31 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 14167

Wanita Hamil Tewas Telanjang di Kebun Tebu

Diduga Bernama Sri yang Mengandung saat Suami di Kalimantan

BINJAI-Heboh melanda warga Kampung Lama, Tanjung Anom, Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang. Pasalnya, sesosok mayat wanita hamil ditemukan di lahan perkebunan tebu milik PTPN II Tanjung Morawa, Tandem Hilir, Minggu (15/1) sore sekira pukul 15.00 Wib. Mayat ditemukan dalam kondisi telanjang dan telah dipenuhi belatung.

Keterangan dihimpun Sumut Pos, jasad wanita muda yang diperkirakan berumur 35 tahun itu diduga bernama Sri, warga Kota Datar, Dusun 10, Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang.

Mayat korban pertama kali ditemukan seorang bocah penggembala kambing. “Kami lagi menggembala kambing, Bang. Tiba-tiba tercium bau bangkai. Setelah kami dekati, rupanya mayat. Kami pun langsung lari,” kata Sari (14), seorang penggembala.

Kabar penemuan mayat tersebut langsung menyebar hingga ratusan masyrakat berbondong-bondong mendatangi TKP (tempat kejadian perkara).
Aparat Polsek Binjai bersama Polres Binjai langsung turun ke lokasi untuk melakukan identifikasi dan olah TKP. Selanjutnya petugas membawa jasad korban dengan menggunakan ambulans ke rumah sakit Pirngadi Medan.

Setelah jasad dibawa ke RSUP Medan, Polsek Binjai didatangi tiga wanita, yang menduga sosok mayat tersebut adalah anggota keluarga mereka. Ketiga wanita itu masing-masing Yatmi (36), Jamila (46), serta Pina (15). Pina adalah putri Sri.

“Pak Polisi, itu (korban, Red) mungkin adikku bernama Sri, yang pergi meninggalkan rumah habis lebaran kemarin. Ciri-cirinya mirip. Tapi kami berharap bukan dia. Adikku itu pergi karena hamil lagi, sementara suaminya sedang berada di Kalimantan,” kata Jamila, sambil menangis.

Pina sendiri masih ragu apakah wanita yang ditemukan tewas itu adalah ibunya. “Saya enggak berani lihat, Pak. Tapi mungkin saja itu mamak,” ucap Pina, sambil menangis sesenggukan.

Aparat Sat Reskrim Polres Binjai masih berupaya memastikan identitas korban, karena pihak keluarga tidak berani melihat langsung jasadnya.
KBO Sat Reskrim Polres Binjai, Ipda S Harahap ketika dikonfirmasi Sumut Pos di TKP, mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas keterangan warga yang mengaku keluarga korban. “Dugaan sementara, korban tewas dibunuh karena hamil,” ucap Harahap. (dan)

Pelajar SMP Cabuli Murid Kelas 2 SD

Dipukuli Warga, Ngadu ke Polisi

MEDAN-Seorang pelajar kelas dua SMP, berinisial RS (15), dituduh mencabuli tetangganya, seorang murid kelas 2 SD, sebut saja namanya Bunga, Jumat (13/1) sekira pukul 11.00 Wib. Kejadian berlangsung di rumah orangtua RS, di Jalan Benteng Hilir, Bandar Klippa, Deliserdang. Buntutnya, RS dipukuli warga. Kasusnya bergulir ke polisi.

Kejadian bermula pada Jumat siang. Saat itu Bunga mendatangi rumah sekaligus warung orangtua RS, yang jaraknya berkisar 20 meter dari rumah orangtua Bunga.

Niat gadis cilik berusia 8 tahun itu, untuk menjumpai adik perempuan RS, yang kebetulan satu sekolah dengannya. Tujuannya, hendak menanyakan jam berapa mereka masuk sekolah. Saat itu, kedua orangtua RS tidak berada di rumah.

Menurut cerita Bunga kepada ibunya, ia telah dicabuli RS yang selama ini dipanggilnya abang. “Ini awak dijolok-joloknya, Mak,” kata Bunga, sambil menunjukkan kemaluannya kepada sang bunda.

Mendengar hal tersebut, kontan sang bunda berang. Ia pun menceritakan kejadian itu kepada para tetangga. “Di tempat kami itu rata-rata masih famili. Orangtua RS dengan kami juga masih ada hubungan famili, tapi famili jauh,” tutur ibu Bunga di kantor polisi.

Bersama sejumlah tetangga, ia pun mencari RS ke rumahnya. Setelah menemukan RS, sejumlah tetangga memukul remaja tersebut. Ayah RS ikut memukul anaknya, setelah mendengar anaknya mencabuli Bunga. Ibu Bunga mengaku, dirinya tidak ikut memukul RS.

Keesokan harinya, Sabtu sekira pukul 21.00 WIB, RS ditemani orangtuanya mengadukan kasus pemukulan itu ke Mapolsek Percut Sei Tuan.
Satu jam kemudian, Bunga dan kedua orangtuanya balik mengadukan kasus percabulan itu ke Polsek yang sama. Ia membawa hasil pemeriksaan Bunga dari sebuah klinik, yang menyatakan pada bagian kemaluan Bunga ada yang rusak. “Saya tak menyangka, anak saya yang dirusak, malah kami yang diadukan memukuli RS. Tapi biarlah hukum yang menentukan siapa yang salah,” tutur ibu Bunga, sedih.

Terpisah, kedua orangtua RS, Rubina dan Sabran yang membuat laporan pemukulan ke polisi, meyakini anaknya tidak berbuat cabul kepada Bunga.
“Kami tidak yakin anak saya berbuat seperti itu. Dia (RS) mengaku hanya memegang tangannya (Bunga), waktu mau jajan ke warung saya,” kata Sabrina.
Tak terima anaknya dipukuli, mereka pun memilih mengadu ke polisi.

“Anak saya mengaku dipukuli 6 orang. Selain dipukuli, badan anakku juga ditembaki dengan pintol mainan,” kata Sabina.
Pantauan Sumut Pos di Mapolsek Percut Sei Tuan, RS tidak diperbolehkan pulang dan ia terpaksa tidur di ruang penyidik, ditemani ayahnya.
Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Maringan Simanjuntak yang dikonfirmasi melalui Kanit Reskrim AKP Faidir Chan, membenarkan pengaduan keduanya. “Kedua belah pihak sudah sepakat berdamai,” katanya. (gus)

Korban Dipukuli, Motor Dibawa Kabur

PERCUT SEITUAN-Aksi brutal geng motor kembali mengambil korban. Kali ini, mereka menyerang dan memukuli seorang mahasiswa Budi Darma, Bahagia (23), hingga korban pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit Haji. Selain dipukuli, sepeda motor Honda Revo warna putih milik korban juga dibawa kabur anggota geng.

Penyerangan itu berlangsung di atas jembatan tol di Jalan Haji Anif, Desa Sampali, Percut Sei Tuan, Sabtu (15/1) tengah malam. Atas kejadian ini, teman-teman korban membuat laporan ke Mapolsek Percut Sei Tuan.

Keterangan dari Saifuddin, malam itu dirinya bersama sejumlah temannya asal Aceh, yang kuliah di Kampus Budi Darma, yakni Bahagia (korban), Amri, dan Sahali, berkeliling Kota Medan naik sepeda motor. Akhirnya, mereka tiba di atas jembatan tol Jalan Haji Anif, dan beristirahat menikmati angin malam .

Berselang 10 menit, tiba-tiba muncul segerombolan pengendara sepeda motor yang membawa linggis, kelewang, dan batang bambu. Geng motor itu langsung menghampiri Saifuddin Cs dan langsung memukuli para mahasiswa tersebut.

Naas dialami Bahagia. Dia dipukul hingga tak sadarkan diri saat hendak melarikan diri. Setelah geng motor itu kabur membawa motor korban, teman-temannya kembali ke lokasi dan membawa korban ke rumah sakit. Selanjutnya, membuat pengaduan ke Mapolsek Percut Sei Tuan.

Informasi diperoleh wartawan, malam itu juga ada 2 aksi perampokan sepeda motor yang diduga dilakukan geng motor. Selain Bahagia, korban lainnya adalah seorang warga Dusun II Desa Sei Rotan Percut Sei Tuan. Sepeda motor Mio warna hijau miliknya dilarikan geng motor, saat korban berhenti di depan Toko Baja Utama di Dusun I Sei Rotan.

Terpisah, di daerah Sukaramai pada dinihari yang sama sekira pukul 4, sepeda motor Honda Beat BK 4502 ACG , yang dikendarai seorang warga yang melintas, juga dicuri anggota geng motor.

Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, AKP Faidir Chan mengatakan, malam itu pihaknya sudah melakukan razia rutin di wilayah hukumnya. “Kita minta kepada seluruh masyarakat, setiap kali ada geng motor yang berakli ugal-ugalan, agar segera melapor ke pihak kepolisian terdekat,” katanya. (gus/smg)

Dua IRT jadi Sindikat Curanmor

LUBUK PAKAM-Mengejutkan. Dua dari enam orang anggota sindikat pencuri sepedamotor spesialis saat parkir di depan rumah, ternyata ibu rumah tangga. Keduanya diciduk Tim Buser Polsek Batang Kuis bersama 4 anggota lainnya, dari tempat berbeda, Sabtu (14/1) malam.

Keenam tersangka masing-masing Dodi Ramadan (20), warga Dusun VII Desa Tanjung Sari, Batang Kuis; Rahmad Syahputra Daulay alias Amek (34), warga Pasar X Desa Bandar Klippa, Percut Sei Tuan, Rikot Nainggolan (39), warga Pasar VII Beringin Desa Sei Rotan, Konces (28), warga Pasar VI Desa Sei Rotan.

Sedangkan kedua ibu rumah tangga yang menjadi anggota sindikat yakni Inem (45) dan Ase (42), keduanya warga Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan. Dari tangan keduanya, polisi mengamankan 2 sepedamotor yang biasa digunakan untuk mencuri, yakni Suzuki Smash BK 4512 UV, dan Yamaha Mio tanpa plat polisi. Polisi juga mengamankan 1 unit sepedamotor curian Yamaha Mio BK 5112 AAD. Adapun tersangka ke-7 yakni Ok (18), warga Batang Kuis, kini masih diburon.

Penangkapan sindikat curanmor tersebut berawal dari pengaduan Marno, ke Polsek Batangkuis, Rabu (11/1) lalu. Polisi pun melakukan penyelidikan dan meringkus Dodi Ramadan. Selanjutnya polisi meringkus Amek. Dari kedua tersangka ini terungkap, motor curian itu diserahkan ke Inem dan Ase, untuk dijual seharga Rp 2,3 juta.(btr)

Oknum Polantas Ngotot Tilang Sopir Pengangkut Ayam

Meski Surat Lengkap, Muatan Standar

LUBUKPAKAM-Sorang oknum polisi lalu-lintas (Polantas) dari Kepolisian Resort (Polres) Deliserdang bersikap kurang terpuji terhadap seorang sopir pengangkut ayam. Ia ngotot memberi surat tilang, meski surat-surat lengkap dan muatan standar.

Kejadian bermula saat mobil pengangkut ayam jenis Carry dengan nomor polisi BK 9469 CK, melintas di depan Kantor Bupati Deli Serdang, Lubuk Pakam, Sabtu (14/1) pagi pukul 06.30 WIB. Mobil dikemudikan Lishartoyo, warga Desa Bakaran Batu, Kecamatan Batang Kuis, Deliserdang. Ia didampingi dua kernetnya, Pian dan Toyo.

Saat melintas, tiba-tiba mobil disuruh berhenti oleh aparat Polantas bernamanya Brigadir Hendrik.

Selanjutnya, Brigadir Hendrik menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan, seperti SIM, dan STNK.
Lishartoyo pun menunjukkan surat-surat yang diminta Brigadir Hendrik. “Semua surat ada. Lampu hidup, saya pakai sabuk pengaman. Pokoknya semua beres,” ungkapnya, kepada Sumut Pos, kemarin.

Melihat semua beres, Brigadir Hendrik kemudian berdalih, mobil itu kelebihan muatan. Ia pun berniat menilang STNK mobil yang tercatat atas nama Heri, warga Tanjungrejo, Percut Sei Tuan, Deliserdang itu.

Merasa dirinya tidak bersalah, Lishartoyo pun menolak menandatangani surat tilang yang dibuat Brigadir Hendrik. “Loh, kok bisa ditilang? Sementara tidak ada pelanggaran yang saya lakukan. Kalau kelebihan muatan, banyak mobil pengangkut ayam yang lebih banyak muatannya, kok nggak ditilang? Kami masih sesuai standar. Jadi, saya tidak mau menandatangani,” ungkapnya.

Karena Lishartoyo menolak menandatangani surat tilang, Brigadir Hendrik menjadi berang dan mencorat-coret surat tilang itu dengan tanda silang dan membuangnya.

Saat itu, kernetnya bernama Pian melarang Lishartoyo mengutip surat tilang yang dibuang ke tanah itu. Pian mengatakan, polisi seharusnya tak bersikap seperti itu.

Mendengar perkataan Pian, Brigadir Hendrik semakin berang. Ia balik membalas dengan kata-kata arogan dan menantang. “Kita lihat siapa nanti yang kalah di pengadilan,” katanya.

“Masak polisi sikapnya kayak gitu? Harusnya pengayom,” kisah Lishartoyo.

Suasana mulai mereda setelah seorang polisi lainnya menghampiri mereka, dan menyatakan, sebaiknya Lishartoyo membuat laporan ke Polresta Deliserdang. “Ada polisi yang datang, dan orangnya baik. Kami disuruh membuat laporan ke Polres,” kata Pian.

Kernet lainnya, Agus mengatakan, muatan yang mereka bawa dari Tebing Tinggi tersebut sebanyak 60 kotak tempat ayam. Jumlah ayamnya sebanyak 800 ekor, dengan berat per ekornya antara 1,6 kilogram sampai 1,7 kilogram.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso, yang dikonfirmasi menyatakan, sebaiknya oknum Polantas tersebut dilaporkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu. “Silahkan dilaporkan ke Propam,” jawabnya.(ari)

Dua Bocah Nyaris Terpanggang

Bensin Tersulut Api, Empat Rumah Terbakar

BRANDAN-Empat unit rumah di Jalan Besitang Lingkungan Tangkahanlagan Kelurahan Alurdua Baru Kecamatan Seilepan, Langkat, Minggu(15/1) sekitar pukul 14:30 WIB, terbakar. Dua bocah penghuni rumah itu, Ilham Aidil Fitra (13) dan Fadilah (3) nyaris terpanggang. Kedunya dibawa ke rumah sakit Pertamina Pangkalan Brandan untuk perawatan akibat luka bakar yang mereka derita.

Penyebab sumber asal kebakaran belum diketahui secara pasti dan masih simpang siur. Ada yang mengatakan api berasal dari pemilik rumah pasutri Abubakar-Nurlia yang menjual bensin eceran dan pedagang mie sop di depan rumahnya. Ketika itu anaknya sedang bermain mancis. Karena berdekatan dengan bensin api cepat menyambar ke bensin lalu menjilati rumah. Kedua anak tersebut nyaris terpanggang dan mengalami luka bakar akibat jilatan api.
Warga bersama petugas pemadam kebakaran yang menurunkan tiga unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) milik PT Pertamina UP-I Pangkalan Brandan berhasil menjinakkan api.

Perabotan berupa kursi, lemari, tempat tidur, dan perhiasan serta beberapa barang milik korban tak sempat terselamatkan. Terutama milik, Abubakar (31), Imran (36), dan Nurlia (35).

Abubakar dan istrinya Nurlia, tidak berbicara banyak usai kejadian itu. Wajahnya terlihat lusuh. Menurut Abubakar semua perabotan isi rumah tidak dapat diselamatkan hanya pakaian di badan saja yang bisa dibawa karena api begitu cepat menyambar. “Cuma pakaian ini yang bisa diselamatkan,” kata pegawai kantor Camat Seilepan.

Untuk sementara, kata lanjut Abu Bakar, mereka terpaksa tinggal di rumah tetangga.

Sementara rumah Imran nyaris rata akibat jilatan api yang begitu cepat hanguskan rumahnya serta isinya.

Sayangnya, saat kejadian yang menghabisi empat rumah warga, kepala kecamatan Seilepan, Drs Wagito  tidak ada ditempat kejadian itu.

“Akibat peristiwa tersebut, kerugian belum dapat ditaksir, namun dua orang korban yang terkena jilatan api tersebut, Ilham Aidil Fitra (13) dan Fadilah (3) masih mendapat perawatan intensif di RS Pertamina Pangkalan Brandan,” kata Kapolsek Pangkalanbrandan AKP H. Kosim S kepada POSMETRO (Group Sumut Pos).

Keganasan si jago merah masih berlanjut. Kali ini di Pakpak Bharat. Empat rumah juga di Desa Tanjung Mulia Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe (STTUJ) Kabupaten Pakpak Bharat, terbakar, Sabtu (14/10) sekitar pukul 23.45 WIB.

Diduga kebakaran akibat korsleting listrik dari salah satu rumah warga yang ikut terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa naas tersebut, tapi kerugian materi diperkirakan puluhan juta rupiah.

Penghuni rumah yang terbakar itu adalah Rasmi Kesogihen, Pardamean Tumangger, Firman Berutu dan seorang lagi Abet Nego Tumangger Kapala Desa di desa tersebut.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 01.30 WIB setelah mobil pemadam kebakaran yang didatangkan dari Pemko Sebulusalam tiba dilokasi kebakaran, karna lokasi kebakaran berdekatan dengan perbatasan Aceh dan Sumut sehingga jarak tempuh lebih dekat dari Pemko Subulussalam.

Sabar Berutu Camat Sitelu Tali Urang Jehe mengakui penyebab terjadinya kebakaran akibat hubungan arus pendek listrik (korsleting listrik).”Terjadinya kebakaran tersebut diduga akibat korseleting listrik yang terjadi di salah satu rumah warga yang mengakibatkan cepatnya api
menyebar ke rumah lainya, karena rumah terbuat dari kayu” kata Sabar.(mag14/jok/smg)

Polisi Tunggu Medical Record dari Rumah Sakit

Seputar Kasus Anak Wabup Langkat Jadi Tersangka Ijazah Palsu

MEDAN- Polda Sumut masih melakukan penyelidikan terhadap Hendro Prasetyo, anak Wakil Bupati (Wabup) Langkat yang jadi tersangka kasus ijazah palsu D III AMIK-MBP beberapa waktu lalu. Setelah dilakukan penyelidikan dengan membawa tim dokter ke Langkat, diketahui Hendro memang sedang mengalami sakit. “Ya, dia (Hendro) masih sakit, belum bisa ditanyai. Kemarin kita sudah dari sana bawa tim dokter kita,” ujar Kasubdit Ekonomi Dit Reskrimsus Polda Sumut, AKBP Edy Fariadi, Minggu (15/1) siang.

Selain itu, Edy mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil medical record tim dokter Polda Sumut untuk memastikan penyakit apa yang diderita Hendro. Sebab saat ini tim dokter Polda Sumut belum mengeluarkan medical record Hendro untuk pemeriksaan selanjutnya.

“Masih kita tunggu hasil medical record-nya ya, tunggu mereka buatkan baru nanti bisa kita periksa lagi. Kita lihat dulu ya,” imbuhnya.
Ditanya langkah selanjutnya, Edy mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. “Tersangka sedang berada di rumah sewaktu kami datang,” sebutnya.

Saat ditanya soal kelanjutan kasus yang menjerat anak orang nomor dua di Kabupaten Langkat itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus), Komisaris Besar Polisi (KBP) Sadono Budi Nugroho meminta pada POSMETRO MEDAN (Group Sumut Pos) untuk langsung bertanya kepada Kabidhumas Polda Sumut, KBP Raden Heru Prakoso.

“Tanya Kabidhumas langsung, dia kan corongnya Polda. Itu sudah kerjaannya,” tegas Sadono saat dihubungi via telepon genggam.
Kabidhumas Polda Sumut, KBP Raden Heru Prakoso mengaku belum mengetahui perkembangan kasus tersebut di Reskrimsus, hari ini Senin (16/1). “Besok saya cek ke Krimsus perkembangannya,” tulis Heru via pesan singkat.

Sebelumnya, Penyidik Subdit Ekonomi Dit Reskrimsus Polda Sumut segera menurunkan tim dokter ke Kabupaten Langkat guna memeriksa langsung penyakit Hendro Prasetyo, tersangka pemalsuan ijazah DIII AMIK MBP. Sedangkan, saat beberapa hari lalu tim turun ke Langkat, hanya memastikan keberadaan Hendro.

“Kita lagi upaya membawa dokter kesana dalam minggu ini,” kata Kasubdit Ekonomi Dit Reskrimsus Polda Sumut AKBP Edi Pariadi, Selasa (10/1). Menurutnya, panggilan kedua telah dilayangkan untuk Hendro. Hendro diminta penyidik untuk datang 14 Januari . (ala/smg)
“Kalau tidak datang juga akan dikeluarkan surat perintah membawa.
Namun, nanti akan dipertimbangkan dengan hasil pemeriksaan tim dokter polda,” ujar Edi lagi.(ala/smg)

Tersangka Kerusuhan PT ALAM Masih Diperiksa

MEDAN- Dua dari empat tersangka kasus kerusuhan di PT Anugrah Langkat Makmur (ALAM) dan PT Sorik Mas Mining (SMM) di Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal pada 2011 lalu, masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Madina, Minggu (15/1). Kedua tersangka tersebut yakni Drs H Izuddin Marzuki Siregar (56), warga Jalan P Ali Basa Siregar Gang Cendana, Timbangan, Kecamatan Padang Sidimpuan Utara, dan Zikron Batubara (46), warga Desa Sukamakmur, Muara Batang Gadis, Mandailing Natal.

Kedua pelaku yang diduga sebagai otak pelaku pembakaran aset PT ALAM dan PT SMM ini, ditangkap Polres Madina dibantu kepolisian Polda Sumut di sebuah rumah kontrakan di wilayah Jakarta Timur dan tiba di Terminal Kedatangan Domestik Bandara Polonia Kamis (12/1) lalu.

Kapolresta Mandailing Natal (Madina), AKBP Fauzi Dalimunthe SIK melalui Kasat Reskrim Polresta Madina, AKP S Siregar SH via telepon genggam mengatakan, keduanya masih menjalani pemeriksaan. Sedangkan dua pelaku lainnya, masih dalam pengejaran petugas karena diduga sudah lebih dulu meninggalkan Jakarta.

Sementara tersangka Drs H Izuddin Marzuki Siregar menolak jika dikatakan kalau mereka dalang dan pelaku utama kerusuhan di Madina.
Menurut pensiunan PNS Tapsel (Tapanuli Selatan) itu, selama tiga minggu mereka berada di Jakarta untuk mencari keadilan di Komnas HAM. “Kami berangkat ke Jakarta bukan melarikan diri, melainkan meminta keadilan kepada Komnas HAM dan Kapolri atas kerusuhan yang terjadi di Muara Batang Gadis,” katanya.

Kasubdit Jahtanras Polda Sumut, AKBP Andry SIK mengaku, untuk penangkapan kedua pelaku kerusuhan lainnya, pihaknya masih melakukan pengejaran dan pencarian. (jon)

Rumah Perwira Polisi Dibobol Maling

SIANTAR-Rumah Kanit Sabhara Polresta Pematangsiantar, Iptu Maurits Simatupang, dibobol maling. Dua sepeda motor yang ada di garasinya raib. Minggu pagi (15/1), Maurits mendatangi Mapolsekta Siantar Timur untuk membuat laporan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian itu diketahui Maurit Sabtu pagi sekira pukul 06.00 WIB saat membuka garasi. Warga Jalan KS Tubun, Kelurahan Asuhan, Siantar Timur inipun terkejut. Pasalnya, sepeda motor Supra 125 D plat BK 4771 WM miliknya hilang. Demikian juga sepeda motor milik temannya yang dititip di garasi itu, Mio BK 6081 TAD, juga raib. Di hadapan penyidik,  Maurits mengaku saat itu tinggal sendirian di rumah karena keluarganya sedang berada di luar kota.

Kapolsek Siantar Timur, AKP M Sihaloho membenarkan peristiwa itu. “Kita mencari jejak pelaku hingga diharapkan bisa tertangkap,” ujarnya. (Mag-5)

Dua Warga Jadi Tersangka

Bentrok Limau Mungkur

LUBUK PAKAM- Semenjak tahun 1997 silam, lahan HGU Kebun Limau Mungkur PTPN 2 menjadi rebutan antara kelompok tani Juma Tombak dengan PTPN 2. Bahkan perebutan lahan itu berujung dengan putusnya Peninjuan Kembali (PK)  oleh Mahkama Agung nomor keputusan, 308 PK /PDT/2004 tanggal 12 Mei tahun 2005.

Sengketa itu disebutkan gugatan pengugat dalam hal ini koptan Juma Tombak kepada PTPN 2 disebutkan sengketa lahan sekitar 922 hektar masuk kedalam  lahan 1370 hektar. Artinya PTPN 2 dimenangkan dalam PK itu, namun, Koptan Juma Tombak, kebali mengajukan PK ke dua ke Mahkama Agung, sampai saat sekarang belum ada putusanya.Karena belum ada putusan PK ke dua itulah, areal perkebunan itu menjadi ajang sengketa.
Warga yang terhimpun dalam Koptan Juma Tombak dengan PTPN 2, saling serang . Bahkan korban luka serta tewas telah terjadi. Konflik itu terus terjadi Kepolisian Resot Polres Deli Serdang menetapkan 2 orang tersangka, terkait penganiayaan  yang menewaskan, Helvan Fauzi Nasution (25) warga Dusun I Desa Petangguhan Kecamatan Galang Deli Serdang.  Keduanya YS alias Gondrong (45) warga Dusun I Desa Dagang Kerawan Kecamatan Tanjung Morawa, serta UG alias Win (24) warga Dusun Pondok TB Desa Lau Barus Baru Kecamatan STM (Sinembah Tanjung Muda) Hilir.

Kemudian, petugas mengamankan barang bukti berupa potongan besi ukuran 1 meter dan 1,5 meter sebanyak 6 batang, mobil Daihatsu Taft Rocky, pakaian korban, pita merah, beberapa sandal, dan 6 unit sepedamotor yang dirusak. Keenam sepedamotor yang dirusak, Honda Astrea BK 5536 EU, Honda Supra X BK 6051 MB, Honda Revo Fit BK 4836 MAG, dan 2 sepedamotor tanpa nomor polisi yaitu Yamaha New Vega R dan Honda Legenda.
Demikian disampaikan Kapolres Deli Serdang AKBP H Wawan Munawar SiK Msi melalui Kasat Reskrim AKP Anggoro Wicaksono SiK. Kedua tersangka diduga melakukan penaniayaan mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Kepolisian masih focus kepada kedua  tersangka. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bertambahnya tersangka lainnya.”Kemungkinan tersangka lainnya bakal bertambah,”bilang AKP Anggoro Wicaksono. (btr)