25 C
Medan
Sunday, January 18, 2026
Home Blog Page 14076

Viky Sianipar Ke Samosir untuk Syuting

Sebagai musisi berdarah Batak yang konsisten mengusung nama Danau Toba dalam karya-karyanya, Viky Sianipar justru tidak ambil bagian dalam pagelaran Pesta Danau Toba (PDT) yang akan dimulai hari ini (27/12).

“Saya nggak ikut pentas. Memang saya besok (hari ini, red) di Samosir, tapi bukan untuk Pesta Danau Toba. Saya kebetulan lagi syuting klip album terbaru saya, Tobatak, yang akan dirilis 6 Januari mendatang,” ujar Viky Sianipar saat dihubungi Sumut Pos dari Jakarta, Senin (26/12).

Meski tak terlibat langsung dalam PDT, musisi Batak kelahiran Jakarta, 26 Juni 1976, itu, tampaknya mengikuti betul perkembangan PDT dari tahun ke tahun. Dia juga mencermati kritikan-kritikan terkait PDT yang menurut sejumlah kalangan tidak punya greget itu. “Saya juga mendengar banyak sekali keluhan (terkait PDT),” ujar Viky yang sudah menelorkan album Toba Dream (2002), Toba Dream II-Didia Ho (2003), dan Toba Dream III (2008) itu.

Lantas, apa kritikan Viky sendiri terhadap PDT? “Ah, saya tak mau kritik, karena saya belum tentu bisa mengurusinya,” ujar musisi yang pada 2004 merilis album Datanglah KerajaanMU itu, merendah.
Hanya menurutnya, rangkaian acara PDT dari tahuh ke tahun tidak ada kemajuan. “Variasi kegiatannya juga tidak menarik,” ujarnya.

Mungkin lantaran gemas juga, Viky akhirnya keluar omongan mengenai bagaimana PDT seharusnya dikembangkan. “Mestinya, ada salah satu kegiatan di Pesta Danau Toba yang bisa menumbuhkan rasa demam masyarakat. Misal seperti publik yang demam SEA Games karena ada tim U-23. Misal orang Jakarta, mau datang karena ada ini, itu di Pesta Danau Toba. Warga Bandung mau datang ke sana karena ada yang memang ditunggu-tunggu. Tapi selama ini, kegiatan-kegiatannya begitu-begitu saja. Tak ada kegiatan yang dijadikan ikon,” bebernya.

Lantas, apa dong yang bisa menumbuhkan demam PDT? Sebagai seniman, Viky usul, bisa saja selama PDT dibuat acara kontes vokal lagu-lagu Batak. “Ya semacam Indonesia Idol, AFI, buat saja Danau Toba Vocal Kontes. Pasti meriah karena peserta kontes seperti itu bawa massa pendukung,” kata Viky.

Masukan lain dari Viky, agar pada acara penutupan PDT nantinya dibuat spektakuler. “Jangan hanya parade musik Batak saja. Tapi lighting-nya harus baik, bertaraf internasional, sehingga media massa juga tertarik memberitakan. Kalau tak ada yang menarik, ya sudah tentu media tak mau memberitakan,” ujarnya.

Mengenai album Tobatak-nya sendiri, kata Viky, merupakan kolaborasi dengan Hermann Delago, musisi World Music asal Austria.Album ini diproduksi oleh BSC Music, Germany. Segmen pasar album ini akan menyasar kalangan penikmat musik tradisional di Eropa, Jepang, dan sejumlah negara lain. (sam)

Polres Madina Buru Aktor Utama

Kerusuhan di Suka Makmur Madina

PENYABUNGAN-Peristiwa pembakaran base camp PT Anugrah Langkat Makmur (Alam) yang terjadi Rabu (14/12) lalu di Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis akan terus diusut Polres Madina saat ini terus memburu aktor intelektual dan penyandang dana pembakaran tersebut yang memicu warga melakukan aksi inap tiga hari di Gedung DPRD Madina serta ditahannya lima warga di Polres Madina.
“Dalam mengungkapkan pembakaran base camp dan alat berat milik CV Karya Jasa Utama selaku sub kontraktor PT Alam itu, kita memiliki rekaman. Berangkat dari sini, kita telah menetapkan empat orang masuk DPO dan satu orang diduga kuat sebagai penyandang dana yang kita masih terus memburunya,” kata Kasat Reskrim
Polres Madina AKP Sarluman Siregar, saat dengar pendapat dengan Tim Pencari Fakta (TPF ) DPRD Madina yang diketuai Ali Mutiara Rangkuty yang juga merupakan Ketua Fraksi Demokrat DPRD Madina.

Pertemuan itu dihadiri Wakil Bupati Madina Drs Dahlan Hasan Nasution, Waka Polres Madina Kompol Hariyatmoko, Kepala BPN Madina Joharnel dan Kadis Dishutbun Gozali Pulungan SH.

Kasat reskrim di hadapan TPF mengungkapkan, pada Rabu (14/12) sekitar pukul 12.00 WIB terjadi pembakaran dua alat berat, pembakaran base camp, pembakaran pos jaga, dan mobil Mitsubishi yang dibuang ke sungai. “Sedangkan sekitar pukul 15.00 WIB pada saat kejadian itu, warga menahan tiga orang karyawan perusahaan dan menyekap
dalam satu ruangan ketiga orang itu. Mereka Martulus Manalu, Bitler Manulang, dan Romeo Siagian,” jelaskan Sarluman.

Dia melanjutkana, pada Jumat (16/12) dipimpin langsung oleh Kapolres Madina dengan kekuatan personel 50 orang dari Polres Madina ditambah satu pleton brimob, masuk ke Desa Suka Makmur Muara Batang Gadis. “Alhamdulillah masuknya kami ke desa sekitar tiga kilometer dari base camp PT Alam tidak ada perlawanan, masyarakat sangat menerima kedatangan kami dan langsung mengadakan koordinasi dengan pak sekdes karena kades sudah lari,” imbuhnya.

Menurut Sarluman, empat orang provokator dan aktor intelektual terdiri dari Parlindungan Hasibuan, Kepala Desa Kahirun Nasution, Zikron Batubara, Drs Tajuddin Siregar dan masih ada yang diduga kuat peyandang dana. “Aktor intelektual saat ini sedang di Jakarta, kemungkinan bertemu dengan Komisi III DPR. Kita ketahui mereka di Jakarta berdasarkan saat siaran langsung di TV One dan saat ini kita masih terus memburu mereka,” imbuhnya.
Dia mengatakan, banyak pihak berharap agar otak ataupun aktor intelektual kejadian di Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis tersebut secepatnya ditangkap.

Soal aktor intelektual ini juga diungkapkan Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Mandailing Natal Iskandar Hasibuan. Setidaknya hal ini diungkapkannya setelah mendapat informasi usai Komisi I DPRD Madina yang mengikuti rombongan Wakil Bupati ke lokasi kejadian. Dari informasi yang didapat, apa yang dituduhkan warga yang melakukan demo ke DPRD baik perusakan lahan perkebunan dan persawahan oleh PT Alam, sama sekali tidak benar. Karena Wakil Bupati langsung mengecek ke lahan yang dipersoalkan sehingga sempat membuat Wakil Bupati kesal.

“Jika tuduhan warga itu ke PT Alam  tidak benar, kita minta kepada polisi agar mencari aktor yang memprovokasi masyarakat,” ujar Iskandar, akhir pekan lalu di Penyabungan.

Iskandar juga mengungkap aksi warga ditengarai disusupi pihak tak bertanggung jawab. “Kita mendapat laporan dari warga yang tidak ikut demo bahwa warga desa sebelumnya ditakut-takuti oleh oknum Kades dengan mengatakan kalau gak ikut demo akan ditangkap polisi. Makanya, warga yang baru 2 tahun pisah dari Desa Manuncang itu walau dengan berat hati terpaksa ikut demo ke DPRD,” jelas Iskandar.

Menurut Iskandar, persoalan yang timbul di tengah-tengah masyarakat berawal dari adanya temuan tumpukan kayu balok/bulat oleh pihak pekerja PT Alam. Penemuan itu membuat sang pemilik kayu ketakutan dilaporkan ke pihak berwajib. Karena itu, aksi pencurian kayu dan pembakaran alat berat milik PT Alam dibuat oknum-oknum itu sebagai upaya untuk mengaburkan kejadian. Selain melakukan demo menuntut lahan agar polisi melepas warga yang ditangkap karena terkait pembakaran yang disinyalir diprakarsai oleh pengurus LSM dari Padang Sidimpuan. Buktinya, Kades Suka Makmur menghilang. “Kades menghilang, ada apa? Jika benar, kenapa Kades tidak mengawal warganya?” tambah Iskandar.

Kata dia, Komisi I DPRD Madina juga merasa heran dengan kedatangan warga. Sebab sudah 2 tahun 3 bulan DPRD Madina Periode 2009-2014 bertugas, tidak ada sepucuk surat pun pengaduan masuk ke Komisi I. Tiba-tiba yang datang warga demo sampai menginap 3 malam. “Apa kita tidak bingung, gak ada masalah, tiba-tiba muncul demo. Makanya kita minta kepada Tim DPRD yang akan turun harus bersikap independen. Artinya jangan membuat masyarakat dan investor bingung dengan kehadiran tim,” pungkasnya. (bbs)

Mau Pencitraan, tak Mau Komunikasi

Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Sumatera Utara

Terbitnya Kepres tentang Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara untuk Wakil Gubernur Sumut, H Gatot Pujo Nugroho, pada 24 Maret 2011 lalu, menjadikan tampuk kepemimpinan di provinsi berpenduduk lebih 12 juta jiwa ini beralih ke mantan Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumatera Utara itu. Lantas, bagaimana pola kepemimpinan Gatot selama memimpin Sumut?

Dari berbagai narasumber yang dihubungi, di antaranya Dekan FE USU John T Ritonga, kalangan DPRD Sumut (Alamsyah Hamdani, Anggota F-PD; Mulkan Ritonga, Wakil Ketua F-PG;  Ahmad Hosen Hutagalung,  Sekretaris F-PPP), Ulama NU Sumut Amrin Siregar, tokoh pendidik FJ Pinem, penggiat LSM Elfenda Ananda, dan beberapa lainnya, ada benang merah yang bisa ditarik : Lemahnya komunikasi politik Gatot. Padahal, komunikasi adalah urat nadi dalam kepemimpinan. Kendala komunikasi inilah yang kemudian menjadi biang kerok dari kepemimpinan Gatot selama memimpin Sumut!

Kelemahan komunikasi Gatot itu, sesungguhnya sangatlah mengherankan. Sebab, Gatot sejatinya adalah seorang politisi, yang semestinya paham tentang pentingnya komunikasi politik.

Uniknya, Partai Keadilan Sejahtera Sumut, komunitas asal Gatot, membela sikap Gatot semacam ini. Gatot dianggap sudah melakukan komunikasi politik dengan baik. Yang salah, menurut seorang politisi PKS Sumut kepada salah satu media beberapa waktu lalu, adalah yang dimaksud dengan komunikasi politik di Sumut itu bermakna ‘bagi-bagi proyek’ dan ‘bagi-bagi jabatan’.

Menurut praktisi komunikasi Choking Susilo Sakeh, persepsi  komunikasi yang ‘nyleneh’ ini, celakanya menjadi semacam pembenaran bagi Gatot untuk tetap berkomunikasi dengan gayanya. Padahal,  komunikasi  hanya bisa dibangun jika para pihak duduk sejajar. “Jika satu pihak merasa ‘lebih bersih’ dari pihak lainnya, itu namanya tausyiah, bukan komunikasi. Sedangkan jika satu pihak merasa ‘lebih tinggi’ dari pihak lainnya, itu namanya instruksi, bukan komunikasi,” ujar Choking, Ombudsman Kelompok Penerbitan Sumut Pos Grup Medan.

Dekan Fakultas Ekonomi USU, John T Ritonga, menilai  bahwa sesungguhnya kepemimpinan Gatot sebagai Plt Gubsu dari aspek ekonomi bisa lebih baik dari sekarang ini. Sayangnya, “Saya dengar ada masalah komunikasi politik dengan Gubernur Sumut non aktif, juga dengan fihak legislatif. Akibat lingkungan politiknya kurang solid, maka kepemimpinannya menjadi kurang optimal,” kata Ritonga.

Sementara itu Alamsyah Hamdani, anggota Fraksi PDI-P DPRD Sumut, menilai, “Gatot itu baik. Kalau tak baik, takkan dipilih pak Syamsul untuk mendampinginya. Cuma, komunikasi politiknya kurang. Ini yang perlu disadari dan dibangun oleh Gatot,” kata Alamsyah.

Elfenda Ananda, penggiat LSM yang rutin mengamati anggaran, pun setali tiga uang. Komunikasi politik yang gagal antara Gatot dan legislatif, menjadi penyebab banyak hal pada roda pemerintahan di Pemprov Sumut menjadi tak lancar.

Sekretaris Fraksi PPP DPRD Sumut, Ahmad Hosen Hutagalung,  juga punya penilaian sama. Menurutnya,  Plt Gubsu Gatot tidak mampu mensinkronkan kepemimpinannya dengan partai-partai pengusung Syampurno, terutama karena ketidakmampuan Gatot membangun komunikasi politik dengan segenap anggota DPRD Sumut yang berasal dari beragam partai politik.

Komunikasi, yang dalam bahasa Ulama NU, Drs. Amrin Siregar, adalah silaturahim, pun terputus antara Ulama Sumut dengan Plt Gubsu. “Ulama Sumut kini merasa jalan sendiri tanpa Plt Gatot, karena silaturahim itu telah terputus. Ini jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Syamsul Arifin, dimana hubungan silaturahim dengan ulama terus dijalin Syamsul Arifin,” kata Amrin.

Apa dampaknya bagi pembangunan dan pemerintahan di Sumut? Menurut John Ritonga, mesin birokrasi di Jalan Diponegoro Medan kini tidak berjalan normal.

Para pimpinan di eselon dua dan di banyak lini yang berkaitan langsung dengan gubernur, bekerja hanya ‘cari selamat’ saja. Mereka tidak berani memberikan info dan masukan penting secara objektif dengan baik dan benar. Yang terjadi, “Semua berharap kepada Plt Gubsu dan Sekda, maka macetlah roda organisasi pemerintahan.”
Dengan demikian, kita tak perlu kaget jika pembangunan Sumatera Utara belum juga pro rakyat, melainkan masih pro pengguna utama. Masih syukurnya, ada DIPA Sumut yang berjumlah Rp 17 T, dan ini sangat banyak membantu Sumut.

Begitu pula soal penyerapan anggaran, sebagaimana diungkapkan media, masih belum proporsional dengan tahun berjalan. Para KPA dan PPK masih belum berani dan cekatan. Ini mungkin karena ada konflik kepentingan, sehingga belum bisa not bussines as usual. “Ya, kalau mau bagus, Gatot harus berani menempatkan pejabat profesional yang punya karakter merdeka.”

John Ritonga menambahkan, mestinya Gatot mampu melakukan terobosan besar atas nama Gubernur Sumut non aktif Syamsul Arifin. “Jika tidak berhasil, kan pak Syamsul yang tidak berhasil. Tapi kalau berhasil, Gatot juga dapat nama kan…”

Bagaimana soal Inalum yang kontraknya habis tahun 2013?

Kata Ritonga, dia belum pernah mendengar konsep maupun langkah dan strategi untuk itu, kecuali hanya ada komitmen untuk mengambil alih. “Kami pernah undang pak Bisuk Siahaan (Inalum, red). Kata beliau, habis kontrak nanti, saham Jepang sebesar 58 persen akan diserahkan ke daerah, bukan dijual. Artinya, ada peluang untuk mendapatkan saham tanpa harus membeli. Tahun depan akan kita minta pak Bisuk Siahaan membantu merumuskan strateginya dan nanti kita sampaikan sama-sama ke pusat.”

Ritonga membenarkan Gatot belum pernah membicarakan  soal itu dengan FE USU. “Mungkin Pak Gatot masih sibuk, tapi kita tetap upayakan membantu untuk masalah Inalum sebagai small support. Kita harus bantu Syampurno, itu komitmen. Gatot itu kan sahabat kita, dia dari USU, ya kalau bisa bantu-bantu tenaga, pikiran dan sedikit cubit sayang alias kritik konstruktif, ya agak democracy lifestyle lah…”

Sementara itu Alamsyah Hamdani, anggota Fraksi PDI-P DPRD Sumut, menyarankan
Gatot  perlu belajar dari Syamsul Arifin yang tak pernah terlambat dalam pengesahan APBD. Begitu juga dengan pelaksanaan pembangunan. “Kalau ada SILPA, pasti ada yang tak bekerja sungguh-sungguh sehingga anggaran tidak terserap dengan baik. Cara menempatkan kepala dinas, juga harus diperhatikan dengan memperhatikan aspek kredibilitas dan profesionalitas,” kata Alamsyah.

Elfenda Ananda, penggiat LSM yang rutin mengamati anggaran, menyebutkan komunikasi politik yang gagal antara Gatot dan legislatif, menjadi penyebab molornya pengesahan P-APBD 2011. Juga munculnya wacana hak interpelasi DPRD Sumut beberapa waktu lalu, dan kemudian, “ditengarai telah terjadi deal-deal politik, hingga mencuat indikasi bagi-bagi uang dan pelesiran bagi para anggota dewan,” kata Elfenda, Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut itu.

Dalam membangun komunikasi politik dengan kalangan anggota dewan ke depan, Elfenda khawatir Gatot akan lebih mengutamakan kepentingan dewan ketimbang kepentingan rakyat Sumut secara keseluruhan. “Fungsi budgeting dan pengawasan DPRD Sumut menjadi tidak profesional, dan ini berimbas kepada buruknya kinerja Pemprovsu,” katanya.
Plt Gubsu Gatot, kata Elfenda,  harus lebih profesional menyusun perangkat-perangkatnya di seluruh SKPD, dan harus pula tegas menindak SKPD yang dinilai tidak mampu bekerja maksimal dalam penyerapan anggaran.

Namun, dalam upaya ke arah sana, Plt Gubsu juga harus berjalan sesuai rel yang ada, dimana dengan semestinya terlebih dahulu meminta pertimbangan dari Mendagri. Dan penyusunan SKPD tersebut, harus juga meliputi keterwakilan daerah di Sumut.  Sekretaris Fraksi PPP DPRD Sumut, Ahmad Hosen Hutagalung,   mengatakan sesungguhnya Syampurno ini belum berakhir. Karena prinsipnya, bukan hanya sampai pelantikan saja, melainkan hingga akhir pemerintahan Syampurno. “Itu isyarat yang dilontarkan sembilan partai pengusung  beberapa waktu lalu. Yang tidak sinkron itu adalah komunikasi politik dengan sembilan partai itu, begitu juga dengan fraksi-fraksi pendukung di DPRD Sumut,” tegas Hutagalung.

Sementara itu Mulkan Ritonga, Wakil Ketua  Fraksi Partai Golkar DPRD Sumut,  menyebutkan lemahnya komunikasi Plt Gubsu mengakibatkan lemahnya kinerja Pemprov Sumut. Terbukti, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi birokrasi (Menpan-RB) menilai, penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (Lakip) dan penetapan kinerja Pemprov Sumut masih berada pada nilai C.

Kemenpan menyoroti bahwa antara RPJMD dengan Renstra (Rencana Strategis), Renja (Rencana Kerja) sampai penyusunan RKA dan DPA-SKPD di lingkungan Pemprovsu belum menunjukkan keterkaitan (sinergitas).
Berkaitan dengan persoalan mutasi pejabat eselon II dan III yang pernah dilakukan Plt Gubsu, Mulkan menyarankan agar Pemprovsu mencari fatwa hukum. Ini didasari atas pertimbangan, bahwa para pejabat yang sudah dilantik tersebut merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA) yang menandatangani seluruh berita acara berkaitan dengan penggunaan angaran. “Apabila mutasi tesebut dianggap tidak sah oleh Kemendagri, maka Pemprovsu tidak mempunyai keterkaitan  dan konsekuensi hukum dengan pelaksanaan anggaran dimaksud,” ujar Mulkan.

Pihak Legislatif memang paling ‘cerewet’ menyikapi kepemimpinan Gatot. Beberapa waktu lalu misalnya, sembilan dari 10 fraksi di DPRD  Sumut menilai Gatot menyimpan dendam terhadap Gubsu nonaktif Syamsul Arifin. Itu berkaitan dengan pernyataan Syamsul Arifin, bahwa sampai saat itu belum menerima surat pemberhentian sementaranya sebagai Gubsu. Padahal surat tersebut, telah dititipkan Sekretaris Mendagri kepada Gatot.

Namun rasa tidak puas atas kepemimpinan Gatot, juga dialami berbagai kalangan lain. Dalam rentang sekitar 9 bulan masa kepemimpinan Gatot misalnya, silih berganti pengunjuk rasa menghujatnya. Yang terbaru adalah sekelompok massa membawa pakaian dalam untuk sang Plt Gubsu tersebut.

Selain itu beberapa elemen masyarakat juga merasa tak puas. Salah satunya adalah para Guru dari organisasi profesi PGRI, PGSI, APSI, ABSI,  GTKA, HIMPAUDi, dan HIPKI yang tergabung di dalam Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GPTendik) Indonesia Provinsi  Sumatera Utara misalnya, terang-terangan melontarkan ketidakpuasan itu atas besaran alokasi anggaran pendidikan pada APBD Sumut tahun 2012.

“Draf APBD Sumut tahun 2012 yang hanya mengalokasikan untuk pendidikan enam persen merupakan  penghinaan bagi profesi guru, untuk itu Pemprovsu dan dewan harus meninjau kembali kebijakan  itu,” kata Ketua Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GPTendik) Indonesia Provinsi  Sumatera Utara (Sumut), Drs FJ Pinem.
Kalau anggaran  pendidikan 20 persen tak juga direalisasikan, “kami akan buat ‘tusnami guru’ di Sumut melalui aksi besar-besaran,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan dana 6 persen dari APBD, Pemprovsu tidak akan bisa berbuat banyak  meningkatkan pendidikan di Sumut. Visi Syampurno ‘Rakyat Tidak Bodoh’ itu cuma omong kosong.

Secara terpisah Drs Amrin Siregar, tokoh NU Sumut, melihat dasar-dasar pembangunan Sumut sesungguhnya sudah diletakkan oleh Gubernur non aktif Syamsul Arifin. Tapi, pada kepemimpinan Plt Gatot, hal itu tidak dilanjutkan. Padahal, Gatot a tidak bisa dilepaskan dari Syamsul Arifin sebagai pasangannya pada Pilgub Sumut. Artinya, Gatot tak boleh jalan sendiri. “Gatot harus berkonsultasi dengan Syamsul, juga dengan Mendagri,” kata Amrin.

Amrin merasa, para ulama Sumut kini jalan sendiri tanpa Plt Gatot, karena silaturahim itu telah terputus. Ini jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Syamsul Arifin, dimana hubungan silaturahim dengan ulama terus dijalin Syamsul Arifin.

Mestinya Gatot harus meniru kepemimpinan Umar bin Khatab, turun ke bawah mendengar langsung suara rakyatnya. Gatot mestinya tetap berupaya menjadi ‘Sahabat Semua Suku’, sebagaimana telah dicontohkan oleh Syamsul Arifin. Jadi, “Gatot tak hanya menjadi sahabat untuk lingkungannya sendiri.”

Jika kondisi kepemimpinan Plt Gubsu tidak berobah pada tahun-tahun mendatang, dipastikan jargon politik ‘Rakyat Tidak Lapar,  Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Miskin dan Rakyat Punya Masa Depan’ pada masa kampanye Pilgubsu lalu, hanya jadi omong kosong belaka. Selebihnya, Sumut akan semakin tertinggal dibanding provinsi tetangganya semisal Riau, Kepri, Aceh dan Sumbar. (Choking Susilo Sakeh)

Enam Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Polisi Bentuk Tiga Tim Pengejar

BINJAI-Jajaran Polres Binjai kembali direpotkan dengan urusan tahanan. Kali ini, 6 tahanan di Polsek Binjai Utara Jalan Baskom, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, kabur dari tahanan, Senin (26/12) sekitar pukul 03.00 WIB.

Keterangan yang berhasil dihimpun Sumut Pos di Polsek Binjai Utara menyebutkan, sebelum kaburnya para tahanan ini, seorang wanita bernama Mona Yani, istri dari Fahrijal datang membesuk dan memebrinya gergaji besi, Minggu (25/12) pagi. Setelah istrinya membesuk, tepat pada tengah malam, para tahanan ini mencoba melarikan diri, dengan cara memotong jeruji besi tahanan tersebut. Gergaji besi itu dibawa oleh istri Fahrijal tanpa diketahui petugas jaga.

Anehnya, aktivitas para tahanan saat menggergaji jeruji besi tahanan itu, tidak terdengar oleh petugas yang berjaga. Apalagi malam itu hanya ada 3 petugas jaga yang seharusnya ada 6 petugas jaga.

Sebab, 3 petugas jaga lainnya diperbantukan di Pos pengamanan Natal. Sementara, jarak petugas jaga dengan tahanan hanya sekitar 15 meter. Meskipun begitu, petugas tidak dapat melihat tahanan karena tertutup ruangan Kapolsek.
Dikarenakan tak seorangpun petugas jaga yang mendengar dan melihat para tahanan itu, akhirnya para tahanan itu pun berhasil memotong jeruji besi dan keluar. Kemudian, para tahanan itu berhasil keluar satu per satu dari dalam sel.

Para tahananpun berhasil kabur dari sel, sekitar pukul 03.00 dini hari. Namun, beberapa saat kemudian, satu dari tiga petugas jaga yang melihat enam tahanan tak ada di sel, langsung terkejut. Petugas ini pun melaporkan hal itu kepada temannya yang lain, untuk segera dilaporkan kepada atasannya. Mendapat laporan dari anggotanya itu, Kapolsek Binjai Utara, Kompol Kuasa Purba, langsung terjun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Bahkan, Kompol Kuasa Purba dikabarkan marah-marah dengan ketiga anggotanya karena lalai dalam menjalankan tugas.

Selanjutnya, kasus ini diambil alih oleh Polres Binjai untuk segera dilidik dan dibantu oleh petugas Polsek Binjai Utara itu sendiri. Bahkan, petugas Polsek Binjai Utara langsung memburu seorang tahanan yang dikabarkan lari ke Tanjung Pura, Langkat. “Saya tidak memberikan keterangan karena kasus ini sudah ditangani Polres. Kalau ada izin dari Kapolres, baru saya bisa komentar dan memberikan foto para tahanan yang kabur,” ujar Kapolsek Binjai Utara, Kompol Kuasa Purba.

Setelah berhasil kabur dari tahanan Polsek Binjai Utara, Yusuf Pradana, yang tinggal tak jauh dari Polsek Binjai Utara, berhasil diamankan petugas dari rumahnya. Pasalnya, tahanan yang satu ini langsung pulang ke rumah ketika berhasil lolos dari dalam sel. Kini, Yusuf dititipkan di rumah tahanan Polres Binjai, untuk dimintai keterangan.
Uniknya, Yana, orangtua Yusuf, saat menjenguk anaknya di tahanan Polres Binjai, kepada Sumut Pos mengakui, ia tidak tahu kalau anaknya kabur dari tahanan Polsek Binjai Utara. Sebab, sebelum kabur, ia sempat membawakan nasi anaknya ke Polsek Binjai Utara.

Namun, setibanya di tahanan Polsek Binjai Utara, ia terkejut setelah mendapat kabar, kalau anaknya sudah kabur dari dalam tahanan. Mendapat kabar itu, ia langsung pulang ke rumah ia sudah mendapati anaknya di rumah. Tak berapa lama, petugas datang dan anaknya kembali diamankan.

Hanya saja, Yana, enggan memberikan keterangan lebih jauh, terkait pelarian anaknya tersebut. “Udahlah, tanya saja sama Pak Polisi itu. Cuma, saya berharap agar masalah ini cepat selesai,” ujar Yana, sembari berlalu dengan menenteng nasi yang tadinya akan diberikan kepada anaknya itu.

Kapolres Binjai, AKBP Musa Tampubolon, ketika dikonfirmasi sejumlah wartawan menerangkan, kaburnya para tahanan itu setelah istri dari Fahrijal, membawa gergaji besi yang dimasukan ke dalam roknya. “Ketika gergaji itu berhasil dimasukan, tengah malam para tahanan mulai bekerja. Ketika petugas jaga mengontrol, para tahanan itu menghentikan aktivitasnya dan begitu selanjutnya sampai mereka berhasil kabur. Kini, istri dari Fahrijal itu sudah kita amankan dan masih dalam pemeriksaan,” jelas AKBP Musa Tampubolon.

Selain itu, AKBP Musa Tampubolon, juga mengatakan, kalau saat ini pihaknya sedang melakukan pengejaran. “Sampai mana pengejarannya, itu masih rahasia. Yang jelas, kita membuat empat tim untuk melakukan pengejaran ini,” ungkapnya.

Mengenai petugas yang lalai, orang nomor satu di Polres Binjai ini mengaku, pihaknya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggotanya tersebut. “Untuk Kapolsek dan anggotanya itu, akan kita tindak melalui sidang,” tegasnya.

Terkait dengan kasus ini Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Raden Heru Prakoso yang dikonfirmasi pihak kepolisian memang terus mengejar tahanan yang kabur. “Untuk tindak lanjutnya, tiga tim dibentuk untuk mengejar tahanan yang kabur yang belum tertangkap di bawah pimpinan Kasat Reskrim. Sedangkan, pemeriksaan masih terhadap tahanan yang berhasil ditangkap untuk mencari tahu titik lokasi perburuan dengan melakukan interogasi terhadap tersangka Yusuf untuk mengetahui cara mereka menggergaji sel tahanan tersebut,” jelasnya.(dan/adl/mag-5)

 

Kronologis Kejadian Tahanan Kabur di Polsek Binjai

Lokasi: Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Minggu, 25 Desember 2011

Pukul 09.30 WIB
Mona Yana, menjenguk suaminya, Fahrijal, sambil menyelundupkan gergaji besi di dalam rok.
Senin, 26 Desember

Pukul 00.00 WIB

  • Geraji yang dikuasai Fahrijal, berhasil digunakan para tahanan untuk menggergaji jeruji besi. Para tahanan itu keluar satu per satu dari dalam sel.
  • Untuk menghindari petugas jaga, para tahanan masuk ke ruangan juper Reskim di sebelah sel tahanan, mencongkel jerjak jendela dan berhasil kabur.

Pukul 03.00

  • Satu dari enam petugas jaga terkejut melihat ke sel dalam keadan kosong. Kapolsek Binjai Utara, Kuasa Purba, yang mendapat laporan, turun ke TKP dan memerintahkan anggotanya untuk segera mencari tahanan yang kabur.
  • Yusuf Prananda Nasution, salah satu tahanan yang kabur diamankan dari rumahnya dan diboyong ke Polres Binjai untuk menjalani pemeriksaan.
  • Berdasarkan keterangan Yusuf, petugas mengamankan Mona Yana.

 

MEREKA YANG MELARIKAN DIRI

 1. Anggiat Manurung (39)

Warga Jalan Puskesmas No 02 Kelurahan Lalang, Sunggal. kasus 363 KUHP.

2. Putra Affandi (21)

Warga Jalan Anggrek, Lingkungan IV, Binjai Utara. Kasus 365 KUHP.

3. Irwan Syaputra (21)

Warga Jalan Udang, Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kasus 365 KUHP.

4. Ozi Doni Tiandra (19)

Warga Jalan Besilam, Desa Padang Tulang, Langkat. Kasus 365 KUHP.

5.Fahrizal (21)

Penarik becak warga Jalan Flamboyan No 45 Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara. Kasus 363 KHUP

6. Yusuf Prandana Nasution

Kasus 365 KUHP

 

 

 

///grafis//

 

 

Bermodal Gergaji Besi

 

Lokasi: Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Minggu, 25 Desember 2011

Pukul 09.30 WIB

Mona Yana, menjenguk suaminya, Fahrijal, sambil menyelundupkan gergaji besi di dalam rok.

 

Senin, 26 Desember

Pukul 00.00 WIB

– Geraji yang dikuasai Fahrijal, berhasil digunakan para tahanan untuk menggergaji jeruji besi. Para tahanan itu keluar satu per satu dari dalam sel.

– Untuk menghindari petugas jaga, para tahanan masuk ke ruangan juper Reskim di sebelah sel tahanan, mencongkel jerjak jendela dan berhasil kabur.

Pukul 03.00

– Satu dari enam petugas jaga terkejut melihat ke sel dalam keadan kosong. Kapolsek Binjai Utara, Kuasa Purba, yang mendapat laporan, turun ke TKP dan memerintahkan anggotanya untuk segera mencari tahanan yang kabur.

– Yusuf Prananda Nasution, salah satu tahanan yang kabur diamankan dari rumahnya dan diboyong ke Polres Binjai untuk menjalani pemeriksaan.

– Berdasarkan keterangan Yusuf, petugas mengamankan Mona Yana.

 

 

Mereka yang Melarikan Diri

 

1. Anggiat Manurung (39)

Warga Jalan Puskesmas No 02 Kelurahan Lalang, Sunggal. kasus 363 KUHP.

 

2. Putra Affandi (21)

Warga Jalan Anggrek, Lingkungan IV, Binjai Utara. Kasus 365 KUHP.

 

3. Irwan Syaputra (21)

Warga Jalan Udang, Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kasus 365 KUHP.

 

4. Ozi Doni Tiandra (19)

Warga Jalan Besilam, Desa Padang Tulang, Langkat. Kasus 365 KUHP.

 

5.Fahrizal (21)

Penarik becak warga Jalan Flamboyan No 45 Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara. Kasus 363 KHUP

 

6. Yusuf Prandana Nasution

Kasus 365 KUHP

 

Dinkes Medan: Jangan hanya Komentar!

Soal Ancaman Kanker bagi Anak

MEDAN-Tingginya jumlah anak-anak di perkotaan Sumatera Utara yang mengkonsumsi makanan mengandung bahan kimia berbahaya dan pengawet merupakan permasalahan yang serius. Jika dibiarkan terus-menerus dapat memberikan efek tidak baik terutama melemahnya kinerja otak dan syaraf, dan masih banyak lagi efek buruk lainnya.
“Kita khawatir jika anak-anak dibiarkan mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan tidak baik ini terlalu lama, maka banyak efek negatif yang ditimbulkan. Jika dikonsumsi bertahun-tahun dan dalam jangka waktu panjang tentu saja bisa menyebabkan penyakit kanker,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut melalui Kabid Jaminan Sarana Kesehatan Dinkes Sumut, Agustama, Senin (26/12).

Dikatakannya, evaluasi total terhadap jajanan anak sekolah harus dilakukan seperti melakukan penyuluhan keamanan pangan, melakukan pembinaan terhadap para pedagang dan setiap Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota diintegritaskan dengan program kesehatan sekolah.

“Ini merupakan kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan kewenangan mereka. Karena kita dibatasi oleh PP No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Imbauan kita, ya itu tadi, lakukan evaluasi total karena anak-anak inikan masa depan kita juga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Medan, Edwin Effendi mengatakan sudah melakukan pengawasan secara maksimal terhadap jajanan anak sekolah ini. “Mereka dapat datanya dari mana? Jumlah sekitar 60 persen anak diperkotaan mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya itu dapat dari mana? Perkiraan atau dari survei? Kalau memang perkiraan harus ada dasarnya lah. Jika memang betul mereka juga harus bersikap, jangan hanya komentar saja,” tegasnya.

Menurutnya, secara rutin pihaknya yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan telah melakukan pengawasan dan memberdayakan setiap Puskesmas. Bahkan, sebelumnya, pihaknya telah membuat surat edaran ke sekolah-sekolah agar para pedagang yang berjualan dilingkungan sekolah didata dan dibina dengan baik.  “Kita juga minta supaya guru-guru terjun langsung dalam pengawasan ini,” ucap Edwin.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan DR Rajab Lubis, saat dikonfirmasi Senin (26/12), mengatakan semua jajanan di sekolah di wilayah Kota Medan pada Januari 2012 akan dievaluasi total. “Dalam hal ini kita akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Medan,” ungkapnya.

Sehingga untuk pedagang yang menjual produk makanan tak sehat kepada anak maka tidak diperkenankan lagi untuk dijual di lingkungan sekolah. “Jadi selain untuk menjaga kesehatan, kita juga memberikan pengetahuan kepada para penjaja makanan agar tidak menjual dagangan yang bisa merusak kesehatan anak,” terangnya.

Soal ancaman kanker ini langsung direspon anggota DPRD Sumut dari Fraksi PDI P, Taufan Agung Ginting. Dikatakan pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kehormatan PDI P Sumut ini, penyebaran penyakit-penyakit tersebut, baik kanker maupun HIV/AIDS memang tak mampu terkontrol dengan baik oleh Pemprovsu. “Pemprovsu kurang memperhatikan sisi kesehatan masyarakat. Dan ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya. (mag-11/uma/ari)

Eks Perwira Polresta Medan Diburon

Pengakuan Dua Tersangka Jadi Bandar Narkoba

MEDAN-Polisi berhasil meringkus dua tersangka pengedar sabu-sabu di di Jalan Selamat, Gang Sawah, Medan Kota, Senin (26/12) malam. Kedua tersangka masing-masing Rizal (18), warga Simpang Limun dan Andi (26), warga Jalan Seksama.

Kapolsekta Patumbak, Kompol SW Siregar kepada wartawan koran ini mengatakan, kedua tersangka Rizal dan Andi diamankan petugas saat polisi sedang melakukan operasi rutin. Dari keduanya  polisi mengamankan barang bukti paket sabu seberat 0, 9 gram.

“Kedua tersangka diamankan anggota di Jalan Selamat, Gang Sawah. Pengakuan kedua tersangka, sabu tersebut milik mantan anggota polisi berinisial LS berpangkat Ajun Komisaris Polisi dan kita pun melakukan penangkapan tersangka LS di kediaman orangtuanya di Jalan Lobeng Klewang/Jalan Mahkamah Medan,” kata Siregar.

Dari hasil penggerebekan dari kamar tersangka polisi mengamankan 1,8 gram sabu-sabu, uang sejumlah Rp1,1 juta, timbangan elektrik dan biji ganja. Sayangnya, LS dan seorang anggotanya Rud berhasil kabur. LS kabur sebelum tim dari Polsek Medan Kota berhasilmasuk ke dalam rumah. Sedangkan Rud berhasil kabur diam-diam tanpa diketahui tim yang menggerebek yang sedang mencari barang bukti.

“Ya, keduanya kabur saat kami melakukan penggerebekan di rumah mantan perwira polisi itu. Dari dalam rumahnya tepatnya di kamarnya kami hanya mengamankan 1,8 gram sabu-sabu, uang sebesar Rp1.140.000, timbangan elektrik dan biji ganja,” ungkapnya.

Siregar juga memaparkan, ketika dilakukan penggerebekan di rumahnya mantan anggota polisiolri itu tak menunjukkan sifat kooperatif.

“Ketika kami gedor pagarnya, ia hanya mengintip dari balik jendela, dan kemudian mengunci pintu. Mengetahui kami akan melakukan penggerebekan, ia langsung melarikan diri dari ventilasi rumah dan kabur dari belakang rumah,” jelas Sandy.

Mengetahui tak ada itikat baik, pihaknya lantas mendorong pintu rumah. Di sana hanya terdapat seorang anak buahnya Rud. Ketika dilakukan penggerebakan hanya terparkir mobil Nissan X Trail dengan nomor plat polisi BK 1364 KO.

Menurutnya,  LS terakhir kali menjabat Kanit Patroli Polresta Medan. Tersangka sendiri sudah dipecat dari polisi.  “Kita sedang melakukan pengejaran terhadap LS. Dia memang terlibat dalam peredaran narkoba,” terangnya.
Saat penggerebekan sempat menjadi perhatian warga sekitar karena aktifitas mantan anggota polisi tersebut sudah sangat meresahkan warga sekitar.

“Dah tahu orang kampung ini dia agen. Bersyukur kami rumahnya digerebek. Sudah lama kami tahu dia itu jadi agen sabu. Rusak anak-anak di sini dibuatnya,” terang seorang ibu.  “Setahu kami dia masih polisi. Sudah mantannya dia? Tak tahu lah aku, dek. Memang sekarang ini dia sudah tidak pernah pakaian dinas lagi kami lihat,” tambah warga itu.
Camat Medan Kota, Parlindungan Nasution mengaku, tidak mengetahui kalau warganya menjadi pengedar narkoba.
“Itu rumah orangtuanya dan kami tidak tahu kalau dia itu pengedar sabu-sabu. Kami saja baru tahu ini setelah petugas polisi melakukan penggrebekan,” tuturnya. (saz/jon)

11 Napi Jebol Rutan Lhoksukon

Pakai Campuran Sabun dan Cuka Untuk Lapukkan Dinding

Lhoksukon- 11 narapidana (napi) berhasil lolos dari rumah tahanan (rutan) Lhoksukon, Senin (26/12) pagi. Mereka berhasil kabur setelah menjebol dinding beton sel dengan cara menyiram dengan sabun dicampur cuka.
Dari blok penjara tersebut ditemukan barang bukti berupa sepetak tembok batu bata yang runtuh bersama perlengkapan campuran sabun dan cuka. Diduga kuat, teknik campuran ala kimia itu sudah dilakukan sejak berminggu-minggu lamanya tanpa terendus sipir penjara.

Kaburnya belasan tahanan tersebut, sontak membuat panik petugas keamanan. Apalagi ketika mereka mencek ruang C-6, sudah kosong tanpa penghuni seperti biasa, saat apel pagi sekira pukul 07.00 WIB. Penyelidikan segera dilakukan, hingga diketahui seluruh napi melarikan diri dengan cara memanjat tembok setinggi 7 meter.

Mereka menyambung belasan sarung yang digunakan sebagai alat untuk naik dan turun kembali. Keterangan yang dihimpun Metro Aceh (grup Sumut Pos), 11 napi tersebut sebagian besar tersandung kasus narkoba.
“Saya melihat kamar sel C6 telah kosong, yang sebelumnya dihuni oleh 11 orang napi,” ucap Kepala Rutan Lhoksukon, M Saleh kepada Metro Aceh saat ditemui, Senin (26/12).

Melihat kondisi ini, pihaknya langsung memberikan laporan kepada pihak kepolisian dan mengirimkan laporan kepada pihak Kanwil Hukum dan HAM. Bahkan laporan kaburnya napi telah dikirim kepada polsek terdekat dimana alamat para napi berasal. Selain itu ruangan tempat kaburnya napi telah dilakukan olah TKP oleh aparat kepolisian.

Menurut Saleh, para napi diperkirakan kabur sekitar pukul 04.00 WIB. Sebab sebelumnya pada pukul 24.00 WIB, dirinya melakukan pemeriksaan pada semua ruangan. Sedangkan pada pukul 03.00 WIB, komandan jaga juga melakukan cek lapangan rutin. Namun ketika itu seluruh tahanan masih berada pada selnya masing-masing.
“Kita perkirakan 11 napi kabur sekitar pukul 04.00 WIB.  Diduga mereka menjebol dinding sel menggunakan sabun, cuka, serta sendok. Luas dinding yang jebol sekitar 40 cm persegi ukuran muat badan orang dewasa. Lalu mereka memanjat dinding tembok rutan bagian belakang yang tingginya sekitar 7 meter lebih, menggunakan belasan kain sarung yang disambung,” terang M Saleh.(rac/jpnn)

Nama 11 Napi yang Kabur

  1. Mahdi bin Zakaria (26), warga Gampong Samuti Krueng, Ganda Pura, Bireuen kasus narkotika (ganja) hukuman 10 tahun 8 bulan dengan sisa hukuman 10 tahun 15 hari.
  2. Irwansyah bin Ilyas (24), warga Gampong Lhokbeuringen Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 9 tahun dengan sisa hukuman 8 tahun 6 bulan 23 hari.
  3. Mukhlisin bin Zulkifli (29), warga Desa Terjun Kecamatan Medan Marelan, Kodya Medan kasus narkotika (ganja) hukuman 13 tahun dengan sisa hukuman 12 tahun 5 bulan 4 hari.
  4. Iskandar bin Jafar (43),warga Gampong Matang Mane, Tanah Luas, Aceh Utara kasus narkotika hukuman 4 tahun dengan sisa hukuman 3 tahun 5 bulan 28 hari.
  5. Safri Maizal Als Ayi bin Safaruddin (27), warga Jalan Sultan Agung, Gampong Perdana, Bandar Lampung kasus narkotika (ganja) hukuman 16 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 15 tahun 8 bulan 9 hari.
  6. Hamzah bin Hesen (35), warga Gampong Cot Bik, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (sabu) dengan hukuman 4 tahun 6 bulan sisa hukuman 3 tahun 8 bulan 29 hari.
  7. Samsarif alias Ayi bin Ibrahim (28), warga Gampong Geudong, Baktiya, Aceh Utara hukuman 2 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 11 bulan 20 hari.
  8. Irfan bin Muhammad (28), warga Meunasah Dayah, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (sabu) hukuman 1 tahun 10 bulan dengan sisa hukuman 1 tahun 1 bulan 4 hari.
  9. Mawardi bin Harun (32), warga Meunasah Panton, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 7 tahun dengan sisa hukuman 6 tahun 2 bulan 21 hari.
  10. M Yusuf bin Ibrahim (29), warga Meunasah Hasan, Madat, Aceh Timur kasus pencurian hukuman 1 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 7 bulan 15 hari.
  11. Muhammad Saleh bin Hasan (50), warga Gampong Tanjong Munje, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 4 tahun dengan sisa hukuman 2 tahun 11 bulan 12 hari.

Banjir dan Longsor Landa Padang

Dharmasraya-Hujan yang melanda Kabupaten Dharmasraya, Padang, Sumatera Barat, dua hari berturut-turut, sejak Sabtu (24/12) hingga Senin (26/12), menyebabkan beberapa sungai meluap dan merendam ratusan unit rumah dan puluhan hektar sawah di dua kecamatan yakni Pulau Punjung dan Timpeh.

Di samping  itu longsor juga terjadi di Kecamatan Pulau Punjung, tepatnya di kilometer  10, dekat Rumah Makan Family Raya. Setidaknya terdapat tiga titik longsor yang menyebabkan aus lalulintas jadi macet. Longsor juga terjadi di Sialang perbatasan Dharmasraya dengan Sijunjung. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, namun kerugiaan diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang, Suwandi menyebutkan, banjir  yang melanda Kecamatan Pulau Pujung menyebabkan 105 unit rumah terendam banjir. Banjir melanda dua lokasi masing-masing NagariGunung Selasih yang merupakan lokasi terparah yang merendam 45 unit rumah, sedangkan di Kampung Surau merendam 55 unit rumah dan Sungi Balit merendam 15unit rumah. Ketinggian air bervariasi antara dua meter hingga empat meter dan warga dievakuasi memakai perahu karet.

Warga dievakuasi memakai perahu karet ke sekolah-sekolah dan rumah penduduk. Dari pantauan di lapangan petugas DPBD berusaha sekuat tenaga mengevakuasi warga yang terjebak banjir dengan memakai perahu karet, namun sayang dapur umum yang diharapkan bisa membantu meringankan kesulitan warga terutama untuk konsumsi ternyata belum datang, yang ada baru bantuan tenda.(ita/ztl/jpnn)

Mahasiswa Sumut Desak Copot Kapolri

MEDAN-Penembakan terhadap mahasiswa di Sape-Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu, menjadi perhatian serius masyarakat dan mahasiswa di Sumut. Dua elemen masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi menuntut Polri untuk segera menetapkan status hukum pelaku penembahakan mahasiswa, karena sudah mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Puluhan massa yang terdiri dari dua elemen yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara (IMM Sumut) dan Aliansi Masyarakat Peduli Pembaharuan (AMPP), menggelar aksi di Bundaran Majestik, Jalan Gatot Subroto Medan, Senin (26/12).

Dalam pernyataan sikapnya, Koordinator Aksi AMPP, Mora Harahap mengatakan, aksi kekerasan di tanah air oleh penegak hukum sudah dalam tahap cukup mengkhawatirkan, belum hilang dari ingatan kita peristiwa Mesuji dan Freeport kini muncul masalah Sape-Bima NTB.

“Itu merupakan salah satu bukti, pemerintak gagal menjamin hak hidup masyarakat di Indonesia, bahkan sikap represif kepolisian terbilang sudah mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan hak dasar yang dimiliki setiap manusia,” ungkapnya.  Sementara itu, Ketua IMM Sumut, Jahidin Daulay dalam orasinya mendesak agar Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan DPR RI untuk membentuk tim investigasi serta merekomendasikan mencopot Kapolri Jenderal Timur Pradopo.(gus/ari/adl)

Siap Bawa Buah Hati Berkampanye

Rieke Diah Pitaloka alias Oneng mengatakan kesempatannya menyalonkan diri pada penjaringan Bakal Calon Gubernur (Balongub) Jabar 2013 seperti sudah digariskan sebelumnya.

Pasalnya, setiap ada agenda politik yang melibatkannya, dipastikan dirinya sedang berbadan dua atau hamil.
“Dulu waktu pemilihan legislatif, saya sedang hamil anak pertama. Sekarang juga sedang hamil. Bedanya saat itu sudah masuk kampanye, sekarang masih tahapan. Mungkin ini kerjaannya lawan-lawan politik saya,” canda Rieke, usai menyerahkan berkas pencalonan Pilgub Jabar 2013 di kantor DPD PDIP Jabar, Sabtu (24/12).

Rieke yang saat itu mengenakan baju terusan warna hitam, dipadu blus warna merah, sepatu hitam, dan jam tangan hitam, mengaku diberikan berkah untuk melahirkan terlebih dulu sebelum terlibat aktif dalam proses survei yang dilakukan partai.

“Sekarang kan masih proses penjaringan. Lalu akan ada survei, terus keluar rekomendasi. Katanya Maret baru keluar. Alhamdulillah, saya diberikan waktu untuk melahirkan dulu. Lalu nanti ikut survei dan mekanisme lain,” ujarnya.
Jika terpilih menjadi cagub PDIP, Oneng tak akan sungkan membawa bayinya pada masa survei atau kampanye. Dia sudah terbiasa dalam kondisi seperti itu, membawa anak saat kerja politik. “Sudah saya pikirkan kok semuanya. Termasuk dukungan suami dan keluarga,” terangnya. (net/bbs)