terbatas hanya untuk maksimal 40 orang ,” ucap Hery. (jun)

Suryo Kembali Masuk Pelatnas

JAKARTA – Nama besar dan prestasi sprinter Suryo Agung Wibowo masih dipertimbangkan. Setelah sebelumnya sempat terpental dari pelatnas persiapan Olimpiade London 2012, kini nama pemegang rekor manusia tercepat di Asia Tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik itu kembali masuk pelatnas.
Itu setelah Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) memanggil sprinter berusia 29 tahun tersebut untuk bergabung dengan enam sprinter lainnya, untuk mempersiapkan diri berebut tiket ke London. Pemanggilan Suryo tertuang dalam SK Prima Nomor 8 Tahun 2012.

“Kami usulkan kepada Dewan Pelaksana Prima untuk kembali memanggil Suryo. Bagaimanapun, dia masih sebagai pemegang rekor pelari tercepat di Asia Tenggara,” kata Hadi Wihardja, Koordinator Cabang Olahraga Terukur Prima.

Sebelumnya, Prima telah memanggil enam sprinter muda. Dua di antaranya adalah Sapwaturrahman dan Iswandi. Keempat lainnya adalah kuartet  peraih medali emas di nomor 4×100 meter putra di SEA Games 2011, yakni Franklin Burumi, M. Fadlin, Fernando Lumain, serta Farrel Octaviandi.
Dengan pemanggilan ini, Prima berharap Suryo bisa mempertajam catatan waktunya saat turun di ajang Jatim Terbuka yang akan dihelat di Surabaya pada 14-17 Maret mendatang. Jatim Terbuka merupakan salah satu turnamen kualifikasi menuju Olimpiade London.

Suryo memecahkan rekor sebagai manusia tercepat Asia Tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik pada di SEA Games 2009, Laos. Pelari asal Solo ini adalah salah satu wakil Indonesia yang tampil di Olimpiade Beijing 2008, setelah lolos kualifikasi limit B, yang dia raih saat tampil di SEA Games 2007 di Thailand dengan rekor 10,25 detik.

Dengan catatan waktu itu, Suryo tidak hanya merebut tiket ke Beijing, tapi juga memecahkan rekor SEA Games dan mempersembahkan medali emas. (ali/diq/jpnn)

Dispora Medan Segera Ferivikasi Klub Olahraga

MEDAN-Tolak ukur sukses tidaknya sistem pembinaan pada sebuah cabang olah raga adalah raihan medali pada sebuah even. Nah, agar harapan meraih prestasi maksimal dapat terpenuhi, tak ayal dibutuhkan keterlibatan para pakar yang benar-benar mengerti tentang asupan gizi maupun fisik sang atlet.
“Tanpa pakar yang benar ahli di dunia olhraga. Atlet pasti takkan tahu kendala yang dihadapi,” bilang Drs Hanas Hasibuan MAP, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Medan pada rapat persiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah Sumatera Utara (Popdasu) bersama pelatih dan pembina klub-klub olahraga sekolah yang ada di Kota Medan, di ruang rapat Dispora Medan Jalan Ibus Raya Medan, Senin (13/2).

Lebih lanjut  Hanas mengatakan dunia olahraga adalah dunia kita, untuk itu marilah bersama-sama membangun olahraga di daerah yang kita cintai ini sehingga mampu menorehkan prestasi yang membanggakan.

“Kepada atlet pelajar berprestasi akan diberi beasiswa, sehingga beasiswa yang diberikan tersebut dapat meningkatkan semangat dan motivasi para atlet untuk lebih giat berlatih,” Ungkap Hanas

Selanjutnya Hanas menambahkan agar klub-klub binaan Dispora Medan dapat mempersiapkan atletnya dalam menyongsong Popdasu X yang akan digelar di Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pada bulan Juni 2012.

Untuk mendapatkan hasil maksimal pada Popdasu nanti, Dispora Medan akan melakukan verifikasi terhadap klub-klub olahraga yang ada di Medan. “Dari hasil verifikasi itu nantinya akan diketahui apakah klub itu aktif membina atletnya atau tidak,” kata Hanas. (omi)

Dipukul, Disetrum dan Disekap dalam Mobil

Pengendara Sepeda Motor Dirampok

MEDAN-Robby M Sihotang (25), warga Asrama RSU Rusdi Jalan H Adam Malik Medan menjalani perawatan intensif di Ruang Dahlia 15, Lantai I, RSU dr Pirngadi Medan, setelah dipukuli, disetrum dan disekap orang tak dikenal (OTK) di dalam mobil, saat melintas di Jalan Tuasan.

Paman Robby, Bastian Sembiring (48) mengungkapkan, kejadiannya berlangsung Minggu (12/2) dini hari. Saat itu Robby melintas mengendarai sepeda motor di Jalan Tuasan bersama rekannya Sumarihon Silalahi, usai dari rumah temannya. Tanpa sengaja, Robby  dengan temannya menyerempet mobil Kijang Innova warna silver.

Tak berapa lama kemudian, mobil yang ditumpangi enam pria itu langsung memepet kendaraan mereka dan langsung memberhentikan keduanya.
“Mereka langsung memasukkan keponakan saya ke dalam mobil. Dua dari enam pria itu turun dan membawa kendaraan keponakan saya sementara keponakan saya di dalam mobil bersama dengan temannya. Didalam mobil ada empat pemuda dan tiga di antara dari empat pemuda memukuli, menyekap dan menyetrum keponakan saya bersama dengan temannya,” jelasnya.

Setelah itu pria itu meninggalkan keduanya di perlintasan rel kereta api di sekitar Jalan Bilal Medan. Tak hanya itu, keenam pemuda itu membawa lari sepeda motor milik Robby M Sihotang Suzuki Satria FU 150 bernomor plat polisi BB 5285 MM berwarna merah. “Semua dibawa para pelaku termasuk barang-barang milik keponakan saya seperti uang, dompet, STNK dan handphone,” jelasnya.

Saat keduanya sadar, tambah Bastian, keponakannya bersama dengan temannya pun langsung mendatangi Mapolsekta Medan Timur. Oleh polisi keduanya pun diarahkan ke Mapolsekta Percut Seituan karena lokasi kejadiannya di wilayah Polsekta Percut Seituan. “Keponakan saya bersama dengan temannya sudah melapor ke Mapolsekta Percut Seituan dengan bukti Surat Tanda Laporan Nomor: STPL/400/II/2012 Percut tertanggal Minggu (12/3) dini hari 04.30 WIB,” katanya.

Bastian menegaskan, polisi harus menangkap pelaku. “Kalau pun keponakan saya bersalah, kan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Bukan begini caranya. Saya meminta kepolisian khususnya Polsekta Percut Seituan menangkap pelakunya,” bebernya.
Robby saat terbangun dari tidurnya mengaku, mereka malam itu dimasukkan ke dalam mobil dan di dalam mobil diperlakukan tak wajar.
“Yang saya ingat mereka berbadan tegap, menggunakan jaket dan mereka menyiksa kami. Habis itu mereka menurunkan kami di rel kereta api. Saya minta pelakunya segera ditangkap,” ucapnya. (jon)