25 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 14160

Apartemen 6 Lantai Ambruk, 19 Tewas

BEIRUT – Aktivitas warga Fassouh, Distrik Ashrafieh, sebelah timur Kota Beirut, Lebanon, terusik pada Minggu malam (15/1). Sekira pukul 18.00 waktu setempat (pukul 22.00 WIB), sebuah apartemen enam lantai di wilayah tersebut secara tiba-tiba ambruk dan menimbulkan suara berdentum yang keras. Hingga Senin (16/1), 19 orang dilaporkan tewas akibat insiden tersebut.

’’Tanah tiba-tiba bergetar. Kami mengira sedang terjadi gempa bumi,’’ tutur Mazen Farhat (46), pria yang tinggal di sekitar apartemen tersebut. Debu dari reruntuhan bangunan tua yang jatuh ke tanah pun langsung menyelimuti jalanan yang dia lewati.

Dalam hitungan menit, warga pun langsung berdatangan ke lokasi untuk membantu penyelamatan. Dengan tangan kosong, mereka berusaha menolong para korban. Terutama, warga yang terperangkap puing-puing bangunan, tetapi selamat alias masih bertahan hidup. Tak lama kemudian, petugas penyelamat tiba dan langsung melakukan evakuasi dengan alat berat. Proses evakuasi dan pencarian korban masih berlangsung hingga tadi malam.(AFP/AP/hep/dwi)
Hampir seluruh korban tewas adalah pekerja asing yang tinggal di ibu kota Lebanon tersebut. Seorang petugas yang merahasiakan identitasnya mengatakan, 14 dari 19 korban tewas berasal dari Sudan, Filipina, Jordania, dan Mesir. ’’Warga Lebanon yang tewas dalam insiden tersebut empat orang, termasuk seorang gadis berusia 15 tahun,’’ ungkapnya.

Dari sejumlah informasi, apartemen itu dihuni oleh sekitar 50 orang. Sebagian besar di antaranya warga Sudan dan Mesir. Investigasi awal menyebutkan bahwa bangunan bertingkat itu ambruk setelah diterpa hujan. Beberapa hari terakhir ini, hujan deras terus mengguyur kawasan ibu kota Lebanon dan sekitarnya. Diduga karena struktur bangunan tidak kokoh dan tak mampu menopang beban di atasnya, apartemen tersebut ambruk. Namun, polisi masih terus melakukan penyelidikan. (AFP/AP/hep/dwi)

Maret, Diprediksi Terjadi Konflik Terkait Sengketa Tanah di Sumut

MEDAN- Seorang anggota DPRD Sumut dari Komisi A Akhmad Ikhyar Hasibuan mengatakan kasus tanah di Sumut semakin runcing dan mengarah ke konflik. Bahkan, dia memprediksi Maret mendatang adalah waktu yang sangat krusial.
“Semua konflik tanah, puncaknya di Maret ini. Tidak peduli yang bersinggungan dengan PTPN maupun swasta. Jadi, semua pihak harus mewaspadai itu semua,” tegasnya.

Itu terjadi karena ada hal yang tumpang tindih dalam masalah aturan atau undang-undang, mengenai persoalan sengketa-sengketa tanah di Sumut. “Kalau persoalan dengan PTPN, ngapain sampai ke Meneg BUMN. Gubernur punya wewenang untuk menyelesaikan itu,” tukasnya.

Sedangkan anggota Komisi A DPRD Sumut lainnya, Syamsul Hilal menegaskan, apa yang dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho dalam melakukan pemetaan terhadap lahan-lahan yang bersengketa, adalah kebijakan yang tidak relevan dan tidak memecahkan masalah.
“Ini cuma kebijakan administratif dan saya tidak yakin akan menyelesaikan masalah. Coba kita pikir dan hitung-hitung dalam pikiran saya ada 870 kasus tanah yang tidak terselesaikan. Sementara Polda Sumut mengatakan, ada 3 ribu kasus tanah di Sumut. Kalau pemetaan membutuhkan waktu satu tahun, jadi bagaimana menyelesaikan 3 ribu kasus itu? Jadi butuh 3 ribu tahun. Semua kita yang hidup sekarang sudah mati,” tegasnya.

Begitulah, kasus sengketa tanah di Sumatera Utara memang bagai bom waktu. Masih begitu banyak kasus kepemilikan tanah yang belum selesai. Untuk itulah, pihak Kepolisian Daerah Sumatera Utara mencoba mencari penyelesaian.
Memilih tempat di di Aula Kamtibmas Polda Sumut, rapat kordinasi masalah pertanahan pun digelar pada Senin (16/1) mulai 08.30 WIB. Tercatat, selain Kapoldasu sebagai tuan rumah, hadir Pangdam I/BB, Kejatisu, Ketua DPRD Sumut, Plt Gubsu, Kepala BPN Sumut, Para bupati, wali kota, serta pihak PTPN.

Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro mengatakan, setidaknya ada 2.833 kasus tanah di daerah Sumut. Dari 2.833 kasus tanah itu, ada sembilan kasus yang berlangsung sangat lama dan berpotensi menimbulkan konflik pada 2012.

“Karena itu, Polda Sumut telah melakukan tindakan preemtif, preventif, dan represif,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Operasi Polda Sumut Kombes Pol Iwan Hari Sugiarto mengatakan, berbagai sengketa itu telah menimbulkan pertentangan antara berbagai pihak. Dari pendataan yang dilakukan, terdapat 2.498 kasus tanah yang menimbulkan konflik sesama warga atau masyarakat.

“Polda Sumut mengharapkan adanya kerja sama semua aspek yang terkait dalam permasalahan tanah. Selain itu, mengambil langkah-langkah terkait tanah dengan mempertimbangkan aspek hukum dan sosiologisnya,” tambah Iwan.

Selain pihak Polda, para undangan juga mulai menyuarakan aspirasinya. Satu di antaranya adala Bupati Labuhan Batu Selatan, H Nurban Asman Tanjung. Sang bupati menyoroti soal tapal batas provinsi Sumut dengan provinsi lain yang juga belum tuntas.

Sebagai penutup, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho mengharapkan tim pemetaan segera mengetahui berapa luas lahan HGU dan eks HGU PTPN II. “Supaya konflik-konflik yang terjadi akan bisa dihindari,” katanya.
Kasus Mesuji Bisa Terjadi di Sumut

Hendry Saragih selaku Presiden Petani Dunia/General Coordinator La Via Campesina yang juga ditemui Sumut Pos di lobi Hotel Tiara Medan, seusai dirinya menjadi narasumber di sebuah radio lokal menilai, tahun ini merupakan puncak ketidakadilan sosial yang meluas dari berbagai konflik tanah yang tidak terselesaikan hingga saat ini.

Hendry menuturkan, salah satu faktor banyaknya kasus tanah yang mencuat adalah faktor pendapatan atau gaji. Di mana gaji buruh PTPN relatif rendah, bila dibandingkan dengan pekerja-pekerja perkebunan di Malaysia.

“Salah satu faktornya, gaji buruh perkebunan yang rendah menjadi pemicu konflik. Kemudian penyelesaian sengketa yang tidak secara tegas oleh pemerintah, terutama pemerintah daerah dari kabupaten/kota dan provinsi juga salah satu faktornya. Untuk antiklimaksnya, tidak bisa diramalkan secara sistematis. Potensi untuk menyulut pertikaian itu sudah ada,” ungkapnya.

Hendry tidak menampik, bila semua persoalan sengketa tanah tidak terselesaikan, maka pertumpahan darah akan terjadi, layaknya kejadian di Mesuji, Lampung. “Kalau ini tidak terselesaikan, maka pertumpahan darah seperti di daerah-daerah lainnya akan terjadi di Sumut,” tambahnya.

Sementara itu, Harun Nuh selaku Ketua Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) Sumut menyatakan, konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PTPN, terutama PTPN II pada prinsipnya pemerintah tidak sungguh-sungguh.

Dalam arti kata, khusus PTPN II, banyak oknum yang melakukan penjualan lahan secara ilegal, namun tetap dipertahankan oleh pihak Direksi PTPN II. “Pemerintah bila ingin mempertahankan PTPN II, maka pejabat-pejabat PTPN II harus diganti. Banyak tanah yang dijual, tapi pejabat yang menjual secara ilegal itu dipertahankan dan dilindungi. Kalau konflik terjadi, masyarakat BPRPI sudah siap melakukan perlawanan,” tegasnya.

PTPN 2 Tunggu Meneg BUMN

Manajemen PTPN 2 masih saja menunggu respon Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN) tentang permohonan perpanjangan HGU di areal seluas 5873,06 ha. Situasi menggantung ini diprediksi rentan dijarah warga.

Buktinya, keadaan tak jelas ini membuat beberapa kalangan mengambil kesempatan. Bahkan, menurut Kepala Humas PTPN 2, Rachmuddin, di kalangan warga telah beredar 7 Surat Keputusan (SK) Meneg BUMN yang diduga kuat palsu.

“Sampai saat ini, belum ada respon atau realisasi dari Meneg BUMN. Oleh karena itu, PTPN 2  hanya menjaganya dengan kekuatan bantuan dari BKO Brimob Poldasu,” kata Rachmuddin.

Rachmudin mengakui pengamanan yang dilakukan pihaknya terbatas. Karena itu, setiap ada perusakan tanaman kepala sawit serta pendudukan areal PTPN 2, pihaknya langsung membuat laporan.

Misalnya, perusakan sawit di afdeling II PTPN 2 Kebun Bandar Klippa di Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis. Bahkan, di area kantor manajer Kebun Bandar Klippa  berdiri bangunan ruko. “Kami laporkan ke polisi dan bangunan tanpa izin itu langsung dibongkar,” katanya.

Dijelaskan Rachmuddin sampai saat ini, belum ada lahan eks HGU PTPN 2 yang dilepaskan kepada pihak ketiga, meski permohonan pelepasan sudah banyak. Begitu pun dengan areal seluas 922 di Kebun Limau Mungkur. Lahan itu tet masih HGU PTPN 2. Namun, di kawasan itu terus bentrok.
Sejatinya, menurut Rachmudin, terjadi bentrok di sana karena ada persaingan antara kontraktor pemanen terjadi aksi bentrok baik antar kontraktor pemanenan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang mendapat izin dari PTPN 2 dengan warga penggarap. Dijelaskannya, kelompok Yusuf Sinulingga dulunya dipakai sebagai kontraktor panen di areal kebun Limau Mungkur. Tetapi, pada tahun 2010 silam kontraknya selesai.

Kemudian dilanjutkan ke kelompok Pendi Kesi. Kelompok ini bertugas memanen hasil sawit di areal 922 yang semenjak 1997 telah bergejolok. Saat itu, Koperasi Juma Tombak melakukan gugatan ke pengadilan bahkan putus PK menyatakan lahan 922 masuk HGU PTPN 2.

Tetapi Rachmuddin tidak dapat menerangkan, sistem kerja sama kontrak panen yang dimaksud. Bahkan nomor HGU PTPN2 di Kebun Limau Mungkur juga tidak diketahuinya. “Saya tidak tahu sistemnya bagaimana, tetapi itu ada kontrak kerjanya. Kontrak itu dilakukan manajer kebun setempat dan ditembuskan ke kantor direksi, tetapi saya kurang tahu,” katanya.  (mag-5/ari/btr)

Sengketa Tanah yang berpotensi Konflik pada 2012

  1. Kasus Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat
    Keterangan: Pengungsi Aceh menempati kawasan TNGL
  2. Kasus Limau Mungkur Kabupaten Deliserdang
    Keterangan: Perebutan Lahan antara PTPN 2 dengan masyarakat
  3. Kasus Kuala Namu Kabupaten Deliserdang
    Keterangan: Eks karyawan PTPN yang masih menempati rumah dinas di lokasi Bandara Kuala Namu
  4. Kasus Eks HGU PTPN 2 di Batang Kuis Kabupaten Deliserdang
    Keterangan: Perebutan Lahan antara PTPN 2 dengan masyarakat
  5. Kasus register 40 Kabupaten Tapanuli Selatan/Padang Lawas
    Keterangan: Konflik warga dengan PT Torganda
  6. Kasus Selambo Kabupaten Deli Serdang
    Keterangan: Perebutan tanah pengusaha lahan eks PTPN 2 dengan kelompok tani/masyarakat
  7. Kasus PT Nauli Sawit Kabupaten Tapanuli Tengah
    Keterangan: Sengketa lahan PT Nauli Sawit dengan masyarakat
  8. Kasus PT KIM
    Keterangan: Pelaksana eksekusi Putusan PN Lubuk Pakam karena salah objek
  9. Kasus penentuan peruntukan lahan eks HGU PTPN 2
    Keterangan: Seluas 5.873,06 hektar di Deliserdang, Binjai, Sergai, Langkat, dan Medan.

Lahan PTPN 2 yang Digarap dan Diklaim Masyararakat per 2011

Total lahan PTPN 2 112.669,27 ha

Lahan yang Digarap Masyarakat

  • Lahan Hak Guna Usaha (HGU) 6.742,36 ha
  • Lahan HGU dalam proses sertifikat 705,74 ha
  • Lahan HGU yang diperpanjang 112,1 ha
  • Lahan Eks HGU 5.873,06 ha

Total 11.469,18 hektar

Lahan yang Diklaim Masyarakat

  • Lahan HGU 3.622,01 ha
  • HGU dalam proses sertifikat 2.285,29 ha
  • Lahan yang belum mempunyai HGU 1.172 ha
  • Lahan Eks HGU 146,27 ha

Total 6.519,83

Tanggapi Kesaksian Lewat Twitter

Angelina Sondakh

Lewat media sosial Twitter, politikus Angelina Sondakh sepertinya ingin menanggapi pengakuan Mindo Rosalina Manulang. Angie, sapaan akrabnya, dalam kicauan Twitter menyatakan, dirinya lebih memilih bermain bersama Keanu, anaknya daripada ikut memantau kesaksian Rosa dalam sidang kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (16/1).

“Lebih baik maen sama Keanu dari pada denger yang aneh2 “ajaib” banget gitu,” kicaunya dalam akun Twitter @sondakhangelina. Lebih lanjut Angie mengaku tidak pernah berbicara yang arahnya ke Rosa, “Bicara saja tdk pernah, apalagi minta? skenario apalagi ini, ajaib banget gitu,” begitu tulisan dalam akun janda Adjie Massaid ini.

Rosa menyebut Angie pernah meminta duit kepada Muhammad Nazaruddin. Duit itu akan digunakan untuk memperoleh jatah anggaran bagi Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Rosa menuturkan Angelina menyebut duit itu diperuntukkan bagi Ketua Besar dan Ketua di Badan Anggaran DPR. Ia menyebutkan, Ketua Besar adalah pimpinan Badan Anggaran DPR, seperti Mirwan Amir. Adapun Ketua adalah Mahyuddin, Ketua Komisi Olahraga DPR.(net/jpnn)

Rosa Beber Aliran Uang ke Adik Menpora dan Angelina

JAKARTA- Mindo Rosalina Manulang akhirnya memenuhi janjinya untuk buka-bukaan saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan Muhammad Nazaruddin kemarin (16/1). Bahkan diluar dugaan, mantan Direktur Marketing PT Anak Negeri yang juga terpidana 2,5 tahun itu juga menyebut nama-nama baru orang penting telah kecipratan uang dari perusahaannya.

Nama-nama baru yang disebutkan Rosa telah menikmati aliran uang dari PT Anak Negeri dan berkaitan dengan proyek wisma atlet diantaranya adalah Kemenpora Andi Mallarangeng  dan saudaranya, Choel Mallarangeng.

Menurut Rosa, Andi telah menerima uang Rp500 juta. Uang tersebut digelontorkan PT Anak Negeri pada Mei 2010 kepada tim sukses Andi untuk pemenangan pemilihan Ketum Partai Demokrat di Bandung.

Tak hanya itu, Rosa juga membeber soal aliran dana ke anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh. Dari persidangan tersebut terungkap, Angelina yang duduk di Badan Anggaran (Banggar) DPR, getol menanyakan uang untuk meloloskan anggaran proyek di Kemenpora, termasuk proyek Wisma Atelet SEA Games dan Sport Center Hambalang. “Dia (Angelina, Red) bilang butuh uang untuk bisa mendapatkan anggaran tersebut,” kata Rosa.

Menurut Rosa, Angelina mengutus seseorang bernama Jefrie yang selanjutnya berkomunikasi dengan bagian keuangan Permai Group milik Nazaruddin.(ara/jpnn)

Tiga Izin Usaha tak Dipungut Biaya Retribusi

MEDAN- Pemerintah Kota (Pemko) Medan mulai awal Januari ti dak akan memungut biaya retribusi untuk tiga izin usaha. Kebijakan tersebut dilakukan sesuai dengan penerapan aturan tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagai upaya merangsang investasi di Medan agar semakin meningkat.
Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM di sela-sela rapat program kerja pembangunan Pemko Medan, kemarin. Menurut dia, kebijakan dilakukan untuk memberikan insentif bagi pengusaha, maka itu harus terus didorong. “Kalau itu untuk insentif, lakukanlah,” katanya.

Rahudman mengatakan, Pemko Medan sudah menetapkan kepastian waktu dalam pengurusan izin usaha di Medan. Hal itu sudah tertera dalam standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Sehingga, pengusaha tidak perlu khawatir berapa lama waktu pengurusan izin terutama untuk tiga izin usaha yang telah ditetapkan untuk tidak dipungut biaya retribusinya.

“Sekarang sedang disosialisasikan ketiga izin usaha itu kepada pengusaha. Kalau kepastian waktu, pasti itu sudah,” ucapnya.

Dia menjelaskan, peng-gratisan terhadap tiga izin usaha yakni Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat Izin Usaha Industri (SIUI) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) sejak tanggal 9 Januari lalu, maka proses waktu pengurusan di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) sudah pasti.
“Sejak BPPT Medan ada, untuk kepastian waktu sudah sangat-sangat pasti dan sekarang sudah berjalan. Bahkan, soal kepastian waktu ini juga sudah jelas, bisa dilihat di papan pengumuman yang ada di ruang tunggu kantor BPPT dan itu sangat transparan,” jelasnya.

Bahkan, soal kepastian waktu juga dapat dilihat di website Pemko Medan. “Pengusaha bisa membuka layanan di website ada 11 layanan izin yang kami lakukan. Kalau mau mengurus SIUP jelas ada tentang dasar hukum dan persyaratannya apa saja, dan kalau di klik retribusinya sekarang di situ tertera gratis,” tegasnya.

Lebih lanjut, dia memaparkan jika dibuka SIUP maka akan dijelaskan biaya retribusi untuk SIUP kecil, menengah juga besar, tapi sekarang kalau buka SIUP untuk retribusinya langsung tertera gratis.

“Kalau dulu masa berlakunya izin itu selama tiga tahun dan pengusaha harus daftar ulang. Kalau sekarang izin berlaku selama perusahaan beroperasi dan tidak perlu daftar ulang lagi,” katanya.(adl)

PKS Incar Tokoh Non-Jawa

Soal Pilgubsu 2013

MEDAN-Perbincangan partai mana yang akan digandeng atau koalisi partai jelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013, terus mengalir. Begitu pula dengan tokoh yang akan diusung sebagai BK 1 dan BK 2 untuk Sumut.

Tersiar kabar, malah PKS telah mengajukan nama untuk pasangan Gatot Pujo Nugroho. Sosok yang dimaksud adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Fadly Nurzal. Terkait hal itu, salah seorang pentolan PKS Medan yakni, Sekretaris PKS Kota Medan Abdul Rahim Siregar yang ditemui Sumut Pos di Halaman Parkir Hotel Tiara Medan, Senin (16/1) menjawabnya secara singkat. “Sudah ada usulan dan beberapa nama kader. Kalau untuk pasangan, berlatar belakang etnis. Jika Mas Gatot suku Jawa, ya nanti dengan etnis asli Sumut,” jawabnya.

Apakah sudah pasti, PPP menjadi partai yang akan menjadi koalisi PKS? Untuk itu, Abdul Rahim menuturkan, masih terbuka kemungkinan berkoalisi baik dengan PPP maupun partai lainnya. “Masih ada kemungkinan-kemungkinan. Kan pemilunya masih lama, masih setahun lagi,” jawabnya lagi.

Sementara itu, pentolan Partai Demokrat Sumut yang duduk di Komisi A DPRD Sumut Akhmad Ihyar Hasibuan, yang juga ditemui di tempat yang sama, mengaku tidak mengetahui soal koalisi atau calon yang diusung. “Saya tidak mengurusi itu. Jadi saya tidak tahu,” jawabnya singkat.

Kembali lagi, sumber Sumut Pos yang merupakan seorang pengurus salah satu partai besar di Sumut menuturkan, untuk calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) tidak mutlak Tri Tamtomo. “Untuk Tritamtomo sebenarnya cocok, tapi karena dia sudah pernah kalah kayaknya dia nggak mau lagi maju. PDI P sudah ada nama-namanya, tapi belum untuk dipublikasikan,” ungkap pria yang duduk di kepengurusan PDI P Sumut tersebut.
Sumber tersebut juga menuturkan, kalau PKS berpeluang besar mengulang kondisi pada Pilgubsu 2008 yang berkoalisi dengan PPP. Dan sumber ini pula yang menyatakan, Gatot akan dipasangkan dengan Fadly Nurzal, sesuai dengan informasi yang selama ini dihimpunnya baik di dewan maupun perkembangan di luar dewan.

“PKS pastinya dengan partai berbasis Islam. Dan infonya, Gatot akan dipasangkan dengan Fadly Nurzal sebagai Wakil Gubsunya,” ungkapnya.
Sedangkan itu, sambung sumber tersebut, dari beberapa nama yang muncul di Sumut Pos dalam beberapa hari terakhir ini, menurutnya memang orang-orang yang memiliki keinginan atau ambisi yang kuat untuk maju pada Pilgubsu 2013 mendatang. “Ya, nama-nama itu maju. Tinggal keputusan partai masing-masing saja, siapa nantinya akan diusung. Karena ada satu partai memiliki dua atau tiga nama,” katanya.

Lebih lanjut sumber tersebut menuturkan, tidak hanya itu, masih ada nama lainnya yang juga berpeluang akan maju. Dan bahkan, sumber tersebut sampai menyebutkan informasi yang diberikannya valid. Yakni, niat Bupati Deli Serdang Amri Tambunan untuk turut serta di Pilgubsu.
“Bupati Deli Serdang itu maju, jangan salah. Dia itu punya niat untuk maju. Ada yang sudah bilang ke saya. Kalau Bupati Sergai Erry Nuradi juga maju, tapi sepertinya dia mau untuk nomor duanya saja. Dia tidak nomor satunya,” kata sumber itu.

Dikemukakannya, Demokrat juga belum tentu mengusung Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumut HT Milwan. Tapi menurutnya, andaikata benar nantinya HT Milwan diusung Demokrat, maka peluangnya relatif kecil. Itu dikarenakan, sejumlah kasus yang membelenggu Milwan. “Kalau Kapolda Sumut Wisjnu Amat Sastro bisa juga,” tuturnya.

Sumber ini juga menjelaskan, sosok-sosok yang diusung Golkar antara lain, Chairuman Harahap juga relatif tidak terlalu memiliki kans yang kuat untuk menjadi jawaranya, begitu pula dengan sosok Bupati Langkat Ngogesa Sitepu. “Harusnya Gus Irawan, dan saya pikir dia yang memiliki peluang besar. Kalau Chairuman dan Ngogesa tidak begitu besar kans nya,” cetusnya. (ari)

Segera Diluncurkan Perda Kemudahan Usaha

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Medan, Zulkarnain Lubis mengatakan Pemko Medan tak hanya menggratiskan tiga izin usaha, bahkan sebagai upaya untuk merangsang peningkatan investasi baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di Medan, Pemko Medan segera menggagas rancangan peraturan daerah (ranperda) tentang fasilitas kemudahan dan insentif penanaman modal daerah.
“Tahun depan kami akan menggagas Ranperda tentang fasilitas kemudahan dan insentif penanaman modal daerah. Itu kita lakukan agar kota Medan bisa lebih banyak menarik investasi langsung (Direct Investment),” katanya.

Dia menerangkan, Ranperda yang akan digagas nantinya, diharapkan kiblat investasi di tahun depan harus lebih banyak ke Medan baik dari sektor primer seperti perdagangan dan industri, sektor sekunder teknologi tinggi ataupun sektor tertier yakni jasa dan keuangan.

Dalam Ranperda sebutnya, akan dilakukan peningkatan pelayanan perizinan. Untuk menunjang hal itu akan dilakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi terutama terhadap jenis-jenis perizinan tertentu untuk kemudahan persyaratan perizinan.

“Kami ingin ke depan persetujuan prinsip lebih dimudahkan, sehingga pembangunan investasi bisa lebih cepat,” terangnya.
Selain itu, tambahnya Ranperda juga diatur insentif serta pertimbangan-pertimbangan seperti penundaan pajak retribusi tertentu yang tidak mengganggu target dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).  (adl)

Kakak Beradik Ngaku Kehilangan Ibu

Pasca ditemukannya mayat wanita di kebun tebu tanpa mengenakan busana, membuat keluarga Jamilah, warga Dusun X, Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, menjadi panik. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan seorang anggota keluarganya sejak enam bulan lalu, yang hingga kini tidak kunjung ditemukan.

Jamilah, mengaku kehilangan adiknya bernama Sri Juanti (35), sejak enam bulan lalu. “Adik saya itu pergi tak lama setelah Lebaran. Setelah kepergiannya itu, sampai saat ini ia tidak ada terlihat lagi. Kalau menurut tetangga saya, Sri kerap terlihat di seputaran Binjai dan Langkat. Tapi, saya sendiri sampai saat ini belum menemukannya,” ujar Jamilah ketika ditemui di rumahnya, Senin (16/1).

Lebih jauh diungkapkannya, adiknya itu memiliki empat orang anak. Sementara suaminya merantau ke Kalimantan. “Adik saya ini tidak punya rumah. Ia selalu menumpang di tempat saudaranya yang ada di kawasan Langkat. Karena adik saya ini jarang pulang, akhirnya suaminya pergi ke Kalimantan,” ungkapnya.

Setelah suaminya pergi, Sri tak kunjung kembali. Jamilapun tak pernah lagi melihat adiknya itu. “Ketika ditemukan mayat di kebun tebu itu. Saya sangat panik. Bersama anaknya, saya langsung pergi melihat. Tapi, sampai di lokasi penemuan mayat, saya tidak dapat mengenali wajahnya karena sudah rusak dan membusuk,” ungkapnya.

Jamilah lantas menyarankan agar Sumut Pos menemui anak Sri  di Desa Karang Rejo, Stabat, Langkat. Setibanya di lokasi yang dimaksud, Sumut Pos bertemu dengan Vani, anak tertua Sri Juanti yang tinggal bersama pamannya. Menurut Vani, awalnya ia sangat yakin kalau mayat wanita yang ditemukan di perkebunan tebu itu ibunya yang hilang sejak enam bulan lalu. “Iya Bang, aku awalnya yakin, sampai-sampai aku panik dan bersedih saat mendengar penemuan mayat itu,” kata wanita berkulit putih itu.

Penasaran, Vani pergi ke RSU Pringadi Medan guna memastikan apakah mayat wanita itu benar ibunya atau tidak. “Begitu saya lihat mayatnya di kamar jenazah, saya langsung melihat kakinya. Karena di kaki ibu saya ada benjolan. Tapi, waktu saya lihat benjolan itu tidak ada. Tapi, yang terlihat bekas benjolan seakan sudah dioperasi,” ungkapnya.

Meski begitu, Vani yakin kalau mayat itu bukan ibunya. Karena menurut Vani, postur tubuh dan wajah mayat itu sangat berbeda dengan ibunya. “Meski saya masih khawatir mayat itu adalah ibu saya. Tapi saya yakin, kalau itu bukanlah ibu saya. Karena, postur dan wajahnya sudah berbeda,” ujarnya.
Sebelumnya, lanjut Vani, sekitar tiga hari sebelum ditemukan mayat itu, rasa ingin bertemu ibunya sangat besar. Ia mengira kalau ibunya di tempat kelahirannya, Kota Datar. Tapi, setelah dia pergi ke Kota Datar, ibunya tidak ada.(dan)

Identitas Korban Masih Kabur

Penemuan Mayat Wanita Hamil Membusuk di Kebun Tebu

BINJAI- Hingga kini, kasus penemuan mayat berjenis kelamin wanita di lokasi perkebunan PTPN 2 Kampung Lama, Tanjung Anom, Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Sejauh ini pihak kepolisian belum mengetahui identitas, motif, hingga titik terang pelaku pembunuhan terhadap korban.

Menurut Kapolsek Tandam AKP Zakaria, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (16/1), untuk mengetahui berapa lama keberadaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP),  pihaknya masih menunggu hasil otopsi dari RSU dr Pringadi Medan. “Kita tidak dapat menduga seberapa lama korban berada di TKP. Yang jelas, saat ditemukan, kondisi korban dalam keadaan terlentang, dan sudah sulit untuk dikenali karena membusuk,” ujar Zakaria.

Di tubuh korban, sambungnya, juga didapati baju kemeja warna hitam yang terlipat hingga menutupi mulutnya. Sementara, untuk bagian dada hingga ke kaki tidak ada penutup, hanya pakian dalam untuk dada berwarna hitam. “Setelah kita olah TKP, berjarak sekitar satu meter, kita temukan celana panjang warna hitam. Saya tidak tahu pasti, celana jenis apa, yang jelas warna hitam,” ungkapnya.

AKP Zakaria juga mengakui, kalau pihaknya tetap berkoordinasi dengan Polres Binjai guna mencari tahu siapa pelakunya, motif, hingga mencari tahu dimana keluarga korban. “Upaya pencarian keluarga korban, motif hingga pelaku sudah kita lakukan. Sejauh ini, kita juga menunggu hasil otopsi, dan kita tetap berkoordinasi dengan Polres Binjai, agar kasus ini dapat terungkap secepatnya,” kata Zakaria.

Keterangan yang berhasil dihimpun Sumut Pos di TKP menyebutkan, lokasi penemuan mayat wanita itu jauh dari perkampungan penduduk. Ditaksir jarak perkampungan dari perkebunan tempat mayat ditemukan berkisar 10 Km. Bahkan, pantawan wartawan Sumut Pos di lokasi kejadian, suasana tampak sepi dan jarang dijamah warga sekitar yang biasa mengembala ternak.

Seorang warga yang mengaku bernama Supiyah, saat ditemui di areal perkebunan tebu tak jauh dari TKP mengatakan, kalau warga setempat juga takut melintas di lokasi penemuan mayat wanita itu. “Kalau tebunya sudah tinggi seperti itu, kami juga takut. Soalnya jalan di lokasi itu sangat kecil dan sepi. Pokoknya seramlah,” ungkap Supiyah.

Tak hanya itu, Supiyah juga mengungkapkan, kalau di areal perkebunan itu, sudah sering ditemukan mayat manusia. “Yang saya tahu sudah ada tiga kali mayat ditemukan di areal perkebunan ini. Waktu itu ditemukan sudah jadi tengkorak, dan ada juga anak orang Cina yang sudah membusuk,” ungkapnya, seraya menambahkan, tindak kriminal seperti perampokan, juga kerap terjadi di areal penemuan mayat tersebut.

Supiyah juga mengakui, kalau dirinya dan warga sekitar tidak ada yang kehilangan keluarga. Selain itu, kondisi korban sangat sulit untuk dilihat. “Saya sendiri waktu melihat sudah tidak tahu bagaimana wajahnya. Sudah itu, saya tidak tahan lama-lama melihat, karena sudah terlalu busuk,” ucapnya sembari menujukan TKP penemuan mayat itu.(dan)

APV Tabrak Pohon di Jalan Tol, 1 Tewas

MEDAN- Tujuh orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan berangkat ke Malaysia, mengalami kecelakaan di Jalan Tol Medan-Belawan kawasan Menteng Km 25.200, Kecamatan Medan Denai, Senin (16/1) dini hari pukul 05.00 WIB. Ketujuh TKI yang mengendarai mobil rental jenis Suzuki AVP warna Silver BK 1490 JR yang dikendarai seorang supir bernama Iswandi (31) asal Lhoksumawe ini, menabrak pohon mahoni yang berada di pinggir jalan tol tersebut.

Akibatnya, seorang TKW bernama Muliani alias Ani (56), warga Jalan Yong Panah Hijau, Lingkungan IV, Medan Marelan, yang saat itu berada persis di samping supir tewas terhimpit dengan kondisi kaki kiri patah tiga dan dada serta wajah mengalami benturan.

Sedangkan keenam TKI lainnya yang berasal dari Aceh yakni Maimun (26), Mardi (31), Junaidi (32), Muhammad alias Bambang (29), Josandi Akbar (30) dan Muniruddin (29) mengalami luka-luka di bagian kepala, kedua kaki dan tangannya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Masruli (36), anak kedua korban yang ditemui di ruang instalasi jenazah Pirngadi Medan mengatakan, ibunya sudah 20 tahun kerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga dan pada Desember lalu baru pulang ke Medan.

Sementara Ita (48), adik kandung korban mengaku ada firasat buruk. “Sore kemarin, saat di rumahnya kami sekeluarga makan bersama. Di situ saya sempat mengatakan, mungkin ini makan terakhir kakak sama kami, maksudnya karena kakak kami ini kan lama baru balik lagi ke Medan, namun ternyata takdir berkata lain,” ujarnya sedih.

Kanit Lantas Percut Sei Tuan AKP Maju Harahap mengatakan, kalau kecelakaan tersebut terjadi akibat supir mengantuk hingga menabrak pohon mahoni di pinggir jalan tersebut. Karena ada yang meninggal dunia, Iswandi terpaksa ditahan di kantor Satlantas Polresta Medan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.(cr-2/smg)