24 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 14157

Tentara Assad Brutal, Sehari 41 Warga Tewas

DAMASKUS- Jatuhnya para diktator di dunia Arab lewat revolusi sipil ternyata belum mampu membuka mata dan mengetuk hati Presiden Bashar al-Assad dari Syria. Buktinya, tokoh yang mewarisi kekuasaan dari almarhum ayahnya, mantan Presiden Hafez al-Assad, tersebut tetap memberangus unjuk rasa terhadap pemerintahannya.

Bahkan, kemarin (10/12) menjadi satu hari paling buruk bagi perjuangan rakyat Syria dalam menumbangkan rezim berkuasa. Sedikitnya, 41 warga sipil tewas, termasuk tujuh bocah, setelah tertembak oleh serangan militer pro pemerintah di Kota Damaskus dan Homs.

Organisasi Pemantau HAM Syria, dalam pernyataan resmi, menyatakan bahwa 12 orang tewas di Kota Homs, termasuk dua anak-anak berusia 10 dan 12 tahun. Selain itu, seorang bocah berusia 14 tahun tewas di Desa Aqrab, di wilayah Homs. Oposisi menuduh pasukan pemerintah berencana melakukan pembantaian di kota itu.

Di utara Syria, organisasi HAM Syria yang berpusat di Inggris tersebut menyatakan bahwa lima orang warga sipil ditembak mati tentara pemerintah di Kota Hama. Kota ini merupakan titik atau pusat perlawanan rakyat paling awal terhadap rezim Assad.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 4.600 warga sipil telah tewas di Syria selama sembilan bulan terakhir. Sebelumnya, Jumat lalu (9/12) kelompok oposisi Dewan Nasional Syria memperingatkan adanya serangan berdarah di Kota Homs. Serangan iktu mencederai banyak warga.

Menurut dia, pemerintah mengklaim serangan tersebut sebagai balasan atas aksi para teroris yang menarget dan menyerang saluran distribusi pipa gas di wilayah Homs pada Kamis lalu (8/12).

“Rezim Assad melapangkan jalan untuk melakukan pembantaian warga demi memusnahkan api revolusi di Kota Homs,”terang SNC, salah satu koalisi anti-Assad.

Homs adalah kota persimpangan penting berpenduduk 1,6 juta jiwa. Kota tersebut terbelah oleh garis perbedaan keyakinan warganya. Di sana seringkali terjadi ketegangan sektarian. Menurut SNC, rezim Assad terus berupaya untuk mengeksploitasi kondisi itu untuk memecah perlawanan rakyat.

Sejumlah kekerasan berdarah terburuk dilaporkan terjadi di Kota Homs. Termasuk, serangkaian pembantaian yang terjadi dalam kurun waktu sehari pada Jumat dan Sabtu (9-10/12). “Rasanya tanah bergetar hebat,’’ cerita seorang warga Homs mengatakan kepada Associated Press melalui telepon. Dia mengungkapkan, ledakan dan rentetan suara tembakan terus terdengar sejak dini hari.

“Sejumlah kendaraan lapis baja pengangkut personel militer bergerak di jalan. Lantas, para tentara melepaskan tembakan secara membabi buta dengan menggunakan senjata mesin,” tambah pria yang tidak mau disebutkan identitasnya itu.

Koalisi aktivis oposisi setempat, Komite Koordinasi Lokal, menyatakan bahwa 35 orang tewas dalam rangkaian serangan pada Jumat lalu. Sebagian besar korban adalah warga kota Homs. Data berbeda diungkapkan Organisasi Pemantau HAM Syria yang menyebutkan korban tewas mencapai 24 orang.

Perbedaan data korban lazim terjadi karena pemerintah melarang wartawan asing meliput demonstrasi anti-rezim di Syria. Data korban didapat wartawan dari para aktivis lokal dan sejumlah organisasi independen.(afp/ap/cak/dwi/jpnn)

Iran tak Kembalikan Pesawat Pengintai AS

TEHERAN – Deputi Komandan Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami menegaskan Iran tak akan mengembalikan pesawat tak berawak atau drone milik AS, yang jatuh di wilayah Iran, pekan lalu. Salami memastikan, pesawat tersebut berhasil didaratkan pihak Iran dengan kendali jarak jauh setelah masuk dalam jebakan elektronik Iran.
“Tak ada seorang pun yang akan mengembalikan sebuah simbol agresi kepada pihak yang berusaha mencari-cari rahasia dan data intelijen vital terkait keamanan nasional suatu negara,” tandas Salami dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran, Minggu (11/12).

Dia mengatakan, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS itu merupakan tindakan permusuhan dan memperingatkan akan ada pembalasan yang lebih besar dari Iran. Media Iran mengatakan, drone yang diduga adalah pesawat mata-mata terbaru RQ-170 Sentinel itu terlacak saat berada di atas Kota Kashmar, Iran timur, sekitar 225 kilometer dari perbatasan dengan Afganistan. Kamis lalu, stasiun TV nasional Iran menayangkan rekaman gambar drone yang terlihat masih relatif utuh tersebut.

Salami menegaskan, penangkapan drone tersebut menjadi bukti kemenangan Iran dalam perang teknologi dan intelijen dengan AS. “Iran adalah satu dari sedikit negara yang memiliki teknologi paling modern dalam bidang pesawat tak berawak. Jurang teknologi antara Iran dan AS tidak terlalu jauh,” tandas Salami.

Pihak AS, yang mengakui kehilangan salah satu drone mereka pekan lalu, membantah hal ini. Menurut para pejabat pertahanan dan pengamat teknologi independen di AS, pesawat tersebut kehilangan kontak dengan pihak pengendali dari AS karena kerusakan biasa.

Mengenai kerusakan pesawat yang minimum, mereka mengatakan, pesawat itu diprogram untuk mendarat sendiri secara otomatis pada saat kendalinya terputus. (net/jpnn)

Lampu Natal Dianggap Ancaman

SEOUL- Korea Utara kembali mengumbar ancaman, Minggu (11/12), negara itu mengancam akan ada konsekuensi tak terduga dalam bentuk pembalasan apabila Korea Selatan (Korsel) nekat memasang lampu-lampu hias perayaan Natal di dekat perbatasan kedua negara.  Demikian disampaikan melalui laman resmi Korut, Uriminzokkiri. Di dalam laman itu mengatakan, rencana pemasangan lampu Natal oleh Korsel sebagai rencana perang psikologis yang kejam dan mengancam akan ada pembalasan seketika begitu lampu dinyalakan.

“Penghasut perang musuh seharusnya sadar mereka akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi tak terduga, yang mungkin disebabkan oleh rencana itu. Isu itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan,” tandas laman tersebut.

Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan akan mempertimbangkan untuk menyetujui permintaan sebuah kelompok gereja di Seoul, yang ingin memasang lampu-lampu Natal di sebuah menara baja di puncak sebuah bukit yang dikendalikan pihak militer Korsel. Menara itu hanya terletak sekitar tiga kilometer dari garis perbatasan, dan masuk dalam jarak tembak meriam-meriam Korut.

Kedua Korea pada 2004 setuju menghentikan segala aktivitas provokasi di dekat perbatasan, dan sejak itu Korsel menghentikan tradisi menyalakan lampu Natal di dekat perbatasan. Namun, Seoul meneruskan tradisi itu Desember tahun lalu setelah terjadi ketegangan militer akibat tenggelamnya sebuah kapal korvet Korsel dan serangan Korut terhadap Pulau Yeonpyeong, Korsel. (net/jpnn)

Warga Laporkan Mafia Tanah ke Mabes Polri

MEDAN- Sebanyak 34 kepala keluarga pemilik tanah seluas 68 Hektare di Pasar IV Sidomulyo, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Deli Serdang menyebutkan tanahnya dikuasai mafia tanah. Akibatnya warga melalui Husaini Kasim dan kawannya melaporkannya ke Mabes Polri.

Demikian disampaikan Kuasa hukum warga, Andry Mahyar SH MH, Minggu (11/12). Menurut dia, tanah masyarakat yang dikuasai mafia tanah tersebut adalah tanah consessie yang ditinggalkan terlantar oleh Perkebunan Belanda NV Verinigde Deli Maschappijen (VDM) Helvetia Estate, Januari 1952.

Ketika itu, paparnya kebijakan pemerintah dan berdasarkan Kepmendagri No 12/5/14 tanggal 28 Juni 1951, Gubernur Sumut Ub Residen/Kepala Kantor Penyelenggara Pembagian Tanah Ub Bupati Deli dan Serdang (Dp), pada 27 September 1952 telah dibagi-bagikan kepada masyarakat yang telah menggarapnya, yang masing-masing kepala keluarga memperoleh 2 Hektar. Kemudian, berdasarkan SK Menteri Agraria No Sk/509 Ka Jo PP No 224/1961 tanggal 19 September 1961 telah ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Surat Izin Mengerjakan.  “Setelah berakhirnya HGU PTPN II tersebut, masyarakat berharap pemerintah mengembalikan tanah itu kepada masyarakat pemilik tanah,” katanya. (eza/smg)

ABG Empat Kali Disetubuhi Uwak

BRANDAN- Seorang gadis berusia 12 tahun warga Dusun Pasir Putih, Desa Lubuk Kasi, Kecamatan Brandan Barat, Langkat dipaksa melayani nafsu bejat seorang pria lanjut usia, yang merupakan uwaknya. Beruntung, aksi pelaku Aki (68) terhenti saat korban menceritakan aksi itu kepada tetangganya.

Dengan adanya pengakuan itu, pelaku yang diketahui tinggal seorang diri dan korban datang langsung diajak ke dalam kamar. Usai melucuti pakaian, di dalam kamar belakang pelaku berhasil menggarap kegadisan ABG yang selama ini tinggal dengan nenek kandungnya.

“Aku disuruh masuk ke dalam kamar setelah itu pakaian dilepaskannya lalu badanku ditindih Uwak, tapi mulut ku ditutup tangan kanannya,” ungkapnya. “Aku sudah empat kali ditindih uwak, dan setiap itu aku dikasih uang Rp20 ribu,” tambahnya.

Tapi, setelah kejadian itu, pria berusia 68 tahun itu mengancam korban agar tidak menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Kalau diceritakan, korban akan dipukuli dan tak dikasih uang.

Informasi yang diperoleh POSMETRO (Grup Sumut Pos), peristiwa itu sudah diketahui keluarga korban, tapi orang susah, mereka tidak dapat berbuat banyak terkait kejadian yang menimpa gadis ABG yang tidak pernah duduk dibangku sekolahan.

Kapolsek Pangkalan Brandan H Kosim Sihombing mengimbau agar korban membuat laporan dan di dampingi keluarganya. Pasalnya, korban akan diperiksa ke pihak medis untuk melakukan pemeriksaan perlu pembuktian terkait pengakuan korban, bahwa kemaluannya telah dirusak pelaku.

“Apabila terbukti atas tuduhan perbuatan pelaku terhadap korban, pelaku bisa dijerat pasal 81 UU perlindungan anak No. 23/2002 dengan ancaman 15 tahun penjara dan pasal 287 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara,” tegasnya. (jok/smg)

Warga Tegang, Kades Bacakan Visi dan Misi

PAKPAK BHARAT – Penyampaian visi dan misi calon kepala desa (kades)di Desa Kaban Tengah, Kecamatan STTU Jehe, Pakpak Bharat berlangsung tegang. Pasalnya, ada beberapa pertanyaan warga tidak dijawab oleh calon kades yang sebelumnya sudah menjabat kades.

Pelaksanaan penyampaian visi dan misi akhirnya digelar setelah lima anggota Badan Permusyawaratan Desan (BPD) hadir. Pada kesempatan itu, Sabtu (10/12) Panitia Pemilihan Kepala Desa (P2KD), Desa Kaban Tengah, Kecamatan STTU Jehe, Pakpak Bharat dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sepakat membuka sesi tanya-jawab.

Seorang warga, Bancin mempertanyakan keberadaan berbagai ternak bantuan yang diperoleh desa, beberapa waktu lalu. “Apakah ternak itu merupakan bantuan Pemkab atau milik pribadi? Kalau memang bantuan, ke mana ternak-ternak itu sekarang dan kalau milik pribadi, saya tidak akan menanyakannya lagi,” tanya Bancin di kantor P2KD kepada seorang calon Kades yang sebelumnya menjabat Kades di desa itu.

Karena belum ada reaksi atas pertanyaan itu serta suasana agak tegang, pihak BPD mengambil alih acara dan tidak berapa lama acara ditutup. Kepada wartawan Bancin mengatakan dia merasa kurang puas karena tidak ada jawaban atas pertanyaannya pada sesi tanya-jawab itu.

Di tempat yang sama, tokoh masyarakat, Berutu (73) menegaskan Kades yang terpilh nantinya harus transparan dan serius membangun desa. “Pembangunan harus merata di 7 dusun, jangan hanya dusun tertentu saja dan transparan kepada warga,”pinta tokoh ini.

Usai acara,Camat STTU Jehe,  Sabar Berutu mengatakan kini masyarakat semakin kritis dengan berbagai pertanyaan yang dikemukakan pada sesi. Untuk itu, kepada siapa terpilih nantinya harus mendengarkan aspirasi warga dan jangan mengecewakan masyarakat yang dipimpinnya. (mag-14)

Dugaan Korupsi Sekdakab Langkat, Satu Proses Lagi Masuk Penuntutan

LANGKAT- Kejaksaan negeri (Kejari) Stabat bertekad melanjutkan kasus dugaan korupsi mantan Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Pemkab Langkat, Surya Djahisa, sampai tuntas. Pasalnya, setelah penetapan status tersangka kepada Sekdakab itu bukanlah pekerjaan ringan dan kini satu proses lagi masuk tahap penuntutan.

“Ya gak mungkinlah, kalau harus dihentikan (SP3) ngapai kami capek-capek dari kemarin mengerjakannya. Saat ini, kami hanya tinggal melalui satu proses lagi yakni ekspos di Kejatisu,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Stabat, Firmansyah.

Kasi Pidsus bersama Kasi Intel Kejari, Zulfahmi ketika ditemui wartawan seusai menerima sekelompok elemen unjuk aksi saat peringatan hari anti korupsi, Jumat (9/12) kemarin, menjelaskan kasus dugaan korupsi penghitungan pajak (PPh 21) melibatkan Surya serta seorang konsultan, terlebih dahulu di ekspos di Kejaksaan Agung (Kejagung) medio Maret 2011 lalu.

Dia menerangkan Kejari Stabat diperintahkan melanjutkan atau meneruskan kasus dimaksud sebab dinilai memenuhi unsur. Namun, Kejatisu meminta hal serupa sampai akhirnya diputuskan dilakukan ekspos, Selasa (13/12) besok.
Disinggung prosedur tetap (Protap) atau hirarki institusi, mengapa sudah ekspos di Kejagung harus dilakukan di Kejatisu, baik Kasi Pidsus maupun Kasi Intel tidak bersedia berkomentar banyak. Tapi, Zulfahmi memaparkan menghadapi alasan-alasan bakalan dilemparkan ke Kejatisu, tapi pada intinya tetap dilanjutkan, maka Kejari Stabat sudah mempersiapkan argumen agar dugaan korupsi menyeret Surya tidak di SP3 kan.

“Tentang apa alasannya Kejatisu, nanti diketahui setelah berlangsungnya ekspos. Untuk itu, kita juga kan punya argumen mengapa kasus ini tidak di SP3 kan,” singkat Kasi Intel.

Sebelumnya, belasan elemen masyarakat tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (ALAMAK) Kab Langkat menuntut transparansi kasus PPh 21 tahun 2003 melibatkan Surya Djahisa yang kini menjabat Sekdakab Langkat dengan dugaan kerugian negara mencapai sekitar Rp1,1 Miliar.

“Kasus ini sudah setahun berjalan dan Surya pun ditetapkan sebagai tersangkanya bersamaan dengan waktu tersebut, tetapi kenapa masih belum ada lanjutan serta penahanan buat Surya. Harusnya ada kejelasan dan kepastian hukum, kalau memang tidak maka terbitkan SP3 buat tersangkanya,” kata Lukman Hakim koordinator aksi.

Kasi Pidsus dihadapan kelompok massa menjelaskan, pihaknya (tim Kejari) Stabat tak mungkin mengeluarkan SP3 begitu saja mengingat waktu, pikiran, tenaga serta materi dicurahkan menangani kasus itu. Malah pihaknya tak menghalangi kelompok massa ikuti ekspos di Kejatisu, Selasa (13/12) lusa mendatang guna mengetahui prosesnya. (mag-4)

Forum Kasek Didesak Publikasikan Hasil Studi Banding

LANGKAT- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupatan Langkat, meminta hasil studi banding seluruh Kepala Sekolah (Kasek) SMP, SMA serta Kepala Unit Pembantu Teknis Daerah (KUPTD) yang berangkat ke pulau Bali.
“Kalau betul studi banding mana laporannya, publikasikanlah. Bukan se-sederhana itu melakukan kegiatan secara resmi tidak ada laporan. Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar) harus memahami itu, sebagai pemegang kekuasaan dunia pendidikan semestinya tahu prosedural sekaligus mekanisme,” kata Ketua DPC PDI-P Kabupatan Langkat, Syafril, Sabtu (10/12).

Mantan anggota DPRD Langkat dua periode ini menyesalkan kelalaian legislatif melakukan pengawasan. Idealnya, sebelum bertolak studi banding ke Bali harus dipertanyakan tujuan serta garansi agenda dimaksud. Begitu pula, setelah melaksanakannya maka perlu dipertegas tentang penerapan hasil studi banding itu.

Dia berpendapat, terlalu berlebihan jika segenap Kasek maupun KUPTD studi banding melibatkan anggota keluarga, kendati memang menggunakan biaya sendiri. Belum lagi, sasaran tujuan (Bali) relevansinya dinilai kurang tepat mengingat aspek perekonomian hasil pendapatan asli daerah (PAD) pulau dewata sangat berbanding terbalik dengan Langkat.

“Sah-sah saja kalau sumber dana keberangkatan dari forum kasek, tapi mana wadahnya cobalah tampilkan kenapa selama ini tidak dimunculkan terus dengan KUPTD apa pula forumnya. Kemudian, kalau mau studi banding sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum jadwal ujian semester siswa. Kami minta evaluasi kinerja Kadisnya itu, kita menduga kalau Bupati sudah dikelabui dalam konteks studi banding tersebut,” sesalnya.

Kabag Humas Pemkab Langkat, H Syahrizal menjelaskan studi banding ke pulau Bali selama tiga hari Senin (5/12) sampai Rabu (7/12) digawein forum kasek menggunakan biaya pribadi termasuk kesertaan anggota keluarga Kasek atau KUPTD dalam rombongan. Pihaknya secara detail tidak mengetahui misi kegiatan, namun pastinya sudah memperoleh izin pimpinan (Bupati) selama tidak mengganggu proses belajar mengajar. (mag-4)

Frustasi, Perut Sendiri Ditusuk Pakai Pisau

KUALA- Pawiro alias Aleng (83) mencoba bunuh diri dengan cara menusuk perut sendiri pakai pisau belati. Tapi, upaya itu berhasil digagalkan anak kandungnya, Syamsidar (43). Akibat kejadian itu, bapak enam anak itu langsung dibawa ke RSU dr Fuad Binjai untuk dirawat secara medis. Kini, kondisinya mulai berangsur pulih pasca ditangani medis.

Informasi diperoleh, aksi nekat Aleng terjadi, Sabtu (10/12) sekira pukul 06.00 Wib dinihari dirumah anak kandungnya Syamsidar di Dusun VI, Desa Tanjung Keriahan, Kecamatan Serapit, Langkat.

Selama ini, Aleng tinggal di rumah anak kandungnya tersebut. Aleng yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, frustasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Akibatnya, Aleng nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Ketika menusukkan sebilah pisau ke perutnya, Aleng berteriak. Syamsidar yang mendengar teriakan itu langsung mendatangi Aleng di kamarnya. Saat itu, korban terlihat sudah tersungkur bersimbah darah dengan luka tusuk diperutnya. Bahkan, pisau yang dipakai itu untuk bunuh diri masih terlihat menancap diperutnya.

“Untuk apa aku hidup, kalau harus menderita penyakit seperti ini, “ kata salah seorang perawat yang menangani korban menirukan ucapan korban saat dirawat di rumah sakit tersebut.

Kapolsek Kuala AKP Turnip saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. Pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait insiden percobaan bunuh diri tersebut. Namun kuat dugaan kalau korban nekat melakukan itu karena stres dan frustasi dengan penyakit yang dialaminya tak kunjung sembuh. (wis/smg)

Menjahit Sepatu Supaya Jadi Dokter dan Bantu Keluarga

Melihat Siswa SMP Cari Biaya Hidup

Di tengah keterpurukan ekonomi keluarga, seorang anak tak boleh berhenti dari pendidikan. Demi mempertahankan sekolahnya, Nijam Tanjung (15) siswa kelas II SMP Negeri 3 Tebing Tinggi rela menjadi penjahit sepatu dipinggir jalan demi pendidikan dan meraih cita-cita menjadi seorang dokter.

DITEMUI di lokasi prakteknya menjahit sepatu di Jalan Suprapto, Tebing Tinggi, Nijam tampak bersemangat menusukkan satu persatu jarum ke sepatu yang sudah robek. Semangat itu, tak lelah walau panas terik siang itu, Minggu (11/12).

Sambil menusukkan jarum dan menarik kuat benang-benang untuk perekat sepatu yang robek, Nijam dengan ramah menjawab setiap pertanyaan wartawan. Dia mengaku, menjahit sepatu karena memahami perekonomian keluarganya.
“Kalau saya hanya mengandalkan penghasilan keluarga, saya tak bisa sekolah tinggi. Makanya saya menjahit sepatu dipinggir jalan dengan penghasilan hanya pas-pasan membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah,” sebutnya.
Anak pertama buah pasangan Jali Tanjung (39) dan Muarifah (35) ini sehari-harinya tinggal di bersama kedua orang tuanya dan dua saudara kandungnya di Jalan Lintas, Kelurahan Begelen, Lingkungan III, Tebing Tinggi.

Dia mengakui, setiap pulang sekolah mesti ke Jalan Suprapto untuk menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakoninya demi untuk membiayai sekolahnya, agar jangan terputus di tengah jalan. “Saya punya cita-cita ingin menjadi dokter,” tegasnya.

Nijam ternyata sudah memiliki agenda rutinitas harian yang sangat padat, buktinya dimulai pukul 06.00 WIB bangun tidur, Nijam langsung mandi, usai berpakain sekolah dan sepatu sedikit bolong di bagian depan, dia langsung menuju sekolah SMP Negeri III, di Jalan Thamrin, Tebing Tinggi. Dengan berjalan kaki sejauh enam kilometer dari pinggiran rel kereta api.

“Yah jauh bang, cuma itu harus dijalani setiap hari. Supaya bisa jadi dokter,” katanya.

Dia menyebutkan, perjalanan itu tak membuatnya merasa letih, ditambah agenda setelah pulang sekolah harus ke Jalan Suprapto untuk melaksanakan kegiatan rutinnya menjadi penjahit sepatu dan sandal. “Sampai di Jalan Suprapto baru makan siang bang, dibekali ibu dari rumah,” sebutnya.

Ke dewasaan anak itu muncul, ketika disinggung apakah tak ingin bermain-main dengan temannya. Nijam menyebutkan, dirinya sama sekali tak punya waktu bermain-main dengan teman, karena kesibukannya bekerja dan belajar. “Lebih baik aku menjahit sepatu dari pada bermain-main dengan teman, uang hasil kerjaku bisa biaya sekolah serta untuk menabung,” sebutnya.

Saat ditanyai berapa penghasilannya perhari, Nijam menyebutkan setiap harinya terkadang hanya mendapatkan satu pasang sepatu. Untuk satu sepatu yang dijahit, harganya Rp7 ribu. “Terkadang mulai siang hari sampai sore mendapat dua konsumen. Tapi, kalau hari Minggu pendapatan bisa berlebih, karena banyak penjahit sepatu yang tutup,” ujarnya.
Nijam bercerita dirinya bekerja menjahit sepatu karena penghasilan orang tuanya tidak cukup untuk membiaya sekolahnya, karena ayah-nya bekerja sebagai tukang becak, kadang ayah pulang tidak membawa uang untuk emak, terkadang hasil menjahit  sepatu separuhnya diberikan untuk membeli beras dan membuat kebutuhan adik-adiknya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Saya bekerja supaya tabungan ada supaya bisa kuliah,” ucapnya, “Saya mulai saat kelas 5 SD,” tambahnya.
Jali Tanjung mengaku sudah melarang anaknya agar tidak bekerja menjahit sepatu, karena usaha menjahit sepatu itu adalah profesinya dulu. Akibat pendapatan menurun, kadang ada kadang tidak ada, makanya berpindah profesi menjadi penarik becak motor dengan menyewa milik toke.
“Nijam punya keinginan keras meneruskan menjahit sepatu, karena keinginan itu saya harap kelak jadi orang besar suatu saat,” katanya. (Sopian)