Home Blog Page 14035

Kekuasaan dan Korupsi

Lord Acton menyebutkan kekuasaan berkorelasi positif dengan korupsi. Ia mengatakan hal tersebut dengan power tends to corrupt, absolute corrupts absolutely. Dalam konteks kekinian di Indonesia, tesis yang dilontarkan Lord Acton benar-benar terjadi, bahkan Soegeng Sarjadi menyebut the have corrupt absolutely. Statemen di atas nampaknya benar adanya, karena setiap hari media massa tidak luput memberitakan skandal korupsi yang terjadi dikalangan pejabat, politisi maupun pengusaha.

Oleh:
Acep Sopian Sauri dan Suhrawardi K Lubis*)

Dalam satu hari saja, media memberitakan ada yang dihukum, ada yang tertangkap tangan, ada yang sedang tersangka diadili di pengadilan dan adapula yang sedang disidik. Besoknya kabar tentang korupsi baru menjadi headline media massa pula. Pokoknya di negeri ini korupsi seperti siklus kehidupan yang tak pernah mati, seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti, atau boleh juga disebut tiada hari tanpa korupsi, di sini korupsi, di sana korupsi, di mana-mana korupsi.

Aktor utama (Nazarudin) dugaan korupsi raksasa mantan Bendahara Partai Demokrat (yang diduga berjamaah), yang nyaring bernyanyi mengenai skandal besar belum tuntas diusut, datang lagi kasus Kemenakertrans (Muhaimin Iskandar terseret-seret namanya), kutip mengutip di Banggar DPR dan Korupsi Wisma Atlet yang baru terungkap dipermukaannya saja (belum menyentuh aktor yang sesungguhnya). Korupsi bergerak dan berpindah dengan begitu cepat menyebar hingga keseluruh lini dan pelosok negeri.

Lalu besok siapa lagi yang akan terjerat? Tokoh publik manalagi yang terekspose media massa yang terlibat skandal korupsi? Entahlah, yang jelas hantu korupsi seakan bergentayangan di mana-mana. Bahkan, patut diduga hampir di semua lembaga/kementerian sudah terjangkit budaya korupsi. Nampaknya, tradisi korupsi adalah hal yang biasa, lumrah dan wajar-wajar saja. Jika memang demikian adanya, adakah harapan penyakit korupsi bisa disembuhkan?

Yang jelas, gejala yang tampak secara kasat mata maupun melalui pemberitaan di media massa, korupsi semakin merajelala dan berkembang biak. Para koruptor (baik di pusat maupun di daerah, di eksekutif, legislatif maupun yudikatif) sudah tidak malu dan terang-terangan melakukan korupsi. Dari sanksi-sanksi yang diberikan kepada koruptor seolah tidak ada efek jera, hal ini terjadi karena penaganan kasus korupsi mulai dari penyidikan, penangkapan, penjatuhan hukuman dan pelaksanaan hukuman dilakukan secara kompromistis.

Nah, yang menjadi pertanyaan, kenapa anatomi korupsi begitu mudah menjangkiti pengelola negara dan diduga sering dilakukan secara berjamaah. Pertama, karena sistem politik kita yang cenderung bersifat patron-klien. Menurut Peter Burke, budaya patronase adalah sistem politik yang berlandaskan hubungan pribadi antara pihak-pihak yang tidak setara antara pemimpin (patron) dan pengikut (klien). Masing mewakili kepentingan sektoralnya sendiri. Klien menawarkan dukungan politik serta loyalitas tanpa batas kepada sang patron (pemimpin kekuasaan). Sang patron membalas dukungan politik tersebut  dengan menawarkan uang, jabatan, pekerjaan dan status sosial lainnya kepada klien.

Unsur inilah yang membuat patron dan klien terlibat perselingkuhan. Unsur yang membuat pemimpin-pemimpin politik di tanah air sangat kesusahan menindak tegas klien-nya yang terlibat korupsi. Mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla mengemukakan, perselingkuhan ini dapat dibersihkan apabila ada pemimpin politik yang kuat, yaitu pemimpin yang tidak hanya berwacana berada di garis depan pemberantasan korupsi, yang hanya sanggup mengatakan “tidak”, tapi hanya perkataan, bukan perbuatan. Pemimpin politik seperti ini siap menjadi panglima tempur yang berada di garis depan. Panglima yang tidak takut mengamputasi bagian dari pasukannya jika terdeteksi melakukan tindakan korupsi. Artinya tidak hanya pandai berkoar-koar, tapi tindakan nyata.

Bahaya Korupsi

Bila keadaan ini (korupsi) terus berkembang biak dan tetap dibiarkan, korupsi akan berdampak besar kepada masyarakat dan pada gilirannya kepercayaan publik terhadap pengelola negara akan hilang dan selanjutnya akan timbul antipati. Antipati publik terhadap pengelola negara akan menimbulkan efek multidimensional yang dapat mengganggu stabilitas politik negara. Akan sangat mungkin terjadi kekacauan, tindakan anarki, demontrasi-demontrasi, penggulingan kekuasaan hingga revolusi-revolusi sosial seperti yang terjadi di berbagai negara.

Terlalu banyak biaya sosial yang harus dikeluarkan jika fase gerakan jalanan kembali tumbuh. Apabila ini terjadi, bukan solusi yang beradab, ide yang cemerlang, dan gagasan brilian yang ditawarkan melainkan tuntutan turunnya rezim secara paksa. Kita semua tentu tidak berharap kejadian yang menimpa rezim orde lama dan orde baru terulang kembali. Terlalu letih bangsa ini memulai membangun dari nol kembali. Akan banyak korban manusia dan kepentingan-kepentingan lebih besar yang hilang.

Nah, sebelum daur ulang alamiah itu terjadi. Kepercayaan publik mesti dipulihkan. Korupsi sebagai penyakit dan beban bangsa musti dikubur. Imbauan kesadaran kepada pengelola negara harus didengungkan. Para pengelola negara, mulai lurah, camat, wali kota, bupati, gubernur, presiden dan segenap jajarannya, anggota DPRD, DPR, polisi, jaksa, hakim, pokoknya semua penyelenggara negara (termasuk PNS) diingatkan (meminjam istilah Franz Magnis Suseno SJ) bahwa korupsi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, bahwa korupsi adalah variabel penghalang bangsa ini mengepakkan sayap untuk terbang menjadi bangsa besar. Korupsi merupakan tindakan pencurian terhadap masa depan anak cucu bangsa.

Selain itu, secara luas korupsi akan berdampak dan menghambat investasi, membuat mis-alokasi pendapatan dan pengeluaran negara, menjadi beban penduduk miskin karena dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sehingga dapat mengurangi terciptanya lapangan pekerjaan, turunnya layanan publik seperti layanan kesehatan, rendahnya akses pendidikan, dan kurangnya pembangunan infrastruktur publik. Pada akhirnya, korupsi akan berimbas pada hilangnya kesempatan publik untuk mengenyam kemakmuran, merasakan nikmatnya hidup sejahtera, adil, bahagia dan sejahtera.
Oleh karena itu, sudah saatnya kesadaran nurani akan bahaya berkembangnya korupsi terus menerus dikumandangkan. Selain itu, pemerintah/pengelola negara perlu diingatkan bahwa mereka sedang mempertaruhkan masa depan bangsa, mempertaruhkan amanah dan wewenang publik dan kepercayaan yang diberikan rakyat. Untuk itu hindari melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan mempergunakannya untuk kepentingan pribadi, kelompok dan ego sektoralnya lainnya.

Karenanya, sebagai upaya mengurangi tingginya angka korupsi perlu dilakukan usaha sistematis. Antara lain diperlukan langkah dan upaya untuk memiskinkan koruptor secara sistematik melalui undang-undang yang dapat membuat negara mengambil kembali uang hasil korupsi. Selain itu, perlu dipertimbangkan membangun kebun koruptor untuk tempat wisata pendidikan antikorupsi. Dan yang tidak kalah pentingnya diperlukan gerakan bersama melawan korupsi yang berlandaskan moral dan etika. Dan alangkah manisnya, apabila gerakan dimulai dengan ketauladanan dari pemimpin-pemimpin bangsa. Semoga. (*)

Penulis adalah Mahasiswa dan Dosen Magister Ilmu Hukum UMSU

Layanan BlackBerry Telkomsel Gratis di 8 Negara

JAKARTA-Telkomsel menggelar program spesial untuk layanan BlackBerry di luar negeri. Digelarnya program itu berkaitan penyambutan perayaan Tahun Baru Cina (Imlek), Senin (23/1). Dalam program spesial BlackBerry ini pelanggan kartuHALO dapat menikmati gratis layanan pushmail, chatting, browsing, dan social networking saat berada di delapan negara. Promo ini berlaku selema sepekan dari tanggal 23 Januari hingga 29 Februari.

Menurut GM Corporate Communications Telkomsel Ricardo Indra, Kamis (19/1) kemarin, gratis layanan BlackBerry lintas negara ini merupakan upaya Telkomsel dalam menghadirkan kemudahan yang menunjang aktivitas mobile lifestyle pelanggan ketika berada di luar negeri. Pengguna BlackBerry bagi pelanggan kartuHALo dapat menggunakan beberapa layanan saat berada di delapan Negara, seperti free BlackBerry roaming bisa dinikmati di jaringan 8 mitra international roaming Telkomsel, yakni: SingTel (Singapura), Maxis (Malaysia), CSL (Hongkong), AIS (Thailand), Taiwan Mobile (Taiwan), China Unicom (Cina), Softbank (Jepang), dan Optus (Australia).

Untuk menikmati gratis layanan BlackBerry di luar negeri sangat mudah. Pelanggan hanya perlu membawa smartphone BlackBerry-nya, tidak perlu melakukan registrasi atau membeli paket khusus, karena layanan BlackBerry dalam promo ini sama dengan layanan yang sudah pelanggan nikmati ketika di Indonesia. Cukup merubah menu network selection ke mode manual, kemudian pilih operator mitra international roaming Telkomsel sesuai negara tujuan.
Pelanggan yang sudah berlangganan paket BlackBerry Unlimited di Indonesia tetap menikmati full services ini. (sih)

Delon-Yeslin: Siapa Mau Angpao?

Imlek tahun ini merupakan yang pertama kalinya bagi pasangan Delon dan Yeslin merayakannya secara sah. Dengan status mereka yang sudah menikah sekarang ini, tentu ada yang berbeda dalam perayaan Imlek pasangan selebriti ini.

“Yang pasti berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena tradisi orang Cina kalau sudah menikah boleh memberikan angpao, jadi seru aja ada pengalaman beda aja,” ungkap Yeslin.

Dijumpai saat sedang berbelanja untuk persiapan Imlek di MOI, Kelapa Gading, Jakarta Utara,  pasangan ini sedikit bercerita soal tradisi Imlek dalam keluarga mereka.

”Kalo dulu kan masih single, sekarang udah berdua. Jadi pemberian angpaonya adalah pemberian angpao pertama kita,” ujar Delon yang kala itu mengenakan kaos pink dibalut baju abu-abu berlengan panjang.

Tahun ini, pasangan Delon dan Yeslin pun sudah menyiapkan angpao dalam perayaan Imlek mereka.
“Kita mencari orang-orang yang mau diberikan angpao. Jadi mencari orang-orang yang belum menikah untuk dikasih angpao. Seperti ke teman-teman, keluarga,” ujarnya. (kpl/net)

Ratna Galih Nggak Pede Jadi Model

Ratna Galih mengaku sangat peduli dengan rambutnya. Bahkan ia mengaku lebih menyayangi mahkotanya itu ketimbang wajahnya. “Aku sayang banget sama rambut aku,” ujarnya.

Mantan kekasih Raffi Ahmad itu menilai, rambut adalah mahkota yang terpenting bagi seorang wanita. Karena itu, Ratna lebih banyak memiliki alat-alat perawatan rambut dibanding alat perawatan wajah di rumahnya.

“Karena banyak yang bilang rambut adalah mahkota wanita,” jelasnya.

Pemilik rambut panjang terurai itu pun mengaku rajin merawat mahkotanya itu. Dalam seminggu, dia bisa dua hingga tiga kali berkunjung ke salon.
Baru-baru ini, pesinetron ini berlenggak-lenggok ala model profesional di grand opening Salon T2. Meski bukan di atas catwalk, ia tampak luwes memamerkan busana dan rambutnya. Bagi Ratna, berlenggak-lenggok ala model merupakan pertama kalinya ia lakukan. “Kalau diajak acara gini aku malu,” aku Ratna.

Meski menyukai dunia fesyen, namun Ratna tak percaya diri memperagakan busana atau rambut seperti layaknya model profesional. “Pertama aku kurang tinggi. Aku nggak pede juga. Aku takut jatuh tapi untung berhasil tadi,” tandasnya. (rm/jpnn)

Pujakesuma Harus Mendunia

Perkenalan Pengurus Pusat dan Pelantikan Pengurus Wilayah Sumut

Organisasi Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) harus mampu mendunia. Dalam arti kata, kemanfaatan yang diberikan jangan hanya untuk kalangan sendiri, tapi untuk Indonesia dan bahkan untuk dunia. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan kerja keras dan keuletan, supaya apa yang diharapkan segera terealisasi dalam waktu yang tidak relatif lama.

Itulah pesan yang disampaikan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat Pujakesuma Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Drs Oegroseno SH, saat memberikan kata sambutannya dalam acara Perkenalan Pengurus Pusat Pujakesuma serta Pelantikan Pengurus Wilayah (PW) Pujakesuma Sumut, PW Wanita Pujakesuma Sumut dan PW Pemuda Pujakesuma Sumut Masa Bhakti 2011-2016 di Aula Madinatul Hujjaz, Asrama Haji Medan, Minggu (22/1).
Pada kesempatan itu, jenderal bintang tiga yang menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian Republik Indonesia (Kalemdikpolri) tersebut mengingatkan, semua anggota Pujakesuma untuk saling rukun, raket, regeng dan rumekso.

Itu dimaksudkan agar segenap pengurus dan anggota Pujakesuma, baik di Sumut maupun di daerah lainnya seperti, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau (Kepri) dapat bersatu dan menjaga silaturahmi serta menjaga keakraban.

Dalam kesempatan itu, Oegroseno juga mengingatkan kepada segenap pengurus Pujakesuma Sumut, untuk tidak menjadi orang yang sombong. Karena pada prinsipnya, jabatan yang disandangnya adalah sebuah amanah.

“Apa yang melekat, ketika kita sudah meninggal tidak dibawa. Setiap kita punya hati nurani. Dan hati nurani itu, tidak bisa dibayar, tidak bisa dihajar dan tidak bisa dihancurkan,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Majelis Pembina Pujakesuma Sumut Drs H Kasim Siyo menuturkan, visi Pujakesuma merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, yang diambil dari filosofi tubuh manusia.

“Filosofi tubuh manusia itu menyiratkan sebuah kerukunan, dimana tidak mungkin antara tangan kiri dengan tangan kanan saling melukai. Raket, tidak mungkin mulut akan menceritakan kejelekan anggota tubuh lainnya. Regeng, anggota tubuh tidak akan menyalahkan anggota tubuh lainnya dan rumekso tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Penasehat Pujakesuma Pusat yang juga mantan Menteri Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Adi Sasono memotivasi, Pujakesuma harus menjadi bagian dari masyarakat. Harus memegang prinsip jujur, mengasihi dan membantu masyarakat.

Dan Pujakesuma juga harus menjadi laboratorium sosial, untuk menyelesaikan masalah-masalah keadilan, kemiskinan dan sebagainya.
Beberapa hal yang ditawarkannya demi kemajuan Pujakesuma adalah Pujakesuma harus menjadi barometer perbaikan dunia pendidikan dan harus mampu menumbuhkembangkan dunia perekonomian.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga yang hadir pada kesempatan itu mengemukakan, etnis Jawa di Sumut memiliki jumlah yang signifikan. Sekitar 40 persen dari 14 juta jiwa penduduk Sumut. Jika ini dimaksimalkan, terorganisir secara baik maka akan memberikan hal positif, bukan hanya bagi Sumut tapi juga bagi Indonesia dan dunia.

Adapun Pengurus Wilayah (PW) Pujakesuma Sumut yang dilantik berdasarkan SK No.01/SK/Formatur/Mubes/III/PJK-K/2011/Tanggal 19 November 2011 antara lain, Ketua, Komisaris Polisi (Kompol) Drs H Joko Susilo. Sekretaris Rusmayadin Spd. Bendahara Drs Indra Bhakti Lubis.
Selain pengurus Pujakesuma Sumut, turut dilantik PW Pemuda Pujakesuma Sumut yakni ketua Danu Prayitno SE MM, sekretaris Bobby Oktavianus SE dan Bendahara Bambang W SE.

Sedangkan PW Wanita Pujakesuma Sumut diketuai Hj Nuraida Ngogesa Sitepu, Sekretaris Hj Sri Madonna SSos dan Bendahara Fitri Syam Sumarno. Turut hadir sejumlah tokoh Sumut dan bahkan tokoh nasional.(ari)

Ashraff Maklumi Foto Dugem Istri

Bunga Citra Lestari

Bunga Citra Lestari (BCL) siap kembali beraksi di panggung musik Tanah Air. Seiring dengan kesibukannya yang mulai padat, BCL justru menjadi perhatian karena foto-foto dugemnya di internet.

Gambar-gambar tersebut memperlihatkan BCL yang sedang menghabiskan waktu di sebuah klub bersama dengan teman-teman prianya.
Bagaimana komentar BCL soal foto-foto itu? “Buat aku kesal tapi gimana ya, mau marah juga gimana. Aku pilih nggak mempedulikannya,” katanya.
Pelantun Tentang Kamu ini tak mau terlalu memikirkan foto dugem. BCL menganggap itu bagian dari masa lalunya sehingga tak perlu dibesar-besarkan lagi.
“Setiap orang punya fase-fase dalam hidupnya. Itu juga udah lama jadi ya biasa saja,” ucap ibu satu anak ini.

Ditanya apakah dia sakit hati dengan orang yang telah menyebarkan foto-fotonya, BCL menjawab, “Aku lihat positifnya saja. Aku baru mau comeback, malah orang sibuk bicarakan aku.”

Beruntung, beredarnya foto-foto dugem itu tak membuat suaminya, Ashraff  Sinclair marah dan jadi perkara rumah tangga. “Keluarga sih menanggapinya biasa aja. Suami aku tahu itu masa lalu,” ujar BCL.

Bicara rumah tangga, sama-sama sibuk dan telah memiliki anak, nyatanya tidak mengurangi kemesraan BCL dan Ashraff. Keduanya selalu berusaha meluangkan waktu khusus. Mereka biasanya memilih kencan di tengah malam.  “Waktu pacaran sama Ashraff pasti ada. Kalau malam kosong, ya kita pacarannya midnight. Sejam atau dua jam, cukup,” kata BCL.

Meski cuma kencan sesaat, BCL dan Ashraff merasakan manfaat kebersamaan mereka. Keduanya tidak mengharuskan kencan di tempat mahal atau keluar rumah. (rm/jpnn)

Selamat Hadir Sang Naga Air

Gong Xi Fa Cai

Apa itu Imlek? Imlek tak ubahnya seperti tahun baru masehi atau tahun baru Hijriah bagi umat Islam. Imlek adalah Tahun Baru Cina. Pada umumnya, yang banyak merayakan Imlek adalah warga Tiongha. Namun bagi umat lain yang beraliran sama juga bisa merayakan Hari Raya Imlek. Tahun ini jatuh pada Senin, 23 Januari 2012 atau Imlek 2563 bagi orang Cina.

IMLEK di berbagai belahan manapun dimaknai sebagai tradisi pergantian tahun. Sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tiongha apapun agamanya. Setidaknya pengakuan itu disampaikan Sidharta, Ketua Walubi, masyarakat Tiongha Muslim yang juga merayakan Imlek.

Imlek disebut dengan Chung Ciea yang berarti Hari Raya Musim Semi. Hari Raya ini jatuh pada akhir bulan Januari dan bila di negeri Tiongkok, Korea dan Jepang ditandai dengan berakhirnya musim dingin. Dulunya, negeri Tiongkok dikenal sebagai negara agraris. Setelah musim dingin berlalu, masyarakat mulai bercocok tanam dan panen. Tibanya masa panen bersamaan waktunya dengan musim semi, cuaca cerah, bunga-bunga mekar dan berkembang.

Lalu musim panen ini dirayakan oleh masyarakat. Kegembiraan itu tergambar jelas dari sikap masyarakat yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, kepada keluarga, kerabat, teman, dan handai taulan. Gong Xi Fa Cai artinya selamat dan semoga banyak rezeki.

Adat ini kemudian dibawa oleh masyarakat Tiongha ke manapun dia merantau, termasuk ke Indonesia. Dulunya, pada masa Bung Karno, perayaan ini boleh dirayakan tapi ketika masa Orde Baru, perayaan Imlek dibatasi. Presiden Soeharto mengeluarkan SK yang isinya mengizinkan, namun dirayakan di tempat tertutup.

Sejak orde reformasi Imlek mengalami masamasa keterbukaan hingga sekarang. Imlek tak lagi sebatas dinikmati komunitas Tionghoa, namun melebar ke seluruh kota, berikut pernikperniknya: dodol, baju merah, angpao, dan tarian Barongsai. (Baca juga: Lebih Dekat dengan Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha Binjai) Kenapa Barongsai? Sejumlah literatur mengungkapkan tarian Barongsai sering ditampilkan dalam perayaan hari-hari besar Tionghoa, salah satunya saat perayaan Imlek. Menurut bahasa Cina, Sai artinya Singa dan dianggap sebagai ‘’raja binatang’’. Ceritanya dulu di Negeri Tiongkok, di setiap rumah pejabat tinggi ada dua patung Singa. Di samping untuk menjaga keselamatan, patung Singa dinilai membawa kemegahan, sekaligus juga membawa kebahagian dan rezeki. Entah apa sebabnya, Barongsai menjadi tarian pada setiap keramaian yang sifatnya agung.

*** Peringatan Imlek juga mempunyai beragam ornamen dan tradisi khas yang unik dan menarik.

Namun, bukan hanya sekadar tradisi turun- temurun, berbagai ciri khas Imlek ternyata memiliki filosofi tersendiri.

“Setiap kegiatan persiapan menjelang Imlek dan ketika Imlek, serta kuliner dan ornamen khas Imlek bukan tanpa alasan. Semua hal tersebut memiliki falsafah tersendiri,” kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Medan, Lily Tan kepada Sumut Pos, Rabu kemarin.

Misalnya, kata Lily, tradisi bersih-bersih rumah sejak seminggu sebelum perayaan Imlek.

“Bersih-bersih rumah ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan para dewa, seperti dewa rezeki dan dewa dapur,” ujarnya. Bahkan, lanjutnya, warga Tionghoa mengoleskan madu di mulut patung dewa yang ada di dapur (dewa dapur). “Madu itu kan manis. Hal ini bertujuan agar dewa dapur yang sudah datang akan memberitahukan berita yang baik-baik saja dalam rumah tersebut,” tutur Lily ramah.

Uniknya, ketika Imlek, warga Tionghoa justru dilarang untuk menyapu. “Makanya, bersihbersih harus dilakukan sejak seminggu sebelumnya.

Karena jika menyapu saat Imlek, rezeki yang sudah masuk ke dalam rumah tersebut, dikhawatirkan akan hilang,” kata Lily menjelaskan.

Sementara berbicara soal kuliner, Lily menyebutkan, kue keranjang sebagai salah satu panganan wajib ketika Imlek. “Kue dodol atau kue keranjang adalah makanan wajib ketika Imlek.

Pemilihan kue ini pun bukan tanpa alasan.

Menurut orang Cina, untuk merayakan tahun yang baru dengan makanan manis dipercaya sebagai pertanda baik untuk menjalani harihari selanjutnya,” ujarnya.

Lily menganalogikan Imlek Tiongkok atau Festival Musim Semi sama seperti Hari Natal di Barat adalah hari raya tradisional yang paling besar di Tiongkok. Meskipun seiring dengan perubahan zaman, isi yang terkandung dalam Imlek dan cara merayakannya sudah berubah, tapi Imlek dalam kehidupan rakyat Tiongkok tetap berposisi penting tak tergantikan.

Sebagai gambaran, Imlek Tiongkok konon sudah bersejarah 4.000 tahun lebih. Tapi pada permulaan, hari raya itu tidak disebut sebagai Imlek, dan juga tidak dirayakan pada hari yang tetap. Kira-kira pada tahun 2100 Sebelum Masehi, rakyat Tiongkok pada waktu itu menyebut rotasi Bintang Jupiter sebagai “Sui”, yakni satu tahun, maka Imlek pada waktu itu disebut sebagai “Sui”. Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, rakyat pada waktu itu menamakan Imlek sebagai “Nian”, dengan artinya panen.

‘’Menurut adat istiadat, Imlek dalam arti makro dimulai dari tanggal 23 bulan 12 Imlek, dan berlangsung sampai hari Cap Goh Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dengan masa perayaan berlangsung selama tiga minggu,’’ tutur perempuan cantik yang juga anggota DPRD Kota Medan tersebut.

Lain tempat, lain adat istiadatnya. Memang rakyat di berbagai daerah di Tiongkok mempunyai kebiasaan perayaan Imlek yang tidak sama, tapi tradisi seisi keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan Imlek pada malam tanggal 30 bulan 12 Imlek, yaitu malam menjelang Imlek adalah kebiasaan yang sama baik bagi penduduk di bagian utara maupun di selatan.

Memasang kuplet dan gambar tahun baru serta lampion berwarna-warni adalah kegiatan yang sangat digemari dalam menyambut Imlek.

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup rakyat, perayaan Imlek pun lebih bervariasi.

Berpelesiran ke luar negeri menjadi pilihan bagi rakyat Tionghoa yang punya uang berlebih.

Menyambut Imlek 2563 pun semarak di Kota Kisaran. Warga Tionghoa gotong-royong membersihkan lokasi ibadah, termasuk belanja pernak- pernik Imlek hingga memasang lampion merah di pertokoan.

Penjual pernak-pernik Imlek, A Hun kepada METRO (Sumut Pos Grup), Rabu (18/1) mengungkapkan tahun ini lampion Naga menjadi idola karena tahun ini bertepatan dengan tahun Naga Air. Pedagang pun berlomba menjual aksesori bersimbol Naga. Lampion Naga yang diimpor dari Cina itu diperolehnya dari agen di Medan dengan rata-rata harga Rp150 ribu per buah.

“Mendekati Imlek toko kami banyak dikunjungi pembeli dari Tanjungbalai, Batubara, dan Rantauprapat. Trennya memang lampion besar berujud patung Naga,” ujarnya.

A Hin (43), pelanggan yang rutin berbelanja aksesoris Imlek di toko A Hun, mengatakan, pernak-pernik Imlek di toko itu tergolong lengkap, termasuk alat-alat kebutuhan sembahyang, seperti Hio Kwan Im atau hio berbau wangi dengan harga bervariasi, mulai dari Rp48 ribu per kilogram hingga Rp23 ribu per buah. A Hin mengaku bersyukur perayaan Imlek kini sudah lebih lepas dan bebas ketimbang sebelumnya.

‘’Apalagi pemerintah sudah menetapkan hari Imlek menjadi hari libur nasional. Jadi kantor juga libur,’’ katanya tersenyum.

Di Tebing Tinggi, masyarakat etnis Tionghoa juga mulai sibuk menjelang perayaan Imlek.

Paling sibuk berbenah tentu saja Vihara Avalokites Vara. Vihara di Jalan Tengku Hasyim, Tebung Tinggi yang sudah berdiri sejak 100 tahun lalu itu terus bersolek menyambut tahun Naga Air 2563.

Tiga bangunan utama menyangga vihara tersebut yaitu, bangunan tempat beribadah, tempat penyimpanan abu jenazah, serta bangunan pagoda dengan ketinggian 35 meter. Ada pula bangunan khusus yang diperuntukan sebagai panti jompo dan klinik gratis. Menurut Suhu Dharma Surya, pengelola Vihara Avalokites Vara, panti jompo menerima siapa saja tanpa memandang suku, agama, dan ras. Begitu pula balai pengobatan alias klinik yang dibuka kepada siapa saja yang membutuhkan pengobatan secara gratis.

“Vihara Avalokites Vara ini terbuka untuk umum, maksudnya terbuka untuk bagi siapa saja yang ingin melihat lebih dekat vihara ini,” ungkap Suhu Dharma Surya kepada Sumut Pos.

Soal barang-barang bersejarah di vihara, Suhu Dharma menjelaskan, ada berbagai barang peninggalan yang berumur lebih dari 120 tahun dan dibawa langsung dari Tiongkok. Misalnya saja arca Dewa Kwanti Kong, kecapi, tambur, topi, alat musik gesek Rebab, alat tulis kuno, gigi ikan hiu gergaji yang sebagian barang itu ditempatkan di kaca agar dapat dilihat langsung oleh pengunjung.

Menyambut malam Imlek, menurut Suhu Dharma, vihara menggelar pertunjukan Barongsai dan melepaskan 108 buah lilin dalam lampion. Jumlah 108 itu melambangkan jumlah biji dalam tasbih umat Buddha, sedangkan makna pelepasan lampion adalah doa agar Tuhan memberikan kedamaian bagi seluruh umat beragama di dunia.

“Imlek tahun ini bertepatan dengan tahun Naga Air. Saya berpendapat negara ini akan subur dan setiap usaha pasti berjalan sukses,’’ yakin Suhu Dharma yang juga tercatat sebagai ketua Ontel Pedati Kota Tebing Tinggi. Harapan kita pun begitu. Semoga yang diyakini Suhu Dharman benar adanya. Gong Xi Fa Cai. Selamat hadir Naga Air ! (val/tms/adl/sus/spy)

Sembilan Tahun Juara Lokal, Kini Jawara di Kancah Internasional

Lebih Dekat dengan Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha Binjai

Tarian Barongsai jelas tidak asing lagi di telinga kita. Ya, Barongsai bisa juga dikatakan tarian singa atau tarian khas warga etnis Tionghoa. Bagi etnis ini Barongsai memiliki sejumlah makna filosofis. Dari ribuan tahun lampau hingga hari ini kesenian Barongsai bukan sekadar mengikat kebudayaan, namun kerap diperlombakan hingga ke perhelatan internasional.

Laporan: HAMDANI, Binjai

ITU pula kenapa Sumut Pos begitu antusias menyambangi kelompok Tarian Barongsai di Binjai yang diberi nama Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha. Kelompok ini biasa berlatih di Jalan Tengku Syehrukun, Binjai Kota. Jalan masuk yang kecil rupanya buka penghalang bagi kelompok kesenian ini untuk menorehkan prestasi besar hingga ke dunia internasional. Pintu gerbang bercat hijau menyambut kedatangan Sumut Pos di tengah suara dentuman piringan dan genderang para pemain yang tengah latihan.

Begitu memasuki areal latihan mata tertumbuk pada sebaris tulisan besar di dinding gedung latihan: “Kita Mau, Kita Bisa”. Inilah kalimat sakti yang menjadi cambuk bagi para pemain Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha hingga mengantarkan mereka sembilan kali juara tingkat Sumatera Utara.

‘’Tak akan ada prestasi tanpa latihan serius,’’ ujar Salimin Lie, pimpinan pelaksana Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, menjelaskan filosofi kalimat di dinding bangunan tersebut. Dia pun mengawali percakapan sore itu dengan menceritakan kembali sejarah berdirinya Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, kelompok Barongsai kebanggaan etnis Tionghoa di Binjai.

Sekilas dia mengingatkan bahwa tarian Barongsai dulunya dinikmati oleh kalangan raja yang ingin menggelar acara pesta, seperti pernikahan atau memberi nama anak. Tapi, kini Barongsai adalah kesenian milik masyarakat berbagai lapisan. Malahan, tarian Barongsai sudah menjadi seni dan olahraga.

“Barongsai menurut kepercayaan etnis Tionghoa bisa mengusir roh jahat, serta mendatangkan rezeki dan keberuntungan,” ungkapnya.

Itu pula spirit yang melatari kenapa sejumlah tokoh masyarakat etnis Tionghoa Binjai getol ingin membentuk Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha ini pada 1999 silam. “Karena dibentuk di Vihara Setia Budha, maka kelompok ini sepakat dinamai Grup Naga Barongsai Setia Budha Binjai,” ungkap Salimin, yang mengaku bergabung dengan kelompok tarian ini sejak tahun 2002. Selepas dibentuk deretan prestasi ditorehkan kelompok ini. Di tahun ketiga pembentukannya Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha menyabet nomor terbaik di salah satu perlombaan tingkat Sumatera Utara. Tak cuma merebut posisi terbaik, namun kelompok tarian ini tidak pernah melepaskan penghargaan nomor satu tersebut hingga sembilan tahun kemudian. Di tahun ke-10, kelompok ini memutuskan tidak ikut perlombaan untuk memberikan jalan bagi kelompok lain menikmati juara pertama.

“Usia kelompok ini terbilang muda saat juara pertama kali di Sumut. Kami pegang predikat juara pertama dari tahun 2002 hingga 2011. Tahun 2012 ini kami tak ikut biar yang lain juga bisa menikmati enaknya juara,” tukas Salimin tertawa.

Dia mengingat saat menjadi juara di tahun pertama dan kedua tidak ada tempat latihan yang permanen untuk kelompok tersebut. Melihat prestasi anak-anak Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, baru pada tahun 2004 sejumlah pengurus sepakat mendirikan tempat latihan yang menetap . Sejak itu kelompok ini semakin berlatih rutin dan serius hingga mendatangi berbagai tempat di dalam dan luar negeri. “Para pemain Barongsai kami sempat dilatih di Padang oleh Grup Himpunan Persatuan Teguh (HPT) pada tahun 2004, dan tahun 2005 dilatih di Malaysia oleh Grup Kong Sang Keng (KSK) yang pernah menjadi juara dunia,” Salimin menambahkan.

Tak puas dengan predikat juara satu di tingkat lokal, kelompok tarian ini lantas berpikir merambah kancah internasional. Atas sponsor dari berbagai pihak yang peduli kesenian tradisional, pada tahun 2006 Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha berangkat ke Singapura. Di negeri Singa itu pengalaman pertama berlaga di kancah internasional dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai pembakar semangat. “Keberangkatan kami ke Singapura memang untuk menambah pengalaman saja. Tapi kami cukup senang dapat urutan tujuh dari 12 tim yang bertanding,” katanya.

Sejak kepergian pertama ke Singapura, Salimin menceritakan, perjalanan kelompok tarian Barongsai yang diasuhnya itu di even internasional, mulai sulit dihitung dengan jari. Menurut Salimin, kelompok tarian itu sudah bolak-balik bertanding ke luar negeri. Mulai dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand, hingga ke Makao. Catatan prestasi yang ditorehkan setahun terakhir adalah juara dua dari 22 tim di Singapura dan juara tiga dari 14 tim dalam kompetisi Barongsai di Jakarta.

Sembari memamerkan foto-foto pertandingan sebelumnya, Salimin mengingatkan, kelompok Barongsai asuhannya akan mentas pada perayaan Imlek tahun 2563 ini. “Makanya sekarang anak-anak itu berlatih. Kami sekalian mempersiapkan alat-alat,” ujar Salimin seraya menginformasikan kelompok itu sudah memiliki koleksi 60 ekor Barongsai.

Sebagai kaderisasi pemain, Salimin mengatakan, kelompok itu juga rutin mengirimkan sejumlah pemain untuk berlatih di luar negeri. Terakhir kali ada pemain yang dikirim ke Malaysia untuk dilatih di pusat pembinaan Barongsai di sana.

Langkah besar di tahun 2013 mendatang adalah terbang ke Cina. Sebelumnya kelompok ini juga sempat mendapat undangan bertanding ke Honolulu, Amerika Serikat, namun gagal akibat ketiadaan dana.

Disinggung soal suppor Pemko Binjai, Salimin menggelengkan kepala. Dia berkata perhatian justru diberikan oleh Bupati Langkat saat mereka hendak berangkat ke Hongkong beberapa waktu lalu. “Karena kami didanai Pemkab Langkat ya, kami putuskan mengibarkan nama Langkat di even tersebut.

Padahal di berbagai kejuaraan internasional kami selalu membawa nama Binjai meskipun tak ada perhatian dari Pemko,’’ katanya.

Kelompok tarian Barongsai yang malang-melintang di perhelatan nasional dan internasional ini akhirnya mendapatkan dukungan dana dari Pemko Binjai dalam tahun-tahun terakhir. ‘’Itu pun setelah tahu Bupati Langkat mendanai kami.

Padahal di hati ini kami ingin sekali menjulangkan nama kota Binjai hingga orang=orang dari luar tertarik datang ke sini,” ucapnya. (*)

Kasus Amuk Penumpang, Heru-Lion Air Berdamai

Polisi Curiga Ada Unsur Pemaksaan

MEDAN- Kasus pemecahan kaca outlet Lion Air oleh Heru Frans Ziko Silaban (30) warga Komplek BP2IP, Sukadiri, Tangerang berujung damai. Kedua belah pihak tidak saling menuntut dan saling mengganti kerugian.

“Pihak Lion Air sudah mengganti kembali tiket Heru dan tidak ada dipungut biaya apa pun, hanya saja Heru harus mengganti kaca yang dipecahkannya karena itu milik BUMN, sedangkan biaya perobatan Heru akibat memukul kaca ditanggung bersama antara kedua belah pihak,” kata Staff Duty Manager OIC Bandara Polonia Medan, Ali Sofyan, di ruang kerjanya, Sabtu (21/1).

Menurut Ali, usai perdamaian, Heru kembali pulang malam itu juga dengan tiket yang diberikan Lion Air.”Heru sudah pulang tadi malam (Jumat, 20/1, Red) pukul 20.15 WIB ke Tangerang,” jelasnya.

Bagimana tentang laporan Lion Air di Polsekta Medan Baru? Menurut Staff Lion Air Polonia Medan, Yuzar Amrizal yang secara terpisah ditemui Sumut Pos mengatakan karena sudah terlanjur mengadu maka sepenuhnya diserahkan ke Polsekta Medan Baru. “Kasusnya memang sudah sempat dilaporkan ke Mapolsekta Medan Baru, Jumat (20/1) sore 14.30 WIB, tapi kan sudah ada perdamaian dengan Heru dengan Lion Air, kalau tindaklanjutnya silahkan tanya ke Pak polisinya saja bang,” bilangnya.

Kapolsekta Medan Baru, Kompol Dony Alexander SIk mengakui bahwa pihak Lion Air sudah melaporkan Heru ke Polsekta Medan Baru, Jumat sore sekitar pukul 14.30 WIB.

Saat ini, tambah Dony, pihaknya sudah memintai keterangan sejumlah saksi termasuk Heru, sendiri. “Semua sudah kita mintai keterangan dan kedua belah pihak sudah ada titik temu,” pungkasnya.

Bagimana dengan perdamaian kedua belah pihak, apakah kasus tetap lanjut? Mendengar pertanyaan wartawan koran ini, Dony kaget. “Wah, saya saja baru tahu dari kamu,” jawab perwira yang baru naik pangkat satu melati ini.

Kata Dony jika kedua belah pihak sudah berdamai, maka masalahnya selesai. Hanya saja, lanjut Dony, pihaknya berhak menyelidiki bentuk perdamaian yang dilakukan antara Lion Air dengan Heru.

“Kita dulu lihat bentuk perdamaiannya ada unsur paksaan atau tidak,” tegasnya sambil menutup pembicaraan.

Menanggapi amuk Heru yang meninju loket penjulan tiket Lion Air karena telat berangkat, Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi angkat bicara. Menurut Farid dalam permasalahan maskapai penerbangan, konsumen selalu dalam pihak yang terkalahkan. “Maskapai selalu diskriminasi terhadap konsumen. Mereka berlindung dengan aturan-aturan (SOP) yang sebenarnya dilanggar sendiri. Penumpang selalu saja dikalahkan dengan aturan yang dibuat mereka,” ucap Farid.

Dekan Fakultas Hukum UMSU ini menganjurkan konsumen yang merasa dirugikan seharusnya melakukan gugatan dengan mengadu ke badan penyelesaian sengketa konsumen (BPSK). “Setiap warga sebagai konsumen yang merasa dirugikan punya hak untuk melayangkan gugatan dan mengajukannya ke BPSK,” jelas Farid.

Dirinya juga mengungkapkan sistem perjanjian antara konsumen dan perusahaan maskapai banyak merugikan penumpang.

Dalam permasalahan ini, kata Farid, seharusnya pemerintahan mengambil sikap, sehingga warga yang menjadi konsumen mempunyai hak sewajarnya. “Pemerintah harus mengambil sikap dengan perjanjian antara calon penumpang dengan maskapai, agar penumpang mempunyai hak sewajarnya,” katanya. (jon/gus)

Tagih Utang Rp21 Juta Pegawai Panglong Digebuki Bos

MEDAN- Jui Siung alias Asiong (35) warga Jalan Pertempuran Lingkungan VI, Medan Barat dianiaya oleh bos kerjanya berinisial LJ di Jalan Pancing, Jumat (21/1). Asiong mengalami luka pada tangan, kaki, badan biru dan kepala bengkak akibat dipukul dengan benda tumpul.

Menurut Asiong penganiayaan yang dialaminya terjadi karena ia memiliki utang sebesar Rp21 juta pada LJ.

“Saya memang punya utang Rp21 juta kepada bos saya itu, tapi bukan seperti ini caranya, utang saya tetap saya bayar dan harapan saya agar pelaku diberikan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka karena kasus ini sudah saya laporkan ke Polresta Medan,” ratapnya saat di temui wartawan di lantai IV kamar 45 ruang Pavililon RSU dr Pirngadi Medan yang ditemani istrinya, Susi (34), Sabtu (21/1).

Sebelum kejadian, Kamis siangnya Asiong sempat ditelepon LJ untuk datang ke panglong guna membayar utang. Asiong menuruti perintah LJ, namun setibanya di Jalan Pancing ia kembali disuruh LJ untuk ke Hamparan Perak karena LJ menunggu di sana.”Sampai di Hamparan Perak dipukuli, saya gak terima kejadian ini,” kata korban.

Asiong juga mengaku bahwa dirinya sempat disekap dalam mobil. Ia diintrogasi sambil dianiaya. Belum puas dengan itu, Asiong kemudian diboyong pelaku ke Tanjung Morawa ke rumah saudara LJ, yakni LM. “Saat di rumah LM, di sana saya juga dianiaya pelaku lainnya selain LJ, LM ada lagi Aw dan Isk. Saya bahkan diancam mau dibunuh mereka,” sambungnya.

Dirinya lolos setelah empat pelaku menghubungi istri Asiong, Susi.

“Saya dipulangkan setelah saya berhasil mengambil heandpone saya yang sempat mereka simpan dan saya telepon istri saya. Saya pun dipulangkan mereka dan istri saya pun membawa saya ke RSU Pirngadi,” ungkapnya.

Susi memang terlihat mendampingi Asiong selama dalam perawatan Petugas Polresta Medan tampak menjaga pintu masuk kamar perawatan Asiong . “Tanyakan Kasat Reskrim saja untuk lebih pastinya bang. Saya di sini hanya bertugas menjaga saja,” kata petugas yang enggan namanya disebutkan.

Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol M.Y.Marzuki SiK tiba di RS Pirngadi.

Disinggung kedatangannya berkaitan dengan kasus Asiong, Yoris enggan berkomentar panjang. “Tidak ada apa-apa,” katanya. (jon)