27 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 14004

Memakai Jilbab, Ternyata Pelakunya Laki-laki

Penculikan Anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah

MEDAN- Pelaku rencana penculikan terhadap tiga anak Panti Asuhan Aisyiyah Jalan Santun, Kelurahan Sudi Rejo I, Kecamatan Medan Kota, diperkirakan adalah berjenis kelamin laki-laki. Prediksi itu dikemukakan Kepala Panti Asuhan Perempuan Aisyiyah, Zubaidah kepada Sumut Pos, Minggu (22/1).
“Penculiknya satu orang dan laki-laki. Karena, si Anisah (11) dan Risa Febrianti alias Icha (10) yang sempat diajak makan bakso di Mandala, dibilangnya orang yang mengajak itu laki-laki,” aku Zubaidah.

Dijelaskannya, sekira pukul 18.00 WIB, pelaku penculikan awalnya beralasan akan memberikan sumbangan. Kemudian, pelaku tersebut masuk ke panti, kemudian diikuti oleh Windasari (15), untuk melihat sumbangan.

Saat masuk ke panti, pelaku penculikan tersebut mengenakan kerudung warna hitam, pakai kacamata hitam dan mengenakan helm yang juga berwarna hitam. “Ngakunya waktu mau ngasih undangan, dia (pelaku, Red) menyebutkan dirinya mbak. Tapi, waktu Anisah dan Icha yang diajak makan bakso di tempat makan bakso, ternyata orang itu laki-laki,” urainya.

Saat ini, sambungnya, ketiga gadis yang hampir diculik orang tak dikenal, masih mengalami trauma. Untungnya, trauma yang dialami ketiga penghuni Panti Asuhan Putri Aisyiyah tersebut, relatif tidak parah. “Kalau trauma masih traumalah. Tapi syukurnya, nggak terlalu. Sekarang sudah beraktifitas seperti biasanya,” ungkapnya.

Penegasan senada juga dikemukakan Kepala Panti Putra Aisyiyah yang juga Ketua Panti Asuhan Muhammadiyah Medan, Rafdinal. “Saya konfirmasi ke Kepala Panti Asuhan Putri, dari pengakuan anak-anak panti itu pelakunya laki-laki yang sengaja menyamar sebagai perempuan. Pelaku pakai jilbab atau kerudung hitam untuk mengelabui, pakai helm hitam, sepeda motornya jenis Honda Supra X. Jadi, pelaku ini memang benar berniat mau menculik anak panti,” tegasnya.

Sementar itu, pengejaran terhadap pelaku oleh personel unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsekta Medan Kota belum menemui titik terang. Pasalnya, pihak kepolisian sampai saat ini belum mengetahui keberadaan pelaku yang memiliki ciri-ciri tato bunga di lengan kanan dan kiri itu. “Kita masih belum mengetahui keberadaan lokasi,” kata Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandi Sinurat melalui telepon selulernya, Minggu (22/1) siang.

Namun, diakui Sandi, polisi sudah mengantongi identitas pelaku berdasarkan keterangan dari kedua korban, Anisa (11) pelajar kelas V SD di panti asuhan dan Risa Febrianti (11) pelajar kelas VI. “Akhir dari pencarian terhadap korban, kedua anak panti asuhan berhasil ditemukan kembali sekitar pukul 20.30 WIB. Risa ditemukan seorang pria, Akhir (22) Warga Jalan Pelikan, Perumnas Mandala, Medan,” ungkapnya. (ari/adl)

Tukang Bajaj Kehilangan 4 Anggota Keluarga

Sembilan Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Xenia

JAKARTA-Peristiwa kelam yang menewaskan sembilan orang akibat ditubruk mobil Xenia di kawasan Tugu Tani pada Ahad (22/1) siang, menyisakan perasaan trauma bagi Rohmari alias Benyamin (60 tahun). Bagaimana tidak, Rohmari kehilangan empat anggota keluarganya sekaligus.
Dijelaskan Benyamin, saat kejadian dia sedang bekerja narik bajaj. “Karena mendengar anak dan cucu saya meninggal, saya kesini,” kata Benyamin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Benyamin kehilangan empat anggota keluarganya, yakni Suyatmi (51 tahun) Nanik Riyanti (25 tahun), Pipit Alfia Fitriasih (18 tahun), dan Yusuf Sigit (2,5 tahun). Adapun korban Nanik dalam kondisi hamil tiga bulan.

Benyamin menyatakan, tiga sanak familinya juga menjadi korban Xenia ngebut dan mengalami luka berat, yaitu Teguh (30), Siti Muqaromah (30 tahun) yang merupakan istri Teguh, dan Kenny (9 tahun). Ketiganya saat ini dalam perawatan di RSPAD Gatot Subroto.

Sebelumnya, di Jl Ridwan Rais, Tugu Tani Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (22/1) sekitar pukul 11.00 WIB, delapan pejalan kaki tewas di tempat setelah tertabrak mobil Xenia. Sedangkan, korban lainnya, Mochamad Akbar (23), yang luka parah di bagian kepala akhirnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Mobil maut jenis Daihatsu Xenia berwarna hitam dengan nomor polisi B 2479 XI tersebut, dikendarai Afriyani Susanti (29), warga Jl Kranjang Terusan, Sungai Bambu, RT 11/07, Tanjungpriok, Jakarta Utara.

“Mobil melaju dari arah lampu merah Jl Batu menuju Menteng, sempat oleng dan banting stir ke kiri kemudian menabrak rombongan pejalan kaki yang ada di trotoar,” kata Antoni, Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Jakarta Pusat, kemarin (22/1).

Kesembilan korban tewas yang terdiri dari 3 perempuan, 5 laki-laki, dan  anak berusia sekitar 3 tahun langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sementara itu, empat korban luka-luka, termasuk Akbar, dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) RSPAD Gatot Subroto.

Menurut Antoni, pengemudi dalam kondisi baik. Pihaknya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi pengemudi. Keterangan sementara, pengemudi mengaku tak dapat mengendalikan kendaraanya karena rem blong. Namun, keterangan itu akan ditindaklanjuti dengan penyidikan. “Penyedikan menyeluruh akan dilakukan, termasuk dengan mengecek urine dan darah untuk mengetahui apakah pengemudi dalam keadaan sadar atau tidak,” ujarnya. (net/wok/jpnn)

Sambut Kenaikan Harga BBM, Apapun Opsinya, Semua Harus Siap

JAKARTA- Rencana pembatasan konsumsi atau kenaikan harga BBM subsidi terus menggelinding. Berbagai opsi terus bermunculan. Namun, yang justru terlewatkan adalah persiapan pemerintah daerah (pemda) untuk menghadapi kebijakan tersebut.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim mengatakan, semua pihak tidak boleh terlalu larut dalam spekulasi tentang berbagai opsi pembatasan BBM. Terutama bagi pemda yang nanti akan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. “Intinya, apapun opsinya, pemda harus sudah mulai siap-siap,” ujar Ibrahim saat dihubungi Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin (22/1).
Menurut Ibrahim, saat ini semua pihak harus bersabar untuk menunggu kepastian opsi apa yang akan diambil terkait BBM. Apakah pembatasan konsumsi atau kenaikan harga. Rangkaian pembicaraan antara pemerintah yang diwakili Menteri ESDM Jero Wacik dan Komisi VII DPR, rencananya baru akan dilakukan pada Kamis (26/1) mendatang. “Ini harus disadari oleh pemda,” katanya.

Ibrahim mengatakan, jika opsi pembatasan BBM yang diambil, maka persiapan intensif harus segera dilakukan oleh pemda-pemda di wilayah Jawa-Bali. Adapun jika kenaikan harga BBM yang diambil, maka pemda-pemda seluruh Indonesia harus bersiap. “Pemda harus bersiap karena kebijakan ini pasti akan menimbulkan dampak yang tidak kecil di masyarakat,” ucapnya.

Ibrahim menyebut, dampak yang harus diwaspadai adalah terjadinya keresahan di kalangan masyarakat yang bisa berujung pada aksi demonstrasi.
“Dampak lain yang harus diwaspadai adalah lonjakan harga oleh spekulan yang bisa menyusahkan masyarakat,” sebutnya.
Lalu, apa yang harus dilakukan pemda? Menurut Ibrahim, BPH Migas sebagai otoritas yang mengawasi distribusi BBM, sudah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa pemerintah provinsi. “Salah satunya dengan Jawa Timur,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa menjadi contoh bagi pemda lain agar lebih partisipatif dalam upaya pengawasan distribusi BBM di daerah. “Saya dengar, Jatim akan mengumpulkan pemkab atau pemkot di empat lokasi, Madiun, Malang, Bojonegoro, dan Sampang untuk sosialisasi persiapan partisipasi dalam distribusi BBM di daerah. Ini sangat positif,” katanya.

Kerja sama pemda dengan BPH Migas dan kepolisian, lanjut dia, sangat bermanfaat dalam hal pengawasan BBM di daerah, mulai dari pengoplosan, penyelundupan, maupun penyelewengan BBM subsidi kepada pihak-pihak yang tidak berhak.

Ibrahim mengatakan, selama ini MoU memang lebih banyak dilakukan dengan pemerintah provinsi. Karena itu, pemerintah provinsi lah yang harus aktif untuk menyosialisasikan kerjasama tersebut di wilayahnya.

“Kami sebenarnya ingin kerjasama sampai tingkat kabupaten/kota, karena kuota BBM kan sekarang dibagi per kabupaten/kota. Tapi, agak susah, karena selain jumlahnya banyak, kadang pemdanya tidak siap,” terangnya.

Karena itu, lanjut Ibrahim, pemda harus mulai aktif untuk bersama-sama BPH Migas dan Kepolisian mempersiapkan langkah antisipasif terhadap rencana kebijakan pembatasan BBM subsidi. “Jika pemda sudah siap-siap, ekses negatif yang bisa timbul dari kebijakan tersebut bisa diminimalisasi,” katanya. (owi/ca/jpnn)

Incumbent Kampanye Terselubung

LANGSA- Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Langsa menemukan adanya kampanye terselubung dilakukan incumbent calon wali kota yang ikut Pemilukada 2012. Kampanye ini bahkan diikuti beberapa pejabat dan PNS Kota Langsa.

Hal ini diungkapkan Divisi Penangganan Pelanggaran dan Tindak Lanjut Panwaslu Kota Langsa, Sukri ST kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos), Minggu (22/1) terkait acara pertemuan yang dilakukan incumbent Calon Wali Kota Drs Zulkifli Zainon MM di lapangan terbuka Gampong Jawa Langsa Kota, Rabu, (18/1) malam kemarin.

“Kita (Panwaslu-red) ada menemukan beberapa bukti. Diataranya, ada panggung yang latar belakang balihonya bergambar calon wali kota incumbent dengan wakilnya,” tukas Sukri.

Humas Pemko Langsa Said Karim yang dikonfirmasi masalah ini melalui teleponnya menjawab dengan pesan singkatnya mengatakan, acara disebutkan hanya sekedar pertemuan dengan masyarakat. “Untuk selanjutnya silahkan tanya ke KIP,” tukas Said Karim seperti tertera di pesan singkatnya.

Selanjutnya calon juga menyampaikan visi dan misi, bahkan mengajak massa yang datang untuk memilih. Ditandai dengan teriakan yel-yel yang jadi icon incumbent yaitu “lanjutkan”.  Dan jumlah massa yang hadir kurang lebih 300 orang diduga keras adalah pendukung yang sengaja di datangkan.(
Temuan lain yang paling mencolok sejumlah pejabat teras Pemko Langsa ikut dalam pertemuan tersebut, diantaranya Sekda Kota Langsa, Kadis Syariat Islam dan Staf Ahli Walikota. “Nama-nama mareka pun  sudah kita kantongi dan akan segera publikasi,” sebut Sukri seraya menambahkan, semua barang bukti ada pada kami dalam bentuk rekaman visual terkait kegiatan tersebut.

Ditambahknya, pertemuan calon wali kota incumbent melibatkan pejabat atau PNS sangat bertentangan dengan undang-undang pemilu. “Karena mareka semua masih menjabat sebagai pejabat negara. Dan untuk kasus ketidaknetralan PNS ini akan segera kita surati Ketua KOPPRI  Pusat dan tembusan Ketua KOPPRI Aceh,” kata Sukri lagi.

Humas Pemko Langsa Said Karim yang dikonfirmasi masalah ini melalui teleponnya menjawab dengan pesan singkatnya mengatakan, acara disebutkan hanya sekedar pertemuan dengan masyarakat. “Untuk selanjutnya silahkan tanya ke KIP,” tukas Said Karim seperti tertera di pesan singkatnya.
Sementara itu Ketua FPRM Nasruddin menilai, Panwaslu Langsa masih kurang berani dalam mengambil tindakan. “Sikap tegas penting dalam upaya membentuk citra lembaga panwas agar tidak dinilai mendukung  calon tertentu, khususnya kandidat incumbent,” kata Nasruddin.
Dikatakan Nasruddin, Panwaslu harus tegas dengan para calon wali kota khususnya calon incumbent dengan sejumlah kegiatan mereka menjurus ajang kempanye. Selaku lembaga yang dibentuk untuk memantau seluruh tahapan pemilukada maka sangat dibutuhkan keberanian untuk menindak siapa saja yang melanggar. (ris/jpnn)

Senjata Kimia Eks Rezim Kadhafi Ditemukan

Kunjungan Tim Pengawas Internasional ke Libya

DEN HAAG- Mantan diktator dan penguasa Libya Muammar Kadhafi ternyata meninggal dengan menyisakan kabar tidak sedap. Para pengawas interansional memastikan, tokoh yang tewas dalam serangan para pejuang NTC (Dewan Transisi Nasional) di Kota Sirte pada 20 Oktober 2011 itu ternyata menimbun secara rahasia senjata kimia.

Dalam laporannya pada Sabtu lalu (21/1), surat kabar Inggris Daily Mail mengutip temuan The Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) bahwa para pengawasnya telah menemukan senjata kimia rahasia milik rezim Kadhafi tersebut.

Lembaga antar-pemerintah yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, itu mengungkapkan, tim pengawas mereka yang mengunjungi Libya pekan lalu menemukan senyawa kimiawi jenis sulphur mustard (gas mustard) dan senjata artileri yang diyakini sebagai senjata kimia. Kendati tidak diisi dengan bahan kimia, artileri itu dirancang secara khusus untuk membawa senjata kimia.

“Senjata-senjata tersebut memang belum siap digunakan karena belum berisi senjata kimia,” ungkap Juru Bicara OPCW Michael Luhan seperti dilansir Daily Mail.

Gas mustard merupakan senyawa kimiawi yang dapat merusak atau menghancurkan kulit seseorang yang terkena. Gas yang juga bisa merusakkan paru-paru itu termasuk gas beracun. Tim pengawas OPCW menemukan senjata kimia milik rezim Kadhafi tersebut disimpan di sebuah gudang di Ruwagha, sebekah tenggara Libya.

Sayangnya, Luhan tidak mengungkapkan secara detail jumlah senjata kimia tersebut. Dia hanya menyebut, senjata itu sengaja disembunyikan rezim Kadhafi pada 2004 saat pemerintah Libya sedang gencar memperbaiki hubungan dengan Barat.

Pesawat mata-mata dan satelit NATO pernah memonitor soal dugaan keberadaan gudang senjata kimia milik rezim Kadhafi di tiga lokasi yang berbeda. Termasuk, di gudang penyimpanan senjata di Rughawa, sekitar 130 mil dari kota kelahiran Kadhafi, Sirte.

Libya seharusnya menyelesaikan program pemusnahan seluruh senjata kimianya pada 29 April tahun ini. Namun, karena pecah revolusi rakyat tahun lalu yang menjatuhkan rezim Kadhafi, target waktu itu tidak akan dapat dipenuhi. Pemerintah baru Libya akan mengajukan jadwal baru soal pemusnahan senjata kimia tersebut.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) sementara Libya Mahmoud Jibril membenarkan bahwa senjata kimia rahasia telah ditemukan di negaranya. Temuan itu sekaligus membuktikan, selama ini Kadhafi menolak untuk menyerahkan dan memusnahkan senjata pemusnah masal di negaranya.(dailymail/cak/dwi/jpnn)

Rindukan Sang Buah Hati

Mindo Rosalina Manulang

Kondisi kesehatan Mindo Rosalina Manulang kian membaik. Namun kini dia didera kerinduan mendalam kepada anaknya. Demikian dikatakan anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Lilik Pontauli kepada wartawan, Minggu (22/1).

Menurut Lilik, meski kondisi kesehatan Rosalona membaik, namun dia masih tertekan lantaran memikirkan buah hatinya yang kini sedang jauh darinya. “Dia sangat berharap bisa bertemu dengan anaknya, namun untuk saat ini masih belum bisa,” ujar Lilik.

Selain itu, terpidana kasus Wisma Atlet SEA Games ini juga rutin didampingi psikolog. Langkah tersebut diambil LPSK agar kejiwaan Rosa terus membaik setelah mendapat ancaman dari sejumlah orang yang mengunjunginya di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, beberapa waktu yang lalu.

Perlindungan maksimum juga terlihat dari langkah LPSK dan KPK yang bergegas mengevakusi Rosa ke KPK tempo hari. Bahkan, ketika Rosa memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor, Senin (16/1) lalu, dia harus mengenakan rompi antipeluru dan dikawal sejumlah personel kepolisian. (net/jpnn)

230 Personel Amankan Imlek

TEBING TINGGI- Dalam menjaga situasi Kambtimas di jajaran hukum Polres Tebing Tinggi menyambut Hari Raya Imlek, Polres Tebing Tinggi menggelar apel 230 personel gabungan dari Sat Intel, Samapta, Narkoba, Reskrim dan Satuan Lalulintas serta Polsek se wilayah hukum Polres Tebing Tinggi untuk mengamankan 18 Vihara dan Klenteng di Kota Tebing Tinggi, di halaman Mapolres Tebing Tinggi, Minggu (22/1).

Klenteng dan vihara besar dijaga petugas lima sampai delapan personel. Hal ini sesuai petunjuk dan perintah Kapolres Tebing Tinggi AKBP Andi Rian Djajadi dalam Sprintnya nomor 52/1/2012 dan pengamanan imlek ini dilaksanakan dua hari mulai tanggal 22-23 Januari 2012. Diantara Vihara dan Klenteng yang dijaga dan terbesar di Kota Tebing Tinggi seperti Vihara Avalokites Vara di Jalan Tengku Hasyim, Klenteng Mahadana di Jalan Veteran, Vihara Vata Purnama di Jalan Ahmad Yani dan Vihara Qui Lintong di Jalan Sudirman, Kota Tebing Tinggi.

“Kita harus melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang telah diberikan, kita tidak perlu diawasi, tidak perlu ditegur oleh pimpinan karena keterlambatan dan juga petugas dilarang meminta tips kepada pihak klenteng dan vihara,” jelas Usdek.(mag-3)

Ketua Golkar Dikeroyok Massa

Bentrok Antar Kelompok Pemuda di Silou Kahean

SIANTAR- Mobil Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar Silou Kahean, Jaya Saragih, dirusak ratusan massa, Sabtu (21/1) sekitar pukul 21.00 WIB.
Selain merusak mobil, massa juga memukuli Daulat Purba, sopir mobil hingga babak belur. Diduga motif pengrusakan balas dendam karena perselisihan pemuda antar Nagori yang terjadi malam sebelumnya.

Informasi yang dihimpun, pada saat kejadian, Jaya beserta empat orang temannya baru pulang mengikuti diklat partai di Pematangsiantar. Sesampainya di TKP di Huta Pondok Baru, Nagori Bah Sarimah, ratusan massa diduga berasal dari Nagori Silou Paribuan,  menghadang mobil Taft BK 7 LU yang dikendarai korban.

“Aku beserta sekretaris PK Bahrum Saragih dan 1 orang anggota bernama Carles Sipayung, warga Sidiam-diam, Nagori Bandar Maruhur, baru pulang mengikuti diklat partai di Pematangsiantar. Saat di TKP, ratusan massa yang diduga berasal dari Nagori Silou Paribuan memblokir jalan dengan kayu,” beber Jaya sambil memegang bagian belakang kepalanya yang kena pukul.

Saat mobil berhenti, massa langsung mengelilingi dan mengeledah isi mobil. “Mereka mencari salah seorang warga Nagori kami, namun kami menjawab jika yang  dicari tidak ada namun mereka tidak percaya dan terus memukuli mobil,” bebernya.

Untuk meyakinkan massa, Jaya dan Daulat turun dari mobil. “Saat turun dari mobil, Daulat langsung dipukuli dengan kayu dan batu hingga tergeletak di jalan, kepalanya terlihat berlumuran darah. Spontan kubilang agar dia (Daulat) lari menyelamatkan diri. Saat berusaha menyelamatkan diri ke rumah salah seorang warga, Daulat terus dikejar dan dipukuli akhirnya dia lari ke kebun sawit. Hingga saat ini keluarga belum tahu dimana keberadaannya,” lanjutnya.

Diceritakannya, massa yang terlihat seperti kesetanan juga memecahkan kaca depan mobil dan memukuli mobil hingga penyok. “Saat berusaha menghubungi polisi, pelaku memukul kepala dan mengancam akan membunuhku. Mereka juga berusaha menggulingkan dan membakar mobil. Beruntung ada petugas yang datang dan langsung mengantarku ke rumah, kalau tidak aku bisa terbunuh malam itu,” ungkap Jaya.

Bahrum Saragih, yang turut dalam mobil tersebut mengaku trauma dengan peristiwa yang dialaminya. Menurutnya, penghadangan yang dilakukan ratusan massa sudah direncanakan sebelumnya. “Kelihatannya pelaku memang sudah berencana membunuh kami. Terbukti mereka tetap beringas meskipun sudah diberikan penjelasan jika yang mereka cari tidak ada di dalam mobil, padahal antara kami dan beberapa pelaku saling mengenal karena  berdekatan Nagori serta memiliki hubungan keluarga,” sebutnya.

Pangulu Bandar Maruhur Redianson Sinaga mengakui, jika malam sebelumnya (20/1) ada pertikaian antar kelompok pemuda pada acara hiburan keybord di daerahnya. “Malam sebelumnya, memang ada selisih paham antara kelompok kampung ini dengan pemuda Silou Paribuan, namun tidak sempat terjadi kontak fisik hanya saling  ejek dan lempar botol minuman keras saja. Saat kejadian, Jaya Saragih berusaha melerai agar jangan terjadi bentrok.  Mungkin para pelaku dendam dan menduga di dalam mobil ada pemuda yang mengejek kelompok mereka sehingga melakukan penghadangan,” katanya.

Terpisah, Kapolsek Silou Kahean AKP Lamin, membenarkan terjadinya penghadangan dan pengerusakan terhadap mobil Ketua Golkar. “Malam itu juga personel turun ke TKP dan berusaha menenangkan massa. Belum ada pelaku yang ditangkap, sementara mobil yang dirusak diamankan di pos polisi Silou Dunia. Korban juga sudah membuat laporan pengaduan. Polisi akan terus berkordinasi dengan Muspika agar tidak terjadi bentrok antar kelompok pemuda,” katanya.

Anggota DPRD Simalungun dari fraksi Golkar Edi Irianto, yang dimintai pendapatnya meminta agar Polsek Silou Kahean segera menangkap pelaku. Menurutnya, peristiwa yang dialami Jaya Saragih menyangkut marwah partai. “Ini menyangkut marwah partai di daerah ini, karena saat kejadian Jaya Saragih baru pulang dari kegiatan partai. Polisi harus segera menangkap pelakunya agar kejadian serupa tidak terjadi. Apalagi korban juga sudah melaporkan nama-nama  yang mereka kenal sebagai pelaku,” pintanya dengan tegas.

Menanggapi bentrok antar kampung yang mungkin terjadi akibat peristiwa itu, Anggota DPRD dari daerah pemilihan Silou Kahean ini  meminta agar setiap pihak menahan diri. “Nggak ada gunanya kekerasan, biarlah proses hukum yang berjalan. Saya minta kepada setiap pihak agar menahan diri. Aparat pemerintah dan tokoh masyarakat masing-masing huta agar bekerjasama meredam emosi anggotanya. Apalagi  sesama warga yang bertikai masih memiliki hubungan kekeluargaan,” pinta dia.

Senada dengan Ketua Partai Golkar Simalungun Janter Sirait, yang dihubungi Minggu (22/1) malam, juga meminta agar polisi menangkap pelaku. “Kita dukung polisi untuk memproses sesuai hukum berlaku. Namun jika memang ada jalan tengah sesuai dengan kearifan lokal daerah itu, mungkin akan lebih bagus, hanya segala kerugian yang dialami ketua PK Golkar harus diganti, seperti kerusakan mobil. Intinya, kita dukung jalan terbaik untuk penyelesaian kasus ini demi situasi tetap kondusif,” sarannya. (hp/smg)
KRONOLOGIS KEJADIAN

  1. Sekira pukul 19.30 WIB, Jaya Saragih mengikuti diklat partai Golkar di Pematang Siantar
  2. Sekira pukul 21.00 WIB, Jaya beserta empat orang temannya pulang mengikuti diklat mengendarai mobil Taft BK 7 LU
  3. Setibanya di Huta Pondok Baru, Nagori Bah Sarimah, mereka dihadang ratusan massa dari Nagori Silou Paribuan dengan cara memblokir jalan dengan kayu.
  4. Massa langsung mengelilingi dan mengeledah isi mobil.
  5. Mereka mencari salah seorang warga Nagori Bandar Maruhur, namun tidak ada dan massa tidak percaya dan terus memukuli mobil.
  6. Untuk meyakinkan massa, Jaya dan Daulat turun dari mobil, memberitahukan kepada massa kalau orang yang mereka cari tidak ada di dalam mobil.
  7. Saat turun dari mobil, Daulat langsung dipukuli dengan kayu dan batu hingga tergeletak di jalan, kepalanya berlumuran darah.
  8. Daulat berusaha menyelamatkan diri ke rumah salah seorang warga, tapi terus dikejar dan dipukuli massa hingga akhirnya lari ke kebun sawit.
  9. Karena tak berhasil menangkap daulat, massa memecahkan kaca depan mobil dan memukuli mobil hingga penyok.
  10. Saat massa semakin beringas, petugas kepolisian datang dan mengamankan lokasi kejadian.

Sat Narkoba Usulkan Penambahan Anggaran

LANGKAT- Kapolres Langkat AKBP H Mardiyono, mengakui minimnya alokasi anggaran dimiliki Satuan Narkoba. Karenanya, direncanakan mengusulkan penambahan guna menopang operasional pemberantasan narkotika maupun obat-obatan terlarang lainnya di Langkat.

“Untuk ke depannya, memang kita merencanakan pengusulan tambahan anggaran di Sat Narkoba. Kendati yang ada sekarang ini kecil, namun bukan berarti kita menyerah begitu saja, ya tetap dijalankan,” Mardiyono di Mapolres Langkat, kemarin (20/1).

Lebih lanjut disebutkan Kapolres, dengan angka relatif minim (di bawah Rp200 juta) dikantongi Sat Narkoba sesuai DIPA diperoleh, tidak lantas menyurutkan gerak satuan jajaran tersebut menggulung setiap bentuk peredaran narkoba.

Diingatkan dia, pencapaian tangkapan narkoba melebihi target dibebankan (setahun 16 kasus) membuktikan Sat Narkoba Polres dibawah pimpinannya menjalankan tugas maksimal.

“Peran kita (Sat Narkoba) sangat sentral, karena wilayah hukumnya berbatasan langsung dengan NAD. Sebab, ditengarai wilayah hukum kita acapkali dijadikan perlintasan peredaran narkoba,” katanya (mag-4)

Ngaku Bisa Jadikan PNS, Tilep Rp378 Juta

LABUHAN- Setelah berhasil menipu sebanyak 6 kali menjanjikan bisa jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), akhirnya, Nurman Efendi (45) warga Pasar X, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli ini, dipolisikan tetangganya, Sudirman (27) ke Polsek Medan Labuhan, Jumat (21/1) malam, yang merupakan korban ke 7 pelaku.

Duda anak tiga yang telah menipu senilai Rp20 juta itu, langsung dijebloskan ke sel tahanan Polsek Medan Labuhan.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, pria yang akrab disapa Nurman ini, mengajak Sudirman untuk masuk PNS melalui perantaranya pada bulan Juli 2011 lalu. Nurman memberikan keyakinan dengan mengatakan ada teman dekat di Dinas Kesehatan Langkat.

Merasa yakin dengan rangsangan Nurman yang bisa memasukkan PNS di Kabupaten Langkat, maka Sudirman bersedia menerima tawaran Nurman. Mereka pun membuat kesepakat dengan memberikan uang jaminan untuk masuk PNS sebesar Rp20 juta dengan disertai kwitansi.

Dalam perjanjian itu, Nurman berjanji akan menjadikan Sudirman PNS paling lama 6 bulan terhitung sejak bulan Juli 2011 lalu. Ternyata, janji yang diberikan Nurman membuat keluarga Sudirman terus menanyakan tentang penempatan untuk jadi PNS tidak juga ditepati oleh Nurman.

Karena terus dijanjikan dan waktu yang telah disepakati telah lewat, maka Sudirman bersama keluarganya membawa Nurman ke Polsek Medan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah menipu sebesar Rp20 juta. “Waktu dia nawari saya jadi PNS, sikapya meyakinkan, makanya kami memberikannya uang,” kata Sudirman usai membuat laporan di Polsek Medan Labuhan.

Dengan wajah pasrahnya, Nurman mengaku, perbuatan itu dilakukannya berulang kali dan telah meraup Rp378 juta. Uang itu digunakan untuk menutupi sisa utang biaya operasi almarhum istrinya.

“Uangnya untuk bayar utang pengobatan istri saya. Uangnya juga sudah habis,” katanya.(ril/smg)