28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 13992

Rumah Rp88 Juta ke Bawah Bebas Pajak

JAKARTA-Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengupayakan agar harga rumah bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dinaikkan dari Rp70 juta per unit menjadi maksimal Rp88 juta per unit.

Hal ini juga sebagai solusi terkait kewajiban batas minimal ukuran rumah 36 m2 agar masyarakat berpenghasilan rendah masih bisa berpeluang memiliki rumah. “Kita sedang upayakan, sekarang lagi proses di Menteri Keuangan. Upaya untuk menaikan harga itu salah satunya meminta Menkeu membebaskan PPN (pajak pertambahan nilai). Jika PPN nol, maka harga rumah bisa Rp 88 juta per unit dari sebelumnya Rp 70 juta per unit,” ujar Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera, Pangihutan Marpaung, Rabu (25/1).

Kementerian Keuangan juga bisa memberikan dana PSU (prasarana, sarana, dan utilitas) ke pengembang perumahan yang nilainya sekitar Rp 6,5 juta per unit. Selain itu pemerintah daerah bisa membantu kemudahan kementeriannya dan pengembang, dalam menyelesaikan berbagai izin. “Jika Pemerintah Daerah menghilangkan biaya perizinannya, maka produksi rumah bisa hanya Rp80 juta dan pengembang bisa makin tertarik.

Apalagi ada dana dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar Rp288 miliar untuk sambungan daya listrik bagi rumah sederhana,” ungkapnya.

Namun menurut Pangihutan, bantuan dana sambungan daya listik tadi bisa diberikan selama pengembang dapat menentukan lokasinya di tahun 2012. “Dana bantuan sambungan daya listrik bisa diberikan selama pengembang bisa menentukan lokasinya dimana saja di tahun ini,” tandas-nya. (net/jpnn)

Bersinar Diantara Pesulap Pria

Vivi – eL Bugiardo

MEDAN- Houdini, sang legenda sulap, memang telah tiada dan hidupnya berakhir akibat aksinya. Namun, penerusnya kini banyak bermunculan baik di negara asalnya, Amerika Serikat, maupun di Indonesia.

Kata  sulap  kini semakin familiar di telinga, terutama setelah adanya  acara The Master di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Dari situ, masyarakat kemudian mengenal nama Limbad, Joe Sandy, Demian, Rizuki dan lainnya.

Di dunia sulap ini, pelakunya pun tak lagi didominasi  oleh kaum lelaki, akan tetapi banyak juga perempuan yang turut menekuninya, dengan menjadikan sulap sebagai hobi, kemudian berlanjut sebagai profesi. Salah satunya pesulap muda berbakat dari Medan Vivi.

Di usianya yang tergolong muda, perempuan kelahiran Medan 20 tahun silam ini mampu membuat penonton terkesima dengan kelihaiannya memainkan trik-trik sulap. “Tadinya sih saya kenal sulap sejak tamat sekolah, persis dua tahun lalu. Berawal dari lihat-lihat teman yang kebetulan dia itu magician juga,”  urai Vivi saat ditemui Sumut Pos di kediamannya, Selasa (24/1).

“Teman saya itu show up sulapnya ke saya. Trus saya langsung tertarik, kemudian jadi serius pingin belajar sulap gitu,” tambah Vivi.
Pesulap muda alumni SMA Budisatya ini pun akhirnya bergabung dengan komunitas sulap yang dapat mengajarinya mengenal sulap hingga ia berharap dapat menekuni sulap secara total.

Menurut Vivi, jenis sulap yang biasa ia mainkan adalah Klassic. Sulap Klasik merupakan jenis sulap dimana pesulap mengandalkan kecepatan tangan dan skill yang tinggi dalam penampilannya. Banyak dari mereka yang menggunakan sleight of hand dan manipulasi.
“Kalau lagi ada show untuk tampil, biasanya saya menggunakan kartu atau payung,” ujar Vivi.

Kelihatan sederhana memang. Tapi tidak sesederhana ketika mempraktekkannya. Karena sulap dengan kartu ini, gerakan tangan harus cepat bagaimana memutar, menghilangkan dan mempermainkan kartu. Jika terjadi kesalahan, akibat fatalnya adalah kita gak bakal dipercaya lagi mengikuti pertunjukan. “Makanya saya masih sering belajar dan mengulang trik-trik sulap saya di rumah,” ucap Vivi panjang lebar menjelaskan tipikal sulap klasik.

Anak dari alm arhum Abdi Daniel dan  T. Olfariani ini juga sudah sering tampil di berbagai even di Kota Medan. Seperti saat event launching product komputer, promo product kosmetik, dan yang terakhir Vivi beratraksi di acara Old & New di JW Marriott Hotel Medan. “Gak pilih-pilih event sih. Terserah even apa aja. Pokoknya selagi saya diminta untuk menampilkan sulap, its okey. Karena itu bidang saya,” ungkapnya.

Selama menjalani profesi plus hobi sulapnya, Vivi tak pernah menemui kendala baik dari keluarga maupun dari lingkungan pergaulan. Dukungan dan motivasi yang ia dapatkan dari orang-orang terdekat, membuatnya lebih semangat mempelajari dunia sulap.

“Karena dalam sulap, saya hanya bermain trik dan sedikit mencampurnya dengan ilusi (salah satu jenis sulap). Bukan untuk bermain-main dengan ilmu hitam yang biasanya lebih mengarah pada penipuan public,”tegasnya.

Semestinya memang, pesulap sejati tidak akan membiarkan orang lain berpikir terlalu jauh bahwa pesulap mempunyai kekuatan sihir. Untuk terus mengasah bakatnya, kini Vivi terdaftar di group eL BUGIARDO.

“Kalau misalnya ada even yang mau show up tentang sulap, bisa menghubungi manajer saya di nomor 087867666021  a/n Wan Ventuno  atau bisa kontact ke FB kami di  eL BUGIARDO (http://www.facebook.com/eLBugiardo),” sebutnya. (mag- 11)

April, Premium Rp6.500

Besok, Menteri ESDM Bahas dengan DPR

JAKARTA-Sinyal bakal naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi (premium), makin menguat. Berbagai opsi digadang, termasuk kenaikan bertahap. Per 1 April mendatang, harga premium bisa dipatok Rp6.500.

Setidaknya, pemerintah yang diwakili kementerian ESDM dijadwalkan melakukan rapat dengan Komisi VII DPR, Kamis (26/1), besok. Agendanya, membahas opsi terkait dengan kebijakan pengaturan BBM bersubsidi. Selama ini, banyak opsi yang muncul sebagai usulan. Antara lain penerapan harga tengah premium dan kenaikan secara bertahap.

Dengan opsi kenaikan bertahap, harga premium bisa menjadi Rp6.500. Perhitungannya, harga ekonomis premium Rp8.200 per liter dikurangkan biaya alpha dan pajak yang ditanggung pemerintah. Biaya alpha adalah biaya distribusi ditambah margin.

Kenaikan menjadi Rp8.200 per liter dilakukan bertahap. Misalnya, 1 April mendatang Rp6.500, kemudian 1 April 2013 menjadi Rp7.200 per liter dan tahun berikutnya Rp8.200 per liter.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, apapun opsi yang akan diambil, strategi untuk mengurangi ke tergantungan terhadap BBM tetap harus dijalankan dengan mendorong penggunaan gas. “Jangan menunggu April. Sekarang saja mulai digerakkan untuk gunakan gas,” kata besan Presiden SBY di kompleks Istana Kepresidenan, kemarin (24/12).

Sebelumnya, Hatta Rajasa menilai, rencana pembahasan kembali Undang-undang APBN 2012 antara pemerintah dengan DPR sebagai langkah yang tepat. “Saya kira sudah benar jika Komisi VII DPR ingin membahas itu kembali,” kata.

Pembahasan tersebut untuk mendapatkan opsi lain terkait dengan kebijakan pembatasan dan pengaturan BBM bersubdisi yang rencananya akan berlaku per 1 April nanti. Seperti diketahui, UU APBN 2012 tidak memberikan ruang untuk diberlakukannya opsi kenaikan harga BBM. Sehingga, opsi yang tersedia adalah menggunakan pertamax atau beralih ke bahan bakar gas (BBG) seperti yang tengah disiapkan pemerintah.
Hatta berpendapat, dua opsi yang tersedia itu dirasa tidak cukup. “Kalau menurut saya, kalau tidak ada opsi (lain), masyarakat kita menggunakan pertamax atau menggunakan gas. Itu tidak pas juga,” katanya. Namun hal itu juga tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. “Maka harus dilakukan bertahap pula,” sambungnya. (fal/nw/jpnn)

Nonton TV Baterai, Ngecas HP Rp1.000

Puluhan Tahun, 25 KK  di Tanjung Beringin Sergai tanpa Listrik

Warga Sumatera Utara pada umumnya akan menikmati laga El Clasico antara FC Barcelona melawan Real Madrid dengan gampang. Namun, tidak dengan warga Dusun V Penggatalan, Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai (Sergai). Pasalnya, hingga kini aliran listrik belum juga masuk ke kawasan mereka.

Darmawan, Sergai

Meski begitu, bukan berarti gocekan maut Lionel Messi dan atraksi yahud Cristiano Ronaldo tidak bisa mereka nikmati. Tetap saja laga kedua di even Copa del Rey itu bisa mereka tonton, tapi dengan menggunakan tenaga baterai. Maksudnya, televisi di rumah-rumah mereka harus memakai tenaga baterai agar menyala, tidak seperti warga Sumut pada umumnya yang sudah manja dengan listrik.

“Untuk menonton TV kami harus menggunakan tenaga baterai yang mampu bertahan tiga hari saja. Setelah habis baterainya, harus diisi kembali dengan biaya Rp8 ribu,” jelas Kaeran (65), warga setempat.

Karean pun menambakan, sejak 1986 lalu ketika program listrik masuk desa bergulir, dusun itu belum juga menikmati aliran listrik hingga saat ini. Tak pelak, ketika matahari terbenam, warga hanya menggunakan lampu teplok dengan minyak tanah. “Kami warga dusun ini sangat berharap agar Pemerintah Sergai mendengarkan keluhan kami,” harap Kaeran.

Harapan Kaeran tentunya menjadi harapan 24 KK lainnya. Bagaimana tidak, selain terbatas untuk menikmati tayangan televisi, benda-benda bertenaga listrik lainnya juga tersendat penggunaannya. Misalnya, handphone (HP) yang sudah digunakan oleh warga dusun tersebut. Bukan masalah jaringan, tapi masalah baterai HP. Mau bagaimana mereka ngecasnya? Beruntung, soal ngecas bisa diatasi. Namun, tetap saja membutuhkan biaya lebih. “Untuk mengecas baterai HP saja kita harus bayar seribu,” keluh warga lainnya, Sukirman (45).

Tetangga Kaeran ini mengungkapkan kalau usaha mereka untuk mendapatkan listrik sudah banyak. Selain itu, mereka juga sudah bolak-balik mendapat janji. Baik itu saat Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada.). Bahkan, mereka juga mendapat janji saat Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). “Kami justru hanya diberi harapan hingga sekarang belum juga bisa menikmati aliran listrik,” jelas Sukirman.

Kenyataan ini langsung dikonfirmasi ke Kecamatan Tanjung Beringin. Camat Tanjung Beringin Aminuddin jelas-jelas tak membantah. Dia membenarkan kalau 25 KK warganya di dusun tersebut memang belum mendapat fasilitas listrik. “Ya, benar. Tapi pihak kecamatan sudah mengusulkan kepada pihak terkait. Kita tunggu saja,” kata Aminuddin, Selasa (24/1).

Kembali bersabar adalah langkah yang harus diambil oleh warga Dusun V Penggatalan. Termasuk bersabar untuk bisa nyaman menonton televisi serta tanpa mengeluarkan biaya ekstra untuk ngecas HP. “”Kami sangat berharap agar Pemerintah Sergai mendengarkan keluhan kami,” harap Kaeran lagi. (*)

Hari Ini, RUPS-LB Digelar

Dewan: Ini Akal-akalan

MEDAN-Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi C DPRD Sumut, dengan segenap direksi PT Bank Sumut, Selasa (24/1), menyoroti pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham-Luar Biasa (RUPS-LB), yang akan digelar hari ini, Rabu (25/1). Intinya, anggota dewan tak mau RUPS-LB menjadi ajang politik.
Sejumlah anggota Komisi C DPRD Sumut pada kesempatan itu, dengan tegas-tegas menyatakan, pelaksanaan RUPS-LB PT Bank Sumut, harus murni untuk perbaikan Bank Sumut ke depan. Jangan sampai, sedikitpun terselip niat “jahat” untuk menggebosi atau menjadikan PT Bank Sumut sebagai sapi perahan, demi kepentingan politik sekelompok atau oknum yang mencari keuntungan pribadi.

Bahkan, anggota Komisi C DPRD Sumut Mulkan Ritonga mengatakan RUPS-LB PT Bank Sumut ini, terkesan dipaksakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho. “Ini akal-akalan dari Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho, yang arahnya adalah ke Pilgubsu 2013. Jangan karena kepentingan politik pribadi, kemudian mengorbankan Bank Sumut yang sejauh ini sudah baik. Jangan membuat Bank Sumut menjadi sapi perahan,” tegas Mulkan Ritonga kepada Sumut Pos, Selasa (24/1).

Politisi dari Partai Golkar ini menjelaskan, ada skema yang salah pada rencana pergantian dua komisaris independen Bank Sumut yakni, Lian Dalimunthe dan Irwan Djanahar.

“Ya itu tadi, Plt Gubsu ini mau memasukkan orang-orangnya untuk menduduki jabatan itu. Arahnya ke Pilgubsu 2013 nanti. Sebenarnya, persoalan ini karena ketidakmampuan Komisaris Utama PT Bank Sumut, yang juga Assisten II Pemprovsu, Jaili Azwar. Harusnya Jaili Azwar yang diganti, bukannya kedua komisaris independent itu,” jelasnya.

Pada kesempatan itu pula, segenap anggota Komisi C DPRD Sumut kembali mempertegas, agar pelaksanaan RUPS-LB PT Bank Sumut, jangan sampai pada akhirnya menjadi ajang konflik dan kepentingan politik praktis. “RUPS ini harus mengutamakan kepentingan rakyat, ketimbang membuat konflik yang dapat menimbulkan Bank Sumut kolaps,” ungkap Sekretaris Komisi C DPRD Sumut, Effendi Napitupulu saat RDP tersebut.

Hal yang sama juga dikemukakan anggota Komisi C DPRD Sumut lainnya, M Nasir Johan. “Kami berhadap tidak ada kepentingan politik atau ada sutradara dibalik pelaksanaan RUPS-LB tersebut. Biarkan berjalan sesuai aturan yang ada sesuai yang diharapkan masyarakat, karena kita tidak ingin Bank Sumut dijadikan ajang pertarungan,” ujarnya.

Selain dihadiri Mulkan Ritonga dan M Nasir, rapat tersebut juga dihadiri oleh anggota Komisi C lainnya seperti Hj Meilizar Latief, Roslynda Marpaung, Edi Rangkuti, Arifin Nainggolan, Muslim Simbolon dan dipimpin langsung Ketua Komisi C DPRD Sumut Marasal Hutasoit. Hal yang tersirat dalam RDP tersebut juga, meminta dipengujung periodesasi Gus Irawan sebagai Dirut Bank Sumut, harus lebih mengedepankan hal-hal yang perlu ditangani dalam melakukan perputaran uang sebesar-besarnya sesuai visi dan misi PT Bank Sumut. “Kita berharap tidak memunculkan problematika atau meninggalkan bom waktu. Tapi kedamaian dan kenyamanan di internal Bank Sumut,” tutur Effendi.

Sementara itu, Dirut Bank Sumut Gus Irawan didampingi para direksi mengaku kecewa, dengan munculnya isu terkait RUPS-LB dan sependapat jika isu tersebut muncul kepermukaan dapat mempengaruhi reputasi Bank Sumut.

“Jika ada polemik di komisaris, tidak hanya berpengaruh terhadap Bank Sumut, tapi bank bisa kolaps,” ujarnya.

Dari data yang diperoleh, Bank Sumut terus menunjukkan kinerja berprestasi dari kondisi minus hingga menjadi surplus. Jika pada 1998 mengalami kerugian Rp127 miliar, tahun 1999 rugi Rp161 miliar, maka mulai tahun 2000 sudah mulai meraih laba Rp10 miliar. Kemudian berturut-terus terus meraih laba yaitu  pada 2001 sebesar Rp30 m, pada 2002 Rp60 m, 2003 Rp121 m, 2004 Rp170 m, 2005 Rp141 m, 2006 Rp225 m, 2007 Rp289 m, 2008 Rp276 m, 2009 Rp473 m, 2010 Rp563 m, dan 2011 Rp711 m.

“Saran saya, sebaiknya Bank Sumut dibiarkan berjalan sebagaimana biasa hingga pergantian regular, karena kinerjanya sudah bagus dan terus membaik. Kalau ada posisi yang kosong diisi dengan mengikuti prosedur baku saja,” ujar John Tafbu, ekonom senior USU.
Ia mengatakan, bank adalah bisnis kepercayaan, tidak boleh digonjang-ganjing dengan cara-cara yang tidak profesional. Jangan sampai misalnya, ada yang dipaksakan masuk hari ini, kelak satu hari nanti niscaya menuai masalah. Dan kalau itu terjadi, masalahnya bakalan berdarah-darah. “Indonesia sudah punya pengalaman, tahun 1998 perbankan ambruk karena sebelumnya para pemilik bertindak semaunya. Ketika ada masalah, semuanya ikut ambruk,” tambah Jhon.

Dulu Bank Sumut juga ikut berdarah-darah karena manajemen tak tegas dan para pemegang saham tidak disiplin dan tidak taat azas, akibatnya krisis moneter 1998 membuat Pemda membayar obligasi rekap. “Jadi saya harap Pak Gatot pertebal saringan mendengar para pembisik, saya percaya Gubsu paham itu, tugas kita mengawal kepemimpinannya hingga 2013 nanti supaya kinerja bagus menjadi kredit poin ke jenjang yang lebih baik, ya kalau gak jadi Gub ya jadi Menteri kan cocok,” ujarnya. (ari)

Monster Miras

Oleh : H Affan Bey Hutasuhut
Wakil Pimpinan Umum Sumut Pos

Minuman keras atau si miras benar benar monster yang menakutkan di Cina. Sebab biang tewasnya orang di jalanan lebih banyak karena minuman haram tersebut. Kata polisi di negeri tirai bambu itu, 80 persen dari 180 orang yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Xiamen karena ulah sopir yang gemar menenggak miras dalam tahun 2010 lalu. Itu baru satu wilayah.

Kantor Berita Xinhua, Cina, menyebutkan pula seorang polisi ditahan karena menabrak dua tiang lampu dan menewaskan lima warga di Provinsi Henan, akhir tahun lalu. Massa yang marah bergegas mencegat polisi dan menjungkirbalikkan mobil hamba hukum itu.

Mereguk minuman keras adalah kebiasaan orang di sana. Dan seperti manusia lainnya di belahan bumi ini, waktu yang sedap untuk mabuk-mabukan adalah malam minggu.

Polisi di sana masih berupaya keras untuk mencegah terjadinya musibah demi musibah tersebut.

Ini potret buram yang layak disimak, khususnya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Bos, kelakuan buruk ini juga kerap menimpa pengemudi di Indonesia. Peristiwa terhangat terjadi Minggu 22 Januari lalu yang menewaskan sembilan orang di kawasan Tugu Tani Jakarta.

Aktris di belakang musibah, cewek Afriyani Susanti, sok jagoan bukan karena piawai mengandarai mobil (nggak punya SIM). Dia jadi blingsatan karena ‘dikomporin’ narkoba dan miras yang menggoda syarafnya. Beginilah jadinya kalau polisi leler mengawasi peredaran narkoba dan orangtua yang terbiasa membiarkan anak (masih) perawannya keluyuran di semalam suntuk.

Jahatnya pengaruh racun miras ini bukan hanya di jalan raya. Jeritan para wanita dan anak-anak dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga kerap terdengar.

Eni Karmila (30) warga Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, luka bakar akibat disiram dengan minyak dan dibakar suaminya Budianto, tahun lalu. Gara-garanya si laki pulang larut malam dan mabuk-mabukan pula. Si istri yang tadinya menahan berang karena tak dikasih uang belanja bertanya, kok pulang malam kali. Mendengar ini si laki langsung menzaliminya dengan cara yang keji. Kekerasan ini terjadi untuk yang kesekian kalinya.

Cerita duka ini sebenarnya lebih nyaring terdengar di Papua. Sudah lama lah si miras sebagai salah satu pemicu utama munculnya kekerasan dalam rumah tangga di Papua. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Papua, Rika Monim, mengatakan, di Papua, kekerasan dalam rumah tangga akibat minuman keras dan pelecehan seksual masih cukup tinggi. Dan sebagian besar kasus KDRT yang terjadi disebabkan suami dalam pengaruh miras kemudian menyakiti pasangannya.

Sebagai seorang menteri, bos pastilah lebih tau soal ini. Pertanyaannya, dengan kejadian ini apakah masih nekat untuk mencabut Perda miras ini. Mana lebih penting, keselamatan orang di jalan raya, menghindari KDRT, atau karena Perda Miras bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Keppres, UU, misalnya, bukanlah kitab suci yang tak bisa diperdebatkan. Ia bisa diubah kalau para abdi negara ini bekerja dengan hati nurani.

Oh ya, titip salam juga buat Kapolda Sumut. Maunya bersuara lantanglah menolak usulan Mendagri ini. Jangan cuma bisik-bisik sehingga tak tahu khalayak setuju atau malah senang. Menangani soal narkoba saja kan masih kelabakan, tambah lagi miras. (*)

Cinta Penelope Istri Keenam Mustafa ‘Debu’?

Gonjang-ganjing pernikahan Cinta Penelope dan Mustafa ‘Debu’ terus berlanjut. Terkini, pernikahan mereka dianggap tidak sah. Cinta pun kabarnya jadi istri keenam penyanyi religi itu, bukan istri ketiga seperti yang disebut-sebut sebelumnya.

Sumber membocorkan, pernikahan dilakukan tanpa adanya wali dari pihak Cinta. Selain itu pernikahan pun tanpa dihadiri oleh saksi dari kedua pihak. “Pernikahan yang dilakukan oleh Mustafa Debu itu tidak valid. Pernikahan tersebut dilakukan tanpa wali dan saksi menurut Islam,” ujar sumber yang enggan disebut identitasnya, kemarin.

Sumber lain mengungkapkan, saat ini Mustafa sudah menikah enam kali, termasuk sama Cinta. Yang pertama, Shakurah. Dia masih tercatat salah satu personel Debu. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak yaitu Abdullah dan Amatullah. Namun, selama ini Mustafa selalu mengakui bahwa Shakurah adalah saudarinya.

Kedua, Fatimah Husnia. Belum jelas masih sah atau sudah diceraikan Mustafa. Keduanya dikaruniai dua orang anak. Tiga, Fatimah Zahrah, adik dari Fatimah Husnia. Ia juga personel Debu. Empat, Silfani Arifo. Disebut-sebut istri keempat, Silfani Arifo telah memberikan tiga anak kepada Mustafa, yaitu Jasmine, Sabah dan Raihana. Mustafa pun dikabarkan telah menikah dengan seorang pianis Debu. Dan terakhir, tentu saja Cinta Penelope, sang penyanyi yang berciri khas tato di tubuhnya.

Mendengar tudingan itu, Mustafa masih kokoh dengan pendiriannya untuk tak berkomentar masalah pernikahannya. “Apa pun tentang urusan pernikahan, saya mohon maaf itu hal prinsip yang tidak saya ungkapkan. Jadi saya no comment semua yang disampaikan,” ungkapnya saat dihubungi wartawan, kemarin.

Namun sejurus kemudian, Mustafa memaklumi kalau banyak pihak yang menentang dirinya menikahi Cinta. “Saya begini keadaannya, otomatis pasti banyak yang tidak setuju dilihat dari sosok dua orang ini (Cinta dan Mustafa).”

Sebelumnya, Cinta malah mengaku serba salah saat ditanya perihal kabar bahagia pernikahannya. Ia malah menjawab “Kalau aku bilang nikah, nanti ada yang komplain. Bilang nggak nikah juga ada yang komplain, sama saja.”

“Selama ini orang terlalu banyak tahu tentang hidup aku, jadi nggak nyaman. Kali ini aku mau mencoba lebih diam,” ketusnya.
Meski dikabarkan telah menikah, ia rela disebut masih menjomblo. “Mau dibilang jomblo, sumpah sekarang memang aku nggak punya pacar,” ujarnya. (bcg/net/rm/jpnn)

Terkait Sengketa Lahan Eks HGU PTPN 2, Gatot Minta Bantuan DPD

JAKARTA-Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho meminta bantuan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk menyelesaikan kasus sengketa lahan eks HGU PTPN 2. DPD diharapkan mendorong Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan kementerian terkait untuk cepat mengambil tindakan.
“Saya tadi minta DPD memberikan penguatan, misal untuk urusan dengan BPN dan Kemenkeu,” ujar Gatot kepada wartawan usai bertemu Komite I DPD di Senayan, Selasa (24/1).

Dalam pertemuan itu, Gatot memaparkan perkembangan kerja Tim Khusus yang dibentuk Pemprov Sumut, yang punya tugas mencari solusi-solusi konflik lahan eks HGU PTPN 2. Dijelaskan Gatot, awal mulanya pada 1965 ada HGU PTPN II yang habis pada 2002. Pada 2002 itu lantas ada perpanjangan HGU seluas 56.341,7 hektar. Sedang seluas 5.873,06 hektar yang diusulkan Tim Khusus untuk didistribusikan ke petani, pensiunan, dan sebagainya, dikeluarkan dari areal eks HGU.

Masalahnya, terang Gatot, yang seluas 56.341,7 hektar itu belum jelas batas-batasnya. “Belum jelas fisiknya, BPN belum mau sebelum clear and clean,” ujar Gatot.

Nah, Tim Khusus yang dibentuk Gatot pada September 2011, diberi tugas untuk memperjelas masalah ini. Tim Khusus yang masa tugasnya diperpanjang hingga Mei 2012 ini bertugas melakukan pemetaan. “Tim tengah melakukan mapping, mana dari 56.341,7 hektar itu yang menjadi HGU PTPN 2,” ujar Gatot.

Sebelumnya, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut, Rahmat Shah, menilai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Sumut tidak mampu bekerja secara baik, sehingga kasus-kasus sengketa lahan tak kunjung terselesaikan.

Rahmat menjelaskan, delegasi Komite I DPD pada 30 November 2010 melakukan pertemuan dengan BPN Kanwil Sumut yang diikuti seluruh Kepala BPN Kabupaten/Kota se-Sumut, membahas masalah tanah eks HGU PTPN II dan tanah Sari Rejo.

Hasil pertemuan, Kakanwil BPN Sumut menjanjikan dalam tempo dua bulan akan diselesaikan pemetaan lahan eks HGU PTPN. “Tapi hingga kini tidak ada,” cetus Rahmat Shah kepada koran ini pekan lalu.

Sementara itu, konflik lahan eks HGU PTPN 2 Sei Semayang di Kota Binjai, terus berkepanjangan. Bahkan, bentrok sesama warga rentan terjadi. Untuk mengantisipasi bentrok sesama warga itu, Zainuddin Purba, salah seoroang angggota DPRD Binjai, meminta kepada warga untuk bersatu.
Permintaan Zainuddin Purba, yang akrab disapa Pak Uda itu, disampaikannya langsung kepada kelompok tani Anuggrah Tunggurono, saat mengadakan pertemuan di Jalan Bangau, Lingkungan IX, Kelurahan Mencirim, Kecamatan Binjai Timur, Senin (23/1), sekitar pukul 21.00 WIB. “Sekarang ini kita (warga, Red) harus bersatu untuk mengatasi bentrok sesama kita. Jangan sampai kita bertumpah darah saat berjuang, tetapi hasilnya pengusaha luar yang menduduki lahan yang sedang kita perjuangkan ini,” tegas Zainuddin Purba.

Lebih jauh disampaikan Zainuddin Purba, dalam sengketa atau konflik lahan eks HGU PTPN 2 ini, banyak ‘hantu’ tanah yang mengambil keuntungan dari masyarakat. “Saya siap mendukung warga demi memperjuangkan haknya. Tapi, saya tidak akan dukung, jika warga sudah bergabung dengan ‘hantu’ tanah dalam berjuang. Karena saya takut, lahan ini akan jatuh ke tangan para pengusaha dengan memanfaatkan masyarakat,” ucapnya.
“Kalau kita bersatu, kita dapat melawan ‘hantu’ tanah yang secara perlahan masuk ke tangah-tengah masyarakat. Sebab, perpecahan itulah yang diinginkan oleh para pengusaha di atas sana,” jelasnya.

Menanggapi ucapan Zainuddin Purba, Suratman, salah seorang warga mengajukan pertanyaannya terkait manfaat lebih jauh bergabungnya sesama kelompok tani. “Ada satu hal yang kami perlu tahu. Sejak awal, kami sudah membersihkan lahan, sampai-sampai satu orang warga kami ditangkap polisi. Nah, kami mau tahu, dengan bergabungnya kami dengan kelompok lain, apa dapat membebaskan warga kami yang sudah diamankan? Kalau tidak bisa, untuk apa kami bergabung dengan kelompok tani lain, yang kesehariannya hanya berdiam diri dan ikut menanami lahan yang sudah kami bersihkan,” tanya Suratman dengan tegas.

Menyikapi hal itu, Zainuddin Purba menjamin dapat mengeluarkan warga yang sudah diamankan oleh polisi tersebut. “Kalau kita bergabung, saya jamin. Dalam waktu dua hari ini, warga yang sudah diamankan bisa kita bebaskan. Sebab, setelah kita bergabung, kekuatan kita semakin besar. Untuk itu, kita dapat meminta PTPN 2 agar segera mencabut pengaduannya. Dengan demikian, warga kita yang diamankan dapat bebas. Kalau pihak PTPN 2 tidak mau menyabut pengaduannya, kita ancam aja sekalian, dengan meratakan tanaman tebu yang lainnya,” tegas Zainuddin Purba di hadapan puluhan warga tani.
Sebelum pertemuan itu berakhir, Abdul Rahman, seorang warga setempat mengatakan, kalau ia dan warga lainnya sangat setuju kalau semua warga bergabung. (sam/dan)

Ibu Bayi Kembar Empat Mulai Normal

Medan-Kondisi bayi kembar empat yang lahir, Senin (23/1), terlihat normal dan wajar. Kondisi sang ibu pun sudah mulai normal. Setidaknya hal ini diungkapkan sang ayah, Jhon Piter Manik (38), di RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Stella Maris di Jalan Samanhudi/Jalan Multatuli.

“Kondisi keempat anak kami sampai saat ini sehat dan tidak ada ditaruh di ruang inkubator tapi di ruang bayi normal,” katanya, Selasa (24/1) pagi.
Rencana kepulangan dari rumah sakit, Jhon Piter menyebutkan, tergantung dokter karena menunggu istrinya benar-benar sehat dulu. “Saat ini istri saya sudah bisa makan dan diajak berbincang-bincang,” paparnya. “Nanti, saat sudah umur satu atau dua bulan baru akan dilakukan Tardidi (Baptisan Air, Red). Pasti akan kami adakan pesta suka cita mengenai kelahiran anak kami,” ungkapnya sambil tersenyum. (jon)

Pergantian Direksi yang Sangat Bising

Bising! Itulah satu kata yang bisa menggambarkan dengan tepat setiap akan terjadi penggantian direksi di sebuah perusahaan BUMN. Di antara yang bising-bising itu, yang paling berisik ada dua: proses pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan dan satu perusahaan telekomunikasi.

Oleh: Dahlan Iskan

Memang, masa jabatan direksi di 15 perusahaan perkebunan BUMN segera berakhir. Demikian juga di Telkom. Persiapan penggantian direksi pun harus dilakukan. Maka,  terjadilah apa yang terjadi sekarang ini, hari-hari ini, Perang Baratayudha! Calon yang diperkirakan akan menjadi direktur utama dihancur-hancurkan. Lewat SMS maupun kasak-kasuk. Mereka itu harus digulingkan. Kalau perlu sekalian menterinya!

Beredar pula susunan direksi baru di beberapa BUMN yang katanya sudah direstui menteri atau deputi atau DPP berbagai partai. Kalau membaca susunan direksi itu, seolah-olah sudah seperti yang sebenar-benarnya. Beredar pula daftar riwayat hidup banyak orang yang dipuji-puji dengan hebatnya. Merekalah yang dijamin pasti berhasil menjadi direktur atau direktur utama.

Kebisingan itu bertambah-tambah karena setiap orang juga melobi kanan-kiri, atas-bawah, muka-belakang. Termasuk melobi teman-teman dekat saya. Juga melobi adik saya yang hidup sederhana di rumah Perumnas di Madiun. SMS saya pun penuh dengan lalu lintas maki-maki dan puji-puji.
Melihat dan merasakan semua kebisingan itu, saya teringat kejadian beberapa tahun lalu. Yakni ketika terjadi pembunuhan yang latar belakangnya hanya ingin jadi direktur utama anak perusahaan BUMN. Bayangkan. Baru rebutan jadi direktur anak perusahaan saja sudah sampai terjadi pembunuhan. Sampai melibatkan pejabat negara yang begitu tingginya. Apalagi yang ini rebutan bapak perusahaan.

Menyaksikan riuhnya suasana, saya mengambil kesimpulan: saya harus menjauhkan diri dari bisikan pihak mana pun. Saya tidak boleh mendengarkan omongan, SMS, surat, telepon, serta segala macam bentuk rayuan dan makian. Saya ingin berkonsentrasi pada menemukan orang yang memenuhi kriteria yang sudah saya umumkan secara luas: integritas dan antusias. Saya tidak lagi memasukkan unsur kompetensi dan kepandaian. Semua calon untuk level seperti itu pasti sudah kompeten dan pandai.

Sebelum menemukan mereka itu,  saya harus menemukan dulu orang yang layak saya dengarkan pandangannya. Yakni orang yang tahu soal perkebunan, yang tahu orang-orang di lingkungan perkebunan, dan orang itu harus memiliki integritas yang bisa diandalkan.

Dari orang seperti itulah, saya akan banyak mendengar. Cara seperti ini juga saya lakukan di PLN dulu. Ketika saya ditunjuk untuk menjadi direktur utama PLN dan saya diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang akan duduk di tim saya sebagai direktur PLN, saya mencari dulu satu orang yang integritasnya dikenal baik di lingkungan atas PLN. Kepada orang itulah, saya banyak berkonsultasi dan dari orang itulah saya banyak mendengarkan. Mengapa saya memilih jalan itu” Itu saya lakukan karena saya belajar dari pengalaman panjang: Orang yang integritasnya baik biasanya juga akan memilih orang yang integritasnya baik.

Mengapa? Saya merasakan di BUMN itu terjadi kecenderungan seperti ini: Orang yang integritasnya baik biasanya merasa jadi minoritas di lingkungannya. Orang yang integritasnya baik biasanya merasa termarginalkan di lingkungannya. Karena itu, kalau dia diberi kesempatan untuk bisa mengusulkan seseorang menduduki jabatan strategis, secara manusiawi dia akan mencari teman yang sama baik integritasnya. Dia akan terdorong untuk berusaha memperbanyak orang-orang yang berintegritas tinggi di lingkungannya. Dia bercita-cita untuk tidak menjadi minoritas lagi.

Kalau di dalam satu board of director mayoritas direksinya sudah memiliki integritas yang tinggi,  hasilnya akan luar biasa banyak:  direksi itu akan kompak dalam bekerja, tidak akan ada saling curiga, program-program bisa dipilih yang paling bermanfaat untuk perusahaan (bukan yang bermanfaat untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya), keputusan bisa diambil dengan cepat, lebih berani menolak intervensi, dan yang paling penting mereka akan menyusun tim untuk tingkat di bawahnya dengan cara memilih orang-orang yang integritasnya juga baik. Kalau semua lapisan paling atas dan lapisan di bawahnya sudah sama-sama memiliki integritas yang tinggi, perusahaan akan maju, lestari, dan kultur perusahaan pun akan terbentuk dengan kukuhnya.

Untungnya, dalam proses penyusunan direksi baru perkebunan ini, saya bisa segera menemukan orang yang paling pantas saya dengar pandangannya. Dengan demikian,  saya tidak terlalu lama terombang-ambing di tengah kebisingan itu. Terima kasih, Tuhan!
Orang yang saya maksud itu tergolong orang dalam perkebunan. Kebetulan, namanya mirip dengan nama saya: Dahlan Harahap. Beliau saat ini masih menjabat direktur utama PTPN IV di Medan.  Perkebunan kelapa sawitnya maju pesat. Perusahaannya berkembang kukuh. Uang cash-nya saja lebih dari Rp1 triliun.

Beliau juga dikenal sebagai orang yang integritasnya sangat baik. Tahan godaan: uang maupun politik.

Posisi beliau juga sangat netral karena satu alasan ini: bertekad tidak akan mau lagi menjabat direktur BUMN. Dia sudah bersumpah di depan Tuhan untuk berhenti sebagai direktur BUMN. Sudah cukup, katanya. Dengan sikapnya yang seperti itu, pandangannya tentu lebih jernih. Tidak ada agenda yang terselubung. Tidak ada keinginan yang tersembunyi, kecuali untuk kemajuan dan integritas BUMN.

Saya pun menemui beliau dengan dua tujuan. Pertama, saya ingin merayu agar mau duduk lagi sebagai direktur BUMN. Bahkan bisa naik menjadi direktur utama holding perusahaan perkebunan seluruh Indonesia. Tetapi, usaha saya ini gagal. Beliau tetap teguh pada tekadnya untuk berhenti sebagai direktur di BUMN. Apakah akan bekerja di perkebunan swasta” Tidak. Beliau ingin mengurus kewajibannya kepada Tuhan!

Setelah gagal merayu beliau, barulah saya menjalankan misi yang kedua. Saya minta pandangan yang objektif tentang orang-orang di seluruh perusahaan perkebunan milik BUMN. Saya semakin respek karena sepanjang pembicaraan itu, beliau sama sekali tidak mau menyebut kekurangan apalagi cacat satu orang pun. Beliau sama sekali tidak mau mengemukakan sisi negatif dari siapa pun di lingkungan perkebunan. Tentu,  saya juga tidak mau menanyakan sisi-sisi negatif itu. Saya hanya ingin fokus mencari siapa yang terbaik-terbaik di antara yang ada.

Dari pandangan-pandangannya, saya bangga bahwa di BUMN masih ada orang seperti Dahlan Harahap. Juga seperti Murtaqi Syamsuddin di PLN. Tentu, saya juga memuji orang seperti Karen Agustiawan, direktur utama Pertamina. Seharusnya, dia berangkat untuk menghadiri pertemuan besar Davos di Eropa. Tetapi, karena akan ada acara BUMN yang penting, Karen membatalkan keberangkatannya. Saya bangga atas sikapnya ini: mengurus perusahaan lebih penting daripada  menghadiri pertemuan sebesar Davos sekalipun!

Beberapa direktur utama bank BUMN saya lihat juga memiliki integritas yang tinggi. Demikian juga orang seperti Ignasius Jonan, Dirut PT KAI. Saya sungguh berharap akan melihat lebih banyak lagi orang-orang seperti beliau-beliau itu. Integritas dan antusias.

Saya pun berdoa siang-malam untuk segera menemukan orang yang layak saya dengar pandangannya untuk Telkom yang kini lagi bising-bisingnya. Ini penting karena misi memperbanyak orang dengan integritas tinggi di BUMN adalah keniscayaan. Sangat berbahaya kalau BUMN jatuh ke tangan orang yang integritasnya diragukan. BUMN harus menjadi senjata kedua bagi presiden untuk melaksanakan program pembangunan ekonomi seperti yang dijanjikan kepada rakyat dalam masa kampanye dulu. Senjata pertamanya adalah APBN.

Di saat swasta masih belum tertarik ke pembangunan infrastruktur besar-besaran, BUMN harus mengambil peran itu. Di saat para pengusaha swasta bersikap wait and see akibat gejolak ekonomi di USA dan Eropa, BUMN harus firm untuk menjalankan seluruh ekspansinya dan melakukan investasi besar-besaran. Bahkan, di saat seperti ini, keberanian melakukan investasi harus menjadi salah satu  KPI (Key Performance Indicators) direksi BUMN.
Sungguh wajar dalam setiap terjadi gejolak ekonomi, pihak swasta bersikap hati-hati. Lalu bersikap tunggu dulu. Maka, dalam situasi seperti ini, sikap firm BUMN diperlukan untuk memberikan rasa percaya diri yang tinggi. Kalau di satu pihak swasta lagi ragu-ragu dan bersikap wait and see sedangkan di pihak lain BUMN tidak firm, perekonomian akan terganggu. Tetapi,  kalau swasta melihat BUMN terus bekerja dan berinvestasi, keragu-raguan itu akan berkurang.

Tentu, sangat sulit mengharapkan sebuah BUMN bisa firm dan bertindak cepat kalau di antara direksinya tidak kompak. Karena itu,  saya dan dewan komisaris di semua BUMN akan terus memonitor kekompakan ini. Semua direksi yang hebat-hebat pun tidak akan banyak gunanya kalau tidak padu. Dia hanya akan seperti soto enak yang dicampur dengan rawon enak.

Apa boleh buat. Sementara pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan itu masih dalam proses, kebisingan yang sangat tinggi masih akan terus terjadi. Dan saya harus tabah mendengarkannya. Untungnya,  sesekali ada hiburan dari orang seperti Nazaruddin. (*)

Penulis adalah Menteri Negara BUMN