Home Blog Page 13953

Dirut Bank Sumut Ajak Bangun Ekonomi Islam Kerakyatan

MEDAN-Dirut PT Bank Sumut, Gus Irawan Pasaribu mengatakan jika sejauh ini ekonomi rakyat masih belum merdeka. Hal ini ditandai dengan banyaknya hasil kekayaan yang masih dikuasi oleh asing, sementara hasilnya belum bisa dirasakan oleh rakyat.

Gus Irawan mengajak para ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yakni para alumni angkatan 1957-2006 Fakultas Ekonomi untuk mengembangkan eknomi kerakyatan. Hal itu disampaikannya dalam acara Reuni Akbar Fakultas Ekonomi UISU yang bertemakan ‘Menjalin
Ukhuwah Islamiyah’ di Griya Ben, Sabtu (25/2) kemarin.

“Harus ada cara secepatnya agar investor datang ke Indonesia, termasuk di Sumut. Yakni dengan menciptakan investor, perpendek birokrasi, dan hilangkan pungutan. Jadi tidak sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi tapi bagaimana merasakan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Menurut Gus, pertumbuhan ekonomi Sumut tidak berkualitas. Sehingga langkah terbaik yakni dengan menerapkan cara ekonomi
kerakyatan seperti konsep Islam yakni zakat dan wakaf.

“Kedua cara ini biasa hanya dimanfaatkan untuk masjid padahal konsepnya bisa digunakan lebih produktif,”sebutnya.
Ekonomi kerakyatan seperti yang dimaksudkannya yakni  seperti  memberdayakan perempuan yang mampu memberikan kontribusi dan mensejahterakan keluarga.

Gus mencontohkan dengan membina pelaku usaha mikro dengan modal Rp1 sampai Rp5 juta tanpa agunan. Hingga kini, ujarnya, Bank Sumut telah
Menerapkannya dengan memberikan binaan kepada 68.000 pelaku usaha mikro bagi para perempuan.

“Ada juga program Rp5 juta sampai Rp50 juta, tapi ini sudah pakai agunan. Binaannya sudah sampai 2.800 orang. Dan tingkat kredit macetnya hanya satu persen. Alasannya kredit macetnya juga masih diterima logis kok,” paparnya. (uma)

Gus-AY Siap Maju Pilgubsu

Para Tokoh Sumut Utamakan Infrastruktur

MEDAN- Dua nama yang selama ini santer disebut-sebut akan maju dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 mendatang. Keduanya adalah Direktur Utama Bank Sumut Gus Irawan Pasaribu dan Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution.

Pernyataan Gus Irawan disampaikannya usai syukuran Prof DR Bomer Pasaribu menjadi Duta Besar Penuh Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania, kemarin (25/2).

“Saya siap (untuk maju sebagai calon Gubsu). Banyak dukungan yang saya terima dari masyarakat Sumatera Utara,” tegas Gus Irawan.
Sedangkan pernyataan AY Nasution disampaikan saat menerima award sebagai ‘Tokoh Militer Peduli Pers’ dan ‘Tokoh Low Profile di Hotel Grand Antares, Rabu (22/2) lalu. “Saya siap maju, siap memenuhi pangilan mengabdi di Sumut,” ujar AY Nasution.

Lebih lanjut dikatakan Gus Irawan, pencalonan dirinya untuk maju dalam pertarungan Pilkada Gubsu yang akan datang akan dimusyawarahkan dengan pihak keluarga.

“Saya orang ekonomi dan mempunyai pendidikan ekonomi. Untuk menindaklanjuti dukungan masyarakat itu, saya harus mengukur segala sesuatunya dan juga harus dimusyawarahkan pada pihak keluarga,” tegasnya.

Adik kandung Bomer Pasaribu ini juga mengucapkan terima kasih pada masyarakat yang telah mendukung dirinya untuk maju dalam pertarungan pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang akan datang.

“Saya sangat tersanjung dan berterima kasi pada masyarakat yang telah mempercayai dan mendukung saya untuk maju dalam pilkada yang akan datang ini.Namun demikian kita juag harus mengukur diri dan melakukan musyawarah.Apabila keluarga mendukung dan masyarakat mendukung, saya secara pribadi akan siapp untuk maju,” tegasnya.

Sementara itu Bomer Pasaribu selaku abang kandung Gus Irawan Pasaribu, secara pribadi mendukung adiknya untuk maju dalam pilgubsu yang akan datang.

“Kalau memang adik saya (Gus Irawan) itu ingin maju ya kita akan mendukungnya.Dan ini memang harus dibicarakan oleh pihak keluarga, karena untuk maju itu membutuhkan segala sesuatunya yang siapp,” tegas Bomer Pasaribu.

Sementara itu trade record keluarga Gus Irawan Pasaribu baik dalam birokrat ataupun politisi di Sumatare Utara tidak dapat diragukan kan lagi.
Abang Gus Irawan Pasaribu, yakni Prof DR Bomer Pasaribu mempunyai segudang prestasi diantaranya pernah menjabat sebagai menteri di Kabinet Abdul Rahman Wahid, ia juga politisi kawakan dari Partai Golongan Karya.

Selain itu H Panusunan Pasaribu pernah menduduki posisi jabatan strategi di Pemerintahaan Propinsi Sumatera Utara, terakhir menjabat sebagai Ketua Yayasan Pekan Raya Sumatera Utara.

Sedangkan H Ibrahim Pasaribu, seorang pelaut, H Syahrul M Pasaribu sendiri saat ini sebagai Bupati Tapanuli Selatan, Hj Lisnawati Pasaribu seorang PNS di Padangsidimpuan dan.Jon Sujani Pasaribu,menduduki jabatan strategis di BNI yang sekarang ini calon Direksi Utama BNI Jakarta.

Sementara AY Nasution yang disampaikan dalam sambutannya usai menerima award yang diserahkan Pembina Lembaga Wartawan Indonesia (LWI) Mayjen (Purn) Syamsul Djalal saat pengukuhan keanggotaan LWI Sumut.

Sebelum menerima award, mantan Aster Panglima TNI ini sempat mendengarkan keluh-kesah dan pengalaman wartawan saat meliput di lapangan. Entah beberapa kali AY bertepuk tangan lantaran terkesima dengan pengalaman liputan yang disampaikan oleh Osriel Limbong yang dilantik sebagai Ketua LWI malam itu. Gaya bertutur  Osriel yang begitu bersemangat dengan gerakan tangannya yang terangkat membuat AY tertawa dan menganggukan kepala. Tawa sang jenderal pun disambut tepuk tangan puluhan wartawan yang hadir malam itu.

Osriel mengatakan penganugerahan ‘’Tokoh Low Profile’’ diberikan kepada AY lantaran dirinya yang selalu ramah kepada siapa pun. Penilaian lain, menurut Osriel, selain putra daerah, sosok alumni SMAN 2 Medan ini amat mengenal karakter daerah dan psikologis masyarakat Sumut.
“‘Tugas-tugas militer dengan sering datang ke sini juga menjadikannya semakin mengenal Sumut dan tokoh-tokoh masyarakat setempat,’’ ujarnya. Osriel yakin meskipun lahir sebagai anak tentara dan aktif di dunia militer AY merupakan sosok yang jauh dari sikap otoriter. ‘’Kalau  gaya bicara yang selalu tegas, lugas, dan blak-blakan, ya itu pasti. Militer memang harus seperti itu,’’ katanya.

AY yang berbicara tanpa teks mengaku tersanjung atas penganugerahan award kepada dirinya. ‘’Saya malah justru salut kepada wartawan,’’ katanya. Menurut jebolan AKABRI angkatan 1977 ini, wartawan itu lebih berbahaya daripada prajurit terlatih sekalipun. ‘’Kalau prajurit sekali tembak paling hanya satu atau beberapa orang yang tewas, tapi kalau wartawan sekali ‘’tembak’’ bisa satu negara yang kena,’’ kata AY yang disambut riuh anggota LWI.
Sebab itu pula, dia meminta, kalangan pers agar santun dan berhati-hati dalam menjalankan tugas, terutama dalam memuat berita yang bersinggungan dengan pribadi orang lain. ‘’Praktik jurnalistik yang salah seringkali membuat profesi wartawan diasosiasikan negatif,’’ katanya.

Ketua Umum DPP LWI Inan Riau Hasibuan mengakui sikap blak-blakan dan ketegasan AY menjadi modal kuat untuk maju di perhelatan Pilgubsu 2013-2018. ‘’Sifat yang dimiliki Pak AY saya pikir amat cocok untuk memimpin Sumut ke depan. Ini karena kultur dan karakter masyarakat Sumut dikenal keras,’’ tukas Inan. Hal senada disampaikan oleh Mantan Korwil GMKI Guntur Hutajulu yang menilai AY memiliki kriteria yang dibutuhkan untuk memimpin Sumut. Salah satunya adalah sifat terbukanya yang membuat kalangan pemuda dan aktivis nyaman berkomunikasi dengan pria yang digadang-gadang menjadi Gubsu peridoe 2013-2018 tersebut . ‘’Kami berharap Pak AY tetap komitmen dengan sikap terbukanya bila kelak terpilih’’, katanya. Dahri Maulana, tokoh pers Sumut, menilai profil AY sebagai sosok yang terbuka amat tepat dalam memimpin Sumut lima tahun ke depan.
Acara pelantikan pengurus LWI dan penganugerahan award kepada AY Nasution malam itu turut dihadiri oleh Pangdam I/BB Mayjen Lodewijk Paulus, Ketua DPRD Sumut Amiruddin, Walikota Medan Rahudman Harahap, Wakil Walikota Medan Dzulmi Eldin, tokoh-tokoh agama dari MUI Medan, tetua adat, dan sejumlah tokoh kepemudaan.

Perjuangkan Infrastruktur

Dua tokoh Sumatera Utara, H Fadly Nurzal S Ag dan DR Chairuman Harahap SH M Hum hadir dalam seri diskusi tokoh dalam tema mengusung visi membangun Sumatera Utara 2013-2018. Kedua tokoh itu sepakat infrastruktur adalah hal utama pembangunan Sumut.

Diskusi seri tokoh yang diusung Institut Solusi Indonesia (ISI) digelar Sabtu (25/2) di Grand Swiss Bell Hotel, Medan. Diskusi itu dipandu Direktur ISI, M Ikhyar dan hadir sebagai penyeimbang, Agus Marwan, yang juga dari bidang kajian politik ISI.

Peserta diskusi yang hadir diantara sejumlah pengamat politik serta politikus yang sempat meramaikan jagad perpolitikan Sumatera Utara dan Kota Medan. Diantaranya, Nelly Armayanti Lubis, Bustami, serta pengamat politik, Ahmad Taufan Damanik, Dadang Darmawan, Nuzirwan Lubis. Kemudian, pengamat anggaran, Elfenda Ananda.

Dalam paparannya, Fadly Nurzal menyebutkan, Sumatera Utara merupakan propinsi yang super lengkap, semuanya ada. Ketika ditanya potensinya, jawabannya ada, kemudian masyarakatnya terbuka dan menjadi barometer nasional.

Hanya saja, sekarang ini Sumut kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Ada kecenderungan pusat lebih memandang Indonesia di bagian Timur yakni Makasar. Padahal bila dilihat dari potensinya, Sumut itu memiliki segalanya.

“Buktinya di Sumut ada masyarakat terbuka, tapi di propinsi lainnya tidak ada. Hal inilah yang seharusnya pemerintah pusat memperhatikannya,” ujarnya.

Sumut memiliki jalan terpanjang di Indonesia. Karena panjangnya jalan tersebut, masyarakatnya menderita akibat banyak jalan berlobang. Persoalan inilah yang seharusnya diperjuangkan tokoh, politisi, birokrat asal Sumut, memperjuangkan anggaran untuk memperbaiki jalan berlobang tersebut.
“Bila tak bisa diambil anggaran dari pemerintah pusat, lebih baik dibuat sistem huru-hara saja. Sehingga ada perhatian Pemerintah Pusat ke Sumut,” ujar Fadly Nurzal.
Fadly membeberkan, uniknya persoalan infrastruktur jalan ini tak seimbang dengan jumlah kendaraan yang melintas. Padahal, setiap propinsi itu memiliki pendapatan asli daerah (PAD) primadona dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama. Bila itu menjadi primadona, maka kendaraan harus banyak di Sumut.

“Bila jumlah ruas jalan harus banyak, akibatnya ruang publik semakin sempit dampaknya interaksi sosial personal terkesan sombong,” ujarnya.
Dalam mengatasinya, perlu ada kordinasi apik kepada kabupaten/kota, sehingga investor yang masuk tak merasa diperas, koordinasi dengan penegak hukum dan pemuda.  Sehingga persoalan anggaran pusat bisa diraih sebanyak-banyaknya untuk pembangunan infrastruktur di Sumut.
“Kita butuh pemimpin yang mau, kalau pemimpin yang berani bisa bahaya. Kemudian pemimpin yang mau itu memiliki rasa empati, solidaritas, dan rasa perhatian,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Chairuman Harahap mengatakan, kehadirannya bukan karena ingin maju atau tidaknya menjadi Gubsu periode 2013-2018. Dia hanya ingin memberikan sumbangsih pemikiran sebagai warga Sumut untuk membangun daerah ini di masa mendatang. Dalam penuturannya, membangun Sumut diperlukan otonomi daerah yang mutlak, sehingga daerah bisa membangun wilayahnya.

Selama ini, katanya wilayah Pantai Timur atau biasa disebut selat malaka banyak dilintasi kapal besar, tapi kenyataannya Sumut tidak ada mendapatkan apapun. Padahal, jika dimanfaatkan wilayah Pantai Timur menjadi tempat singgah, tentunya banyak pendapatan yang datang ke Sumut.

Sementara itu, pengamat politik Ahmad Taufan Damanik mengatakan, Sumut dalam pandangan ASEAN bukan apa-apa. Semuanya melihat Jakarta. Potensi Sumut sebenarnya sangat kuat. Seperti Wilmar itu listingnya di Singapura. Padahal kebunnya di Sumut.

Sekarang ini, paparnya Problem kita disintegrasi sudah terjadi, gerak bersama elemen sosial politik terganggu. Makanya, sekarang ini Sumut tertinggal dalam perpolitikan nasional. Apalagi kita semua sudah mengetahui bagaimana persatuan orang Sumsel, Sulsel dan Jatim. Uniknya, Sumut tak ada.
“Sering main sendiri-sendiri. Makanya butuh pemimpin yang bisa menyatukan dan merekatkan potensi di Sumut ini,” sebutnya.

Harus Putera Daerah

Bagi sejumlah elemen kemasyarakatan Sumut, sosok pemimpin periode 2013-2018 mendatang dari putera asli daerah, sudah harga mati. “Ya iyalah, orang Sumut asli. Putera daerah yang mengerti dengan geografis Sumut, untuk Sumut yang lebih cemerlang. Terserah dari birokrasi, politisi atau kalangan profesional. Tabulasi atau survey yang dilakukan,” ungkap Ketua Umum (Ketum) Ormas Sumut Cemerlang, Daudsyah, seusai deklarasi ormas tersebut yang dihadiri 33 pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sumut Cemerlang, di Lantai II, Griya Benn, Jalan T Amir Hamzah, Medan, Sabtu (25/2).

Selain itu, sosok pemimpin Sumut untuk periode 2013-2018 mendatang, juga mesti memiliki sejumlah kriteria lainnya.
Pertama, sosok atau figur pemimpin mesti memiliki sifat jujur. Kriteria jujur ini, bukan hanya digembar-gemborkan saja, tapi harus sesuai fakta dan kenyataan yang ada. Selain itu, cerdas, berprestasi, serta minim konflik.

Kriteria lainnya adalah harus mampu membangun kriteria pertumbuhan ekonomi yang baik, untuk masyarakat Sumut.

“Kami akan melakukan tabulasi serta melakukan konsolidasi di 33 kabupaten/kota, guna melakukan survey dan penjaringan untuk sosok-sosok yang layak untuk menjadi pemimpin Sumut. Perlu digarisbawahi, kita juga akan memantau atau meneilisik, silsilah keluarga dari para tokoh-tokoh itu. Jangan sampai, ada yang tersangkut masalah kriminal, hukum da masalah lainnya. Pertengahan tahun ini, kita akan mendeklarasikan siapa tokoh atau sosok yang nantinya, layak untuk menjadi pemimpin Sumut 2013-2018 mendatang,” ungkapnya. (rud/tms/ril/ari)

Penonton Membeludak

Penutupan Honda DBL 2012 North Sumatera Series

MEDAN-Tak diduga, antusias pihak sekolah dan para siswa sangat tinggi menyaksikan partai final serta penutupan Honda DBL 2012 North Sumatera Series, di GOR Samudera Sport Club, Sabtu (25/2) sore.
GOR yang hanya mampu menampung 800 penonton itu penuh sesak. Tak pelak, sejumlah penonton harus berdiri di pinggir lapangan karena kehabisan bangkun

Bahkan di tribun penonton, banyak penonton berjubel baik di tangga maupun berdiri di bagian belakang tribun. Dan sudah diduga, bak berada di sebuah tempat yang hingar bingar. Teriakan histeris, alat musik dan dentuman kaki para penonton membuat suasana GOR menjadi gemuruh. Namun, meriah dan menawannya gerak serta aksi para pemain dalam pertandingan, seolah menghipnotis. Serunya pertandingan beradu dengan bisingnya dukungan para supporter. Acap kali, tiap poin yang dihasilkan pemain dari tim jagoan masing-masing pendukung, menghasilkan kebisingan yang lebih keras.

Penutupan Honda DBL 2012 North Sumatera Series juga dimeriahkan dan dimulai dengan partai final sejumlah supporting event. Seperti Honda Beat Team Chellenge yang akhirnya dimenangkan SMA Wahidin Medan di tempat pertama dan di tempat kedua SMA Negeri 2 Medan. Sementara di even Men’s Biore DBL Speed Chellenge, SMA Negeri 5 Medan menjadi jawara dibayangi SMA Wahidin Medan di tempat kedua.

Untuk Telkomsel Three Point Competition, baik kategori putra dan putri dimenangkan wakil dari SMA Wahidin Medan. Kategori putri oleh Meilawati yang mencetak enam poin, dan kategori putra mencetak sembilan poin oleh Felix.

Pada Honda Beat Ride Chellenge, yang menjadi pemenang yakni tim pertama diwakili dari SMA Negeri 5 Medan, Gege dan Adha. Sedangkan tim kedua diwakili Diana dari SMA Negeri 5Medan dan Dion dari SMA Negeri 7 Medan.

Pada pertandingan final pertama dimenangkan SMA Wahidin Medan atas lawannya SMA Negeri 5 Medan dengan skor 64-36. Di sela-sela quarter pertandingan, juga diumumkan pemenang sejumlah award. Seperti Spirit Team Award yang diraih SMK Negeri 7 Medan (CE). Discipline Team Award oleh SMA Methodist Binjai (CO) dan Sportmanship Award dimenangkan SMA Negeri 5 Medan (CO).

Pada jeda pertandingan final putri menuju pertandingan final putra, disajikan penampilan Best Five Dance’s yang diperagakan dance team dari masing-masing sekolah. Yakni SMA Sutomo 1 Medan, SMA Methodist 2 Medan, SMK Negeri 7 Medan, SMA Wiyata Dharma Medan dan SMA Harapan 1 Medan.
Pada partai final kedua dimenangkan oleh tim basket putra SMA Sutomo 1 Medan atas lawannya SMA Methodist 2 Medan dengan skor 84-54. Pada jeda kuarter pertama, diumumkan sejumlah award. Seperti Supporter Award yang dimenangkan SMA Wahidin Medan. Supporter Award Ballot Version oleh SMA Methodist 2 Medan dan Dance Team Honda Banget dimenangkan SMA Prime One School.

Di jeda kuarter kedua, diumumkan tiga pemenang pada Dance Competition. Yakni SMA Methodist 2 Medan di tempat pertama, di posisi kedua diraih SMA Wiyata Dharma Medan dan di posisi terakhir oleh SMK Negeri 7 Medan.

Dan pada jeda kuarter ketiga diumumkan Undian Motor Honda Beat yang dipilih dari potongan karcis penonton. Dan motor Honda Beat ini dimenangkan oleh Lusia Hagana seorang supporter dari SMA Negeri 2 Medan. Dengan data kelahiran Jakarta, 21 September 1994 dan beralamat di Jalan Nogio No 39 Delitua.

Dengan antusias yang cukup tinggi dari para peserta, supporter dan pihak sekolah pada even bola baket terbesar di Sumut ini, Sekretaris Umum Perbasi Sumut Darsen Song mengaku even seperti ini perlu didukung.

“Honda DBL 2012 North Sumatera Series atau even serupa yang diselenggarakan di Sumut memang cukup minim tiap tahunnya. Dan dengan antusias yang cukup meriah yang kita lihat di partai penutupan ini, even ini layak didukung untuk ke depannya,” tandasnya singkat. (saz)

AKBP Apriyanto Ngadu ke Kapolri

Kuasa Hukum Tantang Dir Narkoba Tes Urine

MEDAN-Mantan Wakil Direktur (Wadir) Reserse Narkoba Polda Sumut, AKBP Apriyanto Basuki Rahmad tampaknya tak senang dengan hasil tes urine yang dikeluarkan laboratorium narkotika Polda Sumut. Melalui kuasa hukumnya, Marudut Simanjuntak SH, Apriyanto akan meminta perlindungan hukum kepada Kapolri, Jendral Timur Pradopo. Itu karena pihak Apriyanto menemukan sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut.

“Kita menduga adanya rekayasa dalam kasus ini dan meminta penyidik agar bekerja secara profesional. Itu tujuan surat ke Kapolri,” katanya.
Kejanggalan pertama, berdasarkan surat pengantar permintaan tes urine yang ditandatangani Direktur Narkoba Polda Sumut, Kombes Andjar Dewanto ke Labfor disebutkan kliennya sebagai tersangka.

“Itu tidak benar, kenapa hasil tes urine  sembilan hari baru diumumkan ke publik. Padahal satu hari saja bisa. Bahkan menurut cerita Pak Apriyanto, tanggal 17 dia diminta menghadap Bapak Wakapolda. Pak Wakapolda pun bertanya kepada Pak Kalabfor. ‘Hasilnya negatif Pak’, jawab Pak Kalabfor. Bahkan saat itu dihadapan Wakapolda Pak Apriyanto menantang untuk dilakukan tes darah atau cuci rambut,” ujar Marudut seperti pengakuan kliennya.
“Tapi kenapa sekarang kok hasilnya bisa positif?,” tanya Marudut yang mengaku telah memohon perlindungan hukum atas kasus tersebut kepada Kapolri Jenderal Timor Pradopo.

Kejanggalan lain juga adalah, kliennya tidak ada di TKP dan tidak ditemukan barang bukti padanya, hanya berdasarkan keterangan saksi kemudian AKBP Apriyanto sudah dicopot dari jabatannya. “Itu kan fakta-fakta yang nggak bisa ditutupi,” kata Marudut.

Marudut yakin, apabila semua anggota narkoba dilakukan tes urine pasti semuanya akan positif dan masuk penjara. “Termasuk Direkturnya itu, suruh aja tes urine,” katanya

Keluarga Apriyanto juga mengaku sempat diteror orang tak dikenal (OTK). Aksi teror dialami perwira lulusan Akpol terbaik di angkatannya tersebut seminggu setelah dia tersandung kasus narkoba delapan butir pil happy five yang melibatkan seorang manajer hiburan malam, Jhonson Jingga.
Keluarga Apriyanto merasa cemas karena OTK mengendarai mobil kerap terlihat memantau kediamannya di kawasan Komplek Citra Wisata, Kecamatan Medan Johor.

“Udah seminggu belakangan ini kami merasa sempat diteror. Saban hari, setiap sore, mobil-mobil dikenderai orang yang tidak kami kenal parkir di depan maupun dekat rumah. Malahan ada yang pernah ditanya satpam komplek, eh langsung pergi seperti enggan berbicara,” kata Rina Wandini didampingi, Marudut Simanjuntak.

Teror tersebut mereka alami setelah menggelar konferensi pers terkait pembelaan dirinya dan niat mengungkap kebobrokan Direktorat Narkoba Polda Sumut di bawah pimpinan Kombes Pol Andjar Dewanto.

Marudut menambahkan, OTK kerap memantau ke kediaman klien-nya mulai sore hingga malam hari. Bahkan, saat beranjak dari rumah, mereka kerap diikuti OTK. Meski cemas, dia memastikan pihak keluarga siap menghadapi risiko demi mengembalikan martabat mereka yang merasa dipojokkan oknum-oknum tertentu agar karirnya di kepolisian terhambat.

“Keluarga dan kami sebagai kuasa hukum sudah siap menghadapi segala permasalahan yang terjadi terkait kasus klien kami ini. Kasus ini benar-benar dipolitisir, tujuannya mungkin ada maksud lain. Yang pasti kami tidak terima dan akan melakukan perlawanan,” tuturnya.

Di lain pihak, penanganan kasus dugaan mengkonsumsi narkoba yang membelit Apriyanto makin serius. Setelah dinyatakan positif menggunakan narkoba dalam tes urine, pihak Direktorat Narkoba Polda Sumut yang menanganinya belum berani menetapkannya sebagai tersangka. Penyidik membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut guna menyeret mantan Dir Narkoba itu ke ranah hukum.

“Masih saksi, belum tersangka, karena memang harus didalami lagi kasusnya. Kita akan tunggu pemeriksaan lanjutan minggu depan,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso saat dikonfirmasi, Sabtu (25/2) Siang.

Pemeriksaan lanjutan pekan depan akan menyertakan istri AKBP Aprianto, Rina Wandini (40). “Kalau untuk pemeriksaan lanjutannya, nanti sepertinya istrinya dulu dimintai keterangan, baru di hari berikutnya Pak Wadir, karena kan dia (AKBP Apriyanto-Red) sudah pernah diperiksa,” terangnya.(ala/smg/gus)

Anas dan EBY Bungkam di Polonia

MEDAN- Banyaknya pemberitaan miring di media massa terhadap Partai Demokrat (PD) diduga menjadi alasan bungkamnya dua petinggi partai politik itu saat transit di Bandara Polonia Medan, Sabtu (25/2). Ketua Umum DPP PD, Anas Urbaningrum bersama Sekjend DPP Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhono (EBY) serta pengurus DPP Partai Demokrat.

Selama 45 menit di VIP room Bandara Polonia Medan, tak bersedia menerima wartawan. Bahkan, ruangannya tertup serta dijaga sejumlah pengurus PD yang berbadan besar.

Sumut Pos awalnya meminta izin kepada seorang pria berkaca mata, namun pria itu berulang kali enggan mengizinkan. Alasannya, Anas Urbaningrum dan Eddy Baskoro sudah kelelahan pulang dari Nangroe Aceh Darusalam (NAD).

Bahkan, ketika Anas berhadapan dengan wartawan di VIP room hanya tak ada sedikit pun mengeluarkan suara ataupun reaksi apapun. Lebih memilih diam, sedangkan Eddy Baskoro juga bersikap yang sama. Hanya saja, pengawal Eddy langsung menutup satu ruang VIP room yang sudah terhidang makanan dan minuman.

Sekitar pukul 17.15 WIB, Anas serta Eddy keluar dari satu ruang VIP Room, lagi-lagi ketika dihadang wartawan Koran ini sedikit pun tak ada memberikan komentar apapun saat disapa.

Sejumlah pengurus Partai Demokrat Sumut dan Medan di VIP Room Bandara Polonia Medan. Saat hendak mau diwawancarai, seorang pengurus partai menggunakan kaca mata dan baju biru garis-garis putih melarang agar diwawancarai. “Maaf bapak Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhono tak bisa diwawancarai karena langsung berangkat. Beliau sudah letih dan secepatnya harus kembali ke Jakarta,” ucapnya. (jon)

Dhana Tiru Modus Gayus

JAKARTA-Dhana Widyatmika, mantan PNS Ditjen Pajak, tampaknya bakal sulit menghindar dari proses hukum di Gedung Bundar. Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) telah mengantongi sejumlah bukti kuat untuk segera menindaklanjuti temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) soal kepemilikan aset Dhana senilai Rp60 miliar.

Setelah mengantongi bukti yang cukup, penyidik kini mendalami berbagai modus memperkaya diri pria yang kini pindah menjadi PNS golongan III-C (bukan III-A) Dispenda Pemprov DKI tersebut. “Kami mendalami (modus) melalui sejumlah dokumen dan barang yang kami sita,” kata Direktur Penyidikan pada JAM Pidana Khusus Arnold Angkouw kemarin (25/2).

Tim penyidik beberapa hari ini memang menggeledah sejumlah kediaman milik Dhana, termasuk sebuah rumah di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Selain dokumen, jaksa menyita hard disk komputer dan satu unit mobil Mini Cooper. Mobil tersebut diduga dibeli dengan uang yang kini dipermasalahkan kejaksaan.

Sebuah sumber di kejaksaan menyatakan, jaksa memiliki sejumlah kemungkinan tentang bagaimana Dhana bisa punya aset miliaran rupiah di rekeningnya. Pria kelahiran Malang, Jatim, itu dicurigai meniru modus yang dipraktikkan Gayus Tambunan, terpidana kasus makelar pajak dan pencucian uang. Yakni, menerima imbalan (fee) dari setiap pengurusan kasus pajak sejumlah perusahaan.

Dalam menjalankan aksinya, Gayus bisa mengurus perkara-perkara pajak dari perusahaan bermasalah. Nah, dari praktik memakelari perkara pajak itulah mantan PNS Direktorat Keberatan dan Banding Ditjen Pajak tersebut menerima imbalan dari perusahaan hingga miliaran rupiah. Gayus lantas berupaya menghilangkan jejak asal usul duit itu dengan pencucian uang (money laundering).

Untuk Dhana, papar Arnold, sangat mungkin dirinya memang menerima pemberian para wajib pajak yang ditangani. Sebab, tidak mungkin Dhana tiba-tiba menggelapkan duit pajak. Pertimbangannya, semua transaksi dilakukan dengan sistem perbankan. “Pastilah itu pemberian. Itu jelas-jelas tindak pidana korupsi,” terang jaksa senior tersebut.

Tapi, soal caranya, Arnold menolak membeberkan. Yang jelas, Dhana memenuhi unsur pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Yakni, unsur memperkaya diri dan menyalahgunakan kewenangan demi keuntungan diri sendiri. “Itu dulu saja lah. Kami juga masih dalami bukti-bukti,” ucap dia. (aga/kuh/c11/agm)

Sungai Deli Jadi Ikon Wisata Medan

MEDAN- Pemerintah Kota (Pemko) Medan melalui Dinas Bina Marga Medan sedang mempersiapkan panton atau alat pengerukan untuk membersihkan Sungai Deli.

Sungai yang membelah Kota Medan ini akan ditata sehingga menjadi salah satu ikon wisata Kota Medan.

“Kita harapkan tahun ini alatnya sudah masuk dan pengerjaannya bisa dimulai. Alat itu selanjutnya akan digunakan untuk membuka jalur dari Avros sampai Balai Kota Medan,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap usai mengikuti aksi pembersihan aliran Sungai Deli yang digagas Lembaga Pemantau Sungai (LPS), Sabtu (25/2) pagi. Aksi bersih sungai ini dimulai dari Jalan Avros, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun sampai Balai Kota Medan.

Pembersihan sungai sekaligus memberikan pemahaman dan penyuluhan kepada warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai supaya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Dengan demikian sungai yang mengalir dan melintasi wilayah Kota Medan sepanjang sekitar 35 kilometer dan luas daerah aliran sungai mencapai sekitar 17.000 hektar ini akan terbebas dari sampah.

“Jadi, sungai yang bersih itu terwujud apabila tidak kita biarkan. Karenanya, kita akan terus melakukan upaya-upaya bagaimana Sungai Deli ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan hiburan dan wisata bagi masyarakat, terutama anak-anak. Untuk itu  ke depan, kita harus memeliki gerakan terpadu agar sampah tidak lagi menjadi masalah bagi Sungai Deli,” ujarnya.

Dalam penelusuran yang telah dilakukannya, Rahudman mengaku kondisi Sungai Deli masih sangat memprihatinkan. Selain menemukan tumpukan sampah, ada warga di kawasan Kampung Aur yang membangun rumah di badan sungai. Jika datang banjir, sangat membahayakan warga yang menempati rumah di badan sungai tersebut.

“Atas dasar itulah, saya mengimbau warga yang bermukim di badan sungai supaya mau pindah. Apalagi Pemko Medan telah menyiapkan sejumlah rumah susun sederhana (rusunawa), tentunya lebih layak huni dan aman dibandingkan dengan rumah di badan sungai,” jelasnya.
Kepala Dinas Bina Marga Medan, Gunawan menambahkan kalau alat pengerukan tersebut belumbisa dipastikan kapan datangny ke Medan. Dimana, anggaran yang memakai APBD Kota Medan untuk pembelian alat tesebut dilanjutkan dalam proses tender. “Dipastikan alat tersebut dalam tahun ini datang. Proses pembelian alat tersebut akan melalui proses tender selama 45 hari,” jelasnya.

Penelusuran Rahudman di sungai ini bukan pertama. Sudah beberapa kali orang nomor satu di Pemko Medan ini menelusurinya dalam mendukung program kebersihan. Meski masih ditemukan sampah, namun mulai terlihat ada perubahan.

“Artinya, volume sampah mulai berkurang  jika dibandingkan dengan  penelusuran Sungai Deli yang pertama. Ini membuktikan pelayanan sampah sudah sampai di gang-gang. Harapan kita sampah warga harus diwadahi dan tempatkan di gang-gang yang dilalui becak-becak yang telah disediakan untuk mengangkut sampah,” pintanya.

Tak lupa, Rahudman menyampaikan rasa terima kasih kepada LPS atas inisiatifnya melakukan gerakan pembersihan aliran Sungai Deli. Diharapkannya, akan semakin banyak lagi muncul komunitas-komunitas peduli lingkungan lainnya untuk saling bekerjasama mewujudkan lingkungan yang bersih.
Ketua LPS, Dedi JP Harahap mengungkapkan kegiatan yang digelar ini dilaksanakan dengan perlu adanya wadah kepedulian terhadap sungai. Hal ini tidak terlepas setelah melihat kondisi sungai yang mengaliri Kota Medan, salah satunya Sungai Deli.

“Kegiatan ini diikuti peserta dari 21 kecamatan, masing-masing kecamatan terdiri dari 6 orang. Besar harapan kami melalui kegiatan yang kita laksanakan hari ini dapat menggugah hati sehingga dapat menjaga dan memelihara kelestarian sungai untuk masa-masa yang akan datang.Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan sungai bebas sampah dan menjadi awal gerakan selamatkan sungai kita,” ujar Dedi.

Melihat tingginya animo peserta  yang mengikuti kegiatan ini dan dukungan yang diberikan masyarakat, Dedi pun ingin melaksanakan kegiatan ini secara rutin. Minimal enam bulan sekali dan targetnya seluruh sungai yang melintasi Kota Medan. Dia berharap hasil kegiatan yang dilakukan ini bisa terukur dan akhirnya diketahui apa factor yang bisa melestarikan sungai, termasuk menggali potensi-potensi di sekitar sungai.

“Selain pariwisata, kita juga ingin sungai menjadi sarata transportasi alternative ke depannya. Selain itu, juga ingin melihat perhatian pemerintah kepada sungai Deli yang dulunya sudah menjadi jalur pembangunan di Kota Medan,” jelasnya.

Dalam kegiatan pembersihan sampah dari aliran Sungai Deli, para peserta berhasil mengumpulkan 3,6 ton sampan. Peserta yang paling banyak mengumpulkan sampah adalah Kecamatan Medan Maimun sebanyak 691 kilogram, disusul Medan Labuhan sebagai juara kedua (550 kg), juara ketiga Medan Sunggal (466 Kg), Medan Tuntungan juara keempat (360 Kg) dan Medan Kota keluar sebagai juara kelima (225 Kg).

Untuk lomba mewarnai, juara pertama Nabila Zwei dari SD Pertiwi III, juara kedua adalah Haikal Hidayat (SD Pertiwi), juara ketiga Galuh Maharini (SD Negeri 060843), juara keempat Keisha Maurice Mohotra (SD Sutomo) dan juara kelima Qaimima Ayuni Indriyani (SD Al Bukhari Muslim). Selain mendapat piala, seluruh pemenang lomba  juga mendapatkan uang pembinaan.(adl)

Bersinar Berkat Peran Sakit

Dinda Hauw

Jam terbang Dinda Hauw sebagai aktris memang belum tinggi. Dara 15 tahun itu baru bermain empat film. Yakni, Surat Kecil untuk Tuhan, Ayah Mengapa Aku Berbeda, Semesta Mendukung, dan Seandainya. Meski demikian, dia punya bekal kuat untuk menjadi pemain film hebat.

Ditemui di sebuah taman di kantor salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta Barat pada Kamis lalu (23/2), pemilik nama lengkap Nyimas Nasthiti Adinda tersebut berdandan kasual yang segar. Kulit putihnya kontras dengan kaus merah dan rok hijau yang dikenakan.

Sesekali, rambut pendeknya disisir dengan jari-jarinya. Rambut Dinda dulu panjang sepinggang. Tetapi, demi film Surat Kecil untuk Tuhan (SKUT), dia memangkasn habis rambutnya. “(Film) itu syuting Desember 2010 dan sekarang sudah Februari 2012. Tetapi, rambutku masih pendek segini,” ujarnya, lalu tersenyum.

Berkat memerankan tokoh Gita Sesa Wanda Cantika atau Keke di film yang diangkat dari novel kisah nyata dengan judul sama itu, Dinda masuk nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik Festival Film Indonesia 2011. Keke diceritakan menderita penyakit rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak). Rambutnya rontok sampai botak. Kulitnya mengering. Dia akhirnya meninggal.

Di film Ayah Mengapa Aku Berbeda, Dinda berperan sebagai anak tunarungu. Di film Seandainya dia diceritakan menderita leukemia. “Hahaha, perannya penyakitan semua,” katanya.

Bungsu di antara empat bersaudara pasangan K.M.S. Herman dan Hulwati Husna itu tidak tahu mengapa sering mendapat peran orang sakit. Yang penting, dia merasa enjoy saat menjalaninya. “Aku kan masih muda, masih belajar. Kalau ada kesempatan berkarya, kenapa tidak? Jadi, jalani aja dulu seperti air mengalir,” tuturnya.

Dinda tidak mau terjebak. Kalau punya pilihan, di film mendatang dia ingin mendapat karakter yang berbeda. Dia takut penonton bosan jika dirinya jadi orang sakit lagi. “Yah, Dinda main film penyakitan mulu, nih. Nanti ceritanya mati atau jadi cacat. Aku nggak mau orang berpikir seperti itu. Aku sih mau banget nyoba semua karakter,” terangnya.

Memang, saat berakting sebagai orang sakit atau tunarungu, Dinda begitu apik memerankannya. Apalagi saat menjadi Keke. Perempuan yang belajar akting secara otodidak itu merasa bahwa seolah bukan dirinya sendiri yang berada di depan kamera. “Begitu kamera rolling, aku bukan Dinda lagi,” tuturnya.

Film SKUT juga begitu membekas di hatinya. Sebab, Dinda mengorbankan banyak hal dan harus melalui proses tes yang panjang. Selain itu, emosinya terjalin di sana. “Aku dipilih sendiri oleh bapak (almarhumah) Keke. Setelah masuk dua besar, aku bertemu keluarga Keke. Aku yang dipilih,” terangnya. Di syuting hari terakhir dia bertemu dengan ibu Keke. “Waktu pamitan, kami berpelukan erat sekali. Setelah itu, aku nangis,” ungkapnya.

Sebelum bermain SKUT, perempuan kelahiran Palembang, 14 November 1996, tersebut beberapa kali terlibat sinetron dan iklan. Tetapi, baru di film itulah namanya melambung dan diperhitungkan sebagai raising star. Banyak tawaran film layar lebar berdatangan.

“Alhamdulillah, sekarang aku sedang memilih main film. Karena pilihan itu, aku harus menjalani banyak konsekuensi. Salah satunya, home schooling. Abang-abangku kasih tahu, kalau mau main film, aku harus memilih. Jaga image juga, kan. Aku dilarang main film yang aneh-aneh (vulgar, Red),” terangnya.

Kini Dinda duduk di kelas III SMA. Sebentar lagi perempuan yang saat kecil bercita-cita jadi dokter tersebut lulus. “Karena itu, sekarang aku main film dulu. Aku belum mau main sinetron karena mau mempersiapkan ujian juga,” jelasnya. (jan/c12/ayi/jpnn)

Irving Menangkan Tim Barkley

FLORIDA-Tim Charles Barkley mengalahkan Tim Shaquille O’Neal dengan skor 146-133 dalam Rising Star Challenge 2012. Kyrie Irving, rookie Cleveland Cavaliers yang membela tim pemenang terpilih sebagai Most Valuable Player.

Irving membuat delapan tembakan tiga angka dan menyelesaikan laga dengan 34 poin pada laga di Amway Center yang berakhir Sabtu (25/2) siang WIB untuk menyabet penghargaan pemain terbaik itu. MVP edisi sebelumnya didapat John Wall, point guard Washington Wizards.

Performa apik juga diperlihatkan Paul George dari tim Chuck. Pemain yang memperkuat Indiana Pacers itu sukses meraup 20 poin.
Tristian Thompson (Cavaliers) memimpin perolehan angka kubu Shaq dengan torehan 20 poin. Sementara pemain sensasional New York Knicks Jeremy Lin justru tampil meredup hanya mampu membuat dua poin saja.

Rising Star  Challenge edisi tahun ini memiliki format yang berbeda dari sebelumnya di mana rookie dan pemain tahun kedua digabung menjadi satu untuk pertama kali.

Liga menamakan dua tim yang bertanding dengan nama-nama pemain legendaris, Shaquille O’Neal dan Charles Barkley yang bertindak sebagai manajer umum yang menyusun komposisi tim.

Pemainan kedua tim membuat para penonton amat terhibur. Irving membuka pertandingan dengan alley-oop kepada George dan rookie Minnesota Timberwolves Ricky Rubio mengoper bola di belakang punggung kepada rekannya di tim Shaq.
Secara keseluruhan Lin tidak bersinar di laga ini. Ia baru “kelihatan” di awal paruh kedua ketika memperoleh operan dari Rubio dan menyerbu ke garis pertahanan lawan sebelum melakukan reverse lay up.

Lin hanya bermain selama sembilan menit sebelum ditarik ke bangku cadangan di pertengahan paruh kedua. Selama pertandingan, pebasket jebolan Universitas Harvard itu hanya melakukan empat kali shooting.

Forward Los Angeles Clippers, Blake Griffin yang bermain untuk Tim Shaq membuat sejumlah aksi mengagumkan. Ia menangkap sejumlah alley-oop dan bahkan melempar bola ke papan sebelum menangkapnya lagi untuk membuat dunk. (net/jpnn)

Cut Dian Pilih Jadi Single Parent

Menjenguk Istri Direktur DPD Partai Demokrat Pasca Melahirkan

“Saya hanya wanita biasa. Rasa sakit dalam hati pasti ada. Namun saya nggak mau menyesali yang sudah terjadi. Semuanya adalah kehendak Allah. Rumah tangga saya memang tidak bisa dipertahankan lagi karena sudah tidak ada kejujuran dan kepercayaan diantara kami. Dalam kondisi seperti ini saya berusaha untuk tetap sabar”

Farida Noris Ritonga, Medan

Kata-kata itu, begitu saja meluncur dibibir Cut Dian Satriani (34). Tanpa ekspresi sama sekali. Namun beberapa saat kemudian, mimik wajahnya berubah. Jelas terlihat kesedihan diraut wajahnya yang lelah. Meski istri dari Direktur Eksekutif Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumut, Borkat Hasibuan ini berusaha untuk tegar atas kekisruhan yang terjadi dalam rumah tangganya.

Saat ditemui Sumut Pos, Sabtu (25/2) dikediamannya di Jalan Damar 3 No 23, Kelurahan Pulo Brayan Darat 2, Kecamatan Medan Timur, para kerabat dekat Cut Dian terlihat silih berganti datang ke rumah besar ber-cat kuning itu untuk menjenguknya. Maklum, Cut Dian baru saja melahirkan putri semata wayangnya di RSIA Rosiva Medan. Namun dalam pemulihan, Cut Dian memutuskan untuk pulang dan menjalani rawat jalan meski bekas operasi caesar itu belum juga pulih.

“Bosan di rumah sakit. Hanya dinding putih saja yang bisa saya lihat. Memang selama di sana, banyak juga kerabat yang datang menghibur dan melihat kondisi saya setelah melahirkan. Tanggal 24 Februari kemarin, saya minta rawat jalan aja. Sebenarnya saya ingin segera bekerja lagi. Jenuh kalau terlalu lama di rumah. Tapi ibu mengharuskan saya supaya selama 40 hari tetap di rumah untuk pemulihan,” terangnya.

Pada 21 Februari lalu, dengan menjalani operasi caesar, Cut Dian telah melahirkan bayi perempuan dengan berat 3,55 kg dan panjang 49 cm yang diberi nama “Dian Cahaya Salsabila” yang berarti Cahaya mata a air di surga yang merupakan sumber kehidupan. Nama itu dipilihnya karena memiliki makna serta segudang harapan untuk putrinya kelak.

“Nama itu diambil dari nama awal saya yaitu Dian. Saya ingin nantinya anak saya bisa tegar seperti saya. Sedangkan kata Cahaya diambil dari nama opung karena saya sangat menyayangi beliau dan Salsabila berarti mata air surga. Kondisinya sehat-sehat aja, tadi saya baru saja menyusukan dia, setelah itu menidurkannya,” ujarnya lagi.

Setelah melahirkan, pada 21 Februari sore, Borkat Hasibuan pernah menjenguknya. Ditemani tiga orang temannya, sang suami melihat putri semata wayang mereka. “Sorenya setelah saya operasi, dia datang. Saya nggak melarang, karena itu juga darah dagingnya. Meski kedatangannya hanya untuk melihat bayi kami, itu tidak menjadi masalah. Hanya satu jam dia dirumah sakit, kita juga nggak banyak bicara, setelah itu, dia pergi,” jelas Cut.

April 2012 mendatang, kata Cut Dian, genap 6 tahun pernikahan mereka. “Lima tahun lalu, rumah tangga kami aman-aman saja. Nggak pernah terjadi cekcok. Seperti biasa dia juga pulang kerumah meski pulangnya larut malam. Saya nggak pernah mempermasalahkan. Walaupun dia hampir tidak pernah punya waktu untuk saya, nggak pernah saya protes. Karena dulunya saya sangat percaya dia. Tapi belakangan ini, puncaknya Mei 2011 lalu, rumah tangga kami mulai goyang. Sekali curiga saya mencari kebenarannya,” ungkap Cut Dian berusaha kembali mengingat kejadian itu.

Sejak itu, tambahnya lagi, perhatian sang suami terhadap dirinya sudah hilang. Bahkan Borkat yang disebut-sebut selingkuh dengan Megalia Agustina, anggota Fraksi Demokrat DPRD Sumut itu tidak pernah menelponnya selama diluar. Perubahan itu sangat jelas terasa. Karena sudah tidak adanya kejujuran dan kepercayaan, mereka putuskan untuk pisah ranjang. Sejak 5 Februari 2012, Borkat tidak pernah menginjakkan kaki kerumah itu lagi, meski pada saat itu, Cut Dian sedang hamil tua.

“Kecurigaan saya terbukti. Ternyata dia selingkuh dengan wanita lain. Saya pernah menggugat cerai dia, tapi karena kehamilan saya sudah waktunya, maka gugatan itu ditarik kembali. Nantinya setelah proses penyembuhan, dia akan saya gugat cerai lagi. Didalam rumah tangga harusnya ada sakinah, mawaddah, warrahmah. Tapi kalau salah satunya tidak ada, sebaiknya hubungan itu tidak usah diteruskan. Karena akan menyakiti salah satu pihak,” tegas Cut Dian.

Saat ini, dirinya hanya menunggu proses dari DPRD Sumut atas aduannya. “Saya ini juga wakil rakyat. Saya mengadu kepada anggota dewan yang menjadi wakil saya. Kita akan tunggu bagaimana kelanjutannya. Saya ingin pengaduan saya ke DPRD Sumut beberapa waktu lalu diproses sesuai janji mereka,” harapnya lagi.

Kini, menjadi “single parent” adalah pilihan satu-satunya bagi Cut Dian dalam merawat dan membesarkan putrinya. Baginya tidak ada yang perlu disesali atas keretakan rumah tangga mereka. Semua ketentuan sudah digaris tangankan oleh Allah. Tidak ada yang bisa menolak takdir dari-Nya termasuk jodoh.
“Mungkin kami memang nggak jodoh. Saya nggak mau larut dalam kesedihan. Single parent dalam membesarkan anak bukan berarti kegagalan. Itu semua tergantung didikan orangtua. Saya hanya berharap, anak saya menjadi putri yang berbakti dan selalu menyayangi saya,” bebernya mengakhiri pembicaraan siang itu. (*)