27.6 C
Medan
Tuesday, January 20, 2026
Home Blog Page 14044

Laporan Keuangan Dishub tak Beres

Realisasi Anggaran Pemko Medan Cuma 87,54 Persen

MEDAN- Wali Kota Medan Rahudman Harahap marah-marah kepada beberapa Kepala Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) ketika mempimpin rapat evaluasi anggaran di jajaran Pemko Medan, Rabu (4/1). Pemicu ketidakpuasan Rahudman, karena beberapa SKPD tidak beres membuat laporan keuangan.

“Rahudman marah-marah dengan beberapa SKPD, karena masih banyak SKPD yang laporan keuangannya masih belum beres. Padahal, begitu tanggal 31 Desember, kas harus tidak ada nilainya,” kata seorang sumber di Balai Kota.
Dijelaskannya, beberapa SKPD yang dimarahi Wali Kota Medan adalah Kadis Pendidikan, Kadis Bina Marga dan yang paling tidak beres Kadis Perhubungan. “Diantara ketiga kadis yang dimarahi Pak Wali, hanya Kadis Perhubungan yang tidak bisa membereskan laporan keungannya. Di situ membuat Pak Wali marah besar dengan Kadis Perhubungan,” ujarnya.

Diketahui, setelah tutup buku anggaran 2011, serapan anggaran Pemko Medan secara keseluruhan hanya mencapai 87,54 persen. Sisa anggaran 2011 akan menjadi Silpa untuk anggaran 2012.

Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang dikonfirmasi wartawan koran ini usai melakukan rapat, mengakui ada beberapa  SKPD yang masih minim realisasi serapan anggarannya. Menurutnya, kalau secara akumulasi realiasasi anggaran memang melebihi target. “Seperti Dinas Perhubungan, pendapatan sangat minim dari target yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk pendapatan dari Dinas Pertanian dan Keluatan (Distanla) itu harus ditambah pendapatan dari tambak yang ada di Medan. Ke depan harus didata ulang, berapa tambak yang ada di Medan,” kata Rahudman.

Sejauh ini, lanjut Rahudman, masih ada SKPD yang belum bisa merealisasikan penerimaan APBD dengan maksimal. “Di sinilah tadi kita evaluasi, ada dinas yang belum bisa merealisasikan penerimaan, apa masalahnya, anggaran belanja kendalanya di mana,” cetus Rahudman.

Ketika disinggung, apakah Wali Kota cukup puas dengan kinerja SKPD yang dipimpinnya terkait realiasi anggaran dan  penerimaan anggaran, Rahudman justeru enggan berkomentar. “Itu tak usahlah ditanya, itu sudah domain saya,” ujarnya dengan berlalu yang menunjuk ke Sekda agar wawancara.

Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri menuturkan, realisasi anggaran tahun 2011 hanya mencapai 87,54 persen. “Selebihnya itu ada anggaran karena sisa tender, anggaran yang digunakan untuk efisiensi mungkin juga karena adanya kesalahan perhitungan, dan keseluruhan sisanya akan menjadi silpa yang bisa digunakan untuk anggaran tahun ini,” jelas Syaiful.

Dijelaskannya, sisa anggaran tahun 2011 ini disebabkan adanya efisiensi dalam implementasi pendapatan, selain itu karena disebabkan adanya faktor internal dan eksternal. Ada beberapa SKPD yang memang realisasi anggarannya dinilai belum maksimal. Namun, Syaiful belum tidak bisa merincinya.

“Memang ada beberapa itu. Seperti Dishub itu ada kekurangan penerimaan, makanya pak Wali minta supaya di data kembali, itu karena faktor pendataan, Disperindag juga karena adanya factor peraturan yang menyatakan ada PAD yang tidak bisa lagi dikutip Disperindag, begitu juga BLH mungkin karena datanya belum lengkap,” terang Syaiful.

Pengamat anggaran di Sumut, Elfenda Ananda menyebutkan, tingginya silpa anggaran jelas akan berdampak bagi pemerintah dan masyarkaat. Menurutnya, Silpa yang disebabkan efisiensi anggaran memang wajar saja. Namun, nilai wajarnya juga hanya 5 persen dari nilai APBD. Artinya, kalau efisiensi anggaran mencapai di atas 5 persen, ini juga sudah terjadi perencanaan anggaran yang salah.

“Nilai wajar efisiensi anggaran itu 5 persen, kalau di atas itu berarti ada perencanaan yang salah. Memang perencanaan itu tidak bisa sesuai dengan harga riilnya 100 persen. Kalau sesuai dengan harga riilnya berarti itu juga tidak benar. Namun, yang bisa ditolerir kesenjangan harga yang dianggarkan dengan harga riil itu hanya 5 persen,” terang Elfenda.
Sedangkan, silpa yang disebabkan adanya upaya mark up dijelaskannya, hal ini juga pernah terjadi di Kabupaten Batubara. “Kasus kabupaten Batubara pernah mengendapkan anggaran untuk dibungakan sehingga menjadi silpa, ini merupakan satu upaya untuk me mark up anggaran,” sebut Elfenda.

Banyaknya silpa ini kata Elfenda tentu memiliki efek domino terutama untuk perekonomian, social dan politik. Dampak perekonomian disebutkan Elfenda, jika anggaran lambat terealisasi, maka pembangunan juga lambat dan perekonomian tak berjalan dengan baik. “Dampak social tentunya masyarakat yang seharusnya bisa menikmati pembangunan di awal tahun terpaksa baru bisa menikmatinya di akhir tahun,” katanya.

Begitu juga akan berdampak politik bagi pemerintah. “Ini akan menjadi citra buruk bagi pemerintah yang berkuasa. Masyarakat akan terus bertanya kapan realisasi pembangunan jalan dan lainnya. Kalau masyarakat terus bertanya tentu semakin lama akan mencuatkan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan,” tegas Elfenda.(adl)

Urus e-KTP Tak Perlu Pulang Kampung

JAKARTA- Ini kabar baik bagi para perantau atau pun anak kos yang belum mengurus pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Mereka yang ber-KTP daerah asal, tak perlu repot-repot pulang kampung untuk mengurus e-KTP.
Ini merupakan ketentuan teranyar, yang dikeluarkan Mendagri Gamawan Fauzi, yang dituangkan dalam bentuk Surat Edaran (SE) tertanggal 30 Desember 2011, ditujukan kepada seluruh gubernur dan bupati/wali kota. “Misalnya anak kos, tak perlu pulang kampung. Masukkan saja nama ke KK (Kartu Keluarga)-nya ibu kos, urus saja e-KTP di tempat itu,” terang Gamawan Fauzi di press room Kemendagri, Rabu (4/1).

Dalam SE diatur mekanismenya. Yakni, penduduk wajib KTP itu lapor ke petugas pelayanan pembuatan e-KTP  dengan membawa Surat Keterangan dari Ketua RT/RW yang diketahui oleh lurah/kades yang menyatakan penduduk dimaksud berdomisili secara riil di lingkunagn RT/RW setempat.

Ketentuannya, bagi penduduk yang sudah punya Nomor Induk Kependudukan (NIK) di daerah asal, maka NIK-nya diambil dari NIK yang lama itu. Bagi yang belum punya NIK, harus mengisi formulir biodata penduduk.
Disebutkan juga bahwa di KK yang ‘ditumpangi’ warga pendatang itu, satu KK boleh ada warga yang tidak punya hubungan darah.  Bila e-KTP sudah diproses, database penduduk yang tercatat di daerah asalnya, harus dihapus. (sam)

Dewan Minta Kadishub Medan Mundur

Traffic Light Padam

Ketidakseriusan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan dalam menyikapi kondisi traffic light di Kota Medan, membuat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan geram. Pasalnya, anggaran yang sudah disetujui oleh angota Dewan sebesar Rp741.728.500 dari APBD tahun 2011 untuk perawatan 153 traffic light tidak kunjung dilakukan.

“Apa alasannya sehingga traffic light di Kota Medan masih banyak yang rusak, seharusnya Dishub menyediakan peralatan untuk melakukan perawatan terhadap traffic light,” kata angota Komisi D DPRD Medan, Irwan Sihombing kepada Sumut Pos, Rabu (4/1) siang. Dikatakanya, Dishub jangan bermain-main dengan anggaran RAPBD 2011 yang merupakan uang rakyat untuk dikerjakan yang sifatnya untuk memberikan pelayanan kepadamasyarakat. “Jangan sampai anggaran untuk perawatan traffict light dialihkan ke hal yang lain. Itu sudah melanggar undang-undang. Dishub harus tegas kemana saja anggaran tersebut digunakan,” ujar Irwan.

Menurutnya, Kepala Dinas Perhubungan Medan Syarif Armasyah Lubis alias Bob memang tidak siap dalam menggunakan anggaran yang diharuskan sudah selesai pada tahun 2011 kemarin. “Dari awal saya sudah bisa menebak kalau Kadishubnya si Armansyah memang tidak siap menjadi Kadis karena tidak mengerti dengan penggunaan anggaran. Sebaiknya Kadishub mundur saja,” pintanya.

Dijelaskannya, DPRD Medan yang sudah mensyahkan anggaran yang sudah dibuat oleh Dishub Medan untuk perawatan traffict light harus benar-benar dilaksanakan. “Itu anggaran yang sudah disyahkan oleh dewan adalah uang rakyat. Jadi harus benar-benar dilaksanakan agar masyarakat bisa menikmati pelayanan yang sudah diberikan. Sekali lagi saya ingatkan, jangan sampai anggaran tersebut digunakan ke bidang lain. Karena akan kita periksa kepala Dishub dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Medan,” ucapnya lagi sembari menambahkan akan melakukan pemanggilan terhadap Kadishub dalam waktu dekat.

Sementara Kadishub Medan Syarif Armansyah Lubis saat akan ditemui usai rapat Anggaran bersama Wali Kota Medan di Balai Kota, dia berusaha menghindari wartawan. Sejak keluar dari ruang rapat I, Armansyah mengintip-ngintip melihat wartawan dan berusaha mengelak dari kejaran wartawan.

Ketika wartawan sedang wawancara dengan Wali Kota Medan, Armansyah memanfaatkannya untuk meninggalkan Balai Kota Medan dengan terburu-buru turun dari tangga dan langsung menuju mobil pribadinya yang sudah ditungu oleh supirnya.

Untuk bisa melakukan konfirmasi mengenai anggaran yang sudah berjalan di tahun 2011 terhadap perawatan traffict light di Kota Medan, Armansyah juga tidak mau mengangkat telepon selulernya yang sudah dihubungi berkali-kali. Di SMS pun Armansyah juga tidak mau membalasnya.(adl)

30 Kelurahan Miskin Jadi Prioritas Pemko

Tahun ini, Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan memfokuskan pembangunan di 30 kelurahan miskin di Kota Medan. Seperti apa dan apa saja program pemko lainnya di 2012? Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos Adlansyah Nasution dengan Kepala Bappeda Kota Medan Zulkarnain, Rabu (4/1).

Apa saja program yang menjadi prioritas Pemko Medan di 2012?
Program-program yang kita fokuskan di 2012 mendatang lebih kepada dampak sosial ekonomi masyarakat. Salah satunya, program penanggulangan kemiskinan yang secara khusus kita alokasikan di 2012 ini dengan anggaran puluhan miliar. Karena itu merupakan isu pembangunan yang paling pokok setiap daerah. Di 2012, kita akan lebih terintegrasi dan terpadu pada seluruh program-program lintas SKPD.

Apa saja yang utama dari program itu?
Program penanggulangan kemiskinan, akan difokuskan pada 30 kelurahan dari 151 kelurahan di Kota Medan yang masih tergolong miskin. Sebagian besar kelurahan tersebut berada di bagian Utara Kota Medan. Caranya, dengan melakukan pembenahan terhadap kawasan pemukiman kelompok masyarakat miskin dan meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan berbagai pelatihan UMKM.

Selain itu apa lagi?
Masalah infrastruktur juga menjadi prioritas. Salah satunya dengan memperhatikan perbaikan dan rehabilitasi saluran drainase yang dianggarkan pada APBD 2012 sebesar Rp170 miliar. Hal itu dilakukan mengingat sejumlah persoalan seperti genangan air saat musim penghujan turun merupakan masalah yang cukup serius. Kalau untuk infrastruktur jalan sudah baik dan akan menjadi perhatian Pemko di tahun 2012. Karena mayoritas jalan kota saat ini sangat baik dari sebelumnya. Tujuan kita yang utama di 2012 adalah meningkatkan kualitas jaringan drainase di Kota Medan agar dapat menurunkan intensitas genangan air di beberapa titik teratasi dengan baik.

Apakah cuma kemiskinan dan drainase saja yang menjadi fokus pemko?
Pembangunan yang dilakukan Pemko Medan tidak hanya terfokus pada persoalan isu kemiskinan dan drainase saja, namun juga permasalahan kesehatan seperti pelayanan kesehatan, pelayanan publik sampai masalah gizi kurang dan gizi buruk.

Jadi tidak hanya itu, kita juga memfokuskan pembangunan di 2012. Sampai pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun pelayanan publik lain. Di sinilah kita mengharapkan peran serta masyarakat yang lebih luas dalam bersama-sama membangun Kota Medan menuju kota metropolitan.(*)

Target Curi Poin

Pelita Jaya vs PSMS

MEDAN- PSMS akan melakoni laga away perdana di kompetisi Indonesian Super League (ISL). Lawan yang ditantang adalah Pelita Jaya di Stadion Singaperbangsa Kerawang Kamis (5/1) malam.

Pelatih PSMS Raja Isa merasa yakin timnya bisa meraih angka. “Meraih tiga poin merupakan target semua tim dalam satu pertandingan. Walau di atas kertas Pelita Jaya lebih baik dari kita, namanya sepak bola, apapun bisa terjadi,” katanya kemarin.

Menurutnya, tiga poin merupakan satu keharusan dalam mendongkrak posisi PSMS di papan klasemen sementara. Hal itu menurut Raja Isa juga merupakan tren positif dalam menjaga mental tim.

Raja Isa menuturkan, pada laga kali ini timnya memiliki modal penting saat berhasil menahan Mitra Kukar dan mengalahkan Persisam yang juga merupakan tim bertabur bintang di dua laga kandang lalu. “Jadi saya sudah doktrin semua pemain agar memberi permainan terbaiknya hingga peluit panjang ditiupkan,” ujarnya.

Menanggapi tim lawan yang mempunyai sederet bintang seperti Safee Sali, Greg Nwokolo dan Egi Malgiansyah, Raja Isa tetap tenang. “Sekalipun tim itu dipenuhi pemain-pemain bintang, pasti punya kelemahan. Kita harus memanfaatkan celah itu,” jelas pelatih berkebangsaan Malaysia itu.

Pelatih yang sempat membesut Persiram dan Persipura itu menginstruksikan timnya untuk bermain lebih sabar serta meminimalisir kesalahan. Hal tersebut diungkapkannya mengingat Pelita Jaya mempunyai kelebihan dalam eksekusi-eksekusi bola mati. Selain itu, ia juga mengingatkan pemain-pemainnya untuk memberikan perhatian lebih kepada Greg dan Safee Sali.

“Kita akan mencoba bermain lebih sabar dan mengantisipasi eksekusi bola-bola mati dari Pelita. Mereka punya kelebihan dalam urusan bola mati. Selain itu, tentunya pergerakan Safee Sali dan Greg harus diwaspadai. Permainan Pelita Jaya cukup banyak bergantung kepada kemampuan individu kedua pemain,” tuturnya.
Sementara itu, dari kubu Pelita Jaya, pelatih Djajang Nurdjaman juga menargetkan raihan poin penuh. Berita seputar Diego Michels yang kini merebak, diakuinya tak sedikitpun mempengaruhi kondisi tim baik secara psikis maupun teknis.
“Semua tim yang berlaga di kandang pastinya menargetkan kemenangan. Begitu juga kami. Apalagi semua pemain dalam kondisi fit dan siap untuk diturunkan. Mengenai masalah Diego Michels, tak sedikitpun mempengaruhi persiapan tim menjelang laga ini,” kata Djajang.
Kendati kondisi tim berada dalam posisi siap, Djajang tetap mewaspadai fighting spirit PSMS. Menurutnya, di manapun bermain, PSMS selalu menunjukkan permainan ngotot dan daya juang yang tinggi. “Secara individu, PSMS memiliki pemain bagus seperti Saha, yang harus mendapat perhatian serius. Namun, senjata utama PSMS yang harus lebih diwaspadai adalah fighting spirit anak-anak Medanyang penuh daya juang dalam setiap pertandingan,” tandasnya. (saz)

Diego Tolak PSMS IPL

JAKARTA- Teka-teki kemana Diego Michiels berlabuh akhirnya terkuak. Bukan balik ke Belanda seperti yang diucapkannya, tetapi Diego memilih bermain di Persija Jakarta IPL. Kemarin (4/12), mantan pilar Pelita Jaya Karawang tersebut bahkan sudah menjalani latihan perdana di bawah komando Jaya Hartono di Lapangan PSAU, Halim Perdanakusuma Jakarta.

“Saya mau ke Persija karena klub ini diakui FIFA. Saya datang ke Indonesia untuk membela Timnas. Saya senang dengan klub ini karena pemain lain terbuka dan fun terhadap saya,” ujar Diego setelah latihan kemarin.

Klub berjuluk Macan Kemayoran itu juga sedang mengupayakan agar Diego bisa memperkuat tim saat bersua Arema Indonesia di Stadion Manahan Solo 7 Januari lusa. Manajer Persija Ardhi Tjahjoko menyatakan, keberadaan Diego di lini belakang diharapkan bisa membantu mewujudkan target juara musim ini.

Sebelumnya, kubu PSMS IPL lewat CEO Freddy Hutabarat berkoar ingin mendapatkan Diego. Bahkan kabarnya nego sudah digelar sejak akhir 2011 lalu. Kini Freddy harus gigit jari.  “Memang angka yang ditawarkan cukup tinggi bagi kami, tapi semuanya masih bisa masuk dalam ranah negosiasi dan jika cocok, kami akan bawa dia ke Medan,” katanya kemarin. (ru/aam/jpnn)

Dipukuli Membabibuta hingga Bola Mata Hampir Keluar

Nasib Tragis Amar Abdullah, Anak Medan Jadi Korban Penganiayaan yang Malah Ditahan

Kisah Amar Abdullah ini bak pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga. Dia menjadi korban pemukulan hingga bola mata kanannya hampir copot. Sudah begitu, dia ditahan karena dilaporkan oleh si pemukul dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta

Raut wajah Amar Abdullah muram. Wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam. Lelaki 38 tahun itu tidak bisa menyembunyikan kegundahan jiwanya karena kehilangan mata sebelah kanan. Dia pun masih harus meringkuk di balik terali besi gara-gara persoalan sepele.

Amar ditemui Jawa Pos (grup Sumut Pos) di salah satu hall Rutan Cipinang, Jakarta Timur, bersama istrinya, Sri Hayati Safitri, dan tim pengacara. Tim tersebut terdiri atas Akhmad Muthosim dan Ali Alwin Al Gaiti dari Firma Hukum Jurnalis serta Ponto dan Wahyudi dari Kantor Hukum Yuherman dan Partner. Para advokat itu mendampingi Amar secara prodeo alias gratis.

Selain empat advokat tersebut, lebih dari lima pengacara lagi ikut membekingi Amar. Mereka bukan pengacara ecek-ecek. Muthosim dan Ali Alwin, misalnya, pernah disewa PT Lapindo Brantas untuk menangani kasus perusahaan tersebut di Jawa Timur. Mulai kasus pidana hingga ganti rugi tanah.

Saat ditemui, penampilan Amar sangat kontras. Mengenakan kaus oblong dan celana training, badannya terlihat segar dan tegap. Kondisi berbeda terlihat pada sepasang mata Amar. Dua mata lelaki kelahiran Medan tersebut tampak tidak simetris.

Mata sebelah kanan membuka dengan tidak sempurna. Hanya separo. Begitu dilihat lebih cermat, retina yang seharusnya berwarna putih tampak merah keruh. “Kalau mata saya yang kiri saya tutup, saya tidak bisa melihat apa-apa. Yang ada hanya gelap,” katanya dengan suara pelan.

Lelaki yang bekerja sebagai instruktur fitness itu kini hanya mengandalkan mata kiri untuk melihat. Mata kanannya sama sekali tidak berfungsi. Kalaupun dipaksa dengan disorotkannya senter dalam jarak dekat, yang terlihat hanya kerlip-kerlip kuning seperti kembang api.

Peristiwa yang merenggut separo penglihatan Amar itu terjadi pada 11 Juli 2011. Sekitar pukul 14.30, dia berangkat bekerja di pusat kebugaran Platinium di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Dia berjalan di antara gang-gang kecil perkampungan di Jalan Kayu Manis, Matraman.

Nah, saat Amar melintas di depan rumah Fenly Tumbuan, anjing Fenly tiba-tiba menyalak. Amar terkesiap dan kaget bukan kepalang. Karena refleks, dia menendang pintu rumah Fenly. Saat itu, papar Amar, pintu pagar Fenly memang agak terbuka. Daun pintunya mengarah ke jalan gang. “Saya refleks saja karena kaget ada anjing menggonggong,” ungkap dia.

Tendangan Amar ke pagar, rupanya, sangat keras. Suaranya membuat seisi rumah Fenly kaget. Tiona Pangaribuan, istri Fenly, langsung keluar rumah karena penasaran. Begitu melihat Amar ngeloyor pergi, Tiona meminta Amar berhenti. “Kalau punya anjing, diikat dong,” ucap Amar, yang lantas melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja kala itu.

Tiona pun melapor kepada Fenly. Tak lama kemudian, Fenly membuntuti Amar. Saat berjalan, Amar melihat Fenly memainkan tangan seperti hendak memukul. Baru ketika sampai di sebuah gang kosong, Amar memberanikan diri untuk berbalik dan bertanya kepada Fenly.”Mau apa kamu? Saya mau berangkat kerja. Jangan ikuti saya,” kata Amar kepada Fenly. Fenly tiba-tiba membalik tubuhnya. Dia seperti memasang sesuatu di jari-jarinya. Sejurus kemudian, Fenly menyerbu dan memukul Amar tepat di bola mata secara membabi buta.Amar lantas kolaps. Dia tak bisa melihat Fenly dengan jelas. Fenly lantas meninggalkan Amar yang sudah tak berdaya. “Saya memaksakan mata kiri saya untuk melihat, lalu menelepon saudara saya untuk menjemput saya,” tutur Amar.

Amar kemudian dibawa ke salah satu klinik di Matraman. Tetapi, klinik menolak dan merekomendasikan Amar dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta Timur. Rumah sakit menolak karena peralatan tidak memadai. Mereka meminta Amar ditangani langsung oleh dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sebelum sampai di RSCM, Amar menyempatkan diri melapor ke Polsek Matraman. Tak disangka, di tempat yang sama Fenly sudah melaporkan Amar dengan pidana perbuatan tidak menyenangkan. Saat itu, polisi yang piket menanyakan penyebab mata kanan Amar terluka parah. “Dia yang bikin saya begini,” ucap Amar, yang lantas melaporkan Fenly dengan tuduhan penganiayaan berat. (*)

Bermodal telepon genggam DA (30), warga Jalan Sei Serayu mampu mengelabuhi korbannya dengan menawarkan satu unit IPAD senilai Rp2,6 juta. Namun setelah uang diterima, barang yang dijanjikan ternyata tidak ada alias fiktif.

Untungnya, penipuan itu berhasil digagalkan karena ATM penipu tersebut terblokir.
Aksi penipuan tersebut dilakukan DA terhadap Dini (30), warga Jalan Pasar 1 Tengah, Keluruhan Tanah 600, Kecamatan Medan Marelan. Namun aksi tersebut terhendus korban yang sudah curiga terhadap pelaku dan melaporkannya ke Polsekta Medan Baru.

Menurut Dini yang didampingi suaminya Dedi, di Mapolsekta Medan Baru, Rabu (4/1) pagi, menceritakan kejadian yang dialaminya. Penipuan itu terjadi Selasa (3/1) sore pukul 15.00 WIB. Pelaku menelpon korban dengan mengaku sebagai teman korban yang bernama Lambot, warga Siantar dan saat ini tinggal di Jakarta. Korban yang kenal dengan nama Lambot mempercayai ucapan pelaku.

Kemudian pelaku menawarkan satu unit IPAD seharga Rp3 juta. Lantas Dini menawar barang tersebut, akhirnya disepakati Rp2,6 juta. Lantas sore harinya, wanita bertubuh langsing yang berkerja sebagai MC di berbagai even yang digelar di Kota Medan ini langsung mentransfer uang ke rekening pelaku.

Setelah itu, dia menghubungi temannya yang bernama Lambot yang tinggal di Jakarta. Namun saat ditelepon, Lambot kaget dan membantah kalau dia ada menawarkan IPAD. “Aku curiga setelah menelpon teman aku si Lambot yang asli, dia mengku tidak ada menelpon saya, apa lagi menawarkan IPAD,” jelas Dini.

Barulah dia sadar kalau dirinya telah ditipu. Keesokan harinya, Dini menghubungi rekannya yang bekerja sebagai Teller BRI untuk memblokir transfer uang korban. Hal ini dilakukan teman korban, kemudian pelaku yang hendak melakukan penarikkan di bank tersebut tidak bisa sehingga Pin ATM pelaku terblokir.

Kemudian pelaku sempat menelpon korban dengan berkata uang tidak bisa transfer, korban pun mengatakan sudah ditransfer uangnya.

Korban yang didamping suami langsung menuju BRI di Jalan Ayahanda Medan, akhirnya pelaku diamankan petugas keamanan bank dan korban, selanjutnya pelaku diboyong ke Mapolsekta Medan Baru. Dari tangan tersangka juga terdapat senjata tajam yang dikantongi Pelaku.

Sementara pelaku yang berprofesi sebagai sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kota Siantar ini mengaku baru sekali melakukan aksi tersebut. Dia mengaku disuruh temannya bernama Bondan.(gus)

Kembalikan Masjid Al-Ikhlas di Lokasi Semula

MEDAN- Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara pembela Mesjid Al-Ikhlas menolak rencana pembangunan masjid di Jalan Timor Ujung, Kelurahan Gaharu, Medan Timur, oleh Kodam I/BB. Rencananya, peletakan batu pertama pembangunan masjid tersebut dihadiri Pangdam I/BB Mayjen Lodewijk F Faulus hari ini, Kamis (5/1) pukul 09.00 WIB.

Aliansi Ormas Islam Sumut menilai, masjid yang akan dibangun tersebut tidak ada hubungannya dengan Mesjid Al-Ikhlas yang telah runtuh beberapa waktu lalu. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Pangdam I/BB saat melakukan pertemuan dengan Presidium Aliansi Ormas Islam Sumut, beberapa waktu lalu.

Ketua Presidium Aliansi Ormas Islam Sumut Drs Leo Imsar Adnans melalui sekertarisnya Drg M Syahbana mengatakan
dalam udangan Pangdam I/BB untuk acara peletekkan batu pertama pembangunan masjid tersebut dicantumkan dalam mata acaranya peletakkan batu pertama pembangunan Masjid Al-Ikhlas Jalan Timor Medan. “Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Pangdam bahwa masjid yang dibangun tidak ada hubungannya dengan mesjid Al-Ikhlas yang telah dirubuhkan,” ucap Syahbana kepada wartawan di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Rabu (4/1) siang pukul 12.00 WIB.

Karenanya, Aliansi Ormas Islam Sumut tidak akan menghadiri pembangunan Masjid Al-Ikhlas yang dibangun persis di SMP Negeri 37 Medan ini. “Kita tidak akan hadir dalam acara tersebut, hal ini dilakukan untuk mencegah keselahpehaman atau opini yang merugikan perjuangan pembangunan kembali Masjid Al-Ikhlas di lokasi semula,” tegas Syahbana.

Dia juga menjelaskan, di areal pembangunan masjid yang akan dibangun itu, sudah ada tiga masjid yang berdiri yakni masjid Yayasan Perguruan Medan Putri, masjid IAIN dan Masjid Baituhrahman Jalan Gaharu. Jarak ketiga mesjid tersebut hanya sekitar 100 hingga 300 meter dari masjid yang akan dibangun Kodam I/BB tersebut.

“Seharusnya pembangunan masjid ini bisa dilihat dari lokasi dan keberadaannya. Masjid sudah ada, tapi dibangunan lagi masjid. Lebih baik dibangun di luar Kota Medan seperti di Sibolga maupun daerah yang masih sedikit tempat ibadah untuk orang muslim,” jelas Syahbana.

Kemudian Syahbana juga meminta kepada pemerintah dan instansi terkait, jangan mengorban tempat ibadah untuk pembangunan atau kepentingan kapitalis. “Kita meminta jangan ada lagi perobohan masjid. Mungkin saja di kemudian hari, Masjid  Agung dirobohkan untuk pengembangan, kemudian direlokasi. Hal ini bukan mengedepan kepetingan ibadah, malah mengedepan kepetingan pihak kapitalis,” ungkap Syahbana.

Untuk itu, pihaknya tetap meminta agar Masjid Al-Ikhlas dibangun di tempat semula dan tidak ada relokasi Masjid Al-Ikhlas ke lokasi lain. “Kami tetap memperjuangkan Masjid Al-Ikhlas tetap berdiri di lokasi semula,” pungkasnya.
Penolakan serupa juga disampaikan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiya (DPP IMM). DPP IMM menyesalkan rencana peresmian Masjid Al-Ikhlas baru sebagai pengganti Masjid Al-Ikhlas lama yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Timor Medan oleh Pangdam I/BB, Mayjen TNI Lodewijk Freidrich Paulus. “Rencana peresmiannya besok (hari ini), Kamis (5/1) dengan mengundang sejumlah tokoh agama dan masyarakat,” kata Wakil Bendahara DPD IMM Amirullah.

Menurut Amir, walaupun lokasi pemindahaan Masjid Al-Ikhlas masih berada di Jalan Timor, namun letaknya sudah berbeda. Artinya, kekeuhkuhan beberapa organisasi dan tokoh agama yang terus memperjuangkan Masjid Al-Ikhlas untuk tidak dibongkar akhirnya runtuh demi kepentingan pengembang yang membangun perumahaan di Jalan Timor itu. “Inikan sama saja dengan penghinaan, kami secara pribadi tidak terima manuver yang dilakuka Pangdam  seolah-olah memihak pengusaha,” ketus Amir.

Untuk itu Amir mengimbau seluruh umat beragama untuk tidak menghadiri acara peresmian pemindahaan Masjid Al-Ikhlas itu. DPP IMM khawatir jika peresmian masjid tersebut berlangsung akan menjadai contoh kepada rumah ibadah lainnya yang bisa digusur sesuka hati demi kepentingan pengusaha. “Seharusnya Pangdam pro kepada masyarakat, apalagi ini menyangkut rumah ibadah,” terangnya. (gus)

Sepeda Raksasa Rp30 Juta

CINA- Sebuah sepeda raksasa berhasil dibuat oleh warga Jilin, Provinsi Jilin, Cina. Pembuat sepeda itu adalah Zhang Yali, usianya 49 tahun. Ukuran sepeda ini memang luar biasa besar. Tingginya mencapai 3,2 meter, sedangkan panjang 5,5 meter. Beratnya mencapai satu ton.

Sepeda ini memiliki dua roda raksasa. Selain itu, masih ditopang dengan dua roda dengan ukuran lebih kecil di bagian samping. Seperti yang lainnya, sepeda buatan Zhang Yali ini juga memiliki pedal kayuh lengkap dengan rantai sebagai penggerak.

Pengendara bisa duduk di sadel yang didesain menyerupai jok mobil. Tempat duduk lainnya ditaruh di bagian samping bawah. Di bagian belakang dipasang aksesoris berupa patung.

Untuk membuat sepeda ini, Zhang menghabiskan waktu sekitar dua bulan. Biaya yang dihabiskan mencapai US$3.156 atau hampir Rp30 juta.

Rencananya, sepeda ini akan dihadiahkan untuk anak Zhang Yali, seorang kartunis yang berusia 25 tahun yang tinggal di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Menurut keluarga Zhang, sepeda ini akan dikayuh dari Jilin ke Shenzen. (art/net/bbs)